Anda di halaman 1dari 60

Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Diterbitkan oleh: Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan

Lingkungan (Pokja AMPL) Penasihat/Pelindung: Direktur Jenderal Cipta Karya DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM Penanggung Jawab: Direktur Permukiman dan Perumahan, BAPPENAS Direktur Penyehatan Air dan Sanitasi, DEPKES Direktur Pengembangan Air Minum, Dep. Pekerjaan Umum Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman, Dep. Pekerjaan Umum Direktur Bina Sumber Daya Alam dan Teknologi Tepat Guna, DEPDAGRI Direktur Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup, DEPDAGRI Pemimpin Redaksi: Oswar Mungkasa Dewan Redaksi: Ismail, Johan Susmono, Indar Parawansa, Bambang Purwanto Redaktur Pelaksana: Maraita Listyasari, Rewang Budiyana, Rheidda Pramudhy, Joko Wartono, Essy Asiah, Mujiyanto Desain/Ilustrasi: Rudi Kosasih Produksi: Machrudin Sirkulasi/Distribusi: Agus Syuhada Alamat Redaksi: Jl. Cianjur No. 4 Menteng, Jakarta Pusat. Telp./Faks.: (021) 31904113 http://www.ampl.or.id e-mail: redaksipercik@yahoo.com redaksi@ampl.or.id oswar@bappenas.go.id
Redaksi menerima kiriman tulisan/artikel dari luar. Isi berkaitan dengan air minum dan penyehatan lingkungan dan belum pernah dipublikasikan. Panjang naskah tak dibatasi. Sertakan identitas diri. Redaksi berhak mengeditnya. Silahkan kirim ke alamat di atas.

Dari Redaksi Suara Anda Laporan Utama Penyedia Air Skala Kecil Setetes Air di Padang Gersang Pelayanan Air Minum di kota Ho Chi Minh Memperhatikan Provider Kecil Reportase SMU 34 Jakarta, Juara UKS Tingkat Nasional Sekolah Sehat, Tak Semata Ada UKS Pelayanan Air Minum di Kota Ho Chi Minh Memperhatikan Provider Kecil Teropong Pokja AMPL Propinsi Banten Berbekal Semangat dan Komitmen Kisah Sumber Air Hilang, Kocoran Jarang Wawancara Direktur Pendanaan Luar Negeri Multilateral Bappenas, Delthy S.Simatupang, SH : Persiapan Proyek Jadi Penentu Seputar AMPL Seputar WASPOLA Abstrak Pemberdayaan Masyarakat dalam Penyediaan Air Bersih di Pedesaan Inovasi Instalasi Penjernih Air (IPA) Air Mandiri Wawasan Air Untuk Penduduk Miskin Jakarta Kebijakan Infrastruktur Air Bersih dan Kemiskinan Makna Kelembagaan AMPL Bagi Keberlanjutan Sarana Menjadikan PDAM Lebih Mandiri, Transparan dan Profesional Info Buku Info CD Info Situs Klinik IATPI Agenda Pustaka AMPL

1 2

3 7

9 7 11 13

15 18 22 24 26 27 30 33 36 46 47 47 50 51 52

Majalah Percik dapat diakses di situs AMPL: http://www.ampl.or.id

D A R I R E DA K S I

embaca, selamat berjumpa lagi dengan Percik edisi pertama di tahun 2006. Sejak akhir tahun lalu, Percik baru bisa menyapa Anda kembali, pembaca setia di seantero nusantara. Kami akan selalu hadir di ruang baca Anda, kendati dengan jadwal yang agak maju mundur. Bagaimana situasi air minum dan penyehatan lingkungan di lingkungan Anda? Lebih baik atau tambah buruk dibandingkan tahun lalu? Secara umum, kita masih menghadapi persoalan layanan. Belum semua masyarakat terlayani secara memadai. Ini pekerjaan rumah yang hingga kini belum terselesaikan. Di sisi lain, pihak yang kita harapkan mampu memenuhi tuntutan itu masih menghadapi banyak persoalan. Walhasil, semuanya seolah berlangsung sesuai dengan hukum pasar. Masyarakat harus memenuhi kebutuhan air dari sumber alternatif. Satu di antara sumber alternatif itu yaitu penyedia air skala kecil. Kendati dengan harga lebih mahal dari PDAM dan mutu yang tak terkontrol, masyarakat tetap saja membeli air dari mereka. Air adalah kebutuhan dasar yang tidak bisa tergantikan. Secara ekonomi, proses yang berlangsung itu wajar. Ada permintaan (demand), ada pemenuhan (supply). Hanya saja, bila dilihat dari karakter pembeli air dari penyedia air skala kecil yang kebanyakan golongan miskin, tentu ini kurang menguntungkan dalam proses pengentasan kemiskinan. Kaum miskin harus membayar lebih mahal. Kapan mereka bisa meningkatkan kesejahteraannya kalau penghasilannya dibelanjakan untuk kebutuhan dasar yang seharusnya bisa didapat dengan harga murah? Di sisi lain, banyak persoalan yang dihadapi untuk menjangkau kalangan ini. Pihak perusahaan BUMD atau swasta ada keengganan melayaninya karena beberapa alasan misalnya mereka tinggal di daerah ilegal dan tidak mampu

FOTO:POKJA AMPL

Pameran: Sekretariat Pokja AMPL dan WASPOLA mengikuti Pameran ICE-FTUI Maret lalu

membayar biaya penyambungan di muka. Makanya perlu ada terobosan kebijakan dan pemikiran bagaimana bisa memberikan layanan air yang murah bagi mereka. Penyedia air skala kecil bisa menjadi jembatan. Namun mereka perlu pembinaan. Kerja sama dengan penyedia air skala besar masih memungkinkan. Inilah yang kami coba angkat dalam laporan utama edisi ini. Pembaca, masih berkaitan dengan penyelenggaraan air minum dan penyehatan lingkungan, kami mencoba mengetengahkan wawancara dengan Direktur Pembiayaan Luar Negeri Multilateral. Ini penting untuk memberikan gambaran di mana posisi kita menyangkut utang luar negeri dan sejauh mana kita harus pandai-pandai mengelola keuangan yang didapat dari utang tersebut. Jangan sampai kita malah membebani rakyat dengan tambahan utang sementara hasilnya tidak ada atau tidak optimal. Pada edisi ini, kami juga menampilkan rubrik-rubrik baru yakni peraturan dan abstrak. Rubrik peraturan

memuat peraturan yang baru diterbitkan oleh pemerintah. Kami berharap ini sebagai sosialisasi. Sedangkan rubrik abstrak memuat abstraksi hasil disertasi, tesis, atau penelitian lainnya. Kami berharap sajian ini mampu mencerahkan dan menambah pengetahuan Anda. Pada rubrik Reportase, Anda bisa melihat bagaimana SMU 34 Jakarta mampu meraih Juara Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) Tingkat Nasional tahun 2005. Bayangkan kalau setiap sekolah melaksanakan program tersebut, dampaknya pasti luar biasa. Sedang di rubrik Kisah, kami mengetengahkan nasib proyek WSLIC 2 yang rusak akibat terkena bencana. Ini bisa menjadi pelajaran dan pemikiran, bagaimana menangani kasus sarana yang telah diserahkan kepada masyarakat tapi menghadapi masalah. Akhirnya, kami berharap Percik tetap menjadi referensi Anda di bidang air minum dan penyehatan lingkungan. Kami selalu menunggu umpan balik dari Anda berupa tulisan atau lainnya. Wassalam.

Percik

April 2006

S U A R A A N DA

WSLIC 2 vs CLTS
Kalau kita melihat dua program tersebut memang keduanya berbeda. Tapi coba kita lihat apa yang melatarbelakangi program itu sehingga adanya perbedaan itu bisa menjadi suatu yang saling berguna. WSLIC 2 merupakan program sarana air bersih dan sanitasi untuk masyarakat yang berpenghasilan rendah khususnya di daerah perdesaan. Program ini dijalankan dengan pola pendekatan pemberdayaan masyarakat secara aktif dalam pengambilan keputusan, perencanaan, pelaksanaan kegiatan, pengoperasian dan pemeliharaan. Semuanya dilaksanakan oleh masyarakat. Empat komponen pokoknya yaitu peningkatan kapasitas kelembagaan dan masyarakat; peningkatan program kesehatan dan sanitasi; pengembangan sarana air bersih dan penyehatan lingkungan permukiman; dan komponen manajemen proyek. Program ini dibiayai dana hibah Bank Dunia, AusAID, pemerintah Indonesia, dan masyarakat penerima proyek melalui kontribusi incash dan inkind. CLTS (sanitasi total atas prakarsa masyarakat) merupakan program sanitasi yang menitikberatkan pada penyadaran masyarakat akan pentingnya jamban/kakus dalam aspek kesehatan pribadi dan penyehatan lingkungan. Pelaksanaannya memperhatikan pemetaan, transect, alur kontaminasi, dan simulasi. Program ini disampaikan kepada masyarakat dengan mengacu kepada pemahaman dan bahasa mereka. Peran perempuan di sini penting karena mereka lebih punya rasa malu. Kalau kita mau mencermati kedua program tersebut, sebetulnya tidak perlu ada pertentangan. Justru keduanya bisa dikombinasikan dalam satu paket yang menguntungkan karena kedua program tersebut sama-sama

menggunakan pendekatan tanggap kebutuhan. Sebagai contoh, dalam penyusunan struktur Tim Kerja Masyarakat (TKM) dalam WSLIC 2, selain ada ketua dan wakil ketua, bendahara, sekretaris, tim teknis, tim kesehatan, perlu kiranya ada orang khusus yang menangani CLTS. Bisa saja dia menjadi bagian dari tim kesehatan yang kita beri nama 'Koordinator Sanitasi'. Tugasnya mendata yang BAB sembarangan/di tempat terbuka dan mencatat hasil perubahan perilaku tanpa subsidi maupun bantuan dana apapun. Tentu dalam hal ini kepada masyarakat dijelaskan bahwa pembangunan jamban/kakus tidak identik dengan tangki septik. Itu sudah dan sedang kami lakukan di Ponorogo untuk WSLIC 2 tahun 2006. Kendati belum mendapat pelatihan CLTS dan hanya belajar dari panduan, ternyata program ini pun bisa dilakukan dan masyarakat menyambut dengan tangan terbuka.
Bambang Apriyanto, ST PMC Kabupaten Ponorogo

Dinas Cipta Karya Kab. Cianjur cq. Subdin Teknik Penyehatan Lingkungan Jl. Prof. Moch. Yamin No. 131 CIANJUR 43213
Titih Titisari (danelaini@yahoo.com)

Setiap kali terbit, kami mengirimkan satu eksemplar untuk dinas terkait. Menurut catatan kami, dinas Anda sudah masuk dalam daftar. Namun kalau Anda membutuhkan, kami akan kirimkan sesuai alamat di atas. Terima kasih.

Info SANIMAS
Saya dan teman-teman tertarik dengan program SANIMAS yang saat ini dikembangkan. Kami pun berencana membuat semacam Community Sewerage Course. Kami berpikir apa yang kami rencanakan ini juga sejalan dengan program SANIMAS. Mungkin sekiranya Bapak/Ibu bisa memberikan info dan konsep teknis tentang Pelaksanaan SANIMAS dan sekiranya bisa memberikan soft copy dan juga Prosiding Seminar Nasional SANIMAS di Bali 2004. Selain itu, bagaimana caranya menjalin kerja sama dengan WASPOLA. Terima kasih atas bantuannnya.
Nurul Ichsan Teknik Lingkungan UNDIP

Percik Tak Sampai


Saya mewakili Subdin Teknik Penyehatan Lingkungan Dinas Ciptakarya Kabupaten Cianjur, memberitahukan bahwa selama ini pengiriman majalah Percik tidak pernah sampai ke subdin yang berkaitan langsung dengan penyediaan air bersih (minum) dan penyehatan lingkungan. Karena itu untuk menghindari kesalahan disposisi dan mengingat pentingnya majalah tersebut sebagai sarana komunikasi dan media informasi menyangkut bidang pekerjaan kami, maka kami mohon untuk pengiriman majalah Percik ke Kepala Dinas Kimpraswil Kab. Cianjur dialamatkan sebagai berikut:

Untuk informasi pelaksanaan SANIMAS secara lengkap, termasuk prosiding seminar, Anda bisa menghubungi BORDA, Jl. Kaliurang Km. 6, Yogyakarta 55283 Telp. 0274 888273. Sedangkan untuk kerja sama dengan WASPOLA, silakan hubungi Jl. Cianjur No. 4, Menteng, Jakarta Pusat. Telp. 021 3142046.

Percik

April 2006

L A P O R A N U TA M A

SETETES AIR DI PADANG GERSANG


FOTO: MUJIYANTO

Penyedia Air Skala Kecil

Lebih dari 100 juta orang Indonesia belum memiliki akses air minum dan penyehatan lingkungan. Sesuai dengan Millennium Development Goals , tahun 2015 nanti Indonesia harus mampu mengurangi setengah dari angka tersebut. Mampukah itu diwujudkan? Dengan apa target itu bisa dikejar? Adakah alternatif pelayanan yang lain?

ir tak bisa dipandang sebagai benda sosial semata. Air pun memiliki nilai ekonomi. Kedua nilai tersebut tak bisa dipisahkan. Memperlakukan air hanya sebagai benda ekonomi akan mengakibatkan hilangnya fungsi sosial dari air dan mengabaikan kebutuhan penduduk miskin. Dalam kaitan ini pemerintah dituntut untuk meningkatkan jangkauan pelayanan dan kualitas air minum ke seluruh lapisan masyarakat karena air adalah hak dasar. Ini tantangan yang belum

Percik

April 2006

L A P O R A N U TA M A

bisa terjawab hingga kini, tidak hanya bagi Indonesia tapi juga negara-negara lain. Pengalaman di beberapa negara menunjukkan bahwa pengelolaan oleh pemerintah cenderung menerapkan harga rendah sehingga tidak mampu mempertahankan kualitas layanan jaringan yang ada, apalagi meningkatkan jangkauan pelayanan. Meskipun harga rendah dikatakan bermanfaat bagi penduduk miskin tapi kenyataannya tidak semua penduduk miskin terlayani. Mereka tetap saja harus mencari sumber alternatif dengan harga air yang jauh lebih mahal. Kondisi ini kemudian memunculkan gagasan keterlibatan swasta dalam penyediaan air minum. Di sisi lain memang air telah menjadi 'emas biru' yang sangat menggiurkan bagi kalangan swasta untuk mengeruk keuntungan. Investasi swasta masuk ke sektor ini dalam skala besar. Akhirnya ada dua model pengelolaan air skala besar ini. Ada yang oleh perusahaan negara dan swasta. Pengelolaan oleh perusahaan ini berlangsung beberapa dekade. Sayang hasilnya belum memuaskan. Banyak anggota masyarakat yang belum terlayani, terutama kalangan miskin. Ada kendala struktur tarif dan bentuk pengelolaan. Beberapa alasan masyarakat tidak terjangkau layanan air minum dari perusahaan yaitu (i) biaya sambungan terlalu tinggi dan pembayaran sekaligus di depan menghalangi penduduk miskin untuk berlangganan; (ii) air yang tersedia tidak selamanya mencukupi kebutuhan dan prioritas utama yang tidak mendapat layanan adalah penduduk miskin; (iii) struktur tarif dan rendahnya konsumsi air penduduk miskin mengakibatkan perusahaan air minum tidak tertarik melayani penduduk miskin; (iv) jika penduduk bertempat tinggal di permukiman liar maka mereka tidak akan mendapat layanan publik.

FOTO: MUJIYANTO

Di sisi lain, perusahaan air minum sering minim pengetahuan terhadap penduduk miskin sehingga (i) tingkat layanan sering tidak sesuai kebutuhan, dan lebih mengutamakan standar teknis yang sering tidak terjangkau; (ii) sistem pembayaran tepat waktu tidak sesuai dengan bentuk penerimaan penduduk miskin yang tidak teratur; (iii) tidak terjadi komunikasi yang baik antara perusahaan air minum dan penduduk miskin. Dalam kondisi seperti ini muncullah kemudian penyedia air minum skala kecil (Small Scale Water Provider). Mereka hadir memenuhi kebutuhan penduduk miskin terutama di perkotaan yang belum terjangkau jaringan perusahaan air skala besar atau sudah terjangkau tapi aliran airnya tidak kontinyu. Usaha ini berpotensi melayani penduduk miskin dengan biaya investasi yang relatif rendah. Berdasar tinjauan terhadap beberapa studi empiris, maka penyedia air minum skala kecil dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori yaitu: a. Penyedia yang mempunyai hubungan permanen dengan perusahaan air minum, yang mendistribusikan air melalui kios atau hidran. Beberapa contoh adalah kios air di Nairobi (Kenya), Lilongwe (Malawi), Batam (Indonesia); hidran umum dikelola oleh ko-

munitas di Dakar (Senegal), Mopti (Mali), Dhaka (Bangladesh); dan hidran umum dikelola oleh asosiasi komunitas skala kecil di Segou (Mali). b. Masyarakat yang menjual air perpipaan ke komunitas yang belum terlayani air perpipaan. Beberapa contoh adalah sistem air minum dibangun masyarakat Buenos Aires (Argentina); sistem air minum dibangun oleh wira usaha di Guatemala City (Guatemala) dan pusat penjualan air minum hasil pemurnian air sungai menggunakan sinar matahari di Manila (Philipina); truk tangki air, gerobak air yang diambil dari air perpipaan pada waktu dan tempat di mana perusahaan air minum tidak dapat melayani. Contohnya di Dakar (senegal), Portau-Prince (Haiti), Jakarta (Indonesia). c. Sistem air minum skala komunitas di Dhulikel (Nepal) (Snell, 1998 dan McIntosch, 2003). Usaha skala kecil ini memiliki karakteristik khas yakni inisiatif individu, fleksibel, mudah mengadaptasi pasar dalam konteks pengaturan keuangan, dan pilihan teknis. Selain itu, usaha tersebut memiliki efisiensi operasi dalam hal (i) pemulihan biaya, (ii) tidak terdapat kebocoran air; (iii) tidak membutuhkan subsidi publik, dan pinjaman. Berdasar studi "Small Scale Water Providers" yang didanai ADB, ditemukan bahwa pelayanan air minum skala komunitas mempunyai beberapa karakteristik yaitu (i) Strategi teknis dan manajemen yang fleksibel. Hambatan investasi dan biaya operasi ditangani dengan memilih jenis teknologi yang sesuai dengan kondisi masyarakat. Masyarakat yang dilayani sebagian besar merupakan pekerja harian sehingga penagihan dilakukan tidak sebulan sekali tetapi lebih sering sesuai dengan kemampuan masyarakat; (ii) Perusahaan air minum menjadi patokan pelayanan. Pelayanan skala kecil menganggap perusahaan air minum sebagai pe-

Percik

April 2006

L A P O R A N U TA M A
saing sehingga kualitas pelayanan diusahakan setingkat; (iii) Kurang dihargai oleh pemerintah daerah dan perusahaan air minum. Kebutuhan investasi sulit terpenuhi karena dianggap usaha ilegal, tidak menguntungkan, dan asetnya tidak dapat dinilai. Akibatnya akses kredit terbatas dan berbunga tinggi sehingga resiko investasi menjadi tinggi; (iv) Keterkaitan erat antara keabsahan dan tingkat pelayanan Bentuk pelayanan usaha ini bermacam-macam. Ada yang menggunakan gerobak dorong, saluran pipa ke rumah (terminal air), truk tangki air, kios air, dan sebagainya. Khusus kios air minum, ada alasan mengapa usaha ini marak terutama di kota, yakni (i) memungkinkan pengguna membeli dalam jumlah dan waktu yang sesuai kemampuan mereka; (ii) memungkinkan biaya modal rendah per rumah tangga yang terlayani; (iii) memungkinkan tingkat pemulihan biaya (cost recovery) perusahaan air minum lebih baik karena penyedia air minum skala kecil membayar sesuai dengan yang dipergunakannya. Lebih dari itu penyedia air skala kecil dapat berkembang sesuai dengan situasi yang ada. Beberapa kasus menunjukkan usaha dengan gerobak dorong bisa menjadi truk tangki air bahkan menjadi sambungan pipa bawah tanah ke rumah. Namun di Indonesia belum ada penyedia air skala kecil yang berubah menjadi perusahaan besar. Oleh karena itu, keberadaan penyedia air skala kecil ini mampu mendorong pencapaian MDGs tahun 2015. Mereka layak dimasukkan dalam strategi investasi air minum karena usahanya mampu mempercepat peningkatan cakupan layanan. Hanya saja perlu ada perhatian khusus kepada mereka terutama dalam hal kendala tarif yang relatif mahal dan kurangnya dana investasi serta aspek legalitas. Kondisi Indonesia Penyedia air skala kecil bisa dijumpai di kota-kota di Indonesia. Namun hingga saat ini belum ada data yang lengkap tentang usaha tersebut baik dari sisi jumlah maupun tingkat cakupan layanannya. Ini bisa dipahami karena usaha tersebut umumnya tidak tercatat alias illegal dari sisi hukum. Gambaran umum usaha kecil ini bisa dilihat dari hasil survai yang dilaksanakan oleh Puslitbang Permukiman Dep. PU dan Hydroconsell, di lima kota (Bandung, Subang, Jakarta, Palembang, Makassar). Usaha ini mampu memberikan kontribusi sekitar 2 persen terhadap cakupan pelayanan. a. Sistem Distribusi dan Tipe Layanan Sistem distribusi penyedia air skala kecil memiliki ciri khas tersendiri. Ada yang menggunakan sistem distribusi bertingkat, tapi ada yang langsung ke konsumen. Pengelola pelayanan air minum skala kecil ini hampir semuanya swasta dengan pola mandiri. Mereka ada yang berasal dari yayasan, kelompok swadaya masyarakat, atau individual. Pola mandiri ini terlihat dari sistem manajemennya yang tak tergantung pihak manapun. Semuanya diurus sendiri. Untung dan rugi ditanggung sendiri. Sedangkan hubungan dengan distributor-seperti pedagang keliling-hanya sebatas penyedia. (Lihat Tabel)

Tipe Layanan dan Daerah Layanan Air Minum Swasta NO


1

JENIS LAYANAN
Sambungan rumah tangga

TIPE PELAYANAN
- pelayanan kontinyu/giliran - suplai air mencukupi kebutuhan sehari-hari - sumber air permukaan/sumur bor

TIPE AREA PELAYANAN


- perumahan padat - perumahan dengan status sosial ekonomi menengah - dalam jangkauan perpipaan 40 KK - penyambungan berdasarkan perhitungan skala ekonomi Truk tangki

Jaringan pipa dan armada (pangkalan) air

- melayani pembelian air dengan menggunakan mobil tangki yang datang ke lokasi pangkalan - pelayanan berdasarkan pemesanan - pelayanan minimum 4 meter kubik - jangkauan pelayanan dalam dan luar kota

Truk tangki air

- perumahan yang punya reservoir bawah tanah dengan jalan lebih dari 6 m - industri - perkantoran - niaga - depo-depo air isi ulang - perumahan dengan kualitas air sumur tidak dapat bisa diminum - perumahan yang relatif datar dan mudah ditempuh dengan gerobak dorong - masyarakat membeli air hanya untuk keperluan minum dan masak

Gerobak dorong

- pelayanan berdasar pesanan atau dari pintu ke pintu - pelayanan untuk penjual eceran - jangkauan pelayanan perkotaan kurang lebih 1 RT - jerigen yang dipakai kapasitas 20 liter - pengolahan air baku sampai kualitas air minum - pembelian berdasarkan pesanan atau beli di tempat

Air minum isi ulang

- penjualan berdasarkan pesanan - jangkauan layanan 1-2 km (perhitungan jarak tempuh, pengantaran dengan motor, pengambilan sendiri jarak 200 meter)

Percik

April 2006

L A P O R A N U TA M A

b. Harga/Tarif Air Sesuai karakternya, penyedia air minum skala kecil memiliki cara masing-masing dalam menentukan harga/tarif air yang dijualnya. Ini tergantung pada sumber air baku dari mana mereka mengambilnya, jarak jangkau ke pelanggan, dan fasilitas yang digunakan. Secara umum, penyedia air minum skala kecil menetapkan harga/tarif jauh lebih mahal dibandingkan harga air penyedia jasa formal dalam hal ini PDAM. Perbandingan harga air bisa dilihat dalam tabel berikut:

NO
1. 2. 3. 4.

PENJUAL AIR
PDAM Terminal Air Kecil Terminal Air Curah Sumur Pompa Listrik Air Mineral Isi Ulang Air Mineral Bersegel

JUAL/M 3 (RP)
4.250 17.500-15.000 10.000-15.000 20.000/bulan (40 KK)=2.222/m3 184.210 447.368

5. 6.

administratif. Dari pasal-pasal yang ada di dalamnya, tidak ada yang terkait langsung dengan penyedia air skala kecil. Pada pasal 10 PP tersebut misalnya, tertulis ''Unit distribusi wajib memberikan kepastian kuantitas, kualitas, dan kontinuitas pengaliran'' (ayat 2), dan pada ayat berikutnya ''Jaminan pengaliran 24 jam''. Selain itu pada pasal 6 ada ketentuan air minum yang dihasilkan SPAM harus memenuhi syarat kualitas (ayat 1), dan air minum yang tidak memenuhi syarat kualitas dilarang didistribusikan ke masyarakat. Jelas kedua pasal ini akan sulit diterapkan bagi penyedia air skala kecil. Perlu diakui, bahwa pasal-pasal dalam peraturan itu baru mengatur penyelenggara SPAM skala besar. Pasal 1 (9) menyebutkan yang disebut penyelenggara adalah badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah, koperasi, badan swasta, dan/atau kelompok masyarakat yang melakukan pengembangan sistem penyediaan air minum. Aturan itu tak menyinggung sama sekali penyedia air skala kecil.

Memang, keberadaan penyedia air skala kecil bisa saja dimasukkan dalam golongan swasta atau kelompok masyarakat. Hanya saja itu menyangkut kelembagaannya. Tapi aktivitasnya secara umum tak ada payungnya. Oleh karena itu, ada pemikiran agar penyedia air skala kecil ini memperoleh tempat dalam sistem penyediaan air minum. Aspek perizinan/kontrak perlu dipikirkan oleh pemerintah daerah sebagai regulator sehingga penyedia air skala kecil ini memperoleh kesempatan yang setara. Pengalaman internasional menunjukkan bahwa penyedia air skala kecil yang beroperasi secara legal dapat memberikan pelayanan yang kontinyu dengan kualitas setara dengan penyedia jasa formal dan tarif yang lebih rendah dibandingkan dengan penyedia air skala kecil yang beroperasi secara ilegal. Yang pasti, keberadaan penyedia air skala kecil saat ini mampu menutup celah yang belum ditutup oleh perusahaan air minum skala besar. Aktivitas mereka ibarat 'setetes air di padang gersang'. (MJ)

Sistem Distribusi Pelayanan Air Minum Usaha Kecil


DISTRIBUTOR

Masyarakat tak bisa berkutik menghadapi harga tersebut. Ini terjadi karena air adalah kebutuhan dasar sehingga harus dipenuhi meskipun dengan harga yang mencekik. Kata 'terpaksa' menjadi jawaban satu-satunya, karena tidak ada alternatif lainnya. c. Legalitas Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum. Secara umum ketentuan itu mengatur sistem penyediaan air minum (SPAM), perlindungan air baku, penyelenggaraan, wewenang dan tanggung jawab, badan pendukung pengembangan SPAM, pembiayaan dan tarif, pembinaan dan pengawasan, dan sanksi

TIPOLOGI

SUPPLYER

DISTRIBUTOR TKT 2 KONSUMEN

TKT 1

GEROBAK DORONG

Terminal Kecil

Pedagang air gerobak

Rumah Tangga

Depot isi ulang Air mineral

Rumah Tangga
Industri

TRUK TANGKI

Pengolahan air PDAM

Terminal Curah PDAM

Komplek Perkantoran

PEMIPAAN

Pompa Sumur Dalam

Rumah Tangga

Gerobak dorong Truk Tangkik Pemipaan

Percik

April 2006

L A P O R A N U TA M A

Pelayanan Air Minum di Kota Ho Chi Minh

Memperhatikan Provider Kecil

o Chi Minh City adalah kota terbesar di Republik Sosialis Vietnam, lebih besar dari Hanoi yang merupakan ibukota negara. Pada tahun 2004 penduduk Ho Chi Minh City berjumlah 6,1 juta orang dengan luas area 2.094 km2, sedangkan Hanoi berpenduduk 2.9 juta dengan luas area 921 km2. Seperti umumnya masalah kota-kota besar di negara berkembang, Ho Chi Minh City menghadapi kesulitan dalam menyediakan infrstruktur dasar bagi masyarakatnya termasuk penyediaan air minum. Dalam sektor air minum kesulitan yang dihadapi adalah: (i) kekurangan air karena kebutuhan domestik dan industri naik dengan cepat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, (ii) tingginya angka kehilangan air (non-revenue water), dan (iii) terbatasnya dana pemerintah untuk meningkatkan pelayanan air minum sesuai dengan permintaan dan kebutuhan masyarakat. Faktor-faktor tersebut membuat pelayanan publik di sektor air minum yang dilakukan oleh perusahaan pemerintah bernama Saigon Water Supply Corporation (SAWACO, sebelumnya bernama Ho Chi Minh City Water Company) masih di bawah target yang ingin dicapai. Dalam rencana induk (master plan) 2001-2005 pemerintah kota Ho Chi Minh menargetkan 90 persen penduduk akan mempunyai akses air minum, namun sampai akhir tahun 2001 cakupan layanan SAWACO baru sekitar 50 persen dengan tingkat kebocoran hampir mencapai 40 persen. Kondisi ini membuat pemerintah kota Ho Chi Minh menyadari bahwa dengan hanya mengandalkan SAWACO akan sulit bagi mereka untuk bisa mencapai target tersebut. Oleh karena itu pada Desember 2001 pemerintah kota Ho Chi

Minh memutuskan untuk mengembangkan kerangka kebijakan dalam rangka meningkatkan peran swasta termasuk penyedia layanan air minumskala kecil (small scale water providers) sebagai mitra perusahaan air minum kota (SAWACO) untuk mengejar target yang telah ditetapkan. Socialization Program Kemauan politik pemerintah kota Ho Chi Minh untuk memberikan akses air minum kepada seluruh masyarakatnya dituangkan ke dalam sebuah kerangka kebijakan yang lebih dikenal sebagai "Socialization Program", program untuk meningkatkan keterlibatan perusahaan swasta lokal untuk berinvestasi dalam sektor air minum. Program ini dituangkan dalam kerangka peraturan yang dikembangkan oleh pemerintah kota Ho Chi Minh dengan perusahaan air minum kota (SAWACO) di tahun 2002. Peraturan itu sendiri telah disahkan dan dicanangkan oleh People's Committee of Ho Chi Minh City

(lembaga eksekutif) pada bulan Agustus 2003. Diawali dengan uji coba dengan salah satu penyedia jasa lokal skala kecil (Hiep An Co. Ltd), untuk kemudian diterapkan secara luas. Selain untuk menciptakan iklim yang menarik bagi perusahaan swasta agar mereka mau berinvestasi di sektor air minum, peraturan mengenai program investasi ini (socialization program) juga dikembangkan untuk (i) meningkatkan produksi air minum, (ii) meningkatkan kualitas dan cakupan layanan terutama di area yang belum terlayani oleh perusahaan air minum kota, dan (iii) menurunkan angka kebocoran melalui perbaikan jaringan distribusi terutama di area dengan tingkat kebocoran tinggi. Untuk mencapai tujuan tersebut peraturan ini menawarkan enam skema kerjasama, yaitu: Skema 1: Investasi sistem lengkap, investor menginvestasikan dananya untuk membangun sistem lengkap dari mulai unit produksi hingga ke jaringan distribusi dan sambungan rumah. InFOTO: LINA DAMAYANTI

Penyedia jasa skala kecil (the Hiep An Co. Ltd) yang menjadi mitra SAWACO dan area yang dilayaninya.

