Anda di halaman 1dari 60

15 Juta KK di Indonesia Belum Peroleh Akses Air Minum

Edisi II, 2010

Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan


Diterbitkan oleh Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL) Penanggung Jawab Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas Direktur Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Direktur Pengembangan Air Minum Kementerian Pekerjaan Umum Direktur Bina Sumber Daya Alam dan Teknologi Tepat Guna Kementerian Dalam Negeri Direktur Fasilitasi Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup Kementerian Dalam Negeri Pemimpin Redaksi Oswar Mungkasa Dewan Redaksi Maraita Listyasari Nugroho Tri Utomo Redaktur Pelaksana Eko Budi Harsono Desain dan Produksi Agus Sumarno Sofyar Sirkulasi/Sekretariat Agus Syuhada Nur Aini Alamat Redaksi Jl. RP Soeroso 50, Jakarta Pusat. Telp./Faks.: (021) 31904113 Situs Web: http//www.ampl.or.id e-mail: redaksipercik@yahoo.com redaksi@ampl.or.id Redaksi menerima kiriman tulisan/artikel dari luar. Isi berkaitan dengan air minum dan penyehatan lingkungan.

Daftar

Isi

Dari Redaksi ............................................................................................................. 3 Suara Anda................................................................................................................ 4 Laporan Utama Kisah Sistem Multi Desa di NTT................................................................... 5 Bercermin dari Sistem Multi Desa di Kodi Utara NTT.................................. 8 Bernd Ugner, Menitikkan Air Mata Berkisah Perjuangan Bocah NTT Menghargai Air minum..................................................................... 12 Regulasi Pengaturan Tata Kelola Air Perlu Payung Hukum Kuat............................... 15 Agenda Hari Lingkungan Hidup Sedunia..................................................................17 Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Dunia.................. 20 Wacana 15 Juta KK di Indonesia Belum Peroleh Akses Air Minum ........................ 22 Studi BPSAB di 5 Kabupaten Jawa Barat dan Jawa Timur.......................... 27 Wawancara Budi Yuwono, Direktur Jenderal Cipta Karya ............................................ 31 Inovasi Teknologi Sederhana Mengubah Air Hujan Siap Minum ......................... 34 Lewat Proses Ozon dan Filter Air Gambut Jadi Bersih ...............................36 Sisi Lain Krisis Air dan Tingkat Ketahanan Air Indonesia......................................... 38 Testimoni Teti Suryani, Sang Guru yang Jadi Komposer Sampah.................................................... 42 Reportase Roadshow Sanitasi Total Berbasis Masyarakat di Grobogan...................... 44 Pertemuan Konsolidasi Pembangunan AMPL Tahun 2010.........................45 Forum Tingkat Tinggi Menteri Lingkungan Dampak Krisis Air Bagi Masyarakat Umum, Perempuan dan Anak-Anak.. 46 Pameran INDOWATER 2010...................................................................... 48 Air Tanah di Jakarta Tidak Layak Konsumsi............................................... 49 Panduan Kiat Mudah Buat Distalator Surya untuk Pemurnian Air............................ 52 Info CD..................................................................................................................... 54 Info Buku................................................................................................................. 55 Info Situs ................................................................................................................. 56 Pustaka AMPL......................................................................................................... 57 Fakta Fakta Terkait Kelangkaan Air.......................................................................58

Dari Redaksi
embangunan air minum dan penyehatan lingkungan dalam waktu sepuluh tahun terakhir telah mengalami banyak perubahan mendasar. Terutama dengan telah disepakatinya pada tahun 2003 Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat dan berperannya Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL) secara optimal dalam pembangunan AMPL. Kondisi ini mendorong maraknya pembangunan AMPL berbasis masyarakat di hampir seluruh Indonesia, yang melibatkan hampir seluruh pemangku kepentingan mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, LSM, dan masyarakat. Bahkan kemudian semangat ini menghasilkan gerakan yang jauh melampaui perkiraan kita semua. Sebut saja proyek besar yang saat ini menerapkan pendekatan berbasis masyarakat diantaranya Waspola, Pro AIR, WSLIC-2, CWSH, Pamsimas, ISSDP yang dilanjutkan menjadi USDP, WES UNICEF, Community-Led Total Sanitation (CLTS) yang disempurnakan menjadi Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dan direplikasi menjadi Sanitasi Total dan Pemasaran Sanitasi (SToPS). Belum termasuk kegiatan LSM yang bekerjasama dengan pemerintah diantaranya Plan Indonesia, dan SIMAVI. Tidak terlupakan juga kegiatan dalam bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) oleh perusahaan. Dari maraknya kegiatan berbasis mayarakat tersebut, kemudian dikenali munculnya fenomena kegiatan berbasis masyarakat yang melibatkan lebih dari satu komunitas dan melintasi lebih dari satu desa, dan bahkan menjangkau penduduk dalam jumlah belasan ribu orang. Sebagian orang bahkan menyebutnya PDAM Desa, saking besarnya. Menariknya adalah prosesnya berbasis masyarakat. Sepertinya ini melanggar kaidah yang selama ini dipegang bahwa kegiatan berbasis masyarakat bersifat sangat lokal (satu desa, satu komunitas), tidak melebih jumlah tertentu (rata-rata 2000-3000 penduduk). Namun kenyataannya banyak daerah sudah mempunyai kegiatan pembangunan air minum multi desa. Namun

Edis I 2010 Edisii III,, 2010


kemudian dalam edisi kali ini kami lebih menyoroti pada daerah Kodi (NTT) dengan mempertimbangkan kegiatan ini yang menjangkau jumlah penduduk terbesar sampai saat ini, yaitu sekitar 17.000 orang. Ini hal yang mencengangkan dengan mempertimbangkan masih banyaknya PDAM yang pelanggannya hanya berkisar pada angka 2.000-5.000 pelanggan. Perlu kami informasikan juga bahwa sampai pada saat ini kami telah berhasil menerbitkan Percik dalam dua versi yaitu edisi reguler dan edisi khusus. Edisi reguler adalah edisi yang diterbitkan sebanyak 4 (empat) kali setiap tahun, dan direncanakan secara berkala tiga bulan, walaupun pada kenyataannya bu baru ba dapat diterbitkan setelah bulan bu Juni. Sementara edisi khusus merupakan edisi hasil kerjasama m dengan pemangku kepentingan de untuk menyajikan topik tertentu, un dan da waktu penerbitannya eksibel. Sampai saat ini edisi khusus telah Sa diterbitkan sebanyak 3 (tiga) di edisi ed yaitu Pengelolaan Sampah POKJA Berbasis Masyarakat bekerjasama B dengan BORDA dan jaringannya, Satu Dekade Upaya Pengarusutamaan Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat kerjasama dengan WASPOLA, dan 7 Tahun Sanimas bekerjasama dengan BORDA. Direncanakan pada tahun 2010 akan terbit dua edisi yaitu Program Percepatan Pembangunan Sanitasi (PPSP) bekerjasama dengan Tim Teknis Pembangunan Sanitasi dan Water and Environmental Sanitation (WES) UNICEF bekerjasama dengan UNICEF. Sampai saat ini juga sedang dalam penjajakan beberapa edisi khusus lainnya. Keseluruhan edisi tersebut juga diterbitkan dalam bahasa Inggris. Tentunya ini semua merupakan hal yang menggembirakan bagi perkembangan majalah kita tercinta ini. Memasuki edisi ini, pembaca akan melihat di susunan redaksi mengalami beberapa perubahan karena terjadinya mutasi pada beberapa anggota Pokja AMPL yang selama ini terlibat dalam penerbitan Percik. Walaupun demikian kami berharap semoga saja hal ini tidak akan mengurangi kualitas atau bahkan meningkatkan kualitas dari majalah kita tercinta ini. Akhir kata, tak lupa kami mengucapkan selamat berpuasa bagi yang menjalankannya. Selamat menikmati, dan jangan lupa hal yang selalu kami tunggu adalah kritik dan saran dari pembaca. (OM).

Suara Anda
Puskesmas Perlu Majalah Percik
Kami adalah salah satu pembaca Majalah Percik, walaupun hingga saat ini kami baru satu kali dikirimi Majalah Percik edisi Maret dan Oktober 2008 yang lalu, inginnya sih berlangganan dan mendapat kiriman edisi terbaru. Sebagai seorang sanitarian yang bekerja di Puskesmas, dengan masa kerja lebih dari 10 tahun (2000-2010) tentu sudah banyak pengalaman, namun, bukan berarti semua masalah sanitasi bisa dengan mudah ditangani. Salah satu contoh, ketika kami diminta untuk memberi bimbingan teknis pembuatan jamban, khusus untuk daerah pantai (pasang-surut), banjir dan rumah panggung. Terus terang kami agak kesulitan, mengingat buku atau panduan teknisnya tidak kami miliki. Disamping itu, tentunya ilmu atau teori yang diperoleh diperkuliahan tidak mudah untuk diingat lagi. Oleh karena itu, kami berharap melalui redaki majalah Percik ini, sudilah kiranya mengirimkan atau memberi informasi kepada kami majalah, buku, cd, dan bahan lainnya tentang hal yang berhubungan dengan pembuatan jamban. Kalau bisa yang dilengkapi dengan gambar dan ukurannya. Terimakasih atas perhatiannya dan dikabulkannya permohonan kami. Semoga majalah Percik senantiasa memercikkan ilmu dan informasinya setiap saat, khususnya yang berkompeten dengan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan. Na Mal Saleh Perumahan Puskesmas Batulampa Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan

Sungguh senang membaca surat Sun a d T anda. Terimakasih atas perhatian dan k keperca kepercayaan kepada majalah kami s sebagai media yang secara konsisten d dan terpercaya dalam menyajikan informasi terkait persoalan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan. Kami akan perhatikan permohonan anda untuk mendapat majalah ini secara regular. Salam Percik buat temanteman di Puskesmas Batulampa, selamat bertugas.

Distribusi Air Kian Timpang


Planet bumi kita kaya akan air. Para ahli memperkirakan dunia kita memiliki tidak kurang dari 1.360.000.000 km3 air. Dari total volume tersebut, sekitar 1.320.000.000 km3 atau sebesar 97,2 persennya merupakan lautan. Selebihnya, 25.000.000 km3 atau sekitar 1,8 persennya merupakan air tanah. Sedangkan 250.000 km3 merupakan air tawar di danau dan sungai, dan sisanya 13.000 km km3 atau sekitar 0,001 persen merupakan air yang terkandung dalam atmosfer dalam bentuk awan hujan. Akan tetapi, dari volume air yang begitu besar itu tidak seluruhnya dapat digunakan oleh manusia untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Sebab hanya air tanah dan separuh dari volume air tawar yang dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. Yang lebih parah lagi, volume air bersih itu mengalami kemerosotan yang amat cepat akibat kerusakan hutan, pencemaran lingkungan oleh limbah industri dan rumah tangga, penduduk dunia bertambah banyak, dan meningkatnya standar hidup sehingga tingkat konsumsi air pun meningkat. Kondisi kritis tersebut mendesak PBB untuk mencanangkan tahun 2005 hingga 2015 sebagai Dekade Air. Pencanangan Dekade Air oleh PBB memang bukan suatu kebijakan yang mengada-ada. Melalui serangkaian penelitian ilmiah diketahui bahwa pemakaian air telah melonjak enam kali lipat dalam era 100 tahun terakhir. Akibatnya, dalam periode tersebut sebanyak 20 persen dari total volume air bersih di bumi, ludes, sementara harga air bersih melonjak lebih dari dua kali lipat. Masalahnya tidak cuma itu. Dari masa ke masa, ternyata distribusi air bersih menjadi kian timpang. Maximus Ali Perajaka Pesanggrahan, Jakarta

Selamatkan Air Kita


Nobody needs no water. Ya, semua orang memang butuh air. Setiap orang, paling tidak membutuhkan lima liter air setiap harinya. Tanpa air, memang tak akan ada kehidupan. Tapi, disayangkan sekali ketika banyak orang kurang peduli terhadap ketersediaan air. Menyia-nyiakan air dengan memakai melebihi kebutuhan. Seolah-olah manusia tidak butuh air. Padahal, setiap manusia berkepentingan terhadap air. Memang, kita membayar setiap tetes air yang sampai di bak mandi, tapi bukan berarti bisa sekenanya mengkonsumsi air tanpa batas. Memang pemerintahlah yang mengelola air, agar bisa tersalurkan ke masyarakat. Tapi bukan berarti tanggungjawab akan tersedianya air, hanya tugas pemerintah. Sebab, sesungguhnya air mempunyai keterbatasan juga. karena itu, jika semua pihak tak bisa peduli, tetap saja berkemungkinan untuk habis. Mari bayangkan jika sumber air habis. Apakah kita harus berharap pada air hujan? Atau harus menyuling air laut? Malang sekali nasib kita jika hal itu sampai terjadi. Pantaslah sedini mungkin kita melestarikan air. Karena pada hakekatnya air adalah titipan anak cucu kita, berarti harus dipelihara. Sebuah tanggungjawab moral bagi kita untuk menjaga warisan agar layak waris. Lina Naibaho Medan, Sumatera Utara Distribusi Air Kian Timpang

Laporan Utama

Edisi II, 2010

Kisah Sistem Multi Desa di NTT


PRO AIR

ecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu contoh nyata keberhasilan pembangunan sarana air bersih multi desa. Pasalnya, program penyediaan air minum multi desa yang dilakukan di sejumlah desa di kecamatan Kodi tersebut dilakukan dengan biaya besar dan mencakup pelayanan bagi penduduk dengan jumlah populasi sangat banyak. Belum lagi kompleknya permasalahan baik teknis maupun non teknis di lapangan ketika program air minum multi desa ini dilakukan. Menurut Koordinator ProAir, Bernd Ugner pelayanan air minum

multi desa di kecamatan Kodi, kabupaten Sumba Barat Daya difokuskan pada pembangunan sarana air bersih yang melayani lima desa yaitu desa Kori, desa Homba, desa Karipit, desa Hohawungo, dan desa Wailabubur. Jumlah warga yang membutuhkan pelayanan ini mencapai 17.000 orang pengguna dengan biaya 37 milyar rupiah berupa sistim perlindungan mata air. Sistem air minum multi desa yang kami lakukan berupa perpipaan dengan pengaliran secara gravitasi ke 4 desa dengan kapasitas penampung air 400 m3, panjang pipa transmisi sepanjang 6,8 km, pipa distribusi sepanjang 60 km, serta membangun 55 unit kios air dan 210 sambungan

rumah. Sarana air bersih multi desa di kecamatan Kodi ini selesai pada awal tahun lalu. Kini warga pun boleh bergembira dan bilang ambil air so dekat, ujar Bernd Program pembangunan air minum multi desa di Kodi diakui Bernd dilakukan warga dengan penuh perjuangan. Sejumlah kendala sempat terjadi. Target pembangunan perpipaan sempat tidak tercapai lantaran dipengaruhi oleh hasil kerja yang kurang baik dari kontraktor khususnya kontraktor utama yang mengerjakan konstruksi pada lokasi sumber mata air. Kami bersyukur hambatan tersebut berhasil dengan cepat diatasi. Kendala utama dalam

Laporan Utama
p proses pembangunan air minum p g multi d berhasil dipecahkan del desa b h l d ngan mengganti kontraktor utama dengan sub kontraktor yang memiliki kinerja lebih baik, tukasnya. Selain penyediaan air minum multi desa di Kodi, ProAir juga membangun konstruksi multi desa di kabupaten Alor. Dari 6 sistim sarana yang seluruhnya berupa perpipaan, berlokasi di kecamatan Pantar, Pantar Timur, Alor Barat Daya, Alor Timur, Alor Timur Laut, diperkirakan akan dimanfaatkan oleh 10.280 orang dari sejumlah desa. Sekarang ini proses pembangunan perpipaan masih dilakukan. Diharapkan pada Desember 2010 sudah selesai. Khusus desa Bouweli dan Kabir di kecamatan Pantar, konstruksi perdesa lokasi program pipaan multi desa sempat berjalan merupakan lambat dimana kemajuannya sempat ProAir di kabupaten Timor Tengah tersendat namun sekarang sudah lan- Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur. car. Hal ini disebabkan karena ada Pelajaran berharga sukses pengelolaan air minum multi desa tersebut daperubahan desain sistim a pat terlihat dalam proses pengajuan jaringan air dan konp usulan, perencanaan, pelaksanaan struksi (detail engineeru konstruksi sampai ing design/DED) dari pada kemandikonsultan yang berSetiap ka terjadi rian pengelolaan, kali dampak pada adanya masalah, kami pemeliharaan dan permintaan dana unmelibatkan warga perawatan sarana tuk pekerjaan tambah dan aparat desa tersebut. Setiap kali air bersih oleh terjadi masalah, kami untuk mencari solusi masyarakat itu bersama melibatkan warga sendiri. dan aparat desa unAlasan utama tuk mencari solusi desa-desa di NTT bersama. Prinsipnya kepentingan mengajukan program me masyarakat agar percepatan pembapembangunan air mipem ngunan sarana dan keberlanjutan pronum multi desa tidak gram air minum multi desa berjalan lain k karena sulitnya memperoleh air. li baik. Untuk memenuhi kebutuhan air minum biasanya mereka harus berjalan Kabupaten Lain tidak kurang dari 2 kilometer ke mata Selain di kecamatan Kodi, kisah air atau pilihan lainnnya mengambil sukses ProAir melaksakan air minum air di sungai yang berjarak 1,5 km. multi desa juga dapat dipetik di desa Terdorong oleh kesulitan untuk Pili dan desa Kamura memenuhi kebutuhan akan air bersih y a n g yang mereka rasakan selama berta-

PRO AIR

hun-tahun, maka ketika masyarakat desa Pili dan tetangganya mendapat informasi bahwa ProAir menawarkan kerjasama untuk pembangunan sarana air bersih, beberapa tokoh masyarakat desa Pili berinisiatif mengumpulkan masyarakat untuk berdiskusi guna mempersiapkan kontribusi yang menjadi persyaratan ProAir. Dalam pertemuan tersebut, masyarakat membahas beberapa hal yang menjadi persyaratan untuk terlibat dalam program dukungan ProAir, termasuk didalamnya adalah pengumpulan dana tunai yang harus ditunjukkan melalui tabungan awal pemeliharaan. Segera setelah pertemuan itu masyarakat desa Pili berhasil mengumpulkan dana tunai sesuai yang diharapkan dalam waktu yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan desa-desa lain yang juga menjadi wilayah sasaran program ProAir. Faktanya masyarakat desa Pili dan desa Kamura berhasil mengumpulkan dana pemeliharaan tidak lebih dari tiga minggu. Beberapa wakil masyarakat desa Pili kemudian mendatangi kantor ProAir membawa usulan, lengkap

Edisi II, 2010


dengan bukti tabungan awal berupa foto copy buku rekening bank senilai Rp.7.000.000,- dan beberapa dokumen kesepakatan masyarakat sebagaimana yang disyaratkan oleh ProAir. Menanggapi usulan tersebut, ProAir menindaklanjuti dengan beberapa kegiatan ikutan, baik perencanaan bersama masyarakat, pelatihan maupun kegiatan konstruksi. Masyarakat sangat antusias dan proaktif didalam mengikuti proses tersebut karena masyarakat benar-benar ingin keluar dari kesulitan yang mereka alami selama ini. Selanjutnya apa yang terjadi ? Berkat kerjasama dengan ProAir, partisipasi aktif, ketekunan dan kerja keras mereka akhirnya membuahkan hasil dengan terbangunnya sarana air bersih sistim perpipaan gravitasi dengan jalur pipa sepanjang 5.403 meter dan 11 buah Tugu Kran (TK). Sistem tersebut dapat melayani 274 Kepala Keluarga atau populasi berjumlah 680 jiwa. Selain itu terdapat juga 5 unit Sumur Gali yang melayani 166 Kepala Keluarga atau sekitar 501 Jiwa. Untuk sarana sanitasi, terdapat 14 unit Lantai Cuci/Kamar Mandi dan 1 buah WC sehat sebagai percontohan. Kini masyarakat cukup puas dan senang dengan hadirnya sarana-sarana yang ada. Karena air yang ada, ternyata tidak hanya untuk kebutuhan mandi, cuci, masak dan minum, tapi kelebihan penggunaan air yang ada, mereka dapat memanfaatkan juga untuk usaha pekarangan seperti menanam sayur demi pemenuhan kebutuhan gizi keluarga. Selain juga dapat dijual untuk tambahan dalam membayar iuran bulanan. Rupanya dengan mengalami proses pendekatan yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama benar-benar membangun rasa kemandirian, sekaligus mendorong kesadaran agar masyarakat bertanggung-jawab terhadap keberlanjutan hasil pembangunan itu sendiri. Rasa kepemilikan dan kesadaran untuk menjaga keberlanjutan hasil pembangunan inilah yang mendorong masyarakat yang terwadah didalam Badan Pengelola Sarana Air Bersih (BP-SAB) Banum Aitium untuk secara serius membenahi kelompoknya. Terbukti dengan terbangunnya sebuah gedung semi permanen untuk kantor kelompok berukuran 6 x 16 m, penyusunan aturan main (AD/ART) yang kemudian dilegalisir dengan diterbitkannya Akte Notaris Kelompok, penyusunan Rencana Kerja dan Cashow Tahunan kelompok, pengumpulan iuran bulanan untuk peningkatan keuangan kelompok. Khusus untuk keuangan kelompok Banum Aitum ini, hingga Bulan September 2009 tercatat pemasukan sebesar Rp. 25.974.370. yang berupa kumpulan tabungan awal dan iuran. Sedangkan pengeluaran digunakan untuk biaya insentif pengurus, biaya rapat, pengadaan inventaris, perawatan sistim (penggantian mata kran), transport, ATK dan lain lain, sebesar Rp.7.495.549,-. Sehingga saldo kas Kelompok Banum Aitum ini sampai akhir Bulan September 2009 sebesarRp.18.478.821,-. Menariknya, tercatat bahwa iuran bulanan sudah dilunasi oleh masyarakat (anggota cakupan) sampai dengan Desember 2010 yang secara administratif dibukukan dengan baik dan teratur oleh Bendahara kelompok. Demikian pun dari sisi teknis, kelompok sudah memiliki tenaga-tenaga teknis yang trampil. Para tenaga ini telah mengikuti magang pada saat pekerjaan konstruksi berlangsung. Disamping itu, mereka juga telah dibekali dengan peralatan dan pelatihan teknis oleh tenaga-tenaga profesional dari ProAir sebelum sistem diserah-terimakan kepada masyarakat. Tentu saja semuanya ini menjadi suatu kebanggaan bagi masyarakat karena ternyata hasil dari jerih payah dan kerja keras mereka juga mendapatkan apresiasi positip dari pihak luar yang terpanggil untuk menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam pembangunan demi keberlanjutan hasil pembangungan itu sendiri. (eko/ProAir.org)

PRO AIR

Laporan Utama

PRO AIR

odi Utara di Nusa Tenggara Timur adalah satu daerah di Sumba Barat Daya, yang mengalami kesulitan air hampir sepanjang tahun. Meskipun selama musim hujan, air melimpah, tanah karang dan struktur batuan karst mengakibatkan daya simpan air rendah. Pemerintah telah berupaya mengatasi melalui beberapa proyek penyediaan air yang lalu berupa penyediaan sumur dangkal maupun dalam, dan sistem perpipaan gravitasi, namun kelihatan hanya berfungsi sebagian. Kemudian proyek terbaru adalah ProAir, yaitu proyek penyediaan air bersih pedesaan di NTT (Rural Water Supply Project NTT),

yang dibiayai oleh KfW dan GTZ, memulai kegiatannya di Sumba pada tahun 2002. Direncanakan akan berakhir tahun 2010. Pada tahun 2005-2006, pada saat survei, sistem perpipaan dari masyarakat sudah rusak sedangkan sumur dalam yang ada membutuhkan operasi dan pemeliharaan pompa yang tidak sedikit biayanya. Harga air menjadi mahal karena air dari sumur atau sungai diangkut dengan kendaraan yang biayanya dapat mencapai Rp.150.000 untuk sekali angkut sebanyak 2-4 m3 yang hanya cukup untuk kebutuhan seminggu. Di samping itu, air yang dibeli tersebut maupun sumber air di daerah ini sudah tercemar berat. Masyarakat beberapa desa di Kodi lalu meminta

bantuan ProAir untuk membangun sistem air. Mata Air Mataloko Sumber air yang cukup besar di Kodi hanya satu yaitu Mataloko dengan debit antara 40 sampai 250 liter per detik. Sumber ini letaknya di sebuah gua di perbukitan Wailabubur di hutan Rokoraka. Survai tim ProAir menunjukkan bahwa sumber air ini dapat dimanfaatkan untuk memasok air bagi sekitar 50.000 orang yang bermukim di 10-12 desa. Akan tetapi, usaha membangun sistem sebesar ini sebenarnya melampaui kerangka kerja ProAir karena ternyata bukan lagi pembangunan sistem pedesaan yang sederhana. Meskipun demikian, setelah pem-

