Anda di halaman 1dari 60

UU Keterbukaan Informasi Publik Jadi Harapan

Edisi I, 2010

Juni 2010

Membidani

Juni 2010

Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan


Diterbitkan oleh Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL)

Daftar

Isi

Penanggung Jawab Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas Direktur Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Direktur Pengembangan Air Minum Kementerian Pekerjaan Umum Direktur Bina Sumber Daya Alam dan Teknologi Tepat Guna Kementerian Dalam Negeri Direktur Fasilitasi Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup Kementerian Dalam Negeri Pemimpin Redaksi Oswar Mungkasa Dewan Redaksi Maraita Listyasari Nugroho Tri Utomo Redaktur Pelaksana Eko Budi Harsono Desain dan Produksi Agus Sumarno Sofyar Sirkulasi/Sekretariat Agus Syuhada Nur Aini Alamat Redaksi Jl. RP Soeroso 50, Jakarta Pusat. Telp./Faks.: (021) 31904113 Situs Web: http//www.ampl.or.id e-mail: redaksipercik@yahoo.com redaksi@ampl.or.id Redaksi menerima kiriman tulisan/artikel dari luar. Isi berkaitan dengan air minum dan penyehatan lingkungan.

Dari Redaksi ............................................................................................................. 3 Suara Anda................................................................................................................ 4 Laporan Utama Perlunya PIN AMPL: Menuju Era Manajemen Pengetahuan....................... 5 Sekilas PIN AMPL ....................................................................................... 8 Upaya Mewujudkan PIN AMPL Nasional .................................................. 10 Sejarah Panjang IRC................................................................................... 15 Produk PIN AMPL....................................................................................... 17 Wawancara Budi Hidayat, Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas ...............19 Peraturan Undang Undang Keterbukaan Informasi Publik Jadi Harapan................... 21 Agenda Hari Kesehatan : Lingkungan dan Sanitasi Sehat Rakyat Sehat.................. 23 Hari Bumi : Manusia Picu Perubahan Bumi............................................... 26 Hari Air Dunia : Air Bersih Untuk Dunia Sehat .......................................... 28 Wacana Penilaian Partisipatif untuk Pantau Keberlanjutan AMPL oleh Alma Arief dan Hari Wijarno ............................................................. 30 Sisi Lain Hasil Studi IRC: Waspadai Krisis Air ........................................................... 33 Inovasi Mengubah Sampah Jadi Energi Listrik oleh Haryo Nugroho ..................... 34 Panduan Kiat Mudah Membuat Lubang Resapan Biopori....................................... 37 Reportase - Menteri PU Terkesan Pokja AMPL di Pameran Hari Air Sedunia.............. 39 - DEWATS Conference and Exhibition: Pembangunan Sanitasi dengan Sistem Terdesentralisasi........................ 40 - Pembelajaran dari Pengalaman Pakar.................................................. 43 - Pembangunan Sarana AMPL Berbasis Masyarakat Proyek CWSH....... 45 Testimoni Ketua Pokja AMPL Kota Tegal, Eko Setiawan, Juru Kampanye Keliling yang Ampuh.................................. 48 Fakta Krisis Air Bersih Kembali Landa DKI Jakarta............................................... 50 Catatan Perjalanan International Learning Exchange - 2010 For Water, Sanitation and Hygiene Education, India, 13-24 April 2010 oleh Maraita Listyasari............................................................................... 52 Info Buku................................................................................................................. 56 Info Situs ................................................................................................................ 58 Pustaka AMPL.......................................................................................................... 59

Dari Redaksi

Juni 2010
bahkan telah beranak pinak menjadi 7 situs (Situs Pokja AMPL Daerah, Situs AMPL Yunior, Situs Jejaring AMPL, Situs WES Unicef, Situs STBM, Digital Library AMPL, disamping situs AMPL sebagai situs induk). Membuat majalah Percik (Indonesia dan Inggris), bahkan juga majalah AMPL buat anak-anak Percik Yunior. Menerbitkan buku terkait AMPL seperti Pembelajaran AMPL di Indonesia, Kumpulan Regulasi AMPL, Web Site AMPL dan sebagainya. Membentuk jejaring perpustakaan. Dan seterusnya. Sementara itu, sejak tiga tahun lalu, anggota Pokja AMPL kemudian mulai menyadari pentingnya membenahi data dan informasi secara terstruktur dan bukan sporadik seperti selama ini. Bersamaan dengan itu mulai mengemuka konsep pengelolaan pengetahuan (knowledge management), yaitu upaya memandang data tidak hanya sekedar data tetapi dapat diproses menjadi informasi yang kemudian dengan pengalaman dan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang kemudian dapat terbentuk pengetahuan (knowledge). Kesemua ini kemudian mendorong Pokja AMPL mulai mengumandangkan ide membentuk PIN AMPL. Artinya membenahi data tidak bisa dilakukan sendiri saja tetapi bersama-sama dengan beragam pemangku kepentingan lainnya. Melalui PIN AMPL, diharapkan upaya pembenahan data dan informasi dapat dilakukan bersama secara berjejaring. Jadi PIN AMPL tidak akan berpretensi menjadi satu-satunya pusat data dan informasi AMPL tetapi bersinergi dengan pemangku kepentingan lainnya. Ide ini kemudian mulai mendapat angin ketika Plan International Indonesia melalui kerjasama dengan Bappenas dan Pokja AMPL meluncurkan majalah Percik Yunior, menerbitkan buku, meluncurkan Digital Library AMPL. Lalu disambut oleh bantuan teknis Waspola Facility. Dipuncaki dengan pelaksanaan Lokakarya Pengembangan PIN AMPL hasil kerjasama Pokja AMPL, Waspola Facility dan IHE. Percik menjadikan PIN AMPL sebagai tema edisi kali ini sebagai bagian dari upaya mengkampanyekan PIN AMPL kepada seluruh pemangku kepentingan. Berharap keberadaan PIN AMPL menjadi lebih dikenal, sehingga tujuan pembentukan PIN AMPL sebagai pusat data dan informasi AMPL benar-benar dapat terwujud. Sehingga diharapkan pembangunan AMPL dapat lebih baik lagi ke depannya. Selamat membaca (OM)

embaca setia Percik, kita bertemu lagi setelah sekitar satu setengah tahun Percik edisi regular tidak terbit. Walaupun demikian, Percik tidak benar-benar vakum. Terbukti dengan terbitnya Percik edisi khusus sebanyak tiga kali yaitu edisi Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat (PSBM), edisi SANIMAS, dan edisi WASPOLA. Ketiganya merupakan edisi hasil kerjasama dengan mitra kerja yaitu BORDA (2 edisi) dan WASPOLA Facility. Kali ini kami hadir dalam edisi regular mengusung tema Pusat Informasi Nasional Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (PIN AMPL). Tentunya, pertanyaan pertama yang akan muncul apa itu PIN, dan seperti apa kiprahnya bagi pembangunan AMPL. Sejak 8 tahun lalu, mulai timbul kesadaran di kalangan anggota Pokja AMPL tentang pentingnya keberadaan data dan informasi yang handal. Hal ini dilandasi kemasygulan pemangku kepentingan melihat kondisi data AMPL yang tidak memadai. Berjalannya waktu kemudian menyadarkan Pokja AMPL untuk segera mulai membenahi kondisi ini. Disadari pula tentunya bahwa membenahi data bukan pekerjaan gampang dan cepat. Dibutuhkan waktu yang cukup lama dan bertahap. Awalnya dimulai dengan mengumpulkan data yang ada, kemudian meningkat menerbitkan majalah, membangun situs internet, dan seterusnya. Sampai kemudian produk dan upaya yang dihasilkan semakin banyak. Ketika kemudian kami mencoba melakukan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan, Pokja AMPL tersadar telah begitu banyak yang dihasilkan. Bahkan sudah jauh melampaui apa yang dibayangkan pada awalnya. Coba kita simak apa saja yang dihasilkan oleh Pokja AMPL terkait dengan pembenahan data dan informasi. Bersama dengan BPS menyusun pertanyaan Susenas 2007. Bersama dengan Waspola memfasilitasi Pokja AMPL Kabupaten Bangka melakukan survai data AMPL. Secara rutin memproduksi kumpulan data AMPL dalam bentuk CD. Membangun situs AMPL

Juni 2010 Suara

Anda

Kapan Majalah Percik Terbit

Perkenalkan saya Ridwan Hadi dosen Fakultas Tehnik Lingkungan di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Saya dan sejumlah te an m sangat merasakan manfaat yang sangat besar dari penerbitan majalah Percik yang secara khusus memuat beragam isu dan persoalan terkait masalah Air Minum dan Penyehatan Lingkungan. Namun dalam beberapa bulan ini, saya tidak menerima kiriman majalah Percik yang telah lebih dari 8 tahun menjadi sumber inspirasi saya dan sejumlah dosen untuk memperoleh bahan belajar. Saya sangat berharap pengelola majalah Percik dapat segera menerbitkan majalah ini. Banyak pembelajaran dan pengetahuan baru dalam bidang AMPL yang kami dapatkan dari Majalah Percik. Salam Percik Ridwan Hadi, Dosen FT Ilmu Lingkungan di Jakarta Terima kasih atas kepercayaan Anda dan teman-teman dosen Teknik Lingkungan yang telah menjadikan Majalah Percik sebagai sumber inspirasi belajar. Karena persoalan teknis pengelolaan kami mohon maaf sehingga majalah yang kita sayangi ini terlambat sampai di tangan pembacanya. Kami akan terus meningkatkan mutu dan perbaikan sehingga kehadiran majalah ini dapat memberikan manfaat serta nilai positif bagi masyarakat luas. Salam Percik

Bencana kekeringan yang menimpa, selain bencana banjir yang begitu dahsyat terjadi karena kesalahan mahluk di dunia ini yang begitu serakah dan tidak peduli dengan kondisi alamnya. Begitu besar kekuatan air dalam kehidupan ini, karena itulah sayangilah air dengan menggunakannya sebaik-baiknya. Selain itu, kekuatan air akan semakin bertambah dan berpengaruh positif pada diri kita bila saat hendak menggunakan air, misalnya mau minum, kita berdoa terlebih dahulu. Rini Utami Azis, Solo, Jawa Tengah

Memperoleh Bundel Percik

Bapak ibu Redaksi Majalah Percik yang terhormat, pernalkan nama saya Dewi Kusuma aktivis lingkungan dan kesehatan masyarakat Yayasan Pelangi Nusantara di Bogor, Jawa Barat. Saya langsung jatuh cinta ketika pertama kali membaca majalah Percik pertama kali tahun lalu ketika berada di kantor Unicef. Saya melihat majalah ini cukup lengkap, edisi bahasa Ingrris dan Indonesia, juga ada Percik Yunior buat anak-anak. Bagaimana ya caranya memperoleh majalah ini secara teratur? Sejumlah informasi dan artikel yang disajikan majalah ini sangat bermanfaat bagi teman-teman aktivis yang bekerja di bidang sanitasi dan kesehatan masyarakat seperti kami. Terima kasih Dewi Kusumah, Yayasan Pelangi Nusantara Bogor, Jawa Barat Terima kasih banyak atas apresiasi dan penghargaan yang ibu sampaikan tentang majalah Percik. Memang betul kami mengemas majalah ini dalam dua edisi yaitu Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, juga ada terbitan Percik Yunior untuk anakanak. Kami akan catat lembaga ibu untuk memperoleh majalah ini secara tetap. Salam Percik

harga yang meningkat beberapa kali lipat. Seperti yang terjadi di Manila dan Filipina, yang menaikkan tarif air hingga 500%. Bolivia merupakan salah satu contoh kasus privatisasi yang didiktekan secara gamblang dan ternyata bertujuan untuk menaikkan tarif air masyarakat miskin (petani dan masyarakat pedesaan). Mereka adalah kelompok yang paling menderita karena tidak mampu membayar. Penyediaan air minum di wilayah Jakarta pun jauh lebih buruk setelah diprivatisasi kepada PT Lyonaise dan PT. Thames. Hal ini bertolak belakang dengan asumsi World Bank, IMF dan ADB bahwa privatisasi bukan jawaban kinerja buruk pemerintah, dilihat dari indikator kualitas pelayanan air minum, target pertambahan pelanggan tidak mencapai ketentuan kontrak, target teknis pemakaian air tidak tercapai, tetap dibawah kinerja PAM Jaya. Seperti ungkapan Vice President World Bank, Ismail Serageldin, Perang di masa depan akan menyangkut air, karena bisnis air ibarat bisnis minyak. Setiap orang menggunakan air sehingga menjadi pangsa pasar yang menarik. Inilah maksud dari perusahaan raksasa melalui lembaga keuangan international. Masihkan kita melakukan privatisasi air? Yang jelas-jelas pada akhirnya akan membuat rakyat menderita. Dimanakah pemerintah sebagai instrumen negara dalam menyediakan pelayanan publik? Akankah kita terjajah lagi karena kebodohan kita? Muhammad Solihin, Bandung, Jawa Barat

Sayangilah Air

Sanitasi Kota Tegal Diperbaiki

Siapakah yang bisa hidup tanpa air? Begitu besar kegunaan air dalam kehidupan di dunia ini. Saat kita gerah dan kotor setelah beraktifitas sehari-hari, kita menyiramkan badan kita dengan air untuk mandi. Kemudian kita meneguk air kalau dahaga, dan begitu banyak sekali aktifitas kehidupan kita yang sangat bergantung pada air. Begitu lekatnya air dalam kehidupan kita, sehingga bisa saja ada yang tidak menyadari manfaatnya. Manfaat itu baru terasa bila kita mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Ketika saluran air mengalami gangguan, dan keluarnya air menjadi mampat dan kotor, itu sudah sangat meresahkan kita. Bagaimana kalau air sudah tidak kita dapati lagi?

Perang Dimasa Depan Menyangkut Air

Air, pendidikan dan kesehatan adalah kebutuhan dasar publik, sebagai kebutuhan dasar manusia yang keberadaannya dijamin konstitusi, pasal 33 UUD 1945, ayat 3 yang berbunyi: Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat. Agenda privatisasi diberbagai negara menunjukkan fenomena monopoli baru dan

Sanitasi merupakansebuahpermasalahan baru yang sangat membutuhkan perhatian dari berbagai pihak, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat Kota Tegal. Rendahnya pembangunan sanitasi serta fasilitas yang belum memadai menimbulkan angka kematian yang sangat tinggi. Sanitasi yang buruk dalam perkotaanseperti sungaisungai dan parit yang kotor- terutama adalah akibat masyarakat yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Sebenarnya pembangunan sanitasi sudah dilaksanakan oleh pemerintah maupun lembaga lain, namun pembangunan sanitasi ini berjalan tumpang tindih dan kurangnya perhatian pembangunan berkelanjutan, sehingga pembangunan ini manfaat yang dirasakan oleh masyarakat sangat berkurang atau belum menyentuh. Tasmawi, Tegal Jawa Tengah.

Laporan Utama
Perlunya PIN AMPL:

Juni 2010

Menuju Era Manajemen Pengetahuan

udah menjadi rahasia umum bahwa kondisi data di hampir semua bidang pembangunan di Indonesia masih belum dapat diandalkan, termasuk data air minum dan penyehatan lingkungan. Sebagai salah satu contoh, data Millenium Development Goals (MDGs) untuk akses air minum dan sanitasi baru dapat disepakati pada awal tahun 2010. Sementara MDGs sendiri sudah akan berakhir pada tahun 2015. Itu pun, tidak lama kemudian data yang disepakati tersebut diralat karena ternyata terjadi kesalahan perhitungan. Kita tidak mau menyalahkan siapa-siapa, tetapi fakta ini menunjukkan bahwa kondisi data kita masih jauh dari memadai. Sementara, melengkapi fakta di atas, kesadaran para pemangku tentang pentingnya data masih belum terlihat. Walaupun di tingkat nasional sudah disepakati data akses air minum dan sanitasi, tetapi di tingkat daerah yang nota bene berdasarkan undangundang otonomi daerah merupakan pihak yang bertanggungjawab bagi tersedianya layanan air minum dan sanitasi, data AMPL masih simpang siur. Dapat dibayangkan kualitas perencanaan ketika data yang handal masih menjadi pertanyaan.

Isu yang mengemuka di tingkat kabupaten/kota dan propinsi adalah beragamnya data yang tersedia. Sebagai contoh, untuk jenis data yang sama dapat diperoleh data yang berbeda dari beragam pemangku kepentingan. Jangan tanya data mana yang valid.

Keberadaan PIN tidak akan berarti tanpa adanya dukungan dari para pemangku kepentingan dan media massa.
Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan menyadari sepenuhnya kondisi ini, sehingga sejak sekitar 8 tahun yang lalu telah mulai dirintis upaya mengelola data di tingkat nasional secara lebih baik. Namun demikian karena upaya ini dilakukan hanya oleh Pokja AMPL, yang nota bene kewenangannya terbatas, maka hasilnya masih kurang bergaung, walaupun beberapa hasilnya telah mulai terlihat. Salah satunya berupa upaya pembentukan Pusat Informasi Nasional (PIN)

AMPL yang didukung oleh Bappenas, Waspola Facility dan Plan International Indonesia. PIN AMPL dimaksudkan sebagai suatu wadah menyinergikan data-data yang berserakan di masing-masing pemangku kepentingan, sehingga dapat diakses oleh seluruh pihak yang berkepentingan. Data tersebut nantinya dapat dikelola agar dapat menjadi informasi bahkan pengetahuan sebagai bagian dari konsep manajemen pengetahuan (knowledge mana gement). Saya harapkan nantinya dengan terbentuknya Pusat Informasi Nasional AMPL ini akan membantu para pemangku kepentingan dalam mendapatkan data dan informasi terkait masalah sanitasi, air bersih dan kesehatan lingkungan. Keberadaan PIN tidak akan berarti tanpa adanya dukungan dari para pemangku kepentingan dan media massa sebagai pilar keempat demokrasi yang diharapkan memiliki peran sangat besar dalam menjadikan program ini lebih bermakna, ujar Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas, Budi Hidayat. Menanti Sang Bayi Ibarat perempuan yang tengah hamil tua anak per tama,

Juni 2010
banyak pihak menunggu dan memberi dukungan penuh agar proses persalinan lahirnya si jabang bayi berjalan mulus. Jabang bayi yang dimaksud adalah Pusat Informasi Nasional (PIN) Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL). Sebut saja, orang tua sang bayi adalah Bappenas, Pokja AMPL, Plan International Indonesia dan Waspola Facility. Salah satu sosok yang sangat antusias atas kelahiran PIN AMPL adalah Carel Keuls, penasihat manajemen pengetahuan di UNESCO-IHE yang juga Ketua Tim Sumber Daya Air dan Irigasi. Menurut Keuls dalam mengembangkan sebuah manajemen proyek pembangunan berbasis kapasitas jaringan, sebuah Pusat Informasi Nasional memang layak untuk dibentuk. Kami sangat mendukung pembentukan Pusat Informasi Nasional ini, karena inisiatif di sekitar pembangunan Pusat Informasi Nasional Air Minum dan Sanitasi Lingkungan adalah fokus kami. Saya benar-benar ingin mengucapkan selamat kepada Anda dengan inisiatif ini dan saya berharap bahwa Anda akan segera membentuk PIN AMPL ini. Semoga secepatnya lembaga informasi ini terbentuk, tukasnya. Mengapa inisiatif pembentukan PIN AMPL tersebut begitu penting dibuat, Carel Keuls menjelaskan bahwa dengan dibentuknya P I N ini akan memungkinkan pemerintah menunjukkan keseriusannya kepada seluruh pemangku kepentingan AMPL dalam melaksanakan pembangunan AMPL. Lewat layanan PIN ini, memungkinkan akses ke informasi dan pengetahuan diperoleh banyak pihak secara tepat. Sebagai gerbang pusat data dan informasi maka PIN memungkinkan untuk membiarkan aliran pengetahuan yang tersedia dari banyak pihak untuk di akses seluruh pemangku kepentingan. Hal ini akan mendorong proses belajar lebih cepat bagaimana kita harus melakukan ini, bagaimana kita bisa meningkatkan itu. Dalam presentasinya dia menantang dengan pertanyaan-pertanyaan berikut: Apa yang bisa kita pelajari atau knowledge management yang relevan agar sebuah program AMPL menjadi sukses? Apa yang dapat kita lakukan untuk menghindari jebakDOK. POKJA AMPL an adanya polemik? Apa dan bagaimana proses dilalui dan membutuhkan kepemimpinan dan manajemen seperti apa? Dan bagaimana dengan dukungan media. Ini adalah beberapa pertanyaan yang sangat mendasar, paparnya. Dengan dibentuknya PIN ini pihaknya akan mendorong jaringan pengetahuan CKNet-INA (saat ini jaringan dari 10 universitas) untuk berkolaborasi dan memberikan informasi seluasnya soal layanan kapasitas untuk sektor air di bidang infrastruktur dan manajemen lingkungan. Seperti diketahui UNESCO-IHE sangat banyak terlibat dalam mendukung pengembangan kapasitas di sektor air di Indonesia, melalui program pendidikan dan dukungan lain dalam kegiatan proyek AMPL. Sebagai sebuah gerbang atau pintu masuk pengetahuan tentang AMPL, sebetulnya PIN AMPL ini nantinya akan dapat menjadi center of excellence atau pusat keunggulan informasi. Karena itu, sumber daya yang ada dalam Pusat Informasi Nasional ini harus mampu mengelola dan berbagi informasi. Portal dan Gerbang Dukungan lahirnya PIN AMPL juga dikemukakan oleh Abdul Rahman Rosyid, Communication Special ist dan Randy Salim, External Com munication World Bank. Kami sangat menyambut baik gagasan terbentuknya PIN AMPL ini. Saya berharap nantinya PIN AMPL dapat berperan sebagai portal gerbang dan pilar pertama yang di butuhkan masyarakat luas menyangkut kebutuhan informasi dan sebagainya tentang AMPL, paparnya. Dalam presentasinya tentang knowledge management, Abdul Rahman Rosyid menegaskan nantinya lewat PIN AMPL pembelajaran yang dapat diambil adalah suatu proses untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan, wawasan dan akhirnya percaya diri yang diharapkan akan menunjang peningkatan kinerja individu dan organisasi untuk menghasilkan nilai-tambah agar visi dan misi soal AMPL dapat tercapai. Dijelaskan, pengetahuan atau knowledge, bukanlah data, bukan pula informasi, namun sulit sekali dipisahkan dari keduanya. Perbedaan antara data, informasi dan pengetahuan seringkali hanya pada masalah derajat kedalamannya, dimana pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang lebih

Juni 2010
mendalam dibandingkan informasi, apalagi data. Secara intuitif, kebanyakan orang merasa bahwa pengetahuan merupakan sesuatu yang lebih luas, lebih mendalam, serta lebih kaya dibandingkan informasi, apalagi data. Kebanyakan orang mengatakan seseorang yang berpengetahuan atau knowledgeable person, merujuk pada seseorang yang berpendidikan, cerdas, memiliki pemahaman yang mendalam dan dapat dipercaya mengenai suatu subyek. Tidak pernah terdengar orang membicarakan pengetahuan dengan merujuk pada dokumen, memo, atau basis-data, walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa hal-hal tersebut memang dihasilkan oleh orang-orang yang berpengetahuan. Karena itu, dengan lahirnya PIN AMPL ini maka informasi yang cerdas, akurat dan bernas dapat dimiliki setiap orang yang membutuhkannya. Karena itu, saya secara pribadi sangat mendukung lahirnya PIN AMPL ini, ujarnya. Menanggapi dukungan yang sangat positif tersebut, Team Leader WASPOLA Facility, Gary Swisher menjelaskan tidak dapat dipungkiri pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan telah berlangsung cukup lama. Cukup banyak inovasi, terobosan dan kiat yang dilakukan untuk menjadikan persoalan AMPL ini menjadi sebuah agenda besar masyarakat Indonesia untuk disikapi. Hingga saat ini, seluruh pemangku kepentingan tidak dapat memungkiri bahwa telah banyak pembelajaran dan pencapaian yang diraih, terutama dalam lima tahun terakhir. Namun demikian, disadari juga bahwa hasil pembangunan ini masih belum optimal dan perlu ditingkatkan. Salah satu kendala utama yang dihadapi dalam pembangunan AMPL selama ini adalah kurangnya ketersediaan data dan informasi terkait sektor air minum dan penyehatan lingkungan yang lengkap dan handal. Kita semua menyadari bahwa dalam pelaksanaan pembangunan, ketersediaan data dan informasi yang handal, akurat, lengkap serta gampang untuk diakses merupakan suatu hal yang mutlak diperlukan. Selain itu, terutama dalam kurun lima terakhir, banyak sekali pembelajaran maupun pencapaian pembangunan AMPL yang harusnya terdokumentasikan dan terinformasikan dengan baik kepada masyarakat dan pemangku keKeberadaan PIN AMPL ini diharapkan dapat membantu para pemangku kepentingan dalam mendapatkan data dan informasi terkait. Namun, keberadaan PIN tidak akan berarti tanpa adanya dukungan dari para pemangku kepentingan. PIN AMPL tidak akan mungkin dapat melakukan pengumpulan dan pengelolaan data dan informasi yang sedemikian banyak dan masif tanpa bantuan pihak lain. Untuk itulah, guna mewujudkan PIN AMPL sebagai pusat informasi berskala nasional

DOK. POKJA AMPL

pentingan, sehingga isu AMPL dapat menjadi salah satu isu utama dalam konteks pembangunan nasional. Menambahkan keterangan Garry, Ketua Harian Pokja AMPL, Oswar Mungkasa menandaskan berangkat dari kebutuhan akan tersedianya data dan informasi yang dapat didiseminasikan dengan baik tersebut, Pokja AMPL Nasional tengah mengembangkan sebuah Pusat Informasi berskala nasional di bidang AMPL. Pusat Informasi Nasional (PIN) AMPL ini merupakan suatu resource center yang mengumpulkan, mengelola, dan mendiseminasikan data dan informasi yang terkait dengan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan di Indonesia.

di bidang AMPL, dukungan para pemangku kepentingan sangat diharapkan. Koordinasi dan kerjasama para pemangku kepentingan sangat diperlukan untuk mencapai tujuan bersama yaitu menyediakan data dan informasi AMPL yang lengkap, handal, serta mudah diakses oleh semua pihak. Terkait dengan hal tersebut, maka dibutuhkan suatu pertemuan atau lokakarya yang dapat mempertemukan para pemangku kepentingan dalam suatu forum untuk menghasilkan suatu rencana untuk pengembangan PIN AMPL.[Eko]

Juni 2010

ecara spesifik, tujuan pembentukan PIN AMPL adalah untuk menjawab kebutuhan para pemangku kepentingan, para ahli, aktivis, akademisi, pelaku bisnis dan industri/swasta serta masyarakat luas akan informasi AMPL di Indonesia, sehingga diharapkan dapat mempercepat pencapaian pembangunan AMPL di Indonesia.
DOK. POKJA AMPL

