Anda di halaman 1dari 55

BAGIAN IKM-IKK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

TUGAS APRIL 2012

JOB SAFETY ANALYSIS DI RUANG RADIOLOGI RS IBNU SINA MAKASSAR

DISUSUN OLEH : ABDUL RASHID BIN MOHD RADZIF (C 111 07 287)

SUPERVISOR : dr. Sultan Buraena, MS, Sp.OK

DISUSUN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK PADA BAGIAN IKM-IKK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Dalam era globalisasi, tuntutan pengelolaan program Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit (K3RS) semakin tinggi karena pekerja, pengunjung, pasien dan masyarakat sekitar Rumah Sakit ingin mendapatkan perlindungan dari gangguan kesehatan dan kecelakaan kerja, baik sebagai dampak proses kegiatan pemberian pelayanan maupun karena kondisi sarana dan prasarana yang ada di Rumah Sakit yang tidak memenuhi standar.1 Dengan berkembangnya konsep kesehatan pekerja (Workers Health) diharapkan dapat memberikan pengertian yang lebih luas dari kesehatan kerja (Occupational Health), maka tidak hanya masalah kesehatan yang berkaitan pekerjaan, tapi juga masalah kesehatan umum yang mempengaruhi produktivitas kerja.1 Dalam Undang-Undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, Pasal 23 dinyatakan bahwa upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) harus diselanggarakan di semua tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai resiko bahaya kesehatan, mudah terjangkit penyakit atau mempunyai karyawan paling sedikit 10 orang. Jika memperlihatkan isi dari pasal di atas maka jelaslah bahwa Rumah Sakit (RS) termasuk ke dalam criteria tempat kerja dengan berbagai ancaman bahaya yang dapat menimbulkan dampak kesehatan, tidak hanya terhadap para pelaku langsung yang bekerja di RS tetapi juga pasien dan pengunjung RS. Sehingga sudah seharusnya pihak pengelola RS menerapkan upaya-upaya K3 di Rumah Sakit.2 Potensi bahaya di RS selain penyakit-penyakit infeksi juga ada potensi bahaya-bahaya lain yang mempengaruhi kondisi dan situasi di Rumah Sakit, yaitu kecelakaan (peledakan, kebakaran, kecelakaan ynag berhubungan dengan instalasi listrik, dan sumber-sumber cedera lainnya),

radiasi, bahan-bahan kimia yang berbahaya,gas-gas anastesi, gangguan psikososial, dan ergonomic. Semua potensi bahaya tersebut diatas jelas mengancam jiwa dan kehidupan bagi para karyawan di RS, para pasien maupun pengunjung yang ada di lingkungan RS.2 Hasil laporan National Safety Council (NSC) tahun 1988 menunjukkan terjadinya kecelakaan di RS 41% lebih besar dari pekrja di industry lain. Kasus yang sering terjadi adalah tertusuk jarum, terkilir, sakit pinggang, tergores/terpotong, luka bakar, dan penyakit infeksi dan lain-lain. Sejumlah kasus dilaporkan mendapatkan kompensasi pada pekerja RS, yaitu sprains, strains : 52%; confusion, crushing, bruising: 11%; cuts, laceration, punctures: 10,8%; fractures: 5,6%; multiple injuries: 2,1%; thermal burns; 2% scratches, abrasions: 1,9%; infections:1,3%; dermatitis: 1,2%; dan lain-lain: 12,4% (US Department of Laboratorium, Bureau of Laboratorium Statistics 1983).2 Dengan meningkatnya pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh masyarakat maka tuntutan pengelolaan program Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit (K3RS) semakin tinggi karena Sumber Daya Manusia (SDM) Rumah Sakit, pengunjung/pengantar pasien, pasien dan masyarakat sekitar Rumah Sakit ingin mendapatkan perlindungan dari gangguan kesehatan dan kecelakaan kerja, baik sebagai dampak proses kegiatan pemberian pelayanan maupun karena kondisi sarana dan prasarana yang ada di Rumah Sakit yang tidak memenuhi standar.3 Di dunia Internasional, program K3 telah lama diterapkan di berbagai sektor industri (akhir abad 18), kecuali di sektor kesehatan. Perkembangan K3RS tertinggal dikarenakan fokus pada kegiatan kuratif, bukan preventif. Fokus pada kualitas pelayanan bagi pasien, tenaga profesi di bidang K3 masih terbatas, organisasi kesehatan yang dianggap pasti telah melindungi diri dalam bekerja.3 Rumah Sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan bagi

masyarakat dengan karateristik tersendiri yang dipengaruhi oleh

perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan, kemajuan teknologi, dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang harus tetap mampu meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh masyarakat agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Selain dituntut mampu memberikan pelayanan dan pengobatan yang bermutu, Rumah Sakit juga dituntut harus melaksanakan dan

mengembangkan program K3 di Rumah Sakit (K3RS) seperti yang tercantum dalam buku Standar Pelayanan Rumah Sakit dan terdapat dalam instrumen akreditasi Rumah Sakit.3 Dalam Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, khususnya pasal 165 : Pengelola tempat kerja wajib melakukan segala bentuk upaya kesehatan melalui upaya pencegahan, peningkatan, pengobatan dan pemulihan bagi tenaga kerja. Berdasarkan pasal di atas maka pengelola tempat kerja di Rumah Sakit mempunyai kewajiban untuk menyehatkan para tenaga kerjanya. Salah satunya adalah melalui upaya kesehatan kerja disamping keselamatan kerja. Rumah Sakit harus menjamin kesehatan dan keselamatan baik terhadap pasien, penyedia layanan atau pekerja maupun masyarakat sekitar dari berbagai potensi bahaya di Rumah Sakit. Oleh karena itu, Rumah Sakit dituntut untuk melaksanakan Upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yang dilaksanakan secara terintegrasi dan menyeluruh sehingga risiko terjadinya Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Akibat Kerja (KAK) di Rumah Sakit dapat dihindari.3 Pelayanan radiologi sebagai bagian yang terintergrasi dari pelayanan kesehatan secara menyeluruh merupakan bagian dari amanat Undang-Undang Dasar 1945 dimana kesehatan adalah hak fundamental setiap rakyat dan amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Bertolak dari hal tersebut serta makin meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, maka pelayanan radiologi sudah selayaknya memberikan pelayanan yang berkualitas.4

Penyelenggaraan pelayanan radiologi umumnya dan radiologi diagnostic khususnya telah dilaksanakan di berbagai sarana pelayanan kesehatan, mulai dari sarana pelayanan kesehatan sederhana, seperti puskesmas dan klinik-klinik swasta, maupun sarana pelayanan kesehatan yang berskala besar seperti rumah sakit kelas A. Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi dewasa ini telah memungkinkan berbagai penyakit dapat dideteksi dengan

menggunakan fasilitas radiologi diagnostik yaitu pelayanan yang menggunakan radiasi pengion dan non pengion. Dengan berkembangnya waktu, radiologi diagnostik juga telah mengalami kemajuan yang cukup pesat, baik dari peralatan maupun metodanya.4 Agar penyelenggaraan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) lebih efektif, efisien dan terpadu diperlukan sebuah manajemen K3 baik bagi pengelola maupun karyawan sehingga pada era globalisasi sangat diharapkan kontribusi mereka dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang akan tercermin dengan meningkatnya profesionalisme, kemandirian, etos kerja dan produktivitas kerja. Untuk mendukung itu semua diperlukan tenaga kerja dan lingkungan kerja yang sehat, selamat, nyaman dan menjamin peningkatan produktivitas kerja.6

I.2. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Bagaimana tingkat keselamatan dan kesehatan pekerja di Insatalasi Radiologi RS Ibnu Sina? b. Apakah terdapat gangguan kesehatan petugas Radiologi yang diakibatkan oleh keadaan/kondisi lingkungan kerjanya? c. Apakah ada perlindungan bagi petugas Radiologi didalam

pekerjaannya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktorfaktor yang membahayakan kesehatan?

I.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Untuk melakukan Job Safety Analysis dengan metode Walkthrough Survey terhadap petugas di Instalasi Radiologi

1.3.2. Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) saat penerimaan barang. 2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi

Kesehatan dan Keselamatan Kerja saat pengecekan jumlah dan jenis barang. 3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi

Kesehatan dan Keselamatan Kerja saat transaksi keuangan. 4. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi

Kesehatan dan Keselamatan Kerja pada saat pengepakan barang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja Kesehatan kerja adalah ilmu yang mempelajari dua arah hubungan antara pekerjaan dan kesehatan.4 Menurut International Labour

Organisation dan World Health Organisation Committee on Occupational Health pada tahun 1950, definisi dari kesehatan kerja adalah 'Occupational Health should aim at the promotion and maintenance of the highest degree of physical, mental and social well being of workers in all occupations; the prevention among workers of departures from health caused by their working conditions; the protection of workers in their employment from risks resulting from factors adverse to health; placing and maintenance of a worker in an occupational environment adapted to his physiological and psychological equipment and, to summarise, the adaption of work to people and of each person to their job.7 Definisi di atas jika diartikan adalah sebagai berikut: Keselamatan kerja merupakan suatu upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan derajat kesejahtaraan fisik, mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jabatan, pencegahan penyimpangan kesehatan diantara pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan, perlindungan pekerja dalam pekerjaannya dari risiko akibat faktor yang merugikan kesehatan, penempatan dan pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang diadaptasikan dengan kapabilitas fisiologi dan psikologi; dan diringkaskan sebagai adaptasi pekerjaan kepada manusia dan setiap manusia kepada jabatannya.8 Dalam UU No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan pasal 23 mengenai kesehatan kerja disebutkan bahwa upaya kesehatan kerja wajib diselenggarakan pada setiap tempat kerja, khususnya tempat yang

memiliki resiko bahaya kesehatan yang besar bagi pekerja agar pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya untuk memperoleh produktivitas kerja yang optimal sejalan dengan program perlindungan tenaga kerja.9

