Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Drowning atau yang biasa dikenal sebagai tenggelam adalah masuknya cairan yang cukup banyak ke dalam saluran nafas atau paru-paru. Tenggelam merupakan bentuk kematian asfiksia dimana akses udara ke dalam paru-paru dihambat akibat terendamnya tubuh dalam air atau media cair lainnya. Terendamnya tubuh dalam cairan secara keseluruhan tidak diperlukan, yang diperlukan adalah adanya cukup cairan yang menutupi lubang hidung dan mulut sehingga tidak hanya terbatas pada perairan yang dalam seperti laut, sungai, danau, atau kolam renang, tetapi mungkin pula terbenam dalam kubangan atau selokan dengan hanya muka yang berada di bawah permukaan air1. Tenggelam merupakan penyebab ketiga kematian akibat kecelakaan di Amerika Serikat. Menurut data tahun 1984 hingga tahun 1987 terdapat sekitar 80.000 orang yang mengalami episode tenggelam dan bertahan hidup tiap tahunnya dimana sekitar 6000 orang meninggal akibat tenggelam2. Secara umum, sekitar 150.000 kematian di seluruh dunia terjadi akibat tenggelam. Menurut data WHO Global Burden of Disease memperkirakan sekitar 388.000 orang meninggal selama tahun 2004 karena tenggelam3. Hampir setengah dari orang yang tenggelam berusia di bawah 20 tahun dan 35% dengan kemampuan berenang2. Insiden terjadinya tenggelam pada laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan perempuan. Dua kelompok usia tertinggi dengan kejadian tenggelam telah dapat diidentifikasi. Kelompok usia pertama melibatkan bayi dan anak-anak dimana sangat rentan dengan kejadian tenggelam di kolam renang maupun di sisi perairan. Bayi dan anak-anak mungkin juga tenggelam di dalam bak mandi. Kelompok usia kedua adalah remaja dan dewasa muda dimana beresiko dengan adanya penggunaan alkohol dan obat-obatan psikoaktif yang menekan sistem saraf pusat saat berada di sisi perairan. Beberapa faktor yang berkontribusi antara lain : anak-anak tanpa pengawasan saat berada di air, alkohol atau penyalahgunaan obat pada 50% kasus yang melibatkan remaja maupun dewasa, tidak bisa berenang ataupun kelelahan, trauma, perburukan dari kondisi medis sebelumnya (kejang, sakit jantung, pingsan) dan percobaan bunuh diri. Lokasi dengan insiden terbanyak terjadinya tenggelam adalah kolam renang (50%), danau dan sungai (20%), dan bak mandi (15%).2

Pada umumnya tenggelam merupakan kasus kecelakaan, baik secara langsung maupun karena ada faktor-faktor tertentu seperti korban dalam keadaan mabuk atau dibawah pengaruh obat, bahkan bisa saja dikarenakan akibat dari suatu peristiwa pembunuhan1. Saat mayat diangkat dari air, muncul beberapa pertanyaan mengenai apakah mayat masih hidup ataupun telah meninggal sebelum memasuki air dan bagaimanakah cara meninggalnya (benar tenggelam atau ada penyebab kematian lainnya). Pembunuhan dengan cara menenggelamkan umumnya jarang terjadi karena memerlukan perbedaan fisik yang signifikan antara pelaku dan korban serta ketidakmampuan korban akibat penyakit, alkohol, penyalahgunaan obat maupun diserang secara tiba-tiba. Pembuangan mayat ke dalam air biasanya dilakukan sebagai tindakan untuk menghilangkan barang bukti dan mengaburkan cara kematian dimana korban sebelumnya telah dibunuh. Pada kasus bunuh diri dengan cara menenggelamkan diri korban sering memberati dirinya dengan batu atau besi baru kemudian terjun ke air. Terkadang pergelangan tangan atau pergelangan kaki diikat serta adanya kemungkinan ditemukannya riwayat percobaan bunuh diri yang berulang pada korban. Untuk bisa mengetahui serta memperkirakan cara kematian mayat yang terendam dalam air, diperlukan pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam pada tubuh korban serta pemeriksaan tambahan lain sebagai penunjang seperti pemeriksaan getah paru untuk penemuan diatom dan bercak paltouf di permukaan paru, pemeriksaan histopatologi dan penentuan berat jenis plasma untuk menemukan tanda intravital tersebut1. Hal tersebut tidak mudah, terutama bagi mayat yang telah lama tenggelam, atau pada mayat yang tidak lengkap, atau hanya ada satu bagian tubuhnya saja. Adanya mekanisme kematian yang berbeda-beda pada tenggelam akan memberi warna pada pemeriksaan mayat dan pemeriksaan laboratorium. Dengan kata lain, kelainan yang didapatkan pada kasus tenggelam tergantung dari mekanisme kematiannya.

1.2 Tujuan - Untuk mengetahui mekanisme kematian korban tenggelam - Untuk mengetahui tanda-tanda tenggelam yang biasa ditemukan pada pemeriksaan luar dan dalam jenazah korban tenggelam. - Untuk mengetahui interval kematian korban 1.3 Manfaat - Menetapkan mekanisme kematian korban tenggelam - Menetapkan tanda-tanda tenggelam yang biasa ditemukan pada pemeriksaan luar dan dalam jenazah korban tenggelam. - Menetapkan interval kematian korban

BAB II
3

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Tenggelam biasanya didefinisikan sebagai kematian akibat mati lemas (asfiksia) disebabkan masuknya cairan ke dalam saluran pernafasan sehingga akses udara ke dalam paruparu dihambat akibat terendamnya tubuh dalam air atau media cair lainnya. Diagnosis kematian akibat tenggelam kadang-kadang sulit ditegakkan, bila tidak dijumpai tanda yang khas baik pada pemeriksaan luar atau dalam. Pada mayat yang ditemukan terbenam dalam air, perlu diingat bahwa mungkin korban sudah meninggal sebelum masuk ke dalam air.1Misalnya saja korban sebelumnya dianiaya, disangka sudah mati, padahal hanya pingsan. Untuk meninggalkan jejak, maka korban dibuang ke sungai, sehingga dikira mati karena tenggelam. Dengan demikian di dalam menghadapi kasus tenggelam, selain pemeriksaan ditujukan untuk mengetahui sebab kematian, juga ditujukan untuk mengetahui cara kematiannya, kecelakaan, pembunuhan, atau bunuh diri.4 Keadaan sekitar individu penting. Tenggelam tidak hanya terbatas di dalam air dalam seperti laut, sungai, danau atau kolam renang tetapi mungkin pula terbenam dalam kibangan atau selokan dengan hanya muka yang berada di bawah permukaan air.1 Hal ini disebabkan karena pada prinsipnya mekanisme kematian pada proses tenggelam akut adalah irreversible cerebral anoxia.5 2.2 Klasifikasi1

