Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN ASMA BRONKHIAL

A. DEFINISI Asma bronkial merupakan suatu penyakit yang ditandai oleh tanggap reaksi yang meningkat dari trakhea dan bronki terhadap berbagai macam rangsangan yang manifestasinya berupa kesukaran bernapas, karena penyempitan yang menyeluruh dari saluran napas. Penyempitan ini bersifat dinamis dan derajad penyempitannya dapat berubah-ubah, baik secara spontan maupun karena pemberian obat-obatan. Kelainan dasarnya, tampaknya suatu perubahan status imunologis si penderita. (United States Nasional Tuberculosis Assosiation 1967). Asma didefinisikan sebagai suatu penyakit dari system pernafasan yang meliputi peradangan jalan nafas dan gejala-gejala bronkospasme yang bersifat reversible ( Craccett, Antoni 1997 ). Asma dapat didefinisikan sebagai kondisi bercirikan penyempitan saluran pernafasan atau sementara waktu yang biasanya tercermin pada penderita dalam bentuk nafas berbunyi yang terjadi sewaktu-waktu ( Sindair, Chris 1995 ).

B. ETIOLOGI Ada beberapa hal yang merupakan factor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma bronchial. a) Factor Predisposisi Genetic Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronchial jika terpapar faktor pencetus. Selain itu hipersensitifitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.

b) Faktor Presipitasi Allergen Dimana allergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu : 1) Inhalan, yang masuk melalui saluran pernafasan, contoh : debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi. 2) Ingestan, yang masuk melalui mulut, contoh : makanan dan obatobatan. 3) Kontaktan, yang masuk melalui kontak kulit, contoh : perhiasan logam dan jam tangan. c) Perubahan Cuaca Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadan serangan berhubungan dengan musim, seperti musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu. d) Stress Stress/gangguan emosi dapat menjadi serangan asma, selain itu juga memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang sudah timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguan emosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum teratasi maka gejala asmanya belum bisa diobati. e) Lingkungan Kerja Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan, industry tekstil, pabrik abses, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti. f) Olahraga/aktivitas jasmani yang berat

Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktivitas jasmani atau olahraga yang berat. Serangan asma aktivitas yang berat biasanya terjadi segera setelah aktivitas tersebut.

C. PATHOPHYSIOLOGI Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang

menyebabkan sukar bernafas. Penyebab umum adalah hipersensitifitas bronkhiolus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : Seorang alergi mempunyai kecendrungan untuk membentuk sejumlah anti bodi Ig E abnormal dalam jumlah besar dan anti bodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya. Pada asma, anti bodi ini terutama melekat pada sel masit yang terdapat pada interstitial paru yang berhubungan erat dengan bronkhiolus dan bronkhiolus kecil. Bila seseorang menghirup allergen mala anti bodi Ig E orang tersebut meningkat, allergen berinteraksi dengan antibody yang telah melekat sel masit dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamine zat ini yang berinteraksi lambat ( yang merupakan leukotrient ), factor kemotatik dan eusinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari semua factor-faktor ini akan menghasilkan edema local pada dinding bronkhiolus kecil, maupun sekresi mucus yang kental pada lumen bronkhiolus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebebkan tahanan saluran nafas menjadi sangat meningkat. Pada asma, diameter bronkhiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama ekspirasi paksa menekan bagian luar bronkhiolus. Karena bronkhiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama saat ekspirasi. Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan anekdot tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispneu. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest.

D. SKEMA PATHOPHYSIOLOGI Alergen atau Antigen yang telah terikat oleh IgE yang menancap pada permukaan sel mast atau basofil

Lepasnya macam-macam mediator dari sel mast atau basofil Kontraksi otot polos Spasme otot polos, sekresi kelenjar bronkus meningkat Penyempitan/obstruksi proksimal dari bronkus kecil pada tahap inspirasi dan ekspirasi

Edema mukosa bronkus Keluarnya sekrit ke dalam lumen bronkus Sesak napas Tekanan partial oksigen di alveoli menurun Oksigen pada peredaran darah menurun

Hipoksemia

CO2 mengalami retensi pada alveoli Kadar CO2 dalam darah meningkat yang memberi rangsangan pada pusat pernapasan

Hiperventilasi

E. MANIFESTASI KLINIS Biasanya pada penderita yang Sedang bebas serangn tidak ditemukan gejala klinis, tetapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan dalam, gelisah, duduk dengan menyangga ke depan serta tanpa otot-otot pernafasan bekerja dengan keras.