Kerja merupakan aplikasi kesehatan masyarakat di dalam suatu tempat kerja (perusahaan, pabrik, kantor, dsb). Dan yang menjadi pasien dari kesehatan kerja ialah masyarakat pekerja dan masyarakat sekitar perusahaan tersebut. Kesehatan kerja bertujuan untuk menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif. 8 Tujuan akhir dari kesehatan kerja ini adalah untuk menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif. Untuk mencapai tujuan ini diperlukan suatu prakondisi yang menguntungkan bagi masyarakat pekerja tersebut. Prakondisi inilah yang disebut sebagai determinan kesehatan kerja yang meliputi beban kerja, kapasitas kerja dan lingkungan kerja. 8

II.2. Prinsip Dasar Kesehatan Kerja II.2.1. Ruang Lingkup Kesehatan Kerja Ruang lingkup kesehatan kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara pekerja dengan pekerja dan lingkungan kerjanya baik secara fisik maupun psikis dalam hal cara/metoda kerja, proses kerja dan kondisi kerja yang bertujuan untuk:10 a. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pekerja di semua lapangan pekerjaan yang setinggi-tingginya baik secara fisik, mental maupun kesejahteraan sosialnya. b. Mencegah gangguan kesehatan masyarakat pekerja yang

diakibatkan oleh keadaan/kondisi lingkungan kerjanya.

c. Memberikan perlindungan bagi pekerja didalam pekerjaannya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh aktor-faktor yang membahayakan kesehatan. d. Menempatkan dan memelihara pekerja disuatu lingkungan pekerjaannya yang sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjaannya. II.2.2. Jenis Pelayanan Kesehatan Kerja Pelayanan kesehatan kerja merupakan program pelayanan paripurna yang terdiri dari: pelayanan promotif, pelayanan preventif, pelayanan kuratif, pelayanan rehabilitatif yang dilaksanakan dlm suatu sistim terpadu.11 Tabel 1. Jenis Pelayanan Kesehatan Kerja11
Promotif Pendidikan dan penyuluhan tentang kesehatan kerja Pemeliharaan berat badan ideal Perbaikan gizi, menu seimbang dan pemilihan makanan yang sehat dan aman Pemeliharaan yang sehat Olah raga dan rekreasi lingkungan kerja Preventif Pemeriksaan kesehatan awal, berkala dan khusus. Imunisasi Kesehatan Lingkungan Kerja Perlindungan diri thd bahayabahaya pekerjaan Penyerasian manusia dgn mesin alat kerja (ergonomi) Pengendalian lingkungan kerja bahaya

Kuratif Pelayanan diberikan pada pekerja yang sudah mengalami gangguan kesehatan. Pelayanan pengobatan diberikan terhadap meliputi penyakit

Rehabilitatif Latihan dan pendidikan pekerja untuk dapat menggunakan

kemampuannya yang masih ada secara maksimal. Penempatan kembali pekerja yang cacat secara selektif sesuai kemampuannya

umum maupun penyakit akibat pekerjaan

II.3. Aspek Kesehatan dan Keselamatan Kerja II.3.1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan dan Keselamatan Kerja A. Faktor Fisik, yang merupakan hazard lingkungan kerja berupa: Noise (kebisingan) dapat diartikan sebagai suara yag tidak dikehendaki yaitu alam bentuk gelombang yang disalurkan melalui benda padat,cair dan gas. Bunyi dapat didengar oleh telinga karena adanya rangasangan getaran. Kualitas suara dapat ditentukan oleh dua faktor yaitu, frekuensi dan intensitas suara. Kebisingan ditempat kerja dapat muncul karena penggunaan peralatan produksi yang mengeluarkan suara, seperti mesin-mesin produksi. Pengaruh kebisingan terhadap karyawan yaitu berupa gangguan kenyamanan dan kesehatan yang menimbulkan ketulian. Adapun jenis-jenis kebisingan adalah: 11 o Kebisingan continue, kebisingan yang ditimbulkan oleh mesin yang generator dll o Kebisingan intermitten, kebisingan yang ditimbulkan oleh mesin yang tidak beroperasi secara terus-menerus seperti gurinda dll o Kebisingan impulsive, kebisingan yang ditimbulkan oleh mesin atau peralatan yang penggunaannya terjadi hentak-hentakan seperti mesin tumbuk dll. Fibrasi (getaran mekanik) terdapat benda yang menimbulkan getaran dimana getaran tersebut berakibat timbulnya berbunyi terus-menerus seperti

resonansi pada alat-alat tubuh sehingga pengaruhnya bersifat mekanis. Biasanya pengaruhnya disalurkan melalui lantai, tempat duduk atau melalui alat tangan yang digunakan. Misalnya saat mengendarai mobil atau traktor. Adapun

10

pengaruh

getaran

terhadap

tubuh

karyawan

yaitu

menimbulkan ketidaknyamanan, kelelahan dan bahaya bagi kesehatan.11,12 Radiasi, adalah hazard kesehatan dilingkungan tempat kerja dan dibagi menjadi 2 golongan yaitu radiasi mengion dan radiasi yang tidak mengion. o Radiasi mengion, umumnya dapat ditemui ditempat kerja karena penggunaan alat yang menggunakan bahan radiasi, atau mempunyai inti yang tersusun dari proton dan neutron. Proton mempunyai muatan positif dan neutron muatan negative. Radiasi ini terbagi atas 5 jenis, radiasi sinar alfa, beta, gamma, sinar X dan neutron. o Radiasi tidak mengion, Sinar adalah murni energy disebut sebagai energy elektromagnetik dan karena karakternya berbagai jenis sinar mengacu pada karakteristik gelombang. Energi sinar berkaitan dengan panjang gelombang dan panjang gelombang yang lebih pendek maka energinya lebih tinggi. Radiasi ini terdiri dari gelombang nikro (microwave), sinar laser, sinar inframerah dan sinar ultraviolet. Berbagai efek radiasi, yaitu sinar X dan gamma dapat menimbulkan luka bakar pada jaringan yang terkena. Sinar inframerah dapat menimbulkan katarak pada mata, sinar ultraviolet dapat menimbulkan konjungtivitis, dll.11,12 Temperatur yang ekstrim, suhu ekstrim merupakan hazard kesehatan ditempat kerja yang disebabkan karena suhu sangat rendah dan ringgi, keadaan ini bisa disebabkan karena iklim yang ada juga ditimbulkan karena dalam proses produksi memerlukan temperature yang ekstrim. Untuk

mengidentifikasi adanya pengaruh temperature rendah maka

11

dapat dilihat dari karyawan yang bekerja di pabrik freezer, pengepalan daging dan pertanian didekat kutub. Sedangkan temperature tinggi misalnya pada pengecoran batubara, ruang pembakaran dll yang operasinya memerlukan suhu tinggi. 13

B. Faktor Kimia Identifikasi hazards kimia dan identifikasi bahwa di dalam udara tempat kerja terdapat hazards kimia, kita harus mengetahui bahan kimia yang digunakan sebagai raw materials, hasil produksi, dan hasil sampingannya (by-product). Informasi penting lainnya yang diperlukan dapat diperoleh dari Material Safety Data Sheet (MSDS), yaitu yang harus disuplai oleh pabrik atau importir bahan kimia tersebut.14 Pembagian bahan kimia yang merupakan kontaminasi (pencemar) udara dapat digolongkan menjadi : Dust (Debu). Debu adalah partikel padat yang dihasilkan oleh perlakuan, penghancuran, pengendaraan, ledakan, dan pemecahan terhadap material organik dan anorganik. Debu yang mempunyai ukuran 5-10 mikrometer akan tertahan pada saluran pernapasan bagian atas. Partikel atau debu berukuran 3-5 mikrometer akan tertahan pada saluran pernapasan bagian tengah, sedangkan debu yang berukuran 1-3 mikrometer akan tertinggal pada permukaan alveoli paru-paru. Debu yang berukuran kurang dari 0,1

mikrometer akan bergerak keluar masuk alveoli. Fumes (uap cair). Fumes adalah partikel yang terbentuk dari kondensasi tahap gas, umumnya terjadi karena penguapan setelah benda terlebur dan diameter kurang dari 1,0 mikrometer. Smoke (asap). Asap terdiri dari unsur karbon atau partikel jelaga yang ukurannya kurang dari 0,1 mikrometer.

