Anda di halaman 1dari 12

Peralatan pengendali pencemar udara : Electrostatic Precipitator ( ESP ) (2)

Posted on August 22, 2011 | Leave a comment

Peralatan pengendali pencemar udara : Electrostatic Precipitator ( ESP ) (2)


. Posted on August 22, 2011 | Leave a comment Ada beberapa jenis ESP yang didesain sesuai dengan tujuan yang diharapkan, yaitu : 1. Plate-wire precipitator Gas mengalir diantara lempengan pararel dan elektroda bertegangan tinggi. Eletroda merupakan bentangan kawat dan menggantung diantara lempengan. Tegangan yang dialirkan pada eletroda menyebabkan gas bermuatan listrik, suatu proses yang disebut corona. Eletroda biasanya dialiri dengan listrik bermuatan negatif.

Partikulat yang melewati zona bermuatan, akan menyerap sebagian ion. partikel aerosol (< um) dapat menerima 10 ion, sedang partikel yang lebi besar ( > 10 um) dapat menyerap 10 sampai ribuan ion. Gaya listrik yang lebih besar diperoleh oleh partikel yang lebih besar. Plate-wire precipitator digunakan pada industri-industri : semen, boiler bertenaga batubara, insinerator buangan padat, pabrik kertas, pemurnian minyak, industri gelas. 2. Flat-plate Precipitator Beberapa presipitator berukuran kecil menggunakan lempengan datar sebagai pengganti kawat. lempengan datar meningkatkan medan listrik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan partikel. Corona tidak dapat terbentuk, oleh karena itu pembentukan corona dilakukan sebelum dan setelah zona pengumpulan lempengan datar. Elektroda-elektroda iini berbentuk sepeerti jarum dan menempel pada sisi lempengan atau pada kawat bebas. Presipitator jenis flat-plate, dapat beroperasi dengan baik menggunakan muatan positif maupun muatan negatif. Pada umumnya digunakan muatan positif untuk mengurangi pemebentukan ozon. Penggunaan ESP jenis ini memerlukan desain yang baik, karena gaya listrik pada partikel yang kecil lebih lemah dibandingkan dengan partikel yang besar. Kecepatan aliran yang rendah dapat menyebabkan kehilangan sejumlah aprtikulat yang seharusnya tidak terpisahkan. 3. Tubular Precipitator Pada tubular electroprecipitator, elektroda bertegangan tinggi terletak pada sumbu tabung. Tabung-tabung dipararelkan untuk mengantisipasi pengingkatan aliran gas. Tabung yang digunakan dapat berbentuk : bulat, persegi, ataupun segienam, dengan arah aliran ke atas atau ke

bawah. Panjang tabung dipilih sesuai keperluan. Tubular elektroststik precipitator dapat dilapisi dengan bahan untuk mencegah kerusakan akibat bahan berbahaya. Elektroda bertegangan tinggi beroperasi dengan satu jenis tegangan sepanjang tabung. Ketidak seragaman corona yang terbentuk, mengakibatkan beberapa partikel tidak terkenan medan listrik. Sehingga hal ini dapat mempengaruhi unjuk efisiensi peralatan.

4. Wet Precipitator Pada wet precipitator, air dialirkan secara intermitten atau kontinyu untuk membersihan partikel yang terkumpul di dalam wadah pembuangan. Keuntungan penggunaan wet precipitator adalah tidak terdapat masalah pada kelhilangan volume gas yang bisa diolah, ataupun denganback corona. Kerugian precipitator ini ialah kompleksitas proses pencucian dan permasalahan pada penanganan lumpur yang dihasilkan.

