Anda di halaman 1dari 59

Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Diterbitkan oleh: Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan

Lingkungan Penasihat/Pelindung: Direktur Jenderal Cipta Karya DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM Penanggung Jawab: Direktur Permukiman dan Perumahan, BAPPENAS Direktur Penyehatan Air dan Sanitasi, DEPKES Direktur Pengembangan Air Minum, Dep. Pekerjaan Umum Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman, Dep. Pekerjaan Umum Direktur Bina Sumber Daya Alam dan Teknologi Tepat Guna, DEPDAGRI Direktur Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup, DEPDAGRI Pemimpin Redaksi: Oswar Mungkasa Dewan Redaksi: Ismail, Johan Susmono, Indar Parawansa, Bambang Purwanto Redaktur Pelaksana: Maraita Listyasari, Rewang Budiyana, Rheidda Pramudhy, Joko Wartono, Essy Asiah, Mujiyanto Desain/Ilustrasi: Rudi Kosasih Produksi: Machrudin Sirkulasi/Distribusi: Agus Syuhada Alamat Redaksi: Jl. Cianjur No. 4 Menteng, Jakarta Pusat. Telp./Faks.: (021) 31904113 http://www.ampl.or.id e-mail: redaksipercik@yahoo.com redaksi@ampl.or.id oswar@bappenas.go.id
Redaksi menerima kiriman tulisan/artikel dari luar. Isi berkaitan dengan air minum dan penyehatan lingkungan dan belum pernah dipublikasikan. Panjang naskah tak dibatasi. Sertakan identitas diri. Redaksi berhak mengeditnya. Silahkan kirim ke alamat di atas.

Dari Redaksi Suara Anda Laporan Utama Wajah AMPL 2005, Kepedulian Masih Kurang Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Lembaga Setahun Menunggu Pengesahan Potret Pokja AMPL 2005 WASPOLA, Dari Prinsip ke Aksi 1,66 Juta Jiwa Penduduk Desa Dapatkan Akses Air Bersih Dari WSLIC-2 SANIMAS Menuju Program Nasional Wawancara Direktur Perumahan dan Permukiman, Bappenas Ir. Basah Hernowo Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dr. I Nyoman Kandun, MPH Wawasan Setia Melayani Selama Delapan Tahun Hari Monitoring Air Sedunia Kisah Sukses WSLIC-2 Desa Jambearjo, Malang Sambungan Desa, Manajemen Kota Teropong Perubahan Perilaku tanpa Subsidi Aturan Adat Tak Mempan Bangun Jamban Melayang Cuma Bikin Lubang Tahi Saja Klinik IATPI Air Limbah Mandi dan Cuci Seputar WASPOLA Seputar AMPL Info Situs Inovasi Air Rahmat, Ubah Air Bersih Jadi Air Minum Saringan Air Keramik Agenda Pustaka AMPL Glossary
Majalah Percik dapat diakses di situs AMPL: http://www.ampl.or.id

1 2 3 4 9 11 15 18

20 22 26 28

30 32 34 35 36 37 38 41 48 49 50 51 52 53

D A R I R E DA K S I
FOTO:GUSTOMI/JeLAJAH

Waktu terasa begitu cepat berputar. Tanpa terasa, kita telah melalui tahun 2005. Sebentar lagi tahun 2006 menyapa kita. Biasanya kita selalu menjadikan masa pergantian tahun ini sebagai saat evaluasi. Apakah yang sudah kita lakukan selama setahun? Lebih banyak positif ataukah negatifnya. Dan bagi jajaran birokrasi, pertanyaannya sudah sejauh mana pengabdian yang diberikan kepada negara dan rakyat? Janganjangan selama ini hanya menikmati gaji tapi tidak memberi nilai tambah bagi kemajuan rakyat yang telah membayarnya. Tentu kita berharap, para birokrat dari semua level telah bekerja sekuat tenaga mengabdikan dirinya sesuai sumpah jabatannya. Pembaca, di akhir tahun ini, Percik pun tak ketinggalan untuk ikut memotret perjalanan penyelenggaraan air minum dan penyehatan lingkungan (AMPL) di Indonesia selama tahun 2005. Tentu secara garis besar. Maksudnya, agar ini menjadi bahan pembelajaran. Kita bisa belajar dari kesuksesan dan kegagalan. Kesuksesan bisa direplikasikan dan ditingkatkan derajat kesuksesannya di tahun 2006. Sedangkan, dengan melihat kegagalan, kita bisa membuat kesuksesan dan menghindari kesalahan serupa di tahun mendatang. Kalau kita melihat perjalanan selama tahun 2005 ini dan kita bandingkan dengan tahun 2004, secara umum tidak ada perubahan yang berarti. Kondisi AMPL seperti jalan di tempat. Kasuskasus pada tahun 2004 (baca Percik edisi Desember 2004), seakan berulang pada tahun ini. Mulai kasus banjir, penyakit menular, tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, pencemaran, konflik horizontal terkait AMPL dan sebagainya muncul lagi. Namun di tengah wajah suram ini tak bisa dipungkiri ada setetes harapan. Proyek-proyek yang diuji coba tahun 2005 memperlihatkan hasil yang menggembirakan. Tengok misalnya SANIMAS, WSLIC 2, dan CLTS. Pelaksanaan kebijakan nasional pembangunan AMPL berbasis masyara-

Mengucapkan Selamat Tahun Baru 2006


kat di daerah juga memberi harapan. Hanya saja cakupan proyek dan uji coba itu terbatas, belum menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Di edisi ini kami menampilkan berbagai keberhasilan beberapa proyek tersebut. Harapannya ini bisa ditiru dan dikembangkan oleh daerah lain. Tak lupa di tengah kesuksesan itu, kami tampilkan pula catatan buruknya dan kendala-kendala yang terjadi di lapangan. Ini pembelajaran berharga yang harus kita terima. Bukankah orang bijak berkata: kegagalan adalah awal dari sebuah keberhasilan. Pembelajaran ini kami ramu dalam berbagai rubrik. Ada di rubrik teropong, kisah sukses, dan sebagian di laporan utama. Pembaca, perlu kiranya pula kita mengetahui dari para penentu kebijakan AMPL, bagaimana mereka melihat perjalanan AMPL di tahun ini. Untuk itu, kami mewawancarai Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, serta Ketua CPMU WSLIC 2. Intinya masih banyak hal yang harus kita lakukan dalam penyelenggaraan AMPL di Indonesia. Apalagi Indonesia telah menyatakan dirinya siap 'terbebani' target MDGs. Akhirnya, kami berharap sajian Percik kali ini bisa mendorong ke arah perubahan yang lebih baik. Dan kami juga berharap ada umpan balik dari Anda, pembaca setia Percik, demi perbaikan majalah ini khususnya, dan penyelenggaraan AMPL di Indonesia pada umumnya di tahun 2006. Mari kita songsong 2006 dengan optimisme dan kepedulian yang lebih terhadap kondisi rakyat. Jangan sampai kita bergembira di atas penderitaan rakyat. Selamat membaca. Wassalam.

Percik

Desember 2005

S U A R A A N DA
Ingin Dapatkan Pustaka
Redaksi Percik yang baik. Pertama kali saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Saya lulusan Teknik Lingkungan ITB angkatan 95, dan Master of Science dari Technische Universitaet Hamburg, Harburg--Germany. Saat ini saya sedang melanjutkan ke program PhD di universitas yang sama. Saya sedang mengadakan penelitian dengan tema sustainability assessment of sanitation system, terutama untuk low income urban areas di Indonesia. Saya sedang mengadakan studi di daerah Rungkut, Surabaya. Tujuan utama penelitian saya yaitu to propose an alternative solution for water pollution problems by human waste for low income urban areas in Indonesia. Salah satu alternatifnya adalah sistem ecosan (Ecological Sanitation), di mana domestic wastewater dibagi tiga yaitu tinja atau blackwater, urine atau yellowwater, dan greywater (dari selain air buangan toilet). Sistem ini sudah lama dikembangkan di Eropa (jerman, Austria, Swedia). Profesor pembimbing saya kebetulan termasuk salah satu pelopornya. Untuk mengimplementasikannya, saya dan teman saya yang kuliah di tempat yang sama membangun sebuah Ecosan pilot plant di Pusdakota Ubaya, Surabaya, sebuah NGO yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat. Dari salah seorang teman di Pusdakota yang kebetulan mengikuti seminar yang diselenggarakan oleh AMPL beberapa waktu silam, saya membaca prosiding seminarnya dan jurnal Percik vol.4 Tahun I/Juni 2004. Saya tertarik dengan isinya karena sebagian besar berkaitan dengan tema penelitian saya. Sebagian besar data-data yang ada pada Percik edisi tersebut telah saya dapatkan dari beberapa sumber dari internet, akan tetapi ada juga yang belum saya miliki. Oleh karena itu, saya ingin bertanya
ILUSTRASI:RUDI KOSASIH

oleh buku yang ada dalam website Anda. Bagaimana caranya?


Rahayu Sri Pujiati, SKM, M.Kes Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Jember Jl. Kalimantan I/93 Kampus Tegal Boto, Jember 68121 Telp. (O331) 322995 Fax. (0331) 337878

Berlangganan
Saya pernah beberapa kali membaca Majalah Percik yang dibawa dosen saya. Isi yang ditampilkan cukup menarik dan relevan dengan apa yang saya pelajari saat ini. Bagaimana cara berlangganan majalah ini secara berkala? bagaimana jika saya ingin memiliki beberapa referensi dari pustaka Percik. Selain data-data yang disajikan pada Percik edisi tersebut, ada juga beberapa VCD (seperti National Action Plan Bidang Air Limbah, Methodology for Participatory Approach assessment, Prosiding Seminar Nasional SANIMAS di bali 2004), prosiding seminar Nasional Hari Air Sedunia 2004, data Inventarisasi dan Evaluasi Pelaksanaan Program Pembangunan Prasarana dan Sarana Dasar Permukiman Perkotaan 1992-2002, dan buku pedoman (Pedoman penanggulangan limbah cair dan tinja) dan lain lain yang saya ingin membuat copy-nya. Bagaimana cara terbaik untuk mendapatkannya?
Almy Malisie Surabaya Nurul Ichsan Jln. Banjarsari, Gg. Iwenisari No. 8 Tembalang, Semarang 50275

Buletin dan CD
Bersama ini saya memohon untuk dapat menerima buletin dan CD gratis dari AMPL yang akan kami manfaatkan di perpustakaan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya.
Andy Fefta Wijaya Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Jl. MT Haryono No 163 Malang - Jawa Timur, Indonesia

Perlu Buku
Saya adalah staf pengajar di Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Jember. Bagian program kami memerlukan buku-buku yang berkaitan dengan Kesehatan Lingkungan, dan kami telah menerima jurnal yang telah Anda kirimkan. Kami ingin memper-

Terima kasih kami sampaikan kepada para pembaca setia Percik. Untuk diketahui, Percik bisa didapatkan secara cuma-cuma. Kami akan mengirimkan kepada Anda yang telah mencantumkan alamat lengkap. Sedangkan mengenai pustaka, untuk diketahui bahwa jumlahnya sangat terbatas. Oleh karena itu, kami bisa membantu sejauh pustaka itu ada dan mencukupi. Kalau tidak, Anda perlu memperbanyaknya sendiri. Lebih jelasnya, silakan anda menghubungi sekretariat Pokja AMPL. Terima kasih. (Redaksi)

Percik

Desember 2005

L A P O R A N U TA M A

KEPEDULIAN MASIH KURANG


Sektor air minum dan sanitasi masih dianggap kurang penting. Ini terlihat dari tingkat kepedulian terhadap sektor ini dan dampak yang muncul selama setahun. Perubahan yang diharapkan masih menjadi impian.

Wajah AMPL 2005

ahun 2005 hampir usai. Pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan (AMPL) tampaknya juga berlalu begitu saja. Belum ada perubahan signifikan di sektor tersebut. Memang bisa dimaklumi, karena sektor lain tak jauh berbeda alias jalan di tempat. Mungkin banyak alasan yang bisa dikemukakan, misalnya pemerintahan baru terbentuk, anggaran terlambat turun, mutasi birokrasi dan sebagainya. Diakui atau tidak, sektor ini belum mendapat perhatian yagn memadai. Anggaran pemerintah pusat untuk permukiman kurang dari 10 persen. Bisa dinilai berapa persen dari jatah tersebut diperuntukkan untuk sektor AMPLyang merupakan bagian dari permukiman--, sangat kecil. Padahal, diperkirakan pembangunan AMPL perlu dana Rp 50 trilyun hingga 2015 untuk memenuhi target Millennium Development

Goals (MDGs). Perhatian pemerintah daerah bahkan lebih menyedihkan. Berdasarkan survei di enam kabupaten, alokasi APBD untuk sektor ini pun kurang dari 10 persen, bahkan ada yang mendekati nol persen.
LUMAJANG TAKALAR KUNINGAN SUBANG SIKKA SUMBA TIMUR 2003 0.56 1.15 1.33 3.06 7.91 2004 5.56 0.01 0.97 1.37 0.85 0.1 2005

1.06

Tak heran cakupan pelayanan AMPL tak beranjak angkanya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tingkat pelayanan air bersih perpipaan di perkotaan mencapai 52 persen dan di perdesaan 5 persen. Secara keseluruhan, sistem pelayanan air limbah, baik sistem setempat (on site) maupun terpusat (off site) di perkotaan telah men-

jangkau 25,5 persen penduduk di 399 kota. Sistem pengelolaan persampahan di perkotaan melayani 32,1 persen penduduk di 384 kota. Secara nasional 54,56 persen rumah tangga memiliki saluran drainase yang baik, dan 31,98 persen tidak mempunyai saluran drainase sama sekali. Akses masyarakat terhadap sarana dan prasarana AMPL masih rendah, terutama di perdesaan. Umumnya pelayanan AMPL terdistribusi secara tidak merata antardaerah dan wilayah, serta di banyak daerah distribusinya juga tidak adil dan merata di antara masyarakat yang kaya dan miskin. Tingkat efisiensi pemanfaatan kapasitas terpasang sistem air bersih, baru mencapai 76 persen dari total kapasitas terpasang. Ini berarti bahwa terdapat 24 persen kapasitas menganggur, yang berarti inefisiensi penggunaan dana untuk pembangunan prasarana tersebut. Hal ini terutama disebabkan pembangunan di masa lalu yang lebih mengedepankan pendekatan dari atas (top down) sehingga kapasitas yang dibangun tak sesuai kebutuhan. Proporsi keluarga di perkotaan yang menggunakan tangki septik dan cubluk memang cukup besar yakni 80,5 persen (tanpa memperhatikan kualitasnya), BPS, 2004. Sebanyak 73,13 persen kelu-

Percik

Desember 2005

L A P O R A N U TA M A
arga perkotaan telah memiliki jamban keluarga dan 16,9 persen menggunakan jamban bersama dan jamban umum. Sedangkan untuk di desa, angkanya berkisar pada 50 persen. Dalam kondisi yang demikian itu, lingkungan mengalami degradasi yang parah. Ini akibat pertambahan penduduk yang cepat, urbanisasi, dan industrialisasi. Daerah tangkapan air mulai rusak. Pencemaran air terjadi. Akibatnya ketersediaan air menjadi masalah yang serius. Dari segi kualitas, di beberapa daerah aliran sungai kualitas air terus menurun karena pencemaran baik yang berasal dari air limbah domestik maupun industri, atau pun usaha lain seperti pertambangan dan penggunaan pestisida. Kondisi pencemaran badan air oleh berbagai sebab, khususnya air limbah, sudah sangat memprihatinkan. Sekitar 76 persen dari 52 sungai di Jawa, Sumatera, Bali, dan Sulawesi tercemar berat oleh cemaran organik, dan 11 sungai-sungai utama tercemar berat oleh unsur amonium. Ini semua karena ulah manusia yang tidak mengelola alam secara arif dan bijaksana. Penebangan liar terjadi di mana-mana tanpa ada tindakan tegas. Tak heran banjir dan tanah longsor terus terjadi, sama seperti tahun sebelumnya. Korban tewas, luka, dan kerugian harta benda tak terelakkan. Pengeboran air dan pembuangan limbah industri sembarangan, terutama di kota-kota, tak memperhatikan aspek kelestarian dan daya dukung lingkungan. Sebagai contoh Jakarta, pemanfaatan air tanah sudah melampaui 60 persen ambang batas aman (safe yield). Akibatnya, pada daerah-daerah tertentu terjadi penurunan permukaan hingga lebih dari lima meter. Akibat pencemaran oleh industri di kawasan Jakarta Utara, nilai ekonomi air di kawasan itu, yaitu Kali Cakung Dalam di Rorotan Marunda, akan terus menurun secara bertahap. Jika nilai air itu diuangkan pada tahun 2003 sebesar Rp 1,094 milyar, beberapa tahun kemudian hanya
FOTO: MUJIYANTO

akan bernilai sekitar Rp 337 juta. Perubahan nilai air itu yang turun selama periode 2003-2010, mengakibatkan udang, kepiting, dan kerangan-kerangan akan keracunan mercuri air kali. Pada tahun 2010, karena kadar Cd air tanah melebihi baku mutu, air bersih di kawasan itu tak layak lagi diminum. Selanjutnya pada 2028, air tak bisa lagi untuk pertanian karena kadar Hg melebihi ambang batas (Suara Pembaharuan, 18/11/05). Alam juga makin berat bebannya karena sampah yang terus bertambah. Laju timbulan sampah pertahun diperkirakan 1,49 persen. Bagi beberapa daerah yang memiliki lahan, mungkin pada saat ini tidak menjadi masalah. Tapi di kota besar, sampah menjadi persoalan besar. Lihat saja Jakarta, yang saat ini kebingungan membuang sampahnya setelah TPST Bojong terus ditentang pengoperasiannya oleh warga sekitarnya, sedangkan TPA Bantar Gebang tak bisa lagi digunakan. Bandung juga mengalami hal yang sama setelah musibah longsornya TPA Leuwigajah. Era otonomi ternyata melahirkan ego daerah, tanpa peduli dengan komunitas masyarakat dan kepentingan yang lebih

besar. Di satu sisi, kesadaran masyarakat untuk melaksanakan 3 R (reuse, reduce, recycle) terhadap sampah masih rendah. Mereka masih tak peduli terhadap barang kotor ini. Perilaku masyarakat untuk hidup bersih dan sehat masih perlu ditingkatkan. Akses masyarakat yang rendah terhadap sarana dan prasarana AMPL juga akibat masalah kelembagaan dan penegakan hukum. Lembaga atau instansi yang mengurusi AMPL sendiri belum menunjukkan kinerja yang memadai dan profesional. Masalah manajemen, keuangan, sumber daya manusia, dan kelembagaan tak kunjung usai. Sementara penegakan hukum berjalan lemah, kalau tidak mau dibilang tidak berjalan sama sekali. Peraturan dan perundang-undangan hanya tertulis di atas kertas. Perusakan terhadap lingkungan tak terelakkan. Kondisi buruk itu berdampak langsung. Aksi sama dengan reaksi, begitu hukum relativitas. Maka ketika tidak ada aksi yang signifikan dalam pembangunan AMPL, reaksi yang diharapkan pun tak muncul, alias terjadi stagnasi. Itu masih lebih baik, faktanya kondisi kesehatan masyarakat-yang merupakan hasil dari sebuah proses yang terkait

Percik

Desember 2005

L A P O R A N U TA M A
langsung dengan asupan AMPL-makin memburuk. Ini ditandai dengan munculnya berbagai penyakit misalnya polio, demam berdarah, flu burung, diare, dan cholera. Penyakit yang terakhir ini terjadi belum lama ini tanpa terpublikasi. Secara umum, dari 175 negara di dunia, Indonesia berada pada peringkat 112 di bidang kesehatan. Menteri Kesehatan Fadillah Supari menilai ini peringkat yang buruk, meskipun tingkat kesehatan ini lebih baik dibandingkan sebelumnya. Kondisi ini ada di depan mata. Kita tak bisa menyalahkan ini pada satu pihak. Semua pihak harus ikut bertanggung jawab. Tidak dapat dipungkiri selama ini masyarakat kurang diberdayakan dalam penyelenggaraan AMPL sehingga keberlanjutan sarana dan prasarana AMPL tak terwujud. Di sisi lain, aparat pemerintah masih memiliki pola pikir proyek dan menganggap rakyat bodoh. Penyakit ketidakberdayaan juga menghinggapi para birokrat sehingga bila tidak ada dana, tidak ada kerja, dan tidak peduli terhadap kondisi rakyat yang harus dilayaninya. Ketidakberdayaan ini menjadi penyakit kronis yang dihadapi bangsa ini. Tantangan Indonesia telah masuk 'jebakan' MDGs. Indonesia, dalam hal ini pemerintah, merasa harus melaksanakan kesepakatan yang dihasilkan di Johannesburg, Afrika Selatan, tahun 2002 itu. Di bidang AMPL, Indonesia harus bisa mengurangi separuh, pada tahun 2015, dari proporsi penduduk yang tidak memiliki akses terhadap air minum dan sanitasi dasar. Asumsinya, capaian itu akan berpengaruh besar terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dari sisi masyarakat, tekad pemerintah itu sangat baik. Persoalannya adalah apakah itu realistis. Terlalu banyak masalah yang dihadapi oleh negeri ini. Dalam sistem yang carut marut seperti sekarang ini, para pengambil kebijakan-termasuk wakil rakyat-lebih suka hal-hal nyata yang hasilnya bisa dilihat/dirasakan langsung. Ini tentu berbeda dengan dampak pembangunan AMPL yang tidak serta merta terasa untuk bersama pemerintah mencapai target MDGs dengan kapasitas yang dimilikinya. Berdasarkan kajian UNSFIR (2003), Indonesia baru dapat mencapai pengurangan separuh dari jumlah penduduk tanpa akses terhadap air minum dan sanitasi dasar pada tahun 2040. Diperkirakan ada 24 propinsi yang tidak mencapai target tersebut pada tahun 2015. Ada hal paradoks antara target dan proses. Di satu sisi, pemerintah lebih menekankan pembangunan AMPL itu melalui proses pemberdaFOTO: MUJIYANTO yaan dan itu butuh waktu yang lebih lama. Di sisi lain, target MDGs telah menjadi 'mainstream' yang harus dipenuhi agar komitmen Indonesia dapat terpenuhi. Sehingga bukan tidak mungkin pola pikir proyek yakni 'mengejar target' kembali akan berlaku. Yang pasti, ada target atau tidak, rakyat butuh akses air minum dan penyehatan lingkungan demi kesejahteraan hidup mereka. Dan ini butuh penanganan dan keseriusan pemerintah sebagai pihak yang telah diberi amanah oleh rakyat untuk mengatur negara. Ini membutuhkan visi dan misi yang jelas, yang tidak tergantung pada negara atau organisasi internasional. Terobosan dan kreativitas sangat dinantikan oleh rakyat. Makanya pemerintahpun harus berdaya untuk membangun dirinya sehingga tidak mudah disetir oleh pihakpihak tertentu yang memiliki misi tersembunyi. Air minum dan lingkungan sehat untuk hidup berkualitas sangat dinantikan oleh rakyat. Tentu ini bukan sekadar slogan. Kapan bisa diwujudkan? MJ

atau efeknya jangka panjang. Dukungan dana bagi sektor ini pun tak bisa diharapkan, sekali pun dari pihak swasta mengingat begitu besarnya kebutuhan. Sementara negara kaya, yang seharusnya menyisihkan sebagian dari Produk Domestik Bruto (PDB)-nya untuk membantu negara miskin sebesar 0,1 persen, tak bisa dipegang janjinya. Muncullah strategi baru pembangunan, yang disebut pemberdayaan. Masyarakat selama ini dianggap tidak berdaya. Karenanya, masyarakat dengan keterbatasan yang dimilikinya didorong untuk mampu membangun dirinya sendiri. Pemerintah berperan sebagai fasilitator. Rakyat 'difasilitasi'

Percik

Desember 2005

L A P O R A N U TA M A

Setahun Menunggu Pengesahan

Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Lembaga

ebijakan nasional pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan (AMPL) berbasis masyarakat telah dua tahun dilaksanakan. Kendati belum ke seluruh wilayah, uji coba pelaksanaannya memunculkan harapan akan penyelenggaraan AMPL berbasis masyarakat di masa mendatang. Namun, kebijakan ini belum cukup untuk menjangkau penyelenggaraan AMPL secara keseluruhan. Di sisi lain ada tingkat kebutuhan akan sarana dan prasarana AMPL yang relatif besar. Dalam kaitan ini mau tidak mau pengelolaannya akan mengarah kepada berbasis lembaga. Kebutuhan yang besar akan memerlukan sumber daya yang besar pula untuk memenuhinya, baik sumber daya manusia, keuangan, teknologi dan yang lainnya. Atas dasar itu, pemerintah sedang merancang kebijakan nasional pembangunan AMPL berbasis lembaga. Secara persiapan, proses penyusunannya sudah selesai. Bahkan akhir Desember 2004 sebenarnya draftnya tinggal merevisi. Tapi hingga akhir tahun 2005 ini, draft tersebut belum juga ditandatangani. Banyak kendala di sana. Ini tentu wajar karena kebijakan ini terkait dengan banyak sektor dan banyak 'kepentingan'. Masih ada hal-hal yang perlu disinkronisasikan terlebih dahulu. Yang pasti dengan adanya kebijakan ini diharapkan ada arahan bagi semua stakeholder dalam melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan penyelenggaraan AMPL, yaitu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan menunjang pertumbuhan ekonomi sehingga terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Sa-

FOTO: ISTIMEWA

sarannya i) peningkatan akses, ii) penggunaan efektif, dan iii) menjamin keberlanjutan. Kebijakan umum pembangunan sektor AMPL sebagai berikut: 1. Mengutamakan Masyarakat Miskin dalam Peningkatan Pelayanan AMPL 2. Menjaga Keseimbangan Antara Kebutuhan Penyelenggaraan AMPL dan Daya Dukung Lingkungan 3. Meningkatkan Keterlibatan Semua Pihak dalam Penyelenggaraan AMPL 4. Mengoptimalkan Penerapan Prinsip Kepengusahaan dan Prinsip Pemulihan Biaya dalam Penyelenggaraan AMPL 5. Mengefektifkan Penegakan Hukum 6. Mengembangkan Mekanisme Kerjasama Antardaerah dan Antarsektor dalam Penyelenggaraan AMPL

Kebijakan umum tersebut kemudian diturunkan dalam kebijakan sektor yang terdiri atas empat sektor yakni air minum, air limbah, persampahan, dan drainase. Air Minum Pelayanan air minum saat ini masih sangat terbatas. Ini terjadi di perkotaan, khususnya menimpa mereka yang ekonominya lemah dan tinggal di daerah kumuh. Biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan air terkadang cukup besar dilihat dari penghasilannya. Di sisi lain, daya dukung lingkungan terhadap sumber daya air makin menurun. Kendati bisa diperbaharui, ketersediaan sumber daya air dibatasi kondisi geografis dan musim. Ketersediaan air baku untuk air minum menjadi masalah

Percik

Desember 2005

L A P O R A N U TA M A
yang dialami oleh sebagian besar penyedia jasa. Sementara itu, kebutuhan akan air minum cenderung makin meningkat baik yang diakibatkan oleh pertambahan penduduk maupun perubahan pola hidup. Sementara PDAM yang diharapkan mampu melayani masyarakat belum bisa seperti yang diharapkan baik dari sisi kualitas dan kuantitas air yang ditentukan. Perusahaan itu masih menghadapi masalah intern baik dari sisi manajemen, tarif, dan peraturan perundangundangannya. Sedangkan peran swasta belum tampak. Atas berbagai kondisi tersebut maka kebijakan sektor air minum berupa: 1. Peningkatan kualitas dan cakupan pelayanan dari air bersih menjadi air minum secara bertahap 2. Meningkatkan akses pada sarana dan prasarana air minum dengan mengutamakan masyarakat berpenghasilan rendah dan daerah rendah akses 3. Melibatkan konsumen dalam mendorong peningkatan kualitas pelayanan 4. Pengendalian konsumsi air minum melalui instrumen peraturan dan tarif 5. Meningkatkan peran pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dalam penanganan air baku 6. Menerapkan prinsip kepengusahaan dan pemulihan biaya dalam pengelolaan air minum dengan menjamin kebutuhan dasar 7. Meningkatkan peluang investasi dalam penyelenggaraan air minum Air Limbah UU Sumber Daya Air pasal 40 mengharuskan adanya keterpaduan antara air minum dan air limbah. Namun sampai saat ini masih belum ada keseragaman konsep dalam hal penanganan air limbah. Pembangunan air minum saat ini masih berorientasi pada pengolahan air baku menjadi air minum, tetapi tidak memperhatikan buangan yang dihasilkan dari penggunaan air minum yang akan menyebabkan penambahan beban pencemaran air baku. Bila hal ini terus berlanjut akan menyebabkan tingginya dana yang diperlukan untuk mendapatkan kualitas air minum yang memenuhi syarat kesehatan dan pemulihan sumber daya air. Di samping itu, belum adanya standar perencanaan tentang sistem pelayanan air limbah, baik itu untuk skala kawasan maupun perkotaan, menyebabkan sarana air limbah banyak yang terbangun namun tidak memenuhi syarat aman bagi lingkungan Pencemaran badan air oleh berbagai sebab, khususnya air limbah sudah sangat memprihatinkan. Sebanyak 76,2 persen dari 52 sungai di Jawa, Sumatera, Bali, dan Sulawesi tercemar berat oleh cemaran organik, dan 11 sungai-sungai utama tercemar berat oleh unsur amonium. Sungai-sungai utama di perkotaan umumnya tercemar dengan rata-rata yang telah melampaui ambang batas kadar BOD sebanyak 34,48 persen dan kadar COD sebanyak 51,72 persen. Sebanyak 32,24 persen sampel air minum perpipaan dan 54,16 persen sampel air minum non perpipaan mengandung bakteri coli. Diakui atau tidak, masyarakat sebagai pembuang limbah belum begitu peduli terhadap hal yang dilakukannya. Kondisi ini semakin diperparah dengan ketiadaaan/minimnya akses masyarakat ke sarana dan prasarana air limbah. Bagi yang ada pun, kinerja pengelola dan kedudukannya secara kelembagaan masih rendah. Kepedulian pemerintah pun kurang. Ini terlihat dari minimnya anggaran dan kurangnya peraturan perundang-undangan di sektor ini. Untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut, kebijakan sektor air limbah disusun sebagai berikut: 1. Mendorong keterpaduan antara pengaturan sektor air minum dan air limbah 2. Pengelolaan air limbah dilakukan untuk keperluan konservasi air baku 3. Meningkatkan akses masyarakat pada sarana dan prasarana air limbah yang memadai 4. Memprioritaskan penyediaan akses pada sarana dan prasarana air limbah untuk masyarakat miskin 5. Penyelenggaraan air limbah dilakukan oleh lembaga yang ditunjuk secara khusus 6. Meningkatkan peran pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dalam penyelenggaraan air limbah 7. Penerapan prinsip pemulihan biaya secara bertahap dalam penyelenggaFOTO: ISTIMEWA

