Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Lempung sebagai adsorben dapat digunakan sebagai penyerap logamlogam berat dan ion-ion yang terdapat pada lingkungan perairan maupun limbah padat, selain itu berbagai macam aplikasi lempung yang telah dilakukan oleh para peneliti seperti : adsorben (Adriani, 2010; Unuabonah, 2007; Handayani, 2004), resin penukar ion (Sidabutar, 1999), dan penjernihan air (Susamto, 2010; Adinata, 2010). Hal ini dapat terjadi karena lempung ini merupakan bahan berpori dengan luas permukaan besar serta kandungan kation yang dapat dipertukarkan dengan kation dari larutan lain. Atas dasar pertimbangan tersebut maka perlu untuk diteliti pemanfaatan lempung ini dalam kehidupan manusia, yang pada umumnya tak lepas dari pemanfaatan air sungai. Ketersediaan air bersih bagi seluruh masyarakat Indonesia masih menjadi masalah yang perlu untuk diperbincangkan, hal ini mutlak bagi masyarakat yang hidup daerah aliran sungai. Penggunanan air sungai bukanlah hal asing rasanya bagi sebagian masyarakat yang hidup di pinggiran sungai, penggunaan air ini biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan kegiatan sehari-hari. Hal serupa juga terjadi di Provinsi Riau yakni di Kota Pekanbaru, khususnya masyarakat di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Siak. Namun dengan meningkatnya aktivitas masyarakat yang meliputi perindustrian, perdagangan, transportasi, pemukiman, areal pemeliharaan ikan di dalam keramba dan pertanian dapat menimbulkan dampak negatif berupa limbah yang dibuang ke sungai. Limbah ini dapat berupa limbah organik dan anorganik, diantar dua bentuk limbah tersebut limbah anorganik berkontribusi besar terhadap penurunan kualitas sumberdaya air seperti Cu, Zn, Hg, Cd, Cr, Pb dan lain sebagainya. Sebagai akibat dari pencemaran ini, air sungai menjadi tidak layak dikonsumsi oleh masyarakat karena telah menyalahi aturan SNI sebagai air layak konsumsi seperti: tidak keruh, tidak berwarna, rasanya tawar, tidak berbau, temperatur normal, dan tidak mengandung zat padat tersuspensi (Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 907/MENKES/SK/VII/2002).

Berdasarkan data yang terkumpul dan telah diteliti oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Pekanbaru tahun 2010, sebagian anak sungai siak seperti sungai Sago, Senapalan, dan Sail di pekanbaru kadar logam berat (Cu, Cd, Hg, Pb) telah melebihi kadar ambang batas yang telah tercantum dalam Standar Nasional Indonesia (SNI). Hal ini sangat mengkhawatirkan mengingat ketiga sungai tersebut bermuara pada satu sungai besar yaitu sungai Siak, tentu saja dampak dari pencemaran tersebut merusak badan dan ekosistem pada sungai tersebut. Berdasarkan data BLH tahun 2010 dan merujuk pada baku mutu SNI, kandungan logam berat terbesar pada ketiga anak sungai tersebut adalah Pb dan dari ketiga sungai tersebut kandungan Pb yang paling banyak terdapat pada sungai Sago yaitu sebesar 1.670 mg/l sedangkan baku mutu yang disetujui adalah 0.03 mg/l (BLH kota Pekanbaru, 2010). Logam Pb dapat menyebabkan dampak negatif bagi kesehatan manusia seperti hipertensi, anemia, serangan jantung, gangguan fungsi reproduksi dan kematian. Oleh sebab itu, kandungan Pb ini harus berada di bawah baku mutu, salah satu upaya untuk menghilangkan dan memperkecil kandungan Pb yaitu dengan adosorbsi. Lempung merupakan salah satu material yang dapat digunakan sebagai adsorben (Unuabonah, 2007 dan Handayani, 2004). Pada kajian ini digunakan lempung alam Riau yang telah diidentifikasi oleh Nadarlis (2011) sedangkan sampel airnya yang berasal dari air sungai sago. Menurut Nadarlis (2011), lempung alam desa Palas merupakan jenis

mineral lempung yang dengan kapasitas tukar kation 9,63 meq/100g, luas permukaan sebesar 24,07 m2/g, keasaman tidak terdeteksi sedangkan kebasaannya sebesar 0,625 mmol/g. Menilik dari karakter lempung di atas dan kandungan Pb yang melebihi baku mutu, maka perlu dilakukan kajian tentang penggunaan lempung sebagai adsorben logam Pb pada air sungai. Hal ini diharapkan kandungan logam Pb pada air sungai dapat dikurangi.

1.2 Perumusan Masalah Kandungan logam Pb pada air sungai Sago sangat mengkhawatirkan, berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) kota Pekanbaru, kandungan Pb pada sungai Sago yaitu sebesar 1,67 mg/l melebihi baku mutu Standar Nasional Indonesia (SNI) yaitu sebesar 0.03 mg/l. Mengingat besarnya kadungan Pb tersebut maka perlu diadakan suatu kajian yang dapat dimanfaatkan oleh kalangan umum untuk menghilangkan atau paling tidak mengurangi kandungan Pb tersebut, kajian tersebut adalah memanfaatkan