5. Two stage Precipitator Pada keempat precipitator di atas bekerja secara pararel, dimana elektroda medan listrik dan elektroda pengumpul saling berdampingan. Pada two-stage precipitator beroperasi secara seri dimana elektroda pengumpul diletakkan setelah elektroda medan listrik. Untuk penggunaan di dalam ruangan, unit ini dioperasikan dengan menggunakan muatan positif untuk membatasi pembentukan ozon. Keuntungan precipitator two-stage adalah waktu charging yang lebih lama, pembentukan back corona yang lebih sedikit, dan biaya konstruksi yang lebih murah untuk ukuran yang kecil. Precipitator jenis ini biasanya digunakan untuk gas bervolume sampai dengan 50.000 acfm. Unit ini terdiri dari mechanical prefilter, ionizer, collecting-plate cell, filter dan sumber tenaga yang diletakkan secara seri ataupun pararel

eralatan pengendali pencemar udara : Electrostatic Precipitator ( ESP ) (1) Peralatan pengendali pencemar udara : Electrostatic Precipitator ( ESP ) (1)
Posted on August 22, 2011 | Leave a comment Posted on August 22, 2011 | Leave a comment Electrostatic Precipitator ( ESP ), adalah peralatan pengendali pencemar udara pada sumber pencemar udara.

Electrostatic Precipitator ( ESP ), peralatan untuk menangkap partikulat di udara/gas, menggunakan tenaga listrik yang membawa partikel keluar dari gas menuju pelat-pelat pengumpul.

. Partikulat dalam gas diberikan energi listrik dengan cara melewatkan gas tersebut melalui corona.

Corona adalah suatu daerah dimana ion-ion gas mengalir. Medan listrik yang mengakibatkan partikel bergerak ke dinding pelat berasal dari elektroda yang bermuatan tinggi. Elektrostatik presipitator mampu mengumpulkan partikulat dengan ukuran minimum lebih dari 1 mikron dengan efisiensi 95 samapai 99 %.

Kecepatan aliran gas yang terpolusi dalam eletrostatik presipitator adalah 3 sampai 5 ft, lebih rendah jika dibandingkan dengan kecepatan aliran dalam cyclone. Electrostatic precipitator digunakan apabila : dibutuhkan efisiensi relatif tinggi untuk mengumpulkan debu halus gas yang perlu diolah dalam volume besar material yang berharga akan dikumpulkan Kelebihan Precipitator adalah: memiliki efisiensi yang tinggi, bisa mencapai 99%. Bisa mengumpulkan partikel berdiamater sangat kecil. partikel dapat dikumpulkan dalam keadaan basah atau kering Dapat menangani debit gas yang besar. Kebutuhan listrik untuk mengalirkan udara cukup rendah. Debu dapat dikumpulkan dalam kondisi kering untuk recovery. Kehilangan tekanan dan temperatur kecil. Kehilangan tekanan biasanya tidak melebihi 0,5 inci kolom air. Dapat beroperasi secara kontinyu, dengan pemeliharaan sedikit dan periode waktu yang lama. Tidak terdapat komponen yang bergerak, sehingga bisa meminimasi biaya pemeliharaan. Dapat digunakan pada temperatur yang tinggi, temperatur yang bisa diterapkan adalah 700 oF. Dapat digunakan untuk mengumpulkan asam asam, yang sulit dikumpulkan dengan peralatan lain. Material korosif dapat dikumpulkan dengan ESP jenis tertentu. Efisiensi dapat ditingkatkan dengan cara meningkatkan ukuran unit. Kelemahan ESP diantaranya adalah : Biaya investasi cukup mahal. Sensitif terhadap variasi beban debu atau aliran. Memerlukan tempat yang cukup besar. Tidak dapat diaplikasikan untuk menyisihkan kontaminan dalam fase gas. Terdapat bahaya listrik dengan tegangan cukup tinggi.