Percik

Desember 2005

L A P O R A N U TA M A
FOTO: ISTIMEWA

raan Air Limbah 8. Mengefektifkan Penegakan Hukum dalam Mencegah Pencemaran Sumber Air Persampahan Laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang mencapai 1,49 persen per tahun membawa konsekuensi logis peningkatan timbulan sampah perkotaan (2 - 4 persen per tahun). Laju pertumbuhan itu juga diikuti perubahan komposisi dan karakteristik sampah karena pertumbuhan industri dan konsumsi masyarakat. Peningkatan jumlah timbulan sampah tidak diikuti dengan ketersediaan sarana dan prasarana persampahan yang memadai sehingga sampah yang tidak tertangani menjadi sumber pencemaran lingkungan. Kesulitan lain yang seringkali dihadapi oleh pemerintah daerah adalah terbatasnya lahan TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Sektor ini pun mengalami masalah dalam kelembagaan, peraturan, dan pembiayaan. Seperti halnya sektor air

limbah, persampahan belum mendapat prioritas yang memadai. Hanya saja ada harapan di tingkat masyarakat karena sebagian masyarakat (individu maupun kelompok) sebenarnya telah mampu melakukan sebagian dari sistem pengelolaan sampah baik untuk skala individual maupun skala lingkungan. Kini tinggal bagaimana mendorong potensi yang sudah ada tersebut. Kebijakan sektor persampahan meliputi: 1. Pengurangan sampah semaksimal mungkin dimulai dari sumbernya 2. Mengedepankan peran dan partisipasi aktif masyarakat sebagai mitra dalam pengelolaan sampah 3. Memperkuat kapasitas lembaga pengelola persampahan 4. Pengembangan kemitraan dengan swasta 5. Meningkatkan tingkat pelayanan untuk mencapai sasaran nasional secara bertahap 6. Menerapkan prinsip pemulihan biaya secara bertahap 7. Peningkatan efektifitas penegakan Hukum

Drainase Selama ini belum ada kejelasan apakah sistem drainase di Indonesia hanya diperuntukkan untuk pemutusan genangan air hujan atau termasuk untuk penyaluran air limbah dalam suatu sistem tercampur. Hal ini menyebabkan masih sering dijumpainya sistem drainase yang juga digunakan untuk penyaluran air limbah, khususnya gray water, walaupun tidak didisain untuk suatu sistem tercampur. Sistem tercampur yang tidak direncanakan dengan baik berpotensi menyebabkan pencemaran badan air di daerah hilir. Banyak pembangunan sarana drainase, baik yang dilakukan oleh pemerintah, swasta ataupun masyarakat yang tidak mengikuti master plan yang ada, bahkan di beberapa kota tidak memiliki master plan drainase. Selain itu, perhatian terhadap masalah drainase belum berdasarkan pendekatan program, baru berdasarkan pendekatan kasuistis dan pembangunan suatu wilayah seringkali tidak mengikuti tata ruang yang sesuai dengan pola aliran dan memperhatikan kapasitas resapan. Drainase juga menghadapi kendala pendanaan, penegakan hukum, dan kelembagaan. Perhatian pemerintah baru besar jika ada akibat. Menghadapi hal itu, kebijakan sektor ini ditetapkan sebagai berikut: 1. Menetapkan kewenangan penanganan drainase oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat berdasarkan hirarki sistem drainase 2. Meningkatkan keterpaduan penanganan drainase untuk mendukung keseimbangan tata air 3. Memprioritaskan masyarakat miskin dan daerah padat penduduk dalam penanganan drainase Semua kebijakan sektor, baik air minum, air limbah, persampahan, dan drainase kemudian dijabarkan dalam strategi pelaksanaan secara lebih rinci. Proses sosialisasi pun telah dilaksanakan melalui acara talk show di televisi. Kini yang kita tunggu tinggal pengesahannya. (MJ)

Percik

Desember 2005

L A P O R A N U TA M A

Potret Pokja AMPL 2005


FOTO: POKJA AMPL

elompok Kerja (Pokja) Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) pada tahun 2005 memfokuskan kegiatan pada kampanye publik, operasionalisasi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat di daerah dan penyelesaian Kebijakan Nasional Penyelenggaraan AMPL Berbasis Lembaga. Kampanye publik bertujuan untuk memberikan pemahaman seluruh stakeholder pembangunan sektor AMPL terhadap prinsip-prinsip kebijakan nasional AMPL dan meningkatkan kepedulian, dan keterlibatan mereka dalam pembangunan sektor ini. Beberapa kegiatan kampanye publik telah dilakukan adalah penerbitan Majalah Percik, pengelolaan website, electronic mailing list dan newsletter AMPL, pencetakan poster dan leaflet, pameran serta talkshow di media elektronik. Talkshow dilakukan bekerja sama dengan dua stasiun televisi yaitu TVRI dan Metro TV membahas Kebijakan Nasional Penyelenggaraan AMPL Berbasis Lembaga. Operasionalisasi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat dilakukan melalui beberapa kegiatan sebagai berikut: 1. Lokakarya Lokakarya Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat di tujuh Propinsi. Lokakarya Operasionalisasi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat di derah untuk Mitra NGO dan Lembaga Terkait. Lokakarya Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL pada lokasi CWSH. Lokakarya Sosialisasi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Lokasi WSLIC II Lokakarya Operasionalisasi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat di Daerah.

Pada tahun 2005 ini Pokja AMPL telah membidani penyusunan kesepakatan kerja sama antara Pemerintah Indonesia dengan Plan International, sebuah lembaga swadaya masyarakat internasional. Ini merupakan salah satu upaya pelibatan aktif seluruh stakeholder dalam pembangunan AMPL.
2. Pelatihan Pelatihan Teknis AMPL Pelatihan Teknis ProAir Pelatihan Teknis Pasca Konstruksi WSLIC 2 Pelatihan MPA-PHAST dan Penerapannya dalam Perencanaan dan Monitoring Proyek AMPL Berbasis Masyarakat

3. Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat dengan Mitra Program. 4. Uji coba pendekatan Community Led Total Sanitation (CLTS). Uji coba dilaksanakan bekerja sama dengan WASPOLA di enam lokasi yakni di Lumajang, Muaro Jambi, Sambas, Bogor, Muara Enim dan Sumbawa. Pendekatan CLTS cukup berhasil meningkatkan perilaku masyarakat untuk hidup bersih dan sehat. Namun, tidak semua lokasi uji coba memberikan hasil yang baik. Beberapa hal yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan pendekatan ini adalah budaya dan dukungan tokohtokoh masyarakat setempat. Pada tahun 2005 ini Pokja AMPL telah membidani penyusunan kesepakatan kerja sama antara Pemerintah Indonesia dengan Plan International, sebuah lembaga swadaya masyarakat

Percik

Desember 2005

L A P O R A N U TA M A
FOTO:MUJIYANTO

internasional. Kesepakatan ini dituangkan dalam MoU yang telah ditandatangani oleh Deputi Infrastruktur Bappenas dan Country Director Plan International Indonesia pada tanggal 19 Oktober 2005. Kerja sama ini merupakan salah satu upaya pelibatan aktif seluruh stakeholder dalam pembangunan AMPL. Kegiatan penyusunan Kebijakan Nasional Penyelenggaraan AMPL Berbasis Lembaga telah menghasilkan draft ketiga revisi ketiga. Draft dokumen kebijakan telah disosialisasikan kepada pejabat-pejabat eselon 1 di Ditjen Bangda, Depdagri, Ditjen PMD Depdagri, Ditjen PP dan PL, Depkes dan Kementerian Lingkungan Hidup. Rencana 2006 Rencana kerja Pokja AMPL pada tahun 2006, mencakup kampanye publik, operasionalisasi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL (Berbasis Masyarakat dan Berbasis Lembaga) serta penyusunan pedoman. Pada tahun 2006, kegiatan kampanye publik tidak banyak berubah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kegiatan ini meliputi penerbitan Majalah Percik, pengelolaan website, electronic mailing list dan newsletter AMPL, pencetakan poster dan leaflet, pameran serta talkshow di media elektronik. Diharapkan pada tahun 2006 ini volume penerbitan Majalah Percik dapat ditingkatkan. Hal ini mengingat semakin besarnya minat khalayak terhadap majalah ini. Operasionalisasi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL akan dilakukan melalui beberapa kegiatan seperti: Pertemuan Koordinasi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Pertemuan Koordinasi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL ditujukan untuk peningkatan koordinasi, konsultasi dan supervisi pelaksanaan kebijakan dalam rangka pengembangan rencana tindak pokja AMPL Pusat, Pokja propinsi dan Pokja kabupaten.

Pada tahun 2006, akan dilakukan penyusunan strategi komunikasi yang akan diawali dengan sebuah lokakarya untuk model komunikasi sebagai dasar pengembangan strategi komunikasi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat dan Berbasis Lembaga.

pada tahun sebelumnya seperti CLTS dan SANIMAS. Lokakarya Strategi Komunikasi Disadari bahwa keberhasilan pelaksanaan Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL sangat dipengaruhi oleh penerapan strategi komunikasi kebijakan yang efektif, pada tahun 2006, akan dilakukan penyusunan strategi komunikasi yang akan diawali dengan sebuah lokakarya untuk model komunikasi sebagai dasar pengembangan strategi komunikasi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat dan Berbasis Lembaga. Kegiatan penyusunan pedoman pada tahun 2006 akan diarahkan untuk menghasilkan berbagai petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis serta modul teknis CWSH. Tahun 2006 merupakan tahun pertama realisasi kesepakatan kerja sama antara Pemerintah dengan Plan International. Beberapa lingkup kerjasama yang akan dilaksanakan adalah uji coba penerapan kebijakan nasional AMPL, pelatihan-pelatihan, pengembangan resource center dan penyusunan strategi komunikasi. (AK)

Pelatihan Kegiatan-kegiatan pelatihan pada tahun 2006 ditujukan untuk meningkatkan kapasitas para pelaku operasionalisasi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL dengan berbagai pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan serta untuk mempersiapkan replikasi berbagai pendekatan yang telah diujicobakan

10

Percik

Desember 2005

L A P O R A N U TA M A

WASPOLA, Dari Prinsip ke Aksi

agasan reformasi kebijakan sektor Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) dikembangkan dalam rangka menciptakan peningkatan akses pelayanan AMPL yang lebih baik dan tepat sasaran. Pentingnya implementasi pembangunan yang lebih efisien, tepat sasaran, berpihak kepada masyarakat miskin, peningkatan partisipasi publik, peran serta perempuan, adalah beberapa dari sejumlah perhatian yang mendasari arah perubahan kebijakan sektor AMPL. Sejak digagas pada tahun 1998, WASPOLA (Water and Sanitation Policy and Action Planning) mendorong percepatan ke arah perubahan itu. Kendati pada awalnya gagasan reformasi kebijakan sektor belum begitu akrab di kalangan birokrat, dan ditambah lagi minimnya pembelajaran nasional yang dapat dijadikan acuan, namun proses reformasi itu tetap berlangsung dan mendapat dukungan dari berbagai kalangan. Enam departemen terkait telah menyatakan komitmennya untuk implementasi kebijakan AMPL berbasis masyarakat. Tahun 2005, merupakan tahun ke-2 pelaksanaan WASPOLA 2 setelah WASPOLA 1 berakhir di tahun 2003, yang masih mewarnai reformasi kebijakan AMPL, yang berlangsung pada proses koordinatif yang dinamis. Reformasi dan Implementasi Kebijakan Tahun 2005, Kebijakan Nasional Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat (Kebijakan Berbasis Masyarakat, KBM) diimplementasikan pada 21 kabupaten di 7 propinsi (tabel 1). Sejumlah pengalaman dapat dipetik dari proses implementasi di 21 kabupa-

PROPINSI SUMATERA BARAT BANGKA BELITUNG BANTEN JAWA TENGAH NUSA TENGGARA BARAT SULAWESI

SELATAN

GORONTALO

KABUPATEN SAWAHLUNTO SIJUNJUNG KOTA PAYAKUMBUH TANAH DATAR BANGKA SELATAN BANGKA BARAT KOTA PANGKAL PINANG LEBAK PANDEGLANG KOTA TANGERANG KEBUMEN PEKALONAGN GROBOGAN LOMBOK BARAT LOMBOK TIMUR SUMBAWA PANGKEP TAKALAR SELAYAR GORONTALO BONE BOLANGO

ten tersebut. Pengalaman pelaksanaan pembangunan AMPL selama ini dapat dijadikan sebagai alasan kuat untuk melakukan reformasi kebijakan di daerah. Ketidakberfungsian sarana, inefisiensi, dan pembangunan yang tidak tepat sasaran adalah beberapa contohnya. Setidaknya, tercatat dua hal penting mengapa reformasi kebijakan ini penting, pertama, (i) pelayanan AMPL sering dipahami sebagai penyediaan sarana AMPL dan kedua (ii) anggaran yang tersedia untuk mengembangkan sarana AMPL sangat terbatas, dan karenanya perlu keterlibatan pihak nonpemerintah. Dukungan fasilitasi WASPOLA terhadap implementasi kebijakan, pada konteks ini adalah menjembatani transfer informasi dan pengetahuan, agar pelayanan itu tidak sekadar membangun sarana, tetapi lebih dari itu, yakni keberlanjutan. Keberlanjutan diawali oleh perubahan paradigma untuk menuju kesinambungan pembangunan dalam aspek kelembagaan, keuangan, sosial, teknis dan lingkungan. Selain itu, dukungan juga diberikan dalam rangka membangun sinergi antara pemerintah dan non-pemerintah agar pelayanan AMPL dapat

berlangsung berdasarkan komitmen bersama dan peranan berbagai pihak. Pelibatan ini akan membangun tanggung jawab kalangan, tidak saja dalam pembiayaan operasi dan pemeliharaan tetapi mungkin saja investasi. Beberapa contoh pelaksanaan pembangunan yang diinisiasi dengan konsep demand-driven dan pendekatan tanggap kebutuhan, telah menunjukkan bahwa sesungguhnya terdapat potensi tersembunyi di tengah masyarakat, baik dana, kemampuan dan komitmen. Prinsip-prinsip kebijakan yang dibangun dengan semangat kebersamaan dan komitmen perubahan, dari penyedia ke fasilitator, seyogyanya ditunjukkan pada implementasi pembangunan sektor AMPL, oleh pemerintah pusat dan daerah. Peningkatan Kapasitas, Kebutuhan Penyelenggaraan AMPL Pada pengalaman fasilitasi penyusunan kebijakan di daerah, terutama pada konteks reformasi kebijakan AMPL, peningkatan kemampuan sumber daya merupakan kebutuhan yang melekat pada reformasi itu sendiri. Isuisu keberlanjutan dan pelayanan tanggap kebutuhan merupakan tema penting yang memerlukan kekuatan pemahaman dan komitmen sektoral. Tahun 2005, WASPOLA telah memfasilitasi interaksi masyarakat dan pemerintah dalam rangka penggalian dan tukar informasi tentang pelayanan AMPL di lapangan. Hasilnya antara lain menumbuhkan kepedulian dari kalangan pemerintah, mendorong apresisasi terhadap peran serta masyarakat dan timbulnya rasa percaya diri masyarakat terhadap pengelolaan sarana AMPL. Isu-isu keberlanjutan pelayanan AMPL, merupakan isu yang kerap kali disuarakan oleh pelaku pembangunan AMPL di daerah. Identifikasi Pokja

Percik

Desember 2005

11

L A P O R A N U TA M A
FOTO:ISTIMEWA

daerah terhadap aspek-aspek keberlanjutan pelayanan air minum di beberapa kabupaten, menemukan beberapa variabel penentu keberlanjutan, dan saling terkait. Sebagai contoh, pada kunjungan lapangan ke 4 desa di Kabupaten Bone Bolango, yaitu desa Talamelito, Molintogupo, Tangga Jaya dan Illoheluna, memperlihatkan variabel yang berbeda. Ditemukan bahwa pilihan teknologi tidak disertai dengan pengelolaan lembaga dan keuangan serta perlindungan lingkungan, bahkan ditemukan bahwa keberlanjutan pelayanan AMPL juga rentan terhadap "kebijakan personal" atau perilaku aparat pemerintah desa. Pelayanan air minum di Dese Lonuo, yang pernah mendapat apresiasi dari pemerintah dan lembaga internasional sebagai percontohan pelayanan air bersih, saat ini terancam tidak berfungsi karena lemahnya pengelolaan kelembagaan. Pada konteks ini, pemerintah daerah mencermati persoalan di lapangan dan kemudian memberikan technical assistance untuk perbaikan pelayanan air bersih di desa itu. Hal yang mirip, terjadi di beberapa kabupaten dan WASPOLA mendorong proses ini tetap berlangsung. Selain itu pendekatan partisipatif, yang diperkenalkan

WASPOLA melalui pelatihan MPAPHAST, dapat membantu kelompok kerja AMPL daerah menganalisa berbagai persoalan di tingkat komunitas. Analisis Pelayanan AMPL WASPOLA mendukung pemangku kepentingan untuk melakukan penilaian terhadap pelayanan AMPL. Pada tingkat daerah, kegiatan ini dilakukan dalam bentuk kajian lapangan dan pengembangan database, sedangkan di tingkat pusat, dilakukan melalui studi yang komprehensif untuk menemukenali persoalan pelayanan AMPL khususnya di era desentralisasi. Keseluruhan kegiatan ini, yang dilakukan di daerah dan di pusat, telah menghasilkan pembelajaran penting untuk arah perbaikan pelayanan AMPL, melalui reformasi kelembagaan, keuangan dan regulasi. Langkah Menuju Prioritas AMPL Rendahnya akses pelayanan AMPL pada pembangunan infrastruktur, ditengarai karena lemahnya dukungan yang diberikan pada sektor ini. Kebanyakan daerah, bahkan pusat, tidak menjadikan AMPL sebagai prioritas pembangunan, setidaknya terlihat dari proporsi penganggaran, kejelasan kelembagaan dan

ketersediaan sumber daya. Di beberapa daerah, rencana strategis daerah (Renstrada), AMPL dimasukkan sebagai bagian dari komponen lain, misalnya perumahan atau kesehatan. Dalam konteks ini, penyiapan rencana strategis AMPL merupakan bagian dari upaya menempatkan AMPL sebagai prioritas pembangunan. Dukungan teknis WASPOLA dalam penyusunan rencana strategis AMPL mendapat apresiasi dari pokja daerah. Renstra ini disusun dalam rangka penyiapan rencana kerja jangka panjang dan menengah yang sejalan dengan Renstrada. Formulasi visi, misi, identifikasi faktor internal/eksternal, perumusan mandat, analisa SWOT, isu strategis dan penyusunan program strategis adalah beberapa materi yang perlu diketahui dalam penyusunan renstra. Keterlibatan pemangku kepentingan secara luas dan langsung, adalah ciri yang didorong WASPOLA dalam penyusunan renstra AMPL di berbagai daerah. Daerah yang telah memiliki renstra akan lebih maju mempersiapkan rencana komprehensif pembangunan AMPL dalam rangka pencapaian target MDGs, dan peluang kemitraan strategis dengan berbagai pihak. Menempatkan AMPL sebagai prioritas akan menghemat daerah untuk investasi biaya sosial penanggulangan dampak akibat buruknya pelayanan air minum dan sanitasi termasuk kesehatan. Kebijakan Lembaga, Menjawab Pasar Sebagai bagian dari reformasi kebijakan, ketersediaan kebijakan untuk pengaturan pelayanan AMPL oleh lembaga, disadari semakin penting. Keberadaan PDAM di hampir seluruh Indonesia, ternyata tidak berkorelasi langsung dengan peningkatan akses pelayanan air minum. Data PU mencatat cakupan layanan air minum perkotaan berkisar 39 persen, sedangkan PDAM berada di 306 kabupaten (70 persen) di Indonesia . Hal ini terjadi karena cakupan layanan masing-masing PDAM terse-

12

Percik

Desember 2005

L A P O R A N U TA M A
but masih sangat rendah, sedangkan untuk mengembangkan daerah layanan kemampuan terbatas. Belum lagi ditambah dengan persoalan utang yang melilit hampir seluruh PDAM. Pada sisi lain, swasta telah menunjukkan upaya yang serius untuk berpartisipasi pada pelanan sektor AMPL. Catatan salah satu LSM di Solo, menunjukkan saat ini telah ada 23 PDAM yang siap bekerjasama dengan swasta. Sejalan dengan itu, untuk menjaga iklim investasi tetap berlangsung dan sekaligus memberi jaminan pelayanan pelanggan khususnya masyarakat tidak mampu, maka diperlukan kebijakan yang komprehensif dan dapat mengakomodasi berbagai kepentingan. Tantangan inilah yang sedang dijawab oleh pemerintah melalui penyediaan kebijakan nasional pembangunan sektor AMPL berbasis lembaga. Upaya WASPOLA untuk memfasilitasi proses formulasi telah dilakukan sejak tahun 2003, dan lebih intensif lagi pada tahun 2004-2005. Keterlibatan berbagai sektor, baik pemerintah, swasta, LSM, perguruan tinggi, asosiasi sangat terasa pada proses formulasi ini. Kebijakan berbasis lembaga ini disusun lebih komprehensif dengan struktur dan konsep yang lebih kuat. Dibagi atas kebijakan umum dan kebijakan sektor yang terdiri dari air minum, air limbah, drainase dan persampahan. Namun sebagai suatu proses, kebijakan ini memerlukan dukungan dan penerimaan dari berbagai kalangan, khususnya daerah dan kalangan swasta, agar menjadi kebijakan bersama dan dapat diimplementasikan segera. Untuk pencapaian target MDGs, pemerintah harus secara cepat menggandeng berbagai kalangan yang peduli terhadap pelayanan AMPL, khususnya swasta dan sekaligus menciptakan iklim yang kondusif terhadap kebutuhan investor agar kemitraan itu dapat terjalin. Sanitasi, Gerbong Belakang Sarat Penumpang Sanitasi, ketika masih dipikirkan terpisah dari pembangunan air minum, yang diibaratkan pada kereta api adalah kereta tua yang berjalan terseok-seok. Pembangunannya selalu tertinggal dibanding air minum. Namun ketika loko disatukan, sanitasi dan air minum harus dilakukan secara integral, ternyata sanitasi hanya ditempatkan pada gerbong paling belakang yang sarat penumpang, yang tidak pernah bisa melewati gerbong depannya. Model yang mirip terjadi pada pembangunan sanitasi, tetap tertinggal tetapi memiliki banyak isu dengan dampak luas. Hal itu semakin nyata, bila menilik anggaran yang dialokasikan daerah untuk sektor sanitasi. Dalam konteks ini, WASPOLA mendorong penerapan perubahan cara pandang terhadap pembangunan sanitasi. Melalui pendekatan CLTS (Community Led Total Sanitation) pembangunan sanitasi lebih memerlukan perubahan sikap, baik pemerintah maupun masyarakat, agar pemerintah tidak lagi seharusnya sebagai penyedia, dan masyarakat tidak lagi sekedar pengguna. Perubahan cara pandang ini akan menciptakan perubahan tingkah laku yang akhirnya merangsang kebutuhan dan inovasi. Pada SANIMAS (sanitasi oleh masyarakat), pelibatan dan partisipasi publik merangsang tumbuhnya rasa memiliki dan willingness to pay. Dua dari sekian konsep pembangunan sanitasi ini adalah konsep yang diperkenalkan WASPOLA agar sanitasi tidak lagi menjadi gerbong belakang yang sarat penumpang. Promosi dan Kemitraan, Upaya untuk Mencapai Hasil Kebijakan, sebagai suatu hasil publik dan sebagai suatu proses, harus senantiasa dipromosikan atau terdiseminasi secara berkelanjutan. WASPOLA dan Pokja AMPL, telah berada di jalur itu. Keterlibatan pada berbagai kegiatan, lokal, nasional, regional dan internasional telah dilakukan, dalam rangka membangun rasa tahu, peduli, komitmen dan ownership. Bersama Pokja kabupaten dan propinsi, kebijakan telah didiseminasikan ke pemangku kepentingan lokal. Kemitraan dengan LSM, perguruan tinggi, swasta juga dilakukan dalam rangka membangun sinergi dan dukungan kapasitas. Beberapa kegiatan yang diikuti oleh WASPOLA, telah menunjukkan fakta yang mengesankan, misalnya di 2 kegiatan pameran, stand dikunjungi kurang lebih 200 orang dan mendiskusikan isu-isu seputar AMPL

BEBERAPA KEGIATAN WASPOLA PADA TAHUN 2005


JANUARI 2005 Penyusunan desain kegiatan dukungan WASPOLA terhadap pengembangan kebijakan di lokasi WSLIC dan CWSH. Rasionalisasi Rencana Kerja WASPOLA tahun 2005 Persiapan uji coba CLTS PEBRUARI 2005 Lokakarya konsolidasi operasionalisasi Kebijakan Nasional berbasis masyarakat, tanggal 15-17 Pebruari 2005 di Surabaya. Lokakarya pengembangan strategi komunikasi, tanggal 17 Pebruari 2005, Surabaya. Kick off, uji coba pendekatan CLTS di Indonesia. MARET 2005 Penilaian kesiapan propinsi dalam operasionaliasasi kebijakan nasional Roadshow kebijakan nasional berbasis lembaga kepada kementerian lingkungan hidup, tanggal 29 Maret 2005 Kegiatan lapangan studi analisis pelayanan AMPL di era desentralisasi Tujuh orang anggota Pokja AMPL dan WASPOLA menghadiri Water Week 2005, di Washington, Amerika Serikat, pada tanggal 28 Pebruari-3 Maret 2005 Presentasi Kebijaan nasional AMPL pada seminar dan pameran Indowater 2005, tanggal 30 Maret 2005.

Percik

Desember 2005

13

L A P O R A N U TA M A
APRIL 2005 WASPOLA dan Pokja AMPL berpartisipasi pada WSP retreat di Guilin, China, tanggal 4-6 April 2005 WASPOLA dan Pokja AMPL, berpartisipasi pada pameran World Water Day, di kompleks PU Jakarta. Dihadiri lebih dari 200 pengunjung Partisipasi pada Pencanangan Gerakan Kemitraan Penyelamatan Air, 28 April 2005, di istana presiden MEI 2005 Diseminasi kebijakan nasional di Propinsi Banten Pelatihan CLTS untuk anggota Pokja AMPL, Proyek WSLIC dan CWSH di Lumajang, 2-5 Mei 2005 Pelatihan CLTS untuk pokja daerah di Sumbawa, 9-12 Mei 2005 Penyusunan Rencana kerja pelatihan CLTS di daerah JUNI 2005 Pelatihan penyusunan Renstra AMPL di dua regional, Makasar dan Puncak Pelatihan CLTS di Sambas Penyiapan pelaksanaan studi SANIMAS Outcome Monitoring Study (SOMS) Pertemuan dan diskusi Global PSP Review, sebagai bagian dari pengkayaan isu-isu kebijakan berbasis lembaga, dilakukan di Jakarta. Kegiatan lapangan studi analisis pelayanan AMPL di era desentralisasi. Inisiasi kemitraan AMPL, melalui kerjasama pemerintah dengan Plan International (LSM) JULI 2005 Roadshow Kebijakan Berbasis Masyarakat kepada Pengambil Kebijakan di Propinsi Bangka Belitung Temu wicara radio, Sonora Pangkal Pinang Pelatihan CLTS di Kabupaten Bogor, Muara Jambi dan Muara Enim Penyusunan Laporan semester WASPOLA Diskusi persiapan studi Donor Harmonization AGUSTUS 2005 Lokakarya operasionalisasi Kebijakan, Hotel Permata Alam Puncak Pertemuan koordinasi pelaksanaan kebijakan, Makasar untuk Pokja wilayah Timur di Makasar, Roadshow Kebijakan berbasis masyarakat kepada Policy Makers di Propinsi NTB, Gorontalo dan Banten Talk show di TVRI stasiun Gorontalo Pameran dan Seminar SSAWF di Bali Presentasi studi analisis pelayanan AMPL era desentralisasi OKTOBER 2005 Orientasi MPA-PHAST untuk Pokja Kabupaten dan Propinsi di Bandung Lokakarya dan pelatihan strategi keberlanjutan WSLIC di regional Timur dan Barat di Padang dan Surabaya Roadshow Kebijakan Berbasis Masyarakat kepada Policy Makers di Propinsi Sumatera Barat, dihadiri oleh Wakil Gubernur, Ka Bappeda kabupaten, kota, dinas-dinas, tokoh masyarakat, Pokja AMPL, dan WASPOLA. Road show Kebijakan Berbasis Lembaga kepada Dirjen PMD, Depdagri Pertemuan jaringan kerja dan kemitraan AMPL, di Hotel Kartika Chandra Jakarta. Pertemuan dan diskusi pelaksanaan studi donor harmonisasi Pertemuan dengan lembaga donor, SIDA (Swedish International Development Agency) Lokakarya penyusunan rencana kerja WASPOLA tahun 2006, Hotel Intercontinental NOVEMBER 2005 Mid Term Review WASPOLA Kunjungan studi dalam rangka pengayaan kebijakan lembaga, ke Australia oleh Pokja AMPL dan WASPOLA Lokakarya data AMPL di Propinsi Banten DESEMBER 2005 Mid term review WASPOLA Lokakarya pengembangan data AMPL oleh Pokja Propinsi dan Kabupaten Pelatihan CLTS untuk PCI (LSM) di Kabupaten Pandeglang Finalisasi annual plan WASPOLA tahun 2006 Fasilitasi lokakarya penyusuan rencana kerja Plan International (LSM) Fasilitasi lokakarya data oleh Pokja AMPL. dormaringan h. saragih

Sanitasi, ketika masih dipikirkan terpisah dari pembangunan air minum, yang diibaratkan pada kereta api adalah kereta tua yang berjalan terseok-seok.

