GRUP KAWAN LAMA

Sebuah Fenomena Entrepreneurship

Dari satu toko kecil di kawasan Glodok warisan sang ayah, Kuncoro Wibowo dan adik-adiknya berhasil membangunnya menjadi kerajaan bisnis perkakas terkemuka di Asia Tenggara. Bagaimana usaha ini bisa meraksasa?
Alex Widjaja, pemilik toko di Kawasan Glodok, mengaku tak pernah membayangkan kalau salah satu keluarga pemilik toko alat pertukangan yang telah lama menjadi tetangganya bisa sukses memiliki perusahaan besar. Pasalnya, dulu toko milik Wong Jin (almarhum), tetangga dan temannya itu, tak lebih istimewa dari toko-toko lain di sana, termasuk toko Alex sendiri. Yang ia tahu, putra-putra Wong Jin memang rajin dan mau bersusah payah membantu ayahnya berdagang di toko. "Mereka anak-anak muda pekerja keras," tutur Alex yang tahun ini genap berusia 62 tahun. Alex mengaku ikut gembira dan takjub mengetahui putra-putra sobatnya itu kini telah berhasil membangun bisnis berskala besar dengan bendera Grup Kawan Lama (GKL). Ketakjubannya makin bertambah setelah diberitahukan bahwa gerai Ace Hardware dan Index yang mulai bertebaran di Jabotabek, ternyata juga milik keluarga kawan lamanya itu. Boleh jadi, bukan hanya Alex yang cukup terkejut dengan perkembangan bisnis GKL, tapi juga sejumlah pedagang Glodok yang tokonya berdekatan dengan toko milik Wong Jin. Maklum, puluhan tahun lalu, bisnis keluarga ini bisa dibilang tak ada apa-apanya. Bayangkan. Tahun 1960-an, toko kecil yang berdagang perkakas teknik ini tak berbeda dari toko-toko sejenis lainnya di Glodok. Ukurannya hanya sekitar 3 x 3 meter, dan tampilan ruangannya sederhana, bahkan terkesan kusam dan gelap. Di toko itulah Wong Jin yang warga Tionghoa, selain mencari nafkah juga mengajarkan kepada anak-anaknya -terutama anak lelaki tertuanya, Kuncoro Wibowo -- tentang bagaimana berdagang dan melayani pembeli, serta bagaimana bekerja keras dan belajar. Toko kecil itu sendiri sudah dibuka Wong Jin sejak tahun 1950. Roda kehidupan memang berputar. Terbukti di tangan generasi kedua -- Kuncoro Wibowo dan adik-adiknya -- GKL menjelma menjadi perusahaan besar yang menguasai bisnis perdagangan perkakas di Indonesia. Produk yang dipasarkan tak kurang dari 20 kategori dan meliputi lebih dari 60 ribu item.Sekitar 90% produk yang dijual GKL ini merupakan produk impor yang diproduksi perusahaan perkakas besar dunia. Keistimewaan GKL terutama karena mampu keluar dari kerumunan para pemain di bisnis distribusi produk perkakas dengan menunjukkan kelasnya sendiri. Bukan rahasia lagi, hampir semua pemain distribusi perkakas teknik di Indonesia adalah perusahaan kelas toko alias UKM yang banyak terdapat di bilangan Kota (Jakarta). Sulit menyebutkan bisnis mereka sebagai bisnis korporasi. GKL-lah yang paling sukses melewati kerumunan itu. ”Di Asia Tenggara, kalau Anda bandingkan dengan perusahaan distributor danshowroom perkakas lain, kamilah yang terbesar dan paling lengkap," ujar seorang eksekutif Kawan Lama. Tampaknya klaim sang eksekutif GKL itu tak berlebihan. Berbeda jauh dari para kompetitornya yang hampir semua masih menempati toko atau ruko, GKL sudah punya banyak gerai, showroom, dan kantor pusat sendiri yang cukup mentereng. Di gedung yang dijadikan markas besarnya itu GKL membuka showroom untuk displai produk seluas 2.000 m2. Showroom dilengkapi dengan sistem katalog yang terkomputerisasi sehingga sangat memudahkan visualisasi produk ke calon pembeli. Kehadiran perangkat canggih itu juga memungkinkan simulasi dan testing produk bagi calon pembeli yang ingin menjajal produk. Showroom ini dikelola salah satu anak