Anda di halaman 1dari 56

Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Diterbitkan oleh: Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan

Lingkungan (Pokja AMPL) Penasihat/Pelindung: Direktur Jenderal Cipta Karya DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM Penanggung Jawab: Direktur Permukiman dan Perumahan, BAPPENAS Direktur Penyehatan Lingkungan, DEPKES Direktur Pengembangan Air Minum, Dep. Pekerjaan Umum Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman, Dep. Pekerjaan Umum Direktur Bina Sumber Daya Alam dan Teknologi Tepat Guna, DEPDAGRI Direktur Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup, DEPDAGRI Pemimpin Redaksi: Oswar Mungkasa Dewan Redaksi: Zaenal Nampira, Indar Parawansa, Bambang Purwanto Redaktur Pelaksana: Maraita Listyasari, Rheidda Pramudhy, Raymond Marpaung, Bowo Leksono Desain/Ilustrasi: Rudi Kosasih Produksi: Machrudin Sirkulasi/Distribusi: Agus Syuhada Alamat Redaksi: Jl. Cianjur No. 4 Menteng, Jakarta Pusat. Telp./Faks.: (021) 31904113 http://www.ampl.or.id e-mail: redaksipercik@yahoo.com redaksi@ampl.or.id oswar@bappenas.go.id
Redaksi menerima kiriman tulisan/artikel dari luar. Isi berkaitan dengan air minum dan penyehatan lingkungan dan belum pernah dipublikasikan. Panjang naskah tak dibatasi. Sertakan identitas diri. Redaksi berhak mengeditnya. Silahkan kirim ke alamat di atas.

Dari Redaksi Suara Anda Laporan Utama Mewujudkan Sekolah yang Bersih dan Nyaman Lebih Jelas Tentang Sekolah Hijau Wawancara DR Dewi Utama Faizah, Penyebar Inspirasi Hidup Sehat Peraturan Permendagri No. 23 Tahun 2006 Wawasan Sekolah Hijau (Green School) dan Soal Kesadaran Lingkungan Hidup Bencana Ekologi dan Gagalnya Model Pembangunan Kota Pengaturan Aliran Air Ala Barugaya Kontribusi Sistem Penyediaan Air Minum Reportase Kelangkaan Air di Perumahan Mustika Purbalingga Kekeringan Cermin Belajar Sanitasi dari India Kelurahan Jambangan, Hijau Sepanjang Tahun Festival Anak Kali Surabaya 2007 Inspirasi Sang Pawang Air Tamu Kita Endang Wardiningsih, Gigih Ajari Siswa Peduli Lingkungan Seputar ISSDP Potret Bersih di Tengah Kota Tak Cukup Menutup Pabrik, Perlu Komitmen Semua Pihak Ketika Diare 'Menjemput' Noviana Pembentukan Inisiatif Kemitraan Pemerintah-Swasta untuk CTPS Seputar WASPOLA Seputar AMPL Program SMK Negeri 1 Surabaya, Menuju Sekolah Berbasis Lingkungan Klinik IATPI Info Buku Info Situs Info CD Pustaka AMPL Agenda Glossary
Majalah Percik dapat diakses di situs AMPL: http://www.ampl.or.id

1 2 3 5 7 8

10 12 13 15 17 18 19 22 23 24 26 28 29 31 32 33 38 44 47 48 49 50 51 52

DA R I R E DA K S I

Foto: ISSDP

ada kenyataannya Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) tak pernah lepas dari kehidupan. Seolah menjadi persoalan yang tak segera terselesaikan, justru terus bertambah persoalan seirama perkembangan penduduk, sosial dan ekonomi. Dibutuhkan identifikasi dan penyelesaian masalah sesegera mungkin. Menyuarakan secara berkesinambungan upaya pembangunan AMPL kepada masyarakat luas dirasa sangat penting. Penerbitan majalah ini adalah salah satunya. Pada terbitan edisi 19 ini ditampilkan sekolah yang menerapkan konsep "Sekolah Hijau" atau Green School. Pembahasan Sekolah Hijau ini dijadikan materi laporan utama. Mengapa? Karena

memang belum banyak sekolah yang peduli terhadap lingkungannya. Ini penting, menanamkan kesadaran berperilaku hidup bersih dan sehat sejak di usia sekolah. Bagaimana pun warga lingkungan sekolah sangatlah beragam, mereka datang dari berbagai lingkungan. Diharapkan ketika berada di luar lingkungan sekolah, mampu menerapkan hidup bersih dan sehat seperti saat di sekolahnya. Lingkungan sekolah yang kondusif sangat diperlukan dalam menghasilkan tamatan yang cakap melalui proses belajar mengajar berbasis sistem pendidikan yang bermutu. Tidak itu saja, lingkungan sekolah yang kondusif juga akan ikut mendorong terwujudnya pola hidup bermutu yang pada saat ini sangat diper-

lukan dalam meningkatkan daya saing bangsa dimata dunia sekaligus melestarikan kekayaan sumber daya alam hayati Indonesia. Perwujudan sekolah hijau adalah sekolah yang memiliki komitmen dan secara sistematis mengembangkan program-program untuk menginternalisasikan nilai-nilai lingkungan dalam seluruh aktivitas sekolah. Sekolah dengan visi, misi, tujuan dan kebijakan yang mengacu pada mutu sekolah, sangat berkepentingan mewujudkan pola hidup bermutu melalui program Green School. Sebenarnya tidaklah mudah mewujudkan kesejatian sekolah hijau karena tidak sekedar lingkungan fisik bersih yang terlihat, namun lebih pada terbangunnya kesadaran lingkungan warga sekolah yang tercermin dalam perilaku keseharian sebagai tuntutan peningkatan mutu hidup. Perwujudan Sekolah Hijau tidak terlepas dari peran swasta, LSM dan pemerintah. Dan yang paling penting adalah peran warga sekolah itu sendiri. Seluruh siswa, guru dan karyawan. Diperlukan guru atau beberapa guru untuk menjadi pelopor dan contoh bagi siswanya. Kita bersama-sama menyapa Tamu Kita, salah satu guru di SMU Negeri 34 Jakarta, Endang Wardiningsih yang dengan tekun dan berbekal sedikit pengalaman pelatihan lingkungan yang diadakan Unesco, menularkan pada anak didik. Hasilnya? Materi lingkungan hidup tak hanya masuk ekstrakulikuler namun menembus mata pelajaran berupa muatan lokal (mulok) bernama Pendidikan Lingkungan Hidup, artinya semua siswa wajib mengikuti pelajaran ini. Sebagai pemanasan, sedikit diulas menjelang Konferensi Sanitasi Nasional (KSN) 2007. Seperti kegiatan Talkshow di TVRI dan kunjungan ke Kelurahan Petojo, daerah percontohan sanitasi di jantung Kota Jakarta. Semoga semua yang dihadirkan Percik edisi ini berguna dan menjadi inspirasi kita semua untuk selalu hidup sehat dan memperhatikan lingkungan. Kritik dan saran senantiasa kami terima dengan lapang dada. Selamat membaca!

Percik Agustus 2007

S UA R A A N DA

Cara Langganan Percik


Saya sebagai salah satu staf pengajar di jurusan Teknik Lingkungan Universitas Trisakti, ingin informasi bagaimana cara berlangganan majalah tersebut. Atas perhatiannya, banyak terima kasih.
Hormat saya, Pramiati

kirim majalah Percik mulai Januari 2007 lalu.

Terima Kasih dan Pindah Alamat


Terima kasih kami ucapkan atas kiriman majalah Percik secara berkala ke PT Arutmin Indonesia. Dengan ini kami informasikan bahwa efektif 21 Mei 2007 lalu, PT Arutmin Indonesia pindah alamat dari Gedung Mid Plaza 2 Lt 9 ke alamat baru sbb: Wisma Bakrie 2 lantai 10 Jl. HR Rasuna Said Kav. B-2 Jakarta Selatan 12920
Salam Delma Azrin

Ibu Pramiati yang terhormat, Kirim saja alamat lengkap ke email: redaksipercik@yahoo.com. Kami akan kirim majalah setiap kali terbit tanpa dipungut biaya. Demikian terima kasih.

"saya mau membayar orang yang mau BAB di jamban saya". Jawaban itu sama sekali tidak menjelaskan bahwa di Banjarnegara ada pemilik kolam yang membayar orang yang BAB di kolamnya, tetapi lebih merupakan reaksi atas pertanyaan yang dinilai menyudutkannya, pertanyaan yang menilai negatif BAB di kolam ikan, dsb. Jawaban tersebut lebih merupakan respon pembelaan diri atas perilakunya, respon atas ketersinggungan terharap pertanyaan tsb. Jadi, di Banjarnegara tidak ada sumber pendapatan tambahan dengan BAB di kolam orang. Terima Kasih atas pemuatan pelurusan artikel saya tersebut
Alma Arief

Berlangganan Majalah Percik


Salam lestari, Bersama ini kami mengajukan berlangganan Majalah Percik mulai edisi Januari 2007. Perlu kami informasikan, bahwa lembaga kami "Human Resource Development and Applied Technology (CREATE) Jawa Timur II" sedang melakukan kegiatan-kegiatan rehabilitasi di lokasi bekas Banjir dan Tanah Longsor Kecamatan Panti Kabupaten Jember Jawa Timur, sangat memerlukan tulisan-tulisan yang bermanfaat bagi masyarakat. Untuk itu, kami mengajukan berlangganan majalah ini, dan kami ucapkan terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya. Apabila dikabulkan, mohon majalah dapat dialamatkan ke: Ir. H.R. Soedradjad, M.Sc. Pimpinan CREATE Jatim II Jl. Semeru VII / M-8 JEMBER 68121
Salam, R. Soedradjad Jember

Terima kasih kembali atas koreksinya.

Pelurusan Artikel Percik Edisi Juli 2007


Artikel saya berjudul Teknologi Jamban Yang Tepat Bagi Masyarakat, di muat di Percik edisi Juli 2007. Terima kasih saya ucapkan kepada redaksi atas pemuatannya. Secara keseluruhan tidak ada masalah dengan editing artikel saya. Hanya saja ada yang cukup mengganggu ketika mengedit bagian "kasus di beberapa desa". Di bagian ini antara lain disampaikan sbb: "..Bahkan para pemilik kolam di sebuah desa di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, rela membayar orang yang mau BAB di jamban kolam milik mereka". Jelas uraian tersebut mengandung arti bahwa di Banjarnegara ada pemilik kolam yang membayar orang yang BAB di kolamnya. Padahal yang saya maksudkan dalam artikel saya (sebelum diedit) tidak demikian. Artikel saya (versi asli) sbb: ada pemilik kolam yang ketika ditanya mengapa buangan jambannya masuk ke kolam, maka diperoleh jawaban:

Perubahan Alamat
Saya mengucapkan terima kasih atas kebaikan Dewan Redaksi Percik yang berkenan mengirimkan majalah/jurnal Percik kepada saya setiap bulannya. Melihat kemanfaatannya, saya berharap masih dapat menerima Majalah Percik edisi berikutnya. Izinkan saya menyampaikan kepindahan alamat saya yang baru yaitu : Jl. Cipinang Asem RT 02 RW 012 No. 5 Kelurahan Kebon Pala Jakarta Timur 13650 alamat ke: FPPB UBB Jl. Diponegoro No. 16 Sungai Liat Bangka. Saya berharap, Dewan Redaksi Percik berkenan melanjutkan kerjasama yang telah terjalin. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.
Hormat saya, Idha Susanti

Dengan senang hati hendak kami

2 Percik 2007 Agustus

L A P O R A N U TA M A

ekolah adalah bagian lingkungan yang penting bagi perkembangan anak. Dari sinilah mental dan kecerdasan anak dididik dan diuji, selain lingkungan rumah dan di luar rumah atau lingkungan pergaulan. Karena itu, suasana nyaman dan asri sangat dibutuhkan bagi proses penyerapan dan penerapan ilmu pengetahuan. Tentu dengan kesadaran dan tanggung jawab seluruh warga sekolah. Lingkungan sekolah yang hijau dan asri, sebenarnya bukan hanya dalam pengertian sempit seperti penanaman pohon dan lingkungan bersih atau sebatas pembuatan kompos dan daur ulang. Lebih dari itu, wawasan lingkungan lebih tepatnya, yang diperkenalkan dan diwujudkan ke dalam seluruh aktivitas sekolah. Dan semua itu butuh keterlibatan berbagai pihak, guru, siswa, karyawan, dan pihak di luar sekolah. Peran guru sebagai pengajar sangat dibutuhkan keteladanannya. Tumbuhnya kecintaan terhadap sesuatu sedikit banyak diilhami pengajar yang mengajar dengan hati dan memberi inspirasi serta teladan. Sekolah Hijau Masalah lingkungan hidup adalah masalah bersama. Dengan kepedulian dan upaya bersama, maka lingkungan bisa diselamatkan. Dan sekolah diharapkan dapat menjalankan peran kunci untuk membangkitkan kepedulian lingkungan pada generasi muda sebagai calon pengambil keputusan dimasa mendatang. Beberapa tahun terakhir, beberapa sekolah setingkat SMU dan SMP, menerapkan program "Sekolah Hijau" atau dikenal juga "Go Green School". Program ini

tidak terlepas dari peran berbagai pihak; pemerintah, swasta, dan masyarakat. Pada 4 Agustus 2007 lalu, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mencanangkan Sekolah Bersih dan Hijau saat kegiatan Jambore UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) Tingkat Nasional dan Gelar Prestasi Bela Negara Siswa SMK di GOR Ken Arok, Malang. Pencanangan sekolah bersih dan sehat ini diharapkan mampu membangkitkan kesadaran berperilaku sehat sejak dini. "Sekolah hijau" yaitu sekolah yang memiliki komitmen dan secara sistematis mengembangkan program-program untuk menginternalisasikan nilai-nilai lingkungan ke dalam seluruh aktifitas sekolah. Untuk memancing semangat dan keberlanjutan pelaksanaan Sekolah Hijau, beberapa pihak swasta seperti Coca-Cola Foundation (CCFI) Indonesia dan Toyota yang bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat menggelar berbagai kompetisi sekolah hijau. Kompetisi dinilai sangat efektif untuk menumbuhkembangkan kesadaran dan keberlanjutan program sekolah hijau. Program Go Green School Untuk mendukung upaya sekolah di Indonesia menuju Sekolah Hijau dan mendorong perilaku ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari yang dimulai dari sekolah, maka digulirkan program Go Green School (GGS). Program ini ditujukan bagi sekolah di perkotaan dengan pertimbangan bahwa pertumbuhan masyarakat perkotaan sangat pesat. Program GGS digulirkan The Centre for The Betterment of

Suasana asri tampak dari salah satu sekolah di Jakarta. Foto: Bowo Leksono

Percik Agustus 2007

L A P O R A N U TA M A

nya disusun oleh Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) bekerjasama dengan Yayasan KEHATI. Kedua lembaga ini memberikan bantuan konsultasi berupa penyediaan materimateri PLH (buku panduaan, CD, SDM dan pelatihan), training guru untuk penyusunan metode pembelajaran dan silabus PLH, kompetisi implementasi PLH bagi siswa melalui lomba riset dan reportase ekosistem, serta studi banding ke sekolah yang telah menerapkan PLH. Selama ini, PLH masih diartikan terbatas hanya pada kegiatan menanam pohon, mengecat hijau tembok sekolah, mengepel lantai dan membersihkan kaca. Sudah semestinya sekolah membudayakan siswa dalam pemilahan sampah Foto: Bowo Leksono Sebenarnya pendidikan lingkungan hidup bisa menumbuhkan kesadaran kritis peserta didik untuk memanfaatkan dukung upaya-upaya peningkatan kualiEducation (CBE), Yayasan KEHATI, dan secara arif sumberdaya alam yang ada tas lingkungan. Dengan segala sumberCoca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) dibumi. PLH juga menekankan metode daya dan cakupannya, sekolah mempupada tahun 2005 dengan dukungan belajar dengan prinsip belajar dari alam nyai peran penting dalam penerapan Kementerian Lingkungan Hidup dan dengan melakukan eksplorasi fakta-fakta pendidikan lingkungan bagi generasi Departemen Pendidikan Nasional untuk lingkungan hidup disekitar kita, lebih muda di Indonesia. memotivasi sekolah, khususnya sekolah menekankan pada aktivitas indera anak. menengah tingkat atas menjadi sekolah Dalam satu kesempatan, Mantan Masuk Muatan Lokal (Mulok) hijau. Menteri Negara Kependudukan dan Sekolah-sekolah yang mendapat juara Deputy Chief Executive Operating Lingkungan Hidup Emil Salim mengdan bimbingan dari program GGS, telah Committee CCFI Triyono Prijosoesilo ungkapkan, keberlanjutan kegiatan memasukan materi lingkungan hidup kepada Percik mengatakan GGS adalah kompetisi GGS mendatangkan harapan dalam pelajaran sekolah. SMA Wikrama gerakan mendorong terwujudnya sekolah akan lingkungan sebagai arus utama Bogor, SMA Negeri 13 Jakarta Utara, berwawasan lingkungan khususnya di kebijakan dimasa datang dan keterliSMA Negeri 69 Kepulauan Seribu, SMK tingkat Sekolah Menengah Umum di batan siswa sangat penting untuk itu. Al-Muslim Bekasi, SMA 34 Jakarta Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan "Pada tahun 2025, merekalah yang akan Selatan, dan beberapa sekolah lainnya. Bekasi. "Melalui program ini diharapkan duduk sebagai para pengambil kebijakan Materi ini dikenal dengan Pendidikan lahir konsep dan model Sekolah Hijau di negeri ini. Jadi, sekaranglah saat yang Lingkungan Hidup (PLH) yang materiyang cocok untuk SMU, terutama di tepat untuk menumbuhkan perkotaan Indonesia," tuturnya. kecintaan terhadap lingkungSekolah Hijau, menurut Trian," katanya. yono, adalah sekolah yang warProgram Sekolah Hijau ganya memiliki kesadaran lingsecara nyata telah memkungan dan terwujud melalui periberikan kesempatan bagi selulaku dan pola pengelolaan sekolah ruh warga sekolah baik siswa yang ramah lingkungan untuk dan manajemen untuk terlibat meningkatkan mutu hidup. "Dihalangsung dalam menciptakan rapkan, sekolah yang telah merasuasana belajar-mengajar sakan program ini mampu memyang nyaman. Lingkungan pertahankan dan menjadi inspirasi hidup yang sehat dan baik sekolah-sekolah lainnya," katanya. adalah dambaan setiap manuProgram ini dilatarbelakangi sia. Kesadaran pentingnya kepedulian Yayasan KEHATI dan pelestarian lingkungan hidup CCFI terhadap sekolah sebagai harus di pupuk semenjak dini. basis pendidikan dan institusi yang Rumah daur ulang di SMU Negeri 34, Jakarta. Foto: Bowo Leksono memiliki potensi untuk menBowo Leksono

4 Percik 2007 Agustus

L A P O R A N U TA M A

Lebih Jelas Tentang

Sekolah Hijau

Pengertian ekolah Hijau merupakan terjemahan dari Green School yang dimaksudkan sebagai sekolah yang berwawasan lingkungan dan warganya memiliki kesadaran lingkungan serta mewujudkannya melalui perilaku yang ramah lingkungan untuk meningkatkan mutu hidup. Lebih jelasnya sekolah hijau adalah sekola yang memiliki komitmen dan secara sistematis mengembangkan program untuk menginternalisasikan nilai lingkungan ke dalam seluruh aktifitas sekolah.

Nilai Dasar Konsep dan kegiatan yang dikembangkan bertumpu pada nilai-nilai luhur kehidupan seperti kemanusiaan, kesetiakawanan, kejujuran, keadilan, dan keseimbangan alam. Prinsip Dasar Partisipatif. Semua warga sekolah dan masyarakat berhak memperoleh informasi yang memadai dan terlibat dalam keseluruhan proses (perencanaan, persiapan, pelaksanaan dan kontrol) sesuai tanggungjawab dan perannya. Berkelanjutan. Seluruh kegiatan memiliki manfaat dalam jangka panjang Menyeluruh. Seluruh warga sekolah selalu mempertimbangkan seluas-luasnya aspek kehidupan dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi sehingga dapat memberikan kontribusi yang sebesar-besarnya bagi lingkungan. Wujud Sekolah Hijau setidaknya memenuhi persyaratan (i) memiliki kurikulum yang berwawasan lingkungan; (ii) mempunyai rancang bangun, penggunaan bahan dan pemeliharaan prasarana dan sarana berdasarkan prinsip ramah lingkungan; (iii) memiliki manajemen sekolah yang berwawasan lingkungan; (iv) program sekolah didukung oleh komunitas di luar sekolah; (v) warga sekolah memiliki perilaku peduli lingkungan Program Terdapat 5 (lima) bentuk program sekolah hijau yaitu (i) pengembangan kurikulum berwawasan lingkungan; (ii) peningkatan kualitas kawasan sekolah dan lingkungan sekitarnya. Ini merupakan bagian dari upaya mendorong warga sekolah dan komunitas sekitar untuk secara aktif melakukan upaya meningkatkan kualitas lingkungan, (iii) pengembangan pendidikan berbasis komunitas. Sekolah tidak terlepas dari kehidupan nyata sehingga sekolah dan komunitas merupakan satu

Kebun di belakang sekolah dengan tanaman apotik hidup. Foto: Bowo Leksono

kesatuan yang saling membutuhkan. (iv) pengembangan sistem pendukung yang ramah lingkungan. Program ini yang banyak terkait dengan aspek AMPL seperti penghematan air, pengembangan sistem sanitasi dan pengelolaan sampah, (v) pengembangan manajemen sekolah berwawasan lingkungan. Manajemen sekolah diharapkan dapat membangun filosofi dan budaya sekolah yang berwawasan lingkungan dan ditunjang oleh sumber daya manusia yang mumpuni. Manfaat Beragam manfaat yang dapat diperoleh diantaranya (i) warga sekolah memiliki pemahaman terpadu mengenai lingkungan hidup; (ii) sekolah menjadi tempat belajar warga sekolah mengenai lingkungan secara menarik dan mudah; (iii) metode pembelajaran menjadi lebih dinamis; (iv) potensi diri siswa, kapasitas guru dan staf dalam aspek lingkungan

Percik Agustus 2007

L A P O R A N U TA M A

meningkat; (v) sekolah memiliki jaringan yang luas dan didukung oleh komunitas di luar sekolah. Penerapan Konsep Sekolah Hijau di Indonesia Secara umum, masih belum banyak sekolah yang menerapkan konsep sekolah hijau di Indonesia. Diantara segelintir sekolah yang telah menerapkan adalah SMA Negeri 13 Jakarta Utara, SMK Al Muslim, Tambun Bekasi, SMK Wikrama, Bogor.
SMA N 13 JAKARTA UTARA Tema Pengelolaan lingkungan terpadu warga sekolah dan masyarakat melalui 3 R. Terbangunnya kepedulian lingkungan, terbangunnya sistem pengelolaan sampah terpadu, meningkatnya peran dan keberadaan sekolah bagi masyarakat dalam menangani lingkungan.

Faktor Pendukung Keberhasilan penerapan konsep sekolah hijau tidak terlepas dari kepedulian warga sekolah baik murid sekolah, guru, maupun orang tua yang kemudian bersinergi dengan ketersediaan dana dari pihak luar. Kendala Disadari bahwa walaupun konsep sekolah hijau telah berhasil dilaksanakan namun beberapa kendala masih diraSMK WIKRAMA BOGOR Hidup bermutu dengan Sekolah Hijau. Terbangunnya kepedulian siswa terhadap masalah lingkungan sehingga terbentuk budaya 'hidup hijau', terciptanya lingkungan hidup yang bermutu, berjalannya sistem pengendalian lingkungan berbasis sekolah. Pengermbangan kurikulum berbasis lingkungan, pengembangan jejaring kerjasama, pemberdayaan gugus siswa berbasis lingkungan, aplikasi teknologi informasi dalam pengelolaan lingkungan, pramuka cinta lingkungan, pengelolaan sampah, budaya hidup sehat.

sakan cukup menghambat terutama berupa terbatasnya kemampuan dan jumlah guru. Keterkaitan dengan Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) Pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan sampai saat ini masih belum menunjukkan hasil yang memuaskan, khususnya terkait dengan penanganan sanitasi dan persampahan. Ditengarai bahwa faktor utama yang menjadi kendala adalah perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang belum menjadi anutan sebagian besar masyarakat. Sehingga disadari sepenuhnya bahwa perubahan perilaku menjadi syarat utama keberhasilan pembangunan AMPL. Dilain pihak, perubahan perilaku akan terlaksana dengan lebih baik ketika dilakukan pada usia muda. Untuk itu, sekolah menjadi tempat yang tepat bagi terlaksananya proses perubahan perilaku. Pengalaman penerapan konsep sekolah hijau di Indonesia membuktikannya. Paling tidak hal tersebut terlihat di SMA N 13 Jakarta Utara dengan keberhasilan mereka dalam melakukan kampanye daur ulang sampah, di SMK Al Muslim Bekasi dan SMK Wikrama Bogor dengan keberhasilan mereka merubah sampah menjadi produk siap pakai seperti gantungan kunci, tas, dompet. OM

SMK AL MUSLIM BEKASI Pembelajaran berbasis alam dan lingkungan. Warga sekolah menerapkan perilaku ramah lingkungan, tersedianya kurikulum muatan lokal berbasis lingkungan.

Tujuan

Program Penguatan kelompok Green School, pengelolaan sampah sekolah, pembudidayaan tanaman obat, pemaduan isu lingkungan kedalam kegiatan pembelajaran, kampanye lingkungan.

Pemberdayaan tim relawan Green Education, kampanye hemat energi dan air, pengelolaan sampah, pemaduan isu lingkungan kedalam kegiatan pembelajaran, open house dan lomba pidato lingkungan, manajemen sekolah berbasis lingkungan

7
6 Percik 2007 Agustus

Sumber: Yayasan Kehati

TUJUH LANGKAH MENGHIJAUKAN SEKOLAH


(diadopsi dari Eco-Schools International, www.eco-schools.org)
an hasilnya menjadi masukan bagi penentuan kegiatan prioritas. Survei sebaiknya menyenangkan. Menyusun Rencana Aksi Sekolah Hijau. Sebagai langkah awal, rencana aksi harus realistis dan dapat dicapai dengan mudah. Kemudian selanjutnya dapat dilanjutkan dengan penyusunan rencana jangka panjang yang lebih menantang. Memantau dan mengevaluasi kemajuan. Kelompok hijau bersama warga sekolah lainnya secara bersama melakukan evaluasi. Hasilnya dipergunakan untuk memastikan keberhasilan program. Memasukkan kegiatan lingkungan kedalam kurikulum. Melibatkan semua pihak dan tidak perlu sungkan menyebarluaskan keberhasilan.

