Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PRAKTEK KERJA BATU

Disusun oleh :
BAGUS AJI N. 1 MRK 2 NIM. 0941320021

JURUSAN TEKNIK SIPIL

POLITEKNIK NEGERI MALANG 2009

LEMBAR PENGESAHAN
Yang bertanda tangan dibawah ini, para instruktur atau pembimbing yang telah memberikan persetujuan atas laporan praktek kerja batu yang disusun oleh :

Nama NIM Kelas

: BAGUS AJI N. : 0941320021 : 1 MRK 2

Malang, 07 Desember 2009 Menyetujui, DosenPembimbing

MOH. CHARITS, ST. NIP. 19610331 199003 1 001

KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan Praktek Kerja Batu tepat pada waktunya. Laporan ini dibuat agar dapat melengkapi tugas praktek kerja batu dan untuk memberikan informasi dan pengetahuan terutama pada para pembaca. Semoga dapat menjadi wawasan yang bermanfaat dalam pekerjaan di lapangan.

Dengan telah selesainya penyusunan laporan ini, penulis menyampaikan terima kasih kepada para instruktur dan pembimbing yang telah mengajarkan materi pada saat di bengkel maupun saat pengarahan teori di kelas. Terima kasih juga kami sampaikan kepada para penulis buku yang kami gunakan sebagai sumber penulisan, serta semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan ini.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih belum sempurna dan perlu perbaikan. Oleh karena itu, kami mohon saran dan kritik dari para instruktur maupun pembaca pada umumnya.

Malang, Desember 2009

Penulis.

DAFTAR ISI
Halaman Judul ............................................................................................... i Lembar Pengesahan ......................................................................................... ii Kata Pengantar ................................................................................................. iii Daftar Isi........................................................................................................... iv BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang ........................................................................... 1 I.2. Tujuan ........................................................................................ 1 I.3 Manfaat ....................................................................................... 2 I.4 Batasan Masalah ........................................................................ 2 I.5 Metode ........................................................................................ 2 BAB II DASAR TEORI................................................................................ 4 BAB III PERALATAN DAN BAHAN III.1. Peralatan .................................................................................. 6 III.2. Bahan-bahan ........................................................................... 13 BAB IV PEMASANGAN IV.1. Pembuatan Spesi ..................................................................... 18 IV.2. Pemasangan Bata .................................................................... 18 IV.3. Plesteran Dinding.................................................................... 24 IV.4. Pemasangan Keramik Lantai dan Dinding ............................ 25 BAB V PERHITUNGAN BAHAN ................................................................ 27 BAB VI PENUTUP VI.1. Kesimpulan ............................................................................. 29 VI.2. Saran ....................................................................................... 30

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG Dewasa ini zaman mengalami perubahan dan perkembangan yang semakin maju. Sejak dahulu pun sudah ada pembangunan atau adanya konstruksi bangunan yang menggunakan ilmu kerja batu. Di zaman sekarang ini sudah tidak bisa lepas dari masyarakat dan banyak mengalami kemajuan. Oleh karena itu, sekarang ini banyak sekali diperlukan seseorang yang terampil dan professional untuk kerja batu. Maka para mahasiswa harus dilatih dan diajarkan untuk menjadi seorang engineer sipil yang professional dan handal dengan melalui praktek-praktek di bengkel. Tujuannya yaitu untuk melatih keterampilan para mahasiswa dalam praktek kerja batu, khususnya dalam merencanakan suatu konstruksi bangunan.

I.2. TUJUAN Tujuan praktek kerja batu antara lain sebagai berikut : Menguasai teknik kerja batu. Menjadikan individu yang terampil dan memberi pengajaran tentang cara kerja di lapangan. Mengetahui cara menggunakan alat dengan baik dan benar atau sesuai dengan fungsinya. Mengetahui kemampuan para mahasiswa dalam bekerja di lapangan. Mengetahui pentingnya keselamatan kerja.