SEPTEMBER 2005 Pertemuan tim koordinasi WASPOLA, dihadiri oleh Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas, Pokja AMPL, AusAID, WSP-EAP dan WASPOLA, Pameran dan seminar SSWAF di Bali, Lokakarya sinergi kegiatan AMPL di tingkat daerah, Lokakarya operasionalisasi Kebijakan kepada mitra proyek dan LSM, Hotel Satelit Surabaya, Roadshow Kebijakan Berbasis Masyarakat kepada Policy Makers di Propinsi Jawa Tengah, Roadshow Kebijakan Berbasis Masyarakat kepada Policy Makers di Kabupaten Pandeglang, Tangerang, Kab. Lombok Barat, Lokakarya dan pelatihan Rentra kepada TKK Proyek CWSH Road show Kebijakan Lembaga kepada Dirjen PPPL, Depkes.

14

Percik

Desember 2005

L A P O R A N U TA M A

1,66 Juta Jiwa Penduduk Desa Dapatkan Akses Air Bersih Dari WSLIC-2
Masyarakat perdesaan bahu membahu bergotong royong membangun sarana air bersih dan sanitasi. Tidak kurang dari 1,66 juta jiwa masyarakat berpenghasilan rendah di perdesaan mendapat tambahan air bersih melalui kegiatan WSLIC.
FOTO: HARTONO KARYATIN

pa jadinya hidup tanpa air. Kehidupan pasti tidak berlangsung sebab air merupakan sumber kehidupan. Sayang, walaupun air di bumi sangat melimpah, masih ada orang yang belum bisa menikmatinya dengan layak. Sebagian besar waktu mereka habis untuk mencari air. Mereka menjadi miskin karena tidak sempat melakukan kegiatan produktif. Habis waktunya untuk mencari air. Kini masyarakat perdesaan patut berbangga. Mereka tak sia-sia bahu membahu mengatasi persoalan bersama, menghadirkan air bersih di dekat rumahnya. Bahkan mereka bekerja bakti siang malam untuk mewujudkan impiannya. Usaha mereka tak sia-sia. Kini, tidak kurang dari 1.656.881 jiwa masyarakat perdesaan menikmati tambahan akses air bersih hasil kegiatan WSLIC-2. WSLIC-2 atau Water and Sanitation for Low Income Communities, adalah kegiatan air bersih dan sanitasi yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang tinggal di daerah perdesaan. Ini merupakan perwujudan kegiatan kemitraan masyarakat dan pemerintah. Kegiatan ini sepenuhnya milik masyarakat. Masyarakat merencanakan kegiatan dengan menyusun Rencana Kerja Masyarakat (RKM), melaksanakan, mengawasi dan melaku-

Menkes DR Siti Fadilah Supari, SPJP, membuka kran umum di Kp. Montor Lekong Desa Aikmal Utara Kab. Lombok Timur. Ketua CPMU WSLIC-2 Zainal I Nampira, SKM Mkes dan Kepala Desa Aikmel Utara, ikut mendampingi. Kunjungan Menkes dilaksanakan pada 14 Juli 2005.

kan pengeloaan sarana pascakegiatan. Kegiatan ini sepenuhnya dilaksanakan oleh masyarakat melalui Tim Kerja Masyarakat (TKM) yang dibentuk secara demokratis, dari-oleh-dan untuk masyarakat. Dalam bekerja masyarakat didampingi oleh tim fasilitator. Masyarakat juga berkontribusi sebesar 20 persen dari nilai RKM (nilai RKM berkisar antara Rp 195 - 250 juta per desa). Pemerintah memfasilitasi kegiatan masyarakat ini dan menyediakan dana pendamping sebesar 8 persen dari nilai RKM melalui APBN dan APBD. Sisanya, 72 persen, merupakan dana hibah desa yang berasal dari pinjaman lunak tanpa bunga dari Bank Dunia (IDA-Credit) dan hibah dari pemerintah Australia melalui AusAID. Project Management Report (PMR) merupakan laporan tiga bulanan Manajemen Proyek ke Bank Dunia dan instansi lintas sektor terkait yang tergabung dalam Tim Pengarah. PMR sampai dengan triwulan ketiga (Juli-September 2005) menunjukkan akses air

bersih untuk 1,66 juta jiwa (47 persen dari 3,5 juta jiwa). Data lain menunjukkan jumlah desa terpilih (sort list) 1.605 desa (80 persen), desa yang sudah melaksanakan MPA-PHAST 1.450 (73 persen), Tim Kerja Masyarakat (TKM) yang dibentuk 1.439 (72 persen), Rencana Kerja Masyarakat (RKM) yang diajukan 1.311 (66 persen), dan RKM yang telah disetujui 1.160 (58 persen). Sebanyak 681 desa (34 persen) telah menyelesaikan pembangunan sarana air bersih. Secara keseluruhan implementasi kegiatan telah mencapai 48 persen. Dari hasil misi supervisi VIII WSLIC-2 (30 Mei-13 Juni 2005), Bank Dunia memberi penilaian pencapaian kegiatan WSLIC-2 dengan predikat "satisfactory". Penyediaan air bersih hanyalah sasaran antara kegiatan WSLIC-2. WSLIC-2 bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan, produktivitas dan kualitas hidup masyarakat yang berpenghasilan rendah di perdesaan. Karenanya bersamaan pembangunan sarana air bersih dilaksanakan berbagai kegiat-

Percik

Desember 2005

15

L A P O R A N U TA M A
an PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat) di masyarakat dan di sekolah (SD). Melalui kegiatan ini norma-norma PHBS diperkenalkan ke masyarakat. Tidak kurang dari 1.931 kegiatan usaha kesehatan sekolah (UKS) dilaksanakan di berbagai Sekolah Dasar di wilayah kerja WSLIC-2. Salah satu kegiatannya adalah pemberantasan penyakit cacingan. Tambahan akses air bersih tersebut telah dinikmati masyarakat desa di lima propinsi, yakni Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka-Belitung, Jawa Timur dan NTB. Provinsi Jawa Barat dan Sulawesi Selatan baru mengimplementasi kegiatan WSLIC-2 di tahun 2005, bahkan propinsi Sulawesi Barat akan memulai kegiatannya tahun 2006. Dengan demikian ketiga propinsi tersebut belum menikmati tambahan akses air bersih. Wilayah kerja WSLIC-2 tersebar di delapan propinsi, 35 kabupaten, dan 2.300 desa di seluruh Indonesia. Rencana ke Depan Pada tahun 2006, WSLIC-2 merencanakan untuk implementasi kegiatan di 610 desa. Desa-desa ini tersebar di delapan wilayah propinsi dan 35 kabupaten yang merupakan wilayah kerja WSLIC-2. Ke depan WSLIC-2 akan lebih memperkuat kegiatan kesehatan dan sanitasi melalui perubahan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di kalangan masyarakat dan sekolah. Hal ini merupakan langkah tindak lanjut rekomendasi misi supervisi VIII WSLIC-2 Juni lalu. Manajemen juga memberi penekanan kegiatan pascakonstruksi agar kegiatan berkesinambungan. Institusi lokal dari kecamatan sampai kabupaten bahkan sampai provinsi akan lebih dilibatkan. Manajemen WSLIC-2 telah mengambil berbagai kebijakan. Buku Pedoman Penyusunan RKM (Rencana Kerja Masyarakat) telah direvisi. Kegiatan sanitasi secara terinci harus tercermin dalam RKM yang disusun masyarakat. Harus ada keterpaduan antara kegiatan sanitasi di masyarakat dan di sekolah. RKM yang disusun masyarakat harus mencakup pelayanan sarana air bersih minimal 80 persen dari warga/KK yang dilayani. Bahkan masyarakat harus sudah membuat rencana untuk mencapai 100 persen buang air besar (BAB) di jamban. Kini telah tersedia Katalog Pilihan Opsi Sanitasi dan flash card sanitasi. Melalui buku ini disediakan berbagai pilihan teknologi jamban. Melalui media komunikasi ini fasilitator (CFT) daFOTO: ISTIMEWA

pat memfasilitasi masyarakat untuk memilih teknologi jamban sesuai yang diinginkan dan sesuai kemampuannya. Disediakan pilihan bagi masyarakat untuk memilih jamban, dari yang paling sederhana yang dapat dibuat oleh masyarakat sampai yang tersedia di toko material. Puskesmas dan sanitarian akan diberi alokasi dana untuk melakukan pembinaan dan fasilitasi. Kapasitas sanitarian Puskesmas akan ditingkatkan melalui pelatihan bidang MPA-PHAST, Klinik Sanitasi, CLTS dan PKA. Khusus bagi kepala Puskesmas akan dilakukan orientasi pendekatan klinik sanitasi. Pada lokasi WSLIC-2 akan dilakukan integrasi kegiatan kesehatan dan sanitasi melalui Klinik Sanitasi. Dalam pelatihan dan refreshing CFT, fokus pada bidang sanitasi ini akan lebih ditekankan kembali. Dalam peningkatan kegiatan kesehatan dan sanitasi baik di sekolah dan masyarakat akan dilakukan lokakarya nasional Exit Strategi Program UKS dan PHBS di Masyarakat. Kegiatan ini akan ditindaklanjuti di tingkat kabupaten dalam bentuk diseminasi dan orientasi Guru UKS. Aparat kecamatan akan memberikan dukungan kegiatan PHBS sekolah (paket pascakonstruksi). Dukungan kegiatan juga akan diberikan dalam bentuk pengembangan media promosi, baik di tingkat nasional, propinsi dan kabupaten. Uji coba CLTS (Community Led Total Sanitation) di beberapa kabupaten WSLIC-2 dan non-WSLIC-2 dinilai berhasil. Pendekatan CLTS ini akan dikembangkan dalam implementasi WSLIC-2. Untuk itu akan dilakukan lokalatih fasilitator CLTS bagi petugas propinsi dan kabupaten serta orientasi fasilitator CLTS kecamatan. Di tingkat desa, implementasi kegiatan sanitasi dilakukan melalui fasilitasi CLTS. Melalui pendekatan CLTS, diharapkan terjadi perubahan yang signifikan untuk menihilkan BAB (buang air besar) di tempat terbuka. (Hartono Karyatin, Media &
Communications Specialist WSLIC-2).

16

Percik

Desember 2005

L A P O R A N U TA M A

Zainal I. Nampira, Ketua CPMU WSLIC 2

Perubahan Tak Bisa Dilihat dari Sisi Fisik

FOTO: MUJIYANTO

etika WSLIC diperkenalkan, reaksi negatif muncul dari pemerintah daerah. Mereka sangat meragukan konsep WSLIC ini. Mereka mempertanyakan konsep pemberdayaan masyarakat yang melibatkan warga miskin untuk memberikan kontribusi. Rakyat miskin kok disuruh berkontribusi. Selain itu, pemerintah daerah masih meragukan apakah bisa masyarakat mengelola dana yang diberikan. Mereka sangat khawatir ada kebocoran. Itu dua hal pokok yang dikhawatirkan. Pemda sempat menawarkan konsep penyaluran dana melalui kabupaten. Artinya dana tidak disalurkan langsung ke masyarakat tapi ke pemda. Pemda yang mengelola untuk masyarakat. Sementara kita ingin dana langsung turun ke tangan masyarakat dan kemudian masyarakat mengelola sendiri mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pertanggungjawabannya. Setelah berjalan sejak 2002-2003, proyek ini bisa membangun pemahaman baru bagi pemda dan stakeholders lain. Bupati sudah mulai mau meresmikan dan menyerahkan proyek tersebut kepada masyarakat. Memang proses perubahan tidak bisa kita lihat dari sisi fisik. Bahkan dulu reaksi internal Depkes pun awalnya agak susah. Sekarang di tahun 2005, program ini diserahkan pusat kepada kabupaten. Implementasi proses berlangsung dari bawah. Kita ingin menggabungkan peran keduanya sehingga rasa memiliki pemda ada. WSLIC menerapkan prinsip akuntabilitas. Tim Kerja Masyarakat (TKM) yang bekerja tanpa diberi honor tapi dituntut transparan dan diaudit oleh auditor independen. Ini adalah proyek yang pertama kali menerapkan audit keuangan kepada masyarakat.

Setelah berjalan sejak 2002-2003, proyek ini bisa membangun pemahaman baru bagi pemda dan stakeholders lain. Bupati sudah mulai mau meresmikan dan menyerahkan proyek tersebut kepada masyarakat.
Dari pengalaman kita, ternyata membangun sarana fisik itu mudah. Kapasitas semua lini sangat menonjol dan tidak bisa diukur. WSLIC telah menghasilkan empat hal utama yakni peningkatan kapasitas institusi dan masyarakat, peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), penyediaan air bersih dan sanitasi, serta manajemen pengelolaan. Berdasarkan evaluasi yang dilaku-

kan oleh misi bank Dunia, tim Mid Term Review, Technical Audit, tim Output Monitoring Study, dan studi analis dampak ekonomi, tidak ada hal yang luar biasa. WSLIC akan dikembangkan untuk proyek CWSH. Dari sisi kesehatan proyek ini telah memberi dampak yang signifikan terhadap perbaikan kesehatan masyarakat. Secara teknis, hasil kerja masyarakat telah memenuhi standar. Hal yang perlu diperhatikan ke depan hanya peningkatan kualitas monitoring serta tender dan properti agar lebih fokus. Malahan di Jawa Timur dan Jawa Barat, pemerintah daerah setempat telah mengembangkan program WSLIC ini ke kabupaten lain yang belum menerima proyek tersebut. Lebih dari itu, kita tidak sekadar ingin menyelesaikan proyek ini dan mereplikasikannya, tapi harus ada keberlanjutan. Apa artinya kalau tidak ada keberlanjutan? (MJ)

Percik

Desember 2005

17

L A P O R A N U TA M A

Menuju Program Nasional

SANIMAS (Sanitasi Berbasis Masyarakat)


Rp. 2,5-3 juta. SANIMAS mengembangkan prinsip demand responsive approach (pendekatan tanggap kebutuhan), partisipasi masyarakat, pilihan teknis, seleksi sendiri (self selection process), dan pemberdayaan (capacity building). SANIMAS memiliki model-model pilihan sanitasi yakni tangki septik bersama, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal dengan pemipaan, dan MCK Plus. Sedangkan komponen dalam SANIMAS yaitu toilet/WC, pemipaan, pengolahan, pembuangan dan pemanfaatan kembali, serta operasional dan perawatan. Masing-masing komponen tersebut memiliki tingkat pembiayaan, efisiensi, dan pembuatan dari yang sederhana dan murah hingga yang mahal dan rumit. Tentang pembiayaan, SANIMAS didanai oleh empat stakeholders yakni pemerintah pusat, pemerintah daerah (kab/kota), donor/swasta, dan masyarakat. Berdasarkan proyek yang sudah

ahun 2005 merupakan tahun ketiga pelaksanaan Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS). Program yang dibuat sebagai solusi alternatif untuk perbaikan sanitasi kampung padat/kumuh/miskin perkotaan ini telah menunjukkan hasil yang positif. Paling tidak ini bisa dilihat dari kota/kabupaten yang melaksanakan program tersebut yakni Kota Denpasar (Bali), Kota Mojokerto, Kota Pasuruan, Kota Kediri, Kota Blitar, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Pamekasan (Jawa Timur). Bahkan kini SANIMAS telah direplikasikan lagi di empat kota di Jawa Tengah dan dua kabupaten di DIY. Keberhasilan program ini mendorong pemerintah untuk melaksanakan kegiatan serupa mulai tahun 2006 ini di 100 lokasi. Rencana ini didorong guna mencapai target Millennium Development Goals (MDGs) 2015. Hingga kini belum ditentukan kota/kabupaten mana saja di Indonesia yang akan mendapatkan proyek tersebut. Yang pasti sebanyak 17 kabupaten/kota di Jawa Timur telah mengajukan minatnya. SANIMAS hadir untuk mengisi kesenjangan teknologi, pelayanan, dan dana. Penduduk kampung padat/kumuh/miskin perkotaan biasanya lebih suka memilih jamban sederhana dan murah. Untuk membangun itu paling tidak butuh dana Rp. 500 ribu. Persoalannya, lahan tidak cukup tersedia. Di sisi lain, untuk membangun sanitasi terpusat biayanya sangat mahal. Berdasarkan pengalaman, setiap kepala keluarga akan dikenai biaya Rp. 7-7,5 juta. SANIMAS berusaha memberikan teknologi yang efisien dan biaya yang terjangkau dengan peningkatan pelayanan. Beban yang harus ditanggung per KK dalam SANIMAS berkisar

berjalan, komposisinya sebagai berikut: pemerintah pusat 27 persen, pemda kab/kota 55 persen, BORDA 16 persen, dan masyarakat 2 persen. Karena adanya dana pemdamping dari pemda kab/kota, maka SANIMAS mengadakan proses seleksi. Hanya kabupaten/kota yang berminat dan sanggup menyediakan anggaran yang akan dimasukkan dalam proses tersebut. Masyarakat calon penerima manfaat pun di seleksi. Yang diutamakan adalah masyarakat miskin yang tidak punya jamban. Setelah seleksi, akan terpilih lokasi dan selanjutnya masyarakat diminta menyusun rencana kerja. Baru kemudian konstruksi dan akhirnya operasionalisasi. Waktu keseluruhan, dari proses persiapan hingga operasional memakan waktu sekitar satu tahun. Pembelajaran SANIMAS Pelaksanaan SANIMAS hingga tahun 2005, memberikan pembelajaran
FOTO:ANDRE K

18

Percik

Desember 2005

L A P O R A N U TA M A
penting bagi para stakeholders dan kelanjutan proyek tersebut. Frank Fladerer, BORDA Representative Indonesia mencatat ada delapan pelajaran, yaitu: 1. Informasi kepada stakeholders Sebaiknya informasi multicity seminar diberikan kepada para pengambil keputusan di tingkat kab/kota dan fasilitasi presentasi roadshow dilakukan kepada kab/kota secara individual hanya berdasarkan permintaan (surat minat). Sebaiknya kab/kota disarankan untuk menyusun pemetaan sanitasi (city sanitation maps) untuk mempermudah pemkot/pemkab menyusun long list kampung kumuh dan mengundang masyarakat yang memiliki potensi kebutuhan. 2. Identifikasi masyarakat Masyarakat yang diundang untuk memperoleh penjelasan tentang SANIMAS sebaiknya sudah memperoleh informasi yang cukup tentang proyek sebelum mereka mengikuti presentasi. 3. Kriteria seleksi ''Willingness to pay'' atau kemauan untuk berkontribusi harus diklarifikasi sebelumnya, termasuk di dalamnya adalah status lahan untuk infrastruktur SANIMAS. 4. Pilihan teknologi sarana sanitasi Model-model sanitasi berbasis masyarakat penting diinformasikan terlebih dahulu sebelum ada penjelasan komponen-komponen yang akan dipilih oleh masyarakat. Informasi awal termasuk pola pengelolaan sanitasi berbasis masyarakat. 5. Rencana kerja masyarakat Masyarakat hanya mau membentuk KSM dan siap memberikan kontribusi jika semua stakeholders benar-benar telah memberikan komitmen untuk implementasi proyek. 6. Pengelolaan KSM selalu kesulitan untuk mengikuti sistem administrasi keuangan sebagaimana diperlukan oleh pemerintah. Oleh karena itu, ke depan pelaksana/konsultan harus bertanggung jawab untuk membantu pengelolaan keuangan yang transparan di KSM. Sedangkan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan dana, disarankan agar kelebihan dana diperbolehkan untuk membangun infrastruktur kecil yang ada di masyarakat dengan persetujuan stakeholders. 7. Pembiayaan Pembiayaan perlu memasukkan komponen kegiatan pemberdayaan masyarakat, untuk membiayai kegiatankegiatan pendampingan masyarakat, pelatihan bagi KSM, fasilitator, tukang dan mandor serta komponen penyusunan disain teknis. Biaya komponen pemberdayaan untuk setiap lokasi rata-rata 25-30 persen dari komponen fisik 8. Operasional dan perawatan Analisis laboratorium untuk effluent limbah harus dilakukan secara regular di laboratorium rujukan agar segera diketahui jika ada masalah dengan limbah buangannya. Pemerintah kab/kota perlu menyediakan sarana pengolahan lumpur tinja untuk mengantisipasi pengurasan lumpur/desludging. Masih perlu dukungan bagi KSM SANIMAS untuk pengoperasian dan perawatan sarana sanitasi yang telah dibangun agar pemanfaatan sarana tetap maksimal. Perlu media atau forum bagi KSM dan operator yang difasilitasi oleh stakeholders pemerintah atau LSM guna memecahkan permasalahan yang terjadi di kemudian hari.

Tantangan Sanitasi
Indonesia berpenduduk 213,6 juta jiwa (2002). Sebanyak 53 persen (120 juta jiwa) tinggal di Pulau Jawa. Sebagian besar tinggal di perdesaan, dan hanya 35 persen yang berada di perkotaan. Tahun 2025 diperkirakan penduduk yang tinggal di perkotaan menjadi 60 persen. Setiap hari 400 ribu meter kubik limbah rumah tangga dibuang langsung ke sungai dan tanah tanpa pengolahan. Sebanyak 61 persennya ada di Pulau Jawa. Sistem sewerage terpusat hanya ada di tujuh kota, melayani 973 ribu penduduk (1,31 persen dari jumlah penduduk kota atau 0,5 persen dari total penduduk Indonesia). Pembuangan akhir limbah tinja di perkotaan: 63,07 persen tangki septik, 16,70 ke sungai/danau, 14,44 ke tanah, 5,79 persen ke kolam/pantai/lainnya (BPS 2002). Umumnya model tangki septik berbentuk bak resapan atau langsung ke sungai/saluran. Akibatnya air sungai dan air tanah di perkotaan umumnya terkontaminasi bakteri E. coli. Diperkirakan 70-75 persen beban polusi air bersumber dari rumah tangga.
FOTO:MUJIYANTO

Percik

Desember 2005

19

WAWA N C A R A Direktur Perumahan dan Permukiman, Bappenas, Ir. Basah Hernowo, MA.

Preventif Lebih Penting daripada Kuratif


agaimana Anda melihat kondisi penyelenggaraan air minum dan penyehatan lingkungan di tahun 2005 ini? Tahun ini kondisi air minum dan penyehatan lingkungan kita mulai membaik. Di departemen, khususnya Pekerjaan Umum, sudah kembali ke sektor. Jadi sudah ada direktorat pengembangan air minum, pengembangan PLP, sehingga lebih konsentrasi. Kita berharap itu lebih baik. Sekarang kerja sama di pusat juga semakin membaik karena pada level interdepartemen sudah makin matang. Kita juga sudah mulai mengintroduksi pendekatan-pendekatan baru seperti CLTS, SANIMAS. Rencananya tahun depan kita akan replikasi lebih besar lagi. Mudah-mudahan tahun depan kita lebih bisa, bukan hanya menyusun kebijakannya saja, tapi mulai pilot proyek dan implementasi dari kebijakan tersebut. Bagaimana implementasi kebijakan nasional pembangunan AMPL berbasis masyarakat? Ini cukup bagus karena Bank Dunia makin tertarik. Sekarang akan scale up untuk national wide. Memang pendekatan ini butuh waktu yang cukup lama. Tapi saya cukup optimistis karena masyarakat cukup menyenangi pendekatan ini. Mereka terlibat langsung. Pemerintah juga makin ringan sebab tak harus mengerjakannya sendiri. Kita bisa bersama-sama antara pusat, propinsi, kabupaten/kota, dan masyarakat. Dan yang paling penting, dengan kebersamaan itu kita bisa saling mengingatkan

bila ada yang tidak pas. Bagaimanapun tetap butuh pengawasan yang makin kuat dan baik. Beberapa pemerintah daerah telah mengimplementasikan kebijakan ini. Langkah apa yang akan diambil agar replikasi berlangsung lebih cepat? Yang akan datang, kita berharap tidak hanya diseminasi kebijakan tetapi diseminasi yang diikuti oleh pilot project. Jadi daerah bisa melihat ini lho kebijakannya dan ini lho implementasinya. Ini akan menjadi semacam demonstration plot (demplot) supaya orang bisa melihat langsung, tentu sesuai karakter daerah masing-masing. Dengan demikian akan mudah direplikasi ke daerah-daerah lain. Dari proses implementasi, apakah ada hal baru atau koreksi terhadap kebijakan yang ada? Ada pasti. Misalnya, kebijakan nasional ini kok belum membumi. Memang sulit untuk membuat kebijakan sampai detail karena kita membatasi sebatas kewenangan kita saja yaitu set up policy. Kita tidak mungkin bicara nanti implementasinya seperti ini dan sebagainya, duitnya dari sini dan lainnya. Kita membatasi level nasional sampai kebijakan saja. Implementasinya justru kita harapkan dari daerah. Makanya kita mencoba mendesiminasikan kebijakan ke daerah sehingga daerah bisa membuat kebijakan yang sesuai dengan kondisi mereka dan mereka pula yang mengimplementasikan. Itu kritik yang cukup positif. Ini tantangan kita bahwa

apa yang kita tulis kata per kata itu benar-benar ada manfaatnya. Jangan terlalu tinggi ngambangnya. Kemajuan penyusunan kebijakan nasional pembangunan AMPL berbasis lembaga seperti apa? Mudah-mudah akhir tahun ini selesai. Memang ini tidak mudah dibandingkan dengan kebijakan nasional pembangunan AMPL berbasis masyarakat. Ini lebih sulit karena menyangkut banyak pihak. Sebagai contoh, untuk komponen air minum saja kita harus mengetahui SOP untuk restrukturisasi utang dari Menteri Keuangan seperti apa. Kebijakan ini kan tidak bisa kita operasionalisasikan bila SOP itu belum muncul. Ini tentu butuh waktu. Kebijakan ini penting sebagai payung. Karena kalau kita bicara detail soal utang PDAM misalnya, permasalahan pokoknya kan bukan sekadar masalah uang. Ada masalah manajemen, system engineering yang belum lengkap, ada masalah tarif, kemampuan masyarakat untuk membayar. Ini sangat kompleks. Sejauh mana pentingnya kebijakan nasional pembangunan AMPL berbasis lembaga ini dibandingkan yang berbasis masyarakat? Keduanya sama penting. Ketika kita menyusun policy framework tersebut, kita mengetahui bahwa ada dua sistem pengelolaan yang saling mengisi yaitu yang berbasis masyarakat dan yang berbasis lembaga. Hanya saja permasalahannya agak beda. Kalau yang berbasis masyarakat lebih mudah karena masyarakat bisa dijadikan sebagai subjek. Yang berbasis lembaga, masyarakat adalah user (pengguna). Sedangkan subjeknya adalah institusi-institusi seperti

20

Percik

Desember 2005

WAWA N C A R A

PDAM, dinas kebersihan, dan sebagainya. Jadi nuansanya sedikit berbeda. Oleh karena itu memperlakukan masyarakatnya pun sedikit berbeda. Kalau yang berbasis masyarakat, kita bareng dengan mereka, sementara yang berbasis lembaga kita berhadapan dengan masyarakat tapi bisa diskusi. Sebab itu strategi yang ingin kita terapkan untuk mengatasi hal itu adalah pembentukan semacam forum pengguna pelayanan, apakah itu air minum, kebersihan, limbah dan lainnya. Untuk yang berbasis lembaga, apakah akan ada pilot project seperti yang berbasis masyarakat? Mungkin kita akan lakukan itu, tapi agak sedikit berbeda karena kita berbicara dengan perusahaan. Peluang dan prospek apa yang kira-kira bisa diambil di tahun depan guna meningkatkan sektor air minum dan penyehatan lingkungan? Mudah-mudahan kerja sama kita dengan Bank Dunia program national wide bisa berhasil. Kita mencoba mengupayakan agar dananya soft loan. Saya harapkan kalau ini bisa kerjakan maka kita sudah bisa menggerakkan. Dengan national wide ini cakupan akan lebih banyak. Sayangnya ini masih berupa utang, kita inginnya sih gratis. Yang paling penting lagi adalah kita mencoba memperbaiki aspek lain dari masalah air minum dan sanitasi yaitu berupa asset management. Kita akan mengintroduksi ini sebagai pekerjaan pokok dari semua institusi yang mengelola air minum dan penyehatan lingkungan. Kelihatannya memang kelemahan kita di sini. Misalnya PDAM, bisa jadi tidak memiliki data mengenai asetnya. Kalau data aset saja tidak punya, bagaimana mau kerja. Kita akan memperbaiki tahap demi tahap. Kelanjutan implementasi kebijakan nasional pembangunan AMPL berbasis masyarakat tahun depan seperti apa? Kita akan mengadakan replikasi

SANIMAS, generasi berikutnya dari WSLIC atau katakan WSLIC 3 dengan scope yang berubah, implementasi proyek-proyek pinjaman ADB seperti CWSH, dan ProAir dari Jerman, sanitasi dari Swedia dan Belanda. Untuk yang berbasis lembaga, apakah akan ada pilot project seperti yang berbasis masyarakat? Mungkin kita akan lakukan itu, tapi agak sedikit berbeda karena kita berbicara dengan perusahaan. Apakah institusi-institusi terkait, seperti PDAM, terlibat dalam pembuatan kebijakan ini? Mereka tidak semua terlibat. Kita pilih secara acak dalam penyusunan. Saya optimistis bahwa pemilihan acak itu sudah bisa mewakili PDAM. Kalau kita lihat PDAM di Indonesia ini kan beragam sekali, ada yang punya pelanggan di bawah 5 ribu, bahkan ada yang pelanggannya di atas 100 ribu. Permasalahannya juga berbeda. Bicara PDAM Surabaya, Medan, Jakarta, itu kan utangnya cukup besar. Kalau kita pecahkan sekarang, tampaknya tak cukup waktu. Kita akan berangkat dari yang kecil dan menengah dulu karena relatif mudah diatasi. Misalnya, Cirebon. Antara kota dan kabupaten mengapa tidak kerja sama dengan Kuningan dan daerah sekitarnya sehingga orang-orang di kota Cirebon bisa terlayani kebutuhan airnya. Sejauh mana kepedulian daerah saat ini terhadap implementasi kebijakan nasional pembangunan AMPL? Pada waktu awal kita mengintroduksi kebijakan ini, daerah sepertinya masih wait and see. Setelah tahu betul scope dan jabaran policy ini, mereka sekarang antusias sekali. Contohnya Banten, NTB, NTT. Kepedulian masyarakat termasuk NGO terhadap implementasi kebijakan ini, pandangan Anda? Ini menarik. Kalau masalah kepe-

dulian, saya yakin kepedulian masyarakat terhadap lingkungan termasuk air itu meningkat. Cuma respon pemerintah masih kurang, khususnya DPR. Mestinya DPR lebih melihat lagi bahwa sekarang ini merebak berbagai jenis penyakit yang sebenarnya merupakan masalah lingkungan, polio, flu burung, kolera, diare, DB. Menurut saya alokasi kesehatan itu jangan hanya untuk kuratif, tetapi justru dibesarkan untuk preventif. Percuma kita punya rumah sakit bagus dengan dokter pandai-pandai tapi kalau makin tahun jumlah pasien terus bertambah. Kenapa kita tidak mencoba tindakan preventifnya yang lebih ditekankan. Australia misalnya, mereka baru membuat sewerage system setelah adanya diare pada tahun 1970an, walaupun itu mahal sekali. Tapi setelah itu penyakit tersebut turun drastis. Inggris pada waktu kena penyakti pes, mereka langsung memperbaiki system seweragenya. Harusnya Indonesia berangkat dari situ. Jangan sampai isunya hanya bagaimana mengobati, tapi harus dilihat penyebabnya itu apa sih. Tentunya bukan hanya burungnya kena flu, kan pasti ada penyebab lain. Mungkin lingkungan yang tidak bagus. Upaya apa yang bisa dilakukan agar kalangan wakil rakyat ini lebih peduli? Ini tidak mudah. Kalau ada kesempatan saya ingin bisa berdiskusi dengan mereka. Sebenarnya kita bisa lihat Tangerang, nggak usah jauh-jauh, dimana di sana ada wabah kolera. Lihat penyebabnya apa? Barangkali wakil rakyat perlu bukti. Kenapa nggak turun ke lapangan? Tantangan buat kita untuk meyakinkan legislatif. Kepedulian sektor swasta? Swasta banyak yang peduli terhadap masalah ini. Tinggal sekarang bagaimana kita membuat jaringan dengan mereka. Kita ingin berkolaborasi dengan mereka, mereka punya dana, dan pendekatan kita digunakan oleh mereka sehingga mereka bisa sukses. (MJ)

Percik

Desember 2005

21

WAWA N C A R A Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Dr. I Nyoman Kandun, MPH.