usaha GKL yang paling tua, yakni PT Kawan Lama Sejahtera, yang kini diperkuat sekitar 1.200 karyawan. Yang tak kalah menarik, jumlah produk yang dipasarkan (termasuk yang diageni) GKL sekitar 130 merek. Hebatnya, GKL hanya mau mengageni merek-merek perkakas tiga besar (the big three) dunia. Malah, untuk mengageni merek yang punya pasar besar, GKL mendirikan perusahaan tersendiri (dedicated). Misalnya ada PT Indo Kompressigma untuk mengelola penjualan produk kompresor udara paling top di dunia dari Jerman bermerek Kaeser. Lalu, PT Miller Weldindo memasarkan mesin las asal Amerika Serikat bermerek Miller. Ada pula PT Kawan Lama Multiweldindo, pemegang lisensi pemasaran mesin las merek Saf (Prancis). Sementara PT Global Tools Indonesia memasarkan berbagai tool bermerek Facom (Prancis). Ada lagi salah satu merek yang diageni GKL dan sekarang tengah naik daun, yakni Sensormatic. Produk untuk keamanan ini berbentuk scanner yang banyak dipakai kalangan pengelola gedung (hotel, mal, dan lainnya), khususnya untuk melakukan scanning terhadap kemungkinan pengunjung yang membawa bahan peledak. GKL memasarkan produk ini di bawah bendera PT Sensormatic Indonesia. ”Kami memasarkan produk-produk itu dengan pola joint venture dengan prinsipal,” ujar Kuncoro Wibowo, yang juga CEO GKL.

di dalamnya banyak pelajaran tentang sebuah perjuangan bisnis. pengepakan dan pengiriman barang. Pengusaha yang selalu datang ke kantor pukul 08. dan sebagainya. Misalnya untuk urusan pembelian. sedari kecil memang sudah terbiasa bekerja keras -. Kuncoro rajin mengembangkan hubungan dengan para prinsipal – termasuk mengunjungi pameran di mancanegara -. Kuncoro sendiri sudah menjalankannya." kata Kuncoro yang kini mempekerjakan 3 ribu orang di kelompok usahanya. di toko kecil itu. Ketika makan siang. Sepulang dari sekolah langsung menuju toko. “Mungkin semimiliter. Sebenarnya bisa dipahami bila Kuncoro menerapkan gaya ini. namanya akan muncul di layar monitor. alat-alat pengukuran dan presisi. semangat terus belajar. Apa yang salah terus diperbaiki. alarm. dia ingin selalu melakukan sesuatu yang berbeda.” kenang kelahiran 1956 yang punya hobi mengoleksi korek api ini. sampai dilepas oleh ayah kami. waktu itu barang-barang bermerek dan berkualitas mulai bergerak di sini seiring dengan berkembangnya industri. harus bisa diperoleh. secara tidak sadar itu terus bergulir sampai kami bisa mandiri. Jadi bila ada industri yang butuh alat-alat perkakas. Kalau kami tidak. Bukan rahasia lagi bagi kalangan karyawan GKL. ketika masih SD. Adik perempuannya biasanya berperan sebagai kasir. barang dagangannya mulai dari obeng kecil hingga kompresor dan diesel yang besarnya memenuhi ruangan. Boleh dibilang. Selain belajar dari tempaan pengalaman selama melayani pelanggan di toko. anak keempat dari 9 bersaudara. karena perbedaan cara berpikir dan adanya keinginan untuk maju. GKL juga menegakkan aturan di kantor karyawan tak boleh baca koran atau majalah. Hong Kong dan Jepang. fastening tool. . masih bertahan bermitra dengan GKL. “Saya melihat kesempatan dan timing. malah bisa dibilang cukup keras. pihaknya memilih jemput bola. “Jika mereka memperoleh Rp 100. yang Rp 50 disimpan untuk properti atau investasi lain. melainkan lebih karena tempaan kerja keras dan otodidak. pengeboran (drilling tool)." katanya bangga. Ia memberi contoh perbedaan dalam mengembangkan bisnis. lubrikasi dan pembersih). Meski tak duduk di bangku kuliah. Itulah yang terjadi pada GKL. kerja keras. jiwa dan semangat kewirausahaan Kuncoro memang terasa kental. produk kimia (untuk adesif. “I