I.3. MANFAAT Banyak sekali manfaat yang dapat kita peroleh dari praktek kerja batu antara lain : Mengetahui cara membuat konstruksi bangunan yang baik dan benar Mengetahui cara pasang rollag, pasangan
1

/2

bata, pasangan pilar,

plesteran, acian, pasang keramik dinding dan keramik lantai. Mempunyai wawasan dasar untuk menggunakan peralatan kerja batu. Mempunyai wawasan dasar kerja batu untuk di lapangan. Mengetahui cara yang benar dalam memilih bahan bangunan yang bagus dan berkualitas

I.4. BATASAN MASALAH 1. Pekerja Pekerjaan batu tidak boleh dikerjakan oleh orang yang bukan ahlinya. 2. Bahan Apabila bahan campuran sudah ditetapkan, maka tidak boleh dilebihkan atau dikurangi. 3. Lokasi Perencanaan Kerjaan Suatu pekerjaan harus sesuai dengan rencana atau lokasi pekerjaan 4. Keselamatan Kerja Mempelajari dan memperhatikan tentang keselamatan kerja melalui pengalaman-pengalaman yang pernah dialami maupun diperolehnya. 5. Kebersihan Lokasi Kerja Tempat kerja yang berserakan peralatannya, material dan lainnya sungguh merupakan suatu hal yang sangat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

I.5. METODE

Metode yang digunakan dalam praktek kerja batu kali ini menggunakan metode manual yaitu bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan kita dalam pemasangan batu bata, plester, acian secara manual denganbaik dan benar, sehingga kita dapat mengerjakan dengan baik di lapangan asal dengan pencampuran material yang benar dan sesuai.

BAB II

DASAR TEORI
Praktek batu adalah sebagian pelaksanaan dari suatu pekerjaan bangunan. Pasa umumnya telah diketahui bahwa dalam melaksanakan pekerjaan suatu bangunan terutama dalam bangunan gedung. Dikenal beberapa macam jenis pekerjaan, antara lain : 1. Batu 2. Beton 3. Besi 4. Kayu, dll

Pekerjaan batu meliputi semua kegiatan pekerjaan yang menggunakan bahan dari batu atau semua pekerjaan yang ada hubungannya dengan batu, misalnya : 1. Pengukuran 2. Pasangan 3. Finishing

Teori yang digunakan dalam kerja bengkel adalah teori keselamatan kerja. Pengertian dari keselamatan kerja itu sendiri adalah tata cara bagaimana kita dapat menjaga keselamatan kerja diri maupun berkelompok pada saat melaksanakan kerja. Perlangkapan yang dapat digunakan untuk melindungi diri pada saat bekerja antara lain : 1. Helm, digunakan untuk melindungi kepala dari runtuhan atau rontokan benda pada waktu bekerja. 2. Sepatu boot, digunakan untuk melindungi kaki dari paku atau benda-benda tajam lainnya.

3. Sarung tangan, digunakan untuk melindungi tangan dari bahan semen atau kapur 4. Masker, digunakan untuk menutup hidung dari debu atau abu pada saat menuang kapur ataupun bahan lainnya.

Apabila terjadi kecelakaan pada saat bekerja, kita dapat segera melakukan pertolongan pertama dengan P3K dan melaporkan kejadian pada instruktur, pelaksana ataupun mandor pada saat berada di lapangan. Perlengkapan yang terdapat pada kotak P3K antara lain : 1. Obat merah 2. Perban 3. Alkohol 4. Kapas, dll.

Apabila terjadi kebakaran di tempat kerja, langkah-langkah yang dapat kita ambil antara lain : 1. Dengan menggunakan karung basah 2. Dengan menggunakan tabung pemadam kebakaran 3. Dengan menggunakan pasir

Langkah-langkah di atas bertujuan agar pekerja dapat meminimalkan terjadinya kecelakaan maupun kebakaran pada saat bekerja. Meskipun demikian, para pekerja tetap dituntut untuk selalu waspada dan mengutamakan keselamatan kerja.

BAB III

PERALATAN DAN BAHAN

III.1. PERALATAN Dalam pemasangan bata, plesteran dan pemasangan ubin banyak sekali peralatan yang kita gunakan, antara lain adalah : 1. Sendok Spesi Alat ini terbuat dari plat baja tipis dengan tangkai dari kayu. Banyak sekali macam sendok spesi, ada yang berbentuk segitiga dan ada juga yang berbentuk oval. Fungsi : untuk mengambil spesi dari tempat spesi pada saat pemasangan bata.

2. Sekop Alat ini terbuat dari plat baja dan diberi tangkai dari kayu. Fungsi : untuk mengaduk spesi, menggali tanah dan sebagainya. 3. Kotak spesi Kotak spesi terbuat dari plat besi dan berbentuk trapezium. Fungsi : untuk meletakkan spesi yang sudah diaduk dan siap dipasang.