Gejala klasik dari asma bronchial ini adalah sesak nafas, mengi, nyeri dada. Gejalagejala itu tidak selalu dijumpai bersamaan.pada serangan asma yang lebih berat, gejala-gejala yang timbul makin banyak, antara lain : sileut chest, sianosis, gangguan kesadaran, hyperinfasi dada, takikardi dan pernafasan cepat dangkal. Serangan asma sering kali terjad pada malam hari. F. TEST DIAGNOSTIK a) Pemeriksaan spinometri. Pemeriksaan ini dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator aerosol golongan adrenergik. Peningkatan FEV atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma. b) Tes provokasi brokial. Dilakukan jika pemeriksaan spinometri internal. Penurunan FEV, sebesar 20% atau lebih setelah tes provokasi dan denyut jantung 80-90 % dari maksimum di anggap bermakna bila menimbulkan penurunan PEFR 10 % atau lebih. c) Pemeriksan tes kulit. Untuk menunjukan adanya antibodi IgE hipersensitif yang spesifik dalam tubuh. d) Laboratorium. (1) Analisa gas darah. Hanya di lakukan pada serangan asma berat karena terdapat hipoksemia, hyperkapnea, dan asidosis respiratorik. (2) Sputum. Adanya badan kreola adalah karakteristik untuk serangan Asthma yang berat, karena hanya reaksi yang hebat saja yang menyebabkan transudasi dari adema mukasa, sehingga terlepaslah sekelompok sel sel epitel dari perlekatannya. Peawarnaan gram penting untuk melihat adanya bakteri, diikuti kultur dan uji resistensi terhadap beberapa antibiotik.

(3) Sel eosinofil Pada penderita status asthmatikus sel eosinofil dapat mencapai 1000 1500 /mm3 baik asthma Intrinsik ataupun extrinsik, sedangkan hitung sel eosinofil normal antara 100-200/mm3. Perbaikan fungsi paru disertai penurunan hitung jenis sel eosinofil menunjukkan pengobatan telah tepat. (4) Pemeriksaan darah rutin dan kimia Jumlah sel leukosit lebih dari 15.000 terjadi karena adanya infeksi. SGOT dan SGPT meningkat disebabkan karena kerusakkan hati akibat hipoksia atau hiperkapnea. e) Radiologi Pemeriksaan radiologi dilakukan untuk menyingkirkan adanya proses patologik diparu atau komplikasi asma seperti pneumothorak,

pneumomediastinum, atelektosis dan lain lain. f) Elektrokardiogram Perubahan EKG didapat pada 50% penderita Status Asthmatikus, ini karena hipoksemia, perubahan pH, hipertensi pulmunal dan beban jantung kanan . Sinus takikardi sering terjadi pada asma.

G. ASSESSMENT ( Pengkajian Keperawatan ) 1. Anamnesis. Anamnesis pada penderita asma sangat penting, berguna untuk mengumpulkan berbagai informasi yang diperlukan untuk menyusun strategi pengobatan. Gejala asma sangat bervariasi baik antar individu maupun pada diri individu itu sendiri (pada saat berbeda), dari tidak ada gejala sama sekali sampai kepada sesak yang hebat yang disertai gangguan kesadaran. Keluhan dan gejala tergantung berat ringannya pada waktu serangan. Pada serangan asma bronkial yang ringan dan tanpa adanya komplikasi, keluhan dan