adsorben. Salah satu Adsorben dengan biaya murah, mudah diperoleh dan mudah digunakan adalah lempung alam. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat memanfaatkan lempung secara tepat guna untuk kepentingan kebutuhan mereka. 1.3 Tujuan Penelitian 1. Menetukan kandungan Pb di dalam air di sungai Sago. 2. Menentukan kemampuan lempung alam untuk mengadsorbsi Pb. 1.4 Manfaat Penelitian 1. Meningkatkan daya guna lempung alam untuk penjernihan air khususnya menyerap Pb. 2. Sebagai informasi bagi peneliti lain yang berminat mengembangkan penelitian berbasis lempung dan adsorben. 1.5 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia Fisika, Laboratorium Biokimia dan Laboatorium Kimia Anorganik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau selama 6 bulan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum Lempung Lempung (clay) merupakan salah satu material anorganik yang melimpah di kerak bumi dan terbentuk dari hasil pelapukan batuan (Kurniawan, 2008). Tanah lempung secara geologis adalah mineral alam dari keluarga silikat yang berbentuk kristal dengan struktur berlapis (sering disebut dengan struktur dua dimensional), dan mempunyai ukuran partikel lebih kecil dari 2 m, berwarna agak kecoklat-coklatan dan mudah dibentuk dalam keadaan basah, serta mengeras dengan warna kemerah-merahan jika dibakar. Batu lempung menurut Pettijohn (1975) adalah batuan yang pada umumnya bersifat plastis, berkomposisi hidrous alumunium silikat (2H2OAL2O3. 2SiO2) atau mineral lempung yang mempunyai ukuran butir halus (batu lempung adalah batuan sedimen yang mempunyai ukuran butir kurang dari 0,002 mm). Menurut William dkk. (1954), batu lempung adalah batuan sedimen klastik yang mempunyai ukuran butir lempung, termasuk di dalamnya butiran yang mempunyai diameter kurang dari 1 atau 2 m dan secara dominan disusun oleh silika. Lempung biasanya mengandung sejumlah pengotor, seperti allophone, kuarsa, feldspar, zeolit, mika, hidroksi besi, karbonat, oksida barium, kalsium, natrium, kalium, besi, serta materi organik (humat dan derivatnya) (Kurniawan, 2008). Dalam bidang ilmu tanah, jenis mineral ini merupakan salah satu komponen penting untuk diketahui. Para pakar tanah dapat menginterpretasi lebih jauh tentang potensi sumber daya tanah baik tingkat kesuburan, sifat fisik serta kemampuan lahannya dengan mengetahui jenis mineral lempung yang dominan. Mengingat pentingnya mineral lempung tersebut, maka dalam sistem klasifikasi tanah (Taksonomi Tanah) jenis mineral ini harus disajikan dalam kategori famili. Sebagai contoh nama jenis tanah dalam kategori famili (Munir, 1996): Order Suborded : Vertisols : Usterts

Greatgroup : Calciusterts

Subgroups Famili

: Chromic calciustersts : Chromic Calciusterts, fine clayey, montmorilonitic, isohyperthermic.

Struktur dasar lempung terdiri dari aluminium atau magnesium yang berkombinasi dengan silika tetrahedral. Secara alamiah lempung dapat dibagi atas dua bagian, yaitu mineral primer yang berasal dari pembakaran karang dengan tidak mengalami perubahan komposisi dan mineral sekunder yang berasal dari mineral-mineral yang mengalami dekomposisi secara fisika dan kimia (Husen, 2002). Dalam kehidupan kita sehari-hari tanah lempung digunakan sebagai bahan pembuatan batu bata, tembikar dan genteng. Selain itu dalam dunia industri, tanah lempung dimanfaatkan sebagai bahan pengisi dalam industri kertas, cat dan karet, sebagai bahan penukar ion, katalis dan adsorben dalam bidang akademis. Lempung yang dipakai sebagai adsorben molekul memerlukan proses dehidrasi terlebih dahulu untuk mencapai kondisi kondisi bebas air sehingga terbentuk poripori lempung pada pemanasan di atas 100oC. Keadaan ini yang memungkinkan lempung dapat menyerap molekul-molekul yang mempunyai garis tengah lebih kecil dari pori-pori lempung tersebut (Edward, 1960). 2.2 Struktur dan Komposisi Kimia Lempung Lempung tertata secara berlapis membentuk struktur tertentu. Susunan partikel lempung terdiri atas lapisan bertumpuk seperti tumpukan kartu. Tumpukan tersebut terdiri dari silikat, alumina dan didalamnya terdapat gugus hidroksil serta logam-logam. Penataan ini menyebabkan pembentukan ruang dan muatan antar lapis. Struktur dasar lempung terdiri dari aluminium atau magnesium yang berkombinasi dengan silika tetrahedral. Secara alamiah lempung dapat dibagi atas dua bagian, yaitu mineral primer yang berasal dari pembakaran karang dengan tidak mengalami perubahan komposisi dan mineral sekunder yang berasal dari mineral-mineral yang mengalami dekomposisi secara fisika dan kimia (Husen, 2002).

Tanah lempung disusun oleh dua kerangka dasar pembangun, yaitu tetrahedral Si-O (T) dan oktahedral Al-O (O). Tetrahedral satu dengan tetrahedral lainnya berhubungan melalui penggunaan bersama tiga atom oksigen. Lembaran oktahedral dibentuk oleh atom oksigen yang tidak digunakan bersama. Lembaran oktahedral terbentuk melalui atom Al atau atom Mg yang berkoordinasi dengan enam atom oksigen. Atom oksigen pada lembaran oktahedral berikatan dengan atom hydrogen membentuk gugus hidroksida. Kedua kerangka ini tersusun

sedemikian rupa, sehingga membentuk lembaran tetrahedral (T) dan oktahedral (O ). Struktur lempung dapat dilihat pada Gambar 1.