2.2.1 Typical Drowning Istilah typical drowning yang dikenal pula dengan nama wet drowning menunjukkan obstruksi jalan nafas dan paru-paru karena terhirupnya cairan. Typical drowning ini dapat dibedakan berdasarkan jenis air dimana seseorang itu tenggelam, yaitu tenggelam di air tawar dan air laut. 1. Tenggelam dalam air tawar Pada keadaan ini terjadi absorpsi cairan yang massif. Karena konsentrasi elektrolit dalam air tawar lebih rendah daripada konsentrasi dalam darah, maka akan terjadi hemodilusi darah, air masuk ke dalam aliran darah sekitar alveoli dan mengakibatkan pecahnya sel darah merah (hemolisis). Akibat pengenceran darah yang terjadi, tubuh mencoba mengatasi keadaan I ni dengan melepaskan Ion Kalium dari serabut otot jantung sehingga kadar ion Kalium dalam plasma
4

meningkat, terjadi perubahan keseimbangan ion K+ Ca++ dalam serabut otot jantung dapat mendorong terjadinya fibrilasi ventrikel dan penurunan tekanan darah, yang kemudian menyebabkan timbulnya kematian akibat anoksia otak. Kematian terjadi dalam waktu 5 menit.1 2. Tenggelam dalam air asin Konsentrasi elektrolit cairan air asin lebih tinggi daripada dalam darah, sehingga air akan ditarik dari sirkulasi pulomnal ke dalam jaringan interstisial paru yang akan menimbulkan edema pulmoner, hemokonsentrasi, hipovolemi dan kenaikan kadar magnesium dalam darah. Hemokonsentrasi akan mengakibatkan sirkulasi menjadi lambat dan menyebabkan terjadinya payah jantung, Kematian terjadi kira-kira dalam waktu 8-9 menit setelah tenggelam.1 2.2.2 Atypical Drowning Istilah atypical drowning menggambarkan suatu kondisi dimana hanya sedikit atau tidak ada inhalasi air ke dalam jalan nafas. Yang termasuk atypical drowning adalah6: 1. Dry drowning Sekitar 20% dari semua kasus tenggelam adalah dry drowning. Dry drowning terjadi karena ketika air masuk ke dalam nasofaring atau laring akan merangsang spasme laring. Sehingga hanya sedikit bahkan tidak ada air yang masuk ke dalam saluran udara atau paruparu dan kematian mungkin disebabkan karena proses asfiksia. Pada tipe tenggelam seperti inilah yang sangat sesuai untuk diberikan resusitasi. 2. Immersion syndrome (vagal inhibition) Terjadi dengan tiba-tiba ketika korban tenggelam di dalam air yang sangat dingin (<200C atau 680F). Terjadi refleks vagal yang menginduksi disaritmia yaitu menyebabkan asistol dan fibrilasi ventrikel sehingga menyebabkan kematian. Pada umumnya korban adalah usia muda yang mengkonsumsi alkohol. Reflek vagal juga bisa ditimbulkan pada korban yang terjun dengan kaki terlebih dahulu (duck diving) menyebabkan cairan dengan mudah masuk ke hidung, atau teknik menyelam yang salah dengan masuk ke dalam air dengan posisi horizontal yang akan mengakibatkan terjadinya tekanan ke perut. Kehilangan kesadaran akan terjadi secara cepat hanya dalam beberapa menit. Pada pemeriksaan tubuh tidak ditemukan tanda-tanda yang khas dari tenggelam. 3. Submersion of the unconscious
5

Bisa terjadi pada korban yang menderita epilepsi atau menderita penyakit jantung khususnya koronari ateroma, pusing karena hipertensi, atau seorang peminum yang mengalami trauma kepala pada saat jatuh ke air. Pecahnya aneurisma serebral atau munculnya pendarahan serebral juga dapat menyebabkan kehilangan kesadaran secara tiba-tiba. Seperti halnya dengan yang lain, pada jenis ini juga tidak ditemukan tanda-tanda tenggelam secara lengkap. Pembesaran paru-paru dan terbentuknya busa bisa tidak dijumpai pada pemeriksaan 4. Near drowning (secondary drowning) Pada jenis ini, korban yang sudah ditolong dari dalam air tampak sadar dan bisa bernafas sendiri tetapi secara tiba-tiba kondisinya berubah. Pada secondary drowning terjadi jika terdapat air dalam jumlah sedikit di paru-paru menyebabkan terjadinya perubahan kimia dan biologi pada paru yang menyebabkan kematian terjadi lebih dari 24 jam setelah tenggelam di dalam air. Pada seperempat kasus tenggelam, kematian terjadi beberapa jam atau beberapa hari sesudah resusitasi dengan kombinasi pengaruh dari edema paru, aspirasi pneumonitis, gangguan elekktrolit dan asidosis metabolik. 2.3 Mekanisme Tenggelam Secara garis besar mekanisme kematian pada korban tenggelam adalah1: 1. Asfiksia akibat spasme laring 2. Asfiksia karena gagging dan choking 3. Refleks vagal 4. Fibrilasi ventrikel (air tawar) 5. Edema pulomner (air laut) Berapa lama orang akan menemui ajalnya, ditentukan oleh keadaan lingkungannya, misalnya kondisi fisik dan kesehatan korban, sifat reaksi korban sewaktu terbenam dan jumlah air yang terinhalasi.4 1. Waktu akan menjadi lebih singkat pada terbenam yang tidak terduga, kondisi fisik yang buruk serta korban yang tidak bisa berenang.
2. Kematian akan terjadi segera, bila kematiannya disebabkan oleh inhibisi kardial (cardiac

inhibition). 3. Orang yang cepat panik akan lebih cepat tenggelam dibandingkan orang yang tenang walaupun keduanya perenang yang baik.