want to be something different. kami menyediakannya. yang terurai kemudian adalah cerita kewirausahaan (entrepreneurship) yang penuh teladan. "Kami termasuk yang paling awal yang bisa melakukan penjualan dengan approach ke pabrikan.” ungkap pria yang mengaku tiga bulan dalam setahun waktunya dihabiskan di luar negeri itu. Pasalnya. Pasalnya. Sebelum menyuruh anak buahnya bekerja keras. Bukan masa kuliah formal bertahun-tahun yang mengasah keterampilan bisnis Kuncoro. melainkan hanya boleh bekerja. Contohnya. lanjut Kuncoro. Dan. kedisplinan. Duit itu terus diputar sehingga seperti snow ball. ia juga banyak mengambil kursus informal untuk mengasah wawasan bisnisnya.” tambah Kuncoro berterus terang kepada tim SWA yang mewawancarainya. Ketika itu Cina belum terbuka. Untuk memasarkan produk-produknya itu GKL mendirikan 9 cabang di berbagai kota. kompresor. Malahan di usia 17 tahun itu Kuncoro sudah pergi ke luar negeri sendiri guna mencari produk-produk perkakas yang potensial diageni. ia dan adik-adiknya sudah biasa membantu ayahnya bekerja di toko. Ia belajar sambil bekerja di lapangan.dan mulai mengageni produk-produk luar negeri. “Prinsip saya learning by practicing. automotive service & testing equipment. “Saya sudah sering pergi cari produk ke Singapura.00 ini dikenal punya kepemimpinan ( leadership) yang kuat. Selain itu. cat. seperti asembling mobil. sedangkan Kuncoro dan dan adik-adik lelakinya ikut membantu melayani di toko.dan masih dilakukannya hingga sekarang. lightening equipment. Menyingkap perjalanan bisnis GKL memang amat menarik. karyawan yang datang ke kantor telat.” katanya menegaskan. unsur-unsur inilah yang bisa membalikkan nasib dari nobody menjadi somebody yang terpandang. perkakas keselamatan kerja.” Kuncoro mengungkapkan kiatnya. ”Keunikan kami adalahone stop shopping concept. pihaknya tergolong perusahaan lokal pertama yang berinisiatif mencari pasar. membimbing adik-adiknya. ibu mengirimkan rantang nasi yang zaman dulu masih pakai rantang rotan. “Saya ingat kalau ke toko. Kuncoro melihat perusahaannya bisa berkembang jauh lebih pesat dibanding para pesaing yang sekarang masih jualan di ruko-ruko. menggandeng prinsipal luar negeri. Salah satu alasannya.” ujar Kuncoro yang memang hanya tamatan SLTA. Kenyataannya. ia memimpin sebuah perusahaan penjualan yang memang menuntut disiplin tinggi dan kerja keras. Ketika berusia 17 tahun ayahnya sudah biasa melepas Kuncoro dan adiknya untuk menggulirkan usaha dagang keluarga sendiri. tak berarti Kuncoro tak suka belajar. Ketika penjual lain lebih banyak menunggu pembeli datang ke toko. “Saya percaya dengan orang ( people) dan selalu mengadaptasi teknologi baru. Tak ayal kematangan berbisnisnya pun cepat terbentuk. GKL memang menyediakan aneka produk mulai dari perkakas pemotongan (cutting tool). Di tahun 1980-an itu. “Saya kalau sudah punya keinginan.” ungkapnya lagi. Kuncoro.” kata Kuncoro seraya menjelaskan rata-rata para prinsipal yang mereknya diageni dari awal sampai sekarang.” kata seorang manajer di GKL menilai. Pendeknya. hingga membangun organisasi bisnis. Yang membuat GKL cepat melaju bisa dibilang karena kegigihan Kuncoro baik dalam menangkap peluang pasar. Sebab.Selain merek-merek top itu masih ada puluhan merek lain yang diageni GKL. terutama setelah Kuncoro dan adik-adiknya menerima tongkat estafet pengelolaan toko yang didirikan sang ayah.00 dan pulang pukul 21. Pengusaha yang lebih suka tampil dengan potongan rambut cepak ini menceritakan. cleaning service. diesel. tiap pagi bawa teko yang sudah diisi teh oleh ibu.