PIN AMPL
Selaras dengan itu, agar dapat mencapai tujuannya, peran dan fungsi Pusat Informasi AMPL Nasional setidaknya melakukan pengumpulan dan pengelolaan data dan informasi yang terkait dengan AMPL, kemudian menyebarluaskan informasi, temuan dan pesan penting yang terkait dengan AMPL melalui kegiatan komunikasi, advokasi dan relasi media massa lebih intensif. Adapun bentuk

Sekilas

keluaran PIN AMPL berupa dokumen data dan informasi dalam beragam bentuk media, sosialisasi dan advokasi kepada para pemangku kepentingan, tersedianya media penyeersedianya barluasan informasi berupa jaringan perpustakaan yang berskala nasional, dan situs AMPL terpadu. Sebagai tahap awal, direncanakan struktur Pusat Informasi Nasional AMPL akan terbagi ke dalam bebera-

Bentuk keluaran PIN AMPL berupa dokumen data dan informasi dalam beragam bentuk media, sosialisasi dan advokasi kepada para pemangku kepentingan.
pa divisi yaitu (i) Divisi Perpustakaan, yang bertanggungjawab atas segala proses terkait pengembangan dan pengelolaan pustaka terkait AMPL di Indonesia. Ruang lingkup kegiatan divisi ini secara spesifik adalah mengembangkan dan mengelola koleksi pustaka AMPL melalui Perpustakaan AMPL, menyebarluaskan informasi serta mengembangkan kerjasama jaringan perpustakaan AMPL; (ii) Divisi Data, yang bertanggungjawab atas segala proses terkait pengelolaan data dan informasi terkait AMPL di Indonesia. Ruang lingkup kegiatan divisi ini secara spesifik adalah membangun koleksi data baseline, data monitoring dan evaluasi AMPL, melakukan pemetaan persebaran kegiatan pembangunan AMPL di Indonesia, melakukan sosialisasi terkait pengeloelakukan laan pengetahuan melalui serangkaian kegiatan seminar/lokakarya; (iii) Divisi Komunikasi dan Publikasi, yang bertanggungjawab atas segala proses terkait penyebaran informasi serta kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Pokja AMPL dalam rangka melakukan sosialisasi dan advokasi untuk pengarusutamaan (mainstreaming) pembangunan AMPL di Indonesia. Kegiatan divisi ini secara spesifik adalah melakukan upaya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap isu air minum dan penyehatan lingkungan, khususnya mengenai pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, dan memperluas wilayah cakupan edukasi terkait isu air minum dan penyehatan lingkungan melalui kerjasama dengan media massa; (iv) Divisi Teknologi Informasi, yang bertang-

Juni 2010
gungjawab atas segala proses terkait pengelolaan dan pengembangan sistem informasi dan komunikasi Pokja AMPL. Ruang lingkup kegiatan divisi ini secara spesifik adalah melakukan kegiatan pengelolaan data dan informasi yang dimiliki untuk situs, dan melakukan pemeliharaan peralatan pendukung kegiatan pengelolaan data dan informasi. Road map PIN AMPL dalam bentuk yang sederhana telah disepakati paling tidak sampai tahun 2013, yaitu dalam bentuk penetapan empat fase pengembangan (a) Fase I (Januari 2010 Desember 2010) yang pakan tahap pengembangan dan kemitraan. PIN AMPL berkonsentrasi pada kegiatan pengembangan kemitraan dengan pihak lain, khususnya dengan pihak swasta dan media massa; (d) Fase IV (Januari 2013 Desember 2013), yang merupakan tahap penguatan. Kegiatannya pada penguatan sarana dan prasarana dengan mengembangkan inovasi-inovasi terbaru (seperti penyediaan media komunikasi dalam dua bahasa/bilingual, kemitraan dengan pihak asing). Disadari bersama bahwa keberhasilan PIN AMPL harus dapat diukur, dan tentunya menggunakan in-

DOK. POKJA AMPL

merupakan tahap pembentukan dan persiapan. Kegiatan pada fase ini berkonsentrasi pada pengadaan dan penguatan sarana dan prasarana pendukung untuk operasionalisasi Pusat Informasi AMPL Nasional; (b) Fase II (Januari 2011 Desember 2011) yang merupakan tahap peluncuran. Kegiatannya lebih pada kegiatan yang bersifat sosialisasi dan advokasi kepada para pemangku kepentingan mengenai keberadaan Pusat Informasi AMPL Nasional; (c) Fase III (Januari 2012 Desember 2012) yang meru-

dikator yang sederhana. Untuk itu, telah ditetapkan indikator kinerja PIN AMPL yaitu jumlah, intensitas dan kualitas pelaksanaan kegiatan yang terlaksana; jumlah kelengkapan dan keragaman informasi yang tersedia; jumlah materi dan pesan komunikasi yang disebarkan; jumlah tanggapan khalayak atas kegiatan, pelayanan dan akses data/informasi yang dibutuhkan; jumlah dukungan dan peningkatan kerja sama antar lembaga (OM)

Juni 2010
Lokakarya Pengembangan PIN AMPL

Upaya Mewujudkan

PIN AMPL Nasional

emahaman tentang pentingnya data dan informasi sebenarnya telah lama berkembang di kalangan pemangku kepentingan AMPL. Hal ini lah yang kemudian mendorong dimulainya pengumpulan dan pendiseminasian data dan informasi oleh Pokja AMPL. Awalnya dilakukan secara sporadik dan berlangsung sekitar 5 tahun, sebelum timbul kesadaran untuk melakukannya dalam suatu langkah yang teratur dan terukur. Pada saat itu lah kemudian muncul ide membentuk Pusat Informasi Nasional AMPL sebagai wadah pengumpulan, pengolahan dan pendiseminasian data dan informasi AMPL. Ide ini kemudian berkembang subur setelah mendapat dukungan dari berbagai pihak. Dimulai dengan dukungan Plan Internasional Indonesia dalam bentuk kerjasama penerbitan majalah anak-anak Percik Yunior, peluncuran situs Digilib (digital li brary) AMPL, bahkan berkembang menjadi dukungan dana operasional PIN AMPL nantinya. Pada saat bersamaan Waspola Facility juga memberikan dukungannya dalam bentuk bantuan teknis dan dukungan dana operasional tiga tahun kedepan. Keberadaan jejaring AMPL sejak tiga tahun lalu juga turut mendorong Pokja AMPL untuk mulai menyosialisasikan ide ini di kalangan pemangku kepentingan AMPL. Sehingga kemu-

dian mulai terjalin kerjasama dengan beberapa perpustakaan seperti perpustakaan kementerian, LSM, proyek bahkan pemerintah daerah. Kondisi di atas kemudian meyakinkan Pokja AMPL untuk melaksanakan suatu Lokakarya Pengembangan PIN AMPL sebagai suatu upaya untuk mendapatkan masukan bagi pembentukan PIN AMPL Nasional. Lokakarya tersebut merupakan
DOK. POKJA AMPL

Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas, Budi Hidayat, ketika membuka acara lokakarya.

bagian dari kerja bersama antara Pokja AMPL, Waspola Facility, Plan International Indonesia, Jejaring AMPL dan IHE. Selain itu, diharapkan melalui lokakarya tersebut dapat dijalin kerjasama diantara pemangku kepentingan dalam pengembangan PIN AMPL kedepannya. Keberadaan PIN tidak akan berarti tanpa adanya dukungan dari para pemangku kepentingan.

PIN AMPL tidak akan mungkin dapat melakukan pengumpulan dan pengelolaan data dan informasi yang sedemikian banyak dan masif tanpa bantuan pihak lain. Koordinasi dan kerjasama para pemangku kepentingan sangat diperlukan untuk mencapai tujuan bersama yaitu menyediakan data dan informasi AMPL yang lengkap, handal, serta mudah diakses oleh semua pihak. Lokakarya berlangsung pada tanggal 13 April 2010 di Jakarta yang dihadiri oleh sekitar 60 peserta terdiri dari wakil pusat data dan informasi, lembaga penelitian, BPS, perguruan tinggi, LSM, proyek, lembaga donor, kementerian, serta media massa. Diawali dengan sambutan Gary Swisher, Team Leader WASPOLA Facility, yang dalam pidato selamat datangnya menjelaskan mengapa WASPOLA Facility membantu Pokja AMPL dalam menginisiasi pengembangan PIN ke depan. Sebagai bagian dari kegiatan WASPOLA Facility khususnya dalam hal memperkuat sinergi program atau proyek, Pokja AMPL berencana mengembangkan information desk (meja informasi) AMPL, yang disebut sebagai Pusat Informasi Nasional (PIN), yang bertujuan untuk meningkatkan mekanisme Knowledge Ma nagement antarpelaku pembangunan AMPL, melalui pengembangan terpadu sistem publikasi, komunikasi, pendataan, teknologi informasi dan perpustakaan. Terkait dengan hal tersebut, untuk tujuan merancang

10

Juni 2010
PIN sekaligus mendapatkan masukan dari pemangku kepentingan, Pokja AMPL melaksanakan Lokakarya Pengembangan PIN. Sedangkan Budi Hidayat, Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas selaku Ketua Pokja AMPL, menyampaikan bahwasanya dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, pemangku kepentingan sektor Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) telah mengupayakan adanya sinergi pelaksanaan pembangunan AMPL di Indonesia dalam rangka memperluas, mempercepat dan meningkatkan pelayanan sektor AMPL. Upaya sinergi tersebut, tidak saja ditujukan di tingkat implementasi (lapangan), namun juga pada tingkatan manajerial melalui pengkoordinasian, pertukaran informasi program atau proyek dan saling dukung (cross support). PIN diharapkan menginisiasi pertukaran data dan informasi dengan lebih optimal ke depannya sehingga bisa membantu memonitoring dan mendorong kinerja cakupan layanan AMPL ke depan.

Data merupakan hal yang paling lemah di AMPL. Semua orang bisa melakukan hal yang sama tetapi tidak ada koordinasi.

Konsep dan Desain PIN Menurut Oswar Mungkasa, data merupakan hal yang paling lemah di AMPL. Semua orang bisa melakukan hal yang sama tetapi tidak ada koordinasi, misalnya adanya puskom di masing-masing departemen tetapi jarang berbagi informasi. Tiap proyek ada bagian data dan informasi tetapi masing-masing tidak pernah berhubungan. Maka hal yang penting dilakukan adalah membuat semua pelaku ini bersinergi Maka tujuh tahun berselang, Pokja AMPL memulai dengan membuat situs, membuat milis dan menerbitkan majalah Percik dengan mulai aktif menghubungi semua proyek, semua
DOK. POKJA AMPL

puskom, BPS, walaupun semua tidak terkumpul, tetapi situs ini yang paling lengkap di Indonesia tentang AMPL. Situs AMPL rutin diakses 300 400 orang per hari serta perpustakaan maya (digital library) dikunjungi 2.000 orang/hari. Ini menunjukkan bahwa orang memang memerlukan data tentang AMPL. Situs lebih sebagai portal, sebagai pintu masuk bagi orang lain untuk mendapatkan informasi Maka konsep pengembangan PIN pada dasarnya adalah menciptakan kumpulan dokumentasi segala hal terkait AMPL, diseminasi dengan segala cara dan upaya yang dapat di lakukan (digital library, majalah, milis, newsletter online mingguan dan gerai AMPL, facebook, forum wartawan AMPL). Visi ke depan menjadikan PIN sebagai sumber referensi yang akurat, lengkap, terkini dan terpercaya bagi khalayak luas dalam mencari berbagai macam informasi mengenai sektor AMPL. Selengkapnya tentang PIN AMPL pada bagian lain edisi ini. Pengelolaan Pengetahuan (know ledge management) dan media Seorang ahli dan praktisi know ledge management yaitu Carel Keuls dari IHE Delft, serta dua orang praktisi media dari tim komunikasi World Bank yaitu Abdul A. Rasyid dan Randy Salim, berkesempatan memberi masukan bagi pengembangan PIN. Menurut Carel Keuls, pusat akses informasi dan pengetahuan tentang air minum dan penyehatan lingkungan, menjadi sesuatu yang penting dalam mendorong ketersediaan arus informasi dan mendorong semakin cepatnya proses pembelajaran di bidang AMPL kepada semua pihak yang terlibat. Kalau PIN akan menggunakan proses knowledge management, maka pengetahuan sebagai sumber utamanya. Perlu dibedakan

11

Juni 2010
DOK. POKJA AMPL

Pembahas dari IHE Delft Belanda, Carel Keuls, dan tim komunikasi World Bank, Abdul A. Rasyid dan Randy Salim, memberikan masukan terhadap konsep PIN AMPL dengan dimoderatori oleh Wiwit Heris (WASPOLA Facility).

antara data, informasi dan pengetahuan. Data umumnya bersifat mentah dan apa adanya. Sedangkan informasi adalah data yang sudah diolah dan dijadikan sesuatu yang bermakna bagi pengguna. Sedangkan pengetahuan adalah kemampuan, kekuatan dan kapasitas personal untuk menjalankan suatu tugas tertentu (mis. meramalkan suatu dampak). Komponen pengetahuan selain informasi, juga meliputi pengalaman, keterampilan dan sikap. Tantangannya pengetahuan dibanding informasi yang bisa siap dibuat dalam bentuk stok pengetahuan digital, tetapi pengetahuan hanya dapat ditransfer lewat proses sosialisasi dengan pendekatan dinamis, yaitu arus komunikasi yang terus mengalir. Mengarahkan PIN melalui proses pengetahuan harus melalui beberapa tahapan yang ditandai dengan pertanyaan antara lain (i) produk dan proses kerjanya?; (ii) dampak yang ingin dicapai?; (iii) bidang pengetahuan yang dianggap penting?; (iv)

Ciri-ciri dari PIN yang sukses antara lain ditentukan oleh pemilihan dan penempatan posisinya serta model bisnisnya jelas, kemampuan mengorganisir.
bentuk pengetahuan dan proses pembelajaran yang ingin diatur?; (v) siapa yang akan terlibat?; (vi) apa saja yang mendorong pertukaran serta berbagi informasi tersebut?; (vii) sarana apa saja yang perlu ditata?; (viii) pendekatan yang terbaik untuk diterapkan bagi bidang pengetahuan tertentu?. Berdasar dari pengalaman lapangan, ciri-ciri dari PIN yang sukses antara lain ditentukan oleh pemilihan dan penempatan posisinya serta model bisnisnya jelas, kemampuan mengorganisir, cara menentukan ke-

butuhan dukungan lewat interaksi dengan kelompok sasaran (layanan berorientasi ke permintaan), menjaga selalu konsisten, dan menghindari dampak serta mengintegrasikan knowledge management ke dalam proses yang berjalan ditambah adanya jaminan kualitas. Hal-hal penting yang harus dikerjakan adalah menetapkan kelompok sasaran dan cakupannya, dan melibatkan mereka dalam proses. Kemudian hal penting lainnya adalah kemampuan penguasaan ICT (penyedia layanan teknologi), karena ICT memberikan solusi caranya dan PIN berfungsi sebagai penyedia informasi dan pengatur permintaan dan pasokan infiormasi yang dibutuhkan pengguna. Apabila PIN akan diarahkan menuju konsep pengelolaan pengetahuan maka harus diingat prinsip siklus pengetahuan yaitu bahwa temukan-ciptakan, kelola, berbagi informasi, gunakan dan gunakan lagi demikian seterusnya dalam suatu siklus yang berkelanjutan. Bentuk layanan yang bisa disediakan PIN antara lain (a) layanan informasi yang bisa berupa deskripsi proyek, laporan per tema, evaluasi proyek, pembelajaran kumpulan pengetahuan tentang AMPL (misalnya informasi per tema, tanya jawab, diskusi dan newsgroup, majalah online, kepustakaan fisik, layanan referensi dan newsletter); (b) dukungan dan petunjuk (panduan proyek, metode dan teknik, laporan akhir proyek, hasil riset, kampanye dan toolkit untuk pendidikan); (c) Layanan dalam bentuk kegiatan (berupa kunjungan lapangan, lokakarya pendalaman, pasar pengetahuan, hari berbagi informasi, konferensi, forum dunia maya (virtual). Abdul A. Rosyid, praktisi komunikasi dari World Bank dan mantan jurnalis Metro TV mengaitkan PIN dengan pendekatan media audit (pe-

12

Juni 2010
mantauan media) untuk memahami isu penting, entitas dan persepsi publik yang sedang terjadi di bidang AMPL. Langkah penting adalah menetapkan prioritas informasi yang akan dikelola dan didistribusikan oleh PIN. Seperti yang pernah dilakukan oleh World Bank mengenai isu banjir. Dari persepsi 32 media massa nasional dan lokal Jakarta, terlihat topik yang negatif dari media massa mengenai banjir lebih besar daripada topik positif. Narasumber juga melakukan simulasi mengenai media audit untuk AMPL, yang 61% lebih bernada negatif, sedangkan isu yang banyak diangkat adalah sektor limbah dan pengolahannya, dan persepsi publik menunjukkan bahwa itu terkait dengan kinerja pemerintah daerah dan pengusaha. Untuk itu, dalam menangani PIN terutama sisi komunikasinya, perlu upaya dalam pengembangan materi publikasinya, pendekatan kepada stakeholder dan distribusi media informasi yang tepat. Randy Salim menambahkan dalam pengalaman World Bank, menjalin kemitraan dengan pengambil keputusan menjadi suatu kunci keberhasilan untuk membangun kepercayaan terhadap positioning PIN. Kemudian bagaimana suatu pusat informasi bukan seperti sesuatu yang angkuh, tetapi rendah hati dan mau berinteraksi dengan pengguna dan para pemangku kepentingannya. Perlu diupayakan kegiatan-kegiatan yang sifatnya komunikasi dua arah. Menambahkan presentasinya, Keuls menyatakan bahwa mencocokkan kebutuhan akan informasi dan pasokan informasi yang ada bukan hal yang mudah, bahkan relatif sulit tetapi bisa dilakukan. Dalam PIN, idealnya harus jelas siapa yang akan memegang peran sebagai penengah antara orang yang membutuhkan dan orang yang memiliki informasi, termasuk dapat memainkan peran sebagai penengah yang akan membantu menemukan informasi yang tepat dan dibutuhkan. Peran PIN seharusnya juga disesuaikan dengan kebutuhan informasi dari pemakai yang berbeda. PIN juga harus punya gambaran yang

Menjalin kemitraan dengan pengambil keputusan menjadi suatu kunci keberhasilan untuk membangun kepercayaan terhadap positioning PIN.
tepat mengenai konteks informasi yang dibutuhkan para pengguna itu, dimana informasi itu dapat ditemukan, dan PIN harus melakukan koordinasi antar keduanya. Sifat dan fungsi PIN yang utama adalah sebagai penengah (broker) informasi. Tidak ada jawaban yang paling benar, karena menciptakan suatu sistem baru adalah suatu proses, yang kemudian dengan sendirinya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sendiri. Menurut Randy Salim, tim komunikasi World Bank menekankan bahwa perubahan kinerja dimana
DOK. POKJA AMPL

Salah satu kelompok diskusi yang membahas mengenai PIN AMPL.

13

Juni 2010
suatu institusi berusaha tampil lebih rendah diri, dan dalam hal ini World Bank menyadari bahwa dia bukan satu-satunya sumber bantuan. Maka World Bank harus lebih banyak bergaul dengan banyak pihak. Kita tidak mau menguasai dan menyetir suatu diskusi atau dialog, kita hanya salah satu pihak yang berperan di dalam proses ini. Maka mengapa dari sistem informasi terpusat kemudian dikembangkan menjadi sistem informasi yang terdistribusi ke pihak-pihak mitra lain dari World Bank yaitu universitas-universitas. Keuls menambahkan bahwa terdapat perbedaan mengenai apa yang anda baca atau tersedia di media dengan data riset. Akses untuk mendapatkan data faktual mengenai apa yang mengakibatkan terjadinya suatu situasi tidak dapat anda dapatkan begitu saja dari media. Untuk memecahkan masalah tersebut, anda perlu tahu darimana anda harus mulai. Mungkin PIN dapat memainkan peran untuk menjadi semacam penyimpan data dan info yang independen. Hal lain yang cukup penting adalah upaya bagaimana kita mendidik para wartawan untuk menulis dengan tepat mengenai masalah-masalah air bersih dan sanitasi, misalnya. Peran kunci PIN adalah sebagai sumber sekaligus saluran, berarti PIN tidak bermaksud membuat sesuatu yang baru, tetapi lebih sebagai semacam portal informasi. Menurut pendapat Nugroho Tri Utomo (Bappenas), pertemuan ini diselenggarakan untuk melakukan positioning untuk PIN, karena tidak perlu menjadi formal dan frontal dengan institusi dengan fungsi serupa yang sudah ada. Kalau ada pertanyaan posisinya dimana, pusat informasi modern sekarang sudah punya ciri-ciri yang lebih independen. PIN adalah komunitas data, tidak ada standar, tidak ada format, tidak ada kualitas data tetapi bisa berkorelasi dengan lembaga kompeten yang ada untuk sistem validasi. Ada premi um service, misal untuk analisa data. PIN bisa membuat profil real time in formation (informasi profil seketika), dan hal ini tentu akan menarik pengguna. pusat-pusat data, tapi lebih ke mediasi. Persoalannya, yang harus dilakukan adalah dalam membuat PIN AMPL separtisipatif mungkin. Namun, jika bersentuhan dengan birokrasi pemerintah, mau tidak mau posisi PIN AMPL juga menjadi bersifat birokratis dan tidak lagi independen. Untuk itu, dipikirkan kembali bagaimana posisi PIN yang paling enak. Selain itu, Keuls juga menekankan bahwa dari sudut pandang knowledge management, PIN harus mengerti dan menyadari siapa dan informasi apa yang dibutuhkan. PIN bisa memfasilitasi kegiatan pertemuan untuk sosialisasi dan pengumpulan pengetahuan. Tentunya hal tersebut tidak mudah dilakukan, oleh karena itu, pertukaran informasi dengan sumbersumber perlu dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Untuk dapat segera menjalankan fungsi-fungsinya, terdapat dua hal yang perlu segera ditindaklanjuti, yakni membentuk tim kecil dan segera melakukan kajian terhadap kebutuhan target sasaran. Forum kemudian menyepakati beberapa hal: 1. Membentuk tim kecil untuk merumuskan konsep PIN yang beranggotakan dari perwakilan peserta diskusi dari masing-masing kelompok, yaitu dari Rositayanti Hadisoebroto (Universitas Trisakti), Erita Christiani (CKNETIna), Edward (Puskom PU), Naldi (Litbang Depdagri), Alwis Rustam (USDP), dan Dini Haryati (Sekretariat Pokja AMPL); 2. Untuk ke depannya, yang perlu dilakukan adalah penjajakan dengan target sasaran PIN untuk melihat kebutuhan (knowing demand), misal melalui kuesioner ke daerah-daerah. Dengan demikian nantinya akan terlihat kebutuhan yang belum terlayani oleh layanan informasi AMPL yang telah ada saat ini.

Pada dasarnya konsep PIN AMPL ini memang tidak mulai dari nol, tetapi mengembangkan sumber daya yang telah ada.
Kesimpulan Pada dasarnya konsep PIN AMPL ini memang tidak mulai dari nol, tetapi mengembangkan sumber daya yang telah ada. Meski demikian, gagasan ini perlu diungkapkan untuk menggalang keterlibatan dan partisipasi banyak pihak dalam pengelolaannya. Pelibatan para pemangku kepentingan dapat dilakukan dengan menyinergikan sumber daya yang telah mereka miliki. Selain itu, perlu dilakukan pula kajian terhadap kebutuhan target sasaran, sehingga pengembangan PIN AMPL ini sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh publik. Terkait dengan pendanaan, untuk lima tahun ke depan, PIN AMPL ini akan didukung oleh WASPOLA Facility. Untuk itu, perlu dipikirkan secara matang mengenai pengorganisasian dan pengelolaannya, agar PIN AMPL ini bisa bersifat independen. Seperti yang telah ditekankan sebelumnya, peran PIN AMPL nantinya tidak akan menggantikan posisi

14

ISTIMEWA

Juni 2010

Sejarah Panjang IRC:

Portal Kelas Dunia

Belajar Dari
baik penduduk miskin, di negara berkembang untuk mendapatkan air, dan sanitasi. Saat ini IRC dikelola oleh 61 pegawai yang berasal dari beragam kebangsaan, bidang keilmuan terkait air dan sanitasi, termasuk sains, teknologi informasi, sosiologi, anthropologi, ekonomi, dan publisistik. Sebagian besar pegawai bekerja sebagai fasilitator, IRC telah menjalin kemitraan dengan beragam jaringan internasional. IRC telah menjadi yayasan otonom sejak tahun 2006, mengakhiri keterikatan dengan pemerintah Belanda. Untuk itu, badan pengawas dibentuk sebagai badan pengelola tertinggi, dengan dewan direktur bertugas sebagai pengelola operasional. Lingkup kerja IRC mencakup berbagi pengetahuan, diseminasi berbiaya rendah, dan fasilitasi pusat informasi di negara berkembang.

ika kita mengunjungi situs International Reference Center (IRC) International Water and Sanitation Centre, segera terbaca motto mereka yaitu menjembatani kesenjangan pengetahuan dan belajar bersama mitra tentang air, sanitasi dan higinitas berbiaya rendah di negara berkembang. Sangat kental nuansa pengelolaan pengetahuan (knowledge manage ment). Upaya ini dimulai sejak 1968 ketika IRC terbentuk, dan tetap konsisten sampai saat ini. IRC dibentuk oleh World Health Organization (WHO) dan pemerintah Belanda sebagai salah satu pusat kerjasama WHO. Sejak terbentuknya, IRC International Water and Sanita tion Centre telah banyak memfasilitasi kegiatan pembelajaran, promosi, dan pemanfaatan pengetahuan sehingga pemerintah, professional, dan organisasi dapat mendukung secara lebih

Sejarah Panjang Empat Dekade Perjalanan panjang IRC secara umum dapat dibagi dalam empat dekade dengan fokusnya masingmasing yaitu (i) 1968-1979 terutama pada pengembangan teknologi; (ii) 1980-1990 berubah orientasi menjadi partisipasi masyarakat; (iii) 19902000 berubah menjadi pengelolaan air minum perdesaan oleh komunitas, dan perhatian terhadap sanitasi mulai muncul; (iv) 2000-2008 berkembang menjadi pendekatan terpadu air, sanitasi dan higinitas dengan fokus lebih pada keberlanjutan dan pengurangan kemiskinan. Pada dekade pertama (19681979), pekerjaan masih berupa pendokumentasian dan baru pada akhir dekade pertama lah dimulainya kemitraan dengan lembaga lain. Jumlah pegawai berkembang dari hanya dua menjadi 17 pegawai.

