Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN HASIL PENELITIAN TINGKAT PENGETAHUAN WUS TENTANG KONTRASEPSI DI PUSKESMAS SEMPAJA

Mata Ajar Riset Keperawatan Tahun 2011 / 2012

Oleh:

RATNA NIM: 7220 05S0 9068

AKADEMI KEPERAWATAN YARSI SAMARINDA KALIMANTAN TIMUR 2011 / 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Program Keluarga Berencana (KB) merupakan bagian program pembangunan nasional di Indonesia yang sudah dimulai sejak masa awal pembangunan lima tahun (1969) yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak dalam mewujudkan keluarga bahagia dan sejahtera dengan cara pengaturan kelahiran dan juga pengendalian pertumbuhan penduduk. Berdasarkan hasil sensus penduduk pada tahun 2011 diperoleh bahwa jumlah penduduk dunia telah mencapai 6,952,939,682 jiwa dan jumlah penduduk indonesia telah mencapai 245,613,043 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk 1,49 pertahun ( Internal Data Base Biro Sensus Amerika Serikat, 2 Agustus 2011 ). Laju pertumbuhan penduduk Kalimantan Timur per tahun selama kurun waktu 10 tahun terakhir yakni dari tahun 2000 hingga 2010 sebesar 3,81 persen. Jumlah ini lebih tinggi dari laju pertumbuhan penduduk nasional sebesar 1,47 pesen. Dari Sensus penduduk 2010 jumlah penduduk Kaltim 3.550.586 jiwa, Kota samarinda menempati kepadatan penduduk tertinggi dengan 726.223 jiwa . ( Umar Riyadi, 2010 ). Program KB merupakan salah satu program untuk mencegah terjadinya
ledakan penduduk dengan menekan laju pertumbuhan penduduk (LLP) dan hal

ini tentunya akan diikuti dengan menurunnya angka kelahiran atau TFR (Total Fertility Rate). Salah satu upaya pemerintah untuk menekan laju pertambahan

penduduk melalui upaya pengendalian fertilitas yang instrumen utamanya adalah Program Keluarga Berencana (KB) (Hatmadji, 2004). Sejak pertama sekali dicadangkan pada tahun 1970, program KB telah menunjukkan hasil dengan terjadinya penurunan Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) dan Total Fertility Rate (TFR), sedangkan tingkat penggunaan kontrasepsi atau Contraceptive Prevalence Rate (CPR) mengalami peningkatan. Angka kepesertaan KB penduduk Indonesia sudah tinggi, mencapai 61,4 persen. Indikasi penggunaan alat kontrasepsi meningkat dari tahun 2009 - 2011 . Data yang diungkap BKKBN menyebutkan penggunaan kondom naik 25 persen, MOW (metode operasi wanita) naik 15 persen, MOP (metode operasi pria) naik 79 persen, serta penggunaan IUD (intraurine device) naik 44 persen. ( Sugiri Syarief, 2011 ) Salah satu usaha yang dapat dilakukan dalam menurunkan fertilitas adalah dengan memantapkan gerakan KB Nasional melalui penggunaan alat kontrasepsi bagi pasangan suami istri, khususnya bagi mereka yang masih merupakan pasangan dalam usia subur (15 49 tahun ). Pada pasangan usia dibawah 20 tahun dianjurkan untuk menunda kehamilan, dan pada usia 20 30 tahun dianjurkan untuk menjarangkan kehamilan (Azwar RA, 1990). Dengan demikian dapat dilihat adanya hubungan yang erat antara metode kontrasepsi dan kesehatan khususnya antara tingkat fertilitas ibu pada usia subur dengan morbilitas dan mortalitas anak. Penurunan tingkat fertilitas

ibu akan tercapai apabila setiap klien (PUS/WUS), mempunyai tingkat pengetahuan yang cukup tentang pentingnya penggunaan metode atau alat kontrasepsi. Dengan pengetahuan yang dimiliki PUS/WUS dapat mengikuti program KB Nasional atau menjadi akseptor KB. Berdasarkan uraian diatas maka peneliti mengambil masalah tentang tingkat kebutuhan informasi bagi ibu sebagai subjek penelitian tentang alat kontrasepsi sebagai objek

penelitian. Dari pengalaman peneliti selama praktek di rumah sakit dan puskesmas, masih banyak para ibu yang belum mengetahui pentingnya penggunaan alat kontrasepsi baik manfaat, keuntungan maupun masalahmasalah yang ditimbulkan dari penggunaan alat kontrasepsi.

