Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN 1.

Latar Belakang Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan isi materi pelajaran dengan keadaan dunia nyata. Selain itu juga memotivasi siswa untuk menghubungkan pengetahuan pengetahuan yang diperoleh dan penerapannya dalam kehidupan siswa sebagai anggota keluarga, sebagai warga masyarakat dan sebagai tenaga kerja nantinya (US Department of Education and the National School-to-Work Office, 2001). Saat ini banyak sekolah di Amerika Serikat yang mengadopsi prinsip-prinsip CTL. Sebenarnya konsep pembelajaran kontekstual bukan konsep baru. Konsep ini diperkenalkan pertama kali pada tahun 1916 oleh John Dewey, yang mengetengahkan kurikulum dan metodologi pengajaran sangat erat hubungannya dengan minat dan pengalaman siswa. Proses belajar akan sangat efektif bila pengetahuan baru diberikan berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sebelumnya dan ada hubungan yang erat dengan pengalaman sesungguhnya (pengalam nyata). Selanjutnya diikuti oleh Katz (1981) dan Howey & Zipher (1989). Ketiga pakar terakhir ini menyatakan bahwa program pembelajaran bukanlah sekedar deretan satuan pelajaran. Agar pembelajaran menjadi efektif, guru harus menjelaskan dan mempunyai pandangan yang sama tentang beberapa konsep dasar seperti peran guru, hakikat pengajaran dan pembelajaran, serta misi sekolah dalam masyarakat. Apabila guru menyepakati bahwa ketiga konsep tersebut bermuara pada Contextual Teaching and Learning, barulah Contextual Teaching and Learning akan berhasil baik. Bila CTL diterapkan dengan benar maka siswa akan dapat menghubungkan apa yang diperoleh di kelas dengan kehidupan dunia nyata yang ada dilingkungannya. Guru harus memehami CTL dan menerapkan dengan benar agar siswa belajar lebih efektif. Untuk ini guru harus mendapat in-service training tentang CTL dan keterampilan mengajar yang lain.

2. Tujuan a. Tujuan Umum Memahami konsep Contextual Teaching Learning dan penerapannya dalam pembelajaran. b. Tujuan Khusus 1) Mengetahui pengertian Contextual Teaching Learning 2) Mengetahui strategi Contextual Teaching Learning 3) Mengetahui Tujuan Contextual Teaching Learning 4) Konsep Pendekatan Kontekstual Teaching Learning 5) Mengetahui Konvensional 6) Mengetahui komponen Contextual Teaching Learning 7) Implementasi Contextual Teaching Learning Perbedaan Pembelajaran CTL dengan Pembelajaran

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian Contextual Teaching Learning Contextual Teaching and Learning adalah konsep mengajar dan belajar yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi nyata dan yang memotivasi siswa agar menghubungkan pengetahuan dan terapannya dengan kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan isi materi pelajaran dengan keadaan dunia nyata. Selain itu juga memotivasi siswa untuk menghubungkan pengetahuan pengetahuan yang diperoleh dan penerapannya dalam kehidupan siswa sebagai anggota keluarga, sebagai warga masyarakat dan sebagai tenaga kerja nantinya (US Department of Education and the National School-to-Work Office, 2001). Definisi ringkas tetapi padat menyatakan bahwa Contextual Teaching and Learning adalah proses belajar pengajar yang erat dengan pengalaman nyata. Sebuah definisi lain menyatakan bahwa Contextual Teaching and Learning adalah pembelajaran yang harus situation and content-specific dan memberi kesempatan dilakukannya pemecahan masalah secara riil/otentik serta latihan dan melakukan tugas. Dari ketiga definisi yang dikutip tersebut dapat dirasakan adanya konsepkonsep sama yang melandasinya. Sedangkan dari referensi yang ada dalam bahasa Inggris Contextual Teaching and Learning mempunyai banyak padanan istilah. Contextual Teaching and Learning dapat dapat juga disebut experiencial learning, real world education, active learning, learner centered, intruction, dan learning-incontext. Dari kajian pustaka yang ada dapat dilihat bahwa CTL merupakan perpaduan beberapa praktek pengajaran yang baik dan beberapa pendekatan sebelumnya (konsep Dewey, pragmatik, komunikatif dan konstruktivis). CTL menekankan pada cara berpikir, trasfer pengetahuan lintas disiplin, pengumpulan, penganalisisan dan pentesisan informasi dan data dari berbagai sumber dan pandangan (Nur, 2001).

