Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Secara etimologis, Antropologi berasal dari kata Yunani (baca: anthropos) yang berarti "manusia" atau "orang", dan logos yang berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial. Antropologi memiliki dua sisi holistik dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiaannya. Arus utama inilah yang secara tradisional memisahkan antropologi dari disiplin ilmu kemanusiaan lainnya yang menekankan pada perbandingan/perbedaan budaya antar manusia. Walaupun begitu sisi ini banyak diperdebatkan dan menjadi kontroversi sehingga metode antropologi sekarang seringkali dilakukan pada pemusatan penelitian pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal. Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orangorang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa. Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya. 1.2 TUJUAN PENULISAN Berdasarkan latar belakang penulisan, maka dapat dibuat tujuan penulisan sebagai berikut: 1. Memahami pengertian antropologi sebagai bagian dari ilmu sosial 2. Memahami Antropologi kesehatan sebagai salah satu cabang Antropologi budaya 3. Mengetahui permasalahan yang berkaitan dengan antropologi kesehatan di Indonesia

1.3 RUMUSAN MASALAH Untuk membatasi ruang lingkup makalah ini, dibuat rumusan masalah sebagai berikut : 1. Apa pengertian antropologi dan apa saja yang dipelajari dalam antropologi ? 2. Apa pengertian Antropologi kesehatan ? 3. Apa contoh masalah yang berkaitan dengan antropologi kesehatan ?

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Antropologi Antropologi berasal dari kata Yunani (baca: anthropos) yang berarti "manusia" atau "orang", dan logos yang berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.Antropologi memiliki dua sisi holistik dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiaannya. Arus utama inilah yang secara tradisional memisahkan antropologi dari disiplin ilmu kemanusiaan lainnya yang menekankan pada perbandingan/perbedaan budaya antar manusia. Walaupun begitu sisi ini banyak diperdebatkan dan menjadi kontroversi sehingga metode antropologi sekarang seringkali dilakukan pada pemusatan penelitian pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal. Definisi Antropologi menurut para ahli William A. Havilland: Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia. David Hunter:Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia. Koentjaraningrat: Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan. Dari definisi-definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana antropologi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda.

Sejarah Antropologi Seperti halnya sosiologi, antropologi sebagai sebuah ilmu juga mengalami tahapan-tahapan dalam perkembangannya.Koentjaraninggrat menyusun perkembangan ilmu Antropologi menjadi empat fase sebagai berikut:

Fase Pertama (Sebelum tahun 1800-an)


Sekitar abad ke-15-16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi dunia. Mulai dari Afrika, Amerika, Asia, hingga ke Australia. Dalam penjelajahannya mereka banyak menemukan hal-hal baru. Mereka juga banyak menjumpai suku-suku yang asing bagi mereka. Kisah-kisah petualangan dan penemuan mereka kemudian mereka catat di buku harian ataupun jurnal perjalanan. Mereka mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan suku-suku asing tersebut. Mulai dari ciri-ciri fisik, kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari suku tersebut. Bahan-bahan yang berisi tentang deskripsi suku asing tersebut kemudian dikenal dengan bahan etnografi atau deskripsi tentang bangsa-bangsa. Bahan etnografi itu menarik perhatian pelajar-pelajar di Eropa. Kemudian, pada permulaan abad ke-19 perhatian bangsa Eropa terhadap bahan-bahan etnografi suku luar Eropa dari sudut pandang ilmiah, menjadi sangat besar. Karena itu, timbul usaha-usaha untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan etnografi.

Fase Kedua (tahun 1800-an)


Pada fase ini, bahan-bahan etnografi tersebut telah disusun menjadi karangan-karangan berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu. masyarakat dan kebudayaan berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang lama. Mereka menganggap bangsa-bangsa selain Eropa sebagai bangsa-bangsa primitif yang tertinggal, dan menganggap Eropa sebagai bangsa yang tinggi kebudayaannya Pada fase ini, Antopologi bertujuan akademis, mereka mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk memperoleh pemahaman tentang tingkat-tingkat sejarah penyebaran kebudayaan manusia.