Si Al atau Mg O

Lempengan Lempung

Tetrahedron Silika

Lembaran Kristalin Silika

Oktahedron Alumina

Lembaran Kristalin Alumina

Gambar 1. Struktur Tetrahedron Silika dan Oktahedron Alumina


Sumber : http://www.cals.ncsu.edu/course/zo419/clay.jpg

Lembaran tetrahedral dan oktahedral bersama-sama membentuk lapisan alumino-silikat (Gambar 2). Masing-masing lapisan berikatan melalui gaya Van der Waals, gaya elektrostatis, serta ikatan hidrogen. Antara lapisan satu dengan lapisan lainnya memiliki ruang (interlayer) yang dapat dihuni oleh sejumlah kation, molekul air, maupun molekul lainnya (Kurniawan, 2008).

Gambar 2. Struktur Lapisan Alumino-Silikat Sumber : Husen (2002) Lempung merupakan mineral liat yang tergolong aluminosilikat

subkelompok phyllosilicate. Jenis dan tipe lempung ditentukan oleh jenis unsur dan lapisan penyusun paling dominan dan turut mempengaruhi bentuk struktur dan muatannya. Berdasarkan komposisi penyusunnya, lempung silikat dapat dikelompokkan menjadi kaolinit, montmorillonit, vermikulit, illit, dan klorit. Sedangkan untuk kelompok liat oksida adalah gibbsit dan hematit (Foth, 1990). Berdasarkan susunan struktur geometri kerangkanya dikenal dengan lempung jenis 1:1, 2:1 dan 2:1:1 (Tabel 1). Perbandingan struktur kerangka menyatakan banyaknya perbandingan lapisan silika dan alumina dalam membentuk lapisan alumino-silikat.

Tabel 1. Jenis-Jenis Mineral Lempung Berdasarkan Perbandingan Struktur Kerangka No TipeStruktur Geometri Jenis Mineral Keterangan KTK rendah, plastis dan tak mengembang Struktur mirip kaolinit, berbentuk tabular atau silinder KTK tinggi (70-100 meq/100g), Monmorrilonit plastis saat basah (mengembang), keras saat kering 2 2:1 Vermikulit KTK tinggi (150 meq/100g), terdapat Mg2+ antarlapisan KTK 30 meq/100g, tidak Ilit (hidrous mika) mengembang. Terdapat K+ antar lapisan 5-8% Tidak mengembang, ruang antar 3 2:1:1 Klorit lapisan terdapat mineral brusit, mengandung Mg(OH)2 pada lapisan oktahedral.
Sumber: Hanudin (2004)

Kaolinit

1:1

Haolisit Anauksit Dikrit

2.2.1 Golongan Kaolinit [Al2Si2O5(OH)4] Kristal mineral kaolinit terdiri dari lapisan oktahedra aluminium yang bertumpuk di bawah lapisan tetrahedra silika (Tan, 1998), yang berkomposisi 1 lapisan alumina oktahedral dan 1 lapisan silika tetrahedral sehingga disebut tipe 1:1. Dibandingkan butir montmorilonit, butir kaolinit lebih besar, berdiameter antara 0,10 sampai 5 mikron dan sebagian besar diameternya antara 0,2 dan 2 m. Kristal mineral kaolinit terdiri dari lapisan oktahedra aluminium yang bertumpuk di bawah lapisan tetrahedra silika (Tan, 1998). Struktur kaolin memiliki gugus

OH terbuka pada lapisan oktahedral menyebabkan kaolin bermuatan negatif tergantung dari pH lingkungannya. Gugus OH tersebut dapat berikatan hidrogen dengan O (Gambar 3) dari lapisan tetrahedral maka kaolin tidak mengembang jika basah dan tidak terjadi substitusi isomorfis sehingga kapasitas tukar kationnya kecil (Foth, 1990).

Gambar 3. Struktur Geometri Kaolinit


Sumber: http://pubs.usgs.gov/of/2001/of01-041/htmldocs/clays.htm

Kekokohan ikatan struktural pada partikel kaolinit menyebabkan sifat-sifat plastisitas dan daya mengerut/mengembangnya rendah. Luas permukaannya yang sempit membatasi kapasitas jerapan kation. Luas permukaan spesifiknya adalah sekitar 7 sampai 30 m2/g. Berbeda dengan mineral lainnya (kaolinit, dikrit dan nakrit), haloisit akan mengembang jika basah karena haloisit mengandung air dalam ruang antarlapis. Haloisit memiliki susunan struktur yang tidak beraturan sehingga sering mengalami perubahan (dehidratasi tak balik) metahaloisit suhu 50 oC (Tan, 1998). 2.2.2 Illit Umumnya susunan illit mirip dengan montmorilonit. Akan tetapi ukuran butiran illit biasanya lebih besar dari montmorilonit yaitu 0,01 sampai 2,0 mikron. Lempung mineral illit memiliki pola geometris molekul 2:1. Beberapa Si4+ pada lapisan tetrahedron digantikan oleh Al3+ sehingga menyebabkan mineral bermuatan negatif, namun muatan negatif tersebut dinetralkan oleh ion kalium yang berada dalam lubang heksagon. Kalium tersebut menmbentuk mekanisme pengikatan yang disebut dengan jembatan kalium (O-K-O) dan menghasilkan pola geometris yang tidak mengembang (Gambar 5) (Foth, 1994).
9

menjadi

Gambar 4. Struktur Geometri Illit


Sumber: http://pubs.usgs.gov/of/2001/of01-041/htmldocs/clays.htm

Illit ditemukan terkonsentrasi dalam fraksi lempung kasar (2 - 0,1 m) dari tanah. Sifat-sifat fisik ilit lebih mendekati kaolinit daripada montmorillonit.