12

Dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna dari benda yang mengandung karbon seperti batu bara dan minyak. Asap umumnya mengandung titik-titik (droplets) partikel kering. Mists (kabut). Kabut adalah titik-titik cairan halus (liquid droplets) yang terbentuk dari kondensasi uap kembali menjadi bentuk cair, atau pemecahan dari bentuk cair menjadi tingkat terdepresi, seperti proses deburan air (spashing, forming, pemecahan atom cairan/atomizing) Gas adalah bentuk zat yang tidak mempunyai bangun tersendiri, melainkan mengisi ruangan tertutup pada kondisi suhu dan tekanan normal. Bentuknya dapat berubah menjadi cair pada kondisi suhu dan tekanan yang tinggi. Vaspor (uap) adalah bentuk penguapan dari benda yang dalam keadaan normal dalam bentuk padat atau cair. Penguapan adalah proses dari suatu bentuk cair ke bentuk uap bercampur dengan udara sekitarnya. Dengan mengetahui bentuk dan ukuran-ukuran bahan pencemaran udara adalah penting dalam program kesehatan lingkungan kerja (pengenalan, evaluasi, pengendalian hazards) dan juga dalam menentukan pemilihan alat pelindung diri yang tepat. Terdapat 3 cara dimana bahan kimia dapat masuk ke dalam tubuh manusia, yaitu melalui:11,12 Saluran pernapasan Bahan kimia yang merupakan kontaminan udara dapat langsung terhirup melalui alat pernapasan. Bahan kimia yang masuk melalui paru-paru dapat langsung masuk ke dalam aliran darah, dan oleh darah tersebut terbawa ke seluruh tubuh. - Kulit juga merupakan pintu masuk bahan kimia ke dalam tubuh, yaitu melalui cara absorbsi. Beberapa bahan kimia dapat terserap oleh lubang rambut, terserap pada lemak dan minyak

13

kulit seperti senyawa organik, pestisida organopirospate. Bahan kimia yang terabsorbsi melalui kulit tersebut dapat

menimbulkan keracunan secara sistemik. Saluran pencernaan Di tempat kerja orang tidak sadar dan sengaja terminum atau termakan bahan kimia beracun. Oleh karena itu pekerja tidak diperkenankan makan, minum, atau merokok di tempat kerja. Sebelum makan dan minum diharuskan mencuci tangan dengan bersih. Bahan kimia beracun yang terserap melalui cairan alat pencernaan dapat masuk ke dalam darah melalui sistem saluran pencernaan tersebut. C. Faktor Biologi Hazards biologis dapat berupa binatang, bakteri, jamur, dan virus. Hazards biologis yang berupa binatang dapat

dikenali/diidentifikasi dengan adanya kehidupan binatang yang dapat dilihat, seperti binatang buas dan binatang penyebar penyakit (lalat, nyamuk, dan tikus). Akan tetapi untuk jenis-jenis bakteri, jamur dan virus tidak mudah dilakukan identifikasi terutama bagi kesehatan. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan observasi terhadap karyawan-karyawan yang sedang menderita penyakit.

Mikroorganisme yang berbahaya ditempat kerja tergantung pada lingkungan tempat kerjanya. Di laboratorium, pekerja yang bekerja di laboratorium mempunyai risiko yang sangat besar untuk terinfeksi terutama jika laboratorium tersebut menangani organisme pathogen atau bahan yang mengandung organisme pathogen.11,12

D. Faktor Psikososial Beberapa contoh faktor psikososial di lingkungan kerja para petugas kasir yang dapat menyebabkan stress antara lain: 11,12
-

Pekerjaan seringkali bersifat emergensi dan menyangkut kepuasan seseorang. Untuk itu para petugas kasirdituntut

14

memberikan pelayanan yang tepat dan cepat disertai dengan kewibawaan dan keramahtamahan.
-

Pekerjaan yang sangat monoton. Hubungan kerja yang kurang serasi antara pimpinan dan bawahan atau sesama teman kerja.

Beban mental karena menjadi penanggung jawab atas sektor pelayanan dan penerimaan uang.

E. Faktor Ergonomi Istilah ergonomi pertama kali digunakan oleh sekelompok ilmuwan inggris pada tahun 1950, yang berasal dari dua kata Yunani, yaitu ergon dan nomos. Ergon berarti kerja sedangkan nomos berarti humum atau aturan. Secara keseluruha ergonomic berarti hukum atau aturan yang berkaitan dengan kerja.3 Ergonomi merupakan ilmu berupaya untuk menyerasikan mesin dan pekerja, tanpa menganggap pekerja harus menyesuaikan diri dengan mesin dan lingkungan. Dalam hal ini, pengukuran keselarasan pekerjaan dengan pekerja meliputi pemeriksaan sejumlah faktor yaitu: pekerja, mesin, dan lingkungan.4 International Labour Organization (ILO) mendefinisikan ergonomi sebagai penerapan ilmu biologi manusia sejalan dengan ilmu rekayasa untuk mencapai penyesuaian bersama antara pekerjaan dan manusia secara optimum dengan tujuan agar bermanfaat demi efisiensi dan kesejahteraan. Permasalahan yang berkaitan dengan faktor ergonomi umumnya disebabkan oleh adanya ketidak sesuaian antara pekerja dan lingkungan kerja secara menyeluruh termasuk peralatan kerja.5 Dasar pokok keilmuan dari ergonomi adalah : 15 1. Anatomi : yaitu ilmu urai yang mencakup ukuran tubuh (antropometri) dan juga mempelajari aplikasi kekuatan yang termasuk biomekanik.

15

2. Faal : yaitu faal kerja yang mempelajari pemakaian energi, ilmu faal lingkungan yang mempelajari lingkungan terhadap fungsi tubuh. 3. Psikologis : yang meliputi ilmu tingkah laku yang dapat memperngaruhi keterampilan, motivasi, latihan, usaha dan lainlain. Apabila dalam menyelesaikan pekerjaan orang tidak memerlukan peralatan, bukan berati ergonomi tidak berlaku. Dalam hal ini ergonomi dapat berlaku yakni bagaimana mengatur cara atau metode kerja sehingga meskipun hanya dengan menggunakan anggota tubuh saja pekerjaan itu dapat terselesaikan dengan efisien tanpa menimbulkan kelelahan.16 Tujuan penggunaan ergonomi dapat disimpulkan sebagai berikut : 15 1. Mendapatkan derajat kesehatan tenaga kerja yang tinggi dengan produktivitas kerja yang maksimal. 2. Mendapatkan derajat kesehatan lingkungan yang optimal 3. Memperoleh lingkungan kerja dan penggunaan alat-alat yang nyaman, tidak membosankan, mengurangi kelelahan,

mengurangi bahaya dan meningkatkan keselamatan kerja seoptimal mungkin. 4. Dapat mengurangi beban kerja Dalam ergonomi perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 16 1. Bagaimana orang mengerjakan pekerjaannya 2. Bagaimana posisi dan gerakan tubuh yang digunakan ketika bekerja 3. Peralatan apa yang mereka gunakan 4. Apa efek dari faktor-faktor diatas bagi kesehatan dan kenyamanan pekerja Ergonomi mengandung 3 unsur yaitu : 15

16

1. Antropometri yang mempelajari tentang ukuran tubuh manusia. 2. Biomekanikan yang mempelajari kerja hukum mekanika dalam tubuh manusia. 3. Psikologi yang mempelajari aspek kejiwaan yang berkaitan dengan rekayasa dan rancang bangun. Antropometri berkaitan dengan ukuran tubuh manusia

yang sangat bervariasi. Data-data mengenai ukuran tubuh manusia penting untuk desain ruang dan alat kerja. Ukuran tubuh manusia tergantung pada usia, jenis kelamin, keturunan, status gizi dan kesehatan.16 Aplikasi atau penerapan ergonomi dalam Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah sebagai berikut : 17 1. Tempat kerja Bagaimana anda mengatur elemen atau komponen tempat kerja anda sehingga sesuai dengan kebutuhan merupakan faktor paling penting untuk mendapatkan kondisi kerja yang nyaman. Luangkan waktu beberapa menit sebelum anda berkerja, pikirkan dan tentukan bagaimana layout dan posisi terbaik perangkat kerja anda (komputer, telepon, dll) dan bagaimana tempat kerja anda dapat dimanfaatkan secara efektif. Langkah ini akan dapat menghemat waktu dan tenaga anda dalam menyelesaikan pekerjaan. Pastikan bahwa: Cukup tempat di meja anda untuk menata posisi yang paling nyaman untuk monitor, keyboard, dll Atur meja anda dengan mempertimbangkan bagaimana perangkat itu akan digunakan. Perangkat yang paling sering digunakan ditempatkan di posisi yang paling mudah dijangkau. Atur pencahayaan ruang kerja anda secara optimal, cahaya yang terlalu kuat mengakibatkan tampilan monitor tidak

17

tajam, cahaya rendah potensi menyebabkan gangguan pada mata anda. Hindari lampu yang menyorot langsung ke monitor karena akan memunculkan pantulan di layar. Usahakan posisi sejajar terhadap jendela,jangan berhadapan atau membelakangi.

2. Postur Kerja Postur adalah posisi relative bagian tubuh tertentu pada saat bekerja yang ditentukan oleh ukuran tubuh, desain area kerja dan task requirements serta ukuran peralatan/benda lainnya yang digunakan saat bekerja. Postur dan pergerakan memegang peranan yang penting dalam ergonomi. Salah satu gangguan otot rangka adalah postur janggal (awkward posture).3 Tabel 2. Postur-Postur Janggal dan Alokasi Kemungkinan Terjadinya Penyakit Alokasi Kemungkinan Postur Janggal Terjadinya Sakit dan Gejala lainnya Berdiri Duduk tanpa dukungan lumbar Duduk tanpa dukungan punggung Duduk tanpa tumpuan kaki yang baik dengan ketinggian yang sesuai Duduk dengan mengistirahatkan bahu pada permukaan alat kerja yang terlalu tinggi Pada bahu dan otot-otot leher Pada lutut, kaki, dan region lumbal Pada kaki, region lumbal Pada region lumbar Pada otot-otot punggung

18

Tangan meraih sesuatu yang sulit terjangkau (jauh/tinggi) Kepala mendongak Posisi membungkuk, punggung yang mengarah ke depan Posisi ekstrim yang terusmenerus pada setiap sendi 3. Meja

Pada bahu dan lengan bagian atas Pada region leher Pada region lumbal dan otot-otot punggung Pada semua sendi (karena semua sendi terlibat)