Percik

April 2006

L A P O R A N U TA M A
vestasi ini dilakukan di area yang belum ada jaringan distribusi perusahaan air minum kota. Skema 2: Investasi unit produksi, investor menginvestasikan dananya untuk membangun unit produksi. Produksi air minumnya dijual seluruhnya ke perusahaan air minum kota. Investasi ini dilakukan di area yang telah terdapat jaringan distribusi SAWACO namun selalu kekurangan air dan tekanannya rendah. Skema 3: Investasi perbaikan jaringan, investor menggunakan dananya untuk memperbaiki dan meningkatkan kondisi seluruh sistem jaringan distribusi di area tertentu. Investasi ini dilakukan di area yang telah terdapat jaringan distribusi SAWACO yang memiliki angka kebocoran tinggi. Skema 4: Investasi pengangkutan air minum, investor menggunakan dananya untuk menyediakan layanan di area terpencil dengan mendatangkan sejumlah air dari perusahaan air minum kota. Biaya pengangkutan/transportasi sebagian disubsidi oleh SAWACO. Skema 5: Investasi peningkatan kinerja unit produksi, investor menggunakan dananya untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja unit produksi. Keuntungan dari penjualan produksi air minum yang berhasil ditingkatkan dibagi bersama antara perusahaan air minum kota dan investor. Skema 6: Investasi jaringan distribusi, investor menggunakan dananya untuk membangun jaringan distribusi baru dan mendistribusikan air dari meter induk milik SAWACO. Sampai saat ini hampir semua skema kerja sama tersebut telah diminati oleh investor kecuali skema 6, ada yang telah berjalan dan beberapa masih dalam proses negosiasi atau kontrak. Selain skema kerja sama peraturan tersebut juga memuat hal-hal lain seperti prosedur kerja sama/berinvestasi, hak dan kewajiban investor, dan mekanisme serah terima di akhir periode kontrak atau pada saat area pelayanan telah disentuh oleh jaringan perusahaan air minum kota. Hal lain yang menarik buat investor untuk berinvestasi adalah insentif yang ditawarkan, mulai dari kemudahan untuk mendapatkan hak guna lahan, pengurangan pajak baik untuk tanah maupun pendapatan (tax exemption), bahkan untuk barang atau peralatan yang diimpor investor tidak dikenakan pajak bea masuk. Namun penyedia layanan air minum skala kecil juga diharuskan untuk memenuhi standar pelayanan perusahaan air minum kota, baik standar teknis maupun kualitas air, untuk itu pemerintah kota Ho Chi Minh mewajibkan SAWACO untuk memberikan dampingan teknis bagi para penyedia jasa skala kecil tersebut. Manfaat dari upaya inovatif tersebut tidak hanya dirasakan oleh para penyedia jasa layanan air minum skala kecil dan masyarakat yang dilayani, namun juga oleh pemerintah kota Ho Chi Minh dan perusahaan air minum kota. Selain membantu meningkatkan akses air minum bagi masyarakat, program ini juga memacu SAWACO untuk meningkatkan kinerja dalam memberikan pelayanaan publik. Saat ini cakupan layanan mereka mulai bergerak naik, menurut SAWACO saat ini masyarakat yang telah terlayani oleh sistem perpipaan mencapai 74 persen. Dan sejak tahun 2005 SAWACO telah berhasil mendapatkan keuntungan. Pelayanan terhadap Masyarakat Miskin Pada umumnya penyedia jasa skala kecil memberikan pelayanan di area yang belum terjangkau oleh penyedia jasa formal, dan biasanya sebagian besar adalah masyarakat miskin. Di Ho Chi Minh City pelayanan kepada masyarakat miskin tidak hanya dilakukan oleh penyedia layanan air minum skala kecil tetapi juga penyedia jasa publik seperti SAWACO, termasuk bagi masyarakat miskin yang tinggal di area ilegal atau tidak memiliki hak guna lahan (illegal settlement). Kebijakan ini baru diambil oleh pemerintah kota Ho Chi Minh, sebelumnya penyedia jasa publik tidak dibenarkan untuk melayani masyarakat yang tinggal di area ilegal. Kebijakan ini diambil dengan pertimbangan bahwa air minum merupakan kebutuhan dasar bagi semua orang termasuk masyarakat miskin dan tidak memiliki hak guna lahan. Namun menurut Deputi Direktur Kantor Transportasi Kota & Pekerjaan Umum penyediaan kebutuhan dasar ini tidak berarti melegalkan penggunaan lahan, jika pemerintah kota berencana menggunakan lahan tersebut masyarakat yang tidak mempunyai hak guna lahan tetap harus pindah dari area tersebut. Agar pelayanan air minum terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah penyedia jasa publik memberlakukan blok tarif atau tarif progresif, blok pemakaian terendah dikenakan tarif di bawah biaya produksi. (lina damayanti)
Laporan dari kunjungan ke Vietnam

Ho Chi Minh City People's Committee


eople's Committee adalah lembaga eksekutif yang memegang peranan sentral di Republik Sosialis Vietnam. Lembaga ini terdapat di semua tingkat pemerintahan dari mulai pemerintah pusat sampai dengan pemerintahan terendah atau ward (setara dengan desa/kelurahan di Indonesia). People's Committee dipilih oleh People's Council (lembaga legislatif), sedangkan People's Council dipilih langsung oleh masyarakat melalui pemilihan. Struktur People's Committee di Ho Chi Minh City terdiri dari 1 ketua, 4 wakil ketua, dan 7 anggota yang merupakan representasi dari lembaga-lembaga pemerintah kota seperti kepolisian, militer, dan seluruh departemen yang ada di tingkat kota (setara dengan dinas). Biasanya yang duduk dalam keanggotaan People's Committee adalah pimpinan dari lembaga-lembaga tersebut.

Percik

April 2006

R E P O RTA S E

Sekolah Sehat, Tak Semata Ada UKS

SMU 34 Jakarta, Juara UKS Tingkat Nasional

ngin semilir menyambut tamu yang datang ke sekolah itu. Sebuah pohon besar mengayunayunkan daunnya. Tepat di pintu gerbang sekolah, sebuah taman air bertingkat menyembulkan suara gemericik. Tanaman nan hijau menghiasi setiap sudut. Nuansa itu semakin serasi dengan warna cat tembok sekolah yang berwarna hijau muda. Demikian pula lapangan olah raga pun berwarna sama. Di sudut-sudut sekolah terpampang peringatan untuk senantiasa menjaga kebersihan. Ada peringatan untuk tidak mencoba narkoba, larangan merokok di lingkungan sekolah, serta waspada terhadap nyamuk demam berdarah. Tempat sampah terpasang di depan ruang kelas. Ada untuk sampah organik dan sampah anorganik. Di dinding luar tergantung pot bunga. Tanaman itu menjulurkan dahannya ke bawah. Setiap ruang kelas dilengkapi dengan air conditioner (AC). Wastafel terpasang di dalam ruang tersebut. Khusus di ruang kelas percontohan, wastafel ada dua. Di sekolah yang memiliki luas tanah 8.747 meter persegi itu, tak ada ruang yang telantar. Di belakang bangunan sekolah bertingkat tiga ini, siswa menanam tanaman obat keluarga (Toga). Di sudut yang lain, siswa memelihara burung dalam sangkar raksasa. Ada juga rumah daur ulang sampah, untuk memproses bahan-bahan yang bisa didaur ulang menjadi sesuatu yang bermanfaat. Itulah kondisi Sekolah Menengah

FOTO:MUJIYANTO

Asri: Suasana sekolah selalu asri dan bersih.

Umum (SMU) Negeri 34 Jakarta. Sekolah yang berdiri sejak 13 September 1978 tersebut memang memiliki misi meningkatkan partisipasi siswanya dalam program sekolah berwawasan lingkungan. Tujuan menjadi sekolah yang berwawasan lingkungan tampaknya telah menjadi kenyataan. Kondisi itu semakin mantap dengan keberhasilan sekolah tersebut sebagai juara Program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) tingkat nasional tahun 2005. Tak heran bila kini sekolah tersebut menjadi referensi sekolah lain di Indonesia dalam program UKS dan program lingkungan. Tak Sekejap Mewujudkan sekolah yang sehat tidaklah gampang. Butuh waktu dan ke-

seriusan. Tahun 2000 lalu, sekolah ini selesai direnovasi. Semangat kepala sekolah dan para guru mewujudkan visi dan misinya tergolong luar biasa. Jadilah sekolah ini salah satu dari sekolah terbaik di Jakarta. Imbas dari semua itu, UKS yang bagi sebagian sekolah dirasa kurang penting atau malah ada yang tidak peduli sama sekali, mendapat perhatian yang sangat memadai. ''Dulu UKS menyatu dengan palang merah remaja (PMR) dengan memanfaatkan sebuah ruang kecil,'' kata Septina Wibarini, SPd, guru sekaligus koordinator UKS SMU 34. Namun seiring kebutuhan, UKS akhirnya harus diwujudkan secara mandiri. ''Kalau upacara selalu ada yang pingsan. Makanya kita berpikir mengapa kita tidak menyediakan ruang khu-

Percik

April 2006

R E P O RTA S E

sus bagi kesehatan siswa,'' kenangnya. Dari situlah mulai dirintis program UKS dengan memanfaatkan ruang di pojok sekolah. Pada tahap awal, ruang ini hanya diisi satu set meja dan satu tempat tidur. Itu pun dengan kondisi sederhana. Dengan dorongan dan modal pihak sekolah bekerja sama dengan instansi terkait seperti dinas kesehatan, dinas pendidikan nasional, dan puskesmas sekolah berhasil mengembangkan UKS ini. Instansi terkait ini membantu obatobatan, lemari, dan tempat tidur. Jadilah UKS ini memiliki fasilitas yang lumayan lengkap. Saat ini ada empat tempat tidur tetap dan satu tempat tidur darurat serta satu kursi pasien gigi. Ada juga lemari obat dan perangkat penyuluhan kesehatan lainnya. UKS SMU ini menempati ruangan 6 x 8 meter persegi. ''UKS yang baik memiliki minimal empat tempat tidur pasien untuk seribu siswa, ada dokter, dan ada klinik gigi,'' jelas Septina. Aktivitas UKS ini buka setiap hari kerja. Setiap jam istirahat ada siswa yang piket. Mereka ini adalah anggota Kader Kesehatan Remaja (KKR). Mereka bertugas melayani siswa kalau ada yang ingin berobat atau membantu dokter yang kebetulan sedang praktek. Memang setiap Senin hingga Kamis, ada dokter yang praktek yakni dokter gigi dan dokter umum secara bergantian. ''Anggota KKR ini bisa langsung memberikan obat ringan kepada teman-temannya yang membutuhkan. Kalau ada dokter, mereka bertugas sebagai layaknya perawat yang membantu dokter,'' kata Septina. Setiap tahun kelompok kerja UKS sekolah ini merekrut kader baru. Ratarata setiap tahun atau per angkatan ada sekitar 30 siswa yang menjadi anggota KKR. Mereka dibina khusus mengenai penanggulangan kecelakaan ringan, pengetahuan umum tentang seks, narkoba, dan AIDS. Pembinaan ini melibat-

UKS buka setiap hari kerja. Setiap jam istirahat ada siswa yang piket. Mereka ini adalah anggota Kader Kesehatan Remaja (KKR).
kan instansi terkait dan lembaga swadaya masyarakat. Sewaktu-waktu anggota KKR ini ikut terlibat dalam program penyuluhan di puskesmas. ''Mereka ini adalah kader inti kesehatan sekolah,'' tandas Septina. Mengenai keberadaan dokter, guru biologi ini menjelaskan, mereka berasal dari orang tua siswa. ''Mereka secara sukarela berpraktek di sini. Khusus dokter gigi, prakteknya sesuai perjanjian,'' katanya sambil menjelaskan dokter ini digaet ketika ada rapat orang tua siswa bila ada penerimaan murid baru. Sedangkan mengenai obat-obatan beresep, sekolah melalui komite sekolah telah menganggarkan khusus setiap tahun. Setiap hari Jumat UKS dan kadernya memelopori program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di sekolah. Kegiatan ini melibatkan seluruh siswa selama setengah jam. Kader UKS menjadi tim kesehatan jika siswa SMU 34 mengadakan kegiatan di luar seperti pertandingan olah raga dan lainnya. Pengaruh Septina menjelaskan keberadaan UKS membantu meningkatkan pemahaman siswa terhadap kesehatan dan yang terkait dengan bidang tersebut. Sebagai contoh soal AIDS. Program-program yang dirancang UKS menyebabkan siswa tak lagi buta soal penyakit berbahaya tersebut. Selain itu, siswa juga bisa berkonseling langsung dengan dokter di sekolah bila mengidap suatu penyakit. ''Yang pasti mereka lebih care terhadap hidup sehat. Dan tak kalah pentingnya, mereka gampang nyari

obat kalau sedang sakit, gratis lagi,'' katanya sambil tersenyum. Keberadaan UKS mau tidak mau mendorong insan akademika sekolah turut menyukseskan program tersebut. ''Hampir setiap mata pelajaran diharuskan mengaitkannya dengan kesehatan,'' jelas guru yang sejak awal merintis UKS sekolah itu. Sementara anggota KKR menjadi agen perubahan bagi rekan-rekannya sesama siswa untuk hidup sehat. Prasarana dan sarana sekolah pun dikondisikan mendukung program tersebut. Saat ini ada 36 MCK khusus siswa di sekolah yang terdiri atas 24 ruang kelas itu. Belum lagi ada MCK khusus guru, di masjid, dan di ruang serba guna. Perawatan saluran air juga menjadi perhatian, termasuk pengelolaan sampah sekolah. ''Jadi kesehatan sekolah tidak semata-mata UKS,'' tandas Septina. Tantangan Mempertahankan lebih sulit daripada meraih. Ungkapan ini pun berlaku bagi UKS SMU 34. Kaderisasi anggota KKR menjadi masalah. Bukan pada persoalan mendapatkan sukarelawan yang sudi menangani UKS tapi bagaimana menumbuhkan semangat seperti ketika sekolah tersebut meraih juara tahun lalu. ''Semangat mereka berbeda dengan pendahulunya. Barangkali karena kurang ditempa ya,'' kata Septina seraya mengungkapkan anak didiknya yang menjadi generasi awal UKS berkiprah memiliki semangat yang luar biasa. Di samping mempertahankan kondisi UKS yang cukup baik tersebut, kelompok kerja UKS sekolah itu masih memiliki obsesi yang belum tercapai. Mereka ingin membangun klinik untuk umum. Klinik ini nantinya khususnya bagi kalangan keluarga miskin dengan biaya murah. Obsesi ini sebagai wujud kepedulian sekolah terhadap masyarakat sekitar. ''Itu yang kita impikan,'' kata Septina sembari tak bisa memastikan kapan impian itu terwujud. Semoga berhasil. (MJ)

10

Percik

April 2006

TEROPONG

Pokja AMPL Propinsi Banten Berbekal Semangat dan Komitmen

ak ada anggaran, program tak jalan. Ini mitos yang umum dihadapi kalangan birokrasi di Indonesia. Seolah-olah uang yang menjadi penentu. Tak bisakah mitos ini dilawan dan hilangkan? Jawabnya: bisa. Kelompok Kerja (Pokja) Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) Propinsi Banten menjadi salah satu yang bisa membuktikan hal itu. Tahun 2003, Pokja ini dibentuk. Tak ada dana. Tak ada surat keputusan (SK) pembentukan. Namun pokja itu bisa berjalan hingga ada SK Gubernur dua tahun kemudian (2005). Kelahiran Pokja AMPL Banten dipicu oleh kegiatan Pokja Nasional dan WASPOLA di Yogyakarta tahun 2003. Peserta dari Banten kemudian membentuk Pokja Propinsi. Di sisi lain, komitmen pemerintah daerah sendiri mendukung upaya itu karena cakupan pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan di propinsi baru ini tergolong masih rendah. Cakupan air bersih 64,35 persen dan sanitasi dasar 53,64 dari penduduk yang berjumlah 8.939.946 jiwa. Pemicu lainnya yakni intensitas kunjungan yang dilakukan oleh anggota Pokja Nasional. Makanya meski tanpa dana, kegiatan berjalan. Ketiadaan anggaran khusus bagi Pokja itu akibat persoalan administrasi pemerintahan. Ada persyaratan bahwa anggaran harus jelas peruntukannya dan harus memiliki nomor rekening tersendiri. Padahal, ini belum bisa dipenuhi karena SK pembentukannya pun belum turun. Sejak dibentuk, pokja yang beranggotakan perwakilan dari Bapeda, BPM, Bapedal, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan Dinas Pekerjaan Umum tersebut melaksanakan rapat koordinasi

rutin bulanan. Biasanya di awal bulan. Kadang-kadang ada penambahan rapat dalam sebulan, tergantung situasi dan kepentingan. Seluruh kegiatan pokja baik berupa rapat maupun kegiatan di luar, pendanaannya dibebankan kepada instansi-instansi yang terlibat di dalamnya secara bergilir. Dengan kata lain, instansi terkait menyubsidi Pokja. Keberlangsungan pokja tanpa SK itu tak lepas dari kepedulian Ketua Pokja, yang juga menjabat sebagai Kepala Bapeda, saat itu Ir. H. Hilman Nitiamidjaya. Dia-satu-satunya eselon satu-terlibat secara aktif. Selain itu faktor Gubernur, dan Sekretaris Daerah Propinsi Banten tak bisa dikesampingkan. Ketiga pejabat ini tak segan bertindak sebagai pengundang dalam berbagai kegiatan Pokja. Walhasil semangat dan komitmen para pejabat ini menular kepada para anggota Pokja. Aktivitas Pokja AMPL Banten ini sangat menonjol dibandingkan yang lain. Dari 20-an Pokja yang ada di sana, mungkin hanya Pokja AMPL yang memiliki paling banyak kegiatan dengan frekuensi yang rutin dan terus menerus. Apa yang dilakukan oleh Pokja ini akhirnya menjadi 'trade mark' yang bisa memicu sektor lain dan juga kabupaten kota yang ada di Propinsi Banten untuk melakukan hal serupa. Tahun 2005, Pokja mendapat legalitas dengan keluarnya SK Gubernur Banten No. 618/Kep.173-Huk/2005 tanggal 2 Mei 2005 tentang pembentukan Pokja AMPL Banten. Pokja ini beranggotakan 20 pejabat yang terdiri atas 10 orang eselon IV, tujuh orang eselon III, dua orang eselon II, dan satu orang eselon I. Instansi yang terlibat yakni Bapeda, Bapedal, BPM, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan Dinas PU. Semenjak itu, Pokja memiliki

anggaran operasional tersendiri. Tahun 2005, anggaran diletakkan di BPM sebesar Rp. 127.500.000. Tahun 2006, anggaran meningkat menjadi Rp. 215 juta yang diletakkan di BPM, Bapeda, dan Dinkes. Sosialisasi Proses sosialisasi memegang peranan penting dalam keberhasilan program, tak terkecuali sektor AMPL. Sosialisasi diarahkan kepada seluruh stakeholder termasuk kalangan wakil rakyat. Selama ini, proses tersebut telah dilaksanakan kendati masih bersifat individual. Kendati begitu hasilnya sudah lumayan. Ketua Pokja AMPL Prop. Banten yang baru Ir. Harmin Lanjumin menyatakan dukungan DPRD cukup besar. Menurutnya, Dewan menyatakan bersedia menganggarkan anggaran bagi sektor ini dengan syarat ada kegiatan riil di lapangan yang langsung menyentuh masyarakat bawah. Di kalangan birokrasi, LSM, dan perguruan tinggi, keberadaan Pokja pun cukup dikenal. Ini bisa terjadi karena mereka sering dilibatkan dalam kegiatan Pokja AMPL. Pemerintah kabupaten/kota di wilayah propinsi tersebut juga cukup mengenal pokja ini. Bahkan kini tiga pemda tingkat II dari enam yang ada telah menerima kebijakan nasional AMPL berbasis masyarakat. Ketiga pemda tingkat II itu yaitu Kabupaten Lebak, Pandeglang, dan Kota Tangerang. Sedangkan Kabupaten Serang, Tangerang, dan Kota Cilegon ditargetkan akan menyusul tahun ini. Hambatan Sebagai Pokja yang baru dengan model pendekatan yang baru, wajar bila Pokja tersebut menghadapi kenda-

Percik

April 2006

11

TEROPONG

la/hambatan dalam pelaksanaan program kerjanya. Berdasarkan inventarisasi, hambatan itu antara lain: Ketersediaan data cakupan air minum dan sanitasi yang masih belum valid dan perlu penyempurnaan Perhatian pemerintah terhadap pembangunan sektor AMPL belum menjadi prioritas sehingga berimplikasi terhadap ketersediaan dana yang terbatas Pemahaman masyarakat terhadap arti pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) masih perlu ditingkatkan Aktivitas yang dilakukan oleh daerah melalui konsultan pendamping dari WASPOLA masih pada tataran kebijakan belum menyentuh pada implementasi Belum ada kerja sama yang konkret antara pemerintah daerah, LSM, dan masyarakat dalam pembangunan AMPL

Saat ini, khususnya wakil rakyat di propinsi tersebut, sangat menunggu implementasi kebijakan yang ada. Mereka menilai waktu untuk diseminasi dan sosialisasi terlalu lama. Mereka berharap segera ada proyek nyata di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, dewan nantinya bisa memutuskan anggaran bagi sektor tersebut. Kegiatan Pokja Selama tahun 2005, Pokja AMPL Banten berhasil memfasilitasi pembentukan Pokja AMPL Kabupaten Lebak, Pandeglang, dan Kota Tangerang. Seluruh rencana kerja 2005 terlaksana kecuali satu kegiatan yakni Dialog Publik, yang baru akan dilaksanakan awal tahun ini. Pokja juga mengadakan pelatihan dan pembinaan CLTS di tiga desa yakni Desa Parigi, Kertasana, dan Rahayu di Kabupaten Pandeglang. Selain itu Pokja memfasilitasi sosialisasi

program Pamsimas dan SANIMAS. Tahun ini Pokja AMPL Banten akan melaksanakan 15 kegiatan, antara lain road show ke kabupaten/kota yang belum mengikuti program sekaligus sosialisasi kebijakan AMPL ke daerah tersebut; dialog publik dengan kabupaten/kota; finalisasi draft renstra AMPL agar definitif dan dapat diterbitkan SK Gubernur; rapat koordinasi rutin tingkat propinsi, kabupaten, dan pusat; audiensi dengan Pokja Nasional, WASPOLA, dan lembaga negara donor; mengikuti pelatihan yang diadakan Pokjanas; menyelenggarakan lokakarya tingkat nasional, propinsi, dan kabupaten; menyempurnakan data AMPL; pendampingan dan kunjungan kerja ke kabupaten/kota; sinkronisasi program/kegiatan Pokja AMPL tahun 2007; serta monitoring dan evaluasi kegiatan AMPL.

K ATA M E R E K A
Ir. Harmin Lanjumin, Ketua Pokja AMPL Prop. Banten
okja AMPL Banten telah dua tahun lebih. Sekarang yang diharapkan implementasinya seperti apa? Kita sudah menganggarkan di Dinkes, BPM, tinggal kita mengemasnya sehingga jadi apa. Dari sisi kesiapan, Pokja Propinsi sebenarnya sudah siap, tinggal sekarang Pokja Kab/kota harus lebih siap lagi karena mereka yang langsung berhubungan dengan masyarakat. Dukungan terhadap sektor ini sudah ada dari dewan. Hanya saja dewan sebenarnya menunggu implementasinya. Jangan sampai anggaran hanya digunakan untuk rapat-rapat saja. Jadi tidak banyak menunggu waktu dengan mengedepankan pemberdayaan saja. Kan AMPL ini sudah 2 tahun, mereka mau lihat hasilnya di lapangan. Mereka tidak melihat renstranya. Kalau hasilnya jelas, mereka akan menambah anggaran. Itu komitmen mereka. Jangan terlalu lama proses sosialisasinya. Saya kira dampak pembangunan sektor AMPL sangat luar biasa dalam masyarakat, terutama di bidang kesehatan.

tanpa anggaran. Kini Pokja AMPL dijadikan model oleh instansi dan Pokja lainnya. Malah beberapa utusan negara donor berkunjung ke Pokja AMPL Banten untuk melihat keberadaan kita yang dinilainya berhasil. Keberadaan Pokja mampu menghilangkan ego sektoral karena Pokja ikut terlibat dalam kegiatan. Artinya Pokja ikut mengontrol. Bahkan sekarang instansi terkait malah minta dikontrol oleh Pokja. Instansi terkait tak tersinggung kalau kita berikan masukan. Kita berharap ke depan Pokja akan semakin maju karena mantan Ketua Pokja, Pak Ir. H. Nitiamidjaya, MM kini menjadi sekretaris daerah. Semoga perhatian terhadap sektor AMPL juga semakin meningkat. Menurut saya, masyarakat Banten ini tidak akan maju kalau setiap hari mereka minum air yang tidak layak.

Saprudin, anggota Pokja dari BPM


Sebenarnya sudah ada model pemberdayaan sebelum adanya Pokja AMPL. Hanya saja sifatnya sektoral dan tersebar. Dengan adanya Pokja maka kegiatan menjadi terarah. Ada kesepakatan dan pertemuan untuk menentukan arah pembangunan AMPL bersama-sama.

Ir. H. Nuryanto, MM, anggota Pokja AMPL Banten


walnya dulu sempat pusing, bagaimana membentuk pokja tapi tidak ada dana. Tapi setelah dipicu, pikiran itu tak muncul. Kita langsung action kendati tanpa dana dan SK. Makanya cara yang sama saya gunakan memicu kabupaten/kota. Saya selalu katakan, ''Jangan terlalu pusing mikir uang.'' Ternyata kita bisa bergerak meskipun

Rustiantoko, anggota Pokja AMPL dari Bapedal


Dulu ada proyek air bersih dan penyehatan lingkungan (ABPL). Setiap sektor punya program sendiri-sendiri. Sekarang instansi terkait bisa berjalan bersama-sama dengan acuan data yang sama. Artinya semuanya terlibat dalam satu titik. Pokja menjamin keberhasilan dan kebersamaan, serta keberlanjutan. (MJ)

12

Percik

April 2006

KISAH

Sumber Air Hilang, Kocoran Jarang


FOTO:MUJIYANTO

arga tak pernah menduga sumber air itu akan hilang. Entah sudah berpuluh-puluh tahun mereka hidup di kaki Gunung Anjasmoro, tak pernah merasakan Kali Sekopek kering. Karenanya ketika ada proyek WSLIC 2 tahun 2003, air ini menjadi salah satu sumber air dari tiga sumber air-lainnya sumber Luh dan Benda Putih-bagi warga Desa Banaran, Kec. Kandangan, Kab. Kediri, Jawa Timur. Hingga suatu pagi 24 Januari 2006, banjir bandang melanda wilayah Kandangan dan sekitarnya yang berada di lereng Gunung Anjasmoro. Sungai Medowo-begitu warga menyebutnya-yang menjadi induk sungai Sekopek meluap. Bukan hanya air, banjir itu membawa material kayu, lumpur, dan batu. Air bah yang menelan enam orang tewas dan belasan rumah hancur di Desa Medowo-letaknya 1 km dari Desa Banaranmembuat hulu sungai Sekopek yang berada di Sungai Medowo tertutup batu. Aliran air yang tak pernah berhenti mengalir dari sungai yang cukup besar itu tak lagi singgah di sungai Sekopek. Hulu sungai Sekopek itu kini tinggal tumpukan batu-batu besar yang tak lagi bisa disingkirkan. Sungai Sekopek menjadi monumen sungai. Kali tak berair. Warga RW 1 Dusun Putuk, Desa Banaran yang biasa mengandalkan sumber air ini hanya bisa pasrah. Dua hari aliran air ke rumah-rumah mati. Hadi Suwito, Kepala Dusun Banaran, yang sekaligus Ketua HIPAM (Himpunan Pemakai Air Minum) Margorukun, menjelaskan kondisi itu memaksa para pengurus HIPAM dan warga mencari akal agar air kembali mengalir ke rumah-rumah. Sebagai

Kering: Sumber air sungai Sekopek kering kerontang.

alternatif darurat, warga mengalirkan aliran sungai kecil ke sebuah bak penampungan yang pernah dibangun secara swadaya-sebelum banjir sudah tak difungsikan. ''Yang penting kita ada air dululah,'' katanya. Sumber air ini debitnya kecil. Untuk itu warga membendung sungai itu dengan kantong pasir. Puluhan kantong pasir dijajar secara gotong royong. Kemudian intake sumber dari Kali Sekopek dicopot dan dipindahkan ke sumber ini. Hasilnya lumayan. Air kembali mengalir. Namun warga harus bersabar. Air mengalir secara bergilir. Itupun kotor dan agak berbau. ''Padahal dulu air Sekopek sangat jernih,'' kata Hadi. Dulunya instalasi WSLIC 2 yang telah diserahkan tahun 2005 itu melayani 313 kepala keluarga atau 1.800 jiwa yang berada pada satu dusun atau 17 RT. Selain sumber air hilang, sebuah

bak penampung utama berkapasitas 7 meter kubik pun kini tak berfungsi. Hadi menjelaskan warganya hingga saat ini belum memiliki alternatif lain untuk menggantikan sumber air Sekopek. Namun demikian, menurutnya, jika ada alternatif yang layak, warganya siap untuk memberikan kontribusi. ''Warga tak ada masalah untuk mengumpulkan uang lagi. Mereka sudah percaya dengan pengurus,'' tandas Hadi. Hendra, CF yang pernah mendampingi proyek WSLIC 2 di desa tersebut berpendapat ada dua alternatif yang bisa dipilih warga yakni mempertahankan sumber air darurat sekarang atau mengambil air langsung melalui pipa ke Sungai Medowo. Kelemahan alternatif pertama yakni air mengandung lumpur, debit sangat kecil, dan sering kering di musim kemarau. Namun di

Percik

April 2006

13

KISAH
FOTO:MUJIYANTO

Darurat: Warga membuat bendungan darurat untuk menampung air.

sisi biaya lebih murah. Alternatif kedua kelemahannya butuh dana yang cukup besar karena perlu pipa yang panjangnya lebih dari 1.200 meter. Hanya saja sumber airnya mengalir sepanjang tahun. ''Kalau menurut saya, alternatif kedua lebih layak, tapi itu terserah warga dan dana yang ada,'' kata Hendra. Berdasarkan perkiraan hitungan Hendra, kebutuhan pipa sekitar Rp. 25
esa Banaran terletak di kaki pegunungan Anjasmoro. Topografinya berupa lereng. Posisinya ada di bagian timur laut Kabupaten Kediri. Wilayahnya berbatasan dengan Kabupaten Jombang. Penduduk desa ini berjumlah lebih kurang 2.200 jiwa. Masyarakatnya hidup dari pertanian dan berkebun. Air menjadi masalah utama warga desa tersebut. Dulu warga memanfaatkan air sungai kecil yang melintas di areal Perum Perhutani sebagai sumber air minum. Air ini dikelola secara swadaya dan sederhana oleh masyarakat. Sebagian kecil warga yang tinggalnya di bagian bawah bisa mendapatkan air dari sumur gali. Ketika proyek WSLIC 2 masuk tahun 2003, masyarakat menyambut secara antusias.

juta. Itu belum termasuk biaya pemasangan dan pondasi bagi intake. ''Ini perkiraan kasar. Kita belum mempertimbangkan faktor keamanan terhadap pipa dan sebagainya,'' katanya seraya menambahkan dulu ada kasus pencurian pipa di lokasi sumber air tersebut. Padahal lokasi pipa yang hilang tidak terlalu jauh dengan desa. Hadi Suwito mengaku belum ber-

pikir sejauh itu. Pihaknya juga belum tahu ke mana akan mencari dana pendamping seperti yang pernah didapatkannya dari proyek WSLIC 2. Sejak bencana memang warga belum pernah berkumpul secara serius untuk membicarakan masa depan sumber air mereka. Apa yang dilakukan baru sebatas upaya tanggap darurat terhadap instalasi yang rusak. ''Warga sih bisa berkontribusi, tapi tentu kan tidak semuanya dibebankan kepada warga,'' katanya. Iuran warga sebesar Rp. 1.500 per KK per bulan yang selama ini dikumpulkan telah habis untuk biaya pemeliharaan. Itu pun para pengurus HIPAM tidak dibayar. Kini sejak air tak lagi lancar, warga pun enggan membayar, kecuali warga yang mendapatkan air dari sumber air Bendo Putih (51 KK) dan Luh (50 KK) yang pasokan airnya tetap lancar. Nasib instalasi air di Banaran berbeda dengan di Desa Medowo di atasnya. Di Medowo seluruh instalasi air dari WSLIC 2 rusak total. Akibatnya, pemda Kabupaten Kediri mengucurkan dana untuk perbaikan sarana permukiman termasuk air bersih. Sementara Banaran yang hanya terkena efek bencana, luput dari perhatian. (MJ)

Selintas Banaran
Masyarakat langsung memberikan kontribusi yang dipersyaratkan untuk memperoleh proyek tersebut. Saat itu tiap warga bersedia membayar dana incash. Dengan proses MPA/PHAST warga menentukan sendiri apa yang akan dibangunnya. Ada tiga opsi yang muncul yakni air minum perpipaan dengan sistem gravitasi sumur gali, dan sumur pompa. Alternatif kedua sulit dipenuhi karena ternyata kedalaman sumber air bervariasi. Ada yang mencapai 50 meter. Sedangkan alternatif ketiga tak

dipilih karena biaya pemeliharaan tinggi. Akhirnya dipilih alternatif pertama. Warga mengalirkan tiga sumber yang ada di sekitar desa. Semua sumber air itu berada di tanah Perum Perhutani. Masing-masing sumber air itu diperuntukkan untuk warga yang berbeda sesuai dengan jarak dan letak rumah warga, serta kapasitas sumber air yang ada. Oleh karena itu dana incash yang dikumpulkan pun berbeda. Untuk warga yang mendapatkan air dari Bendo Putih iurannya Rp. 20.000, Luh Rp. 18.000, dan Sungai Sekopek Rp. 26.000. Sebelum ada bencana semuanya berjalan lancar. Iuran warga cukup baik. Hingga datangnya bencana itu, kocoran air tak lagi lancar. (MJ)

14

Percik

April 2006

WAWA N C A R A Direktur Pendanaan Luar Negeri Multilateral Bappenas, Delthy S. Simatupang, SH.