2.2 Strategi Contextual Teaching Learning Beberapa pakar mengemukakan strategi CTL yang pada umumnya hampir sama kecuali ada beberapa perbedaan penekanan. Blanchard (2001) menawarkan strategi CTL sebagai berikut. a) Menekankan pentingnya pemecahan masalah b) Mengakui perlunya kegiatan belajar mengajar dilakukan dalam berbagai konteks seperti rumah, masyarakat dan tempat kerja. c) Mengajar siswa memantau dan mengarahkan pembelajaran mereka agar menjadi siswa yang dapat belajar sendiri. d) Menekankan pelajaran pada konteks kehidupan siswa yang berbedabeda e) Mendorong siswa belajar dari sesama teman dan belajar bersama f) Menggunakan penilaian otentik Sedangkan COR, yaitu dari Center for Occupational Research di Amerika menyingkat kelima konsep Contextual Teaching and Learning dalam akronim REACT yang jabarannya adalah sebagai berikut. Relating : belajar dalam konteks kehidupan nyata Experiencing: belajar dalam konteks eksplorasi, penemuan dan penciptaan Applying : belajar dengan memadahkan pengetahuan dengan kegunaannya Cooperating: belajar dalam konteks interaksi kelompok Transfering : belajar dengan menggunakan pengetahuan dalam konteks baru/lain. Selain itu telah diidentifikasi enam unsur penting CTL (University of Washington, dalam Nur, 2001). a) Pembelajaran bermakna: pemahaman, relevansi dan penghargaan pribadi siswa bahwa dia berkepentingan terhadap isi pelajaran dan pembelajaran dirasakan penting dan relevan dengan kehidupannya. b) Penerapan pengetahuan: kemampuan untuk melihat bagaimana dan apa yang dipelajari diterapkan dalam tatanan-tatanan lain dan berfungsi pada masa sekarang dan akan datang. c) Berfikir tingkat lebih tinggi: siswa dilatih untuk berfikir kritis dan kreatif dalam pengumpulan data, memahami suatu issu, atau memecahkan suatu masalah.

d) Kurikulum

yang

dikembangkan

berdasarkan

standar:

isi

pengajaran

berhubungan dengan suatu rentang dan beragam standar lokal, negara bagian, nasional, asosiasi, dan atau industri. e) Responsive terhadap budaya: pendidik harus memahami dan menghormati nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan siswa, sesama rekan pendidik dan masyarakat tempat mereka mendidik. Berbagai macam budaya perorangan dan kelompok mempengaruhi pembelajaran. Budaya-budaya ini, dan hubungan antar budaya ini mempengaruhi bagaimana pendidik mengajar. Paling tidak empat perspektif seharusnya dipertimbangkan: individu siswa, kelompok siswa (seperti tim atau keseluruhan kelas), tatanan sekolah, dan tatanan,masyarakat yang lebih besar. f) Penilaian autentik: penggunaan berbagai macam strategi penilaian yang secara valid mencerminkan hasil belajar sesungguhnya yang diharapkan dari siswa. Strategi-strategi ini dapat meliputi penilaian atas proyek dan kegiatan siswa, penggunaan portofolio, rubriks, ceklis, dan panduan pengamatan di samping memberikan kesempatan kepada siswa ikut aktif berperanserta dalam menilai pembelajaran mereka sendiri dan penggunaan tiap-tiap penilaian untuk memperbaiki keterampilan menulis mereka.

2.3 Tujuan Contextual Teaching Learning Tujuan dari penerapan dan pendekatan pembelajaran kontekstual adalah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa melalui peningkatan pemahaman makna materi pelajaran yang dipelajari dangan mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari sebagai individual, anggota keluarga, anggota masyarakat, dan anggota bangsa. Untuk pencapain tujuan tersebut, sejumlah hasil diharapkan dalam penerapan pendekatan kontekstual, adalah sebagai berikut: 1. Guru bangsawan Hal ini guru yang berwawasan dalam penerapan dan pendekatan harus dihasilkan melalui beberapa cara, misalnya dengan diadakan pelatihan, pemagangan, studi banding, dan pemenuhan bacaan pembelajaran kontekstual yang lengkap. Cara ini dilakukan agar guru-guru dapat menambah pengetahuan dan wawasan mereka.
5

2.