Fase Ketiga (awal abad ke-20)


Pada fase ini, negara-negara di Eropa berlomba-lomba membangun koloni di benua lain seperti Asia, Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-koloni tersebut, muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli, pemberontakan-pemberontakan, cuaca yang kurang cocok bagi bangsa Eropa serta hambatan-hambatan lain. Dalam menghadapinya, pemerintahan kolonial negara Eropa berusaha mencari-cari kelemahan suku asli untuk kemudian menaklukannya. Untuk itulah mereka mulai mempelajari bahan-bahan etnografi tentang suku-suku bangsa di luar Eropa, mempelajari kebudayaan dan kebiasaannya, untuk kepentingan pemerintah kolonial.

Fase Keempat (setelah tahun 1930-an)


Pada fase ini, Antropologi berkembang secara pesat. Kebudayaan-kebudayaan suku bangsa asli yang di jajah bangsa Eropa, mulai hilang akibat terpengaruh kebudayaan bangsa Eropa.Pada masa ini pula terjadi sebuah perang besar di Eropa, Perang Dunia II. Perang ini membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia dan membawa sebagian besar negara-negara di dunia kepada kehancuran total. Kehancuran itu menghasilkan kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kesengsaraan yang tak berujung.

Namun pada saat itu juga, muncul semangat nasionalisme bangsa-bangsa yang dijajah Eropa untuk keluar dari belenggu penjajahan. Sebagian dari bangsa-bangsa tersebut berhasil mereka. Namun banyak masyarakatnya yang masih memendam dendam terhadap bangsa Eropa yang telah menjajah mereka selama bertahun-tahun. Proses-proses perubahan tersebut menyebabkan perhatian ilmu antropologi tidak lagi ditujukan kepada penduduk pedesaan di luar Eropa, tetapi juga kepada suku bangsa di daerah pedalaman Eropa seperti suku bangsa Soami, Flam dan Lapp. Dalam kenyataannya, Antropologi mempelajari semua mahluk manusiayang pernah hidup pada semua waktu dan semua tempat yang ada di muka bumi ini. Mahluk manusia ini hanyalah satu dari sekian banyak bentukmahluk hidup yang ada di bumi ini yang diperkirakan muncul lebih dari 4 milyar tahun yang lalu. Antropologi bukanlah satu satunya ilmu yang mempelajari manusia. Ilmu ilmu lain seperti ilmu Politik yang mempelajari kehidupan politik manusia, ilmu Ekonomi yang mempelajari ekonomi manusia atau ilmu Fisiologi yang mempelajari tubuh manusia dan masih banyak lagi ilmu ilmu lain, juga mempelajari manusia. Tetapi ilmu -ilmu ini tidak mempelajari atau melihat manusia secara menyeluruh atau dalam ilmu Antropologi disebut dengan Holistik, seperti yang dilakukan oleh Antropologi. Antropologi berusaha untuk melihat segala aspek dari diri mahluk manusia pada semua waktu dan di semua tempat, seperti: Apa yang secara umum dimiliki oleh semua manusia? Dalam hal apa saja mereka itu berbeda? Mengapa mereka bertingkah-laku seperti itu? Ini semua adalah beberapa contoh pertanyaan mendasar dalam studi-studi Antropologi. Cabang-cabang dalam Ilmu Antropologi Seperti ilmu-ilmu lain, Antropologi juga mempunyai spesialisasi atau pengkhususan. Secara umum ada 3 bidang spesialisasi dari Antropologi, yaitu Antropologi Fisik atau sering disebut juga dengan istilah AntropologiRagawi. Arkeologi dan Antropologi Sosial -Budaya. 1. Antropologi Fisik Antropologi Fisik tertarik pada sisi fisik dari manusia. Termasuk didalamnya mempelajari gen-gen yang menentukan struktur dari tubuh manusia. Mereka melihat perkembangan mahluk manusia sejak manusia itu mulai ada di bumi sampai manusia yang ada sekarang ini. Beberapa ahli Antropologi Fisik menjadi terkenal dengan penemuan -penemuan fosil yang membantu memberikan keterangan mengenai perkembangan manusia. Ahli Antropologi Fisik yang lain menjadi terkenal karena keahlian forensiknya; mereka membantu dengan menyampaikan pendapat mereka pada sidang sidang pengadilan dan membantu pihak berwenang dalam penyelidikan kasus-kasus pembunuhan. 2. Arkeologi Ahli Arkeologi bekerja mencari benda -benda peninggalan manusia dari masa lampau. Mereka akhirnya banyak melakukan penggalian untuk menemukan sisa-sisa peralatan hidup atau senjata. Benda benda ini adalah barang tambang mereka. Tujuannya adalah menggunakan bukti -bukti yang mereka dapatkan untuk merekonstruksi atau membentuk kembali modelmodel kehidupan pada masa lampau. Dengan melihat pada bentuk kehidupan yang direnkonstruksi tersebut dapat dibuat dugaan dugaanbagaimana masyarakat yang sisa -sisanya diteliti itu hidup atau bagaimana mereka datang ketempat itu atau bahkan dengan siapa saja mereka itu dulu berinteraksi.