Edisi II, 2010


bahasan dan perundingan panjang antara Tim Pengarah (Steering Committee) di Jakarta (lebih dikenal sekarang sebagai Pokja AMPL) dan pemerintah daerah kabupaten Sumba Barat Daya, akhirnya KfW (Kredit Anstalt fuer Wiederaufbau) bersedia menyediakan dukungan teknis dan keuangan and GTZ (Gesellschaft fuer Technische Zusammenarbeit) bersedia menyediakan dukungan untuk pemberdayaan masyarakat dalam membangun sistem multidesa di empat desa (Wailabubur, Hombakaripit, Hoha Wungo dan Kori). Adapun dukungan ini bersyarat bahwa masyarakat menyediakan sumbangan uang tunai (in-cash) dan tenaga kerja serta bahan/tenaga (inkind) serta bersedia pula mengelola sistem tersebut. Sebagai langkah awal dilakukan survai yang meliputi pengukuran sumber air dan penyelidikan alternatif mengingat geogra daerah Kodi sangat datar. Selain itu, dilaksanakan pembahasan mendalam mengenai hasil yang diharapkan dari segi sosial, kelembagaan, keuangan dan teknis sebelum ada keputusan akhir. Pada saat yang sama juga diputuskan untuk membangun organisasi pengelola khusus yang berazaskan kepemilikan oleh masyarakat, pengelolaan secara profesional dalam kerangka hukum yang jelas. Pada tahun 2006 dibuatlah Master Plan untuk Kodi Utara dan pada tahun 2007 dana sumbangan masyarakat mulai dikumpulkan dan persiapan awal kelompok pengelola air dilakukan. Pada tanggal 25 November 2006 dan sekali lagi di awal 2007, para pemangku kepentingan berkumpul di Kodi dan sepakat bahwa sekurangkurangnya 75% dari sumbangan uang sebesar Rp 30,000 per anggota keluarga bagi sekitar 15.000 pemakai air harus sudah terkumpul pada Rencana Rinci (Detailed tanggal 31 Juni 2007. Design/ Pada tanggal 4 Juli Keberha Keberhasilan Engineering Pada tanggal 2007 sumbangan uang i i atas usaha DED). ini dari masyarakat yang dan kerja sama 13 Agustus 2007, KfW menyampaikan pada terkumpul berjumlah kelompok Kementerian Kesehatan Rp.424.034.505, atau masyarakat bahwa semua prasyarat 94% dari jumlah yang ba untuk sistem di Kodi telah dibutuhkan sebesar Rp. un terpenuhi dan tidak ada 450 juta. Keberhasilan ter lagi keberatan pelaksanaan ini atas usaha dan kerja sama lag pembangunan sistem Kodi. kelompok masyarakat dan pemerintah pem Maka dimulailah pembuatan DED daerah dalam mengembangkan M k di l

PRO AIR

pendekatan inovatif, misalnya dengan menghitung sumbangan uang dalam satuan volume beras. Sumbangan uang yang dituntut untuk mendukung pembangunan sistem penyediaan air oleh ProAir dimaksudkan bukan untuk membayar konstruksi tetapi sebagai simpanan untuk pembiayaan awal operasi dan pemeliharaan sistem oleh kelompok masyarakat pengelola air (tabungan pemeliharaan). Dengan terkumpulnya dana tersebut, para pemangku kepentingan memutuskan persiapan pembangunan sistem penyediaan air di Kodi dapat dilanjutkan, termasuk pembuatan

dan persiapan tender berdasarkan perhitungan besaran yang aman dari sumber Mataloko yaitu 32 liter per detik. Tetapi sistem kompleks seperti ini bukanlah tanpa tantangan. Dalam kurun waktu antara bulan Oktober dan November 2007, konsultan yang melaksanakan pemberdayaan masyarakat berkesimpulan bahwa pembayaran dengan satu harga (at rate) seperti umumnya dalam sistem berbasis masyarakat di daerah pedesaan tidak mencukupi kebutuhan

Laporan Utama
p pendanaan yang berkelanjut untuk y g berkelanjutan j sistem d dengan k kran umum. Untuk dapat mencapai tingkat pelayanan dan pengumpulan dana yang dibutuhkan dalam pengelolaan profesional, diperlukan sistem kombinasi dengan kios air dan sambungan rumah. DED terpaksa disesuaikan dan baru bulan April 2008 proses tender untuk pipa transmisi dapat dimulai. masyarakat dan Camat Kodi Utara dan difasilitasi ProAir dan Pemda Sumba Barat Daya. Kelambatan proses diperparah oleh masalah dengan kontraktor lokal dan hujan yang sepanjang tahun. Masalah lain adalah sukarnya memperoleh ijin Kementerian Kehutanan untuk membangun jalur pipa transmisi di hutan Rokoraka. Karena sistem tardesa untuk pengelolaan menyeluruh dengan mempertimbangkan keterwakilan yang layak. Pada akhirnya organisasi ini bahkan lebih besar dari organisasi perusahaan daerah air minum di Sumba Barat. Struktur organisasi untuk sistem multi desa Kodi yang dikembangkan dalam tahun 2007/2008 adalah berdasar konsep pada halaman berikut: (lihat diagram) Unit Profesional yang menuntut adanya staf yang digaji sedang diseleksi dan dilatih. Anggota unit ini akan melakukan pengelolaan, operasi dan pemeliharaan rutin harian sedangkan organisasi bersama antardesa akan mengawasi mereka. Konsep pengelolaan ini dikembangkan tahun 2007 dan dalam pengembangannya akan disesuaikan dengan keadaan setempat. Akan tetapi pada saat air mulai mengalir nanti pada akhir 2010, semua sumberdaya sudah harus terbentuk dan siap berfungsi. Pada saat ini tarif air ditetapkan Rp.5 per liter atau Rp.100 untuk satu ember atau jeriken 20 liter. Untuk itu digunakan koin khusus yang diproduksi oleh proyek, sampai saat ini sudah ada 250.000 butir. Satu koin bernilai Rp.2.550 untuk membayar 510 liter. Pipa transmisi saat ini masih sedang dibangun. Bila selesai maka akan ada 6,8 km pipa transmisi dan 46,4 km pipa distribusi. Masyarakat telah membangun 57 kios, satu diantaranya akan dimanfaatkan khusus bagi truk air. Dari target 210 sambungan rumah sudah terpasang 170. Diharapkan pada akhir Tahun 2010 sistem ini akan rampung dan beroperasi. Investasi total KfW adalah Rp.37 Milyar atau sekitar 3 juta Euro. Proses pengembangan dan pembangunan sistem multi-desa yang kompleks ini panjang dan sulit kare-

PRO AIR

Tender untuk pipa transmisi dan sistem distribusi, maupun suplai,harus dilaksanakan secara terpisah. Selain proses persiapan dan penilaian yang membutuhkan waktu lama, sistem berbasis masyarakat seperti ini juga menghadapi banyak masalah dalam pelaksanaan konstruksi. Misalnya, bergesernya jalur pipa karena renovasi atau pelebaran jalan. Atau perlunya pembelian tanah di perbatasan desa Noha dan Wailabubur karena hanya tempat ini, yang sedikit lebih tinggi, cocok untuk pembangunan reservoir umum sebesar 400 m3. Pembelian tanah ini diatur oleh

tata kelola dan status hukum kawasan hutan yang kurang jelas, proses perolehan ijin (sementara) membutuhkan hampir satu tahun. Selama waktu itu, pekerjaan konstruksi transmisi terhenti. Organisasi Multi Desa Berbasis Masyarakat Meskipun demikian, pada tahun 2009 pembangunan sistem ini cukup maju, bukan saja dari segi konstruksi tetapi juga dengan terbentuknya organisasi berbasis masyarakat. Tim ProAir telah bekerja keras membangun organisasi masyarakat ini, tidak saja di tingkat desa tetapi juga an-

10

Edisi II, 2010


Diagram Konsep Struktur Organisasi Penyedia Air Bersih Kodi Utara
Pimpinan Komite Keuangan Audit Laporan Keuangan Dewan Federasi Rekomendasi Laporan Rutin Rekomendasi 4 Anggota Terpilih Bagian Teknis Staf ----Bagian Keuangan Staf ----Konsultasi dan Koordinasi Harian Manajer Umum

4 Kepala Komite Pelaksana

Federasi Pengelola Air

Kepala Komite Pelaksana

Kepala Komite Pelaksana

Kepala Komite Pelaksana

Kepala Komite Pelaksana Komunikasi dan Kerjasama Harian

Pelaksana Harian Anggota

Pelaksana Harian

Pelaksana Harian

Pelaksana Harian

Asosiasi Pengelola

Asosiasi Pengelola

Asosiasi Pengelola

Asosiasi Pengelola

Penguna memilih perwakilan untuk masing-masing Asosiasi Pengelola Pengguna Pengguna Pengguna Pengguna

na selain melibatkan banyak pihak, proses ini menghadapi berbagai permasalahan. Banyak orang terlibat. Tim motivator masyarakat membantu mempersiapkan dan membimbing masyarakat.Tenaga teknis (engineer dan site inspectors) merancang, mengelola dan mengawasi konstruksi dan para kontraktor pelaksana kon-

struksi. Banyak masalah dihadapi. Namun demikian, berkat kerja sama antara masyarakat dan pemerintah daerah, difasilitasi oleh tim proyek kebanyakan masalah dapat diatasi. Pemerintah daerah Sumba Barat Daya sangat mendukung dan merencanakan mengembangkan lebih lanjut tipe sistem baru ini yaitu sistem yang

dikelola oleh Organisasi Berbasis Masyarakat (Community Based Organization atau CBO), yang memanfaatkan keahlian profesional, yang diharapkan menjadi organisasi yang berkelanjutan dalam melayani kebutuhan air masyarakat, Kodi. Dengan liputan 10 desa dan 50.000 pemakai air, sistem ini seukuran dengan sistem bagi satu kota agak besar di NTT. Untuk itu dibutuhkan dukungan bagi CBO, akses terhadap informasi dan expertise (keahlian pengetahuan khusus) dan ketersediaan bahan dan peralatan yang tepat, dana yang cukup dan terjamin, serta keahlian di bidang kelembagaan dan teknis. Dan pada akhirnya dibutuhkan proses yang tepat untuk mengembangkan organisasi tersebut sebagai pemilik dan pengelola yang sah. Penulis adalah Team Leader Financial Cooperation ProAir (Depkes, KfW Component)

11

Bernd Ugner:

Menitikkan Air Mata


berkisah Perjuangan Bocah NTT

Menghargai Air Minum


PRO AIR

ALAH satu tokoh di balik suksesnya program Pro Air dalam memberikan layanan air minum bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah Bernd Ugner. Pria jangkung berkebangsaan Jerman ini bertinggi badan 198 cm, boleh jadi dia merupakan salah satu champion di balik sukses air minum multi desa di Nusa Tenggara Timur. Saya sering terharu jika mengingat perjuangan warga desa terpencil di Nusa Tenggara Timur untuk mendapat air minum. Salah satu cerita yang tidak pernah saya lupa, seorang anak berumur 10 tahun yang berjalan 3 km menenteng jerigen ke salah satu mata air. Ketika sampai di mata air dan mengisi jerigennya, dia tidak membuang sisa air yang dia dapat tapi dimasukan kembali ke dalam sumur. Anak sekecil itu menyadari pentingnya air bagi saudaranya yang lain, ujar Bernd terharu ketika mengisahkan cerita tersebut kembali kepada Percik . Bernd Ugner telah sejak

tahun 2003 terlibat dalam program Pro Air dalam menyediakan air minum berbasis masyarakat di NTT. Saat pertama kali bersentuhan dengan masyarakat NTT khususnya di pedesaan, kondisi saat itu belum ada kesadaran masyarakat tentang sanitasi dan hidup dengan lingkungan yang sehat. Pertama kali saya berada di Sumba Timur yang kondisinya lebih memprihatinkan lagi. Ketersediaan air sangat terbatas, warga harus berjalan kaki hingga puluhan kilo meter untuk mendapatkan air minum di sumber mata air Nabbo. Menurut Bernd, salah satu kendala paling besar dalam penyediaan air multi desa di NTT adalah persoalan geogras dan juga persoalan budaya. Persoalan geogras sangat jelas karena hampir sebagian besar pedesaan di NTT berbukit-bukit, sedangkan persoalan budaya karena warga di NTT punya kebiasaan untuk tinggal di atas bukit, sedangkan mata air di bawah. Mereka tidak mau mendekati mata air dan lebih suka berada diatas bukit karena alasan

12

Edisi II, 2010


untuk bertahan dari serangan musuh lebih mudah. Ini sangat kuat mereka pegang teguh. Padahal alasan ini sangat tidak masuk akal, karena jika musuh sudah menguasai sumber air, tentunya mereka tidak akan pernah dapat air. Mereka juga tidak lagi bisa pindah ke sumber air karena di bukit-bukit tersebut leluhur mereka dikubur. Ketika pertama kali membuat program pemberdayaan masyarakat untuk memperoleh air minum di Sumba Timur, dari sejumlah kecamatan hanya dua kecamatan mengusulkan perlu mendapat bantuan teknis dan prasarana. Sedikitnya 84 desa mengusulkan perlu mendapat kebutuhan air secepatnya, sayang sejumlah usulan banyak kelemahan karena persoalan budaya dan sumber air berada di bawah desa dan perlu waktu untuk mengangkat ke atas. Dari sejumlah usulan tersebut ( 84 desa) ternyata hanya 8 desa yang cocok dengan sistem gravitasi, ini yang di bantu Pro Air saat itu. Banyak desa yang terpisah-pisah, jarak rumah satu dengan lain agak berjauhan. Banyaknya usulan ini menunjukan bukti kebutuhan air sangat tinggi. Kami keliling ke setiap desa dan melihat sejauh mana kebutuhannya. Kami melihat hal ini sangat serius. Saat itu memang sangat dilematis, jika mereka diberikan pompa air untuk mengangkat air ke atas bukit sangat sulit karena tidak ada listrik dan solar. Dan kami juga ragu masyarakat mampu mengelolanya. Akhirnya, kami hanya membantu 8 desa. Investasi yang diberikan Pro kami kepada tiap orang sekitar 100 Euro per kepala, ujarnya. Pro Air, merupakan proyek air minum pemerintah Jerman di NTT yang bermula di 3 kabupaten yaitu Sumba Timur, Sumba Barat dan Timor Tengah Selatan (TTS). Kemudian meluas ke kabupaten Alor dan Ende. ProAir adalah program penyediaan air minum yang berbasis masyarakat pedesaan yang menggunakan sistim gravitasi dan sumur gali. ProAir melibatkan semua pihak termasuk insinyur yang menyusun desain dan program sesuai dengan aturan main standar internasional, serta berkesinambungan. Air minum terdapat jauh di dalam tanah yang gersang dan berbatu-batu di NTT. Masalahnya bagaimana mengangkat air tersebut ke permukaan, yang dibutuhkan masyarakat terutama yang tinggal di dataran tinggi. Di NTT juga terdapat sungai-sungai yang airnya berlimpah ruah. Posisi dan peran Pemda cukup positip sekalipun Pemda sendiri sedang menghadapi masalah desentralisasi. Spesialisasi merupakan salah satu masalah, selain pengawasan, kerja sama antarintansi serta pelayanan masyarakat. Aktivitas PDAM lebih diarahkan pada penyediaan air minum di perkotaan, sementara dana rutin dari pemerintah pusat tidak mencukupi untuk penyediaan air minum di pedesaan. ProAir merupakan proyek air minum yang berbasis masyarakat, dengan tujuan agar masyarakat dapat menjaga dan mengelola sarananya sendiri. Hal ini merupakan penjabaran kebijakan nasional yang tercantum dalam Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat. Tentu tidak mudah untuk mengubah perilaku masyarakat agar dapat bertanggung jawab dalam mengelola sarananya sendiri. Proyek ini berbeda dengan proyek konvensional lainnya, dimana sistem sudah jadi dan digunakan. Dalam ProAir, dibutuhkan perjuangan yang sangat sulit untuk dapat membuat masyarakat sadar akan kegunaan dari sistem tersebut, dan sasaran akhir adalah masyarakat mampu menjaga, mengelola dan memelihara sendiri sarananya. Jadi jangan berburuk sangka dulu karena dalam ProAir, konstruksi adalah suatu proses bukan hanya bangun dan jadi. Tetapi juga penting bagaimana dengan keberlanjutannya. Hal ini yang mau dicapai oleh ProAir. saya sendiri sudah mengalami bagaimana sulitnya melaksanakan program ini, katanya. Bagaimana sulitnya memberi pengertian kepada masyarakat pedesaan. Sampai saat ini kami masih belajar dan mencari bentuk yang paling optimal agar program ini berhasil.
PRO AIR

13

PRO AIR

Komitmen yang diharapkan dari masyarakat adalah pemerintah kabupaten di Nusa Tenggara Timur. masyarakat sadar untuk mengelola dan memelihara Dalam lingkup kerjasama ini, GTZ menyediakan sarana umum khususnya air minum agar sistem bantuan teknis untuk pemberdayaan masyarakat, dapat bertahan selama mungkin dan tidak hanya jadi sementara KfW menyediakan bantuan dana untuk monumen. investasi. Mitra kerja ProAir di daerah adalah Badan Ini merupakan realita di desa-desa di hampir Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), semua kabupaten di provinsi Nusa Dinas Kesehatan, Dinas Pekerjaan Umum, dan Badan Tenggara Timur. Curah hujan yang Pemberdayaan Masyarakat Desa (BMPD). kecil, kondisi lahan yang kering Tujuan dari ProAir adalah membentuk struktur dan kritis telah menjadikan air manajemen sederhana di tingkat sebagai suatu barang yang langka. desa yang memungkinkan Harus Harus diakui, lanjut Hampir setiap rumah tangga di kemandirian didalam pengelolaan Bernd antusiasme pedesaan harus mengirimkan salah sistem penyediaan air minum dan warga NTT untuk satu anggotanya untuk berjalan sanitasi yang berkesinambungan. mendapatkan air dapat Program ini juga membantu kaki mengambil air di tempat dilihat dari kontribusi pemerintah daerah dalam rangka yang cukup jauh setiap hari. Tidak tenaga bagi kelancaran pembentukan dan pemberdayaan terkecuali anak-anak. Banyak pembangunan sarana organisasi pengelola dan waktu belajar yang terbuang akibat air minum di desa harus menarik beban memenuhi infrastruktur, membangun sistem mereka.. kebutuhan air di rumah. pemantau struktur air, dan Harus diakui, lanjut Bernd menyusun peraturan perlindungan antusiasme warga NTT untuk mendapatkan air sum sumber air. dapat dilihat dari kontribusi tenaga bagi kelancaran Dampak yang diharapkan dalam jan pembangunan sarana air minum di desa mereka. Tua, jangka panjang, penyediaan air minum dan sanitasi yang berkesinambungan muda, laki-laki, perempuan, semua hadir mewujudkan impian bersama. Kerjasama ini bersifat mutlak bagi diharapkan dapat meningkatkan kondisi kesehatan peningkatan rasa memiliki dari masyarakat terhadap masyarakat. Jarak yang semakin dekat ke sumber air sarana. minum akan mengurangi waktu yang dihabiskan para Dijelaskan oleh Bernd apa yang dilakukan ProAir ibu dan anak-anak untuk mengambil air. Hal ini akan merupakan sinergi dari program Kementerian membuka peluang untuk melakukan aktivitas yang Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), lebih produktif yang pada akhirnya akan mengurangi KfW Bankengruppe (Grup Perbankan KfW), dan tingkat kemiskinan. Dengan memindahkan tanggung German Technical Cooperation (GTZ) yang sepakat jawab atas pengelolaan air dan sanitasi kepada melaksanakan bersama program ProAir masyarakat akan menciptakan kesempatan kerja baru beserta Pemerintahdan diversikasi ekonomi.

14

Regulasi

Edis I 2010 Edisii III,, 2010

Pengaturan Tata Kelola Air Perlu Payung Hukum Kuat


ir merupakan karunia Tuhan untuk umatnya, termasuk seluruh rakyat Indonesia, sedangkan dalam Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 diamanatkan bahwa penguasaan atas bumi, air, dan ruang angkasa, serta kekayaan yang terkandung di dalamnya itu untuk dipergunakan sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat. Penguasaan yang dimaksud tidak menempatkan negara sebagai pemilik (ownership), tetapi tetap pada fungsi-fungsi penyelenggaraan negara. Air merupakan kebutuhan makhluk hidup yang paling hakiki, termasuk manusia, tanaman dan hewan, oleh sebab itu air perlu ditata penggunaannya agar memberikan manfaat bagi rakyatnya. Dalam jaringan distribusi air, diperlukan suatu sistem yang terkoordinasi, baik antara para pelaku maupun pembuat kebijakan, dan jaminan perolehan air yang cukup. Begitu pentingnya masalah air, baik untuk memenuhi kebutuhan hajat hidup rakyat banyak maupun untuk kebutuhan pertanian (terutama tanaman pangan) dan keperluan pada sektor lainnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa air menjadi suatu komoditas yang memiliki posisi strategis dari kepentingan-kepentingan untuk pemenuhan kebutuhan hajat hidup, bisnis, industri, pertanian/iri- POKJA gasi, maupun ketahanan pangan yang menjadi bagian dari sistem ketahanan nasional. Posisi air yang strategis dalam menguasai hajat hidup orang banyak, maka tidak dapat dielakkan bahwa air akan menjadi persoalan tarik menarik dari berbagai kepentingan. Oleh karena itu, persoalan air harus ditata dengan baik melalui perangkat peraturan perundangundangan yang dapat melindungi dan mewujudkan ketertiban umum yang mencerminkan keadilan masyarakat.

Kewenangan Pengelolaan Sejak berlakunya Otda melalui UU No. 22 Tahun 1999 hingga direvisi menjadi UU No 32 Tahun 2004, undang-undang yang berhubungan pengelolaan air adalah UU No.7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air. Dalam UU Sumber Daya Air dua jenis kewenangan ini dinyatakan secara detail (pasal 16 sampai 18). UU Sumberdaya Air memberikan kewenangan dan tanggung jawab daerah atas pengelolaan sumberdaya air yakni dalam hal menetapkan kebijakan pengelolaan sumber daya air, menetapkan pola pengelolaan sumber daya air, menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air, menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air, melaksanakan pengelolaan sumber daya air, mengatur, menetapkan dan memberi izin penyediaan, peruntukan, penggunaan, dan pengusahaan air, membentuk dewan sumber daya air, memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari-hari atas air dan menjaga efektivitas, esiensi, kualitas, dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota. Dengan cara seperti itu, UU Sumber Daya Air secara lengkap menguraikan tentang kewenangan baik yang sifatnya substantif maupun teknis. Kewenangan teknis terutama menyangkut pengaturan, penetapan, pemberian izin, penyediaan, peruntukan, penggunaan, dan pengusahaan air serta pembentukan dewan sumberdaya air sedangkan kewenangan substantif adalah delapan kewenangan lainnya yang secara singkat dapat dikatakan sebagai kewenangan otonomi pengelolaan SDA. Di dalam UU Sumber Daya Air terlihat banyak mengatur soal partisipasi masyarakat. Dalam bagian menimbang huruf (d) dikatakan: Sejalan dengan semangat demokratisasi,