Kapasitas tukar kation illit adalah sekitar 30 meq per 100g, dan plastisitas, pengembangan, dan pengerutannya kurang intensif dibandingkan dengan montmorillonit (Tan, 1998).
2.3 Pemanasan Lempung

Daya serap lempung dapat ditingkatkan melalui berbagai cara, diantaranya melalui aktivasi fisika dan kimia. Aktivasi secara fisika dilakukan melalui pemanasan lempung pada suhu tertentu untuk meningkatkan porositas lempung sehingga partikel adsorbat lebih mudah menembus pori-pori lempung. Selain substitusi isomorfik, hidrogen dari hidroksilasi akan berdisosiasi meninggalkan permukaan lempung sehingga permukaan lempung akan bermuatan negatif (Sidabutar, 1999). Partikel lempung selalu mengalami hidrasi (dikelilingi lapisan molekul air). Molekul-molekul air dapat dikeluarkan dari pori lempung tanpa mengubah kerangka dasarnya secara nyata, hanya struktur kerangka lempung yang mengalami penyusutan. Dehidrasi dilakukan agar permukaan lempung menjadi tidak terlindungi dan medan listriknya akan lebih diperluas hingga ke dalam rongga lempung, sehingga proses adsorbsi akan lebih efektif (Sidabutar, 1999).

10

2.4 Sungai Sago Sungai merupakan suatu bentuk ekositem aquatic yang mempunyai peran penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai daerah tangkapan air (catchment area) bagi daerah disekitarnya, sehingga kondisi suatu sungai sangat dipengaruhi oleh karakteristik yang dimiliki oleh lingkungan disekitarnya. Sebagai suatu ekosistem, perairan sungai mempunyai berbagai komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi membentuk suatu jalinan fungsional yang saling mempengaruhi. Komponen pada ekosistem sungai akan terintegrasi satu sama lainnya membentuk suatu aliran energy yang akan mendukung stabilitas ekosisten tersebut. Sungai Sago merupakan sungai yang terdapat di Kota Pekanbaru Kecamatan Rumbai Pesisir, yang keberadannya sangat berperan penting sebagai daerah tampungan dalam daur hidrologi yang berasal berbagai kegiatan industri, pertanian, perkotaan di sekitarnya. Sungai tersebut merupakan bagian dari sub DAS Siak, aliran airnya bermuara pada Sungai Siak. Dengan demikian keberadaan sungai Sago secara langsung akan mempengaruhi kondisi perairan Sungai Siak. Meningkatnya aktifitas pembangunan yang dilakukan di Kota Pekanbaru menyebabkan terjadinya peningkatan pertumbuhan ekonomi yang pada akhirnya memacu peningkatan aktifitas di segala bidang. Kondisi ini akan memicu pertambahan penduduk, dimana saat ini Kota Pekanbaru tergolong kota sedang yang mempunyai jumlah penduduk lebih dari 650.000 jiwa (Anonim, 2000). Tingginya aktifitas yang terdapat pada daerah sungai ini akan menyebabkan besarnya volume limbah yang dihasilkan oleh aktifitas tersebut. Bahan pencemar yang berasal baik dari aktifitas perkotaan (domestik), industri, pertanian dan sebagainya yang terbawa bersama aliran permukaan (run off), langsung ataupun tidak langsung akan menyebabkan terjadinya gangguan dan perubahan kualitas fisik, kimia dan biologi pada perairan sungai tersebut yang pada akhirnya menimbulkan pencemaran. Pencemaran pada badan air selalu berarti turunnya kualitas dan air sampai ketingkat tertentu akan menyebabkan air dan tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya. Sumber pencemar yang terdapat di sepanjang aliran Sungai Sago adalah sebagai berikut:

11

1. Limbah Organik, dapat bersumber dari limbah pasar, rumah tangga, restoran/rumah makan, industri perkayuan dan sebagainya. Kandungan limbah organik yang tinggi pada perairan sungai dapat meyebabkan terjadinya proses eutrofikasi (penyuburan perairan). 2. Limbah an organik (logam berat), dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap penurunan kualitas sumberdaya air seperti Cu, Zn, Hg, Cd, Cr, Pb dan lain sebagainya.