Materi dalam pembelajaran Dalam hal ini guru harus bisa mencari materi pembelajaran yang dijiwai oleh konteks perlu disusun agar bermakna bagi siswa.

3.

Strategi metode dan teknik belajar dan mengajar Dalam hal ini adalah bagaimana cara membuat siswa bersemangat belajar, yang lebih konkret, yang menggunakan realitas, yang lebih aktual, yang lebih nyata/riil.

4.

Media pendidikan Media dalam hal pembelajaran kontekstual ini dapat berupa situasi alamiah, benda nyata, alat peraga, film nyata dan VCD perlu dipilih dan dirancang agar membuat belajar lebih bermakna.

5.

Fasilitas Pendukung pembelajaran kontekstual seperti peralatan dan perlengkapan, laboratorium, tempat praktek dan tempat-tempat untuk melakukan pelatihan perlu disediakan.

6.

Proses belajar dan mengajar Hal ini ditujukan oleh perilaku guru dan perilaku siswa yang bernuansa pembelajaran kontekstual merupakan inti dari pembelajaran. Perilaku guru, seperti kejelasan mengajar, pengguanaan strategi-strategi mengajar yang variatif, penggunaan media pengajaran yang variatif mulai dari abstrak hingga konkret, dari tiruan hingga asli, pemanfaatn ide-ide siswa, antusiasme dan lain-lain, hal tersebut perlu didorong dari waktu ke waktu.

7.

Kancah pembelajaran Perlu dipilih sesuai dengan hasil yamg diinginkan. Kancah pembelajaran yang dimaksud tidak harus diruang kelas, tetapi juga di alam terbuka yang asli, di masyarakat, di rumah, dan di lingkungan dimana mereka hidup.

8.

Penilaian Penilaian/evaluasi otentik perlu diupayakan karena pembelajaran kontekstual menuntut pengukuran prestasi belajar siswa dengan cara-cara yang tepat dan variatif, tidak hanya dengan pencil atau paper test. Jadi penilaian otentik merupakan

kombinasi dari berbagai cara penilaian, mulai dari tes tertulis, hasil pekerjaan rumah, proyek kuis, dan tanya jawab di kelas. 9. Suasana Suasana dalam lingkungan pembelajaran kontekstual sangat berpengaruh karena dapat mendekatkan situasi kehidupan sekolah dengan kehidupan nyata di lingkungan siswa.

2.4 Konsep Pendekatan Kontekstual Teaching Learning Pendekatan pembelajaran kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar dilihat dari proses, trasfer belajar dn lingkungan belajar. Dilihat dari proses, belajar tidak hanya sekedar menghafal. Pelajar (siswa/mahasiswa) harus mengkontruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri, pelajar belajar dari pengalaman. Pengetahuan tidak dapat di pisah-pisahkan menjadi faktor-faktor atau proposisi yang terpisah-pisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan. Pelajar perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan mengembangkan ide-ide yang kreatif. Dilihat dari transfer belajar, pelajar belajar dari pengalamannya sendiri, bukan pemberian dari orang lain. Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas sedikit demi sedikit. Pelajar harus mengetahui makna belajar dan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya untuk membantu memecahkan masalah dalam kehidupannya. Dilihat dari lingkungan belajar, bahwa belajar yang efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Pembelajaran harus berpusat pada bagaimana pelajar menggunakan pengetahuan dan keterampilan baru mereka. Umpan balik dalam hal ini amatlah penting bagi mereka, yang berasal dari proses penilaian yang benar. Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok sangat diperlukan. Pembelajaran kontekstual merupakan upaya pendidik untuk menghubungkan antara materi yang dibelajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik, dan mendorong pesrta didik melakukan hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupannya sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual

berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan peserta didik bekerja dan mengalami.
7

Dalam kegiatan pembelajaran bukan merupakan transfer pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik, tetapi keterlibatan peserta didik dalam menghubungkan dengan dunia kehidupan yang sangat tinggi.