Primary Health Care Jadi Kunci


agaimana kondisi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan di Indonesia pada saat ini? Perlu saya jelaskan dulu bahwa health is the anal of the system. Maaf ini bahasa kasar, bahwa kesehatan adalah duburnya dari sistem. Jadi kalau hulunya bagus, misalnya tubuh manusia sebagai suprasistem yang di dalamnya ada sistem-sistem, maka sistem terakhir adalah dubur yaitu health. Limbahnya di sana. Kalau yang masuk ke dalam tubuh kita bagus maka kita akan buang air besarnya lancar, tidak sembelit, tidak diare. Jadi kalau sistem-sistem pembangunan di hulunya tidak benar maka status kesehatan masyarakat akan rendah, seperti ada demam berdarah, diare. Penyakit ini disebabkan karena pencemaran makanan dan minuman oleh tinja akibat hulu yang tidak beres. Nah kalau kita lihat kondisi air minum dan penyehatan lingkungan, Indonesia merupakan negara yang besar dan luas dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta. Pemerintah telah mengupayakan berbagai macam proyek pembangunan sarana air minum dan penyehatan lingkungan sejak puluhan tahun yang lalu. Namun hasilnya belum seperti yang diharapkan. Saya sendiri dokter lulusan tahun 1974. Itu ada Inpres No 5/1974 yang namanya Samijaga (Sarana Air Minum dan Jamban Keluarga). Saya diperintah ke Jambi dengan perintah presiden itu. Jadi waktu itu pemerintah sudah menyadari bahwa hulunya adalah air minum dan jamban keluarga. Saat ini akses masyarakat terhadap sarana air minum baru mencapai 50 persen dan akses terhadap penyehatan lingkungan mencapai 63,5 persen berdasarkan laporan MDGs Indonesia. Kalau kita bicara teori Bhlum, yaitu status kese-

hatan ditentukan oleh herediter atau keturunan (bibit, bebet, bobot) dan pelayanan kesehatan, perilaku, dan lingkungan. Perilaku dan lingkungan sangat menentukan status kesehatan masyarakat. Karena itu ada pepatah Sulawesi Selatan 'memindahkan gunung itu sulit, mengubah perilaku manusia lebih sulit lagi'. Lingkungan merupakan faktor yang paling besar mempengaruhi kesehatan dan hampir semua penyakit menular faktor utamanya adalah lingkungan yang buruk. Dan itu yang digarap oleh direktorat jenderal kami. Dapat digambarkan seperti kasus berbagai penyakit yang muncul akhir-akhir ini, penyebabnya adalah lingkungan yang jelek sebut saja demam berdarah, kholera, flu burung dan pemanfaatan air yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan serta perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan norma-norma hidup bersih dan sehat. Kendala yang dihadapi untuk peningkatan sektor ini? Saya katakan pemerintah sudah cukup berusaha, bahkan tidak hanya pemerintah. Kalau kita bicara public health, atau healthy public policy, publik itu adalah organize government respons. Artinya government itu lintas sektor. Harus ketemu dengan organize

community. Dua-duanya harus ketemu, karena yang kita terapkan adalah program appropriate technology in health. Jadi harus betul-betul appropriate technology. Saat ini masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan akses terhadap air minum. Indonesia yang sebetulnya isinya tanah dan air, kalau sampai kekurangan air pasti ada sesuatu yang tidak beres dalam penatalaksanaannya sehingga cenderung untuk menggunakan air yang kurang memenuhi syarat kesehatan, ditambah dengan kondisi lingkungan terutama sanitasi dasar yang jelek, dan perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan norma-norma hidup bersih dan sehat. Jadi kalau kita bicara Indonesia Sehat 2010, bukannya 2010 tidak ada orang sakit, tapi yang paling penting masyarakat kita hidup dengan perilaku hidup bersih dan sehat, hidup dalam lingkungan yang sehat, dan punya akses terhadap layanan kesehatan yang mereka butuhkan. Kalau tiga ini dipenuhi maka status kesehatan masyarakat kita akan meningkat dari waktu ke waktu yang ditandai dengan umur harapan hidup bertambah panjang, angka kesakitan makin berkurang. Sekarang kita lihat angka kematian bayi 35 per seribu kelahiran hidup, angka kematian balita 46 per seribu kelahiran hidup. Sebagian besar disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan akut dan diare. Kalau kita bicara diare kuncinya adalah lima F yaitu feces, fingers, flys, fluid, field, dan food. Jadi kotoran yang dibuang di sembarang tempat mencemari jemari, terbawa lalat, mencemari air dan sebagainya yang bisa menimbulkan penyakit. Hal ini akan sangat mempengaruhi kondisi kesehatan dan mempermudah penularan penyakit. Jadi faktor air sangat penting. Maka kita

22

Percik

Desember 2005

WAWA N C A R A

suruh orang cuci tangan. Tapi masalahnya air buat cuci tangan tidak ada. Cinganbun, cuci tangan dengan sabun sehabis buang air atau sebelum menyentuh makanan. Untuk mengatasi ini kita punya konsep, conseptual framework, dan legal framework. Bagaimana kepedulian pemerintah daerah di sektor ini? Merujuk UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah bahwa tanggung jawab penanganan terhadap air minum dan sanitasi menjadi kewenangan Pemerintah Daerah. Artinya pemerintah daerah berhak mengatur rumah tangganya sendiri. Pusat tugasnya membuat kebijakan, memberikan training, dan sebagainya. Misalnya yang disebut rumah sehat itu begini lho. Air minum yang memenuhi standar kesehatan itu seperti ini, lingkungan sehat itu begini. Mau pemerintah daerah membuat dindingnya dari beton, atau bambu terserah yang penting memenuhi standar rumah sehat. Kalau persyaratan kesehatan dilanggar maka pasti akan menderita penyakit dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Jadi dengan adanya UU No 32, dan 33 tentang perimbangan anggaran, sebenarnya pemerintah daerah mendapat bagian porsi duit untuk mengatur rumah tangganya. Nah seberapa jauh pemerintah daerah memprioritaskan pembangunan kesehatan lebih daripada pembangunan fisik, itu kembali pada konsepsi dan persepsi otoritas di sana. Tentunya investasi yang paling bagus itu adalah di bidang pendidikan dan kesehatan. Kalau SDM-nya cerdas dan sehat, maka yang lain gampang. Itu hulunya, human development index, ditambah pertumbuhan ekonomi. Kalau ketiga serangkai ini dijalankan dengan baik maka akan gemah ripah loh jinawi tata tentrem kertaraharja. Pemerintah kabupaten, kota dan propinsi, baik legislatif maupun eksekutifnya, pada umumnya belum menempatkan pelayanan air minum dan

penyehatan lingkungan sebagai prioritas. Mereka membangun jalan, jembatan, dan sarana fisik lainnya. Itu tidak salah. Tapi sebagai orang kesehatan kita berharap sektor kesehatan mendapat alokasi minimal 15 persen dari APBD. Dukungan dana untuk sektor tersebut masih sangat kecil. Bahkan ada pemerintah daerah yang menjadikan Puskesmas dan rumah sakit daerah sebagai sumber pendapatan daerah. Harusnya tempat itu sebagai cost loss investasi. Jangan mengharapkan kembali dari situ. Kedudukan dan status lembaga yang mengelola air minum khususnya di daerah perkotaan seperti PDAM, masih perlu ditingkatkan sehingga lembaga tersebut dapat mandiri dan memberikan pelayanan yang optimal pada pelanggan. Jadi PDAM sendiri mengalami banyak masalah sehingga masyarakat ada yang memplesetkan PDAM sebagai perusahaan daerah air mandi. Hanya bisa untuk mandi tidak seperti di negara maju langsung bisa diminum yang disebut potable water. Mungkin hanya ada di Singaraja dan Bogor. Kalau air PDAM yang kita minum di sini yang masuk telur cacing dan E. coli mungkin. Kita tidak meledek mereka. PDAM sih mau memproduksi air siap minum sesuai standar, tapi tidak semudah itu karena variabelnya banyak sekali, makanya kita harus bantu mereka. Sumber Daya Manusia perlu ditingkatkan tidak hanya yang terlibat dalam lembaga yang resmi seperti PDAM, namun juga masyarakat baik individu maupun kelompok untuk menyediakan sarana air minum guna memenuhi kebutuhannya sendiri. Jadi masyarakat jangan menuntut pemerintah saja. Pembangunan itu tanggung jawab kita bersama. Hal ini sangat terkait dengan perilaku masyarakat terutama perlakuan masyarakat terhadap air minum dan lingkungan. Sekarang air PDAM buat cuci mobil, buat nyiram kebun, ini kan terlalu mahal. Selain itu sumber daya air perlu dilakukan perlindungan dan penghutanan di sekitar mata air

guna meningkatkan tampungan dan resapan air sehingga dapat menjamin kesinambungan debit air. Ini sebenarnya adalah pendekatan multifaktorial. Beberapa tahun terakhir banyak mata air yang turun kapasitasnya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Bupati Lumajang--Jawa Timur, di kabupatennya sejak 4 tahun terakhir sudah kehilangan 100 sumber mata air. Mata air tempat saya main sewaktu di Bali sudah hilang. Dan tak kalah pentingnya sikap masyarakat yang masih belum memahami pentingnya hutan untuk mempertahankan mata air, perilaku dan perlakuan masyarakat terhadap air minum dan lingkungan yang tidak sesuai dengan norma-norma hidup bersih dan sehat. Sebagai contoh banyaknya kasus penyakit yang timbul pada akhir-akhir ini seperti kolera di Tangerang, polio, flu burung, malaria disebabkan karena lingkungan yang jelek. Dan untuk menangani kemampuan keuangan pemerintah yang sangat terbatas, harus diupayakan agar semua potensi sumber dana yang ada dari dalam negeri, luar negeri dan masyarakat dapat dikerahkan untuk mendukung upaya ini secara efisien dan efektif. Upaya yang disiapkan untuk mengatasi keadaan tersebut? Sebagai negara hukum, kita harus mempersiapkan perangkat-perangkat hukumnya. Ada Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, yang mana tanggung jawab penanganan terhadap air minum dan sanitasi menjadi kewenangan Pemerintah Daerah, UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Ada juga Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2005 tentang Air Minum, PP Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, PP Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan

Percik

Desember 2005

23

WAWA N C A R A

Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2005 (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, 20042009), antara lain menyangkut Program Lingkungan Sehat. Juga pemerintah mengeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 907 Tahun 2002 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum, Kepmenkes No. 1274 Tahun 2005 (Rencana Strategis Departemen Kesehatan, 2005-2009), antara lain menyangkut program penggunaan air bersih dan jamban. Selain itu telah disusun kebijakan tentang Pembangunan Sarana Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat dan Lembaga (WASPOLA), serta optimalisasi sumber dana yang ada dari luar negeri, dalam negeri dan masyarakat untuk pembangunan sarana air minum dan penyehatan lingkungan. Tak kalah penting dari itu, pemerintah mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan sarana air minum dan penyehatan lingkungan. Apakah kita mampu untuk mengejar target MDGs 2015? Sebetulnya Tuhan itu telah memberikan bumi ini lengkap. Tinggal wisdom kita untuk mengelolanya. Seharusnya tidak ada orang kekurangan air. Makhluk itu diciptakan dengan segala makanan dan minumannya. Tapi ada yang serakah, ada yang tidak mengenal lingkungannya sehingga ada orang yang tidak kebagian. Ada yang mandi buat keleknya 100 liter, padahal di Pulau Buaya sulit mendapat air. Kita terus berupaya mencapai target MDGs agar mendekati kesepakatan yang telah ditetapkan dengan mengerahkan semua kemampuan yang ada baik yang bersumber dari dalam maupun luar negeri dalam upaya meningkatkan cakupan air minum dan penyehatan lingkungan. Goal pertama dari MDGs itu sebenarnya adalah pengentasan kemiskinan. Indonesia masih memerlukan kerja sama internasional, khususnya dengan

negara maju. Penggunaan pinjaman luar negeri harus dimanfaatkan secara efisien dan efektif serta dialokasikan untuk kegiatan-kegiatan yang memiliki daya ungkit tinggi. Pemerintah Daerah dan masyarakat perlu berkomitmen dalam menggalang pinjaman dana luar negeri. Karena kurangnya modal domestik, harus diusahakan agar arus masuk modal asing lebih besar dari pada arus modal keluar. Agar hal ini terwujud, harus diperbaiki iklim investasi bagi penanam modal yang telah ada dan yang akan datang. Jadi kita harus membangun apa yang namanya supportive environment. Bagaimana peran masyarakat dalam pembangunan yang diharapkan dalam AMPL? Bicara soal masyarakat, masyarakat kita harus diberdayakan. Jangan sampai masyarakat kita menjadi masyarakat pengemis. Dan kita-pemerintahred-menjadi sinterklas, bagi-bagi sesuatu. Itu tidak mendidik. Saya paling tidak setuju cara seperti itu karena masyarakat kita itu sebenarnya harga dirinya sangat tinggi. Sebenarnya masyarakat itu kalau diberdayakan, mampu. Masyarakat yang berdaya itu cirinya tiga. Rumangsa melu handarbeni, sense of belonging, atau punya rasa memiliki. Sehingga mereka kelola sendiri pembangunan yang berbasis pada komunitas atau dalam bahasa Jawanya, sebagai rumangsa melu hangrungkepi. Yang ketiga adalah funded by the community, dibiayai sendiri. Makanya dengan WSLIC I, WSLIC II, filosofinya adalah itu dengan adanya village action plan, rembug bersama. Itu tidak hanya untuk masyarakat tapi juga lembaga swadaya masyarakat (LSM). Jangan sampai ada LSM yang ngacau, sehingga singkatannya menjadi Lambene Sakgeleme Mangap (bibirnya asal ngomong). Kita berharap ada LSM yang betul-betul tulus untuk menggerakkan masyarakat. Jadi masyarakat bisa diberdayakan, ada dua kuncinya. Pertama, jangan ada dus-

ta di antara kita, katakan yang sebenarnya. Kedua, memberdayakan masyarakat harus terbuka, dengan membangun kepercayaan. Bukan mengajari. Namun karena seringnya kita pendekatan proyek, kita tidak sabar. Kita terburu-buru melihat hasilnya. Padahal hasilnya sebenarnya superfisial, tidak mendalam, dan tidak ada sense of belonging karena masyarakat tidak terlibat. Masyarakat sebagai pengguna perlu memahami bahwa perlakuan yang kurang baik terhadap air minum dan lingkungan akan berakibat buruk terhadap kesehatan yang akan merugikan masyarakat sendiri. Oleh karena itu perlu keterlibatan masyarakat secara aktif dalam pembangunan sarana, sehingga kalau rusak, mereka membetulkannya sendiri. Jadi filosofi 20 persen kontribusi masyarakat, 16 persen inkind, dan 4 persen cash, itu filosofi yang bagus. Dan yang lebih penting, harus ditanamkan dalam benak siapapun untuk menghilangkan kesan bahwa tanggung jawab pengelolaan lingkungan tidak semuanya berada di pundak pemerintah. Mungkin kelirunya kita, sering datang sebagai sinterklas, datang disambut, dikasih ulos, dan sebagainya tanpa melibatkan masyarakat. Habis itu rusak dan tinggal puing-puing, masyarakat tak peduli. Itu kalau saya bilang sebagai proyek pasar malam. Jadi ada tiga faktor utama partisipasi masyarakat, yakni pertama memutuskan sendiri kegiatan yang akan dilaksanakan. Ini yang paling penting. Leadership di tingkat lokal itu kita tumbuhkan. Kedua, mengelola dan melaksanakan kegiatan. Ketiga, membiayai sendiri semua kegiatan yang dilaksanakan. Ini merupakan bentuk empowerment, kalau mau ngrogoh sakunya sendiri. Untuk itu telah dikembangkan pendekatan-pendekatan pemberdayaan masyarakat yang bersifat inovatif, seperti DRA (demand responsive approach), MPA-PHAST (Methodology for Participatory Assessments-Participatory Hygiene And Sanitation Transformation), CLTS (Community Led

24

Percik

Desember 2005

WAWA N C A R A

Total Sanitation), revolving fund, dan lain-lain.Perbaikan perilaku masyarakat agar sesuai dengan norma kesehatan perlu ditingkatkan. Hal ini perlu dilakukan karena sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Sebagai contoh, mengutip hasil riset kesehatan belum lama ini--WSP, dengan penyediaan air minum yang baik akan mengurangi penyakit diare sebanyak 15-20 persen, pembuangan kotoran yang baik mengurangi 30-50 persen dan cuci tangan dengan sabun mengurangi 42-47 persen. Kalau semua dijumlahkan mungkin 99 persen diare itu akan tercegah. Kalau ada diare mungkin karena food intolerance misalnya laktose, jadi bukan karena mikroba. Bagaimana harapan peran dari pihak swasta? Swasta jangan diam dan berusaha hanya mencari keuntungan. Sebetulnya keuntungan yang dia dapatkan juga karena adanya daya beli masyarakat, kesehatan masyarakat itu. Mereka mampu bekerja dan produktif. Karenanya keuntungan itu harus dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk community development. Swasta merupakan komponen yang perlu dilibatkan dalam proses pembangunan dengan melakukan investasi terhadap sarana pelayanan publik maupun menyisihkan sebagian keuntungannya untuk diinvestasikan pada peningkatan pelayanan sosial. Community development fund yang umumnya sudah dianggarkan terutama oleh perusahaan besar dapat diinvestasikan untuk peningkatan pelayanan sosial bagi masyarakat sekitar. Masyarakat makmur, produktif dan sehat, maka perusahaannya akan sustain. Paling tidak ada empat hal yang dapat dipetik manfaatnya bagi perusahaan yang menginvestasikan sebagian keuntungannya bagi peningkatan pelayanan sosial, yakni pertama, meningkatkan apresiasi dan pemahaman masyarakat atas fungsi corporate dan corporate community development programs;

kedua, terciptanya harmoni sosial dengan masyarakat khususnya masyarakat sekitar perusahaan; ketiga, mengurangi dampak kurang baik bagi masyarakat sekitar, seperti pencemaran lingkungan, ekses sosial, dan lain sebagainya, dan terakhir, turut membantu pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat sekitar dan fungsi perusahaan. Perusahaan swasta seharusnya memiliki komitmen dan tanggung jawab sosial untuk mengembangkan dan memajukan masyarakat sekitar. Penyediaan dana pengembangan masyarakat tidak hanya dilakukan oleh perusahaan yang besar saja tetapi juga oleh semua perusahaan swasta maupun BUMN yang menjalankan usahanya di Indonesia. Untuk itu perlu dirumuskan kebijakannya secara tepat sehingga jelas peran dan tanggung jawabnya.

Filosofinya adalah equity, memeratakan pelayanan. Kuncinya adalah harus ada kerja sama lintas sektor, mengutamakan upaya preventif promotif, menggunakan teknologi tepat guna, dan mengikutsertakan masyarakat.
Anda tadi mengemukakan, tingkat kesadaran masyarakat masih rendah. Faktor apa yang menyebabkannya, bukankah kita sudah lama merdeka? Saya tidak mau terjebak dengan menyalahkan masyarakat. Ini salah kita semua. Tugas pemerintah mencerdaskan bangsa, itu amanat dari pembukaan UUD 45. Jadi pendidikan itu penting baik formal maupun informal. Saya pernah menggarap apa yang namanya composit index, untuk HDI. Jadi ibu-ibu yang pendidikannya minimal SMP, status kesehatan keluarganya bagus. Kalau pendidikannya SMP ke atas, kemampuan untuk menyerap informasi baik dan perubahan perilaku lebih mudah

karena mereka adalah agent of change. Kuncinya adalah pendidikan ibu. Selain itu sebetulnya pendidikan kesehatan sejak dini di sekolah memegang peran penting. Harusnya Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) itu menjadi kunci. Dan banyak lembaga informal yang bisa gunakan sebagai forum pendidikan kesehatan masyarakat. Pendidikan kesehatan masyarakat sebenarnya kita harus kembali kepada pendekatan primary health care. Jadi mulai dari household level, tingkat rumah tangga, kemudian meningkat ke tingkat komunitas masyarakat. Baru nanti Puskesmas sebagai pusat rujukan. Setelah itu baru ke rumah sakit kabupaten. Kalau ini saja diperkuat, kesehatan masyarakat kita akan baik. Jadi nggak usah muluk-muluk, primary health care. Filosofinya adalah equity, memeratakan pelayanan. Kuncinya adalah harus ada kerja sama lintas sektor, mengutamakan upaya preventif promotive, menggunakan teknologi tepat guna, dan mengikutsertakan masyarakat. Beberapa pemerintah daerah belum begitu peduli dengan kesehatan, bagaimana ini bisa terjadi? Saya tak mau menyalahkan mereka. Mungkin kita belum bagus advokasinya kepada pemerintah daerah dalam menjual program kesehatan. Misalnya kita kaitkan dengan health economic, anda investasi 1 dolar akan panen 10 dolar, mungkin harus begitu. Kalau ada malaria di daerah Anda, kerugiannya segini, kalau dirupiahkan segini, produktivitas menurun. Kalau ada orang mencret, tidak kerja dan tidak masuk sekolah, kemudian dihitung dengan rupiah, maka akan kehilangan sekian milyar setahun. Jadi kalau APBD Anda alokasikan sekian milyar, anda akan panen sekian. Jadi kita harus bisa advokasi seperti itu. Selama ini, temanteman kesehatan memakai bahasa kesehatan yang hanya mereka saja yang mengerti. Jadi teman-teman kesehatan sendiri perlu diberdayakan untuk memberdayakan orang lain. (MJ)

Percik

Desember 2005

25

WAWA S A N

Cerita Dari Lonuo, Gorontalo

Setia Melayani Selama Delapan Tahun


esa Lonuo menyimpan cerita yang monumental di bidang pembangunan Air Minum dan Penyehatan Masyarakat (AMPL) berbasis masyarakat, setara dengan Desa Dembe I yang dinyatakan oleh Gubernur Gorontalo, Ir H. Fadel Muhammad, akan menjadi model pembangunan Air Minum Berbasis Masyarakat di Gorontalo. Sarana air minum sistem perpipaan gravitasi di Desa Lonuo ini dibangun pada tahun 1996/7 oleh proyek ABPL (Air Bersih dan Penyehatan Lingkungan). Pada tahun 1998 Desa Lonuo meraih juara nasional di bidang pengelolaan sarana air minum dari Departemen Dalam Negeri yang penyerahannya dilakukan di Yogyakarta. Tahun berikutnya, 1999, pada saat World Bank melaksanakan penilaian dengan menggunakan metode Participatory Learning and Action Initiative (PLA) di empat desa di Gorontalo yaitu: Lamu, Talumelito, Longalo, dan Lonuo, sekali lagi Desa Lonuo mendapat penghormatan. Desa Lonuo dan Longalo, dijadikan model dan didokumentasikan secara elektronik-difilmkan dan digandakan menjadi CD dan beredar di negara-negara berkembang-oleh Water and Sanitation for East Asia and Pasific (salah satu divisi dari Bank Dunia). Dokumentasi elektronik ini menjelaskan mengenai pentingnya melibatkan masyarakat dengan tanpa membedakan kaya, miskin, usia, dan jenis kelamin dalam pengambilan keputusan pelaksanaan pembangunan agar sarana yang dibangun berkelanjutan dan berfungsi secara efektif. Pada saat Bank Dunia melakukan penilaian, semua sistem AMPL di keempat desa dalam kon-

Oleh: Isman Uge* dan Alma Arif**


disi prima baik kualitas sarananya, kelembagaan, administrasi keuangan, tenaga teknisnya, regularitas layanan, dan sebagainya. Bisa dikatakan, inilah model I pembangunan AMPL yang selaras dengan Kebijakan Nasional. Dalam perkembangannya, meskipun sampai saat ini sarananya masih berfungsi baik, ternyata terdapat pasang surut yang cukup menarik untuk disimak. Tulisan ini akan mengungkapkannya. Masa Lalu Pada masa lalu penduduk Desa Lonuo, sebagaimana desa lainnya yang mengalami kesulitan air, lebih disibukkan dengan kegiatan mencari air. Alokasi waktu untuk mencari air sangat besar, menyisihkan kegiatan yang lebih

produktif (lebih bernilai ekonomi). Penduduk desa mencari air ke sumursumur dangkal yang mereka buat di tepi sungai. Karena lokasi sumur cukup jauh dari tempat tinggalnya, kegiatan mencari air untuk memenuhi kebutuhan utama mereka telah menyita banyak waktu dan tenaga. Karenanya, pada masa lalu, penduduk Lonuo hidup terbelenggu kemiskinan. Permasalahan semakin pelik karena mereka juga tidak mampu mengembangkan gaya/cara hidup yang higienis. BAB (buang air besar) di sembarang tempat merupakan hal yang umum dilakukan. Mereka BAB dengan menggunakan "WC Putar". Maksudnya, pada saat BAB di bawah pohon kelapa, di semak-semak, atau di sungai, bila ada orang lewat mereka akan memutar tubuhnya, atau memutari pohon, untuk menyembunyikan "aurat utamanya". Cara seperti ini lazim dilakukan pada
FOTO:ALMA ARIEF

26

Percik

Desember 2005

WAWA S A N

masa lalu, yang tentu saja "kotoran" yang bertebar di sembarang tempat dalam jumlah besar akan menjadi sumber penyebaran penyakit yang lazim disebut "water borne disease". Jenis penyakit water borne disease seperti diare, ISPA, sakit kulit, iritasi mata, kolera, berjangkitnya sangat erat terkait dengan kualitas dan kuantitas persediaan air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan memelihara kebersihan. Bukan hal yang aneh bila penduduk Desa Lonuo pada masa lalu secara periodik selalu kejangkitan penyakit yang oleh penduduk setempat disebut "tiba berangkat", karena siapapun yang terjangkit penyakit tersebut pasti akan mati (berangkat ke akhirat). Kesejahteraan Meningkat Kesejahteraan masyarakat meningkat pesat pasca pembangunan sarana air mimum. Ada keterkaitan yang bersifat sistemis antara tingkat pemenuhan kebutuhan air dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Sejak masyarakat bisa mencukupi kebutuhan air secara mudah, kesehatan mereka secara berangsur angsur semakin membaik. Jenis penyakit yang disebut tiba berangkat, hilang dengan sendirinya. Hal ini tentu saja terkait dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Karena tersedia air dan mudah mendapatkannya, mereka menjadi bisa membangun jamban, dan bisa membersihkan diri secara lebih sempurna baik pada saat mandi maupun sehabis BAB. Selain itu, seiring meningkatnya kesehatan dan jumlah waktu yang dialokasikan untuk kegiatan produktif, taraf kehidupan ekonomi mereka meningkat pula. Penduduk, khususnya ibu-ibu, mempunyai pekerjaan baru untuk menambah penghasilan rumah tangga, yaitu menganyam tikar, sementara untuk bapak-bapak bisa bekerja lebih lama di kebun/ladang. Sedangkan bagi anakanak yang masih sekolah, kini mereka tidak pernah lagi terlambat karena tidak lagi harus mencari air. Masih banyak lagi perubahan yang terjadi karena kemudahan dalam memperoleh air bersih. Pengelolaan Sarana dan Kendalanya Pada saat dilakukan penilaian pada tahun 1999, sistem ABPL di Desa Lonuo dalam keadaan prima. Kelembagaan pengelola air, tidak diragukan, berfungsi sangat baik. Lembaga pengelola air yang diberi nama UPS (unit pengelola sarana) diketuai seorang wanita bernama Satria Kyai. Kelompok Pengelola Sarana (KPS) diperlengkapi perangkat sekretaris, bendahara, seksi teknis, seksi peran serta masyarakat, dan kader kesehatan lingkungan. Hasil penilaian menunjukkan bahwa iuran bagi pemakai sarana yang dikumpulkan oleh ketua KPS bisa berjalan lancar, dengan pembukuan yang rapi. Pengawasan secara teknis pemakaian sarana air juga dilakukan, dan bila ada berbagai kerusakan bisa ditangani tim teknis yang memang sudah dilatih dengan baik oleh LPMD. Bisa dikatakan bahwa UPS sudah sedikit melakukan pengembangan sarana. Bila pada mulanya di Desa Lonuo terdapat 14 kran umum dan enam hidran yang berfungsi baik, sekarang hampir semua hidran dan kran umum tersebut

FOTO:ALMA ARIEF

tidak berfungsi lagi (ini yang menjadi dasar informasi yang sampai ke penulis bahwa sarana di Lonuo sudah rusak). Tidak berfungsinya sarana tersebut bukan karena rusak tetapi karena sudah berkembang menjadi kran rumah tangga (household connection). Kini seluruh rumah tangga di desa Lonuo sudah bisa mengakses layanan air minum, kecuali dusun tiga yang lokasinya di tempat ketinggian. Sebanyak 184 KK di Desa Lonuo dan 8 KK dari Desa Tamboo (desa tetangga) kini mendapatkan layanan air. Meskipun begitu pada puncak musim kemarau-sebagaimana yang terjadi di tempat lain-suplai air sangat berkurang. Untuk mencukupi kebutuhan air di musim kemarau, penduduk memfungsikan sarana air pada malam hari, mengumpulkan ke dalam bak penampung atau ember. Sistem yang berjalan dengan mulus tersebut menjadi goyah pada tahun 2000, pada saat berlangsung pemilihan kepala desa. Sesuatu yang tidak terantisipasi terjadi, gara gara salah seorang calon kepala desa dalam upaya memperoleh dukungan menjanjikan untuk menghapus iuran air yang sesungguhnya besarnya tidak seberapa yaitu sebesar Rp 1.000/rumah tangga/bulan.