Tinggi permukaan meja yang sesuai dapat mengurangi tekanan pada tulang belakang, otot leher dan otot bahu, serta meningkatkan kenyamanan pada waktu bekerja. Meja yang dapat diatur ketinggiannya sangat dianjurkan untuk pekerjaan, duduk atau menggunakan monitor. Ukuran meja yang tidak bisa diatur ketinggiannya berukuran 51-66 cm dari lantai. Meja harus memiliki ruangan yang kosong di bawahnya untuk memberikan ruang pergerakan yang leluasa pada kedua kaki saat bekerja pada posisi duduk. Tinggi meja disesuaikan dengan sudut pinggang pada 90 derajat ketika tangan berada di atas keyboard.3

4. Kursi Kursi salah satu komponen penting di tempat kerja anda. Kursi yang baik akan mampu memberikan postur dan sirkulasi yangbaik dan akan membantu menghindari ketidaknyamanan. Pilih kursi yang nyaman, dapat diatur, dan memiliki penyangga punggung.6

19

Aturlah kursi sebagai berikut sehingga paha anda dalam posisi horisontal dan punggung bagian bawah atau pinggang anda terdukung. Tanpa ini, punggung dan pinggang anda berpotensi mendapatkan gangguan. Bila kursi kurang dapat diatur, bagian bawah punggung dapat dibantu dengan diberi bantal. Telapak kaki anda harus dapat menumpu secara rata di lantai ketika duduk dan ketika menggunakan keyboard. Apabila tidak dapat maka kursi anda mungkin terlalu tinggi dan anda dapat manfaatkan penyangga kaki. Kadang-kadang ubahlah posisi duduk anda selama bekerja karena duduk dalam posisi tetap dalam jangka lama akan mempercepat ketidaknyamanan.3

Gambar 1. Posisi Kerja Ergonomis

5. Keyboard Sebagai perangkat input, perangkat ini mutlak diperlukan dan selalu kita pegang ketika kita bekerja dengan komputer. Untuk pemakaian yang nyaman usahakan dalam posisi sebagai berikut: 18 Posisikan keyboard sehingga lengan anda dalam posisi relaks dan nyaman, dan lengan bagian depan dalam posisi horisontal Pundak anda dalam posisi relaks tidak tegang dan terangkat ke atas. Pergelangan tangan harus lurus, tidak menekuk ke atas atau kebawah.

20

Ketika mengetik tangan harus ikut bergeser kekiri kanan sehingga jari tidak dipaksa meraih tombol-tombol yang dimaksud.

Jangan memukul tombol, tekan tombol secara halus sehingga tangan dan jari anda tetap relaks. Perimbangkan untuk memanfaatkan keyboard ergonomik yang dirancang untuk dapat diatur sesuai ukuran jari dan posisi lengan. Agar operator tidak mengalami tekanan pada pergelangan

tangan maka untuk penggunaan keyboard pada computer, posisi kerja netral yang dianjurkan adalah memenuhi prinsip 90-90-90, yang berarti 90 derajat sudut siku, 90 derajat sudut lutut, 90 derajat sudut pinggang, dan 90 derajat sudut pergelangan kaki.3 6. Layar Monitor Bekerja dengan komputer ternyata dapat mengalami penyakit akibat kerja yang berasal dari layar monitor. Mata adalah organ tubuh yang paling mudah mengalami penyakit akibat kerja, karena terlalu sering memfokuskan bola mata ke layar monitor. Tampilan layar monitor yang terlalu terang dengan warna yang panas seperti warna merah, kuning, ungu, oranye akan lebih mempercepat kelelahan pada mata. Selain dari itu, pantulan cahaya (silau) pada layar monitor yang berasal dari sumber lain seperti jendela, lampu penerangan dan lain sebagainya, akan menambah beban mata. Pencahayaan ruangan kerja juga berpengaruh pada beban mata. Pemakaian layar monitor yang tidak ergonomis dapat menyebabkan keluhan pada mata. Berdasarkan hasil penelitian, 77 % para pemakai layar monitor akan mengalami keluhan pada mata, mulai dari rasa pegal dan nyeri pada mata, mata merah, mata

21

berair, sampai pada iritasi mata bahkan kemungkinan katarak mata. Bila operator komputer menggunakan soft lens (lensa mata), kelelahan mata akan lebih cepat terasa, karena mata yang dalam keadaan memfokuskan ke layar monitor akan jarang berkedip sehingga bola mata cepat menjadi kering dan ini menyebabkan timbulnya gesekan antara lensa dan kelopak mata. Ruang berpendingin (AC) akan lebih memperparah gesekan tersebut, karena udara ruangan ber AC akan kering sehingga air mata akan ikut menguap. 6,18 Akhir-akhir ini banyak dijual kaca filter untuk layar monitor yang dipromosikan sebagai filter radiasi yang keluar dari komputer. Menurut hasil penelitian yang penulis lakukan, untuk operator komputer yang bekerja 8 jam per hari terus menerus, ternyata radiasi yang keluar dari komputer (khususnya sinar-X) sangat rendah yaitu sekitar 0,01739 m Rem per tahun. Harga tersebut jauh lebih rendah dari pada radiasi yang berasal dari sinar kosmis dan dari radiasi bumi (terresterial radiation) yang berkisar 145 m Rem per tahun. Sedangkan laju dosis radiasi yang diizinkan untuk masyarakat umum adalah 500 m Rem per tahun. (20 Oleh karena itu operator komputer yang bekerja 8 jam per hari, tetap aman terhadap kemungkinan terkena bahaya radiasi yang mungkin timbul dari tabung layar monitor. Sehingga kaca filter yang dijual di pasaran lebih sesuai sebagai filter kesilauan (glare) dari cahaya layar komputer, bukan sebagai filter radiasi.6,18 Untuk mengurangi keluhan pada mata, saran berikut ini akan sangat berrnanfaat bagi pengguna komputer dalam menata ruang kerja yang nyaman, yaitu: 6,17 Letakkan layar monitor sedemikian rupa sehingga tidak ada pantulan cahaya dari sumber cahaya lain seperti lampu ruang

22

kerja dan jendela yang dapat menyebabkan kesilauan pada mata. Agar mata dapat membaca dengan nyaman, letakkan layar komputer lebih rendah dari garis horizontal mata dengan membentuk sudut hurang lebih 30 derjat. Keadaan ini dapat dicapai bila pusat layar monitor terlettak sekitar 25 cm dari garis horizontal mata sehingga mata akan mengarah ke bawah (ke layar monitor). Jarak layar monitor dengan mata sekitar 40 cm. Posisi demikian akan sangat mengurangi kelelahan pada mata. Buatlah cahaya latar layar komputer dengan warna yang dingin, misalnya putih keabu-abuan dengan warna huruf yang kontras. Hindari penggunaan font huruf yang terlalu kecil (kecuali terpaksa). Resolusi layar monitor sudah barang tentu sangat berpengaruh terhadap ketajaman huruf maupun gambar. Agar mata tidak kering, sering-seringlah berkedip dan sesekali pindahkan arah pandangan mata ke luar ruangan. Bila perlu usaplah kelopak mata secara lembut (memijit ringan bola mata).

23

II.5 JOB SAFETY ANALYSIS II.5.1 Definisi Sebuah analisis bahaya pekerjaan atau Job Safety Analysis (JSA) adalah suatu teknik yang berfokus pada cara untuk mengidentifikasi bahaya sebelum ia terjadi. Ini berfokus pada hubungan antara pekerja, tugas, alat, dan lingkungan kerja. JSA merupakan identifikasi sistematik dari bahaya

potensial di tempat kerja yang dapat diidentifikasi, dianalisa dan direkam. Idealnya, setelah mengidentifikasi bahaya yang tidak terkontrol, anda akan mengambil langkah-langkah untuk menghilangkan atau menguranginya ke tingkat risiko yang dapat diterima.5,7 Salah satu cara untuk mencegah kecelakaan di tempat kerja adalah dengan menetapkan dan menyusun prosedur pekerjaan dan melatih semua pekerja untuk menerapkan metode kerja yang efisien dan aman. Menyusun prosedur kerja yang benar merupakan salah satu keuntungan dari menerapkan Job Safety Analysis (JSA) yang meliputi mempelajari dan membuat laporan setiap langkah pekerjaan, identifikasi bahaya pekerjaan yang sudah ada atau potensi (baik kesehatan maupun keselamatan), dan menentukan jalan terbaik untuk mengurangi dan mengeliminasi bahaya ini.6,7 II.5.2 Kegunaan Banyak pekerja yang terluka dan tewas di tempat kerja setiap hari di Amerika Serikat. Keselamatan dan kesehatan dapat menambahkan nilai bisnis, pekerjaan, dan kehidupan pekerja. JSA dapat membantu mencegah kecelakaan kerja dan penyakit dengan memantau dan mnganalisa operasi di tempat kerja, menetapkan prosedur pekerjaan yang layak, dan memastikan bahwa semua karyawan dilatih dengan benar. Salah satu cara terbaik untuk menentukan dan menetapkan prosedur kerja yang tepat adalah untuk melakukan Job Safety Analysis. Job Safety Analysis adalah salah satu komponen dari komitmen yang lebih besar sistem manajemen keselamatan dan kesehatan.4 JSA digunakan untuk meninjau metode kerja dan menemukan bahaya yang : Mungkin diabaikan dalam layout pabrik atau bangunan dan dalam desain permesinan, peralatan, perkakas, stasiun kerja dan proses.

24

Memberikan perubahan dalam prosedur kerja atau personel. Mungkin dikembangkan setelah produksi dimulai.