4. Air yang dingin akan mempercepat kematian pada orang yang terbenam oleh karena

terjadinya hipotermia, kematian pada kasus ini karena gagal jantung (cardiac failure) oleh karena terjadi peningkatan tekanan dalam arteri dan vena. 5. Biasanya orang akan menjadi tidak sadar setelah terbenam 2-3 sampai 10 menit, sebelum terjadi kematian korban dapat berada dalam keadaan mati suri, sehingga upaya untuk melakukan resusitasi dapat berhasil dengan baik. Pada orang yang tenggelam, tubuh korban dapat beberapa kali berubah posisi, umumnya korban akan tiga kali tenggelam, ini dapat dijelaskan sebagai berikut4: 1. 2. Pada waktu pertama kali orang terjun ke air, oleh karena gravitasi, ia akan terbenam untuk pertama kalinya. Oleh karena berat jenis tubuh lebih kecil daripada berat jenis air, korban akan timbul dan berusaha untuk bernafas mengambil udara akan tetapi oleh karena tidak bisa berenang, air akan masuk, tertelan, dan terinhalasi, sehingga berat jenis korban sekarang menjadi lebih besar dari berat jenis air dengan demikian ia akan tenggelam untuk kedua kalinya. 3. Sewaktu berada di dasar sungai, laut, atau danau akan terjadi proses pembusukan, dan akan terbentuk gas pembusukan. Waktu yang diperlukan agar pembentukan gas pembusukan dapat mengapungkan tubuh korban adalah sekitar 7-14 hari. 4. Pada waktu tubuh korban mengapung oleh karena terbentuknya gas pembusukan, tubuh dapat pecah terkena benda-benda di sekitarnya, digigit binatang atau oleh karena proses pembusukan itu sendiri, sehingga gas pembusukan akan keluar, maka tubuh korban akan terbenam untuk ketiga kalinya. Ketika seseorang tenggelam, reaksi segera yang terjadi adalah menahan napas. Hal ini terjadi sampai terjadi breaking point, dimana merupakan waktu saat individu tidak mampu lagi menahan napas dan harus menarik napas. Breaking point ini ditentukan oleh tingginya kadar karbondioksida dan rendahnya konsentrasi oksigen. Breaking point terjadi ketika PCO2 dibawah 55 mmHg yang berhubungan dengan terjadinya hipoksia, dan PAO2 dibawah 100 mmHg pada keadaan dimana PC02 tinggi. Ketika mencapai breaking point, orang yang tenggelam akan secara tidak sadar menghirup, dan air dalam jumlah besar masuk ke dalam tubuh. Sebagian air juga akan tertelan dan akan ditemukan pada lambung. Selama interval bernapas saat tenggelam, korban dapat juga akan muntah dan mengaspirasi isi lambung. Usaha involunter untuk meraih udara di dalam air akan berlanjut selama beberapa menit, sampai respirasi berhenti. Hipoksia serebral akan terus berkembang seiring waktu sampai pada tingkat irreversible dan dimana kematian dapat terjadi.
7

Waktu dari anoksia serebral sampai menjadi irreversible tergantung pada umur individu dan temperatur air. Pada korban tenggelam di air hangat waktu ini antara 3 sampai 10 menit. Kesadaran pada umumnya hilang setelah 3 menit tenggelam. Jadi, urutan peristiwa terjadinya tenggelam adalah menahan napas, inspirasi involunter dan berusaha menghirup udara pada breaking point, kehilangan kesadaran, dan akhirnya meninggal. Urutan ini dapat berubah pada individu yang mengalami hiperventilasi sebelum tenggelam. Hiperventilasi menyebabkan penurunan signifikan kadar CO2. Hipoksia serebral karena rendahnya PO2 darah dan dengan terjadinya kehilangan kesadaran mungkin dapat terjadi sebelum tercapainya breaking point. Pada kasus seperti ini urutannya dapat menjadi menahan napas volunter, kehilangan kesadaran, dan aspirasi air.6
2.4

Tanda Korban Tenggelam Pada Pemeriksaan Luar 1 asing lain yang terdapat dalam air, kalau seluruh tubuh terbenam dalam air.

1. Mayat dalam keadaan basah, mungkin berlumuran pasir, lumpur dan benda-benda
2. Busa halus putih pada hidung dan mulut, kadang-kadang berdarah. Busa ini

berbentuk seperti jamur sehingga dapat disebut dengan mushroomlike mass. Busa ini dapat terbentuk akibat masuknya cairan ke dalam saluran pernafasan merangsang terbentuknya mucus, substansi ini ketika bercampur dengan air dan surfaktan dari paru-paru dan terkocok oleh karena adanya upaya pernafasan yang hebat. Pembusukan akan merusak gas tersebut dan terbentuk pseudofoam yang berwarna kemerahan yang berasal dai darah dan gas pembusukan. 3. Mata setengah terbuka atau tertutup, jarang terdapat perdarahan atau perbendungan. 4. Pada lidah dapat ditemukan memar atau bekas gigitan, yang merupakan tanda bahwa korban berusaha untuk hidup atau tanda sedang terjadi epilepsi, sebagai akibat masuknya korban ke dalam air.
5. Kutis anserina (goose-flesh) pada kulit permukaan anterior tubuh terutama pada

ekstremitas akibat kontraksi otot erector pili yang terjadi karena rangsangan dinginnya air. Keadaan ini terjadi selama interval antara kematian somatic dan seluler, atau merupakan perubahan post-mortal karena terjadinya rigor mortis pada muskulus erektor pili.
6. Washer womans hand, telapak tangan dan kaki berwarna keputihan dan berkeriput

yang disebabkan karena inhibisi cairan ke dalam kutis dan biasanya membutuhkan waktu lama.
8

7. Cadaveric Spasm, merupakan tanda intravital yang terjadi pada waktu korban

berusaha menyelamatkan diri dengan memegang apa saja seperti rumput atau bendabenda lain dalam air. 8. Luka-luka lecet pada siku, jari tangan, lutut dan kaki akibat gesekan benda-benda dalam air. Puncak kepala mungkin terbentur pada dasar waktu terbenam, tetapi dapat pula terjadi lukapost-mortem akibat benda-benda atau binatang dalam air. Hal ini juga tak jarang member kesan korban dianiaya sebelum ditenggelamkan.
2.5

Tanda Korban Tenggelam Pada Pemeriksaan Dalam6

Otopsi kasus tenggelam sangat bergantung pada waktu, baik waktu penemuan jenazah maupun memulai pemeriksaan post-mortem. Waktu ini sangat berpengaruh karena tanda positif tenggelam berangsur menghilang. Tergantung pada temperatur, periode beberapa hari di air cenderung meminimalisir sebagian perubahan. Walaupun jenazah ditemukan dalam keadaan segar, penundaan dalam melakukan otopsi dapat mengurangi jumlah bukti. Pada pemeriksaan dalam korban tenggelam ditemukan : 1. Busa Pada Jalan Napas Tanda positif tenggelam tidaklah absolut spesifik. Tanda yang sangat membantu adalah adanya busa pada jalan napas pada jenazah segar, kadang keluar dari mulut dan lubang hidung. Busa yang keluar berupa cairan edema dari paru, yang mengandung eksudat yang mengandung protein dan surfaktan yang bercampur dengan air dari media tempat korban tenggelam. Biasanya berwarna putih, terkadang pink atau merah, karena bercampur dengan darah akibat terjadinya perdarahan intrapulmonal. Buih tersebar dari trakea, bronkus utama, dan saluran napas yang lebih kecil. Paru-paru pada kasus ini akan nampak penuh dengan air dan ketika disayat pisau dan diremas, buih berair akan keluar dan dari bronkus juga keluar buih. Sayangnya walaupun edema dijadikan diagnosis ketika dikombinasi dengan keadaan yang tepat dan kurangnya penyebab patologis yang mematikan, dengan tanpa adanya waterlogging, tetap tidak menyingkirkan diagnosis benar-benar tenggelam. Sehingga disebut dry-lung Drowning, Namun jarang terjadi, dimana paru tampak normal, karena mungkin air yang teraspirasi diserap melalui dinding alveoli ke dalam plasma. Copeland mengukur massa paru-paru korban bukan tenggelam, tenggelam di air tawar dan tenggelam di air asin. Hasilnya tidak signifikan, 10-20 kasus tenggelam merupakan dry lung tanpa adanya penambahan berat. Umumnya massa paru korban tenggelam antara 600-700 gram, dan pada pasien bukan tenggelam beratnya antara 370-540 gram. Menurut Kringsholm lamanya terendam di air berpengaruh pada berat paru.
9

2.