Percik

Desember 2005

WAWA S A N

Kejadian tersebut menjadi preseden buruk, sebab penduduk menjadi membelot, menolak membayar iuran. Sejak tahun 2000 itu UPS sama sekali tidak berfungsi sampai saat ini. Keadaan tersebut semakin diperburuk karena salah seorang pengurus UPS yaitu sekretaris UPS meninggal dunia. Satria Kyai menjelaskan lebih lanjut, dalam waktu dekat ini rencananya akan dilaksanakan rapat untuk melakukan pemilihan pengurus . Sejak terjadi pembelotan tersebut berbagai kejadian yang sangat merugikan bermunculan. Pada tahun 2002 ada penduduk desa tetangga yang melakukan tapping untuk mendapatkan air tanpa seijin UPS. UPS menegur dan tidak memperbolehkan tetapi malah dilaporkan ke polisi. Menanggapi hal itu, UPS melaporkan balik dengan tuduhan melakukan pencurian air. Akhirnya orang tersebut bahkan yang dipanggil dan diperiksa oleh polisi. Selain itu, karena peraturan semakin banyak yang dilanggar, penduduk ada yang membuat kolam. Karena skema iuran tidak lagi berjalan, kini bila ada kerusakan seperti pipa bocor karena pecah, kran rusak, bak penangkap mampet, dan sebagainya, masyarakat digerakkan oleh kepala desa untuk beriuran dan bergotong-royong

Karena iuran tidak lagi berjalan, bila ada kerusakan seperti pipa bocor, kran rusak, bak penangkap mampet, masyarakat digerakkan oleh kepala desa untuk bergotong-royong memperbaiki kerusakan.
memperbaiki kerusakan. Namun sejauh ini hal itu hanya untuk menanggulangi kerusakan kecil, bukan kerusakan besar. Keadaan yang seperti itu akan semakin tidak terkendali bila tidak ada pemulihan fungsi UPS. Pada tahun terakhir ini, dengan adanya perhatian dari pemerintah dengan melibatkan UPS Lonua dalam kegiatan diskusi air bersih, tumbuh lagi semangat baru untuk mengaktifkan kembali UPS dengan melakukan pergantian pengurus dan memfungsikan semua perangkat dan aturan yang ada. Bahkan terakhir ini ada keinginan untuk meniru sistem yang diterapkan Kelurahan Dembe I, yaitu memungut iuran berdasarkan besarnya pemakaian air dengan cara memasang
FOTO:SUBARI

meteran. Namun gagasan ini tidak dikabulkan oleh pemerintah kabupaten. Menurut Satria Kyai, pemerintah beralasan bahwa pemungutan retribusi harus melalui Perda. Pembelajaran Ada berbagai pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman Lonuo. Beberapa di antaranya adalah: 1. Ada faktor-faktor yang tidak teramalkan (aspek sosial budaya) yang mempengaruhi keberlanjutan sarana dan layanan air. 2. Kelembagaan pengelola sarana air mempunyai peranan yang sangat penting bagi keberlanjutan sarana dan layanan. 3. Kelembagaan pengelola sarana yang kuat bisa mengatasi faktor-faktor lain yang mempengaruhi keberlanjutan. 4. Pada saat peran kelembagaan melemah, keberlanjutan sarana dan layanan menjadi terancam. 5. UPS dan sebagian masyarakat Lonuo masih menyadari akan peran penting UPS dan sistem pengelolaan yang baik bagi keberlanjutan sarana dan layanan. 6. Masih ada keinginan untuk mengaktifkan kembali sistem iuran sesuai dengan besarnya pemakaian air dengan cara memasang meteran. 7. Pemerintah menghadapi dilema antara menegakkan aturan dan keberlanjutan layanan air dan kemandirian masyarakat. 8. Berbagai permasalah yang dihadapi Desa Lonuo masih bisa dipecahkan dengan cara mempertemukan semua anggota masyarakat untuk kembali bermusyawarah mencari jalan keluar bersama.
*Kabid Perencanaan Pengembangan Wilayah , Tata Ruang dan Lingkungan Hidup, Bappeda Propinsi Gorontalo **Konsultan WASPOLA, peneliti di Pusat Penelitian Sains dan Teknologi

Kendati dalam kondisi sulit, masyarakat masih bisa menikmati air bersih sistem perpipaan.

Percik

Desember 2005

WAWA S A N

Kearifan Masyarakat Lokal Melestarikan Air


Belajar dari Masyarakat Adat dan Krama Subak di Bali

etiap tahun tanah atau lahan pertanian di Bali dikonversi (dialihfungsikan) ke non-pertanian (vila, mall, hotel, restaurant, lapangan golf, perumahan dan bangunan pusat jasa bisnis pariwisata lainnya). Dalam tempo 10 tahun (1990 - 2000) untuk seluruh Bali mencapai 1.000 hektar per tahun. Saat ini hanya tersisa lebih kurang sekitar 86.082 hektar tanah sawah, dan yang bukan sawah lebih kurang sekitar 476.450 hektar (termasuk perumahan), serta lahan lainnya seperti rawa dan tambak lebih kurang seluas 886 hektar. Bila percepatan kehilangan 1.000 hektar setahun ini tidak segera dihentikan maka Bali akan kehilangan sawah-sawah dalam waktu puluhan tahun lagi. Bayangkan saja betapa sesaknya Bali ketika itu terjadi. Padahal pulau ini hanya memiliki luas lebih kurang 5.632 kilometer persegi. Hilangnya tanah pertanian di Bali bukan soal sederhana dan sekadar soal kehilangan lahan dan petani tak memiliki pekerjaan lagi seperti sudah banyak terjadi di Jawa. Hilangnya tanah-tanah pertanian akan berdampak pada terkuburnya sebagian besar perikehidupan orang Bali. Ini sungguh mengerikan, karena tanah-tanah pertanian, bagi orang Bali, mengusung satu simbol kebudayaan agraris yang menjadi mata air (tirtha amertha) sebagian besar kehidupan mereka. Berkaitan dengan masalah tanah dan simbol kebudayaan agraris yang menjadi mata air sebagian besar kehidupan masyarakat Bali, terdapat pertalian hukum antara manusia, tanah dan air dalam hukum adat Bali didasarkan pada alam pikiran serba berpasangan. Berdasarkan pandangan ini manusia Bali tidak dapat lepas dari tanah oleh karena : 1) Tanah merupakan tempat

Oleh: I Gede Arya Sunantara


tinggal keluarga dan masyarakat; 2) Memberikan sumber kehidupan, terutama dalam menghasilkan air sebagai salah satu simbol utama dalam proses penciptaan (brahman); 3) Tempat warga yang meninggal dikuburkan; 4) Dipercayai merupakan tempat tinggal dewa-dewa pelindung jagat dan tempat roh leluhur bersemayam (Ter Haar, 1991). Kompleksitas pemikiran religius magis yang melahirkan ikatan hukum adat yang berupa ikatan hak dan kewajiban ini terus berlangsung di Bali. Hanya saja seiring dengan berkembangnya modernisasi dan modernitas yang terbungkus dengan kata-kata semu "pembangunan" yang dipopulerkan pertama kali oleh Sutan Takdir Alisjahbana - kesadaran mengenai adanya hubungan antara masyarakat dan tanah ini mulai menurun. Demikian pula halnya dengan keyakinan dari adanya pertalian hidup antara manusia dan air mulai ditinggalkan setelah perubahan perilaku masyarakat yang konsumtif dengan lebih mementingkan nilai uang yang cepat. Perubahan tersebut menjadikan masyarakat pemilik tanah mengalihfungsikan tanahnya sebagai perumahan atau bangunan lain, dan mereka bekerja di hotel atau restoran di bekas tanah mereka. Bentuk-bentuk upacara yang ada untuk menghormati tanah dan air akhirnya hanya sebagai ritual dan simbol bukan lagi sebagai wujud bakti mereka terhadap bumi. Konversi Subak ke Pariwisata Subak sebagai salah satu pranata sosial di Bali merupakan organisasi petani

yang bergerak dalam usaha pengaturan air irigasi untuk lahan basah atau sawah - yang sifat otonominya dalam pengaturan air merupakan salah satu perbedaan dengan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) yang ada di Jawa. Uniknya lagi, walaupun tidak memiliki koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum terutama Sub Dinas Pengairan secara rutin, subak mempunyai ikatan yang tetap dengan lembaga di luar subak, yaitu sedahan dan dinas pertanian - Sedahan yang erat hubungannya dengan urusan perpajakan, dan juga sebagai koordinator urusan perpajakan beberapa subak (sedahan agung), penyuluh pertanian (PPL) yang erat hubungannya dengan sumber informasi pertanian. Ibaratnya subak mempunyai tangan kanan yang bergandengan dengan sedahan dan tangan kiri yang bergandengan dengan penyuluh pertanian. Tapi jika menyangkut urusan air, subak sungguhlah mandiri, mereka seolaholah telah mewarisi keahlian mengatur air dari nenek moyangnya. Demikian pula keberadaan subak sebagai organisasi sosial yang bersifat religius memiliki nilai-nilai yang sangat unik, sehingga menarik minat wisatawan dan ilmuwan berkunjung dan mengadakan penelitian di Bali. Dengan demikian dapat dikatakan subak berperan sebagai salah satu aset pariwisata bagi Bali, karena selain mengatur air ke dalam tiga fungsi kehidupan masyarakat adat Bali, yaitu : 1) Fungsi keagamaan; 2) Fungsi sosial; dan 3) Fungsi ekonomis, subak juga menjaga apa yang disebut dengan tiga fungsi suci sawah, yaitu : 1) Di sawah ada keindahan kehidupan (rice terrace); 2) Di sawah ada aktivitas ritual; dan 3) Di sawah juga ada atraksi budaya. Ketika ketiga fungsi air yaitu, keagamaan, sosial dan ekono-

Percik

Desember 2005

WAWA S A N

mi, digabungkan dengan ketiga fungsi suci sawah yaitu, keindahan, aktivitas ritual, dan atraksi budaya, maka ia merupakan daya tarik tersendiri di mata wisatawan. Jika daya tarik itu hancur, maka tanpa disadari pariwisata Bali yang adiluhung juga akan lenyap. Oleh karena itu, seyogyanya kini subak dilestarikan atau dibina perkembangannya. Kegiatan yang dilakukan oleh subak digolongkan menjadi dua macam, yaitu kegiatan yang ada hubungannya dengan keagamaan dan non-keagamaan. Kegiatan yang ada hubungannya dengan keagamaan meliputi membuat sesajen untuk sawah, sembahyang di pura subak atau pura lainnya yang ada hubungannya dengan pengairan, serta mengadakan perbaikan di tempat-tempat sembahyang subak. Upacara sembahyang di pura subak dilakukan pada harihari tertentu. Di samping itu juga ada hari-hari lain untuk membuat sesajen yang erat kaitannya dengan kegiatan di sawah, seperti upacara mapag toya (upacara menyongsong datangnya air). Kegiatan lainnya adalah adanya upacara ngewiwit bulih (mempersiapkan bibit padi), upacara nandur (menanam padi), upacara padi umur dua belas hari, sampai kepada upacara bersyukur karena panen berhasil. Upacara kadang-kadang dilakukan secara berkelompok yaitu di pura subak, kadang-kadang juga dilakukan sendiri-sendiri di masingmasing petak sawahnya. Tempat sembahyang tersebut dibuat dari bahan sederhana sampai bahan permanen, di mana saat itu seluruh krama (anggota) subak beriring-iringan menuju sawahnya masing-masing pada hari yang ditetapkan oleh rapat subak (pauman). Kegiatan di luar keagamaan terdiri atas membuat dan memperbaiki saluran air, tempat pembagian air ke sawah masing-masing (temuku), memperbaiki jalan subak, pemberantasan hama, dan lain sebagainya yang ada hubungannya dengan usaha peningkatan produksi. Pengawasan jalannya air juga dilakukan secara teratur. Anggota subak secara

bergiliran mengawasi jalannya air dari sumber air sampai ke temuku, tempat pembagian air langsung ke sawah masing-masing anggota subak. Seandainya dijumpai kerusakan-kerusakan kecil yang mengganggu jalannya air, maka kerusakan tersebut segera diperbaiki. Perhatian terhadap subak menjadi penting karena berhubungan dengan upaya menjaga aspek fisik (ekologis) subak yang dalam konsep Tri Hita Karana disebut unsur palemahan (tanah/sawah dan air) sehingga dapat merembet kepada usaha untuk menjaga aspek subsistem sosial anggota/krama subak pawongan dan aspek lingkungan spiritual parhyangan. Karena keanggotaan subak di Bali tidak membedakan agama, ada anggota yang beragama Hindu, Islam, dan Kristen. Memang kegiatan subak terutama didasarkan pada ritual Agama Hindu karena kebanyakan anggota subak (krama) beragama Hindu. Anggota yang bergama Islam dan Kristen tetap ikut membayar iuran yang diperlukan untuk kegiatan subak. Tetapi mereka melakukan sembahyang esuai dengan agamanya masing-masing. Anggota beragama Islam mengadakan sembahyang di masjid, sedangkan yang beragama Kristen di gereja. Perbedaan agama tidak merupakan masalah dalam keanggotaan subak. Karena itulah ma-

nakala subak bubar maka taruhan berikutnya adalah Bedugul dan Ulun Suwi, Pura-nya Krama Subak sebagai pedoman hidup manusia Bali juga akan hancur. Dereligiusitas Subak = Desakralisasi Air Di tengah mulai munculnya kesadaran akan pentingnya agama, dalam hal ini Agama Hindu untuk menjaga lingkungan terutama air saat ini, melalui ajeg-nya subak, masyarakat dan pemerintah daerah di Bali sebagai elemen utama pelaksana keinginan tersebut masih belum sepenuhnya terbebas dari ikatan "cara berfikir institusionalis". Padahal rasionalisme dalam Hindu ketika menilai dan melihat religiusitas subak dan kesakralan air tidak hanya terbatas pada ritus dalam arti sempit, tetapi sesungguhnya memadukan simbol penilaian moral dan simbol konstruktif agama, dengan kata lain juga menggunakan bentuk ritualisme dalam arti yang lebih luas sehingga secara diakronis terangkum dan teridentifikasi mulai dari hal-hal periferal sampai pada hal-hal yang esensial atau terkait dengan tattwa. Kaitannya dengan simbol penilaian moral ketika melihat religiusitas subak dan kesakralan air, masyarakat Hindu

Percik

Desember 2005

WAWA S A N

Bali berhadapan dengan tatanan yang senantiasa harus dianggap suci (luanan), sehingga harus dijaga agar tidak tercemar dengan hal-hal yang bersifat profan (tebenan). Secara kontinum konsep luan-teben harus dipisahkan secara tegas, tetapi secara filsafati keduanya mesti senantiasa berpasangan, terutama untuk membangkitkan sumber kekuatan atau bayu. Sehingga pemakaian simbol-simbol penilaian moral dalam menilai religiusitas subak dan kesakralan air ini mengharuskan seluruh warga Bali - baik itu pemeluk Agama Hindu (krama adat) maupun warga pendatang non-Hindu (krama tamiu) harus paham tentang "kedudukan" subak dan air sehingga dapat menghindarkan diri dari pelanggaran-pelanggaran yang mengakibatkan kecemaran (leteh), sehingga konsepsi rwa bhineda yang mempertentangkan konsep kesucian (suci, purity) dan kecemaran (leteh, pollution) selalu dapat terjaga dengan baik. Sedangkan dalam kaitannya dengan simbol-simbol konstruktif ketika menilai religiusitas subak dan kesakralan air, dalam masyarakat Hindu dikenal adanya pembedaan kedudukan, warna dan struktur keagamaan yang berjenjang, dimana kemudian akan menurunkan

perbedaan distribusi wewenang, kekuasaan, kependetaan dan keagamaan yang berstruktur ketika mendefinisikan religiusitas subak dan kesakralan air. Prinsipnya, air dari mata air di dalam Agama Hindu adalah salah satu syarat yang diperlukan (tirtha untuk patirthan) dalam upacara Panca Yajna baik yang bersifat rutin (nityakala) maupun yang bersifat insidental (naimitikakala). Unsur air dalam Agama Hindu dianggap sebagai sarana menyucikan, unsur yang memberikan kemakmuran, dan arus kehidupan yang harus diseberangi seseorang untuk menuju kebahagiaan sejati (Titib, 2001). Karena itu dalam mencermati pola pergeseran akan kebutuhan subak dan ketersediaan air seperti yang diuraikan di atas di tengahtengah kondisi kehidupan rakyat yang semakin "irasional" dan sekaligus "hipermoralitas" terhadap nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan pembangunan ini, akhirnya - mau tidak mau, disadari maupun tidak - menghasilkan fluktuasi keadaan lingkungan yang terus berkembang menjadi persoalan multidimensional. Pendeknya, masalah terberangusnya subak dan masalah kelangkaan air yang mulai terjadi di sanasini di seantero Pulau Bali sekarang ini, bukan semata-mata sebagai produk

sampingan (by product) dari sebuah "proses horizontal", kasus ini juga tetap merupakan unsur melekat (built-in element) dari sebuah ketidakselarasan sebentuk "hubungan vertikal". Menuju Transformasi Tradisi Meskipun tidak semua tradisi dalam masyarakat lokal mengandung nilai-nilai peka terhadap lingkungan, namun keberadaan subak sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, minimal bagi orang-orang Bali sendiri. Karena itu upaya merekayasa tradisi masyarakat dengan dasar-dasar modernisasi bukanlah pilihan yang bijaksana. Yang diperlukan sesungguhnya adalah sebuah upaya yang lebih ringkas, lebih sederhana, yaitu memahami setiap tradisi dan adat yang ada pada setiap daerah, melakukan pemberdayaan terhadapnya, dan melakukan transformasi budaya di dalamnya. Transformasi budaya di sini maksudnya adalah melakukan suatu proses terciptanya hubungan (structure) yang secara mendasar baru dan lebih baik. Strategi transformasi tradisi dan budaya dalam masyarakat lokal ini memungkinkan kita untuk tetap menjaga, dan yang terpenting tetap memiliki pluralitas tradisi dan budaya itu sendiri, serta memberikan ruang pada setiap masyarakat adat untuk menciptakan sejarah mereka sendiri. Intinya, strategi transformasi tradisi dan budaya dalam masyarakat adat ini harus memperhatikan dimensi pemberdayaan (empowerment), menjamin dan menghargai self identification dan mencegah terjadinya kebudayaan tunggal (monoculture). Inilah sesungguhnya tantangan bagi masyarakat adat maupun bagi kita semua, agar ketika melihat religiusitas subak dan sakralnya air dalam masyarakat Bali. Dunia tetap berujar bahwa Bali beserta tradisi dan budayanya tetap merupakan the morning of the world seperti kata Nehru, atau sebagai the paradise island seperti kata novelis Hickman Powell.
*Alumnus S.2 AN-Fisipol UGM dan MPRK UGM. Pemerhati masalah-masalah water security. Tinggal di Yogyakarta.

Percik

Desember 2005

27

R E P O RTA S E

Hari Monitoring Air Sedunia

Menanamkan Kepedulian Sejak Dini


endi dan Gunadi dengan asyiknya mengamati air yang baru diambilnya dari Danau Cibubur. Beberapa indikator dimasukkan ke bejana tempat air itu. ''30 derajat Celcius,'' kata Rendi. ''Coba tes sekali lagi,'' kata Gunadi tak percaya. Tak jauh dari keduanya jongkok, teman-temannya dari SMP 233 Jakarta yang berjumlah 40 siswa melakukan hal yang sama. Mereka mengukur kualitas air di danau itu. Indikator yang diukur selain suhu, juga jumlah oksigen terlarut, pH, dan kekeruhan. ''Ini pengalaman yang baru, kita bisa mengetahui tentang biotik air, kadar, suhu dan sebagainya,'' kata Rendi yang mengaku ranking dua di kelasnya. ''Ya, menambah pengetahuan baru. Karena di sekolah hanya teori doang, prakteknya kurang,'' tambah Gunadi. Selain itu keduanya mengaku mendapatkan pengetahuan baru bagaimana menghemat dan menjaga sumber daya air. ''Jangan mencuci sepeda dengan air dalam ember. Boros. Kalau mandi sebaiknya pakai shower. Jangan membuang sampah, tinja, oli sembarangan,'' kata Rendi seraya menambahkan bahwa air tidak hanya untuk manusia sekarang tapi juga generasi yang akan datang. Hal baru juga didapatkan artis sinetron Marshanda yang hadir sebagai bintang tamu. ''Wah aku senang banget. Pengetahuan aku jadi nambah. Aku mendukung banget program ini ditujukan kepada anak-anak. Semakin sering diadakan maka semakin tertanam kepedulian terhadap air,'' katanya. Ia mengaku sebelumnya tidak banyak tahu ten-

FOTO:MUJIYANTO

tang kualitas air. ''Aku sebelumnya tak pernah mencoba mengukur yang kayak ginian. Ternyata tak susah ya,'' ungkapnya. Selama hampir setengah hari pengukuran kualitas air dilakukan. Acara ini merupakan peringatan Hari Monitoring Air Sedunia. Sebetulnya peringatannya sendiri jatuh pada 12 Oktober. ''Ini adalah rangkaian kegiatan dari peringatan tersebut,'' kata Job Supangkat dari Forum Komunikasi Air Minum Indonesia (FORKAMI). Kegiatan diisi dengan mengukur kualitas air di beberapa lokasi, lomba menggambar oleh 30 siswa dari 20 SD di DKI, dan kunjungan ke instalasi pengolahan air. Acara ini diselenggarakan atas kerja sama FORKAMI, Thames

Pam Jaya (TPJ), dan Pam Lyonnaise Jaya (Palyja). Job menjelaskan tema utama peringatan ini yakni 'Selamatkan Air Kita'. Dari peringatan ini ada dua hal yang ingin diraih yaitu perubahan perilaku berupa penghematan terhadap pemakaian air dan stop pencemaran. ''Intinya, perlakukan air secara bertanggung jawab,'' tandasnya. Dalam upaya itu, anak-anak dan remaja menjadi target. Ini dilandasi asumsi bahwa anak-anak memiliki daya ubah yang lebih cepat dan bisa mempengaruhi orang tua atau keluarganya. ''Makanya kita mulai sejak dini, SD, SMP, agar mereka paham pentingnya sumber daya air itu dilindungi,'' kata Ketua Umum FORKAMI, Abdullah Muthalib.

28

Percik

Desember 2005

R E P O RTA S E

Menurut Abdullah, meskipun air adalah sumber daya yang dapat diperbaharui, mengingat besarnya biaya dan usaha yang harus dilakukan untuk memulihkan ketersediaan maupun kualitasnya, menjadikan air adalah sumber daya yang terbatas. Untuk itu, lanjutnya, perlindungan sumber air harus dilakukan oleh semua kalangan dimulai dari anak-anak, masyarakat, profesional yang bergerak di bidang air, swasta, LSM, dan pemerintah. ''Melalui Hari Monitoring Air ini kami berkeinginan memercikkan kesadaran bersama akan pentingnya perlindungan sumber air dan kemudian bersama-sama bekerja meningkatkan ketersediaan maupun kualitas sumber air kita bagi kita, kini dan generasi mendatang,'' katanya. Devy A Yheane, PR Manager TPJ, mengatakan pihaknya sendiri telah berusaha melaksanakan edukasi pelajar dan kampanye kualitas air tanah. ''Kami telah mengeluarkan sebuah modul edukasi berupa CD Rom. Isinya netral dan umum yang bisa digunakan oleh siapa saja,'' kata Devy. Januar, guru SMP 233, menilai program seperti ini bisa memberikan manfaat bagi siswanya. Menurutnya, di sekolah siswa lebih banyak menerima teori dan kurang praktek. ''Pelajaran tentang sumber daya air sebenarnya ada dalam pembahasan tentang ekosistem. Tapi bagaimana mengukur kualitas air, ini belum pernah dipraktekkan di kegiatan praktikum,'' jelasnya. Senada dengan Januar, Yanti, guru SD Budi Wanita, Setiabudi, Jakarta Selatan, menyambut baik program pembelajaran yang diberikan dalam peringatan Hari Monitoring Air Sedunia ini. Menurutnya, hasilnya selain berdampak kepada murid dan guru yang mendampingi. ''Acara ini sangat bagus sekali. Secara pribadi, saya jadi tahu bahwa kaporit itu bisa membunuh coli. Apa yang dijelaskan ketika kami mengunjungi tempat penjernihan air juga sangat mendidik bagi anak-anak,'' katanya dengan penuh semangat.

Hanya saja, Yanti heran mengapa kegiatan seperti ini tidak terlihat adanya keterlibatan unsur pemerintah terutama dari kalangan pendidikan. Mengapa hanya LSM dan swasta saja yang peduli? Karenanya ia berharap ke depan kegiatan terhadap kepedulian terhadap sumber daya air harus terus digalakkan oleh semua kalangan. ''Kegiatan seperti ini harus berlanjut terus. Kalau bisa melibatkan semakin banyak pelajar. Dan tidak sekadar lomba, tapi pendidikan bagi anak didik,'' tuturnya. Job sepakat dengan harapan para pendidik. Menurutnya, kegiatan ini baru awal. Peringatan Hari Monitoring Air Sedunia di Indonesia tergolong baru karena terlaksana dua tahun belakangan. ''Kami tak berhenti sampai di sini. Kami akan ajak stakeholders lain. Apa yang sudah kami lakukan akan kami pertahankan tapi dengan obyek yang lebih luas lagi. Tentu kita butuh tahapan demi tahapan,'' paparnya.