hingga furnitur. perlengkapan kemah dan barbeku. Yang lebih menarik. semula Kuncoro sempat akan membangun merek sendiri dengan pemasoknya para pengusaha furnitur lokal. tahun 1997 bisa membangun gedung sendiri. Perkembangan jumlah gerai ritel yang menjadi andalan GKL untuk membidik pasar massal ini cukup bagus. Mal Artha Gading dan Mal Metropolitan Bekasi.Dengan prinsip-prinsip itulah GKL terus berkembang. Setidaknya GKL sudah punya tiga gerai. Padahal. tak lagi mengandalkan pendekatan penjualan konvensional. Presdir PT Ace Hardware Indonesia. GKL juga mengembangkan Index Furnishing sejak 2004. berangkatnya bukan kami punya barang dan silakan Anda beli. Merek Krisbow sendiri kini tak hanya dipakai untuk produk kompresor. Unilever. lampu. Grup Wings. boleh dibilang GKL dikelompokkan sebagai korporasi besar. KLS misalnya. Index. Ultrajaya. tapi sudah diekstensi untuk 22 kategori produk yang meliputi lebih dari 4. Direktur Pemasaran KLS. Pasalnya. Dahulu. banyak para majikan (terutama dari kalangan muda) yang tak sungkan lagi berbelanja perabot atau perkakas sendiri. di akhir tahun 1970 bisa pindah ke ruko yang lebih baik. kalangan mapan perkotaan tak suka berbelanja sendiri untuk urusan perkakas dan lebih memilih mendelegasikan ke para pembantu atau tukang. Di bidang pemasaran. tahun 1985 bisa menambah gerai menjadi tiga ruko. Kuncoro kemudian memilih Index yang sudah sukses di Thailand. Sebab itu. perkakas rumah. tetapi telah mengimplementasi pendekatan konsultasi. terdiri dari 12 kategori (disebut departemen). aksesori otomotif. Krisbow mampu bersaing dekat dengan Kaeser yang merupakan market leader dunia. Paulus Ong. Sebut saja Ace Hardware. Krisbow Tools Center. hanya saja Index lebih mengarah ke produk perabot rumah tangga (home furnishing). Hanya saja. Dari situ tim sales membantu memberikan solusi terbaik. hadiah. tapi kalangan pengusaha lokal itu tak mau dengan alasan takut desain produknya malah dijiplak. Rencananya. Index merupakan waralaba furnitur dari Thailand. ke perusahaan yang juga gencar menggarap pasar ritelmassal. Bila awalnya hanya sebuah toko berukuran 3 x 3 meter di Glodok. Di antaranya. tapi lebih memberi solusi di antara kebutuhan pelanggan dan kemampuan pembelian. Jadi. Didukung jaringan penjualan GKL yang kuat. berhasil mentransformasi dari sekadar penjual atau agen berbagai produk milik perusahaan lain menjadi perusahaan yang punya merek sendiri.500 item. Kurangnya popularitas ini karena memang bidang bisnis GKL yang lebih banyak menyasar ke pelanggan perusahaan.yang sangat mengandalkan manajemen big account -. sejak diluncurkan 1995 pertumbuhan penjualan Ace Hardware minimal 25% per tahun. Jumlah gerai Ace Hardware pun terus bertambah. Di pasar kompresor misalnya. dan lainnya.” papar Tony Sartono. hingga Dunia Teknik.menjadi model pemasaran B2C alias ritel. Kalangan ibu rumah tangga. nama Kawan Lama memang tak sepopuler pemain di industri fast moving & consumer goods semisal Coca-Cola. kini justru lebih suka . kontribusi penjualan Krisbow terhadap GKL mencapai sekitar 10%. Tak heran. Dan akhirnya. Sebagai perusahaan pemasar perkakas. tapi juga dalam strategi menjual dan melayani klien. mulai dari cat dan perlengkapannya. perlengkapan Natal dan hari-hari besar. kini Krisbow sangat sukses dan merupakan merek lokal terbesar di bisnis perkakas. Kini. Namun sekarang tak mengherankan. Lalu. Direktur Operasional PT Home Center Indonesia – pengelola Index – menjelaskan pihaknya kini terus gencar mengembangkan supermarket perabot rumah tangga (home furnishing) itu. bukan pasar massal (mass market). Langkah GKL meluncurkan merek sendiri ini merupakan