15

Regulasi
desentralisasi, dan keterbuk , keterbukaan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, b b dan b k berbangsa, d bernegara, masyarakat perlu diberi peran dalam pengelolaan sumber daya air. Ketentuan ini selanjutnya diatur lebih komprehensif dan meluas dalam BAB XI Tentang Hak, Kewajiban dan Peran Serta Masyarakat. Dikatakan bahwa masyarakat mempunyai kesempatan yang sama untuk berperan dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan terhadap pengelolaan sumber daya air. Pelaksanaan partisipasi itu kemudian akan diatur dalam Peraturan Pemerintah. UU ini juga menetapkan hak masyarakat yang harus dipenuhi sebagai prasyarat terlaksananya partisipasi yang sejati. Hak-hak tersebut adalah hak informasi, mendapat manfaat, ganti rugi, keberatan, laporan dan pengaduan dan hak menggugat ke pengadilan atas pengelolaan sumber daya air. Pengaturan Hak Atas Air Hak Guna Air Hak guna air yang disebutkan pada UU SDA pasal 6, 7, 8, dan 9 dibagi menjadi 2 (dua) kategori, yaitu hak guna pakai air dan hak guna usaha air. Hak guna pakai air adalah hak penggunaan air untuk kebutuhan pokok sehari-hari atau nonkomersial, sementara hak guna usaha air adalah hak untuk mengusahakan air bagi tujuan-tujuan komersial. Hal ini secara eksplisit telah menempatkan air sebagai barang komoditi yang dapat diperjualbelikan. Hak guna air tidak dapat disewakan atau dipindahtangankan, sebagian atau seluruhnya, sedangkan Hak guna pakai air diperoleh tanpa izin untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari bagi perseorangan dan bagi pertanian rakyat yang berada di dalam sistem irigasi. Hak guna pakai air memerlukan izin oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya apabila: a. cara menggunakannya dilakukan dengan mengubah kondisi alami sumber air; b. ditujukan untuk keperluan kelompok yang memerlukan air dalam jumlah besar; atau c. digunakan untuk pertanian rakyat di luar sistem irigasi yang sudah ada. Hak guna pakai air meliputi hak untuk mengalirkan air dari atau ke tanahnya melalui tanah orang lain yang berbatasan dengan tanahnya berdasarkan persetujuan dari pemegang hak atas tanah yang bersangkutan (dapat berupa kesepakatan ganti kerugian atau kompensasi). Hak guna pakai ini dapat diberikan kepada perseorangan atau badan usaha dengan izin dari Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya. Perizinan Dapat dipahami bahwa perizinan memang menempatkan posisi dan peran negara sesuai dengan loso dasar konstitusi (UUD 1945), dalam UU SDA penting untuk menempatkan rasa keadilan masyarakat. Perizinan mengacu pada pemikiran perlindungan terhadap kepentingan rakyat banyak terhadap kebutuhan air baku dan konsep pelestarian lingkungan hidup dan kelestarian sumber daya air. Perizinan dalam UU SDA diberlakukan secara menyeluruh (pasal 45), termasuk penggunaan air pada lokasi (4a), Pemanfaatan wadah air (4b), pemanfaatan daya air (4c), alokasi air untuk pengusahaan dan rencana pengelolaan sumber daya air (pasal 46). Air Baku Rumah Tangga Di dalam hal penyediaan air minum rumah tangga, maka pengembangan sistemnya menjadi tanggungjawab pemerintah dan pemerintah daerah, akan tetapi penyelenggaraannya dapat diberikan kepada BUMN/BUMD, Koperasi, badan usaha swasta, dan masyarakat (UU SDA pasal 40). Pengaturan terhadap pengembangan sistem penyediaan air minum bertujuan untuk: a. terciptanya pengelolaan dan pelayanan air minum yang berkualitas dengan harga yang terjangkau; b. tercapainya kepentingan yang seimbang antara konsumen dan penyedia jasa pelayanan; dan c. meningkatnya esiensi dan cakupan pelayanan air minum. Konservasi UU SDA menekankan konsep pelestarian (konservasi) sumber daya dan distribusi untuk menjaga stabilitas sumber daya dan siklus air, serta pemikiran administratif (perizinan dan pemberian hak). Konservasi mendapat penekanan untuk kelangsungan sumberdaya air yang telah mengalami pengrusakan pada hutan-hutan di daerah hulu (pegunungan) dengan usaha-usaha pencegahan secara konkrit. Pengrusakan hutan dan lingkungan yang dilakukan secara sistematis sebagaimana pada UU No. 23 tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup mendapatkan perhatian yang lebih serius, penghukuman dan penjeraan terhadap pelakupelaku pengrusakan dirumuskan dalam konsep pemidanaan yang begitu berat baik pemidanaan badan maupun pembebanan ganti rugi dan denda yang sebesar-besarnya. Konservasi harus menumbuhkan semangat kepada seluruh unsur masyarakat untuk menjaga kelestarian sumber daya air, pertanian konservasi pada wilayah hulu untuk dirangsang menumbuhkan semangat konservasi.(eko/dewi)

16

Agenda

Edisi II, 2010

ISTIMEWA

ari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day/WED) diperingati pada tanggal 5 Juni setiap tahunnya sejak PBB mengadakan Konferensi Lingkungan Hidup di Stockholm pada tahun 1977. Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia diselenggarakan di bawah kordinasi United Nations Environment Programme (UNEP), yang dibentuk PBB sejak 1977. Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2010 ini, mengangkat tema Many Species. One

Planet. One Future (Banyak Spesies. Satu Planet. Satu Masa Depan). Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2010, sebagaimana dilansir dari situs resmi UNEP akan dipusatkan di kota Kigali, ibu kota Rwanda, sebuah negara di Afrika Timur. UNEP berencana menjadikan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (WED) 2010 sebagai perayaan terbesar dalam merangsang kesadaran publik seluruh dunia akan pentingnya kelestarian lingkungan hidup. Tema WED kali ini berhubungan dengan pencanangan tahun 2010 sebagai Tahun Internasional Keanekaragaman Hayati (International Year of Biodiversity) dengan COP 10 Convention on Biological Diversity (CBD) di Nagoya, Jepang yang berlangsung pada 18-29 Oktober 2010. Tema ini diharapkan mampu mengajak seluruh dunia untuk melestarikan keragaman kehidupan di bumi. Memberikan kesadaran bahwa sebuah dunia tanpa keanekaragaman hayati adalah prospek yang sangat suram. Jutaan orang

17

Agenda
yang jatuh pada 5 Juni 2010 di Istana Negara. Indonesia, dan j jutaan spesies berbagi b p g bersama dalam satu planet melalui Kementerian Lingkungan Hidup, mengadopsi yang sama, d h dan hanya d dengan bersama-sama kita semua semangat seluruh bangsa di dunia, dengan mengusung bisa menikmati masa depan yang lebih aman dan lebih tema `Keanekaragaman Hayati, Masa Depan Bumi makmur. Lingkungan hidup, sering disebut sebagai lingkungan, Kita`. United Nations Environment Programme (UNEP) sendiri mengangkat tema `Many Species, One Planet, One adalah istilah yang dapat mencakup segala makhluk Future.` hidup dan tak hidup di alam yang ada di bumi atau Pemilihan tema ini dianggap penting oleh Menteri bagian dari Bumi, yang berfungsi secara alami tanpa LH Gusti Muhammad Hatta karena dapat mengingatkan campur tangan manusia yang berlebihan. Lawan dari bahwa Indonesia yang dikaruniai Tuhan kekayaan lingkungan hidup adalah lingkungan buatan, yang keanekaragaman hayati yang harus diwariskan kepada mencakup wilayah dan komponen-komponennya yang generasi yang akan datang. Indonesia dikarunai banyak dipengaruhi oleh manusia. Hari Lingkungan Hidup Sedunia keanekaragaman hayati yang sangat tinggi dengan dirayakan dalam banyak hal di negaradimilikinya sekitar 90 tipe ekosistem, 40 ribu spesies negara seperti Kenya, Selandia Baru, tumbuhan, dan 300 ribu spesies hewan. Keanekaragaman Polandia, Spanyol dan Amerika hayati yang melimpah merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan Serikat. Kegiatan yang dilakukan Indones Indonesia dikarunai bagi pembangunan ekonomi nasional meliputi aksi unjuk rasa dan parade keanekar keanekaragaman hayati dan peningkatan kesejahteraan jalanan, serta konser, penanaman yang sangat tinggi masyarakat, ujar Muhamad Hatta. pohon, dan kampanye pembersihan. dengan dimilikinya Presiden SBY sendiri dalam Di banyak negara, acara tahunan sekitar 90 tipe ekosistem, sambutanya mengatakan betapa ini digunakan untuk meningkatkan 40 ribu spesies pentingnya keanekaragaman hayati perhatian politik dan tindakan untuk tumbuhan, dan 300 ribu bagi Indonesia dan dunia. Negara meningkatkan kesadaran masyarakat n spesies hewan kita memiliki geogra yang khas dan tentang pentingnya memperhatikan masalah lingkungan. unik. Kita kaya akan biodivertsity uni dan kita juga memiliki kekayaan alam, alam pantai terpanjang di dunia, hutan hut terluas ketiga di dunia. Kaya dengan ora fauna da plasmanufa. Kita memiliki ora, fauna, dan 500 jenis mamalia atau 12 persen yang dimiliki dunia. 500 jenis reptil atau 7 persen yang dimiliki dunia. 1500 jenis burung atau 17 persen yang dimiliki dunia. 38 ribu jenis tumbuhan, 1.260 jenis tumbuhan medis, 700 jenis rumput laut, 450 jenis karang batu, dan 2 ribu jenis ikan, kata SBY. Mari kita bayangkan betapa Tuhan Yang Maha Kuasa menganugerahi Indonesia dengan biodeversity seperti itu yang sulit dicarikan bandinganya di negara-negara lain. Oleh karena itu kewajiban moral kita, tugas kemanusiaan kita, adalah menjaga kelestariannya, dan manakala POKJA itu kita gunakan untuk kesejahteraan rakyat, maka Di Indonesia mestilah mempertahankan kaidah-kaidah kelestarian lingkungan yang baik, yaitu systemable development Di Indonesia acara peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia mendapat sambutan hangat dari atau pembangunan berkelanjutan. Bukan hanya untuk pemerintah dan masyarakat Indonesia. Presiden generasi kita tapi untuk anak cucu kita di masa akan Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ibu Negara datang. Green development, pembangunan yang ramah Ani Yudhoyono memperingati Hari lingkungan, SBY menjelaskan. Lingkungan Hidup Sedunia Dalam kesempatan ini Presiden SBY memberikan

18

Edisi II, 2010

FOTO-FOTO: ISTIMEWA

penghargaan Kalpataru kepada 12 orang/organisasi untuk 4 kategori, penghargaan Adipura yang pada tahun 2010 ini meningkat menjadi 140 kota dari 126 kota pada tahun 2009. Sedangkan untuk penghargaan Adiwiyata Mandiri diberikan kepada 25 sekolah. Sejumlah daerah juga menggelar acara peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, melakukan upacara bendera yang dipimpin langsung oleh Pelaksana Tugas Gubernur Kepri HM Sani di Kantor Gubernur, Tanjungpinang. Rangkaian acara peringatan di Provinsi Riau Kepulauan adalah pembuatan buku tentang lingkungan hidup. Buku ini memperoleh penghargaan ditingkat nasional. Kegiatan lainnya adalah pengelolaan amdal, melakukan sosialisasi bahaya limbah B3 bagi lingkungan sekitar maupun juga pengelolaan serta pemanfaatan air bersih. Kegiatan lainnya adalah melakukan nota kesepakatan antara Pemerintah Provinsi Kepri, Badan Pengawasan Kota Batam dan Pemerintah Kota Batam, mengenai pengelolaan laut. Adapun puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup adalah penanaman 500 pohon penghijauan di Sungai Pulai serta pelepasan burung merpati di Kantor Gubernur, kata Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kepri, Khairudin Jafar. Di Provinsi Gorontalo alam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tingkat Provinsi Gorontalo ke-38 yang dirangkaikan dengan Apel Korpri dan Hari Keluarga Nasional ke-17 Tingkat Kabupaten

Gorontalo, Wakil Gubernur Gorontalo H. Toni Uloli, SE menghadiri upacara peringatan tersebut yang didampingi Ketua DPRD Provinsi Gorontalo Marten Taha di Bumi Perkemahan Bongohulawa Kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo. Upacara ini diawali dengan penanaman pohon pelindung yang penanamannya diawali oleh Wakil Gubernur Gorontalo Toni Uloli, Ketua DPRD Provinsi Gorontalo Marten Taha kemudian diikuti pejabat lainny Puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup Dunia 2010 tingkat Jawa Timur dilaksanakan di Bendungan Selorejo Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang dan di Kota batu pada 26 Juli. Kepala Badan Lingkungan Hidup Prop Jatim, Indra Wiragana SH pada LJ, mengatakan, rangkaian kegiatan dimulai 23 hingga 26 Juli dengan beberapa kegiatan, diantaranya kemah hijau yang dilaksanakan pada 24 hingga 26 Juli di Bendungan Selorejo-Malang. Penyebaran angket Peduli Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas dilaksanakan pada 23 Juli di Kota Batu. Dengan penyebaran angket ini dimaksudkan agar masyarakat tahu tentang kondisi DAS Brantas saat ini sehingga menimbulkan kepedulian untuk berperan serta dalam pelestarian dan peningkatan kualitas DAS ini, kata Indra. Selanjutnya, dengan mengadakan uji emisi kendaraan agar masyarakat mengetahui potensi beban pencemaran CO2 oleh kendaraan bermotor, yang akan dilaksanakan pada 23 Juli di Jalan Raya Kota Batu. (eko)

19

POKJA

ada tahun 1994 Sidang Umum PBB telah mendeklarasikan tanggal 17 Juni sebagai Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Dunia melalui resolusi Nomor A/Res/49/115 untuk meningkatkan kesadaran publik akan bahaya degradasi lahan. Hal ini menunjukkan bahwa degradasi lahan merupakan masalah global dan merupakan proses degradasi lingkungan yang paling berbahaya di dunia. Sidang Umum PBB tersebut mengajak seluruh negara dan kalangan organisasi masyarakat madani untuk memperingati, dan mendukung kegiatan berkaitan dengan upaya pencegahan dan penanggulangan degradasi lahan setiap tanggal 17 Juni guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap prinsip pembangunan yang berkelanjutan. Sebagai salah satu wujud kepedulian negara kita dan solidaritas terhadap masalah degradasi lahan global, pada tahun 1998 Indonesia meratikasi Konvensi PBB tentang Penanggulangan Degradasi Lahan dan kekeringan atau United Nations Convention to Combat Desertication, yang disingkat UNCCD, melalui Keputusan Presiden Nomor 135 Tahun 1998. UNCCD juga dikenal sebagai Konvensi Rio, yaitu konvensi hasil Pertemuan Bumi (Earth Summit) di Rio de Janeiro bersama dua konvensi lingkungan lainnya, yaitu Convention on Bio Diversity/CBD (konvensi keanekaragaman hayati) dan UNFCCC (konvensi

20

Edisi II, 2010

kerangka kerja perubahan iklim). Upaya Departemen Kehutanan untuk mengajak masyarakat secara bersama-sama menanam pohon melalui kampanye Indonesia menanam, seperti Gerakan Nasional Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (Gerhan), Aksi Penanaman Serentak Indonesia (APSI), Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon (GPTPP) adalah merupakan implementasi dari konvensi UNCCD tersebut di Indonesia. Demikian juga pengembangan Hutan Kemasyarakatan, Hutan Rakyat, dan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang dilakukan pada lahan-lahan yang harus dilindungi. Namun demikian akhir-akhir ini kegiatan dimaksud lebih banyak hanya dikaitkan dengan penyerapan karbon sebagai implementasi kerangka kerja konvensi perubahan iklim (UNFCCC). Maksud diselenggarakannya peringatan hari penanggulangan degradasi lahan ini adalah untuk mengingatkan kembali akan masalah degradasi lahan dalam kaitannya dengan masalah daya dukung DAS untuk masa depan bangsa. Dengan demikian, tujuan yang hendak dicapai adalah meningkatnya pemahaman akan degradasi lahan dan kesadaran akan bahayanya

Degr Degradasi lahan dan k e ke kekeringan secara signikan mempengaruhi seluruh komponen y keanekaragaman hayati h. di dalam tanah.

ISTIMEWA

terhadap kehidupan nasional sehingga diperoleh dukungan sehi bulat bul dari pemangku kepentingan mengenai upaya perlindungan dan men rehabilitasi hutan dan lahan seluruh reh DAS DA prioritas di Indonesia. Tema peringatan Ha Penanggulangan Degradasi Hari Lahan Sedunia tahun 2010 ini disesuaikan dengan tema tahun 2010 sebagai Tahun Internasional Keanekaragaman Hayati, yaitu: Enhancing soils anywhere, enhances life everywhere atau: Memperbaiki tanah dimanapun, memperbaiki kehidupan dimana-mana. Tema tersebut menggambarkan bahwa degradasi lahan dan kekeringan secara signikan mempengaruhi seluruh komponen keanekaragaman hayati di dalam tanah. Luas lahan kritis dan sangat kritis diseluruh Indonesia sudah melebihi 30 juta ha. Penanggulangan atau rehabilitasi lahan terdegradasi tersebut harus diprogramkan secara cermat yang sejalan dengan pembangunan pertanian yang berkelanjutan agar berdampak positif pada kesejahteraan rakyat. Terkait dengan pembangunan AMPL, tentunya berkurangnya lahan kritis akan meningkatkan keberlanjutan sumber air, serta mengurangi banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau [Eko].

21

Wacana

15 Juta KK
di Indonesia Belum Peroleh Akses Air Minum
Oleh Lauren Damiar ersediaan air minum di Indonesia, sebenarnya relatif cukup besar. Indonesia memiliki 6 persen dari persediaan air dunia. Sementara di Asia Pasik, 21 persen persediaan air ada di Indonesia. Namun dibandingkan Malaysia dan beberapa negara tetangga lainnya di Asia Tenggara, pemenuhan pasokan air bagi penduduk Indonesia lebih rendah. Hingga kini jumlah penduduk Indonesia yang memiliki akses terhadap air minum kurang dari 40 persen. Cakupan air perpipaan secara nasional baru 17 persen, jauh dibawah target yang ditetapkan sebelumnya. Jaringan tersebut hanya mencakup 32 persen kawasan perkotaan dan jauh lebih rendah di perdesaan. Cakupan nyata di lapangan tentu lebih rendah, mengingat di banyak tempat, jaringan yang sudah terpasang tidak berfungsi optimal. Saat ini Kementerian Pekerjaan Umum tengah berupaya keras membangun fasilitas air minum bagi 15 juta KK di 30.000 desa yang kesulitan air minum di seluruh Indonesia dan dibutuhkan anggaran Rp 15 triliun. Setiap tahun hingga 2010 dibutuhkan Rp 5 triliun. Asumsinya tiap desa membutuhkan Rp 500 juta Kondisi ketersediaan air di Indonesia tidak beda jauh dengan apa yang terjadi di tataran global. Indonesia berhadapan

22

Edis I 2010 Edisii III,, 2010


dengan persoalan ketersediaan air minum yang terus turun 15-35 persen setiap tahun akibat kerusakan alam dan pencemaran. Kondisinya akan bertambah parah jika persediaan air minum tersebut dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk. Pada tahun 2015, jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan mencapai 245,7 juta jiwa. Lebih dari setengah jumlah tersebut hidup di perkotaan dengan penggunaan air minum per kapita lebih besar dibandingkan penduduk pedesaan. Konsekuensinya, pertumbuhan permintaan air minum jauh tidak sebanding dengan kondisi ketersediaan dan pertambahan suplainya. Karena itu, tidak terhindarkan mayoritas masyarakat Indonesia berhadapan dengan keterbatasan pemenuhan air minum sebagai persoalan sehari-harinya. Sekitar 6 juta rakyat miskin di beberapa tempat di Indonesia harus membeli air minum dari penjual keliling dengan harga yang jauh lebih mahal dari harga air PDAM. Setidaknya ada 15 juta KK di 30.000 desa seluruh Indonesia yang tidak memiliki sarana air bersih. Sejumlah persoalan air minum terjadi hampir di setiap tempat. Di distrik Tembuni, Teluk Bintuni, masyarakat
POKJA

r p kesulitan mendapatkan air minum karena air tercampur k minyak. Di Palembang, selama musim kemarau, masyarakat di desa Sungai Rengit, kecamatan Talang Kelapa, dan desa Limbang Mulia, kecamatan Pangkalan Balai, kabupaten Banyuasin harus bersabar menunggu dalam antrian ratusan orang, siang dan malam, untuk mendapatkan air minum dari satu-satunya sumur di daerah tersebut. Yang tidak tahan mengantri terpaksa membeli air dengan harga Rp.3.500 per jerigen berukuran 20 liter di Air Batu, 18 kilometer dari desa mereka. Nusa Tenggara Timur: Daerah Krisis Air Nusa Tenggara Timur termasuk daerah yang paling sering dan paling parah mengalami krisis air. Krisis tersebut baik dalam aspek ketersediaan (kuantitas) ataupun kualitas. Sepanjang 2007 lalu, hampir setiap hari berita tentang krisis air di Nusa Tenggara Timur mengisi halaman surat kabar lokal. Krisis air minum terjadi hampir merata di seluruh Nusa Tenggara Timur. Dari 19 (kini 20) kabupaten/kota di NTT hanya 5 kabupaten yang relatif tercukupi kebutuhannya. Di musim kering, debit 29 sumber air dan sembilan sumur pompa yang menjadi sumber air masyarakat kota Kupang turun drastis, dari 10-75 liter per detik pada musim hujan menjadi 0,5-20 liter per detik. Hal ini menyulitkan distribusi air PDAM dengan prinsip gravitasi, sehingga distribusi air berkurang dari 3 hari sekali menjadi 5-7 hari sekali. Selain kekurangan pasokan, masyarakat kota Kupang juga menghadapi persoalan kualitas air bersih. Menurut hasil pemeriksaan Dinas Kesehatan Kota Kupang, 12 sumur galian yang melayani tangki air milik PDAM dan pengusaha lokal untuk dijual ke warga kota berkedalaman kurang dari 80 meter. Berapa di antaranya bahkan berkedalaman kurang dari 10 meter. Karena itu, air yang ada berasal dari air permukaan yang tercemar bakteri. Pedesaan, persoalan ketersediaan air minum lebih berat. Hampir seluruh kecamatan di kabupaten Kupang, yang adalah daerah pedesaan, mengalami krisis air bersih. Warga desa Lefuleo, kecamatan Kupang Barat harus berjalan 4 km dari desanya untuk mendapatkan air bersih. Di desa Baumata Timur, Baumata Utara dan Kuaklalo di kecamatan Taebenu, masyarakat tidak sanggup lagi membiayai operasional pompa air yang membutuhkan Rp.600 ribu per empat jam. Sementara di beberapa desa di kecamatan Amarasi Barat, warga terpaksa membeli air seharga Rp 200 ribu per tangki. Krisis air bahkan dialami oleh warga Tilong, desa Oelnasi, tempat terdapatnya bendungan terbesar di NTT. Jaringan

23

Wacana
pp pipa dan 11 bak penampun yang telah dibangun di desa p penampung p b b i balas jasa tersebut, sebagai b l j penyerahan tanah oleh rakyat untuk bendungan (rakyat menyerahkan lahan ulayatnya secara adat dengan janji akan mendapatkan pelayanan air bersih), tidak pernah dialiri air. Setiap hari kaum ibu di Tilong harus berjalan 3 km untuk memikul air. Krisis air lebih buruk lagi di Pulau Sabu, baik di kecamatan Sabu Barat, Sabu Timur, Sabu Utara dan kecamatan Liae. Secara merata masyarakat di sana berhadapan dengan kurangnya pasokan air bersih. Di kabupaten Belu, dari 400.000 penduduknya, hanya 12 persen yang menikmati air bersih. Penduduk di desadesa di pinggiran sungai Benanain seperti desa Tafuli kecamatan Rainhat, desa Benae kecamatan Malaka Tengah, dan desa Manleten kecamatan Tasifeto Barat terpaksa sungai yang berlumpur dan menjadi tempat kubangan hewan. Persoalan serupa dialami warga desa Pondok di kabupaten Sumba Barat. Di Solor, kabupaten Flores Timur dan 8 kecamatan di kabupaten Lembata, meskipun memiliki sumur, masyarakat mengkonsumsi air yang tidak layak. Sumur-sumur milik warga terkontaminasi resapan air laut. Untuk mendapatkan air yang bebas dari resapan air laut dibutuhkan sumur bor yang kedalamannya mencapai puluhan meter. Masyarakat tidak memiliki cukup dana dan teknologi untuk itu. Penderitaan Terus Berlanjut Krisis air minum berdampak pada banyak persoalan lain, seperti penyakit, turunnya tingkat kesejahteran, rendahnya produktivitas, dan terabaikannya kesempatan memperoleh pendidikan. Di Nusa Tenggara Timur, sepanjang Agustus hingga September 2007, 11 balita meninggal akibat diare yang disebabkan kurangnya ketersediaan air minum dan buruknya kondisi sanitasi. Di provinsi ini, kasus kematian balita akibat diare terjadi sepanjang tahun. Selain akses air minum yang merupakan salah satu indikator kesejahteraan, bagi masyarakat yang terpaksa membeli air minum dari penjual keliling (mobil tangki dan gerobak dorong), keterbatasan air minum berarti bertambahnya beban anggaran untuk konsumsi rumah tangga. Harga air pada penjual keliling jauh lebih mahal dari tarif POKJA berlangganan air pipa milik PDAM. Karena itu, masyarakat yang tidak memiliki akses pada pelayanan PDAM atau yang pasokan air PDAM terhenti pada musim kemarau, harus mengurangi konsumsi kebutuhan lainnya agar dapat menutupi besarnya pengeluaran untuk membeli air bersih. Di desa-desa yang tidak tersedia cukup sumber air bersih, masyarakat harus berjalan kaki berjam-jam hanya untuk mengambil satu atau dua jerigen air dari sumber yang jauh, atau menghabiskan waktunya dalam antrian panjang menunggu giliran di satu-satunya sumber air yang ada dan terbatas. Jika saja rumah penduduk di desa-desa tersebut telah terlayani jaringan pipa air bersih, tentunya waktu yang ada dapat digunakan untuk melakukan aktivitas ekonomi yang menambah pendapatan keluarga,

mengkonsumsi air sungai Benanain yang berlumpur dan tercemar kotoran hewan. Warga tidak sanggup berjalan 3-10 km tiap harinya ke mata air terdekat ataukah membeli pompa dan pipa agar dapat mengalirkan air dari mata air yang terletak di lembah itu. Hal serupa dialami warga desa Kateri di kecamatan Weliman, dan desa Buliaran di kecamatan Sasitamean. Seperti halnya di kabupaten Belu, masyarakat kabupaten Ngada juga terpaksa mengkonsumsi air sungai karena sumber air minum jauh dari desa. Terlampau melelahkan untuk berjalan 3-7 km ke sumber air minum tiap harinya, warga desa Mainai di Wolomeze dan desa Benteng Tawa di kecamatan Riung Barat, terpaksa memanfaatkan air