Hal-hal yang dilakukan dalam penerapan JSA : Identifikasi bahaya yang berhubungan dengan setiap langkah dari pekerjaan yang berpotensi untuk menyebabkan bahaya serius. Menentukan bagaimana untuk mengontrol bahaya. Membuat perkakas tertulis yang dapat digunakan untuk melatih staf lainnya. Bertemu dengan pelatih OSHA untuk mengembangkan prosedur dan aturan kerja yang spesifik untuk setiap pekerjaan.

Keuntungan dari melaksanakan JSA adalah : Memberikan pelatihan individu dalam hal keselamatan dan prosedur kerja efisien. Membuat kontak keselamatan pekerja. Mempersiapkan observasi keselamatan yang terencana. Mempercayakan pekerjaan ke pekerja baru. Memberikan instruksi pre-job untuk pekerjaan luar biasa. Meninjau prosedur kerja setelah kecelakaan terjadi. Mempelajari pekerjaan untuk peningkatan yang memungkinkan dalam metode kerja. Mengidentifikasi usaha perlindungan ynag dibutuhkan di tempat kerja. Supervisor dapat belajar mengenai pekerjaan yang mereka pimpin. Partisipasi pekerja dalam hal keselamatan di tempat kerja. Mengurangi absent. Biaya kompensasi pekerja menjadi lebih rendah. Meningkatkan produktivitas. Adanya sikap positif terhadap keselamatan.

25

II.5.3 BAHAYA Apa itu bahaya? Bahaya adalah potensi cedera. Dalam istilah praktis, bahaya sering dikaitkan dengan suatu kondisi atau kegiatan yang, jika dibiarkan tidak terkontrol, dapat menyebabkan cedera atau sakit. Mengidentifikasi bahaya dan

menghilangkan atau mengendalikan mereka sedini mungkin akan membantu mencegah luka dan penyakit.5 Mengenal Bahaya Sebuah Job Safety Analysis merupakan suatu tundakan mendeteksi bahaya dalam pekerjaan. Tujuannya adalah untuk menemukan hal berikut5: Apa yang bisa salah? Apa konsekuensi? Bagaimana bisa muncul? Apa saja faktor-faktor lain yang memberikan kontribusi? Berapa besar kemungkinan bahwa bahaya akan terjadi? Untuk membuat JSA lebih bermanfaat, jawaban pertanyaan-pertanyaan diatas sebaiknya didokumetasi dan direkam secara konsisten. Menjelaskan bahaya dengan cara ini membantu untuk memastikan bahwa upaya untuk menghilangkan bahaya dan menerapkan kontrol bahaya pada bahaya yang ditarget berhasil.5

Skenario bahaya yang baik menggambarkan: Dimana itu terjadi (lingkungan), Siapa atau apa yang terjadi pada (paparan), Apa presipitat bahaya (pemicu), Hasil yang akan terjadi harus terjadi (konsekuensi), dan Setiap faktor lain yang berkontribusi

Jarang ditemukan bahaya mempunyai satu penyebab tunggal yang mengakibatkan satu efek tunggal. Sering, banyak faktor yang berperan dalam pembentukan suatu bahaya. Berikut adalah contoh dari sebuah skenario bahaya:

26

Di dapur (lingkungan), sementara membersihkan sisa makanan (pemicu), tangan pekerja (paparan) datang ke dalam kontak dengan pisau. Ini menyebabkanjarinya teriris piau dan menyebabkan jari-jarinya luka

(konsekuensi) dan berdarah banyak.

Gambar 1. Contoh Formulir JSA yang sederhana5

II.5.4 MENGEMBANGKAN SEBUAH JSA Terapat beberapa metode ddalam mengembangkan suatu Job Safety Assessment (JSA). Menurut WorkSafety Australia6 dalam meneliti suatu bahaya di tempat kerja dapat dibagi menjadi 6 langkah. Enam Langkah Manajemen risiko memiliki tiga tahap utama - identifikasi resiko, penilaian resiko dan pengendalian resiko. Banyak kasus, pada tahap awal mengidentifikasi resiko sebenarnya untuk mengidentifikasi semua risiko yang terkait dengan kegiatan tertentu atau proses, dalam hal aktivitas tersebut lebih tepat disebut sebagai identifikasi bahaya, penilaian resiko dan kemudian pengendalian resiko.6 Strategi dan tujuan dari proses ini adalah untuk meminimalkan kemungkinan atau konsekuensi dari risiko tertentu ke tingkat yang minimal dan bisa diterima. Proses Manajemen Risiko meliputi6:

27

1. Identifikasi bahaya 2. Identifikasi risiko terkaiy 3. Penilaian risiko - yang meliputi:

a. Kemungkinan b. Konsekuensinya c. Menetapkan prioritas perbaikan


4. Pengendalian resiko - menggunakan hirarki tindakan pengendalian yang terdiri dari (dalam urutan preferensi):

a. Penghapusan b. Pergantian c. Isolasi d. Teknik Kontrol e. Kontrol Administrasi f. Alat Pelindung Diri (APD)
5. Dokumentasi proses 6. Monitoring dan Review proses.

Menurut OSHA1
A. Memilih Pekerjaan Pekerjaan dengan sejarah kecelakaan yang buruk mempunyai prioritas dan harus dianalisa terlebih dulu. Dalam memilih pekerjaan yang akan dianalisa, supervisor sebuah departemen harus memenuhi faktor berikut ini : 1. frekuensi kecelakaan. Sebuah pekerjaan yang sering kali terulang kecelakaan merupakan prioritas utama dalam JSA. 2. tingkat cedera yang menyebabkan cacat. Setiap pekerjaan yang menyebabkan cacat harus dimasukan ke dalam JSA. 3. kekerasan potensi Beberapa pekerjaan mungkin tidak mempunyai sejarah kecelakaan namun mungkin berpotensi untuk menimbulkan bahaya.

28

4. pekerjaan baru JSA untuk setiap pekerjaan baru harus dibuat sebisa mungkin. Analisa tidak boleh ditunda hingga kecelakaan atau hamper terjadi kecelakaan. 5. mendekati bahaya Pekerjaan yang sering hampir terjadi bahaya harus menjadi prioritas JSA.

B. Membagi Pekerjaan Untuk membagi pekerjaan, pilihlah pekerja yang benar untuk melakukan observasi. Pilihlah pekerja yang berpengalaman, mampu dan kooperatif sehingga mampu berbagi ide. Jelaskan tujuan dan keuntungan dari JSA kepada pekerja. Observasi performa pekerja terhadap pekerjaan dan tulis langkah dasar JSA. Rekaman video pekerjaan dapat digunakan untuk peninjauan di masa mendatang. Pertanyakan langkah awal pekerjaan dilanjutkan langkah selanjutnya dan seterusnya.

C. Identifikasi Bahaya dan Potensi Kecelakaan Kerja Tahap berikutnya untuk mengembangkan JSA adalah identifikasi semua bahaya termasuk dalam setiap langkah. Identifikasi semua bahaya baik yang diproduksi oleh lingkungan dan yang berhubungan dngan prosedur kerja. Tanyakan pada diri masing-masing pertanyaan berikut untuk setiap tahap: adakah bahaya mogok, akan mogok atau kontak yang berbahaya dengan objek pekerjaan? Dapatkah pekerja memegang objek dengan aman? Dapatkah gerakan mendorong, menarik, mengangkat, menekuk atau memutar yang dilakukan menyebabkan ketegangan? Adakah potensi tergelincir atau tersandung? Adakah bahaya jatuh ketika pekerja berada di tempat tinggi? Dapat pekerja mencegah bahaya saar kontak dengan sumber listrik putus? Apakah lingkungan berbahaya bagi keselamatan dan kesehatan? Adakah konsentrasi gas beracun, asap, kabut, uap, debu, panas atau radiasi? Adakah bahaya ledakan?

29

D. Mengembangkan Solusi Langkah terakhir dalam JSA adalah mengembangkan prosedur kerja yang aman untuk mencegah kejadian atau potensi kecelakaan. Beberapa solusi yang mungkin dapat diterapkan: Menemukan cara baru untuk suatu pekerjaan Mengubah kondisi fisik yang menimbulkan bahaya. Mengubah prosedur kerja, Mengurangi frekuensi pekerjaan.

Poin utama dari job safety analysis adalah : mencegah kecelakaan dengan antisipasi dan eliminasi serta mengontrol bahaya yang ada.

Langkah-langkah yang berlaku umum, dalam urutan preferensi, adalah3: 1. Menghilangkan bahaya tersebut. Ini adalah ukuran yang paling efektif. Teknik-teknik ini harus digunakan untuk menghilangkan bahaya: a. Pilih proses yang berbeda b. Memodifikasi proses yang ada c. Mengganti dengan substansi kurang berbahaya d. Meningkatkan lingkungan (ventilasi) e. Memodifikasi atau mengubah peralatan atau alat 2. Kontaminasi Bahaya Jika bahaya tidak dapat dihilangkan, kontak mungkin dicegah dengan menggunakan lampiran, penjaga mesin, bilik pekerja atau perangkat sejenis.

30

3. Merevisi prosedur kerja Pertimbangan akan diberikan untuk memodifikasi langkah-langkah yang berbahaya, mengubah urutan langkah-langkah, atau menambah langkah tambahan (seperti mengunci sumber energi).

4. Mengurangi Pemaparan/Eksposur Langkah-langkah ini adalah yang paling efektif dan harus digunakan hanya jika tidak ada solusi lain yang mungkin. Salah satu cara untuk meminimalkan paparan adalah untuk mengurangi jumlah kali bahaya yang dihadapi. Sebuah contoh adalah memodifikasi mesin sehingga kurang pemeliharaan diperlukan. Penggunaan alat pelindung diri (APD) yang layak mungkin diperlukan. Untuk mengurangi keparahan kecelakaan, fasilitas darurat, seperti stasiun pencuci mata, mungkin perlu diberikan.