1. Membentuk Kelompok Hijau. Kelompok hijau merupakan penggerak dari penerapan konsep sekolah hijau. Terdiri dari pemangku kepentingan (pelajar, guru, pesuruh, orang tua, dan komite sekolah). Bersifat terbuka dan dijalankan oleh murid. Tugas utamanya melakukan koordinasi seluruh kegiatan, memberikan rekomendasi, dan memfasilitasi komunikasi diantara seluruh komunitas sekolah. 2. Menetapkan Visi. Visi sebaiknya dipasang di tempat umum, dan dapat juga didukung melalui suatu pernyataan sikap dari komite sekolah, maupun persatuan orang tua. 3. Melaksanakan Survei Lingkungan Sekolah. Survei dilakukan untuk mengidentifikasi permasalahan lingkungan, kemudi-

4.

5.

6. 7.

WAWA N CA R A

Penyebar Inspirasi Hidup Sehat


Dewi Utama Faizah bekerja di Direktorat Pembinaan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Departemen Pendidikan Nasional sejak 24 tahun yang lalu. Dewi, sapaan akrab perempuan berkerudung ini aktif mengembangkan kurikulum agar dapat menjadi inspirasi bagi guru di lapangan. Dewi juga membantu banyak program kerjasama antara pemerintah dengan berbagai negara donor berupa Monev dan diklat untuk guru-guru, terutama guru TK dan SD. Sejak tahun 2000, perempuan yang menyukai warna hitam ini bergelut dengan para guru di lapangan, terutama di wilayah Timur Indonesia. Apa saja kegiatan Dewi Utama Faizah selama mendampingi 'pahlawan tanpa tanda jasa' ini? Berikut wawancaranya dengan Percik. untuk dapat membantu murid-muridnya bisa keluar dari masalah kekumuhan. diri. Dan itu di mulai dari hal yang sederhana. Misalnya mengatasi pilek dan ingus yang hampir merata di wilayah NTT juga di NTB. Waktu saya bergabung dengan Tim Monev pada program Kemitraan AusAid di Flores pada tahun 2002 lalu, saya heran kok guru bisa mengajar dengan kondisi murid-murid yang amat kotor, hidung memerah dan berlendir hijau, krah baju dan lengan yang hijau menghitam karena digunakan untuk melap ingus hijau anak-anak. Ada kendala? Saya tidak mengalami kendala. Oleh karena budaya hidup bersih merupakan kebutuhan setiap manusia. Hanya saja sekolah kita bahkan orang tua kerap mengabaikan dan merasa itu tidak perlu dipelajari seperti mempelajari pelajaran matematika dan IPA. Siapa yang tidak senang memiliki murid-murid yang sehat dan jika mereka pulang ke rumah badannya wangi, rambutnya bersih bergelombang, dan tersenyum dengan gigi-giginya yang putih. Ada pesan khusus? Ayo kita tularkan virus hidup sehat kepada semua anak-anak Indonesia. Hidup sehat berawal di tangan mereka, tapi hidup tidak sehat juga berawal di tangan mereka. Tinggal kita koneksikan saja antara head, heart, hand, healthy dalam proses pembelajaran di seluruh Indonesia tercinta ini. Pihak mana saja yang diharapkan kelak membantu/terlibat? Saya harapkan guru, masyarakat luas dan stakeholder AMPL dapat membantu program ini ke depan. Ok? Saya tunggu aksinya. Bowo Leksono

DR Dewi Utama Faizah

agaimana kondisi pendidikan (perilaku) hidup sehat/bersih anak-anak Indonesia saat ini? Sangat menyedihkan! Oleh karena guru-guru kita yang ada di sekolah saat ini adalah "guru kurikulum". Mereka hanya asik dengan kurikulum dan buku teks, melupakan harkat para belia muridmuridnya sebagai individu yang tumbuh dan berkembang. Bagaimana seharusnya pendidikan perilaku bagi anak-anak Indonesia? Berbicara perilaku tidak semudah mentransfer isi buku ke dalam otak murid. Membentuk perilaku hidup sehat merupakan serangkaian panjang proses kemanusiaan, dimulai sejak bangun tidur hingga tertidur lagi. Di rumah dan di sekolah merupakan arena bagi anak melatih diri untuk membentuk perilaku yang sehat dan baik. Mereka membutuhkan lingkungan sosial sebagai sarananya.

Terus dengan metode atau cara apa untuk merubah perilaku hidup sehat tersebut? Berbuat dan membiasakan! Di mana saja anak berada. Di samping dibutuhkan keteladanan guru dan orang dewasa untuk mendampingi mereka agar dapat menerapkan disiplin dan pembiasaan secara terusmenerus. Jika anak dicelupkan dalam kondisi ini, maka akan tumbuh "perasaan yang melekat" untuk senantiasa berperilaku sehat. Perasaan sehat terkait erat dengan emosi, sementara emosi merupakan energi yang akan senantiasa menyala mengobarkan keinginan anak untuk senantiasa membangun hidup sehat. Sudah di mana saja program tersebut dilaksanakan? Saya tidak punya program khusus untuk itu. Tapi saya berusaha mengasah kepekaan humanbeing saya di mana saja saya berada. Saya selalu mengajak para guru untuk meringankan tangannya

Percik Agustus 2007

P E R AT U R A N

Permendagri No. 23 Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis dan Tata Cara Pengaturan Tarif Air Minum pada PDAM

pada PDAM yang dianggap kurang sesuai dengan keadaan erugian yang diderita PDAM dalam menjalankan perPDAM sekarang ini. Saat ini tarif PDAM tidak mencerminkan annya menyediakan air bagi masyarakat sudah seperti prinsip full cost recovery. Dalam peraturan yang baru, terjadi berita sehari-hari. Tingginya biaya operasional ditambeberapa perubahan dalam pertimbangan dan penentuan tarif bah tingginya persentase kehilangan air semakin menyurutkan PDAM. aliran pendapatan. Biaya dasar berdasarkan peraturan yang baru memiliki komDi lain pihak PDAM seperti berada pada posisi yang sulit ponen baru baik dalam biaya usaha maupun volume air yang untuk menaikkan tarifnya. Protes dari masyarakat termasuk diproduksi dan yang hilang. Biaya dasar merupakan biaya usaha anggota dewan sering menjadi batu sandungan. Padahal pendadibagi volume air terproduksi setelah dikupatan yang berasal dari tarif tersebut sangat rangi volume kehilangan air standar. Biaya penting untuk menutup biaya operasional usaha ini merupakan total biaya untuk sehari-hari. Dalam biaya dasar menghasilkan air minum yang mencakup Selain itu, sebagian dari pendapatan yang baru, sudah biaya sumber air, biaya pengolahan air, tersebut harus digunakan untuk biaya invesdipertimbangkan biaya transmisi dan distribusi, biaya kemitasi dalam bentuk perluasan jaringan disadanya kehilangan air. traan, dan biaya umum dan administrasi. tribusi yang masih sangat diperlukan untuk Sedangkan dalam Bandingkan dengan biaya dasar lama yang sebagian masyarakat. Hingga 2006, caperaturan yang lama hanya ditentukan berdasarkan biaya tunai kupan layanan air perpipaan di Indonesia kehilangan air ini hanya yang terdiri dari biaya operasi, biaya pemelimasih sekitar 18 persen. Sedangkan masih dihitung sebagai haraan, biaya administrasi, biaya bunga pinbanyak PDAM yang memiliki tarif kurang kerugian yang harus jaman serta pokok pinjaman. dari Rp 500,-/m3 di bawah tarif rata-rata Dalam biaya dasar yang baru ini, sudah nasional (Rp 1000,-/m3). ditanggung PDAM. dipertimbangkan adanya kehilangan air. Melakukan pinjaman kepada pihak luar Sedangkan dalam peraturan yang lama kehimenjadi pilihan terakhir yang diambil sebalangan air ini hanya dihitung sebagai kerugian besar PDAM di Indonesia. Namun, pingian yang harus ditanggung PDAM. Selain itu, biaya sumber air jaman tersebut malah menambah beban. PDAM tidak dapat merupakan komponen yang baru yang membantu beberapa mengembalikan pinjaman, kalaupun ada yang dikembalikan PDAM yang harus mengeluarkan biaya untuk pembelian sumbaru bunga pinjamannya saja. ber air baku. Akhirnya banyak PDAM yang terlilit utang. Dari 318 PDAM Hal ini sangat wajar mengingat ada PDAM yang mengalami (2006), hanya 18 persen saja yang dikategorikan sehat, yaitu peningkatan biaya air baku hingga 10 kali lipat dari tahun 2000 mampu berkembang, mampu mengelola pinjaman, mampu hingga 2007. Peraturan yang baru juga telah memperjelas biaya melakukan penggantian aset, beroperasi dengan efisien, dan operasi dan pemeliharaan dalam peraturan lama menjadi biaya meraih keuntungan. pengolahan air dan biaya transmisi serta distribusi. Kehilangan air dipertimbangkan dalam penentuan Mutu pelayanan, akuntabilitas, dan perlindungan air biaya dasar baku sebagai bagian dalam penetapan tarif Melihat kondisi ini, pemerintah berupaya membantu PDAM Dasar kebijakan penetapan tarif juga mengalami perubahan. dengan menetapkan Permendagri No. 23 Tahun 2006 tentang Untuk menyempurnakan dasar penetapan yang lama, peraturan Pedoman Teknis dan Tata Cara Pengaturan Tarif Air Minum yang baru mengarahkan dasar penetapan tarif agar turut mempada PDAM. Peraturan ini untuk menggantikan Permendagri pertimbangkan adanya keadilan, perbaikan mutu pelayanan, No. 2 Tahun 1998 tentang Pedoman Penetapan Tarif Air Minum

8 Percik 2007 Agustus

P E R AT U R A N

akuntabilitas, dan perlindungan air baku. Dalam peraturan yang baru, tarif PDAM diarahkan untuk membantu perlidungan dan pelestarian sumber air dalam jangka panjang. Adanya tarif progresif antara lain bertujuan untuk perlindungan air baku. Berdasarkan peraturan yang baru, proses perhitungan dan penetapan tarif harus menggunakan landasan perhitungan yang mudah dipahami dan dapat dipertanggungjawabkan kepada para pemangku kepentingan. Setiap rupiah yang akan dikelola PDAM harus transparan dan bisa dipertanggungjawabkan terutama kepada masyarakat. Jika tidak, sulit bagi PDAM untuk menaikkan tarif air minum mereka. Efisiensi pemakaian air masih menjadi bagian dasar penetapan tarif. Efisiensi dicapai melalui penerapan tarfi progresif yang dikenakan pada pelanggan yang konsumsinya melebihi standar kebutuhan pokok air minum. Diharapkan dengan adanya tarif ini pelanggan jadi lebih berhemat sehingga perlindungan air baku bisa tercapai. Prinsip pemulihan biaya merupakan dasar utama penetapan tarif air minum bagi PDAM. Peraturan yang baru merubah perhitungan pada pemulihan biaya ini. Untuk sekarang, pemulihan biaya penuh (full cost recovery) dicapai saat tarif rata-rata minimal sama dengan biaya dasar. Namun jika akan melakukan pengembangan pelayanan, tarif rata-rata tadi harus direncanakan untuk menutup biaya dasar yang ditambah dengan tingkat keuntungan yang wajar. Keuntungan yang wajar ini dicapai jika rasio laba terhadap aktiva produktif sebesar 10 persen. Namun penetapan tarif juga tetap mengedepankan keterjangkauan dan keadilan. Tarif standar kebutuhan air minum harus terjangkau oleh masyarakat pelanggan dengan penghasilan sama dengan upah minimum provinsi. Tarif dikatakan terjangkau jika besarnya tidak melebihi 4 persen pendapatan masyarakat pelanggan. Untuk keadilan dalam penerapan tarif, dilakukan melalui tarif

Foto: Bowo Leksono

diferensiasi dengan subsidi silang antar kelompok pelanggan. Mutu pelayanan merupakan pertimbangan yang baru sebagai dasar penetapan tarif. Mutu pelayanan masih menjadi permasalahan bagi PDAM. Sudah sering tertulis dalam media cetak sebuah PDAM sangat sulit menaikkan tarif akibat pelayanan yang buruk. Di lain kasus, PDAM menaikkan tarif namun pelayanan tetap buruk. Adanya pertimbangan mutu pelayanan dalam dasar penetapan tarif akan memaksa sebuah PDAM meningkatkan mutu pelayanannya. Fleksibilitas dalam pembagian blok konsumsi dan kelompok pelanggan Untuk mempermudah perhitungan tarif, blok konsumsi dan kelompok pelanggan pada peraturan yang baru dibuat lebih fleksibel. Blok konsumsi diubah dari tiga menjadi hanya dua blok, yaitu blok konsumsi air minum yang masih dalam batas standar kebutuhan pokok dan blok konsumsi di atas standar kebutuhan pokok. Sedangkan kelompok pelanggan menjadi empat kelompok dari sebelumnya lima kelompok. Untuk peraturan baru, tiap kelompok ditentukan berdasarkan kategori tarif yang dibayarkan. Kelompok

I dengan tarif rendah, kelompok II dengan tarif dasar, kelompok III dengan tarif penuh, dan kelompok khusus berdasarkan tarif kesepakatan. Di sini PDAM diberikan keleluasaan menentukan kebijakan jenis-jenis pelanggan untuk tiap-tiap kelompok berdasarkan kondisi obyektif dan karakteristik pelanggan di daerah masing-masing. Yang penting, PDAM tidak mengubah jumlah kelompok pelanggan yang sudah ditetapkan dalam permendagri yang baru ini. Yang paling penting dalam peraturan baru ini, mekanisme penetapan tarif air minum di sebuah PDAM didasarkan pada keseimbangan kepentingan terhadap masyarakat yang menjadi pelanggan, PDAM selaku badan usaha dan penyelenggara pelayanan air minum kepada masyarakat, dan pemerintah daerah yang berkepentingan sebagai pemilik PDAM itu sendiri. Dengan demikian, penetapan tarif harus mengarah pada perbaikan mutu pelayanan kepada pelanggan, pencapaian target pemulihan biaya penuh, dan hasil positif seperti keuntungan yang juga dapat digunakan kembali dalam pengembangan pelayanan. Afif Nu'man

Percik Agustus 2007

WAWA SA N

Sekolah Hijau (Green School) dan Soal Kesadaran Lingkungan Hidup


Oleh: Imam M.*

khir-akhir ini muncul gerakan lingkungan yang cukup menggembirakan dari para siswa sekolah, terutama SMU. Siswa-siswa SMU itu tidak melulu digambarkan sebagai anak baru gede (ABG) yang penuh kemanjaan dan sedang semangat mencari identitas terhadap lawan jenisnya. Sebagian anak-anak SMU itu telah mengubah pandangan umum dengan mencanangkan berbagai kegiatan yang selama ini hanya mereka yang berkutat di organisasi-organisasi tertentu yang terkait dengan lingkungan hidup. Apa yang menarik dari kegiatan yang berorientasi lingkungan hidup ini adalah siswa-siswi SMU sudah menyadari berbagai akibat negatif dari eksploitasi sumber daya alam dan pecemaran lingkung hidup yang terjadi saat ini. Kegiatan tersebut targetnya tentu bukan mengubah lingkungan yang tercemar secara dramatis menjadi lingkungan yang bersih dan layak huni. Sasaran utama dari kesadaran lingkungan hidup pada usia SMU tersebut tak lain meletakkan kesadaran lingkungan sedini mungkin sehingga kelak mereka akan menjadi orang yang pertama untuk menjaga lingkungan di mana mereka tinggal. Jika ini terjadi, tentu program ini akan menjadi pondasi pertama bagi setiap kampanye atas pentingnya lingkungan hidup. Sebab ketika kesadaran terhadap lingkungan telah ada sejak muda, tentu ini akan mempermudah terbentuknya perilaku sadar lingkungan dan tentu lebih mengakar dalam hidup keseharian. Ambil contoh siswa-siswi SMUN 1 Wringinanon, Gresik, Jawa Timur. Sekolah ini bisa dibilang salah satu yang terdepan untuk usia segenerasinya dalam hal kesadaran lingkungan hidup. Selain mempraktikkan lingkungan bersih dan hijau dengan menanam berbagai tanaman di lingkungan sekolah, mereka juga aktif mengikuti berbagai kegiatan berkait dengan lingkungan di luar sekolah. Siswa-siswa ini aktif mengikuti berbagai workshop tentang lingkungan hidup dan yang menarik bersama SMU lain di Jawa Timur melakukan penelitian terhadap Kali Brantas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kebersihan Kali Brantas atas berbagai tindak pencemaran di berbagai kota yang dilalui

Berbagai tanaman obat-obatan yang terdapat di sekolah hijau. Foto: Bowo Leksono

kali ini. Hasilnya bermacam-macam. Ada yang berkesimpulan Kali Brantas yang melewati kota Mojokerto masih belum terlalu tercemar sebagaimana ditunjukkan oleh siswa bernama Yogi dari SMUN 1 Wringinanom. Ada juga yang menyatakan sudah demikian tercemar sebagaimana ditunjukan siswa dengan meneliti Kali Brantas yang melewati kota Surabaya (Tempo, 16 April 2007). Pihak sekolah sendiri tak mau tinggal diam dengan kian suramnya masa depan lingkungan hidup ini. Berbagai sekolah telah memasukkan kurikulum berbasis lingkungan ini ke dalam mata pelajaran ini. Jika dalam rencana SMUN 1 Wringinanom kurikulum ini menjadi mata pelajaran tersendiri dengan cara memberikan 1 jam pelajaran setiap minggunya, maka ada sekolah yang secara kreatif tidak memberikan 1 jam pelajaran yang terpisah tetapi justru terintegrasi dalam satu rangkaian pelajaran. Ini dilakukan oleh SMK Wikrama Bogor. SMK ini memasukkan materi lingkungan hidup ke dalam mata pelajaran PKN, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan Fisika. Berikut uraiannya: 1. Pendidikan Agama Islam: Kompetensi Kerusakan Alam dan Lingkungan. Disajikan minggu ke 18-21 2. Pendidikan Kewarganegaraan: Kompetensi Sumber Daya

10 Percik 2007 Agustus

WAWA SA N

Alam. Disajikan minggu ke 61-73 3. Bahasa Indonesia: Kompetensi level membaca dan menulis menggunakan topik lingkungan alam. Disajikan minggu ke 5-25. 4. Bahasa Inggris: Kompetensi level Novice untuk membaca dan menulis menggunakan topik lingkungan alam dan sekitarnya. Disajikan minggu ke 21-40 5. Matematika: Kompetensi menerapkan konsep bilangan real. Disajikan minggu ke 1-13 6. Fisika: (a) Menghitung kalor, (b) Menerapkan konsep usaha, daya dan energi, (c) Menerapkan konsep Fluida, (d) Thermodinamika, (e) Optik, (f) Konsep Listrik, (g) Produktif RPL1. Dasar-dasar Pemrograman, (h) Teknik Komputer dan Jaringan 1. Instalasi PC. Disajikan pada minggu ke 1-10 Konsep yang dijalankan SMK Wikrama ini tidak mengganggu jalannya mata pelajaran lantaran tidak menambah beban siswa karena terintegrasi dalam satu mata pelajaran. Karena itu, keberadaan konsep tersebut justru mendukung mata pelajaran itu sendiri dan pada saat yang sama telah memicu kesadaran akan lingkungan hidup. SMK Wikrama Bogor ini bisa dikatakan telah melakukan satu terobosan yang cukup bagus dengan secara sistematis menjawab isu krisis lingkungan hidup saat ini ke dalam ranah pendidikan mereka. Selain mengintegrasikan sistem kurikulum, mereka juga mengintegrasikan dalam perilaku sehari-hari di sekolah. Masalah penggunaan air dan listrik mereka manfaatkan dengan sistem otomatisasi sehingga dapat melakukan penghematan energi secara efektif. Sementara masalah sampah disediakan pemisahan tong sampah untuk yang organik dan yang nonorganik. Ini akan mempermudah tahap pengolahan akhir sampah dengan membuat kompos dari sampah organik. Selain itu, kesadaran lingkung hidup di SMK Wikrama ini tercermin dari berbagai tanaman keras yang tumbuh

Pelataran sekolah yang rimbun dengan pepohonan. Foto: Bowo Leksono

di berbagai sudut halamannya. Sekolah ini bukan hanya tampak bersih dari dalam tetapi menjadi hijau dari luar serta nyaman dihuni dan akhirnya tempat yang layak untuk menyemaikan benihbenih kepintaran. Berbagai Dukungan Kesadaran lingkungan ini juga terlihat di SMK Al Muslim Bekasi. Sekolah ini pada 2005 menerima Hadiah Oksigen dari PT Coca-Cola yang bekerjasama dengan pihak Yayasan KEHATI. Hadiah ini bertujuan menyemaikan benih-benih yang tumbuh dalam diri siswa-siswi agar mendapat perwujudannya dalam wilayah sosial. Pihak penyelenggara memberikan uang tunai sejumlah 25 juta dan 1 tahun pendampingan. Namun, sebagaimana dikatakan kepala sekolah SMK Al Muslim, Dra. Elis Setiawati, "Yang terpenting justru tahap pasca bantuan ini. Memang program Go Green School secara nyata telah memberikan kesempatan bagi seluruh warga sekolah baik siswa dan manajemen untuk terlibat langsung dalam perkembangan program Green Education yang telah kami gagas sejak tahun 1986. Keterlibatan kami dalam perencanaan, implementasi, monitoring, laporan dan penyusunan rencana tindak lanjut juga memperluas wawasan kami untuk menjalankan dua prinsip utama Program Go Green School yakni menyeluruh dan

berkelanjutan. Dan yang terpenting adalah mandiri dalam menjalankan program ini ke depan nantinya". Sifat dukungan dari berbagai organisasi terhadap kegiatan sekolah berorientasi lingkungan hidup ini pada intinya memberi motivasi sekaligus memberi ruang untuk mewujudkan kesadaran lingkungan tersebut. SMAN 1 Wringinanom sendiri telah lama bekerjasama dengan lembaga pemerintahan kabupaten Gresik maupun pemerintahan Jawa Timur, juga Ecoton dan KEHATI. Namun, sifat bantuan itu sendiri bersifat sementara dengan asumsi ikut menebarkan benih-benih kesadaran lingkungan hidup yang kelak di kemudian harinya akan berguna. Hal ini sesuai sifat dari pendidikan sekolah sendiri yang sifatnya memberi bekal untuk mempersiapkan diri sebelum peserta didik terjun menjadi bagian dari masyarakat. Dan terkait dengan lingkungan hidup yang semakin hari kian menunjukkan keadaan yang memprihatinkan, bekal itu sangat penting. Sebab sehebat apa pun opini tentang kesadaran lingkungan hidup hendak dibangun tidak banyak gunanya apabila tidak ada kesadaran dalam diri setiap individunya. Saya kira di sini arti pentingnya program sekolah hijau (green school).
* Pengamat ekologi

Percik Agustus 2007

11

WAWA SA N

Bencana Ekologi dan Gagalnya Model Pembangunan Kota


Oleh : Firdaus Cahyadi *

ota Jakarta berkembang begitu pesat sehingga menjadikannya lebih maju dibandingkan kotakota lain di Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan berhasilnya kota ini meraih pendapatan per jiwa tertinggi. Pesatnya pembangunan di Jakarta juga menyebabkan kota ini menjadi pusat perdagangan barang dan jasa selain sebagai pusat pemerintahan. Untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan kota lainnya, Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta pun 'mengarahkan' strategi pembangunan pada upaya menarik sebanyak mungkin investor untuk berinvestasi di kota ini. Strategi pembangunan yang bertumpu pada mekanisme pasar pun menjadi paradigma dominan di kota ini. Hal itu semakin nampak dari naiknya laju pertumbuhan kawasan komersial dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006 yang lalu misalnya, di Jakarta lebih dari 30 pertoA IR H U J A N 2000 Jt M 3 /th

koan, apartemen, dan perkantoran skala besar telah dibangun. Sementara pada periode 2007 hingga 2008 sekitar 80 pusat perbelanjaan, apartemen dan perkantoran baru segera dibangun di Jakarta (Kompas, 10 Februari 2006). Mekanisme pasar dan banjir di Jakarta Intensifnya pembangunan pusatpusat komersial di kota Jakarta juga telah mengakibatkan kota ini semakin tidak nyaman bahkan membahayakan para penghuninya baik secara sosial maupun lingkungan hidup. Hal itu nampak dari terjadinya bencana ekologi berupa banjir besar pada tahun 2002 dan 2007 yang menimbulkan banyak korban jiwa dan harta warga Jakarta. Banjir yang terjadi di Jakarta bukanlah sebuah fenomena alam biasa namun akibat kebijakan Pemda DKI Jakarta yang telah menyerahkan strategi pembangunan kota sepenuhnya pada mekaA IR H U J A N M E N JE L M A M E N J A D I A IR L A R IA N B A N J IR

nisme pasar. Bagaimana kaitannya banjir Jakarta tahun 2002 dan 2007 dengan kebijakan pembangunan yang 'mendewakan' mekanisme pasar? Intensifnya pembangunan kawasan komersial di Jakarta telah menggusur banyak daerah resapan air baik berupa Ruang Terbuka Hijau (RTH) maupun situ/waduk. Hal itu terlihat jelas dari semakin menurunnya luasan RTH di Jakarta dari tahun ke tahun. Pada Master Plan Jakarta tahun 19651985 menargetkan luas RTH seluas 18.000 Ha. Pada Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Jakarta tahun 1985-2005 target RTH turun menjadi 16.908 Ha, sementara pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2000-2010 turun lagi menjadi hanya 9.560 Ha. Menurunnya luasan RTH tersebut mengakibatkan meningkatnya air larian (run off) saat terjadi hujan sehingga mengakibatkan banjir di Jakarta. Data terbaru dari BPLHD DKI Jakarta pada tahun 2005 menyebutkan bahwa hanya 26,6 persen air hujan yang dapat diserap tanah, sementara 73,4 persen menjadi run off. Fakta tersebut dapat menjelaskan mengapa banjir pada tahun 2007 yang lalu lebih besar dibandingkan tahun 2002. Mekanisme pasar dan biaya sosial Diserahkannya pembangunan kota sepenuhnya pada mekanisme pasar memang telah terbukti mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) kota Jakarta. Namun jika biaya sosial akibat dari bencana lingkungan diperhitungkan juga maka besarnya PAD yang diperoleh kota ini pun akan terkoreksi secara signifikan. Menurut perkiraan Bappenas, Bencana Banjir Jabodetabek tahun 2007 mengakibatkan kerusakan dan kerugian bagi masyarakat dan pemerintah sebesar Rp 5,2 T. Sementara kerugian ekonomi tidak langsung mencapai Rp 3,6 T. Ironisnya, biaya sosial seperti di atas tidak "tertangkap" pasar.
* Pelaksana Harian Kaukus Lingkungan Hidup Jakarta

