Anda di halaman 1dari 8

Pengaruh Motivasi dan Kemampuan Manajerial .

(Mulyanto) : 73 - 86

73

PENGARUH MOTIVASI DAN KEMAMPUAN MANAJERIAL TERHADAP KINERJA USAHA PEDAGANG KAKI LIMA MENETAP (Suatu Survai pada Pusat Perdagangan dan Wisata di Kota Surakarta)
Mulyanto STIE AUB Surakarta E-mail: myanto2007@yahoo.com
Abstract

Endless economic crises that caused the level of society income falling and the amount of people who live below poverty line is increasing. Economic crisis has also created company-declining productivity therefore a lot disconnection of working relationship that caused increasing unemployment happened. Enabling informal sector especially cloister merchant is hardly needed. The problem of cloister merchant is an interesting topic to study. This research is aimed to describe the cloister merchant motivations, managerial skill, and the performance of cloister merchant work to manage their business. Analyzing contribution of willing to achieve, risk taking, personal responsibility, searching feedback, new business effort, cooperation, future orientation, willing to work hard indicators. Analyzing contribution of planning skill, decision taking, budgeting, organization, coordinating, coordinating and supervision toward cloister merchant managerial skill indicators. Analyzing output quality, output quality, working time, and working process toward cloister merchant business performance indicators.

Keywords: Cloister merchant, motivations, managerial skill, and performance


PENDAHULUAN Hampir dapat dipastikan krisis yang diikuti dengan kerusuhan sosial, seperti pada Bulan Mei 1998, berakibat pada peningkatan angkatan kerja yang bekerja pada sektor informal, hal tersebut ditandai dengan merebaknya perdagangan sektor informal di berbagai tempat. Sebagai gambaran adalah berkembangnya Pusat Perdagangan Klitikan atau Pasar Loakan yang berada di seputar Tugu Monumen Perjuangan Banjarsari, dan kegiatan ekonomi sektor informal yang berada di Jalan Gatot Subroto, Jalan Slamet Riyadi, sekitar Kraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran serta Jalan Ir. Sutami sampai ke obyek wisata Taman Satwa Taru Jurug yang merupakan bukti nyata merebaknya perdagangan sektor informal yang dimulai pascakerusuhan Mei 1998. Krisis ekonomi yang berkepanjangan menyebabkan tingkat pendapatan masyarakat menurun dan jumlah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan meningkat, krisis ekonomi juga menyebabkan menurunnya produktivitas perusahaan sehingga banyak terjadi pemutusan hubungan kerja yang mengakibatkan meningkatnya pengangguran, khususnya di Jawa Tengah. Guna menanggulangi semakin banyaknya pengangguran, pem73

Pengaruh Motivasi dan Kemampuan Manajerial . (Mulyanto) : 73 - 86

berdayaan sektor informal khususnya Pedagang Kaki Lima (PKL) sangat diperlukan. Pedagang Kaki Lima merupakan kelompok tenaga kerja yang banyak di sektor informal. Jenis pekerjaan tersebut penting dalam relatif luas dalam sektor informal (Bromley, 1991:230). Menurut pandangan Bromley, pekerjaan Pedagang Kaki Lima merupakan jawaban terakhir yang berhadapan dengan proses urbanisasi yang berangkai dengan migrasi desa ke kota yang besar, pertumbuhan penduduk yang pesat, pertumbuhan kesempatan kerja yang lambat di sektor industri dan penyerapan teknologi yang padat moral, serta keberadaan tenaga kerja yang berlebihan. PKL adalah termasuk usaha kecil yang berorientasi pada laba (profit) layaknya sebuah kewirausahaan (entrepreneurship). PKL mempunyai cara tersendiri dalam mengelola usahanya agar mendapatkan keuntungan. PKL menjadi manajer tunggal yang menangani usahanya mulai dari perencanaan usaha, menggerakkan usaha sekaligus mengontrol atau mengendalikan usahanya, padahal fungsi-fungsi manajemen tersebut jarang atau tidak pernah mereka dapati dari pendidikan formal. Manajemen usahanya berdasarkan pada pengalaman dan alur pikir mereka yang otomatis terbentuk sendiri berdasarkan arahan ilmu manajemen pengelolaan usaha, hal inilah yang disebut learning by experience (belajar dari pengalaman). Kemampuan manajerial memang sangat diperlukan PKL guna meningkatkan kinerja usaha mereka, selain itu motivasi juga sangat diperlukan guna memacu keinginan para PKL untuk mengembangkan usahanya.
74