Overinflasi Paru Selain terdapat fenomena generalized water logging paru, paru-paru terlihat overinflasi,

memenuhi kavum thorax ketika sternum disingkirkan. Daerah yang normalnya kosong yaitu pada daerah disekitar jantung terisi dan terdorong ke depan, bertemu dengan pertengahan orbiterate mediastinum. Tekstur paru menjadi pucat dan crepitant, penampakan sama seperti pada asma, emphysema yang terlihat mungkin sebagian menyerupai distensi pada tenggelam, namun bulla tidak muncul. Cairan edema menghambat colapse pasif yang normalnya terjadi saat kematian, menahan posisi paru pada posisi inspirasi. Selain itu sering terdapat elemen overdistensi yang disebabkan oleh aksi valvular obstruksi bronkial. Pada kasus tenggelam hal ini mungkin cukup sebagai penanda permukaan lateral paru dengan proyeksi rusuk, meninggalkan jejas yang terlihat dan teraba setelah pengangkatan organ dari thorax. Tanda inilah yang menjadi penanda positif tenggelam yang paling berharga yang ditemukan dalam otopsi. Pada beberapa daerah terjadi perdarahan intrapulmoner yang memberikan warna merah pada busa, daerah ini kadang luas atau intense dan edema general dan distensi cenderung mengurangi penonjolannya. Beberapa mungkin terjadi dengan daerah pleural dan tampak dikaburkan oleh tonjolan-tonjolan pada permukaan luar paru, Pengaburan mungkin disebabkan oleh penyebaran hemolisis. Pada kasus tenggelam hampir mustahil ditemukan subpleural petechial haemorrhage. 3. Emphysema aquosum Paru-paru terlihat sebagai suatu benda yang besar dan gemuk, permukaan pleuranya nampak seperti marmer dengan area abu kebiruan sampai merah gelap yang diselingi oleh daerah berwarna pink dan kuning keabuan yang merupakan jaringan yang mendapat udara. Pada penekanan terasa kenyal. Pada sayatan didapatkan aliran material cair. Penampakannya menunjukkan proses aktif inspirasi udara dan air yang tidak dapat dilakukan dengan pengguyuran pasif paru-paru dengan air. Namun penampakannya pada umumnya tidak dapat dibedakan dengan edema paru. Perbedaan massa paru kasus tenggelam di air tawar dan air asin tidak mununjukkan perbedaan secara statistik, dimana berat rata-rata paru berkisar 700 gram dengan dengan deviasi 200 gram sehingga pada sebagian kecil kasus terdapat paru-parunya kering. Subpleural petechiae jarang terjadi , namun ecchymoses yang lebih besar paling sering ditemukan permukaan interlobar. Bulla subpleural yang mungkin bersifat haemorhagik terkadang ditemukan. Perdarahan merupakan akibat robekan dinding alveolar. Hal inilah yang menyebabkan adanya bercak darah pada busa yang ada di saluran respirasi bagian atas.
10

Aspirasi air yang sangat banyak menyebabkan overdistensi alveoli pulmonal (emphysema aquosum), septum alveoli menjadi tipis dan meregang dengan penyempitan dan penekanan kapiler. Derajat perubahan menunjukkan keadaan dan lamanya seseorang terendam yang terlihat sangat jelas pada seseorang yang tenggelam dalam periode relatif lama dan sempat naik ke permukaan untuk nenarik napas beberapa kali. 2. Benda Asing Pada Jalan Napas, Paru-Paru, dan Lambung Pasir, lumpur, rumput atau benda asing lain mungkin ditemukan di jalan napas, paruparu, lambung dan duodenum pada korban tenggelam. Penemuan benda asing ini menjadi bukti korban masih hidup saat tenggelam. Apabila korban telah meninggal saat jatuh ke air, air dan bahan lain mungkin masuk ke faring, trakea, dan sebagian kecil mungkin masuk ke esofagus maupun lambung, namun tidak akan mencapai terminal bronchiolus dan alveoli. Penemuan material asing yang sangat banyak pada alveoli merupakan petunjuk kuat korban tenggelam saat masih hidup dengan catatan korban ditemukan kurang dari 24 jam. Demikian juga dengan adanya air dan debris pada lambung juga menunjukkan korban masih hidup sebelum tenggelam. Sedangkan apabila tidak ditemukan air pada lambung, terjadi pada korban yang meninggal dengan cepat atau mungkin telah meninggal sebelum masuk ke air. Debris dan kontaminan yang ditemukan harus diperiksa dan dibandingkan dengan tempat ditemukannya jenazah untuk mengetahui apakah tempat ditemukan sama dengan tempat tenggelamnya korban. Muntahan mungkin ditemukan pada esofagus dan jalan napas yang disebabkan oleh inhalasi agonal atau resusitasi. Pasir yang banyak pada saluran napas atas menunjukkan korban mungkin menghirup suspensi padat pasir di air laut yang disebabkan oleh heavy surf, dan kematian terjadi dalam waktu yang sangat cepat pada kasus ini. 3. Pemeriksaan Organ Lain Pada Tenggelam Tidak terdapat perubahan yang spesifik pada organ lain pada otopsi korban tenggelam. Jantung dan vena nampak membesar terutama sebelah kanan, namun ini bersifat subjektif dan non-spesifik. Selama beberapa abad para ahli berpendapat darah menjadi lebih encer pada kasus tenggelam, dan penelitian fisiologist menunjukkan terjadinya hemodilusi pada tenggelam air tawar. Lambung mungkin mengandung cairan atau bahkan benda asing, seperti lumpur, rumput, atau pasir, namun ini tidak dapat digunakan sebagai alat diagnosis positif. Banyak kasus yang pasti tenggelam namun tidak ditemukan air dalam lambungnya namun kasus lain menunjukkan adanya air dalam jumlah banyak. 4. Perdarahan Telinga Tengah dan Ruang Udara Mastoid
11