R un O ff 1468 Jt M 3/th ( 7 3 ,4 % )

200
J A K A RTA B O G OR

M uk a L a u t

532 Jt m 3/th (2 6 ,6 % ) A IR TA N A H DALAM 77 JU T A M 3/ TH 40 Jt m 3/th

-4 0 -1 4 0 -2 5 0

A IR T A N A H D A N G K A L 4 9 2 J T M 3/TH

Jt Jt 37 37

h th /t 3/ m 3 m

-4 0 -140 -250

B a t a s a m a n p e n g a m b ila n a ir b a w a h ta n a h 3 0 - 4 0 % d a r i p o te n s i a ir ta n a h (1 8 6 jt m 3 / th ) (T a h u n 2 0 0 5 d e fis it a ir ta n a h s e b e s a r 6 6 ,6 5 ju t a m 3 / ta h u n ) S u m b e r: B P L H D D K I J a k a rt a , 1 5 F e b ru a r i 2 0 0 7

12 Percik 2007 Agustus

WAWA SA N

Pengatur Aliran Air Ala Barugaya


(Local Genius Dusun Barugaya, Desa Bonto Kadatto, Kabupaten Takalar)
Oleh : Sofyan Iskandar*

agaimanakah cara membagi secara adil tanggung jawab pembayaran rekening listrik untuk pompa air yang digunakan secara bersama? Jawaban saya adalah membagi biaya secara proporsional di antara pengguna. Bisa berdasarkan pemakaian air atau jumlah anggota keluarga. Kalau berdasarkan pemakaian air, berarti tiap pengguna harus dilengkapi alat ukur yang disepakati, yang paling praktis water meter (meteran air) tentu saja. Kalau ini dianggap tidak praktis dan menjadi mahal, gunakan saja ukuran jumlah pengguna setiap keluarga. Harusnya seperti itu menurut saya. Tetapi tidak demikian menurut warga Dusun Barugaya, Desa Bonto Kadatto yang berjarak satu jam perjalanan kendaraan dari Ibu Kota Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Pikiran saya tersebut menurut mereka terlalu rumit, walaupun gagasannya sederhana, tetapi pelaksanaannya memerlukan pengaturan-pengaturan yang rumit. Katakan saja kalau menggunakan water meter, siapa yang akan membacanya, kemudian siapa yang akan mengumpulkan iuran, bagaimana kalau ada yang tidak membayar. Kalau tidak menggunakan meter, tetapi dengan ukuran keluarga, tidak ada jaminan keluarga kecil menggunakan air lebih sedikit dari keluarga besar. Persoalan ini muncul karena sumber air yang dapat digunakan air minum terbatas. Hanya sumur-sumur tertentu yang dapat digunakan. Dan untuk mengalirkan air diperlukan pompa dengan memerlukan tenaga listrik. Menghemat air Untunglah ada Bassere Daeng Ta'le (45 tahun), anggota masyarakat yang memiliki pengetahuan kelistrikan. Untuk mengatasi persoalan pembagian pembayaran listrik, ditetapkan masing-masing rumah harus menggunakan listrik sendiri. Sehingga tidak perlu ada perselisihan dalam menentukan besarnya biaya listrik. Pengaturan penggunaan dilakukan sendiri, mau menggunakan banyak air artinya membayar listrik lebih besar. Bila hendak menghemat, gunakan air secukupnya. Jalan keluar ini diterima kelompok pengguna air secara aklamasi. Sistem yang dirintis Daeng Ta'le ini sudah dikembangkan selama tiga tahun oleh Daeng Nai (43 tahun). Hal ini terungkap dari

Pipa air yang melintas ke perumahan warga. Foto: Bowo Leksono

praktek lapangan program orientasi MPA-PHAST yang diselenggarakan di Dusun Barugaya, Desa Bonto Kadatto, Kabupaten Takalar. Acara ini diselenggarakan pada Juni 2007 oleh Pokja AMPL Nasional bekerja sama dengan Ditjen PMD Departemen Dalam Negeri. Cara kerja Bagaimanakah cara kerja sistem yang sudah melayani tiga lingkungan ini? Pada prinsipnya setiap rumah memiliki sambungan listrik yang terhubung dengan kabel utama menuju pompa yang diletakkan di sumur. Setiap rumah dilengkapi dengan stop kontak untuk memutuskan atau menyambungkan

Percik Agustus 2007

13

WAWA SA N

aliran listrik ke kabel utama. Untuk mengatur giliran penggunaan, setiap rumah dilengkapi lampu indikator yang menyala saat ada rumah yang menggunakan pompa. Aturannya adalah hanya menyalakan pompa (dengan menekan stop kontak) ketika lampu indikator mati. Setelah selesai menggunakan pompa, listrik dimatikan dan kran harus ditutup. Skema instalasi listrik dapat dilihat pada diagram. Apakah tidak terjadi arus pendek? Hal ini juga sudah diperhitungkan, karena penyambungan diatur pada fase listrik yang sama. Sistem ini digunakan secara kelompok mulai dari 3 rumah sampai dengan 12 rumah. Jarak terjauh sumur atau pompa dengan rumah adalah 100 meter. Biaya konstruksi, instalasi pipa dan listrik serta pengadaan pompa ditanggung secara swadaya pengguna. Saya terpaksa harus menyingkirkan analisa kritis saya dulu terhadap sistem ini karena nyatanya sistem ini dapat bekerja, digunakan dengan baik, bertahan sampai tiga tahun, dan dibiayai sendiri lagi. Misalnya tentang lampu indikator yang menyala pada seluruh rumah ketika satu rumah menyalakan pompa, kalau pengguna sampai 13 rumah, artinya 13x5 watt atau 65 watt. Apabila ditambah dengan daya

Bak penampungan air bersih di depan rumah warga. Foto: Bowo Leksono

pompa 200 watt, setiap rumah menanggung beban daya 265 watt. Untuk menghitung biayanya tinggal dikalikan saja dengan waktu yang digunakan. Mungkin lampu 5 watt ini bisa diganti dengan lampu indikator yang lebih kecil. Pada saat pengguna paling ujung menyalakan pompa, pada dasarnya rumah-rumah lain yang dapat membuka kran untuk memperoleh air. Tetapi karena pengguna berdekatan, kontrol masih

dapat dilakukan, karena aliran air akan ke rumah terjauh menjadi lebih kecil. Apabila ada keperluan air mendesak, komunikasi langsung kerap dilakukan dengan meminta yang lain untuk mematikan aliran listrik. Sistem yang berkelanjutan Menilik waktu pengembangan yang sudah tiga tahun dan sekarang kondisinya berfungsi dengan baik dan terus digunakan, menunjukkan bahwa sarana yang dibangun keberlanjutan. Hal ini semakin memperkukuh keyakinan saya bahwa masyarakat memiliki kemampuan dalam menyelesaikan persoalan sendiri, bahkan dalam menemukan teknologi tepat guna. Bahwa pilihan teknologi perlu dibuka dan didiskusikan untung ruginya merupakan syarat keberlanjutan. Bahwa keputusan oleh masyarakat menjadi kunci dalam keberlanjutan sarana yang dibangun. Bahwa pihak luar tidak harus datang dengan bantuan fisik, terjadi di Barugaya. Bahwa saya harus lebih banyak belajar, itu suatu kenyataan, apabila saya mau memberikan sumbangsih dalam mengusung keberlanjutan pembangunan air minum di negeri ini.
*Konsultan WASPOLA

Pipa-pipa pembagi air bersih. Foto: Bowo Leksono

14 Percik 2007 Agustus

WAWA SA N

Kontribusi Sistem Penyediaan Air Minum terhadap Pertumbuhan Ekonomi Nasional (Tahun Anggaran 2006)
oleh : Sandhi Eko Bramono, S.T., MEnvEngSc.* berantai (trickling down effect) yang memberikan kemanfaatan dan kesejahteraan bagi masyarakat. Berawal dari pembukaan lapangan kerja, menjadikan sejumlah kuantitas sumber daya manusia yang terlatih dan mempunyai kesempatan dalam mengaplikasikan ilmunya. Selain itu, dengan lapangan kerja yang tersedia, maka tingkat ekonomi masyarakat akan meningkat, yang disertai peningkatan kesadaran akan pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Dampak akhirnya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang merupakan suatu aset nasional yang tak akan tergantikan. Penyediaan infrastruktur SPAM akan berpengaruh pada pembukaan lapangan kerja, yang bersifat menyeluruh semenjak dari survei untuk penyediaan infrastruktur tersebut, hingga ke pengawas lapangan yang bertugas mencatat meter air di tiap sambungan rumah. Berapa jumlah tenaga sarjana S1 yang dibutuhkan, berapa jumlah tenaga kerja D3 yang dibutuhkan, berapa jumlah tenaga kerja STM yag dibutuhkan, berapa jumlah buruh yang bertugas membangun sistem Instalasi Pengolahan Air (IPA) dan sistem distribusinya, berapa jumlah mandor yang dibutuhkan untuk mengawasi buruh, berapa jumlah pegawai Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang dibutuhkan, berapa jumlah tenaga untuk pembangunan IPA PAKET yang siap dipasang di lokasi yang dituju, berapa jumlah tenaga pengawas sistem jaringan distribusi yang dibutuhkan, dan lain-lain, yang berdampak kepada total jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan. Berdasarkan perhitungan tersebut, dapat dihitung berapa jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk setiap penyediaan 1 liter/detik SPAM. Selain

Bangunan reservoar hasil kerjasama masyarakat, LSM dan pemerintah daerah. Foto: Bowo Leksono

enyediaan infrastruktur yang handal merupakan salah satu tonggak dalam penyelenggaraan pembangunan bangsa. Infrastruktur yang dibangun harus juga selalu ditujukan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat. Berbagai parameter diajukan untuk meninjau tingkat kemanfaatan pembangunan infrastruktur pada kesejahteraan masyarakat. Salah satu parameter uji yang cukup handal untuk dinilai, adalah tingkat pembukaan lapangan kerja akibat pembangunan infrastruktur tersebut. Berapa jumlah lapangan kerja yang dapat dibuka akibat penyediaan infrastruktur tersebut, yang akan berpengaruh pada angka pertumbuhan ekonomi nasional, merupakan

tolok ukur tingkat kemanfaatan infrastruktur. Salah satu infrastruktur yang mendukung pembangunan nasional adalah Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Sejauh mana infrastruktur SPAM mampu berkontribusi dalam pembukaan lapangan kerja, serta sejauh mana kontribusinya dalam satuan persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, sepertinya menjadi hal yang patut dicermati. Metodologi perhitungan Pembukaan lapangan kerja dinilai sebagai suatu parameter uji yang cukup handal untuk melihat aspek kemanfaatan infrastruktur. Dengan pembukaan lapangan kerja, maka begitu banyak efek

Percik Agustus 2007

15

WAWA SA N

itu, biaya investasi yang dibutuhkan juga dapat dihitung, untuk dapat membuka lapangan kerja sejumlah tersebut. Dengan membandingkan biaya investasi yang telah ditanamkan setiap tahun anggaran, maka dapat dihitung pula kontribusi pembukaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi nasional setiap tahunnya dari sektor SPAM. SPAM di Indonesia Menurut data dari Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia, setiap pembukaan 500 ribu lapangan kerja, akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 1 persen. Data dari United Nations Development Programme (UNDP) pada tahun 2006, di New Delhi (India), akan tercipta 1,72 lapangan kerja/liter/detik SPAM. Karena ketiadaan data mengenai angka tersebut untuk Indonesia, diasumsikan kondisi di India sama dengan di Indonesia (sebagai sesama negara berkembang). Pada tahun anggaran 2006, investasi yang ditanamkan oleh Direktorat Pengembangan Air Minum, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum, sejumlah Rp 1,4 triliun berupa investasi infrastruktur SPAM. Dengan asumsi kebutuhan air minum di Indonesia mencapai 200 liter/kapita/hari dan biaya investasi infrastruktur SPAM yang dibutuhkan mencapai Rp 270 ribu/kapita (termasuk sistem produksi dan distribusi SPAM), maka dapat dihitung sebagai biaya pelayanan sekitar 5,18 juta jiwa penduduk Indonesia atau setara dengan 12 m3/detik SPAM. Dengan jumlah tersebut, maka lapangan kerja baru yang dapat terbuka mencapai 20.640 tenaga kerja. Jika dibandingkan dengan angka 1 persen pertumbuhan ekonomi disokong dengan pembukaan 500 ribu lapangan kerja baru, maka SPAM di Indonesia telah berkontribusi sebanyak 0.041 pesen pada tahun anggaran 2006. Sebagai perbandingan, nilai pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2006 sebesar 5,6 persen, dimana 0,041 persennya berasal dari sektor SPAM. Upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi dengan SPAM Metodologi yang tersebut di atas, dapat dikatakan sebagai metodologi yang cukup jitu dan terukur untuk melihat kemanfaatan infrastruktur SPAM dalam kacamata ekonomi nasional. Masih diperlukan lagi pendalaman dan verifikasi data yang lebih akurat, untuk mendapatkan gambaran yang lebih detail mengenai kontribusi infrastruktur SPAM dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Melihat perhitungan di atas, adalah memungkinkan untuk memacu pertumbuhan ekonomi lewat penyediaan infrastruktur SPAM. Parameter yang dapat didorong di antaranya, upaya menurunkan biaya investasi/liter/detik infrastruktur SPAM. Dengan begitu, setiap investasi yang ditanamkan akan meningkatkan cakupan pelayanan air minum, dan akan dikuti dengan peningkatan lapangan kerja yang tercipta (karena semakin tingginya kapasitas pelayanan yang mampu dise-

diakan). Selain itu, dibutuhkan pula pembukaan lapangan kerja yang lebih luas, agar setiap liter/detik infrastruktur SPAM yang disediakan, mampu menyerap tenaga kerja sebanyak-banyaknya (misalnya dengan pendirian berbagai kontraktor yang mampu merancang IPA PAKET atau perluasan penyerapan tenaga kerja yang mampu merencana dan merancang infrastruktur SPAM), yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Tanpa disadari, anjuran pemerintah untuk hemat air, ikut berperan serta dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan berkurangnya konsumsi air karena anjuran pemerintah tersebut, maka biaya investasi/kapita dapat diturunkan, yang berakibat pada semakin tingginya cakupan pelayanan air minum/liter/detik, dengan menggunakan biaya investasi yang sama besarnya. Hal ini menjadikan semakin tingginya cakupan pelayanan infrastruktur SPAM, dengan harga yang lebih murah, namun mampu membuka lapangan kerja yang lebih banyak, dan meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi nasional. Tantangan ke depan Tenaga perencana dan perancang infrastruktur SPAM dituntut untuk mampu menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional, melalui penyediaan sektor tersebut. Modifikasi seperti yang tersebutkan di atas, merupakan suatu metode untuk meningkatkan cakupan pelayanan air minum dengan harga yang lebih rendah (atau sama), namun mampu menjangkau masyarakat dengan jumlah yang lebih luas, mampu membuka lapangan kerja yang lebih banyak, serta mendongkrak perekonomian nasional lebih tinggi. Kombinasi kemampuan teknik-ekonomi-sosial-budaya merupakan hal yang mutlak, sehingga dapat mengembangkan metode-metode yang lebih kreatif untuk mewujudkannya, dengan mengandalkan keterbatasan anggaran yang ada. Bukanlah tidak mungkin bahwa sektor infrastruktur SPAM dapat memberikan porsi persentase yang lebih besar dalam kontribusi terhadap angka pertumbuhan ekonomi nasional. Selain memberikan hajat hidup orang banyak berupa air minum, namun juga mampu memberikan dampak berantai yang lebih menguntungkan untuk kesejahteraan masyarakat, bahkan di luar sektor air minum itu sendiri. Dengan kata lain, penyediaan infrastruktur SPAM yang handal, mampu memberikan kontribusi yang nyata sebagai dampak ikutan yang positif dari pembukaan lapangan kerja yang seluasluasnya di Indonesia. Juga merupakan hal yang sangat memungkinkan, dengan pembukaan lapangan kerja pada sektor ini, akan mendongkrak pertumbuhan sektor lain, yang akhirnya juga akan membuka lapangan-lapangan kerja baru, sebagai dampak ikutannya.
* Penulis adalah staf Sub Direktorat Kebijakan dan Strategi, Direktorat Bina Program, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa program doktoral di Division of Environmental Science and Engineering, National University of Singapore (NUS), Singapura Kontak dengan penulis : sandhieb@yahoo.com

16 Percik 2007 Agustus

R E P O RTA S E

Kelangkaan Air di Perumahan Mustika

ebagai kebutuhan dasar manusia, tidak heran bila air kerap menjadi pemicu pertengkaran antarwarga. Bahkan perebutan akses air bersih ini bisa memunculkan pertikaian yang berakibat fatal. Seperti yang terjadi di Perumahan Mustika Tigaraksa, Desa Pasirnangka, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Di komplek perumahan yang dibangun sejak 2001 ini sudah sejak awal mengalami kelangkaan air bersih. Dimusim kekeringan ini, sempat terjadi pertikaian antarwarga hingga salah satu warga luka terkena bacokan warga lain. Tentu siapapun tidak menginginkan peristiwa berdarah ini terjadi. Semestinya, musibah kekurangan air bisa dijadikan peristiwa yang semakin menyatukan warga yang merasa senasib. Perum Mustika terdiri dari delapan RW (rukun warga). Empat RW masuk Desa Pasirnangka dan empat RW lagi masuk Desa Mantagara dengan lebih dari 3600 kepala keluarga. Struktur tanah di perumahan tipe sederhana itu memang sangat kurang debit airnya. Kepada Percik, Ketua RW 08 Perum Mustika Tigaraksa, Desa Pasirnangka Kusdianto, mengatakan pihak pengembang perumahan hanya memfasilitasi sumur pompa atau pantek bagi tiap rumah. "Sudah sejak awal banyak sumur pompa sedalam 18 sampai 24 meter yang tidak berfungsi. Apalagi dimusim kemarau, sama sekali tidak keluar air. Kami sudah mengusulkan kepada pengembang agar ada jalan keluarnya, tapi tampaknya belum ditanggapi," ujarnya. Sebagian warga mengambil jalan pintas dengan memotong pipa saluran air di depan rumah mereka. Akhirnya, warga berinisiatif membangun satelit atau sumur-sumur bor hing-

Danau buatan ini menjadi sumber air bersih bagi warga perumahan Mustika Tigaraksa, Tangerang. Foto: Bowo Leksono

ga kedalaman 80 meter. Satu sumur bor dimiliki sekitar 7 hingga 10 kepala keluarga. Inisiatif ini pun tidak serta-merta menyelesaikan masalah. Dimusim kemarau, tetap saja kesulitan air. Inisiatif lain seperti yang dilakukan Ade Rohayati (31). Ibu rumah tangga ini membeli air dari truk tangki seharga Rp 135 ribu untuk setiap 6 ribu liter. "Air akan habis selama seminggu atau 10 hari," katanya. Selama menempati perumahan, Ety, panggilan akrab Ade Rohayati, sudah empat kali membuat sumur bor yang sama sekali tidak keluar air. Santosa, mewakili suara warga, menginginkan jaringan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) masuk ke Perumahan Mustika Tigaraksa. "Jaringan PDAM terdekat berjarak sekitar satu kilometer," ujarnya. Memanfaatkan Danau Buatan Di tengah-tengah Perumahan Mus-

tika Tigaraksa, terdapat sebuah danau buatan yang sudah ada sebelum pembangunan perumahan tersebut. Dimusim kemarau, danau buatan tersebut sangat berharga bagi warga perumahan. Di danau tersebut, beberapa pompa air tertancap dengan puluhan pipa yang dialirkan jauh ke rumah-rumah warga. Satu alat pompa air dimiliki sepuluh atau lebih kepala keluarga. Mereka memanfaatkan air danau buatan secara bersama. Setiap pagi dan sore hari, warga berbondong-bondong memanfaatkan air danau seluas 100 meter x 60 meter. Untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan air di rumah mereka. Namun saat kemarau mencapai titik puncaknya, air danau itu pun menyusut dan kering sama sekali. Rasanya, warga Perumahan Mustika Tigaraksa semakin tersiksa dengan kelangkaan air yang terjadi sepanjang tahun. Bowo Leksono

Percik Agustus 2007

17

R E P O RTA S E

PURBALINGGA KEKERINGAN
daerah yang kekurangan air rata-rata karena terletak di dataran tinggi dan tidak tersentuh jaringan PDAM. Puluhan desa itu tersebar di Kecamatan Bukateja (satu desa), Kemangkon (empat desa), Pengadegan (lima desa), Karanganyar (delapan desa), Bobotsari (empat desa), Karangreja (tiga desa), Bojongsari (satu desa), Rembang (satu desa), Kejobong (sembilan desa), Karangmoncol (enam desa), Kaligondang (11 desa), Kutasari (satu desa), dan Kertanegara (dua desa). Setiap tahun daerah-daerah tersebut selalu mengalami kekeringan dan biasanya puncaknya terjadi di bulan Oktober . "Desa kami belum mendapatkan jatah air bersih dari pemerintah," keluh Sukarli (41), warga Desa Wanalaya, Kecamatan Karanganyar. Wakil Bupati Purbalingga Drs Heru Sudjatmoko, M.Si kepada Percik mengatakan, Pemkab mengantisipasi bencana tahunan ini dengan memberi bantuan air bersih ke desa-desa. "Memang belum semua desa mendapatkan bantuan air bersih karena belum parah," ujarnya. Bowo Leksono

Setiap tahun di musim kemarau, puluhan warga melakukan aktivitas mandi, mencuci dan buang air besar di sungai ini. Foto: Bowo Leksono

umarto (65) sembari memikul dua ember besar diikuti cucu lakilakinya, berjalan sepanjang pematang sawah menuju kali Laban. Di sana, puluhan orang, laki-laki perempuan, anak-anak hingga orang dewasa telah menunggu sambil beraktifitas. Mencuci pakaian dan mandi. Dua kali dalam sehari, pagi dan sore, Sumarto dan puluhan warga Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga, berjalan bolak-balik sepanjang dua kilometer ke kali. Sumarto, seperti halnya beberapa warga lain, membuat kubangan di pinggiran kali Laban untuk mendapatkan air bersih. "Air sumur di rumah mesti diirit-irit karena sebentar lagi pasti akan kering," ujarnya. Praktis bila air sumur warga sudah kering kerontang, sungai lah yang menjadi andalan warga dalam memenuhi kebutuhan air bersih. Sudah sejak bulan Juli lalu, keke-

ringan melanda Purbalingga dan beberapa daerah di Jawa Tengah. Musim kemarau tahun ini membuat 56 desa di 13 kecamatan di Purbalingga mengalami kekeringan dan krisis air bersih. Daerah-

Telaga Slumpit Menyusut

udah sebulan sejak akhir Juli, telaga (danau) Slumpit debit airnya mulai menyusut. Tidak lama lagi, telaga yang menjadi sumber kebutuhan air bersih warga Dusun Nglumpit, Desa Kenteng, Kecamatan Ponjong, Gunung Kidul, Yogyakarta itu akan kering sama sekali. "Di rumah, kami tidak punya sumur. Andalannya ya telaga ini," ucap Surahmiati (42). Pagi-pagi buta, perempuan dua anak ini telah berada di telaga seluas setengah hektar. Mencuci, mandi, dan mengambil air. Aktifitas yang sama dilakukan kembali di sore hari. Bila telaga telah benar-benar kering, Surahmiati dan warga dusun lainnya, membeli air tangki dengan cara memesan. Air itu ditampung di bak penampungan di samping rumah. "Satu tangki untuk ukuran 5 ribu liter harganya Rp 120 ribu. Itu untuk kebutuhan dua

sampai tiga minggu," tuturnya. Prasetyo (27) mewakili keluarga, setiap hari bolak-balik membawa dua tempat air dengan cara dipikul. Air dari telaga dipergunakan untuk memasak dan air minum. "Di rumah ada sumur, tapi sudah kering," katanya. Gunung Kidul, secara geografis diliputi perbukitan kapur berakibat sumber air sulit didapat di daerah ini. Sementara jaringan PDAM belum menjangkau wilayah rawan kekeringan. Kemarau panjang yang terjadi tiap tahun mulai menyapa sebagian besar warga Gunung Kidul. Tahun ini, warga kembali disibukkan dengan kelangkaan air. Telaga Slumpit yang menjadi satu-satunya andalan warga kondisinya semakin memprihatinkan. Tak lama lagi tidak ada air setetes pun di telaga itu. Bowo Leksono

18 Percik 2007 Agustus

CERMIN

Belajar Sanitasi dari India


P
endekatan Community-Led Total Sanitation (CLTS) telah mulai menunjukkan hasil di Indonesia sejak diperkenalkan pada Nopember 2004. Data terakhir menunjukkan CLTS telah dilaksanakan pada 20 provinsi, 58 kabupaten, dan sebanyak paling tidak 150 desa telah mencapai tahap bebas buang air besar (BAB) sembarangan dalam waktu 1,5 tahun. Walaupun demikian masih dibutuhkan langkah percepatan agar jumlah desa yang bebas BAB sembarangan (open defecation free/ODF) mencapai jumlah yang signifikan. Masih puluhan ribu desa yang belum bebas BAB sembarangan. Melihat dampaknya yang signifikan terhadap perubahan perilaku, percepatan CLTS di Indonesia kemudian menjadi suatu obsesi. Untuk mencapai obsesi tersebut dibutuhkan input baru dalam bentuk pembelajaran dari negara lain. India menjadi pilihan tepat. Mereka telah lebih dahulu mengadopsi pendekatan CLTS dengan melakukan beberapa penyesuaian sehingga namanya pun berubah menjadi Total Sanitation Campaign (TSC). Kunjungan tim pemerhati sanitasi dari India, Pakistan dan Bangladesh ke Indonesia pada awal Agustus 2007 untuk melihat hasil penerapan CLTS membuka peluang pertukaran pengalaman. WSP EAP kemudian memfasilitasi Pemerintah Indonesia untuk melakukan kunjungan balasan ke India pada 27-31 Agustus 2007. Daerah yang dikunjungi adalah District of Jalna, Maharastra. Delegasi Indonesia berasal dari berbagai instansi yaitu dr. Wan Alkadri, Zainal Nampira (Depkes), Oswar Mungkasa (Bappenas), Emah Sujimah (PU), dan dr. Budi Rahaju (Dinkes Propinsi Jawa Timur). Tulisan berikut akan menjelaskan pembelajaran pembangunan sanitasi di India yang diperoleh selama kunjungan tersebut. Total Sanitation Campaign (TSC) Pada dasarnya pendekatan TSC tidak berbeda mendasar dengan pendekatan CLTS, yaitu fokus pada meniadakan kebiasaan buang air besar sembarangan dan bukan membangun jamban, mendorong peningkatan kebutuhan layanan sanitasi pada tingkat komunitas dan bukan pada tingkat individu, mendorong kesadaran dari dalam diri sendiri dan bukan penyadaran melalui penyediaan subsidi. Perbedaannya adalah TSC membolehkan penyediaan pilihan teknologi jamban, penyediaan insentif bagi komunitas yang telah bebas BAB sembarangan, dan kemungkinan penyediaan kredit mikro. Pencapaian TSC di Maharastra Pencapaian pembangunan sanitasi di Maharastra dalam dua dekade terakhir sangat rendah. Pembangunan sanitasi pada periode 1997-2000 menggunakan pendekatan masif berupa