15

Juni 2010
Walaupun demikian beberapa tonggak penting telah berhasil dicanangkan diantaranya IRC newsletter diluncurkan (1970). Pada dekade berikutnya (1980-1990), pekerjaan tidak lagi sekedar pendokumentasian tetapi juga telah merambah publikasi dan pelatihan. Salah satu publikasi yang laris adalah buku Small Communities Water Supply (1981). Selain itu, berhasil diterbitkan Intermediate Thesaurus on Commu nity Water Supply and Sanitation for Develop ing Countries (1983), yang diikuti INTER WATER Thesaurus for Community Water Supply and Sanitation, (1987) dalam beberapa bahasa. Pelatihan juga telah dimulai pertama kali pada tahun 1986. Kemitraan lokal dan internasional dimulai pada dekade ketiga (19902000). Sepanjang tahun 1991-1997, IRC mengelola kelompok kerja In formation Management, sebagaimana kelompok kerja internasional Informa tion, Education and Communication (IEC) dari WSSCC, yang mengembangkan beragam perangkat komunikasi dan advokasi. Sementara sejak 1998, berita elektronik Source Water and Sanitation News diterbitkan. Pada dekade terakhir (2000-2008) pengelolaan sumber daya air telah bergeser dari tingkat masyarakat menjadi tingkat pemerintah daerah. Selain itu, sejak 2007, IRC menjadi institusi otonom dan beralih ke pasar untuk memperoleh dana. Pencapaian utama adalah pada periode 2001-2007 berhasil mendapatkan kontrak pengelolaan WELL Resource Centre Network on water, sanitation and environmen tal bekerja sama dengan 8 negara berkembang. Terkait dengan Indonesia, pada saat ini IRC sedang menjalin kemitraan dengan SIMAVI dalam membantu pemantauan dan pendokumentasian kemajuan program higinitas, air dan sanitasi di 9 kabupaten di Indonesia Timur. Produk IRC menyediakan berita pembangunan dan kegiatan di bidang air dan sanitasi. Selain itu, juga menawarkan akses bagi masyarakat umum terhadap informasi dan perangkat interaktif, termasuk layanan tanya jawab. Sejumlah produk IRC sebagai sebuah pusat informasi diantaranya: Publikasi Selama bertahun-tahun IRC menerbitkan lebih dari 100 buku, pamflet dan makalah. Keseluruhannya tersedia secara on line. Digilib Para pengelola IRC menyadari dalam proses transformasi dimasa depan, perpustakaan akan menjadi perpustakaan digital sepenuhnya. Dalam kasus tidak tersedia file elektronik, disediakan alamat email yang dapat dihubungi. Transformasi ke dalam perpustakaan digital telah dimulai tahun lalu. Berbagai promosi dan pemanfaatan pengetahuan dan informasi telah difasilitasi oleh IRC sejak berdirinya pada tahun 1968. Pada tahun 1984 mulai dibuat untuk katalog perpustakaan digital, dan pada 2001 katalog ini dapat diakses di Internet. Perpustakaan digital IRCDOC (perpustakaan digital IRC) merupakan ujung tombak layanan IRC, yang memiliki 16.000 dokumen teks lengkap siap pakai. Keberadaan IRCDOC bermanfaat untuk meningkatkan peluang berhubungan dengan organisasi lain, meningkatkan aksesibilitas melalui mesin pencari Google, meningkatkan nilai tambah dari informasi IRC. Untuk informasi lebih lanjut tentang layanan perpustakaan digital atau informasi lainnya, silakan hubungi library@irc.nl IRCDOC diperbarui setiap hari dan menyediakan sekitar 16.000 referensi dokumen termasuk 2.100 buku, 5.500 laporan, 2.900 jurnal artikel dan makalah konferensi, 660 manual pelatihan. InterWATER Thesaurus The Tesaurus InterWATER dapat digunakan untuk informasi pengindeksan; untuk mencari atau mengambil informasi; dan sebagai penterjemah InterWATER organisasi InterWATER menawarkan informasi tentang lebih dari 650 organisasi dan jaringan dalam penyediaan air dan sanitasi yang berhubungan dengan negara-negara berkembang. Setiap organisasi memiliki gambaran singkat, rincian kontak, e-mail dan alamat situs Web, dan situs terkait yang berlaku. Jasa konsultasi dan pelatihan Bentuk layanan berupa dukungan teknis IRC dalam pengembangan, perumusan, penilaian dan evaluasi program, berpotensi dikombinasikan dengan berbagai kegiatan pengembangan kapasitas. Layanan Perpustakaan IRC menyediakan berbagai layanan informasi dan dokumentasi yang berkaitan dengan air dan sanitasi di negara-negara berkembang.

CD

16

Juni 2010

Produk PIN AMPL


1. Situs atau Portal AMPL. Situs AMPL yang beralamat di http://www.ampl.or.id ini berisikan berbagai macam informasi terbaru yang terkait dengan masalah air minum dan penyehatan lingkungan yang akan diperbaharui setiap hari layaknya situs kantor berita atau harian. Situs ini berfungsi sebagai situs induk bagi situs lainnya yang dikelola oleh Pokja AMPL yaitu: a. Digital Library (http://www.digilib-ampl.net). Merupakan portal bahan pustaka yang berfungsi sebagai sumber data dan informasi yang handal bagi pemangku kepentingan AMPL. Tersedia beragam bentuk informasi mulai dari kliping, makalah, buku, disertasi, karya ilmiah dan lainnya yang terkemas secara elektronik. Kelebihan dari situs ini adalah bahwa informasi yang tersaji merupakan gabungan lebih dari 20 perpustakaan di Indonesia yang membentuk jejaring pustaka AMPL. b. Situs jejaring AMPL. Situs jejaring AMPL merupakan sebuah situs yang dibuat guna memfasilitasi sejumlah arus informasi yang diperuntukkan bagi sejumlah stakeholders atau pemangku kepentingan dalam bidang AMPL. Situs jejaring AMPL ini beralamat di http://www.jejaringampl.org c. Situs WES UNICEF. Situs Water Environment and Sanitation UNICEF merupakan situs yang dibuat atas prakarsa Pokja AMPL bekerjasama dengan WES-UNICEF untuk memberikan informasi secara luas kepada masyarakat mengenai program WES UNICEF yang mencakup 31 kabupaten/kota di Indonesia Timur. Situs ini beralamat di http://www. wes-riunicef.org d. Situs STBM. Salah satu program andalan pemerintah dalam rangka mencapai target MDGs dan RPJMN adalah Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Program ini bertujuan untuk meningkatkan kondisi sanitasi dengan menjadikan masyarakat sebagai subyek. Situs STBM dimaksudkan sebagai sumber informasi terkini tentang STBM. Alamat situs di http:// www.stbm-indonesia.org e. Situs AMPL Yunior. Disadari sepenuhnya bahwa pembangunan AMPL tidak hanya menyangkut aspek fisik tetapi juga aspek perubahan perilaku. Perubahan perilaku itu sendiri sebaiknya dimulai sejak dini. Situs ini dimaksudkan sebagai sumber informasi bagi anak-anak maupun pemangku kepentingan yang berhubungan dengan program AMPL. http://yunior.ampl.or.id e. Situs Pokja AMPL daerah. Saat ini telah terbentuk sekitar hampir 200 Pokja AMPL kabupaten/ kota maupun propinsi. Pokja AMPL nasional memandang perlu untuk mewadahi data dan informasi terkait seluruh kegiatan Pokja AMPL daerah. Dengan demikian, terjadi proses pertukaran pengalaman diantara Pokja AMPL daerah maupun dengan pemangku kepentingan lainnya. http://daerah.ampl.or.id

17

Juni 2010
3. Kliping Bulanan. Kliping bulanan merupakan kumpulan berita maupun artikel yang berasal dari media cetak dan internet yang terkait dengan masalah AMPL. Pencarian materi kliping dilakukan setiap hari melalui beberapa situs surat kabar terkemuka, maupun dengan berlangganan informasi dari kantor berita nasional. Klipingnya sendiri ditaruh di milis AMPL setiap hari. 4. Paket Informasi dalam CD. Beberapa paket informasi dikemas dalam bentuk CD seperti Percik, data, regulasi, kliping, newsletter, panduan yang disampaikan secara regular. 5. News Letter. Newsletter diterbitkan dalam dua versi yaitu cetak (bulanan) dan on line (mingguan). Versi cetak berisikan seluruh kegiatan terkait AMPL baik yang dilakukan oleh Pokja AMPl maupun pemangku kepentingan lainnya. Sementara versi on line berisikan data dan informasi yang disajikan melalui situs-situs Pokja AMPL setiap minggu. News Letter ini dikirimkan melalui email kepada para anggota milis AMPL secara regular. Disamping dikemas dalam bentuk barang cetakan news letter AMPL juga di dikemas dalam bentuk elektronik yang terintegrasi dengan situs AMPL atau di http://www.ampl.or.id/newsletter+6. Katalog Pustaka AMPL. Pokja AMPL memiliki sejumlah koleksi pustaka baik dalam bentuk buku, artikel maupun makalah yang berkaitan dengan masalah AMPL. Melalui katalog pustaka ini tiap orang dapat memperoleh informasi mengenai buku-buku yang dibutuhkan secara lebih mudah. 7. Buku. Beberapa buku telah diterbitkan baik oleh Pokja AMPL sendiri maupun bekerjasama dengan pemangku kepentingan antara lain; Sampah Jadikan Kawan, Kumpulan Regulasi Terkait AMPL, Katalog Website, Pembelajaran Pembangunan AMPL di Indonesia, Buku Data Pembangunan AMPL Nasional, Saatnya Masyarakat Berkawan [eko]

2. Majalah. Pada saat ini Pokja AMPL telah menerbitkan dua majalah yaitu Percik dan Percik Yunior. - Majalah Percik merupakan majalah yang diterbitkan oleh Pokja AMPL setiap tiga bulan sekali secara teratur. Majalah yang telah hadir sejak tahun 2003 ini merupakan media yang sangat efektif yang dapat dipergunakan oleh Pokja AMPL dalam bertukar informasi, pengalaman antarpemangku kepenting n di bidang AMPL. a Majalah ini dicetak dalam dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, dengan oplah mencapai 7.500 eksemplar. Selain itu, juga diterbitkan edisi khusus dengan tema tertentu yang merupakan hasil kerjasama dengan pemangku kepenting n. Sampai saat ini telah a diterbitkan 3 edisi khusus, dan dalam waktu dekat akan terbit 4 edisi khusus lainnya. - Majalah Percik Yunior, merupakan hasil kerjasama dengan Plan International Indonesia dan diterbitkan 4 kali setahun. Sampai saat ini telah mencapai 15 edisi, dengan oplah 17.500 eksemplar.

18

Wawancara

Juni 2010

Budi Hidayat, Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas

Saya harap PIN dapat menjadi portal dan basis data informasi AMPL

ebagaimana diketahui bahwa pengembangan PIN AMPL diinisiasi oleh Pokja AMPL sejak beberapa tahun yang lalu. Terkait dengan itu, Percik berkesempatan mewawancarai Budi Hidayat dalam kapasitasnya sebagai Ketua Pokja AMPL berkenaan dengan keberadaan PIN AMPL. Pertanyaan: Apa yang bisa dimaknai dari Pembangunan AMPL dalam kurun waktu lima tahun ini? Jawaban: Pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan telah berlangsung cukup lama. Telah banyak pembelajaran dan pencapaian yang diraih, terutama dalam lima tahun terakhir. Namun demikian, disadari juga bahwa hasil pembangunan ini masih belum optimal dan perlu ditingkatkan. Salah satu kendala utama yang dihadapi dalam pembangunan AMPL selama ini adalah kurangnya ketersediaan data dan informasi terkait sektor air minum dan penyehatan lingkungan yang lengkap dan handal. Kita semua menyadari bahwa dalam pelaksanaan pembangunan, ketersediaan data dan informasi yang handal, akurat, lengkap serta gampang untuk diakses merupakan suatu hal yang mutlak diperlukan. Selain itu, terutama dalam ku-

run lima terakhir, banyak sekali pembelajaran maupun pencapaian pembangunan AMPL yang harusnya terdokumentasikan dan terinformasikan dengan baik kepada masyarakat dan pemangku kepentingan, sehingga isu AMPL dapat menjadi salah satu isu utama dalam konteks pembangunan nasional. Pertanyaan: Apa tantangan terbesar dalam pembangunan AMPL hingga saat ini? Jawaban: Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan AMPL di Indonesia terutama terkait sanitasi yaitu merubah pemahaman dan perilaku masyarakat tentang sanitasi. Penanganan sanitasi antara lain dengan melakukan edukasi dan sosialisasi kepada generasi muda. Kami akan terus melakukan edukasi dan sosialisasi sanitasi kepada anak-anak berumur 15 tahun ke bawah untuk merubah cara pikir dan perilakunya. Selain generasi muda, sasaran edukasi sanitasi lainnya ialah kaum perempuan terutama para ibu, hal tersebut terkait perilaku para ibu yang senang bercerita kepada keluarga, sehingga bila sang ibu telah mendapatkan pengetahuan yang baik tentang sanitasi maka akan ditularkan kepada anak dan suaminya. Pentingnya perubahan pemahaman dan perilaku masyarakat ini sangat penting. Dicontohkan program pemerintah Sanitasi oleh Masyarakat
DOK. POKJA AMPL

19

Juni 2010
(Sanimas) di pedesaan. Program tersebut dinilai berhasil mendapatkan masukan dari para pemangku kepentingan meningkatkan penggunaan sarana sanitasi dasar seperti tentang pengembangan PIN sebagai suatu knowledge jamban oleh masyarakat desa. Demikian juga dengan management dan resource center, khususnya dalam aspek program Strategi Sanitasi Kota (SSK) yang dikembangkan komunikasi, pendataan, teknologi informasi dan perpusdi 330 Kabupaten atau Kota. takaan. Dengan pendekatan yang intensif kepada masyarakat Pertanyaan: maka terbukti terjadi perubahan pemikiran dan tingkah Bagaimana peran pemerintah dalam PIN AMPL laku. Seperti kejadian satu desa dimana awalnya pengnantinya? gunaan jamban hanya 30 persen dengan edukasi secara Jawaban: menerus jumlah tersebut menjadi 100 persen dalam kuTentu saja pemerintah hanya memberi ruang dan juga run waktu 29 90 hari. akan terus berupaya menjadi katalisator serta berposisi Pertanyaan: mendorong masyarakat dan pemangku kepentingan agar Terkait dengan rencana pembentukan program pembangunan AMPL menjadi lebih baik. PIN AMPL, apa yang menjadi dasar ? Karena itu, untuk mewujudkan PIN AMPL ini perlu Jawaban: pendiseminasian informasi secara masBerangkat dari kebutuhan akan tersesif dan berkelanjutan dalam rangka Mewujudkan PIN dianya data dan informasi yang dapat dipengarusutamaan pembangunan AMPL ini perlu diseminasikan dengan baik tersebut, Pokja AMPL. Dengan visi yang jelas yaitu pendiseminasian menjadikan PIN AMPL sebagai sumAMPL Nasional tengah mengembangkan informasi secara sebuah Pusat Informasi berskala nasional di ber referensi yang akurat, lengkap, massif dan bidang AMPL. Pusat Informasi Nasional terkini dan terpercaya bagi khalayak berkelanjutan. (PIN) AMPL ini nantinya saya harapkan luas dalam mencari berbagai macam merupakan suatu resource center yang meinformasi mengenai sektor AMPL. Visi ngumpulkan, mengelola, dan mendiseminasikan data dan ini diharapkan menjadi komitmen bersama informasi yang terkait dengan Air Minum dan Penyehatan seluruh pemangku kepentingan AMPL Lingkungan di Indonesia. Diharapkan keberadaan PIN agar tujuan pengarusutamaan pembangunAMPL ini akan membantu para pemangku kepentingan an AMPL tercapai. dalam mendapatkan data dan informasi terkait. Sedangkan misi dibentuknya PIN AMPL adalah Satu hal yang harus ditegaskan, keberadaan PIN tidak melakukan pengumpulan dan pengelolaan bahan pustaka, akan berarti tanpa adanya dukungan dari para pemangku melakukan pengumpulan, pengelolaan dan penyajian data kepentingan. Hampir tidak mungkin bila PIN AMPL AMPL, melakukan pendiseminasian informasi melalui sendirian melakukan pengumpulan dan pengelolaan data kegiatan-kegiatan komunikasi maupun dengan menggunadan informasi yang sedemikian banyak dan masif. Unkan media komunikasi dalam bented maupun digital. tuk itulah, guna mewujudkan PIN AMPL sebagai pusat Sedangkan tujuannya adalah terbangunnya sistem informasi berskala nasional di bidang AMPL, dukungan informasi yang dapat diolah lebih lanjut untuk menjadi para pemangku kepentingan sangat diharapkan. Koordipembelajaran dan pengetahuan (knowledge management) nasi dan kerjasama antara pusat data, informasi, dan kosehingga pengarusutamaan pembangunan AMPL tercamunikasi dari berbagai lembaga terkait sangat diperlukan pai. Selain itu, dengan PIN AMPL ini akan semakin teruntuk mencapai tujuan bersama yaitu menyediakan data jawabnya kebutuhan para pemangku kepentingan, para dan informasi AMPL yang lengkap, handal, serta mudah ahli, aktivis, akademisi, pelaku bisnis dan industri atau diakses oleh semua pihak. swasta serta masyarakat luas tentang apa dan bagaimana Pertanyaan: mengelola AMPL yang tepat. Bagaimana keterlibatan para pemangku kepentingan Peran dan fungsi PIN nantinya antara lain melakukan lain di PIN AMPL nantinya? pengumpulan dan pengelolaan data dan informasi yang Jawaban: terkait dengan AMPL, menyediakan kebutuhan data dan Saya harapkan setelah lokakarya yang lalu terbeninformasi yang terkait dengan AMPL, menyebarluaskan tuk konsep PIN AMPL yang telah disepakati oleh para informasi, temuan dan pesan penting yang terkait dengan pemangku kepentingan AMPL dan kaAMPL melalui kegiatan komunikasi, advokasi dan relasi langan luas, sekaligus untuk media massa lebih intensif.

20

Regulasi
UU Keterbukaan Informasi Publik

Juni 2010

Jadi Harapan Terwujudnya

Pemerintahan Transparan dan Akuntabel

EGERI ini baru saja memiliki UU yang menjamin hak atas informasi. Artinya, harapan akan terwujudnya pemerintahan yang transparan dan akuntabel sudah terlembagakan. Masyarakat sudah memiliki jaminan hukum yang mengatur haknya untuk mengakses informasi dari badan publik. Mereka dapat meminta informasi yang dibutuhkan dalam rangka ikut mengawasi jalannya pemerintahan. Pengesahan UU KIP ini pada tanggal 30 April 2008 juga menjadi akhir dari proses panjang pembahasannya. UU ini memerlukan waktu tujuh tahun artinya, baru disahkan setelah DPR dua periode, 1999-2004 dan 2004-2009 untuk menyelesaikannya. UU ini sendiri terdiri dari 14 bab dan 64 pasal, dan baru dinyatakan efektif dua tahun setelah disahkan, yaitu per 1 Mei 2010. RUU KIP menjadi usul inisiatif DPR untuk kali pertama pada 2001. Meskipun ada kekurangan, keberadaan UU KIP tentu menggembirakan. UU KIP memberikan garansi bahwa rakyat sebagai pembayar pajak mendapatkan haknya untuk mendapatkan informasi dari lembaga yang dibiayai dari pajak. UU KIP sebagai salah satu wujud konkrit dari proses demokratisasi di Indonesia. Keberadaan UU ini juga patut di-

syukuri karena belum banyak negara di dunia yang mempunyai UU sejenis ini. Walaupun era keterbukaan informasi telah mulai menjadi arus utama di seluruh dunia namun baru sekitar 50 negara yang mempunyai UU sejenis ini. Di Asia baru Jepang, Korea Selatan, Pakistan, Pilipina, India dan Thailand yang memilikinya.

nya pemerintahan yang baik dan tata kelola badan publik, serta akselerasi demokratisasi. Kebijakan Dasar Merujuk pada pasal 28F UUD 1945 bahwa setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.

Arah Setidaknya terdapat tiga hal yang ingin dicapai yaitu pengelolaan informasi yang berkualitas, pelayanan inforDOK. POKJA AMPL masi secara mudah, cepat dan biaya ringan; kinerja badan Transparansi atas setiap informasi publik yang transparan, efektif, efisien publik membuat masyarakat dapat ikut dan akuntabel. berpartisipasi aktif dalam mengendalikan setiap langkah dan kebijakan yang Asas dan Tujuan diambil pemerintah sehingga penyeSetiap informasi publik bersifat lenggaraan kekuasaan dalam negara terbuka dan dapat diakses; harus dademokrasi dapat dipertanggungjawab- pat diperoleh setiap pemohon dengan kan kembali kepada rakyat. cepat, tepat waktu, biaya ringan dan Dampak positif UU KIP adalah cara sederhana. Walaupun demikian transparansi dan akuntabilitas ba- informasi publik dapat dikecualikan dan publik meningkat, akselerasi sehingga bersifat rahasia. pemberantasan KKN, optimalisasi perlindungan hak-hak masyarakat terhadap pelayanan publik, tercipta-

21

Juni 2010
Sekilas Isi Undang-Undang Informasi publik adalah informasi yang dihasilkan, disimpan, dikelola dan/atau dikirim/diterima oleh suatu badan publik yang berkaitan dengan penyelenggara dan penyelenggaraan negara dan/atau penyelenggara dan penyelenggaraan badan publik lainnya yang sesuai dengan undang-undang ini serta informasi lain yang berkaitan dengan kepentingan publik. Keterbukaan informasi publik merupakan sarana dalam mengoptimalkan pengawasan publik terhadap penyelenggaraan negara dan badan publik lainnya dan segala sesuatu yang berakibat pada kepentingan publik. Setiap informasi publik bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap Pengguna Informasi Publik. Oleh karena itu, tujuan undang-undang ini diantaranya untuk menjamin hak warga negara untuk mengetahui rencana pembuatan kebijakan publik, program kebijakan publik, dan proses pengambilan keputusan publik, serta alasan pengambilan suatu keputusan publik; mendorong partisipasi masyarakat; mewujudkan penyelenggaraan negara yang baik; meningkatkan pengelolaan dan pelayanan informasi di lingkungan badan publik. Hak dan Kewajiban Hak pemohon adalah memperoleh informasi, melihat dan mengetahui informasi publik, menghadiri pertemuan publik, mendapatkan salinan informasi, menyebarluaskan informasi, mengajukan permintaan disertai alasan, dan mengajukan gugatan. Hak badan publik berupa menolak member informasi yang bersifat rahasia, atau tidak sesuai per uu an. Walaupun demikian setiap penolakan harus dengan alasan jelas. Kewajiban badan publik adalah (i) menyediakan, memberikan dan/ atau menerbitkan informasi publik, yang akurat, benar dan tidak menyesatkan. Selain itu, membangun dan mengembangkan sistem informasi dan dokumentasi secara baik, efisien dan dapat diakses dengan mudah. Klasifikasi Informasi Mempertimbangkan banyaknya informasi maka dilakukan pengklasifikasian jenis informasi yaitu (i) informasi yang wajib disediakan dan diumumkan berkala; (ii) informasi yang wajib diumumkan serta merta; (iii) informasi yang wajib tersedia setiap saat; (iv) informasi yang dikecualikan; (v) informasi yang diperoleh berdasar permintaan. Komisi Informasi Dalam peraturan ini juga disebutkan mengenai Komisi Informasi, yaitu lembaga mandiri yang berfungsi menjalankan Undang-Undang ini dan peraturan pelaksanaannya dengan menetapkan petunjuk teknis standar layanan informasi publik dan menyelesaikan sengketa informasi publik melalui media dan/atau ajudikasi non-litigasi. Keberatan Setiap pemohon informasi publik dapat mengajukan keberatan secara tertulis kepada atasan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi. Untuk penyelesaian sengketa melalui mediasi, hal ini merupakan pilihan para pihak dan bersifat sukarela. Dalam hal pengajuan gugatan dapat dilakukan melalui pengadilan tata usaha negara apabila yang digugat adalah Badan Publik Negara. Pihak yang tidak menerima putusan PTUN atau Pengadilan Negeri (PN) dapat mengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung paling lambat 14 hari sejak diterimanya putusan PTUN atau PN. Ketentuan Pidana UU ini juga mengatur ketentuan pidana jika seseorang sengaja menggunakan informasi publik secara melawan hukum, badan publik yang dengan sengaja tidak menyediakan, tidak memberikan, dan/atau tidak menerbitkan informasi publik, termasuk orang yang menghancurkan, merusak dan/atau menghilangkan dokumen informasi publik dengan sengaja Kritik Keberadaan UU ini juga tidak terlepas dari beberapa kritik terhadap beberapa pasal diantaranya pertama pemohon informasi hanyalah warga negara atau badan hukum Indonesia. Ketentuan ini berpotensi menimbulkan diskriminasi informasi. Selain bertentangan dengan standar internasional yang menyatakan hak mengakses informasi adalah hak semua orang, hal ini juga membuat Indonesia menutup diri dari arus informasi global. Kedua, ketentuan keharusan pemohon informasi mencantumkan alasan saat meminta informasi. Hal ini tidak menjadi masalah jika untuk kepentingan tertib administrasi belaka. Tapi, menjadi persoalan jika keharusan mencantumkan alasan menjadi dalih pejabat dokumentasi dan informasi untuk menolak permintaan informasi dari masyarakat. Ketiga, penetapan pasal pengecualian. UU KIP sudah menetapkan serangkaian kategori informasi yang dikecualikan. Sementara kewenangan penetapannya ada pada pejabat dokumentasi dan informasi melalui pengujian yang mempertimbangkan baik buruknya bagi kepentingan publik. Jika penetapan sebuah informasi masuk kategori dikecualikan tidak berhati-hati, undang-undang ini justru akan membelenggu hak masyarakat mengetahui informasi publik. Kita memang masih dapat mengajukan keberatan penetapan informasi yang masuk kategori dikecualikan melalui komisi informasi atau pengadilan negeri [Dewi/Eko/OM]

22

Agenda
Hari Kesehatan Nasional

Juni 2010

Lingkungan dan Sanitasi Sehat,

Rakyat Sehat!
M
enteri Kesehatan RI dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DR. PH. mengajak seluruh jajaran kesehatan, masyarakat, sektor usaha dan komponen bangsa untuk saling bersinergi dalam meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan. Hal ini disampaikan Menkes dalam pidatonya di hadapan seluruh jajaran Departemen Kesehat-

an pada apel Peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-45, yang diperingati pada setiap tanggal 12 Nopember, dan pada tahun ini mengusung tema Lingkungan dan Sanitasi Sehat Rakyat Sehat. Menurut Menkes, kesehatan lingkungan yang ditandai dengan ketersediaan dan akses air bersih, akses sanitasi, pengendalian polusi udara

dan perilaku hidup bersih dan sehat, masih menjadi tantangan yang cukup besar di bidang kesehatan. Padahal kesehatan lingkungan berkaitan erat dengan kesehatan ibu dan anak, status gizi masyarakat serta pencegahan penyakit menular, yang merupakan penentu status kesehatan masyarakat dan berdampak pada kualitas bangsa. Mengutip hasil Riset Kesehatan
ISTIMEWA