24

Edisi II, 2010


dan Bandung. Setelah kemerdekaan, sebelum tahun 1970an, tercatat beberapa proyek pembangunan instalasi air minum perpipaan, seperti pembangunan sarana air minum Pejompongan-1 untuk Kota Jakarta dan proyek-proyek yang dilaksanakan oleh Pengusaha Perancis (Degremont) di kotakota besar Jakarta, Bandung, Makasar, Padang, Menado, dan Surabaya. Tentu saja, di tengah upaya mempertahankan kemerdekaan, keterbatasan POKJA sumber daya, dan begitu banyak persoalan mendesak --yang harus ditangani sebagai negara yang masih sangat muda-- pembangunan instalasi Berjam Berjam-jam mereka air minum saat itu sangat tidak memadai habi habiskan untuk dan hanya memenuhi bagian sangat berjalan kaki dan kecil masyarakat. mengantri mengambil Pada awal tahun 1970an, Tanggungjawab Pemerintah Bicara tentang sebab-sebab terjadinya air dari sumber yang ketika pemerintah yang berkuasa terletak jauh dari memperkenalkan bentuk perencanaan krisis air, seringkali dengan mudah kita rumah. pembangunan lima tahuhan (Repelita), pe tempatkan sebagai sebab, hal-hal seperti: pembangunan air minum dimasukan pe pertumbuhan pesat penduduk dan dalam kategori bidang sosial. da industri, beserta semakin beragamnya Pengelompokan ke dalam kategori Pe kebutuhan dan aktivitas hidup yang erkaitan membutuhkan air; keadaan lingkungan seperti iklim ini berkaitan dengan urutan prioritas dan alokasi dana. kering dan lahan gambut; ataukah perubahan lingkungan, Kategori bidang sosial adalah kategori yang berada pada baik secara alamiah maupun akibat pengrusakan dan prioritas ke sekian setelah sektor-sektor lainnya. Tidak pencemaran oleh ulah manusia. Hal-hal tersebut benar heran jika pada 1970an, tercatat kapasitas terpasang sarana adanya. Tetapi jika berkaca pada sejumlah krisis air di air minum di seluruh Indonesia sebanyak 9.000 liter per daerah-daerah yang disebutkan di depan, kebijakan detik dengan cakupan pelayanan 7 persen di perkotaan . pemerintah turut menyumbang peran penting bagi krisis Dengan jumlah penduduk saat itu 110 juta jiwa, tingkat konsumsi rata-rata (nasional) adalah 7,1 liter per orang per air yang tak kunjung usai. Hal yang paling banyak disorot dari tanggungjawab hari. Pada tahun-tahun selanjutnya, hingga 1990an, pemerintah terhadap pemenuhan air minum adalah pembangunan jaringan perpipaan, yang tentu saja pembangunan fasilitas air minum perpipaan dilakukan berkaitan dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). lebih luas. Saat itu ditetapkan target 60 Iiter per hari untuk Pembangunan jaringan pipa air minum di Indonesia setiap orang, dengan cakupan pelayanan 60 persen untuk telah dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda. Pada perkotaan. Investasi dilakukan oleh pemerintah pusat, masa tersebut, pengadaan sarana air minum perpipaan dimaksudkan sebagai investasi awal. Pada tahap selanjutnya dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan orang-orang PDAM dan Pemda diharapkan dapat mengembangkan Belanda di kota-kota besar di Indonesia. Karena itu sendiri pelayanan air minum sesuai perkembangan pembangunan jaringan pipa hanya melayani kawasan di wilayahnya. Untuk kawasan pedesaan, penekanan pemukiman tertentu, seperti Menteng di Jakarta dan pembangunan fasilitas air minum lebih pada pemukiman Belanda di kota-kota seperti Bogor, Medan, perbaikan kualitas prasarana atau juga aktivitas sosial-budaya. Bagi anak-anak, jauh dan terbatasnya sumber air dari rumah atau pemukiman mereka akan berarti kehilangan kesempatan untuk melanjutkan sekolah. Di Solor Barat, Flores Timur, sebelum adanya program pembangunan bak penampung air hujan (PAH), para perempuan muda tidak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi karena harus memikul tanggungjawab atas tersedianya air untuk kebutuhan rumah tangga. Berjam-jam mereka habiskan untuk berjalan kaki dan mengantri mengambil air dari sumber yang terletak jauh dari rumah. Tanggungjawab tersebut merupakan pembagian peran dengan orang tua yang berkerja di ladang.

25

Wacana
dan sarana air minum individual serta sistem perpipaan indi d h sederhana yang dik l l k l dikelola kelompok masyarakat. Antara tahun 1990-1997, prinsip pemulihan biaya penuh (full-cost recovery) untuk pelayanan air minum perpipaan mulai diberlakukan oleh PDAM di kawasan perkotaan. Dengan prinsip ini, investasi pembangunan jaringan perpiaan yang didanai pinjaman lunak luar negeri harus dibayar kembali oleh PDAM dengan tarif yang dipungut dari masyarakat konsumen. Meski demikian, pemerintah menetapkan batas atas tarif maksimal tidak boleh lebih dari 4 persen rata-rata pendapatan rumah tangga. Di masa itu sektor swasta mulai masuk dalam pembangunan instalasi dan bisnis air bersih. Harus diakui, sejak 1970 hingga 1997 telah terjadi peningkatan kapasitas produksi air minum 10 kali lipat, dari 9.000 liter per detik menjadi 94.000 liter per detik. Tetapi peningkatan tersebut tidak berarti jika dibandingkan pertambahan penduduk, terutama penduduk perkotaan yang sebesar 4 persen per tahun (sekitar 12 kali lipat antara 1970 hingga 1997). Untuk itu pemerintah pusat dan daerah dituntut untuk meningkatkan percepatan pembangunan fasilitas air bersih. Tetapi di tahun 1997, pembangunan fasilitas air minum justru bergerak ke arah sebaliknya. Kesulitan keuangan akibat krisis ekonomi menyebabkan pembangunan dan perluasan fasilitas air minum berkurang drastis. Di sisi lain, PDAM mengalami persoalan kenaikan biaya produksi dan kesulitan biaya opersional. Kondisi tersebut berpengaruh hingga kini. Perhimpunan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi) menyebutkan, pada akhir 2001 hanya 29 dari 293 PDAM di seluruh Indonesia yang berada dalam kondisi sehat.
ISTIMEWA

Sekitar 264 lainnya menanggung utang Rp 4 triliun kepada pemerintah. Di tahun 2004, jumlah tersebut meningkat menjadi Rp 5,3 triliun. Tentu saja, krisis ekonomi tidak bisa menjadi kambing hitam. Perhatian pemerintah dalam penyediaan air minum harus terus dituntut. Salah satu ukuran untuk menilai seberapa besar tanggungjawab pemerintah akan penyediaan air minum bagi rakyat adalah seberapa alokasi anggaran pemerintah bagi hal tersebut. Setiap tahun hingga 2010 dibutuhkan Rp 5 triliun. Asumsinya tiap desa membutuhkan Rp 500 juta. Dengan perhitungan kasar tiap penduduk membutuhkan 6 liter air perhari maka untuk memenuhi kebutuhan 200 juta penduduk Indonesia, dibutuhkan anggaran Rp. 4 triliun per tahun. Kenyataannya jumlah yang dilakokasikan pemerintah bagi penyediaan air minum untuk masyarakat hanya sebesar Rp 1,2 triliun atau 1 persen dari APBN. Jumlah tersebut jauh di bawah anggaran bagi militer atau bagi pembayaran bunga dan hutang luar negeri (hutang najis atau odious debt). Kondisi di atas berpengaruh pada pemenuhan kebutuhan air minum bagi rakyat. Walaupun cakupan layanan sudah terlihat meningkat tetapi cakupan riil di lapangan tentu lebih rendah, mengingat di banyak tempat, jaringan yang sudah terpasang tidak berfungsi optimal. Dari kasus-kasus yang dipaparkan sebelumnya, bertahun-tahun jaringan yang terpasang tidak dialiri air, hanya dialiri beberapa kali sebulan, bahkan beberapa kali setahun. Di sebagian tempat, air yang dialirkan melalui pipa-pipa PDAM berlumpur di musim hujan. Penulis adalah Aktivis Kesehatan dan Lingkungan Hidup PIKUL NTT

26

Edisi II, 2010

FOTO-FOTO POKJA

Penulis Jemima SY dan Deviariandi Setiawan emerintah Indonesia berkomitmen untuk mencapai target-target pembangunan milenium (the Millennium Development Goals/MDGs), dan dalam rangka melaksanakannya, diperkirakan 78 juta jiwa membutuhkan pelayanan air bersih pada tahun 2015. Dari sekitar 70.000 jumlah desa di Indonesia, 80% dikelompokkan sebagai daerah perdesaan walaupun

sebagian diantaranya tengah berkembang menjadi daerah perkotaan, sebagian besar belum terlayani dengan sarana air minum yang memadai. Pada tahun 2005, hanya 2% dari keseluruhan jumlah desa dilayani dengan perpipaan ke rumah-rumah atau melalui keran-keran umum mayoritas desa-desa di perdesaan (52%) bergantung pada sumur dangkal. Dari sisi populasi, data pada tahun 2006 memperlihatkan bahwa 47% penduduk Indonesia yang tinggal di

27

Wacana
p perdesaan bergantung pada s g g p sistem air bersih non perpipaan h d d k d hanya 5% penduduk perdesaan memiliki akses pada sarana air bersih perpipaan. Target MDG untuk sektor air bersih perdesaan menunjukan sebuah tantangan bagi Indonesia. Penduduk perdesaan termasuk 63% dari 35 juta penduduk miskin di Indonesia. Pertumbuhan peningkatan pelayanan publik di perdesaan merupakan kunci untuk mengurangi kemiskinan bagi jutaan orang. Dalam kaitannya dengan pembangunan sarana air bersih, target-target MDG membutuhkan peningkatan pada sarana air bersih (perpipaan dan sumber lainnya yang terlindungi) oleh masyarakat perdesaan. Hal ini berarti dibutuhkan penyediaan air bersih tambahan bagi sekitar 26.5 juta penduduk di perdesaan. Pemerintah telah melakukan upaya keras untuk meningkatkan akses yang berkelanjutan pada sarana air bersih di daerah perdesaan, melalui proyek-proyek investasi berskala besar yang mendukung pembangunan infrastruktur sarana air bersih di perdesaan yang dikelola oleh masyarakat melalui badan pengelola sarana air bersih masyarakat (BPSAB). Sesuai dengan kebijakan nasional air minum dan penyehatan lingkungan berbasis masyarakat, tipe pendekatan yang digunakan adalah dengan memfasilitasi masyarakat untuk menimbulkan permintaan kepada intervensi proyek; adanya kontribusi masyarakat untuk pembangunan konstruksi; dibentuknya tim kerja masyarakat yang berpartisipasi pada saat pelaksanaan proyek dan selanjutnya, mereka bertanggung jawab utnuk mengoperasikan dan memelihara sarana air bersih; serta dilaksanakan pelatihan-pelatihan bagi badan pengelola untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan dalam melaksanakan fungsi pengelolaan dimaksud. Dimulai pada tahun 1990an Pemerintah Indonesia, dengan dukungan Bank Dunia, telah melaksanakan investasi pada proyek-proyek yang diperkirakan telah menyediakan air bersih melalui skema perdesaan untuk lebih dari 4.000 desa. Beberapa proyek yang sama juga telah diimplementasikan dengan dukungan lembagalembaga bilateral seperti AusAID dan GTZ; lembaga multilateral seperti UNICEF dan Bank Pembangunan Asia; serta Lembaga Non Pemerintah, beberapa dilakukan dengan kemitraan dengan philanthropy perusahaan. Diperkirakan setidaknya 6.400 sistem baru akan dibangun dan dikelola oleh masyarakat antara tahun 2008 dan 2013, melalui program-program pembangunan air bersih yang dilaksanakan melalui Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pekerjaan Umum. Lebih dari itu, sarana air bersih dan sanitasi juga akan dibangun melalui Program Nasional Permberdayaan Masyarakat (PNPM), sebuah payung program untuk pembangunan infrastruktur multi sektor berbasis masyarakat yang akan dilaksanakan di seluruh desa dimulai pada tahun 2009. Pembangunan air
POKJA

28

Edisi II, 2010


bersih masyarakat juga merupakan program yang populer diantara pemerintah daerah, dengan menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk air bersih. Saat ini, proyek-proyek berfokus pada tantangan awal pembangunan sarana air bersih perdesaan; yaitu membentuk serta menyiapkan tim kerja masyarakat untuk mengoperasikannya. Ketika proyek investasi ini selesai, terdapat keinginan untuk melihat sistem-sistem ingkatnya rasa kepemilikan terhadap proyek, mengurangi biaya proyek, pendistribusian manfaat yang lebih merata, dan sebagainya. Namun demikian, kinerja BPSAB pada masa paska konstruksi tidak pasti, walaupun memperlihatkan peluang untuk berkinerja baik. Sebuah studi yang dilaksanakan pada 171 contoh BPSAB di 5 kabupaten di Jawa Barat dan Jawa Timur menemukan bahwa mereka menyediakan pelayanan yang memuaskan melayani rata-rata 1.200 jiwa per BPSAB, atau secara keseluruhan melayani lebih dari 200.000 jiwa. Dari jumlah total BPSAB yang beroperasi di 5 kabupaten ini dapat melayani sekitar 800.000 jiwa, sepadan dengan 7% dari total populasi kabupaten dimaksud. Hampir seluruh BPSAB dapat menyediakan air selama 2024 jam pelayanan (70%), tujuh hari dalam seminggu (85%), tetapi tingkat kecukupan tekanan bagi seluruh sistem dinilai kurang cukup, yang mengindikasikan rendahnya kinerja dari sistem. Mayoritas (70%) dari BPSAB menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menutupi biaya operasional mereka. Tetapi, dengan mempertimbangkan BPSAB yang secara fundamental merupakan organisasi POKJA yang bersandar pada transaksi tunai, kenyataannya yang dikelola oleh masyarakat tersebut sejumlah BPSAB memiliki periode penagihan selama satu dapat menyediakan pelayanan bulan atau lebih, yang mengindikasikan secara berlanjut kepada masyarakat. bahwa mereka menghadapi beberapa Terdapat juga harapan untuk melihat masalah. BPSAB te BPSAB telah menjadi organisasi masyarakat tersebut matang Jumlah aset yang saat ini dikelola d h wadah yang berguna sebagai organisasi dan mengeksplorasi oleh BPSAB saat ini cukup signikan. untuk pelaksanaan kemampuannya untuk menjadi Mereka mengelola fasilitas produksi proyek di perdesaan mesin dalam peningkatan pelayanan air, transmisi dan reservoir, bangunan air bersih di perdesaan di Indonesia. kant dan memiliki tanah. Untuk aset kantor Proyek Air Bersih yang dikelola tetap saja, BPSAB di kedua provinsi ini Masyarakat Generasi Kedua (Proyek men mengelola aset senilai miliaran rupiah. Generasi Kedua) berfokus untuk memperkenalkan Namun n demik demikian, banyak BPSAB tidak memiliki intervensi-intervensi paska proyek. Proyek tersebut catatan yang cukup me mengenai nilai dan status dari aset-aset membantu BPSAB untuk meningkatkan kapasitasnya, mereka. Hal ini menjadi hambatan kemampuan mereka dan memperkenalkan mekanisme untuk meningkatkan bahkan untuk mulai memahami posisi awal mereka, untuk profesionalisme BPSAB; pengembangan aspek legal, merencanakan penggantian dan pengembangan, selain masuk kedalam perjanjian pelayanan dengan pemerintah itu mungkin saja terdapat implikasi-implikasi terhadap kabupaten, memperkenalkan kontrak pelayanan dengan akuntabilitasnya. pihak swasta dan pembiayaan mikro melalui bank BPSAB beroperasi dalam lingkungan yang berubah sekomersial. cara cepat. Pertumbuhan ekonomi dan penduduk (urbanisasi) yang sebelumnya merupakan masyarakat perdesaan Hasil Pembelajaran seringkali mengharapkan peningkatan tingkat pelayanan BPSAB telah menjadi wadah yang berguna untuk yang lebih baik seiring peningkatan pendapatan. Dapelaksanaan proyek di perdesaan literatur mengenai pem- lam teori, BPSAB akan dapat mengoperasikan infbangunan berbasis masyarakat menyebutkan sejumlah ha- rastruktur sistem air bersih awal sesuai dengan sil-hasil yang positif dari pendekatan ini, termasuk men- desain umur sarana (umumnya

29

Wacana

POKJA

10 tahun) dan mengembangkan pelayanan pada mereka yang belum terlayani. Pada kenyataanya, faktor-faktor lain yang muncul, yang mempengaruhi kemampuan mereka dalam melakukan beberapa hal: Keterbatasan dalam sistem manajemen komersial Pengembangan membutuhkan solusi-solusi manajemen yang lebih rumit diluar yang saat ini dapat dikelola oleh BPSAB. Penambahan jumlah pelanggan sebagai contoh, akan membutuhkan praktik-praktik penagihan dan pengumpulan (billings and collection) yang lebih baik, registrasi pelanggan yang lebih tertata dan pencatatan keuangan yang lebih rapih. Hambatan dalam desain teknis dan pelaksanaan desain rekayasa dan konstruksi membutuhkan input dari ahli yang tidak tersedia di, atau tidak dapat diakses oleh masyarakat. Sektor publik seringkali lambat untuk memberikan tanggapan pada kebutuhan ini, dan juga BPSAB cenderung membuat peningkatan sistem tanpa input-input dimaksud. Kesalahan desain dalam pengembangan seringkali dapat mengancam kualitas teknis dari sistem. Akses pada modal keuangan BPSAB saat ini sangat bergantung pada hibah dan pendapatan internal tunai (internally generate cash/IGC) untuk membiayai pengembangan. Dana hibah seringkali tidak dapat diperkirakan; ketika BPSAB bergantung pada pendapatan tunai internal, hal ini akan menghambat BPSAB terhadap kebutuhan dana pada saat yang dibutuhkan karena mereka harus menabung/ menunggu bertahun-tahun.

Sangat sedikit BPSAB yang memiliki hubungan dengan bank hanya 9 BPSAB memiliki pengalaman dalam meminjam untuk investasi dan hanya 20% menyimpan dana tabungannya di bank. Legitimasi, kepastian hukum dan kejelasan hubungan dengan pemerintrah daerah Desentralisasi barubaru ini meletakan kewenangan pelayanan air bersih pada pemerintah kabupaten dan dibawah Peraturan Pemerintah 16/2006, aktivitas operasi BPSAB diatur atas permintaan dari pemerintah kabupaten. Namun artikulasi dari hak dan kewajiban kedua belah pihak baik BPSAB maupun pemerintah daerah masih dalam pengembangan. Sementara pemerintah daerah baru saja mulai untuk memahami dan mendapatkan tanggung jawab penyediaan air minum, banyak pemerintah daerah melakukan pendekatan lepas tangan pada pembangunan paska proyek dan supervisi BPSAB yang telah dibentuk melalui program-program nasional. Hal ini seringkali meninggalkan kevakuman bagi BPSAB untuk mengakses dukungan teknis dan managemen yang sangat diperlukan. Pada saat yang sama, BPSAB kurang akuntabel terhadap buruknya kinerja dalam mengelola infrastuktur publik. Rumitnya masalah ini, umumnya dikarenakan BPSAB tidak mengambil bentuk dari sebuah entitas yang secara legal diakui yang akan mengijinkan mereka untuk eksis, melakukan transaksi dengan atau mencari dukungan dari lembaga-lembaga lain dibawah kerangka kerja dan aturan yang jelas.

30

Wawancara

Edis I 2010 Edisii III,, 2010

ir minum dan sanitasi yang baik merupakan elemen penting yang menunjang kesehatan manusia. Namun sayangnya pemenuhan akan kebutuhan tersebut belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Guna mencapai target air dan sanitasi yang baik dibutuhkan upaya yang lebih keras dari semua pihak. Harus diakui, akses pelayanan bidang air minum dan sanitasi di Indonesia masih jauh dari target Millenium Development Goals (MDGS). Untuk mengejar ketertinggalan tersebut pemerintah perlu berupaya keras untuk aat , pemerintah menyediakan d yd dana memenuhinya. Saat ini, p tuk Rp.11,8 triliun untuk air minum dan Rp.14,2 triliun gga akhir tahun 2014. Untuk untuk sanitasi hingga a auh mengetahui lebih jauh tentang isu ini, wardi tawan Percik, Eko Bud Harono, berkesemBudi ancara patan melakukan wawa wawancara dengan Direkya tur Jenderal Cipta Kary Kementerian PekerKarya wono, jaan Umum, Budi Yuw Yuwono, usai acara u perkenalan kantor baru Ikatan Ahli n n Teknik Penyehatan dan LingkungPI). an Indonesia (IATPI). Pertanyaan askan n Bisa bapak jelaskan ngah h upaya apa yang tengah ntah h dilakukan pemerintah terkait persoalan pemum bangunan air minum n di perdesaan? Dan bagaimana kaitannya dengan target

pencapaian MDGs. Jawaban Cukup banyak yang telah, sedang dan akan dilakukan tentunya. Sekarang ini pemerintah tengah melakukan upaya untuk menyinergikan dan mengonsolidasikan percepatan pelaksanaan program pencapaian MDGs terkait penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat, air minum, dan sanitasi secara nasional. Konsolidasi tersebut diharapkan akan menghasilkan sebuah Rencana Tindak (Action Plan) yang dapat dijadikan dasar bagi semua pihak untuk berkontribusi. Program Percepatan Pencapaian Target M p p g MDGs Bidisusun oleh dang Cipta Karya yang dis susun Cipta Direktorat Jenderal Cip Karya pta periode 2010 2014 antara lain a penyediaan air mencakup kegiatan pe enyediaan minum perkotaan di 820 ibu kota 8 kecamatan (IKK), 577 kawasan 7 Berpendapat Masyarakat Berpendapa an Rendah at (MBR)/Rumah Sederhana Sehat n (RSH)/Rumah Susun Sederhana 100 (Rusuna), dan 10 kawasan 00 khusus serta kegiatan penyediaan air minum n perdesaan di 2.340 perdes saan desa rawan air/ terpencil/pulau terp pencil/pulau kecil ke terluar ecil d dan pembangunan Program
POKJA AMPL

Wawancara
Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat y (P i ) 2 310 d (Pamsimas) di 2.310 desa. Sedangkan kegiatan penyediaan sistem sanitasi mencakup pengembangan prasarana dan sarana air limbah Sistem Terpusat (O Site) di 11 kota, pengembangan prasarana dan sarana air limbah Sistem Setempat (On Site) di 210 kabupaten/kota, serta kegiatan persampahan. Selain itu, program percepatan penyediaan air minum dan sanitasi akan didukung oleh program DAK (Dana Alokasi Khusus) air minum dan sanitasi dengan alokasi dana Rp. 3,4 triliun, program percepatan penyediaan air minum perkotaan melalui pembiayaan pinjaman bank nasional, program hibah air minum dan air limbah, serta program percepatan sanitasi untuk mendorong swadaya masyarakat. Itulah serangkaian program strategis yang diupayakan pemerintah. Pertanyaan Mengapa target MDGs ini menjadi prioritas penting bagi pemerintah? Jawaban Program pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) merupakan salah satu dari tiga program pembangunan yang berkeadilan yang ditetapkan oleh pemerintah melalui Inpres 3/2010, selain program pro-rakyat dan program keadilan untuk semua. Dari semua program yang dijabarkan dalam Inpres tersebut, yang terkait dengan tugas Direktorat Jenderal Cipta Karya adalah program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat yang merupakan program pro-rakyat serta penyediaan air minum dan sanitasi yang merupakan program penjaminan kelestarian lingkungan hidup. PROAIR Selama ini kita telah melihat dijalankannya berbagai program pencapaian MDGs bidang Cipta Karya, baik yang didanai oleh APBN, APBD, pihak swasta seperti korporasi, maupun lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Namun kita belum dapat memetakan data pencapaian yang sebenarnya terhadap sasaran MDGs karena belum ada konsolidasi program antarpelaku pembangunan. Harus diakui stakeholder program Penyediaan Air minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) telah melakukan koordinasi yang mantap, baik di tingkat pusat dan daerah. Jika tidak, maka akan terjadi saling menunggu, berjalan tidak seiring dan pada akhirnya terlambat mencapai target. Prinsip dasar pelaksanaan PAMSIMAS adalah pemberdayaan masyarakat. Artinya, masyarakat baik, tua, muda, laki-laki, perempuan, kaya, dan miskin harus dilibatkan dalam seluruh proses pembangunan. Selain itu, program ini memiliki pendekatan yang tanggap terhadap kebutuhan masyarakat. Pertanyaan Kami melihat sejumlah potensi yang ada ditengah masyarakat dan juga sejumlah negara donor masih belum terjamah dengan baik, apa kendalanya? Jawab Potensi yang ada pada masyarakat dan dunia usaha serta sejumlah lembaga lainya memang belum sepenuhnya diberdayakan oleh Pemerintah. Sedangkan fungsi pembinaan belum sepenuhnya menyentuh

masyarakat yang ingin mencukupi kebutuhannya sendiri. Masyarakat juga masih banyak menganggap air sebagai benda sosial dan masih dianggap sebagai urusan pemerintah. Ini memang tantangan yang perlu segara kami jawab secara arif dan bijaksana. PAMSIMAS akan dilaksanakan di 15 provinsi, meliputi 110 kabupaten/kota dengan target dilaksanakan di 4.000 desa dan 1.000 desa replikasi. Dalam jangka 4 tahun, masing-masing kabupaten/kota hanya boleh mengusulkan maksimal 50 desa. Setiap desa, menurutnya akan mendapatkan hibah sebesar Rp 275 juta dan akan diberikan kepada kelompok masyarakat desa sasaran. Dana itu berasal dari APBN/pinjaman Bank Dunia Rp 192.500.000 (70%), APBD kabupaten/kota minimal Rp 27,5 juta (10%), dan kontribusi masyarakat desa 20%