2.5 Adsorpsi

Adsorpsi secara umum adalah proses pengumpulan substansi terlarut yang ada dalam larutan oleh permukaan zat atau benda penjerap dimana terjadi suatu ikatan kimia fisik antara substansi dengan zat penjerap (Anggraeni, dkk., 2009). Adsorpsi dapat juga dikatakan sebagai peristiwa penyerapan suatu zat pada permukaan zat lain. Zat yang diserap disebut fase terjerap sedangkan zat yang menyerap disebut adsorben. Adsorpsi dapat terjadi antara zat padat dan zat cair, zat padat dan gas, zat cair dan zat cair, atau gas dan zat cair. Peristiwa adsorpsi ini disebabkan oleh gaya tarik molekul-molekul di permukaan adsorben (Sukardjo, 1990). Adsorpsi ada dua jenis, yaitu adsorpsi fisika dan adsorpsi kimia. Pada adsorpsi fisika, adsorpsi disebabkan oleh gaya van der waals yang ada pada permukaan adsorben. Panas adsorpsi fisika biasanya rendah dan lapisan yang terjadi pada permukaan adsorben biasanya lebih dari satu molekul. Pada adsorpsi kimia, terjadi interaksi antara adsorbat dan adsorben. Lapisan molekul pada permukaan adsorben hanya satu lapis. Panas adsorpsinya tinggi. Kimisorpsi atau fisisorpsi biasa dinyatakan oleh besarnya energi adsorpsi. Fisisorpsi memiliki energi adsorpsi sebesar 5-10 kJ/mol, lebih rendah dibandingkan dengan kimisorpsi dengan energi adsorpsi sebesar 30-70 kJ/mol untuk molekul dan 100400 kJ/mol untuk atom. Proses adsorpsi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

12

1.

Secara kontak langsung (sistem Batch)

Pada metode ini adsorbat langsung dicampurkan dengan adsorben di dalam suatu wadah. Setelah waktu tertentu baru dilakukan penyaringan. Adsorbat yang tersisa dianalisa. 2. Secara perkolasi (sistem kolom)

Pada cara ini adsorbat dilewatkan ke dalam kolom yang berisi adsorben. Adsorbat yang keluar ditampung sampai tidak ada lagi adsorbat yang menetes. Adsorpsi adalah peristiwa kesetimbangan kimia. Oleh karenanya, berkurangnya kadar adsorbat oleh material adsorben terjadi secara kesetimbangan, sehingga secara teoritis, tidak dapat terjadi adsorbsi sempurna adsorbat oleh adsorben. Adsorpsi antar muka padat cair sangat dipengaruhi oleh sifat dari substansi yang diadsorpsi, sifat dari adsorben padat dan sifat dari medium cair. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi adsorpsi antara lain: 1. Jenis adsorben Beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh suatu adsorben adalah: 1. Mempunyai pori-pori 2. Mempunyai permukaan yang luas 3. Aktif dan murni 4. Tidak bereaksi dengan adsorbat 2. Jenis adsorbat Dalam pemilihan adsorbat perlu diperhatikan beberapa hal seperti: 1. Ukuran molekul Molekul yang terserap harus memiliki ukuran partikel yang lebih kecil dibandingkan diameter adsorben. 2. Kepolaran Umumnya adsorben memiliki polaritas yang tinggi. Jika diameternya sebanding maka molekul-molekul polar lebih kuat terserap

dibandingkan molekul yang kurang polar.

13

3. Jenis ikatan Senyawa tidak jenuh lebih mudah diserap dibandingkan senyawa jenuh. 4. Berat Molekul Senyawa dengan berat molekul lebih besar akan lebih mudah diserap dibandingkan yang memiliki berat molekul yang kecil. 5. Viskositas campuran Kesetimbangan akan lebih cepat tercapai bila campuran yang akan dipisahkan (cair/gas) mempunyai viskositas yang lebih rendah. 6. Temperatur Kenaikan temperatur dapat menyebabkan pori-pori adsorben terbuka karena unsur-unsur pengotor yang terdapat pada permukaan adsorben akan teroksidasi. 7. Pengaruh pH Adsorpsi yang dilakukan pada pH tinggi cenderung memberikan hasil yang kurang baik karena pada kondisi basa terbentuknya senyawasenyawa oksida dari unsur-unsur pengotor lebih besar sehingga partikel-partikel larut dalam adsorben. Pada pH yang sangat rendah seringkali terbentuk garam-garam anorganik yang menyebabkan penyerapan kurang sempurna (Amelia, 2008). 2.6 Timbal (Pb) Timbal dalam kehidupan sehari-hari dikenal dengan nama timah hitam. Pb termasuk dalam golongan IV-A pada tabel periodik unsur kimia, nomor atom 82, berat atom 207,2 dan konfigurasi elektronnya [Xe] 4f14 5d10 6s2 6p2 (Palar, 1994). Pb adalah sejenis logam lunak dan berwarna coklat kehitaman, mudah dimurnikan, dan dapat membentuk sulfida logam disebut galena. Logam Pb dalam jumlah besar digunakan sebagai bahan produksi baterai dan kendaraan bermotor. Produksi logam-logam lainnya biasanya juga mengandung logam Pb seperti amunisi, kabel, dan solder. Logam Pb juga digunakan untuk industri percetakan (tinta), untuk alat listrik, selain itu Pb murni digunakan untuk melapisi logam lainnya sehingga tidak mudah berkarat, misalnya pipa-pipa yang dialiri bahan kimia bersifat korosif (Darmono, 2001).