1.2

Rumusan Masalah Adapun masalah yang dikemukakan pada penelitian kali ini adalah bagaimana tingkat pengetahuan wus tentang kontrasepsi AKDR / MKET di Puskesmas Sempaja.

1.3

Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Untuk memperoleh gambaran bagaimana tingkat pengetahuan PUS/ WUS tentang konsep dasar alat kontrasepsi KB.

1.3.2. Tujuan Khusus Secara khusus tujuan dari penelitian ini adalah : a. Mendapatkan informasi tentang pengetahuan ibu tentang manfaat alat kontrasepsi KB . b. Mengetahui kejelasan tentang upaya pelayanan KB. c. Mengetahui sejauhmana sosialisasi KB berjalan efektif terutama pada pengenalan alat kontrasepsi bagi akseptor KB. d. Mendapatkan gambaran tentang dukungan suami terhadap pemakaian alat kontrasepsi KB mencari pertolongan

1.4

Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian yang hendak peneliti capai dalam penelitian ini adalah: a. Bagi institusi sebagai bahan bacaan tambahan AKADEMI

KEPERAWATAN YARSI SAMARINDA. b. Bagi Puskesmas agar dapat memfasilitasi program keluarga berencana melalui penyuluhan mengenai alat kontrasepsi. c. Bagi peneliti sebagai bahan informasi yang diharapkan dapat memberikan tinjauan pemikiran dalam penelitian selanjutnya. d. Bagi masyarakat /wus agar dapat mencari informasi serta pertolongan pelayanan KB.

BAB II KONSEP DASAR

2.1

Pengetahuan Manusia sebenarnya diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa sebagai makhluk yang sadar. Kesadaran manusia itu dapat di simpulkan dari kemampuannya untuk berfikir, berkehendak dan merasa. Dengan pikirannya manusia mendapat (ilmu) pengetahuan, dengan kehendaknya manusia mengarahkan prilakunya dan dengan perasaannya manusia dapat mencapai kesenangan. Pengetahuan menurut Soekanto (1990) ialah kesan didalam pikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca indra yang berbeda sekali dengan kepercayaan (Beliefs), takhayul (Supertitions) dan penerangan-penerangan yang keliru (misalnya informations). Pengetahuan adalah kemampuan seseorang untuk mengingat factor, simbul, prosedur, tehnik dan teori (Notoatmodjo, 1996). Menurut Bloom yang di kutip Notoatmodjo agar seseorang melakukan prosedur dengan baik harus sudah ada pada tingkat pengetahuan aplikasi. Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada suatu situasi / kondisi sebenarnya.

Syarat-syarat pengetahuan menurut Drs. Mustagim dan Drs. Abdul Wahid : 1. 2. Harus ada obyeknya. Disusun secara sistematik, teratur sehingga bagian-bagiannya tidak bertentangan satu sama lain. 3. Harus memiliki metodelogi tertentu.

Pengetahuan didapat secara : 1. Formal Didapat melalui pendidikan resmi dan mendapat ijasah, seperti sekolah, kursus-kursus. 2. Informal Didapat melalui kenyataan (fakta) dengan melihat, mendengar melalui alat komunikasi ( TV, Koran). Proses Belajar Stimulus bahan belajar Diproses diolah dalam inggatan Perubahan hasil prilaku

Kesan /Pengalaman

Perubahan kesan latihan

2.2

Keluarga berencana Definisi keluarga berancana menurut WHO (world Health

Organization) Expert Commite, 1970 adalah tindakan yang membantu individu pasangan suami istri untuk : a. Mendapat objek-objek tertentu. b. Kelahiran yang memang diinginkan. c. Mengatur interval diantara kelahiran. d. Mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami dan istri. e. Menentukan Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan. f. Mendapatkan jumlah anak dalam keluarga. 2.2.1.Metode Kontrasepsi Syarat-syarat yang harus di penuhi oleh suatu metode kontrasepsi yang baik adalah : a. b. c. d. e. Aman / tidak berbahaya. Dapat diandalkan. Sederhana, sedapatnya tidak usah dikerjakan oleh seorang dokter. Murah dan dapat diterima oleh orang banyak. Pemakaian jangka lama ( continuation rate tinggi ). Kita ketahui bahwa sampai saat ini belumlah tersedia satu metode kontrasepsi yang benar-benar 100% ideal / sempurna.