32 2

Edisi II, 2010


Pertanyaan Adakah perlakuan khusus atau program bantuan yang disediakan pemerintah untuk program air minum dan sanitasi? Jawaban Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum telah mengucurkan dana hibah sebesar Rp 119 miliar untuk air minum dan sanitasi ke 29 kota di Indonesia. Pemerintah melalui bantuan hibah yang diberikan Pemerintah Australia (USAID) kepada Indonesia senilai 60,5 juta dolar Australia untuk periode setahun (11 Juni 2011) dimaksudkan untuk memberikan pelayanan akses air minum dan sanitasi kepada masyarakat yang lebih baik. Pola Pertanyaan bantuan program ini dinilai Menteri PU merupakan yang Apakah pemerintah daerah sudah pertama diterapkan di Indonesia. cukup baik menyikapi program PAMPasalnya, pihak Pemda (Bupati/ SIMAS? Paska p pelaksanaan Walikota) menyiapkan program akses Jawaban PAMSIMAS, Pemda S sambungan air minum dan air limPertanyaan yang menarik. Paska mampu konsisten bah perpipaan yang diprioritaskan pelaksanaan PAMSIMAS, Pemda mammelaksanakan, bagi masyarakat penghasilan rendah pu konsisten melaksanakan, meneruskan meneruskan dan menggunakan biaya APBD. Setelah dan mengembangkan PAMSIMAS di mengembangkan program dinyatakan berhasil dana wilayahnya secara mandiri dengan sumPAMSIMAS di ber daya sepenuhnya dari pemda dan yang dikeluarkan Pemda diganti wilayahnya secara masyarakat. Dana berasal dari Pemda de d ngan dana hibah. Menurut Meni mandiri dan masyarakat untuk membiayai pelateri t PU, bila program itu nantinya tihan dan penyiapan masyarakat, pelakberjalan baik maka tidak menutup b sanaan sik maupun fasilitator. kemungkinan nilai bantuan serupa akan kem ditingkatkan ditahun-tahun berikutnya. Ditjen Cipta Karya saat ini sedang mengonsolidasikan diti Kami segera men meneruskan hibah Australia untuk proprogram-program tersebut, sehingga mampu dicapai keami samaan data dan informasi mengenai pencapaian, rencana gram air minum dan air limbah kepada 29 kota di Indonesia. Dan hibah senilai AUD 25 juta (tahap pertama) akan dan target percepatan pencapaian MDGs, untuk mendodigunakan untuk membangun 42.300 unit Sambungan rong percepatan pencapaian MDGs. Rumah (SR) air minum dan bagi kota-kota yang telah Langkah awal konsolidasi tersebut tengah dilakukan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya dengan menyeleng- memiliki sistem pengelolaan air limbah terpusat. Program ini sebagai insentif dan motivasi Kepala Daerah agar lebih garakan rapat teknis regional secara maraton di empat serius meningkatkan pelayanan disektor air minum dan wilayah di Indonesia. Rapat teknis yang diikuti oleh peair limbah di daerah masing-masing. Selain itu, penerapan merintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota konsep output based dalam program ini terbilang bagus untersebut, ditargetkan akan menghasilkan sebuah Rencana tuk diterapkan di wilayah lain. Tindak (Action Plan) yang dapat dijadikan dasar bagi seProgram hibah ini merupakan salah satu program permua pihak untuk berkontribusi. Rencana Tindak Percepatan Pencapaian Sasaran MDGs cepatan pencapaian target MDGs bidang Air minum dan Sanitasi yang disusun Ditjen Cipta Karya periode 2010 akan berisi updating data eksisting yang ada, rencana 2014. Program ini direncanakan akan terus dikembangpencapaian target MDGs masing-masing kabupaten/kota, kan oleh pemerintah daerah khususnya yang berminat langkah-langkah yang akan dilakukan masing-masing kahingga 2011 dengan sasaran penambahan 60 ribu Sambupaten/kota di bawah koordinasi provinsi, dalam sektor bungan Rumah baru. Sementara itu, program hibah air minum, sanitasi, dan PNPM, yang terpadu, berdasarair limbah akan dikembangkan kepada kota-kota kan kesamaan pandangan, kesepakatan, serta komitmen yang telah memiliki sistem pengelolaan air semua pihak, khususnya komitmen daerah, untuk mencalimbah. pai target yang telah ditetapkan. yang terdiri dari Rp 11 juta tunai (4%), dan Rp 44 juta berupa tenaga dan material (16%). Karena itu, penguatan kelompok masyarakat yang akan menjadi kunci sukses PAMSIMAS untuk berkelanjutan. Selama pelaksanaan PAMSIMAS, Pemda dapat memperluas cakupan wilayah melalui pelaksanaan program sejenis (cloning) di desa-desa lain yang secara teknik dan kualitas yang sama dengan Program PAMSIMAS serta mengacu pada Buku Panduan dan ketentuan PAMSIMAS. Ini yang disebut sebagai replikasi dalam prinsip PAMSIMAS.

33 33

Inovasi

Teknologi Sederhana

Mengubah Air Hujan Siap Minum


ir merupakan sumber daya alam yang sangat vital bagi kelangsungan hidup umat manusia. Manusia biasanya menggunakan air untuk keperluan minum, mandi, mencuci, dan mengairi lahan pertanian. Namun, akhir-akhir ini, di beberapa wilayah di Indonesia seperti Jakarta Timur dan Jakarta Utara, air menjadi barang langka. Krisis air di beberapa wilayah ini umumnya disebabkan oleh infrastruktur air minum yang sangat terbatas. Pakar Lingkungan Universitas Indonesia, Dr. Ir. Setyo S. Moersidik, DEA mengatakan bahwa kecepatan pengadaan infrastruktur air minum lebih rendah dibandingkan dengan kecepatan pertumbuhan penduduk di Indonesia. Jadi, tidak heran jika banyak penduduk Jakarta yang tetap memilih untuk mengonsumsi air tanah, padahal penggunaan air tanah yang berlebihan ini dapat menyebabkan penurunan muka tanah dan intrusi air laut. Hal ini menjadi masalah besar dan penting sehingga memerlukan suatu solusi yang cepat, tepat, dan komprehensif. Salah satu solusinya adalah mencari sumber air alternatif yang dapat menyubtitusi fungsi air tanah. Sumber air alternatif yang paling potensial di Indonesia adalah air hujan. Seperti yang kita ketahui, Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan curah hujan. Setiap tahunnya, curah hujan di Indonesia dapat mencapai 2.000-4.000 mm. Sayangnya, ketika curah hujan di Indonesia cukup tinggi, masyarakat jarang sekali memanfaatkannya. Air hujan yang berlimpah ini lebih banyak terbuang sia-sia dibandingkan dimanfaatkan. Sebaliknya, ketika curah hujan di Indonesia sangat rendah, masyarakat justru kekurangan air. Hal ini menjadi suatu

oni ironi yang tak terelakkan ketika negara lain yang ketika curah hujannya terbatas bisa memanfaatkan air hujan dengan sangat baik seperti Inggris. Dengan curah hujan hanya sekitar 700 mm/tahun saja, Inggris tidak pernah mengalami kekurangan air. Mereka membangun danau-danau buatan untuk menampung air hujan, sehingga pada saat musim kemarau datang mereka tetap memiliki cadangan air. Sebenarnya, sudah ada masyarakat Indonesia yang memanfaatkan air hujan dengan cara menampung air hujan terlebih dahulu di dalam suatu bak penampungan. Namun, air hujan yang ditampung, biasanya hanya dimanfaatkan untuk keperluan mencuci saja bukan untuk mandi apalagi minum. Untuk kebutuhan air minum, masyarakat masih bergantung pada air tanah dan air PAM, padahal cadangan air tanah di Indonesia semakin menipis dan harga air PAM juga tergolong mahal. Selain itu, untuk mengonsumsi air PAM sebagai air minum pun perlu proses pemasakan terlebih dahulu agar kuman dan bakteri yang terkandung dalam air PAM mati. Proses pengolahan air minum seperti ini menjadi tidak praktis dan boros energi. Jadi, secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa metode pemanfaatan air hujan di Indonesia sampai saat ini masih belum optimal. Dari uraian di atas, tentu kita berpikir mengapa Indonesia tidak memulai untuk mengembangkan suatu teknologi yang dapat mengolah air hujan yang berlimpah menjadi air siap minum yang memenuhi syarat kualitas air minum? Jawaban sederhana adalah persoalan alih teknologi yang mahal dan standar kualitas air yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan. Berdasarkan Kepmenkes No 907/Menkes/SK/

34

Edisi II, 2010


VII/2002 tentang Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum, air minum harus bebas dari komponen anorganik dan organik seperti bakteri, racun, limbah berbahaya, dan zat kimia. Saat ini, sudah banyak sekali teknologi yang dapat menghilangkan komponen anorganik yang terkandung dalam air, misalnya dengan ltrasi. Begitu juga dengan teknologi penghilangan komponen organik, seperti teknologi disinfeksi bakteri. Untuk skala sederhana, disinfeksi bakteri dapat dilakukan dengan memberikan kaporit ke dalam air, atau dengan menjemur air dengan sinar matahari atau sinar ultraviolet. Disinfeksi bakteri dengan kaporit akan menyebabkan air berbau kaporit dan mengandung klorin. Jika kita menggunakan radiasi sinar matahari, pada cuaca cerah biasanya dibutuhkan waktu yang cukup lama yaitu sekitar 5-6 jam untuk proses disinfeksi bakteri secara sempurna (www.who.or.id, 2010). Oleh karena itu, teknologi yang cepat, dan efektif untuk disinfeksi bakteri sangatlah diperlukan. Salah satu teknologi yang dapat mendisinfeksi bakteri adalah fotokatalisis. Teknologi ini merupakan teknologi terintegrasi yang melibatkan reaksi fotokimia oleh suatu katalis. Reaksi ini mengakibatkan dinding dan membran sel bakteri rusak, sehingga bakteri mati. Katalisnya disebut sebagai fotokatalis karena hanya akan aktif ketika terkena cahaya, termasuk cahaya matahari. Katalis yang digunakan, yaitu titanium oksida (TiO2), tergolong aman dan ramah lingkungan karena non toksik. Selain itu, karena menggunakan energi radiasi sinar matahari, fotokatalisis termasuk teknologi hemat energi. Dengan demikian, fotokatalisis merupakan teknologi yang cukup solutif untuk mendisinfeksi bakteri. Dalam upaya pengaplikasian teknologi ini, Ayuko Cheeryo Sinaga dan Ikha Muliawati, di bawah bimbingan Dosen Ahli Fotokatalisis Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia, yaitu Dr. Ir. Slamet, MT., telah melakukan riset kecil-kecilan untuk disinfeksi bakteri dengan teknologi fotokatalisis. Dengan menggunakan air keran rumahan yang mengandung bakteri sebagai sampel, mereka melakukan eksperimen dengan tiga macam variasi kondisi, yaitu: pertama, sampel diradiasi dengan sinar Ultra Violet (UV) saja dan kedua, sampel diradiasi dengan sinar UV dan terdapat fotokatalis. Masing-masing eksperimen dilakukan pada kotak uji acrylic berlapiskan aluminium foil yang berisi 6,75 L air sampel, dengan 1g fotokatalis, sebuah lampu UV-A dengan daya 8 W yang diradiasikan selama 80 menit. Dalam penelitian ini, mereka menggunakan TiO2 Degussa P-25 berukuran nano sebagai katalis yang kemudian dilapiskan ke batu apung. Batu apung yang digunakan terdiri dari dua variasi ukuran, yaitu diameter 0,5-1 cm, dan diameter 1-3 mm. Dengan memvariasikan ukuran batu apung, akan terdapat batu apung yang tenggelam di dasar kotak uji dan mengapung di permukaan sampel. Selain itu, dengan ukuran batu apung yang lebih kecil, maka luas permukaan kontak antara fotokatalis dengan sampel akan semakin besar, sehingga proses disinfeksi bakteri akan semakin efektif. Hasil penelitian cukup memuaskan, sampel pertama Talang air menunjukkan penurunan jumlah bakteri sebanyak Teknologi lter Tanki 7,74% dan sampel kedua berteknologi fotokatalisis 27,83%. Dengan demikian, terbukti bahwa dengan adanya fotokatalisis proses disinfeksi bakteri menjadi tiga setengah kali lebih cepat dibandingkan dengan tanpa fotokatalis. Untuk mencapai proses disinfeksi bakteri secara sempurna (mematikan seluruh bakteri di dalam air), kita dapat menambah jumlah katalis dan juga menambah intensitas cahaya yang digunakan. Secara teori, proses disinfeksi bakteri berbanding lurus dengan intensitas cahaya yang digunakan. Jadi, jika kita menggunakan matahari yang notabene intensitasnya sangat jauh lebih besar dibandingkan dengan lampu UV yang digunakan dalam penelitian ini, maka proses disinfeksi juga seharusnya jauh lebih cepat. Kesimpulannya, jika kita mengombinasikan teknologi ltrasi yang telah ada dengan teknologi fotokatalisis, air hujan yang selama ini jarang kita manfaatkan dapat kita olah menjadi air siap minum. Kedua teknologi ini merupakan teknologi yang sangat potensial untuk menyelesaikan masalah yang terkait dengan ketahanan air nasional secara komprehensif. [eko/ berbagai sumber]

35

Inovasi

Lewat Proses Ozon dan Filter Air Gambut Jadi Bersih

enyediaan air bersih untuk keperluan hidup sehari-hari masih menjadi kendala mayoritas penduduk di provinsi kaya sumber daya alam Kalimantan Selatan. Karakteristik geogras yang didominasi lahan bergambut dan sungai memaksa warga harus mengkonsumsi air kotor. Untuk memperoleh air warga terpaksa membuat sumur dan menggali lebih dalam saluran air di tengah sawah mereka. Tak jarang air baru ditemukan di kedalaman belasan meter dari permukaan tanah. Karena lapisan bawah tanah adalah tanah gambut, maka air yang keluar di lobang sumurpun berwarna kehitaman, kecoklatan atau kekuningan dengan tingkat kekeruhan tinggi. Meski demikian warga terpaksa mengandalkan air kotor tersebut untuk keperluan hidup sehari-hari. Riza Niftahul Khair, seorang peneliti dalam Program Studi Magister Tehnik Lingkungan Universitas Gajah Mada menawarkan sebuah teknologi yang bisa mengubah air rawa gambut berwarna tersebut menjadi siap minum. Kami menyebutnya teknologi karbon aktif untuk penjernih air, ujar Riza. Dengan menempatkan karbon aktif, air kotor yang berasal dari rawa atau lahan gambut dapat berubah menjadi bersih dan bahkan siap minum. Air gambut adalah air permukaan yang berwarna coklat dan bersifat asam. Untuk dapat menjadikan air gambut sebagai sumber air bersih, perlu dilakukan pengolahan. Penelitian ini bertujuan untuk menurunkan intensitas warna air gambut dengan menggunakan ozonisasi dan kombinasi media lter (karbon aktif, pasir akif, dan zeolit) secara kontinu. Asam humus yang terdiri dari asam humat, asam fulvat, dan humin sebagai pembentuk warna pada air gambut dapat di netralkan dengan proses ozonisasi, oksidasi dan adsorpsi oleh media lter (Zeolit, Karbon Aktif, Pasir Aktif). Metode yang digunakan adalah penurunan intensitas warna air gambut dengan proses ozonisasi dan kombinasi lter (pasir akit-zeolit, pasir aktif-karbon aktif) secara kontinu dengan variasi waktu 30 menit, 60 menit, 120 menit, 240 menit, dan 300 menit pada setiap perlakuan proses. Hasil maksimum dari proses yaitu intensitas warna air gambut dapat berkurang hingga sebesar 21,21 % un-

tuk proses ozonisasi pada waktu 300 menit. pada proses kombinasi Ozon-Zeolit-Pasir Aktif 87,88 % pada waktu 240 menit dan pada proses kombinasi Ozon-Karbon Aktif-Pasir Aktif sebesar 87,88 % pada waktu 300 menit. Penurunan intensitas warna melalui cara ini dapat dijadikan alternatif dalam mendapatkan air bersih dari air gambut. Lahan gambut merupakan campuran heterogen antara endapan vegetasi yang terakumulasi daiam lingkungan jenuh air. Pembentukan utama Iahan gambut di Indonesia adalah vegetasi hutan tropis. Air gambut umumnya memiliki variasi warna kuning sampai kecoklatan, tergantung dari proses pelapukan, jenis tanaman serta kandungan sedimennya. Unsur pembentukan lahan gambut adalah bahan organik yang terdiri dari karbon, nitrogen, oksigen, dan hidrogen serta sedikit unsur anorganik yang terdiri dari silika, kalium dan magnesium. Bantuan Filter Air gambut yang tidak layak dipakai untuk mandi dan mencuci dapat diolah menjadi air yang jernih dengan membuat sistem lter. Sistem lter ini terdiri dari pompa air, bak penampung air gambut, dan tabung lter. Ketiga komponen tersebut dihubungkan dengan pipa. Dijelaskannya pula, tabung lter dibuat dari komposisi terdiri atas kerikil, pasir, busa, kertas lter, dan karbon aktif. Karbon aktif terbuat dari tanah gambut yang telah diaktivasi secara sika dengan pemanasan pada rentang suhu 400oC sampai 500 oC. Penggunaan karbon aktif pada sistem lter terutama untuk mengurangi kadar keasaman, mengurangi kadar logam, mengurangi bau dan mengurangi kekeruhan air. Keunggulan sistem lter ini adalah mengurangi kadar keasaman, kadar logam, kekeruhan, bau, dan rasa. Manfaat sistem ini adalah memperbaiki kualitas air gambut sehingga dapat digunakan untuk air jernih yang layak pakai untuk minum maupun MCK. Menurut data Badan Lingkungan Hidup Daerah, menyatakan hasil penelitian yang dilakukan pihaknya di sejumlah lokasi sungai seperti Riam Kiwa dan Sungai Tabuk, mendapatkan hasil kandungan logam berat sangat tinggi. Air sungai terbukti mengandung logam berat berupa Arsen (AS) dengan kandungan jauh diatas batas

36

Edisi II, 2010


normal 0,005 Mg/Ltr. Logam berat arsenic merupakan racun yang sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian. Demikian juga dengan Mercury Mg, besi (Fe) serta kandungan ecoli mencapai 1.600 atau diatas batas normal 1.000. Kondisi ini memperlihatkan, sungai-sungai maupun air baku untuk konsumsi masyarakat di kalsel tidak layak dan berbahaya bagi kesehatan. Riza juga menyebutkan, tingginya tingkat kekeruhan sungai, membuat pihaknya harus mengeluarkan dana besar untuk proses penjernihan air. Karenanya dengan adanya teknologi penjernihan air ini, PDAM Bandarmasih akan merancang penggunaan karbon aktif dalam pengelolaan air untuk masyarakat. Proses pertama terjadi di tangki clarier yang berfungsi menjernihkan dan menaikkan nilai pH menjadi 8-9 melalui pemberian abu soda atau kapur tohor yang dilarutkan. Hasilnya, akan terbentuk gumpalan berwarna hijau dan secara perlahan-lahan akan mengambang ke permukaan air, tetapi tidak berapa lama (sekitar 25 menit). Gumpalan berupa sebagian logam dan organik terlarut itu akan berubah warnanya menjadi kuning kecokelatan dan secara perlahan-lahan mengendap (30 menit). Untuk mempercepat proses pengendapan dapat digunakan tawas atau polyaluminum chloride dengan diaduk searah sekitar lima menit. Bahan yang dipakai dan dosisnya ditentukan melalui eksperimental sederhana di lapangan. Air yang telah jernih dialirkan ke bak pengendap 1 dan 2. Tetapi, meski sudah jernih, air masih mengandung partikel kecil yang melayang-layang (organik), besi, mangan terlarut yang cukup tinggi dan berbau. Pada tahap selanjutnya dilakukan proses oksidasi (bisa dengan udara, kaporit, atau kalium permanganat). Kalium permanganat dipilih dengan pertimbangan berwarna dan tidak berbau, di samping juga turut mengaktifkan media mangan zeolit untuk proses oksidasi lanjutan dari besi dan mangan, setelah disaring dengan saringan pasir silika. Selanjutnya, proses penghilangan bau dan warna menggunakan karbon aktif. Air yang telah jernih, tidak berbau dan berwarna, kemudian disaring lagi dengan menggunakan saringan mikro dengan ukuran 0,1-0,5 m, untuk menurunkan padatan total tersuspensi sampai dengan kurang dari 500 mg/l. Proses ini penting agar membran tidak cepat rusak dan dapat berumur panjang. Membran hanya dipergunakan untuk menurunkan kadar garam saja, dengan rasio pemulihan 35 persen. Air olahan yang telah jernih, tawar, tidak berbau, dan bebas bakteri sudah dapat langsung diminum ditampung dalam bak penampung air bersih. Sebelum proses pembotolan, untuk menghindari rekontaminasi, air kembali melalui mikroltrasi dan penyinaran ultraviolet untuk sterilisasi. Hasil akhir, air yang dihasilkan tampak sangat jernih, tidak berbau, dan sudah tidak asin lagi. Proses Singkat Mengolah air gambut menjadi air yang siap diminum sebenarnya bukanlah hal sulit dan mahal. Air baku yang berwarna kecoklatan itu bisa diproses dengan pengolahan air minum sederhana dan dapat dibuat oleh masyarakat dengan menggunakan bahan yang ada di pasaran setempat seperti drum, keran, pompa sepeda, bak penyaring serta kerikil, pasir dan ijuk, serta bahan kimia kapur dan tawas. Pengolahan air gambut, diawali dengan Netralisasi untuk mengatur keasaman air agar menjadi netral (pH 7-8), yaitu dengan pemberian kapur. Selanjutnya dilakukan aerasi yaitu mengontakkan udara dengan air baku agar kandungan zat besi dan mangan yang ada dalam air baku bereaksi dengan oksigen yang ada dalam udara membentuk senyawa besi dan senyawa mangan yang dapat diendapkan. Disamping itu proses aerasi juga berfungsi untuk menghilangkan gas-gas beracun yang tak diinginkan misalnya gas H2S, Methan, Carbon Dioksida dan gas-gas racun lainnya. Untuk 1 "parts per million" (ppm) oksigen, menurut dia, dapat mengoksidasi 6.98 ppm ion Besi. Reaksi oksidasi ini dapat dipengaruhi antara lain oleh jumlah Oksigen yang bereaksi, dalam hal ini dipengaruhi oleh jumlah udara yang dikontakkan dengan air serta luas kontak antara gelembung udara dengan permukaan air.