Peralatan pengendali pencemar udara : Electrostatic Precipitator ( ESP ) (1)


Posted on August 22, 2011 | Leave a comment

. Berdasarkan tenaga listrik yang bekerja, eletrostatik presipitator dibedakan atas : 1. Low voltage two stage

prinsip kerjanya adalah memberikan partikel muatan eletrostatik dan membawa partikulat-partikulat tersebut ke medan listrik, yang akan mendorong partikulat ke arah pelat pengumpul. pemberian muatan dan pengumpulan terletak pada satu bagian di eletrostatik precipitator. Beroperasi pada tegangan 6.000 sampai 12.000 volt Umumnya digunakan untuk mengumpulkan partikel cair Low stage precipitaor terdiri dari beberapa tipe.

2.

High voltage single stage

prinsip kerjanya adalah memberikan partikel muatan eletrostatik, kemudian membawa partikulat-partikulat tersebut ke medan listrik dan mendorong partikulat ke arah pelat pengumpul. Proses pemberian muatan dan pengumpulan partikulat terjadi pada bagian yang berbeda dari eletrostatik presipitator. Beroperasi pada tegangan 30.000 hingga 100.000 volt Digunakan pada industri besar seperti boiler yang membakar batu bara

Electrostatic Precipitator 03:40 HaGe No comments

Artikel kali ini akan membahas mengenai aplikasi dari teori elektrostatis yang pernah dibahas pada artikel sebelumnya di sini. Aplikasi dari electrostatic pada dunia industri digunakan untuk mengatasi masalah limbah debu. Industri yang mengaplikasikannya antara lain PLTU, pabrik gula dan pabrik semen, salah satu caranya adalah dengan menggunakan electrostatic precipitator (ESP). ElectroStatic Precipitator (ESP) adalah salah satu alternatif penangkap debu dengan effisiensi tinggi (mencapai diatas 90%) dan rentang partikel yang didapat cukup besar. Dengan menggunakan electro static precipitator (ESP) ini, jumlah limbah debu yang keluar dari cerobong diharapkan hanya sekitar 0,16 % (efektifitas penangkapan debu mencapai 99,84%). Salah satu komponen terpenting dalam proses produksi di Pabrik Gula dan PLTU adalah boiler. Fungsinya adalah sebagai tempat untuk memanaskan air, sehingga menghasilkan uap yang nantinya akan digunakan untuk proses selanjutnya. Pada PLTU, uap ini digunakan untuk memutar turbin uap sebagai penggerak generator. Untuk melakukan kerjanya, boiler membutuhkan adanya panas yang digunakan untuk memanaskan air. Panas ini disuplai dari bagian yang disebut dengan ruang bakar atau furnace, dimana pada ruang bakar ini dilengkapi dengan alat pembakaran atau burner. Hasil pembakaran di ruang bakar tersebut mengandung banyak debu mengingat bahan bakar yang digunakan adalah batubara, dan debu tersebut akan terbawa bersama gas buang menuju cerobong. Sebelum gas buang tersebut keluar melalui cerobong, maka gas buang tersebut akan melewati kisi-kisi suatu electrostatic precipitator (ESP).

Gambar 1. Electrostatic precipitator overview.

Gambar 2. Persentase penangkapan partikel debu pada ESP. Cara Kerja ElectroStatic Precipitator Cara kerja dari electro static precipitator (ESP) adalah (1) melewatkan gas buang (flue gas) melalui suatu medan listrik yang terbentuk antara discharge electrode dengan collector plate, flue gas yang mengandung butiran debu pada awalnya bermuatan netral dan pada saat melewati medan listrik, partikel debu tersebut akan terionisasi sehingga partikel debu tersebut menjadi bermuatan negatif (-). (2) Partikel debu yang sekarang bermuatan negatif (-) kemudian menempel pada pelat-pelat pengumpul (collector plate), lihat gambar 4. Debu yang dikumpulkan di collector plate dipindahkan kembali secara periodik dari collector plate melalui suatu getaran (rapping). Debu ini kemudian jatuh ke bak penampung (ash hopper), lihat gambar 1 dan 2, dan ditransport (dipindahkan) ke flyash silo dengan cara di vakum atau dihembuskan.