Dalam daftar tindakan pencegahan, tidak menggunakan pernyataan umum seperti "hati-hati" atau "hati-hati gunakan". Laporan khusus yang menggambarkan kedua tindakan apa yang harus diambil dan bagaimana itu harus dilakukan yang lebih baik. Langkah-langkah yang dianjurkan tercantum di kolom sebelah kanan lembar kerja, nomor sesuai dengan bahaya yang dimaksud.

31

Alur Kerja Petugas Radiologi


Petugas RADIOLOGI

Penerimaan pasien

Memindahkan pasien ke tempat pemeriksaan Faktor Fisik: Pencahayaan, Kebisingan, Suhu Ruangan. Faktor Biologi: Penyebaran kuman melalui kontak tangan pada saat pembayaran. Faktor Ergonomi: Waktu kerja yang lama, Posisi kerja berdiri, Tidak terdapat kursi, Memindahkan pasien dari pendorong ke tempat pemeriksaan. Faktor Psikososial: Tanggung jawab terhadap pasien, Interaksi terhadap sesama rekan kerja, Pekerjaan yang monoton

Melakukan tindakan pemeriksaan Faktor Fisik: Pencahayaan, Kebisingan, Suhu Ruangan. Faktor Ergonomi: Waktu kerja yang lama, Posisi kerja yang monoton (berdiri), Tidak terdapat kursi, Letak monitor, meja, dan keyboard yang terlalu rendah.Cahaya monitor menyebabkan kelelahan pada mata. Faktor Psikososial: Tanggung jawab keuangan terhadap pasien dan atasan, Interaksi terhadap sesama rekan kerja, Pekerjaan yang monoton

Penyetoran /pengolahan hasil radiologi Faktor Fisik: Pencahayaan, Kebisingan, Suhu Ruangan. Faktor Ergonomi: Waktu kerja yang lama, Posisi kerja yang monoton (berdiri), Tidak terdapat kursi, Letak meja yang terlalu rendah. Tempat pengolahan yang rendah Faktor Psikososial: Tenggung jawab terhadap pasien, Interaksi terhadap sesama rekan kerja, Pekerjaan yang monoton

Faktor Fisik: Pencahayaan, Kebisingan, Suhu Ruangan. Faktor Ergonomi: Waktu kerja yang lama, Posisi kerja (berdiri), Tidak terdapat kursi, Letak brankar, kursi roda yang terlalu rendah. Faktor Psikososial: Interaksi dengan pasien, pekerjaan yang monoton

32

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


III.1. Bahan dan Cara

III.1.1. Peralatan yang diperlukan Peralatan yang diperlukan untuk melakukan walk through survey (survey jalan sepintas) dalam rangka untuk survey aspek kesehatan dan keselamatan kerja pada petugas kasir antara lain: o Alat tulis menulis Berfungsi sebagai media untuk pencatatan selama survey jalan sepintas o Kamera digital Berfungsi sebagai alat untuk memotret kehidupan dan kegiatan para kasir. o Check List Berfungsi sebagai alat untuk mendapatkan data primer mengenai survey jalan sepintas yang dilakukan. III.1.2. Cara Pemantauan Kami merencanakan untuk memantau dan mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan kerja petugas kasir di swalayan Ramayana Makassar Town Square Makassar dengan metode walk through survey dengan menggunakan check list.

III.2.

Lokasi Lokasi survey aspek kesehatan dan keselamatan kerja nelayan

adalah di swalayan Ramayana Makassar Town Square Makassar. III.3. Biaya Biaya yang digunakan pada survey aspek kesehatan dan keselamatan kerja petugas kasir ini adalah swadaya. III.4. Jadwal

33

Penelitian mengenai kesehatan dan keselamatan kerja pada petugas kasir di swalayan Ramayana Makassar Town Square akan dilaksanakan selama kurang lebih 1 minggu. 09 April 2012 : Melapor ke bagian K3 di RS. Ibnu Sina dan diberikan pengarahan 10 April 2012 : Membuat makalah mengenai Job Safety Analysis dan Walk-through survey 11 April 2012 12 April 2012 13 April 2012 : Membuat proposal penelitian : Melakukan survey di lokasi penelitian : Membuat laporan hasil penelitian

34

BAB IV HASIL IDENTIFIKASI DAN PEMBAHASAN

4.1. VISI DAN MISI 4.1.1. Visi RS Ibnu Sina YW-UMI Makassar Menjadi Rumah sakit Pendidikan dengan pelayanan kesehatan yang Islami, unggul dan terkemuka di Indonesia. (To be a teaching hospital with Islamic, excellent and distinction medical services in Indonesia). 4.1.2. Misi RS Ibnu Sina YW-UMI Makassar 1) Melaksanakan dan mengembangkan pelayanan kesehatan unggul yang menjunjung tinggi moral dan etika (MISI PELAYANAN KESEHATAN) 2)Melaksanakan dan mengembangkan pendidikan kedokteran dan profefesional kesehatan lainnya serta penddidikan kesehatan kepada masyarakat.(MISI PENDIDIKAN) 3) Melangsungkan pelayanan dakwah dan bimbingan spiritual kepada pasien, keluarga pasien dan karyawan Rumah Sakit. (MISI DAKWAH). 4) Mengupayakan perolehan financial dari beberapa kegiatan Rumah Sakit. (MISI FINANSIAL). 5) Meningkatkan kesejahteraan karyawan dan tanggungannya (MISI KESEJAHTERAAN)

4.2. STRUKTUR ORGANISASI INSTALASI RADIOLOGI Struktur organisasi merupakan rangkaian hubungan kerja sama dalam rangka mencapai tujuan organisasi yang bersangkutan. Setiap perusahaan dan/atau Rumah Sakit mempunyai struktur organisasi yang berbeda dengan perusahaan/ Rumah Sakit lainnya tergantung pada jenis dan luasnya bidang usaha serta kebutuhan itu sendiri. Dalam struktur organisasi harus terdapat pemisahan fungsi

35

yang jelas. Adanya pemisahan fungsi yang jelas setiap bagian dapat mengetahui kedudukan dan posisinya dalam perusahaan. Struktur organisasi ini dimaksudkan sebagai pedoman dan landasan kerja perusahaan agar dapat terlaksana dengan baik.

BAGAN SUSUNAN ORGANISASI RS Ibnu Sina YW-UMI Makassar Direktur Wadir Pelayanan Medik Kepala Instalasi Radiologi Koordinator Pelayanan Para Dokter Spesialis Kepala Ruangan Radiografer Pelapor Inventaris Logistik Keuangan Administrasi

Gambar. Struktur Organisasi

4.3 TENAGA KERJA INSTALASI RADIOLOGI 4.3.1. Sistem Kerja Petugas Radiologi Dari hasil Walk-through Survey yang telah dilakukan di Instalasi radiologi RS Ibnu Sina YW-UMI Makassar, di dapatkan informasi sebagai berikut:

36

Jumlah petugas yang bekerja di swalayan Instalasi Radiologi, Rumah sakit Ibnu Sina YW-UMI Makassar berjumlah 7 orang. Dalam satu bulan,tiap petugas memiliki 24 hari kerja dan 6 hari libur. Masing-masing petugas kasir memiliki waktu kerja jam sehari dengan system kerja bergilir (shift), dimana selama waktu kerja tersebut petugas memiliki waktu istirahat selama 1 jam.

Tiap shift mempunyai jumlah petugas masing-masing: o Pagi : 4 orang o Siang: 2 orang o Malam: 1 orang

Waktu kerja dalam sehari dibagi kedalam empat shift antara lain : Shift 1 : Pukul 07.00-14.00 WITA Shift 2 : Pukul 14.00-21.00 WITA Shift 3 : Pukul 21.00-07.00 WITA

4.3.2. Alur Pekerjaan Alur Kerja Petugas Radiologi

Menerima Pengantar Radiologi

Pengolahan Hasil

Pembacaan dan Interpretasi Hasil

Menerima Pasien

Memindahkan Pasien ke Pendorong

Penyimpanan hasil secara teratur

Memindahkan Pasien dari Pendorong

Melakukan tindakan Pemeriksaan (Foto Radiologi, USG)

Pengedaran hasil

Input Data

Melakukan persiapan pasien

37

Gambar 4.1 Petugas radiologi saat bekerja

4.3.3. Alat Kerja yang Digunakan Meja Tulis Monitor Keyboard Perangkat X-ray Jas Pelindung Sinar X - Alat USG - Alat dan Bahan Pencucian Foto - Kotak Lampu - Kontras - Remote Kontrol

38

4.4. HASIL WALK THROUGH SURVEY Berikut ini adalah hasil pemantauan dan identifikasi potensi-potensi bahaya pada ruangan Instalasi Radiologi di RS Ibnu Sina Makassar mulai dari penerimaan pengangtar ke ruangan Instalasi Radiologi sampai dengan pengedaran hasil radiologi ke pasien. Pemantauan dan identifikasi ini dilakukan dengan metode walk through survey dengan menggunakan job safety analysis dan wawancara.

4.4.1 Tinjauan faktor-faktor yang mempengaruhi Kesehatan dan KeselamatanKerja 1. Menginput Data Pasien - Faktor Fisik Paparan cahaya lampu yang terlalu terang/gelap dan lama sehingga dapat membuat mata lelah dan gangguan penglihatan. Terdapat bising yang berasal dari perangkat radiologi, suara keluarga yang banyak, dapat mengakibatkan gangguan pendengaran.