gejala tak ada yang khas. Keluhan yang paling umum ialah : Napas berbunyi, Sesak, Batuk, yang timbul secara tiba-tiba dan dapat hilang segera dengan spontan atau dengan pengobatan, meskipun ada yang berlangsung terus untuk waktu yang lama. 2. Pemeriksaan Fisik. Berguna selain untuk menemukan tanda-tanda fisik yang mendukung diagnosis asma dan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain, juga berguna untuk mengetahui penyakit yang mungkin menyertai asma a. Sistim Pernapasan: Batuk mula-mula kering tidak produktif kemudian makin keras dan seterusnya menjadi produktif yang mula-mula encer kemudian menjadi kental. Warna dahak jernih atau putih tetapi juga bisa kekuningan atau kehijauan terutama kalau terjadi infeksi sekunder. Frekuensi pernapasan meningkat Otot-otot bantu pernapasan hipertrofi. Bunyi pernapasan mungkin melemah dengan ekspirasi yang memanjang disertai ronchi kering dan wheezing. Ekspirasi lebih daripada 4 detik atau 3x lebih panjang daripada inspirasi bahkan mungkin lebih. Pada pasien yang sesaknya hebat mungkin ditemukan: Hiperinflasi paru yang terlihat dengan peningkatan diameter

anteroposterior rongga dada yang pada perkusi terdengar hipersonor. Pernapasan makin cepat dan susah, ditandai dengan pengaktifan otototot bantu napas (antar iga, sternokleidomastoideus), sehingga tampak retraksi suprasternal, supraclavikula dan sela iga serta pernapasan cuping hidung. Pada keadaan yang lebih berat dapat ditemukan pernapasan cepat dan dangkal dengan bunyi pernapasan dan wheezing tidak terdengar(silent

chest), sianosis. b. Sistem Kardiovaskuler: Tekanan darah meningkat, nadi juga meningkat Pada pasien yang sesaknya hebat mungkin ditemukan: takhikardi makin hebat disertai dehidrasi. Timbul Pulsus paradoksusdimana terjadi penurunan tekanan darah sistolik lebih dari 10 mmHg pada waktu inspirasi. Normal tidak lebih daripada 5 mmHg, pada asma yang berat bisa sampai 10 mmHg atau lebih. Pada keadaan yang lebih berat tekanan darah menurun, gangguan irama jantung. c. Sistem persarafan: Komposmentis Pada pasien yang sesaknya hebat mungkin ditemukan: cemas/gelisah/panik sukar tidur, banyak berkeringat dan susah berbicara

Pada keadaan yang lebih berat kesadaran menurun, dari disorientasi dan apati sampai koma. Pada pemeriksaan mata mungkin ditemukan miosis dan edema papil.

H. NURSING DIGNOSTIK a. Ketidak efektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan sekresi kental peningkatan produksi mukus dan bronkospasme. b. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penyempitan jalan nafas. c. Ansietas yang berhubungan dengan sulit bernafas dan rasa takut sufokasi. d. Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan retensi CO2, peningkatan sekresi, peningkatan kerja pernafasan dan proses penyakit. e. Resiko tinggi gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan laju metabolik tinggi, dipsnea saat makan dan ansietas.

f. Resiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan retensi sekresi, batuk tidak efektif dan imobilisasi.

I. INTERVENSI KEPERAWATAN a. Ketidak efektifan jalan nafas yang berhubungan dengan sekresi peningkatan produksi mukus bronkospasme. 1) Tujuan Jalan nafas menjadi efektif. 2) Kriteria hasil (a) menentukan posisi yang nyaman sehingga memudahkan peningkatan pertukaran gas. (b) dapat mendemontrasikan batuk efektif (c) dapat menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi (d) tidak ada suara nafas tambahan 3) Rencana tindakan (a) Kaji warna, kekentalan dan jumlah sputum R/ Karakteristik sputum dapat menunjukkan berat ringannya obstruksi (b) Instruksikan klien pada metode yang tepat dalam mengontrol batuk. R/ Batuk yang tidak terkontrol melelahkan dan inefektif serta menimbulkan frustasi (c) Ajarkan klien untuk menurunkan viskositas sekresi R/ Sekresi kental sulit untuk dikeluarkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus yang dapat menimbulkan atelektasis. (d) Auskultasi paru sebelum dan sesudah tindakan R/ Berkurangnya suara tambahan setelah tindakan menunjukan kental

keberhasilan. (e) Lakukan fisioterapi dada dengan tehnik drainage postural,perkusi dan fibrasi dada. R/ Fisioterpi dada merupakan strategi untuk mengeluarkan sekret.