2.2.1 Jenis-jenis Metode Kontrasepsi. 1. Metode sederhana 1.1 Tanpa alat a. KB alamiah : Natural family planning b. Fertility Awareness Methods c. Periodik Abstiness d. Metode Rhythm e. Pantang berkala f. Metode kalender (Ogion Knaus ) g. Metode suhu badan basal (Termal) h. Metode lendir serviks (Billings) i. Metode simpto termal j. 1.2 Coetus interuptus

Dengan alat. a. b. Mekanisme (Barier) : Kondom PriaBarier intra Vaginal : Diafragma, servik,spons Kondom Wanita c. Kimiawi : Spermisid :Vaginal kream, foam, jelly, kap

suppositoria,

tablet (busa), soluble film

2. Metode Moderen 2.1 Kontrasepsi Hormonal : Per- oral : - Pil oral kombinasi (POK) - Mini-pil - Morning-after pill Injeksi / suntikan DMPA, NET_EN, Microspheres, Microcapsule. Sub kuitis : Implant ( Alat kontrasepsi bawah kulit : AKBR) Implant non biodegradable (Dormplant, norplant 2, ST 1435, Implanon ). Implant biodegradable (capronos, pellets).

2.2. Intra Uterine Devices ( IUD AKDR ) 2.3. Kontrasepsi Mantap Pada wanita a. Penyinaran : 1. Radiasi sinar x, radium, Colbalt. 2. Sinar laser. :

b. Operatif

1. Ligasi tuba fallopi 2. Elektro koagulasi tuba fallopi 3. Fimbriektomi 4. Salpingektomi 5. Ovarektomi bilateral 10

6. Histerektomi 7. Fimbriotexy (Fimbrial cap) 8. Ovariotexy Pada pria a. Operatif medis : Vasektomi b. Penyumbatan vasdeveren secara mekanis c. Penyumbatan vasdeverens secara kimiawi

2.2.1 Jenis-jenis Kontrasepsi Efektif 1. Pil KB Pil KB adalah cara kontrasepsi untuk wanita yang berbentuk pil / tablet dalam strip yang berisi gabungan hormon estrogen dan progesteron atau hanya terdiri dari hormon progesteron saja. a. Cara kerjanya : 1. Menekan ovulasi yang akan mencegah lepasnya sel telur wanita dari ovarium

2. Mengendalikan lendir mulut rahim sehingga sel mani / sperma tidak dapat masuk ke dalam rahim 3. Menipiskan lapisan endomatrium b. Efektifitas Efektifitas pemakaian pil sangat tinggi, tetapi tergantung pada disiplin si pemakai. Kegagalan teoritis lebih 0,35 %

11

tetapi dalam prakteknya berkisar 1 8 % untuk pil kombinasi, 3 10 % untuk minipil. c. Keuntungan 1. Reversibilitasnya. 2. Mudah menggunakannya. 3. Mengurangi rasa sakit waktu menstruasi. 4. Mencegah anemia defesiensi besi. 5. Mengurangi kemungkinan infeksi panggul dan kehamilan ektopik 6. Mengurangi resiko kanker rahim. 7. Cocok digunakan untuk menunda kehamilan pertama pada Pasangan Usia Subur (PUS) muda. 8. Tidak mempengaruhi produksi ASI pada pil yang

mengandung progesteron antara lain exluton / minipil. d. Kerugian 1. Dapat mempengaruhi ASI pada pil yang mengandung estrogen. 2. Dapat meningkatkan resiko infeksi klamidia, eksternal genital warts. 3. Kembalinya kesuburan agak lambat. e. Kontra indikasi 1. Menyusui, keculi pil mini. 2. Pernah sakit jantung

12

3. Tumor / keganasan 4. Kelainan jantung, varises, dan darah tinggi 5. Perdarahan pervaginam, kecuali tidak diketahui penyebabnya 6. Migran f. Efek samping dan cara penanggulangan: 1. Perdarahan 2. Air susu berkurang 3. Tekanan darah meninggi. 4. Perubahan berat badan. 2. Suntikan KB Terdapat 2 jenis kontrasepsi hormonal suntikan KB. Jenis yang berbeda di Indonesia adalah : Yang mengandung hormon prosgesteron yaitu : Depo Provera 150 mg, Dopo Progestin 150 m, Depogeston 150 mg, Noristerat 200 mg. Yang mengandung 25 mg medroxy progesteron acetat dan 5 mg estradiol cypionate aatau cyclofem. a. Cara kerja : 1. Mencegah lepasnya sel telur dari indung telur. 2. Mengentalkan lendir mulut rahim, sehingga spermatozoa tidak dapat masuk kedalam rahim. 3. Menipiskan kehamilan. endometrium, sehingga tidak siap untuk