14

Senyawa Pb masuk ke badan air sebagai akibat dari aktivitas manusia diantaranya adalah air buangan limbah masyarakat, limbah pebengkelan, air limbah dari pertambangan bijih timah hitam, buangan sisa industri baterai dan laini-lain. Selain itu, Pb juga dapat dimanfaatkan sebagai kegiatan pendaur ulangan baterai illegal, peralatan makan yang terbuat dari keramik, air yang melalui pipa atau keran, kegiatan industri pengolahan timbal, kosmetik dan jamu tertentu, timbal pada kabel-kabel listrik, plastik dan PVC, makanan dan minuman kaleng. Konsentrasi Pb yang mencapai 188 mg/L dapat membunuh ikan-ikan sedangkan pada konsentrasi yang mencapai 3,5-64 mg/L dapat membunuh biota perairan yang dikelompokkan ke golongan insekta. Selain dalam bentuk logam murni, Pb dapat ditemukan dalam bentuk senyawa anorganik dan organik. Semua bentuk Pb tersebut berpengaruh sama terhadap toksisitas pada manusia. Logam Pb dapat menyebabkan berbagai dampak negatif bagi kesehatan, timbal adalah racun syaraf yang menyerang hampir setiap sistem tubuh, hipertensi, anemia, serangan jantung, gangguan fungsi reproduksi dan kematian (orang dewasa), pada ibu hamil dapat menyebabkan abortus spontan dan mengancam janin yang dikandung, mengalami penurunan point IQ, penurunan tingkat kecerdasan, penurunan kemampuan belajar bagi anak-anak. 2.7 Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) Pada penelitian ini digunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Spektrofotometer serapan atom adalah metode analisis yang didasarkan pada proses absorpsi energi radiasi oleh atom-atom pada keadaan dasar dalam bentuk gas. Apabila atom-atom ini dilalui seberkas sinar maka akan terjadi interaksi antara atom dengan energi terendah (ground state) ke tingkat energi lebih tinggi (excited state) dalam proses ini dikenal dengan serapan atom. Elektron tereksitasi ini berada dalam keadaan yang tidak stabil dan cenderung kembali ketingkat asal dengan melepaskan energi eksitasinya dalam bentuk radiasi, disebut juga proses emisi (Skoog, 1985). Perubahan energi elektron harus ada penyesuaian dengan energi yang diserap sesuai dengan rumus:

15

( )

Keterangan : E h v c = Energi (Joule) = Tetapan Planck (6,62560.10-34 J.detik) = frekuensi (Hz) = kecepatan cahaya (3.108 m/detik) = panjang gelombang (m) Atom-atom menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu sesuai dengan energi yang dibutuhkan untuk eksitasi elektron ke tingkat yang lebih tinggi. Penyerapan cahaya ini mengurangi intensitas cahaya sebanding dengan jumlah atom yang berada pada tingkat energi dasar (Khopkar, 1990). Berdasarkan hal tersebut menurut hukum Lambert-Beer, jika suatu sinar monokromatis dilewatkan melalui suatu media yang tebalnya b, dan mengandung atom dengan konsentrasi c, maka transmitan adalah sebagai berikut : ( ) Dengan menggunakan bilangan berpangkat sepuluh maka persamaan 2 menjadi : ( ) ( ) Keterangan : A a b c I0 I = Absorbansi = absorptivitas = panjang jalan sinar dalam posisi atom = konsentrasi atom-atom (g.L-1) = Intensitas awal = Intensitas radiasi (Day dan Underwood, 2002)

Kepekaan analisis SSA cukup tinggi sehingga dapat digunakan untuk menganalisis cuplikan pada konsentrasi yang sangat kecil. Selain itu, bila sampel tercampur dengan logam berat lainnya, maka tidak perlu dilakukan pemisahan

16

karena logam tertentu hanya akan menyerap sinar monokromatis pada panjang gelombang tertentu saja. 2.7.1 Peralatan SSA

Gambar 6. Peralatan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) Secara garis besar peralatan spektrofotometer serapan atom (SSA) terdiri dari 5 komponen dasar yaitu: 1. Sumber cahaya Sumber cahaya yang sering digunakan adalah lampu katoda berongga (Hollow Chatode Lamp) yang terdiri dari tabung kaca tertutup yang mengandung suatu katoda dan anoda. Katoda terbuat dari unsur yang sama dengan unsur yang akan dianalisis, sedangkan tabung lampu diisi dengan gas neon atau argon. Dengan pemberian tegangan pada arus tertentu, logam mulai memijar, dan atom-atom logam katodanya akan teruapkan dengan pemercikan. Atom akan tereksitasi kemudian mengemisikan radiasi pada panjang gelombang tertentu (Khopkar, 1990). 2. Sistem Atomisasi Sistem atomisasi diperlukan untuk mendapatkan atom netral karena metode SSA hanya dapat mengukur atom-atom netral. Untuk mendapatkan atom netral perlu proses atomisasi dengan energi panas karena temperatur yang tinggi dapat memutuskan ikatan antara atom sehingga terbentuk atom netral atau bebas.

17

3.

Monokromator Berfungsi untuk menghilangkan gangguan sinar kontinu digunakan

monokromator yang diletakkan antara nyala dan detektor. Monokromator dalam SSA terdiri dari kisi difraksi atau prisma, yang berfungsi untuk memisahkan garis resonansi dan garis spektra yang berdekatan yang berasal dari sumber sinar (Skoog, 1985). 4. Detektor Detektor untuk peralatan SSA berbentuk PMT (Photo Multiplier Tube). Unit ini berfungsi untuk merubah sinyal elektromagnetik menjadi sinyal listrik yang selanjutnya oleh sinyal listrik ini diperbesar oleh amplifier dan diubah menjadi bentuk yang mudah dibaca operator (Skoog, 1985). 5. Rekorder Berfungsi untuk mencatat hasil dalam satuan absorbansi ataupun bentuk kromatogram.