Persiapan Proyek Jadi Penentu


Anggaran pemerintah belum mampu mencukupi kebutuhan pembangunan. Mau tidak mau pemerintah meminjam kepada kreditor asing. Sampai Desember 2005, utang pemerintah Indonesia kepada kreditor asing berjumlah 61,048 milyar dolar. Jumlah itu merupakan 45 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Pemerintah berencana akan menurunkan stok utang tersebut. Caranya dengan pelunasan atas pinjaman yang telah selesai digunakan, clearance atas pinjaman yang sedang berjalan, dan berhati-hati atas pengusulan pinjaman baru. Di sisi lain, pemerintah akan berusaha meningkatkan pertumbuhan PDB melalui peningkatan investasi dan perbaikan fundamental ekonomi dan menjaga stabilitas ekonomi makro. Harapannya pada tahun 2009, utang luar negeri ini hanya tinggal 31,8 persen dari PDB.
FOTO: MUJIYANTO

Saat ini Bappenas juga sedang menyusun strategi pinjaman pemerintah (Government Borrowing Strategy) untuk membenahi manajemen pengelolaan pinjaman luar negeri. Secara makro strategi itu berisi peta kebutuhan dan rencana pemanfaatan pinjaman luar negeri tahun 20062009. Secara mikro, pengetatan penilaian usulan proyek melalui tiga screening device yaitu fokus prioritas, kriteria kegiatan dan kesiapan proyek, serta peningkatan kualitas monitoring dan evaluasi pelaksanaan. Nantinya hanya usulan proyek yang betul-betul siap dan sesuai prioritas yang akan mendapatkan pembiayaan luar negeri. Yang tidak siap minggir. Untuk mengetahui seluk beluk utang luar negeri dan kaitannya dengan strategi baru tersebut. Percik mewawancarai Direktur Pendanaan Luar Negeri Multilateral Bappenas, Delthy S. Simatupang, SH. Berikut petikannya:

semua sektor. Sepanjang sektor AMPL ini masih menjadi prioritas pemerintah maka sektor ini harus tetap dibiayai dari kedua sumber tersebut. Selama ini dari mana saja sumber pinjaman itu berasal? Sumber pembiyaan itu bisa kita bagi menjadi tiga. Pertama, dari negara-negara bilateral. Kedua, dari multilateral agencies (ADB, Bank Dunia, masyarakat Eropa dsb). Dan ketiga komersial. Sedangkan jenis pinjaman paling tidak bisa dibagi dalam tiga yakni hibah, pinjaman lunak, pinjaman komersial, dan yang di antara pinjaman lunak dan komersial yang disebut sebagai mix credit. Bagaimana karakteristik pinjaman tersebut? Karakteristik pinjaman satu dan yang lain berbeda. Pinjaman bilateral umumnya pinjaman lunak yang memiliki tenggang pembayaran 25-40 tahun dengan suku bunga antara 0,75-2,5 persen. Biasanya ada grace period (masa tenggang) 5-7 tahun dan tidak ada fee lainnya. Yang bisa membedakan antarpinjaman itu adalah sifatnya yakni ada yang tied ada yang untied. Tied berarti dalam pengadaan barang dan jasa harus datang dari negara pemberi pinjaman. Untied, pengadaan barang dan jasa bisa melalui international competition. Walaupun di dalamnya ada pengecualian misalnya seperti Jepang yakni pengadaan barangnya dibagi yaitu 30 persen harus barang Jepang dan sisanya bisa international competition. Kalau yang multilateral biasanya general untied. Mana yang lebih murah antara yang bilateral dan multilateral? Ada dua pendapat berdasarkan

ungkinkah kita tidak mengandalkan pinjaman luar negeri dalam pembangunan sektor air minum dan penyehatan lingkungan? Bisa saja kita tidak menggantungkan pada pinjaman luar negeri sepanjang APBN kita mendukung untuk itu. Namun sektor air minum dan penyehatan lingkungan ini kan sudah masuk dalam program dunia dalam MDGs. Kalau kita lihat, untuk mencapai target MDG 2015, kalau hanya mengandalkan kepada rupiah (APBN) kita akan jauh ketinggalan. Sementara investasi untuk sektor air bersih saja, kita butuh dana yang sangat berat. Pak Basah pernah mengungkapkan untuk sampai di air bersih-bukan air minum-kita butuh Rp. 15 trilyun. Sampai saat ini APBN tidak bisa untuk mencukupi kebutuhan tersebut. Oleh karena itu kalau kita hanya mengandalkan APBN, mungkin pencapaian target MDGs akan teralisasi jauh lebih lama.

Mungkin bisa jadi sampai 2030. Jadi pinjaman luar negeri merupakan salah satu sumber pembiayaan untuk mempercepat pencapaian MDGs di sektor ini. Saya kira pinjaman luar negeri untuk sektor ini masih diperlukan. Lalu apakah ada jaminan jika menggunakan utang luar negeri target tercapai? Paling tidak kita mulai mendekati kondisi yang diharapkan pada tahun 2015. Bagaimana trend pembiyaan sektor ini ke depan? Kalau APBN membaik, saya kira pembiayaan akan kita isi dari APBN dan PHLN. Ini pilihan yang paling masuk akal. Hanya saja komposisi akan berubah. Kalau APBN makin membaik, tentu porsinya akan makin baik pula. Kita mengharapkan porsi PHLN-nya akan turun. Ini tentu saja berlaku

Percik

April 2006

15

WAWA N C A R A

pengalaman pelaksana proyek. Yang konvensional bilateral, dari sisi cost of borrowing-nya, lebih murah. Tetapi dalam cost of project-nya jauh lebih mahal karena sifat pinjamannya tied. Sebaliknya yang ICB (International competitive bidding), cost of borrowing-nya tinggi, tapi harga proyeknya relatif lebih murah karena prosesnya tender, international competitive bidding. Kalau yang bilateral sifatnya LCB, limited competitive bidding, hanya ditenderkan di negara pemberi pinjaman. Bisa dibayangkan apa yang terjadi kalau perusahaan-perusahaan di negara tersebut mengatur harga sehingga muncul harga yang lebih tinggi karena tender yang diatur. Harganya tidak akan sekompetitif yang ICB. Kita tinggal pilih. Sejauh mana keterlibatan pengusul/pemilik proyek dalam menentukan harga proyek dalam proses persiapan? Kalau menurut saya yang penting owner estimate harus kuat. Ini yang harus diperhatikan oleh pemilik proyek. Dalam menentukan satuan harga mereka harus tahu betul. Selama ini pengalaman menunjukkan owner estimate (satuan harga) lebih banyak dikerjakan oleh technical assistance (TA) dari luar. Harganya jadi lebih mahal. Oleh karena itu, untuk menghindari harga yang mahal itu pemerintah harus menyediakan uang untuk preparation of the project. Kenapa project mahal? Karena biasanya kita mendapatkan harga dari PPTA atau TA dari pemberi pinjaman. Jelas ini akan membuat size dari proyek itu lebih besar. Ini terkait dengan portfolio mereka meminjamkan. Logis saja. Konsultan itu dibayar oleh mereka bukan oleh pemerintah dalam bentuk technical assistant kepada kita. Wajar bila ownership mereka ada di negara pemberi pinjaman, bukan di pemerintah. Oleh karena itu desainnya menjadi lebih mahal. Kesulitannya sekarang pemerintah tidak menyediakan dana untuk persiapan. Walaupun ada tapi

tidak cukup sehingga persiapan lebih banyak dilakukan oleh konsultan asing. Kalau ini tidak diperbaiki, maka ownership-nya akan sangat berkurang. Jika ini berlangsung sejak di desain awal, bagaimana nanti kalau masuk pada tahap negosiasi. Saya banyak menemukan pada tahap negosiasi ini, yang banyak bicara itu adalah pihak donornya atau konsultannya. Ini menunjukkan onwnership-nya itu kecil. Bagaimana proyek akan berjalan baik kalau misalkan masalah ownership ini muncul sejak di desain. Jadi proyek-proyek itu tidak berjalan dengan baik karena faktor ownership tersebut? Ownership-nya tidak besar karena semuanya depend on (tergantung) kepada si konsultan. Penguasaan terhadap proyek bisa kita pertanyakan. Artinya persiapan proyek menjadi sangat krusial? Persiapan proyek ini sangat penting. Kita di Bappenas akan sangat ketat dalam melakukan persiapan proyek dari mulai persiapan, negosiasi, hingga monitoring. Artinya kita harus mulai memiliki kualitas sejak ide proyek itu disampaikan. Ini yang kita sebut sebagai quality at entry. Ini nanti ada di buku biru. Jadi semuanya nanti sudah terseleksi dari sisi prioritas nasional, anggaran, dan kesesuaian dengan RPJM. Waktu proyek itu masuk dalam buku biru berarti proyek ini siap dibiayai pinjaman luar negeri. Setelah itu usulan proyek ini akan bertanding lagi dalam pengusulan kita ke negara donor. Baru nanti kita akan lihat lagi seleksi prioritas antarsektor. Dalam tahap pengusulan sampai tahap negosiasi, ini yang paling kritis. Ini akan kita cermati betul. Kita akan terapkan apa yang namanya readiness criteria itu. Kenapa harus ketat dalam readiness criteria? Karena kalau semua kriteria ini

dipenuhi maka akan mengurangi permasalahan dalam pelaksanaan proyek. Kita sudah mengevaluasi selama 10 tahun terakhir ini, mengapa proyek-proyek tidak tepat waktu, ada perpanjangan, proyek tidak jalan dan sebagainya. Kita temukan misalnya masalah penyediaan lahan, penyediaan dana pendamping, hal-hal kecil lainnya seperti PMU atau PMG yang seharusnya sudah terbentuk dari awal. Kita ingin permasalahan itu di depan sudah clear semua. Selama ini masalah-masalah itu tidak clear. Dulu kita berani berangkat negosiasi dengan membawa beban yang tidak clear ini. Akibatnya, begitu kita tanda tangani negosiasi, proyek tidak jalan. Konsekuensi, kita harus membayar apa yang namanya unnecessary commitment charge. Ini berarti kerugian buat negara. Proyek juga waktunya akan lebih panjang. Ini cost juga. Dan manfaatnya sudah berubah. Misalnya kita ingin membangun air minum untuk suatu kota. Harusnya selesai 2008, tahu-tahu menjadi 2012. Ini kan tidak sesuai rencana. Dan cakupan layanannya pun bisa jadi menjadi kecil karena pertambahan jumlah penduduk. Selama ini kita tidak memperhatikan ini dan cenderung main-main. Buat kreditor, mereka tidak peduli. Dengan ditandatanganinya pinjaman itu, mereka sudah dapat 1 persen. Bank adalah bank, meskipun namanya development bank. Tidak ada yang namanya free of charge. Makanya kita saat ini sangat teliti dalam masalah readiness criteria itu. Berarti ada perubahan paradigma dalam kaitan persiapan proyek ini? Pengalaman dulu, waktu kita mau negosiasi, mereka (kreditor) menentukan kriteria seperti ini-seperti ini. Tapi itu bukan kriteria negosiasi tapi setelah negosiasi. Apa yang terjadi? Setelah negosiasi kita tidak bisa memenuhi itu. Sekarang kita balik, kita tidak akan negosiasi sebelum persyaratan dipenuhi. Mereka sempat shock karena tidak ada

16

Percik

April 2006

WAWA N C A R A

satupun yang siap maju untuk negosiasi. Dari sisi pemberi pinjaman, market-nya hilang. Akhirnya semua turun portfolionya. Bank dunia turun. Bayankan dari 1,2 milyar tinggal 100-200 juta dolar. ADB bahkan pernah nol. Sekarang, proyek yang melakukan persiapan lebih baik, pelaksanaannya pun baik. Oleh karena itu baik itu pemerintah daerah maupun departemen, readiness ini harus diperhatikan. Bagaimana mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan pinjaman luar negeri? Project preparation menjadi sangat penting. Sekarang ini Bappenas sedang menyusun borrowing strategy (strategi pinjaman). Isinya mengatur mengenai kemampuan kita meminjam dan proyekproyek yang dibiayai dari pinjaman luar negeri itu harus merupakan turunan dari proyek-proyek yang ada di RPJM. Tidak lagi proyek itu berdiri sendiri. Kita berharap ke depan, dengan strategi ini bisa menurunkan pinjaman pemerintah yang pada tahun 2009 itu menjadi 31,8 persen. Nantinya stok utang itu bisa terkontrol. Dengan demikian nanti kita bisa mengalokasikan berapa besaran utang untuk masing-masing sektor prioritas sehingga setiap sektor itu ada pagunya. Dengan kapasitas meminjam yang ditentukan maka pemberi pinjaman akan berkompetisi untuk membiayai proyek-proyek tersebut. Contohnya, kapasitas kita meminjam per tahun 2,5 milyar dolar. Dengan kreditornya yang banyak, angka yang ditawarkan mungkin tiga kali lipat lebih besar. Tapi kita hanya meminjam terbatas itu sehingga mereka akan berkompetisi membiayai proyek-proyek itu. Dengan demikian persiapan proyek akan betul-betul bagus dan prioritas. Di samping itu kita juga punya disiplin terhadap anggaran pinjaman luar negeri. Tidak bisa sekarang setiap departemen mau pinjam sesuai kebutuhannya. Mungkin kalau 2,5 milyar dolar kalau dilihat dari usulan PU, mungkin untuk PU doang. Sekarang itu harus dibagi. Jadi ini betul-betul untuk proyek yang siap dan

mendapat skala prioritas. Dan ini tidak hanya untuk proyek yang memiliki cost recovery, tapi juga proyek-proyek sosial. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Apakah dengan adanya project preparation tidak akan memperlambat proyek di lapangan? Sebetulnya tidak harus memperlambat. Sebaliknya kalau persiapan proyek lebih baik maka akan mempercepat pelaksanaan proyek. Selama ini persiapan proyek buruk sehingga pelaksanaan menjadi terhambat. Oleh karena itu, waktu persiapan proyek harus lebih panjang.

menuhi kapasitas fiskal tersebut. Itu artinya daerah tidak boleh pinjam, padahal air minum adalah kebutuhan dasar. Ini menjadi dilema. Di sisi lain, untuk daerah yang mampu, karena sudah desentralisasi, mereka meminjam lewat pusat. Itu yang namanya onlanding. Ini juga persoalan karena mereka umumnya tidak mau. Mereka hanya mau dana itu dipakai untuk proyek yang cost recovery sehingga bisa membayar utangnya. Sementara air minum da penyehatan lingkungan, apalagi untuk masyarakat miskin, termasuk non cost recovery. Pemerintah daerah tidak akan mengambil untuk itu. Bagaimana cara untuk mengatasi ini? Saat ini departemen keuangan sedang menggodok KMK 35 untuk direvisi. Juga ada revisi Permenkeu untuk on granting, pemberian hibah. Mudahmudahan ini bisa memberikan kontribusi untuk menyelesaikan masalah pinjaman daerah. Apakah kita tidak mungkin mengharapkan dana hibah? Hibah itu selalu ada. Tetapi jumlahnya tidak besar sehingga tidak bisa kita harapkan sebagai sumber pembiayaan pembangunan. Jumlahnya tidak signifikan. Hibah yang diberikan kepada kitapun lebih banyak menyangkut preparation, dalam rangka proyek. Malah kita katakan itu sebagai foredernya. Jadi kadang-kadang perlu hati-hati dalam menerima hibah-hibah seperti itu karena di belakangnya biasa akan ada loan. Ini penting untuk diketahui dan diantisipasi. Kalau namanya PPTA (Project Preparation Technical Assistance), di belakangnya pasti ada loan-nya. Kecuali dari ADB ada yang namanya IDTA, yang sifatnya lebih lunak. Tidak jadipun tidak apa-apa. Makanya departemen dan daerah perlu hati-hati di dalam menerima tawaran-tawaran hibah. Karena PPTA sifatnya mengikat, meskipun tidak disebutkan di dalamnya mengikat. (MJ)

KRITERIA KESIAPAN PROYEK:

Organisasi proyek Rencana pembiayaan dan penyediaan dana pendamping Penyiapan dokumen pengadaan barang dan jasa pada tahun pertama Rencana pembebasan tanah dan pemindahan penduduk (untuk proyek fisik) Indikator pencapaian proyek sebagai dasar pelaksanaan monitoring dan evaluasi Petunjuk pelaksanaan operasional proyek

Apa tantangan ke depan dalam sektor AMPL ini dikaitkan dengan pembiayaan luar negeri? Bidang AMPL memiliki tantangan tersendiri. Ini berkaitan dengan diberlakukannya UU no. 33 tentang desentralisasi. Artinya dengan undang-undang ini masalah AMPL itu sudah didesentralisasikan sehingga menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Seharusnya intervensi pemerintah pusat sudah tidak ada. Tapi yang terjadi, kemampuan pemerintah daerah masih terbatas. Akhirnya pemerintah pusat masih mau melakukan intervensi di daerah. Kalau pendanaan itu dari APBN tidak masalah. Tapi kalau pendanaan berasal dari utang luar negeri, itu timbul masalah. Seharusnya pendanaan itu menjadi pinjaman daerah. Untuk daerah meminjam, ada kriterianya. Salah satunya diukur dari kapasitas fiskal mereka. Banyak daerah yang tidak me-

Percik

April 2006

17

S E P U TA R A M P L

Lokakarya Pelayanan Air Minum Skala Kecil di Jakarta Utara

saha pelayanan air minum skala kecil menjadi suatu yang tak terelakkan. Ini karena ada kebutuhan yang mendesak di masyarakat, di sisi lain perusahaan daerah air minum belum mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Sejauh mana peran mereka dalam penyelenggaraan air minum, sebuah lokakarya bertajuk Pelayanan Air Minum Skala Kecil di Jakarta Utara diadakan 23 Februari lalu di Jakarta. Acara ini dihadiri oleh wakil pemerintah pusat dari instansi terkait (Bappenas, PU, Depdagri, BPPSPAM), dinas terkait Prop. DKI Jakarta, kecamatan dan kelurahan di Jakarta Utara, operator air minum (PAM Jaya, TPJ, dan Badan Regulator), Puslitbang Permukiman PU, Hydroconseil Consultant, LSM, WASPOLA, serta Pokja AMPL. Lokakarya ini dibuka oleh Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas, Basah Hernowo. Ia mengemukakan keterbatasan akses pada prasarana air minum yang memadai dan aman masih menjadi isu yang belum terpecahkan. Menurutnya, masih ada masyarakat yang belum terlayani oleh penyedia jasa formal dan sebagian besar adalah masyarakat miskin. Golongan masyarakat inilah, lanjutnya, yang menjadi pelanggan dari "pelayanan air minum skala kecil (Small Scale Water Providers/SSWPs)". Oleh karena itu perlu dipikirkan seperti apa peran SSWPs di masa yang akan datang. Lokakarya diisi dengan presentasi dalam dua sesi. Sesi pertama tentang hasil studi jasa air minum skala kecil. Sesi kedua tentang peran SSWPs dalam sistem penyediaan air minum. Dari presentasi itu didapatkan beberapa hal penting sebagai berikut: Hasil studi di lima kota (Bandung,

Subang, Jakarta Utara, Palembang, dan Makassar), ditemukan bahwa pelayanan air minum skala kecil memberikan kontribusi sekitar 2 persen terhadap cakupan pelayanan. Namun studi ini juga menemukan adanya potensi kedua sebesar 8 persen dari golongan masyarakat yang mendapatkan air dari sumber alternatif selain SSWPs misalnya sumur umum, sungai, dan air hujan. Ada berbagai tipe pelayanan SSWPs yang secara umum digolongkan ke dalam tiga tipe yaitu (i) perpipaan dengan sambungan rumah, (ii) truk tangki air, dan (iii) gerobak dorong. Selain itu juga terdapat variasi pola layanan di setiap kota, yang paling bervariasi kota Bandung dengan delapan pola layanan sedangkan yang variasinya sedikit yakni Makassar dengan tiga pola layanan. Variasi ini dinilai terkait dengan ketersediaan air baku, semakin terbatas air baku yang tersedia semakin sedikit pola layanan yang dapat dikembangkan. Untuk tingkat keberlanjutan pelayanan SSWPs, studi ini menemukan bahwa tipe pelayanan dengan perpipaan menduduki peringkat tertinggi diikuti dengan terminal air dan mobil tanki, sedangkan gerobak dorong menempati peringkat terendah. Penelitian di Jakarta Utara menunjukkan bahwa baru 50 persen penduduk Jakarta Utara yang terlayani oleh penyedia jasa formal, sisanya menggantungkan pada sumber lain termasuk SSWPs. Ada empat pola layanan SSWPs di Jakarta Utara yaitu (i) pedagang air gerobak, (ii) pedagang air truk tangki, (iii) pedagang air terminal kecil, dan (iv) IKK dengan sistem perpipaan. Namun yang paling banyak dite-

mukan adalah pedagang air keliling dengan gerobak. Untuk kasus Jakarta Utara, pada umumnya SSWPs sangat menggantungkan sumber air dari penyedia jasa formal. Namun sampai saat ini hak penjualan kembali air ke wilayah yang belum terlayani penyedia jasa formal atau permukiman ilegal belum diatur oleh pemerintah. Selain itu, belum terdapat pengaturan usaha layanan air minum skala kecil oleh pemerintah menyangkut perizinan, batas wilayah, kualitas, dan standar harga. Pengalaman internasional menunjukkan bahwa SSWPs yang beroperasi secara 'legal' dapat memberikan pelayanan yang kontinyu dengan kualitas setara dengan penyedia jasa formal dan tarif yang lebih rendah dibandingkan dengan SSWPs yang peroperasi secara 'ilegal'. Untuk pengembangan institusi pengaturan SSWPs di Indonesia direkomendasikan beberapa hal termasuk perencanaan dan pengaturan perlu mengikutsertakan SSWPs, kontrak formal/perizinan kepada "key" SSWPs dengan waktu kontrak terbatas sampai penyedia jasa formal mampu melayani. Berdasarkan hasil diskusi, alur pembahasan mengarah pada menjadikan SSWPs sebagai mitra penyedia jasa formal dalam memperluas layanan, namun bukan sebagai solusi permanen tetapi sebagai solusi alternatif sampai penyedia jasa formal mampu melayani area tersebut. Layanan penyedia jasa formal tetap merupakan alternatif terbaik karena dinilai dapat memberikan layanan yang lebih baik dan terjangkau dibandingkan dengan layanan SSWPs. (MJ)

18

Percik

April 2006

S E P U TA R A M P L

Seminar Pengolahan Air di Tingkat Pengguna


una menyebarluaskan alternatif pengolahan air dengan teknologi yang mudah dan murah di tingkat masyarakat, Forum Komunikasi Pengelolaan Kualitas Air Minum Indonesia (FORKAMI) dan Environmental Services Program (ESP) USAID menyelenggarakan seminar Pengolahan Air di Tingkat Pengguna di Jakarta, 27 Februari 2005. Acara ini dibuka oleh Ketua Umum FORKAMI, Abdullah Mutholib. Menurutnya, masyarakat masih kurang menyadari bahwa air yang digunakannya belumlah aman dan sehat untuk digunakan sebagai air minum. Di sisi lain kebijakan air minum mengarah pada air perpipaan dan belum pada pengolahan air sampai pada tingkat pengguna. ''Ma-

ka perlu cara lain yang lebih mudah untuk memperoleh air yang sehat dan aman,'' katanya. Ini menilai langkah ini penting sebab jangkauan layanan PDAM masih rendah sekitar 23 persen. Di luar itu masyarakat menggunakan air permukaan atau air sumur sebagai sumber air minum. Proses pengolahan oleh masyarakat terkadang kurang higienis sehingga masih terus dijumpai penyebaran penyakit diare karena air. Seminar ini menghadirkan tiga narasumber yakni dari Aman Tirta dengan program Air Rahmat, Yayasan Dian Desa dengan Solar Water Disinfectan (SODIS) dan PUR, dan BPLHD DKI Jakarta dengan saringan keramik Plered. Air Rahmat yaitu produk pemurni air mi-

num dengan kandungan 1,25 persen sodium hypochlorite. Bahan ini tinggal dicampurkan ke air mentah sesuai dosis. Air langsung siap diminum. SODIS yakni menjemur air mentah dalam wadah transparan selama beberapa jam agar panas yang dihasilkan bersinergi dengan ultraviolet membunuh bakteri dalam air. Pemanasan selama 4-5 jam pada suhu yang mencapai 50 derajat mampu membunuh bakteri E. coli yang ada dalam air tersebut. Sedangkan PUR merupakan penjernih air yang mampu membuat air bersih dan siap dikonsumsi. Sementara keramik Plered yang dilapisi koloid perak berdasarkan penelitian mampu menghilangkan bakteri sehingga air yang disaring layak minum.
(MJ)

Lokakarya I PAMSIMAS
ahun ini pemerintah mencanangkan program nasional di bidang air minum dan penyehatan lingkungan. Program tersebut diberi nama Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS). Sebagai persiapan program ini, sebuah lokakarya diadakan di Jakarta 18-19 Januari 2006. Lokakarya ini bertujuan untuk menciptakan model penyelenggaraan air minum dan sanitasi yang berbasis masyarakat. Dengan model tersebut nantinya program ini bisa direplikasi secara luas bagi kegiatan sejenis di seluruh Indonesia. Kegiatan ini diikuti oleh utusan dari 15 propinsi yang terdiri atas wakil BAPPEDA dan Dinas PU. Acara dibuka oleh Direktur Jenderal Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum, Ir. Agoes Widjanarko, MIP. Ia memberikan gambaran umum program PAMSIMAS serta sasaran yang diharapkan dari dilaksanakannya Lokakarya I PAMSIMAS ini. Lokakarya diisi oleh presentasi pemakalah yang berasal dari Bappenas, CPMU

WSLIC II, DJCK, dan Bappeda Lumajang. Presentasi pertama berjudul ''Nilai Strategis Proyek PAMSIMAS dalam Pencapaian Tujuan Air Minum dan Sanitasi'', oleh Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas, Basah Hernowo, BAPPENAS. Makalah berikutnya disampaikan oleh D Wan Alkhadri dan Zaenal I. Nampira dari CPMU WSLIC II, mengenai Pengalaman Pengelolaan WSLIC 2. Pada hari kedua, Direktur Bina Program DJCK, Djoko Murjanto, menyampaikan penjelasan mengenai Program Nasional Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS). Lokakarya ini menghasilkan beberapa masukan dan kesepakatan, di antaranya: Perlu adanya koordinasi, kejelasan mekanisme pelaporan, sistem perencanaan dan manajemen terpadu dalam rangka monitoring dan evaluasi program di daerah. Perlu ada ada penyuluhan dan kerja keras dari pemerintah propinsi untuk sosialisasi program khususnya bagi

masyarakat tertinggal. Pemilihan kabupaten/kota yang dapat berpartisipasi dalam program PAMSIMAS akan menggunakan data BPS, kecuali Propinsi Sulawesi Barat yang belum memiliki data BPS. Data yang akan digunakan yakni data kabupaten/kota tertinggal. Perlu tambahan kriteria pemilihan dengan pernyataan kesanggupan membayar biaya operasi, pengelolaan, dan iuran dari masyarakat. Hasil lokakarya ditindaklanjuti dengan diadakannya lokarya serupa di tingkat propinsi untuk memilih kabupaten/kota yang dapat mengikuti program PAMSIMAS sesuai dengan jadwal indikatif lokakarya propinsi. Lokakarya II Program Nasional PAMSIMAS dengan mengundang Kabupaten/Kota terpilih akan diadakan pada 1 Maret 2006. Perlu ada pertemuan rutin minimum tiga bulan sekali untuk membicarakan data. (Mat)

Percik

April 2006

19

S E P U TA R A M P L

World Water Day 2006

Air dan Budaya


anggal 22 Maret lalu Hari Air Dunia (World Water Day) diperingati. Kali ini temanya, 'Air dan Budaya' (Water and Culture). Tema ini menggambarkan kenyataan bahwa banyak cara dalam melihat, menggunakan, dan memanfaatkan air sebagai budaya masyarakat di seluruh dunia. Air juga memiliki nilai kesucian dan menjadi bagian penting dalam kehidupan beragama yang digunakan di berbagai ritual dan upacara. Selain itu, air menjadi inspirasi seni baik itu seni musik, lukis,

tulis, dan perfilman. Air juga bagian penting dari proses ilmu pengetahuan. Setiap wilayah di dunia memiliki cara tersendiri untuk memperlakukan dan mengelola air. Masing-masing daerah/wilayah sangat mengenal peran air tersebut sebagai kunci kehidupan manusia. Tak heran bila secara kultural manusia telah berupaya menjaga air tersebut dalam budayanya masing-masing. Hari Air Dunia ini dicetuskan tahun 1992 dalam United Nations Conference on Environment and Development
FOTO:MUJIYANTO

(UNCED) atau Earth Summit di Rio de Janeiro, Brasil. Setiap tahun tema yang diangkat berbeda-beda. Hanya saja ada tema umum untuk dekade 2005-2014 yakni Air untuk Kehidupan (Water for Life). Tema ini mengingatkan setiap penduduk bumi untuk bertanggung jawab terhadap ketersediaan air yang bersih, segar, menyenangkan, dan menyehatkan bagi kehidupan saat ini dan generasi mendatang. Selain itu, perlunya ada pemahaman bahwa air tidak hanya dibagi sumbernya tapi harus dibagi pula tanggung jawabnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan Hari Air Dunia itu tidak terdengar gemanya. Masyarakat tak peduli. Bahkan instansi pemerintah dan swasta yang terkait langsung dengan masalah air tampak biasa-biasa saja. Tidak ada gerakan besar-besaran untuk peringatan ini. Hanya sebagian kecil yang peduli. Walhasil Hari Air Dunia pun mengalir begitu saja, seperti layaknya air.

Open House: Direktur utama PDAM Tirta Kahuripan, Kabupaten Bogor memberikan penjelasan tentang pengolahan air kepada pelajar dalam acara open house.