23

Juni 2010
Dasar 2008 yang diLingkungan sehat sektor swasta dan dunia lakukan Kantor Kemerupakan cermin usaha, serta berbagai menterian Kesehatan perilaku sehat, komponen bangsa. (Kemenkes), Menkes yang menunjukkan mengatakan bahwa Perilaku Sehat kemandirian 24,8% rumah tangga Bagi masyarakat masyarakat. masih tidak mengguluas, Menkes menakan fasilitas buang nyerukan pentingnya air besar, dan 32,5% tidak memiliki perilaku sehat. Mensaluran pembuangan air limbah. kes menyampaikan Dalam momentum peringatan bahwa lingkungan seHari Kesehatan Nasional ke-45, kita hat merupakan cermin perilaku seharus berupaya secara terus-menerus hat, yang menunjukkan kemandirian untuk melakukan peningkatan dan masyarakat dalam memelihara dan perbaikan dalam meningkatkan ling- meningkatkan kualitas kesehatannya, kungan sehat. Salah satu indikator yang dengan dukungan pelayanan kekinerja Kementerian Kesehatan pada sehatan yang bermutu dapat meningtahun 2014 bidang kesehatan ling- katkan derajat kesehatan masyarakat kungan yaitu tercapainya program Indonesia yang optimal. air bersih yang menjangkau 67% Bagi jajaran kesehatan, Menkes penduduk dan peningkatan sanitasi menghimbau agar memiliki prinsipdasar berkualitas baik untuk 75% prinsip pemberdayaan masyarakat. Kita penduduk. Dengan demikian, penya- perlu mengembangkan paradigma baru kit-penyakit yang dapat ditimbulkan di jajaran kesehatan, jika masyarakat karena lingkungan yang tidak sehat sebelumnya ditempatkan sebagai obyek seperti diare, ISPA, TBC, malaria, pelayanan kesehatan, saat ini mereka frambusia, demam berdarah dan flu harus didorong dan diberdayakan unburung diharapkan akan menurun. kata Menkes. Menkes menambahkan, upaya peningkatan kualitas dan kesehatan lingkungan mencakup penyediaan keetiap tahun pada tanggal 11 April butuhan akan ketersediaan air minum dilangsungkan dan sanitasi; peningkatan perilaku higienis; pengembangan kabupaten/ perayaan hari Kesehatan Dunia, yang sekaligus kota sehat; pengendalian bahan bermerupayakan tanggal bahaya dan logam berat; penanganan limbah rumah tangga, industri dan terbentuknya World Health Organization institusi pelayanan kesehatan, seper(WHO). DI Indonesia, ti Rumah Sakit dan Puskesmas serta puncak peringatan Hari penanganan kedaruratan lingkungan dalam situasi bencana. Upaya-upaya Kesehatan Sedunia (HKS) ke-62 tahun 2010 dipusatkan di Pasar tersebut dan upaya membuat rakyat Modern Bumi Serpong Damai sehat, lanjut Menkes, tidak mungkin dilaksanakan oleh bidang kesehatan (BSD) Kota Tangerang Selatan. Tahun ini Peringatan Hari secara sendirian dan untuk itu meKesehatan Sedunia mengambil merlukan dukungan dan sinergi dari masyarakat, jajaran ketema Kota Sehat, Warga Sehat hal ini sesuai dengan tema global sehatan, tuk mampu sebagai subyek dan mampu secara mandiri dalam menjamin terpenuhinya kebutuhan kesehatan yang berkesinambungan. Jajaran kesehatan juga diharapkan dapat mengembangkan berbagai prakarsa dalam membangun lingkungan sehat dengan melibatkan masyarakat seperti kegiatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat dan pengembangan wilayah/kawasan sehat. Bagi masyarakat, sektor swasta dan dunia usaha, Menkes menekankan perlunya kemitraan dalam mencegah dan menyelesaikan masalah kesehatan disamping keterlibatan penyedia layanan kesehatan dan lintas sektor. Berbagai komponen bangsa diharapkan dapat membentuk aliansi-aliansi gerakan masyarakat sehat untuk berperan aktif dalam mencegah dan mengatasi berbagai masalah kesehatan, dan siap menjadi barisan terdepan sebagai modal kekuatan bangsa untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat serta menjadikan kualitas bangsa yang bermartabat [Eko/Humas Kepmenkes]

Hari Kesehatan se Dunia ke 62

yang ditetapkan oleh WHO Urbanisasi dan Kesehatan. Penetapan tema nasional ini untuk mengingatkan semua pihak bahwa dampak urbanisasi terhadap kesehatan sangat bermakna apabila tidak dikelola secara baik serta akan mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Dalam sambutannya, Menteri Kesehatan, dr.Endang Rahayu Sedyaningsih,MPH,Dr.PH menyatakan bahwa masalah kesehatan yang terjadi di perkotaan lebih kompleks dan beragam.Masalah kesehatan

ISTIMEWA

24

Juni 2010
yang seringkali terjadi di masyarakat meliputi berbagai penyakit infeksi dan menular, kurang gizi dan penyakit yang terkait dengan lingkungan buruk. Hal tersebut diperparah dengan buruknya sanitasi dan kebersihan serta kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap kesehatan. Selain itu, masalah kesehatan yang sering terjadi di masyarakat seperti timbulnya berbagai macam penyakit degenarif, penyakit/kelainan mental, penyalahgunaan obat/NAPZA dan minuman keras, penyakit karena kekerasan dan kecelakaan, permukiman kumuh, pencemaran udara, air dan tanah serta perilaku menyimpang. Lebih lanjut Menkes mengatakan bahwa munculnya berbagai masalah kesehatan di perkotaan merupakan akibat dari berbagai faktor seperti tingginya jumlah penduduk yang kurang memiliki akses kesehatan, pengangguran, serta perubahan lingkungan karena tidak dapat menampung akibat arus urbanisasi tersebut. Untuk merespon dampak urbanisasi ini, pemerintah berupaya mengembangkan kota yang berwawasan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat termasuk swasta dan masyarakat madani. Peringatan Hari Kesehatan Sedunia ke-62 tahun ini mempunyai slogan 1000 Kota, 1000 Kehidupan yang mengandung makna ajakan dan motivasi kepada pimpinan dan para penentu kebijakan agar dapat merumuskan dan menerapkan kebijakan publik berwawasan kesehatan. (www.pusat-intelegensia.com)

Penetapan Hari Kesehatan Nasional


kinan serangan malaria. Usaha itu juga dilanjutkan dengan surveilans yang berhasil menurunkan parasite index dengan cepat, yaitu dari 15 % menjadi hanya 2%. Pada saat itulah, tepatnya pada tanggal 12 November 1964, peristiwa penyemprotan nyamuk malaria secara simbolis dilakukan oleh Bung Karno selaku Presiden RI di desa Kalasan, sekitar 10 km di sebelah timur kota Yogyakarta. Meskipun peristiwanya sendiri merupakan upacara simbolis penyemprotan nyamuk, tetapi kegiatan tersebut harus dibarengi dengan kegiatan pendidikan atau penyuluhan kepada masyarakat. Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai Hari Kesehatan Nasional (HKN), yang setiap tahun terus menerus diperingati sampai sekarang. Sejak itu, HKN dijadikan momentum untuk melakukan pendidikan/penyuluhan kesehatan kepada masyarakat. www.promosikesehatan. com

ada sekitar tahun 1960-an malaria merupakan salah satu penyakit rakyat yang berkembang dengan subur. Ratusan ribu jiwa mati akibat malaria. Berdasarkan penyelidikan dan pengalaman, sebenarnya penyakit malaria di Indonesia dapat dilenyapkan. Untuk itu cara kerja harus dirubah dan diperbarui. Maka pada September 1959 dibentuk Dinas Pembasmian Malaria (DPM) yang kemudian pada Januari 1963 dirubah menjadi Komando Operasi Pembasmian Malaria (KOPEM). Pembasmian malaria tersebut ditangani secara serius oleh pemerintah dengan dibantu oleh USAID dan WHO. Direncanakan bahwa pada tahun 1970 malaria hilang dari bumi Indonesia. Pada akhir tahun 1963, dalam rangka pembasmian malaria dengan racun serangga DDT, telah dijalankan penyemprotan rumah-rumah di seluruh Jawa, Bali dan Lampung, sehingga sekitar 64,5 juta penduduk telah mendapat perlindungan dari kemung-

ISTIMEWA

25

Juni 2010

ISTIMEWA

ari Bumi yang diperingati setiap tanggal 22 April, menandai hari lahirnya sebuah perubahan pergerakan kepedulian terhadap lingkungan tahun 1970-an. Hari Bumi lahir diprakarsai oleh seorang senator Amerika Serikat, Gaylord Nelson. Saat itu ia melakukan protes secara nasional terhadap kalangan politik terkait permasalahan lingkungan. Ia mendesak agar isu-isu tersebut dimasukkan dalam agenda nasional. Bumi sekarang ini telah berubah dengan cepat. Manusialah yang memicu perubahan ini dengan terus memproduksi Gas Rumah Kaca (GRK) dalam aktifitas kesehariannya seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitro oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC), perfluorokarbon (PFC), sampai sulfur heksafluorida (SF6). GRK menyebabkan radiasi sinar matahari yang dipantulkan kembali oleh bumi ke luar angkasa ter-

hambat karena dipantulkan kembali oleh GRK, akibatnya terjadi akumulasi panas di atmosfer bumi, inilah yang di sebut dengan efek Rumah Kaca. Disebut demikian karena peristiwanya serupa dengan yang terjadi dalam sebuah rumah kaca (green house) yang biasa digunakan pada kegiatan pertanian untuk menjaga suhu agar tanaman di dalamnya tetap hangat. Meningkatnya konsentrasi GRK menyebabkan peningkatan pada radiasi matahari yang terperangkap dalam atmosfer bumi, akibatnya suhu ratarata di seluruh permukaan bumi akan

meningkat. Fenomena peningkatan suhu permukaan bumi ini disebut Pemanasan Global (Global Warming). Meningkatnya suhu permukaan bumi akibat pemanasan global menyebabkan terjadinya perubahan unsur-unsur iklim, seperti naiknya suhu air laut, naiknya penguapan di udara, perubahan pada pola hujan dan tekanan udara, sehingga pada akhirnya merubah pola iklim dunia, fenomena ini dikenal sebagai perubahan iklim Perjuangan Gaylord Nelson dimulai sekitar lebih dari 7 tahun sebelum Hari Bumi pertama. Pada awalnya Gaylord berharap pemikirannya tercapai melalui kunjungan yang dilakukan Presiden Kennedy ke-11 negara bagian pada September 1963, namun dengan beberapa alasan kunjungan tersebut tidak mampu membawa isu lingkungan ke dalam agenda nasional. Upaya terus dilakukan Gaylord untuk merealisasikan idenya. Setelah tur Kennedy, Gaylord melakukan kampanyenya sendiri ke beberapa negara bagian. Di seluruh pelosok negara,

26

Juni 2010
bukti penurunan kualitas lingkungan terjadi di mana-mana. Semua orang menyadarinya, kecuali kalangan politik. Akhirnya pada musim panas 1969 Gaylord mengetahui bahwa aksi demonstrasi anti-perang Vietnam telah menyebar secara luas melalui perguruan tinggi di seluruh negeri. Dari sana ia mendapat ide untuk melakukan hal yang sama dalam kempanye lingkungannya. Ia memilih kalangan bawah dalam melakukan aksi protes terhadap kerusakan lingkungan. Pada tang yang dikoordinasi oleh Senator Gaylord Nelson. Hal ini menjadi bukti keberhasilan perjuangan Gaylord Nelson dalam mengedepankan isu lingkungan sebagai agenda nasional. Pada tanggal 22 April 1970, akhirnya sekitar 20 juta warga Amerika turun ke jalanan serta memenuhi sejumlah taman dan auditorium untuk mengkampanyekan kesehatan dan keberlangsungan lingkungan. Ribuan mahasiswa berkumpul menentang kerusakan lingkungan. Kelompokkelompok yang sudah sejak lama dan juga sebagai langkah awal menuju lingkungan dengan udara dan air yang bersih, serta perlindungan terhadap mahkluk hidup. Pada tahun 1990, peringatan Hari Bumi mulai berkembang secara global. Sekitar 200 juta orang dari 141 negara di dunia tergerak untuk mengangkat isu lingkungan dalam skala global. Hari Bumi 1990 pun menjadi titik tolak terlaksananya KTT Bumi 1992 di Rio de Janeiro. Tahun 2000 Hari Bumi mendapat bantuan dengan adanya internet untuk menghubungkan para aktivis di seluruh dunia. Pada tanggal 22 April sekitar 5.000 kelompok pemerhati lingkungan di seluruh dunia merangkul ratusan juta penduduk di 184 negara yang menjadi rekor baru untuk Hari Bumi. Berbagai kegiatan diselenggarakan secara bervariasi mulai dari rantaian suara genderang dari desa ke desa di Gabon, Afrika hingga ratusan ribu warga yang berkumpul di National Mall, Washington D.C., Amerika Serikat. Hari Bumi 2000 secara keras dan jelas menyerukan pesan bahwa penduduk dunia menginginkan tindakan yang cepat dan tegas untuk penggunaan energi yang bersih dan ramah lingkungan. Dalam rangka memperingati Hari Bumi, tidak ada salahnya kalau manusia yang ada di bumi ini harus santun terhadap alam, bisa juga kelangsungan hidup umat manusia tergantung pada kesantunan kita pada alam, kita harus bisa membaca dan memahami isyaratnya. Pemanasan global dan kelangkaan pangan adalah salah satu isyarat bagi manusia agar kita santun terhadap alam, merawat bumi dengan cara memberi nutrisi pada bumi merupakan salah satu contohnya.

ISTIMEWA

sebuah konferensi di Seattle September 1969, Gaylord mengumumkan akan mengadakan demonstrasi secara nasional pada musim semi 1970 atas nama lingkungan dan setiap orang diundang untuk berpartisipasi. Setelah itu, berbagai surat, telegram, dan telepon mengalir dari seluruh negeri. Warga Amerika akhirnya menemukan sebuah forum untuk mengungkapkan kepeduliannya atas penurunan kualitas tanah, sungai, danau, dan udara di lingkungan mereka. Pada 30 November 1969 New York Times melaporkan terjadinya peningkatan aktivitas kepedulian terhadap lingkungan di seluruh negeri terutama di kampuskampus dan suatu hari untuk peringatan permasalahan lingkungan tengah dirancang untuk musim semi menda-

menentang adanya tumpahan minyak di lingkungan, pabrik-pabrik dan pembangkit listrik penyebab polusi, buruknya saluran pembuangan, pembuangan bahan-bahan berbahaya, pestisida, jalan raya, hilangnya hutan belantara, serta semakin punahnya kehidupan liar menyadari adanya kebersamaan atas perjuangan mereka dari masyarakat. Hari Bumi pada tahun 1970 telah menghasilkan persatuan kalangan politik yang sebenarnya jarang terjadi, yang berasal dari kaum republik maupun demokrat, dan berbagai pencampuran kalangan lainnya. Hari Bumi pertama menjadi awal terbentuknya United States Environmental Protec tion Agency/US EPA (sebuah badan perlindungan lingkungan Amerika)

27

Juni 2010

Peringatan Hari Air 2010

Clean Water for a Healthy World


(Air Bersih untuk Dunia yang Sehat)

ISTIMEWA

ari Air Sedunia diperingati setiap tanggal 22 Maret. Tahun 2010 ini tema besar peringatan bertajuk Clean Water for a Healthy World (Air Bersih untuk Dunia yang Sehat). Peringatan ini merupakan wahana memperbarui tekad kita untuk melaksanakan Agenda 21 yang dicetuskan pada tahun 1992 dalam United Nations Con ference on Environment and Development (UNCED) yang diselenggarakan di Rio de Janeiro, atau secara populer disebut sebagai Earth Summit. Hari Air Dunia mulai diperingati sejak tahun 1993 oleh negara-negara anggota PBB. Setiap tahunnya, pada Hari Air Sedunia terdapat tema khusus agar menjadi perhatian bagi warga dunia tentang betapa pentingnya air sebagai sumber kehidupan.

Tema Hari Air Dunia

Tema Hari Air Dunia (World Water Day WWD), setiap tahun ditetapkan oleh PBB berganti-ganti, sesuai dengan isu sumber daya air yang dianggap penting pada saat itu dan perlu mendapatkan perhatian dunia. 1994: Caring for Our Water Resources is Everyones Business (Peduli akan Sumberdaya Air adalah Urusan Setiap Orang); 1995: Water and Woman (Wanita dan Air); 1996: Water for Thirsty City (Air untuk Kota-kota yang Kehausan); 1997: The Worlds Water: is There Enough? (Air Dunia: Cukupkah ?); 1998: Groundwater the Invisible Resource (Air Tanah Sumber Daya yang Tak Terlihat); 1999: Everyone Lives Downstream (Setiap Orang Tinggal di Bagian Hilir); 2000: Water for 21st Century (Air untuk Abad 21); 2001: Water for Health (Air untuk Kesehatan); 2002: Water for Development (Air untuk Pembangunan); 2003: Water for Future (Air untuk Masa Depan); 2004: Water and Disasters (Air dan Bencana); PBB dalam Sidang Umum ke-58 bulan Desember 2003 menetapkan, International Decade for Action; Water for Life 2005 2015. Tema-tema HAD dalam satu dasawarsa tersebut mendukung Water for Life. 2005: Water for Life (Air untuk Kehidupan); 2006: Water and Culture (Air dan Budaya); 2007: Coping with Water Scarcity (Mengatasi Kelangkaan Air). 2008: Sanitation (Sanitasi) untuk mendukung International Year of sanitation 2009 : Transboundary Water Management (Pengelolaan Air Terpadu) 2010: Clean Water for a Healthy World (Air Bersih untuk Dunia yang Sehat)

28

Juni 2010

Refleksi Hari Air Sedunia

iap tanggal 22 Maret warga dunia memperingati dimasak sampai matang. Tetapi setelah Bendungan SaguHari Air Sedunia. Hari Air Sedunia merupakan ling, bendungan pertama dari dari tiga bendungan yang peringatan yang ditujukan sebagai usaha-usaha dibangun sepanjang sungai ini, orang sudah bisa melihat menarik perhatian publik akan pentingnya air bersih dan bahwa semua sampah dari Bandung mengalir di sungai usaha penyadaran untuk pengelolaan sumber-sumber air ini. Dari baunya saja sudah ketahuan. bersih yang berkelanjutan. Pasalnya kelangkaan air seDengan berkembangnya pusat industri tekstil di Banmakin menjadi kecemasan dunia. Meskidung, limbah dari kota, kawasan induspun bumi 75% terdiri dari air, tapi hatri serta pertanian dialirkan begitu saja nya kurang dari 2,5 % yang benar meruke sungai. Padahal sungai Citarum pakan air yang siap digunakan. Krisis air memasok 80% air minum di ibukota bersih sudah melanda diberbagai belahJakarta. Sudah bertahun-tahun lamanya an dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Citarum ditetapkan sebagai sungai terBanyak daerah-daerah di Indonesia yang polusi di dunia, yang hampir seluruh mengalami krisis air bersih yang parah permukaannya tertutupi sampah. Sekilas tampak cadangan air kita Saat ini pemerintah Indonesia besangatlah tidak terhingga: mulai dari kerja sama dengan Bank Pembangunan air di lautan, sungai, danau dan sumAsia ADB telah memulai sebuah proyek Peringatan Hari Air ber-sumber air lainnya menutupi sepembersihan sungai Citarum. Biayanya Dunia dari tahun ke bagian besar muka bumi ini. Cadangan diperkirakan mencapai 500 juta dolar tahun masih sangat air yang ada di planet ini sejak jutaan kental dengan bobot AS. tahun lamanya, semakin lama semakin Sampah pembuangan, limbah dan seremonial. Hari ini cepat habis atau sudah begitu tercemar, fasilitas-fasilitas industri menghasilkan kita memperingati, sehingga tidak layak lagi untuk digunabahan-bahan berbahaya yang menyelihari esok kita kan. Ini tak lain diantaranya merupanap dalam daur kehidupan. Lebih dari melupakannya. kan dampak dari industrialisasi dengan satu milyar orang tidak memiliki akses pembuangan limbah dan wilayahuntuk air bersih untuk minum, hampir wilayah tinggal yang padat. 2,5 milyar orang tidak memiliki sistem Dampak dari industrialisasi dengan pembuangan lim- sanitasi yang layak. Di seluruh dunia lebih dari 5.000 bah dan wilayah-wilayah tinggal yang padat di sekeliling- anak-anak setiap harinya meninggal dunia akibat kotornya nya adalah pencemaran air. Sebuah pengalaman pahit yang lingkungan dan pencemaran air. sejak sepuluh tahun lamanya membuat geram mantan Produksi industri seharusnya tidak hanya memikirkan Menteri Pertambangan dan Energi Kuntoro Mangkusu- penjualan hasil produksinya belaka, melainkan juga wajib broto. Kepada media asing, ia mengomentari keadaan memperhatikan lingkungan hidup. sungai Citarum, yang terletak di Jawa Barat: Kita tidak perlu melihat airnya, cukup dengan menSeremonial cium baunya saja kita sudah tahu bahwa sungai ini sudah Peringatan Hari Air Dunia dari tahun ke tahun masih sangat terkontaminasi. Airnya hitam. Di dalamnya ada sangat kental dengan bobot seremonial. Hari ini kita banyak segala macam sampah, plastik, kaleng. Sungai ini memperingati, hari esok kita melupakannya. Hal ini tersudah seperti tempat sampah. Tidak perlu jadi orang pin- lihat dari tema-tema yang dipilih setiap tahunnya, sangat tar untuk mengetahui bahwa kwalitas air sungai Citarum bombastis, tetapi dari tahun ke tahun faktanya air semakin sangat buruk! sulit diperoleh dan kualitasnya pun buruk. Kuntoro Mangkusubroto yang mendirikan sebuah orHari Air Dunia adalah saat yang baik untuk tidak sekaganisasi untuk mengusahakan penyelamatan Sungai Cita- dar berseremonial, tetapi bertindak dengan langkah rum ini menambahkan: Di Ciparay, sebuah kota kecil di strategis agar kita mampu menyelamatkan diri dari daerah Bandung yang dekat dengan sumber airnya, orang krisis air. masih dapat meminum air dari sungai Citarum setelah

29

Juni 2010 Wacana

Untuk Memantau Tingkat Keberlanjutan Pembangunan AMPL

Visualisasi Hasil Akhir Penilaian Partisipasif


Alma Arief dan Heri Widjanarko

erinspirasi Analisis Kemiskinan Partisipatoris yang di bagian akhirnya selalu menghasilkan sebuah gambar ringkas mengenai aset masyarakat di masing-masing desa menggambarkan kondisi terkini akses masyarakat miskin terhadap sumberdaya yang adasaya menjadi berpikir bahwa Analisis Partisipatoris di bidang air minum dan penyehatan lingkungan dengan menggunakan perangkat MPA (Method for Participatory Assess ment) harus bisa menghasilkan hal yang serupa. Tentunya bila analisis dilakukan secara benar, sehingga Informasi yang dikumpulkan memadai, sehingga bisa bermanfaat dalam arti bisa digunakan untuk memantau tingkat keberlanjanjutan sarana AMPL sepanjang masa, dan mengambil keputusan melakukan intervensi cepat (darurat) bila ada berbagai masalah serius. Informasi MPA sangat lengkap Bila MPA dilakukan seluruhnya dan dilakukan oleh orang yang mampu menggunakannya, informasi yang dikumpulkan sangat kaya dan memiliki tingkat ketepatan yang tinggi. Perangkat MPA ada beberapa komponen, antara lain : pedoman untuk diskusi terfokus bersama anggota masyarakat, pedoman wawancara mendalam untuk pengelola sarana,

perangkat untuk melakukan pengamatan dan wawancara dengan masyarakat, melakukan penilaian kualitas sarana, dan mengamati kualitas lingkungan di sekitar bak penangkap air. (Untuk lebih rinci mengenai perangkat MPA, bisa di lihat pada Percik edisi khusus WASPOLA, 2009). Sejauh pengalaman mengikuti penilaian PPA (Partici patory Poverty Assessment) dan MPA (Metod for Participatory Assessment), penilaian ragam dan jumlah perangkat MPA, hampir sama dengan PPA karena keduanya memang satu rumpun yaitu metode penilaian partisipatoris untuk melakukan evaluasi, menyusun perencanaan, mengambil kesimpulan dan rekomendasi. Penambahan pedoman wawancara mendalam dan transek pada MPA bisa menghasilkan data yang berkualitas. Ditambah dengan pleno hasil penilaian yang melibatkan pemangku kepentingDOK. POKJA AMPL an luas, kualitas data yang didapatkan bisa di jamin, karena verifikasi akurasi informasi dilakukan secara berlapis. Dalam metode penilaian partisipatif verifikasi dari berbagai sudut pandang tersebut disebut triangulasi, atau mungkin lebih tepat disebut multi angulasi karena lebih dari tiga cara/ sumber pengumpulan informasi. Masalahnya, bila di akhir kajian PPA selalu bisa menghasilkan sebuah gambar ringkas dalam bentuk pen tagonal aset masyarakat miskin (menggambarkan kondisi masyarakat miskin dari aspek: sumberdaya manusia, akses