18

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Fisik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan Fakultas Teknik Kimia Universitas Riau, dan Dinas Pekerjaan Umum Pekanbaru yang berlangsung selama 6 bulan. 3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat yang Digunakan Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah botol Erlenmeyer, Beaker glass, neraca analitik, ayakan ukuran 200 mesh (W.S Tyler Incorporated, U.S.A.), AAS Shimadzu AA 7000, pH-meter (Hanna Instrument), alumunium foil, oven (Galemp Camp), sentrifugal, krusibel, hot plate, furnace, Spatula, corong, desikator dan alat-alat gelas lainnya yang biasa digunakan dalam laboratorium. 3.2.2 Bahan yang Digunakan Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah lempung (Desa Palas, Kecamatan Rumbai Pesisir), Sampel air sungai sago, kertas saring

Whatman No. 42, tisu, akuades, akuabides. 3.3 Metode Penelitian Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah : 1. Sampling dan analisis sampel air sungai berdasarkan metode SNI 2. Proses adsorbsi logam Pb dengan menggunakan Metode Bacth 3.4 Prosedur Penelitian 3.4.1 Pengambilan dan Pengolahan Sampel Sampel lempung yang digunakan diambil dari desa Palas Provinsi Riau. Lempung diambil di dua titik dan kedalaman yang berbeda yaitu 1,5 dan 3 m. Sampel yang diperoleh dimasukkan ke dalam kantong plastik secara terpisah dan dibawa ke laboratorium. Sampel lempung dibersihkan dari partikel kasar secara pencucian dengan akuades sebanyak 3 kali dan disaring. Kemudian sampel dikeringkan dalam oven
19

pada suhu 105 oC selama 3 jam, selanjutnya lempung dihaluskan dan diayak dengan ayakan ukuran 200 mesh. Sampel yang digunakan adalah lempung yang lolos ayakan 200 Mesh. Sampel disimpan dalam desikator dan siap untuk dianalisis. 3.4.2 Teknik Sampling Air Baku (SNI 6989.57:2008) Air baku diambil dengan menggunakan botol water sampler. Sampel diambil ditiga stasiun sampel yang terdiri dari : hulu sungai (ST1), pertemuan limbah dengan air sungai (ST2), hilir sungai (ST3). Masing-masing stasiun sampel di ambil 3 titik, yaitu tepi kiri, tengah dan tepi kanan. Kemudian sampel dari masing masing titik tersebut dihomogenkan dan dijadikan satu sampel sehingga didapatkan sampel yang bersifat representatif atau yang mewakili seluruh sampel baku. Sampel diperlakukan sama untuk setiap parameter yang akan dianalisis dan sampel siap untuk diukur. 3.4.3. Penentuan kandungan logam timbal (Pb) dalam sampel air dengan menggunakan metoda AAS (SNI 6989.57:2008) 3.4.4 Proses Adsorbsi Adsorbsi pada penelitian ini akan dilakukan secara metoda batch, yaitu adsorbat langsung dicampurkan dengan adsorben di dalam elemeyer, kemudian campuran dipisahkan dengan alat sentrifugal. Filtrat langsung dianalisis dengan SSA. 3.4.4.1. Pengaruh waktu kontak Sebanyak 0,1 gram lempung aktivasi dimasukkan ke dalam labu erlemenyer 50 ml. Ditambahkan sampel air sungai sebanyak 10 ml dengan variasi waktu interaksi 5, 15, 30, 45, 60 dan 90 menit. Suhu dan pH sesuai dengan keadaan di lokasi pengambilan sampel air. Lempung disentrifugasi, kemudian filtrat dianalisis dengan SSA. 3.4.4.2. Pengaruh temperatur Sebanyak 0,1 gram lempung aktivasi dimasukkan ke dalam elemeyer 50 ml dan ditambahkan sampel air sungai sebanyak 10 ml, pH sesuai dengan keadaan di lokasi pengambilan sampel air baku dengan waktu interaksi selama waktu optimum (dilakukan sebanyak 3 kali pada keadaan yang yang berbeda). Setelah
20

interaksi, lempung dipisahkan dengan alat sentrifugal, kemudian filtrat dianalisis dengan SSA. 3.4.4.3. Pengaruh berat adsorben Sebanyak 0,1, 0,3, 0,5, 0,7 dan 1 gr lempung aktivasi dimasukkan ke dalam elemeyer 50 ml dan ditambahkan sampel air sungai sebanyak 10 ml, waktu interaksi selama waktu optimum dengan suhu dan pH sesuai dengan keadaan di lokasi pengambilan sampel air baku. Setelah interaksi, lempung dipisahkan dengan alat sentrifugal, kemudian filtrat dianalisis dengan SSA. 3.5. Analisis Data Analisis data hasil penelitian ini akan disajikan dalam bentuk tabel dan kurva kalibrasi.