Penduduk desa India di depan jambannya. Foto: Oswar Mungkasa

Percik Agustus 2007

19

CERMIN

bangunan sanitasi sebaiknya diserahkan pada tingkatan pemerintahan yang langsung berhubungan dengan masyarakat. Untuk itu, pemerintah India menyerahkan program TSC kepada pemerintah Gram Panchayat (GP/setingkat Kecamatan). Penyertahan ini dilaksanakan secara formal melalui undang-undang. Peran National Government (pemerintah pusat) terbatas pada pengembangan kebijakan, melakukan pemantauan serta penyediaan dana insentif bagi desa yang bebas BAB sembarangan, baik yang berupa hadiah bagi desa pemenang maupun insentif program bagi komunitas yang berhasil menuntaskan BAB sembarangan. State Government (Pemerintah provinsi) berperan mendukung Zilla Parishad (pemerintah kabupaten) dalam implementasi berupa peningkatan kapasitas, pemantauan daerah bebas BAB sembarangan, dan memfasilitasi penyelenggaraan lomba desa bersih Dukungan penuh Peme(desa bebas BAB semrintah barangan). Termasuk juga Dukungan penuh pemePiagam Penghargaan bagi salah satu Gran Panchayat (kecamatan) yang ditandatangani Presiden India Abdul Kalam. mengembangkan petunjuk rintah di setiap tingkatan Foto: Oswar Mungkasa operasional, kriteria pemenjadi suatu keniscayaan. milihan LSM yang dapat Dukungan yang diberikan diajak bekerjasama, dan mengembangberupa penyediaan kebijakan sanitasi, kan sistem pemantauan dan evaluasi, yang sering kita lihat di Indonesia. pembentukan gugus tugas yang diberi serta penyebarluasan 'lessons learned' Pada saat kunjungan kami ke semua kewenangan penuh mengkoordinasikan (pembelajaran). desa, yang pertama kali diperlihatkan kegiatan sanitasi, melakukan kemitraan Zilla Parishad (pemerintah kabupaadalah piagam tersebut berikut piala dengan pemangku kepentingan lainnya, ten) mengembangkan mekanisme dan sebagai pemenang lomba desa. Hal ini penyediaan petunjuk, penyediaan dana aturan tender, dan sistem pemantauan yang mendorong pemerintah mengkaitinsentif bagi komunitas yang telah bebas berdasarkan kriteria yang ditetapkan kan kampanye sanitasi tidak hanya semaBAB sembarangan, penyelenggaraan pemerintah provinsi. Pemerintah kabuta aspek kesehatan saja tetapi juga kenyakompetisi desa bersih (bebas BAB sembapaten harus mengkoordinasikan seluruh manan, privasi, dan kebanggaan. rangan), penyelenggaraan kampanye sainstansi sehingga GP hanya berhubungan nitasi. Banyak lagi kegiatan yang seluruhdengan satu pintu saja. Peran yang jelas nya diinisiasi oleh pemerintah, baik Peran LSM diarahkan kepada peDisadari bahwa tanggungjawab pempusat, provinsi, kabupaten/kota sampai pemberian subsidi bagi kepala keluarga. Sekitar 1,7 juta toilet berhasil terbangun, tetapi tingkat penggunaannya hanya mencapai kurang dari 50 persen, itupun sebagian besar digunakan untuk kegiatan lain seperti gudang dan lainnya. Bahkan studi mendalam menunjukkan bahwa sekitar 80 persen penduduk masih BAB sembarangan. Kemudian pemerintah Maharastra mengadopsi prinsip TSC yang merupakan program pemerintah India pada tahun 2002. Uji coba dilaksanakan pada tahun 2003 di dua distrik yaitu Ahmednagar dan Nanded. Kemudian TSC diterapkan di seluruh distrik sejak tahun 2004. Hasilnya sungguh menggembirakan. Jumlah Gram Panchayats (GP/kecamatan) yang berhasil bebas BAB sembarangan telah mencapai 4.000 kecamatan pada tahun 2006, dari hanya 13 kecamatan pada tahun 2003. Dalam jangka waktu 2,5 tahun, tambahan jumlah penduduk yang terjangkau mencapai 8 juta orang, dari awalnya yang hanya 4.000 orang. desa. Salah satu bentuk dukungan yang terlihat sangat dihargai komunitas desa adalah dalam bentuk penandatanganan piagam penghargaan oleh Presiden India. Tanda tangannya asli bukan cap-capan

20 Percik 2007 Agustus

CERMIN

TABEL 1. PRAKTEK SANITASI INDIVIDU MEMPENGARUHI KESELURUHAN KOMUNITAS Kategori Desa BAB sembarangan tinggi BAB sembarangan rendah Bebas BAB sembarangan KK pengguna Jamban (%) 29 95 100 Prevalensi Diare (%) 38 26 7

Sumber: Water Sanitation Program-South Asia

ngembangan skema pelatihan di tingkat komunitas dan bekerjasama dengan pemerintah desa melaksanakan pelatihan. Sanitasi seharusnya berbasis komunitas Pada dasarnya sanitasi menjadi tanggungjawab masing-masing keluarga, tetapi kemudian ketika tidak semua keluarga menunaikan tanggungjawabnya, keseluruhan komunitas akan menanggung dampaknya. Sebagai ilustrasi, hasil studi Water Sanitation Program - South Asia (WSP-SA) pada salah satu desa di India menunjukkan bahwa desa dengan tingkat BAB sembarangan tinggi dan desa dengan tingkat BAB sembarangan rendah mempunyai prevalensi diare yang relatif sama. Berbeda dengan desa yang bebas BAB sembarangan, tingkat prevalensi diarenya sangat rendah (7 persen). Selengkapnya pada Tabel 1. Fakta bahwa tidak akan ada dampak yang signifikan terhadap penurunan prevalensi diare jika hanya sebagian masyarakat yang berperilaku hidup bersih dan sehat kemudian mendorong pemerintah India untuk melaksanakan pembangunan sanitasi perdesaan berbasis komunitas. 'Seeing is believing' Masyarakat cenderung merubah perilaku setelah mendapatkan contoh yang nyata. Di Jalna, salah satu kabupaten di Provinsi Maharastra India, pada tahap awal pemerintah daerah melaksanakan uji coba pada satu desa saja. Hal ini untuk memastikan agar hasil uji coba dapat dijadikan contoh bagi komuinitas yang lain. Setelah uji coba berhasil, kemudian pemerintah daerah melakukan kampanye

ke komunitas lain untuk mendatangi desa uji coba tersebut. Ternyata komunitas yang lain banyak yang tertarik menerapkan program TSC setelah melihat contoh pada desa uji coba. Hal ini mendorong pemerintah daerah menerapkan prinsip 'seeing is believing'. Beri contoh yang baik dan masyarakat akan tertarik juga untuk melakukan hal yang sama. Hindari melaksanakan program pada tahun awal secara besar-besaran. Pemberian insentif Pemberian insentif dipercaya dapat mendorong pencapaian desa bebas BAB

sembarangan, tetapi insentif ini harus diberikan kepada seluruh komunitas sebagai insentif atas kerjasama dan hadiah atas usaha mereka. Insentif harus dalam bentuk penyediaan dana program bagi komunitas tersebut, baik dalam bentuk pembangunan jalan, sekolah dan lainnya. Bentuk insentif lainnya adalah pemberian hadiah bagi pemenang kontes desa bebas BAB sembarangan. Kontes ini diadakan secara bertingkat mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi dan nasional. Pemenang di setiap tingkat mendapat penghargaan diantaranya berupa piagam yang ditandatangani langsung oleh presiden India dan piala. Jenis insentif ini sangat berpotensi mendorong desa untuk berkompetisi karena salah satu faktor yang mendorong komunitas untuk berubah adalah adanya keinginan agar desanya menjadi dikenal. Penentuan desa pemenang dilaksanakan oleh organisasi independen yaitu LSM yang dipilih oleh pemerintah nasional melalui proses yang terbuka. Kriteria penilaian ditetapkan bersama dan diinformasikan secara terbuka. OM

Lukisan "Kampanye Perilaku Hidup Bersih dan Sehat" di dinding salah satu sekolah. Foto: Oswar Mungkasa

Percik Agustus 2007

21

CERMIN

Kelurahan Jambangan Hijau Sepanjang Tahun K


emeriahan dan keramaian biasa terlihat di semua pelosok negeri ini menjelang perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan yang jatuh setiap bulan Agustus. Tapi bagi Kelurahan Jambangan, Kecamatan Jambangan, Kota Surabaya, kemeriahan terpancar sepanjang tahun. Lebih dari itu, kelurahan yang memiliki 23 Rukun Tetangga (RT) ini, memancarkan aura kebersihan dan keindahan lingkungannya. Sudah sejak tahun 2001, Jambangan melalui tangan terampil Ibu Winarsih sebagai pelopor, menjadi kelurahan dengan lingkungan yang bersih dan sehat. Kreatifitas warga Kebersihan lingkungan diterapkan dengan ketersediaan dua tong sampah di setiap halaman rumah untuk memilah sampah. Sampah kering dan sampah basah. Bahkan kaum ibu rajin memilah dan mengumpulkan sampah plastik bekas mi instan atau makanan kecil untuk dijadikan kerajinan tangan seperti sandal, tas, rompi, asbak, dan kerajinan lainnya. Sementara untuk sampah basah, warga mengolah menjadi pupuk lewat proses pengomposan. Praktis ini memperingan kerja petugas kebersihan karena hampir tidak ada sampah yang terangkut ke luar kelurahan. "Semuanya diolah sendiri oleh warga," kata Ibu Yus, selaku ketua PKK Kelurahan Jambangan.
Salah satu sudut kelurahan Jambangan, kota Surabaya terlihat asri dengan berbagai pepohonan. Foto: Bowo Leksono

Kreatifitas warga ini pula yang mengantarkan Kelurahan Jambangan menjadi juara pertama "Surabaya Green and Clean 2007" yang digelar pada bulan Juni silam. Lomba kebersihan lingkungan bergengsi di Kota Surabaya yang digelar tahunan ini atas kerjasama Pemerintah Kota Surabaya, PT Uniliver, dan Jawa Pos. Sebelumnya, pada tahun 2006, kelurahan ini juga menyabet juara pertama lomba kebersihan "Merdeka Sampah". Sayang, kreatifitas warga masih sebatas memproduksi, belum bisa memasarkan barang-barang hasil ketrampilan warga sebagai penambah pendapatan keluarga. "Sementara kami masih mengharapkan para tamu yang berkunjung ke kelurahan kami untuk membelinya," ujar Ibu Purnomo. Bowo Leksono

Kelurahan Kupang Prajan Mutiara di Tengah Kota


iapa menyangka di tengah-tengah kota besar seperti Surabaya tersempil wilayah Rukun Tetangga (RT) yang berhasil membuat orang luar merasa iri. Apa sebenarnya yang membuat perasaan itu muncul? Ya, RT 3 RW III Kelurahan Kupang Prajan, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya berhasil menciptakan lingkungan bersih dan sehat bagi warganya. Kenyataan ini tentu membutuhkan kerja keras dan kebersamaan seluruh warga RT. Nilai kebersamaan dan kegotong-royongan yang kuat adalah potensi warga RT yang paling berharga. Tanpa dasar itu, bisa dipastikan siapapun tak akan mampu mewujudkan cita-cita untuk mewujudkan lingkungan yang bersih. Terbukti RT 3 RW III Kelurahan Kupang Prajan mampu menggondol juara pertama lomba "Surabaya Green and Clean 2007" kategori daerah kembang (daerah sedang berkembang). "Potensi warga yang mewujud berupa kebersamaan dan sistem

gotong-royong adalah modal dasar kami dalam menciptakan lingkungan RT yang bersih," tutur Agus Siswoyo, wakil ketua RT 3 RW III, selaku juru bicara saat menyambut kedatangan tim penyusun buku lesson learned bidang air minum dan penyehatan lingkungan (AMPL). Peran serta ibu-ibu PKK dalam memperhatikan kebersihan lingkungan sangat besar. Untuk urusan pengelolaan sampah, menjadi tugas rutin para ibu. "Dulu, sekitar dua tahun lalu, pengambilan sampah sehari sampai tiga kali dengan dua gerobak sampah. Sekarang paling cuma sekali, ya karena kesadaran warga untuk memilahnya," ungkap Sri. Hal yang cukup menarik di lingkungan RT ini, setiap kelahiran dan pendatang wajib menyediakan satu tanaman dalam pot di depan rumahnya sehingga akan terwujud kesadaran yang menyeluruh.
Bowo Leksono

22 Percik 2007 Agustus

CERMIN

Sungai untuk Kehidupan Mendatang


Melibatkan pelajar Sejak April 2007, jaringan pemantau atau detektif Kali Surabaya sudah aktif melakukan pemantauan terhadap ancaman kualitas air dan potensi keanekaragaman hayati di sungai tersebut. Para detektif atau reporter merupakan kelompok yang terdiri dari 10 guru dan 30 siswa dari 10 Sekolah, yaitu SMP Negeri 1 Kedamean, SMU Negeri 1 Driyorejo, SMU Negeri 1 Wringinanom dan SMP Negeri 1 Wringinanom, kemudian SMP PGRI 2 Batu dan SMU Muhammadiyah 3 Batu, SMA Wachid Hasyim 2 Sepanjang, SMP Muhammadiyah 2 Taman Sidoarjo, SMAK St Stanislauss Kalijudan dan SMA Al Falah Ketintang Surabaya. Selain itu, digelar pula pameran lingkungan hidup yang diikuti 17 stan dari sekolah dan LSM terkemuka seperti Greenpeace Indonesia, Pusdakota (pengelolaan sampah dengan sistem kompos), Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan, Walhi Jawa Timur, Ecoton, KEHATI (Program Go Green School dan contoh sukses sekolah di Jakarta dan Tangerang ), Kantor Kementrian Lingkungan Hidup, dan lainnya. Pada kesempatan itu, sekolah-sekolah yang tergabung dalam jaringan pemantau Kali Surabaya juga menyampaikan petisi kepada pemerintah daerah terkait kondisi Kali Surabaya saat ini. Petisi tersebut berisi himbauan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk tidak lagi mengeluarkan izin mendirikan bangunan di atas bantaran kali. Memulihkan kawasan bantaran Kali Surabaya sesuai fungsinya dan melakukan gerakan penghijauan pada kawasan-kawasan kritis. Disamping juga menyosialisasikan penggunaan tanaman obat yang tumbuh di sekitar sungai. Melakukan pemantauan dan memberi sanksi tegas pada pihak industri yang melanggar UU Lingkungan No. 23 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pemerintah dihimbau untuk merancang sebuah kampanye berkesinambungan kepada masyarakat umum melalui mediamedia populer seperti televisi, radio, media cetak dan sosialisasi kebijakan pada masyarakat yang berkepentingan pada keberlanjutan Kali Surabaya. Selain itu, juga perlu ada regulasi yang tegas dan mengikat kepada setiap warga dan lembaga terhadap pembuangan limbah. Pengefektifan lembaga pemerintah yang menangani limbah yang dibuang ke sungai sehingga ada kejelasan instansi mana yang menangani limbah dan kualitas air sungai.
BW/berbagai sumber

Festival Anak Kali Surabaya

Karikatur: Rudi Kosasih

ualitas air Kali Surabaya terus mengalami penurunan akibat aktivitas pembuangan limbah dari ratusan industri yang ada di sepanjang kali tersebut. Penurunan itu tampak dari berkurangnya kandungan oksigen dan sering menyebabkan ribuan ikan dan satwa lainnya mati. Demikian hasil pemantauan dan temuan yang dilakukan tim reportase "Detektif Kali Surabaya" yang terdiri dari 10 sekolah yang telah melakukan penelitian dan pemantauan di sepanjang kali tersebut. Pemaparan hasil reportase tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan "Festival Anak Kali Surabaya" yang digelar 5 Agustus 2007 silam. Peristiwa tahunan bertema Save Surabaya River For Our Future itu digelar Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton), Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI) dan Perum Jasa Tirta I Malang yang dipusatkan di lapangan Bantaran Kali Surabaya. Direktur Eksekutif Ecoton Prigi Arisandi mengatakan, kegiatan ini dalam rangka peringatan Hari Anak sekaligus bentuk keprihatinan dan kepedulian anak-anak terhadap kondisi Kali Surabaya yang saat ini tingkat pencemarannya makin tinggi. "Berbagai acara dan kegiatan digelar pada festival ini dan seluruhnya melibatkan anak-anak dan pelajar," kata Prigi. Kali Surabaya yang merupakan salah satu hilir sungai Brantas, mengalir dari Mlirip Mojokerto hingga Jagir Surabaya sepanjang kurang lebih 41 KM, memiliki peran sangat penting sebagai sumber air bagi masyarakat, baik pertanian, industri maupun kehidupan. PDAM Kota Gresik dan Surabaya juga memanfaatkan air kali ini sebagai bahan baku air minum bagi pelanggan dan masyarakat.

Percik Agustus 2007

23

INSPIRASI

SANG PAWANG AIR


eskipun Indonesia dikaruniai banyak air dengan curah hujan yang relatif tinggi, namun kelangkaan air tetap terjadi di berbagai daerah. Banyak warga yang kesulitan mengakses air bersih. Air bersih menjadi kebutuhan mendasar yang tak terpisahkan dari hidup dan kehidupan manusia. Di daerah yang warganya sulit mengakses air bersih, kerap terjadi rebutan air yang berujung pertengkaran. Seperti yang terjadi di Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, sebuah daerah di kaki Gunung Slamet bagian Selatan. Penyebabnya bak penampung air yang dialiri air dari sumber mata air, tidak mencukupi kebutuhan warga atau lebih tepatnya tidak adanya pemerataan air bersih yang diperoleh warga. Tidak heran air yang menjadi sumber percekcokan itu dikenal warga sebagai "air berisik". Muncul tokoh Mujamil, warga Desa Singasari, turut mendamaikan warga dengan menciptakan alat pembagi air. Mujamil, laki-laki berusia 52 tahun ini, bukanlah seorang ahli teknik. Ia hanyalah seorang guru agama di sebuah Sekolah Dasar. Teknologi sederhana Sebelumnya, warga dimana Mujamil tinggal, memperoleh air bersih dari bak-bak penampungan yang dibangun dengan sistem tradisional. Yaitu mengalirkan air dari sumber mata air

yang ditampung dalam sebuah bak air untuk kemudian dialirkan kembali ke rumah-rumah warga melalui pipa atau paralon. Menurut Mujamil, sistem ini mempunyai banyak kelemahan. "Disamping debit air yang kurang untuk sampai ke rumah warga juga mudah dirusak atau diotak-atik," katanya. Ia mencontohkan, biasanya warga memasukan pipa lebih dalam lagi ke bak penampungan untuk menghasilkan aliran air yang lebih banyak atau merusak jaringan induk sehingga diperoleh air dengan debit yang berbeda. Ini yang kemudian menjadi sumber permasalahan. Mujamil berpikir keras. "Bagaimana cara menciptakan alat agar kebutuhan warga akan air bersih bisa merata," demikian ia merenung suatu ketika. Berbekal pengalaman bekerja di sebuah kilang minyak Pertamina di Cilacap selama dua tahun ditambah penalaran-penalaran, bapak empat putra ini memberanikan diri membuat alat pembagi air. Dibantu beberapa warga, Mujamil memulai pekerjaannya setelah mendapatkan dukungan dana dari sebuah organisasi kemasyarakatan. Ia membangun alat pembagi air dengan sistem tabung atau yang dikenal dengan teori bejana berhubungan. Mujamil merancang sedemikian rupa agar sistem pembagian air menghasilkan debit kecil namun tetap merata dan aman dari upaya perusakan. Dengan mempraktikan sistem bejana berhubungan, dibuatlah tabung-tabung pembagi air. Dalam tabung ini dibuat sistem pembagian air agar merata

24 Percik 2007 Agustus

INSPIRASI

hingga konsumen. Untuk mengatasi tempat konsumen yang lebih rendah dibuatlah tabung berbentuk T yang berfungsi sebagai sirkulasi udara untuk mengatur tekanan air yang keluar, seperti sebuah pompa. Untuk menghindari perusakan dan kebocoran, ujar Mujamil, tabung-tabung sebagai pusat air ini dibeton sehingga terlihat hanya sebuah tugu. "Karena itu, tidak perlu membangun bak-bak penampung air," katanya. Tantangan Sudah sejak tahun 1987 alat pembagi air dengan sistem tabung diciptakan Mujamil. Pertama diujicobakan di desanya yang saat itu kerap terjadi perebutan dan sabotase air bersih. Pekerjaan Mujamil tidak langsung berjalan sempurna. Banyak kekurangan di sana-sini. Namun ia selalu optimis dan terus berpikir sehingga kekurangan dan kelemahan bisa teratasi dengan baik. Bahkan Pemerintah Daerah setempat sempat tidak mengakui sistem yang diciptakan Mujamil ini. Padahal uji coba telah berhasil diterapkan. "Saat Desa Singasari hendak menambah tabung pembagi air dengan dana dari proyek P3DT, sempat tidak ada titik temu," katanya. Setelah tim konsultan dari provinsi meneliti, justru membenarkan dan sangat sepakat dengan sistem bejana berhubungan yang dipakai Mujamil. Sistem ini semakin diperkuat setelah diuji coba konsultan dari Cipta Karya dan Bina Marga. Permintaan desa tetangga Setelah berhasil mengubah "air berisik" menjadi benarbenar air bersih yang mudah diakses warga secara merata, beberapa desa tetangga yang juga mempunyai persoalan sama terhadap ketersediaan air bersih seperti berlomba-lomba meminta bantuan Mujamil untuk membangun alat pembagi air dengan sistem tabung di desa mereka. Di Gerumbul Rabuk, Desa Baseh, Kecamatan Karanglewas

Tugu pengatur air di salah satu sudut desa. Foto: Bowo Leksono

telah dibangun satu jaringan pembagi air bersih. Pun di Desa Kedung Banteng. Sementara di Desa Beji masih mengadopsi sistem tradisional karena dana yang kurang. Dan yang tak kalah menarik adalah di Desa Panembangan yang membangun alat pembagi air dengan sistem meteran seperti sebuah PDAM, bahkan dapat memperoleh tambahan pendapatan dari desa lain. Sudah bertahun-tahun sistem tabung dan meteran ini diterapkan. Menurut Mujamil, tidak ada persoalan berat yang muncul dan relatif aman. "Saya mampu menjamin air bersih yang menjadi sumber pertengkaran tidak akan "berisik" lagi," ungkapnya. Bagi warga yang selama ini mengandalkan bak-bak penampung air, tergantikan pipa-pipa paralon yang tertanam dalam tanah sedalam minimal 70 sentimeter. Persediaan air dalam paralon yang terus mengalir sepanjang ratusan meter adalah stok air sekian meter kubik sebanding kebutuhan konsumen akan air bersih. Keberanian untuk mencoba diikuti kreatifitas ternyata mampu mengubah nasib dan persoalan pelik berhubungan dengan kebutuhan mendasar berupa air bersih. Dan Mujamil yang hanya lulusan PGA (Pendidikan Guru Agama) mampu membawa warga kepada kemakmuran dari sisi kebutuhan akan air bersih. Mujamil adalah pahlawan tanpa tanda penghargaan karena memang ia tidak membutuhkan tanda itu. "Apa yang saya lakukan semata-mata untuk masyarakat," ujarnya. Sebuah kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi Mujamil, memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi warga. Namun semua kerja keras Mujamil akan sia-sia bila tidak didukung penuh warga. Dan sifat gotong-royong adalah syarat mutlak bagi seluruh warga menuju kemandirian. Dengan kegotong-royongan semua pekerjaan terasa jauh lebih ringan.
Bowo Leksono