30

Juni 2010
sumberdaya alam, akses terhadap sarana fisik, aset sosial, dan aspek ekonomi), analisis partisipatoris (MPA) yang pernah dilakukan tidak pernah menghasilkan gambaran ringkas pentagonal keberlanjutan pembangunan AMPL seperti itu. Padahal secara konseptual dikenal juga abstraksi hubungan sistemis variabel yang menentukan keberlanjutan pembangunan AMPL tersebut dalam skema konseptual pentagonal keberlanjutan pembangunan AMPL. Dalam analisis Kemiskinan Partisipatoris, Pentagonal SLH (sustainable livelihood) yang dihasilkan benar benar bisa meringkaskan kondisi kemiskinan masyarakat yang dikaji dari berbagai variabel utama (besar) dalam bentuk pentagonal SLH. Sebagai contoh, dibawah adalah gambar pentagonal SLH masyarakat miskin di desa Kuala Gelumpang, kabupaten Aceh Timur (hasil kajian lembaga Penelitian SMERU) gelumpang secara umum taraf hidupnya masih belum ideal (belum mencapai skala 5 pada masing masing variabel besar). Terlebih lagi masyarakat miskin, dimana terlihat dengan nyata bahwa pada variabel SDA (akses terhadap sumberdaya alam), dan variabel ekonomi (khususnya akses terhadap sumberdaya modal), sama sekali belum berkembang, yaitu berada pada skala 1. Dari gambar tersebut juga nampak jelas bagian mana yang di prioritaskan untuk di intervensi dalam rangka meningkatkan taraf hidup mereka. Intervensi tersebut dalam bentuk program (input program) atau bantuan agar skalanya meningkat mendekati skala 5 (ideal). Penyajian Hasil Kajian Menggunakan MPA. Selama mengikuti Analisis Partisipatoris di bidang AMPL dengan menggunakan perangkat MPA, hasilnya menggembirakan dalam arti metode penilaian tersebut memang mampu menggali informasi yang cukup luas dan dalam, sehingga bisa dipergunakan untuk berbagai kepentingan lain. Namun sebagai peneliti, bila ditanya mengenai apa hasil lebih lanjut dari penilaian tersebut, jawaban yang bisa di berikan adalah : kumpulan data dari berbagai desa, beberapa tumpukan laporan lapangan, beberapa tumpukan hasil konsolidasi data, beberapa tumpukan laporan akhir. Bagaimana data dan laporan akhir tersebutapakah sekedar memenuhi hasrat keingintahuan akademik, untuk kepentingan praktis (seperti memantau/mengevaluasi kinerja pembangunan, masukan untuk kebijakan, dan lainnya), atau semata mata memenuhi hasrat ingin tahu donor mengenai hasil dari dana yang di kucurkan, sudah diluar kewenangan seorang peneliti. Kumpulan data, kumpulan laporan lapangan, laporan akhir penilaian tersebutsiapapun bisa memperkirakantebalnya tidak kira kira, minimal setebal bantal bayi. Siapakah kemudian yang akan bertekun membaca semua material hasil penilaian tersebut?. Paling fihak yang memang secara intensif, utamanya yang langsung terlibat didalamnya, yang mau berkali kali membacanya, berpuas diri dengan temuan temuannya, meskipun orang lain tidak tertarik membaca karena penulisan yang pada umumnya datar, tanpa emosi, tanpa keindahan, karena laporan penelitian memang harus menggunakan bahasa yang sangat netral menghindarkan bercampur aduk dengan opini. Apabila begitu, yang diperlukan kemudian adalah sebuah ringkasan laporan yang tidak lebih dari 4-7 halaman (sebagaimana yang diminta JBIC pada saat melakukan kajian PPA di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan). Alternatif yang bagus. Laporan sangat ringkas ini biasanya disebut

Gambar 1 Kondisi Kemiskinan Desa Kuala Gamping

Gambar diatas merupakan visualisasi kondisi kemiskinan masyarakat miskin di desa Kuala Gelumpang. - Garis tebal adalah kondisi kemiskinan masyarakat miskin di lihat dari 5 variabel besar yaitu : akses terhadap SDA, akses terhadap infrastruktur, kondisi modal sosial, akses terhadap sumber sumber ekonomi (modal), kualitas SDM. - Garis tebal putus-putus adalah kondisi umum masyarakat Kuala Gelumpang di lihat dari 5 variabel besar SLH. - Garis tipis hitam terputus yang membentuk jaring labalaba menunjukkan kondisi penghidupan masyarakat berdasar skala 1 (terdalam) sampai 5 (terluar). Skala 5 adalah kondisi ideal penghidupan masyarakat. Pada gambar tersebut terlihat bahwa masyarakat Kuala

31

Juni 2010
ringkasan eksekutif, karena memang diperuntukkan bagi para pengambil keputusan yang tidak memiliki banyak waktu untuk berkerut dahi membaca laporan setebal bantal. Kebutuhannya adalah ringkasan laporan. Alternatif lain adalah ringkasan laporan yang menyeluruh, dalam bentuk gambar skematik yang menunjukkan kesalingkaitan antarvariabel. Gambar tersebut disertai skala yang terukur, sebagaimana yang di sajikan pada gambar 1 diatas (kondisi kemiskinan masyarakat di desa Kuala Gelumpang, Aceh Timur). Penggunaan MPA-PHAST selain menghasilkan laporan tebal yang disertai ringkasan eksekutif yang hanya beberapa halaman, bisa juga menghasilkan gambar seperti diatas yang pada dasarnya cukup menjelaskan hasil penilaian. Tampilan dari gambar hasil akhir penilaian bisa dalam bentuk gambar rekaan sebagai berikut. Informasi Cepat untuk Tindakan Emergensi. Gambar hasil akhir penilaian tersebut bisa dengan cepat dan mudah difahami oleh siapa saja, termasuk masyarakat desa. Karenanya bisa dipakai sebagai alat pemantauan perkembangan/ kemunduran dari sarana yang dibangun di desa. Hasil penilaian partisipatif, bisa di anggap sebagai data dasar (mendasarkan pada kondisi terkini pada saat dilakukan penilaian). Gambar hasil penilaian inilah yang akan dijadikan sebagai pedoman dalam melihat kemajuan/kemunduran yang terjadi, sehingga bisa untuk mengambil tindakan/ intervensi cepat bila ada masalah serius. Untuk melakukan pemantauan rutin (misal 3 bulanan atau 6 bulanan), setiap desa harus memiliki gambar dasar tersebut (basis data dalam gambar). Dengan metode check list sederhana, pengelola sarana di tingkat desa bisa melakukan penilaian sendiri, dan secara periodik melaporkan ke Pokja AMPL Kabupaten, yang bila diperlukan melanjutkan ke Pokja Propinsi dan Pusat. Dengan demikian, seluruh sarana yang di bangun akan tekendali status tingkat keberlanjutannya, dan pada gilirannya, bila diketahui ada masalah serius yang diluar kemampuan masyarakat desa untuk menyelesaikannya, bisa dilakukan intervensi program (input bantuan). Semuanya hanya tertuang dalam selembar kertas untuk masing-masing desa, bukan satu jilid laporan yang terdiri dari puluhan halaman. Sangat ringkas, tentu saja.
DOK. POKJA AMPL

Gambar 2 Keberlanjutan Pembangunan AMPL

Garis paling luar dengan dan berada pada skala 5 adalah kondisi ideal dari pembangunan AMPL yaitu, semua variabel mencapai skala maksimal 5. Bila pembangunan sarana berada dalam kondisi ini maka dipastikanbila dari waktu kewaktu stabilsarana dan layanan akan optimal dan berkelanjutan. - Garis tebal yang tidak beraturan (tidak seimbang) adalah kondisi terkini pembangunan AMPL pada saat dilakukan penilaian, dan bisa dianggap sebagai dasar. Melihat gambar diatas, dengan cepat di tarik pengertian bahwa kondisi pembangunan AMPL di desa tersebut dalam keadaan yang tidak menggembirakan, dalam arti ada ancaman serius, yaitu layanan akan tidak berlanjut. Perlu dilakukan intervensi segera (darurat) pada aspek kelembagaan, keuangan (hasil iuran), dan aspek teknologi, dan lingkungan. Perlu informasi tambahan mengenai aspek genting apa yang terjadi pada masing masing variabel besar tersebut.

32

Sisi Lain
Hasil Studi IRC Soal Air dan Sanitasi

Juni 2010
air minum. Ini juga berarti mereka tidak bisa mandi atau membersihkan pakaian atau rumah mereka dengan benar; (v) Kualitas air yang buruk dapat meningkatkan risiko penyakit diare, kolera, demam tipus, disentri, dan infeksi yang terbawa air. Kelangkaan air dapat menyebabkan penyakit-penyakit seperti trachoma (infeksi mata yang dapat menyebabkan kebutaan), wabah penyakit dan tifus; (vi) Kelangkaan air mendorong orang untuk menyimpan air di rumah mereka. Hal ini dapat meningkatkan risiko pencemaran air rumah tangga dan menyediakan tempat berkembang biak bagi nyamuk yang merupakan pembawa demam berdarah, malaria dan penyakit lainnya; (vii) Kelangkaan air menggarisbawahi perlunya pengelolaan air yang lebih baik. Pengelolaan air yang baik juga mengurangi situs perkembangbiakan serangga semacam nyamuk yang dapat menularkan penyakit dan mencegah penyebaran infeksi yang terbawa air seperti schistosomiasis; (viii) Kurangnya air telah mendorong penggunaan air limbah untuk produksi pertanian miskin perkotaan dan masyarakat pedesaan. Lebih dari 10% dari orang di seluruh dunia mengkonsumsi makanan yang diolah menggunakan air irigasi dan air limbah yang mengandung bahan kimia atau organisme penyebab penyakit; (ix) Air merupakan sumber daya penting untuk mempertahankan kehidupan. Ketika pemerintah dan organisasi masyarakat membuatnya menjadi prioritas, individu dapat membantu dengan belajar bagaimana melestarikan dan melindungi sumber daya dalam kehidupan sehari-hari mereka. Selain itu, kelangkaan air diantaranya berdampak (i) Setiap hari, ribuan orang meninggal dari kurangnya akses ke air bersih; (ii) 3,6 juta orang meninggal setiap tahun dari penyakit yang berhubungan dengan air; (iii) 43% kematian terkait air disebabkan oleh diare; (iv) 98% kematian terkait air terjadi di negara berkembang; (v) 884 juta orang, kurang memiliki akses terhadap persediaan air yang aman, atau sekitar satu dari delapan orang; (vi) kematian akibat krisis air dan sanitasi lebih besar daripada akibat perang; (vii) Pada waktu tertentu, setengah dari tempat tidur rumah sakit dunia ditempati oleh pasien yang menderita penyakit terkait air; Sementara dampaknya bagi anak-anak diantaranya berupa (i) Setiap 15 detik, seorang anak meninggal dari penyakit yang berhubungan dengan air; (ii) 1,4 juta anak meninggal akibat diare setiap tahun; (iii) 90% dari semua kematian disebabkan oleh penyakit diare adalah anakanak di bawah usia 5 tahun, terutama di negara-negara berkembang. Studi tersebut juga merangkum dampak kelangkaan air bagi perempuan diantaranya yang terpenting bahwa jutaan perempuan dan anak-anak menghabiskan beberapa jam sehari untuk mengumpulkan air [irc.nl/ Eko]

Waspadai Krisis Air: Timbulkan Konflik Lintas Negara di Afrika

EBUAH riset dilakukan oleh International Reference Centre (IRC) for Water and Sanitation, sebuah Portal dunia yang secara khusus menangani masalah Air Bersih dan Sanitasi. Penelitian di lakukan tahun 2008 dan dipublikasikan tahun lalu itu secara gamblang menyoroti sejumlah persoalan mengenai air bersih serta dampak buruknya sanitasi di sejumlah negara. Tidak tanggungtanggung sedikitnya 340 peneliti dari 48 negara dilibatkan dalam penelitian mereka. Penelitian yang dilakukan IRC ini juga menyoroti masalah konflik air bersih yang kerap terjadi dalam suatu negara, kawasan, ataupun berdampak luas kesejumlah negara karena penggunaan air secara bersama-sama. Di Afrika, misalnya, lebih dari 57 sungai besar atau lembah danau digunakan bersama oleh sejumlah negara atau lebih. Karena itu, para peneliti IRC merekomendasikan para pemuka kepentingan mewaspadai terjadinya konflik yang akan bertambah luas di Afrika jika krisis air bersih tidak ditangani sesegera mungkin Sungai Nil misalnya ternyata dimanfaatkan oleh sembilan, dan Sungai Niger oleh 10 negara. Sedangkan di seluruh dunia, lebih dari 200 sungai, yang meliputi lebih dari separo permukaan bumi, digunakan bersama puluhan negara. Selain itu, banyak lapisan sumber air bawah tanah membentang melintasi batas-batas negara, dan penyedotan oleh suatu negara dapat menyebabkan ketegangan politik dengan negara tetangganya. Beberapa fakta dan temuan yang dihasilkan dari studi ini diantaranya (i) Kelangkaan air terjadi, bahkan di daerahdaerah dimana terdapat banyak curah hujan atau air tawar; (ii) Kelangkaan air mempengaruhi satu dari tiga orang di seluruh dunia. Situasi makin parah karena kebutuhan air meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk, dan urbanisasi; (iii) Hampir seperlima dari penduduk dunia (sekitar 1,2 miliar orang) tinggal di daerah yang air secara fisik langka. Seperempat dari populasi global juga tinggal di negara-negara berkembang yang menghadapi kekurangan air karena kurangnya infrastruktur untuk mengambil air dari sungai dan sumber air; (iv) Kelangkaan air memaksa orang untuk mengandalkan sumber-sumber yang tidak aman untuk

33

JuniInovasi 2010

Mengubah

Sampah Jadi Energi Listrik


Oleh Peneliti Madya BPPT, Haryo Budi Nugroho

i negara negara maju seperti Denmark, Swis, Amerika dan Prancis, proses pengolahan sampah tidak hanya mengatasi bau busuk saja tapi sudah merubah sampah menjadi energi listrik. Sebagai ilustrasi, di Denmark 54 % sampah telah berhasil di rubah menjadi energi listrik. Pernah mendengan PLTSa? Pembangkit Listrik Tenaga Sampah? Suatu isu yang sedang hangat dibicarakan di kota Bandung, yang beberapa waktu yang lalu pernah heboh karena keberadaan sampah yang meluber hingga badan jalan utamanya. Itu dulu. Sekarang, kota Bandung sudah kembali menjadi sedia kala dan salah solusinya melalui PLTSa, yang kemudian menjadi bahan perdebatan. Tujuan akhir dari sebuah PLTSa ialah untuk mengkonversi sampah menjadi energi. Pada dasarnya ada dua

alternatif proses pengolahan sampah menjadi energi, yaitu proses biologis yang menghasilkan gasbio dan proses thermal yang menghasilkan panas. PLTSa yang sedang diperdebatkan untuk dibangun di Bandung menggunakan proses thermal sebagai proses konversinya. Pada kedua proses tersebut, hasil proses dapat langsung dimanfaatkan untuk menggerakkan generator listrik. Perbedaan mendasar di antara keduanya ialah proses biologis menghasilkan gas-bio yang kemudian dibakar untuk menghasilkan tenaga yang akan menggerakkan motor yang dihubungkan dengan generator listrik sedangkan proses thermal menghasilkan panas yang dapat digunakan untuk membangkitkan uap yang kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin uap yang dihubungkan dengan generator listrik.

34

Juni 2010
padat melalui pemanasan tanpa kehadiran oksigen. Dengan adanya proses pemanasan dengan temperatur tinggi, molekul-molekul organik yang berukuran besar akan terurai menjadi molekul organik yang kecil dan lebih sederhana. Hasil pirolisa dapat berupa tar, larutan asam asetat, methanol, padatan char, dan produk gas. Gasifikasi merupakan proses konversi termokimia padatan organik menjadi gas. Gasifikasi melibatkan proses perengkahan dan pembakaran tidak sempurna pada temperatur yang relatif tinggi (sekitar 9001100 C). Seperti halnya pirolisa, proses gasifikasi menghasilkan gas yang dapat dibakar dengan nilai kalor sekitar 4000 kJ/Nm3.

DOK. POKJA AMPL

Proses Konversi Thermal Proses konversi thermal dapat dicapai melalui beberapa cara, yaitu insinerasi, pirolisa, dan gasifikasi. Insinerasi pada dasarnya ialah proses oksidasi bahanbahan organik menjadi bahan anorganik. Prosesnya sendiri merupakan reaksi oksidasi cepat antara bahan organik dengan oksigen. Apabila berlangsung secara sempurna, kandungan bahan organik (H dan C) dalam sampah akan dikonversi menjadi gas karbondioksida (CO2) dan uap air (H2O). Unsur-unsur penyusun sampah lainnya seperti belerang (S) dan nitrogen (N) akan dioksidasi menjadi oksida-oksida dalam fasa gas (SOx, NOx) yang terbawa di gas produk. Beberapa contoh insinerator ialah open burning, single chamber, open pit, multiple chamber, starved air unit, rotary kiln, dan fluidized bed incinerator. Pirolisa merupakan proses konversi bahan organik

Incinerator. Sebuah ilustrasi bagian-bagian dalam sebuah incinerator.

Proses Konversi Biologis Proses konversi biologis dapat dicapai dengan cara pencernaan (digestion) secara anaerobik (biogas) atau tanah urug (landfill). Biogas adalah teknologi konversi biomassa (sampah) menjadi gas dengan bantuan mikroba anaerob. Proses biogas menghasilkan gas yang kaya akan methane dan bubur (slurry). Gas methane dapat digunakan untuk berbagai sistem pembangkitan energi sedangkan slurry dapat digunakan sebagai kompos. Produk dari digester tersebut berupa gas methane yang dapat dibakar dengan nilai kalor sekitar 6500 kJ/Nm3.

35

Juni 2010
menyalakan generator yang digerakkan gas metan (CH4) Sistem yang bersumber dari sampah penangkap tersebut. Sistem gas methan Penutup pengolahan Wali Kota Bekasi Mochtar lempung Sampah lindi Muhamad menuturkan, 12 tahun lalu, TPA itu laksana hutan belukar sampah. Pada musin hujan, TPA tersebut berubah menjadi comberan Sumur raksasa. Pada musim pemantau kemarau, ia menjadi sumber air tanah Batas aroma tak sedap yang juga Landfill merusak pemandangan. Aroma tercium sampai radius Sistem 15 kilometer. Guyonan di pengumpul lindi sana, lalat dan tikus pun harus memakai masker. Konon, Bantar Gebang adalah TPA terbesar di Modern Landfill. Konsep landfill seperti di atas ialah sebuah konsep landfill modern yang di dalamnya terdapat suatu sistem pengolahan produk buangan yang baik. Nusantara. Bukan hanya memunculkan aroma tidak sedap, Landfill ialah pengelolaan sampah dengan cara air sampah yang disebut lindi pun mencemari sungai menimbunnya di dalam tanah. Di dalam lahan landfill, dan sumur warga. Pemerintah dan warga Bekasi tidak limbah organik akan didekomposisi oleh mikroba dalam bisa berbuat banyak. Lahan seluas 120 hektare di tanah menjadi senyawa-senyawa gas dan cair. Senyawa- Bantar Gebang itu sudah dibeli Pemprov DKI (Daerah senyawa ini berinteraksi dengan air yang dikandung oleh Khusus Ibukota) untuk dijadikan tempat sampah sejak limbah dan air hujan yang masuk ke dalam tanah dan awal 1990-an. membentuk bahan cair yang disebut lindi (leachate). Secara garis besar, ada empat tahapan untuk meJika landfill tidak didesain dengan baik, leachate akan manfaatkan timbunan sampah itu menjadi energi lismencemari tanah dan masuk ke dalam badan-badan trik. Pertama, menimbun sampah ke dalam lubang taair di dalam tanah. Karena itu, tanah di landfill harus nah seluas 20 X 100 meter persegi dengan kedalaman mempunya permeabilitas yang rendah. Aktifitas tertentu. Lantas, ditambahkan mikroba pengurai. mikroba dalam landfill menghasilkan gas CH4 dan CO2 Langkah kedua, memasang selimut plastik hitam (pada tahap awal proses aerobik) dan menghasilkan di timbunan sampah tersebut dengan tujuan agar gas gas methane (pada proses anaerobiknya). Gas landfill yang daya rusaknya 21 kali CO2 itu tidak beterbangan tersebut mempunyai nilai kalor sekitar 450-540 Btu/scf. dan merusak ozon. Ketiga, memasang pipa-pipa karet Sistem pengambilan gas hasil biasanya melalui sejumlah di tumpukan sampah tersebut untuk mengalirkan pipa-pipa yang dipasang lateral dan dihubungkan gas metan yang diproduksi timbunan sampah itu. dengan pompa vakum sentral. Selain itu terdapat juga Keempat, gas tersebut dimasukkan ke dalam boks sistem pengambilan gas dengan pompa desentralisasi. kondensasi untuk memisahkan gas metan dari air. Gas itulah yang kemudian dialirkan untuk menggerakan Sampah Bantar Gebang generator. Kini proses tersebut sudah berhasil Belasan tahun tempat pembuangan akhir (TPA) dilakukan dan setiap hari dari gundukan sampah sampah di Bantar Gebang, Bekasi, menjadi sumber Bantar Gebang sekitar 2 Megawatt dapat dihasilkan masalah bagi warga sekitarnya. Kini teknologi mampu dari sampah padat kota Jakarta. menyulap sumber masalah itu menjadi sumber PLTSa yang ada menggunakan dua mesin yang energi listrik. Pekan lalu, Wakil Presiden masing-masing mampu menghasilkan listrik satu Boediono sempat mencoba megawatt.

36

Panduan

Juni 2010
untuk menjadi cadangan air tanah. Menurut Ketua Komunitas Usiawan Peduli Lingkungan, Soehartono Soedargo, tujuan utama teknologi Lubang Resapan Biopori (LRB) adalah untuk menjaga kesediaan air tanah yang berkualitas secara berkesinambungan serta memproses sampah organik menjadi kompos. Volume sampah anorganik yang harus diangkut oleh petugas pengambil sampah akan menjadi sangat berkurag. Tegasnya, biopori merupakan lubang silindris yang dibuat oleh fauna tanah. Lubang ini sangat efektif menyalurkan air dan udara di dalam tanah. Biopori yang terbentuk akan terisi udara dan menjadi jalan lewatnya air ke dalam tanah. Dengan demikian akan memperlancar atau mempercepat peresapan air ke dalam tanah, tukasnya. Sebenarnya terdapat berbagai cara untuk mengatasi krisis cadangan air ini, salah satunya adalah lubang resapan biopori. Lubang kecil yang dibuat dengan kedalaman kurang lebih 1 meter (100 cm), mempunyai fungsi ganda. Pertama sebagai lubang resapan air dan yang kedua adalah sebagai tempat untuk mengubah sampah menjadi kompos. Jika dibandingkan dengan teknologi yang lain, lubang resapan biopori ini tidak memerlukan biaya yang cukup besar dan sangat cocok bagi daerah perkotaan yang memang tidak memiliki lahan karena padat oleh bangunan-bangunan. Bagaimana cara membuat lubang resapan biopori ini? Caranya sangat mudah, persiapkan alat yang diperlukan yaitu bor biopori, seember air, cangkul, kayu yang ujungnya tumpul dan tentu saja kumpulan sampah organik. Untuk awalnya buatlah jalur dahulu dengan cangkul, kemudian siram air di lahan yang akan dibor, setelah itu mulailah mengebor tanah dengan diameter 10 centimeter dan kedalaman 1 meter. Tanah ISTIMEWA yang terdapat di ujung bor bisa dibersihkan dengan kayu tumpulnya. Setelah lubang siap, masukkan sekitar 2 atau 3 kg sampah lapuk/organik ke dalamnya, kemudian tutup dengan kawat jaring agar tidak terperosok apabila terinjak. Lakukan pengisian ulang sampah organik, jika sampah organik sebelumnya telah menyusut akibat proses pelapukan. Ketika musim kemarau tiba, kompos yang

Kiat Mudah Membuat Lubang Resapan Biopori

ubang Resapan Biopori (LRB) merupakan teknologi tepat guna yang bermanfaat untuk mengurangi genangan air dan sampah organik serta konservasi air bawah tanah. LRB adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10-30 cm, dengan kedalaman tidak melebihi muka air tanah. Lubang ini kemudian diisi dengan sampah organik yang berfungsi untuk menghidupkan mikroorganisme tanah, seperti cacing. Cacing tanah ini akan membentuk pori-pori atau terowongan dalam tanah (biopori) yang dapat mempercepat resapan air ke dalam tanah secara horizontal. Peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB), Ir. Kamir R. Brata, M.Sc, Lektor Kepala Ekologi Tanah, yang juga staf Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB merupakan sosok sang penemu yang berhasil mengembangkan Teknologi Biopori sangat sederhana yaitu Lubang Resapan Biopori untuk mencegah banjir dan kekeringan. Musim kemarau biasanya mengakibatkan kedalaman muka air sumur menjadi lebih dalam, sedangkan di musim penghujan berkibat pada terganggunya arus lalu lintas oleh air yang tergenang bahkan sering juga menyebabkan banjir. Apakah semua keadaan ini akan menjadi kebiasaan tiap tahun saja? Tentu kita semua tidak ingin setiap sekali dalam setahun harus mengalami hal demikian, bukan? Salah satu faktor dari ini semua adalah kurangnya daerah resapan air di sekitar yang kaitannya dengan konservasi air. Air yang seharusnya masuk ke dalam tanah justru mengalir ke selokan lalu mengalir ke sungai sehingga tidak terserap ke dalam tanah

37

Juni 2010
ISTIMEWA

telah terbentuk dapat diambil bersamaan dengan pemeliharaan terhadap lubang resapan biopori. Untuk mencegah terjadinya longsoran atau bahaya terperosok ke dalam lubang, maka perkuatlah tutup lubang menggunakan semen di sekeliling lubang. Lubang Biopori dapat dibuat lebih dari satu dengan jarak sekitar 2 meter dengan biopori lainnya. Air hujan akan dengan mudah terserap ke dalam lubang biopori, sehingga tidak sempat tergenang yang dapat mengakibatkan banjir. Biaya pembuatan lubang resapan biopori ini sangat murah, tetapi efektivitasnya lebih besar. Cukup dengan biaya sekitar Rp 100.000 Rp 200.000,- untuk membeli bor tanah manual yang dapat dipesan di Institut Pertanian Bogor. Bor tanah ini dapat dipakai oleh puluhan orang dalam waktu yang lama, dan dapat dipakai untuk membuat lubang tambahan. Dengan lubang kecil ini air akan menyerap lebih cepat ke dalam tanah, sehingga dapat mencegah banjir dan menjadikan cadangan air tanah apabila musim kemarau. Yang harus diingat teknologi lubang resapan biopori ini merupakan karya anak bangsa yang patut dihargai. Sudah sewajarnya pemerintah dan juga masyarakat Indonesia bangga dan mendukungnya. Karena memang manfaat dari lubang resapan biopori ini sudah terbukti secara empiris. Sebagai seorang ahli yang mengetahui sistem ekologi tanah, Kamir menuturkan ekosistem antara makhluk hidup yang berada di dalam tanah dan makhluk yang tidak hidup saling ketergantungan, maka kita perlu mengupayakan agar ekosistem tanah tetap utuh dan tidak rusak demi kelangsungan kedua jenis makhluk yang ada di dalamnya. Sampah yang dibuang, lama kelamaan semakin banyak dan akan menjadi beban bagi lingkungan dan bagi manusia, karena tempat tinggalnya harus dipakai untuk membuang sampah. Banyak orang yang membuang air dan sampah ke sungai ataupun saluran air, itupun akan menimbulkan dampak baru yakni meluapnya air sungai. Kami menegaskan, dengan teknologi ini semua orang dapat memanfaatkan air yang sangat dibutuhkan oleh kehidupan di mana saja dan kapan saja. Karena curah hujan ini tidak hanya jatuh di kawasan situ saja,

sehingga yang paling gampang agar tidak membebani lingkungan, semua orang harus membuat peresapan itu dengan baik. Oleh karena itu, yang paling dibutuhkan dalam penerapan teknologi ini adalah kesadaram untuk tidak membuang sampah, karena sampah itu adalah sumber daya, apapun jenis sampahnya. Sampah yang tidak lapuk bisa dimanfaatkan oleh pemulung menjadi bahan industri. Karena itu ubahlah kebiasaan kita, agar selalu memisahkan sampah organik dan non organik. Serta jangan selalu membuang sampah di tempat penampungan, selain menimbulkan bau, sarang lalat, dan tikus, juga dapat merusak lingkungan. Apalagi jika diendapkan di tempat pembuangan akhir sampah, lapuknya akan lama dan dapat menghasilkan zat metana yang bisa meledak apabila tidak disalurkan. Mengingat curah hujan di wilayah Indonesia yang cukup tinggi, sebenarnya kita tidak perlu khawatir terhadap krisis cadangan air tanah. Akan tetapi, penyempitan lahan yang dilakukan secara terus-menerus inilah yang perlu dikhawatirkan, karena kaitannya dengan semakin berkurangnya luasan resapan air. Dengan membuat lubang resapan biopori ini diharapakan krisis cadangan air tanah tidak terjadi dan dapat mencegah terjadinya banjir atau air yang tergenang khususnya di daerah perkotaan. Sementara satu masalah itu terselesaikan, kita juga bisa mengambil manfaat dari lubang resapan biopori ini. Ketika musim kemarau tiba, sampah organik yang telah mengalami proses pelapukan dapat kita ambil, dalam bentuk pupuk kompos.