37

Sisi Lain

POKJA

ika semua berjalan normal, bisa dipastikan bahwa pada 2010 ini bumi akan dihuni oleh tujuh miliar jiwa. Suatu jumlah yang sangat besar dalam sejarah peradaban bumi yang tentunya membutuhkan ketersediaan sumber daya untuk bisa menopang dan menjaga keberlangsungan hidup dan kehidupan. Salah satu di antaranya adalah air bersih. Air bersih merupakan kebutuhan pokok manusia dan kehidupan yang jumlahnya sangat terbatas. Hingga saat ini, air belum bisa digantikan oleh bahan lain. Sayangnya, jumlah ketersediannya sangat terbatas, apalagi untuk bisa mencukupi kebutuhan tujuh miliar penduduk bumi ini. AIR adalah salah satu kebutuhan utama semua mahluk hidup di dunia. Namun ketersediaan air bersih ternyata semakin menyusut. Jumlah air bersih yang tersimpan di ceruk bumi (aquifer) darat, laut, dan atmosr, yang sebenarnya terbatas, terus menerus berkurang jumlahnya. Di masa mendatang, air akan menjadi begitu berharga dan mungkin segera menjadi komoditas utama dunia dan berpotensi menjadi sumber konik yang cukup serius. Bagi negara dunia yang berada di kawasan Timur Tengah dan Afrika, ketersediaan air bersih telah lama menjadi masalah. Namun kini negara lain dengan jumlah penduduk yang besar seperti China, India, dan Amerika Serikat juga mulai merasakan masalah yang serupa. Masalahnya, sebanyak 97,6 persen dari total air yang tersedia (1,403

miliar kilometer kubik) di jagat ini merupakan air asin sehingga tidak dapat dimanfaatkan langsung sebagai sumber air bersih. Sedangkan, sebagian besar dari air tawar yang ada (33 juta kilometer kubik) berada dalam wujud es, salju, dan air dalam tanah. Secara teoretis, yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber air tawar tidak lebih dari 126,7 juta kilometer kubik atau hanya 0,009 persen dari total air keseluruhan. Inilah jumlah yang harus dan akan diperebutkan oleh seluruh penduduk bumi dan hal ini sudah menjadi masalah serius terkait dengan kelangkaan yang dapat menjurus pada konik dan krisis kemanusiaan. Badan Pertanian Dunia (FAO) telah memperingatkan bahwa setidaknya empat miliar jiwa akan hidup dalam daerah yang amat minim air bersih di tahun 2025. Lebih dari setengah penduduk dunia akan hidup dalam kekeringan, mengais makanan yang tersisa dan merambah wilayah pantai yang telah tercemar selama 50 tahun terakhir. Limbah yang tak terkendali dan kebijakan penanganan air yang buruk menjadi penyebab utama dari semua masalah ini, terutama yang terjadi di negara berkembang. Demikian laporan dari Badan Lingkungan PBB (UNEP, United Nations Environment Programme) yang bekerja sama dengan lebih dari 200 pakar sumber daya air dunia. Kini, lebih dari 800 juta orang di dunia kesulitan mengakses sumber air bersih. Hal ini menandakan krisis, ujar Halifa Drammeh dari UNEP. Lembaga ini, yang sejak tahun 2003 mencanangkan program Tahun

38

Edisi II, 2010


Internasional Air Bersih (International Year of Freshwater) bagi penduduk dunia, melaporkan terjadinya penyusutan terumbu karang dan garis pantai dunia akibat perubahan cuaca. Beberapa negara berkembang juga akan mengalami krisis air, gagal panen dan konik seputar masalah pengelolaan air sungai dan telaga bila tidak melakukan langkah penyelamatan terhadap salah-kelola irigasi dan tidak memperbaiki pola pengelolaan sumber air tawar mereka. Berdasarkan data dari NASA dan WHO, dilaporkan temuan data akan terjadinya krisis air yang mempengaruhi sekitar 400 juta jiwa saat ini akan berdampak serius pada setidaknya 4 miliar jiwa di tahun 2050 nanti. Pengelolaan fasilitas sanitasi yang tak memadai akan berdampak buruk terhadap lebih dari 2,4 miliar penduduk dunia, dan jumlah ini merupakan 40 persen dari jumlah umat manusia yang ada. Separuh kawasan pantai, tempat di mana lebih dari semiliar orang menggantungkan hidupnya, bakal menyusut akibat pengembangan yang berlebihan atau pencemaran lingkungan. Bagi anak balita, penyakit yang disebabkan oleh air yang tercemar (muntaber, diare dan sebagainya) merupakan salah satu ancaman utama bagi mereka. WHO melaporkan bahwa setengah dari jumlah ranjang rumah sakit di negara berkembang dihuni penderita balita yang menderita serangan penyakit seperti ini. Kondisi Indonesia Bagi Indonesia, masalah kelangkaan lebih disebabkan oleh kegagalan kita dalam mengelola sumber daya air. Hal ini menyebabkan semakin tidak seimbangnya antara kebutuhan (demand) yang terus berkembang dengan ketersediaan (availability) serta kemampuan untuk menyuplai (supply) kebutuhan tersebut. Kondisi ini juga diperberat dengan semakin tingginya tingkat pencemaran air oleh limbah cair ataupun padat serta adanya ancaman serius dari dampak perubahan dan anomali iklim yang sudah menjadi kenyataan dewasa ini. Sehingga, tidak heran, ketika kita bicara krisis air, pada saat bersamaan kita dihadapkan pada bencana beruntun yang terkait air, seperti banjir dan longsor. Bagi kawasan lokal, seperti Pulau Jawa misalnya, krisis air yang membayang menjadi ancaman yang mencemaskan. Kekeringan mulai meresahkan para petani diberbagai sentra produksi padi. Lebih dari 800.000 hektar sawah di Pantura Jawa sudah puso dan ribuan hektar lainnya terancam gagal panen akibat kekurangan air. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geosika bahkan memperkirakan pada bulan Agustus, semua wilayah Indonesia akan mengalami kemarau panjang. Akibat kerusakan ekosistem hutan di berbagai wilayah ini, Pulau Jawa bisa mengalami desit air empat kali setiap tahunnya. Menteri Negara Lingkungan Hidup bahkan telah menyatakan, di tahun 2005 Pulau Jawa telah mengalami desit air 13 miliar meter ISTIMEWA kubik. Jumlah ini dipastikan terus bertambah setiap tahunnya. Penyusutan air dan kekeringan yang berulang setiap tahunnya, tak saja karena fenomena alam, namun juga terjadi karena kerusakan lingkungan yang parah. Dibandingkan luas wilayah yang ada, hutan di Pulau Jawa hanya secuil 3.289.131 hektar. Dari jumlah ini, sekitar 1.714 juta hektar hutan, baik berupa hutan lindung atau hutan konservasi -berada dalam kondisi kritis. Kondisinya diperburuk dengan terseraknya lahan kritis di luar kawasan hutan, yang tahun ke tahun jumlahnya terus meningkat. Sumber di Balai Pemantapan Kawasan Hutan JawaMadura menyebutkan bahwa jumlah kawasan hutan yang harus dihijaukan mencapai 10.731 juta hektar, atau 84, 16 persen dari luas seluruh daratan Pulau Jawa. Dengan begitu, bisalah kita bayangkan bila di masa depan,

39

Sisi Lain
total penduduk Indonesia hanya memiliki lebih dari 4,5 persen dari total cadangan air tawar nasional. Dari segi kuantitas dan penyebarannya, sudah jelas terlihat adanya ketidakseimbangan. Dari segi kualitas, justru lebih memprihatinkan lagi karena sangat terkait dengan bisa atau tidaknya air tawar tersebut dimanfaatkan. Hampir sebagian besar sumber-sumber air perkotaan kita, khususnya di Pulau Jawa, terus tercemar oleh limbah. Sebagai gambaran, dari 13 sungai/kali yang mengalir di wilayah DKI Jakarta, kecuali Kali Krukut, hampir semuanya sudah tidak layak dijadikan sumber air baku untuk keperluan air bersih/minum oleh PAM Jaya. Akibat gangguan kualitas terhadap sumber air tawar tersebut, biaya pengolahan air bersih, baik akibat kebutuhan bahan kimia maupun biaya energi untuk pengolahan dan untuk mendistribusikan air, terus mengalami kenaikan yang cukup signikan dari waktu ke waktu. Sehingga, ini akan dapat menyebabkan masyarakat harus membayar lebih mahal untuk bisa mendapatkan air bersih, seperti yang sedang terjadi di beberapa kawasan di Jakarta. Sementara itu, kemampuan pemerintah melalui 372 Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) untuk memenuhi kebutuhan air bersih masih jauh dari yang diharapkan. Sampai hari ini, Indonesia baru memiliki sekitar 7,1 juta sambungan air bersih yang secara kasar baru mampu melayani sekitar 35,5 juta jiwa yang mayoritas bermukim di daerah perkotaan. Sehingga, sebagian besar masyarakat yang belum mempunyai akses ke air bersih terpaksa mengantungkan kebutuhan mereka kepada sumber lain permukaan lain, seperti kali, empang, air hujan, sumur dangkal, tanah dalam, dan bahkan air payau sekalipun. Pemanfaatan sumber air alternatif tersebut tentunya mengandung risiko, terutama jika dikaitkan dengan jaminan keamanan kualitas (aspek kesehatan) dan ancaman terjadinya bencana ekologi perkotaan (akibat eksploitasi berlebihan air tanah dalam yang mengakibatkan turunnya muka tanah atau land subsidence ). Beberapa masalah utama yang menandai terjadinya krisis air antara lain adalah tak tersedianya sumber air minum yang cukup saat ini bagi sekitar 1,1 miliar penduduk dunia. Kedua, pengambilan air tanah yang berlebihan ikut berperan bagi penyusutan lahan pertanian. Ketiga, polusi dan penggunaan mata air yang berlebihan mencederai keanekaragaman hayati yang ada. Keempat, mulai muncul berbagai konik regional yang diakibatkan oleh berbagai kebijakan dan politisasi yang bersumber pada masalah penguasaan sumber air bersih.

POKJA

Pulau Jawa akan semakin kehausan. Dengan jumlah hutan yang minim, hanya sekitar 20 persen air hujan yang bisa diserap tanah. Sisanya mengalir percuma ke laut. Padahal, menurut data di Kementerian Lingkungan Hidup, pada tahun 2003 saja, kebutuhan air di pulau terpadat se Indonesia ini sudah mencapai 38 milyar meter kubik. Bila air yang tersedia hanya sekitar 25,3 miliar meter kubik, terjadi desit air bersih dalam jumlah yang cukup banyak, dalam satu periode saja. Penyebaran Potensi Air Berdasarkan teori, Indonesia memiliki potensi air tawar sebesar 1.957 miliar meter kubik/tahun. Dengan total populasi saat ini mencapai 228 juta jiwa, jumlah air tawar tersebut setara dengan 8.583 meter kubik/kapita/ tahun. Jumlah tersebut berada di atas nilai rata-rata dunia, yaitu 8.000 meter kubik/kapita/tahun (Bappenas, 2006). Namun, ketersediaan air ini sangat bervariasi, baik antarwilayah/kawasan maupun antarwaktu. Dari jumlah tersebut, hampir 87 persen di antara potensi aliran air permukaan umumnya terkonsentrasi di Pulau Kalimantan, Papua, dan Sumatra. Sisanya tersebar secara tidak merata di Jawa-Madura-Bali, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan wilayah lainnya. Pulau Jawa yang memiliki luas kurang dari 7 persen dari total luas daratan Indonesia dan dihuni oleh 65 persen (148 juta jiwa) dari

40

Edisi II, 2010


Berikut Daerah Rawan Air di Indonesia menurut data Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum.
WILAYAH BARAT PROPINSI D.I. ACEH KAB. ACEH TENGGARA KAB. ACEH TIMUR KAB. ACEH TENGAH *) KAB. ACEH BARAT KAB. ACEH BESAR KAB. PIDIE KAB. ACEH UTARA KAB. SIMEULUE KAB. ACEH SINGKIL KAB. BIREUN KAB. ACEH B DAYA KAB. GAYO LUES KAB. ACEH JAYA KAB. NAGAN JAYA KAB. ACEH TAMIANG PROPINSI SUMUT KAB. TAPANULI UTARA KAB. TAPANULI SLTN KAB. NIAS KAB. LANGKAT KAB. KARO KAB. DELI SERDANG KAB. SIMALUNGUN KAB. ASAHAN KAB. LABUHAN BATU KAB. DAIRI KAB. TOBA SAMOSIR KAB. MANDAILING NATAL KAB. NIAS SELATAN PROPINSI SUMATERA BARAT KAB. SOLOK*) KAB. SW.LUNTO KAB. TANAH DATAR KAB. P PARIAMAN KAB. AGAM KAB. 50 KOTA KAB. PASAMAN *) KAB. KEP MENTAWAI PROPINSI RIAU KAB. INDRAGIRI HULU KAB. BENGKALIS KAB. INDRAGIRI HILIR KAB. PELALAWAN KAB. ROKAN HULU KAB. ROKAN HILIR KAB. SIAK KAB. K SINGINGI PROPINSI JAMBI KAB. MEANGIN KAB. SAROLANGUN KAB. BATANGHARI KAB. T JABUNG BARAT KAB. T JABUNG TIMUR KAB. BUNGO KAB. TEBO PROPINSI SUMATERA SELATAN KAB. OGAN KOM ILIR *) KAB. MUARA ENIM KAB. LAHAT KAB. MUSI RAWAS KAB. MUSI BANYUASIN PROPINSI BENGKULU KAB. REJANG LEBONG *) KAB. BENGKULU UTARA PROPINSI LAMPUNG KAB. LAMPUNG TENGAH KAB. LAMPUNG UTARA KAB. LAMPUNG BARAT KAB. TULANG BAWANG KAB. TANGGAMUS KAB. WAY KANAN PROPINSI BANGKA BELITUNG*) KAB. BELITUNG WILAYAH TENGAH PROPINSI DKI JAKARTA KODYA JAKARTA PUSAT***) KODYA JAKARTA UTARA***) KODYA JAKARTA BARAT***) KODYA JAKARTA SELTN***) KODYA JAKARTA TIMUR***) PROPINSI JAWA BARAT KAB. SUKABUMI KAB. CIANJUR KAB. BANDUNG KAB. GARUT KAB. TASIKMALAYA KAB. CIAMIS KAB. KUNINGAN KAB. CIREBON KAB. MAJALENGKA KAB. SUMEDANG KAB. INDRAMAYU KAB. SUBANG KAB. PURWAKARTA KAB. KARAWANG KAB. BEKASI KOTA BOGOR KOTA SUKABUMI KOTA BANDUNG KOTA CIREBON PROPINSI JAWA TENGAH KAB. BANYUMAS KAB. PURBALINGGA KAB. BANJARNEGARA KAB. KEBUMEN KAB. PURWOREJO KAB. WONOSOBO KAB. MAGELANG KAB. BOYOLALI KAB. KLATEN KAB. SUKOHARJO KAB. WONOGIRI KAB. KARANGANYAR KAB. SRAGEN KAB. GROBOGAN KAB. BLORA KAB. REMBANG KAB. PATI KAB. KUDUS KAB. JEPARA KAB. DEMAK KAB. SEMARANG KAB. TEMANGGUNG KAB. KENDAL KAB. BATANG KAB. PEKALONGAN KAB. PEMALANG KAB. TEGAL KAB. BREBES PROPINSI D.I. YOGYAKARTA KAB. BANTUL KAB. GUNUNG KIDUL*) KAB. SLEMAN PROPINSI JAWA TIMUR KAB. PONOROGO KAB. TRENGGALEK KAB. TULUNGAGUNG KAB. BLITAR KAB. KEDIRI KAB. MALANG KAB. LUMAJANG KAB. JEMBER KAB. BANYUWANGI KAB. BONDOWOSO KAB. SITUBONDO KAB. PROBOLINGGO KAB. PASURUAN KAB. SIDOARJO KAB. MOJOKERTO KAB. JOMBANG KAB. NGANJUK KAB. MAGETAN KAB. MADIUN KAB. NGAWI KAB. BOJONEGORO KAB. TUBAN KAB. LAMONGAN KAB. GRESIK KAB. BANGKALAN KAB. SAMPANG KAB. PAMEKASAN KAB. SUMENEP PROPINSI BANTEN KAB. LEBAK KAB. TANGERANG KAB. SERANG KOTA TANGERANG PROPINSI KAL BARAT KAB. PONTIANAK KAB. SANGGAU *) KAB. KETAPANG KAB. SINTANG *) KAB. KAPUAS HULU PROPINSI KAL TENGAH KAB. KW TIMUR KAB. KAPUAS KAB. BARITO SELATAN KAB. BARITO UTARA PROPINSI KAL SELATAN KAB. KOTABARU KAB. BANJAR KAB. BARITO KUALA KAB. TAPIN KAB. H SUNGAI SLTN KAB. H SUNGAI TNGH KAB. H SUNGAI UTARA KAB. TABALONG PROPINSI KALIMANTAN TIMUR KAB. KUTAI KERTANEGARA KAB. BERAU KAB. BULUNGAN KAB. NUNUKAN KAB. MALINAU KAB. KUTAI BARAT KAB. KUTAI TIMUR WILAYAH TIMUR PROPINSI BALI KAB. TABANAN KAB. BADUNG KAB. GIANYAR KAB. KLUNGKUNG KAB. BANGLI KAB. KARANGASEM KAB. BULELENG KOTA DENPASAR PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT KAB. LOMBOK TENGAH KAB. LOMBOK TIMUR KAB. SUMBAWA *) KAB. DOMPU*) KAB. BIMA*) PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR*) KAB. TIMOR TENGAH SELATAN KAB. TIMOR TENGAH UTARA*) KAB. BELU KAB. ALOR KAB. FLORES TIMUR KAB. SIKKA KAB. ENDE KAB. NGADA KAB. MANGGARAI KAB. SUMBA TIMUR *) KAB. SUMBA BARAT*) KAB. LEMBATA PROPINSI GORONTALO KAB. BOALEMO PROPINSI MALUKU KAB. MALUKU TENGGARA *) KAB. MALUKU TENGGARA BRT KAB. BURU KAB. KEPULAUAN ARU*) PROPINSI MALUKU UTARA KAB. HALMAHERA TENGAH KAB. HALMAHERA UTARA KAB. HALMAHERA SELATAN KAB. KEPULAUAN SULA PROPINSI PAPUA KAB. JAYAWIJAYA KAB. JAYAPURA KAB. NABIRE KAB. YAPEN WAROPEN KAB. BIAK NUMFOR*) KAB. PUNCAK JAYA KAB. MIMIKA PROPINSI PAPUA BARAT KAB. MANOKWARI KAB. FAK FAK Keterangan : *) Kabupaten yang memiliki cadangan air minum terbatas **) Kabupaten dengan kondisi air minum sangat kurang ***) Daerah yang air tanahnya tidak siap untuk di konsumsi. (eko/wawasan.com)

41

Testimoni

DOK. PRIBADI

uru yang Mengurusi Sampah dan Limbah Kecintaan Teti Suryati, kelahiran Garut, 18 April 1961, pada tanaman dan lingkungan mendorongnya gencar menyosialisasikan pengolahan sampah menjadi kompos. Dan sebagai pilar pertama kesehatan lingkungan sekolah. Awalnya, guru Biologi SMAN 12 Jakarta ini sekadar membagi ilmu dengan sesama guru di Jakarta, lalu meluas sampai di berbagai wilayah di Tanah Air. Keengganan warga mengolah sampah dan limbah rumah tangga dijawab Teti dengan menciptakan alat pembuat kompos atau komposter sederhana. Komposter buatan Teti berbahan kaleng bekas cat berukuran 25 kilogram, yang diberi alat pemutar pada bagian samping atau tutup kaleng. Semua ini berawal saat Teti terpilih sebagai kader kebersihan oleh Dinas Kebersihan DKI Jakarta, enam tahun lalu. Sebagai kader, dia mendapat banyak informasi tentang pengolahan sampah dan limbah menjadi kompos. Pengetahuan itu tak dibiarkannya begitu saja. Tetapi dia mengembangkannya dengan menciptakan komposter. Untuk memenuhi selera masyarakat, Teti telah mengembangkan 13 tipe komposter dengan bahan baku kaleng dengan alat pemutar. Tahun lalu, dia mengembangkan komposter gantung yang dibuat dari tempayan air,

untuk mengajari warga membuat kompos cair. Setiap kali saya ceramah soal pengolahan sampah dan limbah di seputar rumah, warga malah bertanya ngapain susahsusah ngurus sampah? Mereka merasa sudah membayar retribusi kebersihan, jadi enggak perlu pusing mikirin sampah, cerita Teti. Ketika ia meminta warga belajar bikin kompos, Sebagian warga menjawab, untuk apa? Beli saja, kompos kan harganya murah, cuma Rp 1.000 per kilogram, ujarnya. Sikap apatis warga yang dia datangi lewat kelompok arisan, pengajian, PKK, warga perumahan, guru, maupun karyawan itu tetap tak menyurutkan semangat Teti untuk berbagi dan mengubah paradigma berpikir masyarakat soal sampah. Keluhan itu justru membuat dia kreatif dengan menciptakan komposter untuk mengurangi sampah dan limbahdi rumah. Umumnya warga kota malas berurusan dengan sampah dan limbah organik atau basah yang mudah berbau busuk. Mereka enggan membuka tempat pembuangan sampah, lalu mengaduknya agar tak bau dan berbelatung. Dari situlah saya terpikir harus membuat alat pengaduk sehingga tempat sampah dan limbah organik tak harus sering dibuka. Saya lalu ke tukang las, minta kaleng bekas cat itu dilubangi sisi kiri dan kanannya, lalu

42

Edisi II, 2010


dipasangi seperti jeruji yang memudahkan pemutaran sampah dan limbah di dalamnya, tuturnya. Komposter ala Teti bahkan bisa disimpan di ruang tamu, tanpa orang sadar bahwa isinya sampah dan limbah basah. Adapun komposter gantung dari tempayan air cocok dipasang di rumah yang tak punya halaman. Bersih dan hijau Keterlibatan Teti mengajak warga memilah dan mengolah sampah dan limbah semakin intens ketika suaminya terpilih menjadi Wakil Ketua RW 15, Kampung Bulak, Klender, Jakarta Timur, tahun 2004. Teti, yang saat itu aktif sebagai instruktur pendidikan lingkungan hidup bagi guru-guru DKI Jakarta, merasa harus mendukung tugas suami. Ketika itu ada lomba RW bersih dan sehat tingkat kelurahan. Saya ikut terlibat di PKK dan harus menggerakkan semua warga agar berpartisipasi, kenangnya. Kondisi lingkungan tempat tinggal yang kumuh dan sempit menginspirasi dia untuk mengajak warga mengubahnya menjadi lingkungan yang bersih dan hijau. Ia minta setiap rumah menanam dua pohon. Ini menimbulkan pro-kontra. Warga yang umumnya masyarakat menengah-bawah keberatan harus membeli tanaman dan pot. Teti pun menyarankan kaleng bekas sebagai ganti pot. Selain itu, setiap pukul 16.00, salah satu penghuni rumah harus membersihkan halaman masing-masing. Bagi warga yang tak bersedia, ada denda menyediakan dua pohon di depan rumah. Cara itu efektif untuk membangkitkan kesadaran warga. Mereka ikut aktif menciptakan kebersihan lingkungan. Setelah tampak hasilnya, warga jadi gemar bertanam, kata Teti. Hasilnya? RW 15 ditunjuk sebagai RW percontohan di Jakarta Timur. Namun, kecintaan warga menanam itu menimbulkan persoalan lain. Mereka sulit menemukan media tanam. Dan Teti lalu memperkenalkan kompos sebagai media tanam. Pembuatan kompos menuntut warga punya kebiasaan memilah sampah dan limbah di rumah. Sampah dan limbah organik warga RW itu dikumpulkan di enam posko, sedangkan sampah dan limbah non organik, seperti kertas, plastik, dan kayu, dijual atau dibuat kerajinan tangan. Petugas kebersihan hanya mengangkut sampah dan limbah yang sama sekali tak bisa didaur ulang. Dalam kurun 2004-2006, RW 15 hanya mendapat juara ketiga RW bersih dan sehat tingkat provinsi DKI Jakarta. Tetapi, kebiasaan mengelola sampah dan limbahrumah dan mengolahnya menjadi kompos telah menjadi pola hidup warga. Mereka cinta lingkungan bukan karena ada lomba. Baru pada 2007, RW 15 menjadi juara nasional RW Bersih yang diselenggarakan Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Sejak itu, kawasan ini sering didatangi masyarakat dan pejabat yang ingin mengetahui bagaimana warga setempat mengelola sampah dan limbah rumah tangga. Untuk menumbuhkan kesadaran warga, seperti memilah sampah dan limbah di rumah, tak semudah membalik telapak tangan. Padahal, sampah dan limbah organik mencapai 60 persen dari total sampah dan limbah rumah tangga. Kalau semua orang mau sedikit saja susah, memilah sampah dan limbah dan mengolahnya, bayangkan, betapa nikmatnya lingkungan hidup ini. Akibat global warming pun bisa diminimalkan, ujarnya lebih lanjut. Tahun 2006 Teti menggagas muatan lokal lingkungan hidup sebagai materi pelajaran di sekolah tempatnya mengajar. Pengolahan sampah dan limbah termasuk salah satu materi yang diajarkan. Ia membuat semacam kurikulum, siswa diajak praktik di rumah dan di sekolah.
Nama Lahir Agama Profesi Suami Anak : Dra Teti Suryati : Garut, 18 April 1961 : Islam : Guru SMAN 12 Jakarta : Heriyanto : Muti Axanoriyanti, Meti Asokariyanti dan Media Heriyanto

Apa yang dia lakukan membuahkan hasil. Sekolah tempatnya mengajar, SMAN 12 Jakarta, terpilih sebagai sekolah berwawasan lingkungan tingkat nasional. Dalam lomba pemanfaatan sampah dan limbah oleh pelajar yang digelar World Wildlife Fund, SMAN 12 Jakarta meraih juara kedua. Siswa mengolah sampah dan limbahplastik menjadi aksesori. Kiprah Teti yang gencar memperkenalkan pengolahan sampah dan limbah skala rumah tangga dan sekolah ini menarik perhatian berbagai pihak yang peduli lingkungan hidup. Dia semakin sering diminta menjadi pembicara ke berbagai kota, seperti Balikpapan, Pontianak, dan Bandar Lampung. Ia muncul dalam talkshow di radio dan televisi. Teti semakin sibuk sebagai pembicara soal pengolahan sampah dan limbah dan pemberdayaan warga untuk menciptakan lingkungan hidup yang bersih dan hijau. Namun, dia tak mengabaikan tugasnya sebagai guru.