PDAM Tirta Kahuripan dan Hari Air Dunia


ejauh ini tidak banyak PDAM yang terdengar kiprahnya dalam menyambut Hari Air Dunia. PDAM Tirta Kahuripan, Kabupaten Bogor, merupakan salah satu yang memanfaatkan kesempatan ini. Perusahaan daerah itu mengadakan peringatan dengan upacara sederhana, penanaman pohon dan open house/field trip interaktif bagi siswa SD-SMU. ''Ini sesuai

konsep PDAM Tirta Kahuripan yakni action, education, dan reward,'' kata Direktur Utama PDAM Tirta Kahuripan Ina Gustina Agoes. Ia menyatakan peringatan Hari Air Dunia merupakan kesempatan yang tepat bagi PDAM untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya memperbaiki kebiasaan dalam memperlakukan air. Ia menyebut perilaku buruk

tersebut seperti membuang sampah ke sungai, menebang pohon secara liar, dan pemborosan pemakaian air. ''Membuang sampah dan limbah ke sungai mempersulit PDAM dalam pengolahan air menjadi air bersih. Tingkat kesulitan yang tinggi berdampak pada kenaikan biaya pengolahan dan operasional,'' katanya dalam sambutan Hari Air Dunia yang dilaksanakan di Cibinong Bogor, Jawa Barat. Karenanya, Ina mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk turut serta bersama-sama mengamankan upaya yang arif dan bijaksana dalam mendayagunakan, melestarikan, dan mengamankan sumber daya air. Menurutnya, setiap individu perlu merenungkan kembali air penting air sebagai sumber kehidupan. (MJ)

20

Percik

April 2006

S E P U TA R A M P L

Misi Supervisi WSLIC 2 ke Ponorogo dan Kediri


alam rangka mengetahui kondisi proyek Water and Sanitation for Low Income Community (WSLIC) 2, Bank Dunia bersama instansi terkait mengadakan misi supervisi ke dua kabupaten yakni Ponorogo dan Kediri di Jawa Timur pada 14-17 Februari 2006. Pada saat bersamaan, misi serupa juga berlangsung di Jember-Lumajang (Jawa Timur), Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan. Ponorogo Tim berkunjung ke Desa Mrican, Kec. Jenangan dan Desa Pomahan, Kec.Pulung. Kedua desa ini dipilih berdasarkan proses yang dilalui. Mrican masih dalam tahapan proses, sedangkan Pomahan memasuki masa pasca proyek. Desa Mrican menerima proyek WSLIC 2 pada tahun 2005 dan saat ini memasuki tahap keempat. Masyarakat membangun sarana air bersih sistem perpipaan dengan sumber air berupa mata air. Air disedot dari dalam tanah menggunakan pompa air. Seluruh sarana telah terbangun dan berfungsi. Jaringan pipa utama telah ditanam di sepanjang jalan desa. Tahap berikutnya, warga akan membangun jaringan pipa ke rumah-rumah. Air bersih ini akan melayani 397 kepala keluarga (KK) atau 1.985 jiwa dari 1.209 KK (4.163 jiwa) yang ada di desa tersebut. Sebelum proyek ini masuk sebagian masyarakat setempat-kalangan sedang dan kaya-sebenarnya telah memperoleh air PDAM. Hanya saja menurut warga airnya tidak lancar dan sering mati. Sebagian warga lainnya, terutama yang miskin, mendapatkan air dari

selokan/kali yang mengalir di desa tersebut. Sebelum diminum air tersebut biasanya didiamkan dulu satu malam karena sangat keruh dan berwarna kecoklatan. Kendati sudah memasuki tahap terakhir, namun warga belum memiliki rencana siapa yang akan mengelola dan berapa kontribusi tiap pengguna. Tapi sudah ada angan-angan untuk menggunakan meteran air sebagai alat ukur pemakaian air. Masih menjadi persoalan saat ini adalah status (legalitas) tanah sumber air. Tanah tersebut merupakan milik Perhutani. Dulu warga pernah meminta izin Perhutani tapi bukan pada petak yang sekarang dibangun sumur pompa. Sementara itu di Desa Pomahan, proyek WSLIC 2 telah diserahkan. Kondisi bangunan fisik cukup baik. Sarana air dengan sistem perpipaan gravitasi ini masih berfungsi. Sumber air pun lancar sehingga banyak air yang terbuang sesampai di rumah warga karena tidak menggunakan kran. Setiap kepala keluarga dikenai iuran sebesar Rp. 2.500. Pengelolanya adalah BUMD Tirto Ajii. Pengelolaan ini menyatu dengan takmir masjid desa. Pengurus BUMD tidak dibayar alias kerja sukarela. Menurut pengurus, iuran warga yang terkumpul habis untuk biaya pemeliharaan. Bahkan pada musim hujan, iuran tak mencukupi karena ada sumber air yang keruh pada musim hujan. Namun partisipasi warga cukup baik dalam memelihara sarana. Mereka siap bergotong royong jika diperlukan.

Kediri Seperti halnya di Ponorogo, dua desa yang dipilih mewakili desa yang sedang dalam proses proyek dan desa pascaproyek. Desa Banaran, Kec. Kandangan mewakili desa pascaproyek dan Desa Wonorejo Trisulo, Kec. Plosoklaten mewakili desa yang sedang dalam tahap proses. Proyek WSLIC 2 masuk ke Desa Banaran pada tahun 2003. Usai diserahkan kondisi bangunan sarana masih cukup baik dan terpelihara hingga musibah menimpa salah satu sumber air pada 24 Januari 2006. Kini pelanggannya menggunakan sumber air darurat dengan debit sangat kecil dan kotor. (Baca selengkapnya dalam rubrik Kisah). Sementara di Desa Wonorejo Trisulo, warga membangun sarana air bersih sistem perpipaan. Sumber air diambil dari sungai yang letaknya lebih dari 2 km dari desa. Sarana yang dibangun sangat baik. Bahkan pipa tersebut dibangun membelah bukit. Semua dikerjakan secara gotong royong. Para wanita pun ikut gotong royong menggali lubang pipa. Kini pembangunan sarana fisik yang berat telah selesai. Tahap berikutnya adalah pemasangan pipa ke rumah. Air menjadi persoalan serius di tempat ini. Karena lokasi sumber air sangat jauh, tak jarang warga terpaksa membeli air. Padahal harganya cukup mahal. Sedangkan sumur gali cukup dalam. Saat ini warga sudah bisa menikmati air bersih dari hidran umum yang dibangun di beberapa sudut desa. Masih menjadi kekhawatiran warga ke depan adalah kondisi sumber air. Sumber air ini berasal dari sungai aliran lahar dari Gunung Kelud. Bila sewaktu-waktu ada bencana gunung meletus, dapat dipastikan sumber air akan hancur. (MJ)

Percik

April 2006

21

S E P U TA R W A S P O L A

Lokakarya Nasional Konsolidasi dan Pemasaran Rencana Kerja Pokja AMPL Daerah
okakarya Nasional Konsolidasi dan Pemasaran Rencana Kerja POKJA AMPL Daerah berlangsung 13-15 Maret 2005 di Bali. Lokakarya ini dihadiri oleh utusan dari tujuh propinsi serta 25 kabupaten/kota yang menjadi daerah implementasi Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) Berbasis Masyarakat (BM). Acara ini di dibuka oleh Nugroho Tri Utomo dari Bappenas dan Russel Abram dari WASPOLA. Nugroho menjelaskan, pencapaian implementasi kebijakan di daerah telah menghasilkan pengalaman yang berharga. Proses tersebut akan dilanjutkan dengan menyusun rencana kerja tahun 2006 serta memperluas wilayah ke daerah lain. Sedangkan Russel mengatakan WASPOLA 1, selama 5 tahun pertama, memfokuskan pada penulisan/perumusan kebijakan yang kemudian menghasilkan Kebijakan Nasional AMPL Berbasis Masyarakat. Selanjutnya WASPOLA 2 memfokuskan pada implementasi kebijakan nasional AMPL BM di daerah. Saat ini kegiatan itu dilaksanakan pada 7 propinsi dan 25 kabupaten/kota. Sementara itu, Basah Hernowo, Direktur Perumahan dan Permukiman, Bappenas dalam sambutannya menyampaikan bahwa Kebijakan Nasional AMPL BM dirumuskan sebagai wujud kepedulian pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pelayanan AMPL yang berkelanjutan. Kebijakan ini meliputi 11 prinsip kebijakan yang menjadi acuan pelaksanaan guna merealisikan terwujudnya keberlanjutan dan manfaat optimal dari

Harus ada penggalian peluang-peluang dari berbagai sumber, seperti masyarakat pengguna, swasta, dan bahkan donor atau lembaga bantuan asing.
sarana AMPL yang dibangun. Menurutnya, banyak pelajaran yang dapat dipetik selama kegiatan yang telah dilaksanakan oleh masing-masing propinsi dan kabupaten dampingan WASPOLA pada tahun 2005. Ia berharap pelajaran-pelajaran itu bisa diambil hikmahnya untuk merumuskan rencana kegiatan di tahun 2006 ini. Hasil lain yang membanggakan, lanjutnya, yakni ternyata daerah mampu menyusun rencana strategis AMPL di daerah. Bahkan beberapa daerah telah melakukan kalkulasi pembiayaan sektor AMPL untuk mencapai MDGs. Ia mengungkapkan, untuk mencapai MDGs, yaitu melayani separuh penduduk yang belum mendapat pelayanan,

perlu dana sangat besar. Menurut perkiraan perlu 43 trilyun sampai tahun 2015, atau 4,3 trilyun rupiah per tahunnya. Dana yang demikian besar tidak akan mampu dipenuhi oleh pemerintah sendiri. Oleh karena itu, lanjut Basah, harus ada penggalian peluang-peluang dari berbagai sumber, seperti masyarakat pengguna, swasta, dan bahkan donor atau lembaga bantuan asing. Lokakarya itu diisi presentasi hasil kegiatan 2005 dan rencana kegiatan 2006 di daerah. Dari evaluasi kegiatan di daerah dapat disimpulkan bahwa setiap daerah memahami pentingnya pendataan AMPL. Terungkap pula dalam diskusi akan pentingnya pendataan secara rutin. Pokja AMPL sendiri telah berkoordinasi dengan BPS untuk memasukkan beberapa variabel dalam Susenas 2007. Selain itu hampir semua daerah telah memprioritaskan sektor AMPL dalam pembangunan daerah, walaupun anggaran untuk AMPL masih kecil. Oleh karena itu perlu dibangun komitmen untuk meningkatkan anggaran AMPL mengigat masih rendahnya cakupan layanan AMPL. (Mat)
FOTO:HARDIYANTO

22

Percik

April 2006

S E P U TA R W A S P O L A

Pelatihan Kampanye Bebas BAB Sembarangan


elatihan Total Sanitation Campaign (TSC) (Kampanye bebas buang air besar/BAB sembarangan) berlangsung 1-4 Pebruari 2006 di Kebumen, Jawa Tengah. Pelatihan ini difasilitasi oleh Plan Indonesia dan WASPOLA. Acara ini diikuti oleh 42 peserta dari kalangan LSM, POKJA AMPL Daerah, POKJA AMPL Pusat (Dep. PU, Depkes, Depdagri, Bappenas), dan Biro Pusat Statistik (BPS). Acara ini dibuka oleh Oswar Mungkasa dari Direktorat Perumahan dan Permukiman, Bappenas. Ia menekankan pentingnya pengembangan sarana dan prasarana sanitasi dan air bersih dalam rangka mencapai target Millennium Development Goals (MDGs). Pelatihan ini bertujuan untuk memperkenalkan pendekatan dan teknik

yang dipakai oleh Plan Indonesia dalam menerapkan sanitasi dan penyehatan lingkungan berbasis masyarakat. Pelatihan itu diberikan dalam bentuk diskusi di kelas dan praktek/kunjungan lapangan. Pendekatan yang dilakukan dalam TSC ini yaitu (i) sanitasi dan kesehatan melalui teknik pemasaran sosial (social marketing technique); (ii) membangun ikatan moral antara masyarakat dan pemerintah daerah untuk menghentikan buang air besar sembarangan dan melindungi sumber air minum; (iii) membantu pengembangan keahlian pemerintah setempat, organisasi masyarakat dan individual untuk mendukung konstruksi jamban dan proses perlindungan lingkungan lainnya; (iv) memperkenalkan praktek kesehatan lingkungan

yang akan membantu perbaikan kesehatan lingkungan; dan (v) mendukung masyarakat dalam melakukan pengawasan sistem untuk keberlanjutan program sanitasi dan kesehatan lingkungan. Peserta mengunjungi dua desa yakni Desa Balorejo yang belum tersentuh oleh program TSC dan Desa Selotumpeng dimana masyarakatnya telah menerapkan perilaku hidup sehat yaitu dengan membuang air besar pada jamban yang telah dibangun atas bantuan Plan Indonesia dan swadaya masyarakat sendiri. Dengan pelatihan ini diharapkan peserta dapat melihat, menganalisa, memperbaiki, dan kemudian menerapkan program sanitasi dan penyehatan lingkungan yang lebih baik di daerah kerja masing-masing. (GUS/Riz)

Lokakarya Pengembangan Strategi Kebijakan

alam rangka menyepakati strategi implementasi pelaksanaan kebijakan pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan berbasis masyarakat, sebuah lokakarya diadakan di Jakarta pada Rabu, 25 Januari 2006. Acara ini dihadiri oleh 33 peserta dari instansi terkait yakni Bappenas, Dep. PU, Depdagri, Depkes, Pokja AMPL Pusat, dan WASPOLA. Lokakarya yang juga dimaksudkan untuk mengembangkan kerangka monitoring dan evaluasi ini dibuka oleh Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas, Basah Hernowo. Lokakarya ini menghasilkan beberapa hal di antaranya sembilan propinsi menjadi ajang pelaksanaan kebijakan pada 2006 yakni Sumatera Barat, Banten, Jawa Tengah, NTB, Sulsel, Gorontalo, Sulawesi Tenggara dan NTT. Sedangkan untuk proses fasilitasi, pelaksanaannya akan disesuaikan dengan strategi pembangunan AMPL propinsi

FOTO: POKJA AMPL

dan gugus kerja AMPL propinsi. Pada acara ini WASPOLA dan Pokja AMPL Pusat memaparkan agenda kerjanya dalam rangka pelaksanaan kebijakan. Agenda itu mencakup lokakarya nasional konsolidasi hasil pelaksanaan kebijakan tahun 2005, lokakarya diseminasi kebijakan untuk daerah baru dalam rangka peminatan pelaksanaan kebijakan tahun 2006, penilaian kebutuhan daerah/propinsi dalam rangka pe-

laksanaan kebijakan, layanan penguatan kapasitas melalui paket-paket pelatihan dan lokakarya yang akan difasilitasi WASPOLA, bantuan teknis di tingkat propinsi dan kabupaten sesuai permintaan, monitoring dan evaluasi, dan pertemuan koordinasi dalam rangka review pelaksanaan kebijakan di tingkat regional yang salah satu pertemuan tersebut akan dilakukan di tingkat nasional dalam Water Day Forum dengan mengundang berbagai pihak. Sebagai tindak lanjut pelaksanaan lokakarya ini akan dilakukan penyempurnaan kerangka monitoring berdasarkan masukan peserta dilengkapi dengan tolok ukur kinerjanya, sinkronisasi rencana kegiatan WASPOLA dengan Pokja AMPL sehubungan dengan kegiatan-kegiatan lainnya dan juga pengajuan proposal kegiatan yang akan dibiayai oleh Plan International oleh semua departemen termasuk WASPOLA. (GUS)

Percik

April 2006

23

ABSTRAK

Pemberdayaan Masyarakat Dalam Penyediaan Air Bersih di Perdesaan

ir merupakan kebutuhan dasar bagi manusia. Namun sayangnya penyediaannya belum merata sesuai kebutuhan. Saat ini diperkirakan lebih dari 100 juta penduduk Indonesia belum memiliki akses yang memadai dalam pelayanan air minum. Sebagian terbesar masyarakat miskin dan tinggal di perdesaan. Pemerintah telah berupaya membangun sarana air bersih dan penyehatan lingkungan di era 70-an sampai 90-an. Tapi karena tingkat keterlibatan masyarakat rendah, sarana yang dibangun tak berkelanjutan. Oleh karena itu kini dikembangkan pendekatan tanggap kebutuhan dengan melibatkan masyarakat dalam seluruh aspek perencanaan, pelaksanaan, dan pemeliharaan. Penelitian ini bertujuan meningkatkan persediaan air bersih di perdesaan secara berkesinambungan dan digunakan secara efektif di masyarakat serta merumuskan model pemberdayaan dalam penyediaan air bersih tersebut. Penelitian berlangsung di RT 06 dan 07 RW 06 Desa Cijayanti, Kec. Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kajian dilaksanakan dalam tiga tahap yakni praktek lapangan I (5-18 Juni 2003), praktek lapangan II (8-20 September 2003), dan kerja lapangan 1-17 Nopember 2004). Metode partisipatori yang digunakan yakni MPA/PHAST. Kedua RT tersebut mengalami

FOTO: MUJIYANTO

Pemerintah telah berupaya membangun sarana air bersih dan penyehatan lingkungan di era 70-an sampai 90-an. Tapi karena tingkat keterlibatan masyarakat rendah, sarana yang dibangun tak berkelanjutan.
kesulitan air bersih setiap musim kemarau. Sebanyak 51,68 persen dari 567 penduduknya tergolong miskin. Lokasi desa mereka terletak di atas lapisan batuan keras dan pasir sehingga kurang baik dalam menyimpan air tanah dalam waktu lama. Di sisi lain terjadi pengambilan bahan

galian untuk bangunan di daerah hulu sungai, penebangan pohon, dan pengambilan air bawah tanah oleh perusahaan pengembangan perumahan mewah yang melebihi daya serap tanah. Warga memperoleh air dari 'kobakan' yakni kolam dengan sumber air dari mata air yang dibangun oleh warga pada tahun 1988 dengan kontribusi per KK sebesar Rp. 10.000-Rp. 15.000. Kondisinya kurang bersih. Bila tidak ada hujan, kobakan berkurang airnya sehingga warga mencari air dari Sungai Cikeas. Menghadapi kondisi itu, masyarakat kemudian difasilitasi untuk mengatasi persoalannya. Mereka ini terdiri atas orang-orang yang berpengaruh di kedua RT baik laki-laki

24

Percik

April 2006

ABSTRAK

maupun perempuan. Kegiatan komunitas ini dilaksanakan melalui lokakarya atau musyawarah (istilah warga) sebagai forum untuk mempresentasikan hasil kerja warga berupa identifikasi dan rencana kerja. Warga mengusulkan membangun sarana air bersih

berupa penyaringan dan pemanfaatan air sungai. Mereka juga telah membuat rincian kegiatan kelompok kerja dan rincian kebutuhan dana dari perencanaan hingga pemeliharaan. Usulan warga kemudian disahkan oleh Kepala Desa

dan Camat dan selanjutnya disampaikan kepada Pemda Kab. Bogor dan instansi terkait. Dari penelitian ini didapatkan model pemberdayaan masyarakat dalam penyediaan air bersih di perdesaan, yakni:

TAHAP PENYIAPAN 1. Mempersiapkan isu-isu 2. Perizinan 3. Tinjauan gambaran umum komunitas (lokasi, kependudukan, sumberdaya lokal, ekonomi, struktur komunitas, kelembagaan) 4. Tinjauan pengembangan komunitas dalam penyediaan air bersih 5. Menyusun rencana kerja lapangan dan persiapan

TAHAP PENGKAJIAN 1. Seleksi peserta bersama pemuka masyarakat 2. Identifikasi situasi dan kondisi secara partisipatif (penentuan tingkat kesejahteraan komunitas, penggunaan air, kondisi sumber air, pemahaman sarana dan perilaku hidup sehat, pola penggunaan waktu) 3. Analisis situasi dan kondisi

TAHAP PERENCANAAN KEGIATAN (PARTISIPATIF) 1. Pemilihan jenis sarana air bersih 2. Pembentukan kelompok kerja (pokja) 3. Pembuatan peta rencana penempatan sarana air bersih 4. Penyusunan rencana biaya pembangunan 5. Penyusunan rencana kegiatan pokja

TAHAP FORMULASI RENCANA AKSI 1. Penyusunan proposal 2. Lokakarya (partisipatif) 3. Pengajuan proposal kepada penyandang dana

TAHAP PELAKSANAAN (PARTISIPATIF) Melaksanakan rencana kegiatan pokja

Tahap Terminasi

Monitoring dan evaluasi (partisipatif)


Disarikan dari Tesis: Pemberdayaan Masyarakat Dalam Penyediaan Air Bersih di Perdesaan. Karya: Pipip Rif'ah. Sekolah Pascasarjana IPB. 2004

Percik

April 2006

25

I N O VA S I

Instalasi Penjernih Air (IPA) Air Mandiri

ermodal wadah dan pasir, air bisa diolah menjadi air bersih (clean water) dan bebas dari pathogen/kuman penyakit? Why not? Ini sudah dibuktikan oleh Ir. Irman Djaya, Dipl. SE, M.Eng, pegawai Departemen Pekerjaan Umum. Instalasi penjernih air ini dinamakan Air Mandiri. Inovasi ini telah digunakan di Perumahan Citra Raya Tangerang sejak tahun 1997 dan masih berfungsi hingga kini. Perangkat ini menggunakan prinsip Slow Sand Filtration (SSF) atau kalau di Indonesia dikenal sebagai Saringan Pasir Lambat (SPL). Kunci keberhasilan perangkat ini ada tiga hal yakni (1) angka kekeruhan air baku sekitar 50 NTU; (2) kecepatan aliran melewati pasir 0,03-0,1 mm/detik; dan (3) butiran pasir berdiameter lebih kecil dari 0,5 mm. Secara umum, proses yang terjadi di dalam wadah saringan pasir adalah pemisahan fisik, pengendapan, penyerapan, oksidasi (biochemical) dan aktivitas bakteriologis. Sedangkan secara spesifik, SPL ini menjadi tempat aktivitas mikroorganisme yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga hidup dominan di dalam wadah. Bakteri ini berfungsi sebagai pembunuh bakteri pendatang, berkembang dan tumbuh di permukaan pasir membentuk layer yang dikenal dengan sebutan Schmutzdecke-sesuai nama penemunya. Perangkat alat ini menggunakan filosofi handal, murah, dan mudah dioperasikan, serta dapat dikelola secara berkelanjutan. Dengan demikian, alat ini cocok untuk digunakan di daerah perdesaan yang mempunyai fluktuasi tingkat kekeruhan sumber air baku yang tinggi, sebagaimana umumnya tipikal kualitas air permukaan di tanah air.

Sistem SPL ini terdiri atas sumuran infiltration galleries, tangki oksidasi, RSF (Saringan Pasir Cepat), SPL, dan reservoir air minum. Sumuran infiltration galleries berfungsi untuk mengurangi angka kekeruhan (lebih dari 100 NTU). Sistem ini tidak langsung mengambil air baku di badan air, tapi melalui sumuran yang dibangun di dekat badan air. Dari sumuran ini air kemudian dipompa atau menggunakan gaya gravitasi dialirkan ke tangki oksidasi. RSF berfungsi sebagai pelindung (preliminary treatment). Sedangkan SPL berfungsi meningkatkan kualitas air menjadi air minum higienis. Penjernih air ini telah disiapkan oleh Irman dengan sistem knock down, jadi tinggal pasang. Bahannya berupa fibre-glass reinforced plastic (FRP). Pemasangannya pun cukup mudah dan membutuhkan waktu kurang dari 10 hari. Model rancang bangun ini juga dimaksudkan untuk mengantisipasi keperluan jangka panjang yakni IPA bisa dipindahkan dan dilepas jika diperlukan. Berdasarkan hasil laboratorium, air yang dihasilkan oleh IPA Air Mandiri ini memenuhi persyaratan standar air minum sesuai Permenkes RI No. 907/Menkes/SK/VII/2002. Hal ini ditunjukkan dengan hasil tes sebagai berikut (lihat tabel di bawah). Harga perangkat penjernih air ini dibandingkan dengan IPA Pengolahan Lengkap lebih murah sekitar 40 persen. Sedangkan biaya produksi air baku

menjadi air minum terbukti murah hanya Rp. 37 per meter kubik (termasuk faktor upah, biaya tak terduga, dll). Ini jauh lebih kecil dibandingkan biaya produksi air PDAM sekitar Rp 1.000 per meter kubik, atau air kemasan Rp. 125.000 per meter kubik. Selain itu pengelolaannya pun cukup mudah, hanya perlu dua orang tanpa spesifikasi pendidikan tertentu. IPA Air Mandiri ini pun bisa dirancang sesuai kapasitas produksi yang diinginkan mulai dari 0,25; 0,5; 1; 2,5; 5; dan 10 liter per detik. Ini tergantung pada alokasi pembiayaan dan sumber air baku yang ada (sungai, rawa, danau, kolam/embung). Untuk kapasitas 1 liter per detik dibutuhkan lahan seluar 40 meter persegi. Kapasitas ini mampu melayani 1.000 jiwa dengan tingkat konsumsi 60 liter per orang per hari. Air yang dihasilkan langsung bisa diminum tanpa dimasak. Mau coba? (MJ)
FOTO:MUJIYANTO

KARAKTERISTIK AIR

BAKU

HASIL OLAHAN
: : : : : 28,5 2,55 positif 88 159 0,78 0,05 negatif 0 0

STANDAR DEPKES
5 0,3 negatif 0 0

Angka kekeruhan (NTU) Kadar besi (Fe) mg/lt Kandungan Coliform Escherichia coli Angka kuman/mm

26

Percik

April 2006

WAWA S A N

Air Tanah: Sumber Daya yang Merana

erita mengenai air tanah kembali mencuat seiring dengan diadakannya simposium Internasional Ekohidrologi di Bali akhir November lalu. Dua bulan sebelumnya, ada sebuah Lokakarya Nasional Penyelamatan Air Tanah dalam rangka menyambut gayung Hari Penyelamatan Air Nasional yang pencanangannya oleh Presiden Yudhoyono. Artinya adalah air tanah menjadi permasalahan yang cukup pelik seiring dengan makin 'langkanya' ketersediaan air baik untuk hidup (minum) maupun penyangga kehidupan (irigasi, perindustrian, dan lain-lain). Permasalahan air sebenarnya tidak pada ketersediannya. Bumi mempunyai jumlah air yang hampir sama dari sejak zaman dinosaurus. Sebanyak 97 persen berupa air laut. Hanya sekitar tiga persen yang berupa air tawar, di mana dua pertiga-nya masih berbentuk es (National Geogragphic Special Edition, November 1993). Namun demikian, saat ini dirasakan 'seolah-olah' keberadaan air bersih semakin berkurang atau langka. Dari data BPS, terlihat ragam sumber air yang dipergunakan oleh masyarakat :
Tahun Air Permukaan* (%) 2000 tad 2002 21,64 2004 21,49 Air Tanah** (%) 61,32 75,17 76,04 Air Hujan (%) tad 2,79 2,66

Oleh: Gustomi R*
Kualitas dianggap lebih bagus dibanding air permukaan seperti sungai. Minimal untuk ukuran kejernihan. Lebih murah biaya operasionalnya. Cukup membayar listrik untuk pompa air, walaupun sekarang peraturan perundangannya sudah mulai mensyaratkan adanya retribusi untuk air tanah. Sedangkan untuk biaya investasinya bisa kurang lebih sama dengan sistem perpipaan, tergantung kedalaman sumuran yang akan digunakan. Sifatnya on-site, artinya di manapun tanah digali kemungkinan besar akan didapat sumber air. Kepraktisan pengurusan administrasi, artinya tidak perlu ada daftar tunggu. Hal ini bisa menjadi peluang bagi upaya pencapaian MDG's untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap air bersih secara lebih cepat, efisien, dan efektif dalam pengalokasian sumbersumber daya. Namun demikian seiring dengan perubahan lingkungan dan tekanan kependudukan (bukan sekadar tekanan jumlah penduduk), keberlanjutan sumber air- air tanah menjadi menurun baik kualitas, kuantitas, dan kontinyuitasnya. Kondisi Air Tanah Pemakaian air tanah yang terus meningkat akan menyebabkan penurunan muka air tanah. Di wilayah Jakarta permukaan air tanah mencapai 48 meter di bawah muka air laut, wilayah Bandung mencapai 95 meter, sedangkan Semarang mencapai 28 meter di bawah muka laut. Sementara itu kasus intrusi air laut ke wilayah daratan, di daerah Cikampek

menyebar hingga 26 km. Di daerah Ciasem dan Subang air asin masuk ke daratan hingga 15 km. Di wilayah Indramayu sudah merembes hingga 6 km, sementara di kota Cirebon menyebar hingga 2 km dari pantai ke arah daratan. Di Jakarta, intrusi air laut meningkat baik dari segi kuantitas maupun kualitas kadar klorida-nya. Hampir di sepanjang 1 km dari bibir pantai Jakarta, sumuran yang kurang dari 40 meter kedalamannya sudah berupa air asin. Selebihnya dari itu sepanjang 2 km berikutnya berupa air payau yang juga tak layak bagi sumber air minum. Tak ketinggalan adalah pencemaran dari limbah rumah tangga, seperti pembuatan resapan WC yang tidak memenuhi syarat kesehatan (sumur berjarak 10 meter dari sarana resapan WC atau buangan rumah tangga lain). Survei oleh Departemen Kesehatan tahun 2000 menunjukkan bahwa hampir 45 persen sumber air non-perpipaan (yang kebanyakan bersumber dari air tanah) tercemar oleh bakteri coli. Akibat lebih jauh, sering terjadi land subsidence-permukaan tanah menurun (amblas)-seperti terjadi di sebagian ruas jalan tol Padalarang-Cileunyi (Padaleunyi, Bandung). Hal ini karena daya dukung konstruksi tanah menurun akibat pori antartanah yang sebelumnya diisi air digantikan oleh udara. Apa penyebabnya? Secara sederhana, penyebab itu semua adalah pengambilan air tanah secara berlebihan sehingga muka air tanah menurun. Memasuki otonomi daerah, propinsi tidak mempunyai wewenang untuk membatasi ataupun memberikan izin eksploitasi air tanah. Atas nama penggalian PAD, kadangkala kota/kabupaten mengabaikan pertimbangan lingkungan. Di wilayah Jakarta,

*Air permukaan : leding dan air sungai **Air Tanah : air kemasan, pompa, sumur, mata air tad : tidak ada data

Terlihat bahwa sebagian besar sumber minum berasal dari air tanah. Pemakaian dari tahun ke tahun pun cenderung meningkat. Ada beberapa keuntungan, mengapa masyarakat kebanyakan menggunakan sumber dari air tanah:

Percik

April 2006

WAWA S A N
FOTO:ISTIMEWA

sepanjang 5 tahun dari 1998-2003, terjadi peningkatan eksploitasi air tanah hingga 38 persen, dari 16,8-23,2 juta m3/tahun. Hal yang sama terjadi pula di kota besar lainnya seperti Bandung, yang mencapai 21 persen. Data itu diambil dari sumuran yang terdaftar di dinas pertambangan setempat, belum termasuk sumur ilegal yang dibangun oleh rumah tangga maupun oleh industri. Jika dirunut lebih jauh penyebab utamanya adalah tekanan kependudukan, termasuk peningkatan jumlah penduduk, urbanisasi, perubahan sosial (kemiskinan dan gaya hidup). Peningkatan jumlah penduduk secara otomatis akan mendorong 'demand' atas kebutuhan-kebutuhan dasar. Urbanisasi menyebabkan tekanan atas pemanfaatan lahan sekaligus pemicu proses pemiskinan di perkotaan dan pengurasan sumber daya alam yang terbatas dan sempit di perkotaan. Sementara masalah kemiskinan sendiri membatasi orang untuk mengakses sumber kehidupan yang layak (air minum, perumahan, dan pangan) sehingga makin menekan sumber daya alam. Satu lagi adalah perubahan sosial alias gaya hidup oleh akibat kenaikan pendapatan maupun pendidikan. Sebagai perbandingan untuk pemakaian air di perkotaan mencapai 132 liter/orang/hari sementara di perdesaan hanya mencapai 25 liter/orang/hari. Perbedaan tersebut mencapai 5 kali lipat, artinya setiap kenaikan urbanisasi 1 persen akan meningkatkan laju konsumsi air 5 persen. Dengan demikian, perlu langkah yang lebih efektif dalam setiap kebijakan untuk memperhatikan masalah gaya hidup ini. Penyebab 'hulu' dari over-exploitation atas air tanah selanjutnya yaitu kebijakan massalisasi produk-produk kebutuhan hidup berupa industrialisasi (termasuk pertanian, perkebunan, penambangan, dan pariwisata) yang tidak memperhatikan kondisi lingkungan. Proses ini adalah terjemahan atas besaran-besaran kependudukan sebelumnya. Misalnya adalah berapa kon-

sumsi beras yang harus disediakan, energi yang harus tersedia (minyak dan gas yang harus ditambang), lahan kelapa sawit yang dibuka, jumlah industri pendukung yang perlu dibangun, dan lain sebagainya. Semua seperti rantai tak terlihat yang mengaitkan komponen-komponen tersebut untuk beraksi dan bereaksi terhadap setiap perubahan kependudukan. Air sebagai basis pendukung utama dalam aktivitas itu menjadi ikut tertekan keberadaannya. Apa yang perlu dilakukan? Sebelum membahas lebih jauh mengenai tindakan yang perlu dilakukan untuk konservasi air tanah, ada baiknya kita coba menengok variabel apa saja yang berpengaruh dalam penilaian suatu kondisi air tanah. Lapisan tanah pengandung air sering disebut akifer. Sementara ada lapisan tanah yang sangat rendah kandungan airnya (bahkan tidak ada) disebut akuiklud, seperti tanah lempungan dan batuan keras. Di antara keduanya masih ada kategori transisi disebut akuitard. Dalam tiap bahasan air tanah, biasanya yang dibicarakan adalah akifer ini. Ada tiga jenis akifer, yaitu:

1. Akifer tertekan. Akifer ini di atas dan di bawahnya dibatasi oleh lapisan impermeabel (tak tembus air). Dengan demikian perilakunya dapat diidentikkan dengan aliran dalam pipa. Kedalamannya dari 40 m hingga bisa mencapai ratusan meter. Akifer ini mengalir berdasar perbedaan tekanan pizomtris antarsegmen wilayah. 2. Akifer tak tertekan. Akifer ini mempunyai permukaan air bebas mengikuti kontur tanah yang didiaminya. Aliran ini dapat dibandingkan dengan aliran pada saluran terbuka (sungai, kanal). Kedalamannya biasanya tak lebih dari 40 m dari muka air tanah. Akifer ini mengalir berdasar perbedaan ketinggian muka air (mengikuti kontur tanah). 3. Akifer semitertekan. Kondisinya seperti akifer tertekan hanya saja lapisan yang membatasinya lebih tidak impermeabel. Akifer ini dapat divisualisasikan seperti aliran air pipa dengan dinding berpori. Jika akifer ini digambarkan potongan melintang dua dimensi, akan nampak seperti air dalam pipa yang mengalir oleh perbedaan tekanan. Namun jika digambarkan tiga dimensi, akifer ini

Percik

April 2006

WAWA S A N

(terutama tertekan dan semitertekan) seperti sebuah danau besar dalam tanah, meluas dan melebar. Sistem akifer inilah yang sering disebut cekungan (basin). Misalnya yang terkenal di Indonesia adalah Cekungan Bandung. Cekungan ini mempunyai luas 1.730 km2. Dengan curah hujan rata-rata 2.478 mm/tahun, air hujan yang masuk ke dalam tanah sekitar 8,6 persen (213 mm/tahun), maka jumlah air yang masuk (imbuhan) ke dalam tanah sekitar 368,5 juta m3/tahun. Ada tiga parameter utama untuk mengukur kemampuan sebuah akifer, yaitu: koefisian kelulusan (K) adalah kemampuan akifer untuk meluluskan air melalui suatu penampang akifer seluas 1 m2 di bawah landaian hidrolika 100 persen (vertikal). Kapasitas jenis (Qs) adalah debit air yang dapat diperoleh setiap penurunan permukaan air tanah sepanjang satu satuan panjang pada satu sumur yang dipompa hingga akhir periode pemompaan. Tebal akifer (D) atas potongan melintang. Paramater inilah yang secara alami menentukan produktivitas sebuah akifer. Namun secara fisik, ketiga parameter ini diwujudkan oleh morfologi, stratrigrafi, dan struktur geologi, yang disebut sebagai kontur hidrogeologi. Sedangkan tolok ukur umum untuk menentukan kondisi eksisting sebuah akifer adalah dengan melihat ketinggian muka air tanah (MAT). Sementara proses campur tangan manusia yang mempengaruhi kondisi suatu akifer adalah: 1. Tata guna lahan yang akan menentukan imbuhan terhadap air tanah. Perubahan lahan berupa pemadatan dan blocking tanah akan mengurangi imbuhan. Untuk akifer tak tertekan relatif dipengaruhi langsung oleh kondisi lahan tanah dan curah hujan di atasnya. Sementara untuk akifer tertekan ditentukan oleh kawasan im-

buhan (recharge area) yang lokasinya biasanya di topografi yang lebih tinggi (pegunungan, bukit, dan sejenisnya) di mana tekanan pizomtrisnya kemungkinan lebih besar sehingga membentuk aliran air tanah tertekan. Misalnya untuk Cekungan Bandung, recharge area meliputi wilayah Lembang (Gunung Tangkuban Perahu bagian selatan), kawasan Bandung Utara, Bukit Jarian, Majalaya, hingga Soreang. Perubahan lahan di kawasan ini otomatis akan mempengaruhi ketersediaan air tanah akifer tertekan di wilayah Bandung dan sekitarnya.

Urbanisasi menyebabkan tekanan atas pemanfaatan lahan sekaligus pemicu proses pemiskinan di perkotaan dan pengurasan sumber daya alam yang terbatas dan sempit di perkotaan. Sementara masalah kemiskinan sendiri membatasi orang untuk mengakses sumber kehidupan yang layak.

2. Debit pengambilan air tanah, adalah volume air yang diambil tiap satu satuan waktu. Seperti diketahui pengambilan air tanah di beberapa kota besar dilakukan besar-besaran terutama oleh industri. 3. Lama waktu pengambilan air tanah. Pengambilan air tanah akan otomatis menurunkan muka air tanah. Makin lama waktu pengambilan, laju penurunan makin cepat. Pengambilan yang terus menerus (continue) artinya tidak memberi kesempatan sebuah sumuran untuk memulihkan ketinggian muka air tanahnya (recovery). Lebih jauh lagi, energi untuk pengambilan air tanah yang terus menerus akan makin tinggi juga. 4. Kerapatan sumuran dalam satu luas wilayah. Hal ini sangat mempenga-

ruhi laju penurunan muka air tanah dan akifer dalam satu satuan luas untuk punya kesempatan me-recovery diri. 5. Kedalaman sumuran pada sebuah akifer. Makin banyak sumuran yang mengambil air pada satu lapis akifer, akan memacu laju penurunan muka air tanah. 6. Desain teknis penempatan saringan pompa di akifer dan jenis pompa yang dipakai (kapasitas head dan debit pompa). Dengan pengertian seperti ini, dapat ditentukan langkah-langkah pengelolaan air tanah secara teknis guna menjamin kesinambungannya. Ada tiga hal yang perlu dilakukan dalam kerangka konservasi air tanah (KEPMEN ESDM NO_1451 K-10-MEM-2000): Memaksimalkan imbuhan (dengan membuat sumur resapan dan penentuan konservasi untuk kawasan imbuhan-recharge area) Pengaturan dan perizinan pengambilan air tanah (memperketat pengeluaran izin baru untuk pengambilan air tanah, izin pengambilan air tanah meliputi: masa berlaku, besarnya debit, dan kedalaman sumur; menetapkan pajak/retribusi; dan memberi rekomendasi dan saran teknis tentang kedalaman pengambilan air tanah. Perlindungan air tanah (disain tangki septik yang aman dan sehat, pengaturan buangan industri ke tanah) Namun demikian perlu diperhatikan langkah-langkah tersebut dalam implementasinya. Sebagai contoh adalah proses perizinan pengambilan air tanah. Dalam izin ini akan dicantumkan besaran debit optimum yang boleh diambil di sumuran tersebut yang ditentukan dari uji pemompaan. Namun, dengan melihat 6 faktor campur tangan manusia di atas, setiap perubahan pada faktor-faktor tersebut 'harusnya' secara otomatis akan mempengaruhi pengambilan air. Logikanya, jumlah sumuran yang bertambah banyak sementara kapasitas imbuhan dianggap tetap (wa-

Percik

April 2006

WAWA S A N

lau kenyataannya bahkan berkurang), debit optimum dari tiap sumuran dalam satu cekungan tentunya berubah, akan berbeda besarannya. Nah, sayangnya dalam proses perpanjangan izin, tidak dilakukan lagi uji pemompaan guna menentukan debit optimum baru untuk kondisi yang telah berubah ini. Hal seperti ini menjadi titik rawan dari segi teknis. Upaya non-teknis Upaya di atas masih pada level melengkapi peraturan perundangan dan penyusunan kebijakan. Masih perlu tambahan upaya lain seperti program implementasi yang lebih kongkrit, didukung riset yang terarah dan data yang integral dan valid. Selain itu perlu upaya pembelajaran (education) pada seluruh stakeholder. Perlu dilakukan kampanye-kampanye penyadaran dan persuasif untuk melakukan konservasi air tanah. Bahkan kalau perlu dimasukkan dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah (meski tidak harus berwujud dalam mata pelajaran khusus). Hal lain yang masih dinilai kurang adalah upaya penegakan hukum. Berita di media kebanyakan adalah keluhan atas kondisi air tanah yang berubah dan makin sulit. Belum banyak kasus tuntutan di meja hijau atas pelanggaran izin pengambilan air tanah. Dengan melihat kondisi ini perlu upaya penyusunan kerangka strategi yang lebih besar jika dikaitkan dengan pencapaian MDGs. Air tanah tidak bisa terus diandalkan sepenuhnya untuk mendorong pencapaian MDGs jika tidak ada perubahan berarti dalam penanganannya. Sementara jika mengandalkan sistem perpipaan, investasinya terlalu mahal dan laju pertumbuhannya juga kecil. Untuk itu strategi besar ini bisa membangun kerangka yang lebih holistik dan integral, tidak sekadar mengandalkan command and control mechanism (pengawasan dan pembatasan ketat) seperti yang berlangsung selama ini. Sementara pada sisi lain good

FOTO:ISTIMEWA

Perlu dilakukan kampanye-kampanye penyadaran dan persuasif untuk melakukan konservasi air tanah. Bahkan kalau perlu dimasukkan dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah (meski tidak harus berwujud dalam mata pelajaran khusus). Hal lain yang masih dinilai kurang adalah upaya penegakan hukum.

governance di negeri ini masih kurang. Perlu dalam hal ini didorong pendekatan partisipasi masyarakat untuk terlibat dalam proses-proses kebijakan dan program implementasinya. Pelibatan masyarakat akan memberi ruang pengawasan yang lebih luas dan pembelajaran efektif untuk lebih peduli pada kondisi lingkungan sekitar. Selain itu perlu proses-proses kreatif dalam penciptaan insentif dan desinsentif bagi

industri untuk terlibat dalam konservasi lingkungan. Bumi, air, tanah, beserta hewan dan tumbuhan sekadar bereaksi atas perubahan yang menimpa mereka. Polusi, tanah longsor, banjir, kekeringan, dan perubahan iklim adalah proses wajar dari pola evolusi alam dalam menyikapi perubahan. Tidak ada 'sakit hati' di diri mereka atas apa yang menimpa mereka karena bagi mereka kehidupan dan kematian se-wajar manusia makan dan minum. Mereka hanya sedih melihat manusia begitu 'bodoh' melakukan aktivitas kerusakan yang berbuntut menyengsarakan manusia sendiri. Mereka justru menangis ketika menyaksikan manusia berbondong-bondong mengubah gaya perikehidupannya selaras dengan arus destruktif bagi dirinya. Mereka tidak menangisi nasib mereka sendiri, mereka menangisi nasib buruk kita. Betapa sungguh dalam arti solidaritas mereka buat kita.
*Staf Sekretariat Pokja AMPL dan Pegiat dalam Komunitas Periuk Nasi, Yogyakarta

Percik

April 2006

WAWA S A N

Air Untuk Penduduk Miskin Jakarta


Oleh : Riant Nugroho Dwidjowijoto *)
ingga saat ini, sebagian besar warga DKI Jakarta (selanjutnya disebut "Jakarta") yang berpenghasilan rendah, tinggal di kawasan miskin, khususnya di daerah Jakarta Utara dan Jakarta Barat, mempunyai masalah dalam hal ketersediaan air bersih. Terdapat tiga kombinasi masalah air bagi mereka. Pertama, tidak ada jaringan pipa air minum dari PAM Jaya ke setiap rumah, sehingga mereka tidak mempunyai kepastian jaminan pasokan air bersih. Kedua, tidak terdapat substitusi air tanah, mengingat kondisi air tanah di daerah mereka yang tidak memadai kualitasnya (terkena intrusi air laut, sehingga menjadi payau dan cenderung asin). Ketiga, adanya pasar air bersih dengan harga yang sangat mahal, sampai Rp 20.000 per m3 -lebih mahal dari tarif untuk pelanggan termahal di DKI Jakarta, Rp 12.000 per m3. Masalah ini menjadikan kondisi kehidupan masyarakat miskin di Jakarta semakin buruk dan menciptakan masalah kesehatan masyarakat, yang pada gilirannya mengakibatkan bertambahnya biaya publik, baik yang ditanggung oleh masyarakat sendiri, maupun oleh Pemda--melalui subsidi. Metode yang dipergunakan biasanya adalah memberikan bantuan tangki air, yang bukan saja mahal, mempunyai tingkat keausan tinggi, namun juga rawan penyimpangan. Sebenarnya, masih ada pendekatan lain untuk mengatasi masalah ini. Metode ini didasarkan kepada beberapa karakter: murah, mandiri, memberdayakan, dan membangun kebersamaan. Model yang ditawarkan

FOTO: MUJIYANTO

diberi nama sementara PENGELOLA AIR MINUM MANDIRI atau "PAM2". Model PAM2 didasarkan kepada fakta bahwa pada saat ini terdapat 1.196 hidran umum yang sebagian besar dimiliki oleh individu. Hidran-hidran ini pada awalnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan publik yang tidak dapat dijangkau oleh jaringan PAM (biasanya adalah daerah miskin). Pada perkembangan berikutnya, pemilik hidran ini mengomersialkan hidrannya, dengan cara mengambil air di hidrannya dan menjual kepada masyarakat (miskin di lingkungannya) dengan harga sangat mahal, sementara harga beli dari PAM adalah tarif 5A (rendah). Dengan demikian, sebenarnya terjadi "kejahatan publik" yang dilakukan oleh para "pemilik hidran". Pertama, adalah "kepemilikan secara individual" aset publik berupa

hidran. Kedua, produk sosial (air hidran dengan harga sosial) dikomersialisasi melebihi kewajaran dengan memanfaatkan kelangkaan suplai di masyarakat. Ketiga, memanfaatkan volume air dalam jumlah besar dengan memanfaatkan debit yang besar dari hidran (berasal dari pipa sekunder) sehingga merugikan konsumen di sekeliling hidran yang mendapat suplai dari pipa tersier. Keempat, membangun semacam "mafia air" yang menjadikan kehidupan sosial ekonomi di kawasan tersebut tidak cukup sehat. Model yang ditawarkan adalah membangun PAM2 dengan mengubah kepemilikan hidran dan membentuk "hidran" baru. Sembilan Catatan Model kerja dari PAM2 dapat divi-

27

Percik

April 2006

WAWA S A N

sualisasikan seperti berikut ini:

Rumah penduduk

Jaringan pipa hidran Bak penampungan Operator Jaringan pipa

PAM2 Rumah penduduk hidran

Jaringan pipa Jaringan pipa

PAM2

Bak penampungan

Dari gambar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, dari jaringan pipa air minum tersier terdapat hidran (lama) yang mengarah ke kawasan yang miskin. Hidran-hidran ini sebelumnya dimiliki dan dikelola secara individual dan dimanfaatkan untuk kepentingan individu atau belum dipergunakan untuk kepentingan sosial atau kepentingan bersama. Hidran-hidran baru dapat langsung dikelola dalam bentuk milik komunitas. Kedua, kepemilikan hidran (lama) dialihkan dari individu kepada komunitas (RT, maksimum RW). Ketiga, membangun bak penampungan untuk menampung air dari hidran dengan tujuan agar volume air yang disuplai ke kawasan tersebut sesuai dengan keperluan/kebutuhan (bukan sesuai dengan kemauan). Misalnya, jika kawasan tersebut dihuni 100 rumah tangga miskin/sederhana dan setiap rumah tangga memerlukan 10 m3 per bulan, maka maksimum volume yang dipasok ke bak penampungan adalah 1.000 m3 per bulan. Tujuannya agar tidak terjadi komersialisasi baru dari air minum di kawasan tersebut. Dengan demikian, di antara hidran dan bak penampungan disediakan meteran yang sudah dipatok dengan kebutuhan maksimum.

Keempat, dari bak penampungan, dibangun jaringan air minum ke setiap rumah tangga. Jaringan pipa ke rumahrumah tangga dibiayai secara swadaya atau mendapatkan dana dari donor (seperti yang sekarang dalam bentuk grant IBRD/ADB melalui pendekatan Output Based Aid.) Kelima, pada masing-masing rumah tangga diberi pembatas volume agar semua rumah tangga memperoleh suplai air yang sama. Keenam, dibentuk "manajemen pengelolaan air minum" di kawasan tersebut yang diberi nama sebagai Lembaga, Unit, atau Badan, PENGELOLA AIR MINUM MANDIRI (PAM2). Ketujuh, PAM2 dikelola oleh seorang "manajer" yang melakukan administrasi usaha. Manajemen PAM2 akan mengelola distribusi air bersih ke setiap rumah tangga, dan menagih pembayaran kepada rumah tangga. Tatanan pengelolaan usaha secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut:

nitas, dapat dibagi bersama, atau digunakan untuk subsidi pendidikan (beasiswa) atau bantuan kesehatan (bagi mereka yang sakit), sehingga PAM2 akan juga membangun social trust dan jaminan sosial yang mandiri di lingkungan masyarakat di mana terdapat PAM2. Kesembilan, pembiayaan proyek dilakukan secara kerja sama antara Pemda, donor (Bank Dunia), dan pengelola air minum, khususnya mitra swasta yang memegang konsesi mendistribusikan air minum DKI Jakarta. Model kerja sama dan pembiayaan ditata dengan dua pilihan model. Dua Model Pembentukan Untuk model yang pertama, dana pembentukan PAM2 dianggap sebagai "pinjaman" yang harus dikembalikan oleh PAM2 kepada proyek. Selanjutnya proyek akan "menggulirkan" pengembalian tersebut untuk pembentukan PAM2 yang lain. Jadi, apabila pada tahap pertama dapat dibangun 10 PAM2, dengan model pengembalian 5 tahun, maka pada lima tahun berikutnya dapat dibuat PAM2 tanpa perlu subsidi atau dukungan pembiayaan yang baru karena dananya berasal dari pengembalian investasi PAM2 tahap pertama. Model ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Donor Pemerintah Dana Pemda (APBD) Swasta Dana Kemitraan Pengelola Air Minum (PAM, Palyja, TPJ) Swasta

PAM Jaya

Air bersih

tarif kepada operator (> Tarif 5A)

Air Minum PAM2 Air bersih

Selisih harga dipergunakan untuk honor manajer/ pengelola, pengelolaan/ pemeliharaan, dan bagi hasil untuk seluruh warga peserta

Lebih besar dari tarif yang dibayarkan kepada operator

Grant dari donor

Pinjaman Perbankan

Rumah tangga

Pembangunan jaringan pipa Pembangunan bak penampungan Pemasangan meter khusus

Kelembagaan Proyek PAM2 Pemda-Donor-Operator Wakil Masyarakat

Kedelapan, harga jual air minum kepada PAM2 harus di atas tarif sosial (5A), sehingga operator mendapat kenaikan pendapatan, namun penjualan kepada masyarakat dapat pada tarif menengah (sampai di bawah tertinggi). Jadi, dimungkinkan laba pengelolaan usaha oleh PAM2. Laba usaha dipergunakan untuk honorarium "manajer" dan biaya pemeliharaan dan hasil usaha dipergunakan untuk kepentingan komu-

Administrasi proyek Administrasi pengguliran dana Pelatihan/capacity building Pemandirian Monitoring & Evaluasi

Tahap Pertama PAM2 A Dana masyarakat PAM2 B Dana masyarakat

Tahap kedua

PAM 2 C" Dana masyarakat

PAM2 D Dana masyarakat

Proses bisnis

Untuk model kedua adalah model "hibah murni" di mana pembiayaan (dari donor, Pemda, dan swasta) dianggap

28

Percik

April 2006

WAWA S A N

sebagai hibah murni sehingga pengelola PAM2 tidak perlu untuk mengembalikan. Model pengelolaannya dapat dilihat sebagai berikut:
Donor Grant dari donor Pemerintah Dana Pemda (APBD) Swasta Dana Kemitraan Pengelola Air Minum (PAM, Palyja, TPJ) Swasta Pinjaman Perbankan

Pembangunan jaringan pipa Pembangunan bak penampungan Pemasangan meter khusus

Administrasi proyek Administrasi pengguliran dana Pelatihan/capacity building Pemda-Donor-Operator Pemandirian Wakil Masyarakat Monitoring & Evaluasi Kelembagaan Proyek PAM2

PAM2 A Dana masyarakat

PAM2 B Dana masyarakat

PAM 2 C" Dana masyarakat

PAM2 D Dana masyarakat

Proses bisnis

rintah Jerman di Indonesia melalui Program Promis/GTZ di Nusa Tenggara. Kedua, untuk program hidran, diperlukan Perda atau Keputusan Gubernur DKI Jakarta yang melarang kepemilikan hidran secara perorangan dan harus dijadikan sebagai milik Pemda (PAM) yang dipinjamkan kepada masyarakat melalui lembaga PAM2. Ketiga, terdapat sejumlah prasyarat atau kebutuhan untuk membangun lembaga PAM2, yaitu (1) Penyiapan infrastruktur, mencakup pembangunan penampungan air minum dan pembangunan jaringan pipanisasi di lingkungan kelompok masyarakat peserta program PAM2; (2) Perkuatan Kapasitas Masyarakat (capacity building), mencakup pelatihan manajemen dan sosialisasi kebijakan; (3) dukungan kebijakan publik di tingkat propinsi (Perda atau PerGub) dan lokal (Kelurahan). Model Manajemen Sebenarnya logika dari pendekatan PAM2 adalah menerapkan manajemen untuk pengelolaan usaha mikro di tingkat masyarakat. Secara rinci, terdapat empat ciri di dalam pendekatan PAM2. Pertama, membangun institusi pengelolaan distribusi air minum di tingkat komunitas kecil miskin yang bersifat bisnis dan mandiri. Kedua, model "manajemen bisnis" dan bukan "proyek birokratik", sehingga value-nya adalah sustainability. Ketiga, pendekatan fokus kepada "output" dan "outcome" yang dapat dicapai daripada "input". Keempat, mengedepankan pembangunan social capital yaitu trust building dalam membangun kecukupan ketersediaan air minum/bersih untuk kawasan miskin Model manajemen di dalam PAM2 sendiri disarankan terdiri dari Pengawas, yang terdiri dari tiga orang pemuka setempat (Lurah, Ketua RW, Ketua RT, kecuali ditetapkan yang lain), seorang manajer (dimungkinkan "pemilik lama" untuk menjadi manajer) dan tiga orang

staf: keuangan (merangkap administrasi), distribusi (mengecek jangan sampai ada masalah di dalam penyaluran air, termasuk mencegah tindak pencurian), dan pemeliharaan (termasuk menjaga keamanan).
Pengawas

Manajer

Keuangan

Distribusi

Pemeliharaan

Pada kedua model ini dapat dicermati, bahwa "dimungkinkan" pihak perbankan (lihat kotak paling kanan: Perbankan) masuk membiayai proyek ini apabila memperoleh dukungan politik dan/atau jaminan dari pemerintah. Apabila model ini layak, maka bank akan dapat menilai dan mempertimbangkan untuk memberikan pinjaman. Tentu saja, yang disasar adalah bank milik Pemda DKI Jakarta. Pernah Dikembangkan Beberapa catatan yang dapat diberikan di sini, pertama, model sudah pernah dikembangkan dengan nama yang berbeda. Di bawah Departemen Kelautan RI, dikembangkan program yang mirip dengan nama kelembagaan "Badan Usaha Milik Rakyat" (BUMR). Programnya telah dilaksanakan di Kabupaten Lumajang, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Bengkalis. Model yang sama adalah "Unit Keuangan Mikro" yang dikembangkan oleh Bappenas, dan program yang dikembangkan oleh Peme-

Penutup Nama "PAM2" dapat diartikan sebagai "institusi PAM yang kedua" yakni institusi air minum yang dikelola oleh masyarakat secara mandiri dan bekerja sama dengan PAM (Jaya). Model ini digagas untuk dapat dijadikan sebagai model yang mampu menjawab masalah ketersediaan dan keterjangkauan pelayanan air bersih untuk masyarakat miskin Jakarta sekaligus dengan membangun kelembagaan yang mandiri dan kuat (sustainable) di tingkat komunitas tersebut. Pada saat ini Jakarta sedang menerima hibah dari Pemerintah Inggris melalui Bank Dunia yang disebut sebagai Program Output Based Aid (OBA). Dana sebanyak US $ 5 juta ini dirancang untuk membangun jaringan pelayanan air minum bagi kelompok miskin Jakarta, khususnya yang tinggal di kawasan Jakarta bagian utara yang tidak mempunyai substitusi air. Barangkali, dengan program konvensional, penyambungan langsung ke rumah, program ini hanya menyambung sampai 20.000 pelanggan. Namun, jika mempergunakan PAM2, barangkali bisa 10 kali 20.000. Mudah-mudahan, pendekatan ini dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif.
*) Anggota Badan Regulator Pelayanan Air Minum DKI Jakarta (Tulisan ini tidak mencerminkan pendapat dari BR PAM Jaya)

Percik

April 2006

29

WAWA S A N

embangunan infrastruktur menjadi salah satu agenda penting pembangunan saat ini. Hal ini dibuktikan dengan akan diselenggarakannya hajatan besar yaitu Infrastructure Summit II tahun ini. Secara umum infrastuktur dapat dibedakan menjadi infrastruktur ekonomi dan infrastruktur sosial. Infrastruktur ekonomi meliputi fasilitas-fasilitas fisik seperti jalan, pelabuhan, bandara, pembangkit listrik, sistem penyediaan air bersih dan pelayanan-pelayanan yang mengalir keluar dari fasilitas-fasilitas tersebut seperti air bersih dan sanitasi, listrik, transportasi dan sebagainya. Sedangkan infrastruktur sosial meliputi fasilitas-fasilitas sosial seperti sekolah, pusat kebudayaan, rumah sakit dan sebagainya. Dalam konteks pembangunan infrastruktur ada dua hal penting yang perlu dilihat; pertama bahwa pembangunan infrastruktur saat ini tidak lagi didominasi oleh sektor publik tetapi juga sektor swasta. Ada tiga faktor yang menyebabkan perubahan ini yaitu perubahan ideologi, kemajuan teknologi, dan krisis finansial. Kedua, bahwa pembangunan infrastruktur saat ini tidak melulu ditujukan untuk pencapaian tujuan-tujuan teknis seperti efisiensi operasional tetapi juga kaitannya dengan dampak terhadap kelompok sosial atau pendapatan tertentu, terutama terhadap kelompok masyarakat miskin. Dalam konteks liberalisasi ekonomi, ketersediaan infrastruktur berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas rumah tangga dan dalam konteks yang lebih luas akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi angka

Kebijakan Infrastruktur Air Bersih dan Kemiskinan P


Oleh: Hamong Santono
*)

kemiskinan. Kontribusi penyediaan infrastruktur terhadap pengurangan kemiskinan terjadi karena penyediaan lapangan kerja yang tersedia dengan adanya pembangunan infrastruktur dan perbaikan layanan yang terjangkau masyarakat miskin. Secara umum di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, kondisi infrastrukturnya masih memprihatinkan, terlebih setelah krisis ekonomi. Penurunan kondisi tersebut terjadi seiring dengan keterbatasan pembiayaan yang dimiliki oleh pemerintah bagi pembangunan infrastruktur. Selain masalah pendanaan, pengaturan dan perawatan infrastruktur juga mengalami penurunan akibat rendahnya kapasitas institusi publik baik di pusat maupun daerah dalam manajemen dan perawatan infrastruktur. Kondisi ini pada akhirnya membuat kelompok masyarakat miskin memperoleh efek marjinalisasi terbesar. Penyediaan layanan yang tidak efisien, perawatan dan pelayanan yang buruk, utang yang besar, restrukturisasi kebijakan ekonomi mendorong perubahan dalam penyediaan, pengelolaan dan pendanaan infrastuktur yang tidak lagi didominasi oleh sektor publik. Dalam kerangka inilah penyediaan infrastruktur mengalami pembaruan dari pendekatan penyediaan menjadi pendekatan permintaan. Secara lebih spesifik dalam konteks Indonesia, perubahan tersebut kemudian diimplementasikan dalam reformasi kerangka peraturan yang meliputi penyerahan commercially viable infrastructure

kepada sektor swasta dan pemerintah hanya berkonsentrasi pada pembangunan basic infrastructure, non commercially viable tetapi economically viable, desentralisasi, mengurangi monopoli sektor publik, korporatisasi, membentuk badan regulator, cost recovery, dan unbundling. Kebijakan Infrastruktur Air Bersih Seperti telah diungkapkan di atas bahwa kondisi pelayanan infrastruktur termasuk di Indonesia masih memprihatinkan, termasuk infrastruktur air bersih. Sebagai contoh, dari sekitar 306 PDAM yang ada di Indonesia hanya mampu melayani 33 juta (39 persen) penduduk perkotaan dan 9 juta (8 persen) penduduk perdesaan dengan kualitas air yang belum memenuhi standar kualitas air minum, konsumsi air yang rendah (14 m3/bulan/rumah tangga), dan rata-rata kebocoran 40 persen. Dari sekian banyak PDAM tersebut hanya 9 persen dari total PDAM yang ada berada dalam kondisi sehat, sedangkan sisanya dalam keadaan kurang sehat (31 persen), tidak sehat (32 persen), kritis (28 persen) dan utang PDAM saat ini mencapai Rp 4,032 triliun. Seiring dengan permasalahan yang dihadapi dan perubahan yang terjadi dalam kebijakan pembangunan infrastruktur, kebijakan pembangunan infrastruktur air bersih juga tidak terlepas dari dua hal penting yaitu agenda pengurangan kemiskinan dan peningkatan partisipasi swasta dalam pembangunan dan penyediaan layanan air bersih. Kedua hal ini sangat terkait erat