Gambar 3. Bagian-bagian dari electrostatic precipitator.

Gambar 4. Proses ionisasi. Proses Pembentukan Medan Listrik Proses pembentukan medan listrik; (1) Terdapat dua jenis electrode, yaitu discharge electrode yang bermuatan negatif dan collector plate electrode bermuatan positif. (2) Discharge electrode diletakkan diantara collector plate pada jarak tertentu (memiliki jarak antara discharge electrode dengan collector plate). (3) Discharge electrode diberi listrik arus searah (DC) dengan muatan minus (lihat gambar 3), pada level tegangan antara 55 75 KvDC (sumber listrik awalnya adalah 380 volt AC, kemudian dinaikkan oleh transformer menjadi sekitar 55 75 Kv dan dirubah menjadi listrik DC oleh rectifier, diambil hanya potensial negatifnya saja). (4) collector plate ditanahkan (di-grounding) agar bermuatan positif. (5) Dengan demikian, pada saat discharge electrode diberi arus DC maka medan listrik terbentuk pada ruang yang berisi tirai-tirai electrode tersebut dan partikel-partikel debu akan tertarik pada pelat-pelat tersebut, Gas bersih kemudian bergerak ke cerobong asap. Electrostatic precipitator merupakan salah satu cara agar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) ataupun industri lainnya yang berpotensi menghasilkan limbah debu menjadi ramah lingkungan, setidaknya dapat mengurangi kandungan polutan yang dibuang melalui cerobong

Pendahuluan Elektrostatik merupakan salah satu cabang fisika yang berhadapan dengan gaya yang dikeluarkan oleh medan listrik statik (tidak berubah) kepada sebuah objek yang bermuatan. Aplikasi elektrostatik dalam dunia industri digunakan untuk mengatasi masalah limbah debu. Industri yang banyak mengaplikasikannya yaitu seperti PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap),

pabrik gula, dan pabrik semen. Salah satu penerapannya yaitu penggunaan electrostatic precipitator (ESP). ElectroStatic Precipitator (ESP) adalah salah satu alternatif penangkap debu dengan effisiensi tinggi (diatas 90%) dan rentang partikel yang didapat cukup besar. Dengan menggunakan electrostatic precipitator (ESP) ini, jumlah limbah debu yang keluar dari cerobong diharapkan hanya sekitar 0,16% (dimana efektifitas penangkapan debu mencapai 99,84%). Salah satu komponen terpenting dalam proses produksi di Pabrik Gula dan PLTU adalah boiler yang berfungsi sebagai tempat untuk memanaskan air, sehingga menghasilkan uap yang nantinya akan digunakan untuk proses selanjutnya. Pada PLTU, uap ini digunakan untuk memutar turbin uap sebagai penggerak generator. Untuk melakukan kerja, boiler membutuhkan adanya panas yang digunakan untuk memanaskan air. Panas ini disuplai oleh bagian yang disebut dengan ruang bakar atau furnace, dimana pada ruang bakar ini dilengkapi dengan alat pembakaran atau burner. Hasil pembakaran di ruang bakar tersebut akan mengandung banyak debu, mengingat bahan bakar yang digunakan adalah batubara, kemudian debu tersebut akan terbawa bersama gas buang menuju cerobong. Sebelum gas buang tersebut keluar melalui cerobong, maka gas buang tersebut akan melewati kisi-kisi suatu electrostatic precipitator (ESP). Cara Kerja ElectroStatic Precipitator Cara kerja dari electrostatic precipitator (ESP) yaitu sebagai berikut : (1) Melewatkan gas buang (flue gas) melalui suatu medan listrik yang terbentuk antara discharge electrode dengan collector plate, flue gas yang mengandung butiran debu pada awalnya bermuatan netral dan pada saat melewati medan listrik, partikel debu tersebut akan terionisasi sehingga partikel debu tersebut menjadi bermuatan negatif (-). (2) Partikel debu yang bermuatan negatif (-) selanjutnya menempel pada pelat-pelat pengumpul (collector plate), lihat gambar 4. Debu yang dikumpulkan di collector plate dipindahkan kembali secara periodik dari collector plate melalui suatu getaran (rapping). Debu ini kemudian jatuh ke bak penampung (ash hopper), lihat gambar 1 dan 2, dan dipindahkan (transport) ke flyash silo dengan cara dihembuskan (vacuum).