3. Antropologi Sosial -Budaya Antropologi Sosial-Budaya atau lebih sering disebut Antropologi Budaya berhubungan dengan apa yang sering disebut dengan Etnologi. Ilmu ini mempelajari tingkah-laku manusia, baik itu tingkah-laku individu atau tingkah laku kelompok. Tingkah -laku yang dipelajari disini bukan hanya kegiatan yang bisa diamati dengan mata saja, tetapi juga apa yang ada dalam pikiran mereka. Pada manusia, tingkah -laku ini tergantung pada proses pembelajaran. Apa yang mereka lakukan adalah hasil dari proses belajar yang dilakukan oleh manusia sepanjang hidupnya disadari atau tidak. Mereka mempelajari bagaimana bertingkah -laku ini dengan cara mencontoh atau belajar dari generasi diatasnya dan juga dari lingkungan alam dan sosial yang ada disekelilingnya. Inilah yang oleh para ahli Antropologi disebut dengan kebudayaan. Kebudayaan dari kelompok -kelompok manusia, baik itu kelompok kecil maupun kelompok yang sangat besar inilah yang menjadi objek spesial dari penelitian-penelitian Antropologi Sosial Budaya. Dalam perkembangannya Antropologi Sosial-Budaya ini memecah lagi kedalam bentuk-bentuk spesialisasi atau pengkhususan disesuaikan dengan bidang kajian yang dipelajari atau diteliti. Antropologi Hukum yang mempelajari bentuk-bentuk hukum pada kelompok-kelompok masyarakat atau Antropologi Ekonomi yang mempelajari gejala -gejala serta bentuk-bentuk perekonomian pada kelompok-kelompok masyarakat adalah dua contoh dari sekian banyak bentuk spesialasi dalam Antropologi Sosial -Budaya.

B. Antropologi Kesehatan Antropologi kesehatan adalah studi tentang pengaruh unsur unsur budaya terhadap penghayatan masyarakat tentang penyakit dan kesehatan (Solita Sarwono). Definisi yang dibuat Solita ini masih sangat sempit karena antropologi sendiri tidak terbatas hanya melihat penghayatan masyarakat dan pengaruh unsur budaya saja. Antropologi lebih luas lagi kajiannya dari itu seperti Koentjaraningrat mengatakan bahwa ilmu antropologi mempelajari dari aspek fisik, Sosial, budaya (1984 : 76). Pengertian antropologi kesehatan yang diajukan Foster / Anderson merupakan konsep yang tepat karena termaktub dalam pengertian ilmu antropologi seperti disampaikan Koentjaraningrat di atas. Menurut Foster/ Anderson, Antropologi kesehatan mengkaji masalah-masalah kesehatan dan penyakit dari dua kutub yang berbeda yaitu kutub diologi dan kutub sosial budaya. Pokok perhatian kutub biologi : Pertumbuhan dan perkembangan manusia Peranan penyakit dalam evolusi manusia Paleopatologi