Untuk mewujudkan pembinaan PKL yang produktif serta kemampuan memberikan kontribusi kepada daerah atau kota, maka Pemerintah Kota Surakarta telah melakukan pembinaan terhadap PKL dengan cara menciptakan kemitraan antara sektor informal (PKL) dengan Pemerintah Kota Surakarta. Pembinaan ini bertujuan untuk memotivasi para PKL agar dapat mengembangkan usahanya, selain itu bertujuan pula memberikan arahan tentang pentingnya manajerial agar mereka mampu mengelola usahanya tersebut sehingga diharapkan usaha mereka akan bertambah maju. Motivasi yang tinggi serta kemampuan manajerial yang baik diharapkan dapat meningkatkan kinerja usaha PKL, dimana dengan semakin meningkatnya kinerja usaha dan kesejahteraan PKL diharapkan akan dapat memotivasi masyarakat lain untuk mencontoh atau merencanakan usaha sesuai kemampuan yang mereka miliki, sehingga akan dapat meningkatkan peluang kerja di sektor informal yang pada gilirannya dapat menanggulangi tingkat pengangguran, khususnya di Kota Surakarta. Langkah pembinaan PKL sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah maupun Keputusan Walikota untuk Kota Surakarta yaitu sebagai berikut: Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 1995 yang mengatur tentang Penataan dan Pembinaan PKL. Saat ini PKL sebagai sektor usaha informal merupakan usaha kerakyatan yang terbukti mampu bertahan terhadap krisis ekonomi sebagai katupkatup pengaman ekonomi. Tahun 2003 ekonomi nasional ditargetkan tumbuh 4%, tetapi tingkat pertumbuhan ekonomi tersebut belum cukup menahan laju tingkat pengangguran dan
BENEFIT, Vol. 11, No. 1, Juni 2007

kemiskinan. Pertumbuhan 4% hanya mampu menyerap 1,5 hingga 2 juta tenaga kerja. Padahal, secara nasional terdapat 10 juta pengangguran terbuka dan 30 juta pengangguran terselubung. Total pencari kerja di Indonesia saat ini ditaksir mencapai 40-60 juta orang. Sementara mesin ekonomi nasional diperkirakan hanya mampu menyerap sekitar 1,5 hingga 2 juta kesempatan kerja, padahal first job seeker (pencari kerja baru) ditaksir mencapai 2,4 juta orang. Karena belum pulihnya sektor riil, sektor formal masih sulit menampung tenaga kerja. Sebelum masa krisis ekonomi (1997), sektor formal menyerap 31,7 juta tenaga kerja dan sektor informal menyerap 53,7 juta tenaga kerja. Sesudah masa krisis ekonomi tahun 2002, sektor formal tinggal menyerap 29,1 juta tenaga kerja, sementara sektor informal menyerap 62,4 juta tenaga kerja (BPS, 2002:35). Mengacu pada data Biro Pusat Statistik, sektor informal menyumbang sekitar 74% terhadap kesempatan kerja pada tahun 1985, berkurang menjadi 72% pada tahun 1990 dan 65% pada tahun 1998, sedangkan pada tahun 2002 mencapai 49% dari 91.647.166 tenaga kerja. Pengangguran ini sangat kecil, artinya sektor informal merupakan penampung angkatan kerja dominan. Bahkan pascakrisis ekonomi, diperkirakan penyerapan tenaga kerja di sektor ini meningkat. Program pengembangan sektor informal PKL menurut Ananta dan Supriyatno (1985:23) membutuhkan 3 hal yang harus diperhatikan dalam menertibkan sektor informal, yaitu: 1. Usaha di sektor ini harus dilindungi dari hambatan yang tidak perlu seperti pungutan liar, pemerasan, dan lain sebagainya.