terobosan (breakthrough) bagi pemain lokal. melainkan bisa dilakukan di sebuah toko besar dengan suasana yang nyaman. sampai semester pertama 2006. Hal ini bisa dibuktikan dari makin intensifnya GKL mengembangkan gerai ritel perkakasnya: mulai dari Ace Hardware. tersebar di beberapa kota besar di Indonesia. Toko Krisbow Perkakas. Terobosan tak hanya dilakukan dalam bentuk pengembangan merek sendiri. Hal ini terlihat dari keberadaan merek Krisbow yang tak lain merupakan merek yang murni dimiliki dan dikembangkan oleh GKL. kini GKL juga mulai bertransformasi dari yang sebelumnya hanya fokus di bisnis B2B alias menyasar segmen korporat yang besar (big account). perlengkapan mandi. perlengkapan rumah tangga. konsep Index hampir sama dengan ritel Ace Hardware. engsel dan handel pintu. peralatan dan bahan berkebun. “Jadi. ternyata kehadiran dua jenis gerai GKL itu secara tak langsung telah mengedukasi konsumen perkakas di perkotaan bahwa berbelanja perabot dan perkakas tak harus berdesak-desakan atau kepanasan. Alasan lainnya. kunci pintu. Ace Hardware menyediakan lebih dari 50 ribu jenis produk. bukan asli merek ritel milik GKL. Tak heran. misalnya. akan buka dua gerai Index di Makassar dan Bandung. GKL sukses melakukan berbagai transformasi. Keberadaan Ace Hardware dan Index menjadi bukti bahwa GKL telah mulai mentransformasi pemasarannya dari yang semula didominasi pola pemasaran B2B -. bagi kebanyakan orang awam. Sebenarnya. Sosro. belum muncul kesadaran membangun merek sendiri. Sebagaimana dijelaskan Rudy Hartono. tim sales kami selalu menanyakan ke calon pelanggan apa kebutuhannya dan berapa banyak dana yang dimiliki. di bisnis ini hampir 100% pemain lokal sebatas berperan sebagai agen atau distributor. Sekarang mencapai 16 gerai. Selain Ace Hardware. skala bisnisnya boleh dipertandingkan dengan mereka itu. yakni di Puri Indah.

Dari sejumlah KP dan KTC yang sudah berjalan. bukan pedagang. akan memperkuat posisinya di pasar. Pada Ace Hardware dan Index. keramik. melihat langkah GKL bertransisi dari B2B ke B2C dengan mengembangkan jaringan ritel merupakan upaya mendekatkan diri ke kalangan konsumen akhir. Indomobil. Boleh dibilang. yang harus diperhitungkan adalah penentuan lokasi. serta memiliki dana Rp 800 juta-1 miliar untuk KP. selain Ace Hardware dan Index. “Kalau mereka bisa memilih lokasi yang baik dan pas. Disebutkan Kuncoro. “Mereka melakukan strategi forward integrated.” ia menegaskan. semuanya masih masuk dalam kompetensi intinya. tapi nature of business-nya masih sama.datang sendiri ke Ace Hardware untuk membeli perkakas pemotong dahan. setidaknya omset grup ini di kisaran Rp 1 triliun. GKL malah membuka peluang kerja sama dengan investor yang berminat. ia melihat GKL masih kurang dalam melakukan emotional bonding ke konsumen. sebagian perkakas manufakturnya juga dipasok GKL. meski GKL punya banyak anak usaha. kini hampir semua perusahaan besar di Indonesia menjadi pelanggan GKL untuk pengadaan perkakas. Mengenai kinerja anak-anak usaha GKL. sebagian besar dimiliki oleh mitra investor. Selain itu pasti semakin memperkuat bargaining power di hadapan pemasok. 