13

b. Efektifitas Efektifitas sangat tinggi, kegagalan kurang dari 1 %. c. Keuntungan 1. Praktis, efektif, dan aman. 2. Tidak mempengaruhi ASI, cocok untuk ibu menyusui. 3. Dapat menurunkan kemungkinan anemia. d. Kontraindikasi 1. Tersangka hamil. 2. Perdarahan akibat kelainan genekologi (perdarahan dari liang senggama) yangtidak diketahui penyebabnya. 3. Tumor / keganasan . 4. Penyakit jantung, hati, darah tinggi, kencing manis (penyakit metabolisme). e. Efek samping 1. Gangguan haid 2. keputihan 3. Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (AKBK) Alat kontrasepsi bawah kulit atau implant adalah kontrasepsi yang disusupkan dibawah kulit. Preparat yang terdapat saat ini adalah implant dengan nama dagang NORPLANT, IMPLANON, JADENA. a. Cara kerja dalam pencegahan kehamilan : 1. Menghambat terjadinya ovulasi.

14

2. Menyebabkan endometrium tidak siap untuk nidasi. 3. Mempertebal dinding serviks. 4. Menipiskan lapisan endometrium. b. Efektifitas Efektifitasnya sangat tinggi, kegagalan teoritis 0,2 %, dalam praktek 1 3 %. c. Keuntungan : 1. Tidak menekan produksi ASI. 2. Praktis, efektif. 3. Tidak ada faktor lupa. 4. Masa pakai jangka panjang ( 3 -5 tahun ). 5. Membantu mencegah anemia. 6. Dapat digunakan oleh ibu yang tidak cocok dengan hormone estrogen. d. Kekurangan : 1. Implant harus dipasang dan dilepas oleh petugas keshatan yang terlatih. 2. Implant lebih mahal daripada cara KB jangka pendek lainnya. 3. Implant sering mengubah pola haid. 4. Wanita tidak dapat menghentikan pemakaiannya sendiri. 5. Susuk mungkin terlihat dibawah kulit.

e. Kontraindikasi :

15

1. Hamil atau diduga hamil 2. Perdarahan melalui vagina yang tidak diketahui penyebabnya 3. Tumor atau keganasan 4. Penyakit jantung, kelainan haid, darah tinggi, DM f. Efek samping dan cara penanggulangan 1. Gangguan haid, berupa amenorhea, metrorhagia. 2. Keputihan 4. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim ( AKDR / IUD ). Adalah suatu alat kontrasepsi yang dimasukan kedalam rahim yang bentuknya bemacam- macam, terdiri dari plastik ( Polietyline ). Ada yang dililit tembaga (Cu), ada juga yang tidak, dan adapula yang dililit tembaga bercampur perak (Ag).Selain itu, adapula yang dibatangnya berisi hormon progesteron. a. Jenis-jenis AKDR yang beredar : 1. IUD generasi pertama : Berbentuk spiral / huruf S ganda terbuat dari plastik ( polyethiline ). 2. IUD generasi kedua : - Cu T 200 B = berbentuk huruf T yang batangnya dililit tembaga ( Cu ). dengan kandungan Tembaga.

- Cu 7 = berbentuk angka 7 yang batangnya dililit tembaga.

16

- MI Cu 250 = berbentuk 2/3 lingkaran elips yang bergerigi batangnya dililit tembaga. 3. IUD generasi ketiga - Cu T 380 A = berbentuk huruf T dengan lilitan tembaga lebih banyak dan Perak. - MI Cu 375 = batangnya dililit tembaga berlapis perak - Nova T Cu 200 A = batang dan lengannya dililit tembaga - Medussa Pessar = batangnya dililit tembaga. b. Indikasi Pemakaian Merupakan cara KB efektif terpilih yang sangat

diprioritaskan pemakaiannya, pada ibu dalam fase menjarangkan kehamilan, mengakhiri kesuburan c. Kontraindikasi 1. Kehamilan 2. Gangguan perdarahan 3. Peradangan alat kelamin 4. Kecurigaan tumor ganas di alat kelamin 5. Tumor jinak rahim 6. Kelainan bawaan rahim

d.

Efektifitas & keuntungan AKDR.