Jaringan pipa air warga. Foto: Bowo Leksono

Percik Agustus 2007

25

TA M U K I TA E n d a n g W a r d i n i n g s i h

Gigih Ajari Siswa Peduli Lingkungan


K
epedulian akan kelestarian lingkungan hidup tampaknya kini tidak hanya dimiliki orang dewasa saja, namun telah menyentuh generasi muda khususnya pelajar. Terbukti semakin banyaknya program pelestarian lingkungan yang digalakkan sekolah-sekolah di berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya SMU Negeri 34 Jakarta yang terletak di daerah Pondok Labu, Jakarta Selatan. Sekolah ini sempat memboyong juara II lomba "Toyota Eco Youth" sekaligus pemenang presentasi terbaik di ajang yang sama. Toyota Eco Youth merupakan suatu bentuk kontes peningkatan kondisi lingkungan hidup di sekolah yang diselenggarakan Toyota Astra. Dalam kontes Toyota Eco Youth, nilai tertinggi diperoleh hasil penilaian kemampuan tiap sekolah melibatkan seluruh komponen sekolah dalam proyek lingkungan hidup yang dijalankan. Kemenangan yang diperoleh siswa SMUN 34 dalam kontes tersebut tidak akan dapat diperoleh tanpa usaha menyeluruh dari warga sekolah, baik guru pembimbing maupun seluruh siswa SMU N 34 sendiri. Salah satu yang memiliki komitmen besar terhadap masalah peningkatan kondisi lingkungan hidup di sekolah itu adalah Endang Wardiningsih, guru Kimia sekaligus pembimbing ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) yang merupakan wadah awal program pendidikan lingkungan di SMU N 34. Awal mula ketertarikan Endang di bidang ini ketika tahun 1996 diundang UNESCO untuk mengikuti Lokakarya Penyelamatan Terumbu Karang. "Salah satu materi yang diberikan pada saat itu adalah mengenai cara-cara menangani sampah," tuturnya. Sesusai mengikuti lokakarya tersebut, Endang tergerak menerapkan pengalaman yang diperoleh selama lokakarya di lingkungan sekolah tempatnya mengajar selama ini. Untuk menerapkan, ia menggunakan wadah KIR sebagai "kendaraan". Mulanya Endang mengajarkan para anggota KIR bagaimana cara melakukan pemilahan sampah. Selain itu juga kegiatan pengelolaan sampah dengan cara 4R (reduce, reuse, recycle dan recover). "Anak-anak tambah senang, karena tambah pengalaman," ujarnya. Seiring perjalanan waktu, pihak sekolah melihat kegiatan ini mendatangkan manfaat positif bagi sekolah. Untuk itu pada tahun 2002 pihak sekolah memberikan lahan dan membangun Griya Daur Ulang bagi kegiatan ini dengan Endang sebagai komandannya. Bersama guru Biologi, bahu-membahu melakukan berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan sekolah serta meningkatkan kepedulian warga sekolah akan masalah lingkungan hidup. "Salah satunya ya menghidupkan Griya Daur Ulang, yang terletak di pojok sekolah," kata Endang. Kegiatan yang dilakukan di Griya Daur Ulang antara lain

26 Percik 2007 Agustus

melakukan pengomposan dengan menggunakan cacing tanah, membuat kertas daur ulang dan kerajinan tangan dari kertas dan karton bekas, produksi pupuk cair (IM 4), penanaman tanaman obat dan tanaman hidroponik serta melakukan perawatan lahan hijau sekolah seluas 8.700 meter persegi. Hasil kerajinan tangan maupun kertas daur ulang yang dikerjakan anak-anak KIR, dijual kepada teman-teman mereka dan sisanya untuk dipamerkan di Griya Daur Ulang. "Kegiatan ini menjadi contoh juga untuk siswa-siswa lain di luar KIR," ucap Endang. Endang mengatakan, para anggota KIR melakukan aktifitas di hari Sabtu yang memang dikhususkan untuk melakukan kegiatan ekstrakurikuler dan setelah jam sekolah pada hari biasa. Dalam menjalankan kegiatannya, kata Endang, Griya Daur Ulang mendapatkan dukungan dana sepenuhnya dari sekolah. "Dana tersebut dipergunakan untuk kegiatan produksi di Griya Daur Ulang". Selain itu, juga terdapat uang kas yang dikumpulkan dari anggota KIR serta uang hasil penjualan kertas daur ulang yang biasanya diperoleh saat digelar acara bazaar. Muatan lokal Saat ini kegiatan pelestarian lingkungan sekolah sudah dijadikan muatan lokal (mulok) di SMU N 34 Jakarta Selatan, dengan nama Pendidikan Lingkungan Hidup. Tentunya hal tersebut tidak terlepas dari jerih payah Endang Wardiningsih beserta seluruh jajaran sekolah dan siswa yang aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler KIR. Mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup dipelajari oleh siswa kelas X dan XII. Melalui kesempatan ini, Endang beserta beberapa guru berusaha meningkatkan kepedulian
Rumah hijau di SMU Negeri 34 Jakarta sebagai pusat tanaman hidroponik. Foto-foto: Bowo Leksono.

para siswa akan masalah lingkungan hidup aktual yang terjadi saat ini. Dalam memperoleh informasi teraktual seputar masalah lingkungan hidup maupun teknologi yang digunakan, Endang rajin mencari ke bermacam sumber seperti internet, media massa, maupun datang langsung ke para pakar lingkungan. "Ini semua demi memperoleh berbagai informasi terbaru untuk disajikan kepada para siswa," tuturnya. Endang bahkan tidak segan mengajak siswanya mendatangi para pakar lingkungan, untuk sekedar menimba ilmu langsung dari sang pakar. Diharapkan kegiatan seperti itu dapat meningkatkan minat siswanya mendalami masalah pelestarian lingkungan hidup. Saat ini SMU N 34 juga diberi predikat sekolah berwawasan lingkungan oleh Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. Pelaksanaan program pelestarian lingkungan di SMU N 34 tentu tidak terlepas dari kendala, salah satunya, menurut Endang adalah masih kurangnya kerjasama diantara warga sekolah, baik antarsiswa maupun pegawai sekolah. "Masalah ini terlihat dari masih adanya warga sekolah yang tidak membuang sampah di tempat yang sudah disediakan," ujarnya. Untuk mengatasi masalah tersebut, Endang beserta seluruh anggota KIR tidak pernah bosan untuk selalu mengingatkan dan menyadarkan warga sekolah hidup bersih dan sehat di berbagai kesempatan. Kegigihan dan komitmen seorang Endang Wardiningsih memang patut ditiru jika kita menginginkan generasi penerus bangsa yang sadar dan peduli akan masalah kelestarian lingkungan hidup. Karena jika tidak dimulai dari sekarang, maka kapan lagi? Astri Handayani

Percik Agustus 2007

27

S E PU TA R I SS D P

RW 08 Petojo Utara

Potret Bersih di Tengah Kota


lahan paling cuma 2 x 4 meter," paparnya. Bahkan, lebih dari 50 persen perumahan masih bergantung pada WC umum atau MCK umum. Di RW 08 ini, terdapat lima buah MCK yang semuanya tidak memiliki tangki septik yang sesuai. Sementara perumahan yang memiliki jamban sendiri, pembuangannya langsung ke sungai. Sementara akses air bersih adalah masalah yang cukup penting karena air tanah yang ada di lingkungan Petojo terkontaminasi atau payau. Untuk mendapatkan akses air PAM, yang hanya bisa melayani 40 persen dari jumlah keluarga yang ada, memiliki masalah dalam kelangsungan dan alur penyediaan air tersebut. Penyediaan air bagi rumah tangga memiliki beberapa kombinasi sumber air, seperti air tanah dangkal dan dalam (sumur), koneksi PAM dan air minum botolan yang berasal dari beragam penyedia dengan tujuan berbeda.
MCK ++ di RW 08 Petojo Utara, Jakarta Pusat. Foto: Bowo Leksono

ata apa saja yang akan terucap bila ditanya tentang Jakarta? Selain "panas", "macet", "polusi"? Adalah "kumuh". Ya, Jakarta sebagai ibukota negara dan kota metropolitan sudah lama identik dengan semua kata itu. Wilayah kumuh di kota Jakarta seperti tidak pernah lenyap. Bahkan semakin meluas. Di sudut-sudut kota, di bantaran sungai, bantaran rel kereta, dan kampung-kampung kumuh lainnya. Kondisi ini menjadi keprihatinan abadi. Untunglah, masih ada sebagian wilayah yang menyumbang kenyamanan bagi kota Jakarta. RW 08 Kelurahan

Petojo Utara, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat adalah salah satunya. "Dulu di sini daerah kumuh dan miskin. Warga buang air dan buang sampah sembarangan. Got-got juga kotor," tutur Ir Irwansyah, Ketua RW 08 Petojo Utara sekaligus motor penggerak perubahan. Sekarang ini, Petojo pantas menjadi percontohan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Untuk itu semua, dibutuhkan penggerak, dana, dan kesadaran warga. Irwansyah mengatakan, hampir 30 persen warganya belum memiliki kamar mandi. "Ini karena faktor keterbatasan lahan. Bayangkan betapa sumpeknya, mereka hidup beberapa keluarga dengan

Kolaborasi program Sejak kedatangan ESP (Environmental Service Program), Mercy Corps, Health Service Program (HSP), dan Safe Water System (SWS) pada Mei 2006 silam, kampung yang dilewati kali Krukut dan berpenghuni 750 KK itu pun mulai berubah bersih dan nyaman. Bermacam program dijalankan dan warga pun menyambut senang hati. Program kampung hijau, pembangunan MCK++, cuci tangan pakai sabun (CTPS), kali bersih, pengomposan, Posyandu, Posyandu lansia, Jumat bersih, senam jantung sehat, pengasapan, RW siaga, dan lainnya. Untuk program pembangunan MCK++ dengan teknologi modern yang memang baru pertama dan masih satu-

28 Percik 2007 Agustus

S E PU TA R I SS D P

satunya di wilayah DKI Jakarta, menelan biaya Rp 360 juta. Dana itu merupakan hibah murni dari USAID. MCK++ ini terdiri dari 12 ruangan, 4 kamar mandi dan 6 WC, satu kamar mandi ibu dan anak, serta ruang Posyandu. Setiap hari digunakan oleh 300 orang. Fasilitas ini menggunakan teknologi yang mampu mengolah seluruh air bungan yang dihasilkan menjadi air yang ramah lingkungan. Pemisahan sampah Petojo dilalui sungai Krukut. Sungai ini menjadi tempat dimana berkumpul sampah-sampah dan air limbah perumahan. Masyarakat masih menganggap sungai menjadi tempat yang efisien untuk pembuangan sampah. "Kami ada program Bersih Kali sebulan sekali," kata Irwansyah. Tapi, lanjutnya, meskipun sudah dibersihkan akan kembali kotor sebab ketika air kali itu mengalir ke wilayah Petojo membawa sampah dari wilayah sebelumnya. "Kami terus berusaha menyadarkan wilayah tetangga untuk ikut menjaga kali Krukut," ujar Irwansyah. Di Petojo, program pemisahan sampah dan cuci tangan pakai sabun didukung ESP, SWS dan Mercy Corps. Program ini dimulai dengan penghijauan dan program pupuk kompos. Awalnya warga didorong melakukan pemisahan terhadap sampah-sampah rumah tangga. Sampah yang bersifat non-organik dikumpulkan pemulung, sementara sampah organik dikirim kepada pembuat pupuk kompos. Pupuk kompos ini digunakan untuk keperluan aktifitas penghijauan. Melalui kampanye dan penyuluhan yang berkesinambungan, warga RW 08 Petojo kini sadar akan pentingnya kebersihan dan hijaunya lingkungan. Mereka secara rutin melakukan kegiatan kebersihan lingkungan, tak hanya lingkungan sekitar komunitas, namun di sungai-sungai (clean river program) dengan tujuan membersihkan sungai dari sampah. Cuci tangan pakai sabun Program yang tak kalah menarik

Membudayakan cuci tangan pakai sabun dengan menyediakan peralatan cuci tangan di depan rumah. Foto: Bowo Leksono

adalah cuci tangan pakai sabun (CTPS), program yang sedang gencar digemborkan Pemerintah. Di RW 08 Petojo, semua rumah sudah memiliki sarana cuci tangan yang terletak di masing-masing depan rumah mereka. Kesadaran yang dilandasi kekompakan inilah membuat program ini berjalan. Fasilitas cuci tangan yang terbuat dari ember-ember bekas cat tembok itu

tidak sekedar pajangan, namun dimanfaatkan warga. "Hal yang penting, para orang tua mengajarkan anak-anak untuk selalu cuci tangan," kata Irwansyah. Petojo mendapatkan perubahan menuju perbaikan. Dari persoalan sanitasi, air bersih, nutrisi balita, dan infrastruktur. Semoga kondisi seperti ini akan selalu menghiasi kampung Petojo Utara dan wilayah lainnya. Bowo Leksono

Tak Cukup Menutup Pabrik, Perlu Komitmen Semua Pihak

Dua Kali KLB Muntaber

ita semua mendadak terperangah lagi, lihat saja dengan mewabahnya untuk kedua kali kejadian muntaber tahun ini di Kecamatan Sepatan, Pakuhaji, Mauk, dan Sukadiri, Kabupaten Tangerang, sebagian besar tidak memiliki jamban keluarga, buang air besar mereka lakukan di mana saja, di sungai, sawah, kebun atau selokan. Tak heran wabah muntaber menyerang mereka sehingga mendapat status Kejadian Luar Biasa (KLB). Kejadian ini jelas menampar aparat Pemerintah

Kabupaten Tangerang dengan terulangnya kejadian yang sama pada dua tahun lalu di periode bulan yang sama. Tetapi, toh masalah yang mendasar itu tak pernah teratasi. Kabupaten Tangerang suatu pelosok yang tak terlalu jauh dari jantung ibu kota negara, dengan waktu tempuh hanya 1,5 jam perjalanan atau sekitar 40 kilometer dari Istana Negara. Hingga 16 Juli 2007, warga desa di Kecamatan Sepatan, Pakuhaji, Mauk, dan Sukadiri, Kabupaten Tangerang telah berjatuhan korban.

Percik Agustus 2007

29

S E PU TA R I SS D P

Perilaku tidak sehat warga menjadi salah satu penyebab terjangkitnya penyakit diare. Foto: Bowo Leksono

Pada 15 Juli 2007, sejumlah 469 korban harus dirawat di Puskesmas dan rumah sakit serta 3 orang di antaranya meninggal dunia. Kejadian dua tahun lalu bahkan merenggut 17 jiwa melayang. Penyakit muntaber muncul karena warga tak belajar dari pengalaman menjaga kebersihan lingkungan dan makanan. Sehingga beberapa petugas kesehatan mengungkapkan rasa malu atas jatuhnya korban meninggal dunia atau rawat inap karena serangan muntaber. "Ini kan penyakit yang seharusnya sudah tidak ada lagi karena menyangkut masalah amat mendasar, kebersihan. "Di zaman sudah begini maju, ada satelit, internet, tetapi muntaber masih ada di Tangerang yang merupakan daerah penyangga Ibu Kota," ujar seorang dokter di Tangerang. Situasi ini terus memiliki mata rantai dengan problematika utama sanitasi, yang meliputi aspek air bersih, limbah, drainase dan sampah. Kenapa? Makin sedikit penduduk yang memiliki hunian yang sehat dan memenuhi standar kesehatan, pasti makin tinggi pula laju problematika sanitasi di Indonesia. Padahal derajat kesehatan penduduk Indonesia kini betul-betul menghadapi ancaman serius. Dari rangkaian situasi yang terjadi,

pasti akan terus menggurita berbagai persoalan baru di belakang masalah buruknya layanan sanitasi penduduk Indonesia, yang langsung dirasakan saat ini, yaitu soal hilangnya angka pertumbuhan ekonomi sekitar 65 trilyun selama satu tahun APBN. Angka itu sama dengan 2,4 persen total jumlah APBN yang bisa membuka jutaan angka pekerjaan baru bagi puluhan juta angkatan kerja yang menganggur sekarang ini. Mengulang apa yang dikemukakan Kepala Bidang Pemberantasan Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, dr. Yuliah Iskandar, nampaknya ada empat faktor yang menyebabkan terjadinya wabah muntaber dikabupaten Tangerang yaitu sanitasi lingkungan yang minim dan tidak sehat penyumbang terbesar sebesar 45 persen. Perilaku penduduk yang tidak sehat atau perilaku hidup biasa sehat sebanyak 35 persen, pelayanan kesehatan sebanyak 15 persen, dan keturunan atau kepadatan penduduk sebanyak 5 persen. "Seharusnya mengambil pelajaran dua tahun lalu, akan tetapi masyarakat Tangerang tidak mengubah perilaku hidup bersih dan sehat. Mereka tetap BAB di sungai dan menggunakan air tersebut untuk mandi, mencuci dan memasak. "Sekitar 70 persen masyarakat

Kecamatan Sepatan, dan Pakuhaji melakukan BAB di sungai, di selokan dan di kebun, padahal umumnya mereka mempunyai kamar mandi dan sumur tapi tidak mempunyai jamban." ujar Dinkes PPL Tangerang, Dadang Iskandar SKM. Walau KLB muntaber di minggu ini mulai reda, tetapi perlu ada pemberdayaan kepada warga setempat agar mereka mengubah kebiasaan hidup yang tidak sehat. "Beberapa cara pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan penggalangan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) atau perilaku higienis, yang antara lain dengan menyisipkan kurikulum kesehatan diusia sekolah SDSMA selama 1-2 jam serta melibatkan perguruan tinggi setempat dan para tokoh masyarakat untuk melakukan kampanye PHBS. Sistem CLTS (Community Led Total Sanitation) yang memperkenalkan metode pemberian fasilitasi bagi partisipasi masyarakat dalam menghilangkan kebiasaan buang air besar disembarang tempat dan telah berhasil dikembangkan pada kondisi lingkungan yang sama di beberapa negara juga dapat diterapkan dengan segera membentuk anggotaanggota Pokja AMPL (Air Minum dan Penyehatan Lingkungan) hingga ke tingkat kecamatan di Kabupaten Tangerang. Hal tersebut juga sempat disimpulkan pula dalam rapat Pokja AMPL Provinsi Banten, 17 Juli 2007. Partisipasi aktif serta aksi masyarakat inilah sangat diperlukan karena penyebaran penyakit muntaber bergerak sangat cepat dan terus bisa terulang kembali bila tidak segera diatasi dari sumbernya. Tidak cukup hanya menutup dua pabrik pembuat sirup orson yang dilakukan Kepolisian Resort (Polres) Tangerang. Dimana semula diduga penyakit mutaber ini disebabkan minuman tersebut karena mengandung kuman e-coli dan vibrio cholerae yang ada dalam limun tersebut dan merupakan penyebab meluasnya penyakit muntaber yang mewabah di Kabupaten Tangerang.
Ahmad Rukny Assegaff Communication Advocacy Indonesia Sanitation Sector Development (ISSDP)

30 Percik 2007 Agustus

S E PU TA R I SS D P

Ketika Diare 'Menjemput' Noviana

untuk BAB di tempat yang bersih dan tertutup! ungkin Noviana, begitu nama balita Atau mungkin ada yang salah, sehingga fasilitas berusia 2,5 tahun itu diberi nama, tidak yang sudah disediakan tidak dipergunakan dan tahu mengapa perutnya terus menerus dipelihara dengan semestinya? Sehingga sosialiasi terasa mulas meski sudah beberapa kali buang air yang disampaikan tidak dapat merubah perilaku besar. Seperti anak seusianya, Noviana belum bisa masyarakatnya? Atau memang sosialisasi merupamenjelaskan kondisi penyakitnya, sehingga meskikan kegiatan yang harus dilakukan secara terus mepun parah, kondisinya mungkin tidak dapat dinerus untuk selalu mengingatkan? Apapun jawabmengerti dan dianggap biasa saja oleh orang dekatannya, yang pasti kejadian serupa telah terjadi lagi. nya. Cukup diperlakukan 'sebagaimana biasanya' Berangkat dari adanya kebutuhan penyediaan dan akan sembuh seperti sedia kala. Sampai akhirlayanan air bersih dan sanitasi yang sesuai dengan nya Noviana meninggal dunia. Katanya karena terkebutuhan dan kemampuan masyarakat, sebetulnya lambat datang ke pusat rehidrasi dan belum sempat saat ini telah dikembangkan metode promosi/sosialmendapat perawatan. isasi/kampanye yang tidak hanya dapat menumKlise memang kedengarannya, tapi itulah kebuhkan rasa memiliki terhadap fasilitas sanitasi, nyataannya. Sebagian orang pasrah menerima penFoto: Bowo Leksono namun juga mampu menggerakkan masyarakat jelasan itu. Sebagian lagi gamang dan mulai bertanya, apakah memang dari situ awal permasalahannya? Entahlah. untuk dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Berdasarkan Noviana bisa jadi merupakan korban meninggal dunia pertama pengamatan, setidaknya ada 3 nama pendekatan perubahan peridari kejadian luar biasa (KLB) diare Tangerang yang terjadi sejak 12 laku yang cukup populer dikenal tidak hanya di Indonesia tapi juga Juli lalu. Bersamanya masih ada 2 orang lagi yang tercatat juga dunia internasional. Tiga pendekatan itu adalah Community Led mengalami nasib yang sama. Mungkin yang tidak tercatat lebih ba- Total Sanitation (CLTS), Total Sanitation Campaign (TSC), dan Participatory Hygiene And Sanitation Transformation (PHAST). nyak lagi. Ketiga pendekatan tersebut telah mulai diterapkan di berbagai Meski kasus meninggal dunia pada KLB Tangerang ini di bawah 1 persen atau masih di bawah toleransi WHO, namun bukan berar- daerah di Indonesia. Tidak ada salahnya untuk memulai meti kejadian ini pantas untuk didiamkan. Sejak dinyatakan KLB, nerapkan pendekatan perubahan perilaku dalam mengatasi maDepartemen Kesehatan sudah melakukan tindakan cepat berupa salah sanitasi di Tangerang. Sehingga harapan agar tidak ada lagi pengamanan sumber air yang menjadi penyebab wabah diare. Noviana yang lain bukan sekedar mimpi. Hony Irawan Selain itu untuk antisipasi, di lokasi Puskesmas Sepatan, disediakan jamban mobil, serta dikirim pula fasilitas alat penjernih air yang biSekilas Beberapa Pendekatan Perubahan Perilaku sa bekerja cepat. Sehingga jumlah penderita semakin menurun. Namun tindakan kuratif nampaknya tidak menyelesaikan akar 1. Community Led Total Sanitation (CLTS) yang pertama kali dilapersoalan diare, mengingat ini bukan KLB diare pertama di daerah kukan di Bangladesh pada tahun 1999 kemudian digunakan juga di beberapa negara seperti Bolivia, Cambodia, China, Ethiopia, India, itu. Kejadian yang sama terjadi pada 2005 lalu dan lebih parah dari Nepal, Pakistan, Tanzania dan Afrika Barat, termasuk Indonesia. tahun ini. Sekitar 600 korban harus dirawat di Puskesmas dan 17 Karakteristik CLTS adalah merubah perilaku masyarakat melalui orang (ada yang memberitakan 19 orang) di antaranya meninggal fasilitasi partisipatif, serta tanpa subsidi untuk perangkat keras (jamban keluarga) dan tidak menetapkan jenis jamban yang nantidunia. Lebih lanjut terkait dengan hal tersebut, Republika 14 Juli nya akan dibangun oleh masyarakat. CLTS ditujukan untuk mengu2007 memuat pernyataan Bupati Tangerang, Ismet Iskandar, yang rangi/menghilangkan kebiasaan Buang Air Besar (BAB) di sembamengatakan bahwa wabah diare yang kembali terjadi di tiga kecarang tempat atau open defecation. matan tersebut disebabkan perilaku masyarakat yang kurang sadar 2. Total Sanitation Campaign (TSC) dikembangkan di Propinsi Maharasthra (India) yang mengadopsi pendekatan CLTS ke dalam promenjaga kebersihan. gram pemerintah India secara massal. Beberapa negara lain seperMenurut Ismet, pihaknya telah melakukan sosialisasi meningti Cambodia, Afrika, Nepal, dan Mongolia telah menerapkan dalam katkan kesadaran masyarakat akan hidup sehat. Kenyataannya maporsi yang lebih kecil. Berbeda dengan CLTS, TSC memperbolehkan pengenalan pilihan teknologi jamban. sih banyak warga membuang air besar di sungai yang sebenarnya juga dikonsumsi masyarakat untuk mandi, mencuci, dan memasak. 3. Participatory Hygiene And Sanitation Transformation (PHAST) merupakan adaptasi metode SARAR (Self-esteem, Associative Padahal, pemerintah setempat telah membuat fasilitas mandi cuci Strengths, Resourcefulness, Action-planning, and Responsibility) kakus (MCK). yaitu sebuah metode belajar partisipatif membangun kesadaran Kalau begitu apa persoalannya ? Harusnya tidak susah meminta masyarakat agar dapat mengatasi persoalannya sendiri. Ruang lingkup PHAST lebih luas, yaitu pendekatan untuk mempromosikan orang untuk tidak makan 'maaf' kotoran manusia, baik sengaja atau kesehatan, sanitasi, dan manajemen fasilitas air dan sanitasi tidak sengaja, baik langsung atau tidak langsung! Harusnya tidak sumasyarakat. PHAST pernah dilakukan di Afrika, India, dan Amerika sah meminta orang untuk tidak memakan bakteri dan kuman yang Serikat. menyebabkan mereka sakit! Harusnya tidak susah meminta orang

Percik Agustus 2007

31

S E PU TA R I SS D P

Pembentukan Inisiatif Kemitraan Pemerintah-Swasta untuk Cuci Tangan Pakai Sabun (IKP-CTPS)
enyakit diare masih menjadi penyebab kematian balita (bayi dibawah lima tahun) terbesar di dunia. Menurut catatan Unicef, setiap detik satu balita meninggal karena diare. Di Indonesia, sekitar 162 ribu balita meninggal setiap tahun atau sekitar 460 balita setiap harinya. Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (P2MPL) Departemen Kesehatan I Nyoman Kandun mengatakan tingginya angka kematian balita akibat diare salah satu penyebab karena masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menerapkan pola hidup sehat dan bersih. "Menghindari diare bukanlah masalah yang sulit. Kebiasaan mencuci tangan memakai sabun bisa menghindari insiden diare hingga 47 persen," kata Nyoman saat konferensi pers "Inisiatif Kemitraan Pemerintah-Swasta untuk Cuci Tangan Pakai Sabun", Senin (27/8), di Jakarta. Survei program pelayanan kesehatan 2006 tentang persepsi dan perilaku masyarakat terhadap kebiasaan mencuci tangan menemukan bahwa sabun telah sampai ke hampir semua rumah di Indonesia. Namun hanya sekitar 3 persen yang menggunakan sabun untuk keperluan cuci tangan. Umumnya sabun hanya digunakan untuk mandi. Perilaku responden pada lima waktu kritis cuci tangan tercatat hanya 12 persen saja orang yang mau cuci tangan setelah buang air besar (BAB), 9 persen setelah membantu BAB bayi, 14 persen sebelum makan, 7 persen sebelum memberi makan bayi dan 6 persen sebelum menyiapkan makanan. Berdasarkan hal tersebut, dibentuklah Inisiatif Kemitraan PemerintahSwasta untuk Cuci Tangan Pakai Sabun (KPS-CTPS) sebagai upaya promosi

perubahan perilaku dengan melibatkan peran aktif sektor pemerintah didukung keahlian marketing dan sumber daya yang dimiliki pihak swasta. Nyoman melanjutkan, peningkatan kesehatan masyarakat memerlukan kerjasama semua pihak. "Selama ini,

permasalahan kesehatan cenderung ditangani dengan fokus pada pembangunan infrastruktur dan pelayanan kuratif. Padahal aspek preventif sangat penting dalam menunjang upaya peningkatan kesehatan," demikian I Nyoman Kandun. BW

kses masyarakat terhadap sarana sanitasi yang memadai di Indonesia masih sangat rendah, yaitu kurang dari 50 persen. Angka ini masih jauh dari target MDGs pada tahun 2015, yaitu 72,5 persen. Kondisi ini terjadi antara lain karena kesadaran serta perilaku masyarakat yang masih harus diperbaiki dan teknologi sanitasi yang tidak terjangkau masyarakat. Isu tersebut menjadi bahan diskusi dalam acara Talkshow "Saatnya Bekerja" di TVRI. Acara ini disiarkan langsung pada 29 Agustus 2007, pukul 18.00 sampai 19.00 WIB. Menghadirkan narasumber DR I Nyoman Kandun, MPH, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan,