Pada jenazah yang ditemukan tenggelam terkadang terdapat perubahan warna atap rongga udara tulang mastoid menjadi biru keunguan.Pathogenesisnya masih belum jelas dan temuan ini tidak berperan dalam pembuktian kematian akibat tenggelam. Perubahan warna ini mungkin disebabkan oleh barotrauma atau iritan/efek tekanan dari aspirasi cairan ke dalam tuba eustacius atau dapat juga disebabkan oleh kongesti berat. 5. Kongesti Vena dan Pengenceran Darah Gagal jantung dengan peningkatan volume darah akibat absorpsi air tawar terlihat dengan pembesaran jantung kanan dan vena yang besar. Akibat adanya hemodilusi, darah menjadi encer dan tidak lengket. 6. Memar Pada Gelang Bahu Korban yang meronta untuk mencoba menyelamatkan diri, sering mengalami memar atau ruptur otot terutama otot gelang bahu, leher, dan dada. Pendarahan mungkin terjadi bilateral dan cenderung mengikuti garis otot. Hal ini terjadi pada 10% kasus, dan merupakan bukti yang sangat kuat bahwa pasien masih hidup saat tenggelam. 2.6 Pemeriksaan Laboratorium

1. Berat Jenis Darah Tes ini pertama kali dilakukan tahun 1902, dimana berat jenis plasma darah dari bagian jantung kiri lebih rendah dibanding dengan darah yang berasal dari jantung kanan yang telah mengalami hemodilusi saat tenggelam. 2. Plasma Chloride Tes ini pertama kali dilakukan oleh Gettler pada tahun 1921.Dimana darah dari jantung kanan dan kiri dibandingkan. Hemodilusi akibat tenggelam air tawar menyebabkan kadar chloride di jantung kiri lebih rendah dibanding jantung kanan. Sedangkan apabila tenggelam di air asin hasil berlawanan akan terjadi. 3. Magnesium Plasma Tes ini diajukan pertama kali oleh Moritz pada tahun 1944, dimana kadar magnesium tinggi pada jantung kiri jika dibandingkan dengan jantung kanan, menunjukkan absorpsi ion tersebut dari media tenggelam khususnya air asin. Namun tidak satupun tes diatas merupakan pemeriksaan definitif walaupun beberapa ahli percaya tes tersebut mampu memberikan bukti konfirmasi tenggelam pada jenazah yang diangkat dari air dan dilakukan tes dalam beberapa jam. Perubahan elektrolit darah setelah

12

kematian yang kurang seragam dan tidak dapat diprediksi menyebabkan tes ini semakin kurang berguna seiring dengan lamanya kematian dan waktu penemuan jenazah. 4.Pemeriksaan Diatom Diatom atau Bacillariophyceae merupakan kelas alga uniseluler berukuran mikroskopis, 15.000 spesies telah diketahui setengahnya hidup di air tawar dan sisanya hidup di air laut dan air payau. Klasifikasinya berdasarkan struktur siliceous valves-nya. Struktur selnya unik dimana menghasilkan siliceos outer box-like skeleton yang disebut dengan frustule yang memiliki sifat kimia inert dan hampir tidak dapat dihancurkan dan resisten terhadap asam kuat. Pada tahun 1941 Incze menunjukkan bahwa, selama tenggelam, diatom masuk kedalam sistem sirkulasi melalui paru-paru. Diatom dapat berperan sebagai jaringan hati, otak, dan sumsum tulang mengikuti pencernaan asam pada masing-masing jaringan. Penggunaan diatom sebagai tes diagnosis pada kasus tenggelam berdasarkan pada hipotesis diatom tidak akan masuk ke sirkulasi sistemik dan terdeposisi di berbagai organ sebagai sumsum tulang, apabila diatom masuk ke sirkulasi sistemik hal ini menunjukkan sirkulasi masih berfungsi dan membuktikan korban masih hidup saat di dalam air. Namun tes ini dibatasi kesulitan mengeksklusi dari kemungkinan kontaminasi. Diatom di lingkungan ada dimana-mana misalnya di bangunan industri, sebagai bedak sarung tangan karet. Diatom juga dapat ditemukan pada jenazah yang bukan korban tenggelam, meningkatkan kemungkinan diatom masuk ke sirkulasi melalui saluran pencernaan sebagai kontaminan makanan atau masuk melalui saluran pernapasan, karena sejumlah kecil diatom terdapat di udara bebas. Konsesus menberikan peringatan adekuat untuk mencegah kontaminasi, ditemukannya diatom pada organ seperti sumsum tulang merupakan bukti kuat korban meninggal karena tenggelam. Hal ini juga masih berlaku pada jenazah yang sudah membusuk tanpa adanya mutilasi sejumlah besar tubuh. Tes konfirmasi harus dilakukan untuk membuktikan diatom yang ditemukan dalam tubuh korban sama dengan diatom dalam air tempat korban ditemukan. Pemeriksaan cairan paru untuk mencari diatom kurang memiliki makna namun apabila ditemukan dalam jumlah yang sangat banyak menjadi bukti yang kuat korban meninggal akibat tenggelam.
2.7

Diagnosis Tenggelam1

Bila mayat masih segar (belum terdapat pembusukan) maka diagnosis kematian akibat tengelam dengan mudah dapat ditegakkan melalui pemeriksaan yang teliti dari :
13

1. Pemeriksaan luar 2. Pemeriksaan dalam 3. Pemeriksaan laboratorium berupa histologi jaringan, destruksi jaringan, dan berat jenis, serta kadar elektrolit darah Bila mayat sudah membusuk maka diagnosis kematian akibat tenggelam dibuat berdasarkan adanya diatom yang cukup banyak pada paru-paru yang bila disokong oleh penemuan diatom pada ginjal, otot skelet atau diatom sumsum tulang, maka diagnosis akan menjadi makin pasti.