30

Percik

April 2006

WAWA S A N

dan keterkaitan ini dapat dilihat dalam upaya pemerintah untuk mencapai target MDGs 2015. Dalam kerangka pencapaian MDGs diperlukan peningkatan kapasitas produksi 155.000 liter/detik, dengan cakupan layanan 80 persen penduduk perkotaan dan 40 persen penduduk perdesaan, dan untuk mencapainya dibutuhkan investasi sebesar Rp 25 trilyun sedangkan kemampuan pemerintah hanya Rp. 600 milyar/tahun. Diperkirakan ada gap pembiayaan investasi sebesar Rp. 19 trilyun. Partisipasi sektor swasta diharapkan bisa menutup gap pembiayaan ini. Kebijakan untuk meningkatkan partisipasi sektor swasta dalam pembangunan infrastruktur air bersih secara jelas dapat dilihat dari UU No.7/2004 tentang Sumberdaya Air dan PP No.16/2005 tentang SPAM. Permasalahan Orang Miskin terhadap Infrastruktur Air Bersih dan Permasalahan PSP terhadap Agenda Pengurangan Kemiskinan Dalam konteks kemiskinan, permasalahan mendasar yang dihadapi oleh orang miskin dalam infrastruktur adalah (1) akses kepada pelayanan yang sangat terbatas bahkan tidak tersedia sama sekali, dan (2) kemampuan orang miskin untuk membayar pelayanan yang diberikan sangat rendah dan bahkan tidak ada. Sebagai contoh, kelompok masyarakat miskin membayar jauh lebih mahal untuk mendapatkan air bersih dibandingkan non-miskin, selain itu ketiadaan akses juga menyebabkan waktu terbuang karena harus mendatangi sumber-sumber air. Dengan permasalahan tersebut seharusnya kebijakan infrastruktur harus mampu menjamin akses orang miskin terhadap fasilitas dan pelayanan dan dapat berkontribusi terhadap peningkatan finansial kelompok masyarakat miskin. Jika dikaitkan dengan dengan kebijakan infrastruktur terutama infrastruk-

tur dasar seperti air bersih saat ini, terlihat bahwa pemerintah dengan keterbatasan pendanaan infrastruktur yang dimiliki berupaya untuk mencari sumber pembiayaan lainnya terutama dari sektor swasta (privatisasi/Private Sector Participation). Perdebatan apakah infrastruktur air bersih dikelola oleh sektor publik atau sektor swasta masih terus berlangsung sampai saat ini. Dukungan terhadap sektor publik dalam penyediaan layanan air didasarkan atas cara pandang bahwa air merupakan hak asasi manusia, public goods, dan pengelolaannya adalah monopoli alamiah, sedangkan dukungan terhadap private sector dalam pengelolaan layanan air didasarkan atas cara pandang bahwa air merupakan barang ekonomi dan negara gagal dalam menyediakan layanan yang baik . Dalam perspektif hak asasi manusia layanan air merupakan layanan mendasar (essential services), dan merupakan pusat dari kontrak sosial antara negara dan masyarakat. Kontrak sosial mempromosikan keadilan dan keseragaman melalui mekanisme redistribusi untuk menjamin akses minimal terhadap barang atau jasa yang sangat dibutuhkan bagi penghidupan . Pada sisi lain, utilitas publik di sektor air dipandang gagal menyediakan layanan yang cukup, baik dalam layanan maupun cakupan. Kegagalan ini disebabkan lemahnya kapasitas pemerintah dan utilitas publik sering dijadikan subjek dari intervensi politik dan korupsi. Dengan alasan tersebut sektor swasta dipandang lebih efisien daripada sektor publik dan efisiensi tersebut akan membawa manfaat bagi semua pengguna termasuk masyarakat miskin. Dalam konteks inilah peran dan manfaat dari PSP banyak diperdebatkan. Dalam studinya Eric Guiterezz dkk , menyatakan bahwa: "PSP does not comprehensively tackle these admittedly difficult under-

lying causes of water utilities failure to serve the poor. For example, privatising the operation of an urban water utility will not necessarily resolve efficiency problems if the underlying cause is corruption". Lebih lanjut, studi tersebut menyatakan menentang donor untuk menekan negara berkembang untuk menerima PSP dalam pelayanan air minum sebagai persyaratan bantuan, perdagangan maupun penghapusan utang. Selain itu mendorong PSP sebagai kebijakan reformasi utama membatasi pemerintah dan masyarakat sipil untuk memperbaiki dan berinovasi menggunakan kemungkinan pengaturan terbaik. Meskipun demikian studi ini menyatakan tidak menolak PSP dalam pelayanan air, dan oleh karenanya kebijakan PSP harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas, cost recovery, partisipasi masyarakat, dan reformasi institusi. Menurut Beecher dan Gleick, keuntungan dari privatisasi hanya mungkin dapat dicapai jika disertai peraturan yang terpadu, proses penawaran yang kompetitif, penilaian kinerja, mekanisme penyelesaian konflik dan juru runding kontrak yang ulung. Pendapat lain disampaikan oleh Kessler, yang melakukan kajian terhadap rasionalitas pivatisasi air. Pada intinya Kessler menyatakan bahwa sektor swasta akan menghindari daerah yang tidak menguntungkan (cherry picking), seperti daerah kumuh atau perdesaan, dengan topografi yang sulit, konsumsi air per kapita yang rendah dan tentu saja pendapatan yang rendah. Pendapat ini semakin diperkuat dengan fakta yang menunjukkan bahwa kelompok miskin membayar 4 sampai 100 kali lipat bahkan dalam penelitian Asian Development Bank (ADB) di Delhi masyarakat miskin harus membayar sampai 489 kali mereka yang memiliki koneksi pipa. ADB mengakui bahwa sektor swasta memang tidak mau atau tidak bisa memecahkan masalah pe-

Percik

April 2006

31

WAWA S A N

layanan pada daerah miskin, jika pun bisa prestasinya tidak lebih baik dari sektor publik. Partisipasi sektor swasta dalam penyediaan air bersih punya karakteristik monopolistik, sehingga secara teoritik maupun praksis tidak mungkin sektor swasta secara sukarela menyediakan air bersih pada masyarakat miskin yang kemampuan membayarnya rendah . Alternatif Kebijakan Infrastruktur Air Bersih Berdasarkan uraian di atas, tidak diragukan lagi bahwa pembangunan infrastruktur termasuk air bersih akan berkontribusi terhadap pengurangan kemiskinan, namun kebijakan infrastruktur yang dilakukan dengan mengundang partisipasi sektor swasta dikhawatirkan akan menjauhkan akses masyarakat miskin terhadap ketersediaan dan pelayanan air bersih Oleh karenanya dibutuhkan pendekatan yang lebih pro-poor dalam kebijakan infrastruktur air bersih di Indonesia. Dalam konteks ini ada beberapa hal yang patut dikedepankan, yaitu (1) air bersih merupakan barang yang tidak ada penggantinya, sehingga ketiadaan air bersih akibat ketiadaan akses misalnya tentu saja akan menyengsarakan, (2) ketersediaan infrastruktur tidak bisa hanya dipahami sebagai upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi lebih jauh ketersediaan infrastruktur terutama yang bersifat essensial seperti air bersih merupakan hak dasar yang harus dipenuhi oleh negara, sehingga harus menjadi kontrak sosial antara negara dan masyarakat, (3) sebagai sebuah kontrak sosial ketersediaan infrastruktur air bersih menuntut peran pemerintah yang lebih jauh tidak hanya sebagai regulator ataupun fasilitator, dan (4) sektor swasta tidak dapat menggantikan negara untuk menyediakan infrastruktur dasar yang terjangkau terutama untuk kelompok masyarakat miskin.

Dengan demikian, untuk dapat mendorong kebijakan infrastruktur air bersih yang pro-poor, maka harus diikuti perubahan kebijakan ekonomimakro yaitu dari Market-led Development menjadi State-led Development, dimana infrastruktur dasar seperti air bersih dan sanitasi merupakan hak dasar warga negara yang harus dipenuhi oleh negara dan membawa konsekuensi negara harus menyediakan/mengalokasikan dana untuk dapat menyediakannya. Dengan keterbatasan anggaran yang dimiliki saat ini, pemerintah harus mengambil keputusan politik untuk mengalokasikan pengeluaran yang lebih besar dalam pembangunan infrastruktur dasar. Pemerintah juga harus mendefinisikan kembali peran sektor swasta. Hal ini didasarkan bahwa sektor swasta tidak dapat menggantikan negara untuk menyediakan infrastruktur yang terjangkau terutama untuk kelompok masyarakat miskin. Yang juga perlu dipahami adalah perbedaan mendasar dari sektor publik dan swasta adalah tujuan investasi.

Redefinisi peran swasta harus diawali dengan redefinisi peran negara dalam penyediaan infrastruktur dasar di mana negara tidak cukup hanya sebagai regulator dan fasilitator, tetapi berperan untuk menjamin ketersediaan dan pelayanan infrastruktur bagi orang miskin.

Investasi sektor publik bertujuan tidak semata-mata untuk memperoleh keuntungan tetapi tujuan sosial yang lebih besar sedangkan sektor swasta semata-mata untuk memperoleh keuntungan dari investasi yang mereka lakukan tanpa pernah bersinggungan dengan keadilan dan pemerataan. Perbedaan inilah yang menyebabkan

kinerja relatif sektor publik lebih rendah dari sektor swasta. Redefinisi peran swasta harus diawali dengan redefinisi peran negara dalam penyediaan infrastruktur dasar di mana negara tidak cukup hanya sebagai regulator dan fasilitator, tetapi berperan untuk menjamin ketersediaan dan pelayanan infrastruktur bagi orang miskin. Pencarian alternatif pendanaan melalui restrukturisasi APBN dan mobilisasi pendapatan negara juga harus dilakukan. Selain perubahan kebijakan makro, upaya-upaya perbaikan sektoral air bersih juga harus dilakukan. Jika mengacu pada studi yang dilakukan oleh Eric Guiterez (2004), di mana keberhasilan PSP membutuhkan prasyarat tertentu, hal yang sama sebenarnya juga terjadi di sektor publik. Secara umum ada dua persoalan mendasar dalam penyediaan infrastruktur air bersih, yaitu masalah tata kelola (governance) layanan dan pendanaan. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan perbaikan manajemen publik dalam pengelolaan infrastruktur dengan mempertegas relasi antara pemerintah dan utilitas publik dan mendorong transparansi, akuntabilitas, partisipasi masyarakat dan pengelolaan yang otonom. Selain itu juga harus dilakukan perencanaan berbasis kebutuhan orang miskin sehingga perencanaan tidak lagi terpusat dan peningkatan kualitas layanan publik melalui perbaikan kinerja layanan publik (dalam konteks ini juga perlu diperkenalkan konsep public to public partnership sebagai alternatif kebijakan yang ada sekarang ini). Dari sisi pembiayaan, selain sumber-sumber pembiayaan yang ada sekarang ini, bail-out ataupun cut off utang PDAM juga harus menjadi prioritas yang dilakukan.
Koordinator Koalisi Rakyat untuk Hak Atas Air (KRuHA) dan saat ini menjadi salah satu anggota Infrastructure Watch, sebuah aliansi kelompok masyarakat sipil yang mengkritisi kebijakan pembangunan infrastuktur di Indonesia.

32

Percik

April 2006

WAWA S A N

Makna Kelembagaan AMPL Bagi Keberlanjutan Sarana

engalaman selama mengikuti evaluasi pembangunan AMPL dan fasilitasi operasionalisasi kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat (AMPL-BM) telah mengantarkan penulis pada kesimpulan bahwa kelembagaan pengelola sarana air mempunyai peran sangat penting bagi keberlanjutan sarana dan layanan. Hasil penilaian yang dilakukan WASPOLA bekerja sama dengan Yayasan Pradipta Paramitha (Flores revisited: 2002) mengungkapkan bahwa ada korelasi positif antara fungsi kelembagaan dan iuran air, dan antara fungsi kelembagaan dan iuran air dan keberlanjutan sarana AMPL (korelasi spearman rho). Begitu juga pengalaman selama memfasilitasi operasionalisasi Kebijakan Nasional AMPL-BM di Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi Gorontalo, menemukan gejala yang sama. Kajian lapangan tentang keberhasilan dan kegagalan pembangunan AMPL yang dilakukan di beberapa desa yaitu Talumelito, Molintogupo, dan Tangga Jaya, dengan sangat nyata menunjukkan betapa penting peran kelembagaan AMPL bagi keberlanjutan sarana. Di ketiga desa ini, semua sarana air sudah mengalami kerusakan berat, sementara kelembagaan pengelola air minum sama sekali tidak berfungsi. Di Kabupaten Kebumen informasi mengenai keberlanjutan sarana air minum diperoleh baik dari kunjungan lapangan maupun data sekunder. Dari sebagian data yang ada bisa diketahui dengan sangat jelas bahwa keberfungsian lembaga pengelola sangat

Oleh: Alma Arief

*)

menentukan keberlanjutan sarana air. Dari 28 sarana air perpipaan yang terdata, 14 di antaranya berfungsi baik, sedangkan selebihnya sama sekali tidak berfungsi. Dari 14 sarana yang berfungsi baik, 12 di antaranya memiliki lembaga pengelola sarana yang juga berfungsi, sedangkan dua lainnya memiliki pengelola sarana tetapi tidak berfungsi. Di pihak lain, ke-14 sarana yang tidak berfungsi semua lembaga pengelolanya juga tidak berfungsi. Berbagai informasi di atas menjelaskan mengenai peran penting kelembagaan pengelola sarana air minum. Tulisan ini akan menggambarkan mengenai kompleksitas permasalahan yang muncul dalam pengelolaan dan layanan air minum berdasarkan pengalaman melakukan penilaian dan kajian lapangan. Banyak Masalah Pengelolaan sarana AMPL, khususnya sarana air perpipaan, bukanlah hal yang sederhana. Beberapa kasus justru sangat kompleks. Bukan hanya karena dimensi permasalahannya yang cukup luas dan beragam, tetapi juga sifatnya yang sangat spesifik lokasi sehingga permasalahan di satu wilayah, bahkan antara satu desa dan lainnya, bisa sangat berbeda. Permasalahan air bisa berubah mulai dari permasalahan yang menyangkut kondisi lingkungan, teknologi yang diterapkan, keuangan, sosial budaya, dan kelembagaan pengelola air. Karena sifat permasalahannya yang bisa menjadi sangat luas dan kompleks,

maka sarana AMPL sangat disarankan agar dikelola oleh orang-orang yang benar-benar memiliki keberanian, bijaksana, dan berwawasan luas. Kelembagaan pengelola yang kuat, akan mampu menanggulangi berbagai permasalahan yang timbul, sejauh dalam batas yang bisa ditanggulangi. Berbagai permasalahan tersebut adalah: Masalah lingkungan Di berbagai wilayah, masalah lingkungan sangat menentukan keberlanjutan sarana AMPL. Di Desa Lewolaga, Kab, Larantuka, di Desa Wonda Kab Ende, di Desa Adiwarno Kab. Kebumen, sarana air minum sering kali putus berantakan karena tanah longsor dan atau batu longsor. Di Lewolaga, selain tanah longsor juga banjir dan pohon besar yang tumbang pernah memutuskan pipa air minum. Banjir besar di sungai menghanyutkan pipa besi karena pipa tidak digantung pada saat melintasi sungai. Di Desa Adiwarno, bak penampung air ambrol terbawa tanah longsor, sedangkan di Wonda Kabupaten Ende pipa yang menyusuri jalan di tepi tebing hancur berantakan karena tebing yang runtuh/ longsor. Di Sumba Tirmur masalah AMPL yang berkaitan dengan lingkungan berbeda dengan di daerah lain. Di Kabupaten ini, karena banyak ternak (sapi) berkeliaran dalam jumlah sangat besar, maka pipa bisa putus karena diterjang gerombolan sapi. Masalah lingkungan di Gorontalo, pada akhir-akhir ini mulai muncul, seperti misalnya kasus Talumelito. Di daerah ini sarana air menjadi tidak berfungsi karena debit air di

Percik

April 2006

33

WAWA S A N

bak penangkap tidak memadai. Hal ini terjadi karena hutan di daerah tangkapan air telah diganti oleh penduduk dengan tanaman pangan (jagung). Sedangkan di Molintogupo, yang menjadi masalah adalah pipa dan bak penangkap yang berada di tengah sungai hanyut karena banjir besar. Di Propinsi Bangka Belitung, hutan-hutan mengalami kerusakan karena penambangan ilegal. Karena dalam melakukan penambangan timah menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya dalam melakukan pemrosesan, maka bahan baku air minum menjadi tidak memenuhi standar untuk air minum. Masalah teknologi Masalah teknologi, dalam banyak hal berkaitan dengan lingkungan. Jenis teknologi yang diterapkan sangat ditentukan oleh kondisi lingkungan. Di Kelurahan Dembe I, Gorontalo, dan Kelurahan Wonokromo Kab. Kebumen, pipa air kadangkala pecah, utamanya pada malam hari ketika penggunaan air sangat berkurang. Hal ini disebabkan kuatnya tekanan air ke pipa, sehingga perlu menggunakan bak pelepas tekan atau kelep pelepas tekan. Di Kabupaten Sumba Timur, karena cahaya matahari sangat terik, berbagai sarana air dibangun dengan mengombinasikan antara panel surya sebagai pembangkit energi listrik dan penggerak pompa air. Namun karena teknologinya cukup canggih dan sulit pemeliharaannya, akhirnya sarana yang dibangun mengalami kerusakan tanpa bisa diperbaiki, di samping panel suryanya lambat laun habis dicuri orang. Di Sumba Timur, selain teknologi panel surya juga diterapkan kincir angin sebagai sumber energi (listrik) untuk memompa air dan pembuatan es. Semua sarana kincir angin ini yang semula berjumlah 10, mengalami kerusakan. Di beberapa desa di Kebumen, kare-

Lewolaga, karena jalur pipa melewati hutan dan ladang penduduk desa lain, sering kali pipa (PVC) dirusak penduduk. Menurut informasi, penduduk desa yang dilewati jalur pipa, menghendaki agar diberi bagian air. Hal yang sama juga terjadi di Desa Haikatapu di Masalah sosial budaya Kab. Sumba Timur. Di sini, banyak pipa Masalah sosial budaya tampaknya yang hilang diambil orang FOTO: MUJIYANTO sehingga praktis sarana menjadi tidak berfungsi. Hal ini dikarenakan jalur pipa melewati ladang penduduk yang tidak kebagian layanan air minum. Di Desa Banyumudal, Kebumen, masalah sosial budaya berkombinasi dengan masalah lingkungan. Awalnya sumber air menurun drastis di musim kemarau-yang sebelumnya tak pernah terjadi--karena penebangan hutan di daerah tangkapan air. Hal ini menyebabkan penduduk yang selama ini tidak pernah lebih rumit dibandingkan variabel lainmengalami kesulitan air, utamanya di nya, dan sifatnya menjadi sangat lokal, daerah hulu yang berdekatan dengan bisa berakar pada nilai sosial budaya sumber air, menjadi marah dan menjemasyarakat, konflik antardesa, konflik bol bangunan penangkap air. Lebih lanantardusun, konflik internal pengelola, jut, karena pengurus sarana air memtingkat penghasilan yang tidak merata, peroleh tekanan dari sebagian pendan sebagainya. duduk, mereka akhirnya mengunDi Kecamatan Solor Timur, Kab. durkan diri, dan sampai kini kepenguLarantuka, keberlanjutan suplai air sangat rusan air belum lagi terbentuk. Padahal tergantung pada regularitas dan kemampada waktu sebelumnya sudah dikelola puan membayar sejumlah Rp dengan sangat rapi, termasuk pem1.250.000/tahun kepada orang yang bukuan iuran, cara meminta sammemiliki/menguasai sumber air. Sedangbungan air, denda bila mengalami kekan di Desa Wonda, Kabupaten Ende, terlambatan, dan sebagainya. NTT, karena sumber air berada di desa Di Talumelito, Gorontalo, unit pelain, maka untuk bisa menggunakan sumngelola sarana menjadi sama sekali tiber air untuk mensuplai air bersih bagi dak berfungsi setelah suplai air yang sependuduk Wonda, terlebih dahulu dibuat mula regular, menjadi sangat menurun negosiasi dan kesepakatan adat. Di Desa (tidak regular, hanya di bagian hulu Lewolaga, Larantuka, karena sumber air yang memperoleh bagian), karena debit berada di desa lain yang jaraknya bahkan air menurun drastis, dan orang di sampai lebih dari 10 km, maka untuk bisa bagian hulu cenderung menggunakan menggunakan sumber air terlebih dahulu air semaunya seperti tidak menutup kran dilakukan perkawinan secara adat. dan sebagainya. Tindakan ini kemudian Masalah sosial budaya juga mediikuti pembelotan sebagian masyarakat nyangkut konflik antardesa karena jalur (di bagian hilir) untuk membayar iuran air. pipa melalui desa lain. Kasus Desa na airnya keruh, maka tidak bisa secara langsung di konsumsi oleh rumah tangga, tetapi harus terlebih dahulu disaring (bisa menggunakan saringan rumah tangga atau saringan pasir lambat).

34

Percik

April 2006

WAWA S A N

Dengan sendirinya UPS (unit pengelola sarana) akhirnya tak berfungsi. Menurunnya debit air di Talumelito dikarenakan hutan di wilayah tangkapan air diganti oleh penduduk menjadi tanaman pangan (jagung). Masalah keuangan Iuran penggunaan air mutlak diperlukan dalam rangka pemeliharaan dan pengembangan. Dari hasil penilaian dan kajian lapangan, diketahui bahwa tidak semua desa yang memiliki sarana air minum (perpipaan) memungut biaya, atau yang semula memungut iuran secara regular, karena suplai air tidak bisa merata sebagian penduduk kemudian tidak mau membayar iuran. Akibatnya iuran menjadi tidak lagi berjalan dan pengelola sarana menjadi tak berfungsi. Juga diketahui bahwa iuran pemakaian air sangat tidak memadai. Di Desa Lonuo, Gorontalo, iuran per bulan Rp 500, sedangkan di desa Balaweling, Solor Timur, iurannya Rp 200/orang/ bulan. Tentu saja iuran tersebut tidak memadai, tidak digunakan untuk mengembangkan atau memperbaiki kerusakan yang cukup besar. Masalah kelembagaan Masalah kelembagaan pada dasarnya menyangkut norma-norma, dan manusia yang ada di dalamnya. Peran pengelola sarana air seperti diuraikan di atas, sangat penting, karena permasalahan yang dihadapi cukup rumit sehingga memerlukan orang-orang yang tangguh dalam arti memiliki keberanian, bijaksana, dan berwawasan luas. Orang yang akan didudukkan sebagai pengurus pengelola sarana hendaknya dipilih oleh semua yang terkait dengan pemakaian air karena mereka akan mendapat legitimasi sesuai persyaratan. Pembuatan peraturan yang ada perlu melibatkan semua yang berkait dengan pemakaian air. Yang ada selama ini ada standarisasi pengelola sarana. Lembaga pengelola air memiliki nama yang sama (bahkan di seluruh wilayah). Selain itu,

aturan-aturan yang ada serta struktur kelembagaannya pun sama pula. Ini artinya, keberadaan kelembagaan pengelola air sifatnya masih bentukan dari atas bukan inisiatif masyarakat sendiri. Akan sangat lebih baik apabila dalam aspek kelembagaan, masyarakat juga diberi kewenangan yang luas untuk menyusunnya sendiri. Ada sebuah kasus yang menarik. Di Sumba Timur terdapat sebuah desa, Tamburi namanya, yang memiliki sarana air sangat terawat, dan tampak akan lebih berkelanjutan (satu-satunya sarana yang bagus di Sumba Timur yang penulis pernah temui). Di sini ada sebuah LSM yang memfasilitasi pembangunan sarana dan penyusunan kelembagaannya. Struktur organisasi dan peraturan bagi pemakai sarana, semuanya disusun oleh penduduk dalam suatu pertemuan. Meskipun bunyi redaksional peraturan tidak bagus (standar legal), masyarakat mematuhi karena semuanya adalah hasil kesepakatan bersama. Mengapa Kelembagaan tidak Berfungsi Ketidakberfungsian kelembagaan diakibatkan banyak hal. Untuk memperoleh jawaban yang akurat mengenai hal itu, perlu dilakukan penelitian secara cermat. Bukan hanya karena lembaga pengelola air mempunyai peran sangat menentukan bagi keberlanjutan sarana tetapi hasilnya juga bisa dipergunakan untuk membuat rekayasa (intervensi) untuk memecahkan masalah dan menentukan kelembagaan yang seperti apa yang ideal berdasarkan hasil penelitian tersebut. Untuk sementara, jawaban mengenai hal itu bisa mendasarkan pada asumsi-asumsi saja, meskipun di beberapa desa sudah tampak begitu jelas. Di Desa Banyu Mudal, misalnya, lembaga pengelola sarana bubar karena pengurusnya mengundurkan diri dan tidak ada pembentukan yang baru. Pengurusnya mengundurkan diri karena merasa tidak mampu menyelesaikan

konflik yang terjadi antara dusun satu dengan lainnya menyangkut penggunaan air. Di Desa Lonuo, Gorontalo, UPS secara mendadak mati, karena pembangkangan penduduk yang tidak mau mematuhi aturan dan tidak mau membayar iuran air. Preseden pemilihan kepala desa yang salah satu kandidatnya menjanjikan "bebas iuran air" , dan terjadinya kubu politik di mana UPS memihak pada salah satunya telah menjadi sebab utama matinya UPS. Di tempat tempat lain UPS tidak berfungsi segera setelah beroperasinya layanan dan setelah itu sarananya mengalami kerusakan. Yang seperti ini terjadi di Desa Molinto Gupo dan Tangga Jaya. Sedangkan di Talumelito, Gorontalo, UPS yang semula berfungsi sangat prima, menjadi mati karena distribusi air tidak bisa merata dan tidak regular sehingga penduduk tidak mau membayar iuran. Barangkali masih ada sebab- sebab lain di tempat lainnya. Untuk itu perlu dilakukan penelitian secara mendalam. Jalan Keluar Berbagai saran untuk memecahkan masalah ketidakberlanjutan sarana yang berakar pada tidak berfungsinya lembaga pengelola air adalah sebagai berikut: 1. Pengelola sarana harus dipilih oleh masyarakat dengan beberapa persyaratan yang mendasarkan pada kemampuan calon untuk memecahkan berbagai masalah yang kemungkinan dihadapi yang cukup kompleks. 2. Cepat melakukan pemilihan/pergantian pengurus bila tidak bisa melaksanakan fungsinya 3. Segera melakukan pemecahan masalah melalui musyawarah . 4. Penyusunan struktur organisasi dan penyusunan aturan yang mengatur hak dan kewajiban pemakai sarana oleh semua pemakai sarana dan disesuaikan dengan kebutuhan setempat.
*)

Konsultan WASPOLA

Percik

April 2006

35

WAWA S A N

Menjadikan PDAM Lebih Mandiri, Transparan, dan Profesional


erusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sebagai penyedia jasa pelayanan umum (publik), saat ini sedang memasuki era baru dalam sistem pengelolaan pelayanan air minum kepada masyarakat. Proses kegiatan operasional pelayanan dituntut transparan, berkualitas dan memperhatikan aspek lingkungan untuk menyampaikan jasa layanan yang dapat dipertanggungjawabkan (akuntabel) secara proporsional. Kondisi lingkungan PDAM (internal/eksternal) telah mengalami perubahan yang relatif cepat, terutama dalam kurun waktu 8 tahun terakhir (1997-2005). Era globalisasi dan reformasi cukup signifikan mempengaruhi pola perilaku masyarakat dalam merespon kondisi pelayanan publik, khususnya pelayanan air minum. Secara faktual pemerintah pusat telah merespon positif tuntutan perubahan yang sedang terjadi di sektor pelayanan air minum, dengan disusunnya Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat, yang merupakan model pendekatan baru berbasis partisipasi masyarakat. Kalau kita merujuk pada dokumen kebijakan nasional tersebut, pendekatan model itu sangat mendesak dan penting dengan permasalahan yang cukup kompleks, terutama berkaitan dengan penyediaan sarana dan prasarana air minum. Permasalahan itu di antaranya: Pemerintah menilai, kurang efektif dan efisiennya investasi yang telah dilakukan pada pembangunan sarana

Oleh: Abdul Gani

*)

dan prasarana air minum dan penyehatan lingkungan. Paradigma lama menyatakan, air merupakan benda sosial yang dapat diperoleh secara gratis oleh masyarakat. Hal ini didasari rendahnya kepedulian dan pengetahuan masyarakat terhadap "nilai kelangkaan air". Keterbatasan kemampuan pemerintah. Pola pembiayaan sampai sat ini masih bertumpu pada anggaran pemerintah, khususnya anggaran pemerintah pusat. Belum tersedianya kebijakan dan peraturan perundangan yang mengatur pemanfaatan potensi yang tersembunyi yang ada dalam masyarakat. Bertitik tolak dari kebijakan nasio-

nal tersebut, PDAM memegang peran yang cukup signifikan sebagai penyelenggara pelayanan air minum. Hal ini mengingat jumlah PDAM di seluruh pelosok Tanah Air saat ini tidak kurang dari 316 PDAM. Oleh karenanya tidak terlalu berlebihan kalau fokus perhatian ditujukan untuk mendorong peningkatan kinerja PDAM di Indonesia. Oleh karenanya wacana dan gagasan untuk menciptakan sebuah strategi untuk menciptakan profesionalisme dan kemandirian PDAM yang disertai transparansi serta akuntabilitas pelayanan tak bisa dihindari. Menciptakan Persepsi dan Komitmen Kita menyadari bahwa pemenuhan air minum merupakan kebutuhan yang vital bagi umat manusia dan bukan baFOTO: MUJIYANTO

36

Percik

April 2006

WAWA S A N

UNSUR / KOMPONEN
Pemerintah Pusat

PERAN / FUNGSI

TANGGUNG JAWAB

KOMITMEN

Menciptakan peraturan/ke- Koordinasi, sinkronisasi dan Hanya sebagi fasilitentuan sistem penyediaan air memfasilitasi implementasi tator, supervisor, minum seacara nasional kebijakan sektor air minum bukan operator

Pemerintah Daerah (termasuk unsur DPRD)

Mempedomani peraturan/ke- Mengatur dan mengawasi imtentuan pusat untuk, mencip- plementasi sektor air minum takan PERDA sesuai kebutuhan daerah dan tidak bertentangan dengan kebijakan nasional Menyelenggarakan kegiatan pelayanan air minum sesuai dengan sisdur dan ketentuan yang ditetapkan Pemenuhan kebutuhan pelayanan air minum bagi masyarakat sesuai dg standar yang disyaratkan

Berfungsi sebagai regulator, supervisor dan bukan operator

Badan Penyelenggara (PDAM)

Berfungsi sebagai operator yg mandiri, profesional dan akuntabel

selanjutnya mengganggu kinerja operasional pelayanan. Kehilangan air yang cukup tinggi, mengakibatkan berkurangnya peluang pendapatan. Cakupan pelayanan rendah, karena tidak dapat mengalokasikan biaya investasi Rasio produktivitas karyawan rendah. Tingkat efisiensi penerimaan tagihan rekening air rendah, yang berakibat terganggunya arus kas perusahaan (cash flow)
Materi Lokakarya Pola Tindak Peningkatan Kinerja PDAM, Puslitbang Kimpraswil 2003

Masyarakat / LSM

Ikut mendungkung dan meng- Mentaati peraturan dan ke- Partisipasi aktif proawasi implementasi sektor air tentuan yang berkaitan de- gram pengembangminum ngan sistem pengelolaan air an air minum minum

rang substitusi (komplementer) serta kita sadar bahwa kebutuhan air yang layak berpengaruh terhadap derajat kesehatan. Namun demikian, anehnya di negeri ini sektor air minum secara faktual masih kalah dengan sektor lainnya. Hal mendasar yang perlu dilakukan oleh semua pihak yaitu bagaimana menciptakan wacana dan persepsi yang sama bahwa peran pemenuhan kebutuhan air minum, merupakan tanggung jawab bersama antara unsur pemerintah (pusat/daerah), unit/badan penyelenggara dan partisipasi komponen masyarakat sesuai dengan fungsi dan tanggung jawabnya secara proporsional. Secara pragmatis, perlu pemahaman yang konkrit terhadap peran, tanggung jawab dan komitmen, misalnya secara sederhana perlu pemahaman hal berikut : Kondisi Aktual PDAM Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sebagai penyelenggara utama pelayanan air minum di daerah selain mengemban misi sosial juga mengemban misi komersial di samping berfung-

si sebagai pengatur dan penentu kebijakan dan sebagai operator. Secara yuridis formal keberadaan PDAM saat ini merupakan perpanjangan tangan pemerintah daerah yang diberikan otoritas kepada Direksi PDAM untuk menyelenggarakan fungsi pelayanan air minum guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Bentuk susunan organisasi PDAM berdasarkan Surat Keputusan Bersama Mendagri dan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 28/KPTS/1984, bahwa kedudukan PDAM adalah sebagai alat kelengkapan otonomi daerah dan diselenggarakan atas dasar ekonomi perusahaan yang berfungsi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam pengelolaannya dipimpin oleh Direksi di bawah pengawasan suatu Badan Pengawas (Bab II-Pasal 2). Permasalahan umum yang dihadapi dalam pengelolaan PDAM, saat ini antara lain: Kondisi keuangan yang masih belum sehat, yang berdampak pada kesulitan pembayaran utang jatuh tempo Tarif air yang rendah, mengakibatkan ketidakseimbangan antara pendapatan yang diterima dan pengeluaran,