2. Pembinaan hendaknya jangan sampai mematikan kreativitas yang merupakan ciri mereka. 3. Perlu diperhatikan penyediaan tempat-tempat tertentu dan jam-jam tertentu bagi para PKL dengan penyediaan penerangan dan sarana kebersihan yang memadai. Mengacu pada uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa peran sektor informal PKL dalam perekonomian khususnya dalam penciptaan kesempatan kerja yang dihadapi oleh pemerintah saat ini adalah sangat penting. Selain itu pembinaan terhadap para PKL juga sangat diperlukan, khususnya pembinaan tentang kemampuan manajerial. Untuk itu peneliti ingin mengkaji lebih lanjut tentang bagaimana pengaruh faktor-faktor motivasi dan kemampuan manajerial PKL menetap terhadap kinerja usaha serta mengetahui seberapa jauh pengaruh faktor-faktor motivasi terhadap kinerja usaha. Meskipun peranannya penting, pembicaraan tentang sektor informal tampak menimbulkan persoalan daripada memecahkannya. Hal ini terjadi terutama karena langkanya definisi yang tepat tentang sektor informal. Kemudian yang menjadi permasalahan ini adalah bagaimanakah pengaruh motivasi dan kemampuan manajerial terhadap kinerja usaha pedagang kaki lima yang menetap. Dalam kerangka teori ini kita membicarakan mengenai bagaimana pengaruh motivasi dan kemampuan manajerial terhadap kinerja usaha Pedagang Kaki Lima. Pedagang Kaki Lima merupakan kelompok tenaga kerja yang banyak di sektor informal. Jenis pekerjaan tersebut penting dan relatif luas dalam sektor informal
75

Pengaruh Motivasi dan Kemampuan Manajerial . (Mulyanto) : 73 - 86

(Bromley, 1991:230). Menurut pandangan Bromley, pekerjaan Pedagang Kaki Lima merupakan jawaban terakhir yang berhadapan dengan proses urbanisasi yang berangkai dengan migrasi desa ke kota yang besar, pertumbuhan penduduk yang pesat, pertumbuhan kesempatan kerja yang lambat di sektor industri dan penyerapan teknologi yang padat modal, serta keberadaan tenaga kerja yang berlebihan. Pengertian umum PKL sesuai Pasal 1 Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 1995 tentang Penataan dan Pembinaan PKL, menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan PKL adalah orang yang melakukan usaha dagang dan atau jasa, di tempat umum baik menggunakan atau tidak menggunakan sesuatu, dalam melaksanakan kegiatan usaha dagang. Tempat usaha PKL adalah tempat umum, yaitu tepi-tepi jalan umum, trotoar, dan lapangan serta tempat lain di atas tanah negara yang ditetapkan oleh Walikota Surakarta. PKL adalah perorangan yang melakukan penjualan barang-barang dengan menggunakan bagian jalan atau trotoar dan tempat-tempat untuk kepentingan umum serta tempat lain yang bukan miliknya. PKL pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu PKL yang mobile (tidak menetap), PKL yang tidak mobile (menetap), PKL static knock down (menggelar barang dagangannya pada waktu dan tempat tertentu) (Amidi, 2003). Motivasi merupakan akibat dari interaksi seseorang dengan situasi tertentu yang dihadapinya, sehingga terdapat perbedaan dalam kekuatan motivasi yang ditunjukkan oleh seseorang dalam menghadapi situasi tertentu dibandingkan
76

dengan orang lain yang menghadapi situasi tertentu dibandingkan dengan orang lain yang menghadapi situasi yang sama (Siagian, 1997:137). Para ahli manajemen sumber daya manusia dan perilaku organisasi memberikan definisi atau konsep mengenai motivasi dengan ungkapan berbeda-beda, namun makna yang terkandung sama, yaitu bahwa motivasi adalah keinginan, harapan, kebutuhan, tujuan, sasaran, doronan, dan insentif. Kemampuan manajerial adalah kemampuan untuk mengelola usaha seperti perencanaan, pengorganisasian, pemberian motivasi, pengawasan dan penilaian (Siagian, 1997:107). Adapun fungsi manajemen yang digunakan oleh para PKL di antaranya perencanaan, pengambilan keputusan, penganggaran, pengorganisasian, pengkoordinasian, serta pengawasan. Kinerja usaha adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenangnya dan tanggung jawabnya masing-masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi yang bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika (Prawirosentono, 1999:1). Kinerja merupakan salah satu ukuran dari perilaku yang aktual di tempat kerja yang bersifat dimensional, dimana dimensi kerja meliputi kualitas output, kuantitas output, waktu kerja, kerjasama dengan rekan kerja (Johnson, 1991:19).