BAB III LAPORAN KASUS Surat permintaaan keterangan ahli (visum et repertum) berasal dari POLRES Klungkung tertanggal 23 Mei 2011 yang ditujukan kepada Instalasi Kedokteran Forensik Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar untuk melakukan pemeriksaan luar pada jenazah berinisial ZJH dengan maksud untuk mengetahui penyebab kematiannya. Jenazah tiba di
14

Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah pada tanggal 23 Mei 2011. Pemeriksaan luar yang dilakukan oleh Dokter Muda Forensik pada tanggal 23 Mei 2011 pukul 16.30 WITA. Pemeriksaan dalam dilakukan oleh dr.Dudut Rustyadi, Sp.F dan dr.Kunthi Yulianti, Sp.KF pada tanggal 2 Juni 2011 pukul 08.40 WITA. PEMERIKSAAN LUAR Pada jenazah tidak terdapat label dari kepolisian dan dibungkus dengan pembungkus jenazah berupa kain berbahan katun warna putih dengan tulisan KM merek KUDA BINTANG dan kain berbahan katun bermotif batik. Pakaian yang digunakan jenazah adalah Bra berwarna hitam merek tidak terbaca, celana pendek berbahan jeans berwarna biru dengan tulisan CASSANO, dan celana dalam berbahan nilon berwarna merah dengan merek CHANDAISE. Jenazah tidak memakai perhiasan. Tanda Kematian pada jenazah berupa lebam mayat pada punggung berwarna merah keunguan yang tidak hilang pada penekanan; kaku mayat pada seluruh tubuh yang sukar dilawan; tanda pembusukan belum terbentuk. Rambut kepala warna cokelat kehitaman, tumbuh ikal, panjang rata-rata 30 cm; alis berwarna hitam, tumbuh jarang; bulu mata berwarna hitam, tumbuh jarang. Kepala berbentuk bulat lonjong. Mata kanan terbuka 0,2 cm sedangkan mata kiri tertutup. Selaput bening mata kanan dan kiri keruh; teleng mata kanan dan kiri sama besar berukuran 0,6 cm; tirai mata kanan dan kiri berwarna coklat; selaput bola mata kanan dan kiri berwarna putih, terdapat pelebaran pembuluh darah, dan bintik perdarahan; selaput kelopak mata berwarna merah keunguan, terdapat pelebaran pembuluh darah. Hidung bentuk pesek, dari lubang hidung bagian kanan dan kiri keluar cairan berwarna kemerahan. Mulut terbuka selebar 0,3 cm, lidah tidak tergigit, tidak terjulur, dari rongga mulut tidak keluar apa-apa, pada rahang bawah samping kiri gigi geraham nomor satu, dua, dan tiga tidak ada. Telinga berentuk oval, dari lubang telinga kanan dan kiri keluar cairan bening. Alat kelamin jenazah didapatkan dari saluran kelamin tidak keluar apa-apa hanya ditemukan tali tampon warna putih menjulur dari lubang kemaluan dengan ukuran 7 cm. Dari lubang pelepasan jenazah tidak keluar apa-apa. Identifikasi umum jenazah adalah seorang perempuan, warga negara Cina, warna kulit kuning langsat, gizi lebih, umur kurang lebih 34 tahun, berat badan 95 kg, panjang badan 172 cm. Identifikasi khusus jenazah adalah tahi lalat pada dada kiri ukuran 0,5 cm x 0,4 cm dan tahi lalat pada dagu. Pada jenazah terdapat luka lecet pada selaput bibir atas sebelah kanan, 2
15

cm dari garis pertengahan depan, ukuran 0,2 cm x 0,2 cm dan tidak ditemukan patah tulang pada jenazah. PEMERIKSAAN DALAM Pada leher jenazah tidak terdapat memar di jaringan bawah kulit leher dan pada jaringan otot leher tidak terdapat memar. Lemak dinding dada berwarna kuning dengan tebal 2,5 cm, sekat rongga badan kiri dan kanan setinggi iga keempat. Kandung jantung tampak satu jari di antara kedua tepi paru-paru dan di dalam kandung jantung terdapat cairan berwarna merah kehitaman. Dalam rongga dada kanan dan kiri terdapat cairan berwarna merah kehitaman. Lemak perut berwarna kuning dengan tebal 3,5 cm, tirai usus menutupi hampir semua permukaan usus bagian atas, selaput dinding perut bagian dalam berwarna abu-abu mengkilat, permukaan licin dan mengkilat. Setelah alat alat diangkat tampak lidah berwarna cokelat, permukaan tidak rata, pada irisan berwarna cokelat, terdapat memar pada tepi lidah samping kanan ukuran 1 cm x 0,7 cm. Kelenjar gondok terdiri dari dua baga, warna cokelat, pada perabaan lunak, pada irisan berwarna cokelat, gambaran kelenjar jelas. Tulang lidah, tulang rawan gondok, tulang rawan cincin semuanya utuh. Selaput lendir kerongkongan berwarna merah muda, licin, berisi makanan setengah dicerna. Selaput lendir batang tenggorok berwarna kemerahan, licin, berisi sisa makanan, terdapat buih halus. Pada pipa udara tepat pada percabangan terdapat pasir halus berwarna kekuningan. Alat-alat dalam rongga dada yaitu paru kanan terdiri dari tiga baga, warna merah kecokelatan, pada perabaan seperti spon kenyal, pada irisan paru berwarna merah kecokelatan, pada penekanan keluar cairan warna merah berbuih, berat 450 gram. Paru kiri terdiri dari dua baga, warna merah kecokelatan, pada perabaan seperti spon kenyal, pada irisan paru berwarna merah kecokelatan, pada penekanan keluar cairan warna merah berbuih, berat 450 gram. Jantung jenazah besarnya satu setengah kali genggaman tangan kanan jenazah. Warna cokelat mengandung banyak lemak; terdapat pelebaran pembuluh darah pada permukaan jantung; lingkar katup antara serambi kanan dan bilik kanan 12 cm; otot bilik jantung kanan berwarna cokelat, tebal otot 0,5 cm; lingkar katup pembuluh nadi paru-paru 7,5 cm; lingkar katup antara serambi kiri dan bilik kiri 10 cm; otot bilik jantung kiri berwarna cokelat, tebal 1,8 cm; lingkar katup pembuluh batang nadi 6,5 cm; pada pangkal pembuluh nadi jantung kanan dan kiri terdapat sedikit penebalan dengan sisa lumen 90%. pada pembuluh nadi jantung kiri 1 cm dari pangkal terdapat penebalan dengan sisa lumen 80%; berat jantung 450 gram.
16