Ia menjelaskan, selama ini selain kepada pelajar, kampanye kepedulian terhadap sumber daya air juga diarahkan kepada masyarakat. Bersama Palyja dan TPJ, FORKAMI menggarap para pelanggan air minum di Jakarta dengan pendidikan kesadaran. Selain itu lembaga itu mengadakan talk show di radio setiap minggu ketiga tiap bulan. ''Responnya sangat positif. Ternyata mereka begitu peduli dan ingin tahu lebih banyak tentang air minum khususnya dan sumber daya air pada umumnya,'' jelas Job. Yang pasti, pendidikan mengenai kualitas air mutlak diperlukan bagi semua kalangan. Dan untuk itu, semua stakeholders mau tak mau harus peduli akan hal itu. Caranya dengan ikut serta aktif dalam setiap kegiatan yang mengarah kepada perlindungan sember daya air. Jangan sampai mereka baru peduli begitu musibah terjadi. Seperti akta Rendi, ''Tak ada air, kehidupan kita akan rusak.'' mujiyanto

Marshanda, Artis dan Duta Lingkungan

Masih Kurang Peduli

alau melihat masyarakat saat ini, menurut aku, sebenarnya sih sudah

kan hal sulit untuk meninggalkan kebiasaan buruk tersebut. Secara mudahnya, kalau sungai bersih, bayar air kan bisa lebih murah karena pengolahan air semakin ringan. Bukan begitu. (MJ)
FOTO:MUJIYANTO

peduli. Tapi mungkin pedulinya belum riil. Perlu banyak wawasan yang harus dicari agar supaya kepedulian itu terwujud dalam kehidupan nyata. Contoh membuang sampah ke sungai. Menurutku, mereka yang membuang sampah ke sungai itu mungkin saja sudah tahu bahwa itu tidak boleh. Tapi mengapa kok sampai tidak boleh. Padahal kalau diberi tahu secara gamblang, bu-

Percik

Desember 2005

29

KISAH SUKSES

WSLIC 2 Desa Jambearjo, Malang

Sambungan Desa, Manajemen Kota


erusahaan Daerah Air Minum (PDAM) belum masuk ke Desa Jambearjo, Kecamatan, Tajinan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Tapi di setiap rumah telah terpasang meteran standar PDAM. Kok bisa? Ini berkat adanya proyek Water Supply for Low Income Community (WSLIC) 2 di desa tersebut. Sebelumnya, di desa yang terletak 18 km di sebelah selatan Kota Malang, warga desa mengandalkan kebutuhan airnya dari sungai yang mereka sebut sebagai Kali Manten. Kali yang tak terlalu besar itu membujur di bagian selatan desa. Selain ke kali, warga memanfaatkan sumber air yang berada di jurang dengan kedalaman sekitar 30 meter. Inilah sumber air minum utama warga, selain air sumur yang jumlahnya tidak terlalu banyak. ''Rata-rata sumur di sini dalamnya 24 meter. Kalau menggali baru pun kadang belum tentu keluar airnya,'' kata Abdullah, Kepala Desa Jambearjo. Tak heran, beberapa penyakit menular yang disebabkan air, terutama diare, sempat singgah di desa yang berpenduduk 3.734 jiwa (910 KK) tersebut. Rata-ratanya angka di atas 10 pada tahun 2004. Selain itu, banyak waktu dihabiskan oleh warga desa untuk mengangkut air dari jurang atau sungai. ''Waktu rata-rata yang dibutuhkan 1-1,5 jam tiap hari,'' kata Abdullah. Pengambilan air itu dilakukan dengan cara dipikul. Drs. Imam Nawawi, Ketua Badan Pengelola Sarana Air Bersih (BPSAB) Desa Jambearjo menceritakan kondisi itu membuat sebagian warga buang air besar sembarangan di sekitar rumah atau di sungai. ''Warga di sini sebagian besar memang tidak mampu,'' jelasnya. Di sisi lain, ada potensi sumber air

FOTO: MUJIYANTO

yang bisa mencukupi kebutuhan warga. Sumber air yang berada di jurang ituwarga menyebutnya Sumber Apakmemiliki debit 30 liter per detik. Namun warga tak mampu membangun infrastruktur untuk mengangkat air tersebut dan mendistribusikan ke warga. Sampai beberapa waktu warga pasrah dengan keadaan. Masuk Proyek WSLIC Bagai gayung bersambut. Keinginan warga untuk memperoleh kemudahan akses air bersih akhirnya terpenuhi. Ini setelah ada proyek WSLIC. Warga mencari tahu bagaimana bisa mendapatkan proyek tersebut untuk desanya. Ternyata, berbagai persyaratan harus dipenuhi. Dengan semangat gotong royong, warga mengumpulkan dana, karena proyek tersebut mensyaratkan ada keterlibatan warga berupa in cash dan inkind. Melalui rembug desa, yang dihadiri lebih dari 300 orang, akhirnya ditetap-

kan besarnya iuran. Ada empat kategori iuran yakni A untuk golongan sangat miskin dengan iuran sebesar Rp. 5.000, B untuk golongan miskin dengan iuran sebesar Rp. 10.000, C untuk golongan sedang dengan iuran sebesar Rp. 15.000, dan D untuk golongan kaya dengan iuran Rp 20-25 ribu. Dana itu dikumpulkan melalui tiap RT yang ada di dua dusun yakni Dusun Jambearjo dan Dusun Karangjambe. Total dana yang terkumpul sebesar Rp. 8 juta. Sebelumnya, warga telah mengadakan rembug desa yang dihadiri ratusan warga di balai desa untuk mengelola proyek tersebut. Terpilih 14 orang warga desa setempat sebagai Tim Kerja Masyarakat (TKK). Mereka yang kemudian membuat rencana kerja masyarakat (RKM) dan membentuk unit kerja teknis (UKT) dan unit kerja khusus (UKK). Dari situ mulailah proyek WSLIC di Jambearjo. Pusat mengucurkan dana sebesar Rp. 144 juta, dana pendamping dari kabupaten sebesar Rp. 16 juta, dan

30

Percik

Desember 2005

KISAH SUKSES
dana warga Rp. 8 juta. Partisipasi masyarakat juga diwujudkan dalam bentuk inkind berupa kerja bakti setiap minggu. ''Kita hampir dua bulan kerja bakti,'' kata Imam. Proyek itu dimulai dengan pembangunan Bak Penampung Air (BAP) di Sumber Apak. Bak itu berupa bangunan silinder dari beton dengan diameter 2 meter. Silinder itu dibangun dengan kedalaman sekitar 4 meter ke dalam tanah. Selain itu dibangun pula rumah panel listrik yang berjarak sekitar 5 meter dari BAP, dan tandon penampung dengan ukuran 6 x 6 persegi dan tinggi 2 meter yang bisa menampung air 50 meter kubik. Tandon air ini terletak di ujung desa, yang letaknya memang lebih tinggi. Untuk menaikkan air dari sumber digunakan pompa elektrik dengan kekuatan 12.000 watt dengan kapasitas 3 liter per detik. Pompa diletakkan di bagian atas BAP.Untuk menyalurkan air, TKM bersama warga membangun jaringan perpipaan. Panjang jaringan itu mencapai 9.050 meter. Bersamaan dengan itu TKM pun menyelenggarakan program jamban bergulir; pelatihan kader kesehatan masyarakat, anak sekolah, dan guru; pembangunan tempat cuci tangan di sekolah, dan pembinaan kantin UKS di sekolah yang ada di desa tersebut. Proyek yang dimulai Mei 2004 itu berakhir Mei 2005. Ini berarti masa tugas TKM pun selesai. Untuk memelihara dan mengoperasikan sarana yang terbangun, warga dalam rembug desa membentuk Badan Pengelola Sarana Air Bersih (BPSAB). Pengurusnya adalah para mantan TKM, beranggotakan tujuh orang. Pasca Proyek Setelah BPSAB terbentuk, organisasi bentukan masyarakat itu langsung melaksanakan tugasnya. Yang pertama dilakukan adalah melakukan penyambungan pipa ke rumah-rumah. ''Kita
FOTO: MUJIYANTO

BPSAB sebagai uang jasa. Sebelumnya pada saat menjadi TKM, mereka tak memperoleh honor sama sekali. BPSAB mengadakan rapat rutin tanggal 12 setiap bulan. Badan ini menggunakan prinsip manajemen terbuka dan sistem keuangan yang transparan sehingga akuntabilitasnya cukup baik. Pengurusnya pun telah memiliki rencana ke depan termasuk menghitung penyusutan alat dan sebagainya.

memilih menggunakan meteran agar lebih adil. Yang pakai sedikit bayar sedikit, yang banyak bayar banyak,'' jelas Imam. BPSAB menetapkan biaya sambungan per rumah sebesar Rp. 250 ribu. Kini biaya sambungan naik menjadi Rp. 300 ribu, setelah adanya kenaikan bahan bakar minyak yang berimbas kepada kenaikan harga peralatan sambungan. Sedangkan biaya pemakaian, BPSAB menetapkan Rp. 750 per liter kubik. Saat ini ada 609 satuan sambungan. Kesadaran masyarakat untuk membayar iuran pun cukup baik. Warga datang sendiri ke loket pembayaran yang telah ditentukan lokasinya oleh BPSAB. Terbukti belum ada yang menunggak membayar. Pada November 2005, dana yang masuk sekitar Rp. 6 juta dengan pengeluaran sekitar Rp. 4 juta. Setiap bulan ada peningkatan pemasukan. Uang hasil iuran pelanggan ini, menurut Imam, digunakan untuk pengembangan jaringan dan penggantian pompa. Bahkan beberapa waktu lalu, pompa baru dengan kapasitas 6 liter per detik telah dipasang menggantikan pompa yang lama. ''Jadi sekarang, kita punya dua pompa. Yang satu kita simpan, dan bisa gunakan sewaktu-waktu bila ada kerusakan pompa yang ada,'' jelasnya. Selain itu, hasil iuran ini juga akan disisihkan kepada pengurus

Dampak Langsung Kepala Desa Jambearjo Abdullah mengungkapkan keberadaan air bersih ini mampu meningkatkan jumlah pemilik jamban. Sebelum ada proyek WSLIC jumlah jamban di Jambearjo ada 310. Kini jamban tersebut menjadi 733 unit. Jumlah diare pun menurun. Keberadaan air bersih ini mendorong pembangunan rumah baru. Dari semula ada 910 rumah kini telah bertambah menjadi 968 rumah. Sebuah kompleks perumahan dibangun di wilayah tersebut. Selain itu, kata Abdullah, ada penurunan ongkos air bagi warga yang hajatan. ''Dulu kalau hajatan, paling tidak warga mengeluarkan Rp. 200 ribu untuk air. Kini cuma Rp. 13 ribu,'' katanya. Yang pasti warga pun amat gembira dengan adanya proyek ini. ''Ya lebih enak sekarang. Nggak perlu lagi ke sumber,'' kata Bagilin, warga yang semula harus turun ke jurang untuk mengambil air. Rupanya kini warga Desa Bululawang, Kecamatan Bululawang, yang bersebelahan dengan desa tersebut pun telah mengajukan diri untuk mendapatkan sambungan air bersih. BPSAB pun telah siap memasang sambungan baru. Tentu dengan harga yang berbeda. Ada yang mau belajar ke Jambearjo?
mujiyanto

Percik

Desember 2005

31

TEROPONG

Community Led Total Sanitation (CLTS)

Perubahan Perilaku Tanpa Subsidi


esimistis. Inilah sikap yang muncul ketika program Community Led Total Sanitation (CLTS) mulai masuk ke Indonesia. Banyak kalangan ragu, mampukah masyarakat dengan kesadaran sendiri meninggalkan kebiasaan buang air sembarangan, sementara tidak ada insentif apapun yang diberikan oleh pemerintah kepada mereka. Sikap pesimistis itu terjawab setelah program tersebut diujicobakan di enam kabupaten yakni Lumajang (Jawa Timur), Sambas (Kalimantan Barat), Muara Enim (Sumatera Selatan), Muara Jambi (Jambi), Sumbawa (NTB), dan Bogor (Jawa Barat). Proses uji coba pertama diawali di Lumajang pada Mei 2005, dan menyusul kabupaten lain pada Juni 2005. Hasilnya cukup mencengangkan. Dalam satu sampai tiga bulan, masyarakat yang dipicu melalui program ini berubah, kecuali di Kabupaten Bogor. Mereka tak lagi membuang air besar sembarangan, yang biasanya dilakukan di sepanjang sungai, kebun, atau semak-semak. Dengan kesadaran sendiri mereka membangun jamban sesuai dengan kemampuan masing-masing. Keberhasilan itu tak cukup sampai di situ tapi terus menjalar ke desa-desa yang lain di sekitarnya. Bahkan di Sambas, Bupati telah mencanangkan program tersebut untuk seluruh wilayahnya. Kamal Kar, pakar yang menemukan konsep CLTS, dalam lokakarya CLTS tingkat nasional di Jakarta, 28-30 November lalu, mengatakan capaian Indonesia sangat bagus. Dalam enam bulan

mampu mengubah sedikitnya 3.500 orang untuk tidak buang air sembarangan.

Kamal Kar, pakar yang menemukan konsep CLTS, dalam lokakarya CLTS tingkat nasional di Jakarta, 28-30 November lalu, mengatakan capaian Indonesia sangat bagus.
Program CLTS pertama kali dilaksanakan di Bangladesh tahun 2000. Kini program tersebut telah menyebar di delapan negara termasuk Indonesia. Di setiap Negara ada pembelajaran yang bisa ditarik untuk memperbaiki proses. Kamal menguraikan di Bangladesh ada kendala yakni berupa masuknya subsidi atau bantuan dari pemerintah, yang justru menghambat keberhasilan program. Selain itu, target menjadi tujuan sehingga melupakan proses. Makanya, Kamal menegaskan bahwa keberhasilan program CLTS harus didukung perubahan sikap pemerintah. Dalam hal ini pemerintah harus menghindari pemberian subsidi atau bantuan. Selain itu, CLTS membutuhkan fasilitator yang banyak untuk memicu masyarakat.

Oswar Mungkasa dari Direktorat Perumahan dan Permukiman Bappenas pun menekankan yang terpenting dari program CLTS ini adalah proses perubahannya, bukan target deklarasi bebas buang air besar sembarangannya. Berbagai prinsip dasar, karakteristik masyarakat, faktor pendorong kesuksesan harus terus dipelajari dan dikembangkan. Dari lokakarya nasional tersebut dihasilkan prinsip dasar program CLTS. Prinsip tersebut yakni: Yang harus dilakukan dalam CLTS 1. Memicu dengan baik (melalui proses perkenalan, diskusi/analisas partisipatif, transect walk, pemicuan dan motivasi) 2. Pemahaman bahwa CLTS bukan proyek, tetapi sebuah pendekatan 3. Belajar bersama (bukan penyuluhan) 4. Pemicuan yang terus menerus untuk menimbulkan rasa malu, jijik, gengsi, dengan menggunakan bahasa yang dikenal di masyarakat 5. Pendampingan/monitoring yang intensif 6. Meningkatkan ketrampilan fasilitator 7. Membentuk fasilitator baru (yang siap mental, pantang menyerah, dan berkomitmen tinggi) dan tim fasilitator masyarakat 8. Implementasi CLTS di wilayah yang tidak ada proyek 9. Dukungan untuk menciptakan keswadayaan masyarakat (melalui kegiatan gotong royong, tokoh adat, tokoh agama) 10. Memberi kebebasan untuk berinisiatif

32

Percik

Desember 2005

TEROPONG

11. Memberikan apresiasi/pujian kepada masyarakat yang mau melakukan perubahan 12. Memberikan saran/wawasan jika diminta 13. Memunculkan natural leader dan mengundangnya ke wilayah lain (studi banding) 14. Memfasilitasi untuk kerja sama dengan pihak ketiga 15. Deklarasi jika sudah bebas BAB sembarangan 16. Menghilangkan kesenjangan di masyarakat 17. Mendukung pengembangan ke desa sekitar 18. Sosialisasi secara berjenjang kepada stakeholders 19. Komitmen bersama lintas sektor (pelibatan semua sektor terkait) 20. Pengaruh kelompok tertindas (seperti: perempuan, anak2, dan usila) 21. Filtrasi dan dekomposisi. Yang Tidak Boleh Dilakukan: 1. Memberi subsidi dalam bentuk apapun 2. Menggurui 3. Mengatur 4. Memberi instruksi 5. Memaksakan kehendak, termasuk memaksa membuat WC dan menentukan modelnya 6. Menjanjikan/memberikan reward 7. Membawa misi proyek 8. Membedakan strata masyarakat 9. Menunjukkan identitas/jabatan 10. Melaksanakan CLTS di lokasi, dimana sedang diterapkan pendekatan yang berbeda/yang berlawanan. Prinsip tersebut memang tidak semuanya harus dipenuhi. Tapi paling tidak, bila sebagian besar dipenuhi maka keberhasilan program CLTS bukan suatu impian. Dengan memegang prinsip tersebut bisa dikembangkan lebih luas ke seluruh Indonesia. Dan ini yang kini sedang dilakukan. Mengenai desa yang dianggap telah bebas buang air besar (BAB) sembarangan disepakati sebagai berikut:

FOTO: ISTIMEWA

Peran fasilitator, natural leader, tokoh masyarakat, dan aparat pemerintah sangat menentukan. Tanpa ada kerja sama yang harmonis antara mereka, program ini sulit diwujudkan.
- partisipasi dan gotong royong tinggi. - tidak ada lagi bangunan WC di pinggir sungai - masyarakat sudah memiliki/membuat WC di dekat rumah/darat . - tidak ada lagi aroma/bau tahi di lingkungan penduduk. - timbul rasa malu BAB/berak disembarang tempat. - meningkatnya derajat kesehatan masyarakat. Sementara tentang belum berhasilnya Kabupaten Bogor melaksanakan program ini, berdasarkan analisis disebabkan berbagai faktor di antaranya intensitas pemicuan dan pendampingan yang kurang (hanya sekali pada awal saja). Kondisi ini menyebabkan sema-

ngat masyarakat yang telah terpicu berangsur-angsur pudar. Belum lagi, ternyata ada 'provokator' yang menyatakan bahwa CLTS membawa subsidi untuk pembangunan jamban. Dan tak jauh dari daerah uji coba, memang ada desa yang sedang menyelenggarakan proyek bersubsidi/stimulan/bantuan. Dari pengalaman di lapangan terlihat bahwa peran fasilitator, natural leader, tokoh masyarakat, dan aparat pemerintah sangat menentukan. Tanpa ada kerja sama yang harmonis antara mereka, program ini sulit diwujudkan. Ini penting diperhatikan karena program ini memfokuskan pada perubahan perilaku, bukan mengejar target proyek. Apa yang telah dicapai oleh CLTS memberikan gambaran bahwa masyarakat itu mampu mengubah perilakunya menjadi lebih baik dengan kesadarannya jika diberdayakan. Dan proses yang dilakukan di dalamnya tampaknya bisa ditiru untuk melakukan perubahan di bidang lain di luar buang air besar sembarangan. Jadi tak Cuma Lubang Tahi Saja. Mujiyanto

Percik

Desember 2005

33

TEROPONG

Desa Segarau Parit

Aturan Adat Tak Mempan


usun Pantai dan Dusun Usaha, Desa Segarau Parit, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, berada di muara Sungai Sambas yang berbatasan langsung dengan laut Cina Selatan. Jaraknya sekitar enam jam perjalanan dari Pontianak. Dari ibukota kabupaten letaknya tidak terlalu jauh, sekitar setengah jam perjalanan. Untuk mencapai dusun tersebut, pengunjung harus menyeberangi sungai Sambas yang lebarnya sekitar satu kilometer dengan menggunakan kapal fery atau sampan. Dari penyeberangan ini, dusun tersebut berjarak sekitar dua kilometer melalui jalan darat. Warga kedua dusun ini hidup dari pertanian, buruh, dan nelayan. Setiap harinya mereka mengalami kesulitan air bersih. Tidak ada sumber air yang bisa dimanfaatkan untuk minum. Sebenarnya air di lingkungan mereka sangat melimpah, tapi tidak bisa dimanfaatkan karena payau. Untuk mencukupi kebutuhan air untuk minum dan memasak, mereka menampung air hujan. Tak heran di setiap rumah bisa dijumpai tempayan-tempayan besar yang terbuat dari semen. Untuk mandi dan mencuci, mereka memanfaatkan air yang ada. Dusun Pantai dihuni oleh 1.057 jiwa (175 KK) yang tinggal di 174 rumah. Sebelum ada uji coba Community-Led Total Sanitation (CLTS), tidak ada warga yang memiliki jamban/WC. Mereka buang air besar (BAB) di sungai, yang memang letaknya tak jauh dari rumahrumah mereka. Sudah dapat dibayangkan kondisi sungai yang ada di dusun tersebut. Sedangkan Dusun Usaha dihuni oleh 1.153 jiwa (183 KK) yang mendiami 181 rumah. Secara geografis, dusun ini

letaknya agak jauh dari sungai dibandingkan dengan Dusun Pantai. Tak heran, bila sejak awal sudah ada yang memiliki jamban/WC. Dari 181 rumah, sebanyak 54 rumah di antaranya memiliki jamban/WC. Sisanya buang air besar di sungai atau di kebun. Sebenarnya, menurut Kepala Desa Segarau Parit Rajiman Jufri, telah ada aturan adat berkenaan dengan kebersihan ini bagi warganya. Aturan itu antara lain buang air besar sembarangan itu tidak baik, tidak boleh ada air kotor di bawah jemuran baju, dan tidak boleh mandi dengan air tercemar. Namun aturan adat itu tampaknya hanya bersifat moral sehingga tak begitu dipedulikan warga.
FOTO:MUJIYANTO

Maka pada 1 Juli 2005 diadakan pemicuan di tingkat kabupaten dan kemudian praktek lapangan di dusun tersebut. Hasilnya, ada kesepakatan untuk membangun 156 unit jamban/WC baru di Dusun Pantai, dan 60 unit di Dusun Usaha. Selanjutnya proses tersebut terus dikawal oleh tim pendamping baik dari tingkat kabupaten, kecamatan, dan desa. Rajiman menjelaskan proses pembangunan jamban baru ini menemui kendala, terutama di Dusun Usaha. Penyebabnya tenaga kerja terbatas karena banyak warga menjadi perantau dan musim panen tiba. Namun itu akhirnya

bisa diatasi dengan cara kerja gotong royong. Masyarakat yang semula merasa berat akhirnya mau membangun jamban. Surianto, salah satu warga yang terlibat dalam program ini menjelaskan kesadaran masyarakat itu muncul dengan sendirinya pascapemicuan. ''Kita tidak mengajari atau menggurui. Tokoh-tokoh masyarakat juga membantu dengan menyelipkan pesan-pesan kesehatan ini di pengajian-pengajian,'' katanya. Selain itu, sebagian masyarakat ada yang merasa malu karena tetangganya membuat jamban/WC dan tak lagi buang air besar di sungai. Warga membuat inovasi sendiri dalam membangun jambannya. Ada yang menggunakan kloset, tapi ada pula yang membuat kloset dari corong minyak. Dalam waktu sekitar satu bulan jamban/WC itu sudah jadi. Hasilnya di luar rencana. Di Dusun Pantai dari 156 yang direncanakan, yang terbangun 174 jamban/WC baru. Artinya semua rumah telah memiliki jamban/WC. Di Dusun Usaha, rencana 60 unit tapi yang terbangun 105. Tak hanya itu, tiga dusun lainnya di Desa Segarau Parit pun terkena imbasnya. Warga dusun lain mulai meninggalkan buang air di kebun/sungai dan mulai membangun jamban setelah dilakukan pemicuan. Perubahan itu menjadikan Bupati Sambas terjun langsung ke desa itu. Di sana Bupati ikut menyaksikan deklarasi bebas buang air besar sembarangan. Bupati secara simbolis menghanyutkan pagar/kerudung jamban yang ada di tepi sungai. ''Sekarang enak, bersih, dan anakanak bisa berkeliaran ke mana-mana tanpa takut kena tahi. Kalau malam juga enak buang air besarnya,'' kata Khairuman, warga Dusun Pantai. (MJ)

34

Percik

Desember 2005

TEROPONG

Dusun Sukamenanti, Desa Muaro Pijoan

Bangun Jamban Melayang


usun Sukamenanti, Desa Muaro Pijoan, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, letaknya tak terlalu jauh dari ibukota propinsi Jambi. Dengan perjalanan darat memakan waktu sekitar setengah jam. Dusun tersebut berada tiga kilometer dari jalan raya dan berada di sepanjang tepian Sungai Batanghari. Dusun ini sering menjadi langganan banjir. Dusun ini dihuni oleh 75 kepala keluarga (KK), rata-rata tinggal di rumah panggung. Dari jumlah tersebut hanya satu KK yang memiliki jamban yakni Ketua RW, M Yumi Nangsiah. Warga lainnya buang air besar di sungai yang menuju ke Sungai Batanghari. ''Kebiasaan itu sudah turun temurun,'' kata Yumi. Kondisi itu pula yang menjadikan dusun ini terpilih bersama tiga dusun lainnya di Jambi untuk dijadikan lokasi uji coba program Community-Led Total Sanitation (CLTS). Pada 6 Juli 2005, masyarakat setempat dipicu untuk tidak membuang air sembarangan. Hasilnya berupa penolakan. Lina, fasilitator pendamping mengungkapkan warga dusun tetap menolak untuk meninggalkan buang air besar di sungai. Alasannya, mereka tidak memiliki air bersih. Saat itu, warga berjanji akan membangun jamban/WC kalau ada air bersih ke dusun tersebut. Penolakan itu justru datang dari tokoh masyarakat setempat. Namun warga yang telah mendapatkan pelatihan tidak putus asa. Ketua RW memulai mengambil inisiatif bersama warga yang telah terpicu. Caranya mereka yang ikut pelatihan, berjumlah enam orang, langsung membangun jamban/WC baru untuk memberi contoh warga lainnya. Bersama dengan itu

FOTO:MUJIYANTO

Ketua RW menggandeng tiga ketua RT di dusun tersebut untuk bergerak, termasuk meyakinkan Kepala Dusun Marzuki yang semula menentang. Langkah itu juga didukung oleh para pemuda dan tokoh-tokoh agama. Seminggu kemudian tak ada lagi penghalang, dan warga mulai sadar. Selama ini, menurut Yumi, beberapa hal yang menjadi keberatan warganya selain air bersih adalah faktor kebiasaan dan daya beli bahan untuk membangun jamban. ''Banyak warga yang tidak mau asal bangun jamban,'' jelasnya. Untuk mengatasi masalah ini ia bersama warga menggalakkan gotong royong, kerja bakti, baik dalam membangun konstruksi jamban maupun mencetak kloset sederhana. Perubahan perilaku warga ini juga terus didorong oleh Kepala Desa Lukman AS dan istri Camat Jambi Luar Kota Ny. Habibah yang tak henti-henti mengunjungi warganya. Pemicuan juga dilakukan dengan lomba kebersihan dan

jamban antar-RT. Dalam dua bulan seluruh warga Dusun Sukamenanti telah bebas buang air besar di sungai. Dengan inovasi masing-masing, warga memilih jamban sesuai kemampuannya. Semuanya leher angsa. Entah siapa yang mengarahkan, banyak di antara jamban yang dibangun adalah jamban melayang. Artinya closet terletak satu meter di atas permukaan tanah. Ini untuk menghindari banjir yang sering singgah di dusun tersebut. Berdasarkan pengakuan warga, mereka tak banyak mengeluarkan uang untuk jamban ini. Rata-rata setiap jamban sederhana hanya menghabiskan biaya Rp. 14 ribu. Harga yang murah ini karena di dusun itu tersedia sumber pasir. Selain itu, camat setempat memberikan bantuan semen untuk membuat kloset massal. Marzuki, Kepala Dusun Sukamenanti, mengaku sangat bergembira setelah dusunnya bebas BAB sembarangan. Kini, menurutnya, warganya telah membuat kesepakatan bahwa siapa saja yang membangun jamban di sungai akan dibakar. Memang, di atas sungai yang menuju ke Sungai Batanghari tersebut tak ada lagi jamban. Ini karena pada 26 September ada gerakan penghanyutan jamban sungai. Acara ini dilakukan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Muara Jambi dan disaksikan oleh Bupati Muara Jambi. Kini warga memiliki cita-cita untuk mengajak warga dusun di sekitarnya. ''Kita ingin dusun lain bebas BAB sembarangan juga, karena kalau tidak tahinya tetap ke dusun kita,'' kata Yumi. Hanya saja ia tak berani memicu warga desa lain sendirian tanpa didampingi aparat pemerintah. ''Soalnya, mereka meremehkan kita,'' katanya. (MJ)

Percik

Desember 2005

35

TEROPONG

Cuma Bikin Lubang Tahi Saja

Kp. Babakan Lemah Duhur, Desa Cimande.

ampung Babakan Lemah Duhur, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, terletak di perbukitan di bagian tenggara Kota Bogor. Jarak dari Kota Bogor sekitar setengah jam perjalanan. Secara geografis letaknya bisa dikatakan di pinggiran kota. Kampung ini terdiri atas dua RT yakni RT 16 dan RT 17. Di RT 16 ada 59 rumah, sedangkan di RT 17 ada 19 rumah. Masyarakatnya bekerja sebagai petani dan buruh di kota. Untuk kebutuhan minum dan masak, warga Lemah Duhur mendapatkannya dari air sumber yang diambil dari desa di atasnya dengan menggunakan selang. Sedangkan untuk kebutuhan lainnya seperti cuci dan buang air, warga memanfaatkan selokan yang mengalir di pinggir jalan, sebagian memanfaatkan sungai yang berada di bawah desa. Tak heran bila gumpalan-gumpalan tahi bukan sesuatu yang aneh di kampung tersebut. Gumpalan itu bergerak pelan bersama air selokan yang mengalir tepat di samping masjid. Terlihat seorang ibu yang dengan santainya mencuci piring yang habis dipakaianya dari air selokan itu. Kondisi ini menjadikan dusun ini menjadi ajang uji coba CLTS, selain Dusun Bojong Menteng (Desa Cimande Hilir), Dusun Laladon dan Sengket (Desa Sukaresmi). Maka warga pada Juli lalu dipicu untuk mau mengubah perilaku buang air besar sembarangannya. Saat itu, menurut seorang pemicu, masyarakat memang terpicu. Mereka bersedia mengubah kebiasaannya dan berencana membangun jamban.

FOTO:MUJIYANTO

Waktu terus berlalu. Agustus 2005, perubahan tak begitu terlihat. Warga tetap saja asyik dengan BAB di selokan. Kondisi ini terus terjadi hingga pertengahan November ini. Berdasarkan data yang dikumpulkan, warga RT 17 yang memiliki jamban hanya tiga dari 19 KK, lima orang yang membuat lubang baru. Itu benar-benar lubang, tanpa tutup. Sedang di RT 16, dari 59 rumah, 24 memiliki jamban, dan sembilan rumah membuat lubang doang. Muchtar Lintang, staf Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, menjelaskan kondisi ini terjadi karena intensitas pemicuan kurang, termasuk pendampingan. Ini juga diakui oleh Community Facilitator, Betty, yang seharusnya mendampingi warga. Ia mengaku tak pernah hadir ke dusun tersebut karena disibukkan oleh tugas proyek lain. Selain itu, petugas sanitarian yang semula bertanggung jawab di wilayah itu tidak ada karena baru pindah ke tempat lain. Lebih dari itu, lanjut Lintang, ada pemahaman masyarakat-yang ini dikuatkan oleh Kepala Desa setempat-bahwa akan ada bantuan subsidi untuk membangun jamban. Menurut warga,

kepala desa memberi tahu bahwa warga hanya perlu membuat lubang saja, lainnya akan dibantu pemerintah. Selain itu dugaan warga dikuatkan dengan adanya bantuan stimulan bagi warga di desa tetangganya melalui proyek lain. Kenyataan ini membuat pakar CLTS Kamal Kar terpicu untuk melihat dari dekat kondisi dusun. Faktanya memang tak bisa ditolak. Akhirnya Kamal Kar dengan kelihaiannya melakukan pemicuan kembali. Warga dikumpulkan di depan masjid. Kamal menceritakan berbagai keberhasilan desa-desa yang telah dikunjunginya di Sambas dan Jambi. Ia juga menekankan betapa buruk dampak membuang air sembarangan bagi kesehatan. Respon masyarakat belum terlihat. Akhirnya Kamal memberi pilihan kepada warga dua hal yaitu pertama, akan mengajak warga yang telah bebas BAB untuk melihat kampung tersebut yang masih BAB sembarangan, atau kedua, akan memberitakan kondisi kampung ini melalui media massa. Warga tak mau keduanya. Mereka memilih akan membangun jamban. Mereka menyatakan sanggup bebas BAB sembarangan pada 24 Desember, sebulan setelah pemicuan. Ketua RT 17, Bimbin berjanji akan menggerakkan warganya. Sebagai langkah awal, ia bersama masyarakat bergotong royong membuat lubang di dekat MCK umum untuk difungsikan sebagaimana mestinya sehari kemudian. ''Sekarang sudah dipakai meski sederhana,'' katanya. Yang lain? Semoga tidak terulang membuat lubang tahi saja. (MJ)

36

Percik

Desember 2005

K L I N I K I AT P I
Rubrik ini berisi tanya jawab tentang air minum dan penyehatan lingkungan.

Pertanyaan dapat disampaikan melalui redaksi Majalah Percik. Kontributor: Lina Damayanti (ldamayanti@wboj.or.id), Dini Trisyanti (dtrisyanti@gmail.com), Sandhi Eko Bramono.

Majalah Percik bekerja sama dengan Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia, membuka rubrik Klinik.