Selain permasalahan umum tersebut, ada beberapa kondisi aktual yang terjadi pasca pemberlakuan kebijakan OTDA, misalnya: i) adanya pemekaran wilayah, sehingga PDAM harus terpisah, ii) konflik kepentingan air baku antar daerah dan atau institusi Tantangan Dengan mengetahui permasalahan yang dihadapi PDAM secara aktual dan tantangan yang dihadapi di masa depan maka langkah/strategi yang perlu dirumuskan dapat dilakukan dengan lebih mudah. Tantangan yang akan dihadapi PDAM di masa depan, antara lain : Aktualisasi dan implementasi Good Corporate Governance (GCG), dalam pengelolaan PDAM Jaminan kualitas (quality assurance) pelayanan PDAM (dampak PP No. 16/ 2005, tentang SPAM) Persaingan dalam pemanfaatan sumber daya air minum Kebebasan akses informasi dan transparansi informasi pelayanan Rencana Strategis Berdasarkan identifikasi permasalahan aktual dan tantangan yang akan dihadapi PDAM masa depan, maka strategi yang dilakukan sebaiknya berfokus pada pengembangan kapasitas (capacity building) untuk mencapai PDAM yang mandiri, profesional dan

Percik

April 2006

37

WAWA S A N
FOTO: MUJIYANTO

memenuhi aspek transparansi dan akuntabilitas. Secara sederhana konsep rencana strategis yang prioritas untuk dilakukan baik oleh pemerintah, penyelenggara maupun peran unsur masyarakat, antara lain : a. Penguatan Aspek Institusi Redefinisi dan restrukturisasi badan hukum PDAM menjadi PT (perseroda). Tindakan strategis yang harus dilakukan pemerintah adalah segera mengesahkan RUU BUMD menjadi undang-undang agar landasan yuridis formal tentang status PDAM semakin jelas dan pasti Dukungan legal formal tentang dokumen kebijakan rencana pengembangan air minum di daerah, yang dituangkan dalam bentuk PERDA. Kejelasan dan kepastian hukum tentang mekanisme kerja dan hubungan struktural antara PDAM, Pemilik, Badan Pengawas dan unsur legislatif (implementasi konsep GCG) b. Aspek Kinerja Keuangan Adanya perubahan kebijakan manajemen sumber daya keuangan yang berfokus pada optimalisasi pendapatan (Cost Based On Revenue). Maknanya setiap aktivitas operasional perusahaan berbasis Cost and Benefit. Perlu dibentuk standar (kisaran normal) struktur tarif air minimum regional. Format standar tarif air berdasarkan studi kelompok sejenis berdasarkan karakteristik masing-masing PDAM dengan model Full Cost Recovery Sistem penyesuaian tarif air minum berdasarkan besaran inflasi dan sebaiknya tercantum dalam dokumen corporate plan c. Sistem dan Organisasi Tersedia SOP di lingkungan kerja internal PDAM, sebagai langkah strategis pelaksanaan kegiatan operasional sesuai dengan fungsi dan tanggung jawab di setiap unit kerja

Model pendekatan komprehensif "capacity building" merupakan rencana tindakan yang strategis untuk mengembangkan PDAM yang semakin profesional dalam menjalankan visi dan misi yang lebih realistis dengan tuntutan lingkungan dan kebutuhan stakeholder.

d. Aspek Pengembangan SDM Tersedia dokumen rencana strategis sistem pembinaan dan pengembangan pegawai Memiliki SOP Rekrutmen Direksi dan Karyawan Mulai menerapkan sistem penilaian prestasi kerja berdasarkan hasil Kesimpulan Untuk mewujudkan perspektif PDAM masa depan yang mandiri, profesional, transparan dan akuntabel dibutuhkan upaya strategis yang melibatkan unsur pemerintah, masyarakat dan jajaran PDAM sendiri, dengan dilandasi kesamaan persepsi, tindakan dan ditindaklanjuti dengan komitmen yang kongkrit. Model pendekatan komprehensif "capacity building" merupakan rencana tindakan yang strategis untuk mengembangkan PDAM yang semakin profesional dalam menjalankan visi dan misi yang lebih realistis dengan tuntutan lingkungan dan kebutuhan stakeholder.
*) Tim Leader Studi Pemberdayaan PDAM Berbasis Penguatan Stakeholder dan Tim Benchmarking PERPAMSI

Terdapat sistem pelaporan manajemen berbasis kinerja, suatu bentuk laporan atas kegiatan manajemen PDAM berdasarkan pencapaian hasil yang dapat diukur, dibandingkan dan berorientasi pada kebutuhan informasi stakeholder. Bentuk struktur organisasi PDAM yang mampu memenuhi tuntutan lingkungan saat dan masa depan cenderung menggunakan model yang fungsional dan horizontal (tidak lagi struktural)

38

Percik

April 2006

OPINI

Membuka Lapangan Kerja dengan Sistem Penanganan Sampah

dibutuhkan untuk itu berkisar 3-4 asus penolakan masyaraOleh: jam/hari. Durasi waktu ini sekat atas pengoperasian Sandhi Eko Bramono, S.T., MEnvEngSc.* sungguhnya masih berada di TPST (Tempat Pengolahbawah standar jam kerja minian Sampah Terpadu) Bojong, Kab. mum, yaitu 8 jam/hari. Rendahnya secara langsung dan tidak langsung, Bogor, Jawa Barat, serta peristiwa longefisiensi sistem pengumpulan sampah akan membuka sejumlah peluang usaha sornya IPS (Instalasi Pengolahan Samini, menyebabkan sampah yang dapat baru bagi masyarakat. pah) Leuwigajah di Bandung, merudikumpulkan tidak dapat mencapai 200 Sistem pengumpulan sampah didepakan suatu bukti lemahnya sistem rumah/hari. Hal ini akhirnya dikomfinisikan sebagai sistem pemindahan penanganan sampah di Indonesia. Di pensasikan dengan penyediaan invessampah dari sumber sampah (kawasan berbagai kota besar di Indonesia, samtasi gerobak sampah tambahan, dengan permukiman, kawasan perdagangan, pah menumpuk di mana-mana, waktu asumsi bahwa gerobak sampah hanya kawasan industri, dan lain-lain), menupengumpulan sampah oleh gerobak akan mengumpulkan sampah sebanyak ju ke TPS (Tempat Pembuangan Semensampah dan pengangkutan sampah oleh 1 ritasi/hari. tara) sampah. Di Indonesia hal ini truk sampah tidak teratur, ceceran air Dari tinjauan ekonomi, hal ini meruumumnya dilakukan dengan menggusampah menetes di jalan-jalan yang pakan suatu pemborosan, mengingat nakan gerobak sampah. dilalui truk sampah, hingga pengolahan petugas gerobak sampah digaji untuk Penggunaan gerobak sampah, baik sampah yang tidak dioperasikan dengan waktu kerja 8 jam/hari. Sementara peryang terbuat dari kayu maupun baja, benar, merupakan sebagian potret mintaan untuk keterkumpulan sampah secara langsung akan meningkatkan buram buruknya penanganan sampah hingga 100 persen setiap harinya, penyerapan lapangan kerja dalam di negeri ini. mengakibatkan diharuskannya pembebidang manufaktur gerobak tersebut Itu sebenarnya bisa diatasi bila ada rian investasi gerobak tambahan yang dan berbagai produk industri pensistem penanganan sampah yang baik. jumlahnya menjadi dua kali dari jumlah dukungnya. Setiap gerobak sampah Sistem ini akan menguntungkan magerobak sampah yang seharusnya dibumampu mengumpulkan sampah untuk syarakat selaku produsen sampah setuhkan. Lagi-lagi karena adanya inves100 rumah setiap harinya. Waktu yang cara berantai. Selain kualitas lingkungan yang tetap terjaga karena tingkat FOTO:ISTIMEWA kebersihan yang tinggi, kualitas hidup masyarakat juga akan semakin terdorong lebih tinggi, ternyata terdapat suatu faktor yang mungkin sangat jarang untuk diangkat ke permukaan, yaitu masalah pembukaan lapangan kerja. Dengan adanya sistem penanganan sampah yang baik, sejumlah tenaga kerja akan terserap untuk pengadaan gerobak sampah, petugas gerobak dan truk sampah, serta mengoperasikan IPS. Belum lagi dampak dari pemanfaatan produk olahan sampah, berupa kompos yang dapat menjadi pupuk organik, gas bio yang dapat dimanfaatkan kandungan kalornya, serta abu insinerasi yang dapat dimanfaatkan sebagai agregat batako, maka

Percik

April 2006

39

OPINI
FOTO:ISTIMEWA

tasi ganda ini, biaya pengoperasianpemeliharaan-perawatan gerobak sampah akan menjadi dua kali lipat pula. Namun dampak ekonomi lainnya yang sesungguhnya perlu disadari adalah terdapat penambahan petugas sampah yang juga berarti turut membuka sejumlah lapangan kerja. Penyediaan gerobak sampah juga akan membuka peluang usaha tambahan bagi manufaktur dan industri, khususnya yang bergerak sebagai penyedia material kayu, material baja, cat kayu, cat tembok, hingga penyedia produk sarung tangan, garu, pengki, dan tukang jahit untuk seragam petugas gerobak sampah. Halhal inilah yang seharusnya juga dapat menjadi suatu kajian bagi pemerintah. Bahwa seringkali efisiensi dalam penanganan suatu sarana infrastruktur di Indonesia (termasuk persampahan), adalah cukup rendah, namun cukup efektif. Dari segi investasi, hal ini dapat dikatakan sebagai suatu pemborosan, begitu pula dari segi biaya pengoperasianpemeliharaan-perawatan. Namun dari segi dampak sosialnya, ada begitu banyak peluang kerja yang terjadi di masyarakat, yang akhirnya berperan serta dalam meningkatkan taraf ekonomi dan penghidupan masyarakat lainnya.

Sistem Pengangkutan Sampah Sistem pengangkutan sampah didefinisikan sebagai sistem pemindahan sampah dari TPS (Tempat Pembuangan Sementara) sampah ke IPS (Instalasi Pengolahan Sampah). Di Indonesia, hal ini umumnya dilakukan dengan menggunakan truk sampah. Truk sampah umumnya dipilih dengan menggunakan material baja sebagai material bak pengangkutnya. Hal ini akan membuka peluang usaha pula bagi manufaktur dan industri yang berkaitan dengan truk sampah. Dengan penyediaan truk sampah, akan terdapat sejumlah dampak rantai ekonomi pula, seperti jumlah tenaga kerja yang terserap dalam indutri pembuatan truk sampah, bahkan hingga jumlah tenaga kerja yang terserap menjadi petugas truk sampah. Sekali lagi dengan mempertimbangkan jumlah petugas truk sampah yang bertugas, pada kenyataannya di lapangan, sering ditemukan "petugas truk sampah tembakan" yang bekerja paruh waktu dengan petugas truk sampah yang sesungguhnya. Hal ini tentu sangat mengurangi efisiensi sistem pengangkutan sampah, karena akan sangat minimnya kualitas standar kerja yang akan diterapkan para "petugas truk

sampah tembakan" ini. Tentu mereka tidak terlatih untuk mengangkut sampah sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan, tidak terlatih untuk membuang sampah di IPS sesuai dengan prosedur yang ditetapkan, dan bahkan mungkin akan kurang bertanggung jawab terhadap kualitas penampung sampah di truknya yang sudah rusak dan berlubang. Namun hal ini seringkali terjadi di lapangan dan sulit pengawasannya. Disadari atau tidak disadari, hal ini juga membuka lapangan kerja baru bagi para "petugas truk sampah tembakan" ini. Akan terdapat sejumlah tenaga kerja yang dipekerjakan di sana, memutar roda perekonomian mereka, dan akhirnya memberikan peningkatan kualitas kesejahteraan mereka pula. Sekali lagi, efisiensi dalam penanganan suatu sarana infrastruktur di Indonesia (termasuk persampahan), adalah cukup rendah, namun cukup efektif. Pemborosan dari biaya investasi, maupun biaya pengoperasian-pemeliharaan-perawatan akan meningkat pula. Sistem Pengolahan Sampah Sistem pengolahan sampah didefinisikan sebagai sistem pemrosesan sampah untuk menjadi suatu produk yang memiliki dampak lingkungan yang lebih rendah jika dibuang ke lingkungan. Hal ini dapat dilakukan dengan proses konversi sampah menjadi suatu produk yang lebih bermanfaat serta memiliki nilai ekonomis, dan harus memberikan dampak negatif lingkungan yang minim. Sampah yang diolah menjadi kompos, sudah barang tentu akan memberikan nilai eknomis bagi sampah itu sendiri. Yang dapat segera dikerjakan adalah, masyarakat dapat diajarkan cara membuat kompos secara sederhana dan strategi pemasaran yang handal untuk dapat menjual kompos. Penggunaan produk pertanian organik yang sedang marak dewasa ini, juga dapat menjadi

40

Percik

Desember 2005

OPINI

pendorong baru terhadap pemanfaatan kompos ketimbang pupuk kimia. Dalam hal ini, sampah yang semula dianggap tidak ekonomis, dapat membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat untuk bisa menjual kompos. Dengan harga kompos yang lebih rendah ketimbang pupuk kimia, didukung dengan adanya pemasaran produk-produk pertanian organik, serta para petani yang mulai beralih dari pupuk kimia menjadi kompos, akhirnya akan menjadi suatu sinergi positif untuk memutar roda perekonomian dari produk pengolahan sampah ini. Secara tidak langsung, kesederhanaan dalam proses pengomposan, didukung pula oleh pemasaran kompos yang prima, akan melahirkan banyak jiwa kewirausahaan dalam masyarakat. Masyarakat menjadi berkeinginan untuk bisa belajar bagaimana proses pembuatan kompos. Akan terbuka sejumlah peluang tenaga kerja bagi para pengajar untuk memberikan penyuluhan pembuatan kompos, ada sejumlah tenaga kerja yang terserap untuk memasarkan IPS yang menggunakan proses pengomposan, sejumlah tenaga kerja akan terserap untuk memasarkan kompos pada petani atau Dinas Pertamanan setempat untuk memanfaatkan kompos, akan terserap sejumlah tenaga kerja untuk mengoperasikan IPS yang menggunakan proses pengomposan, hingga akhirnya akan melahirkan banyak tenaga kerja berupa pedagang produk sayur-sayuran serta buah-buahan organik di berbagai kawasan. Hal tersebut merupakan contoh dari suatu pembukaan lapangan kerja baru dengan mengandalkan produk pengolahan sampah berupa kompos. Proses pengolahan lainnya juga dapat membuka lapangan kerja baru, yang spesifik terhadap setiap jenis proses pengolahan sampah. Peran Serta Pemerintah Dalam tinjauan kacamata ekonomi mikro, aspek pembukaan lapangan ker-

ja menjadi suatu hal yang sangat krusial. Pemanfaatan dan pendayagunaan nilai ekonomi dari suatu produk sarana infrastruktur, termasuk dalam hal ini persampahan, akan memberikan nilai tambah yang signifikan dari suatu investasi yang ditanamkan. Seperti pada sistem pengumpulan sampah dan sistem pengangkutan sampah di Indonesia seperti yang tersebut di atas, seringkali sistem ditemukan berjalan tidak efisien, tidak mematuhi prosedur, namun efektif. Hal ini tentu harus sedikit demi sedikit dikurangi dan akhirnya dihilangkan, untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan anggaran yang disediakan. Peningkatan lapangan pekerjaan memang terjadi pada sistem tersebut, namun efisiensi yang terjadi juga sangat rendah. Pemerintah harus menyikapinya dengan memberikan penyuluhan yang baik kepada para petugas sampah, dengan tetap mempertimbangkan pembukaan lapangan kerja yang dapat dialihkan dari sistem pengumpulan sampah dan sistem pengangkutan sampah, ke sistem pengolahan sampah. Pada sistem pengolahan sampah, akan terdapat peluang yang lebih besar dalam hal
FOTO:ISTIMEWA

penyerapan tenaga kerja. Produk-produk pengolahan sampah umumnya memiliki nilai jual yang baik, jika pemerintah juga menyediakan suatu penataan kelembagaan dan payung hukum yang tepat untuk memasarkannya. Dengan teknik pemasaran yang didukung oleh pemerintah, maka akan terbuka sejumlah peluang baru di mana masyarakat dapat terlibat aktif di sana, yang akhirnya akan membuka berbagai peluang kewirausahaan yang seluas-luasnya. Dengan hal tersebut, maka diharapkan paradigma sampah sebagai produk yang tidak memiliki nilai ekonomi, justru dapat diubah menjadi suatu produk yang memiliki nilai ekonomi serta nilai jual, yang pada akhirnya akan membuka lapangan kerja baru untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat.
Penulis adalah praktisi bidang persampahan; alumnus program pascasarjana School of Civil and Environmental Engineering, UNSW, Australia; anggota InSWA (Indonesian Solid Waste Association) dan IATPI (Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia)
*)

Percik

April 2006

41

WAWA S A N

Rekiblatisasi Mekanisme Penanganan Air Minum di Indonesia :

Dari Teknokrasi Menuju Partisipasi

ir merupakan unsur terpenting bagi hidup manusia. Manusia mampu bertahan hidup tanpa makan dalam beberapa minggu, namun tanpa air akan mati dalam beberapa hari. Dalam bidang kehidupan ekonomi modern, air juga merupakan hal utama mulai dari budidaya pertanian, industri, pembangkit tenaga listrik, hingga transportasi. Karenanya, air seharusnya diperlakukan sebagai bahan yang sangat bernilai, dimanfaatkan secara bijak, dan dijaga terhadap pencemaran. Bukannya malah dihamburkan, dicemari, dan disia-siakan, sehingga hampir separuh penduduk dunia, menderita berbagai penyakit yang diakibatkan oleh kekurangan air atau oleh air yang tercemar. Banyak orang memahami masalah pencemaran lingkungan akibat perindustrian tapi tetap tidak menyadari im-

Oleh: I Gede Arya Sunantara *)


plikasi lebih jauh dari itu. Industri sesungguhnya menggunakan air jauh lebih sedikit dibandingkan dengan irigasi. Namun dampaknya mungkin lebih parah dipandang dari dua segi. Pertama, penggunaan air bagi industri tidak diatur dalam kebijakan sumber daya air nasional sehingga cenderung berlebihan dan tidak efisien. Kedua, pembuangan limbah industri yang tidak diolah menyebabkan air permukaan atau air bawah tanah menjadi berbahaya untuk dikonsumsi. Air buangan industri sering dibuang tanpa melalui proses pengolahan apapun. Di sebagian wilayah Indonesia, masalah terbesar mengenai persediaan air minum bukan terletak pada kelangkaan air dibanding dengan jumlah penduduk,
FOTO: MUJIYANTO

melainkan dari kekeliruan menentukan kebijakan tentang air. Masyarakat dan pemerintah baru menyadari masalah tersebut lama setelah akibat yang tak dikehendaki muncul. Jadi meskipun penambahan investasi dalam sektor ini diperlukan, penambahan itu perlu disertai dengan perubahan. Konservasi sumber-sumber daya, penggunaan air secara efisien, dan penyediaan layanan yang berkesinambungan, terjangkau dan diterima bagi setiap orang harus lebih diperhatikan, dan penggunaan teknologi yang membutuhkan subsidi besar yang akan macet hanya dalam waktu singkat juga perlu dibenahi. Teknologi manapun yang bisa memenuhi kriteria tersebut harus dianggap cocok. Artinya, kalau tidak segera dilakukan perubahan yang radikal dalam cara memanfaatkan air, mungkin suatu ketika air tidak lagi dapat digunakan tanpa pengolahan khusus yang biayanya melewati jangkauan sumber daya ekonomi yang dimiliki negara. Oleh karena itu, dalam jangka panjang akan sangat penting memikirkannya dari segi pengintegrasian layanan-layanan lingkungan ke dalam suatu paket pengelolaan air, sanitasi, saluran, dan limbah padat yang komprehensif. Perbaikan dan Efisiensi Perbaikan pada efisiensi dalam pengoperasian dan pemulihan sumber air minum jauh lebih baik dan akan memberikan hasil yang lebih nyata daripada pengolahan pada akhir proses

42

Percik

April 2006

WAWA S A N

yang mahal sebab banyak masalah pencemaran berkaitan langsung dengan masalah-masalah pengoperasian dan pemeliharaan, serta rendahnya niat untuk konservasi dan pemulihan sumber air. Ini artinya masalahnya bukan hanya karena tidak cukup persediaan air tetapi lebih kepada air yang ada itu tidak dikelola secara layak atau tidak dibagikan secara merata. Misalkan saja, bagian air yang hilang karena kebocoran terlalu besar. Kebocoran tersebut bisa saja karena ulah oknum yang mengambil air tanpa membayar, atau adanya kebocoran administratif, yang pada akhirnya berdampak pada mutu pelayanan pengadaan air minum kepada masyarakat. Sering sebagian besar air yang tersedia hanya digunakan oleh sejumlah kecil konsumen besar. Maksudnya adalah, penggunaan air bersih lebih dikuasai oleh kelompok industri daripada rumah tangga, padahal di sisi lain, kelompok industri tidak melakukan mekanisme yang sesuai untuk menangani limbahnya. Selain itu, para pengguna membayar terlalu rendah untuk layanan. Tidak adanya perbandingan yang seimbang antara biaya yang dikeluarkan pemerintah dan bayaran yang telah diberikan oleh pengguna untuk pemakaian jasa pengadaan air bersih sehingga terjadi subsidi dari pemerintah yang terus menerus. Hal ini akan berpengaruh pada kualitas pelayanan. Inilah yang kemudian mengakibatkan kelompok lain terpaksa menggunakan alternatif yang mahal. Rumah tangga yang membeli air untuk konsumsi dari para penjaja membayar dua kali hingga enam kali dari rata-rata yang dibayar bulanan oleh mereka yang mempunyai sambungan saluran pribadi untuk volume air yang hanya sepersepuluhnya. Berpikir "Kecil dan Lokal" Ketika permasalahan telah menukik seperti di atas, perencana yang bertanggung jawab dalam hal penyediaan air

yang berkualitas-biasanya pemerintahdengan sokongan dana yang ada pasti akan lebih mudah untuk membangun sistem penyediaan baru, yang secara politis sangat gampang dilihat, daripada menggunakan dana yang tersedia untuk memperbaiki barang-barang yang mendekati kebobrokan. Pemusatan perhatian pada perluasan pasokan yang terjadi kemudian dan tidak adanya kebijakan nasional yang mengharuskan pengalokasian air lebih efisien, akan mengarah pada keparahan penyedotan yang berlebihan terhadap jaringan lapisan sumber air bawah tanah. Akibatnya bisa muncul kelangkaan air, permukaan air yang jatuh di bawah saluran pompa penyedot, dan air garam yang terserap ke dalam jaringan lapisan sumber air dan menyebabkan air tak dapat dimanfaatkan untuk minum atau irigasi.

Tidak adanya perbandingan yang seimbang antara biaya yang dikeluarkan pemerintah dan bayaran yang telah diberikan oleh pengguna untuk pemakaian jasa pengadaan air bersih sehingga terjadi subsidi dari pemerintah yang terus menerus. Hal ini akan berpengaruh pada kualitas pelayanan.

Seharusnya, daripada membangun sumber baru yang mahal, perlu penawaran untuk menjalankan program manajemen yang komprehensif, meliputi: 1) Deteksi dan perbaikan kebocoran; 2) Deteksi dan perbaikan meteran; 3) Perbaikan dan modifikasi barang-barang disain lama di permukiman; kepada rumah tangga di daerah tersebut ditawarkan pemasangan peralatan yang hemat air lengkap dengan survei deteksi kebocoran. 4) Industrial; yaitu

dilakukan audit komersial dan institusional (yang menggabungkan energi dan air) ditawarkan dan hasilnya disebarluaskan. Dengan mengubah secara sederhana peralatan, perlengkapan dan pemeliharan, bisa diantisipasi penghematan sekitar 10 persen hingga 25 persen. 5) Memodifikasi bangunan umum; di tempat-tempat umum dipasang toilet yang hemat air. 6) Informasi untuk masyarakat mengenai tujuan dan hasil program. Program di atas pada prinsipnya bertujuan untuk mengetahui bahwa banyak kelompok masyarakat di Indonesia yang memiliki banyak sumber daya tertentu tapi miskin keahlian dan peralatan impor. Karena itu proyek yang diharapkan bisa tahan lama harus lebih menekankan pada pengembangan industri lokal untuk manufaktur dan konstruksi. Kekokohan harus lebih ditekankan daripada keterandalan. Maksudnya, memungkinkan perbaikan cepat sesuatu yang rusak dengan memakai sumber-sumber daya lokal yang ada. Jadi fokusnya adalah pemberdayaan potensi-potensi lokal sebagai basis penyelenggaraan pengadaan air minum untuk umum. Perencana perlu berpikir "kecil dan lokal". Membuat perencanaan yang besar dan terpusat memerlukan pengendalian atas urbanisasi yang akan datang. Di Indonesia kendali inilah yang tidak ada, dan mungkin adanya proyek-proyek besar yang terpusat itu secara ekonomis tidak lagi signifikan. Proses pengambilan keputusan juga perlu diperbaiki. Keputusan-keputusan seharusnya paling tidak didasarkan pada "biaya masa siklus" (lifecycle cost) yang meliputi semua biaya yang dibutuhkan untuk menjaga investasi yang diusulkan supaya tetap terawat dan beroperasi dengan efisien. Pertimbangan penting lainnya ialah bahwa sebenarnya ada pemecahan yang bisa dirancang secara lokal dan padat karya sehingga menciptakan banyak lapangan kerja. Pemecahan semacam

Percik

April 2006

43

WAWA S A N

ini memiliki kesempatan lebih besar untuk bisa terus beroperasi dalam jangka panjang. Dampak kesehatan layanan air dan sanitasi merupakan contoh khusus dari biaya dan manfaat jangka panjang yang sering diabaikan. Pengembangan yang tidak seimbang (meningkatnya kuantitas persediaan air tanpa menyediakan sarana pembuangan limbah air atau sarana sanitasi pokok) secara politis memang populer, tetapi mungkin tidak menaikkan tingkat kesehatan sebab lingkungan tetap tercemar. Limbah industri yang tidak ditangani mungkin akan menimbulkan masalah kesehatan di kemudian hari. Dari uraian di atas dapat dikatakan di sini bahwa hampir tiap orang mengetahui "masalah air", tapi hampir tak seorangpun di luar sektor itu yang tahu bahwa ada masalah sanitasi yang sama seriusnya dengan masalah air yang telah mendapat publikasi lebih baik. Padahal, terdapat hubungan yang erat antara masalah sanitasi dan penyediaan air. Tiga Pilar Intinya, penyediaan air harus diintegrasikan dengan layanan lingkungan perkotaan yang lainnya. Terutama, dalam kaitan eratnya dengan sanitasi, dua hal ini harus dikembangkan secara paralel. Tetapi, sanitasi tidak akan dianggap sebagai prioritas penting tanpa adanya saluran pembuangan air (selokanselokan). Selokan tidak akan jalan tanpa adanya pengelolaan limbah padat yang lebih baik. Manfaat dan perlindungan optimal terhadap lingkungan hanya bisa diberikan oleh paket layanan terpadu yang dirancang dengan baik sehingga perlu dipikirkan mekanisme apa yang bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah ini. Berikut ini upaya-upaya yang dapat dilakukan terutama untuk mengatasi permasalahan penyediaan sumber daya air di Indonesia, di antaranya :

FOTO: MUJIYANTO

Hampir tiap orang mengetahui "masalah air", tapi hampir tak seorangpun di luar sektor itu yang tahu bahwa ada masalah sanitasi yang sama seriusnya dengan masalah air yang telah mendapat publikasi lebih baik.
Konservasi; Program konservasi biasanya harus terdiri atas kegiatan-kegiatan yang dirancang untuk saling melengkapi. Di beberapa negara berkembang, dengan sistem lama yang kondisinya menyedihkan, prioritas pertama harus ditujukan pada pengurangan air yang terbuang. Pengawasan sistem dan deteksi kebocoran yang teratur adalah pekerjaan konservasi yang paling sederhana dan tidak membutuhkan peralatan yang canggih. Prioritas kedua, yaitu mengharuskan digunakannya peralatan yang menggunakan air dengan disain yang lebih efisien. Selain itu, sistem penyaluran air juga diperbaiki dan

program modifikasi barang-barang disain lama juga dilancarkan. Prioritas ketiga, yaitu tarif yang dirancang dengan tepat. Pada prinsipnya ongkos air harus naik sesuai dengan meningkatnya jumlah pemakaian air sehingga untuk keperluan pokok air tersedia dengan harga yang terjangkau, tetapi jumlah yang lebih besar (yang digunakan untuk kemewahan, seperti menyiram kebun, mencuci mobil, dan mengisi kolam renang) secara progresif harganya naik. Seluruh rangkaian kegiatan konservasi di atas ini biasanya merupakan prasyarat untuk menciptakan kondisi penyediaan air yang lebih baik, dengan tetap menuntut peran serta konsumen untuk turut serta dalam bagian-bagian lain program ini. Pilihan-pilihan yang lebih baik dalam proses industri dan industrialisasi; kemungkinan untuk penghematan yang sangat besar dengan memerintahkan industri untuk menggunakan proses yang hemat air dan memanfaatkan daur ulang. Pengawasan yang lebih ketat terhadap penyedotan air oleh industri, termasuk membebani industri dengan biaya yang realistis untuk penggunaan sumber-sumber

44

Percik

April 2006

WAWA S A N

daya ini. Pendidikan dan peran serta rakyat sebagai konsumen; ini sangatlah penting terutama di tempat yang kondisi penyediaan airnya buruk atau di tempat yang terjadi ketimpangan antara tarif air dan pelayanan, dimana perlu dilakukannya usaha-usaha perbaikan misalnya antara lain : a) Teknologi pengolahan air; Sekarang ada kecenderungan ke arah penggunaan teknologi yang jauh lebih sederhana dan bukannya penggunaan sistem penyaringan rumit yang menggunakan berbagai bahan filter dan kontrol otomatis, sehingga untuk pemasangan dan pengawasan kerjanya bisa diserahkan kepada masyarakat atau pengguna. b) Standar pasokan air; tata cara di banyak negara berkembang diwarisi dari administrasi pemerintah kolonial sebelumnya. Walaupun secara teknis bagus, aturan ini cenderung terasa berlebihan karena awalnya dirancang untuk diterapkan pada kondisi yang berbeda. Peninjauan kritis tentang standar yang ada sekarang akan menunjukkan bahwa lebih banyak lagi orang yang bisa dilayani dengan anggaran yang secara keseluruhan sama. Sekarang tersedia program-program komputer yang mempermudah perancang untuk mengkaji efek penetapan parameter yang lebih tepat terhadap masyarakat yang dilayani daripada mengadopsi kriteria yang diimpor. Program ini memungkinkan perencana untuk merancang jaringan distribusi hemat biaya yang bisa dijalankan hanya dengan biaya separuh biaya jaringan konvensional. c) Peranan masyarakat; keterlibatan komunitas yang lebih besar, yang sudah waktunya untuk diakui selama dekade ini sebagai unsur penting untuk ketahanan jangka panjang. Di daerah kota, pendekatanpendekatan serupa dalam rencana perbaikan kota telah menghasilkan keterlibatan LSM dan kelompok-kelompok masyarakat. d) Rancangan tarif yang lebih baik dan mekanisme pemulihan biaya; Perusahaan-perusahaan air sering

Indonesia hendaknya tidak meniru sistem penyediaan air dan pembuangan limbah cair seperti negara maju. Lebih baik bila mencipta sistemnya sendiri berdasarkan pelajaran di masa lampau untuk menanggapi kondisi masa kini.
menggunakan biaya rata-rata atau biaya 'historis' sebagai dasar penentuan tarif air. Akibatnya, tarif yang mereka tentukan terlalu rendah karena dua hal. Pertama, karena inflasi biaya sebenarnya telah meningkat sejak sistem dibangun. Kedua, karena konsumsi air yang meningkat memaksa perusahaan untuk memperluas kapasitas produksi airnya, maka perusahaan harus mengembangkan sumber-sumber baru, dan tiap-tiap sumber itu secara progresif makin mahal dibandingkan sumber-sumber daya yang telah ada. Memang terpaksa demikian, kalau pemecahan yang makan biaya paling sedikit dipilih pada saat sumber-sumber itu sedang direncanakan. Dengan demikian perusahaan itu dihadapkan pada biaya marjinal dalam jangka panjang yang terus meningkat yang perlu dimasukkan ke dalam tarif supaya hal ini bisa mengurangi konsumsi berlebihan dan supaya bisa menunda kebutuhan untuk mengembangkan penyediaan tambahan yang baru dan mahal. Tarif-tarif ini menggunakan pembiayaan marjinal untuk mencerminkan biaya sumber daya yang sebenarnya, yang akan meningkat begitu konsumsi meningkat supaya orang tidak terangsang untuk boros air. Sementara itu ada juga tarif tingkat 'pertolongan' yang membantu orang-orang miskin supaya dapat menjangkau konsumsi minimum yang pokok. Tarif seperti itu pada akhirnya harus memungkinkan perusahaan air untuk secara finansial bisa mencukupi dirinya sendiri, beroperasi dan merawat sistem-sistem

mereka tanpa tergantung pada subsidi dari luar. Kesimpulan dan Saran "Melaksanakan kegiatan (bussiness as usual) seperti biasa" sudah tidak lagi dapat diterima sehingga yang harus dilakukan adalah rekiblatisasi, atau evolusi. Diperlukan sejumlah pendekatan (yang menawarkan bermacam pilihan teknik, finansial, dan institusional) untuk menyesuaikan dengan sifat-sifat sosial ekonomi penduduk yang dilayani, dan dapat ditingkatkan apabila dikehendaki oleh perubahan keadaan. Indonesia hendaknya tidak meniru sistem penyediaan air dan pembuangan limbah cair seperti negara maju. Lebih baik bila mencipta sistemnya sendiri berdasarkan pelajaran di masa lampau untuk menanggapi kondisi masa kini, dan dengan demikian dapat menghindari kesalahan-kesalahan yang dapat mengakibatkan kegagalan sistem dan masalah lingkungan di negara-negara industri. Akhirnya sebagai penutup berdasarkan seluruh uraian di atas terdapat tiga prinsip yang juga merupakan kesimpulan sekaligus saran yang mendukung pembangunan masa depan yang sehat dalam sektor penyediaan air di negara ini, yaitu : 1) Konservasi; 2) Ketahanan (keberlangsungan); 3) Sistem Melingkar (Circular System), Dengan meningkatnya tekanan jumlah penduduk terhadap sumber-sumber daya yang terbatas, maka kita perlu memikirkan sistem melingkar, bukan garis lurus. Kota yang membuang polusinya ke saluran air dan menyebabkan masalah bagi orang lain tidak bisa diterima lagi. Sebaliknya, air limbah yang telah diolah seharusnya dianggap sebagai suatu sumber bernilai yang dapat dipakai.
*) Alumni Program Pasca Sarjana S.2 Ilmu Administrasi Negara FISIPOL UGM dan Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik - MPRK UGM. Pengamat masalah water security. Tinggal di Yogyakarta.