2.5 Perbedaan Pembelajaran CTL dengan Pembelajaran Konvensional Model pembelajaran kontekstual memiliki karateristik tersendiri dalam penerapannya di kelas, sehingga akan kelihatan perbedaannya dengan pembelajaran konvensional, sebagaimana nampak pada tabel berikut: No 1 Pembelajaran Kontekstual Pelajar secara aktif Pembelajaran Konvensional

terlibat Pelajar adalah penerima informasi . informasi selalu datang dari pendidik sehingga untuk ketergantungan informasi pelajar dari

dalam proses pembelajaran

menerima

pendidik tinggi 2 Siswa belajar cari teman melalui Pelajar cenderung belajar secara

kerja kelompok, diskusi, saling individual. Hal ini dilakukan sesuai mengoreksi. pembelajaran Melalui dengan tugas yang dilakukan oleh kontekstual pendidik

terpupuk kebersamaan diantara beserta didik sehingga

kelompok sangat bermakna. 3 Pembelajaran dihubungkan Pembelajaran cenderung abstak dan

dengan kehidupan nyata atau teoritis. Seringkali terjadi verbalisme masalah 4 Perilaku belajar dibangun atas Perilaku dibangun atas kebiasaan. kesadaran diri. Faktor intrinsik Faktor ekstrinsik sangat dominan sangat mempengaruhi diri siswa 5 Keterampilan atas dasar pada peserta didik dikembangkan atas

dikembangkaqn Keterampilan pemahaman dasar perlunya

pemenuhan

kebutuhan

menginggat

untuk kurikulum belaka tidak atas dasar

kehidupan 6

kebutuhan.

Hadiah untuk perilaku baik Hadiah atas perilaku baik adalah adalah harga diri. Kepuasan pujian atau nilai yang merupakan dirasakan oleh peserta didik, indikator bagi keberhasilan siswa sehingga angka bukan

merupakan tujuan pencapaian 7 Peserta didik tidak melakukan Peserta didik tidak melakukan yang yang jelek karena dia sadar jelek karena dia takut hukuman. kalau hal itu keliru dan Pendidik masih memiliki peran yang sangat berpengaruh kuat dalam sehingga masih

merugikan dalam kehidupan

menentukan pengambilan

keputusan keputusan

cenderung vertikal/sepihak 8 Bahasa menggunakan bahasa Bahasa diajarkan dengan pendekatan komunikatif nyata 9 Pemahaman dikembangkan sendiri dalam konteks struktural, bahasa baku sehingga

terkadang kurang familiar rumus Rumus itu timbul dari luar diri oleh peserta, terkadang dan tidak gagl

peserta atas dasar skemata yang memahaminya sudah dipahami 10 Pemahaman rumus menerapkannya

relatif Pemahaman rumus seragam, yakni atau salah dan tidak

berbeda pada diri peserta karena benar pemahaman skemata

peserta dihubungkan dengan lingkungannya lingkungan kehidupan

yang berlainan bergantung pada dengan perbedaan lingkungannya 11 Peserta kemampuan terlibat

masing-masing peserta didik

menggunakan Siswa secara pasif menerima rumus berfikir dan kritis, atau kaidah (membaca,

penuh

ikut mendengar,mencacat,menghafal)tanpa

bertanggung jawab dalam proses memberikan kontribusi ide dalam pembelajaran dengan kedalam proses pembelajaran. Semua

skemata yang berbeda-beda 12 Pengetahuan

diberikan oleh pendidik adalah penangkapan

dikembangkan Pengetahuan

oleh peserta sendiri dengan terhadap serangkaian fakta, konsep menciptakan atau membangun atau hukum yang berada diluar diri pengetahuan dengan cara peserta

memberi arti dan memahami pengalamannya 13 Pembelajaran bersifat student Pembelajaran centered 14 centered bersifat teacher