17

Efektifitas AKDR tinggi, angka kegagalan berkisar 1% Lipper loop sebagai generasi pertama dipakai selama diinginkan kecuali bila ada keluhan. Cu T 200 B, Cu 7, MI Cu 250 sebagai generasi kedua dipakai selama 3-4 tahun. IUD generasi ketiga ( Cu T 300 A, MI Cu 380, Medussa Pessar ) selama 10 tahun e. Keuntungan 1. Praktis, ekonomis, mudah dikontrol, aman untuk jangka panjang dan kembalinya kesuburan cukup tinggi 2. Tidak dipengaruhi faktor lupa seperti pil. f. Efek samping dan penanggulangan. 1. Perdarahan. 2. Keputihan 3. Ekspulsi 4. Nyeri g. Komplikasi dan cara penanggulangan. 1. Infeksi 2. Keputihan 3. Translokasi.

2.3

Motivasi

18

a. Pengertian Motivasi berasal dari bahasa latin Movere yang berarti menggerakan. Berdasarkan pengertian ini makna Motivasi menjadi berkembang. Woldkwoski (1985) menjelaskan bahawa Motivasi merupakan suatu kondisi menyebabkan atau menimbulkan prilaku tertentu, dan yang member arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut . Motivasi merupakan satu penggerak dari dalam hati seseorang untuk melakukan atau mencapai sesuatu tujuan. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan hidup. Dengan kata lain motivasi adalah sebuah proses untuk tercapainya suatu tujuan. Seseorang yang mempunyai motivasi berarti ia telah mempunyai kekuatan untuk memperoleh kesuksesan dalam kehidupan.. Motivasi dapat berupa motivasi intrinsic dan ekstrinsic. Motivasi yang bersifat intinsik adalah manakala sifat pekerjaan itu sendiri yang membuat seorang termotivasi, orang tersebut mendapat kepuasan dengan melakukan pekerjaan tersebut bukan karena rangsangan lain seperti status ataupun uang atau bisa juga dikatakan seorang melakukan hobbynya. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah manakala elemen elemen diluar pekerjaan yang melekat di pekerjaan tersebut menjadi faktor utama yang membuat seorang termotivasi seperti status ataupun kompensasi.

19

Motivasi merupakan hasil cognitive secara keseluruhan yang membangkitkan keinginan untuk bertindak sebagai hasil dari pemikiran yang berkesinambungan sehingga seorang dapat mencpai sesuatu sesuai dengan apa yang direncanakan/tujuan ( motivation is a state a cognitive arousal which provoke a decision to act as a result of which there is sustained intellectual and/or physical effort so that the person can achieve some previously set goal). ( Marion William dan Richard Burden ) b. Teori Motivasi Banyak teori motivasi yang dikemukakan oleh para ahli yang dimaksudkan untuk memberikan uraian yang menuju pada apa sebenarnya manusia dan manusia akan dapat menjadi seperti apa. Landy dan Becker membuat pengelompokan pendekatan teori motivasi ini menjadi 5 kategori yaitu teori kebutuhan,teori penguatan,teori

keadilan,teori harapan,teori penetapan sasaran. 1) Teori Motivasi ABRAHAM MAMSLOW ( 19943 1970 ) Abraham Maslow (1943;1970) mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Ia

menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid, orang memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai motif psikologis yang lebih kompleks; yang hanya akan penting setelah kebutuhan dasar

20

terpenuhi. Kebutuhan pada suatu peringkat paling tidak harus terpenuhi sebagian sebelum kebutuhan pada peringkat berikutnya menjadi penentu tindakan yang penting.

Aktualisasi diri penghargaan sosial keamanan Rasa cinta

Kebutuhan fisiologis (rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya) Kebutuhan rasa aman (merasa aman dan terlindung, jauh dari bahaya)

Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki (berafiliasi dengan orang lain, diterima, memiliki)

Kebutuhan akan penghargaan (berprestasi, berkompetensi, dan mendapatkan dukungan serta pengakuan)

Kebutuhan aktualisasi diri (kebutuhan kognitif: mengetahui, memahami, dan menjelajahi; kebutuhan estetik: keserasian, keteraturan, dan keindahan; kebutuhan aktualisasi diri: mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya) Bila makanan dan rasa aman sulit diperoleh, pemenuhan kebutuhan tersebut akan mendominasi tindakan seseorang dan motif-motif yang lebih tinggi akan menjadi kurang