50% diperkirakan masih dari KLS. perusahaan asembling otomotif (Astra International. Hanya saja. yakni penjualan perkakas. Aneka Tambang. Hanya saja belakangan ini perkembangan bisnis ritel (Ace Hardware. Itulah mengapa. Surabaya dan Bandung. Ternyata dari studi banding ke luar negeri Kuncoro mendapatkan jawaban bahwa model bisnis distribusi perkakas pun bisa survive dan membesar. saya pikir lama-kelamaan juga akan jatuh. GKL juga memilih fokus di distribusi saja. dan Rp 300-400 juta untuk KTC. Langkah ini juga menguntungkan karena semakin memungkinkan memperoleh margin lebih besar. Artinya. Hanya Index yang sedikit melebar. meski punya merek sendiri (Krisbow). Sekadar menyebut klien-klien besarnya: Garuda Indonesia. “Kami tak punya single customer yang mengontribusi lebih dari 3% sales kami. Namun. Adaro. mesin pembersih lantai. Namun. Lihat saja. Adapun kalau dilihat kontribusinya. KPC. saya pikir peluangnya bagus. perusahaan pertambangan (PT Bukit Asam. dan lain-lain. GKL tak mau asal cari mitra. “Brand building belum mereka lakukan secara optimal. Ace Hardware dan Index.” tuturnya. Panarub Industry. soal jaringannya jangan diremehkan.” kilah Kuncoro. Freeport Indonesia. meningkatkan kualitas layanan. ”Memang produknya beda. Pilihan strategi ini rupanya tak diputuskan tanpa alasan. Lokasi gerai ini tersebar di Jakarta. pengamat pemasaran. ketika Toyota Astra Motor hendak melakukan setting pabrik untuk memproduksi dan meluncurkan Innova dua tahun lalu. yakni penjualan furnitur. Gulf Resources) plus sederet perusahaan lainnya. Jumlah pelanggan GKL diperkirakan lebih dari 10 ribu. Perbedaan KP dan KTC sendiri terletak pada luas bangunan dan fokus usahanya. tidak di manufakturing. Persyaratan yang ditetapkan untuk menjadi mitra pemilik KP dan KTC antara lain: memiliki lokasi strategis dengan luas bangunan minimal 150 m2. Selama ini tiga anak usaha yang pertumbuhannya paling pesat adalah KLS. proses manufakturingnya dilakukan lewat outsourcing (toll manufacturing) Yang pasti. Bahkan. Darmadi menyarankan GKL untuk terus konsisten membangunawareness.” tandasnya.” Kuncoro berterus terang. Selama ini orientasi pemasaran GKL hampir 70%-80% ke kalangan end user. Sayang Kuncoro tak bersedia menyebutkan berapa omset grup usahanya saat ini. membuat program loyalitas dan terus-menerus membangun citra. Sementara dalam membesarkan KP dan KTC. Darmadi menilai kalau langkah itu dikelola dengan baik. KP berkonsep lebih independen dengan varian produk yang lebih banyak dibanding KTC. perusahaan-perusahaan semen. Ruangannya pun tak seluas dan selengkap Ace Hardware. GKL berhasil ikut membangun gaya hidup yang berhubungan dengan perkakas. GKL juga mengembangkan jenis gerai lain. Darmadi Durianto. “Kalau berhenti. PT Tambang Timah. Lihat saja. Cerdiknya. tahun 2006 GKL punya target membuka 20 gerai baru (baik KP maupun KTC). Tahun 1994 manajemen GKL melakukan benchmarking ke luar negeri untuk memutuskan apakah mau menggarap manufakturing atau distribusi/penjualan saja. Dua jenis gerai ini mulai diluncurkan 2003. Sebuah sumber juga menyebutkan. Darmadi memberikan catatan.” . Toko Krisbow) grup ini lebih cepat. Kuncoro mengaku optimistis. Dalam kaitannya dengan brand building. Catatan kritisnya. mereka cuma sekadar buka kemudian jual. Sebenarnya. ragam produk yang dipajang memang tak selengkap di Ace Hardware karena memang fokus dengan merek Krisbow. sudah ada 17 gerai (16 KP dan satu KTC). GKL ingin mengembangkan sendiri dan tidak berencana mewaralabakan atau menggandeng investor lain. Newmont. yakni Krisbow Perkakas (KP) dan Krisbow Tools Center (KTC). sekarang muncul hobi baru seperti berkebun ataupun ngebengkel. dan tahun 2007 ditargetkan menambah 50 gerai baru. Index. Sisi lain yang menarik dari GKL adalah strateginya untuk fokus. buka kemudian jual. pelanggannya hampir ada di semua sektor yang berbasis manufakturing. kalau mengacu pada perhitungan Pusat Data Bisnis Indonesia. dan Kramayuda Tiga Berlian). perusahaan alat-alat berat. Seorang eksekutif di GKL menyebutkan. sehingga akhirnya memutuskan fokus di distribusi saja. peranti pengecatan. pabrik elektronik. suku cadang.