Pokok perhatian kutub sosial budaya : Sistem medis tradisional Masalah petugas petugas kesehatan dan persiapan profesional mereka Tingkah laku sakit Hubungan antara dokter pasien Dinamika dari usaha memperkenalkan pelayanan kesehatan barat kepada masyarakat tradisional Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa antropologi kesehatan adalah disiplin yang memberi perhatian pada aspek- aspek biologis dan sosio- budaya dari tingkah laku manusia, terutama tentang cara- cara interaksi antara keduanya disepanjang sejarah kehidupan manusia, yang mempengaruhi kesehatan dan penyakit pada manusia ( Foster/ Anderson, 1986 ; 1-3). Berikut ini merupakan pengertian Antropologi kesehatan menurut beberapa ahli : Weaver : Antropologi kesehatan adalah cabang dari antropologi terapan yang menangani berbagai aspek dari kesehatan dan penyakit ( Weaver, 1968 : 1) Hasan dan Prasad : Antropologi kesehatan adalah cabang ilmu mengenai manusia yang mempelajari aspek aspek biologi dan kebudayaan manusia ( termasuk sejarahnya ) dari titik tolak pandangan untuk memahami kedokteran, sejarah kedokteran, hukum kedokteran, aspek sosial kedokteran dan masalah masalah kesehatan manusia (Hasan dan Prasad 1959; 21- 22) Menurut Hochstrasser : Antropologi kesehatan adalah pemahaman biobudaya manusia dan karyakaryanya, yang berhubungan dengan kesehatan dan pengobatan (Hochtrasser dan Tapp, 1970 ; 245) Menurut Fabrega : Antropologi kesehatan adalah studi yang menjelaskan : Berbagai faktor, mekanisme dan proses yang memainkan peranan di dalam atau mempengaruhi cara- cara dimana individu- individu dan kelompok kelompok terkena oleh atau berespons terhadap sakit dan penyakit. Mempelajari masalah- masalah sakit dan penyakit dengan penekanan terhadap pola pola tingkah laku (Fabrega, 1972; 167) Dari definisi- definisi yang dibuat oleh ahli ahli antropologi mengenai antropologi kesehatan seperti tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa antropologi kesehatan mencakup : 1. Mendefinisi secara komprehensif dan interpretasi berbagai macam masalah tentang hubungan timbal balik biobudaya, antara tingkah laku manusia dimasa lalu dan masa kini dengan derajat kesehatan dan penyakit tanpa mengutamakan perhatian pada penggunaan praktis dari pengetahuan tersebut. 2. Partisipasi professional mereka dalam program- program yang bertujuan memperbaiki derajat kesehatan melalui pemahaman yang lebih besar tentang hubungan antara gejala bio-sosial-budaya dengan kesehatan, serta melalui perubahan tingkah laku sehat ke arah yang diyakini akan meningkatkan kesehatan yang lebih baik.