4. Unting - unting Unting-unting terbuat dari kuningan, besi ataupun timah. Fungsi : sebagai pengganti waterpass vertical yaitu untuk mengukur

ketegakkan pada pasangan bata.

5. Line Bobbyn Alat ini terbuat dari plat baja tipis yang berbentuk segi tiga. Line Bobbyn terdiri dari dua buah plat baja yang dihubungkan dengan benang.

10

Fungsi : digunakan untuk garis petunjuk pemasangan batu bata. Pemakaian alat ini dianggap lebih efisien bila dibandingkan dengan pemakaian paku, karena kedudukan alat ini mudah diatur.

6. Palu Pemotong Baja Alat ini terbuat dari baja dengan tangkai yang terbuat dari kayu. Fungsi : sebagai pemotong bata, selain itu alat ini juga digunakan untuk memukul paku.

7. Waterpass Terbuat dari aluminium, dalam waterpass terdapat cairan encer yang ada gelembung udara di dalamnya. Apabila pasangan sudah datar dan tegak, maka gelembung udara tepat berada di tengah-tengah. Fungsi : untuk mengukur kedataran dan ketegakan pasangan.

8. Siku-siku Besi Alat ini terbuat dari plat baja atau besi dengan membentuk sudut siku-siku dan dilengkapi dengan garis-garis ukuran dalam satuan cm. Fungsi : Digunakan untuk mengukur kesikuan pertemuan dinding dalam pemasangan bata.

9. Ember Ember ada yang terbuat dari plat baja tipis, dan ada juga yang terbuat dari plastik. Fungsi : untuk mengambil air, menakar pasir atau semen, membawa adukan dan lain-lain.

10. Tongkat Ukur Alat ini terbuat dari kayu empat persegi panjang yang sisinya datar dan lurus.

11

Fungsi : untuk menentukan panjang pasangan dan juga berguna untuk pembantu waterpass dalam melevel pasangan.

11. Straight Edge Terbuat dari kayu yang berbentuk empat persegi panjang. Fungsi : untuk mendatarkan plesteran.

12. Meteran Ada yang terbuat dari plat baja tipis dada juga yang terbuat dari kayu yang disebut meteran lipat. Pada meteran tercantum garis ukuran dalam millimeter, sentimeter dan inchi. Fungsi : digunakan untuk mengukur panjang, lebar, tebal dan tinggi.

13. Pensil Pensil ini biasanya terbuat dari kayu. Fungsi : digunakan untuk menandai suatu tempat yang diperlukan dalam pengukuran.

14. Jointer Jointer ini terbuat dari besi. Fungsi : digunakan untuk membersihkan siar pada pasangan bata.

15. Ruskam kayu dan besi Ruskam ini terbuat dari kayu atau besi yang diberi tangkai pada belakangnya. Fungsi : untuk meratakan plesteran dinding dengan jalan menggosokgosokkannya pada plesteran.

16. Ayakan Pasir Ayakan terbuat dari kawat yang diberi kerangka kayu dan berbentuk empat persegi panjang.

12

Fungsi : untuk menyaring pasir, semen, kapur atau bahan lainnya.

17. Sikat Fungsi : untuk membersihkan permukaan pasangan sebelum di plester.

18. Gerobak Dorong Fungsi : digunakan untuk mengangkut bata, semen, kapur dan lainnya.

Gambar-gambar

13

14

15

16

III.2. BAHAN-BAHAN Bahan yang digunakan dalam pemasangan bata, plesteran dan ubin bermacam-macam, antara lain : 1. Batu Bata Bata terbuat dari : Tanah liat. Air. Kemudian dibakar dengan sekam atau kayu. Ciri-ciri bata yang baik : Pembakarannya matang / sempurna (paling baik adalah dibakar dengan kayu). Ukurannya tepat 6x13x27cm atau 5x11x23cm. Sudutnya berbentuk siku-siku. Mempunyai warna yang seragam. Saat dipukul suaranya nyaring. Pada saat dihancurkan, nilai kehancurannya minimum. Tidak terdapat banyak lubang. Permukaan rata, tidak bergelombang. Cara penyimpanan bata yang baik : Simpan di tempat yang tidak terlalu lembab ataupun kering. Sebelum bata ditumpuk sebaiknya diberi alas terlebih dahulu agar air pada tanah tidak terserap oleh bata tersebut. Sebab bata mempunyai daya serap tinggi. Bata disusun berselang-seling agar tidak pecah atau retak, dan penyusunannya juga jangan terlalu tinggi (kira-kira 2 m) ini bertujuan agar mudah dalam pengambilannya. Pada bagian atas sebaiknya juga diberi tutup plastik atau terpal agar terlindung dari cuaca yang dapatmengurangi mutunya.