Gambar a

Gambar b

Gambar c

Gambar d

Proses Pembentukan Medan Listrik (1) Terdapat dua jenis electrode, yaitu discharge electrode yang bermuatan negatif (-) dan collector plate electrode bermuatan positif (+). (2) Discharge electrode diletakkan diantara collector plate pada jarak tertentu (jarak antara discharge electrode dengan collector plate). (3) Discharge electrode diberi listrik arus searah (DC) dengan muatan minus (lihat gambar 3), pada level tegangan antara 55 75 kV DC (sumber listrik awalnya adalah 380 volt AC, kemudian dinaikkan oleh transformer menjadi sekitar 55 75 kV dan dirubah menjadi listrik DC oleh rectifier, diambil hanya potensial negatifnya saja). (4) Collector plate ditanahkan (di-grounding) agar bermuatan positif. (5) Dengan demikian, pada saat discharge electrode diberi arus DC, maka medan listrik terbentuk pada ruang yang berisi tirai-tirai electrode tersebut dan partikel-partikel debu akan tertarik pada pelat-pelat tersebut, Gas bersih kemudian bergerak ke cerobong asap. Pengendap Elektrostatik Sebagai Sebuah Solusi Ramah Lingkungan Alat pengendap elektrostatik digunakan untuk membersihkan udara yang kotor dalam jumlah (volume) yang relatif besar dan pengotor udaranya adalah aerosol atau uap air. Alat ini dapat membersihkan udara secara cepat dan udara yang keluar dari alat ini sudah relatif bersih. Alat pengendap elektrostatik ini menggunakan arus searah (DC) yang mempunyai tegangan antara 25 100 kv. Alat pengendap ini berupa tabung silinder di mana dindingnya diberi muatan positif, sedangkan di tengah ada sebuah kawat yang merupakan pusat silinder, sejajar dinding tabung, diberi muatan negatif. Adanya perbedaan tegangan yang cukup besar akan menimbulkan corona discharga di daerah sekitar pusat silinder. Hal ini menyebabkan udara kotor seolah olah mengalami ionisasi. Kotoran udara menjadi ion negatif sedangkan udara bersih menjadi ion positif dan masing-masing akan menuju ke elektroda yang sesuai. Kotoran yang menjadi ion negatif akan ditarik oleh dinding tabung sedangkan udara bersih akan berada di tengah-tengah silinder dan kemudian terhembus keluar.

Gambar (a) menunjukkan diagram skematik dari sebuah pengendap elektroststik. Potensial listrik negatif yang tinggi tertahan pada kumparan kawat yang ada di bagian tengah membentuk sebuah lompatan listrik di sekitar kawat. Gambar (b) menunjukkan contoh aplikasi pengendap elektrostatik, sedangkan gambar (c) adalah gambar cerobong tanpa pengendap elektrostatik. Jika dibandingkan, gambar (c) akan menghasilkan polusi udara lebih besar dibanding gambar (b). Jika intensitas pembuangan gas (asap pabrik) terlalu banyak, maka akan merusak lingkungan di sekitarnya. Hal terburuk yang akan terjadi secara perlahan-lahan adalah rusaknya lapisan ozon di atmosfer yang merupakan salah satu bentuk penyebab pemanasan global (global warming). Electrostatic precipitator merupakan salah satu cara agar industri yang berpotensi menghasilkan limbah debu menjadi ramah lingkungan, setidaknya dapat mengurangi kandungan polutan yang dibuang melalui cerobong.