43

Reportase
Dalam sambutannya Budi Hidayat menyampaikan pentingnya kegiatan STBM, mengingat masih ada sekitar 70 juta masyarakat Indonesia yang masih buang air besar sembarangan dan akibatnya negara mengalami kerugian sebesar 56 triliun setiap tahunnya. Untuk itu, diperlukan kerjasama semua pihak untuk mengatasi persoalan tersebut. Hal inipun diamini oleh Wakil Bupati Grobogan yang menyambut

Roadshow Sanitasi Total Berbasis Masyarakat di Grobogan


rogram Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) telah diperkenalkan di Kabupaten Grobogan semenjak tahun 2008. Melalui program ini, Pokja AMPL Grobogan dan Plan Indonesia telah melakukan kerjasama untuk membentuk tim STBM di seluruh tingkat kecamatan di Grobogan dengan pilot CLTS di 6 desa. Hingga kini, Kabupaten Grobogan telah memiliki 2 desa yang terbebas dari perilaku buang air besar sembarangan, yaitu kabupaten Panimbo dan kabupaten Gunung Tumpeng. Keberhasilan penerapan STBM di kabupaten Grobogan ini akan dikembangkan dengan melakukan scaling up di 153 desa di 10 kecamatan. Rencananya kegiatan upscaling ini merupakan bagian dari kerjasama program Pokja AMPL dan Plan Indonesia. Terkait dengan hal tersebut Pokja AMPL Grobogan menyelenggarakan kegiatan roadshow STBM dalam rangka sosialisasi dan advokasi program STBM kepada para pemangku kepentingan. Kegiatan ini diselenggarakan pada Selasa, 15 Juli 2010 bertempat di Ruang Riptaloka Kantor Pemerintah Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Acara ini dibuka oleh Wakil Bupati Grobogan, Icek Baskoro, dan juga dihadiri oleh Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas, Budi Hidayat.
ISTIMEWA

ISTIMEWA

gembira rencana scaling up STBM ini. Sebagai komitmen, pada kesempatan ini juga dilakukan pendeklarasian komitmen 10 kecamatan bebas dari perilaku buang air besar sembarangan di tahun 2012. Agar program dan pendekatan STBM dapat tersosialisasikan dan teradvokasikan dengan baik, dalam acara ini juga diselenggarakan talkshow yang dihadiri oleh Nugroho Tri Utomo dari Direktorat Permukiman dan Perumahan Bappenas, Atang Saputra dari Direktorat Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, dr. Djauhari dari Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan dan Alit Avianne dari Plan Internasional Indonesia. Dalam diskusi dikemukakan bahwa pendekatan STBM ini terbilang efektif, karena belajar dari pengalaman yang lalu bahwa pembangunan sanitasi tidak dapat berhasil apabila masyarakat tidak mengubah perilakunya. Selain itu, pendekatan STBM ini menitikberatkan pada keterlibatan dan partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan. Namun sebagai catatan, meski peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan, keterlibatan pemerintah daerah juga sangat dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan. Untuk itu, diperlukan pembagian peran yang jelas dalam pembangunan. DHA

44

Edisi II, 2010

Pertemuan Konsolidasi Pembangunan AMPL Tahun 2010


ebagai upaya merespon dan menyinergikan kegiatan pembangunan AMPL yang ada di Indonesia, Pokja AMPL mengadakan pertemuan Perencanaan AMPL tahun 2010. Pertemuan ini diadakan guna mengkonsolidasikan kegiatan pembangunan AMPL yang dilakukan instansi pemerintah nasional dan mitra kerja yang terdiri dari program serta proyek dan Lembaga Swadaya Masyarakat atau Non Government Organization (NGO). Pertemuan ini diadakan di Hotel Sahira Bogor, pada tanggal 2-3 Agustus 2010, dan dihadiri segenap anggota Pokja AMPL (Kementerian Dalam Negeri, Kementerian PU, Kementerian Kesehatan, dan Bappenas), serta para mitra kerja dari Program/Proyek (PPSP, WASPOLA, WES Unicef, ProAir, dan lainnya). Pertemuan ini dibuka oleh Maraita Listyasari dari Direktorat Perkim Bappenas, Pelaksana Harian Sekretariat Pokja AMPL Nasional. ISTIMEWA Dalam pembahasan mengenai sinergi, terungkap beberapa kebutuhan untuk mendukung percepatan pencapaian target pembangunan AMPL Nasional yang tercantum di RPJMN 2010-2014 dan target MDGs. Kebutuhan tersebut antara lain perlunya mengesienkan pelaksanaan kegiatan AMPL agar tidak dilakukan berulang-ulang oleh berbagai pelaku di lokasi yang sama, menyinergikan jadwal kegiatan dari berbagai pelaku agar tidak bertabrakan, perlunya mengumpulkan database daerah sebagai referensi pembangunan AMPL, serta perlunya meningkatkan peran provinsi dalam pembangunan AMPL Nasional. Dari pembahasan tersebut, antara lain disepakati bahwa perlu ada konsolidasi indikasi jadwal dan konsolidasi kegiatan dari berbagai pelaku yang diterjemahkan menjadi Almanak AMPL untuk menjadi acuan penentuan jadwal kegiatan, pembuatan database daerah, serta penyusunan Roadmap AMPL dan Juklak-Juknis pembangunan AMPL sebagai acuan bagi pelaku pembangunan AMPL.

Setelah pembahasan dengan mitra kerja, para instansi anggota Pokja AMPL melakukan kick-o meeting persiapan pelaksanaan MA 999 Perdesaan yang merupakan mata anggaran Pokja AMPL dari APBN. Kick-o meeting ini akan menjadi titik tolak pelaksanaan kegiatan Pokja AMPL tahun 2010 yang dimulai bulan Agustus ini. Kegiatan yang akan dilakukan meliputi kegiatan Peningkatan Kapasitas, Koordinasi dan Operasionalisasi Kebijakan, Dukungan terhadap Program/Proyek AMPL, Advokasi dan Sosialisasi, serta Monitoring dan Evaluasi. Persoalan Data Pengelolaan data pembangunan AMPL merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari bidang AMPL, yang merupakan kebutuhan dasar manusia dan menjadi urusan wajib pemerintah pusat dan daerah. Pengelolaan data ini diperlukan dalam upaya meningkatkan kinerja pembangunan AMPL. Namun demikian, kesadaran akan perlunya data yang akurat masih menjadi persoalan.Melihat besaran persoalan tersebut, diperlukan suatu konsep praktis yang dapat digunakan sebagai acuan dalam mengelola data AMPL. Konsep yang ditawarkan pada dasarnya mencakup penyamaan persepsi tentang pentingnya data AMPL dalam pembangunan AMPL pemerintah daerah, baik perencanaan maupun pemantauan. Mulai dengan variabel data yang prioritas sesuai kebutuhan (dapat mengacu kepada variabel pemantauan MDG). Mendata mulai dari tingkat terkecil yang dibutuhkan bagi perencanaan dan pemantauan, yaitu mulai dari tingkat dusun, desa, kecamatan, sampai kabupaten. Menawarkan metode registrasi rumah tangga bagi wilayah dengan ukuran jumlah penduduk kecil, dan uji petik (sampling) bagi wilayah dengan jumlah penduduk relatif besar. Yang tidak kalah penting adalah melibatkan kader masyarakat dan para pelaku data lokal. (eko)

45

Reportase

ISTIMEWA

Forum Tingkat Tinggi Menteri Lingkungan

Dampak Krisis Air Bagi Masyarakat Umum, Perempuan dan Anak-Anak


ebuah forum pertemuan tingkat tinggi Menteri Lingkungan Asia , Afrika dan Uni Eropa guna membahas secara khusus persoalan Air Minum, Sanitasi dan Lingkungan Hidup digelar di Johannes Berg, Afrika Selatan, 15-17 Juni 2010 lalu. Pertemuan tersebut diprakarsai oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) Perserikatan Bangsa-Bangsa sebelum Sidang Majelis Umum PBB yang membahas tentang persoalan Air Minum, Sanitasi dan Kesehatan Lingkungan digelar di New York pada September 2010. Dalam pertemuan tersebut, Badan Kesehatan Dunia mengungkapkan bahwa keributan masalah air minum bisa terjadi dalam suatu negara, kawasan, ataupun berdampak ke benua luas karena penggunaan air secara

bersama-sama. Di Afrika, misalnya, lebih dari 57 sungai besar atau lembah danau digunakan bersama oleh dua negara atau lebih; Sungai Nil oleh sembilan, dan Sungai Niger oleh 10 negara. Sedangkan di seluruh dunia, lebih dari 200 sungai, yang meliputi lebih dari separo permukaan bumi, digunakan bersama oleh dua negara atau lebih. Selain itu, banyak lapisan sumber air bawah tanah membentang melintasi batas-batas negara, dan penyedotan oleh suatu negara dapat menyebabkan ketegangan politik dengan negara tetangganya. Kekhawatiran bencana krisis air dunia ini juga disampaikan Dirjen Unesco Koichiro pada Forum Air Negara Dunia Ketiga yang berlangsung di Kyoto Jepang pada tanggal 16 23 Maret 2010 lalu. Dunia akan dilanda krisis air, dalam kurun waktu beberapa dekade

46

Edisi II, 2010


mendatang, karena meningkatnya populasi penduduk, km persegi pada tahun 2050 hampir sembilan kali lipat polusi dan perubahan cuaca yang menghilangkan jumlah yang dipakai untuk irigasi pada saat ini. sumber-sumber alam yang paling berharga, demikian Penelitian itu juga menambahkan temuan yang Laporan PBB yang diterbitkan Rabu. Dari semua krisis didapat pada penelitian sebelumnya bahwa global sosial maupun alam yang kita alami krisis air adalah warming meningkatnya suhu bumi disebabkan oleh yang paling utama untuk kelangsungan kehidupan kita kecerobohan manusia membakar sisa-sisa bahan bakar dan planet bumi ini, kata Dirjen UNESCO Koichiro yang terdapat dalam lapisan bumi yang mengakibatkan Matsuura . kerusakan parah pada sumber air bersih. Menurutnya, tak akan ada bagian dari bumi yang Perubahan cuaca juga menjadi salah satu hal penyebab terbebas dari krisis yang satu ini yang menyentuh langkanya persediaan air bersih karenanya pola curah setiap segi kehidupan mulai dari kesehatan anak-anak hujan akan berubah pula. sampai kepada kemampuan suatu negara untuk dapat Wilayah bumi yang memiliki kelembaban tinggi menjamin pengadaan pangan bagi rakyatnya. Penyediaan kemungkinan akan mengalami curah hujan lebih tinggi air telah menurun secara drastis pada tingkat tidak walaupun sebenarnya wilayah tersebut mengharapkan berkesinambungan. adanya penurunan dan keadaan akan semakin memburuk Untuk dua puluh tahun mendatang, penyediaan didaerah tropis maupun sub-tropis. Mutu air akan air rata-rata bagi semua orang akan semakin menurun dengan meningkatnya polusi dan temperatur. menurun sampai sepertiga dari yang ada Laporan tersebut menganjurkan beberapa hal, sekarang ini. Laporan ini disebut sebagai antara lain, para pemimpin dunia kumpulan informasi yang paling agar memiliki niat kebijakan untuk lengkap dan rinci tentang persediaan menghadapi krisis air dan menjujung air bersih dunia yang dikeluarkan Untuk dua puluh tahun tinggi komitmen yang telah dibuat oleh UNESCO koordinator oleh masing-masing negara. konferensi internasional, Konferensi mendatang, penyediaan Selain itu, menggalakkan Air Negara-Negara Dunia Ketiga sistem penanganan limbah bagi yang akan dijadwalkan bulan ini di air rata-rata bagi semua irigasi terutama di negera miskin. Jepang. orang akan menurun Kemudian, mendorong penanaman Masa depan sebagian besar modal dalam penyediaan air bersih wilayah dunia terlihat suram. sampai sepertiga dari dan pembuangan limbah. Sekitar Laporan itu juga berisi perkiraan pada tahun 2050, dimana jumlah yang ada sekarang ini. 12,6 miliar dolar AS diperlukan penduduk mencapai 2 miliar, sebagai dana tambahan per tahunnya un tersebar di 48 negara, dan lebih untuk dapat memenuhi target yang dic dari 7 miliar di 60 negara, akan dicanangkan PBB. Biaya tersebut dip kekurangan air bersih. diperuntukkan bagi program tahun 201 yang bertujuan mengurangi Angka-angka tersebut amat tergantung pada jumlah 2015 h populasi dan kebijakan pemerintah untuk menekan separuh jumlah orang orang-orang yang tidak mempunyai akses polusi dan limbah. terhadap air bersih dan sistem sanitasi dasar. Walaupun angka kelahiran menurun secara signikan Laporan tersebut berujung kepada kontroversi jumlah penduduk dunia masih akan mencapai kira-kira yang mempertanyakan perlunya penyediaan air bersih 9,3 miliar pada 2050 dibandingkan dengan 6,1 miliar dilakukan oleh pihak swasta. Sektor swasta haruslah pada tahun 2001. Polusi adalah hal terbesar dan terburuk dilihat sebagai katalisator yang akan membantu yang menyebabkan rusaknya kelangsungan air bersih. menyelesaikan masalah air namun pengawasan atas Setiap hari sebanyak dua ton limbah masuk kedalam sumber air haruslah dilakukan oleh pihak pemerintah dan sungai, danau dan sumber air lainnya. pengguna, demikian saran laporan tersebut. Sementara Pada saat ini menurut laporan tersebut terdapat 12 itu, badan pengawas mutu air dari PBB dalam ribu km persegi sumber air dunia yang tercemar dengan laporannya mengatakan Finlandia memiliki air catatan bila pola hidup tetap sama dengan apa yang yang paling baik mutunya sedangkan Belgia terjadi sekarang maka jumlah itu akan mencapai 18 ribu memiliki yang terburuk.

47

Reportase

Pameran

INDOWATER 2010
air bersih yang dapat dibagi kepada masyarakat yang membutuhkan, tukasnya di sela-sela acara Jumpa Pers terkait pelaksanaan IWWEF 2011 pada 2 Juli 2010 di Jakarta. Menurut dia, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum menargetkan tahun 2015, secara nasional cakupan air bersih mencapai 63 persen dan sanitasi sebesar 62 persen. Oleh karena itu diperlukan pemetaan masalah di tingkat daerah. Tujuan tersebut merupakan bagian dari Millenium Development Goals (MDGs) yang digagas tahun 2000 lalu. Program ini adalah program berkesinambungan untuk air bersih dan sanitasi bagi penduduk Indonesia. Selama perjalanan 10 tahun ini memang masih belum terealisasi dengan baik karena menemui kendala. Ada pun kendala yang jadi perhatian adalah masih banyaknyaPerusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang belum sehat. Selain itu permasalahan air bersih dan sanitasi di kota/kabupaten belum diinventarisir dengan ISTIMEWA baik. Sehingga untuk mendapatkan solusi daerah harus duduk bareng dengan pemerintah pusat. Dikatakan ersatuan Perusahaan Air pihaknya ingin melakukan langkah nyata untuk Minum Seluruh Indonesia mengkonsolidasikan program (PERPAMSI), Ikatan Ahli Tehnik Lingkungan Indonesia . . .tidak h hanya menjadi pencapaian MDGs dalam sebuah (IATPI) dan International Water t penonton dan pengguna Roadmap yang dapat dijadikan dasar bagi semua pihak untuk Association (IWA) akan menggelar teknologi tetapi juga Indonesia Water and Wastewater menciptakan teknologi berkontribusi. Menurut Budi, selama ini Expo and Forum (IWWEF) 2011 terbaru dibidang tehnik pemenuhan pencapaian MDGs yang akan digelar pada tanggal 18 lingkungan dan air Indonesia sebagian besar berada pada hingga 20 Januari 2011 di Hotel In bersih. . . jalur Bidakara Jakarta. Diharapkan expo jal yang benar, sebagian lainnya masih ini diikuti oleh 394 PDAM di ma memerlukan kerja keras. Untuk seluruh Indonesia dan dihadiri 5000 orang ini menurut itu, lanjutnya, masih perlu dilakukan penajaman guna mend mendorong percepatan pencapaiannya. rencana akan dibuka oleh Wakil Presiden, Budiono. man Upaya tersebut perlu mempertimbangkan disparitas Pada kesempatan itu, Dirjen Cipta Karya, Budi b l wilayah, sehingga tidak hanya dilihat dari portofolio Yuwono menegaskan lewat kegiatan ini diharapkan seluruh wilayah dalam mencapai tujuan yang ditetapkan, dapat terjadi transformasi teknologi dan ditemukan tetapi juga pada agregat perpropinsi yang perlu menjadi kiat atau strategi yang baik dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap air bersih dan penyehatan tolok ukur bersama terhadap keberhasilan pencapaiannya. Dengan demikian pencapaian akan dinilai dari lingkungan. Saya berharap kita tidak hanya menjadi keseluruhan provinsi terkait MDGs yang notabene hal ini penonton dan pengguna teknologi tetapi juga perlu menjadi perhatian bersama khususnya dari pihak menciptakan teknologi terbaru dibidang provinsi dan kabupaten/kota, ujarnya. [eko] tehnik lingkungan dan

48

Edisi II, 2010

Sudah 12 Tahun

ir tanah Jakarta sudah tidak dapat dipakai lagi sejak 12 tahun yang lalu. Dengan demikian, yang selama ini diambil oleh warga Jakarta dari dalam tanah bukan lagi air tanah, melainkan cadangan air purba yang tersimpan di bebatuan. Kita sudah mengambil cadangan air tanah purba kita, yang kita isi tidak lebih banyak dari yang kita ambil, ujar Ketua Water Institute, Dr Firdaus Ali dalam acara diskusi media di Jakarta, akhir Juli lalu di IATPI, Penggunaan air tanah purba yang terus-menerus tersebut, kata Firdaus Ali, dapat menyebabkan menurunnya permukaan tanah sehingga diperkirakan Jakarta akan tenggelam sebelum penyediaan air tanah purba itu habis. Enggak ada pilihan. Sekarang bagaimana mengerem agar tidak naik air laut, tidak turun air tanah, dengan jangan membiarkan semua kebutuhan air bersih rumah tangga mengandalkan air tanah, gunakan air permukaan, perpipaan, PAM, imbuhnya. Untuk diketahui, menurut data yang disampaikan Firdaus Ali, kecepatan penurunan muka tanah Jakarta pada 2007-2008 mencapai 26 cm per tahun. Untuk itulah, menurut Firdaus Ali, diperlukan strategi dalam memenuhi kebutuhan air Jakarta tanpa mengeksplorasi air tanah berlebihan, yakni dengan memperbaiki pelayanan air perpipaan (PAM), pengendalian bertahan eksploitasi air tahan dalam melalui Peraturan Gubernur 37/2009 yang sudah dilaksanakan, merencanakan dan mengimplementasikan upaya memanen air hujan dan daur ulang limbah cair, serta restorasi dan melindungi sumber air permukaan kota. Desit air baku Jakarta telah mencapai 11.982 liter per detik pada tahun 2010. Jumlah tersebut diyakini akan membengkak lebih dari tiga kali lipatnya pada akhir 2025, yakni menjadi 35.786 liter per detik. Hal tersebut disampaikan anggota Badan Regulator Pelayanan Air Minum (BRPAM) DKI Jakarta Firdaus Ali. Menurut Firdaus Ali, Jakarta mengalami desit air karena 13 sungai yang melewati Jakarta tidak dapat menjadi sumber air baku yang layak. Dengan demikian, penyediaan air bersih perpipaan (PAM) hanya mencakup

Air Tanah di Jakarta Tidak Layak Konsumsi A


POKJA

44 persen dari kebutuhan air warga Jakarta. Ada 13 sungai yang melewati, tapi tidak ada satu pun yang layak jadi air PAM kecuali Kali Krukut. Tapi saya katakan, Krukut juga tidak layak, kebocoran PAM juga masih sangat tinggi, katanya. Selain itu, harga air pipa di Jakarta, menurut Firdaus Ali, masih sangat tinggi dibandingkan harga di kota-kota lain. Harga tertinggi air pipa di Jakarta mencapai Rp 14.650 tiap meter kubik, sedangkan di Surabaya hanya Rp 10.000 tiap meter kubik, menurut data Mei 2010. Harga tersebut juga jauh lebih tinggi dibandingkan harga

49

Reportase
yaitu sekitar 48,1persen. Untuk menghadapi masalah tersebut, ke depan PAM Jaya harus memiliki strategi untuk mengatasi desit air. Penelitian Walhi Sedangkan Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia P. Raja Siregar, mengatakan, kondisi air tanah Jakarta makin menurun dan tidak layak dikonsumsi. Dari data Pemda dan Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2002 diketahui bahwa air tanah di Jakarta antara lain telah tercemar bakteri ecoli, dan intrusi air laut yang hingga kini telah sampai ke daerah Slipi, Jakarta Barat. POKJA Sekitar 50 persen warga Jakarta mengonsumsi air tercemar yang diambil dari sumur mereka, karena air pipa di negara-negara Asia Tenggara hanya 50 persen warga yang tersambung oleh pipa PAM, lainnya. Sebagai contoh, Taipei yang hanya katanya. mematok harga Rp 2.196 untuk tiap Raja Siregar mengatakan, di daerah meter kubik air pipa. . . . kondisi air kond Rawamangun, Jakarta Timur, airnya Kondisi tersebut kemudian akan tanah Jakarta bahkan tidak layak lagi digunakan untuk mengakibatkan penggunaan air tanah makin menurun mandi, karena berminyak, berwarna coklat yang tidak terkendali oleh warga. Pada dan tidak layak dan licin. tahun 2007 saja, kata Firdaus Ali, dikonsumsi. Sementara itu, warga Kelurahan berdasarkan data pemerintah, jumlah Tomang Jakarta Barat mengaku lebih Tom pemakaian air tanah dalam oleh warga banyak memilih menggunakan air dari mencapai sekitar 22 juta. Padahal, ban Perusahaan Air Minum (PAM) daripada air menurut perhitungan saya, yang diambil Jakarta itu 11 Per tanah. kali dari yang dikatakan, dari 22 juta, katanya. tan Air tanah di s sudah tidak bisa dipakai lagi, kata sini Sementara itu, Kepala BPLHD DKI Jakarta, Ir Peni Ny. Ibrahim, warga Jalan Rawa Kepa Kelurahan Tomang. Susanti menyebutkan Laju kelahiran dan urbanisasi Menurut dia, air tanah hasil sedotan dari mesin menyebabkan pertambahan jumlah penduduk Jakarta pompa air berwarna kuning dan kadang-kadang ada semakin meningkat. Hal ini menyebabkan kebutuhan sedikit lapisan berminyak. Baju akan dekil jika dicuci air bersih ikut meningkat pula. Pada tahun 2009, jumlah dengan air tersebut. penduduk Jakarta mencapai 8,5 juta orang. Berdasarkan Bahkan Eman, salah seorang Ketua Rukun Tetangga standar IWA, setiap orang membutuhkan 190 liter air per (RT) di Kelurahan Tomang, mengatakan bahwa ember hari, sedangkan dunia usaha membutuhkan 30 persen yang digunakan untuk menampung air hasil sedotan dari total kebutuhan domestik. Secara total, masyarakat pompa listrik pun akan berwarna kuning dan tidak bisa Jakarta dengan total jumlah penduduk sebesar 11,437 dihilangkan. juta jiwa (Badan Regulator Pelayanan Air Minum, 2010) Saat ini, jika ingin memperoleh air tanah dengan membutuhkan air bersih sekitar 2,099 miliar liter per hari kondisi yang jernih, sangat sulit, katanya. atau 24.300 liter per detik. Menurut dia, jika tetap ingin menggunakan pompa Berdasarkan data Badan Regulator Pelayanan Air listrik jenis jetpump, harus dilakukan pengeboran hingga Minum DKI Jakarta, produksi air bersih tahun 2009 hanya mencapai 19.328 liter per detik. Padahal, itu sudah kedalaman lebih dari 30 meter, baru bisa diperoleh mengalami peningkatan dari seluruh Instalasi Pengolahan air tanah yang jernih dan bisa dikonsumsi. Dan jika pengeboran tidak mencapai lebih dari 30 meter, air yang Air (IPA) yang ada saat ini. Dengan demikian, pada tahun 2009 saja sudah terjadi desit air bersih 4.972 liter dihasilkan akan berwarna kuning karena mengandung banyak zat besi. per detik. Belum lagi masalah kebocoran Sekretaris kelurahan setempat, Riyanto, mengatakan yang masih sangat tinggi,

50

Edisi II, 2010


bahwa warganya lebih memilih menggunakan air PAM daripada air tanah. Airnya lebih jernih dan tidak berbau, meskipun jika siang hari alirannya sangat kecil dan baru pada malam hari alirannya deras, katanya. Penjual Air Keliling Dengan semakin banyaknya warga yang menggunakan fasilitas air ledeng (PAM), maka rezeki pada penjual air keliling di kawasan Tomang pun cenderung menurun. Walau demikian, penjual air keliling di wilayah Jakarta Utara masih tetap bertahan, karena air tanah di daerah ini sudah lama terintrusi air laut. Memang tidak seramai dulu, tapi sampai sekarang kita masih bisa jualan. Untuk makan sehari-hari cukuplah, ujar Wartono, pegawai pangkalan air Saron yang berlokasi di Jalan Ancol Selatan I No. 47, Sunter Agung, Jakarta Utara. Mereka sekarang mengaku hanya menjual air ke warung-warung di pinggir jalan yang sudah menjadi pelanggan tetap. Tanpa pelanggan tetap, tidak mungkin bagi penjual air bisa bertahan. Kita punya langganan tetap, kalau enggak punya langganan siapa yang mau beli, ujar Marto, penjual air keliling yang sudah berjualan sejak 1981. Oleh karena itu, kata Marto, sebagian besar penjual air keliling di sana telah beroperasi sejak 1980-an. Ia bahkan mengaku mempunyai sejumlah pelanggan tetap selama 15 tahun. Bisnis penjualan air kami biasanya per minggu bisa 30 sampai 40 tangki, tapi sekarang hanya 15 sampai 20 tangki, kata Iman, seorang pengusaha air tangki. Situasi pengambilan air di Gudang Air terlihat lima truk tangki air menunggu order. Menurut Wandi, kalau orderan banyak, antrean mobil truk tangki memanjang hingga Pasar Induk Kramat Jati yang jaraknya sekitar 400 meter dari Gudang Air. Meskipun sepi, namun Iman yakin penjualan air ini tetap akan bertahan, karena air bersih merupakan kebutuhan penting. PAM juga tidak bisa melayani seluruh masyarakat, alternatifnya membeli per air per tangki, ujar Iman Kondisi air tanah di Indonesia, terutama kota besar seperti Jakarta sudah memprihatinkan. Di kawasan petak dayak, Jelambar, Jakarta Barat salah satunya. Jika dibiarkan, Jakarta akan kekurangan air pada 2015 nanti. Kondisi nyaris sama dialami warga di Nusa Tenggara. Selain keruh, air tanah yang hanya dipakai untuk mandi dan mencuci itu berbau serta berasa payau. Penelitian Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menunjukkan, sebanyak 94 persen air tanah di Jakarta sudah tercemar bakteri ecoli dan colifom. Bakteri ini timbul akibat pencemaran limbah industri maupun rumah tangga. Pembangunan yang tidak memperhatikan sistem lingkungan dan peresapan air juga membuat kondisi air tanah makin parah. Krisis air juga ditandai dengan kekeringan di musim kemarau dan banjir di musim penghujan. Jika perbaikan regulasi tata bangun kota dan kelola air tidak dilakukan, kondisi akan semakin parah. Peran masyarakat seperti menghemat pemakaian air, penghijauan, dan membuat resapan air juga diperlukan (eko)
ISTIMEWA

51

Panduan

Kiat Mudah Buat Distalator Surya untuk Pemurnian Air


Oleh M Rois Bilad, Peneliti LIPI
rtikel ini memaparkan teknologi distilator surya yang digunakan baik untuk pemurnian air, maupun merubah air laut menjadi air tawar (desalinasi). Teknologi ini bisa digunakan dimana saja asalkan tempat tersebut mendapat penyinaran matahari. Pada dasarnya teknologi ini beoperasi melalui proses penguapan yang diikuti oleh pengembunan. Distilasi surya sangat berguna untuk memurnikan air dari polutanpolutan berbahaya. Ketika mengalami pemanasan, air menguap sedangkan polutan tertinggal, karena perbedaan volatilitas. Dalam kasus desalinasi, air murni (tidak mengandung garam) menguap kemudian mengembun sedangkan garam dan mineral lainnya

akan tersisa. Dengan demikian akan diperoleh destilat air yang relatif sangat murni dan tidak asin sama sekali.