Air Limbah Mandi dan Cuci


Tanya: Bagaimana mengolah air limbah rumah tangga dari buangan bekas mandi dan cuci serta dapur (grey water)? Apakah dapat dialirkan ke dalam septic tank?
Mawardi Adi Jl. Siaga Swadaya 17, Pasar Minggu, Jakarta Selatan

Jawab: Air limbah rumah tangga dapat dibagi dalam dua kategori. Pertama adalah air limbah dari kakus/WC yang diistilahkan sebagai air buangan tinja atau "black water" dengan kandungan organik tinggi, pengaliran dan pengolahannya dapat berupa tangki septik, cubluk atau bila tersedia, dialirkan kedalam saluran limbah kota (sewer) untuk diolah di instalasi pengolahan limbah kota-Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL). Kategori air limbah rumah tangga kedua adalah air limbah rumah tangga

bekas mandi, cuci dan air limbah dapur non kakus (grey water); selain terdapat kandungan organik yang cukup tinggi biasanya juga tercampur dengan deterjen bekas air cucian. Air limbah non kakus ini tidak dapat dialirkan ke dalam tangki septik, oleh karena kandungan deterjen akan dapat membunuh bakteri pengurai yang dibutuhkan dalam proses pembusukan dalam tangki septik, oleh karenanya diperlukan instalasi pengolahan khusus, yang disebut Sistem Pengolahan Air Limbah (SPAL) rumah tangga non kakus. Desain Bangunan SPAL ini terdiri dari dua bagian yaitu; (1) bak pengumpul/kontrol yang terdiri atas (a) ruang penangkap kotoran atau sampah, (b) ruang penangkap lemak/minyak dan (c) ruang penangkap pasir dan pengumpul, yang dihubungkan dengan pipa ke dalam (2) tangki penyaring. Konstruksi dapat terbuat dari konstruksi batu kali

atau batu bata atau beton, sedangkan lapisan penyaring berupa batu koral diameter 2-4 cm setebal 60 cm dan arang batok kelapa, dengan tebal/ketinggian 40 cm. Arah aliran Air bekas cucian/mandi dialirkan menuju bak pengumpul. Pertama dialirkan ke ruang penangkap sampah (A) yang dilengkapi saringan di bagian dasarnya, kemudian butiran pasir yang terkandung di air akan mengendap pada bagian dasar ruang pengumpul (C), sedangkan lapisan minyak akan mengambang di ruang penangkap lemak (B), sedangkan air akan mengalir menuju tangki penyaring, dan dialirkan ke pipa PVC yang berada di tengah-tengah tangki, kemudian air akan mengalir ke bagian bawah dan keluar dari lubang PVC bagian bawah menuju ke atas melalui saringan batu koral dan arang batok kelapa, kemudian overflow-nya dapat dialirkan ke saluran drainase.

Bak pengumpul/ kontrol dari pasangan batu bata 0,5x0,5x0,6 m3 A B Pipa PVC penghubung Dia. 4 inch Arang batok kelapa 40 cm A = Ruang penangkap sampah ,saringan kawat kasa 1cm2 B = Ruang penangkap lemak C = Ruang pengumpul dan penangkap pasir
(sumber: Teknologi Tepat guna Litbang PU Ciptakarya)

Tutup Tangki Resapan terbuat dari beton 8 cm

Batu koral diameter 24cm, tebal 60 cm Pipa PVC dia. 4 inc Tangki Filter Up flow 1,2 x 1,2 x 1,8 m3 (terbuat dari: beton / batu kali,/batu bata)

Percik

Desember 2005

37

S E P U TA R W A S P O L A

Karena air begitu berharga


(Catatan dari perjalanan studi banding Kelompok Kerja AMPL ke Australia)

"W

ater is a precious resource. It is water that makes our earth unique, and life possible." Kalimat tersebut menyambut delegasi Indonesia yang datang ke Water Discovery Center di Werribee, Australia. Karena air begitu berharga dan sumber daya air makin terbatas menjadi alasan utama mengapa Australia telah mulai menerapkan konsep reclaimed water (lebih dikenal sebagai recycled water) dalam pengelolaan sumber daya air. Tulisan ini adalah catatan perjalanan studi banding Kelompok Kerja AMPL dan Sekretariat WASPOLA ke tiga kota di Australia yaitu Adelaide, Melbourne, dan Sydney untuk melihat pengelolaan sumber daya air dengan fokus pada penerapan konsep reclaimed water.

Evaporation

Precipitation (rain) Transpiration Irrigation Potable Residential water Industrial Municipal WWTP Runoff Recycled WTP Evaporation

Sewage Reclaimed water

Percolation Ground water aquifer

Apa itu reclaimed water? Apa bedanya dengan recycled water? Reclaimed water adalah air yang diperoleh dengan memanfaatkan air buangan (air limbah) yang telah diolah kembali dengan pengolahan lengkap sehingga kualitasnya setara dengan standar kualitas air minum. Sedangkan recycled water adalah penggunaan air kembali secara umum tanpa harus memenuhi standar kualitas tertentu. Namun istilah recycled water lebih dikenal sehingga istilah ini lebih banyak dipergunakan terutama oleh konsumen yang memanfaatkan reclaimed water. Diagram siklus air yang diperoleh dari Reclaimed Water Development for Horticulture berikut memberikan gambaran mengenai terminologi reclaimed water dan recycled water, dan juga berbagai jenis pemanfaatannya.

Pemanfaatan reclaimed water di Australia Australia saat ini termasuk salah satu negara yang sudah mulai menggunakan reclaimed water dalam skala luas, yaitu untuk irigasi, pemeliharaan lansekap kota, penunjang ekosistem dan lingkungan (mengairi wetlands/lahan basah), dan bahkan untuk beberapa keperluan domestik selain air minum misalnya menyiram jamban/toilet, menyiram halaman, dan lain-lain. Di beberapa kota yang dikunjungi oleh Kelompok

Kerja AMPL, penggunaan untuk keperluan domestik terutama dilakukan di area permukiman yang relatif baru karena reclaimed water disalurkan melalui sistem tersendiri yang terpisah dengan retikulasi air minum. Upaya 'memasyarakatkan' reclaimed water tidak berhenti sebatas menyalurkannya kepada konsumen tetapi juga diikuti dengan program edukasi dan kampanye publik. Hal ini dilakukan untuk membangun kepercayaan konsumen dan memastikan ketepatan pemanfaatanFOTO: LINA DAMAYANTI

Penyaluran air melalui 2 sistem retikulasi, pipa berwarna merah untuk air minum dan pipa berwarna ungu untuk reclaimed water

38

Percik

Desember 2005

S E P U TA R W A S P O L A
FOTO: LINA DAMAYANTI

nya. Pemanfaatan reclaimed water diawasi dengan ketat oleh Departemen teknis penanggung jawab dan EPA (Environmental Protection Agency), dari mulai kualitas air yang didistribusikan sampai ke prosedur pengoperasian dan pemeliharaan sistem retikulasi baik di tingkat penyedia jasa (water utility) maupun konsumen. Bahkan untuk pemanfaatan bagi sektor pertanian di Werribee, pinggiran kota Melbourne, sebelum reclaimed water didistribusikan, EPA mengharuskan konsumen (petani) membuat rencana pengelolaan lahan (Customer Site Management Plan) untuk memastikan pemanfaatannya dilakukan dengan benar dan sesuai peruntukkannya. Upaya lain yang dilakukan untuk memasyarakatkan reclaimed water adalah melakukan pengaturan harga air atau tarif. Di semua kota yang dikunjungi tarif reclaimed water untuk domestik selalu lebih murah dari tarif air minum kecuali Sydney yang sedikit lebih tinggi dari tarif air minum. Untuk irigasi, harga air agak lebih tinggi dibandingkan dengan domestik, namun secara umum di semua jenis pemanfaatan tarif yang diberlakukan selalu lebih rendah dibandingkan dengan biaya produksi. Adelaide Adelaide adalah ibukota negara bagian South Australia dengan populasi sekitar 1,1 juta penduduk. Seratus persen penduduk di kota ini telah terlayani oleh jaringan penyediaan air minum maupun saluran air limbah. "Kami sudah tidak mempunyai masalah dalam hal penyediaan infrastruktur dasar AMPL, namun jika tidak dipikirkan dari sekarang di masa yang akan datang kami akan menghadapi masalah ketersediaan sumber daya air," kata salah satu petugas SA Water, lembaga penyedia jasa milik pemerintah South Australia yang bertanggung jawab dalam penyediaan air minum dan pengelolaan air limbah. Menyadari pentingnya ketersediaan sumber daya air

Air mancur menggunakan reclaimed water dengan latar belakang lansekap yang memanfaatkan sampah di Sydney Olympic Park

untuk keberlanjutan penyediaan air minum, pemerintah South Australia mulai menerapkan konsep terpadu dalam mengelola sumber daya air mereka, termasuk mulai memasyarakatkan reclaimed water. Bahkan Adelaide telah melakukan penyimpanan kembali air hujan (storm water) yang telah diolah ke dalam aquifer melalui Aquifer Storage and Recovery (ASR) system. Melbourne Keseriusan mereka dalam mengelola sumber daya air langsung bisa dirasakan oleh delegasi Indonesia saat menyusuri tepian sungai Yarra, sungai yang sangat dibanggakan oleh penduduk kota Melbourne karena kebersihan dan keindahannya. "Making Melbourne the World's most Water-Sensitive City" adalah tujuan utama pengelolaan sumber daya air terpadu yang dilakukan oleh Melbourne Water, lembaga milik pemerintah negara bagian Victoria yang memegang peranan sentral dalam pengelolaan sumber daya air. Konsep keterpaduan yang diterapkan oleh Melbourne

Water bisa dilihat di Western Wastewater Treatment Complex di Werribee yang dikunjungi oleh Kelompok Kerja AMPL. Komplek seluas 11.000 hektar ini tidak hanya melakukan pengelolaan air limbah sehingga memenuhi standar untuk didistribusikan sebagai reclaimed water namun juga melakukan pemeliharaan ekosistem dengan membangun lahan basah (wetlands) dan fasilitas penunjang ekosistem lain, dan juga membangun Water Discovery Center sebagai pusat edukasi dan kampanye publik. Sydney Sydney Olympic Park adalah ikon sistem pengelolaan terpadu di kota Sydney. Siapa yang menyangka kalau komplek yang digunakan oleh para jawara olah raga dunia untuk beraksi di tahun 2000 dulunya adalah lahan tempat pembuangan sampah domestik dan industri. "Lalu sampahnya dikemanakan?" itu adalah pertanyaan yang ada di benak hampir sebagian besar delegasi Indonesia. Sampahnya ternyata diman-

Percik

Desember 2005

39

S E P U TA R W A S P O L A
faatkan menjadi lansekap di komplek wan lainnya terpadu harmonis dalam tahun dengan mengurangi pemakaian olahraga tersebut, tentunya setelah satu komplek. Pengelolaan sumber daya air minum di komplek ini sebesar 50 sampah toxic dan berbahaya dipin- air terpadu di Sydney Olympic Park persen. dahkan ke TPA lain di luar kota. Selain mampu menghemat kira-kira 850 juta memanfaatkan kembali sampah, Syd- liter air minum (potable water) per Bagaimana dengan Indonesia? Mungkin sekarang ini tidak ney Olympic Park juga meneFOTO: LINA DAMAYANTI hanya menjadi pertanyaan Kerapkan pendekatan terpadu dalompok Kerja AMPL yang telah lam mengelola air minum, air mengikuti studi banding tetapi limbah, reclaimed water, air telah menjadi pertanyaan kita hujan, sistem irigasi, bangunan, bersama. lansekap, dan ekosistem. KomApakah kita akan menunggu plek olah raga, permukiman sampai kita terbebas dari mayang menggunakan dua sistem salah penyediaan infrstruktur daretikulasi air (air minum dan resar di sektor AMPL atau kita muclaimed water), lansekap, lahan lai dari sekarang? basah/wetlands dan habitat unBasah Hernowo, Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas, tuk binatang, burung, dan heLina Damayanti berdiskusi dengan Executif Direktur SA Water, Anne Howe.

Orientasi MPA-PHAST bagi Kelompok Kerja AMPL Daerah

una meningkatkan kapasitas Kelompok Kerja AMPL Daerah dalam proses pendampingan WASPOLA dan POKJA AMPL Nasional untuk operasionalisasi kebijakan nasional AMPL di daerah, WASPOLA menyelenggarakan orientasi MPA-PHAST. Acara berlangsung di Bandung, 17-21 Oktober 2005 dan di Solo pada 28 Nopember-2 Desember 2005. Orientasi ini dimaksudkan untuk mengajak peserta memahami pentingnya perubahan pola berpikir pengelolaan pembangunan AMPL berbasis masyarakat yang harus menitikberatkan pada pendekatan terhadap kebutuhan (Demand Responsive Approach). Lebih khusus lagi, orientasi ini dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman tentang MPAPHAST (konsep dan pene-

rapannya) dalam perencanaan, monitoring, dan evaluasi pembangunan AMPL berbasis masyarakat. Lokakarya dibuka oleh Oswar Mungkasa dari Direktorat Perumahan dan Permukiman Bappenas. Ia menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam keberlanjutan dan efektivitas penggunaan sarana. MPA-PHAST,

menurutnya, hanyalah salah satu sarana guna meningkatkan keterlibatan masyarakat. Lagi pula, metode ini terbukti cocok dalam mendorong keterlibatan masyarakat. Materi yang dibahas dalam orientasi ini antara lain (i) konsep pemberdayaan masyarakat dalam proses pembangunan AMPL yang berkelanjutan; (ii) konsep kesetaraan gender; (iii) FOTO: ISTIMEWA kerangka kerja MPAPHAST dalam perencanaan, monitoring, evaluasi dan pengambilan keputusan pembangunan AMPL berkelanjutan; (iii) keterkaitan MPA-PHAST dengan kebijakan nasional pembangunan AMPL berbasis masyarakat; dan (iv) piranti MPA-PHAST. Peserta juga melaksanakan praktek/simulasi penggunaan MPAPHAST melalui kunjungan lapangan. (MJ)

40

Percik

Desember 2005

S E P U TA R A M P L

Kerja Sama Bappenas dan Plan International Bidang AMPL

adan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menjalin kerja sama dengan Plan International-sebuah lembaga swadaya masyarakat-dalam penerapan kebijakan air minum dan penyehatan lingkungan (AMPL) untuk mengembangkan layanan air minum dan penyehatan lingkungan yang berkelanjutan. Jalinan kerja sama itu diwujudkan dalam penandatanganan kesepakatan (MoU) di Kantor Bappenas, Rabu (19/10), antara Deputi Sarana dan Prasarana Bappenas Imron Bulkin dan Country Director for Plan International Indonesia M.K. Ali. Imron Bulkin menjelaskan saat ini tingkat akses masyarakat terhadap air minum dan sanitasi penduduk Indonesia tergolong rendah dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara. Populasi yang memiliki akses ke air minum tidak lebih dari 53,4 persen sedangkan hanya 67,1 persen yang memiliki jamban. Menurutnya, sejak tiga dekade terakhir pemerintah terus bekerja keras untuk meningkatkan cakupan akses tersebut melalui berbagai proyek dan program. Tahun 2003, lanjutnya, pemerintah berhasil menyusun Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat. Kebijakan ini bertujuan mendorong secara aktif para pemangku kepentingan sektor tersebut untuk berperan secara aktif. Kebijakan tersebut terdiri atas 11 kebijakan dan 16 strategi. Selain itu, lanjut Imron, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian segera yakni jurang antara kebutuhan pengguna dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan yang tersedia. Di samping itu keterbatasan dana pemerintah, baik pusat maupun daerah,

FOTO:DOK. PLAN INTL

Layanan sanitasi, hygiene, dan penyediaan air minum yang terpadu sangat penting karena hal ini berkontribusi terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan anak-anak serta kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
dalam mengoperasikan dan memelihara sarana yang sudah ada. Oleh karena itu, Imron menyambut baik kerja sama ini dan berharap kerja sama ini merupakan bagian dalam mengatasi persoalan-persoalan yang muncul tersebut. Sementara itu, MK Ali mengatakan layanan sanitasi, hygiene, dan penyediaan air minum yang terpadu sangat penting karena hal ini berkontribusi terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan anak-anak serta kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Melalui kerja sama ini, lanjutnya, pihaknya akan membantu mengem-

bangkan panduan/prosedur yang dapat mempermudah penerjemahan kebijakan nasional pembangunan AMPL ke dalam pelaksanaan di lapangan. Selain itu Plan akan memperluas kapasitas teknisnya untuk mengembangkan jejaring pengetahuan dalam sektor AMPL bersama dengan lembaga-lembaga terkait; mengembangkan strategi komunikasi untuk mendorong penerapan perilaku hidup bersih dan sehat kepada anak-anak dan keluarga mereka; serta mendukung pelaksanaan riset dan pengembangan untuk memperluas pilihan-pilihan teknologi pada penyediaan air minum dan penyehatan lingkungan bagi masyarakat. Plan akan menyesuaikan program air dan sanitasinya dengan kebijakan nasional AMPL. Kegiatan Plan akan dilaksanakan di tujuh propinsi yakni Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, dan NAD serta di tiga kota besar yakni Jakarta, Surabaya, dan Makassar. (MJ)

Percik

Desember 2005

41

S E P U TA R A M P L

Sekilas Plan International


lan International merupakan lembaga swadaya masyarakat yang memfokuskan diri pada anak-anak di seluruh dunia. Staf dan sukarelawan LSM ini bekerja bersama anak-anak, keluarga dan komunitasnya di 60 negara. Aktivitasnya meliputi peningkatan keahlian dan menyediakan sumber daya yang memungkinkan anak-anak memiliki kesamaan suara dan kesempatan untuk mengembangkan kesehatan, pendidikan, dan tanggung jawab orang dewasa. Selain itu Plan mengembangkan pendekatan langsung dan kampanye bagi anak-anak di seluruh dunia. Visi Plan yaitu sebuah dunia dimana semua anak-anak merealisasikan seluruh potensinya di masyarakat sesuai dengan hak dan martabatnya. Sedangkan misinya yakni mencapai peningkatan kualitas kehidupan anak-anak di negara-negara berkembang melalui sebuah proses yang menyatukan budaya seluruh dunia dan menambah pemahaman dan nilai kehidupan. Plan Indonesia sendiri melaksanakan kegiatan di Indonesia mulai 2 September 1969, berdasarkan kerja sama dengan pemerintah Indonesia. Dalam menyebarluaskan programnya, Plan bermitra dengan organisasi lokal dan badan-badan pemerintah. Plan bergerak di enam propinsi yakni Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Plan memiliki 13 unit program di tingkat kabupaten/kota. Plan Indonesia memiliki strategi jangka menengah yang berlaku Juli 2005-Juni 2010. Plan ingin memerangi kemiskinan anak dan berkontribusi untuk merealisasikan Konvensi Hak Anak di Indonesia dengan tujuan: Hak atas air bersih, sanitasi, dan kesehatan Hak atas pendidikan

Mencapai kehidupan rumah tangga yang aman Hak atas perlindungan dan partisipasi Kerja sama bagi penguatan masyarakat sipil Memulihkan kehidupan masyarakat pascatsunami Di bidang kesehatan, Plan Indonesia memandang anak-anak memiliki hak untuk tumbuh secara optimum dalam lingkungan yang sehat, memperoleh sanitasi yang baik, pelayanan kesehatan dan higiene yang memadai. Dalam rangka itu Plan bergerak untuk: Meningkatkan persentase keluarga yang menerima layanan dasar kesehatan bermutu yang disediakan oleh Posyandu

Meningkatkan jumlah sekolah dengan kualitas program kesehatan yang baik dengan menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai seperti lingkungan yang baik bagi anak-anak untuk belajar dan berhubungan di antara anak-anak. Menerapkan inisiatif kesehatan reproduksi dengan menekankan pada kemampuan hidup para remaja seperti promosi kehidupan seksual yang aman dan bertanggung jawab, termasuk dengan penyebarluasan informasi mengenai HIV/AIDS. Meningkatkan jumlah bantuan dengan membina tenaga terlatih melalui proyek keamanan ibu berbasis masyarakat. (MJ)

Butir-butir Kerja Sama Antara Bappenas dan Plan International


Percontohan/pelaksanaan program air minum dan penyehatan lingkungan sesuai dengan prinsip-prinsip kebijakan nasional. Plan Indonesia memberikan dukungan dalam upaya pengembangan masyarakat, termasuk layanan air minum dan penyehatan lingkungan, kepada lebih dari 300 desa/kawasan kumuh di 15 kabupaten yang tersebar di tujuh propinsi. Dalam rangka itu Plan akan menjalin kerja sama dengan pemerintah kabupaten untuk meningkatkan pemahaman terhadap pendekatan tanggap kebutuhan dan menggali kemungkinan pendanaan bersama dengan dinas terkait di bidang AMPL Bantuan Teknis. Plan akan menyediakan bantuan teknis dan bantuan financial yang dibutuhkan termasuk dalam penyediaan tenaga ahli untuk Bappenas. Manajemen dan Jejaring Pengetahuan. Plan akan bekerja sama dengan Kelompok Kerja AMPL untuk mengumpulkan berbagai pembelajaran yang dapat dipetik dari berbagai proyek AMPL. Bappenas dan Plan akan membantu Pokja AMPL dalam upaya membentuk sebuah pusat informasi. Pengembangan Strategi Komunikasi. Bappenas dan Plan sepakat mengadakan sebuah studi pengetahuan, sikap dan praktek, yang dapat memberikan umpan balik bagi pengembangan strategi komunikasi nasional. Dukungan Penelitian dan Pengembangan. Kedua belah pihak sepakat menempuh berbagai upaya yang diperlukan untuk pengadaan dan penggunaan pilihan-pilihan teknis yang layak dan akan memfasilitasi Depkes dan Dep PU untuk mengambil peran utama dalam pengadopsian pilihan teknologi yang sesuai serta mendorong industri lokal dalam memproduksi produk tersebut. Jaminan dan Pemeriksaan Mutu (QA&I). Bappenas dan Plan akan mengembangkan/menerapkan sistem QA&I baik untuk intervensi perangkat keras maupun 'lunak'. Perencanaan Bersama dan Pemantauan/Kajian Berkala. Bappenas, Plan, dan Pokja AMPL akan mengembangkan rencana aksi tahunan terinci dan mengkaji kemajuan setiap triwulan serta melakukan perubahan yang diperlukan guna menjaga efektivitasnya.

42

Percik

Desember 2005

S E P U TA R A M P L

Diseminasi Kegiatan CWSH dan WSLIC 2


alam rangka menyebarluaskan kegiatan Community Water and Sanitation Health (CWSH) dan Water and Sanitation for Low Income Community (WSLIC) 2 kepada pemerintah daerah yang akan memperoleh proyek tersebut, Ditjen Bina Bangda Depdagri menyelenggarakan lokakarya di Surabaya, 6-7 Desember 2005. Lokakarya ini dihadiri oleh 170 peserta terdiri atas para bupati, DPRD, TKP, dan TKK. Acara dibuka oleh Deputi Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan Bappenas, Dr. Ir. Dedy M. Maskuriyadi. Dalam sambutannya ia mengatakan lingkungan merupakan faktor penting dalam kesehatan. ''Kesehatan bukan masalah yang berdiri sendiri. Sebagian besar penyebab masalah kesehatan berada di luar sektor kesehatan,'' katanya. Ia menjelaskan faktor di luar kesehatan yang dimaksud yaitu lingkungan fisik, kimia, biologi, social ekonomi, budaya, dan politik. Selain itu ada faktor sifat-sifat yang melekat pada genetik individu, perilaku, dan gaya hidup. ''Air dan sanitasi merupakan faktor yang terkait dengan perilaku/gaya hidup yang menentukan status kesehatan,'' paparnya. Dede mengungkapkan fakta hasil penelitian WHO bahwa investasi pada anak (usia dini) akan menurunkan angka kematian bayi. Jika akses air minum naik 10 persen maka kematian bayi akan turun 3-4 persen. Sedangkan jika anggaran kesehatan naik 10 persen maka kematian bayi akan turun 0,8-1,5 persen. Sayangnya, lanjutnya, anggaran pemerintah di sektor kesehatan masih ter-

FOTO:MUJIYANTO

golong rendah yakni hanya 5,4 persen dari APBN atau hanya 9 dolar AS per kapita. Angka ini lebih rendah dibandingkan anggaran negara Malaysia (6,9 persen), dan Vietnam (8,1 persen). Karena itu, peran semua pihak sangat diperlukan dalam mendukung upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui peningkatan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan. Acara lokakarya juga diisi dengan presentasi oleh Dirjen PP & PL Depkes, Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas, serta penyampaian pengalaman dari Dinas Kesehatan Jawa Timur dan Bupati Sambas, Kalbar. Dirjen PP & PL Depkes dalam makalahnya yang disampaikan Staf Ahli Menkes Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi, Dwija S, menegaskan bahwa penyediaan air minum mempunyai kecenderungan dapat mencegah kasus diare sebesar 35 persen, penggunaan jamban mencegah diare 28 persen, sedangkan bila menggunakan air minum dan kebiasaan cuci

tangan dengan sabun menurunkan penyakit tersebut sebesar 3565 persen. Menurutnya, berdasarkan hasil monitoring dan pengamatan, proyek WSLIC 2 bermanfaat bagi kesehatan masyarakat, namun perlu perbaikan dalam hal manajemen kegiatan. Berdasarkan pembelajaran, metode, dan pendekatan yang dikembangkan WSLIC 2, pemerintah telah memutuskan mengadakan kegiatan dan pendekatan yang sama dalam proyek CWSH. Proyek CWSH rencananya akan dilaksanakan di empat propinsi pada 20 kabupaten selama lima tahun yang mencakup 1.000 desa (2006-2010). Baik WSLIC 2 maupun CWSH ditujukan bagi desa dengan kriteria di bawah garis kemiskinan, kasus diare tinggi, akses terhadap sarana air bersih dan sanitasi masih rendah, dan ada komitmen dari pemerintah daerah untuk menyediakan dana pendamping. Sementara itu, Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas, Basah Hernowo, menjelaskan kondisi air minum dan penyehatan lingkungan saat ini dan kebijakan yang telah disusun oleh pemerintah yakni kebijakan nasional pembangunan AMPL berbasis masyarakat. Ia menekankan pentingnya penyatuan langkah yang efektif antara pemerintah pusat, propinsi, dan kabupaten dalam rangka mencapai target MDGs. Lokakarya juga diisi dengan kunjungan lapangan ke empat desa WSLIC 2 di Kabupaten Malang yakni Desa Jambearjo, Kaliasri, Tlogosari, dan Petungsewu. (MJ)

Percik

Desember 2005

43

S E P U TA R A M P L

Lokakarya Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS)


okakarya evaluasi pelaksanaan kegiatan Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS) berlangsung Rabu (8/12) lalu di Surabaya. Lokakarya yang diikuti oleh 220 peserta ini dibuka oleh Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Departemen Pekerjaan Umum, Ir. Susmono. Dalam sambutannya, ia menyatakan bahwa sanitasi berbasis masyarakat telah menjadi pola yang harus diterapkan di Indonesia sejak saat ini. ''Ini dalam rangka menuju Indonesia bebas buang air besar sembarangan tahun 2009,'' tandasnya. Menurutnya, pihaknya telah memprogramkan pengembangan SANIMAS di 100 lokasi. Ia berharap program ini bisa didukung oleh pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya. ''Kita perlu ada koordinasi dan sinkronisasi. Tentu PLP tak bisa berjalan sendiri,'' tegasnya. Acara lokakarya juga diisi dengan presentasi oleh Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas, Ir. Basah Hernowo, MA yang khusus memotret kondisi sanitasi perkotaan di Indonesia. Menurutnya, proporsi kepala keluarga di perkotaan yang menggunakan tangki septik dan cubluk mencapai 80,5 persen (tanpa memperhatikan kualitas sarana). Dari jumlah itu 73,13 persen KK memiliki jamban keluarga, sedangkan 16,9 menggunakan jamban bersama dan jamban umum. Sementara kota yang memiliki jaringan perpipaan sanitasi perkotaan hanya 10 kota dengan cakupan hanya 13,9 persen. Penyebab keadaan tersebut, menurut Basah, antara lain kesadaran publik mengenai sanitasi yang masih rendah, sistem sanitasi yang terbangun tidak berlanjut, rendahnya prioritas anggaran pada sektor sanitasi, dan belum ada kebi-

FOTO:MUJIYANTO

jakan dan kerangka pengaturan. Selain itu ada faktor pertumbuhan penduduk dan percepatan pembangunan sarana air minum dan sanitasi yang tidak seimbang. ''Lebih dari 100 juta orang belum mendapatkan akses ke sanitasi,'' paparnya. Di sisi lain, lanjutnya, pembangunan sarana sanitasi memerlukan investasi yang banyak. Hingga tahun 2009, paling tidak butuh dana Rp. 9 trilyun (kira-kira Rp. 1,8 trilyun/tahun) untuk membangun sarana tersebut. Padahal, pemerintah tak memiliki dana sebesar itu. Karenanya, ia berpendapat perlu ada penggalian potensi investasi dari swasta dan masyarakat. Basah menguraikan pengalaman yang bisa dipetik dari program pembangunan sarana sanitasi yaitu (i) keberlanjutan sistem sanitasi dipengaruhi oleh aspek kelembagaan, keuangan, sosial, teknik, dan lingkungan; (ii) partisipasi masyarakat menjadi kunci keberlanjutan; (iii) proses fasilitasi masyarakat pada proyek sanitasi memerlukan biaya yang tidak sedikit dan waktu yang lama; (iv) sanitasi berbasis masyarakat harus dikelola pada level terendah; (v) komunikasi para stakeholders meningkatkan efisiensi pembangunan sanitasi;

(vi) pada beberapa kasus, pengelolaan sistem sanitasi memerlukan keterlibatan seluruh stakeholders bahkan hingga melewati batas administrasi. Ke depan, lanjutnya, agenda yang harus dilakukan yaitu keterpaduan strategi, pemanfaatan kapasitas pendanaan, pemberian bantuan teknis, dan dukungan lembaga. ''Seluruh stakeholders harus bekerja sama secara sinergi dan simultan,'' tandasnya. Lokakarya diisi pula dengan pemaparan dari Frank Fladerer (BORDA Representative Indonesia) dan Surur Wahyudi (CBS Program Coordinator) mengenai program SANIMAS dan pencapaiannya. Selain itu ada juga pemaparan Pemda Blitar sebagai daerah yang melaksanakan proyek SANIMAS, dan pengelola SANIMAS dari KSM Miji Serasi Mojokerto. Program SANIMAS diuji coba tahun 2003 di enam kabupaten/kota di Jawa Timur dan satu kota di Bali. Tahun 2004, kegiatan ini direplikasi lagi di daerah tersebut. Tahun 2005, replikasi berlanjut lagi di enam kota di Jawa Timur ditambah empat kota di Jawa Tengah, dua kabupaten di DIY, dan satu kota di Bali. (MJ)

44

Percik

Desember 2005

S E P U TA R A M P L

enindaklanjuti MoU antara Bappenas dan Plan International, Rabu (21/12), Plan bersama dengan Pokja AMPL mengadakan lokakarya di Jakarta. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengimplementasikan MoU dalam bentuk nyata. Lokakarya ini diikuti oleh anggota Pokja AMPL, Plan Indonesia, dan WASPOLA. Acara ini dibuka oleh Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas, Ir. Basah Hernowo, MA. Dalam sambutannya ia menyatakan tak mungkin pemerintah mencukupi dana bagi pembangunan AMPL secara keseluruhan. Untuk itu perlu keterlibatan semua stakeholder. LSM sebagai organisasi grass root dapat menjadi mediator antara pemerintah dan masyarakat. Peran pemerintah bergeser