21

signifikan. Orang hanya akan mempunyai waktu dan energi untuk menekuni minat estetika dan intelektual, jika kebutuhan dasarnya sudah dapat dipenuhi dengan mudah. Karya seni dan karya ilmiah tidak akan tumbuh subur dalam masyarakat yang anggotanya masih harus bersusah payah mencari makan, perlindungan, dan rasa aman. 2) Teori Motivasi HERZBEGR ( 1996 ) Menurut Herzberg (1966), ada dua jenis faktor yang mendorong seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan dan menjauhkan diri dari ketidakpuasan. Dua faktor itu disebutnya faktorhigiene (faktor ekstrinsik) dan faktor motivator (faktor intrinsik). Faktor higiene memotivasi seseorang untuk keluar dari ketidakpuasan, termasuk didalamnya adalah hubungan antar manusia, imbalan, kondisi lingkungan, dan sebagainya (faktor ekstrinsik), sedangkan faktor motivator memotivasi seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan, yang termasuk didalamnya adalah achievement, pengakuan, kemajuan tingkat kehidupan, dsb (faktor intrinsik).

3) Teori Motivasi DOUGLAS McGREGOR

22

Mengemukakan dua pandangan manusia yaitu teori X (negative) dan teori y (positif), Menurut teori x empat pengandaian yag dipegang manajer. a. karyawan secara inheren tertanam dalam dirinya tidak menyukai kerja b. karyawan tidak menyukai kerja mereka harus diawasi atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan. c. d. Karyawan akan menghindari tanggung jawab. Kebanyakan karyawan menaruh keamanan diatas semua factor yang dikaitkan dengan kerja. Kontras dengan pandangan negative ini mengenai kodrat manusia ada empat teori Y : a. karyawan dapat memandang kerjasama dengan sewajarnya seperti istirahat dan bermain. b. Orang akan menjalankan pengarahan diri dan pengawasan diri jika mereka komit pada sasaran. c. d. Rata rata orang akan menerima tanggung jawab. Kemampuan untuk mengambil keputusan inovatif.

4) Teori Motivasi VROOM ( 1964 ) Teori dari Vroom (1964) tentang cognitive theory of motivation menjelaskan mengapa seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang ia yakini ia tidak dapat melakukannya, sekalipun hasil

23

dari pekerjaan itu sangat dapat ia inginkan. Menurut Vroom, tinggi rendahnya motivasi seseorang ditentukan oleh tiga komponen, yaitu: Ekspektasi (harapan) keberhasilan pada suatu tugas Instrumentalis, yaitu penilaian tentang apa yang akan terjadi jika berhasil dalam melakukan suatu tugas (keberhasilan tugas untuk mendapatkan outcome tertentu). Valensi, yaitu respon terhadap outcome seperti perasaan posistif, netral, atau negatif.Motivasi tinggi jika usaha menghasilkan sesuatu yang melebihi harapanMotivasi rendah jika usahanya menghasilkan kurang dari yang diharapkan 5) Achievement Theory / Teori Achievement MC Clelland ( 1961 ) yang dikemukakan oleh Mc Clelland (1961), menyatakan bahwa ada tiga hal penting yang menjadi kebutuhan manusia, yaitu: Need for achievement (kebutuhan akan prestasi) Need for afiliation (kebutuhan akan hubungan sosial/hampir sama dengan soscialneed-nya Maslow) Need for Power (dorongan untuk mengatur) 6) Clayton Aldefer ERG Clayton Alderfer mengetengahkan teori motivasi ERG yang didasarkan pada kebutuhan manusia akan keberadaan (exsistence), hubungan (relatedness), dan pertumbuhan (growth). Teori ini sedikit berbeda dengan teori maslow. Disini Alfeder mngemukakan bahwa jika kebutuhan yang lebih tinggi tidak atau belum dapat dipenuhi 24