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat serta Teknologi Sanitasi yang Terjangkau A

Talkshow "Saatnya Bekerja"

Departemen Kesehatan dan Ir Susmono, Direktur Penyehatan Lingkungan Permukiman, Ditjen Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum. Pada kesempatan ini, Nyoman menyampaikan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Diantaranya kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun yang dapat mencegah penyakit menular seperti diare. Menurut Nyoman, pembangunan sanitasi merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. "Pihak swasta pun bertanggung jawab dan dapat berperan dalam pembangunan sanitasi melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) yang dimilikinya" ujarnya menambahkan. Mengenai teknologi sanitasi yang terjangkau bagi masyarakat, Susmono memberikan gambaran bahwa sebetulnya teknologi sanitasi itu bisa sangat murah dengan tetap mempertimbangkan aspek teknis. "Pada prinsipnya, asalkan mampu mencegah terjadinya kontak antara kotoran dengan lingkungan luar maka itu sudah cukup memadai" ucapnya.
Tim ISSDP

32 Percik 2007 Agustus

S E PU TA R WA S P O L A

Fasilitasi Daerah MAKSIMAL, Koordinasi Pusat OPTIMAL R


uang kantor WASPOLA di Jalan Cianjur 4 lengang selama 3 bulan terakhir ini. Semuanya sedang berkonsentrasi memaksimalkan fasilitasi ke daerah, baik renstra, training penguatan kapasitas, implementasi strategi komunikasi dan beberapa kegiatan penting lain seperti rakornas dalam rangka monitoring kemajuan pelaksanaan kebijakan di daerah lama maupun yang baru. Bagi WASPOLA tahun ini merupakan tahun yang cukup penting untuk meletakkan dasar keberlanjutan Kebijakan Nasional AMPL dimasa mendatang, mengingat tahun 2008 WASPOLA akan phase out. Hal ini menjadi topik diskusi yang serius dan dinamis ketika lokakarya internal tim di Batam pada Juli lalu. Disisi lain untuk memperluas jangkauan pelaksanaan kebijaksanaan, WASPOLA juga aktif membantu Pokja AMPL dalam persiapan proyek Penyediaan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat di Indonesia Timur, yang merupakan kerjasama Pemerintah Indonesia dengan UNICEF, yang didanai oleh Pemerintah Belanda. Sedangkan untuk koordinasi di tingkat pusat WASPOLA aktif memfasilitasi terbentuknya pertemuan Jejaring AMPL Nasional. Keragaman Renstra daerah Renstra AMPL di daerah menjadi agenda utama tim implementasi untuk dianalisa baik dari sisi struktur maupun subtansinya. Uniknya, Renstra yang disusun masing-masing daerah berbeda, sesuai dengan situasi dan kebutuhan daerah. Renstra ala daerah, kalimat tersebut juga terlontar saat rakornas di Bali

Agustus 2007, dimana masing-masing daerah mempresentasikan renstra-nya dengan gaya yang berbeda. Menurut rencana, lokakarya penyusunan renstra harus diselesaikan di seluruh daerah hingga Juni 2007. Namun dalam pelaksanaan masih tersisa tiga kabupaten yang belum menyelesaikan, yaitu Kabupaten Bima, Kabupaten Dompu dan Kota Cilegon. Daerah dengan kegiatan yang relatif tidak berjalan dapat dikatakan tidak memiliki kebutuhan terhadap pelaksanaan kebijakan, salah satunya adalah Kota Cilegon. Adapun Lokakarya untuk tindak lanjut penyusunan Renstra AMPL telah dilakukan di beberapa daerah, antara lain mencakup Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan, dan Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah.

Pertemuan Koordinasi Nasional Memantau dan mengevaluasi kemajuan pelaksanaan implementasi kebijakan daerah menjadi acara tahunan rutin WASPOLA. Pertemuan kawasan Indonesia Timur dilaksanakan pada 30 Juli - 1 Agustus 2007 di Hotel Quality Makassar, dikhususkan pada daerah dampingan tahun 2006. Dihadiri 35 peserta dari Kota Gorontalo, Kabupaten Bone Bolango, Gowa, Jeneponto, Wajo, Sopeng, Bima, Dompu, Lombok Tengah, Konawe, Konawe Selatan dan Timor Tengah Selatan. Pertemuan ini dibuka Direktur Fasilitasi Lingkungan Hidup dan Tata Ruang Depdagri, Sofjan Bakar. Ia menekankan, Renstra daerah harus diimplementasikan dalam program yang konkrit. "Apabila diperlukan, Depdagri dapat menerbitkan surat edaran sebagai dukungan dalam rangka realisasi Renstra," ujarnya. Catatan menarik lainnya adalah daerah meminta perlunya sinergi Pokja AMPL Nasional dengan daerah dalam pelaksanaan kebijakan agar Rensta menjadi arus utama dalam perencanaan pembangunan daerah. Pokja pusat menanggapi dengan menjelaskan telah dirintis kerjasama dengan Unicef dalam rangka operasionalisasi kebijakan. Pelaksanaan kegiatan dimulai dengan pembentukan kegiatan penyusunan renstra. Bagi daerah yang telah mempunyai Pokja AMPL dan renstra dapat langsung ke tahap berikutnya. Beberapa isu dalam pembangunan AMPL yang masih dihadapi pemerintah antara lain, pengelolaan aset pembangunan AMPL, pengelolaan data, dan strategi komunikasi. Saat ini hal yang dirasa menghambat adalah mutasi pegawai yang mem-

Percik Agustus 2007

33

S E PU TA R WA S P O L A

pengaruhi kinerja Pokja Daerah yang dapat berakibat kurangnya keberlanjutan progam AMPL. Diperlukan strategi lain yang mengarah pada sosialiasi pendekatan pemangku kepentingan yang lebih luas. Dalam Rakornas tersebut diangkat perlunya komitmen pemerintah pusat untuk menjamin keberlanjutan kegiatan fasilitasi pelaksanaan kebijakan pasca WASPOLA. Beberapa komitmen disampaikan Pokja Pusat, antara lain Pokja Pusat akan memberikan bentuk penguatan kapasitas (non-proyek fisik) antara lain memfasilitasi mitra donor, terlibat dalam penyusunan Petunjuk Pelaksanaan DAK air bersih berbasis masyarakat dan menyediakan serta memfasilitasi pengembangan akses informasi yang luas bagi Pokja Daerah. Rakornas berikutnya untuk daerah dampingan lama, menyusul tanggal 2831 Agustus 2007, diikuti 6 provinsi yaitu Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah, Banten dan Sumatera Barat. Dengan 15 kabupaten/kota seperti Bangka Selatan, Bangka Barat, Kota Pangkalpinang, Takalar, Pangkep, Selayar, Lombok Barat, Lombok Timur, Kebumen, Grobogan, Pekalongan, Pandeglang, Lebak. Isu-isu yang diangkat selama pertemuan antara lain pentingnya alternatif pendanaan dalam sektor AMPL dan pentingnya marketing strategy sehingga daerah mampu mengembangkan fund raising. Peserta juga memperhatikan mengenai pengelolaan keuangan corporate-based menjadi penting untuk menjalin kerjasama dengan pihak swasta. Disisi lain Pemerintah Daerah sudah saatnya melaksanakan aset manajemen karena hal tersebut sangat diperlukan untuk mengukur kemampuan Pemda dalam mencapai suatu target perencanaan. Diinformasikan juga bahwa petunjuk teknis tentang Alokasi Dana Desa (Permendagri No. 37 tahun 2007 tentang Alokasi Dana Desa) akan segera diterbitkan, dimana di dalamnya juga terdapat sektor AMPL. Hal tersebut dapat

menjadi alternatif pendanaan untuk implementasi sektor AMPL. Strategi Komunikasi AMPL diaplikasikan di Daerah Hasil yang menarik dari pelatihan di Bangka Belitung (secara lengkap terdapat di situs AMPL). Workshop yang diikuti 32 peserta ini akhirnya menghasilkan draf rencana strategi komunikasi pembangunan AMPL untuk provinsi dan 5 kabupaten di Bangka Belitung di tahun 2008 yang akan datang. Salah satu strategi dalam mengatasi kerusakan sumber air baku adalah menanamkan kesadaran masyarakat untuk menjadi "pendekar penyelamat lingkungan". Biaya untuk implementasi strategi komunikasi ini dianggarkan pada ABT tahun 2008. Diskusi yang menarik lainnya adalah "media relationship". Baru terbuka bahwa selama ini terjadi " prasangka buruk" antara pihak pemerintah dengan media massa karena jarangnya berdiskusi terbuka mengenai masalah AMPL. Setelah menemukan titik temu, kedua pihak akhirnya menyatakan siap bersinergi dalam memacu pembangunan AMPL. Manager liputan Bangka Pos, Dody Handriyanto menyatakan media massa pada dasarnya terbuka untuk bekerjasama dan tidak hanya mengejar beritaberita buruk pemerintah. Dikemukakan

juga beberapa tips dan strategi kerjasama dengan media massa sehingga bisa berkelanjutan. Penguatan kapasitas Tim WASPOLA pada Juni dan Juli 2007 ini melaksanaan pelatihan MPAPHAST di Makassar, pelatihan CLTS di Untirta (Universitas Ageng Tirtayasa) Banten, serta memfasilitasi Orientasi Dasar-Dasar Fasilitasi di Yogyakarta dan Mataram bekerjasama dengan Ditjen PMD untuk daerah proyek PAMSIMAS. Kegiatan lain adalah pelaksanaan fasilitasi lokakarya monitoring partisipatif kinerja Pokja AMPL di tingkat provinsi yang diadakan di Tanah Datar. Kegiatan Manajemen Aset PDAM yang disebut NAMPA (Nasional Aset Management Program) telah dimulai dalam periode ini. Pada persiapan awal, tim studi telah melakukan kunjungan ke PDAM Kabupaten Tangerang untuk mengidentifikasi isu pengelolaan aset di dalam PDAM, sekaligus mendiskusikan rencana pelaksanaan uji coba NAMPA di daerah. Pelaksana studi dari program NAMPA ini adalah perusahaan konsultan GHD. Mari, kita terus bertindak, untuk terus menumbuhkan spirit melaksanakan pembangunan AMPL melalui 11 prinsip kebijakan sehingga pihak yang tak pernah dilibatkan menjadi aktif dan pihak miskin yang selalu terpinggirkan semakin terlayani. WH

34 Percik 2007 Agustus

S E PU TA R WA S P O L A

Terbentuk Tim Perumus

Jejaring AMPL
PD PAL Jaya, PDAM Bekasi, Kemitraan Air Indonesia dan Mercy Corps. Walaupun baru terlibat pertama, tidak menyurutkan peserta untuk aktif menyumbangkan gagasan dan saran sehingga suasana diskusi benar-benar hidup.

enjawab tantangan dan permasalahan bersama, lebih baik daripada sendiri-sendiri". Pernyataan itu muncul dari beberapa peserta ketika mereka bertepuk tangan, saat Basah Hernowo, Direktur Pemukiman dan Perumahan Bappenas menyudahi sambutan pembukaan acara pertemuan Jejaring Komunikasi AMPL ke-3 pada 21 Agustus 2007. Basah Hernowo menekankan, sudah saatnya AMPL dikerjakan dalam koordinasi dan sinergi yang lebih baik sehingga gaung dan dampaknya akan lebih besar untuk peningkatan kinerja sektor AMPL. Ditekankan pula bahwa disana-sini pemerintah masih banyak kekurangan dan keterbatasan. "Sinergi dengan semua pemangku kepentingan adalah alternatif terbaik yang bisa dilakukan," ucapnya. Sambutan tersebut tampaknya mendapat antusias dari para peserta yang berjumlah sekitar 60 orang yang memadati ruang FG 5 Bappenas. Semangat tersebut terlihat ketika memasuki diskusi kelompok untuk menentukan kemana arah Jejaring AMPL ini akan dibawa. Uniknya, ketika pembentukan tim perumus, banyak lembaga baru yang baru saja datang menyediakan dirinya dipilih sebagai tim perumus sehingga semuanya ada 20 kandidat. Akhirnya terpilih 6 institusi dari suara terbanyak yaitu, Pokja AMPL, WASPOLA, ISSDP, JAS, Europromocap IWAT, KAI dan anggota khusus yaitu IHE Indonesia. Banyak peserta baru yang datang seperti Unicef, Asosiasi Toilet Indonesia, Direktorat Pendidikan Masyarakat Depdiknas, Tim Penggerak PKK Pusat, Gerakan Kuartir Nasional Pramuka, Teknik Lingkungan ITS, STIKES Bandung, FT UI, Yayasan Pelatihan Tirta Dharma,

"M

Untuk sementara kumpulan pemangku kepentingan ini disebut Jejaring AMPL, nama akronimnya masih menjadi pekerjaan rumah bagi tim perumus.
Pertemuan yang diselenggarakan Europromocap IWAT dan Pokja AMPL ini adalah kelanjutan dari pertemuan pertama dan kedua yang telah menghasilkan draft concept note Jejaring Komunikasi AMPL dari sisi identitas, organisasi dan program kerjanya. Dan di pertemuan ketiga ini semua anggota berpartisipasi menyempurnakan konsep jejaring dan strategi ke depan. Dengan difasilitasi tim WASPOLA, IHE Indonesia dan PLAN Indonesia, tiga kelompok mempresentasikan koreksi dan usulan concept note jejaring, kemudian ditampung dan disepakati bersama dalam pleno. Untuk sementara kumpulan pemangku kepentingan ini disebut Jejaring AMPL, nama akronimnya masih menjadi pekerjaan rumah bagi tim perumus. Visinya adalah menjadi wadah informasi dan komunikasi AMPL yang efektif untuk mendukung partisipasi pemangku kepentingan (pemerintah, swasta dan masyarakat) dalam proses pembangunan Nasional di Indonesia. Organisasinya

bersifat terbuka, formal dan inklusif. Misinya adalah prinsip kemitraan, kerjasama, peningkatan kapasitas dan peningkatan penyediaan dana di sektor AMPL. Jejaring AMPL beranggotakan profesional perorangan, unsur pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, LSM, lembaga donor, asosiasi profesi, operator AMPL , media massa, konsultan, kontraktor dan organisasi masyarakat. Ide menarik terlontar dari peserta adalah member get member dalam jejaring untuk memperluas ketersediaan dan penyebaran informasi yang lebih cepat. Program kerja yang direncanakan adalah penyusunan data base, peningkatan kepedulian, workshop/pelatihan dan kemitraan dengan media. Agenda lain dalam pertemuan ini adalah presentasi Konferensi Nasional Sanitasi, dimana Jejaring AMPL ini akan terlibat dalam diskusi panel, dan pameran. Tim perumus yang terbentuk akan bekerja selama tiga bulan ke depan untuk merumuskan konsep dan arahan strategis Jejaring AMPL dengan melibatkan berbagai unsur seperti perguruan tinggi, media massa dan organisasi masyarakat dalam tim kecil untuk finalisasi nantinya. Selain itu akan mempersiapkan keterlibatan Jejaring AMPL dalam Konfererensi Sanitasi Nasional (KSN) pada Oktober mendatang dengan melibatkan anggota Jejaring lainnya. "Semoga program kerja Jejaring segera selesai, kami siap terlibat," ucap Rosi, peserta dari Universitas Tri Sakti. "Ayo, ini saatnya beraksi bersama!", ujar Eny dari Asosiasi Toilet. Selamat atas terbentuknya Jejaring AMPL di tingkat Nasional. Mari, membangun kekuatan bersama! WH

Percik Agustus 2007

35

S E PU TA R WA S P O L A

AMPL di Benak Mereka


Apa yang terlintas dibenak para kepala daerah tentang AMPL? Berikut rangkumannya.

Gusmal Dt. Rj. Lelo, Bupati Solok

"A

ir sangat menentukan kehidupan manusia, bukan sembarang air tetapi air yang sehat untuk diminum. Yang lebih penting lagi tidak semua program air bersih dikelola pemerintah, tetapi juga masyarakat itu sendiri. Hal ini sinergis dengan program pemberdayaan masyarakat yang sedang saya lakukan. Maka program air bersih, apapun namanya, WSLIC, AMPL akan saya dukung. Hal ini saya masukkan dalam tiga isu sentral pembangunan dan masuk dalam RPJMD dan menjadi Perda sehingga tidak akan ditolak DPRD". Pernyataan ini terlontar saat wawancara Bupati dengan tim WASPOLA dalam rangka penjajakan implementasi strategi komunikasi AMPL di Sumatera Barat, Juni 2007.

David Bobihoe Akib, Bupati Gorontalo

"A

MPL itu sudah menjadi kebutuhan rakyat, jadi tidak mungkin daerah mengabaikan. Ini kebutuhan dasar! Nah, keterlibatan masyarakat menjadi penting untuk meningkatkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap program ini". Pernyataan ini disampaikansaat menerima kunjungan WASPOLA dan Pokja AMPL Kabupaten Gorontalo, Maret 2007.

Siti Komariyah, Bupati Pekalongan


rogram ini prorakyat dan kami memprioritaskan kepentingan rakyat, maka kami mendukung DAK Air Bersih dengan pendekatan penyiapan masyarakat. Kedepannya program DAK dari pusat akan kami kembangkan dengan pendekatan berbasis masyarakat". Pernyataan ini dikemukakan saat menerima kunjungan lapangan peserta Lokakarya Konsolidasi Kebijakan Nasional, Februari 2007.

"P

36 Percik 2007 Agustus

S E PU TA R WA S P O L A

Radjamilo, Bupati Kabupaten Jeneponto

"P

embangunan MCK umum tidak pas karena tidak terpakai, saya minta Dinas PU untuk mengkaji ulang. Lebih baik dana 26 juta dipakai untuk membagi MCK rumah tangga, bisa jadi 13 unit dan terpakai". Hal itu dikatakan di hadapan sanitarian, bidan desa, camat, kepala dinas dan Pokja Daerah pada saat membuka lokakarya Pendalaman Kebijakan Nasional AMPL dan Indentifikasi Isu, Desember 2006.

H. Ahmad Dimyati, Bupati Pandeglang

"M

URI untuk program jambanisasi ini menjadi penghargaan yang harus memacu kami untuk melanjutkan program yang bagus ini kepada desa atau wilayah lain. Tidak hanya berhenti sebatas penghargaan saja, tetapi akan kami implementasikan". Pernyataan ini keluar saat wawancara dalam jumpa pers penerimaan MURI Award kepada Kabupaten Pandeglang karena berhasil membangun jamban terbanyak (sekitar 2000) selama satu tahun dengan swadaya masyarakat.

M. Jufri, Walikota Bukit Tinggi

Masduki, Wagub Provinsi Banten

agi Bukit Tinggi prioritas pertama adalah air minum karena keterbatasan sumber daya air yang diakibatkan ketidaksesuaian kerjasama dengan kabupaten lain". Hal ini diungkapkan Jufri pada lokalatih penyusunan Renstra AMPL, Oktober 2006.)

"B

ntirta sebagai pusat keilmuan di Banten telah membuat terobosan dengan menggunakan sanitasi dasar sebagai Kuliah Kerja Mahasiswa dalam konteks pemberdayaan masyarakat. Saya akan membackup dan semoga ditiru universitas yang lain". Pernyataan ini diungkapkan pada pembukaan Lokakarya Pembekalan CLTS bagi Mahasiswa dan Dosen Unitirta, Juni 2007.

"U

Percik Agustus 2007

37

S E PU TA R A M P L

Sosialisasi Permendagri Nomor 23 Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis dan Tata Cara Pengaturan Tarif Air Minum pada PDAM

epartemen Dalam Negeri bekerja sama dengan Perpamsi menyelenggarakan lokakarya bertajuk "Sosialisasi Permendagri Nomor 23 Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis dan Tata Cara Pengaturan Tarif Air Minum pada PDAM", Kamis (5/7), di Jakarta. Permendagri ini sebagai pelaksana ketentuan Pasal 60 ayat (8) Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum. Terkait kurangnya investor yang biasanya menjadi pemicu PDAM dalam mengubah tarif air minum, Perwakilan Ditjen Perbendaharaan Departemen Keuangan, Direktur Pengelolaan Penerusan Pinjaman, menyampaikan mekanisme penerusan pinjaman pemerintah pusat kepada pemerintah daerah yang dananya dari luar negeri. "Berdasarkan PP No. 2/2006, Pemda tidak diperkenankan melakukan pinjaman langsung ke luar

negeri. Apalagi PDAM yang statusnya sebagai operator dalam penyediaan air minum. Penyediaan dana bagi PDAM adalah tugas Pemda setempat," tuturnya. Untuk mendapatkan pinjaman, PDAM mengajukan kepada Pemda dilanjutkan ke Bappenas dan kemudian ke Menkeu. Baru kemudian Menkeu menyampaikan agar Pemda mengajukan rencana pinjaman kepada Menkeu. Sehubungan Permendagri yang baru ini dalam hal tarif PDAM, Dirjen Cipta Karya Departemen PU Agus Widjanarko menyampaikan kebijakan pengembangan sistem penyediaan air minum (SPAM) berdasarkan PP No. 16/2005 yang menjadi payung bagi Permendagri tersebut. Eko Subowo dari Ditjen Otonomi Daerah, Depdagri, menyampaikan penjelasan pedoman penetapan tarif PDAM berdasarkan Permendagri No. 23 Tahun 2006. "Hal utama dalam pembahasan ini adalah penjelasan mengenai perubahan

dalam perhitungan biaya usaha dan biaya dasar sebagai dasar penentuan tarif yang diterapkan PDAM," ujarnya. Dalam menyikapi problematika PDAM dalam penyesuaian tarif, yang paling utama adalah adanya akuntabilitas dari PDAM itu sendiri sehingga jika PDAM dapat meyakinkan setiap stakeholder, sehingga penyesuaian tarif tersebut akan mengikuti dengan sendirinya. FN

Open Partnership Meeting Program Cuci Tangan Pakai Sabun


rogram Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) merupakan inisiatif global untuk mempromosikan suatu pernyataan bahwa kebiasaan mencuci tangan pakai sabun dapat mengurangi terjangkitnya penyakit diare yang merupakan penyebab utama kematian balita di berbagai negara dewasa ini. Untuk memperkuat pencapaian sasaran, program ini dikemas dalam skema kemitraan pemerintah dan swasta (public private partnership/PPP). Untuk itu, Direktorat Penyehatan Lingkungan, Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP&PL), Departemen Kesehatan menggelar "Open Partnership Meeting: Program Cuci Tangan Pakai Sabun", Senin (9/7), di Gedung Depkes, Jakarta. Acara ini dibuka Nugroho Tri Utomo selaku perwakilan Bappenas dalam bidang air minum dan air limbah dan juga

ISSDP (Indonesia Sanitation Sector Development Program). Ia menyampaikan, dalam kegiatan ini tiap pihak agar dapat bekerjasama dalam kesetaraan berdasar-

kan kompetensi masing-masing. Hadir Suharman Noerman perwakilan Corporate Forum for Community Development (CFCD) yang membahas rencana strategi investasi sosial dari sudut pandang sebuah perusahaan dalam kaitannya dengan CTPS. "Kerjasama dalam CTPS ini dapat meningkatkan keuntungan sosial bagi perusahaan melalui brand image sustainable profit yang pada akhirnya juga akan berujung pada keuntungan finansial perusahaan," tuturnya. Berdasarkan pandangan CFCD, pemerintah dalam hal ini Menteri Kesehatan dirasakan perlu duduk bersama dengan para CEO perusahaan agar program-program sanitasi seperti CTPS ini dapat masuk dalam skema corporate social responsibility (CSR) perusahaan di masa yang akan datang. FN

38 Percik 2007 Agustus

S E PU TA R A M P L

Pertemuan Jejaring Komunikasi AMPL Ke-2


ntuk keduakalinya Pokja AMPL dan WASPOLA mengadakan pertemuan Jejaring Komunikasi AMPL sebagai tindak lanjut kesepakatan pada pertemuan jejaring pertama, Kamis (12/7), di ruang Sapta Taruna, Departemen PU. Pertemuan ini atas partisipasi Plan Indonesia dan IHE. Dalam sambutannya, Handi B. Legowo dari Direktorat Penyehatan Lingkungan & Permukiman, Ditjen Cipta Karya, Departemen PU mengatakan hasil temuan pada pertemuan jejaring pertama dimana strategi komunikasi antara pihak terkait pembangunan AMPL masih kurang efektif. "Selain itu kerjasama dan kolaborasi di antaranya dirasakan masih belum terlihat," katanya. Agenda pertemuan difokuskan untuk memperkuat keberadaan jejaring. Para peserta yang berasal dari unsur Pemerintah Pusat, LSM, PDAM, akademisi, dan media massa dibagi dalam tiga kelompok untuk menyusun identitas, pengelolaan, dan program jejaring. Setiap kelompok melakukan diskusi yang kemudian hasilnya diplenokan dalam forum bersama.