Lokakarya Penyusunan Rencana Kegiatan Pemerintah Indonesia-Plan International


FOTO:OSWAR MUNGKASA

dari provider/penyedia menjadi fasilitator. LSM dinilainya memiliki kepiawiaan dalam pemberdayaan masyarakat dan penguasaan teknologi tepat guna, serta memobilisasi sumber pembiayaan dan sumber daya manusia. Ke depan, lanjutnya, semua stakeholder perlu meningkatkan sinergi, mengembangkan jejaring AMPL lebih lan-

jut dengan meningkatkan keterlibatan stakeholder non pemerintah, dan menggali sumber pendanaan alternatif untuk pembangunan AMPL, apakah itu dari masyarakat, lembaga donor, LSM, atau sektor swasta. Lokakarya ini diisi dengan diskusi kelompok untuk merumuskan kegiatan yang bisa dilaksanakan oleh kedua belah pihak selama masa waktu kerja sama yakni 2006-2008. Ada tujuh lingkup kegiatan yakni (1) uji coba program air minum dan penyehatan lingkungan; (2) bantuan teknis; (3) manajemen dan jejaring pengetahuan; (4) pengembangan strategi komunikasi; (5) dukungan penelitian dan pengembangan; (6) jaminan dan pemeriksaan mutu; (7) perencanaan bersama dan pemantauan/kajian berkala. (MJ)

Pertemuan Sinergi Komunikasi dan Jaringan Mitra Kerja Stakeholders AMPL


alam rangka menjalin sinergi para stakeholders AMPL, Dirjen Bina Bangda mengadakan pertemuan lanjutan dengan mitra kerja stakeholders di Jakarta, 18 Oktober 2005. Pertemuan itu dihadiri 37 peserta dari kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), pemerintah, dan swasta. Acara ini dibuka oleh Oswar Mungkasa dari Direktorat Perumahan dan Permukiman Bappenas. Dalam sambutannya ia menjelaskan bahwa akses dan kualitas pelayanan AMPL di Indonesia masih rendah. Sarana yang tersedia tidak memenuhi syarat baik dari sisi kesehatan maupun teknis. Di sisi lain, sektor sanitasi belum menjadi prioritas

pemerintah. Hal ini terbukti dengan APBN sektor permukiman kurang dari 10 persen, dan di APBD malah lebih kecil. ''Khusus mengenai AMPL lebih kecil lagi,'' katanya. Karena itu, menurutnya, peran serta masyarakat untuk ikut andil sangat penting. Terbukti masyarakat mampu berpartisipasi dan berkontribusi. Ia berharap kalangan swasta bisa meningkatkan kepeduliannya melalui agenda social responsibility. Menurutnya, langkah ini dapat menciptakan brand image. Ia berharap pertemuan ini mampu membangun kesamaan persepsi stakeholder AMPL, pelaku di tingkat lapangan dan pengambil kebijakan

dalam hal inovasi pendekatan, teknis dan pendanaan, mendorong kampanye berkelanjutan melalui media, pendidikan dan produk komsumsi, serta meningkatkan sinergi antara pemerintah-swasta dan LSM. Pertemuan itu juga diisi dengan presentasi dari kalangan LSM dan swasta. Presentasi pertama disampaikan oleh Surya Aslim dari Islamic Relief Indonesia tentang updating isu sanitasi. Presentasi berikutnya oleh Kuwat Suryadi dari PCI dengan tema mengubah perilaku kelompok miskin melalui sanitasi. Presentasi terakhir disampaikan oleh Ketua Corporate Forum for Community Development (CFCD), Thendry Supriatno. (MJ)

Percik

Desember 2005

45

I N F O BU K U

Solusi Tanpa Privatisasi

ondisi PDAM di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 300 belum menunjukkan kinerja yang baik. Hanya 10 persen yang sehat. Sisanya menghadapi banyak masalah mulai dari manajemen, sumber daya manusia, dan modal. Pembenahan terus dilakukan kendati hasilnya belum menyeluruh. Di tengah kondisi seperti ini, pihak-pihak tertentu mencoba mendorong agar PDAM diprivatisasi sesuai arus global privatisasi yang bergulir sejak 1990-an. Seolah-olah privatisasi adalah satu-satunya jalan untuk memperbaiki kondisi perusahaan layanan publik tersebut, padahal ada pengalaman buruk dari kasus privatisasi air di Jakarta. Buku ini mencoba memberikan perspektif lain terhadap bahaya privatisasi khususnya bagi kalangan miskin. Di dalamnya diberikan contoh-contoh kegagalan pengelolaan air minum oleh perusahaan-perusahaan transnasional di sejumlah negara. Perusahaan tersebut gagal memenuhi janjinya untuk

JUDUL:RECLAIMING PUBLIC WATER. CERITA SUKSES, PERJUANGAN DAN VISI DARI BERBAGAI NEGARA PENYUSUN:
Belen Balanya, Brid Brennan, Olivier Hoedeman, Satoko Kishimoto, dan Philipp Terhost PENERBIT : Amrta Institute for Water Literacy Tahun Terbit : 2005 Tebal : 318 halaman

memperbaiki layanan air. Karena perusahaan swasta itu memfokuskan pada keuntungan, mereka menaikkan tarif yang signifikan sampai pada level yang tidak dapat dijangkau oleh masyarakat miskin. Melalui buku ini tim penulisnya berusaha menunjukkan bahwa terdapat alternatif lain yang menarik dan mungkin

dilakukan oleh pemerintah yang birokratis dan inefisien selain terbawa arus privatisasi. Pembelajaran dari berbagai negara di dunia ditunjukkan dalam buku ini misalnya gerakan koperasi di Bolivia, air Porto Alegre di Brasil, pengelolaan masyarakat di Kerela, India, Penang, Malaysia, dan Savelegu, Ghana. Eksperimen-eksperimen sukses ini jarang mendapat perhatian yang layak. Pembelajaran penting ini bisa menjadi inspirasi yang berharga dalam pengelolaan air di Indonesia. Satu hal yang patut disimak dari buku ini bahwa kegagalan perusahaan publik tidak bisa semata-mata ditimpakan kepada perusahaan tersebut. Faktornya sangat terkait dengan sistem pemerintahan yang berlaku, misalnya saat itu pemerintahannya diktator, tidak mengakui hak asasi manusia, dan tidak transparan. Perusahaan publik akan bisa berkembang jika didukung oleh kepemerintahan yang baik (good governance). MJ

Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu


risis air yang melanda Indonesia merupakan permasalahan umum yang terjadi di seluruh dunia. Tak heran bila pada peringatan Hari Air Sedunia Maret 2004 lalu tema yang diangkat yaitu ''Water and Disaster'' (Air dan Bencana). Masyarakat internasional sudah menyadari betapa dunia saat ini menghadapi ketidaksetimbangan air. Ini terjadi karena degradasi lingkungan yang cukup parah. Air sulit didapatkan pada musim kemarau, sebaliknya berlebih pada musim hujan sehingga menimbulkan bencana yang hebat. Perlindungan sumber daya air menghadapi banyak kendala di antaranya dana pemerintah yang terbatas, laju peningkatan jumlah penduduk yang makin cepat terutama di kota, krisis

JUDUL :

PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR TERPADU


PENULIS : Robert J. Kodoatie, Ph.D dan Roestam Sjarief,Ph.D Penerbit Tebal : Penerbit Andi Yogyakarta : xiii + 357 halaman Tahun Terbit : 2005

ekonomi, eforia otonomi yang cenderung kebablasan dari kabupaten/kota. Di sisi lain pelayanan air bersih belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan baik di kota maupun di desa, serta drainase masih terkesan tambal sulam dan tidak terintegrasi menjadi satu sistem kesatuan yang utuh.

Oleh karena itu mau tidak mau pengelolaan sumber daya air secara bijak, terpadu, dan menyeluruh, merupakan sebuah keharusan. Terpadu mencerminkan keterikatan dengan berbagai aspek dan para pemangku kepentingan (stakeholders) dan berbagai disiplin ilmu. Menyeluruh mencerminkan cakupan yang sangat luas, lintas batas sumber daya, antarlokasi, hulu dan hilir, antarkondisi, jenis tata guna lahan, antar banyak aspek dan antarmultidisiplin. Pengelolaan sumber daya air harus holistik dan berwawasan lingkungan. Semua disiplin terlibat dan saling bergantung antara lain sosial, ekonomi, teknik, lingkungan, hukum, bahkan politik. Air adalah urusan semua kalangan, begitu filosofi yang seharusnya dicamkan. MJ

46

Percik

Desember 2005

INFO CD

Replikasi Sanimas 2004

ANIMAS adalah singkatan dari sanitasi oleh masyarakat, sanitation by community. Program ini pada awalnya merupakan kegiatan pilot proyek tahun 2001-2003 yang dibiayai oleh AusAID melalui WSP-EAP dengan dukungan dari pemerintah Indonesia. Proyek ini dilaksanakan oleh BORDA. Program tersebut diimplementasikan di tujuh kota/kabupaten di dua provinsi padat penduduk di Indonesia yaitu Jawa Timur dan Bali. Pilot proyek ini selesai pada tahun 2003. Kemudian pada tahun 2004, program ini direplikasikan lagi di kota/kabupaten yang sama. Semua proyek itu telah berakhir dan diresmikan. SANIMAS merupakan program baru yang menggunakan cara pendekatan baru bahkan sistem pendanaan yang juga baru. Karena itu banyak pelajaran

yang bisa dipetik dari proyek ini. Dari replikasi ini pun, BORDA berhasil menyusun panduan mengenai panduan promosi dan presentasi kepada stakeholder masyarakat, panduan seleksi mandiri masyarakat, panduan penyusunan ren-

cana kerja masyarakat, panduan pelatihan untuk KSM dan masyarakat, dan panduan pengoperasian dan perawatan sarana sanitasi masyarakat. Melalui CD ini, BORDA ingin berbagi pengalaman tentang penanganan SANIMAS beserta seluk beluknya. SANIMAS I berbeda dengan SANIMAS II. Tentu dari sisi proses, SANIMAS II lebih mantap dibandingkan sebelumnya. Selain itu, CD ini memberikan masukan yang cukup berharga bagi pemerintah baik di pusat maupun di daerah dalam keiikutsertaannya mendukung proyek SANIMAS. Dan yang paling menarik adalah bagaimana lessons learned yang didapatkan selama proses proyek berlangsung baik itu ketika seleksi kampung calon penerima proyek, proses perencanaan, dan pelaksanaan pembangunan. (MJ)

Air untuk Semua

ir adalah kebutuhan vital kehidupan manusia. Keberadaannya tidak bisa digantikan oleh benda yang lain. Namun sayangnya belum semua manusia yang hidup di dunia ini memiliki akses ke air minum dan penyehatan lingkungan. Berdasarkan catatan Asian Development Bank, satu dari tiga orang di Asia tidak memiliki akses ke air minum, sementara setengah dari orang yang hidup di Asia dan Pasifik tidak memiliki akses ke sanitasi dasar yang baik. Kondisi ini jelas sangat memprihatinkan. Maka wajar bila banyak bermunculan berbagai jenis penyakit yang berkait dengan air dan sanitasi yang buruk. Melalui CD ini, Bank Pembangunan Asia (ADB) mempublikasikan isu air

yang berkaitan dengan masyarakat miskin di sejumlah negara yang menjadi anggota ADB. CD yang berjudul 'Water for All' ini berisikan 15 judul yang terdiri atas studi kasus, makalah

tematik, laporan kegiatan, statistik, dan hasil studi regional. Sebenarnya, ADB sudah mempublikasikan hal tersebut dalam bentuk buku (blue print), yang beberapa seri di antaranya pernah dimuat di majalah ini. CD ini merupakan bentuk soft copynya. Pembaca juga bisa mendapatkan terbitan ini melalui http://www.adb.org/water Beberapa judul dalam CD itu antara lain: Water and Poverty; Poverty and Water Security; The Water and Poverty Initiative; Water and Poverty in the 3rd World Water Forum; Bringing Water to the Poor; Past Experience and Future Challenges; Small Pipe Water Network' 'Water Voices' Documentaries; dan An Agenda for Change. (MJ)

Percik

Desember 2005

47

INFO SITUS

Forum Air Dunia


http://www.worldwaterforum4.org.mx /home/cuartowwf06.asp?lan=

rikat, 26-29 Maret 2006. Konferensi ini diperkirakan akan dihadiri oleh peserta dari 40 negara. Mereka adalah para peneliti, pendidik, pejabat pemerintah, konsultan, manajer, tokoh masyarakat, dan pihak-pihak lain yang bergerak dan tertarik pada sektor persampahan. Tema yang dibahas sangat beragam mulai dari kebijakan, peraturan, pendidikan, ekonomi, sampai ke hal-hal teknis seperti daur ulang, inovasi teknologi, dan studi kasus.

langsung 3-7 April 2006 di Melbourne, Australia. Bersama dengan itu akan berlangsung pula Konferensi Internasional ke-4 Water Sensitive Urban Design. Penyelenggara konferensi ini adalah International Water Association (IWA). Konferensi tersebut membahas dua topik utama mengenai model drainase perkotaan dan desain air minum di perkotaan. Kegiatan tersebut diperuntukkan untuk kalangan yang terkait langsung dengan perencanaan dan penanganan perkotaan, baik itu pengambil kebijakan, ahli perkotaan, praktisi air minum dan drainase, dan lainnya.

orum Air Dunia (World Water Forum) ke-4 akan berlangsung di Meksiko pada 16-22 Maret 2006. Selama satu pekan, forum itu akan membahas berbagai tema yang terangkum dalam sebuah kerangka kerja. Tema tersebut antara lain penyediaan air dan sanitasi, air untuk pertanian, dan lingkungan serta manajemen risiko. Tema-tema itu akan dibahas secara paralel setiap hari. Ada 150 sesi, dengan waktu masing-masing 2 jam. Para pembicara utama juga akan menyampaikan makalahnya. Bersamaan dengan forum tersebut akan digelar Pameran Air Dunia (World Water Expo). Pemeran itu akan menampilkan berbagai hal baru dalam bidang teknologi, peralatan, dan pemecahan persoalan air. Perusahaan-perusahaan terkait dari berbagai negara akan ambil bagian.

Agenda Air Dunia 2006


http://www.conferencealerts.com/ water.htm

Konferensi Model Drainase Perkotaan


http://www.icms.com.au/ UDMandWSUD/

onferensi International Model Drainase Perkotaan ke-7 akan beritus ini khusus menampilkan agenda air pada November 2005 hingga November 2006. Kegiatan-kegiatan tersebut berlangsung di berbagai belahan dunia. Setiap item kegiatan yang ditampilkan dilengkapi dengan batas waktu pengiriman makalah dan pendaftaran sebagai peserta. Kendati topiknya mengenai air, agenda kegiatan yang dimuat juga termasuk sanitasi meskipun tidak banyak seperti konferensi toilet kering, konferensi energi, dan kelautan. (MJ)

Konferensi Teknologi dan Manajemen Sampah


http://www2.widener.edu/~sxw0004/ call.html

onferensi Teknologi dan Manajemen Sampah ke-21 akan diselenggarakan di Philadelphia, Amerika Se-

48

Percik

Desember 2005

I N O VA S I

Air Rahmat
Ubah Air Bersih Jadi Air Minum

ebuah terobosan baru muncul dalam pemurnian air. Air Rahmat, begitu namanya. Rahmat singkatan dari murah, mudah, dan hemat. Air ini adalah larutan pemurni air minum yang mengandung 1,25 persen sodium hypochlorite. Cairan ini dapat meningkatkan derajat air bersih menjadi air minum tanpa direbus. Air ini diproduksi, didistribusikan, dan dipasarkan oleh Aman Tirta, sebuah konsorsium yang terdiri atas PT Tanshia Consumer Products, PT. Dos Ni Roha, LOWE Worldwide, John Hopkins Bloomberg School of Public Health/Center for Communication Programs (CCP), CARE Indonesia, dan didukung oleh USAID. Air Rahmat berfungsi sebagai desinfektan, dengan cara mematikan mikroorganisme yang terbawa dalam air yang akan diminum. Ini terjadi karena fungsi Chlorine yang terbukti secara efektif menghentikan aktivitas sebagian besar organisme hidup yang menyebabkan penyakit diare pada manusia. Penggunaan Air Rahmat ini hanya digunakan untuk air tawar yang biasa untuk minum. Penggunaannya cukup mudah yaitu dengan menuangkan sesuai takaran/petunjuk. Misalnya 3 ml Air Rahmat untuk 20 liter air. Setelah itu campuran dikocok/diaduk dan dibiarkan selama 30 menit. Air Rahmat ini akan menghilangkan bakteri, virus, dan parasit lainnya. Air itu siap diminum, tanpa dimasak/direbus terlebih dahulu. Penggunaan Air Rahmat ini diyakini mampu menghemat biaya bahan bakar dan waktu. Satu kemasan air tersebut dijual dengan harga Rp. 4.000/botol. Satu botol yang berisi 100 ml ini cukup untuk memurnikan 600 liter air yang merupakan kebutuhan air untuk keluarga dengan empat orang per bulan.

FOTO:MUJIYANTO

Air Rahmat ini hanya digunakan untuk air tawar yang biasa untuk minum. Penggunaannya cukup mudah yaitu dengan menuangkan sesuai takaran/petunjuk.

tranya telah melaksanakan program 'Safe Water System' untuk menurunkan insiden diare di 19 negara di Afrika, Asia, dan Amerika Latin dengan mempergunakan larutan yang sama. Survei di beberapa negara tersebut menunjukkan bahwa program ini berhasil menurunkan sampai 50 persen insiden diare. Cara Memperoleh Produk Air Rahmat ini sementara ini peredarannya masih terbatas. Pada Desember ini produk tersebut diluncurkan di Propinsi Banten dan Sumatera Utara. Diperkirakan pada Januari mendatang, Air Rahmat bisa didapatkan oleh masyarakat di empat propinsi lainnya yakni Jawa Barat, Sumatera Barat, DKI Jakarta, dan Jawa Timur. Pendistribusiannya melalui jaringan pemasaran tradisional (warung, kios, toko kelontong, apotek), dan non-tradisional (LSM, bidan, kader kesehatan, dll). MJ

Uji Coba Sebelum diluncurkan, Air Rahmat sudah diuji coba di Tangerang, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Hasilnya cukup aman dan efektif. Sebelumnya, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat dan mi-

Percik

Desember 2005

49

I N O VA S I

Penjernih Air Minum Bebas Bakteri

Saringan Air Keramik

ebagian masyarakat terpaksa menggunakan air keruh sebagai air minum pada musim kemarau. Meski disaring beberapa kali dengan kain, air tetap keruh. Ini tentu tidak praktis dan tidak higienis. Sementara kalau menggunakan penjernih modern, harganya tidak dapat dijangkau oleh masyarakat. Maka dari itu, berbagai upaya dilakukan untuk menemukan saringan air yang mampu menjernihkan sekaligus higienis. Untuk menjawab kebutuhan itu pengrajin keramik di Plered, Purwakarta, membuat saringan air dari keramik. Alat ini berfungsi sebagai dispenser air minum yang dilengkapi dengan saringan keramik berpori-pori mikro dengan lapisan partikel perak dari koloid perak yang dikeringkan dan melekat pada pori-pori keramik secara permanen sebagai disinfektan. Hasil karya pengrajin ini telah diuji efektivitasnya oleh Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Propinsi DKI Jakarta. Pengujian itu menunjukkan bahwa keramik penjernih air yang dilapisi koloid perak tersebut sangat efektif menghilangkan bakteri sehingga yang tersaring layak sebagai air minum. Sementara keramik yang tidak dilapisi koloid perak, tidak mampu menghilangkan bakteri pada air yang tersaring. Konstruksi Keramik penjernih air terbuat dari tanah liat dengan campuran berbagai bahan yang habis terbakar saat proses pembakaran keramik dan menjadi poripori yang sangat kecil. Umumnya berwarna merah karena menggunakan tanah liat Plered. Untuk membuat poripori keramik, campuran tanah liat yang

FOTO-FOTO:ISTIMEWA

dipilih adalah serbuk gergaji. Kini warna keramik itu ada yang putih untuk alasan estetika. Caranya dengan menggunakan bahan tanah dari Sukabumi yang dicampur dengan diatomite dan tepung terigu untuk membuat pori-pori. Saringan keramik itu dicetak dengan tekanan hidrologis kemudian dike-

ringkan dan dipanaskan hingga 850 derajat Celcius untuk tanah Plered dan 1200 derajat Celcius untuk tanah Sukabumi. Penjernih air keramik ini terdiri atas dua bagian yakni bejana penyaring dan bejana penampung air hasil penyaringan. Air yang dituangkan pada bejana penampung akan merembes melalui saringan keramik ke bejana penampung. Air yang menetes tertampung di bejana penampung dan siap diminum. Hanya saja, air yang siap minum barulah hasil penyaringan yang kedua karena hasil penyaringan pertama masih berbau tanah. Ini karena ada sisa abu pembakaran keramik dan sisa koloid perak yang melekat pada abu. Setelah air hasil penyaringan pertama dibuang, air hasil penyaringan berikutnya sudah jernih, bebas bakteri, dan layak minum. (MJ)

50

Percik

Desember 2005

AGENDA
Tanggal
11 15 16 17 21-24 21 24

Bulan
November November November November November November November

Kegiatan
Pertemuan Persiapan Talk Show Kebijakan Nasional di televisi Kick off meeting : Study of sanitation for Poor Urban Community Pembahasan Persiapan Pinjaman Bank Dunia untuk Proyek NPCWSSS Talk Show Kebijakan Pemb. AMPL Berbasis Lembaga di Metro TV Kunjungan Lapangan ke Lokasi CLTS di Sambas, Muaro Jambi & Bogor Rapat pokja AMPL, mengenai lokakarya pelatihan CLTS yg diselenggarakan oleh Plan International Rapat Pokja AMPL, mengenai Pembahasan Instrumen survey untuk study of Sanitation for Poor Urban Community Talk Show Kebijakan Pemb. AMPL Berbasis Lembaga di TVRI Lokakarya Pemantauan Pelaksanaan uji coba CLTS di Indonesia Pelatihan MPA / PHAST & Penerapannya dalam Perencanaan & Monitoring Proyek AMPL yang Berbasis Masyarakat Di Solo Midterm Review WASPOLA Lokakarya Penyusunan Data Base AMPL di Gorontalo Lokakarya Penyusunan Renstra AMPL utk Kab. Bone Bolango & Kab. Pohuwato Workshop Persiapan Pelaksanaan Infrastructure Summit Pertemuan dengan AusAID Pertemuan Kelompok Kerja PSP Review Pelatihan MPA / PHAST & Penerapannya dlm Perencanaan & Monitoring Proyek AMPL yang Berbasis Masyarakat Di Solo Pembahasan makalah Air Minum & Kemiskinan di LIPI Midterm Review WASPOLA Pertemuan dengan Plan International, Mengenai Persiapan Pertemuan Penyusunan PoA Pertemuan Pokja AMPL dgn tim AusAid, ADB, Bangda dan Waspola Pusat Pembahasan makalah Air Minum & Kemiskinan di LIPI Rapat Pokja AMPL: Perencanaan Kegiatan Pokja AMPL Road Show Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat ke Sumbawa, NTB Pembahasan Studi Donor Harmonisation Diseminasi Proyek CWSH dan WSLIC 2 untuk TKK & TKP di Surabaya Sosialisasi Manual Pengelolaan Sarana AMPL bagi Aparat Tingkat Propinsi & Kabupaten di Palembang Diseminasi Tata Cara Perhitungan Tarif Air Minum Workshop Evaluasi SANIMAS & Diseminasi Pedoman Persampahan & Drainase Thn 2005 Lokakarya Renstra AMPL Prop. Banten Sosialisasi Manual Pengelolaan Sarana AMPL bagi Aparat Tingkat Propinsi & Kabupaten di Lombok Barat Pelatihan CLTS (kerjasama Pokja AMPL Banten-PCI) di Pandeglang Pebahasan Rencana Tahunan WASPOLA Lokakarya Review Pelaksanaan UNDP CCF 2001 - 2005 Pertemuan Presentasi Assesment of The State Sanitation Pertemuan Persiapan Lokakarya Penyusunan Rencana Kegiatan Pemerintah Indonesia - Plan International Pertemuan Koordinasi Pokja AMPL - WASPOLA, mengenai evaluasi pelaksanaan kegiatan WASPOLA Lokakarya Penyusunan Plan of Action Pemerintah Indonesia dengan Plan International Lokakarya Review pengelolaan data Pembangunan AMPL Indonesia dalam rangka persiapan SUSENAS 2006-2007

28-30

November

28-29 29-30 29 30 1-2

November November November November Desember

1-10 1

Desember Desember

2 2 5 6-8 6-9 7-8 8 8-10 12-15 13-16 14 15 19

Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember

21 22

Desember Desember

Percik

Desember 2005

51

P U S TA K A A M P L

B U K U
WASTEWATER ENGINEERING. TREATMENT AND REUSE
Penerbit: McGraw-Hill Science/Engineering/Math, Maret 2002

L A P O R A N
Laporan Pertemuan Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Nasional dengan Mitra Program & Lokakarya Operasional Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat di Daerah untuk Mitra NGO dan Lembaga Penerbit: Dirjen Bangda - Depdagri, 2005 Global Water Supply and Sanitation Assessment 2000 Report Penerbit: World Health Organization and United Nation's Children's Fund, 2000

WATER AND WASTEWATER CALCULATIONS MANUAL


Penerbit: McGraw-Hill Professional, Mei 2001

METODE PENELITIAN SURVAI. EDISI REVISI


Penerbit: PT. Pustaka LP3ES Indonesia, 1995

INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT 2004


Penerbit: Biro Pusat Statistik, 2005

P E R AT U R A N
HIMPUNAN PERATURAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP 2002-2004
Penerbit: CV. Eka Jaya Jakarta, 2005

Summary Laporan Pelaksanaan Replikasi SANIMAS 2004 Penerbit: BORDA, 2005

STUDI KASUS
Layanan Air Minum Usaha Kecil di Indonesia. Palembang, Jakarta Utara, Bandung Metropolitan, Subang
Penerbit: Water and Sanitation Program - EAP, 2005

M A J A L A H
JENTERA
Penerbit: Direktorat Perumahan dan Permukiman, Bappenas

M A K A L A H
MODIFICATIONS TO WATER UNDERTAKERS'
EXISTING CONDITIONS OF APPOINTMENT

AIR MINUM
Edisi 120, September 2005

Penulis: Water Act 2003 - Water Supply Licensing, 2004

WATER ALLOCATION IN THE BRANTAS RIVER BASIN CONFLICTS AND ITS RESOLUTIONS
Penulis: Aris Harnanto & Fahmi Hidayat, 2003

CHOICES
Vol. 13. No 4, Desember 2004 Penerbit: UNDP

NOTE ON THE HEALTH IMPACT OF WATER AND SANITATION SERVICE - CHM WORKING PAPER SERIES - PAPER NO.WG5:23
Penulis: Commission on Macroeconomics and Health, 2001

52

Percik

Desember 2005

G L O S S A RY
LOS (Level Of Services)/Tingkat Pelayanan
Besaran untuk menentukan tingkat pelayanan prasarana di suatu kawasan/daerah pelayanan.

Loss of head/Kehilangan Tekanan


Kehilangan potensi tekanan air baik akibat gesekan aliran dengan media penyalurnya, hambatan dari peralatan pengatur alirannya, adanya terjunan dan sebagainya.

Lye/Lindi
Cairan/larutan yang mengandung alkali-salah satu kandungan leachate

Manhole/Lubang Pemeriksaan
Lubang yang dibuat/dibangun pada suatu bangunan fasilitas atau dalam sistem jaringan prasarana agar memungkinkan orang (petugas) masuk ke dalamnya untuk melakukan kegiatan pemeriksaan atau perbaikan bangunan/jaringan tersebut.

Manhole Chamber
Saluran di bagian yang terendah pada lantai suatu ruangan (kamar mandi, dapur, ruang operasi yang basah, dan sebagainya) yang berfungsi menyalurkan/mengalirkan air buangan melalui suatu bak pengatur menuju saluran air kotor, agar lantai ruangan tersebut selalu kering.

Marble Test
Cara/metode pengujian praktis untuk mengukur stabilitas air contoh, khususnya kadar alkali.

Mass diagram of Reservoir/Diagram massa reservoir


Diagram yang menggambarkan akumulasi debit yang memasuki suatu reservoir terhadap fungsi waktu.

MATC (Maximum Allowable Toxicant Concentration)


Konsentrasi maksimum zat-zat toksik (beracun) yang diizinkan untuk dihasilkan atau dilepas ke lingkungan oleh suatu industri atau organisasi.

Maturation stabilization pond


Kolam stabilisasi air limbah yang bersifat aerob dan mempunyai beban masukan cemaran yang relatif rendah.

MCL (Maximum Contaminant Level)


Taraf maksimum kontaminan (unsur-unsur yang mengotori) yang diizinkan untuk dihasilkan atau dilepas ke lingkungan

Methane
Disebut juga gas rawa-Senyawa hidrokarbon sederhana yang dihasilkan melalui proses dekomposisi (penguraian) limbah. Dapat dijadikan bahan bakar jika dicampur dengan udara dengan proporsi 90 persen.

Microscreen
Unit pengolahan air limbah berupa silinder yang berputar dengan tenaga motor. Sekelilingnya dililit oleh pelat berlubanglubang membentuk saringan. Air limbah masuk melalui poros silinder dan menyebar ke sekeliling tangki silinder yang berlubang-lubang.

Mottled enamel
Penyakit gigi yang disebabkan oleh kebiasaan mengkonsumsi air dengan kadar florida yang melebihi 1,5 ppm.

Moveable intake
Bangunan/peralatan penangkap air baku yang bisa digerakkan baik secara vertikal atau horizontal. Dibangun dari konstruksi yang tidak kaku/tidak berpatok seperti pompa dalam kerangkeng besi atau struktur ponton dan sebagainya. Dilengkapi dengan tali untuk mengarahkan posisi yang terbaik pada suatu sumber yang relatif luas dan dalam, misalnya danau atau sungai yang dalam.

Dikutip dari Kamus Istilah & Singkatan Asing Teknik Penyehatan dan Lingkungan. Penerbit: Universitas Trisakti.