maka manusia akan kembali pada gerakk yang fleksibel dari pemenuhan kebutuhan dari waktu kewaktu dan dari situasi ke situasi. c. Dukungan suami dan tenaga kesehatan dalam pelaksanaan program KB Karakteristik dukungan suami dan pelayanan tenaga kesehatan yang berkaitan dengan pengunaan alat kontrasepsi : 1. Pelayanan tenaga kesehatan Pelayanan kesehatan yang berkualitas sangat berpengaruh terhadap perilaku kesehatan masyarakat oleh karena itu KB yang bermutu yang dapat diukur dan ditentukan standar pelayanannya dapat tercapai serta menambah frekuensinyaa meliputi : kondisi alat atau obat kontrasepsi yaitu ketersediaan alat kontrasepsi dan sarana prasana pelayanan kontrasepsi, pelayanan dan kompetensi teknik pelaayan kontrasepsi dan komunikasi, standar pelayanan kontrasepsi terdiri dari pemilihan kontrasepsi, informasi yang diberikan dan interaksi petugas dengan klien, kemampuan teknis, kesinambungan pelayanan dan rangkaian program dan pendokumentasian pelayanan ( syaifuddin, 2006 ) 2. Dukungan Suami Peran suami dalam keluarga sangat dominan dan memegang kekuasaan dalam pengambilan keputusan apakah istri akan menggunakan alat kontrasepsi atau tidak. Karena suami dipandang sebagai pelindung, pencari nafkah dan pengambil keputusan dalam rumah tangga. Beberapa laki-laki mungkin tidak menyetujui

25

pasangan untuk menjadi akseptor KB kaarna mereka belum mengetahui dengan jelas bagaimana cara kerja alat kontrasepsi yang ditawarkan. Kondisi tersebut bahwa suami mempunyai pengaruh yang begitu besar tarhadap penggunaan kontrasepsi yang digunakan oleh istrinya. Dalam hai ini pendapat suami mengeni KB cukup kuat pengaruhnya dalam penggunaan metode kontrasepsi untuk istrinya, khususnya dalam pemilihan kontrasepsi dan menjadi peserta KB. ( Effendi, 2003 ).

BAB III KERANGKA KONSEP

26

3.1

Kerangka Konsep Penelitian Berdasarkan landasan teori yang telah dikemukakan sebelumnya, maka kerangka konsep pada penelitian ini menggunakan model system. Sistem adalah suatu tatanan yang terdiri dari berbagai unsure atau komponen dan bagian dari lingkungan yang mempunyai makna dan tujuan (clark,1984). Model system ini terdiri dari input, proses dan out put yang digambarkan secara sistematis sebagai berikut :

27

INPUT

PROSES

OUTPUT

Faktor intrinsik : Usia Pendidikan Pengalaman Motivasi diri Faktor ekstrinsik : Dukungan keluarga Lingkungan Sosial ekonomi dan budaya Tenaga kesehatan

Pengetahuan WUS : Pengertian kontrasepsi Jenis alat Kontrasepsi Keuntungan dan kerugian Cara pemakaian Efek samping dan pengobatan Waktu pemakaian

Tingkat pengetahuan tentang alat kontrasepsi : Tinggi Sedang Rendah

Kerangka konsep diatas menggambarkan tingkat pengetahuan di pengaruhi oleh umur, pendidikan, pengalaman, motivasi, dukungan keluarga, lingkungan sosial ekonomi, budaya dan sosial. Sedangkan fokus utama yang akan diteliti mencakup variable pengetahuan tentang alat kontrasepsi meliputi 28

definisi, jenis, keuntungan dan kerugian, cara pemakaian, efek samping dan waktu pemakaian sarta motivasi pada wanita usia subur / pasangan usia subur sehingga peneliti dapat menganalisa tingkat pengetahuan pada wanita usia subur / pasangan usia subur tentang alat kontrasepsi. 3.2 Hipotesis Tingkat pengetahuan tentang alat kontrasepsi pada WUS/ PUS baik.

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Metode Penelitian

29

Desain yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah desain deskriptif. Desain deskriptif adalah suatu pendekatan riset yang berorientasi pada masa sekarang dan didesain untuk menjawab pertanyaan yang didasarkan pada kejadian yang sedang berlangsung saat ini 2002 ). Penggunaan desain deskriptif pada penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan tentang alat kontrasepsi yang diperlukan oleh ibu di wilayah kerja Puskesmas Sempaja. 4.2 Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Sempaja 4.3 Instrumen Penelitian Insturumen yang akan digunakan dalam penelitian ini berupa koesioner yang memuat beberapa pernyataan mengenai tingkat pengetahuan keluarga yang sedang menunggu klien operasi. Koesioner di bentuk dalam bentuk daftar chek dengan skala 5 (skala licker)dengan option pilihan : 1. Tidak mengerti 2. Kurang mengerti. ( Dempsey,

3. Cukup mengerti. 4. Mengerti. 5. Sangat mengerti sedangkan pertanyaan untuk petugas yang diharapkan memberikan pengetahuan mengunakan option yaitu ; perawat, dokter dan bidan dengan di