BENEFIT, Vol. 11, No. 1, Juni 2007

KESIMPULAN 1. Motivasi PKL di Pusat Perdagangan pada umumnya dalam kategori baik terutama pada indikator kemauan untuk berprestasi dan orientasi pada masa depan, mencari umpan balik atas tindakannya dan tanggung jawab pribadi, selain itu masih terdapat sebagian kecil responden menyatakan kurang terutama pada indikator berani menerima resiko, usaha cara baru dan kreatif inisiatif. 2. Kemampuan manajerial PKL di Pusat Perdagangan pda umumnya dalam kategori baik, terutama pada indikator perencanaan. Selain itu, sebagian kecil responden menyatakan kurang pada indikator pengorganisasian dan pengkoordinasian. Kemampuan manajerial PKL di Pusat Wisata pada umumnya juga dalam kategori baik, terutama pada indikator perencanaan dan pengambilan keputusan, selain itu terdapat cukup banyak responden yang menyatakan kurang terutama pada indikator pengorganisasian, pembuatan anggaran dan pengawasan. 3. Kinerja usaha PKL di Pusat Perdagangan pada umumnya dalam kategori baik, terutama pada indikator kualitas kerja. Kinerja usaha PKL di Pusat Wisata pada umumnya dalam kategori baik, terutama pada indikator kualitas kerja. Kinerja usaha PKL di Pusat Wisata pada umumnya juga dalam kategori baik, terutama pada indikator waktu kerja. 4. Semua indikator memiliki kontribusi signifikan terhadap motivasi kerja PKL di Pusat Perdagangan, terutama

indikator kreatif inisiatif, mencari usaha cara baru, berorientasi pada masa depan dan bekerja sama. Pada umumnya indikator memiliki kontribusi signifikan terhadap motivasi kerja PKL di Pusat Wisata kecuali indikator berani menerima resiko. 5. Semua indikator memiliki kontribusi signifikan terhadap kemampuan manajerial PKL di Pusat Perdagangan maupun di Pusat Wisata. Rata-rata semua indikator memiliki kontribusi yang besar terhadap kemampuan manajerial di Pusat Perdagangan terutama pengkoordinasian, pembuatan keputusan dan pengawasan. Sedangkan di Pusat Wisata perencanaan dan pembuatan keputusan memiliki kontribusi yang lemah dibanding indikator pengawasan, pembuatan anggaran dan pengkoordinasian. 6. Semua indikator memiliki kontribusi signifikan terhadap kinerja usaha PKL di Pusat Perdagangan, sedangkan di Pusat Wisata indikator waktu kerja tidak memiliki kontribusi dominan terhadap kinerja usaha PKL di Pusat Wisata, sedangkan di Pusat Perdagangan kontribusi proses kerja terendah. Sementara kualitas output dan kuantitas output memiliki kontribusi yang sebanding di Pusat Perdagangan maupun di Pusat Wisata. 7. Motivasi tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja usaha PKL di Pusat Perdagangan sedangkan di Pusat Wisata motivasi berpengaruh positif pada tingkat signifikansi 92%. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa jika motivasi usaha PKL di