Faktor Ergonomi Posisi kerja yang duduk pada ketinggian yang tidak sesuai sehingga dapat menyebabkan kelelahan pada otot leher, bahu, punggung dan kaki. Letak meja yang rendah tidak sesuai dengan tinggi siku saat berdiri, sehingga dapat mengakibatkan kelelahan pada bahu dan tangan.

Faktor Psikososial - Interaksi dengan pasien yang terkadang tidak baik karena beberapa pasien beserta keluarga mengakibatkan stress yang tidak sabar untuk mengantri dapat

39

2.Menerima Pasien - Faktor Fisik Bahaya lantai yang licin

-Faktor Ergonomi Mendorong di ruangan yang sempit dapat menyebabkan

musculoskeletal disorder. Cara mendorong pasien yang salah dapat menyebabkan

Musculoskeletal disorder 3. Memindahkan Pasien dari brangkar ke tempat tidur - Faktor Fisik Paparan cahaya lampu yang terlalu terang dan lama sehingga dapat membuat mata lelah dan gangguan penglihatan. Terdapat bising yang berasal dari mesin radiolo, suara keluarga pasien yang banyak dapat mengakibatkan gangguan pendengaran. Paparan suhu yang ekstrim dan lama dapat menyebabkan gangguan kulit dan ketidaknyamanan ketika bekerja

Faktor Biologi Bahaya infeksi oppotunistik apabila petugas menyentuh pasien

Faktor Ergonomi Cara memindahkan pasien yang salah dapat menyebabkan Musculoskeletal disorder. 4. Persiapan Pasien - Faktor Fisik Paparan cahaya lampu yang terlalu terang dan lama sehingga dapat membuat mata lelah dan gangguan penglihatan.

40

Terdapat bising yang berasal dari mesin radiologi, suara keluarga pasien yang banyak dapat mengakibatkan gangguan pendengaran. Paparan suhu yang ekstrim dan lama dapat menyebabkan gangguan kulit dan ketidaknyamanan ketika bekerja

Faktor Ergonomi Posisi kerja yang berdiri dan terus-menerus serta tidak adanya kursi sebagai alat bantu dapat menyebabkan kelelahan pada otot leher, bahu, punggung dan kaki. Letak tempat tidur pasien yang rendah tidak sesuai dengan tinggi siku saat berdiri, sehingga dapat mengakibatkan kelelahan pada bahu dan tangan.

Faktor Psikososial Interaksi dengan sesama rekan kerja yang terkadang tidak baik jika terdapat kesahalan dalam melakukan tindakan Tanggungjawab terhadap keselamatan pasien dan terhadap petugas atasan dalam melakukan tugas dengan cepat dan benar dapat mengakibatkan stress

5. Melakukan tindakan pemeriksaan radiologi ke atas pasien - Faktor Fisik Paparan cahaya lampu yang terlalu terang dan lama sehingga dapat membuat mata lelah dan gangguan penglihatan. Terdapat bising yang berasal dari mesin radiologi dapat

mengakibatkan gangguan pendengaran. Skil yang tidak memeadai dan cara kerja yang tidak benar dapat menyebabkan bahaya radiasi pada perugas radiologi. Penggunaan APD yang tidak benar atau tidak mengenakan APD sama sekali dapat menyebabkan bahay radiasi.

41

Paparan suhu yang ekstrim dan lama dapat menyebabkan gangguan kulit dan ketidaknyamanan ketika bekerja

-Faktor Ergonomi Posisi kerja yang berdiri dan terus-menerus serta tidak adanya kursi sebagai alat bantu dapat menyebabkan kelelahan pada otot leher, bahu, punggung dan kaki. Letak alat pemgatur mesin (remote control) yang tidak sesuai dengan tinggi petugas sehingga membutuhkan petugas utuk bekerja pada posisi yag kurang nyaman dapat menyebabkan kelelahan otot

.-Faktor Psikososial Tanggungjawab terhadap keselamatan pasien dan terhadap petugas atasan dalam melakukan tugas dengan cepat dan benar dapat mengakibatkan stress

6. Memindahkan Pasien dari tempat tidur ke brangkar - Faktor Fisik Paparan cahaya lampu yang terlalu terang dan lama sehingga dapat membuat mata lelah dan gangguan penglihatan. Terdapat bising yang berasal dari mesin radiolo, suara keluarga pasien yang banyak dapat mengakibatkan gangguan pendengaran. Paparan suhu yang ekstrim dan lama dapat menyebabkan gangguan kulit dan ketidaknyamanan ketika bekerja

-Faktor Biologi Bahaya infeksi oppotunistik apabila petugas menyentuh pasien

42

-Faktor Ergonomi Cara memindahkan pasien yang salah dapat menyebabkan Musculoskeletaldisorder. 7. Pengolahan Hasil - Faktor Fisik Paparan cahaya lampu yang terlalu gelap dan lama sehingga dapat membuat mata lelah dan gangguan penglihatan. Terdapat bising yang berasal dari mesin radiologi, suara keluarga pasien yang banyak dapat mengakibatkan gangguan pendengaran. Paparan suhu yang ekstrim dan lama dapat menyebabkan gangguan kulit dan ketidaknyamanan ketika bekerja Ventilasi yang kurang bagus dapat menyebabkan ketifaknyamanan saat bekerja. Penggunaan bahan kimia yang berbahaya dapat menyebabkan iritasi mata dan kulit.

Gambar 4.3 Bahan kimia yang digunakan untuk mengolah hasil foto radiologi pasien.

43

JOB SAFETY ANALYSIS DI RUANGAN RADIOLOGI RS IBNU SINA MAKASSAR


Langkah-langkah kerja Potensi bahaya Rekomendasi pengontrolan bahaya Menginput data pasien ke -Radiasi computer dalam komputer - Memakai kacamata untuk mengurangi computer - Stress -Istirahat untuk menghindari kecapean, stress, dan salah menulis status pasien -Masalah ergonomic cara - Jangan membungkuk pada duduk yang terlalu saat menulis Jarak mata harus dengan kurang radiasi

membungkuk

komputer lebih 30 cm -Debu pada

buku-buku - Membersihkan debu-debu pada buku-buku laporan

laporan pasien

-Mengetik yang terlalu lama - Menyesuaikan letak meja dapat membuat Carpal dengan berdiri. pasien -Mendorong dengan posisi dapat tubuh yang benar -Tidak mendorong pasien jika tidak sesuai dengan kemampuan Memindahkan pasien dari - Cara memindahkan pasien -Memindahkan brangkar pemeriksaan ke tempat yang salah pasien tinggi siku saat

Tunnel Syndrome Mendorong pasien ke -Cara mendorong salah

ruangan Radiologi dengan yang menggunakan brangkar

menyebabkan Musculoskeletal disorder

dapat dengan posisi tubuh yang benar -Melakukan cuci tangan

menyebabkan Musculoskeletal disorder

- Menyentuh sumber infeksi rutin dari tubuh pasien atau -Menggunakan yang tangan - Membuang sarung tangan sarung

bahan-bahan dikenakan pasien

44

- Occupational infeksi

pada tempat sampah medis -Melakukan rutin cuci tangan

Memasukkan Kontras

- Menyentuh sumber infeksi -Melakukan dari tubuh pasien atau rutin

cuci

tangan

bahan-bahan dikenakan pasien - Occupational infeksi

yang -Menggunakan tangan dan masker

sarung

- Melakukan desinfeksi -Membuang sarung tangan pada tempat sampah medis -Melakukan rutin cuci tangan

Melakukan Pemeriksaan

Faktor Fisik bising yang berasal dari - memakai alat pelindung mesin radiologi Skil yang tidak memaadai dan cara kerja yang tidak benar dapat menyebabkan bahaya radiasi pada perugas radiologi. Penggunaan tidak benar APD atau APD yang tidak sama diri seperti, muffler, jas radiologi

mengenakan

sekali dapat menyebabkan bahay radiasi. Istirahat yang cukup dan Faktor Ergonomi meletakkan remote control

Posisi kerja yang berdiri pada tinggi yang sesuai dan terus-menerus serta dengan petugas

tidak adanya kursi sebagai alat bantu dapat kelelahan

menyebabkan

45

pada

otot

leher,

bahu,

punggung dan kaki. Letak alat pemgatur mesin (remote control) yang tidak sesuai petugas dengan tinggi sehingga

membutuhkan petugas utuk bekerja pada posisi yag kurang nyaman dapat kelelahan

menyebabkan otot

Memindahkan pasien dari - Cara memindahkan pasien -Memindahkan tempat brangkar pemeriksaan ke yang salah

pasien

dapat dengan posisi tubuh yang benar -Melakukan cuci tangan

menyebabkan Musculoskeletal disorder

- Menyentuh sumber infeksi rutin dari tubuh pasien atau -Menggunakan yang tangan - Membuang sarung tangan pada tempat sampah medis -Melakukan rutin Pengolahan Hasil Iritasi kulit bila kontak - Menggunakan tangan selama sarung proses pakaian cuci tangan sarung

bahan-bahan dikenakan pasien - Occupational infeksi

dengan bahan kimia obat

pemeriksaan, pelindung diri

- Tidak menyentuh mulut, mata, selama pemeriksaan Melakukan cuci tangan rutin sehabis bekerja lubang hidung proses

46

Pembacaan dan Interpretasi -Masalah ergonomic cara - Duduk dengan poisi yang Hasil duduk yang terlalu benar dan jangan terlalu bungkuk

membungkuk

Faktor Fisik melihat - Istirahat dari membaca kotak lampu teralu lama hasil foto tiap 15 menit dengan menit. -Menyesuaikan letak meja dengan berdiri -Jarak mata dengan foto harus kurang lebih 30 cm tinggi siku saat interval 1-2

47

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

V.1.