38

Reportase

Juni 2010

Menteri PU Terkesan Pokja AMPL di Pameran Hari Air Sedunia

enteri Pekerjaan Umum, Joko Kirmanto terkesan dengan apa yang dilakukan oleh Pokja AMPL. Hal itu terlihat saat Menteri PU mengunjungi stan pameran Hari Air Sedunia yang digelar pada tanggal 22-25 April 2010, Kementerian Pekerjaan Umum mengadakan Pameran Hari Air Sedunia. Acara pameran tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang dilakukan Kementerian PU bekerjasama dengan berbagai pihak dalam rangka peringatan Hari Air Dunia yang diperingati setiap 22 Maret. Pameran berlangsung di Lobby Utama gedung Ditjen Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum, Jl. Pattimura no. 20 Jakarta Selatan, pukul 08.00 - 18.00. Pameran diikuti oleh 80 stan pameran yang diisi dari lembaga perwakilan pemerintah, PDAM, BUMN dan perusahaan yang bergerak dalam pembangunan dan penyediaan air. Pameran dibuka oleh Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto, yang dalam pidato pembukaannya mengungkapkan bahwa mulai saat ini seharusnya isu air menjadi urusan semua orang atau water is everybody business. Pameran yang diselenggarakan dalam peringatan HAD 2010 menurut Menteri PU bermaksud menjawab stigma selama ini yang mengidentikkan urusan air menjadi urusan pihakpihak tertentu. Pengelolaan sumber daya air seperti cara lama yang dilakukan sendiri-sendiri atau terbatas oleh pemerintah dan para ahli bidang air, sudah harus ditinggalkan karena kurang efektif memecahkan masalah. Menurutnya pengalaman telah menunjukan bahwa pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan tidak mungkin dilakukan sendiri oleh pemerintah tetapi juga diperlukan peran aktif seluruh pemangku kepentingan.

DOK. POKJA AMPL

39

Juni 2010

2,5

Pembangunan Sanitasi dengan Sistem Terdesentralisasi


Sanitation Program (WSP) Bank Dunia bersama Asian Development Bank (ADB). Konferensi ini mempertemukan para ahli dan pembuat kebijakan, profesional, peneliti, serta para pelaku pembangunan sanitasi dari kalangan LSM dan swasta untuk mendiskusikan jalan keluar bagi permasalahan sanitasi yang masih dihadapi oleh banyak negara berkembang melalui sistem pengolahan air limbah terdesentralisasi. Tercatat sebanyak 185 orang peserta menghadiri konferensi ini, yang berasal dari 24 negara dari Asia, Afrika, dan Eropa. Andreas Ulrich, Direktur Borda, dalam sambutannya pada acara pembukaan di hari pertama (23/3) menyatakan Melalui konferensi ini diharapkan akan diperoleh masukan berharga dari peserta yang berasal dari berbagai latar belakang profesi, sehingga dapat memberikan sumbangan berharga bagi pendekatan maupun konsep pelaksanaan pembangunan sanitasi baik di Indonesia maupun di negara berkembang lainnya. Ragam Pendekatan Pembangunan Sanitasi dengan Sistem Desentralisasi Pembangunan infrastruktur sanitasi umumnya direncanakan dengan menggunakan sistem terpusat, seperti saluran drainase maupun instalasi pengolahan air limbah. Kelebihan yang dimiliki sistem terpusat antara lain efektifitas pengolahannya yang tinggi, namun dikompensasikan oleh biaya operasional yang mahal dan terbatasnya cakupan yang hanya meliputi wilayah urban. Sistem desentralisasi memungkinkan pengadaan pilihan teknologi pengelolaan air limbah dan sanitasi yang efektif dengan biaya yang rendah melalui pelibatan masyarakat dalam proses pelaksanaannya. Karena itu sistem desentralisasi merupakan pendekatan yang cocok bila diterapkan bagi pembangunan sanitasi di negara berkembang. Berbagai pendekatan sistem desentralisasi yang didiskusikan meliputi; Pilihan teknologi (Technical Options for Decentralized Systems), Pemberdayaan masyarakat (Com munity Aspects for Decentralized Systems), dan pengelolaan yang berkelanjutan (Management Options for Sustainabili ty). Berbagai pendekatan tersebut dibahas melalui beberapa sesi paralel pada hari kedua. Pada dasarnya semua pendekatan tersebut merupakan kesatuan yang tidak bisa

DEWATS Conference and Exhibition

juta orang di seluruh dunia belum memiliki akses terhadap kebutuhan sanitasi dasar. Di Indonesia sendiri, seratus juta orang masih hidup tanpa akses sanitasi yang layak (WSP 2008). Saat ini isu sanitasi semakin menjadi perhatian dalam pembangunan, terkait dengan eratnya hubungan antara sanitasi yang baik dengan kesehatan, kesejahteraan, serta kualitas hidup masyarakat, terutama di negara berkembang. Di Indonesia, kerugian ekonomis akibat buruknya kondisi sanitasi dan kesehatan lingkungan mencapai Rp 56 triliun setiap tahunnya, dimana sekitar 70 juta orang masih melakukan praktek buang air besar sembarangan (BABS). Karena itulah, sanitasi merupakan salah satu permasalahan utama yang mulai menjadi prioritas dalam pelaksanaan pembangunan di Indonesia. Didasari berbagai latar belakang tersebut, Pokja AMPL dibawah koordinasi Bappenas bekerja sama dengan International Water Association (IWA) dan Bremen Overseas Research and Development Association (BORDA) mengadakan Konferensi Internasional dan Pameran Decentralized Wastewater Treatment Solutions (DE WATS) in Developing Countries. Diadakan di Hotel Sheraton Surabaya, pada tanggal 23 26 Maret 2010, acara ini juga terselenggara atas dukungan dari Water and
DOK. POKJA AMPL

40

Juni 2010
DOK. POKJA AMPL

dipisahkan dalam pelaksanaan pembangunan sanitasi dengan sistem desentralisasi. Dalam pembahasan mengenai pilihan teknologi, disepakati bahwa pilihan teknologi yang dibutuhkan di negara berkembang adalah pilihan teknologi yang murah, tidak membutuhkan keterampilan yang terlalu tinggi sehingga dapat dioperasikan masyarakat, efisien, hemat energi, dan berkelanjutan. Pada sesi ini disampaikan mengenai berbagai pembelajaran penerapan pilihan teknologi dari berbagai negara di Asia, Eropa, dan Afrika. Pilihan teknologi yang disampaikan meliputi penanganan limbah skala rumah tangga, industri, perkotaan, maupun pilihan teknologi yang cocok untuk diterapkan di daerah-daerah khusus yang mengalami kesulitan air maupun berlebihan air (pantai, rawa, sungai, dan lainnya). Banyak pembelajaran menarik dapat diambil dari sesi ini, baik dari sisi teknis pengelolaan limbah maupun dari beragamnya teknologi sanitasi yang diterapkan di berbagai negara dengan beragam kondisi alam dan karakter masyarakatnya masing-masing. Namun benang merah dari semua pemaparan tersebut adalah pada umumnya pilihan teknologi yang dipaparkan diterapkan pada negara berkembang yang memiliki keterbatasan dalam pembangunan sanitasi, terutama dalam hal pendanaan

untuk pengadaan sarana-prasarana, lingkungan alam yang tidak mendukung, serta kurangnya kapasitas sumber daya manusia. Beberapa topik yang relevan dengan keadaan di Indonesia antara lain Studi Opsi Teknologi Sanitasi bagi Daerah Khusus/Sulit dari WSP World Bank Indonesia, dan Emergency Sanitation yang disampaikan oleh Borda Vietnam. Dalam beberapa hal, sistem desentralisasi juga membutuhkan pemberdayaan masyarakat untuk memastikan keberlanjutan pelaksanaannya, dan dibahas secara mendetil pada sesi Pemberdayaan masyarakat (Community As pects for Decentralized Systems). Dalam sesi ini dipaparkan bahwa proses penyediaan fasilitas sanitasi di masyarakat harus melibatkan kaum perempuan dan penduduk miskin Dalam hal ini, peran LSM sebagai mitra pemerintah untuk menerapkan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang propoor dan progender dirasakan cukup signifikan, terutama di Indonesia. Di dalam komunitas, terutama komunitas masyarakat perdesaan, sekolah merupakan salah satu komponen masyarakat yang dapat mendorong perubahan perilaku sanitasi, sehingga peningkatan kapasitas perlu dilakukan kepada murid dan guru. Intervensi dan pemberdayaan yang dilakukan di sekolah dalam bidang sanitasi terdiri dari peningkatan kesadaran hidup bersih dan pengenalan serta praktek pembuatan pengolahan air limbah sederhana. Selain peningkatan peran masyarakat melalui pemberdayaan, juga diperlukan satu sistem pengelolaan yang terintegrasi untuk menjaga keberlanjutan sistem DEWATS. Dalam sesi Pengelolaan yang Berkelanjutan (Management Options for Sustainability), dipaparkan mengenai sejarah dan aplikasi DEWATS oleh Direktur Borda, Andreas Ulrich, serta pemaparan berbagai keberhasilan pembangunan sanitasi di negara-negara berkembang seperti di India, Jordania, dan Indonesia. Dari Indonesia disampaikan mengenai pencapaian program Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS) oleh Oswar Mungkasa dari Bappenas, dan pencapaian program Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP) melalui dukungan SANIMAS oleh J. Sinarko Wibowo dari ISSDP. Sebagai penutup dari sesi Management Options for Sustainability, disimpulkan bahwa dalam pembangunan sanitasi, peran pemerintah sebagai regulator sangat diperlukan untuk mengimplementasikan suatu kebijakan yang dapat memastikan keberlanjutan pembangunan sanitasi yang telah dilakukan di wilayahnya berjalan sesuai yang diharapkan.

41

Juni 2010
DOK. POKJA AMPL

CD yang dibagikan, tentunya pembelajaran dan kesan yang didapat oleh para pengunjung akan lebih baik lagi. Pada kesempatan ini juga dilakukan pameran poster pembangunan sanitasi. Terpilih sebagai poster terbaik adalah Poster ProPoor Septic Tank for Urban Areas Modular Units Programs of Urban Sanitation and Hygiene Promotion karya Suryani Amin dari MercyCorps Indonesia, dan Performance of Wastewater Treatment with A Constructed Wetland in the Philippines oleh Jonah Butler dari salah satu LSM di Filipina. Memasyarakatkan Pembangunan Sanitasi Sepuluh tahun yang lalu sulit membayangkan bahwa isu sanitasi secara global akan dibicarakan seperti sekarang. Saat ini kesadaran bahwa sanitasi merupakan salah satu pintu masuk untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat semakin menguat. Pemerintah berbagai negara, terutama negara berkembang, didukung lembaga donor dan LSM mulai memfokuskan perhatiannya pada pembangunan sanitasi. Dengan kondisi tersebut, diharapkan semakin banyak pihak yang peduli untuk terlibat dalam pembangunan sanitasi; di negaranya masing-masing, nasional maupun lokal, kota maupun desa. Keberhasilan pembangunan sanitasi ditentukan dari baiknya koordinasi dan kerjasama dari berbagai sektor. Untuk itu upaya untuk menginspirasi dan mengedukasi semua pemangku kepentingan seperti yang dilakukan melalui konferensi dan pameran internasional ini perlu dilakukan semakin sering. Ditunggu upaya selanjutnya dalam memasyarakatkan pembangunan sanitasi, baik dari Pokja AMPL dan para penggiat AMPL lainnya di Indonesia. [SAZ]
DOK. POKJA AMPL

Pameran Paralel dengan konferensi, juga dilakukan pameran yang diikuti oleh 6 institusi dari dalam dan luar negeri. Keenam institusi tersebut adalah: Jejaring AMPL, WSP World Bank, Malaysia Water Association, Borda and Partner, IWA, dan Bio-Microbics Inc. Jejaring AMPL berkolaborasi dengan Bappenas dalam pameran ini menampilkan berbagai produk kampanye publik Pokja AMPL maupun mitra Pokja AMPL mengenai kebijakan maupun pencapaian pembangunan AMPL berbasis masyarakat yang dilakukan di Indonesia. Dengan stannya yang unik dan berbeda dari yang lain, stan Jejaring AMPL cukup menarik rasa ingin tahu peserta konferensi sehingga menjadi stan yang paling ramai dikunjungi. Penjaga stan juga cukup aktif menerangkan mengenai pembangunan AMPL di Indonesia kepada para pengunjung. Disela jeda konferensi, Jejaring AMPL mengadakan dua sesi acara bebas berupa presentasi dan talkshow mengenai dua program sanitasi nasional di Indonesia: Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dan Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP). Stan Jejaring AMPL merupakan stan yang paling menarik perhatian peserta konferensi, terkait dengan banyaknya produk komunikasi yang dipamerkan serta desain yang paling menarik perhatian (eye catching). Sangat disayangkan jumlah produk komunikasi yang diproduksi dalam Bahasa Inggris terbatas, sehingga peserta konferensi hanya dapat mendengarkan penjelasan singkat dari anggota Jejaring mengenai Kebijakan Nasional AMPL Berbasis Masyarakat dan Pembelajaran Pembangunan AMPL di Indonesia. Bila peserta dapat memahami isi dari buku, leaflet, maupun

42

Juni 2010

Pembelajaran dari Pengalaman Pakar

DOK. POKJA AMPL

onsep DEWATS merupakan konsep yang dikembangkan oleh BORDA, sebuah LSM dari Jerman, dengan wilayah kerja di Asia dan mulai berkembang di Afrika. Program pembangunan sanitasi ini telah diterapkan sejak tahun 1977, diawali dengan proyek Biogas Technology Transfer di India. Demikian disampaikan Andreas Ulrich (Jerman), menceritakan mengenai sejarah, teknologi, dan aplikasi konsep DEWATS (Decen tralized Wastewater Treatment Solutions) Selain teknologi, di dalam konsep DEWATS juga dikembangkan pendekatan responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan selalu berupaya untuk menumbuhkan komitmen masyarakat dalam berkontribusi dalam aspek pembiayaan maupun pengelolaan sistem sanitasi yang dibangun. Aspek kelembagaan merupakan salah satu aspek penting untuk menjaga keberlanjutan sarana, sehingga dibentuk organisasi masyarakat yang bertugas untuk menjaga dan mengelola sarana sanitasi yang telah terbangun. Sejumlah akademisi menyampaikan gagasan serta pesannya dalam pelaksanaan program DEWATS. Pembelajaran dari sejumlah pokok pikiran para pakar terangkum sebagai berikut. Kathy Eales dari Afrika Selatan menjelaskan rendahnya kualitas sumber daya manusia pemerintah daerah berdampak pada kegagalan penanganan sistem pengelolaan

air limbah khususnya di tingkat kecamatan. Dijelaskan bahwa sekitar 70% penduduk Afrika Selatan saat ini telah memiliki toilet pribadi dan hampir 90% memiliki akses ke air bersih. Afsel mengembangkan sistem pengolahan limbah terpusat, dengan biaya yang cukup tinggi dan membutuhkan sumber daya manusia dengan keterampilan tinggi untuk mengoperasikannya. Pada tahun 2014, Pemerintah Afsel menargetkan semua warganya memiliki akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi yang layak. Namun kondisi ini tidak diikuti dengan kapasitas pemerintah daerah, sehingga banyak kegagalan pengelolaan limbah terjadi di tingkat kecamatan, dan mulai menyebabkan polusi terhadap sistem pengolahan limbah yang ada. Untuk itu, saat ini Afsel membutuhkan teknologi dengan biaya lebih rendah dengan sistem pengelolaan lebih sederhana namun tetap memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Untuk itu, pendekatan DEWATS sudah di mulai dikembangkan di skala kecamatan di Afsel. Keterjangkauan biaya juga yang menjadi dasar Sulabh Academy-India untuk bekerja sama dengan BORDA, mengembangkan 9 instalasi pengolahan limbah terdesentralisasi di India pada periode 1995-1998, yang masih berfungsi sampai saat ini. Keseluruhan instalasi ini mengolah limbah dari berbagai jenis kegiatan industri dan permu-

43

Juni 2010
kiman, seperti asrama, agro-industri, dan pabrik pengolahan makanan jadi. Hal ini disampaikan oleh Dr.Pawan Kumar Jha dari Sulabh Academy, India. Kesimpulannya bahwa sistem pengolahan limbah terdesentralisasi merupakan satu-satunya metode yang relatif terjangkau untuk mengatasi permasalahan pengolahan limbah di negara berkembang. Pada kesempatan lain, beberapa pemateri menjelaskan upaya mengurangi dampak lingkungan dari proses pengelolaan air limbah. Dimulai dengan Mariska Ronteltap (IHE-Belanda) yang memaparkan mengenai kemungkinan pemisahan limbah urin pada sistem terpusat (offsite), dimulai dari proses pengumpulan, pengolahan, dan kemungkinan penggunaan kembali urin. Melalui berbagai proses pengolahan, seperti higienisasi, reduksi volume, sehingga rembesan limbah cair dari tangki septik tidak mencemari air tanah dan air permukaan. Chris Buckley (Afrika Selatan) menerangkan pentingnya alkalinitas dalam proses anaerobik pada anaerobic baf fled reactor. Alkalinitas menjadikan pH air limbah dalam proses anaerobik berkisar antara 6.2-8.2 yang merupakan kisaran pH yang optimal untuk penggumpalan bahan organik sehingga dapat mengendap. Tanpa alkalinitas, pH air limbah cenderung rendah (asam) dikarenakan pembentukan asam pada proses anaerobik; hal ini menyebabkan tidak optimalnya proses penggumpalan dan pengemdapan bahan organik. Terkait pengolahan lumpur tinja dari unit pengolahan air limbah terdesentralisasi, Andreas Schmidt (Jerman) menjelaskan beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam pengolahan lumpur ini. UtamaDOK. POKJA AMPL nya, kandungan bakteri pathogen yang harus hilang sebelum lumpur hasil olahan digunakan untuk keperluan lain seperti kompos. Aspek kesehatan para pekerja juga menjadi perhatian dalam pengolahan lumpur ini. Disamping itu, beberapa pemateri juga menjelaskan manfaat sistem DEWATS dari sisi lain. Seperti misalnya Xiaochang Wang (Cina) yang menjelaskan reklamasi air limbah dengan unit pengolahan terdesentralisasi juga berguna untuk tujuan estetika dan rekreasi. Dicontohkan di kompleks apartemen kota Xian, Cina. Reklamasi air limbah ini digunakan sebagai untuk mengisi kolam di tengah kompleks yang bertujuan untuk menciptakan suasana yang sejuk. Selain itu, reklamasi ini merupakan solusi karena keterbatasan ketersediaan air di kota tersebut. dan pemisahan fosfor dan nitrogen, hasil pengolahan Manfaat lainnya dijelaskan oleh Christian Zurbrugg dari urin dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Pada sistem (Switzerland) yang mempresentasikan penerapan biogas setempat (onsite), walau tanpa melalui proses pengolahan, sanitation system di sebuah penjara di Nepal. Keuntungan sistem pemisahan urin dapat mengurangi polusi air tanah. yang didapat dari penerapan sistem ini adalah bahwa gas Sementara Viet-Anh Nguyen dari Vietnam memapar- yang dihasilkan dapat menjadi bahan bakar memasak kan mengenai penggunaan Anaerobic Filter pada Baffled untuk penghuni penjara. Karena penghuni penjara di Septic Tank (BASTAF). Penggunaan BASTAF menunNepal harus mengeluarkan dana pribadi untuk kegiatan jukkan rata-rata efisiensi pengolahan BOD, COD, dan sehari-hari, penggantian bahan bakar ini merupakan TSS mencapai 80-90%. Sistem ini telah diterapkan di penghematan bagi mereka. Selain itu, penggunaan bahan berbagai wilayah permukiman, apartemen, sekolah, dan bakar gas dapat mengurangi asap di dapur mereka karena perkantoran di Vietnam. Dari Indonesia sendiri, Ellina biasanya mereka menggunakan kayu bakar untuk mePandebesie dari ITS Indonesia memaparkan tentang masak. Penerapan unit pengolahan air limbah di penjara pengolahan limbah tangki septik menggunakan construct ini merupakan hal yang baru bagi peserta konferensi dan ed wetland system, dengan media tanaman menekankan bahwa sanitasi memang hak untuk semua cyperus papyrus dan pasir, orang [Eko/OM]

44

Juni 2010

Pembangunan Sarana AMPL Berbasis Masyarakat Proyek CWSH


DOK. POKJA AMPL

royek Pelayanan Air Bersih dan Sanitasi Masyarakat (Community Water Services and Water Health Project CWSHP) merupakan salah satu proyek pemerintah dalam bidang AMPL yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, terutama dalam menurunkan angka penyakit diare dan penyakit lainnya yang ditularkan melalui air dan lingkungan. Proyek ini dilaksanakan di dua puluh kabupaten di empat provinsi, yaitu Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Jambi, dan Bengkulu. CWSH merupakan kerjasama Pemerintah Indonesia dengan Asian Development Bank (ADB), dengan sumber dana berupa pinjaman (loan) dari ADB. Selain dari loan, CWSHP dilaksanakan juga melalui dana hibah di Aceh dan Nias, sebagai tanggapan terhadap bencana tsunami yang terjadi. Pada kurun 2008-2009, tercatat bantuan CWSHP dari dana pinjaman ini telah melayani 293 desa, dimana 15 desa sumber air bersih maupun sarana sanidiantaranya terletak di Kabupaten Kotawartasi sehari-hari. Pemanfaatan air sungai Proyek CWSH ingin Timur (Kotim). Dari 15 desa tersebut, untuk pemenuhan kebutuhan sehariturut membantu empat desa telah dibantu CWSH pada tahun hari terkait dengan kondisi air tanah masyarakat di 2008 sedangkan sisanya mendapat bantuan yang buruk. Tanah di kabupaten Kotim, Kotim untuk pada tahun 2009. terutama yang terletak di sekitar sungai, meningkatkan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) merupakan tanah bergambut. Kondisi derajat merupakan satu dari enam kabupaten di tersebut tidak memungkinkan bagi kesehatannya. Propinsi Kalimantan Tengah yang mendapatwarga untuk membangun sarana air kan bantuan CWSHP. Dari 11 desa di Kotim bersih maupun sanitasi biasa, karena yang mendapat bantuan pada tahun 2009, air tanah di tanah bergambut memtujuh desa telah selesai membangun Sarana Air Bersih butuhkan penyaringan khusus. Akibatnya pembangunan dan Sanitasi (SABS), sedangkan pembangunan di empat sarana air bersih dan sanitasi membutuhkan biaya yang desa lainnya telah mencapai tahap penyelesaian. Pelaksacukup mahal untuk ukuran warga desa di kabupaten naan acara serah terima SABS dilakukan secara simbolis Kotim. ke tujuh desa, dan serahterima ke empat desa lainnya Proyek CWSH turut membantu masyarakat di Kotim akan segera menyusul. Total biaya pembangunan SABS untuk meningkatkan derajat kesehatannya dengan menper desa sebesar Rp 250 juta, dengan rincian Rp 200 juta dorong masyarakat untuk merubah perilaku sehari-harinya merupakan bantuan dari proyek, dan Rp 50 juta merupa- dalam memanfaatkan air sungai sebagai sumber air bersih kan kontribusi masyarakat (tunai Rp 10 juta, tenaga dan sekaligus sarana sanitasi. Menurut Kusrianto, Team Leader bahan Rp 40 juta). CWSH Provinsi Kalteng, selain meningkatkan derajat Kabupaten Kota Waringin Timur memiliki tujuh kesehatan, proyek CWSH memberikan manfaat kepada sungai mengalir di sepanjang wilayahnya, dengan sungai masyarakat Kalteng dari segi sosial maupun ekonomi melayang terbesar adalah Sungai Mentaya. Sebagian desa mau- lui penyediaan air bersih yang lebih dekat dengan pun permukiman penduduk terbentuk mengikuti jalur tempat tinggal serta pengurangan biaya kesehatan/ sungai. Selain sebagai sarana transportasi, masyarakat pengobatan dari penyakit yang ditimbulkan air kabupaten Kotim juga memanfaatkan sungai sebagai dan lingkungan.