Alat-alat dalam rongga perut yaitu hati berwarna cokelat, pada permukaan tampak bercak kuning, tepi tajam, pada perabaan lunak, pada irisan berwarna cokelat, gambaran hati jelas, berat 2700 gram. Saluran empedu tidak tersumbat, kandung empedu berisi cairan berwarna kecokelatan, selaput lendir permukaan seperti beludru. Limpa berwarna keunguan, permukaan keriput, pada perabaan lunak, pada irisan berwarna ungu kehitaman, pada kerokan jaringan limpa terikut, berat 150 gram. Pada mukosa lambung terdapat bercak kemerahan dan selaput lendir lambung licin dan berlipat-lipat, berisi cairan warna kecokelatan dan makanan setengah dicerna. Kelenjar liur perut berwarna kecokelatan, permukaan berbaga-baga, pada perabaan lunak, pada irisan berwarna cokelat. Usus halus berwarna kuning kecokelatan, permukaan licin. Usus besar berwarna kuning kecokelatan, permukaan licin. Kelenjar anak ginjal kanan berbentuk trapezium warna ungu, terdapat pelebaran pembuluh darah, konsistensi lunak sedangkan kelenjar anak ginjal kiri berbentuk seperti bulan sabit, warna gelap, terdapat pelebaran pembuluh darah, konsistensi lunak. Ginjal kanan, lemak ginjal tebal, simpai ginjal mudah dilepas, warna cokelat, permukaan tidak rata, pada perabaan lunak, pada irisan gambaran ginjal jelas, pada piala ginjal kosong dan terdapat pelebaran pembuluh darah, berat 225 gram sedangkan ginjal kiri, lemak ginjal tebal, simpai ginjal mudah dilepas, warna cokelat, permukaan tidak rata, pada perabaan lunak, pada irisan gambaran ginjal jelas, pada piala ginjal berisi lendir warna kekuningan, berat 250 gram. Saluran kemih kanan dan kiri tidak tersumbat. Kandung kemih kosong, selaput lendir berwarna kuning kemerahan. Rahim sebesar telur ayam kampung, dalam rahim berisi lendir warna merah kekuningan. Indung telur kanan terdapat benjolan berisi cairan (kista ovarii) diameter 1 cm. Pada pemeriksaan kepala didapatkan kulit kepala bagian dalam tidak terdapat memar. Tulang tengkorak utuh, pada tulang karang kanan dan kiri terdapat resapan darah. Selaput keras otak utuh. Selaput lunak otak utuh. Otak besar warna kekuningan, konsistensi sangat lunak, terdapat pelebaran pembuluh darah. Otak kecil warna kekuningan, konsistensi sangat lunak, terdapat pelebaran pembuluh darah. Batang otak warna kekuningan, konsistensi sangat lunak, terdapat pelebaran pembuluh darah. Bilik otak kosong, berat otak seluruhnya 1500 gram. Pemeriksaan tambahan yang dilakukan adalah pemeriksaan getah paru. Pada pemeriksaan getah paru kanan ditemukan serat tumbuhan, kristal jernih, dan diatom sedangkan Pemeriksaan getah paru kiri ditemukan kristal halus bewarna hitam.

17

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Prosedur Medikolegal Sesuai dengan pasal 1 butir 28 KUHAP, keterangan ahli merupakan keterangan yang diberikan oleh seseorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan. Keterangan ahli dapat diberikan secara tertulis dalam bentuk surat (pasal 187 KUHAP), dalam bentuk laporan penyidik semasa penyidikan ( penjelasan pasal 186 KUHAP) dan lisan ( pasal 186 KUHAP). Visum et repertum (VER) merupakan salah satu bentuk keterangan ahli yang tertulis dalam bentuk surat. Visum et repertum terhadap seseorang dibuat karena adanya kecurigaan orang tersebut sebagai korban suatu tindak pidana, baik dalam peristiwa kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, penganiayaan, pembunuhan, pemerkosaan, maupun korban meninggal yang
18

pada pemeriksaan pertama polisi, terdapat kecurigaan adanya tindak pidana. Permintaan keterangan ahli dalam hal ini VER oleh penyidik harus dilakukan secara tertulis yang secara tegas diatur dalam pasal 133 KUHAP ayat 2, terutama untuk korban mati. Yang berhak mengajukan permintaan keterangan ahli adalah penyidik (pasal 133 KUHAP ayat 1) dan penyidik pembantu (pasal 11 KUHAP). Yang termasuk kategori penyidik berdasarkan KUHAP pasal 6 ayat (1) jo PP 27 tahun 1983 pasal 2 ayat (1) adalah pejabat polisi Negara RI yang diberi wewenang khusus oleh UU dengan pangkat serendah rendahnya pembantu letnan dua. Sedangkan penyidik pembantu berpangkat serendah-rendahnya sersan dua. Jika penyidik merupakan pegawai negeri sipil, maka pangkat serendah-rendahnya adalah golongan II/b untuk penyidik sedangkan sebagai penyidik pembantu golongan II/a. Namun, pegawai negeri sipil tersebut tidak berwenang untuk meminta VER karena terkait tindak pidana tentang kesehatan dan jiwa manusia. Bila tidak terdapat pejabat penyidik seperti di atas pada suatu kepolisian sektor, maka kepala sektor yang berpangkat bintara bias dikategorikan sebagai penyidik. Surat permintaan keterangan ahli ditujukan kepada suatu instansi kesehatan/khusus, bukan kepada individu. Adapun yang berhak membuat keterangan ahli yang menyangkut tubuh manusia dokter ahli kedokteran forensik, dokter, dan ahli lainnya (pasal 133 KUHAP ayat (1)). Yang dibuat oleh dokter forensik disebut keterangan ahli sedangkan yang dibuat oleh ahli lainnya disebut surat keterangan.6 Secara lebih spesifik berdasarkan UU nomor 36 tahun 2009 pasal 122 ayat (2), otopsi dilakukan oleh dokter ahli forensik, atau oleh dokter lain apabila tidak ada dokter ahli forensik dan perujukan ke tempat yang ada dokter ahli forensiknya tidak dimungkinkan.7 Proses pembuatan visum et repertum pada jenazah ini sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku menurut prosedur medikolegal. Polisi dalam hal ini sebagai penyidik sudah mengirimkan surat permintaan (secara tertulis) kepada Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah untuk melakukan pemeriksaan luar dan dalam pada jenazah tersebut dengan SPV tertanggal 11 April 2011 No. YM 0106/IV.E.19 VER/320/2011. Selanjutnya pemeriksaan jenazah tersebut sudah dilakukan oleh ahli kedokteran forensik. 4.2 Tanatologi dan Perkiraan Saat Kematian Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang berupa tanda kematian, yakni meliputi perubahan yang terjadi pada tubuh mayat. Tanda-tanda kematian terdiri dari tanda kematian awal/tidak pasti dan tanda kematian lanjut/pasti.Tanda kematian tidak pasti diantaranya adalah henti nafas, terhentinya sirkulasi, kulit pucat, tonus otot
19