17

2. Pasir Cara mendapatkan pasir Pasir dapat kita peroleh dari sungai ataupun gunung.

Ciri-ciri pasir yang baik : Bersih. Keras. Susunan besar butir harus baik. Besar butiran maximum 5 mm. Kandungan lumpur / tanah liat max 5 %. Cara menentukan mutu pasir yang baik : Ambil pasir digenggaman kita kemudian kita lepaskan. Apabila banyak pasir yang masih menempel di tangan kita, maka pasir tersebut mengandung banyak lumpur dan tidak layak digunakan. Ambil beberapa contoh pasir, lalu dipanaskan. Apabila

menimbulkan bau yang menyengat berarti mengandung bahan organik, maka pasir tidak baik.

Fungsi pasir adalah sebagai bahan pengisi

Cara menyimpan pasir : Pasir sebaiknya diletakkan pada bak khusus. Jika tidak ada kita dapat memberi alas terlebih dahulu agar pasir tidak tercampur dengan tanah dan diwaktu pengambilannya juga mudah. Supaya pasir tidak berantakan, maka disamping-sampingnya dapat kita dampingi dengan bata.

3. Semen Bahan dasar semen : CaO (60-70%)

18

SiO2

(20-30%)

Al2O3 (5-10%) Fe2O3 (5-10%)

Fungsi semen adalah sebagai bahan pengikat atau perekat Sifat-sifat semen : Mudah mengeras bila terkena udara lembab / air Mudah dikerjakan (work ability) Kuat (strength) Ciri-ciri semen yang baik : Tidak menggumpal / tidak membatu / tidak mengeras Kering serta kantong sak tidak rusak Butiran masih halus

Cara menentukan mutu semen : Periksa kantong-kantong semen apakah kemasan masih utuh dan baik. Periksa isinya apakh masih halus atau sudah menggumpal Bila semen telah berumur lebih dari 3 bulan, mutunya harus diperiksa dengan cara buat lempengan kue adukan semen, setelah lempengan kue adukan berumur 24 jam lalu direbus selama 3 jam. Bila lempengan kue tersebut tidak retak maka semen masih bagus dan bias digunakan.

Cara menyimpan semen : Supaya semen tidak mengeras, maka harus disimpan pada ruangan khusus. Dindingnya dilapisi dengan kertas aspal, serta dipasang lantai yang tingginya 30 cm dari permukaan tanah agar udara di dalam ruangan tidak lembab. Sebaiknya semen yang jenisnya berbeda dipisah,

19

begitu pula dengan semen yang baru dating tidak boleh ditumpuk dengan semen yang telah lama disimpan.

4. Kapur Cara memperoleh kapur : Dapat kita peroleh dari gunung kapur

Fungsi kapur : Sebagai bahan pengikat Memudahkan pekerjaan Memperlambat proses pengerasan semen Mengurangi penyusutan air Ciri-ciri kapur yang baik : Harus terpadamkan dengan baik Membentuk tepung halus Dalam keadaan kering kadar air <10% Kadar bagian yang aktif tidak kurang dari 90% Butiran kasar <5% Cara menyimpan kapur : Kapur harus disimpan dalam ruangan tertutup untuk mencegah terserapnya air oleh kapur. Penyimpanan kapur hendaknya lebih tinggi dari permukaan banjir.

5. Air Fungsi air adalah untuk menghomogenkan bahan untuk pembuatan spesi. Air yang baik digunakan : Air bersih

20

Tidak berwarna Tidak berbau Bukan air laut (mengandung garam), karena dapat mengurangi kekuatan ikatan bata. Tidak berasa

21

BAB IV

PEMASANGAN
IV.1. PEMBUATAN SPESI Langkah-langkah pembuatan spesi adalah sebagai berikut : 1. Ayaklah pasir dan kapur terlebih dahulu. 2. Ukurlah pasir dan kapur dengan perbandingan 1 : 4 3. Kemudian masukkan satu persatu bahan tersebut ke dalam tempat pembuatan spesi. 4. Kemudian tambahkan air, jangan terlalu encer dan jangan terlalu kental (plastis). 5. Aduk dengan cangkul atau sekop sampai merata. 6. Kemudian pindahkan ke bak spesi dan siap digunakan.