Hasil belajar diukur dengan Hasil belajar diukur dengan tes, masih berbagai cara, proses bekerja, terbatas pada pengukuran bentuk hasil karya, skematis, angka sehingga hasilnya belum

penampilan, sehingga prestasi nampak secara menyeluruh dapat diketahui secara utuh 15 Pembelajaran diberbagai setting 16 Penyalahan bagi adalah hukuman Sanksi adalah hukuman dari perilaku yang jelek. Pendidik selalu berperan bisa tempat, terjadi Pembelajaran hanya terjadi di dalam konteks, kelas

perilaku

jelek

didasarkan atas kesadaran tidak memberlakukan aturan bagi peserta melakukan bermanfaat 17 Perilaku baik berdasar motivasi Perilaku intrinsik ekstrinsik baik berdasar motivasi kegiatan yang didiknya

10

2.6 Komponen Contextual Teaching Learning Ada 7 komponen pembelajaran kontekstual, yakni: 1. Kontruktivisme Kontruktivisme adalah landasan berfikir pembelajaran kontekstual, yakni bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia didalam dirinya sedikit demi sedikit yang hasilnya dapat diperluas melalui konteks yang terbatas. 2. Pencarian/Menemukan (Inquiry) Pencarian atau menemukan inti dari pembelajaran. Pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki peserta merupakan hasil penemuan atau pencarian peserta didik. 3. Bertanya Bertanya merupakan awal dari pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki peserta karena merupakan strategi inti dari pembelajaran kontekstual. Bertanya ini penting bagi pesrta karena merupakan basis untuk menggali informasi, mengkonfirmsikan apa yang sudah diketahui, mengarahkan perhatian pada aspek yang belum dimengerti. 4. Masyarakat belajar ( Learning Comunity) Konsep ini menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari hasik kerja sama dengan orang lain, hasil sharing antara teman, antar kelompok. Masyarakat belajar terjadi apabila ada komunikasi 2 arah atau lebih, yaitu antara sesama peserta , peserta dengan pendidik atau dengan lintas kelompok. 5. Pemodelan Pemodelan yang dilakukan dalam pembelajaran kontekstual adlah model yang dapat ditiru yang dalam perancangannya dapat melibatkan pendidik, peserta ataupun yang didatangkan dari luar sesuai kebutuhan yang ada. Dengan pemodelan, peserta dapat meniru apa yang dilakukan oleh demonstrasi, dan penugasan nampaknya cocok untuk ini. 6. Refleksi Refleksi adalah cara berfikir tentang sesuatu yang sudah dipelajari. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian.
11

model. Metode

Realisis dari refleksi ini, antara lain : Pernyataan langsung tentang sesuatu yang sudah diperoleh peserta Kesan dan pesan/sarn siswa tentang pembelajaran yang sudah diterimanya Hasil karya

7. Penilaian yang sebenarnya Assement merupakan proses pengumpulan data yang bisa memberikan perkembangan belajar peserta didik. Penilaian ini perlu dilakukan agar peserta dapat melakukan kegiatan belajar dengan benar. Kemajuan belajar peserta dinilai dari proses bukan hanya dari hasil dan dilakukan dengan berbagai cara, seperti : melalui proses ketja, hasil kerja,penampilan, dan tes.

2.7 Implementasi Pembelajaran Contextual Teaching Learning Penerapan dari pembelajaran kontekstual ini dapat dideskripsikan melalui tinjauan yang cukup pada 7 komponen yang ada, yakni : 1. Implementasi komponen kontruktivisme Implementasi dari komponen kontruktivisme ini bahwasannya tugas pendidikan dalam konteks ini adalah memfasilitasi proses pembelajaran dengan cara : a. Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi peserta didik b. Memberikan kesempatan kepada peserta untuk menemukan dan menerapkan idenya sendiri c. Menyadarkan peserta agar menerapkan stategi mereka sendiri dalam belajar. 2. Implementasi Komponen Pencarian/Menemukan (Inquiry) Implementasi dari komponen ini bahwasannya tahapan yang dapat diikuti dalam proses iquiry secara keseluruhan, antara lain : a. Kegiatan pemberian dorongan. Kegiatan ini ditujukan untuk menarik

perhatianpeserta dan menggunakan bahan belajar yang akan dipelajari dengan bahan belajar yang sudah dikuasai. b. Kegiatan penyampaian rencana program pembelajaran yang harus diikuti peserta c. Pelaksanaan inquiry, dengan langkah-langkah : 1) Pengajuan permasalahan
12