45

Juni 2010
Untuk mendorong perubahan perilaku, CWSH melakukan promosi peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) masyarakat, pembangunan sarana prasarana air minum dan penyehatan lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat untuk keberlanjutan pemanfaatan sarana prasarana serta PHBS yang telah dicapai. Selain ketiga komponen tersebut, CWSH juga melakukan peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam bidang pembangunan air minum/bersih dan penyehatan lingkungan, serta memberikan dukungan dalam implementasi dan koordinasi proyek melalui CPMU di tingkat pusat dan PPMU maupun DPMU di tingkat daerah. terbangun dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Bupati Kotim, Wahyudi K. Anwar, dalam sambutannya mengingatkan bahwa Masyarakat jangan hanya sebatas bangga telah berhasil membangun sarana yang bagus ini, tapi juga harus bangga dan aktif dalam memanfaatkan, menjaga, dan memeliharanya agar manfaatnya dapat selalu dirasakan. Seusai sambutan, Bupati melakukan penandatanganan prasasti peresmian sarana air bersih desa Kandan, dan melakukan serah terima sarana kepada tujuh Kepala Desa Penerima Bantuan Proyek CWSH di kabupaten Kotim. Ketujuh desa tersebut yaitu desa Kandan, Bukit Indah, Gunung Makmur, Agung Mulya, Tanjung Jariangu, Samuda Besar, dan Babirah. Dari Kepala Desa, Sarana Air Serah Terima SABS Bersih dan Sanitasi akan diserahkan kepada Sarana Air Bersih dan Sanitasi (SABS) Masyarakat Badan Pengelola Sarana masing-masing yang telah selesai dibangun pada tahun desa. jangan hanya 2009 akan diserahterimakan ke Badan Seusai peresmian dan serahterima, Busebatas bangga Pengelola Sarana Desa yang telah dibenpati Kotim didampingi oleh Ibu Pimanih telah berhasil tuk. Terkait dengan serah terima tersebut, membangun dari CWSH Pusat meninjau SAB terbangun pada Hari Minggu, 28 Februari 2010, di desa Kandan dan kemudian mengunjungi sarana yang diselenggarakan acara Peresmian dan Sepameran pelaksanaan CWSH oleh desa-desa bagus ini, tapi rah Terima Sarana Air Bersih (SAB) dan juga harus bangga yang melakukan serah terima. Kesempatan Sanitasi Proyek CWSH di desa Kandan, ini digunakan oleh Tim Kerja Masyarakat dan aktif dalam kecamatan Kota Besi, kabupaten Kotim. dari tiap desa untuk menunjukkan foto-foto memanfaatkan, Waktu menunjukkan 10 menit lewat dokumentasi proses maupun hasil pelaksanmenjaga, dan dari pukul sepuluh pagi ketika rombong- memeliharanya. aan CWSH di desa mereka. an Bupati, Perwakilan CWSH DPMU Dalam kesempatan ini, tiga desa juga Kotim, dan Perwakilan CPMU Pusat tiba melakukan Deklarasi ODF (Open Defeca di desa Kandan. Rombongan disambut di depan gerbang tion Free/Stop BABS) di hadapan Bupati. desa dengan upacara adat, dimana seorang wanita tetua Deklarasi ODF ini dilakukan oleh desa-desa adat membacakan doa memohon keselamatan dan kesuk- yang semua penduduknya telah berhasil dipicu untuk sesan bagi para rombongan. Upacara ini diakhiri dengan berhenti melakukan praktik buang air besar sembarangpemotongan palang bambu yang menghalangi gerbang, an (BABS). Diharapkan pelaksanaan deklarasi ini akan dan rombongan dipersilahkan memasuki desa Kandan. memacu desa-desa lainnya di kabupaten Kotim untuk Dari obrolan dengan warga desa, masyarakat desa segera menyusul ODF, dan para penduduk di desa yang Kandan sangat senang dan bangga terhadap pembangutelah ODF tidak akan kembali melakukan praktek BABS. nan sarana air bersih di desa mereka. Terlebih lagi, mereka juga terlibat dalam proses pembangunannya. Sarana air Kendala dan Pembelajaran bersih yang berupa instalasi pengolahan air sederhana meCWSH merupakan proyek yang telah menerapkan mudahkan mereka untuk mendapatkan air bersih tanpa pendekatan berbasis masyarakat, untuk itu masyarakat harus pergi ke sungai. Masyarakat cukup mengambil dilibatkan dalam setiap tahapannya. Pelaksanaan AMPL air ke keran umum yang terletak dekat dengan rumah BM menuntut pendampingan menerus dari fasilitator mereka. Ke depannya, masyarakat desa Kandan sedang masyarakat, dimulai dari tahap pemicuan hingga tahapan mempersiapkan penyambungan pipa ke tiap rumah unpaska proyek, sehingga dalam pelaksanaan pendekatan ini tuk lebih mempermudah dalam memperoleh air bersih. sebaiknya direkrut fasilitator lokal untuk memudahkan Kebanggaan masyarakat akan SABS yang telah meproses pendampingan. reka bangun menimbulkan tanggung jawab Kesulitan yang dihadapi di Kotim, fasilitator yang untuk menjaga agar SABS direkrut bukan berasal dari daerah Kotim dan mereka

46

Juni 2010
tidak selalu berada di daerah Kotim, sehingga proses pelaksanaan CWSH di beberapa desa berjalan dengan lambat. Proses MPA-PHAST (metodologi pelibatan masyarakat secara langsung dalam penilaian kondisi, dan kebutuhan masyarakat, red.) berlangsung lambat karena minimnya pendampingan fasilitator, akibatnya ada desa yang baru dapat menyelesaikan proses MPA-PHAST dalam waktu lima bulan. Hal ini memperlambat proses penyelesaian pembangunan SABS yang pada mulanya ditargetkan telah selesai semua pada akhir tahun 2009. Selain kendala mengenai minimnya pendampingan dari fasilitator, kondisi geografis juga menjadi kendala dalam pelaksanaan CWSH, terkait dengan sulitnya akses menuju ke beberapa desa lokasi di Kotim dan juga kondisi lingkungan (karakter tanah, lingkungan, dan sebagainya) yang menyulitkan promosi PHBS dan pembangunan SABS. Namun hal ini dapat diatasi dengan pendampingan intensif dari DPMU dan pemerintah kabupaten. Selain kendala diatas, ada beberapa hal dalam pelaksanaan CWSH yang dapat dijadikan pembelajaran, terutama dalam hal strategi keberlanjutan program. Guna menjaga keberlanjutan, masyarakat harus dilibatkan dalam menjaga dan mengelola sarana terbangun. Untuk itu, CWSH mensyaratkan pembentukan Badan Pengelola Sarana (BPS) di tingkat masyarakat. BPS inilah yang akan menjaga dan mengelola sarana, termasuk memungut iuran dari para masyarakat. Anggota BPS direkrut dari masyarakat desa yang kebanyakan berpendidikan rendah sehingga peningkatan kapasitas mutlak diperlukan, terutama bagi anggota BPS agar dapat mengelola SABS dengan baik. CWSH memfasilitasi peningkatan kapasitas masyarakat melalui berbagai pelatihan, seperti pelatihan teknik konstruksi, administrasi keuangan, Operational and Maintenance, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), dan Kader Sanitasi. Saat ini disadari bahwa upaya menjaga keberlanjutan SABS maupun untuk upaya replikasi program AMPL memerlukan peran pemerintah daerah. Dengan kompleksitas pembangunan AMPL yang merupakan pembangunan multi-sektor, diperlukan satu koordinasi yang baik di level pemerintah daerah, baik dalam pendampingan pelaksanaan, monev, maupun replikasi program. Dalam konteks pelaksanan CWSH di Kotim, koordinasi langsung dilakukan Bappeda melalui Tim Kerja Kabupaten (TKK) Proyek CWSH. Kelemahannya adalah saat proyek berakhir, TKK tersebut akan bubar sehingga proses pendampingan akan sangat tergantung dari kinerja masingmasing sektor. Untuk lebih mengoptimalkan sinergi masing-masing sektor yang terlibat dalam pembangunan AMPL tanpa tergantung dari keberadaan program/proyek AMPL di daerah, saat ini upaya koordinasi lintas sektor di Kabupaten Kotim sedang diupayakan untuk diformalkan ke dalam satu wadah lembaga Kelompok Kerja (Pokja) AMPL melalui fasilitasi CWSH. Lembaga Pokja AMPL inilah yang diharapkan akan mengawal keberlanjutan SABS yang sudah dibangun, dan lebih lanjut lagi akan mendorong replikasi program CWSH maupun melanjutkan pembangunan AMPL secara lintas sektor di Kabupaten Kotim. Upaya Keberlanjutan Proyek Proses pembangunan AMPL masih belum selesai pada saat sarana selesai dibangun, tantangan terbesarnya adalah menjaga bagaimana sarana terbangun dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Upaya CWSH mendorong DOK. POKJA AMPL masyarakat membentuk Badan Pengelola Sarana, dengan sebelumnya meningkatkan kapasitas masyarakat, agar siap menjaga dan merawat sarana terbangun merupakan salah satu strategi untuk menciptakan keberlanjutan dari sisi masyarakat. Dari pemerintah daerah, Bupati Kotim telah menginstruksikan dinas-dinas terkait untuk melakukan pendampingan BPS dengan menggunakan anggaran APBD daerah. Selain itu, Bupati juga berkomitmen untuk meniru pola pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan AMPL daerah Kotim untuk desa-desa yang belum mendapatkan bantuan, melalui APBD. Ispanur, anggota Tim Kerja Kabupaten(TKK) dari Bappeda, selanjutnya menambahkan bahwa dinas-dinas terkait dalam pembangunan AMPL dan terlibat dalam pelaksanaan CWSH melalui TKK telah berkomitmen untuk melanjutkan koordinasi dalam wadah Pokja AMPL yang akan dibentuk sebelum pertengahan tahun ini. [SAZ]

47

Juni 2010 Testimoni

Ketua Pokja AMPL Kota Tegal, Eko Setiawan

Kesehatan Lingkungan Yang Ampuh

Juru Kampanye

rogram Tegal Sehat 2010 meluncur seolah tanpa Sehat 2010, lanjutnya tentunya merupakan bagian dari gema, paling tidak hal ini tertangkap dari peng- desain besar pembangunan nasional yang bertujuan bukan akuan sejumlah warga Kota Tegal yang tidak tahu hanya membangun kesadaran, kemauan dan kemampuan menahu soal program kesehatan dan perbaikan kualitas hidup sehat bagi setiap orang, tetapi bagaimana meletaklingkungan di kota Tegal. Gema Tegal Sehat 2010 di kan hak sehat itu sebagai hak asasi yang patut dimiliki masyarakat kurang mendapat tanggapan. Berbeda ketika setiap warga masyarakat, dan pemerintah memberikan Pemerintah Kota Tegal meluncurkan Program Kesehatan ruang bagi terpenuhinya. Gratis beberapa waktu lalu yang ditanggapi secara antuHal seperti ini, menyangkut derajat kesehatan sias oleh masyarakat. Apakah karena Program Kemasyarakat yang seharusnya terjamin. Tentunya, pembasehatan Gratis dipandang lebih mengena ngunan ke arah sana memerlukan sinergitas dari berbagai pada masyarakat, sehingga masyarakat bepihak, pemerintah kota Tegal, masyarakat, bahkan swasta gitu apresiatif menyambutnya. Inilah yang patut terlibat di dalamnya. Untuk memmenjadi tantangan saya untuk segera membangun sinergitas tersebut tentunya buat program AMPL mendapat tempat di membutuhkan kerja keras. Kota Tegal, ujar Ketua Pokja AMPL Kota Masalah lingkungan Kesehatan sebagai bagian dari immasih merupakan plementasi visi kota Tegal didalamnya Tegal, Eko Setiawan (38) kepada Percik di tantangan yang Jakarta, belum lama ini. ingin mewujudkan masyarakat yang cukup berat bagi Padahal, lanjut Eko, program Tegal Sebermoral, berbudaya dan berdaya saing kota Tegal sebagai untuk mencapai kota Tegal sebagai pusat hat 2010 ini lebih strategis karena di dadaerah pesisir. lamnya memuat desain pembangunan keperdagangan, jasa, industri dan maritim sehatan baik secara mikro maupun makro. menuju masyarakat yang partisipatif dan Pilihan tahun 2010 hanyalah pijakan prosejahtera, tentu saja arah kesana memgram kesehatan yang dirancang berkesibutuhkan derajat kesehatan masyarakat nambungan dalam cakupan tahapan-tahapan capaiannya. yang tinggi, pelayanan kesehatan yang Bolehlah dikata bahwa Program Kesehatan Gratis merupaberkualitas, merata dan terjangkau bagi kan bagian dari Tegal Sehat 2010. setiap lapisan masyarakat. Inilah yang kemudian menginspirasi saya untuk beDikatakan, makna yang hendak diberikan dari Tegal kerja lebih keras bersama teman-teman di Pokja AMPL Sehat 2010 ini sebetulnya ingin menempatkan masyarakat Kota Tegal agar program Tegal Sehat 2010 lebih mem- kota Tegal dalam lingkungan yang sehat, memiliki perilaku bumi. Padahal, program ini juga senafas dengan Undang- sehat, memiliki kemampuan menjangkau pelayanan yang Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan yang bermutu, dan yang lebih penting memiliki kemandirian secara jelas dalam Pasal 4 menegaskan bahwa setiap orang dalam memecahkan masalah kesehatannya. Hal yang samempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat ngat disadari, bahwa rakyat sehat adalah suatu kekuatan kesehatan yang optimal, paparnya. dari negara. Arah pembangunan Tegal Rakyat yang sehat pula merupakan wujud nyata keulet-

48

Juni 2010
ja Sanitasi Kota Tahap B: Penilaian Pemetaan Sanitasi Kota (Penyusunan Buku Putih Sanitasi Kota) Tahap C: Penyusunan Strategi Sanitasi Kota (SSK) Tahap D: Penyusunan Rencana Tindak Sanitasi Tahap E: Pemantauan dan Evaluasi Sebagaimana dengan panduan penyusunan Buku Putih Sanitasi Kota, panduan penyusunan Strategi Sanitasi Kota (SSK) disusun berdasarkan berbagai teori yang ada, petunjuk-petunjuk Pemerintah Pusat, dan berbagai pengalaman yang diperoleh selama mendampingi beberapa kota untuk menyusun Strategi Sanitasi Kota (SSK). Panduan ini berupaya mendorong terciptanya dialog interaktif di antara anggota-anggota Pokja Sanitasi Kota dan akhirnya mendorong proses pengembangan kapasitas. Tetapi selain itu proses yang dibangun melalui manual ini dimaksudkan juga agar Pokja memiliki rasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap apa yang sudah disusunnya secara bersama-sama. Pada saat awal-awal program, panduan yang disusun masih bersifat sementara. Kualitas SSK yang dihasilkan oleh kota-kota pun mungkin masih belum memadai, terutama dari sudut pandang akademis. Tetapi yang terpenting ialah bahwa Pokja sudah mampu bekerja sama (termasuk belajar bersama) untuk menghasilkan sebuah rencana strategis yang terintegrasi. Ini adalah prestasi yang sangat tinggi mengingat bahwa hal tersebut selama ini sukar dijalankan. Panduan penyusunan SSK ini di antaranya juga memuat pengalaman-pengalaman Pokja Sanitasi Kota. Hasil yang akan dicapai melalui proses ini adalah: Identifikasi temuan-temuan penting di dalam Buku Putih Kesamaan pemahaman tentang kondisi sanitasi kota Kesamaan pemahaman tentang rujukan lainnya Jadwal, rencana kerja, dan pembagian tugas penyelesaian SSK Sebelum memulai penyusunan SSK, sebaiknya Pokja mengkaji-ulang Buku Putih Sanitasi Kota. Beberapa orang anggota yang ditunjuk, diminta membuat ringkasan Buku Putih dan mempresentasikannya di depan para anggota lain guna mengingatkan kembali hal-hal yang dituliskan dalam buku tersebut. Sebelum itu anggota-anggota Pokja sebaiknya berkunjung ke lapangan untuk memastikan atau mengkonfirmasi ulang bahwa apa yang ditulis di dalam Buku Putih sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. Jika ada perbedaan antara kondisi lapangan dan isi Buku Putih, Pokja bisa memperbaiki atau menambahkannya ke dalam Buku Putih.[Eko]

DOK. POKJA AMPL

an dan ketangguhan suatu masyarakat, secara sederhana dapat digambarkan jika secara fisik, mental dan sosialnya sehat, maka produktivitasnya juga tinggi. Selanjutnya produktivitas yang tinggi akan berbanding lurus dengan ketahanan ekonomi. Tantangan Berat Ayah dua orang anak ini mengatakan masalah lingkungan masih merupakan tantangan yang cukup berat bagi kota Tegal sebagai daerah pesisir. Tingkat kualitas alam menjadi permasalahan tersendiri seperti terbatasnya akses air bersih dan sanitasi, tingginya polusi dan tingkat pencemaran air sungai menjadi masalah lingkungan tersendiri yang perlu mendapat perhatian bersama. Paradigma kesehatan sudah waktunya dirubah, jika sebelumnya pelayanan kesehatan masih menempatkan masyarakat sebagai obyek, maka perlu didorong pola kemandirian yang ditandai dengan pemberdayaan masyarakat dalam kesehatan. Masyarakat diberdayakan untuk mampu secara mandiri memenuhi kesehatannya, mengembangkan prakarsa membangun lingkungan sehat yang melibatkan masyarakat. Hal seperti ini tentunya, membutuhkan jajaran promosi kesehatan yang kuat di daerah untuk membangkitkan prakarsa masyarakat di bidang kesehatan. Karena bagaimanapun kualitas kemandirian masyarakat di bidang kesehatan menjadi indikator komposit kemajuan masyarakat. Penyusunan Strategi Sanitasi Kota merupakan bagian ketiga dari rangkaian proses pelaksanaan Pembangunan Sanitasi Kota yang terdiri dari lima tahapan yakni: Tahap A: Pengenalan program dan pembentukan Pok-

49

Juni 2010 Fakta

81 Kelurahan Terganggu Peroleh Pasokan Air Bersih


bersih tersebut sebagai rekanan dari PD PAM Jaya. Mereka itu kan berperan sebagai petugas penyediaan air bersih bagi warga Jakarta. Seharusnya masalah kekeringan atau berkurangnya pasokan air baku karena musim kemarau sudah bisa diantisipasi, kata anggota Komisi D DPRD DKI, Prya Ramadhani di DPRD DKI. Seperti diketahui, musim kemarau dan musim hujan selalu terjadi setiap tahun sehingga seharusnya PDAM Jaya dan kedua operator sudah memiliki solusinya. Krisis air bersih saat ini disebabkan pasokan air bersih kepada sebagian besar pelanggan PT Palyja di wilayah Barat Jakarta mengalami gangguan akibat penurunan pasokan air baku ke Instalasi Pengolahan Air (IPA) Pejompongan I dan II. Penurunan pasokan juga terjadi di operator air PAM lainnya yaitu PT Aetra Air Jakarta dimana kualitas air baku menurun antara lain berwarna kehitaman dan mengeluarkan bau yang menyengat yang disebabkan terjadinya penurunan volume air baku dari Curug sebagai akibat dari perbaikan pompa air baku oleh Perum Jasa Tirta (PJT) II. Corporate Secretary Aetra, Yosua L Tobing, mengatakan berdasarkan hasil pengamatan dan pengukuran terhadap air baku berasal dari Kalimalang yang dilakukan secara terus menerus oleh tim produksi dan trunk main PT Aerta di IPA Buaran, terpantau tingkat konsentrasi dari salah satu parameter terdapat ammonia telah mencapai lebih dari 1.7 ppm padahal kondisi normal hanya berkisar maksimum 0.5 ppm. Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa secara kasat mata air baku yang diterima terlihat berwarna kehitaman dan mengeluarkan bau yang menyengat. Meskipun mengalami penurunan kualitas air baku, pihak Aetra tetap berusaha memproduksi air bersih sesuai standar yang ditentukan Kementerian Kesehatan. Aetra berkomitmen untuk memproduksi air dengan standar kualitas air minum sesuai dengan Kepmenkes 907/2002 pada seluruh IPA Buaran I dan II serta IPA Pulogadung.

Krisis Air Bersih Kembali Landa DKI Jakarta

arga DKI Jakarta mengalami krisis air bersih lantaran berkurangnya pasokan air oleh dua operator PAM yang diduga akibat perbaikan pompa air baku oleh Perum Jasa Tirta (PJT) II dan PT Aerta Air Jakarta. Sebanyak 81 kelurahan yang merupakan pelanggan air bersih di wilayah layanan Palyja mengalami gangguan pasokan air bersih yakni 38 kelurahan mengalami penghentian pasokan air bersih dan 43 kelurahan mengalami penurunan volume air bersih. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengaku telah mengetahui kekurangan suplai air bersih bagi warga Jakarta meskipun belum mendapatkan laporan resmi dari kedua operator PAM yakni Aetra dan Palyja. Saya menunggu laporan dari operator. Namun saya imbau agar warga Jakarta hemat air bersih, jangan boros menggunakan air, kata Fauzi Bowo. Karena belum adanya laporan tersebut, maka belum dapat diketahui apakah kekurangan air itu diakibatkan kekeringan yang sedang melanda Jakarta atau diakibatkan masalah lain. Kalangan politisi DPRD DKI menilai kedua operator merupakan pihak yang bertanggung jawab atas krisis air
ISTIMEWA

50

Juni 2010
pat bisa sampai tiga kali mati. Dalam waktu 3X24 jam air di Pademangan mati. Sementara Resfiando menulis. Sudah 2 hari, suplai air di Rawamangun, Jakarta Timur berhenti. Tidak ada yang mau bertanggung jawab untuk mengatasi permasalahan ini. Aetra sudah tidak layak lagi mengurus suplai air. Kalau urusan tagihan, cepatnya bukan main, tapi kalo sudah mandek gini cuma diam saja, tulisnya. Warga pun meminta kejelasan dari operator perusahan air bersih. Mereka menuntut ada perbaikan pelayanan. Hampir seluruh pelanggan Aetra di Jakarta Timur-Jakarta Utara-Jakarta Pusat krisis air. Kapan pihak Aetra memberi penjelasan resmi melalui media cetak atau media elektronik kepada pelanggannya? Jika Pompa rusak sampai kapan pasokan air kembali normal? tanya Anna Keluhan terhentinya pasokan air juga disampaikan oleh warga Semper Barat, Cilincing. Seorang warga, Rodiah (30), mengatakan, tanda-tanda terganggunya pasokan air bersih sudah terjadi sejak tiga hari lalu. Air memang ngucur, tapi pelan dan sedikit, katanya. Acong, warga Karanganyar, Jakarta Pusat, menyebutkan, pasokan air ke rumahnya tidak mengalir sejak dua hari terakhir. Dua hari sebelumnya sempat mengalir sedikit. Benar-benar sengsara tidak tahu kapan derita kami berakhir, katanya. Warga di daerah itu terpaksa menggunakan air minum isi ulang seharga Rp 3.500-Rp 4.000 per galon (19 liter) untuk berbagai keperluan, seperti mandi, cuci, dan memasak. Siaran pers dari PT Aetra menyebutkan, dampak dari perbaikan kerusakan pada pompa air baku Pulogadung, sekitar 40 persen layanan Aetra terganggu. Corporate Secre tary PT Aetra, Yosua L Tobing, mengatakan, daerah yang mengalami gangguan pasokan air bersih antara lain di sebagian Jakarta Pusat, sebagian Jakarta Utara, dan sebagian Jakarta Timur. Dengan kondisi ini, Aetra terpaksa menurunkan produksi sebesar 40 persen dari produksi normal. Dalam tiga hari ke depan diupayakan kapasitas produksi dapat meningkat sehingga pemulihan gangguan suplai air bersih dapat diupayakan secara bertahap. Ganti Rugi Anggota Badan Pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan, konsumen berhak mendapatkan ganti rugi karena buruknya manajemen PAM. PAM harus memberikan ganti rugi atau setidaknya memberikan diskon kepada pelanggan akibat matinya aliran air, ujarnya. PAM, kata Tulus, dinilai melanggar UU No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen dan UU 25 Tahun 1999 tentang Pelayanan Publik.

ISTIMEWA

FAKTA

Kurang dari 1% dari air tawar dunia (atau sekitar 0,007% dari semua air di bumi) adalah mudah diakses untuk digunakan manusia secara langsung. Tanpa makanan seseorang bisa hidup selama berminggu-minggu, tetapi tanpa air Anda dapat berharap untuk hidup hanya beberapa hari. Kebutuhan harian untuk sanitasi, mandi, dan memasak kebutuhan, serta untuk menjamin kelangsungan hidup, adalah sekitar 13,2 galon per orang. Orang miskin yang tinggal di daerah kumuh sering membayar 5-10 kali lebih banyak per liter air daripada orang kaya yang tinggal di kota yang sama.