IV.2. PEMASANGAN BATA

22

23

24

25

TAMPAK

TAMPAK

TAMPAK

TAMPAK

26

27

IV.3. PLESTERAN DINDING Langkah-langkah plesteran dinding adalah sebagai berikut : 1. Bersihkan permukaan dinding dengan sikat ijuk dari kotoran yang mudah lepas, siapkan Peralatan, Bahan dan Ukur Ruangan terhadap ketepatan ruangan (sikusiku => diagonal) dengan meteran. (lihat denah ruangan dibawah ini)

2. Periksa ketegakan pasangan dinding dengan unting-unting (lot / plumb bob) dan tandai dengan memasang benang lurus (ujung-ujungnya dipasang paku). 3. Pasang kepala plesteran dengan permukaan tegak lurus benang unting-unting selebar 2 - 5 ( umumnya 3 cm), setebal 1 - 2 cm, setinggi dari lantai (boleh dari plint) hingga setinggi dinding yang dipasang, bila untuk ruangan, kepala plesteran dari sudut dinding dengan jarak 20 cm, dan jarak interval 1 - 1,5 m.

4. Periksa kepala plesteran 3 selurus kepala plesteran 1 & 2 dengan menarik benang lurus.

5. Perciki permukaan dinding yang akan diplester dengan air, isikan bahan plesteran (adukan) dengan komposisi adukan yang dikehendaki, pada permukaan dinding dengan ketebalan lebih sedikit dari pada kepala plesteran.

28

6. Ratakan dan potong permukaan plesteran dengan menggunakan jidar atau tongkat kayu yang lurus dengan berpedoman pada permukaan kepala plesteran 1 & 3.

IV. 4. PEMASANGAN KERAMIK LANTAI DAN DINDING Cara pemasangan keramik lantai dan dinding : a. Pemasangan keramik lantai dan dinding sebaiknya pada tahap akhir, untuk menghindari kerusakan akibat pekerjaan yang belum selesai. b. Permukaan lantai/dinding yang akan dipasang keramik harus bersih, cukup kering dan rata air. c. Tentukan tulangan dengan mempertimbangkan tata letak ruangan / tangga / dinding yang ada. Pemasangan keramik lantai atau dinding dimulai dari tulangan ini. d. Sebelum dipasang, keramik lantai atau dinding agar direndam dalam air terlebih dahulu. e. Setiap jalur pemasangan sebaiknya ditarik benang dan rata air. f. Adukan semen untuk pemasangan keramik harus penuh, baik permukaan

29

dasar maupun dibadan belakang keramik lantai atau dinding yang terpasang. Perbandingan adukan dan ketebalan rata-rata yang dianjurkan adalah: - Untuk lantai, Semen : Pasir = 1:6, dengan ketebalan rata-rata : 2 - 4 cm - Untuk dinding, Semen : Pasir = 1:4, dengan ketebalan rata-rata : 2,0 cm g. Lebar nat yang dianjurkan, untuk lantai = 4 - 5 mm dan dinding = 2 mm, dengan campuran pengisi nat (Grout) semen atau bahan khusus yang ada dipasaran. Bagi area yang luas dianjurkan untuk diberi expansion joint. h. Khusus untuk dinding luar, harap diberi tali air per jarak tertentu dengan mem pertimbangkan desainnya, agar tidak menerima beban terlalu berat. i. Bersihkan segera bekas adukan/grout dari permukaan keramik, dapat digunakan bahan pembersih yang ada dipasar dengan kadar asam tidak lebih dari 5%, setelah itu segera bersihkan dengan air bersih. j. Karena sifat alamiah dari produk keramik, yang disebabkan proses pembakaran pada temperatur tinggi, dapat terjadi perbedaan warna dan ukuran, untuk ini periksa dan pastikan keramik lantai atau dinding yang akan dipasang mempunyai seri dan golongan ukuran yang sama.