(f) Dorong dan atau berikan perawatan mulut R/ Hygiene mulut yang baik meningkatkan rasa sehat dan mencegah bau mulut. b. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penyempitan jalan nafas. 1) Tujuan Pola nafas menjadi efektif 2) Kriteria hasil a) Menunjukkan pola nafas efektif dengan frekuensi dalam rentang normal. b) Berpartisipasi dalam aktivitas/perilaku meningkatkan fungsi paru. 3) Rencana Tindakan a) Kaji frekuensi pernafasan R/ kedalaman pernafasan berpariasi tergantung derajat gagal nafas. b) Kaji bunyi nafas tambahan R/ ronchi dan mengi menyertai obstruksi jalan nafas. c) Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi R/ duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan. d) Observasi pola batuk R/ kongesti alveolar mengakibatkan batuk kering/iritasi. e) Ajarkan pasien teknik nafas dalam dan batuk efektif R/ pasien dapat membuang secret dengan baik. f) Berikan O2 tambahan R/ memaksimalkan bernafas. g) Kaji tanda-tanda vital R/ mengetahui keadaan umum pasien. c. Ansietas yang berhubungan dengan sulit bernafas dan rasa takut sufokasi. 1) Tujuan Asietas berkurang atau hilang. 2) Kriteria hasil

(a) Klien mampu menggambarkan ansietas dan pola

fikirnya.

(b) Munghubungkan peningkatan psikologi dan kenyaman fisiologis. (c) Menggunakan mekanisme koping yang efektif dalam menangani ansietas. 3) Rencana tindakan. (a) Kaji tingkat ansietas yang dialami klien. R/ Mengetahui tinggkat kecemasan untuk memudahkan dalam perencanaan tindakan selanjutnya. (b) Kaji kebiasaan keterampilan koping. R/ Menilai mekanisme koping yang telah dilakukan serta menawarkan alternatif koping yang bisa di gunakan. (c) Beri dukungan emosional untuk kenyamanan dan ketentraman hati. R/ Dukungan emosional dapat memantapkan hati untuk mencapai tujuan yang sama. (d) Implementasikan teknik relaksasi. R/ Relaksasi merupakan salah satu metode menurunkan dan

menghilangkan kecemasan (e) Jelaskan setiap prosedur tindakan yang akan dilakukan. R/ Pemahaman terhadap prosedur akan memotifasi klien untuk lebih kooperatif. (f) Pertahankan periode istirahat yang telah di rencanakan. d. Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan retensi CO2, peningkatan sekresi, peningkatan pernafasan, dan proses penyakit. 1) Tujuan Klien akan mempertahankan pertukaran gas dan oksigenasi adekuat. 2) Kreteria hasil (a) Frekuensi nafas 16 20 kali/menit (b) Frekuensi nadi 60 120 kali/menit (c) Warna kulit normal, tidak ada dipnea dan GDA dalam batas normal