Dari hasil pemikiran kelompok pertama, ditentukan dasar visi dan misi jejaring ini. Dari hasil brainstorming kelompok pertama, visi jejaring ini adalah terbangunnya isu AMPL yang menjadi arus utama kebijakan. Kelompok kedua dengan tugas menentukan bagaimana pengelolaan jejaring ini di kemudian hari, mengusulkan untuk waktu yang akan datang yang akan mengurusi segala kebutuhan jejaring ini dilakukan oleh suatu sekretariat yang formal dan independen. Namun, berdasarkan jajak pendapat peserta di kelompok tiga, sebagai konsekuensinya setiap elemen yang ada dalam jejaring ini menyumbangkan resource-nya misalnya dalam hal pendanaan untuk membantu sekretariat Pokja AMPL bisa turut menjalankan fungsi sebagai koodinator dalam jejaring ini. Agenda utama lain, dilakukan penjajakan untuk menentukan steering committee (SC) jejaring ini. Pada awalnya SC hanya berisi orang-orang yang berasal dari lima lembaga terpilih berdasarkan suara terbanyak. Namun diputuskan SC terdiri tiap elemen dalam jejaring untuk mencapai keterwakilan suara tiap elemen. FN

Pelatihan Pengelolaan Data AMPL


alam rangka meningkatkan kapasitas perencanaan, monitoring, dan evaluasi pembangunan sektor air minum dan penyehatan lingkungan (AMPL), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengadakan "Pelatihan Pengelolaan Data Air Minum dan Penyehatan Lingkungan". Acara yang berlangsung tiga hari, 18-20 Juli 2007, bertempat di Gedung Bappenas, Jakarta. Bagian pertama pelatihan dijadikan perkenalan bagi peserta dalam pengadaan data. Dalam sesi yang berlangsung selama hari pertama ini diberikan pengenalan dasar-dasar metode penelitian. Penyaji dalam sesi ini dihadirkan seorang ahli statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS). Hari kedua dan ketiga, yang merupakan bagian utama pelatihan,

digunakan untuk membekali peserta agar bisa mengolah data dengan lebih baik. Salah satu cara dengan memperkenalkan software database DevInfo dengan bantuan fasilitator dari UNICEF Indonesia. DevInfo adalah sebuah software database untuk mengelola dan mempresen-

tasikan data-data indikator pembangunan sosial secara terintegrasi, lintas sektor, lintas wilayah geografis dan kelompok, lintas waktu serta lintas sumber data. Melalui DevInfo, data-data indikator dapat dihubungkan dengan berbagai tujuan dan sasaran pembangunan, konvensikonvensi dan kerangka logis program. Diharapkan pelatihan ini dapat dikembangkan dan digunakan dalam pengelolaan data yang lebih luas ditiap bidang selain AMPL. Selain itu, salah satu peserta menyampaikan ditahun mendatang pelatihan DevInfo ini dapat dimasukkan dalam anggaran salah satu rencana kegiatan daerah selanjutnya dalam pembangunan AMPL setelah melihat kegunaan-kegunaan DevInfo. FN

Percik Agustus 2007

39

S E PU TA R A M P L

Pelatihan Keterampilan Dasar Fasilitasi


irektorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Departemen Dalam Negeri kembali menggelar "Pelatihan Keterampilan Dasar Fasilitasi" pada 23-27 Juli 2007, di Yogyakarta. Dalam sambutannya, Direktur Sumber Daya Alam & Teknologi Tepat Guna, Ditjen PMD, Depdagri Johan Susmono menjabarkan tujuan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan peserta dalam memahami, membuat, serta menggunakan media fasilitasi untuk memotivasi dan memberikan dorongan kepada masyarakat. "Hal ini dilakukan agar kita bisa berperan aktif dalam setiap proses pembangunan," katanya. Pelatihan ini dihadiri 32 peserta yang berasal dari berbagai instansi baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah, yaitu Bappenas, Departemen Pekerjaan Umum, Bappeda, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Kesehatan, dan Badan Pemberdayaan Masyarakat. Dalam pelatihan ini peserta mendapatkan materi keterampilan dasar fasilitasi, meliputi komunikasi dalam fasilitasi, dinamika kelompok, metode fasilitasi, memilih, membuat, dan menggunakan media fasilitasi. Para peserta berkesempatan mengikuti praktek lapangan membuat media fasilitasi di Studio

Audiovisual PUSKAT, Yogyakarta. Peserta mengharapkan ada pelatihan khusus pembuatan media fasilitasi sehingga dapat meningkatkan pengetahuan peserta mengenai media-media yang dapat dipakai dalam berkomunikasi dengan masyarakat tentang permasalahan air dan penyehatan lingkungan yang terdapat di daerah peserta masing-masing. RDD

Workshop Perencanaan Strategi Komunikasi untuk Pembangunan AMPL

ejumlah peserta berdiskusi merumuskan pesan kunci untuk menumbuhkan kesadaran menyelamatkan lingkungan yang makin rusak di Bangka Belitung. Kerusakan tersebut disinyalir karena penambangan yang merusak sumber air, perilaku sanitasi yang buruk dari masyarakat, peran pemerintah yang belum optimal di bidang air minum dan penyehatan lingkungan (AMPL) dan perhatian DPRD yang masih setengah-setengah. Maka ketika inspirasi permasalahan tertuang menjadi pesan yang harus dikomunikasikan tercetus gagasan "Dicari pendekar lingkungan, selamatkan daerah kita sekarang juga!". Anggota kelompok yang terdiri dari Pokja Provinsi, media massa dan universitas menjadi antusias untuk mengembangkan ide menjadi salah satu strategi komunikasi yang taktis. Rencananya pro-

gram tersebut akan direalisasikan didukung anggaran tahun 2008. Diskusi tersebut merupakan salah satu sesi dalam "Workshop Perencanaan Strategi Komunikasi AMPL" di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang diselenggarakan pada 25-26 Juli 2007 oleh Pokja Provinsi. Acara ini dibuka Drs Rasyimin, Ke-

pala Biro Organisasi Provinsi Bangka Belitung, mewakili Gubernur. Dalam pidatonya gubernur menegaskan agar pembangunan AMPL dapat berjalan dengan lebih baik mengingat tingginya kebutuhan AMPL dan layanan yang masih belum optimal. "DPRD Provinsi juga telah memberikan dukungan terhadap program ini," tegasnya. Selama dua hari workshop yang difasilitasi tim komunikasi WASPOLA ini tidak hanya sekedar transfer ilmu komunikasi praktis, tetapi menggunakan prinsip komunikasi efektif "mendengar, melihat dan sekaligus mengerjakan". Metode learning by doing ini sekaligus memberikan pengalaman kepada peserta bagaimana menyusun strategi komunikasi yang tepat sasaran. WH

40 Percik 2007 Agustus

S E PU TA R A M P L

Melatih Konservasi Sumber Daya Air


ampung kami sekarang sudah bersih, sungainya mulai jernih. Kami tidak lagi berak di sungai. Enak deh pokoknya," tutur Yayah (36), warga Kampung Wangkal, Desa Kalijaya, Bekasi. Kondisi ini berkat bimbingan Program Cinta Air yang diprakarsai Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) dengan USAID/Indonesia. Salah satu puncak acara adalah dengan digelarnya Festival Cinta Air yang dipusatkan di Taman Menteng, Jakarta Pusat, pada Minggu (5/8). Tak hanya warga Kampung Wangkal, pelajar SD Negeri Sukadanau dan empat sekolah menengah atas dari Bekasi, yaitu SMU Negeri 2, SMU Negeri 6, SMU YPI 45, dan SMU Al-Azhar 4 Kemang Pratama pun dilibatkan. Beragam kegiatan digelar. Para pelajar yang tergabung dalam program Go Green School (GGS)/Sekolah Hijau menyuguhkan peragaan tentang terjadinya erosi, simulasi resapan air, kompos, dan kertas daur ulang. Sementara di atas panggung, warga Kampung Wangkal dan pelajar SD Negeri Sukadanu berbagi pengalaman dengan menyajikan hiburan berupa kesenian lenong. Deputy Chief Executive CCFI Triyono Prijosoesilo mengatakan, festival yang merupakan bagian dari Program Cinta Air ini sebagai wadah untuk menggambarkan keterlibatan masyarakat dan sarana pembelajaran dalam memelihara sumber air dan memperbaiki kualitas hidup. "Program ini sudah berjalan lebih dari satu tahun. Rencana selesai Agustus 2007 ini. Dan kita masih menggodog wilayah dan sekolah mana yang hendak mendapat bimbingan," ungkapnya. Menurut Triyono, memilih Taman Menteng sebagai tempat festival dimaksudkan memberikan sarana bagi masyarakat luas, khususnya warga ibukota, untuk mendapatkan pengetahuan ten-

Festival Cinta Air

"K

Suasana meriah saat pelaksanaan Festival Cinta Air yang melibatkan warga dan pelajar di Bekasi. Foto: Bowo Leksono

tang pemeliharaan sumber air dan peningkatan kualitas hidup. "Taman itu penting bagi warga ibukota sebagai tempat peresapan air dan area terbuka yang hijau," ujarnya. Pada acara festival itu, masyarakat sekitar dan pengunjung berkesempatan

mengikuti lomba menghias tong sampah serta kreasi dari barang-baran bekas. Tak lupa dilakukan pula penanaman pohon sebagai simbol intervensi melakukan konservasi sumber daya air sekaligus bingkisan oksigen dari masyarakat Bekasi untuk Jakarta. Bowo Leksono

SEJARAH TAMAN MENTENG


ebelum menjadi taman kota, tempat ini adalah sebuah Stadion Menteng dengan kapasitas 10 ribu penonton. Lapangan sepakbola yang juga markas Persija ini didirikan tahun 1921 dengan nama Voetbalbond Indische Omstreken Sport (Viosveld). Stadion ini dirancang arsitek Belanda, F.J. Kubatz dan P.A.J. Moojen. Dulu, digunakan sebagai pusat olahraga orang-orang Belanda. Dalam perkembangannya, sejak 1961 dan hingga sebelum menjadi Taman Menteng, stadion ini digunakan sebagai tempat berlatih dan bertanding tim Persija. Stadion sepakbola Persija ini menjadi salah satu kebanggaan warga

Jakarta dan paling bersejarah, baik sejarah Kota Jakarta maupun persepakbolaan di Jakarta dan Indonesia. Bahkan pada 1975, Surat Keputusan Gubernur Jakarta Tahun 1975 menetapkan stadion ini sebagai salah satu kawasan cagar budaya yang harus dilindungi. Dan pada masa pemerintahan Gubernur Sutiyoso, stadion bersejarah yang sudah berusia 84 tahun itu dirobohkan dan dialihfungsikan menjadi taman kota. Pada awalnya memang menuai protes, tapi akhirnya protes itu reda. Mungkin karena manfaat yang sudah mulai dirasakan dari keberadaan Taman Menteng. BW

Percik Agustus 2007

41

S E PU TA R A M P L

Promosi 7 Perilaku Hidup Sehat


ari-jari lentik anak-anak itu dibasuh di bawah kran air yang berjajar. Kemudian mereka mengambil sabun dan membilas kembali. Setelah dirasa bersih, sebuah handuk kecil diambil untuk mengeringkannya. Demikian perlombaan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) puluhan anak-anak di permukiman miskin RW 09, Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, Rabu (13/8). Kegiatan yang dipelopori Mercy Corps, sebuah lembaga non-pemerintah, ini juga menggelar lomba balita sehat, mewarnai gambar, menyusun piramida makanan, dan variasi makanan sehat. Tidak hanya warga RW 09, puluhan warga dari RW lain pun turut memeriahkan acara tersebut dengan memadati sepanjang jalan di bantaran kali Item. Kegiatan yang sekaligus untuk memeriahkan Agustusan adalah bagian dari kampanye perubahan perilaku yang dipromosikan Mercy Corps melalui program Senyum (Sehat dan Nyaman untuk Masyarakat).

Koordinator program Senyum Fadillah Effendi kepada Percik mengatakan program ini bertujuan mengurangi angka kekurangan gizi pada balita di wilayah perkotaan miskin. "Rendahnya perilaku pengasuhan anak yang rendah berpengaruh terhadap kesehatan balita," katanya. Berdasarkan penelitian lembaga ini, pada Oktober 2005 di 17 kelurahan di Jakarta Barat, Pusat dan Utara diketahui perilaku pengasuhan yang benar terhadap anak masih berada dalam tingkat yang rendah. Ditemukan perilaku buang air besar (BAB) di WC 44,5 persen, pemberian ASI lanjutan (6-24 bulan) 65,2 persen, kehadiran di Posyandu 1,94 persen, perilaku pemberian makanan beragam (nasi, sayur, dan lauk-pauk) untuk anak usia 6-24 bulan hanya sebesar 25,5 persen. Untuk itu sejak satu tahun silam, Mercy Corps mempromosikan tujuh perilaku hidup sehat yaitu, cuci tangan sebelum makan, cuti tangan setelah BAB, pemberian ASI sampai anak berusia 2 tahun, pemberian makanan bervariasi, jajanan sehat, BAB di WC, dan ke Posyandu setiap bulan. BW

Seminar "Air dan Kelestarian Lingkungan"

ecara umum krisis air di beberapa wilayah Indonesia sangat dirasakan dewasa ini. Pesatnya peningkatan jumlah penduduk, pembangunan permukiman, pertanian dan industri telah meningkatkan penggunaan air sehingga menyebabkan terjadinya kelangkaan air. Demikian yang terungkap pada Seminar Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu bertema "Air dan Kelestarian Lingkungan" yang digelar Kemitraan Air Indonesia (KAI) dan Global Water Partnership (GWP), Kamis (6/9), di komplek Departemen PU, Jakarta. Ketua Yayasan Garuda Nusantara, Ully Hary Rusady sebagai salah satu pembicara memaparkan, ketersediaan sumber daya air sebagai air baku tidak pernah bertambah sementara kebutuhan

air cenderung meningkat sejalan perkembangan penduduk dan pembangunan. "Agar kebutuhan air dapat tercukupi secara berkelanjutan, maka diperlukan upaya pengelolaan yang memadai baik

pengaturan tentang pelestarian potensi, pemanfaatan, distribusi maupun kelembagaan," tutur Ully yang juga seorang penyanyi itu. Ully menambahkan, sangat perlu adanya gerakan masyarakat yang mengacu pada tindakan nyata pelestarian air dan lingkungan di kawasan hulu/pegunungan darimana air mengalir menuju kawasan hilir. Peningkatan kebutuhan air juga dinyatakan I Gede Wenten dari Departemen Teknik Kimia ITB. Menurutnya selain kebutuhan domestik, air juga dibutuhkan untuk industri. "Untuk mengatasi kebutuhan air bagi industri, reklamasi sumber-sumber air merupakan salah satu cara, disamping sistem pengolahan limbah dengan konsep guna-ulang," ungkapnya. BW

42 Percik 2007 Agustus

S E PU TA R A M P L

Roadshow Program AMPL di Wilayah Indonesia Bagian Timur


L
okakarya Rencana Pemilihan Kabupaten untuk Program Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat di Wilayah Indonesia Bagian Timur digelar 8-9 Agustus 2007. Kegiatan ini merupakan bagian kerjasama RIUNICEF. Sebagai bagian dari kerjasama tersebut, Bappenas berkoordinasi dengan departemen teknis terkait (Departemen PU, Departemen Kesehatan, Departemen Dalam Negeri, Departemen Pendidikan Nasional) sedang menyiapkan program penyediaan air minum dan penyehatan lingkungan Wilayah Indonesia Bagian Timur. Pendanaan dari program ini berasal dari bantuan hibah Pemerintah Belanda dan Swedia. Tujuan dari program ini adalah meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat melalui perbaikan higienis dan peningkatan akses air minum dan sanitasi. Terdapat tiga komponen program yaitu penyediaan air, perbaikan sanitasi dan pengembangan higinitas pada daerah perdesaan, daerah kumuh perkotaan dan sekolah khususnya bagi masyarakat berpendapatan rendah secara partisipatif. Telah disepakati untuk melaksanakan program ini di 6 propinsi yaitu Provinsi NTB, NTT, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Ditargetkan program akan berlangsung minimal 25 kabupaten yang akan mencakup 180 desa dan

Foto: Bowo Leksono

melayani 320 ribu penduduk. Hasil-hasil lokakarya meliputi longlist kabupaten yang menjadi calon penerima bantuan Program WES (Water and Environmental Sanitation) UNICEF. Longlist kabupaten ini yang akan diundang dalam Roadshow Kabupaten di ibukota provinsi masing-masing untuk ditawari program tersebut dengan tetap menyertakan sejumlah kontribusi sebagai bagian dari rasa kepemilikan program ini di daerah. GT

Pelatihan Keterampilan Fasilitasi Dasar Region Timur

ebagai lanjutan penyelenggaraan Orientasi MPA/PHAST di Makassar, dalam mendukung program Pamsimas, Ditjen PMD Depdagri mengadakan Pelatihan Keterampilan Fasilitasi Dasar di Lombok, 29 Agustus-2 September 2007. Direktur SDA & TTG Depdagri, Johan Susmono memaparkan latar belakang pelaksanaan pelatihan ini berdasarkan kondisi lemahnya pemerintah dalam melakukan komunikasi pembangunan AMPL yang berujung pada tidak adanya keberlanjutan. Pelatihan dibagi dalam dua bagian, yaitu di kelas dan di lapangan. Di kelas, para peserta dilatih bagaimana melakukan pendidikan kepada orang dewa-

sa, memahami etika seorang fasilitator, mengetahui cara berkomunikasi dalam sebuah fasilitasi, memahami dinamika sebuah kelompok yang meungkin ada di masyarakat, memahami metode fasilitasi dan media komunikasi, serta memahami

Foto: Afif Numan

metode CLTS sebagai bagian dari skenario praktek di lapangan. Dari hasil evaluasi di lapangan, muncul kekhawatiran terjadinya masalah lain dari adanya CLTS yaitu pencemaran air tanah oleh jamban-jamban yang hanya dibuat sekedarnya apalagi jika tanpa pengawasan. Seorang fasilitator harus mengetahui kondisi ekonomi daerah yang akan dipicu melalui CLTS. Praktek pemicuan untuk pembangunan jamban yang sebenarnya disesuaikan kemampuan ekonomi masyarakat. Fasilitator juga perlu mengetahui kondisi daerah sebagai referensi jamban yang bisa digunakan di daerah pemicuan. FN

Percik Agustus 2007

43

PROGRAM

SMK Negeri 1 Surabaya

Menuju Sekolah Berbasis Lingkungan


E
kstrakulikuler (ekskul) di sekolah adalah wadah penyalur hobi siswa. Olahraga dan kesenian adalah dua bidang yang kerap paling banyak diminati para siswa. Kegiatan lain terkadang dianggap 'kelas kedua' bagi pilihan siswa. Kegiatan seperti kebersihan dan penyehatan lingkungan sekolah akan jauh dari peminat. Karena kegiatan ini

tak sekedar membutuhkan hobi tapi juga minat, kesadaran, dan keikhlasan yang tinggi. Dan bisa dipastikan tidak semua sekolah mempunyai ekskul bidang ini. Tapi bagi SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Negeri 1 Surabaya, ekskul tentang kebersihan dan kesehatan mendapat tempat di sekolah yang terletak di daerah Wonokromo, Kota Surabaya. Kegiatan ini tidak hanya diminati siswa namun juga menjadi perhatian pihak sekolah. "Kami memilih kaderkader lingkungan di sekolah ini dengan seleksi yang cukup ketat yang dibantu sepenuhnya oleh OSIS," ujar Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Drs. Suharto kepada Percik di ruang kerjanya beberapa waktu lalu. Saat ini, SMK dengan total siswa 2.405 ini telah memiliki kader lingkungan sejumlah 120 siswa untuk memotivasi dan memberi contoh siswa-siswa lain. "Penjaringan minat terhadap kegiatan ini dilakukan saat Masa Orientasi Siswa (MOS) baru pada awal tahun pelajaran," ungkap Suharto. Setelah terjaring, caloncalon kader itu mendapat bimbingan dari guru-guru pembimbing yang sudah mendapat pelatihan lingkungan. Uniknya, jenis kegiatan ini tidak dinamakan ekstrakulikuler namun pokja (kelompok kerja) berdasarkan surat keputusan kepala sekolah. Terbagi menjadi tiga, yaitu pokja penghijauan, pokja kebersihan, dan pokja kesehatan. Masing-masing mempunyai tugas yang saling berkaitan. Setiap pokja terdiri dari pengurus berjumlah delapan. Kendala SMK dengan delapan jurusan yaitu, sekretaris, akuntasi, penjualan, multimedia, televisi, animasi, perangkat lunak, dan telekomunikasi (yang merupakan gabungan antara SMEA dan STM) ini, menerapkan kebiasaan bekerja bakti pada setiap hari Jumat selama satu jam pelajaran. Diakui Suharto, pada awalnya sangat sulit mencari kader masuk ke pokja-pokja untuk membuat sekolah seluas dua hektar ini hijau dan bersih. "Saat di SMP, siswa tidak dikenalkan dengan kegiatan

Sudut sekolah yang dimanfaatkan untuk model pengolahan sampah Segitiga Angin. Foto: Bowo Leksono

44 Percik 2007 Agustus

PROGRAM

Ekskul kebersihan dan penyehatan lingkungan menjadi pilihan favorit di sekolah ini. Foto: Bowo Leksono

semacam ini karena itu kurang peminatnya," ujarnya. Tidak hanya itu, sekolah yang selalu langganan banjir karena letaknya yang lebih rendah dari daerah lain ini menjadi kendala tersendiri. "Biasanya setiap ada lomba kebersihan, kami pasti terbentur kendala penanganan banjir. Apalagi sering penilaiannya saat banjir tiba, pada-

hal untuk mempersiapkan sebuah lomba membutuhkan dana ratusan juta," tutur Suharto. Prestasi sekolah SMK Negeri 1 Surabaya adalah sekolah yang berlangganan mendapat penghargaan sekolah bersih dari berbagai lomba kebersihan di tingkat Provinsi

Tugu peringatan bebas asap rokok yang berada di pintu gerbang sekolah. Foto: Bowo Leksono

Jawa Timur, seperti Lomba UKS (Unit Kesehatan Sekolah) dan Toyota Eco Youth. Dan biasanya untuk maju ke tingkat nasional, sekolah ini gagal karena daerah langganan banjir. Untuk kegiatan pokja-pokja ini, dana dialokasikan secara khusus dari sekolah dan iuran siswa setiap awal tahun pelajaran. "Setiap siswa baru ditarik uang Rp 3 ribu saat MOS, setiap kelompok siswa diwajibkan membawa tanaman obat-obat keluarga (toga), bunga, buah, dan tanaman peneduh," ungkap Suharto. Devi Permatasari, salah satu kader lingkungan SMK N 1 Surabaya yang juga menjabat sebagai wakil ketua pokja kebersihan mengatakan sangat senang masuk kegiatan ini. "Saya jadi bisa belajar hidup berdisiplin di sekolah dan juga mendapat pengalaman dengan belajar membuat kompos," katanya. Dengan bimbingan guru, siswa-siswa juga diajarkan mengelola kompos baik dengan teknologi yaitu metode segitiga angin maupun manual untuk dipergunakan di lingkungan sekolah dan lingkungan sekitar sekolah. Sekolah ini sudah sejak tahun 2001 menerapkan program sekolah berbasis lingkungan sebagai salah satu syarat 'sekolah rintisan internasional'. Bowo Leksono

Percik Agustus 2007

45

A BS T R A K S I

Studi Alternating Upflow Anaerobic Double Filtration (AUAF) dalam Mengolah Limbah Domestik
lternating upflow anaerobic double filtration (AUAF) pada dasarnya merupakan hibrid atau turunan dari unit pengolahan upflow anaerobik filter (UAF). Filter pada dasarnya terbuat dari bahan keramik berbentuk cincin dengan diameter luar tidak lebih dari 0,8 cm dan diameter dalam tidak lebih dari 0,6 cm. Dengan terbuat dari keramik maka mikroorganisme yang menempel (attached), dalam hal ini kelompok bakteria, akan lebih cepat tumbuh dan dapat memperpendek waktu start-up dari instalasi (reaktor). Bentuk seperti cincin dengan panjang tidak lebih dari 0,8 cm juga memberikan tempat yang lebih luas untuk tumbuhnya bakteri. Rongga semacam itu juga memberikan bakteri dari kelompok suspended juga dapat tumbuh. Dengan demikian, UAF semacam ini merupakan gabungan dari sistem suspended dan attached growth. Dengan menempatkan filter di bagian atas saja, dalam hal ini hanya sebagian reaktor yang dipenuhi filter keramik, maka bagian bawah filter ditumbuhi bakteri suspended sebagaimana hal yang terjadi pada upflow anaerobik sludge blanket (UASB) yang bisa jadi sistem ini jauh lebih dikenal di Indonesia. UAF yang filternya hanya separuh ini ternyata akhirnya merupakan gabungan antara UAF dan UASB yang pada dasarnya penggabungan sistem attached dan suspended growth secara keseluruhan. Tentu saja sistem ini menjadi unggul karena dapat menggabungkan ke dua sistem pengolahan anaerobik yang ada. Karena merupakan double-filtration, maka tersedia 2 (dua) unit reaktor, dimana efluen dari reaktor yang satu masuk ke reaktor yang lain. Pemisahan

semacam ini memberikan kondisi yang lebih dominan kepada proses hidrolisis di reaktor pertama dan proses methanogenis di reaktor ke dua. Dengan demikian, kinerja dari UAF benar-benar lebih dapat ditingkatkan lagi. Penukaran aliran dimana reaktor pertama ditukar menjadi reaktor kedua pada saat kinerja reaktor tercatat menurun karena adanya berbagai hal (khususnya buntu), ternyata memang dapat meningkatkan kinerja reaktor kembali ke kondisi semula secara cepat. Keadaan ini membuktikan bahwa penukaran proses dari hidrolisis ke methanogenesis dan sebaliknya dapat berlangsung dengan sangat mudah, meskipun kondisi ini terjadi pada reaktor anaerobik yang konon dipercayai punya kinetika yang jauh lebih rendah dari reaktor aerobik.