KESIMPULAN

Berdasarkan penilaian Job Survey Analysis dapat disimpulkan sebagai berikut : a. Pada saat mendorong pasien dan memindahkan pasien , didapatkan faktor ergonomi, berupa posisi kerja salah yang dapat menyebabkan

Musculoskleletal disorder.. b. Pada saat memindahkan pasien, menyiapkan pasien dengan pesangan infus atau penyuntikan bahan kontras didapatkan resiko menyentuh sumber infeksi dari tubuh pasien atau bahan-bahan yang dikenakan pasien sehingga dokter dan radiografer harus melakukan cuci tangan rutin, memakai alat pelindung diri seperti sarung tangan dan masker, melakukan desinfeksi pada daerah tubuh pasien yang akan disentuh, serta setelah itu melakukan cuci tangan rutin kembali untuk menghindari resiko terkena occupational infeksi. Setelah memakai sarung tangan dan masker maka alat pelindung diri tersebut harus dibuang ke tempat sampah medis yang telah disiapkan. c. Pada saat melakukan pemeriksaan dan pengontrolan perangkat radiologi, didapati, petugas harus berdiri sehingga ini dapat menyebabkan masalah musculoskeletal. Pada pemeriksaan USG, walaupun terdapat kursi, tetapi jika posisi tidak diatur dngan baik juga dapat menyebabkan masalah

musculoskeletal. d. Pada saat mengolah hasil, terdapat penggunaan bahan kimia yang bersifat irritatif dan dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan mata sehingga petugas harus melakukan cuci tangan rutin, memakai alat pelindung diri seperti sarung tangan dan masker, melakukan desinfeksi pada daerah tubuh pasien yang akan disentuh, serta setelah itu melakukan cuci tangan rutin kembali untuk menghindari resiko terkena occupational infeksi juga menghindari penularan penyakit dari dokter ke pasien itu sendiri. Setelah memakai sarung tangan dan

48

masker maka alat pelindung diri tersebut harus dibuang ke tempat sampah medis yang telah disiapkan. e. Pada saat membuat status pasien dan menginput data pasien ke dalam computer, didapatkan faktor ergonomic berupa posisi duduk yang

membungkuk, jarak mata dengan objek yang sangat dekat. Maka perlunya menyesuaikan letak meja dengan tinggi siku saat berdiri supaya pada saat menulis dan mengetik posisi tubuh dalam keadaan tidak membungkuk. Faktor fisik seperti radiasi komputer, debu pada buku-buku laporan, faktor psikososial berupa stress akibat pekerjaan. Maka diperlukan kesadaran untuk membersihkan meja dan buku-buku laporan supaya tidak berdebu, serta untuk mengurangi stress diperlukan istirahat, tidak memaksakan berkerja berlebihan, juga dibutuhkan sikap dokter dan paramedis ruangan Insatalasi Radiologi untuk menjaga silaturahmi dengan atasan, pasien, dan sesama rekan kerja, agar terjalin rasa persaudaraan yang kuat.

V.2 SARAN 1) Diharapkan agar pengurus organisasi / unit K3 mengevaluasi masalah yang berhubungan dengan kesehatan, keselamatan dan lingkungan kerja di RS Ibnu Sina Makassar agar setiap petugas dapat bekerja optimal. Dan sebaiknya setiap tenaga kerja diberikan selebaran tentang kesehatan kerja dan penyakit akibat kerja. 2) Secara umum, dalam hal lingkungan kerja, diharapkan agar: Segala yang berhubungan dengan faktor fisik seperti pencahayaan dan suhu ruangan sebaiknya dihindari atau dikurangi. Dan pihak rumah sakit lebih memperhatikan fasilitas ruang ICU guna mendukung terciptanya pelayanan yang baik. Dari faktor ergonomi, tempat kerja petugas sebaiknya disesuaikan dengan postur tubuh petugas. Setiap petugas juga sebaiknya mengikuti pelatihan tentang ergonomik.

49

Faktor Psikososial, agar para dokter dan petugas ruangan radiologi menjaga silaturahmi dengan atasan, pasien, dan sesama rekan kerja, agar terjalin rasa persaudaraan yang kuat.

50

DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan RI (2009).Standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit. 2. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 432/MENKES/SK/IV/2007 tentang Pedoman Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di Rumah Sakit. 3. Keputusan Menteri Kesehatan RepublikIindonesia nomor : 1087/MENKES/SK/VIII/2010 Standar Kerja

Kesehatan Dan Keselamatan

Di Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Direktorat Bina Kesehatan Kerja Tahun 2010. 4. Keputusan Menteri Kesehatan Tentang Republik Standar Indonesia Pelayanan Nomor Radiologi

1014/MENKES/SK/XI/2008

Diagnostik Di Sarana Pelayanan Kesehatan Menteri Kesehatan Republik Indonesia 5. U.S Department of Labor Occupational Safety and Hazard Administration. Job Hazard Analysis. 2002. [cited on April 10th 2012] [online]. Available from : http://www.osha.gov/Publications/osha3071.pdf 6. WorkSafe Act Australia. Office of Regulatory Services. Updated March 2012. 02

[cited on April 10th 2012] [online]. Available from :

http://www.worksafety.act.gov.au/page/view/1039#1.%20Identify%20the %20Hazard 7. Health and Safety Programs. Canadian Centre for Occupational Health & Safety. Date Modified: 2008-05-29 [cited on April 10th 2012] [online]. Available from : http://www.ccohs.ca/oshanswers/hsprograms/job-

haz.html?print 8. Roughton,J and Crutchfield,N (2008) "Job Hazard Analysis, A Guide for Voluntary Compliance and Beyond," Butterworth-Heinemann. ISBN 9780-7506-8346-3

51

LAMPIRAN CHECK LIST KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA INSTALASI RADIOLOGI RS IBNU SINA

1. Faktor Fisik No. 1. PERIHAL Pencahayaan ; Apakah ada pencahayaan cukup terang Apakah warna cahaya lampu yang sesuai Apakah warna dinding ruangan yang terang 2. 3. 4. 5. Apakah ada sumber bising Apakah ada sumber getaran Apakah ada sumber radiasi Apakah terdapat sumber listrik dengan kekuatan tinggi ? YA TIDAK KET

2. Faktor Kimia No. 1. PERIHAL Bahan Kimia yang ada mempunyai label dan nama produk serta tandatanda bahaya yang dapat ditimbulkan 2. Tenaga kerja pernah mengikuti pelatihan/training mengenai penggunaan bahan kimia 3. Apakah dalam penggunaan bahan kimia tenaga kerja menggunakan APD YA TIDAK KET

52

4.

Apakah ventilasi tempat penyimpanan bahan kimia sudah cukup

5.

Apakah seluruh bahan kimia disimpan dan ditangani secara baik

3. Faktor Biologi No. 1. 2. PERIHAL Tersedia tempat sampah Menggunakan APD saat bekerja Tidak semua 3. Tersedia desinfektan untuk cuci tangan YA TIDAK KET

4.

Tersedia tempat cuci tangan/washtafel

4. Faktor Ergonomi No. 1. PERIHAL Apakah ada posisi kerja yang menimbulkan kelelahan ? 2. Apakah Anda diharuskan mengangkat barang yang berat ? 3. Apakah terdapat barang atau peralatan yang disimpan di tempat yang sulit dijangkau ? 4. Apakah ruangan kerja diatur dengan baik sehingga pekerja dapat bergerak dengan mudah dan leluasa? 5. Apakah ada petugas yang telah mengikuti pelatihan tentang ergonomic (keserasian dalam bekerja) ? YA TIDAK KET

53

6.

Apakah peralatan yang digunakan memerlukan skill khusus ?

7.

Apakah peralatan yang digunakan memerlukan posisi khusus agar dapat dioperasikan?

5. Kesehatan Kerja No. 1. 2. PERIHAL Tersedia Kotak P3K Diadakan Pemeriksaan Kesehatan Berkala 3. Terdapat Penyakit yang disebabkan oleh Pekerjaan 4. Ada Pelatihan Rencana Tanggap Gawat darurat Medis (MERP), seperti ; BTCLS, BHD 5. Jumlah pegawai yang telah mengikuti MERP YA TIDAK KET

6. Lingkungan No. 1.

PERIHAL

YA

TIDAK

KET

Apakah suhu ruangan memungkinkan untuk bekerja dengan nyaman ?

2.

Apakah ventilasi ruangan cukup memadai ?

3. 4.

Apakah kelembapan ruangan baik? Apakah lantai ruangan tempat kerja licin sehingga pekerja mudah terpleset ?

5.

Apakah ruangan kerja cukup luas ?

54

6.

Apakah alat ventilasi dan pendingin ruangan berfungsi dengan baik ?

7. 8.

Apakah ruang kerja dianggap bersih ? Apakah terdapat pintu darurat yang mudah diakses ?

7. Psikososial No. 1.

PERIHAL

YA

TIDAK

KET

Apakah pekerja harus menggunakan konsentrasi penuh dalam jangka waktu yang panjang ?

2.

Apakah terdapat jadwal kerja yang bergilir (pembagian shift kerja) ?

3.

Apakah pembagian shift kerja sudah baik ?

4.

Apakah terdapat jadwal istirahat bagi pekerja?

5.

Apakah pekerja dituntut untuk memberikan pelayanan yang tepat dan cepat ?

6.

Apakah ada pekerjaan yang bersifat emergensi?

7.

Apakah ada interaksi sosial antara sesama pekerja ?

8.

Apakah terdapat hubungan yang baik dengan pihak manajemen rumah sakit ?

55