Untuk itu, Aetra telah melakukan tindakan penggelontoran pipa agar kualitas air yang diterima pelanggan tidak keruh. Ganggu Perkantoran Krisis air bersih yang melanda Jakarta diperkirakan masih akan berlangsung beberapa saat lagi. Tak hanya menyengsarakan masyarakat, krisis itu juga mengganggu perkantoran seperti dialami Pemkot Administrasi Jakarta Utara. Terganggunya pasokan air bersih ke gedung perkantoran Pemkot Administrasi Jakarta Utara memaksa Kepala Bagian Umum Tjiknan Marsuf melayangkan surat ke PT Aetra untuk secepatnya mengedrop air bersih untuk kebutuhan kantor. Secepatnya pasokan air harus bisa direalisasikan. Pemkot bahkan bersedia membeli air untuk mengisi tangki penampungan berkapasitas 50 kiloliter. Terhentinya pasokan air hingga dua hari ke depan berdampak buruk pada kondisi Kantor Wali Kota. Sudah pasti menimbulkan bau yang kurang sedap hingga ke ruang kerja di setiap lantai. Ketika krisis air PAM di Jakarta belum berakhir. Sejumlah warga Jakarta pun menjerit. Air PAM mati melulu. Pengelolaan air baku bagaimana? Apa dari awal tidak ada perencanaan yang matang? Jangan pikirkan keuntungan sepihak. Pikirkan kerugian orang banyak, tulis seorang pelanggan air PAM, Temmy. Keluhan lain disampaikan puluhan warga Jakarta. Sudah lebih dari sehari air tidak mengalir normal. Dalam sehari air mati di sejumlah tem-

51

Juni 2010 Catatan

Perjalanan

International Learning Exchange - 2010 For Water, Sanitation and Hygiene Education
India, 13-24 April 2010
Oleh Maraita Listyasari

nternational Learning Exchange (ILE) merupakan pertemuan 2 tahunan yang diselenggarakan oleh UNICEF-India, UNICEF WES (Water and En vironmental Sanitation) New York dan Pemerintah India. Pertemuan ini merupakan forum berbagi pengalaman dan pengetahuan atas kisah sukses dan tantangan yang dihadapi sektor air minum dan sanitasi. ILE yang diselenggarakan pada tanggal 13 hingga 23 April ini diikuti oleh 17 negara dan 56 peserta. Delegasi Indonesia terdiri dari Maraita Listyasari, mewakili Pemerintah Indonesia, dan Julianty Sopacua, mewakili UNICEF Indonesia-Jakarta. Secara keseluruhan, ILE terdiri dari pertemuan besar yang dihadiri oleh seluruh peserta kemudian dilanjutkan dengan kunjungan lapangan (site visit) sesuai dengan fokus prioritas setiap peserta. Fokus utama dari ILE ke-4 ini adalah berbagi pengalaman atas berbagai pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah India serta upaya pencapaian Millennium Development Goals (MDG) khususnya target air minum dan sanitasi, yang terbagi atas 4 modul pembelajaran: (A) Water Safety and Security, (B) Household Sanitation and Home Hygiene, (C) Water and Sanitation in Schools; (D) Community and School Water Supply and Sanitation in Tribal Areas. Pertemuan dimulai dengan Inaugural Session, yang dihadiri oleh Minister Rural Development, Secretary Menister for Water Supply, UNICEF Representatives dan seluruh peserta dari 18 negara. Pada sesi ini dinyatakan maksud dan tujuan diselenggarakan ILE, yaitu untuk saling berbagi informasi dan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas penyediaan air minum dan sanitasi di India maupun pada negara peserta. Saat ini India telah berhasil mencapai MDG khusus target

air minum melalui penyediaan air minum bagi penduduk perdesaan sebesar 84%, dimana target MDG mencapai 82%. Namun demikian, India masih memiliki tantangan untuk menyediakan sumber air minum yang lebih baik bagi setiap rumah tangga sehingga kebijakan penyediaan air minum 5 tahun kedepan adalah pembangunan sistem air minum perpipaan bagi masyarakat perdesaan. Disisi lain, India telah berhasil meningkatkan cakupan pelayanan sanitasi dari hanya sebesar 1% pada tahun 1981 menjadi 64% pada tahun 2010 ini. Peningkatan cakupan yang sangat fenomenal ini merupakan hasil dari pelaksanaan program TSC (Total Sanitation Campaign) yang diiringi dengan penerapan skema insentif, yaitu berupa pemberian penghargaan Nirmal Gram Puraskar (NGP) dari Presiden India. Pengalaman pelaksanaan program TSC yang dilengkapi dengan penyusunan berbagai model pelaksanaan yang beragam, inovatif, efektif dan praktikal tersebut merupakan salah satu program yang akan diambil pelajarannya oleh pelaku pembangunan sanitasi di negaranegara lain. Sekilas mengenai TOTAL SANITATION CAMPAIGN Pembangunan sanitasi di India dilaksanakan melalui program Total Sanitation Campaign (TSC) yang dijalankan oleh seluruh pelaku pembangunan di India. Sebelumnya, Pemerintah India menjalankan program Central Rural Sanitation Programme (CRSP) yang mulai diadopsi pada tahun 1986 dengan didasarkan pada asumsi bahwa pemberian subsidi akan berdampak pada peningkatan cakupan masyarakat terhadap layanan sanitasi. Namun demikian, pada tahun 1999 Pemerintah India merestrukturisasi CRSP menjadi TSC, yang merupakan program tanggap kebutuhan (demand driven) dengan

52

Juni 2010
pendekatan tanpa subsidi. Program TSC ini memberikan Sanitary Mart (RSM) merupakan pusat penjualan penekanan pada peningkatan kesadaran masyarakat material yang diperlukan untuk konstruksi, yang melalui IEC (information, education and communication) tidak hanya diperlukan untuk pembangunan jamban mengenai perubahan sikap dan perilaku terkait dengan melainkan untuk sarana sanitasi lainnya yang diperlukan kebersihan pribadi (higienitas). TSC bukan merupakan untuk individu, keluarga dan lingkungan pada daerah program yang bersifat fisik (hardware programme) yang perdesaan. Selain menyediakan material, RSM juga menyediakan bantuan teknis pada pembangunan jamban memberikan layanan dan petunjuk yang diperlukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (Below Poverty untuk membangun berbagai jenis jamban dan fasilitas Line BPL), melainkan suatu program yang memfasilitasi sanitasi lainnya. Adapun pusat produksi (production proses kampanye bagi peningkatan kebutuhan akan fasilitas centres) merupakan pusat pembuatan bahan-bahan jamban dan memenuhi kebutuhan jamban tersebut dengan (material) bagi pembangunan sarana jamban dengan menyediakan pilihan teknologi yang beragam sesuai dengan harga yang terjangkau. Pusat produksi dan penjualan penghasilan dan kondisi ketersediaan air. ini dibuka dan dioperasikan oleh LSM, organisasi Tujuan utama dari TSC adalah: perempuan atau masyarakat desa. a. Meningkatkan kualitas hidup di daerah perdesaan d. Pembangunan Jamban Keluarga. Selain bertujuan agar b. Meningkatkan cakupan sanitasi di daerah perdesaan setiap rumah tangga memiliki sarana jamban, program c. Menciptakan kebutuhan terhadap fasilitasi sanitasi TSC juga bertujuan untuk mengubah seluruh jamban melalui peningkatan kepedulian dan pendidikan kering di daerah perdesaan menjadi jamban siram kesehatan (pour flush latrines). Pada program ini masyarakat d. Melengkapi sekolah/paud di daerah perdesaan dengan berpendapatan rendah (BPL) mendapatkan insentif fasilitasi sanitasi dan memperkenalkan pendidikan setelah BPL tersebut selesai membangun sendiri hygiene dan kebiasaan sanitasi diantara para murid jambannya. Adapun pola pemberian insentif adalah e. Meningkatkan penerapan biaya yang efektif dan teksebagai berikut: nologi yang tepat pada layanan sanitasi Kontribusi f. Menghilangkan praktek buang air besar PemPus Pemda Masyarakat Unit Biaya Dasar (Rs) di sembarang tempat untuk mengurangi BPL APL BPL APL BPL APL risiko kontaminasi sumber air minum dan makanan Hingga Rs.625/- (single pit) 60% 0 20% 0 20% 100% g. Mengubah jamban kering menjadi Rs.625/- s/d Rs.1000/30% 0 30% 0 40% 100% jamban siram (pour flush latrine) di daerah Lebih dari Rs.1000/0 0 0 0 100% 100% perdesaan. Keterangan: BPL = below poverty line; APL = above poverty line; 1 US$ = 40Rs Beberapa komponen dan kegiatan dari pelak sanaan program TSC adalah sebagai berikut: e. Kompleks Sanitary Masyarakat; merupakan suatu a. Kegiatan awal. Pada awal pelaksanaan program TSC, kumpulan dari sarana jamban yang ditempatkan yang dilakukan adalah survey pendahuluan untuk pada lokasi dimana jamban keluarga tidak mungkin menilai status sanitasi dan praktek hygine, kebiasaan dibangun, seperti tempat umum, pasar dan tempatmasyarakat dan kebutuhan masyarakat terhadap tempat lain dimana masyarakat seringkali berkumpul. peningkatan kualitas sanitasi, dan sebagainya. Tujuan pembangunan kompleks ini adalah untuk b. Kegiatan IEC. Komponen Information, education and mengajarkan masyarakat mengenai praktek PHBS. communication (IEC) ini bertujuan untuk menciptakan f. Sanitasi sekolah dan pendidikan perilaku hidup kebutuhan fasilitas jamban di daerah perdesaan bagi bersih dan sehat. Anak-anak sangat terbuka terhadap rumah tangga, sekolah maupun PAUD (pendidikan pemikiran baru, sedangkan sekolah/PAUD merupakan anak usia dini). Setiap district harus memiliki detail institusi yang tepat untuk mengenalkan perubahan rencana kerja IEC yang memuat strategi untuk perilaku, pola pikir dan kebiasaan anak-anak dari memotivasti masyarakat agar dapat mengadopsi buang air besar sembarangan hingga menggunakan perilaku hygiene sebagai jalan hidup sehingga dapat toilet melalui motivasi dan pendidikan. Berdasarkan membangun dan memelihara seluruh fasilitas yang alasan tersebut maka sanitasi sekolah merupakan terbangun melalui program TSC ini. bagian dari setiap proyek TSC. Tidak hanya c. Pusat penjualan dan produksi sarana sanitasi perdesaan pembangunan toilet pada setiap (Rural Sanitary Marts and production centres). Rural sekolah, Proyek TSC

53

Juni 2010
juga menyediakan toilet lelaki dan perempuan secara terpisah. Biaya pembangunan sekolah disediakan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan Guru/Orang Tua/Kelompok Masyarakat dengan perbandingan 60:30:10. Selain pembangunan jamban di sekolah, proyek TSC juga melatih pendidikan kesehatan setidaknya satu orang guru agar dapat mengajarkan kepada anak-anak melalui kegiatan yang menarik. dan bio-digester. Demikian pula dengan sekolah, anganwari (PAUD/pendidikan anak usia dini) dan tempat-tempat umum. Bahkan, karena masyarakat merasa pentingnya kepemilikan jamban yang dilengkapi dengan unit pengolah air limbah, maka ada yang membangun cubluk dibawah dapur miliknya karena ketidaksediaan lahan yang cukup.

Kunjungan Lapangan Modul B household sanitation and home hygiene (sanitasi keluarga dan perubahan perilaku hidup bersih dan sehat). Tujuan dari modul ini adalah meningkatkan pemahaman 2 unit jamban keluarga yang dibangun bersebelahan. Bak air disimpan diluar jamban. (gambar kiri). Dapur salah seorang warga yang dibawahnya terdapat cubluk untuk mengolah limbah peserta terhadap program sanitasi domestik (gambar kanan). nasional, yang bertujuan untuk memotivasi setiap rumah tangga di perdesaan untuk Peningkatan kualitas sarana jamban juga terlihat di memiliki sarana jamban dan mengadopsi perubahan lapangan. Sebuah keluarga pada awalnya memiliki jamban perilaku. Beberapa poin penting yang diharapkan dapat seadanya, dengan dinding jamban (super structure) terbuat dipahami adalah sebagai berikut: dari ilalang, tanpa atap (lihat gambar). Setelah memiliki l Strategi dan komponen kunci cukup dana, akhirnya keluarga tersebut membangun l Pasar sanitasi di desa (Rural Sanitation Mart) sebuah jamban baru, yang lebih dekat dengan lokasi l Penghargaan dan insentif rumah dan merupakan bangunan permanen. Keluarga l Pengaturan lembaga tersebut mengaku bahwa peningkatan kualitas jamban l Kegiatan-kegiatan yang inovatif pada pengelolaan ini sebagai simbol prestise bahwa mereka bisa memiliki persampahan dan air limbah, air minum dan jamban dengan kualitas yang lebih bagus. Karena letaknya konservasi energi. dekat dengan kebun sebagai tempat mereka bekerja, maka jamban non-permanen masih mereka gunakan. Lokasi Kunjungan Lapangan Target yang ingin dicapai adalah termotivasinya Beberapa lokasi yang didatangi adalah sebagai berikut: masyarakat terhadap perlaku hidup bersih dan sehat serta - State: Karnataka, Bangalore setiap rumah tangga dapat memiliki jamban tersendiri. l District Shimoga Kepemilikan tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa l Village Hadonalli penggunakan fasilitas skala bersama tidak mampu l Village Bheemanakone menjamin pengelolaan dan perawatan terhadap sarana l Village Heggodu - State: West Bengal, Kolkata 1 2 l District Purba Medinipur l Village Nirbhaypur l Village Podumkhana l Village Baroda l Village Tangrakhali Beberapa hal yang ditemui dilapangan: Setiap rumah tangga telah memiliki jamban yang dilengkapi dengan unit pengolah air limbah berupa cubluk (baik cubluk tunggal maupun cubluk kembar)

3
(1) Jamban rumah tangga dengan dinding permanen; (2) jamban di kebun; (3) jamban dengan dinding ilalang.

54

Juni 2010
jamban yang telah terbangun tersebut. Bahkan pengelolaan limbah cair bio-digester juga dimiliki oleh satu keluarga, walaupun sebagai input tidak hanya menggunakan limbah domestik (tinja manusia) melainkan kotoran hewan ternak, terutama sapi. butuhan dan ketersediaan pusat produksi IEC yang terdesain baik dan sesuai kondisi setempat l Keterlibatan semua pemangku kepentingan l Keterlibatan aktif wanita dan anak-anak l Peran kuat LSM l Pengujian kualitas air rutin l Tingkat melek huruf tinggi l Ketersediaan pilihan teknologi l Pilihan sumber pembiayaan tersedia l Pemantauan dan evaluasi di berbagai tingkatan l Pengelolaan pengetahuan yang memadai. Setiap desa memiliki sistem pendataan tersendiri sehingga terlihta perkembangan kondisi kesehatan masyarakat sebagai dampak dari pembangunan sarana jamban dan diterapkannya praktek hidup bersih dan sehat. l Upaya-upaya perbaikan kondisi sanitasi mulai diikutkan pada skema CDM (Clean Development Management) sehingga dari penjualan karbon didapatkan sumber pendanaan sebagai insentif bagi masyarakat. l Pengelolaan persampahan skala rumah tangga dilakukan dengan mengaitkan dengan kegiatan peningkatkan kondisi ekonomi masyarakat.
l

3
(1) Kompor gas yang menggunakan gas hasil pengolahan tinja, terlihat slang yang mengalirkan gas dari bio digester. (2) Tungku yang dilengkapi dengan pipa penyalur asap. (3) kumpulan kotoran ternak yang disimpan dibelakang jamban, dekat unit pengolahan limbah, yang akan diolah bersama limbah domestik. (4) Jamban yang dilengkapi dengan bio digester, terlihat pipa dan slang penyalur gas hasil pengolahan limbah.

Tidak hanya pembangunan fasilitas jamban, perilaku hidup bersih dan sehat juga diwujudkan dari pembuatan tungku masak sehat yang memungkinkan asap dari pembakaran tungku dapat dialirkan keluar ruangan. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara pada masyarakat, kesehatan keluarga terutama merupakan tanggung jawab ibu. Untuk itu, program TSC difokuskan pada kaum perempuan serta melibatkan anak-anak melalui pendidikan hygiene di sekolah-sekolah. Beberapa desa yang dikunjungi telah memperoleh Nirmal Gram Puraskar yang menunjukkan bahwa seluruh desa telah terbebas dari buang air besar sembarangan. Pembelajaran l Perencanaan terpadu; kebijakan dan rencana pelaksanaan yang jelas l Keinginan politik yang kuat l Komitmen dan kepemimpinan yang kuat termasuk keuangan pada semua tingkatan l Sistem insentif dan penganugerahan Nirmal Gram Puraskar (NGP) l Pasokan sesuai dengan permintaan; penciptaan ke-

Perlu ditingkatkan: l Antisipasi pertumbuhan penduduk yang tinggi l Akses ke toilet umum di sekitar tempat kerja l Kurang kepedulian terhadap konservasi sumber air l Memasukkan pengelolaan drainase l Peningkatan jangkauan penampungan air hujan l Limbah yang dihasilkan bio gas perlu diuji Pengelolaan Tinja Hewan l Hewan dalam rumah l Cubluk tunggal l Kualitas air tanah terganggu oleh teknologi sanitasi yang kurang tepat l Kekurangan fasilitas sanitasi sekolah Tindak Lanjut Yang terpenting dari ILE ini adalah upaya tindak lanjut yang akan dilaksanakan di Indonesia dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan air minum dan terutama- sanitasi bagi masyarakat. Upaya tindak lanjut yang dilakukan dapat berupa penyusunan kebijakan, penerapan strategi hingga penguatan kapasitas dari berbagai pelaku kepentingan.

55

JuniInfo 2010

Buku

Panduan untuk Multipihak,


ETIKA menyikapi sebuah kebijakan tentang air bersih, sanitasi dan kesehatan lingkungan, kerap terjadi dalam sebuah dialog berujung pada perbedaan pendapat serta cara pandang dalam menafsirkan sebuah kebijakan. Perbedaan cara pandang tersebut paling sering muncul diantara pemangku kepentingan seperti antara lembaga swadaya masyarakat, industri swasta, utilitas publik, serikat buruh, berbagai kelompok sipil dan pemerintah yang kemudian lebih sering berada di tengah dalam setiap perbedaan yang terjadi. Lewat buku bertajuk A Guide to Multistakeholder Work dengan sub judul Lesson from The Water Dialogues yang ditulis Hilary Coulby ini coba ditelusuri dan di cari pemecahannya apa dan bagaimana sejumlah pihak yang kerap berbeda pandangan ini baik LSM, sektor swasta, pemerintah dan utilitas publik lainnya dapat saling berkontribusi untuk mencapai sebuah tujuan mulia yaitu akses air bersih, dan sanitasi, yang terjangkau dan berkesinambungan dengan fokus pada kebutuhan masyarakat miskin. Buku ini menekankan bahwa dialog merupakan rintisan pendekatan yang transparan dan adil untuk penyusunan kebijakan. Satu diantara masalah paling krusial dalam dialog air dan sanitasi adalah dialog yang terjadi cenderung bersifat elitis, dalam arti tidak menyentuh akar rumput. Artinya mereka yang nota bene sangat membutuhkan sebagian besar tidak tersentuh. Hal ini karena dialog itu lebih banyak menggarap persoalan-

Sejumlah Pelajaran Berharga dari Dialog tentang Air Bersih

persoalan di seputar isu elitis dan normatif daripada isu kemanusiaan nyata yang dihadapi secara bersamasama oleh semua pemangku kepentingan soal AMPL. Akibatnya, masyarakat di akar rumput tidak pernah benar-benar merasakan manfaat dialog itu bagi kehidupan mereka. Dialog bersifat elitis, tidak searah dan sebangun bagi masyarakat awam adalah sebuah konsep yang terlalu muluk, dan tidak pernah memberikan kontribusi apapun bagi penyelesaian persoalan nyata yang menghimpit mereka. Kita seringkali lupa bahwa konflik air dan sanitasi yang terjadi tidak selalu dapat dijelaskan dengan melihat sebab yang bersifat kasat mata. Tak jarang konflik itu terjadi karena latar belakang ekonomi, politik atau sosiokultural tertentu. Persoalan kemiskinan, kecemburuan ekonomi, ketidakadilan perlakuan di bidang politik, pendidikan adalah sebagian dari masalah sosial yang dapat membawabawa nama air dan sanitasi untuk diseret ke dalam jebakan konflik. Jadi masalah kebijakan tentang air bersih dan sanitasi sebenarnya tidak selalu menjadi faktor utama penyebab konflik. Karena itulah dialog antarpemangku kepentingan tentang air dan sanitasi seharusnya juga menyentuh persoalan nyata di tengah masyarakat, bukannya terus berkutat di seputar isu elitis dan berbuntut kepentingan sesaat yang tak berkesudahan. Dialog Air (Water Dialog) Pada dasarnya buku ini merupakan rangkuman pembelajaran proses dialog diantara pemangku

56

Juni 2010
kepentingan di beberapa negara termasuk Indonesia, yang terjadi dalam periode sekitar 4 tahun sejak 2004-2008. Proses dialog ini difasilitasi oleh suatu forum Water Dialog yang berskala internasional. Hal menarik dari proses dialog ini karena melibatkan tiga pihak yang saling berbeda paham tentang penyediaan air minum. Di satu sisi terdapat LSM yang nota bene mengharamkan keterlibatan swasta, dan pihak swasta yang terlibat langsung sebagai penyedia air minum, serta pemerintah yang berfungsi sebagai regulator. Tahapan dialog, kumpulan inovasi serta pembelajaran yang terekam dalam proses dialog tersebut yang terjadi di beberapa negara kemudian dibukukan. Proses penyusunan buku ini sendiri melalui tahapan pengumpulan data, wawancara, dan diskusi yang kemudian dituangkan oleh penulisnya yang juga sekaligus menjadi koordinator internasional dari keseluruhan proses dialog ini. Kekuatan dari buku ini kemudian adalah karena disusun oleh penulis yang menjadi fasilitator proses dialog. Pembelajaran Sejumlah manfaat terpetik dari buku yang menjadi panduan untuk memecahkan persoalan air bersih dan sanitasi ini. Dalam buku setebal 107 halaman yang ditulis diatas kertas art paper ini memuat sejumlah hal antara lain; Pengalaman dialog skala nasional yang terjadi disejumlah tempat tentang air bersih dan sanitasi; Dasar bagi dialog skala nasional bagi sejumlah pemangku kepentingan AMPL yang akan mengarah pada pengembangan advokasi dan pesan komunikasi; Dasar diskusi pada tingkatan majelis internasional terutama menyangkut sengketa yang pelik; Kerangka kerja bagi pihak luar untuk memahami dialog tentang air dan sanitasi; Pentingnya proses dialog untuk donor, pihak swasta, lembaga swadaya masyarakat, pemerintah dan khalayak yang lebih luas. Melalui buku ini juga dipaparkan bagaimana dialog air bersih dan sanitasi memberikan kontribusi terhadap perdebatan yang sedang berlangsung dalam penyediaan air? Setiap negara telah mengadopsi sendiri kumpulan strategi dan pendekatan. Tulisan ini menyoroti inovasi yang berbeda pada tingkat negara yang akan menarik bagi masyarakat internasional: Membuat metode inovatif untuk penelitian berbasis konsensus pada persoalan partisipasi sektor swasta

(PSP) (Brazil) Mencoba memahami keterlibatan swasta dalam penyediaan air minum secara lebih baik melalui penyusunan Buku Putih Keterlibatan Swasta dalam Penyediaan Air Minum di Indonesia dan Studi Kasus Perbandingan Penyediaan Air Minum oleh PDAM dan Swasta (Indonesia) Peran penting yang dimainkan oleh penyedia air minum skala kecil (Uganda) Menciptakan forum baru untuk dialog (Filipina) Terlepas dari perbedaan paham yang kadangkadang cukup tajam diantara pemangku kepentingan, beberapa hal berhasil disepakati diantaranya pentingnya keterlibatan pemerintah dalam forum dialog seperti ini agar kesepakatan yang dicapai dapat menjangkau pengambil keputusan. Selain itu, masuknya berbagai pemangku kepentingan kunci yang diperlukan merupakan faktor yang menentukan. Ini tidak berarti bahwa semua kelompok harus terlibat tetapi setidaknya keterlibatan pemangku kepentingan utama sangat mendorong tercapainya konsensus penting diantara pemangku kepentingan. Terlepas dari beberapa kekurangan dari buku ini, namun keberadaannya setidaknya bisa membantu menjadi panduan bagi pemangku kepentingan yang ingin mengedepankan proses dialog dalam pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan di Indonesia [Eko/OM]

ISTIMEWA

57

JuniInfo 2010

Situs
Situs ini milik the ASCE Online Researh Library, yaitu suatu perpustakaan penelitian (research library) yang memiliki koleksi lebih dari 33.000 full text papers yang berasal dari ASCE Journals dan proceedings yang telah diterbitkan sejumlah 300.000 halaman dan setiap tahunnya sekitar 4.000 makalah baru ditambahkan. Jurnal yang terdapat di ASCE library antara lain: Journal of Water Resources and Planning Management, Journal of Waterway, Portal, Coast, and Ocean Engineering, Practice Periodical of Hazardous, Toxic, and Radioactive Waste Management, Journal of Hydrologic Engineering, Journal of Environmental Engineering, Journal of Irrigation and Drainage Engineering, Natural Hazard Review, dan lain sebagainya. Water Aid http://www.wateraid.org.uk ASCE Research Library scitation.aip.org/iro

Sejumlah Situs Penting Dunia soal AMPL


International Reference Centre (IRC) for Water and Sanitation. Sebuah portal atau Pusat Informasi Internasional yang khusus menangani masalah air bersih dan sanitasi. Sebagai sebuah portal dan pusat informasi hampir seluruh produk komunikasi publik terdapat dalam portal ini. Tidak itu saja, hasil penelitian dan kajian strategis juga disajikan. Portal yang berbasis di Belanda ini merupakan portal sanitasi dan air bersih paling banyak dikunjungi masyarakat dunia. Bahkan dapat dikatakan merupakan portal air dan sanitasi terbaik di dunia. Termasuk juga jika menyangkut manajemen pengetahuan. IWA Publishing Online http://www.iwaponline.com

Situs ini milik IWA Publishings Water and Wastewater Online Journal. Di dalam situs ini pengunjung dapat memperoleh jurnaljurnal yang berkaitan dengan air dalam berbagai topik seperti Journal of Hydroinformatics, Journal of Water and Health, Journal of Water Supply: Research and Technology-Aqua, Nordic Hydrology, Water Asset Management International, Water Intelligence Online, Water Practice and Technology, Water Policy, Water Research, Water Science and Technology, Water Science and Technology: Water Supply, Water Utility Management International. Disini pengunjung juga dapat mendaftarkan dirinya untuk berlangganan online jurnal yang ada.

Di dalam situs ini pengunjung dapat memperoleh berbagai macam materi edukasi seputar air yang diperuntukan bagi para guru, anak-anak dan masyarakat umum. Materi edukasi yang dapat diperoleh disini antara lain berupa film pendek, permainan, studi kasus, dan paket ajaran. Disini juga tersedia dokumen dan materi publikasi yang berkaitan dengan kebijakan dan program kerja di negara-negara tempat mitra mereka. WaterAid merupakan organisasi pemberi santunan yang bertujuan untuk membantu masyarakat terbebas dari kemiskinan dan penyakit yang diakibatkan oleh tidak terpenuhinya air bersih dan sanitasi yang baik di dalam kehidupan mereka sehari-hari. Visi dari WaterAid adalah terciptanya dunia yang mana masyarakat di dalamnya memiliki akses untuk mendapatkan air bersih dan sanitasi yang baik.

58

Pustaka AMPL
Majalah
Majalah Percik Edisik Khusus Sanimas Terbit Maret 2010

Juni 2010
Kebersihan). Penerbit: Asia-Waterlinks, USAID, 2009.

Info CD
CD Himpunan Peraturan Perundangan Mengenai Air Minum dan Penyehatan Lingkungan V.14.0610, Juni 2010 CD Data Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) Indonesia Juni 2010 CD Bangkik Basamo: Mambuek Rumah Ramah Gampo (Stand Up Together: Building Earthquake Safer Houses). CD Bangkit Bersama : Membuat Rumah Tahan Gempa CD ini berisi 2 film pendek di Nias and Simeulue Settlements Support Programme and Aceh Sanitation Assessment and Assistance Programme (ASAAP). Film ini menceritakan program bantuan UN-Habitat dalam pembangunan septic tank dan rumah pasca tsunami di Nias dan Aceh tahun 2004 lalu

Petujuk soal Air, Sanitasi, Higiene, dan Habitat di Lingkungan Lapas & Rutan. Penulis: Pier Giorgio Nemberini, penerbit: Jakarta Publishing, 2007.

Percik Yunior Edisi 15, Juni 2010 Kurangi & Pakai Lagi

Buku Pedoman 3R Berbasis Masyarakat Di Kawasan Permukiman. Penerbit: PU-Cipta Karya, 2008

Laporan
Data Perkembangan Pengelolaan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Seluruh Indonesia.

Petunjuk
Petunjuk 10-Langkah Program Promosi (Ringkasan: Layanan Air Membantu Profesional Meningkatkan Air, Sanitasi, dan Program

59