Karena AUAF menggunakan air limbah domestik dengan waktu tinggal sekitar 5 (lima) jam, keadaan ini membuktikan bahwa sistem anaerobik juga mampu mengolah limbah organik dengan kadar COD rendah ( 300 mg/l) dalam waktu yang relatif singkat. Biogas yang dihasilkan ternyata juga mempunyai kadar CO2 yang tidak lebih dari 20 persen selama hampir 300 hari reaktor ini dijalankan dengan berbagai beban kejut (shock loading) yang dilakukan.
Disarikan dari disertasi Eddy Setiadi Soedjono di Birmingham University Inggris. Eddy Setiadi Soedjono adalah dosen Senior Teknik Lingkungan ITS Surabaya dan Sekretaris Unit Pengkajian Pengembangan Potensi Daerah (UP3D) - Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITS

Masih banyak rumah warga yang membuang limbahnya ke sungai. Foto: Bowo Leksono

46 Percik 2007 Agustus

K L I N I K I AT P I
Majalah Percik bekerja sama dengan Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia, membuka rubrik Klinik. Rubrik ini berisi tanya jawab tentang air minum dan penyehatan lingkungan. Pertanyaan dapat disampaikan melalui redaksi Majalah Percik Kontributor: Sandhi Eko Bramono (Sandhieb@yahoo.com), Lina Damayanti (Ldamayanti@yahoo.com)

Air Limbah
Tanya : Saat saya membeli rumah saya, ternyata tidak terdapat tangki septik untuk mengolah air limbah domestik (semua buangan domestik langsung masuk ke saluran pembuangan di luar atau got). Lahan yang tersedia di rumah saya sangat terbatas dan sepertinya memang tidak memungkinkan untuk membangun tangki septik. Namun saya berencana membuat bak penampung kaporit (Ca(ClO)2) untuk membubuhkannya sebelum air limbah tersebut masuk ke got. Apakah cara ini cukup efisien dan efektif ?
Eng Tat, Medan

Jawab : Teknik pembubuhan desinfektan sebenarnya dilakukan untuk proses oksidasi, khususnya senyawa organik dan mikroorganisme patogen yang terkandung dalam air limbah. Hanya saja, pengolahan dengan cara ini (proses kimiawi) relatif lebih mahal ketimbang pengolahan limbah secara umum yang menggunakan proses biologi. Proses biologi yang terdapat pada pengolahan air limbah, bertujuan untuk mengurangi kandungan senyawa organik secara signifikan, sehingga di akhir proses, penyempurnaan proses dapat dilakukan dengan pembubuhan desinfektan dalam dosis yang lebih rendah. Dengan kata lain, proses desinfeksi merupakan proses tambahan (hanya sebagai polishing process) untuk menyempurnakan proses sebelumnya, yang memberikan biaya pengoperasian total secara lebih hemat. Dengan penggunaan proses kimiawi saja (seperti yang akan anda lakukan), maka dosis desinfektan yang dibutuhkan menjadi sangat banyak, untuk menghasilkan kualitas air limbah terolah yang sama dengan kualitas pengolahan yang didahului dengan proses biologi, serta biaya yang dibutuhkan menjadi sangat tinggi. Selain itu, terdapat peluang pembentukan senyawa karsinogenik (senyawa pencetus penyakit kanker) yang berlebihan, yang dikenal sebagai senyawa Tri Halo Methane (THM) akibat reaksi senyawa organik kadar tinggi dengan kaporit. Hal ini cukup membahayakan, mengingat senyawa ini akan masuk ke got, mengalir ke sungai, yang akhirnya menjadi sumber air minum untuk air baku PDAM. Untuk mengatasi permasalahan di rumah Anda, penggunaan tangki septik tetap dibutuhkan. Namun anda dapat menyiasatinya untuk membuat tangki septik bersama (komunal) dengan beberapa rumah di sekeliling Anda, yang belum memiliki tangki septik. Pengelolaannya juga menjadi tanggung jawab bersama seluruh pemanfaat tangki septik tersebut.

Foto: Bowo Leksono

Persampahan
Tanya : Saya saat ini sedang mengembangkan pengomposan skala rumah tangga di rumah saya, dengan menggunakan sampah sisa makanan. Karena jarak yang cukup jauh dan keterbatasan biaya untuk memeriksakan kompos yang saya produksi ke laboratorium, maka sangat sulit bagi saya untuk mengetahui kematangan kompos yang ada. Apakah ada cara visual yang relatif mudah untuk mengetahui kompos yang sudah matang ?
Simandjuntak, Pematang Siantar

Untuk mengetahui kematangan kompos secara visual, dapat dilakukan beberapa cara (meskipun kurang akurat), tanpa melakukan pemeriksaan laboratorium. Umumnya kompos yang sudah matang ditandai dengan suhu yang sudah mendekati suhu lingkungan (setelah mengalami kenaikan suhu sebelumnya), tidak ada lagi bau (karena senyawa organik sudah teroksidasi menjadi senyawa anorganik), tidak ada lagi pertumbuhan larva atau mengundang serangga seperti lalat dan lipas (karena senyawa organik yang menjadi makanan serangga sudah teroksidasi menjadi senyawa anorganik), serta munculnya bercak putih keabu-abuan pada kompos (merupakan pertumbuhan jamur Actinomycetes sp., yang mengkonsumsi senyawa berikatan dengan NO3- hasil degradasi senyawa berikatan dengan NH4+). Cara yang akurat tentu saja dengan pemeriksaan di laboratorium, yang mencakup pemeriksaan penurunan kadar Chemical Oxygen Demand (COD), penurunan kadar Volatile Suspended Solid (VSS), penurunan kadar C / N, penurunan senyawa berikatan NH4+, serta peningkatan senyawa berikatan NO3.

Percik Agustus 2007

47

I N F O B U KU

Menuju Sekolah Berwawasan Lingkungan


asalah lingkungan hidup adalah masalah bersama. Hanya dengan menjadikan ini kepedulian dan upaya bersama, sumberdaya alam, manusia masih dapat berharap bahwa alam dan sumberdayanya bisa terselamatkan. Di sinilah sekolah diharapkan dapat menjalankan peran kunci, untuk membangkitkan kepedulian lingkungan pada generasi muda sebagai calon pengambil keputusan di masa mendatang. Untuk mendukung upaya-upaya sekolah di Indonesia menuju "Sekolah Hijau" (Green School) dan mendorong perilaku ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari yang dimulai dari sekolah, maka digulirkan program Go Green School. Program ini ditujukan bagi sekolah di perkotaan dengan

Judul GO GREEN SCHOOL: MENUJU SEKOLAH HIJAU Penulis: Tim Perumus Konsep Go Green School (GGS) Penerbit: Jakarta, KEHATI, 2006 Tebal: 16 halaman (cetakan kedua, revisi)

pertimbangan bahwa pertumbuhan masyarakat perkotaan sangat pesat. Sekolah Hijau yaitu sekolah yang memiliki komitmen dan secara sistematis mengembangkan program-program un-

tuk menginternalisasikan nilainilai lingkungan ke dalam seluruh aktifitas sekolah. Konsep sekolah hijau yang dikembangkan oleh Program GGS dapat dilihat dalam buku ini. Buku dengan tebal 16 halaman ini berisi penjelasan mengenai Sekolah Hijau, kerangka program Sekolah Hijau (indikator dan tahapannya) serta satu buah contoh program Sekolah Hijau serta kegiatannya. Diharapkan dengan buku ini, sekolah yang menerapkan program GGS menjadi sekolah yang berwawasan lingkungan dan warganya memiliki kesadaran lingkungan serta mewujudkannya melalui perilaku yang ramah lingkungan untuk meningkatkan mutu hidup. BW

Belajar Sampah Sejak Dini

uku bertajuk "Perjalanan si Hijau" ini berupa paket modul untuk siswa Sekolah Dasar, berisi gambaran kegiatan dan informasi yang terkait persoalan sampah. Modul yang diperuntukkan bagi siswa kelas 5 dan 6 Sekolah Dasar ini dikemas dengan cerita yang sangat menarik dan disertai ilustrasi/gambar-gambar dengan warna yang penuh. Buku yang bermateri sampah ini menjadi panduan siswa untuk mata pelajaran muatan lokal (mulok) Sekolah Dasar di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Karena itu, cerita dan gambar yang ada berlatar laut dan pantai. Namun, tidak berarti buku ini hanya untuk petunjuk bagi siswa-siswa Sekolah

an. Pada bab II, tibalah anak-anak di Pulau Kelapa untuk kemudian bermain PERJALANAN SI HIJAU penyelamat pulau di bab III. Penulis: Anak-anak bertemu dengan Tim Modul Pak Jain di bab IV dan mere"Perjalanan si Hijau" ka belajar mengelola samPenerbit: pah sampai akhirnya mereJakarta, Yayasan KEHATI ka berhasil membuat komTebal: pos yang menyuburkan 36 halaman tanah di bab V dan membuat kerajinan tangan dari sampah di bab VI. Semua itu kemudian bisa dinikmati dengan cara dipamerkan di bab VII. Dasar yang berada di pinggir pantai saja. Buku berupa modul ini tak akan Pembahasan materi sampah dalam buku berguna sama sekali bila tidak diajarkan modul ini dikemas universal yang mudah terlebih dipraktekan pada siswa. Medipahami oleh anak-anak. nariknya, di Kabupaten Administrasi Terdiri dari tujuh bab dan beberapa Kepulauan Seribu, materi sampah ini tambahan tentang ulasan seluk-beluk menjadi mata pelajaran muatan lokal. sampah. Dibuka dengan salam perkePatut diikuti Sekolah Dasar lain di selunalan dan memasuki bab I mengajak ruh Indonesia. BW anak-anak mengarungi sungai dan lautJudul

48 Percik 2007 Agustus

INFO SITUS
Klub Tunas Hijau
http://www.tunashijau.org/

itus ini berisi bermacam informasi seputar kegiatan di dunia lingkungan hidup yang melibatkan anak-anak. Melalui berbagai menu seperti program kegiatan, galeri foto, poster, komik, lagu, jaringan sekolah hijau, dan informasi lainnya. Situs ini dikelola oleh Klub Tunas Hijau (KTH), sebuah organisasi lingkungan hidup non-profit, yang besar dari the young people yang berbasis di Surabaya. KTH berawal dari pengiriman 5 orang Pramuka dari Jawa Timur ke Australia Maret 1999. Sejak itu, KTH terus konsisten dalam melakukan upayaupaya nyata untuk membantu lingkungan hidup menjadi lebih baik. KTH selalu melibatkan lembaga swasta dalam melaksanakan program-programnya. Dengan prinsip hubungan simbiosis mutualisme kerjasama terus dikembangkan. KTH rutin melakukan kegiatan ke sekolahsekolah dan daerah-daerah lain di luar Kota Surabaya.

rakat. Sasaran program-program yang dijalankan PPLH Bali adalah masyarakat luas mulai anak-anak hingga yang dewasa. PPLH Bali bekerja dengan semua lapisan masyarakat seperti pelajar, guru, lembaga pemerintah maupun non-pemerintah dan juga individu-individu yang mempunyai kepedulian terhadap lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Berbagai info program, kegiatan, info lingkungan, dan yang paling menarik info perpustakaan seputar lingkungan bisa diperoleh di situs ini. Berdiri sejak 14 Juni 1997, PPLH Bali menjalin hubungan kerja sama dengan lembaga pemerintah maupun nonpemerintah, dengan masyarakat lokal dan internasional. Yang menjadi inti dari program yang dijalankan PPLH Bali ini adalah pendidikan lingkungan dan pendampingan masyarakat.

Yaysan KEHATI, The Centre for The Betterment of Education (CBE), dan Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) menggulirkan program Go Green School (GGS) untuk memotivasi sekolah, khususnya sekolah menengah tingkat atas menjadi "sekolah hijau".

http://www.greenschools.net

Perkumpulan Sekolah Hijau

itus ini milik Perkumpulan Sekolah Hijau yang berdiri pada 2004 oleh para orang tua yang merasa prihatin bagaimana lingkungan hidup bagi anakanak mereka kelak. Kemudian bersamasama mengusulkan pada tiap sekolah untuk menciptakan sekolah sehat di Amerika Serikat. Informasi berupa berita dan artikel seputar sekolah hijau terdapat di sini. BW

PPLH Bali
http://www.pplhbali.or.id
elamat datang di pusat pendidikan lingkungan hidup. Demikian tampilan awal situs milik Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Bali yang lebih dikenal dengan nama PPLH Bali. Ini sebuah lembaga non-pemerintah yang nirlaba dan bergerak dibidang pendidikan lingkungan dan pendampingan masya-

http://www.kehati.or.id/GGS
nformasi sekitar "sekolah hijau" atau green school terdapat pada situs ini. Situs lingkungan ini milik Yayasan KEHATI (Keanekaragaman Hayati), sebuah lembaga penyandang dana yang bersifat nirlaba, mandiri dan peduli terhadap kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia dan manfaatnya yang berkelanjutan, adil dan merata.

Yayasan KEHATI

Percik Agustus 2007

49

INFO CD

Air Kehidupan
alau musim kemarau panjang mencari air susah, berjalan berkilokilo," ucap seorang ibu warga Desa Sumberharjo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah di saat musim kemarau melanda. Di desa itu dan beberapa desa tetangga lainnya, telaga atau danau yang lokasinya cukup jauh, menjadi andalan kebutuhan air. Padahal, air di telaga itu secara kualitas kurang memenuhi syarat bersih. Bayangkan, semua aktifitas manusia dilakukan di telaga itu, bahkan untuk memandikan hewan piaraan. Gambaran nyata ini terangkum pada sebuah video dokumenter yang memaparkan krisis air bersih di Kabupaten Wonogiri. Video yang diproduksi Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Depdagri ini bahkan meng-

"K

ungkap betapa tragisnya warga yang kekurangan air bersih. Warga rela berjalan jauh di malam hari, mencari sumber mata air ke gua. Krisis air adalah tragedi yang men-

dorong manusia untuk lebih mendekati pencipta-Nya. Ketika karunia air hujan diturunkan sebagai pelipur lara setelah kesedihan yang berkepanjangan. Air hujan turun. Penduduk pun tak menyia-nyiakan, memanfaatkan tiap tetes yang turun untuk keperluan hidup. Hujan telah membawa kehidupan kembali. Namun, jaminan ketersediaan air tak bisa hanya mengandalkan hujan. Warga harus bersegera mencari sumber air baru untuk keberlanjutan kehidupan. Video dokumenter ini hasil kerja proyek penyediaan Air Bersih dan Penyehatan Lingkungan bagi Masyarakat Penghasilan Rendah (ABPL-MPR). Proyek dengan dana dari Bank Dunia, Pemerintah dan partisipasi masyarakat ini, telah membantu ketersediaan air bersih. BW

Prahara Air
eberapa tahun terakhir, musim kemarau membawa banyak bencana. Kekeringan terjadi dimana-mana, khususnya di Pulau Jawa. Ribuan hektar area sawah tak teraliri air. Ribuan warga tak memperoleh akses air bersih. Sumur dan sumber air lainnya mengering. Sungai, danau atau situ, menjadi tempat alternatif warga dalam mendapatkan air bersih. Bahkan sebagian warga diantaranya memang mengandalkan tempat-tempat ini sebagai sumber air yang utama bagi kehidupan mereka. Celakanya, debit air sungai dan danau itu pun turut menyusut dan selama beberapa bulan berselang tak bisa dihindari dari kekeringan sama sekali. Untuk kelangsungan hidup, warga tak putus asa mencari sumber-sumber air meski berkilo-kilo meter jauhnya. Warga lain mencari jalan dengan membeli air dari mobil-mobil tangki atau sekedar menunggu bantuan air bersih dari Pemerintah.

Banyak ahli mengaitkan, perubahan iklim ini sebagai gejala pemanasan global. Musim kemarau panjang, seperti halnya kemarau tahun-tahun lalu, berlangsung lebih lama. Di Indonesia, seperti sebuah kelaziman, musim kemarau maupun penghujan sama-sama membawa bencana. Tak luput dari kelalaian manusia terhadap kelangsungan alam dan lingkungan, yang pada akhirnya air menjadi prahara bagi kehidupan manusia. Fenomena inilah yang ditangkap Cinema Lovers Communtiy dalam sebuah film dokumenter pendek. Film dengan latar kelangkaan air bersih ini bercerita dari sudut manusia yang mengalami bencana kekeringan melalui testimony. Lokasi kekeringan adalah di Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah dan di Gunung Kidul, Provinsi DIY. Film berdurasi 10 menit ini rencananya hendak diikutkan diberbagai ajang festival film independen bertema lingkungan hidup. BW

50 Percik 2007 Agustus

PU S TA K A A M P L

L A P O R A N
FINAL REPORT STUDY ON GOVERNMENT'S KNOWLEDGE, ATTITUDES AND MOTIVATIONS ON PRO-POOR SANITATION Penerbit: Indonesia Sanitation Sector Development (ISSDP), The World Bank, Jakarta, Februari 2006 STUDY ON SANITATION IN LOW INCOME URBAN COMMUNITIES IN BLITAR CITY: FAST TRACK ACTIVITIES Penerbit: ISSDP-WSP (Water and Sanitation Program), Jakarta, Februari 2006 LAPORAN PENILAIAN RISIKO KESEHATAN LINGKUNGAN KOTA BANJARMASIN, 5 APRIL 2007 Penerbit: ISSDP-WSP (Water and Sanitation Program), Jakarta, April 2006 LAPORAN DAERAH KEMAJUAN PELAKSANAAN PROGRAM KEGIATAN TENGAH TAHUNAN 2007 Penerbit: Ditjen Bina Pembangunan Daerah, Depdagri, Jakarta, 2007 LAPORAN PERTEMUAN PERENCANAAN AIR MINUM DAN P E N Y E H ATA N LINGKUNGAN Penerbit: Dirjen Bina Pembangunan Daerah, Depdagri, Jakarta, 2007

BUKU

AIR SEHAT UNTUK KEHIDUPAN (SERI GAYA HIDUP SEHAT) Penerbit: Tabloid Gaya Hidup Sehat, Jakarta, 2007 THE ULTIMATE WATER RESOURCE GUIDE Penerbit: Benson Media Group, Singapura, 2007 SANITATION AND HYGIENE PROMOTION - PROGRAMMING GUIDANCE Penerbit: Water Supply and Sanitation Collaborative Council (WSSCC) and World Health Organization (WHO), Swiss, 2005 BUMIKU BERSELIMUT KABUT (SERI PEDULI LINGKUNGAN) Penerbit: Proyek BEJIS (BAPEDAL East Java Institutional Strengthening Project) Aus-AID, Surabaya, Juni 2005

MA JALAH

AIR BELANDA INDONESIA Edisi Khusus, Juni 2007 WATER & WASTEWATER ASIA Edisi Mei/Juni 2007 AIR MINUM Edisi 142, Juli 2007 PERCIK Edisi 18, April English Version PERCIK YUNIOR Edisi 03, Agustus 2007

P E R AT U R A N

PERMENDAGRI NOMOR 7 TAHUN 1998 TENTANG KEPENGURUSAN PDAM HIMPUNAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG: PERDA NOMOR 11, 12, 13 TAHUN 2002 (INDONESIA/ENGLISH) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN DAN PENJELASANNYA

2007,

Percik Agustus 2007

51

A G E N DA

NO W A K T U
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 04-05 Juli 2007 05 Juli 2007 09 Juli 2007 10-13 Jul 07 12 Juli 2007 16 Juli 2007 23-27 Juli 2007 23-24 Juli 2007 25-26 Juli 2007 25-26 Juli 2007 30 Juli -1 Agustus 2007 31 Juli 2007 05 Agustus 2007 06 Agustus 2007 7- 8 Agustus 2007

16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32

07 Agustus 2007 8 - 10 Agustus 2007 13 - 15 Agustus 2007 13 - 15 Agustus 2007 15 Agustus 2007 20 -25 Agustus 2007 23 Agustus 2007 21 Agustus 2007 21 Agustus 2007 22-24 Agustus 2007 22 - 24 Agustus 2007 23-24 Agustus 2007 27 Agustus 2007 27-28 Agustus 2007 28 - 31 Agustus 2007 29 Agustus 2007 29-31 Agustus 2007

Lokakarya Finalisasi Renstra Kebijakan AMPL-BM di Timor Tengah Selatan, NTT, diselenggarakan oleh WASPOLA Water Dialog: "Pembahasan Buku Putih Sanitasi" di Sekretariat Pokja AMPL, diselenggarakan oleh ISSDP Open Partnership Meeting Program Cuci Tangan Pakai Sabun di Departemen Kesehatan, Jakarta diselenggarakan oleh Departemen Kesehatan Lokakarya Penyusunan Kebijakan AMPL-BM di Konawe Selatan, Sulawesi Utara, diselenggarakan oleh WASPOLA Pertemuan Jaringan Komunikasi AMPL di Jakarta, diselenggarakan oleh Pokja AMPL, WASPOLA, Plan Indonesia dan IHE Indonesia. Pembahasan Hasil Studi Small Scale Water Provider (SSWP) di Bappenas, Jakarta, diselenggarakan oleh WASPOLA Lokakarya Fasilitasi Dasar diselenggarakan di Yogyakarta oleh Ditjen PMD Depdagri Lokakarya Penyusunan Kebijakan AMPL-BM di Kab. Bangka, Bangka Belitung, diselenggarakan oleh WASPOLA Lokakarya Penyusunan Kebijakan AMPL-BM diselenggarakan di Kab. Jeneponto, Sulawesi Selatan dan Bone Bolango, Gorontalo oleh WASPOLA Lokakarya Penguatan Strategi Komunikasi Kebijakan AMPL-BM diselenggarakan di Propinsi Bangka Belitung oleh WASPOLA Pertemuan Koordinasi Nasional Pelaksanaan Kebijakan Nasional AMPL Wilayah Timur, diselenggarakan di Makassar oleh Ditjen Bina Bangda Departemen Dalam Negeri Talkshow: Optimasi Peran Berbagai Pihak untuk Percepatan Pembangunan Sanitasi diselenggarakan di program Public Corner, Metro TV oleh ISSDP Festival Cinta Air di Taman Menteng, Jakarta Pusat diselenggarakan oleh Coca Cola Foundation Indonesia dan USAID Ramah Tamah dengan Media: Sosialisasi Rencana KSN 2007 diselenggarakan di Jakarta oleh ISSDP Pertemuan Koordinasi Nasional Pelaksanaan Kebijakan Nasional AMPL-BM dengan Tim Pokja AMPL Propinsi Sumatera Barat, Bangka Belitung, Banten dan Jawa Tengah di Bandung, diselenggarakan oleh Ditjen. Bina Bangda Departemen Dalam Negeri. Rapat Pokja AMPL Propinsi Banten di Bappeda Propinsi Banten diselenggarakan oleh Pokja AMPL Propinsi Banten Lokakarya Program Penyehatan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat Kerjasama RI-UNICEF di Jakarta, diselenggarakan oleh Pokja AMPL-UNICEF Lokakarya Sosialisasi Kebijakan Nasional AMPL-BM di Sumba Timur diselenggarakan oleh WASPOLA Lokakarya Finalisasi Renstra Kebijakan AMPL-BM diselenggarakan di Gowa, Sulawesi Selatan oleh WASPOLA National Asset Management Program Assessment (NAMPA) Inception Seminar, diselenggarakan oleh GHD di Jakarta Lokakarya Dasar Fasilitasi diselenggarakan di Makassar oleh Ditjen PMD, Departemen Dalam Negeri. Lokakarya Finalisasi Renstra Kebijakan AMPL-BM diselenggarakan di Tanah Datar, Sumatera Barat oleh WASPOLA Rapat Jejaring Komunikasi AMPL ke-3, diselenggarakan di Bappenas oleh Pokja AMPL,WASPOLA dan Europromocap IWAT Konferensi Pers dengan Topik "Potret Keberhasilan Pengelolaan Sanitasi Perkotaan" diselenggarakan di Petojo, Jakarta Pusat oleh ISSDP Lokakarya Penyusunan Renstra AMPL-BM diselenggarakan di Sumba Timur, NTT oleh WASPOLA Lokakarya Penyusunan Renstra AMPL-BM diselenggarakan di Jeneponto, Sulawesi Selatan oleh WASPOLA Lokakarya Penyusunan Renstra Kebijakan AMPL-BM diselenggarakan di Kabupaten Bangka, Bangka Belitung oleh WASPOLA Konferensi Pers; Pemerintah Menyerukan Peningkatan Perilaku Sehat diselenggarakan di Jakarta oleh ISSDP Meeting Persiapan Implementasi Strategi Komunikasi Pokja AMPL Kabupaten dan Kunjungan Forum Komunikasi Kecamatan diselenggarakan di Kebumen, Jawa Tengah oleh WASPOLA Rakornas Kemajuan Pencapaian Operasionalisasi Kebijakan Daerah Dampingan 2004-2005 diselenggarakan di Denpasar, Bali oleh WASPOLA Talkshow: Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Serta Teknologi Sanitasi yang Terjangkau diselenggarakan di Program Saatnya Bekerja, TVRI oleh ISSDP Lokakarya Dasar Fasilitasi diselenggarakan di Mataram, NTB oleh Ditjen PMD Departemen Dalam Negeri

K E G I ATA N

52 Percik 2007 Agustus

G L O SSA RY
Pressure relief valve
Disebut juga dengan safety valve - Katup pelepas tekanan yang bekerja otomatis jika terjadi peningkatan tekanan yang berlebihan dalam suatu jaringan pipa.

Pressure sewers
Disebut juga Pressurized (sewer) system - Sistem jaringan air limbah yang dilengkapi pompa untuk mengalirkan air limbah tersebut dari daerah pelayanannya ke lokasi pengolahan, baik untuk sebagian daerah pelayanannya (sebagian lagi gravitasi) atau keseluruhannya.

Pretreatment - Pengolahan pendahuluan


Proses penyingkiran/penyaringan/pemisahan benda-benda yang terapung serta benda yang mengendap dari air yang diolah.

Primary channel - Saluran primer


Bagian dari jaringan sistem saluran drainase utama yang alirannya menuju pembuangan akhir (badan air penerima).

Primary sedimentation tanks


Tanki sedimentasi pertama - Tanki tempat proses pengendapan yang pertama (utama) dilakukan dari beberapa tanki sedimentasi yang ada dalam suatu rangkaian proses pengolahan.

Primary mains
Disebut juga Arterial mains/Primary distribution main - Pipa distribusi air bersih yang mengantarkan air dari sumber/ instalasi/reservoir distribusi ke jaringan distribusi (sekunder, tertier) di semua daerah / distrik pelayanan.

Primary treatment
Tahap pengolahan yang membuat perubahan terbesar/ dominan terhadap bahan yang diolah.

Primary (water / waste water) treatment


Pengolahan air bersih/limbah pertama - Proses pengolahan air bersih/limbah yang bertujuan untuk menghilangkan zat padat (pencemar) yang tercampur melalui proses pengendapan atau pengapungan.

Privy - Kakus
Sarana sanitasi individual atau komunal sangat sederhana yang berfungsi sebagai tempat buang air besar.

Probability - Probabilitas
Disebut juga Probabilita/Peluang/Kemungkinan/Terkaan.

Process oxidator
Unit pengolahan paket yang menggabung proses Pre-aerasi dengan Sedimentasi.

Promethium
Unsur Prometium (Pm) yaitu unsur kimia dengan nomor atom 61 serta massa atom 144,9128

Propeller - Baling baling


Komponen berputar yang menimbulkan turbulensi terhadap zat (air, gas) yang mendekatinya

Proper pipe material


Salah satu tindakan preventif untuk mengatasi bahaya korosi pada pipa, yakni dengan memilih jenis pipa yang sesuai/ mampu mengatasi kondisi tanah setempat. Dikutip dari Kamus Istilah dan Singkatan Asing Teknik Penyehatan dan Lingkungan Penerbit: Universitas Trisakti