Percik

April 2006

45

I N F O BU K U

Mengatasi Banjir dan Kekeringan Sekaligus


K
ondisi alam Indonesia berada dalam taraf mengkhawatirkan. Bila musim hujan datang, banjir dan tanah longsor melanda berbagai daerah seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Puluhan jiwa menjadi korban sia-sia. Harta benda dan lahan pertanian hancur. Bila musim kemarau tiba, kekeringan pun menghampiri. Air sulit didapatkan, kendati hanya untuk kebutuhan minum dan rumah tangga. Ironi ini terus terjadi. Penanganan yang telah dilakukan tampaknya tak membuahkan hasil. Ada kesalahan konsep dalam menangani permasalahan ini. Metode parsial rekayasa prasarana sipil murni yang lebih banyak dikedepankan. Padahal konsep ini justru banyak membawa dampak negatif dan menguras dana yang besar. Karenanya dibutuhkan konsep dan pemahaman baru yang lebih relevan, komprehensif dan secara sistemik mempunyai nilai lebih yang signifikan dibanding konsep parsial yang sudah berlangsung.
JUDUL : MENANGANI BANJIR, KEKERINGAN, DAN LINGKUNGAN PENULIS:
Agus Maryono PENERBIT : Gadjah Mada University Press TAHUN TERBIT : 2005 TEBAL : xvii + 162 halaman

Buku ini menawarkan konsep Integral eco hydraulic, yang memadukan komponen-komponen ekologi dan fisikhidraulik, hidrologi, dan morfologi. Konsep ini telah diterapkan di berbagai negara di dunia seperti Jepang, Jerman, Inggris, Amerika, dan Kanada. Hasilnya sangat bagus dan berkelanjutan. Menurut konsep ini, kunci penyelesaian banjir yaitu bahwa daerah aliran sungai (DAS), wilayah sungai (WS), sempadan sungai (SS), dan badan sungai (BS)

harus dipandang sebagai kesatuan ekosistem dan ekosistem ekologi-hidroulik yang integral. Penyelesaian banjir harus dilakukan secara integral dari hulu hingga hilir. Metode yang dipakai adalah menahan atau meretensi air di DAS bagian hulu, tengah, dan hilir, serta menahan air di sepanjang wilayah sungai, sempadan sungai, dan badan sungai di bagian hulu tengah dan hilir. Cara ini sekaligus merupakan upaya untuk menanggulangi kekeringan suatu kawasan atau DAS. Dengan konsep ini, normalisasi sungai yang berarti pelurusan sungai, pengerasan tebing sungai merupakan tindakan yang tidak tepat. Buku ini pun menawarkan bagaimana metode eko-drainase untuk mengatasi banjir sekaligus kekeringan. Metode itu yakni kolam konservasi, sumur resapan, river side polder, dan pengembangan areal perlindungan air tanah. Makanya buku ini layak dibaca bagi para perencana wilayah dan para pengambil kebijakan.
(MJ)

Promosi Kesehatan
asalah kesehatan ditentukan oleh dua faktor utama yakni perilaku dan nonperilaku (lingkungan dan pelayanan). Perbaikan lingkungan fisik dan peningkatan sosio budaya, serta peningkatan pelayanan kesehatan merupakan intervensi terhadap faktor nonperilaku. Sedangkan pendekatan terhadap faktor perilaku yaitu promosi atau pendidikan kesehatan. Promosi kesehatan merupakan pendekatan untuk meningkatkan kemauan dan kemampuan masyarakat guna memelihara dan meningkatkan kesehatan. Tujuan akhir promosi kesehatan bukan sekadar masyarakat mau hidup sehat (willingness), tetapi juga mampu (ability) untuk

JUDUL:

PROMOSI KESEHATAN, TEORI DAN APLIKASI


EDITOR : Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo, SKM, M.Com.H PENERBIT : Rineka Cipta TEBAL : viii + 389 halaman

hidup sehat. Promosi kesehatan secara teori maupun sebagai seni (aplikasi) mencakup bidang keilmuan lain. Promosi kesehatan dapat dikelompokkan dalam dua bidang yakni (a) ilmu perilaku, yakni ilmu yang menjadi dasar dalam mem-

bentuk perilaku manusia, terutama psikologi, antropologi, dan sosiologi; (b) ilmu-ilmu yang diperlukan untuk intervensi perilaku antara lain pendidikan, komunikasi, manajemen, kepemimpinan, dan sebagainya. Sedangkan berdasarkan dimensi dan tempat pelaksanaannya, promosi kesehatan dibagi dua dimensi yakni aspek sasaran pelayanan kesehatan, dan tempat pelaksanaannya. Walhasil, cakupuan promosi kesehatan sangat luas. Buku ini cukup representatif menguraikan satu persatu mengenai hal itu. Mulai dari teori-teori dasar, hingga aplikasi yang mudah untuk dipahami. (MJ)

46

Percik

April 2006

INFO CD

Kompilasi Data AMPL

elama ini data-data mengenai air minum dan penyehatan lingkungan (AMPL) terserak di banyak tempat. Selain terserak, data-data yang ditampilkan pun berbeda-beda, tergantung pada instansi mana yang mengeluarkan dan tolok ukur apa yang digunakan. Di sisi lain, para perencana pembangunan tentu butuh data standar yang bisa dipakai untuk perencanaan pembangunan berikutnya. Kondisi itu mendorong Kelompok Kerja (Pokja) AMPL memproduksi CD Data AMPL. CD ini berisikan data-data AMPL dari berbagai instansi/lembaga. Data-data yang ada dikompilasikan berdasarkan kriteria umum. Jadi datadata tetap seperti semula tapi lebih terorganisasi.

Dengan adanya CD data ini diharapkan para pemangku kepentingan akan

lebih mudah mencari data-data AMPL. Di balik itu, Pokja AMPL berharap instansi/lembaga yang terkait bisa bersama-sama menyusun standar data sekaligus dengan tolok ukur yang seragam sehingga data yang dihasilkan tak lagi berserakan dan berbeda satu dengan yang lain. Data-data yang ditampilkan dikelompokkan dalam bidang air minum, air limbah, sampah, dan drainase. Data tersebut diambil antara lain dari Biro Pusat Statistik, Departemen Kesehatan, Departemen PU, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan sumber lain seperti WHO, Bank Dunia serta buku-buku penelitian. CD ini bisa diperoleh secara cuma-cuma di sekretariat Pokja AMPL. (MJ)

Pengalaman Proyek WSLIC-2


M
ungkin sudah banyak orang mengenal atau minimal mendengar proyek Water and Sanitation for Low Income Community (WSLIC) 2. Namun belum mengetahui apa saja yang dilakukan di lapangan. Video CD ini memberi gambaran sukses proyek WSLIC-2 beserta seluruh proses yang terjadi di dalamnya sejak awal hingga proyek itu terlaksana dan berlanjut. VCD diawali gambaran umum kondisi masyarakat perdesaan yang berpenghasilan rendah dalam menghadapi persoalan air bersih. Kesulitan air bersih telah menyita waktu mereka sehingga mereka menjadi tidak produktif. Proyek ini mencoba mengatasi masalah ini dengan sebuah model pemberdayaan masyarakat dengan metode MPA-PHAST. Dari VCD ini, penontonnya bisa melihat bagaimana praktek penerapan metode tersebut di masyarakat. Masyarakat dilibatkan secara langsung sejak dari proses perencanaan, pembangunan, dan pemeliharaan sarana air minum. Melalui fasilitator, masyarakat difasilitasi untuk mampu mengatasi masalahnya dengan kemampuan yang dimilikinya. Masyarakat memberikan kontribusi berupa sedikit dana dan tenaga. Sementara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan Bank Dunia pun mendukung dana yang diperlukan. Visualisasi yang mengambil obyek proyek WSLIC di Kabupaten Lumajang ini mungkin bisa dijadikan gambaran bagaimana pelaksanaan proyek yang mendekati ideal. Tentu keberhasilan proyek tidak hanya tergantung pada metode yang diterapkan, tapi juga faktor lain seperti budaya masyarakat, intensitas pendampingan, dan sebagainya. (MJ)

Percik

April 2006

47

INFO SITUS

Air untuk Anak-anak


http://www.epa.gov/water/kids.html

sebagainya. Metode yang disajikan cukup unik dan bisa diadopsi oleh para pendidik di Indonesia tentu dengan modifikasi sesuai kondisi.

Mendidik Remaja Soal Air


http://www.uwex.edu/erc/eypaw/

Situs ini juga membeberkan pengalaman beberapa kesuksesan program pendidikan air bagi masyarakat baik dalam bentuk pendidikan usai sekolah, program musim panas, festival dan kampanye. Beberapa audio visual bisa dilihat melalui situs ini.

S
itus ini menyediakan berbagai informasi tentang berbagai hal menyangkut air bagi anak-anak. Ada games, kegiatan, dan tours yang menarik, serta buku-buku panduan yang gampang bagi para guru dan murid. Situs yang dibuat oleh Biro Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat ini membagi pelajaran mengenai lingkungan sesuai tingkatan umur seperti 4-10 tahun, 5-8 tahun, dan 9-12 tahun. Pendidikan tersebut disertai dengan gambar-gambar yang mudah dipahami oleh anak-anak. Misalnya apa saja benda berbahaya yang ada di lingkungan perumahan, bagaimana agar tidak terjadi pencemaran lingkungan. Di dalam situs ini terdapat tema tentang 'Recycle City' (kota daur ulang) yang memberikan gambaran tentang bagaimana lingkungan di kota bisa diselamatkan oleh manusia penghuninya termasuk anak-anak. Pada salah satu bagiannya, situs ini menyajikan tentang pendidikan air. Informasi yang ada di dalamnya ditujukan kepada para pendidik. Ada berbagai topik seperti hujan asam, posisi anak-anak dalam lingkungan, anakanak dan standar air minum, perlindungan terhadap kesehatan anak, dan

itus ini menyediakan petunjuk mendidik remaja/orang muda soal air dan basis data kurikulum untuk pengembangan berbasis masyarakat. Melalui sumber data ini diharapkan remaja dan para pendidik bisa menjadi kunci dalam membangun kemitraan guna mencapai tujuan pendidikan air. Sumber data tersebut mengandung banyak ide, referensi, daftar mitra, dan materi kegiatan pendidikan masyarakat. Ada sekitar 150 topik kurikulum pendidikan yang ditampilkan. Pengunjung tinggal mencari sesuai topik yang dibutuhkan. Misalnya ada tentang air bersih, buku pendidikan air secara lengkap, bumi sebagai planet air, dan pengetahuan air lainnya baik secara khusus maupun lebih luas. Kurikulum ini bisa dipilih pula berdasarkan tingkat umur (grade) dan topik.

Menggunakan Air Secara Bijaksana


http://www.wateruseitwisely.com

ejauh mana keluarga Anda melindungi air? Situs ini memberikan petunjuk bagaimana keluarga bisa melakukan audit sendiri terhadap penggunaan air dan apakah perilaku setiap hari telah mencerminkan upaya untuk konservasi air dengan baik. Selain itu, situs ini menjelaskan tanaman-tanaman yang rendah dalam mengonsumsi air serta berapa lama dan berapa frekuensi untuk menyiram tanaman agar tanaman tersebut tumbuh optimal. Situs ini dilengkapi pula dengan perangkat pembelajaran berupa game yang bisa didownload. Perangkat ini dikhususkan bagi anak-anak dan remaja. Melalui game ini anak-anak/remaja dikenalkan berbagai perilaku bijaksana dalam menggunakan air. (MJ)

48

Percik

April 2006

P E R AT U R A N

Peraturan Pemerintah No. 65 Tahun 2005

Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)

etiap daerah kini wajib memberikan pelayanan dasar bagi warganya secara minimal. Pelayanan dasar yang dimaksud adalah jenis pelayanan publik yang mendasar dan mutlak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan pemerintahan. Oleh karena itu, setiap daerah wajib memiliki standar pelayanan minimal (SPM). SPM ini berisikan indikator prestasi, baik kuantitatif dan kualitatif yang digunakan untuk menggambarkan berasan sasaran yang hendak dipenuhi dalam pencapaian suatu SPM tertentu, berupa masukan, proses, hasil dan/atau manfaat pelayanan. SPM bersifat sederhana, konkrit, mudah diukur, terbuka, terjangkau, dan dapat dipertanggungjawabkan serta mempunyai batas waktu pencapaian. Selain itu SPM disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan, prioritas dan kemampuan keuangan nasional dan daerah serta kemampuan kelembagaan dan personil daerah dalam bidang yang bersangkutan. Standar ini akan disusun oleh masing-masing menteri/pimpinan lembaga pemerintah non departemen melalui konsultasi yang dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri. Hasilnya akan ditetapkan dengan Peraturan Menteri dan dilengkapi dengan petunjuk teknis. Bagi pemerintah daerah, SPM tersebut menjadi salah satu acuan untuk menyusun perencanaan dan penganggaran penyelenggaraan pemerintah daerah. Dalam hal ini pemerintah daerah dituntut menyusun pencapaian SPM yang memuat target tahunan. Rencana pencapaian ini dituangkan dalam

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Strategi Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD). Sedangkan target tahunan dituangkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja SKPD), Kebijakan Umum Anggaran (KUA), Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA-SKPD) sesuai klasifikasi belanja daerah dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah. Rencana pencapaian target tahunan SPM dan realisasinya wajib diinformasikan kepada masyarakat.

Bagi pemerintah daerah, SPM tersebut menjadi salah satu acuan untuk menyusun perencanaan dan penganggaraan penyelenggaraan pemerintah daerah. Dalam hal ini pemerintah daerah dituntut menyusun pencapaian SPM yang memuat target tahunan.
Berkaitan dengan urusan publik yang menyangkut lintas daerah maka untuk menciptakan efisiensi, daerah wajib mengelola pelayanan publik secara bersama dengan daerah di sekitarnya. Untuk itu rencana pencapaian SPM harus disepakati bersama termasuk kontribusi masing-masing daerah. Daerah juga diberi peluang untuk bekerja sama dengan pihak swasta.

Hasil penerapan SPM akan dimonitor oleh pemerintah secara berjenjang. Bila ada daerah yang belum mampu mengembangkan kapasitasnya dalam memberikan SPM, pemerintah dapat melimpahkan pengembangan itu kepada gubernur sebagai wakil pemerintah di daerah. Guna mendukung pengembangan kapasitas pemerintah daerah pemerintah bisa melaksanakan fasilitasi, pemberian orientasi umum, petunjuk teknis, bimbingan teknis, pendidikan dan pelatihan atau bantuan teknis lainnya. Pemerintah dapat memberikan penghargaan kepada pemerintah daerah yang berhasil mencapai SPM dengan baik dalam waktu yang ditetapkan. Sebaliknya pemerintah dapat pula memberikan sanksi kepada pemerintah daerah yang tidak berhasil mencapai SPM. Tujuan pelaksanaan peraturan pemerintah yang ditetapkan 28 Desember 2005 ini yaitu terjaminnya hak masyarakat untuk menerima pelayanan dasar pemerintahan daerah dengan mutu tertentu; menjadi alat untuk menentukan jumlah anggaran yang dibutuhkan dalam menyediakan suatu pelayanan dasar; menjadi landasan dalam menentukan perimbangan keuangan dan/atau bantuan lain yang lebih adil dan transparan; menjadi dasar dalam menentukan anggaran kinerja berbasis manajemen kinerja; memperjelas tugas pokok pemerintahan daerah dan mendorong terwujudnya check and balance yang efektif; serta mendorong transparansi dan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. MJ

Percik

April 2006

49

K L I N I K I AT P I

Pertanyaan dapat disampaikan melalui redaksi Majalah Percik Kontributor: Sandhi Eko Bramono (Sandhieb@yahoo.com) Lina Damayanti (Ldamayanti@yahoo.com)

Majalah Percik bekerja sama dengan Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia, membuka rubrik Klinik. Rubrik ini berisi tanya jawab tentang air minum dan penyehatan lingkungan.

E NDAPAN P UTIH DI A IR
Tanya: Saya tinggal di satu kawasan di Jakarta. Saya sekeluarga menggunakan air tanah untuk keperluan seharihari. Saya menemukan masalah yakni ketika air direbus muncul endapan putih. Selain itu, penggunaan sabun mandi di rumah menjadi lebih boros (sabun menjadi lebih cepat habis saat terkena air). Mengapa itu bisa terjadi? Ada apa di air tersebut dan adakah dampak negatifnya untuk kesehatan?
Wulan, Jakarta

menimbulkan kerak pada pipa atau panci pemanas (mengurangi efisiensi proses pemanasan), serta dapat menimbulkan gangguan pada fungsi ginjal (pengendapan pada ginjal). Namun kesemuanya itu juga sangat ditentukan oleh tingkat konsumsi dan kadar kesadahan air tersebut.

mg /l ), untuk mengoksidasi senyawa senyawa organik yang berpeluang terdekomposisi menjadi gas-gas yang berbau menyengat.

MENGURAS TANGKI SEPTIK


Tanya: Hampir setahun sekali, kami memanggil truk tinja untuk mengosongkan tangki septik yang ada di rumah. Adakah teknik untuk memperpanjang masa pakai tangki septik sehingga kami tidak terlalu sering mengurasnya?
Cahyo, Banjarmasin

MENGHILANGKAN BAU SELOKAN


Tanya: Selokan di depan rumah saya sering tersumbat dan menimbulkan bau tak sedap yang sangat menyengat. Bersamaan dengan pembersihan saluran, apakah ada cara yang praktis yang dapat kami lakukan untuk menghilangkan bau tersebut?
Reza, Ambon

Jawaban: Air tanah yang melewati kawasan batuan kapur (karst atau dolina), umumnya memiliki kandungan Ca2+ dan Mg2+ dalam kadar tinggi. Kehadiran ion-ion ini menimbulkan efek kesadahan pada air (water hardness). Kesadahan air yang diakibatkan oleh kehadiran ion bikarbonat, umumnya disebut sebagai kesadahan sementara. Kesadahan ini dapat dihilangkan dengan proses pemanasan, yang menghasilkan endapan CaCO3(s). Sedangkan kesadahan tetap adalah kesadahan yang diakibatkan oleh kombinasi ion Ca2+ dan Mg2+ dengan ion non bikarbonat ( sulfat atau klorida ). Kesadahan ini dapat dihilangkan dengan proses kimiawi, misalnya dengan penambahan soda abu. Kerugian yang ditimbulkan oleh air sadah adalah pemborosan sabun-karena menghasilkan presipitat atau endapan saat bereaksi dengan sabun--

Jawaban: Air menggenang yang tercemar dengan buangan domestik dan tercampur dengan sampah, umumnya akan mengeluarkan bau yang menyengat. Hal ini diakibatkan oleh turunnya kandungan oksigen dalam air (dissolved oxygen), yang diikuti dengan kondisi anaerobik pada air tersebut. Salah satu produk dari reaksi anaerobik adalah gas yang berbau menyengat, seperti NH3 dan H2S. Cara yang terbaik yang dapat dilakukan untuk menghilangkan bau tersebut yaitu dengan membersihkan saluran pembuangan secara teratur. Selain itu, bau juga dapat dihilangkan dengan menyiramkan larutan kaporit ke dalam saluran tersebut (dengan dosis 5 - 10

Jawaban: Dari segi konstruksi, tangki septik harus menggunakan bidang resapan sehingga air dalam tangki septik dapat teresapkan setelah mengalami proses stabilisasi di tangki septik. Pembetonan pada seluruh dinding akan menyebabkan tangki septik cepat penuh. Penggunaan bahan kimia (desinfektan) yang berlebihan pada WC, juga akan sangat mengurangi umur pakai tangki septik. Desinfektan ini akan mematikan mikroorganisme pengurai yang seharusnya berperan sebagai pengurai air limbah (termasuk tinja). Selain itu, sisakan lumpur tinja dalam jumlah yang memadai saat penyedotan lumpur tinja (jangan disedot habis). Lumpur ini akan berperan sebagai bakteri pemula untuk mempercepat pertumbuhan mikroorganisme pengurai yang baru dalam waktu yang cepat.

50

Percik

April 2006

AGENDA

TANGGAL
11 12-14 16

BULAN
Januari Januari Januari

KEGIATAN
Rapat pembahasan Rencana Pelaksanaan Kegiatan Pokja AMPL 2006 Pertemuan fasilitator WASPOLA Rapat penyusunan rencana kerja tahunan kerja sama pemerintah Indonesia-UNICEF Presentasi Study Review of Financing for Water Supply and Sanitation Sector in Indonesia Rapat persiapan pembentukan tim kecil data

17 18-19 23 24 25 26 27 1-4 1-2 2 6-7 13 14-15 20-21 21 22-23 24 27 27 3 7 12-18 13-15 29

Januari Januari Januari Januari Januari Januari Januari Februari Februari Februari Februari Februari Februari Februari Februari Februari Februari Februari Februari Maret Maret Maret Maret Maret

Pertemuan Pokja Study Review of Financial for WSS Pembahasan Konsep Pedoman Umum Pelaksanaan dan Pedoman Pelaksanaan Operasional Lokakarya I Program Nasional Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat Rapat koordinasi pematangan rencana pelaksanaan kegiatan bersama Pemerintah RI-Plan International Lokakarya Peraturan, Kebijakan dan Strategi Bidang Air Limbah, Persampahan, dan Drainase Pertemuan lanjutan Study Review of Financing for Water Supply & Sanitation Sector in Indonesia Lokakarya Pengembangan Strategi Implementasi Kebijakan Nasional Air Minum dan Penyehatan Lingkungan 2006 Pertemuan Study Small Scale Independent Provider Pembahasan instrumen pelaksanaan SANIMAS Outcome Monitoring Study (SOMS) Lokakarya Rencana Kerja WASPOLA Pertemuan lanjutan Study Review of Financing for Water Supply and Sanitation Sector in Indonesia Pelatihan Total Sanitation Campaign (TSC) Plan International-Pokja AMPL di Kebumen Lokakarya Akhir Implementasi Kebijakan Nasional AMPL Berbasis Masyarakat Prop. Gorontalo Lokakarya SSIP Subang Lokakarya Akhir Implementasi Kebijakan Nasional AMPL Berbasis Masyarakat Prop. NTB Rapat Pokja AMPL-Plan International tentang TOR kegiatan Tahun 2006 Lokakarya Akhir Implementasi Kebijakan Nasional AMPL Berbasis Masyarakat Prop. Banten Lokakarya Akhir Implementasi Kebijakan Nasional AMPL Berbasis Masyarakat Bangka Belitung Lokakarya Kota SSWPs Jakarta Lokakarya Akhir Implementasi Kebijakan Nasional AMPL Berbasis Masyarakat Prop. Sumbar Pertemuan Pokja PSP Review for Indonesia Monitoring SANIMAS Outcome Monitoring Study (SOMS) Lokakarya Akhir Implementasi Kebijakan Nasional AMPL Berbasis Masyarakat Prop. Jateng Seminar Sehari Pengolahan Air di Tingkat Pengguna Presentasi Studi Dampak Investasi Air Minum terhadap Pertumbuhan Ekonomi Pertemuan Koordinasi Implementasi Kebijakan Nasional AMPL Study Visit SSWP Vietnam Lokakarya Nasional Evaluasi Pelaksanaan Kebijakan Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat 2005, Bali Pertemuan Pokja AMPL - Plan International Indonesia Pembahasan Peraturan Perundangan

Percik

April 2006

51

P U S TA K A A M P L

C D
KLIPING DAN MAJALAH PERCIK 2005

EMERGENCY SANITATION
Penerbit: Water, Engineering and Development Centre, Loughborough University, UK, 2002

CONTROLING AND PREVENTING DISEASE


Penerbit: Water, Engineering and Development Centre, Loughborough University, UK, 2002

EKONOMI SUMBER DAYA ALAM

DAN

LINGKUNGAN

PROSIDING
L OKAKARYA R EVIEW P ENGELOLAAN D ATA P EMBANGUNAN A IR M INUM P ENYEHATAN L INGKUNGAN I NDONESIA D ALAM R ANGKA P ERSIAPAN S USENAS 2006-2007
DAN

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004

STATISTIK KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH PROPINSI 2000-2003


Penerbit: Biro Pusat Statistik, 2004

A N D U A N
FOR

A GUIDE

PROJECT M&E

Penerbit: Direktorat Permukiman dan Perumahan, Bappenas 2005

Penerbit: IFAD, 2002

P A N D U A N M PA
Penerbit: Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Depdagri, 2005

PA N D U A N P H A S T
Penerbit: Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Depdagri, 2005

M A G A Z I N E

E R A T U R A N

AIR MINUM
Edisi 124/Januari 2006 Edisi 125/Pebruari 2006 Edisi 126/Maret 2006

HIMPUNAN PERATURAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP 2002-2004


Penerbit: CV Eka Jaya, Jakarta, 2004

A P O R A N

TANAH AIR
Edisi Desember 2005 Penerbit: WALHI

PERTEMUAN SINERGI PELAKSANAAN KEBIJAKAN NASIONAL PEMBANGUNAN DENGAN PENANGGUNG JAWAB KEGIATAN
Penerbit: Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah, Depdagri, 2005

PROJECT COMPLETION REPORT ON THE CAPACITY BUILDING PROJECT IN THE WATER RESOURCES SECTOR IN INDONESIA
Penerbit: Asian Development Bank, 2005

52

Percik

April 2006

G L O S S A RY
Most Probable Number (MPN)
Besaran yang menyatakan jumlah bakteri coli dalam contoh air melalui teknik percobaan multitabung

Municipal waste water


Air limbah perkotaan-Gabungan dari semua air limbah yang dihasilkan suatu kota, mulai dari limbah rumah tangga, fasos dan fasum, industri, infiltrasi dan aliran permukaan dari hasil curah hujan

Natural treatment system


Sistem pengolahan limbah dengan memanfaatkan potensi alam untuk memrosesnya, seperti tanah berpori untuk menyaring dsb.

Negative residual head (Sisa tekanan negatif)


Kondisi di mana kehilangan tekan (headloss) total di sepanjang jalur aliran (air olahan) pada unit-unit pengolahan atau di sepanjang jalur transmisi/distribusi air yang melebihi potensi tekanan yang tersedia.

Negligence (Kealpaan)
Isu atau tindakan resmi atas kegagalan memenuhi penyediaan bahan kimia yang cukup atau pembetulan secepatnya terhadap suatu instalasi pengolahan atau sistem distribusi atau gagalnya memenuhi ketentuan yang digariskan dalam standar EPA (Badan yang menangani masalah pengendalian dampak lingkungan di AS)

Net Population Density (Kepadatan Penduduk Netto)


Kepadatan penduduk suatu daerah yang dihitung berdasarkan jumlah penduduk dibagi dengan luas kawasan yang terbangun.

Night Soil
Kotoran manusia yang telah mengalami pengolahan (relatif aman) dan dikumpulkan untuk menyuburkan tanah.

Nipple
Bahan penolong perpipaan yang berfungsi sebagai alat sambungan bagian ujung yang mengecil (masuk ke dalam bagian ujung pipa yang akan disambung), dan dilengkapi atau tanpa ulir

Nitrification (Nitirifikasi)
Proses biologis, di mana terjadi konversi/perubahan dari amoniak (NH3) menjadi nitrit dan kemudian menjadi nitrat oleh species nitrosomonas dan nitrobacter

Nocardia foam
Jenis busa (foam) kental dan berwarna coklat yang biasanya menutupi bak aerasi atau Clarifier yang seringkali membuat masalah terhadap kinerja lumpur aktif. Menimbulkan bau dan menghasilkan mutu hasil olahan (effluent) yang buruk

No Observable Effect Concentration (NOEC)


Konsentrasi tertinggi yang terukur dari efluen (luaran) atau bahan beracun yang tidak mempunyai efek apapun berdasarkan observasi melalui tes kronik

Ocean disposal of effluent


Memfungsikan lautan sebagai lokasi/tempat pembuangan akhir (TPA) limbah

Odor (Bau)
Aroma yang keluar dari limbah atau unit pengolahan limbah karena adanya timbulan gas, yang merupakan hasil sampingan dari penguraian zat-zat organik atau karena pembubuhan suatu bahan ke dalam limbah

Off-site sanitation system


Sistem sanitasi terpusat (tidak setempat)-Sistem penanganan/pengelolaan limbah (kotoran) manusia yang masih memerlukan kegiatan/proses pengambilan/penumpulan atau pengangkutan ke sistem pengolahan atau pembuangan (disposal).
Dikutip dari Kamus Istilah & Singkatan Asing Teknik Penyehatan dan Lingkungan. Penerbit: Universitas Trisakti.