3) Rencana tindakan (a) Pantauan status pernafasan tiap 4 jam, hasil GDA, pemasukan dan haluaran. R/ Untuk mengidentifikasi indikasi kearah kemajuan atau penyimpangan dari hasil klien (b) Tempatkan klien pada posisi semi fowler R/ Posisi tegak memungkinkan expansi paru lebih baik (c) Berikan terapi intravena sesuai anjuran R/ Untuk memungkinkan rehidrasi yang cepat dan dapat mengkaji keadaan vaskular untuk pemberian obat obat darurat. (d) Berikan oksigen melalui kanula nasal 4 l/mt selanjutnya sesuaikan dengan hasil PaO2 R/ Pemberian oksigen mengurangi beban otot otot pernafasan (e) Berikan pengobatan yang telah ditentukan serta amati bila ada tanda tanda toksisitas R/ Pengobatan untuk mengembalikan kondisi bronkus seperti kondisi sebelumnya e. Resiko tinggi gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan laju metabolik tinggi, dipsnea saat makan dan ansietas. 1) Tujuan Pemenuhan kebutuhan nutrisi terpenuhi 2) Kriteria hasil Klien menghabiskan porsi makan di rumah sakit Tidak terjadi penurunan berat badan

3) Rencana tindakan a) Mengidentifikasi faktor yang dapat menimbulkan nafsu makan menurun misalnya muntah dengan ditemukannya sputum yang banyak ataupun dipsnea. R/ Merencanakan tindakan yang dipilih berdasarkan penyebab masalah.

b) Anjurkan klien untuk oral hygiene paling sedikit satu jam sebelum makan. R/ Dengan perawatan mulut yang baik akan meningkatkan nafsu makan. c) Lakukan pemeriksaan adanya suara perilstaltik usus serta palpasi untuk mengetahui adanya masa pada saluran cerna R/ Mengetahui kondisi usus dan adanya dan konstipasi. d) Berikan diit TKTP sesuai dengan ketentuan R/ Memenuhi jumlah kalori yang dibutuhkan oleh tubuh. e) Bantu klien istirahat sebelum makan R/ Kelelahan dapat menurunakn nafsu makan. f) Timbang berat badan setiap hari R/ Turunnya berat badan mengindikasikan kebutuhan nutrisi kurang. f. Resiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan retensi sekresi, batuk tidak efektif dan imobilisasi. 1) Tujuan Klien tidak mengalami infeksi nosokomial 2) Kriteria hasil Tidak ada tanda tanda infeksi 3) Rencana tindakan (a) Monitor tanda tanda infeksi tiap 4 jam. R/ Adanya rubor, tumor, dolor, kalor menunjukan tanda tanda infeksi (b) Gunakan teknik steril untuk perawatan infus. atau tidakan infasif lainnya. R/ Teknik steril memutus rantai infeksi nosokomial (c) Pertahankan kewaspadaan umum. R/ Kewaspadaan memberikan persiapan yang cukup bagi perawat untuk melakukan tindakan bila ada perubahan kondisi klien. (d) Inspeksi dan catat warna, kekentalan dan jumlah sputum. R/ Sputum merupakan media berkembangnya kuman. (e) Berikan nutrisi yang adekuat R/ Nutrisi yang adekuat memberikan peningkatan daya tahan tubuh.

(f) Monitor sel darah putih dan laporkan ketidak normalan R/ Sel darh putih yang meningkat menunjukan kemungkinan infeksi. (g) Berikan antibiotik sesuai dengan indikasi R/ Tindakan pencegahan terhadap kuman yang masuk tubuh.

J. EVALUASI Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan yang merupakan kegiatan sengaja dan terus menerus yang melibatkan klien perawat dan anggota tim kesehatan lainnya Tujuan evaluasi adalah : a. Untuk menilai apakah tujuan dalam rencana perawatan tercapai atau tidak b. Untuk melakukan pengkajian ulang Untuk dapat menilai apakah tujuan ini tercapai atau tidak dapat dibuktikan dengan prilaku klien a. Tujuan tercapai jika klien mampu menunjukkan prilaku sesuai dengan pernyataan tujuan pada waktu atau tanggal yang telah ditentukan b. Tujuan tercapai sebagian jika klien telah mampu menunjukkan prilaku, tetapi tidak seluruhnya sesuai dengan pernyataan tujuan yang telah ditentukan c. Tujuan tidak tercapai jika klien tidak mampu atau tidak mau sama sekali menunjukkan prilaku yang telah ditentukan.

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marylin. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. Jakarta : EGC Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, jilid 2. Medica Aesculapius

Beri Nilai