2) Pengajuan pertanyaan penelitian (hipotesis) 3) Pengumpulan data 4) Penarikan kesimpulan 5) Penarikan generalisasi d. Umpan balik. Kegiatan ini ditujukan untuk melihat respon siswa terhadap keseluruhan bahan belajar. e. Penilaian tentang keseluruhan aspek yang sudah dicapai oleh peserta didik

3. Implementasi Komponen Bertanya Implementasi dari komponen bertnya adalah perbanyaklah aktivitas peserta untuk menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum dimengerti. 4. Implementasi Komponen Masyarakat belajar (Learning Comunity) Implementasi dari komponen ini adalah bahwa bangunlah komunikasi interaktif antar unsur-unsur yang yang terlibat dalam proses pembelajaran yang mengarah pada terciptanya situasi komunikatif yang efektif dan harmonis. 5. Implementasi Komponen Pemodelan Implementasi dari komponen pemodelan ini adalah bhwa proses pemodelan harus didesain sedemikian rupa sehingga benar-benar relevan dan adaptable denga situasi kehidupan nyata peserta. 6. Implementasi Komponen Refleksi Implementasi dari komponen refleksi ini adalah realisasikan hal-hal berikut: a. b. c. Pernyataan langsung tentang sesuatu yang sudah diperoleh peserta Kesan dan pesan/saran siswa tentang pembelajaran yang sudah diterimanya Penilaian hasil karya peserta

7. Implementasi Komponen Penilaian yang sebenarnya Implementasi dari komponen assesment ini adalah bahwa kemajuan belajar peserta dinilai dari proses bukan hanya dari hasil dan dilakukan dengan berbagai cara seperti : melalui proses kerja, hasil karya, penampilan, dan tes.

13

Karakteristik authentic assesmenst antara lain : a. Penilaian dilakukan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung b. Dapat digunakan untuk kepentingan penilain formatif ataupun somatif c. Yang diukur adalah keterampilan dan penampilan bukan mengingat fakta dan pengumpulan angka-angka d. Berlangsung berkesinambungan e. Terintegrasi f. Dapat digunakan sebagai feedback

14

BAB III PENUTUP

Contextual Teaching and Learning menawarkan strategi pembelajaran sedemikian rupa sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa. Selain itu, strategi ini akan efektif dalam membantu siswa yang termasuk dalam kelompok di bawah rata-rata. Anak-anak dari kelompok ini bukan hanya terdiri dari mereka yang benar-benar tergolong lambat belajar, tetapi juga anak-anak yang karena lingkungannya menjadi anak yang kurang kreatif. Dengan kata lain guru harus memiliki berbagai keterampilan strategi mengajar yang akan dituangkan dalam kegiatan mengajar sehari-hari. Hal penting yang perlu mendapat perhatian adalah perlunya guru membekali diri dengan sikap positif seperti keinginan untuk selalu memperbaiki diri, selalu ingin tahu hal baru, dan bersedia menerima kegagalan dan atau kritikan. Yang terakhir ini mendorong guru untuk mula-mula belajar melakukan pengamatan serta mencatatnya, dan lama kelamaan belajar membuat penelitian tindakan kelas, yang pada gilirannya akan sangat bermanfaat untuk penyempurnaan

pembelajaran.

15

DAFTAR PUSTAKA Holmes Partnership: USA Today Education: Contextual Teaching and Learning 03/06/01 (University of Wisconsin Center of Education; University of Georgia; the Ohio State University College of Education). http://www.aypf.org/forumbriefs/1999/fb070999.htm. Contextually Based Learning: Fad or Proven Practice a Forum Brief; July, 9, 1999. http://www.Arohanui.school.nz/contextual/learning.htm Kasihani & Astini. Contextual Teaching and Learning. Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris. Makalah Pelatihan Calon Pelatih Guru SLTP. 20 Juni -7 Juli 2001. Surabaya. Le Marquand, James. Contextual Learning. Arohanui School, N.Z. Nur, Mohamad. 2001. Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual. UNESA. Makalah Pelatihan TOT. 20 Juni s.d. Juli 2001. Depdiknas. University of Washington College of Education. 2001. Training for Indonesian Educational Team in Contextual Teaching and Learning. Seattle. Washington, USA.

16