30

susun secara struktur sehingga responden cukup menjawab dengan memberikan tanda cheek () sesuai apa yang di harapkan responden. 4.4 Populasi Populasi adalah kumpulan individu yang mempunyai karakteristik yang akan dihitung atau diukur ( Heri Purwanto, 1994 ) .Adapun populasi yang digunakan sebagai subjek penelitian adalah semua ibu yang terdaftar diwilayah kerja Puskesmas Sempaja Samarinda yang sedang memeriksakan kesehatan atau sedang mendapatkan pelayanan kesehatan, khususnya pelayanan KB. 4.5 Sampel Sampel adalah bagian kecil dari populasi target yang dipilih sedemikian rupa sehingga individu-individu dalam sampel mewakili ( sedekat mungkin ) karakteristik dari populasi sasaran ( Dempsey, 2002 ). Adapun, pengambilan sampel pada penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik aksidental sampling, yakni teknik pengambilan sampel secara langsung diambil dari siapa saja yang kebetulan ada pada saat pengambilan sampel. 4.6 Sampling Sampling adalah proses dan cara mengambil sampel/ contoh untuk menduga keadaan suatu populasi. Sampling adalah suatu proses dalam menyeleksi porsi dari populasi untuk mewakili populasi. 4.7 Variabel penelitian a. Variable Dependen

31

Variable dependen atau variable terikat dalam respon atau output berarti variable ini muncul sebagai akibat dari manipulasi suatu variable dindependen. ( Nursalam dan Pariani, 2001 ). Dalam penelitian ini variable dependennya adalah penggunaan alat kontrasepsi pada wanita usia subur. b. Variable Independen Variable independen atau variable bebas adalah stimulus akifitas yang memanipulasi oleh peneliti untuk menciptakan suatu dampak variable dependen. ( Nursalam dan Pariani, 2001 ). Dalam penelitian ini variable independennya adalah pengetahuan WUS/ PUS tentang penggunaan alat kontrasepsi. 4.8 Definisi Operasional a. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui oleh pasangan usia subur yang menikah tentang alai kontrasepsi. b. Alat kontraspsi adalah suatu alat/ metode yang digunakan oleh pasangan usia subur untuk mencegah terjadinya kehamilan c. Pasangan usia subur adalah pasangan suami istri yang menikah dan masih produktif yang belum memiliki anak maupun yang memiliki anak. d. Wanita usia subur adalah wanita yang keadaan organ reproduksinya berfungsi dengan baik antara umur 20-45 tahun. 4.9 Teknik Analisa Data

32

Setelah semua kuesioner terkumpul selanjutnya di analisa dengan cara tabulasi diberikan skor berdasarkan skala Lickertr dengan kriteria sebgai berikut : 5 : Sangat mengerti 4 : Mengerti 3 : Cukup mengerti 2 : Kurang mengerti 1 : Tidak mengerti Setelah kuesioner pernyataan tersebut diisi, kemudian dikumpulkan oleh peneliti dan selanjutnya diperiksa kelengkapannya. Setelah

pengumpulan data selesai, maka data akan diperiksa dengan menggunakan metode statistic tendensi sentral berupa distribusi frekuensi. Skor individu pada setiap nomor akan diolah dengan menggunakan rumusan sebagai berikut :

X : x x 100 % n
Keterangan : X x n : Mean (Nilai Rata rata) : Jumlah tiap responden. : Jumlah.

Hasil skore dari data akan disajikan dalam bentuk tabel dengan penarikan kesimpulan berdasarkan pengelompokkan presentase, sebagai berikut :

33

0 % - 59 % 60 % - 79 %

: Pengetahuan Rendah. : Pengetahuan sedang.

80 % - 100 % : Pengetahuan tinggi.

4.10 Etik penelitian Dalam melakukan penelitian ini mengajukan permohonan ijin kepada Akper Yarsi Samarinda dan Kepala Puskesmas Sempaja untuk mendapatkan persetujuan. Peneliti menyerah kuesioner kepada subjek dengan terlebih dahulu menjelaskan maksud dan tujuan pengisian kuesioner tersebut. Jika subjek bersedia, maka harus menandatangani lembar persetujuan untuk menjadi responden dan jika subjek menolak untuk menjadi respoden, maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati hak subjek, untuk menjaga kerahasiaan indentitas subjek peneliti tidak akan mencantumkan nama subjek pada lembar pengumpulan data ( anonimity ) , peneliti akan menjaga dan menjamin kerahasiaan informasi yang diberikan oleh subjek

( confidentiality ).

34