30

BAB V

PERHITUNGAN BAHAN
Jumlah Bata Bata yang digunakan untuk kerja praktek lapangan kerja batu adalah bata lokal dengan ukuran tinggi 6cm, lebar 10cm dan panjang 21cm (6x10x21 cm). Kerja batu kali ini menghabiskan batu sebanyak : Dengan menggunakan perhitungan panjang = 132 cm = 1,32 cm tinggi = 80 cm = 0,8 cm 1m
2

= panjang x tinggi = 1,32 m x 0,8 m = 1,056 m2

1 m2

= 72 bata

Jumlah bata dapat dihitung melalui perbandingan :


1,056 x 72 = 76 bata 1

Rollag panjang 6 bata 6x 21 = 21 bata 6

Pilar12,5 bata

Total bata yang dipergunakan 112,5 bata dalam praktek kerja batu

Jumlah Pasir dan Jumlah Kapur Dengan perhitungan jumlah spesi atau volume spesi dari dinding tembok dapat dihitung menggunakan perbandingan yang ada :

31

Tebal siar Lebar siar menurut lebar batu bata Panjang siar menurut batu bata V spesi = tebal x lebar x panjang = 0,01 m x 0,1 m x 0,21 m = 0.00021 m3

Perbandingan kapur dengan pasir = 1 : 5 Jadi, kapur 1/6 x V spesi Pasir 5/6 x V spesi = 1/6 x 0,00021 m3 = 5/6 x 0,00021 m3 = 0,000035 m2 = 0,000175 m2

lingkaran.atas + lingkaranbawah V timba = 2 Sama perbandingan kapur dan pasirnya 1 : 5

X tinggi timba

berbeda dengan plesteran dengan perbandingan 1 kp : 3 ps berbeda juga dengan finishing dengan kapur saja 3mm tebal V = luas x tebal

32

BAB VI

PENUTUP
VI.1. KESIMPULAN Pekerjaan pemasangan merupakan pekerjaan yang sangat penting dalam suatu konstruksi bangunan. Oleh karena itu, pemasangan yang baik dan benar sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas mutu bangunan tersebut. Kesimpulan yang di dapat dari laporan ini antara lain : 1. Keselamatan kerja harus diperhatikan dan dilaksanakan dengan baik. 2. Perencanaan dan perhitungan pemasangan membutuhkan ketelitian dan kesabaran yang tinggi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. 3. Pada saat pemasangan harus dilkukan dengan hati-hati agar hasilnya sesuai dengan yang kita inginkan 4. Untuk spesi atau campuran harus selalu diperhatikan atau sesuai yang diberikan oleh instruktur. 5. Pada saat plesteran harus diperhatikan penuh, karena dalam pekerjaan ini perlu kesabaran yang penuh.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan : Adukan baru jangan tercampur dengan adukan lama atau bahan-bahan sisa yang sudah tidak aktif. Gunakan takaran untuk mendapatkan campuran yang homogen (merata). Air yang digunkan harus bersih. Adukan jangan terlalu kering atau terlalu basah. Bata yang sudah dipasang tidak boleh diketuk-ketuk lagi. Pemasangan spesi yang baik adalah 10mm. Bak tempat adukan sebaiknya ditutup plastik untuk menjaga penguapan air. Untuk menghilangkan debu pada bata dan mengatur peresapan air adukan, bata direndam dalam air sampai gelembung udara hilang (2-5 menit)

33

Setelah penambahan air pada adukan harus segera dihabiskan/dipakai, jangan melebihi 2,5 jam dan harus dilakukan pengadukan ulang selama masa pelaksanaan untuk menjaga homogenitas.

Cara pengamanan bahan, yaitu : a. Menyimpan pasir jangan di tempat becek atau dapat tercampur dengan daun-daun atau kotoran lainnya. b. Penyimpanan semen tidak boleh melebihi 2 bulan dan harus disimpan pada tempat yang kering. c. Penyimpanan kapur harus disimpan pada tempat yang kering. d. Bata/batako tidak boleh langsung diletakkan pada permukaan tanah dan tempatkan pada tempat yang tidak terlalu kering ataupun terlalu lembab.

VI.2. SARAN Dalam pemasangan batu bata yang baik dibutuhkan ketelitian,kejelihan dan kesabaran karena dengan itu kita dapat menghasilkan pekerjaan yang baik dan hasil yang maksimal sesuai yang kita inginkan. Begitu pula dalam pemilihan bahan bangunan, kita harus mengetahui ciri ciri bahan bangunan yang baik dan berkualitas. Serta dalam menentuka takaran campuran spesi harus dengan perbandingan yang sesuai dengan perencanaan, bahan kapur dan pasir harus bersih dan berkualitas.

34