Konstruksi Distilator Surya Distilator surya dibuat dengan bentuk tadahantadahan air sebagai tempat menuangkan air yang akan didistilasi. Tadahan-tadahan tersebut berhubungan melalui pipa penghubung dan disusun sedemikian rupa sehingga saling bersambung dan saling membawahi sehingga membentuk sudut kemiringan 30. Hal ini menyebabkan air bisa mengalir dari penadah atas ke bawah akibat gaya gravitasi. Pada bagian atas, susunan tadahan tersebut ditutup dengan penutup transparan (kaca, mika, akrilik, plastik). Dengan demikian, cahaya matahari dapat masuk memanaskan Gambar 1: Ilustrasi konstruksi Distilasi Surya air, sehingga menyebabkan terjadinya penguapan air. Uap air yang terbentuk naik ke atas, dan akibat terhalang oleh permukaan bawah/dalam penutup yang memiliki temperatur yang lebih rendah, berakibat uap air terkondensasi membentuk butir-butir air (kondensat). Karena posisi pemasangan penutup dibuat miring, butir-butir kondensat tersebut mengalir sepanjang penutup dan jatuh di bagian ujung untuk selanjutnya ditampung. Untuk lebih jelasnya perhatikan Gambar 1. Produktitas Flux energi surya yang sampai ke permukaan atmosfer bumi rata-rata adalah 1.4 kW/m2. Namun demikian karena berbagai faktor, hanya kurang dari 1 kW/ m2 yang benar-benar sampai ke permukaan tanah pada siang hari. Jumlah

52

Edisi II, 2010


ux energi yang diterima oleh distilator surya tergantung pada kemiringan, kondisi cuaca, lokasi, dan lain-lain. Flux maksimum energi yang bisa diterima oleh distilator surya kira-kira 8kW jam/m2/hari. Namun demikian, pada banyak distilator surya satu tahap yang telah dibuat, paling banyak menerima 6kW/ m2/hari (perkiraan di Indonesia, di USA hanya 5 6kW/m2/hari). Energi ini cukup besar untuk digunakan menguapkan air. Untuk menguapkan air diperlukan energi sebesar 540 kalori/gram. Jadi untuk menguapkan 1 liter air diperlukan energi sebesar 0,628 kW jam/m2/day pada temperatur konstan. Jadi jika 6kW jam/m2/hari digunakan untuk distilasi, maka diperoleh 9,6 liter/m2/ hari. Dari perhitungan ini dapat dihitung luas distilator surya yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Gambar 2: Distilator surya multi tahap

Distilator Surya Multi Tahap Pada distilator surya satu tahap, energi matahari hanya digunakan satu kali penguapan saja. Pada saat Pemanfaatan kondensasi, kalor laten dari uap air terbuang ke ling1. Pengolahan air minum: Seperti kita ketahui berkungan sehingga berubah fase menjadi cair berupa sama kualitas air dari PDAM sangat rendah. Distilator kondensat. Pembuangan energi ini membuat sistem surya ini dapat digunakan untuk memurnikan air PDAM satu tahap relatif kurang esien. Untuk meningkatkan dan distilat digunakan sebagai air minum. Jadi tidak produktitas distilator surya dapat digunakan sistem perlu lagi membeli air minum galonan multi tahap seperti diilustrasikan pada Gambar 2. 2. Daur ulang air: Pada daerah yang jarang air, Pada sistem multi tahap, proses berlangsung secara teknologi ini juga dapat digunakan untuk daur ulang multi efek. Pada tahap satu, pancaran cahaya matahari air. Air yang telah digunakan untuk mencuci atau manyang masuk ke lapisan paling bawah digunakan untuk di dapat ditampung dan di distilasi ulang untuk digunapenguapan air. Uap air tersekan kembali. Gambar 3: Beberapa contoh distilator surya but terkondensasi di bagian 3. Konversi air laut menjadi bawah penutup tahap 2 dan mentransfer panasnya untuk memanaskan air ditahap ke dua, demikian seterusnya. Pada sistem ini kehilangan energi tidak terlalu banyak sehingga produktitasnya meningkat. Umumnya distilator surya 3 tahap dapat meningkatkan produktitas destilat 2.5 kali distilator surya air tawar: Untuk daerah pinggir laut yang suplai air tawarnya kurang, teknologi ini sangat berguna untuk merubah air laut menjadi air tawar. Terlebih lagi ditunjang oleh temperatur di permukaan laut yang relatif lebih tinggi dengan tingkat pencahayaan matahari yang tinggi.

satu tahap. Dengan kata lain, setiap 1 m2 dari distilator surya 3 tahap dapat menghasilkan kurang lebih 24 liter destilat per hari. Untuk destilator surya dengan dimensi 3 x 3 (panjang x lebar) dengan luas 9 m2 akan menghasilkan destilat 216 liter per hari. Jumlah ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan air domestik satu keluarga. Selain itu juga kualitas airnya terjamin bagus, jauh lebih bagus dibandingkan air dari PDAM.

53

Info CD
Sistim Pengelolaan Air Bersih Berbasis Masyarakat (SPABBM): Penjaringan RW 12 Jakarta Utara Tahun 2010. Dalam cd yang berdurasi 30 menit ini terungkap upaya warga Penjaringan RW 12, Jakarta Utara yang terlibat p dalam pembangunan sistem pengelola pengelolaan air bersih n pe dan penyehatan li ingk lingkungan. Mulai ko kondisi RW 12 (setingkat d dusun) tidak m memiliki s sanitasi dasar hi hingga akhirnya me mempunyai s siste sistem pen ngel pengelolaan air b ih bersih yang baik . Kemitraan Pemerintah-Swasta untuk Cuci Tangan Pakai Sabun (KPS-CTPS). CD berdurasi 25 menit menggambarkan upaya kemitraan pemerintah-swasta untuk Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), yang merupakan suatu inisiatif global yang melibatkan dan menggalakan peran pemerintah dan swasta untuk bekerja secara kolaboratif untuk mempromosikan perilaku cuci tangan pakai sabun. Upaya ini dalam rangka menurunkan insiden diare penyebab utama kematian balita di negara berkembang dewasa ini dan merupakan penyebab kedua terbesar kematian pada emitraan balita di Indonesia. Kemitraan ini dilatarbelakangi pembelajaran dari negara lain yang telah terbukti sebagai model yang efektif menurunkan tingkat penyakit diare.

Bridging the Knowledge Gap CD tentang sejumlah kisah berharga AMPL yang dipublikasi oleh IRC. CD ini berdurasi 40 menit yang mengungkapkan mengenai pelajaran terpetik dari sejumlah negara dalam membangun sanitasi dasar dan pengelolaan air bersih secara baik. Sejumlah pelajaran berharga sejak perencanaan, pengambilan k keputusan, p pembentukan o organisasi dan p perawatan p produk d disajikan secara m menarik.

Program SToPS Sanitasi Total dan Pemasaran Sanitasi di SD Mancar 1 Peterongan - Jombang dan Lingkungan Masyarakat Sekitarnya. VCD berdurasi 35 menit ini berisi sejumlah Program SToPS Sanitasi Total dan Pemasaran Sanitasi yang dilaksanakan di SD Mancar 1 Peterongan bu uat Jombang. Dibuat oleh Dinas Kesehatan Jombang tahun 2010.

54

Info Buku
Catatan Tentang: Perumahan dan Permukiman Indonesia pada masa Transisi 1998-2004 Pengarang: Tjuk Kuswartojo Penerbit : Jakarta, Ditjen Perumahan & Permukiman, Depkimpraswil, x + 132 hal. Tahun Terbit: 2010

Edis I 2010 Edisii III,, 2010


memperoleh rumah adalah mereka yang mampu dan tidak selalu mereka yang perlu. Rumah menjadi komoditas, atau barang dagangan, yang lepas dari tujuan Pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Lebih menjadi persoalan lagi karena perkembangan ini antara lain harus menggunakan sumber daya yang tidak mungkin diperbanyak seperti misalnya tanah dan air. Oleh karena itu mengiringi perkembangan tersebut, Pemerintah juga melakukan regulasi. Undang-Undang Perumahan dan Permukiman yang diterbitkan tahun 1992, antara lain merupakan upaya untuk menjamin hak setiap warga negara untuk memperoleh rumah yang layak dan mengupayakan agar tanah yang akan menjadi langka dapat dimanfaatkan secara adil dan esien. Dalam masa transisi yang kondisinya digambarkan pada bab dua, perumahan memang kurang mendapatkan perhatian dari semua pihak. Walaupun demikian Pemerintah menerbitkan beberapa kebijakan dan melakukan kajian untuk pengembangan kebijakan yang akan datang seperti digambarkan pada bab tiga. Kondisi perumahan sendiri diungkapkan pada bab keempat. Akhirnya pada bab kelima, dicoba digambarkan apa yang harus dilakukan untuk masa datang. Evaluasi dan Feedback Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat - Kiat Menyusun Evaluasi Berbasis Masyarakat Penerbit: PKPM, Bappenas, JICA Tahun 2010 sendiri bukanlah mengejar adanya output semata, tetapi diharapkan menjadi acuan lebih lanjut bagi penggiat pemberdayaan masyarakat, baik yang selama ini ikut serta secara aktif dalam PKPM maupun berbagai pihak yang menaruh minat untuk membangun pemahaman yang tepat mengenai pemberdayaan masyarakat, serta keinginan untuk bekerja sebagai pendamping masyarakat dengan metodologi yang eektif. Bagaimanapun juga buku ini hanya merupakan sebuah pengalaman, melakukan kegiatan peningkatan kapasitas bagi fasilitator masyarakat melalui pelatihan di PKPM.

Pola Pengelolaan Sumber Daya Air: Wilayah Sungai Bengawan Solo. Penerbit: Kementerian Pekerjaan Umum. Tahun 2010

Sebelum terjadinya krisis moneter tahun 1997, selama hampir dua puluh lima tahun, Pemerintah terus menerus berusaha membangun perumahan secara sistematis dan terorganisasikan agar lebih banyak masyarakat Indonesia menjangkau perumahan yang layak. Selain membentuk organisasi pembangun perumahan dan memprakarsai terbentuknya lembaga pembiayaan perumahan, juga mendorong hadirnya perusahaan pembangun perumahan. Rumah yang dibangun secara terorganisasikan oleh perusahaan pembangun perumahan swasta ternyata meningkat lebih cepat. Banyak perusahaan yang kemudian mampu membangun perumahan dalam skala kota dengan kualitas yang makin tinggi. Di satu sisi ini adalah suatu potensi, tapi di sisi lain juga menimbulkan tantangan baru. Pembangunan perumahan yang dibangun oleh usaha swasta tersebut dihantar kepada masyarakat dan mencapai konsumen melalui mekanisme pasar. Pada akhirnya masyarakat yang

Buku ini merupakan hasil dari salah satu kegiatan yang dilakukan oleh PKPM yang berisi proses dan hasilhasil kegiatan tersebut. Penerbitannya

Sungai Bengawan Solo menjadi sumber air baku yang sangat penting bagi masyarakat untuk memenuhi berbagai kebutuhan, namun hampir setiap tahun menimbulkan bencana banjir yang sangat merugikan. Pola Pengelolaan Sumber Daya Air WS Bengawan Solo bermaksud untuk membuat kerangka dasar dalam pengelolaan sumber daya air di wilayah Sungai Bnegawan Solo. Tujuan penyusunan pola pengelolaan Sumber Daya Air WS Bengawan Solo adalah untuk menjamin terselenggaranya pengelolaan sumber daya air yang dapat memberikan manfaat yang sebesarbesarnya bagi kepentingan masyarakat dalam segala bidang kehidupan.

55

Info Situs
International Water Management Institute http://www.iwmi.cgiar.org D dalam situs ini Di p pengunjung dapat m menemukan berbagai m macam publikasi dan b basis data mengenai air. Y Yang menarik disini juga d dipublikasikan hasilh penelitian yang hasil d dilakukan oleh IWMI d dengan topik penelitian antara lain mengenai Basin Wate Management, Land, Water Water and Livelihood, Agriculture, Water and Cities, Water Management and Environment, Benchmark Basins. IWMI adalah organisasi ilmiah nirlaba yang dibiayai oleh the Consultative Group on International Agricultural Research (CGIAR). Agenda riset IWMI dikelompokkan menjadi empat tema utama, meliputi isu-isu yang berkenaan dengan lahan, air, mata pencaharian, lingkungan dan kesehatan. Institusi berkonsentrasi pada permasalahan air dan manajemen lahan yang dihadapi oleh masyarakat pedesaan. Tantangan-tantangan tersebut meliputi malnutrisi, mata pencaharian dan kesehatan, yang berkaitan dengan permasalahan lingkungan. IWMI bekerja melalui penelitian yang berkolaborasi dengan mitra di Utara dan Selatan, untuk membantu negara berkembang membasmi kemiskinan dan mengatur air dan sumber daya lahannya dengan lebih baik International Groundwater Resources Assessment Center (IGRAC) http://www.igrac.nl D Di dalam situs ini pengunjung d dapat memperoleh basis data, b berikut proses pengumpulan d data, dan perangkat presentasi ya yang berkaitan dengan ai air (khususnya mengenai ai air tanah). Tujuan dari d dibentuknya International G Groundwater Resources e (IGRAC), yang diluncurkan Assessment Centre (IGR pada saat Konferensi Internasional Ke-5 Ilmu Hidrologi

pada februari 1999, adalah memberikan manfaat kepada seluruh komunitas internasional dibidang air bawah tanah. Organisasi ini berpusat di Netherlands Institute of Applied Geoscience TNO, Utrecht, Belanda. Pada awalnya, oraganisasi ini dibiayai oleh The Dutch Interministerial Bureau Partners for Water. IGRAC, secara prosedural, beroperasi dibawah pengawasan UNESCO dan WMO. Kelompok Kerja Komunikasi Air http://www.komunikasiair.org K Kelompok Kerja Komunikasi A adalah kumpulan Air in individu dari berbagai L LSM bidang lingkungan h hidup dan kesehatan ya bergerak di dalam yang p proses mengomunikasikan p pengelolaan lingkungan hidup d segala aspeknya terutama dan sumber daya air dan penyam penyampaian informasi berupa call for action melalui berbagai media. K3A membangun komunikasi berbagai pihak dalam pengelolaan sumber daya air dari berbagai aspek, menuju keberlanjutan kehidupan yang lebih baik, untuk generasi sekarang dan yang akan datang terutama di wilayah Jawa Barat. Pelangi http://www.pelangi.or.id D dalam situs ini terdapat Di in informasi seputar program y yang dijalankan oleh Pela antara lain program langi ik iklim, energi, kehutanan, se transportasi dan serta k kualitas udara. Pengunju juga dapat membaca jung b rapa materi publikasi bebe y yang berkaitan dengan lingkungan hidup Beberapa jud menarik yang dapat lingkungan hidup. judul ditemukan disini antara lain: Bumi Makin Panas: Ancaman Perubahan Iklim di Indonesia, Loe Loe Gue Gue: ancurnya Kerekatan Sosial, Rusaknya Lingkungan Kota Jakarta, Kyoto Protocol: Beyond 2012, The Asia Pacic Region Speaks: Perspectives on Climate Change. Situs ini milik Yayasan Pelangi Indonesia yang memiliki tujuan untuk menjadi satu lembaga penelitian mandiri dengan reputasi nasional dan internasional yang menjadi acuan dan pionir melalui kajian dan advokasi isu-isu strategis.

56

Pustaka AMPL
Buku
Sinergi Pusat dan Daerah dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal. Buku Pegangan Penyelenggaraan Pemerintahan. Kementrian Keuangan Tahun 2010 Memacu Infrastruktur Di Tengah Krisis. Kementrian Keuangan Tahun 2010.

Edis I 2010 Edisii III,, 2010


Panduan
Panduan Pemberdayaan Masyarakat dengan Pelibatan Jender dan Kemiskinan dalam Pembangunan Sanitasi, Tahun 2010 Air Minum Edisi Maret 2010 Semua PDAM Harus Sehat Tahun 2014

Leaet Leaet
Tips Hemat Air duan Pelatihan Tenag Panduan Pelatihan Tenaga Fasilitator Lapangan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat Dana Alokasi Khusus Tahun Kementerian Pekerjaan Umum 2010

Laporan poran
Laporan Bulanan Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Juni 2010 Ruang Terbuka Hijau Sebagai Unsur Utama Tata Ruang Kota. Dirjen Penataan Ruang PU Tahun 2010

Pengelolaan Lingkungan: Program Kelola & Pantau Lingkungan

Majalah Studi tudi


KIPRAH Tarakan Lestari, Tarakan Kalimantan Timur Upaya Mengatasi Mas Masalah Banjir secara Menyeluruh. Siswoko Sismodiharjo. Yayasan Penerbit Pekerjaan Umum Tahun 2010. Studi Kasus Sambungan Air Bersih untuk Masyarakat Miskin Environmental Services Program (ESP) Percik Yunior Edisi 13, Maret 2010 Menjaga Sungai Kehidupan

Poster
Mampukah aku........? (CWSH Community Water Services & Health)

Warta UKS M i 2010 Mei 2010, Pentingnya Gizi Seimbang dan Keamanan Pangan Jajanan Anak Sekolah

57

Fakta
Fakta terkait Kelangkaan Air
1. Kelangkaan air terjadi, bahkan di daerah-daerah dimana terdapat banyak curah hujan atau air sangat mudah di dapat. Bagaimanapun air adalah kekal, digunakan dan didistribusikan dalam masyarakat, dan kualitas air yang tersedia dapat menentukan apakah ada dana cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, pertanian, industri dan lingkungan. 2. Kelangkaan Air mempengaruhi satu dari tiga orang di setiap benua dunia. Situasi makin parah karena kebutuhan air meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk, urbanisasi dan peningkatan rumah tangga dan industri menggunakannya. 3. Hampir seperlima dari penduduk dunia (sekitar 1,2 miliar orang) tinggal di daerah di mana air secara sik langka. Seperempat dari populasi global juga tinggal di negaranegara berkembang yang menghadapi kekurangan air karena kurangnya infrastruktur untuk mengambil air dari sungai dan sumber air. 4. Kelangkaan air memaksa orang untuk mengandalkan sumber-sumber yang tidak aman air minum. Ini juga berarti mereka tidak bisa mandi atau membersihkan pakaian atau rumah-rumah mereka dengan benar. 5. Kualitas air yang buruk dapat meningkatkan risiko penyakit diare seperti kolera, demam tipus dan disentri, dan infeksi yang terbawa air. Kelangkaan air dapat menyebabkan penyakit-penyakit seperti trachoma (infeksi mata yang dapat menyebabkan kebutaan), wabah penyakit dan tifus. 6. Kelangkaan air mendorong orang untuk menyimpan air di rumah mereka. Hal ini dapat meningkatkan risiko pencemaran air rumah tangga dan menyediakan tempat berkembang biak bagi nyamuk - yang adalah pembawa demam berdarah, malaria dan penyakit lainnya. 7. Kelangkaan air menggarisbawahi perlunya pengelolaan air yang lebih baik. Pengelolaan air yang baik juga mengurangi situs perkembangbiakan serangga semacam nyamuk yang dapat menularkan penyakit dan mencegah penyebaran infeksi yang terbawa air seperti schistosomiasis. 8. Kurangnya air telah mendorong atas penggunaan air limbah untuk produksi pertanian miskin perkotaan dan masyarakat pedesaan. Lebih dari 10% dari orang di seluruh dunia mengkonsumsi makanan irigasi dengan air limbah yang dapat mengandung bahan kimia atau organisme penyebab penyakit. 9. Tujuan Pembangunan Milenium nomor 7, sasaran 10 bertujuan untuk mengurangi separuh, pada tahun 2015, proporsi penduduk tanpa akses berkelanjutan ke air minum yang aman dan sanitasi dasar. Kelangkaan air bisa mengancam upaya untuk mencapai sasaran ini.

Dampaknya Bagi Masyarakat Umum:


a. Setiap hari, ribuan orang meninggal dari kurangnya akses ke air minum. b. Jutaan orang meninggal setiap tahun dari penyakit yang berhubungan dengan air c. 43% kematian terkait air disebabkan oleh diare d. 84% air yang berhubungan dengan kematian terbesar adalah pada anak-anak berusia 0 - 14 tahun e. 98% kematian terkait air terjadi di negara berkembang f. 884 juta orang, kurang memiliki akses terhadap persediaan air yang aman, atau sekitar satu dari delapan orang g. Kelangkaan air dan krisis sanitasi merenggut kehidupan lebih banyak daripada korban perang. h. Pada waktu tertentu, setengah dari tempat tidur rumah sakit dunia ditempati oleh pasien yang menderita penyakit terkait air. i. Kurang dari 1% dari air tawar dunia (atau sekitar 0,007% dari semua air di bumi) adalah mudah diakses untuk digunakan manusia secara langsung. j. Kurang dari 1% dari air tawar dunia (atau sekitar 0,007% dari semua air di bumi) adalah mudah diakses untuk digunakan manusia secara langsung. k. Sekitar sepertiga orang yang tidak memiliki akses terhadap sumber air berpenghasilan kurang dari $ 1 per hari. Lebih dari dua pertiga orang tanpa sumber air berpenghasilan kurang dari $ 2 per hari l. Orang miskin yang tinggal di daerah kumuh sering membayar 5-10 kali lebih banyak per liter air daripada orang kaya yang tinggal di kota yang sama. m. Tanpa makanan seseorang bisa hidup selama berminggu-minggu, tetapi tanpa air anda dapat berharap untuk hidup hanya beberapa hari. n. Kebutuhan harian untuk sanitasi, mandi, dan memasak kebutuhan, serta untuk menjamin kelangsungan hidup, adalah sekitar 13,2 galon per orang.
POKJA

Dampaknya bagi Anak-anak:


a. Setiap 15 detik, seorang anak meninggal akibat penyakit yang berhubungan dengan air. b. Anak-anak di lingkungan miskin sering membawa 1.000 cacing parasit dalam tubuh mereka setiap saat c. 1,4 juta anak meninggal akibat diare setiap tahun. d. 90% dari semua kematian disebabkan oleh penyakit diare adalah anak-anak di bawah usia 5 tahun, terutama di negara-negara berkembang.

Dampaknya bagi Perempuan:


Jutaan perempuan dan anak-anak menghabiskan beberapa jam sehari untuk mengumpulkan air dari jauh, sering kali sumber polusi. [digilib/ampl.or.id/kruha.org/eko]

58 8

Edisi II, 2010

59