menghilang dan terjadi relaksasi, segmentasi pembuluh darah retina serta mengeringnya kornea. Sedangkan tanda pasti kematian meliputi lebam mayat (livor mortis), kaku mayat (rigor mortis), penurunan suhu tubuh (algor mortis), pembusukan (dekomposisi), lilin mayat (adiposera) dan mumifikasi.7 Perubahan-perubahan tersebut dapat dipakai untuk memperkirakan saat kematian terutama lebam mayat, kaku mayat, penurunan suhu yang dipertegas dengan adanya pembusukan.4 Lebam mayat terjadi sebagai akibat terkumpulnya darah pada pembuluh darah kecil, kapiler dan venule pada bagian tubuh yang terendah akibat pengaruh daya gravitasi.7 Lebam mayat umumnya berwarna merah keunguan dan tidak terbentuk pada bagian tubuh yang mengalami penekanan oleh alas keras. Warna lebam mayat yang berbeda dapat menunjukkan sebab kematian, contoh; warna lebam mayat merah terang pada keracunan gas CO dan CN.8 Lebam mayat akan mulai tampak sekitar 20-30 menit pasca kematian somatic. Apabila saat ini dilakukan penekanan pada lebam mayat maka penekanan tersebut akan segera menghilang. Intensitas lebam mayat akan maksimal setelah 8-12 jam pasca mati yang ditandai dengan tidak menghilangnya penekanan pada lebam mayat. Kaku mayat adalah kekauan yang terjadi pada otot yang kadang-kadang disertai dengan sedikit pemendekan serabut otot. Kekakuan tersebut terjadi setelah periode relaksasi primer akibat perubahan kimia pada protein aktin dan myosin otot. Adanya ATP aktin dan myosin menyebabkan otot mampu berkontraksi. Bila kadar ATP menurun maka akan terjadi perubahan pada aktomiosin sehingga kemampuan kontraksi akan menghilang. Kaku mayat mulai terbentuk sekitar 2 jam setelah kematian dan mencapai puncaknya setelah 10-12 jam. Kekakuan akan menetap selama 24 jam dan akan menghilang setelah 24 jam. Pembusukan adalah proses degradasi jaringan yang terjadi akibat autolisis dan aktivitas bakteri. Sebagian besar bakteri berasal dari usus terutama Clostridium welchii. Pada proses pembusukan ini terbentuk gas-gas alkana, H2S, HCN serta asam amino dan asam lemak. Pembusukan baru tampak sekitar 24 jam pasca mati berupa warna kehijauan pada perut kanan bawah. Warna hijau disebabkan karena terbentuknya sulf-met-hemoglobin. Warna hijau ini akan menyebar ke seluruh perut dan dada. Pembuluh darah bawah kulit akan Nampak seolah melebar berwarna hijau kehitaman. Kulit ari akan mengelupas dan terbentuk gelembung berisi cairan kemerahan berbau busuk. Pembentukan gas dalam tubuh dimulai dari lambung dan usus mengakibatkan tegangan perut sehingga keluar cairan warna kemerahan dari mulut dan rongga hidung. Gas pembusukan dalam rongga sendi menyebabkan sikap setengah fleksi kedua lengan dan tungkai. Rambut menjadi mudah dicabut, kuku mudah lepas, wajah menggelembung, larva lalat akan ditemukan kira-kira setelah 36-48 jam pasca mati.4
20

Pada pemeriksaan luar jenazah yang dilakukan pada tanggal 23 Mei 2011 terdapat lebam mayat pada punggung yang berwarna merah keunguan. Pada seluruh badan jenazah ditemukan kaku mayat yang sukar dilawan. Hal ini menunjukkan bahwa kematian telah terjadi lebih dari 2 jam sebelum pemeriksaan. Sifat kaku mayat yang sulit dilawan berarti kaku mayat yang sudah mencapai puncaknya. Dari sini dapat diperkirakan kematian telah terjadi lebih dari 10-12 jam namun masih kurang dari 24 jam. Belum terbentuknya tanda pembusukan pada tanggal 23 Mei 2011 tersebut juga menunjukkan kematian terjadi kurang dari 24 jam yang lalu terhitung dari saat dilakukannya pemeriksaan luar. Selaput bening mata korban tampak keruh menunjukkam korban meninggal di atas 10-12 jam, Dari data-data di atas, dapat disimpulkan korban meninggal lebih dari 10-12 jam dan kurang dari 24 jam dari waktu pemeriksaan. 4.3 Hasil Pemeriksaan Luar Hal yang didapatkan pada pemeriksaan luar yang sesuai dengan tanda kontak dengan air pada korban tenggelam adalah:
1. Jenazah dalam keadaan basah dan terdapat benda-benda asing lain yang terdapat dalam

air.
2. Dari kedua lubang hidung keluar cairan warna kemerahan.

3. Mata kanan setengah terbuka. 4. Pada selaput bibir atas sebelah kanan terdapat luka lecet yang merupakan tanda bahwa korban mengalami fase epilepsi dari asfiksia sebagai akibat masuknya korban ke dalam air. 5. Kutis anserina pada kulit permukaan anterior tubuh seperti pada tangan dan kaki.
6. Washer womans hand atau telapak tangan dan kaki berwarna keputihan dan

berkeriput.8 Perubahan ini terjadi bila tubuh telah terendam air selama lebih dari 1-2 jam. 4.4 Hasil Pemeriksaan Dalam Hal yang didapatkan pada pemeriksaan dalam yang sesuai dengan tanda pasti korban tenggelam adalah: 1. Busa halus pada jalan napas. 2. Overinflasi paru dilihat dari irisan paru berwarna merah kecokelatan, pada penekanan keluar cairan warna merah berbuih.

21

3. Emphysema aquosum karena paru-paru berwarna merah kecokelatan yang merupakan jaringan yang mendapat udara. Selain itu pada sayatan didapatkan material berbahan cair berwarna kemerahan. 4. Benda asing berupa pasir pada jalan napas, paru-paru, dan lambung. 5. Terdapat pelebaran pembuluh darah pada permukaan jantung.

4.5

Pemeriksaan Laboratorium 1. Pemeriksaan diatom pada getah paru. Pada pemeriksaan getah paru kanan ditemukan serat tumbuhan, kristal jernih, dan diatom sedangkan pada pemeriksaan getah paru kiri ditemukan kristal halus bewarna hitam.

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan Pada mayat dengan insial ZJH, diagnosis kematian akibat tenggelam dapat ditegakkan melalui pemeriksaan-pemeriksaan yang telah dilakukan meliputi pemeriksaan luar, pemeriksaan dalam dan pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan diatom pada getah paru. Pada pemeriksaan luar didapatkan tanda-tanda korban kontak dengan air meliputi : kondisi mayat yang basah serta disekelilingnya terdapat benda-benda air seperti pasir dan tanaman air, kutis anserina, dan washer womans hand. Tanda pasti tenggelam didapatkan dari pemeriksaan dalam dan pemeriksaan laboratorium yaitu berupa : busa halus di saluran nafas, benda asing berupa pasir di pipa-pipa pernafasan dan ditemukannya serat tumbuhan, Kristal halus dan diatom pada pemeriksaan getah paru kanan. Berdasarkan tanda-tanda kematian, kematian jenazah ini lebih dari 10-12 jam dan kurang dari 24 jam dari waktu pemeriksaan terhitung dari tanggal pemeriksaan luar yakni tanggal 23 Mei 2011.
22

23