Kuncoro sendiri tetap melihat prospek bisnisnya cukup cerah. jaringan GKL sudah begitu luas.” kata Kuncoro. GKL tak sulit meluncurkan merek Krisbow meski tak punya pabrik perkakas sendiri. BOKS Krisbow: Merek Lokal yang Berkibar Tanpa Pabrik Di bisnis perkakas di Indonesia. Kaeser. yang melihat di Indonesia pemain di kategori ini memang sangat kurang dan cenderung masih tertutup. Riset: Asep Rohimat. mungkin kami akan IPO sehingga kepemilikannya tak hanya dipegang keluarga. Saya cukup capek dan sudah waktunya menikmati hidup yang pendek ini. penguasaan pasarnya di pasar perkakas di Tanah Air.” Kafi menyimpulkan. Tapi apakah penjualannya bagus atau tidak. para pebisnis tidak melihat bidang ini sebagai mainstream. dulunya tak ada tapi langsung bisa melebarkan sayap ke mana-mana.Pengamat pemasaran lainnya. brankas. Brand awareness-nya di kalangan pengguna perkakas cukup kuat. “Kebetulan ia masuk ke bisnis yang belum dilirik orang. Soal IPO. Ia berhitung. Kafi mengakui. antara lain kompresor berukuran besar (dipakai bengkel dan pabrik besar). Merek lokal ini banyak dikenal orang melalui sejumlah produknya yang didistribusikan secara massal di berbagai ritel perkakas dan hypermarket/supermarket. GKL dengan Ace Hardwarenya tetap merupakan fenomena. Kendati demikian. Dedi Humaedi. mungkin saja pengalamannya tidak lagi aplikatif di masa mendatang. lanjut Kafi. GKL cukup tahu siapa saja pabrikan perkakas di dunia yang bisa dipesan . sebenarnya sebelum krisis GKL selalu memegang teguh kebijakan bahwa pihaknya hanya mau mendistribusikan atau menjadi agen produk-produk perkakas top 3 di dunia. melihat sukses GKL sebenarnya lebih karena hoki saja.” tandas Kafi. Tutut W. Dalam benak Kuncoro sekarang ini. gunting dan alarm. Kebanyakan industri lebih realistis dan memilih back to basic dalam membeli barang. Demikian juga secara administratif. sebab di bisnis ritel perkakas ini belum ada benchmark. “Namun setelah krisis 1997. “Ace Hardware kini menari sendirian. Kafi berpendapat. mereka enggan membeli merek-merek kelas dunia yang harganya makin mahal saat krisis. Merek ini pun dipakai untuk beragam jenis produk. sehingga hanya merek-merek ternama dunia yang diageni. Belum ada benchmark bagi Ace Hardware hingga saat ini.” ujarnya. bila ada pengusaha yang ingin menyaingi GKL saat ini. meski harga barangnya mahal dan servisnya tak bagus pun. Iskandar. “Saya mulai tired. Krisbow adalah merek yang sangat populer dan bersaing ketat dengan produk kompresor buatan Jerman. Yang penting buat mereka.” katanya bertamsil. Sikap prudent seperti ini agaknya merupakan kelebihan bisnis GKL lainnya. Implikasinya. akankah mereka sukses? Kafi tak bisa memastikan.” katanya. bukan berarti dapat disimpulkan kalau GKL sudah sukses. barang bisa dipakai dan harganya pantas. ia menilai sebenarnya bisa dilakukan kapan pun karena secara internal sudah siap. Mohamad B. Siti Ruslina. Alasannya.” ujar Kuncoro jujur. Seperti dijelaskan Kuncoro Wibowo. Sebab. bukankah sebuah empire tidak bisa (bertahan) lebih dari tiga keturunan. Penyebab awalnya. Di segmen kompresor. A. Biarkan jalan apa adanya dulu. Tak aneh. kita hanya bisa melihat ekspansi gerainya di mana-mana dengan areanya yang cukup luas. Celah itulah yang dilihat manajemen GKL sehingga meluncurkan Krisbow sebagai merek perkakas kelas menengah yang diposisikan sebagai substitusi merek asing yang makin mahal. Apa pun penilaian orang. Pasalnya. Itu memang positioning GKL. sudah tergolong