C. PROFESIONALITAS TENAGA MEDIS SEBAGAI SALAH SATU MASALAH ANTROPOLOGI KESEHATAN Kasus malpraktek seringkali menjadi pemberitaan dalam berbagai media di Indonesia. Hal ini tentu saja menjadi kondisi yang sangat memprihatinkan karena mengakibatkan penurunan kepercayaan masyarakat indonesia terhadap profesionalisme tenaga medis di Indonesia, sehingga tak jarang banyak masyarakat dari kalangan berpunya yang lebih memilih untuk mempercayakan masalah kesehatannya pada tenaga medis di luar negeri. Malpraktek adalah suatu kondisi kegagalan yang diakibatkan HUMAN MISTAKE sehingga tujuan -dalambidang kesehatan- tidak tercapai. Malpraktek dapat terjadi akibat kegagalan diagnosa, kegagalan penyakit ataupun kegagalan pengobatan. Hal ini disebabkan kelalaian profesionalisme dari tenaga medis dan yang menjadi tempat pelemparan kesalahan utama adalah dokter, mengapa? Karena dokter yang berinteraksi langsung dengan pasien. Tetapi dokter dapat selalu lolos dari dakwaan-dakwaan tersebut karena dokter berlindung dibalik KODE ETIK KEDOKTERAN dan hanya mengeluarkan statement "saya sudah bertindak sesuai prosedur", prosedur yang mana?? Karena masyarakat tidak pernah tahu prosedur dan kode etik yang menjadi cover tersebut. Sebenarnya, jika dilihat dari aspek profesionalitas, profesionalisme tenaga kesehatan di Indonesia sangat tipis sehingga rasa tanggung jawab terhadap profesi nyaris tidak ada. Profesional tentu saja sesuai dengan Kode Etik ataupun Sumpah Profesi yang dimiliki tenaga medis (dokter, dokter gigi, apoteker, bidan dan perawat), namun akibat dari sifat ketertutupan Kode Etik ini maka sistem kontrol terhadap pelaksanaannya hanya dilakukan oleh organisasi profesi yang notabene membela profesinya, sehingga dokter selalu selamat dari tuduhan malpraktek. Jika Kode Etik/Sumpah Profesi tenaga medis diketahui umum, misalnya dengan menggantungkannya di tempat-tempat umum, rumah sakit atau apotik otomatis masyarakat dapat menilai pelayanan kesehatan yang diperolehnya serta sadar akan hak dan kewajibannya sebagai pasien sehingga kontrol terhadap profesionalitas tenaga medis dapat lebih baik juga faktor kesalahan akan terminimalisasi. Profesionalitas tenaga kesehatan tentunya harus dibentuk sejak seorang individu memilih untuk menjadi tenaga profesi dan juga dukungan dari pemerintah seperti pernah diberlakukannya Program PTT bagi tenaga kedokteran dan apoteker. Selain meningkatkan rasa profesionalisme juga membuka mata hati akan keadaan rakyat yang sesungguhnya. Biaya kesehatan yang tinggi dicoba diatasi oleh pemerintah dengan menjalankan program ASKES, GAKIN dan JPS juga memberikan pengobatan gratis untuk pelayanan kesehatan di rumah sakit type C. Ironisnya program pemerintah ini tidak mencapai sasaran dan justru membuka peluang terjadinya praktek korupsi. Kenyataan yang terjadi dilapangan pasien justru sering dibebankan dengan prosedur administrasi yang bertele-tele, tidak tersedianya obat-obat askes atau generik sehingga pasien harus membeli obat paten yang harganya jauh lebih mahal dan digelapkannya dana-dana kesehatan dari pemerintah untuk memperkaya oknum kesehatan Penyimpangan dana tersebut sangat mungkin dilakukan karena kontrol antar sesama profesi tidak ada-terutama yang terjadi di daerah terpencil, dimana hanya ada satu profesi yang bertanggung jawab untuk satu wilayah, dan itupun bukan daerah yang terlalu terpencil karena sudah manjadi rahasia umum bahwa penempatan PTT dilakukan dengan lobbying dan berhasil. Jika program PTT dijalankan kembali dengan mewajibkan tenaga kesehatan dari masingmasing bidang ada pada satu wilayah, maka kontrol profesionalitas dapat dijalankan dan masyarakat akan langsung merasakan manfaat dari program tersebut. Setiap bidang dapat

menerapkan ilmu yang dimilikinya untuk kemajuan kesehatan daerah tersebut, penggelapan dana dapat diminimalisasi karena setiap profesi akan bersaing menjaga nama baik profesinya, eksploitasi potensi daerah dalam bidang kesehatan dan meningkatnya standar kesehatan masyarakat, sehingga masyarakat akan lebih produktif Selain masalah malpraktek yang telah disebutkan di atas, ada beberapa masalah lain yang menjadi indikator kurangnya profesionalitas tenaga medis di Indonesia, diantaranya adalah tenaga medis hanya berfungsi sebagai agent of treatment atau hanya berperan dalam fungsi penyehatan fisik, para tenaga medis jarang bersedia menyempatkan waktunya untuk menyempatkan waktunya untuk menyampaikan informasi medis sesuai kebutuhan dan tingkat pemahaman pasien, masalah lain yaitu pihak manajemen dari sebuah instansi pelayanan kesehatan masih belum terkoordinasi dengan baik sehingga pasien terkadang harus menunggu lama untuk mendapatkan pelayanan atau bahkan mereka tidak mendapatkan pelayanan, serta masalah teknis yang berkaitan dengan kelengkapan fasilitas fisik dan kurang meratanya penyebaran tenaga medis di beberapa wilayah di Indonesia. Profesionalitas tenaga medis merupakan hal terpenting dalam menunjang upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Sehingga dapat tercipta masyarakat yang sehat jasmani dan rohani, serta dapat mencapai derajat kesehatan yang tinggi sesuai dengan tujuan pembangunan nasional khususnya pembangunan di bidang kesehatan.

BAB III PENUTUP


A. KESIMPULAN Berdasarkan penjelasan pada bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Antropologi merupakan cabang dari ilmu sosial yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. 2. Perkembangan ilmu antropologi menurut Koentjaraningrat dibagi menjadi 4 fase 3. Antropologi berbeda dengan ilmu sosial lain karena antropologi melihat manusia secara menyeluruh atau holistik 4. Spesialisasi dari antropologi ada 3, yaitu antropologi fisik, arkeologi, dan antropologi sosial budaya 5. Salah satu bidang dari antropologi sosial budaya adalah Antropologi kesehatan 6. Antropologi kesehatan adalah disiplin yang memberi perhatian pada aspek- aspek biologis dan sosio- budaya dari tingkah laku manusia, terutama tentang cara- cara interaksi antara keduanya disepanjang sejarah kehidupan manusia, yang mempengaruhi kesehatan dan penyakit pada manusia ( Foster/ Anderson, 1986 ; 1-3). 7. Antropologi kesehatan mengkaji masalah-masalah kesehatan dan penyakit dari dua kutub yang berbeda yaitu kutub diologi dan kutub sosial budaya. 8. Permasalahan mengenai profesionalitas tenaga medis merupakan studi tentang antropologi kesehatan ditinjau dari kutub sosial budaya 9. Tenaga medis sering kali berlindung di bawah naungan kode etik profesi dan mengatakan sudah sesuai prosedur karena kode etik bersifat sangat tertutup dan hanya diketahui oleh tenaga medis saja

B. SARAN 1. Hal yang berkaitan dengan Antropologi kesehatan perlu dipahami oleh para tenaga medis agar dapat memahami manusia secara menyeluruh, tidak hanya sekedar berfungsi sebagai agent of treatment saja 2. Tenaga medis harus senantiasa memegang teguh kode etik profesi agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan tidak terjadi kesalahan kesalahan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat 3. Perlu kerjasama antara pemerintah dengan organisasi profesi untuk menentukan arah kesehatan Indonesia ke depan dan mengatur regulasi kesehatan agar terciptanya peningkatan kondisi kesehatan masyarakat Indonesia dikemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA http://wawan-junaidi.blogspot.com/2009/10/antropologi-kesehatan.html http://id.wikipedia.org/wiki/antropologi http://yuniawan.blog.unair.ac.id/files/2008/03/antokebud.pdf http://library.unib.ac.id/koleksi/Suyatmi-FISIP-An-abs-2009.pdf http://ikoy.blogspot.com/