Pengaruh Motivasi dan Kemampuan Manajerial . (Mulyanto) : 73 - 86

77

Pusat Wisata meningkat, maka kinerja usahanya juga akan meningkat. 8. Kemampuan manajerial memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja usaha PKL di Pusat Perdagangan, namun yang lebih berpengaruh dominan adalah di Pusat Perdagangan. Rekomendasi yang dapat diajukan adalah sebagai berikut 1. Perlu adanya strategi dan kebijakan pengembangan PKL meliputi perlindungan hukum dan ruang usaha (space), pengembangan kemampuan serta pengembangan potensi. Ketiga jenis pengembangan tersebut hendaknya dilakukan secara sinergik, saling kait-mengait dan saling mendukung agar kemampuan PKL layak ditingkatkan. 2. Memberikan perlindungan hukum dan space, dimana hal ini sangat bergantung pada goodwill Pemerintah Kota Surakarta, sementara pengembangan kemampuan PKL dapat dicapai melalui program-program pelatihan, sedangkan pengembangan potensi PKL sangat bergantung pada motivasi dan kemampuan manajerial PKL itu sendiri. DAFTAR PUSTAKA Abdulrahman, Arifin. 1973. Kerangka Pokok-Pokok Manajemen Umum. Cetakan Kedua. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve. Agus Dharma. 1995. Manajemen Prestasi Kerja. Jakarta: CV. Rajawali. Agusty, Ferdinand. 2000. Structural Equation Modeling Dalam Penelitian Mana78

jemen. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Ananta dan Supriyanto. 1985. Penelitian tentang Sektor Informal. Jurnal Ekonomi UGM. Yogyakarta. Asad, Moh. 1992. Psikologi Industri dan Sosial, Edisi Keempat. Yogyakarta: Liberty. Azwar, Saifuddin. 1996. Realibilitas dan Validitas, Interpretasi dan Komputasi. Yogyakarta: Liberty. Djohan, Djabaruddin. 1994. Mencari Bentuk dan Metode Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kecil dan Sektor Informal. Jurnal. Jakarta: Frieddrich Ebert Stiftung. Gibson. 1996. Organisasi, Perilaku, Struktur, Proses, Edisi Kedelapan Jilid 1. Jakarta: Binarupa Aksara. Gundono. 2000. Akuntansi Untuk Pengusaha Kecil dan Menengah, Pelatihan Manajemen Usaha Kecil Mitra Binaan. Yogyakarta: PT Sucofindo. Mangkuprawiro, Sjafri. 1999. Perspektif Sumber Daya Manusia Untuk Pengembangan Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah. Kantor Menteri Negara Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah. Kantor Menteri Negara Koperasi PKM, Jakarta. Sekaran, Uma. 2003. Research Methods For Business, A Skill Building Appriach. Illinouis: John Willey and Sons Inc. Siagian, P. Sondang. 1997. Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta. Singarimbun, Masri. 1999. Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES. Stoner, AE, James and Wankel, Charles. 1998. Manajemen. Jilid 1. Edisi Ketiga. Jakarta: Intermedia.
BENEFIT, Vol. 11, No. 1, Juni 2007

Stoner, AE, James and Wankel, Charles. 1998. Manajemen. Jilid 2. Edisi Ketiga. Jakarta: Intermedia. Terry, R. George. 1997. Principles of Management, Seventh Edition. Homewoods Illinouis: Richard Irwin, Inc. Thoha, M. 1999. Dimensi-Dimensi Prima Administrasi Negara. Cetakan Kedua. Jakarta: Rajawali. Umar, Husein. 2000. Metode Penelitian untuk Skripsi dan Thesis Bisnis. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Umar, Husein. 2000. Sumber Daya Manusia dalam Organisasi. Edisi Revisi. Jakarta: PT. SUN. Wexley and Yulk. 1995. Perilaku Organisasi dan Psikologi Personalia. Jakarta: Bina Aksara. Widyohartono. 1989. Pengantar Kewirausahaan. Jakarta: Sumber Widya. William B. Werther, JR and Keith Davis. 1993. Human Resources and Personal Management. International Editions. Singapore: Mc.Graw-Hill. Co. Yani, M. 1996. Teknik Wiraswasta dalam Keluarga. Cetakan Pertama. Jakarta: Rineka Cipta. Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Penataan dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima. Keputusan Walikota Surakarta Nomor 2 Tahun 2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Surakarta Nomor 8 Tahun 1995 tentang Penataan dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima.

Pengaruh Motivasi dan Kemampuan Manajerial . (Mulyanto) : 73 - 86

79