21

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2000. Dari http://Google.com/ Sungai Sago /. diakses tanggal 2 Februari 2012. Adinata, H. 2010. Penentuan Kandungan Fosfat,Sulfat dan Sulfida Air Sungai Siak aan Sungai Kampar dari Hasil Penyaringan Konvensional yang Dimodifikasi untuk Mendapatkan Air Baku Air Minum. FMIPA UNRI, Pekanbaru Adriani, F. 2010. Studi Kesetimbangan Adsorpsi Cu(II) Pada Lempung-Keggin Terpilar. FMIPA UNRI, Pekanbaru Amelia, R. 2008. Lempung sebagai Adsorben Senyawa o-klorofenol. F.Teknik UNRI, Pekanbaru Anggraeni, C. R., Wardatul Jannah Khoirunnisa, W. J., Sari, D. N. 2009. Penggunaan Tanah Laterit sebagai Media Adsorpsi untuk Menurunkan Kadar Chemical Oxygen (COD) Demand pada Pengolahan Limbah Cair di Rumah Sakit. Universitas Negeri Malang Badan Lingkungan Hidup Kota Pekanbaru, Hasil Analisis Kualitas Air Permukaan. Tanggal Penerimaan 14 April 2010 Cool, P. and Vansant, E. F. 1998, Pillared Clays : Preparation, Characterization and Applications, Catal. Rev., Sci. Eng., 3 : 265-285 Darmono. 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran, Hubungannya dengan Toksikologi Senyawa Logam. UI-press, Jakarta. Day, R.A dan Underwood, A.L. 1989. Analisis Kimia Kuantitatif. Terjemahan : Aloysius Hadyana Pudjaatmaka. Edisi Kelima. Penerbit Erlangga, Jakarta. Edward, S. D. 1960. Text Book of Mineralogy, 4ed. John Willey & Son, New York. Handayani, Putri. 2009. Zeolitisasi Kaolin dan Aplikasinya sebagai Adsorben Logam Berat Pb secara Kolom. FMIPA UNRI, Pekanbaru Husen, Z dan Las, T. 2002. Pembuatan Pillared Lempung untuk Penyerapan Limbah Radioaktif Cs-137. Hasil Penelitian Pusat Pengembangan Limbah Radioaktif.

22

Keputusan

Menteri

Kesehatan Tentang

Republik

Indonesia Dan

Nomor Pengawasan

907/MenKes/SK/VII/2002 Kualitas Air Minum

Syarat-Syarat

Khopkar, S.M. (1990). Konsep Dasar Kimia Analitik. UI-PRESS, Jakarta. Kurniawan, D. 2008. Modifikasi Bentonit Menjadi Organoclay dengan Metode Ultrasonik sebagai Absorven p-Klorofenol dan Hidroquinon. Skripsi. Jurusan Kimia FMIPA. Universitas Indonesia, Jakarta. Muhdarina, Nurhayati dan Bahri, S. 2010. Prestasi Adsorpsi Lempung-Keggin Untuk Mengikat Kation Cu(II) Dari Medium Air. Seminar Hasil Penelitian Dosen Universitas Riau. Lembaga Penelitian Universitas Riau, Pekanbaru. Munir, M. 1996. Geologi dan Mineralogi Tanah. PT. Dunia Pustaka Jaya, Jakarta. Pettijohn, F. J. 1957., Sedimentary. Rock, Harper & Row Publisher, New York. Sidabutar, M. 1999. Aktivasi Lempung dengan NaOH, KOH dan Ion Keggin untuk Meningkatkan kapasitas tukar kation.Skripsi Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universtas Riau, Pekanbaru Skoog, D. A. 1985. Principles of Instrumental analysis, 3rd Ed, Sounders Golden Sumburst Series, New York. SNI 6989.8:2009. Air dan air limbah - bagian 8 :cara uji timbal (pb) secara spektrofotometri serapan atom (SSA) nyala. Badan Standarisasi Nasional Sukardjo. 1990. Kimia Anorganik. Rineka Cipta, Jakarta. Sunarso. 2007. Lempung Kita yang Terlupakan. Dikutip dari http : //ppsdms.org/lempung-kita-yang-terlupakan-2.htm. Diakses tanggal 4 Juni 2010. Susamto. 2010. Penentuan Kandungan Amoniak, Nitrit dan Nitrat Air Sungai Siak dan Sungai Kampar Hasil Proses Penyaringan Konvensional yang Dimodifikasi untuk Mendapatkan Air. FMIPA UNRI, Pekanbaru Tan, K. H. 1998. Dasar-Dasar Kimia Tanah. UGM Press, Yogyakarta.

23

Unuabonah, E.I. 2006, Adsorption of lead and cadmium ions from aqueous solutions by tripolyphosphate-impregnated Kaolinite clay.

Department of Chemistry, Faculty of Science, University of Ibadan, Ibadan, Nigeria


Widihati, I. A. 2009. Adsorpsi Ion Pb2+ Oleh Lempung Teriterkalasi Surfaktan. Jurnal Kimia 3 (1): 27-32

24

LAMPIRAN

Lampiran 1. Skema Penelitian


Pengambilan dan pengolahan sampel lempung

Pemanasan lempung alam pada suhu 1050

Pemanfaatan lempung untuk menyerap Pb pada sampel limbah air sungai Sago

25

Lampiran 2. Skema Pengolahan Sampel Lempung dan Proses Adsorbsi

Sampel dicuci dengan akuades sebanyak 3 kali dan disaring

Sampel dikeringkan dalam oven pada suhu 105 oC selama 3 jam

Lempung digrinder dan diayak dengan ayakan 200 mesh

Sampel disimpan dalam desikator

Pemanasan pada Suhu 105 0C

Uji daya serap lempung terhadap Logam Pb2+

26

Lampiran 3. Skema Pengaplikasian Lempung pada Sungai Siak

Sampel air sungai ditambahkan dengan lempung yang yang telah diaktivasi pada suhu 105 0c

Di aduk campuran tersebut KAN DENGAN

Kemudian disaring dan diambil filtratnya

Filtrat ditambahkan dengan larutan

Analisis dengan spektrofotometer

27