telat. Reportase: Eddy D. pompa. Begitu pula. misalnya. “Ini seperti ombak. sejauh ini kita tidak dapat menyimpulkan bahwa Ace Hardware sukses di pasar. menurut Kafi. Handayani. Kafi Kurnia dari Peka Consulting. Toh. CEO Grup Kawan Lama. pasar perkakas juga mengalami kontraksi. “Tapi kita tidak dapat memprediksi seberapa lama mereka bisa bertahan karena mereka tidak punya pesaing. Harga produk-produk Krisbow 30%-40% lebih murah dari merek-merk besar dunia. Saya harus sudah menyiapkan generasi baru. Kalau kita melihat sejarah. Herning Banirestu. orang tetap akan mengunjungi karena tak ada alternatif lain.. Namun ke depan ia sudah berpikir untuk menyerahkan kepemimpinan pengelolaan bisnisnya kepada orang lain (profesional). Daya beli kalangan industri yang selama ini menjadi target pasar GKL mengalami penurunan. ia hanya ingin memastikan perusahaannya tetap eksis di pasar meski ia bukan leadernya lagi. Kelahiran merek Krisbow dipicu idealisme melahirkan produk alternatif sebagai solusi saat krisis moneter beberapa tahun lalu. Kalau begitu.S. “Tapi sejauh ini kami belum butuh dana dari luar untuk pengembangan bisnis. Abraham Susanto. “Itu belum tentu! Seperti Ace Hardware. yang belakang sudah menggulung ke depan.” kata Kafi. dengan jam terbang cukup panjang di bisnis ini. tak seperti ritel umum. Krisbow bukanlah nama asing. “One day.” Kuncoro menjelaskan.

tapi sebagai merek tambahan dari yang sudah ada. yang jumlah merek lokalnya lumayan banyak. Apalagi. Maklum. KLS juga akan menggandeng pabrikan di India dan Vietnam. Korea dan Cina.hal yang sering jadi menjadi kendala buat kebanyakan pemain lokal. Manajemen KLS tak memosisikan Krisbow sebagai produk yang berkualitas lebih rendah dibanding produk asing yang dijajakannya. Industri ini memang amat berbeda dari industri food & beverage.500 item. Kami ambil barang jadinya lalu dikemas dengan brand sendiri. di industri perkakas hampir tak ada single manufacturer yang memproduksi hanya satu merek milik sendiri. Jadi. yang terdiri dari 22 kategori produk. Target pasarnya. pelaku industri dan kalangan pehobi. Yang pasti. Ada yang dari Jepang.” kata Kuncoro menjelaskan. Merek Krisbow diluncurkan pada 1998. Manajemen KLS bisa memasarkan produk sebanyak itu karena menggandeng banyak pabrik di luar negeri sebagai mitra toll manufacturing. Pabrik yang digandeng rata-rata bukan pemasok/prinsipal yang produknya diageni KLS sebelumnya. Maklum. kebanyakan pemain adalah merek asing. misalnya.untuk membuatkan produk (toll manufacturing). Asal-usul nama Krisbow sendiri bagi kalangan internal GKL bukan rahasia lagi. yakni Krisnadi Wibowo. di industri ini dibutuhkan pengetahuan teknologi manufaktur yang lebih maju -. Kami anggap dunia adalah pabrik kami. mereka betul-betul mitra baru. “Krisbow tak menggantikan merek-merek yang ada. Target pasar yang dituju memang bukan perusahaan multinasional. “Tidak perlu memiliki pabrik sendiri. . melainkan perusahaan lokal yang mementingkan aspek value for money. Produk yang dipasarkan PT Kawan Lama Sejahtera (KLS) dengan merek Krisbow tak kurang dari 4. melainkan sebagai merek kedua. produk-produk Krisbow telah dipasarkan ke Malaysia dan Singapura sejak tahun lalu.” ujar Kuncoro. di bisnis perkakas industri seperti yang digeluti GKL. Kini Krisbow termasuk segelintir merek lokal asli yang cukup mapan di industrinya. karena merupakan penggalan nama salah seorang adik Kuncoro. Taiwan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful