Anda di halaman 1dari 37

IMUNOLOGI

Silabus : Pengertian tentang imunologi, teori dasar tentang reaksi antigen-antibodi, sel-sel yang terlibat dalam respon imun, struktur dan fungsi antibodi, komplemen dan hipersensitivitas Pengertian Imunologi Imunologi (kekebalan) adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari respon tubuh terhadap tantangan suatu antigen. Mekanisme imunologi berperan pada pertahanan tubuh terhadap suatu penyebab infeksi tetapi sekali-kali dapat juga menyebabkan kerusakan. Uji imunologik sekarang sudah dipakai secara rutin di laboratorium. Dalam beberapa hal caracara lain dalam menegakkan diagnosis penyakit dan untuk menentukan cara perawatan penderita selanjutnya. Dengan ditemukannya teknologi yang mutakhir, yang baru ditemukan beberapa tahun yang disebut teknologi hibridoma, maka terjadilah revolusi dalam bidang imunologi. Teknik ini memungkinkan produksi dalam bidang antibody terhadap suatu determinasi antigen saja. Teknik ini sekarang dapat diperoleh antibody yang sangat homogen dan khas dalam jumlah yang tidak terbatas. Pada masa ini imunologi meliputi semua reaksi, proses yang menguntungkan maupun merugikan. Secara singkat imunologi memiliki peranan yang luas meliputi konsep pengenalan, kekhasan, dan memory.

Antibodi
Interaksi antigen dengan antibodi bersifat non-covalen dan pada umumnya sangat spesifik. Antibodi hanya diproduksi oleh limfosit B dan disebarkan keseluruh tubuh secara eksositosis dalam bentuk plasma dan cairan sekresi. Mereka membentuk sel B antigen reseptor yang spesifik. Antibodi ditemukan dalam plasma juga berikatan dengan reseptor spesifik untuk daerah konstan (Fc) dari imunoglobulin. Mereka juga ditemukan dalam cairan sekresi seperti mukus, susu dan keringat. Pada dasarnya satu unit struktur antibodi pada mamalia adalah glikoprotein (berat molekul sekitar 150.000 dalton) yang terdiri dari empat rantai polipeptida. Semua antibodi

mempunyai bentuk struktur yang sama yaitu dua rantai pendek (VL) dan dua rantai panjang (VH). Bentuk tersebut dihubungkan dengan bentuk kovalen (disulfida) dan erat hubungannya dengan sequens asam amino yang mempunyai struktur sekunder dan tertier. Setiap rantai pendek (VL) berat molekulnya sekitar 25.000 dalton, dimana ada dua jenis rantai pendek yaitu lambda () atau kappa (). Pada manusia terdiri dari 60% adalah kappa dan 40% lambda, sedangkan pada mencit 95% kappa dan 5% lambda. Satu molekul antibodi hanya mengandung lambda saja atau kappa saja dan tidak pernah keduanya. Setiap rantai panjang (VH) mempunyai berat molekul sekitar 50.000 dalton, yang terdiri dari daerah variabel (V) dan konstan . Rantai panjang (VH) dan rantai pendek (VL) terdiri dari sejumlah homolog yang mengandung kelompok sequence asam amino yang mirip tetapi tidak identik. Unit-unit homolog tersebut terdiri dari 110 asam amino yang disebut domain imunoglobulin. Rantai panjang mengandung satu domain variabel (VH) dan tiga dari empat domain konstan lainnya (CH1, CH2, CH3, CH4, bergantung pada klas dan isotipe antibodi). Daerah antara CH1 dan CH2 disebut daerah hinge (engsel), yang memudahkan pergerakan / fleksibilitas dari lengan Fab dari bentuk Y molekul anti bodi tersebut. Hal itu menyebabkan lengan tersebut dapat membuka atau menutup untuk dapat mengikat dua antigen determinan yang terpisahkan oleh jarak diantar kedua lengan tersebut. Rantai panjang juga dapat meningkatkan fungsi aktifitas dari molekul antibodi. Ada 5 klas antibodi yaitu: IgG, IgA, IgM, IgE dan IgD, yang dibedakan menurut jenis rantai panjangnya masing-masing yaitu: , , , dan . Klas antibodi IgD, IgE dan IgG terbentuk dari struktur tunggal, sedangkan IgA mengandung dua atau tiga unit dan IgM terdiri dari 5 yang dihubungkan dengan sambungan disulfida. Antibodi IgG dibagi menjadi 4 subklas (disebut juga isotipe) yaitu IgG1, IgG2, IgG3, dan IgG4. Struktur dan fungsi IgG dapat dipecah oleh enzim pepsin dan papain menjadi beberapa fragmen yang mempunyai sifat biologi yang khas. Perlakuan dengan pepsin dapat memisahkan Fab2 dari daerah persambungan hinge (engsel). Karena Fab2 adalah merupakan molekul bivalen sehingga ia dapat mempresipitasi antigen. Enzim papain dapat

memutus daerah hinge diantara CH1 dan CH2 untuk membentuk dua fragmen yang identik dan dapat bertahan dengan reaksi antigen-antibodi dan juga satu non-antigen-antibodi fragmen yaitu daerah fragmen kristalisabel (Fc). Bagian Fc ini adalah glikosilat yang mempunyai banyak fungsi efektor (yaitu: binding komplemen, binding dengan sel reseptor pada makrofag dan monosit dan sebagainya) dan dapat digunakan untuk membedakan satu klas antibodi dengan lainnya.

Tabel 1. Sifat dan bentuk klas antibodi IgA, IgE, IgD dan IgM pada manusia dan mencit sama Antibodi IgA Rantai pendek (CL) Kappa / lambda Kappa / lambda IgE IgD IgM Kappa / lambda Kappa / lambda Kappa / lambda Subtipe IgA1 IgA2 Rantai panjng (CH) Alfa 1 Alfa 2

Tabel 2. Sifat dan bentuk subklas antibodi IgG pada manusia dan mencit berbeda Manusia mencit

Antibodi IgG

Rantai pendek*) Subtipe Kappa / lambda IgG1 Kappa / lambda Kappa / lambda Kappa / lambda IgG2 IgG3 IgG4

Rantai panjang Subtipe 1 IgG1 2 3 4 IgG2 IgG2b IgG3

Rantai panjang 1 2a 2b 3

*)antara mencit dan manusia hanya berbeda komposisinya Imunoglobulin A (IgA). Imunoglobulin A adalah antibodi sekretori, ditemukan dalam saliva, keringat, air mata, cairan mukosa, susu, cairan lambung dan sebgainya. Yang aktiv adalah bentuk dimer (yy), sedangkan yang monomer (y) tidak aktif. Jaringan yang mensekresi bentuk bentuk dimer ini ialah sel epithel yang bertindak sebagai reseptor IgA, yang kemudian sel tersebut bersama IgA masuk kedalam lumen. Fungsi dari IgA ini ialah: <!--[if !supportLists]-->permukaan sel mukosa <!--[if !supportLists]--><!--[if !supportLists]--><!--[endif]-->Tidak efektif dlam mengikat komplemen <!--[endif]-->Bersifat bakterisida dengan kondisinya <!--[endif]-->Mencegah kuman patogen menyerang

sebagai lysozim yang ada dalam cairan sekretori yang mengandung IgA <!--[if !supportLists]-->Imunoglobulin D (IgD) Imunoglobulin D ini berjumlah sedikit dalam serum. IgD adalah penenda permukaan pada sel B yang matang. IgD dibentuk bersama dengan IgM oleh sel B normal. Sel B membentuk IgD dan IgM karena untuk membedakan unit dari RNA. Imunoglobulin E (IgE) <!--[endif]-->Bersifat antiviral dan glutinin yang efektif

Imunoglobulin E ditemukan sedikit dalam serum, terutama kalau berikatan dengan mast sel dan basophil secara efektif, tetapi kurang efektif dengan eosinpphil. IgE berikatan pada reseptor Fc pada sel-sel tersebut. Dengan adanya antigen yang spesifik untuk IgE, imunoglobulin ini menjadi bereaksi silang untuk memacu degranulasi dan membebaskan histamin dan komponen lainnya sehingga menyebabkan reaksi anaphylaksis. IgE sangat berguna untuk melawan parasit. Imunoglobulin M (IgM) Imunoglobulin m ditemukan pada permukaan sel B yang matang. IgM mempunyai waktu paroh biologi 5 hari, mempunyai bentuk pentamer dengan lima valensi. Imunoglobulin ini hanya dibentuk oleh faetus. Peningkatan jumlah IgM mencerminkan adanya infeksi baru atai adanya antigen (imunisasi/vaksinasi). IgM adalah merupakan aglutinin yang efisien dan merupakan isohem- aglutinin alamiah. IgM sngat efisien dalam mengaktifkan komplemen. IgM dibentuk setelah terbentuk T-independen antigen, dan setelah imunisasi dengan T-dependent antigen. Imunoglobulin G (IgG) Imunoglobulin G adalah divalen antigen. Antibodi ini adalah imunoglobulin yang paling sering/banyak ditemukan dalam sumsum tulang belakang, darah, lymfe dan cairan peritoneal. Ia mempunyai waktu paroh biologik selama 23 hari dan merupakan imunitas yang baik (sebagai serum transfer). Ia dapat mengaglutinasi antigen yang tidak larut. IgG adalah satu-satunya imunoglobulin yang dapat melewati plasenta. Kemampuannya melewati plasenta untuk setiap jenis hewan berturut-turut adalah: Rodentia>primata>anjing/kucing> manusia=babi=kuda. IgG adalah opsonin yang baik sebagai pagosit pada ikatan IgG reseptor. Imunoglobulin ini merangsang antigendependen cel-mediated cytotoxicity (ADCC)-IgG Fab untuk mengikat target sel, Natural Killer(NK) Fc-reseptor, mengikat Ig Fc, dan sel NK membebaskan citotoksik pada sel target. IgFc juga mengaktifkan komplemen, menetralkan toksin, imobilisasi bakteri dan menghambat serangan virus.

Tabel 3. Sifat dan kemampuan imunoglobulin dan fungsinya


Sifat Bentuk IgA1,2 Dimer YY 3,5 IgD Monomer Y 0,03 IgE Monomer Y 0,00005 IgM Pentamer YYYYY 1,5 IgG1 Monomer Y 9 IgG2 Monomer Y 3 IgG3 Monomer Y 1 IgG4 Monomer Y 1,5

dalam serum (mg/ml) Aktifasi kompleme n Transfer plasenta Ikatan dengan makrofag /

(-)

(-)

(-)

+++

+++

+++

(-)

(-) (-)

(-) (-)

(-) (-)

(-) (-)

+ +

+ (-)

+ +

+ (-)

Fc reseptor Ditemukan Cairan dalam jaringan eksresi eksternal Dsb. mukus

(-)

(-)

Cairan mukus dsb

Susu

Susu

Susu

Susu

SEL-SEL IMUN
Contoh pemanfaatan sistem imun saat ini : Berkembangnya trend untuk memanfaatkan sistem imun untuk mengobati berbagai penyakit terutama kanker. Diagnosa suatu penyakit dengan peran sistem imun: dengan menentukan titer antibodi, bisa diketahui penyebab infeksi tertentu dan infeksi tersebut berada dalam fase apa. Hal tersebut sangat berkaitan erat dengan kinetika respon antibodi. Terapi untuk hiposensitivitasi atau alergi tipe I dengan penyuntikan antigen tertentu secara sedikit-sedikit (desensitisasi). Sel-Sel dalam sistem imun : Neutrofil sel fagositosis, menstimulasi inflamasi Eosinofil mengeliminasi parasit cacing Makrofag sel utama fagositosis. Terdiri dari 2 macam : makrofag bebas dan makrofag fiksasi (tinggal di organ). Sel makrofag sebagai sel APC (Antigen Presenting Cell) yang mempunyai molekul MHC. MHC kelas I aken mengaktivasi sel Tc, Kelas II mengaktivasi sel Th, MHC kelas III menstimulasi sistem komplemen. Sel lain : o Sel dendritik menyajikan antigen yang terikat protein MHC kelas II o Sel Langerhans menyajikan antigen yang terikat protein MHC kelas II Organ Organ dalam Sistem Imun (Organ Limfoid) :

Berdasarkan fungsinya : 1. Organ Limfoid Primer : organ yang terlibat dalam sintesis/ produksi sel imun, yaitu kelenjar timus dan susmsum tulang. 2. Organ Limfoid Sekunder : organ yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses-proses reaksi imun. Misalnya : nodus limfe, limpa, the loose clusters of follicles, peyer patches, MALT (Mucosa Assosiated Lymphoid Tissue), tonsil. RES (Reticuloendothelial System): bagian sistem imun yang terdiri dari sel-sel fagosit yang terdapat pada reticular connective tissue terutama adalah monosit dan makrofag. Human Lymphoid Sistem : Terdiri dari : Pembuluh limfatik, Organ limfoid, sel dan Jaringan imun, dan limfe (cairan sistem limfoid) Mekanisme Kerja Sel Imun : NK cell (Natural Killer Cell).Bekerja secara non-spesifik (tanpa pengenaan lebih lanjut), tapi buka sel fagositik. Bekerja dengan cara kontak langsung dengan sel terinfeksi. NK cell disebut sebagai immune surveylence (seperti polisi dalam tubuh). Ketika NK cell menempel pada sel terinfeksi, maka golgi dari NK cell akan mensekresi protein killer (perforin). Perforin ini akan membentuk suatu jembatan antara NK cell dengan sel terinfeksi, melalui jembatan ini terjadi pengeluaran elektrolit berlebih dari sel terinfeksi yang menyebabkan litik osmotik. Peristiwa penyerangan dengan jembatan ini disebut membrane attack complex. Sel B.Secara umum berfungsi sebagai APC. Sel B akan menerima antigen kemudian melalui MHC kelas II, antigen ini disajikan ke permukaan sel untuk mengaktivasi sel T helper. Sel T helper akan mensekresikan sitokin yang dapat menstimulasi sel B berproliferasi menjadi sel memori, selain itu juga mengaktifkan sel B untuk menjadi sel plasma penghasil antibodi.

Sel T. Setelah sel B berikatan dengan sel T helper, sel T helper tidak bisa langsung teraktivasi tanpa adanya stimulasi dari Co-stimulatory sitokin. Di antara yang termasuk sitokin adalah : IL (Interleukin I,II,..dst); interferon ,,; Tumor Necrosis Factor; Prostaglandin, dll. Non Specific Killer Cells. Yaitu : NK cell dan LAK cell; ADCC (K) cell; Activated macrophage; Eosinophils (diaktivasi oleh IgE karena IgE mentriger/memicu eosinofil untuk mengeliminasi cacing).

DNA komplemen
DNA komplemen, atau jauh lebih dikenal dengan singkatannya cDNA (dari complementary DNA), merupakan DNA berkas tunggal (single-stranded) sintetik/buatan yang disalin dari berkas RNA menggunakan teknik PCR dan memanfaatkan enzim reverse transcriptase. Penggunaan cDNA sangat luas, terutama dalam analisis ekspresi genetik dan transkriptomika. RNA berkas tunggal atau transkriptom bersifat tidak stabil karena mudah dicerna dan dilebur dalam sel. Pengubahan RNA berkas tunggal menjadi cDNA membuatnya lebih mudah dianalisis karena DNA lebih stabil (tidak mudah dilebur).

Sistem Komplemen
Sistem komplemen merupakan mekanisme sistem imun yang ditemukan oleh Jules Bordet, yaitu : komponen yang plasma yang meningkatkan opsonisasi dan pembunuhan bakteri oleh antibodi. Komponen ini melengkapi aktivitas antibodi sebagai antibakteri, sebagi efektor dalam respon anibodi, sistem ini juga dapat diaktivasi lebih awal pada saat infeksi dalam keadaa belum ada antibodi. Karakteristika Sistem Komplemen : Komplemen adalah nama yang diberikan terhadap suatu seri protein(plasma) yang terdiri dari 21 protein

Mekanisme kerja sistem ini seperti proses pembekuan darah yang membentuk suatu sistem enzim yang terstimulasi dalam plasma yang kebanyakannya adalah proteinase-proteinase. Ciri spesifik sistem ini : menghasilkan suatu respon yang cepat dan bertingkat terhadap suatu stimulus yang dapat berupa kompleks imun Protein plasma yang diberi simbol C diikuti dengan angka, menunjukkan nomor penemuan komplemen tersebut, bukan suatu nomor urutan reaksi Protein komplemen utama yaitu : C1 (q,r,s), C2, C3, C4 ,dst hingga C9, faktor B, faktor D, faktor H, properdin,dll. Pada setiap tahap aktivasi selalu dihasilkan suatu aktivitas enzim baru yang juga komponen komplemen Produk reaksi pertama berlaku sebagai katalis enzimatiik yang mengaktifkan komponenkomponen selanjutnya, demikian seterusnya hingga dihasilkan suatu respon bertingkat yang menyerupai cascade. Kerja ini menyerupai air terjun yang telus berlangsung tanpa bisa dihentikan di tengah-tengah reaksi. Fragmen enzim diberi nama a dan b misalnya C2a dan C2b. Pusat katalitik sistem ini berada pada C3 Akhir dari aktivitas komplemen adalah : terbentuknya suatu pori fungsional pada membran sel di mana komplemen tersebut melekat, kemudian terjadi perubahan konformasi fosfolipid sel yang menyebabkan lisis dan berakhir dengan kematian sel. Hal ini disebut MAC (membrane attack complex). Sistem Komplemen terdiri dari tiga jalur yaitu : <![ 1]> =21600,21600 :=75 : = = 454 11 9 11 9 5

= = >

:=/> <![ ]><![ ! ]> <![]>Jalur Klasik. Jalur ini diawali dengan stimulasi dari kompleks antigen-antibodi yang kemudian mengaktivasi C1q, C1r, C1s, ketiga komponen ini menghasilkan komponen enzimatik yang menstimulasi C4, C4 menghasilkan komponen enzimatik yang menstimulasiC2, komponen C2 ini kemudian menghasilkan komponen enzimatik dan menstimulasi C3 Convertase (pusat katalitik sistem komplemen). <![ 1]> =#_0000_75 = =:6.75;:6.75>

:=/> <![ ]><![ ! ]> <![]>Jalur MB-Lecitin. Jalur ini diawali oleh stimulasi dari kompleks manosa binding protein pada permukaan patogen yang kemudian menstimulasi MBL, MASP-1, MASP-2. Ketiga komponen ini kemudian mnghasilkan komponen enzimatik yang menstimulasi C4, (seperti halnya pada jalur klasik) C4, C4 menghasilkan komponen enzimatik yang menstimulasiC2, komponen C2 ini kemudian menghasilkan komponen enzimatik dan menstimulasi C3 convertase (pusat katalitik sistem komplemen). <![ 1]> =#_0000_75 = =:6.75;:6.75> :=/> <![ ]><![ ! ]> <![]>Jalur Alternatif. Jalur ini diawali oleh stimulasi dari permukaan patogen yang mengandung LPS (Lipopolisakarida) yang kemudian langsung menstimulasi C3, C3 menghasilkan komponen enzimatik yang menstimulasi faktor B, faktor B menghasilkan komponen enzimatik yang menstimulasi fakator D, faktor D kemudian menghasilkan komponen enzimatik yang akhirnya mensimulasi C3 convertase. Setelah Ketiga jalur tersebut mengaktivasi C3 Convertase, C3 convertase ini kemudian menghasilkan C3a, C5a dan C3b. C3a, C5a kemudian menstimulasi peptida mediator untuk inflamasi dan menstimulasi rekrutmen sel fagositik. C3b kemudian berikatan dengan reseptor komplemen pada sel fagositik dan kemudian menstimulasi opsonisasi dan penghilangan kompleks imun. Selain itu, C3b juga menstimulasi komponen terminal komplemen yang kemudian terjadi reaksi cascade : menstimulasi C5b, C6,C7,C8,C9 dan akhirnya membentuk Membran attack complex dan menyebabkan lisis pada patogen.

Persamaan atara ketiga jalur tersebut adalah :

Ketiganya sama-sama akan mengaktivasi pusat katalitik sistem komplemen yaitu C3; Ketiganya pada akhirnya akan menginduksi C9; dan ketiganya sama-sama membentuk membran attack complex. Perbedaan atara ketiga jalur tersebut adalah : Stimulus yang menginduksi masing-masing jalur berbeda-beda. Jalur Lecitin distimulasi oleh kompleks antigen antibodi, Jalur MB-Lecitin distimulasi oleh kompleks manosabinding Lecitin, dan Jalur Alternatif distimulasi LPS (lipopolisakarida) dari permukaan patogen Komponen yang distimulasi oleh stimulus masing-masing jalur berbeda. Jalur Lecitin selanjutnya mengaktivasi C1q,C1r,C1s, C4 dan C2, jalur MB Lecitin selanjutnya mengaktivasi MBL, MASP-1, MASP-2, C4 dan C2, dan jalur alternatif mengaktivasi C3, B,dan D.

REAKSI HIPERSENSITIVITAS
I. REAKSI HIPERSENSITIVITAS Pada dasarnya tubuh kita memiliki imunitas alamiah yang bersifat nonspesifik dan imunitas spesifik ialah sistem imunitas humoral yang secara aktif diperankan oleh sel limfosit B, yang memproduksi 5 macam imunoglobulin (IgG, IgA, IgM, IgD dan IgE) dan sistem imunitas seluler yang dihantarkan oleh sel limfosit T, yang bila mana ketemu dengan antigen lalu mengadakan diferensiasi dan menghasilkan zat limfokin, yang mengatur sel-sel lain untuk menghancurkan antigen tersebut. Bilamana suatu alergen masuk ke tubuh, maka tubuh akan mengadakan respon. Bilamana alergen tersebut hancur, maka ini merupakan hal yang menguntungkan, sehingga yang terjadi ialah keadaan imun. Tetapi, bilamana merugikan, jaringan tubuh menjadi rusak, maka terjadilah reaksi hipersensitivitas atau alergi.

Reaksi hipersentsitivitas memiliki 4 tipe reaksi seperti berikut: Tipe I : Reaksi Anafilaksi Di sini antigen atau alergen bebas akan bereaksi dengan antibodi, dalam hal ini IgE yang terikat pada sel mast atau sel basofil dengan akibat terlepasnya histamin. Keadaan ini menimbulkan reaksi tipe cepat. Tipe II : reaksi sitotoksik Di sini antigen terikat pada sel sasaran. Antibodi dalam hal ini IgE dan IgM dengan adanya komplemen akan diberikan dengan antigen, sehingga dapat mengakibatkan hancurnya sel tersebut. Reaksi ini merupakan reaksi yang cepat menurut Smolin (1986), reaksi allografi dan ulkus Mooren merupakan reaksi jenis ini. Tipe III : reaksi imun kompleks Di sini antibodi berikatan dengan antigen dan komplemen membentuk kompleks imun. Keadaan ini menimbulkan neurotrophichemotactic factor yang dapat menyebabkan terjadinya peradangan atau kerusakan lokal. Pada umumnya terjadi pada pembuluh darah kecil. Pengejawantahannya di kornea dapat berupa keratitis herpes simpleks, keratitis karena bakteri.(stafilokok, pseudomonas) dan jamur. Reaksi demikian juga terjadi pada keratitis Herpes simpleks. Tipe IV : Reaksi tipe lambat Pada reaksi hipersensitivitas tipe I, II dan III yang berperan adalah antibodi (imunitas humoral), sedangkan pada tipe IV yang berperan adalah limfosit T atau dikenal sebagai imunitas seluler. Limfosit T peka (sensitized T lymphocyte) bereaksi dengan antigen, dan menyebabkan terlepasnya mediator (limfokin) yang jumpai pada

reaksi penolakan pasca keratoplasti, keraton- jungtivitis flikten, keratitis Herpes simpleks dan keratitis diskiformis II. Defisiensi Imun dan Peradangan Imunitas atau kekebalan adalah sistem mekanisme pada organisme yang melindungi tubuh terhadap pengaruh biologis luar dengan mengindentifikasi dan membunuh patogen serta sel tumor. Sistem ini mendeteksi berbagai macam pengaruh biologis luar yang luas, organisme akan melindungi tubuh dari infeksi, bakteri, virus sampai cacing parasit. Serta menghancurkan zat-zat asing lain dan memusnahkan mereka dari sel organisme yang sehat dari jaringan agar tetap dapat berfungsi seperti biasa. Sistem Imun adalah struktur epektif yang menggabungkan spesifisitas dan adaptasi. Kegagalan pertahanan dapat muncul, dan jatuh pada 3 kategori yaitu: Defisiensi Imun, autoimunitas dan Hipersensitivitas. 1. Defisiensi Imun Defisiensi Imun muncul ketika satu atau lebih komponen sistem Imun tidak aktif, kemampuan sistem Imun untuk merespon patogen berkurang pada baik golongan muda dan golonga tua, respon imun berkurang pada usia 50 tahun, respon juga dapat terjadi karena penggunaan Alkohol dan narkoba adalah akibat paling umum dari fungsi imun yang buruk, namun, kekurangan nutrisi adalah akibat paling umum yang menyebabkan difisiensi imun di negara berkembang. Diet kekurangan cukup protein berhubungan dengan gangguan imunitas selular, aktivitas komplemen, fungsi fagosit, konsentrasi antibody, IgA dan produksi sitokin, Defisiensi nutrisi seperti zinc, Selenium, zat besi, tembaga, vitamin A, C, E, B6 dan asam folik (vitamin B9) juga mengurangi respon imun. Difisiensi imun juga dapat didapat dari chronic granulomatus disease (penyakit yang menyebabkan kemampuan fagosit untuk menghancurkan fagosit berkurang), contohnya: Aids dan beberapa tipe kanker.

2. Autoimunitas Respon imun terlalu aktif menyebabkan disfungsi imun yang disebut autoimunitas. Sistem imun gagal untuk memusnahkan dengan tepat antara diri sendiri dan orang lain yang menyerang dari bagian tubuh. 3. Hipersensitivitas Adalah respon imun yang merusak jaringan tubuh sendiri. Mereka terbagi menjadi 4 kelas (tipe I-IV) yaitu: 1. Reaksi anafilaksi 2. Reaksi sitotoksik 3. reaksi imun kompleks 4. reaksi toep lambat Penyakit Imun kadang-kadang, akibat defisiensi Sel B atau Sel T, sistem imun gagal mempertahankan tubuh dari serangan, masing-masing infeksi bakteri atau virus, sebaliknya, pada beberapa keadaan sistem imun bereaksi berkelebihan. Seperti pada penyakit otoimun. Penyakit defisiensi imun muncul ketika sistem imun kurang aktif daripada biasanya, menyebabkan munculnya infeksi. Defisiensi imun merupakan penyebab dari penyakit genetika, seperti severe combined immunodeficiency, atau diproduksi oleh farmaseutikal atau infeksi, seperti sindrom defisiensi imun dapatan (AIDS) yang disebabkan oleh retrovirus HIV. Penyakit autoimun menyebabkan sistem imun yang hiperaktif menyerang jaringan normal seperti jaringan tersebut merupakan benda asing. Penyakit autoimun yang umum termasuk rheumatoid arthritis, diabetes melitus tipe 1 dan lupus erythematosus.

Respon Imun Respon Imun Terbagi menjadi 2 yaitu: 1. Respon nonspesifik yaitu respon imun secara non selektif melawan bahan asing. Ini Adalah pertahanan pertama membentuk sel-sel atipikal (sel asing, mutan atau yang mengalami cidera). Contohnya: peradangan. 2. Respon imun spesifik yaitu suatu mikroba invasif yang masuk, komponenkomponen spesifik sistem imun melakukan persiapan untuk secara selektif menyerang benda asing tersebut. Sistem imun tidak saja mampu mengenali molekul asing sebagai sesuatu yang bermolekul sendiri, sel-sel sistem imun spesifik, yakni limfosit. Peradangan Adalah salah satu dari respon pertama sistem imun terhadap infeksi, adapun gejala dari peradangan adalah kemerahan dan bengkak yang di akibatkan oleh peningkatan aliran darah ke jaringan, peradangan di produksi oleh eikosanoid dan sitokin, yang dikeluarkan oleh sel yang terinfeksi atau terluka. Eikosanoid termasuk prostaglandin yang memproduksi demam dan pembesaran pembuluh darah berkaitan dengan peradangan dan leukotrin yang menarik sel darah putih. III. Pertimbangan Geriatric Kata geriatrics untuk pertama kali diberikan oleh seorang dokter Amerika, Ignaz leo Vaschers pada tahun 1909. geriatric (geriatrics = geriatric medicine) berasal dari kata-kata geros (usia lanjut) dan iateria (mengobati). Geriatri merupakan cabang gerotologi. Gerontology ini dibagi menjadi: A. Biology of aging B. Social gerontology dan C. Geriatric medicine, yang mengupas problem-problem klinis orang-orang usia lanjut:

Definisi geriatri medicine yang banyak dipakai adalah sebagai berikut: Geriatrics is the branch of general (internal) medicine concerned with the clinical, preverentive, remedial and social aspects of illiness in the elderly. Geriatri adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari masalah kesehatan pada lansia yang menyangkut aspek promotof, preventif, kuratif dan rehabilitatif serta psikososial yang menyertai kehidupan lansia. Sementara Psikogeriatri adalah cabang ilmu kedokteran jiwa yang mempelajari masalah kesehatan jiwa pada lansia yang menyangkut aspek promotof, preventif, kuratif dan rehabilitatif serta psikososiak yang menyertai kehidupan lansia. Ada 4 ciri yang dapat dikategorikan sebagai pasien Geriatri dan Psikogeriatri, yaitu: Keterbatasan fungsi tubuh yang berhubungan dengan makin meningkatnya usia Adanya akumulasi dari penyakit-penyakit degeneratif Lanjut usia secara psikososial yang dinyatakan krisis bila : a) Ketergantungan pada orang lain (sangat memerlukan pelayanan orang lain), b) Mengisolasi diri atau menarik diri dari kegiatan kemasyarakatan karena berbagai sebab, diantaranya setelah menjalani masa pensiun, setelah sakit cukup berat dan lama, setelah kematian pasangan hidup dan lain-lain. Hal-hal yang dapat menimbulkan gangguan keseimbangan (homeostasis) sehingga membawa lansia kearah kerusakan / kemerosotan (deteriorisasi) yang progesif terutama aspek psikologus yang mendadak, misalnya bingung, panik, depresif, apatis dan sebagainya. Hal itu biasanya bersumber dari munculnya stressor psikososial yang paling berat, misalnya kematian pasangan hidup, kematian sanak keluarga dekat, terpaksa berurusan dengan penegak hukum, atau trauma psikis. Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa lansia. Faktor-faktor tersebut hendaklah disikapi secara bijak sehingga para lansia dapat

menikmati hari tua mereka dengan bahagia. Adapun beberapa faktor yang dihadapi para lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka adalah sebagai berikut: 1. Penurunan Kondisi Fisik 2. Penurunan Fungsi dan Poetnsi Seksual 3. Perubahan Aspek Psikososial 4. Perubahan yang Berkaitan Dengan Perkejaan 5. Perubahan Dalam Peran Sosial di Masyarakat

SISTEM IMUN
Sistem immun adalah sebuah sebuah sistem yang diciptakan oleh Zat yang Maha Kuasa untuk melindungi mahkluknya dari 'kerusakan', <!--[if !supportLineBreakNewLine]--> <!--[endif]--> PENDAHULUAN

System imun diperlukan sebagai pertahanan tubuh terhadap infeksi. Berbagai komponen system imun bekerja sama dalam sebuah respon imun. Apabila seseorang secara imunologis terpapar pertama kali dengan antigen kemudian terpapar lagi dengan antigen yang sama, maka akan timbul respon imun sekunder yang lebih efektif. Reaksi tersebut dapat berlebihan dan menjurus ke kerusakan individu mempunyai respon imun yang

menyimpang. Kelainan yang disebabkan oleh respon imun tersebut disebut hipersensitivitas. Secara garis besar dapat digolongkan adanya dua kelompok respon imun abnormal yang berlebihan. Kelompok pertama adalah respon yang berlebihan terhadap antigen asing (hipersensitivitas) yang berakibat kerusakan jaringan, di mana kelainan ini dibagi menjadi 4 tipe reaksi hipersensitivitas dan kelompok kedua adalah respon terhadap antigen sendiri (self antigen) yang berakibatkan terjadinya penyakit autoimun Topik 1.Pengertian antigen 2.Struktur, distribusi, dan produksi antibodi 3.Interaksi antigen dan antibodi 4.Pengertian reaksi hipersensitivitas 5.Berbagai tipe reaksi hipersensitivitas 6.Mekanisme reaksi hipersensitivitas

ANTIGEN Antigen mempunyai 2 pengertian, yaitu : Suatu molekul yang dapat dikenal oleh suatu antibody atau reseptor sel T, sehingga ia bertindak sebagai target suatu respon imun, tapi belum tentu ia dapat menginduksi respon imun Molekul yang merangsang timbulnya respon imun (disebut juga imunogen)

MACAM-MACAM ANTIGEN

1.Antigen eksogen Adalah antigen yang disajikan dari luar tubuh hospes dalam bentuk mikroorganisme, tepung sari, obat-obatan, atau polutan Antigen ini bertanggung jawab terhadap suatu spectrum penyakit manusia, mulai dari

penyakit infeksi sampai ke penyakit-penyakit yang ditengahi imunologik, seperti misalnya asma bronkiale 2.Antigen endogen Adalah antigen yang terdapat dalam individu Meliputi : antigen xenogeneik (heterolog/heterogeneik), antigen idiotipik (autolog), dan antigen alogeneik (homolog) Antigen xenogeneik / heterolog / heterogeneik Adalah antigen yang terdapat dalam aneka macam spesies yang secara filogenetik tidak ada hubungannya Penting pada kedokteran klinik, karena antigen-antigen ini menimbulkan respons antibody yang berguna dalam diagnosis penyakit Antigen idiotipik / autolog Merupakan komponen tubuh sendiri Contoh : antigen-antigen spesifik immunoglobulin. Antigen alogeneik / homolog Adalah antigen yang secara genetic diatur oleh determinan antigenic yang membedakan satu individu spesies tertentu dari individu lain pada spesies yang sama Pada manusia, determinan antigenic semacam ini terdapat pada sel-sel darah merah, sel-sel darah putih, trombosit, protein serum, dan permukaan sel-sel yang menyusun jaringan tertentu dari tubuh termasuk antigen histokompatibiltas

SIFAT ANTIGENISITAS Antigenisitas adalah : Sifat zat (antigen) yang memungkinkan zat tersebut bereaksi dengan produk-produk dari respon imun spesifik, yaitu antibody atau limfosit T yang tersensitisasi spesifik Kemampuan antigen untuk berikatan secara spesifik dengan produk akhir dari suatu respon imun, di mana bisa berupa antibody atau reseptor permukaan sel IMUNOGEN Imunogen adalah :

Molekul atau gabungan molekul yang dapat merangsang timbulnya respon imun pada inang tertentu. Karena antigen mempunyai 2 pengertian, yaitu : Molekul yang merangsang timbunya respon imun (disebut juga imunogen) dan Molekul yang bereaksi dengan antibodi tanpa melihat kemampuan untuk merangsang pembentukan antibody Jadi, imunogen pasti antigen, tapi antigen belum tentu imunogen.

SIFAT IMUNOGENISITAS Adalah kemampuan suatu imunogen untuk menginduksi suatu respon imunitas pada inang tertentu, baik yang humoral maupun seluler

Faktor yang mempengaruhi imunogenitas suatu imunogen : Derajat Keasingan Sifat imun yang normal dapat membedakan mana molekul milik sendiri (self) dan mana yang molekul bukan milik sendiri (nonself) Molekul yang dikenal pada limfosit yang belum matang (immature) disebut molekul sel milik sendiri (self), sehingga tidak perlu dilawan. Molekul yang dikenal pada limfosit yang sudah matang (mature) disebut molekul sel bukan milik sendiri (nonself), sehingga perlu dilawan Sifat asing dapat terjadi jika ada perubahan konfigurasi atau komposisi substansi yang semula bukan substansi asing

Ukuran Molekul Imunogen yang paling poten adalah makromolekul protein yang mempunyai berat molekul 100.000 dalton. Jika beratnya kurang dari 100.000 dalton, maka imunogen bersifat lemah Molekul yang sangat kecil (misal, asam amino) tidak bersifat imonugenik.

Sedangkan molekul kecil tertentu (misal, hapten) dapat bersifat imonugenik hanya jika bergabung dengan protein pembawa (carrier).

Kerumitan (Kompleksitas) kimiawi dan struktural Makin kompleks susunan suatu molekul imunogen, maka makin tinggi imunogenitas substansi yang bersangkutan Contohnya, homopolimer asam amino kurang bersifat imunogenik dibandingkan dengan heteropolimer yang mengandung dua atau tiga asam amino yang berbeda Kepekaan terhadap presentasi dan pemrosesan antigen Makromolekul yang besar atau tidak larut lebih siap difagositosis, diproses dan dipresentasikan Limfosit T yang dipresentasikan atau diproses oleh antigen, kerjanya dilaksanakan oleh APC (Antigen-Precenting Cell) dengan bantuan MHC (Major Histocompatibility Complex). Enzim pada APC hanya bisa mendegradasi asam amino L, tidak bisa jika asam aminonya berbentuk D.

Tatanan genetik penjamu Dua strain binatang dari species yang sama dapat merespon secara berbeda terhadap antigen yang sama karena perbedaan komposisi gen respon imun

Dosis, cara dan waktu pemberian imunogen Karena derajat respon imun tergantung pada banyaknya imunogen yang diberikan, respon imun dapat dioptimalkan dengan cara menentukan dosis imunogen dengan cermat, cara pemberian dan waktu pemberian (termasuk interval diantara dosis yang diberikan) adalah mungkin untuk meningkatkan Respon imun dari suatu zat dapat ditingkatkan dengan menggabungkanya dengan adjuvan.

HAPTEN Hapten adalah molekul kecil yang bersifat antigenic (misalnya protein) tapi tidak imunogenik, yang bisa berikatan dengan produk respon imun tapi tidak bisa membangkitkan respon imun. Antibody atau limfosit teraktivasi yang terbentuk untuk melawan ikatan tersebut kemudian seringkali akan bereaksi secara terpisah terhadap protein atau hapten. Hapten yang menimbulkan tipe respon imun seperti ini biasanya berupa obat-obatan dengan berat molekul rendah, unsure kimiawi dalam debu, produk pemecahan ketombe dari hewan, bahan kimiawi industri , toksin dari racun tumbuh-tumbuhan yang menjalar ,dll. Hapten + Carriers imunogenik *** Keterangan : Hapten yang berikatan dengan carriers bersifat imunogenik yang disebut hapten carriers conjugate.

EPITOPE DAN DETERMINANNYA

Epitope disebut juga antigenic determinant Epitope adalah : Suatu tempat-tempat tertentu dari suatu imunogen yang sifatnya aktif, yang akan berikatan dengan antibody atau dengan reseptor spesifik pada permukaan limfosit T Posisi epitope dengan antibody harus berdekatan dan sesuai yang merupakan ikatan non kovalen. Jumlah epitop pada satu molekul antigen berbeda dengan jumlah epitop pada antigen yang lain Dari hasil penelitian bahwa imunogan sedikitnya harus memiliki 2 determinan/ 2 epitop untuk dapat merangsang pembentukan antibody.

ANTIBODI Antibody merupakan protein globulin gamma yang disebut immunoglobulin

DISTRIBUSI DAN PRODUKSI ANTIBODY -Selama perkembangan janin, prekursor limfosit berasal dari sumsum tulang, sel sel yang menempati tymus ditransformasikan oleh lingkungan organ ini menjadi limfosit yang berperan dalam kekebalan sekunder ( limfosit T ), dan transformasi limfosit B terjadi di bursa ekivalen yaitu dihati pada janin. Setelah berdiam dalam tymus dan hati, sejumlah besar limfosit B dan limfosit T bermigrasi kekelenjar limfe dan sumsum tulang. Sebagian besar pemrosesan prekursor limfosit di tymus dan bursa ekivalen serta perpindahannya ke kelenjar limfe dan jaringan lain terjadi semasa janin dan kehidupan neonatal. Namun pada dewasa, limfosit secara terus menerus dan lambat tetap dibentuk dari sel induk Bila ada antigen asing masuk, makrofag dalam jaringan limfoid akan memfagositosis antigen dan kemudian akan membawanya ke limfosit B di dekatnya Antigen tersebut dapat juga dibawa ke sel T pada saat yang bersamaan dan sel T-helper yang teraktivasi kemudian juga membantu mengaktifkan limfosit B Limfosit B yang bersifat spesifik terhadap antigen segera membesar dan tampak seperti gambaran limfoblas Beberapa limfoblas berdiferensiasi membentuk plasmablas, yang merupakan precursor dari sel plasma Dalam sel-sel ini, sitoplasma meluas dan reticulum endoplasma kasar berproliferasi dengan cepat Sel plasma yang matur kemudian menghasilkan antibody gamaglobulin dengan kecepatan tinggi, kira-kira 2000 molekul perdetik untuk setiap sel plasma Antibody yang disekresikan kemudian masuk ke dalam cairan limfe dan diangkut ke sirkulasi darah Proses ini berlanjut terus selama beberapa hari atau beberapa minggu sampai sel plasma kelelahan dan mati Pembentukan sel memory Perbedaan respon primer dan sekunder Beberapa limfoblas yang terbentuk oleh pengaktifan suatu klon limfosit B, tidak berlanjut

membentuk sel plasma, melainkan membentuk sel limfosit B baru dalam jumlah cukup. Limfosit B baru ini bersirkulasi juga ke seluruh tubuh untuk mendiami seluruh jaringan limfoid, tapi secara imunologis mereka tetap dalam keadaan dorman sampai diaktifkan lagi oleh sejumlah antigen baru yang sama Limfosit inilah yang disebut sel memori Karena adanya sel memori inilah, paparan berikutnya oleh antigen yang sama akan menghasilkan respon sekunder yang jauh lebih cepat dan lebih kuat daripada respon primer

Sifat dari respon sekunder : a.Afinitas antibody terhadap antigen makin lama makin besar b.Kompleks antigen-antibodi yang terjadi makin lama makin stabil c.Antibody yang dibentuk juga makin lama makin poliklonal sehingga makin kurang spesifik Perbedaan-perbedaan relative antara respon primer dan respon sekunder : Pembeda Respon Primer Respon Sekunder Periode laten panjang pendek Terjadinya Setelah terjadi paparan antigen 1-3 hari Angka sintesis antibodi rendah tinggi Puncak titer antibodi rendah tinggi Bertahannya titer antibodi

sebentar lama Daya gabung (afinitas) antibodi rendah tinggi Reaksi silang antibodi rendah tinggi Adanya sel memori sedikit banyak Kelas immunoglobulin yang menonjol IgM IgG

STRUKTUR ANTIBODY Semua immunoglobulin terdiri atas kombinasi rantai polipeptida berat (Heavy chains / Hchains) dan rantai polipeptida ringan (Light chains / L-chains) Kebanyakan merupakan kombinasi 2 rantai berat identik dan 2 rantai ringan identik Antara rantai yang satu dengan yang lain, berikatan melalui ikatan disulfide (S-S) 5 macam rantai berat, yaitu : Ada 3 kelompok gena yang berbeda, yang terlibat dalam produksi daerah variable rantairantai berat, yaitu : gena variable (VH), gena diversitas (D), gena joining (JH), yang bersama-sama menghasilkan spesifitas tertentu dari antibody. Pengenalan antigen yang berbeda tergantung pada V-D-J nya 2 macam rantai ringan, yaitu : Meskipun begitu ada immunoglobulin yang mempunyai kombinasi sampai 10 rantai berat dan 10 rantai ringan, misalnya IgM Dalam semua immunoglobulin, tiap rantai berat sejajar dengan satu rantai ringan pada salah satu ujungnya. Jadi membentuk satu pasangan rantai berat dan rantai ringan

Ujung setiap rantai ringan dan rantai ringan, disebut bagian yang berubah (variable segment) Sisa dari masing-masing rantai, disebut bagian yang tetap (constant segment) terdapat 2 tempat yang dapat berubah, untuk melekatnya antigen, maka antibody ini disebut bersifat bivalen Bagian yang dapat berubah tersebut berbeda-beda untuk setiap sifat antibody dan bagian inilah yang secara khusus melekat pada tipe antigen tertentu Bagian yang tetap dari antibody menentukan sifat-sifat lain dari antibody, menetapkan beberapa factor seperti penyebaran antibody dalam jaringan, pelekatan pada kompleks komplemen, antibody melewati membrane, dan sifat-sifat biologis lain dari antibody - Fragmentasi immunoglobulin oleh Papain Imunoglobulin yang diberi enzim proteolitik papain , akan terpecah menjadi 3 fragmen, yaitu : 2 fragmen Fab (antigen binding site) dan 1 fragmen Fc (fragmen yang konstan) Papain memecah Ig pada terminal asam amino di tempat ikatan S-S yang mengikat kedua rantai H satu dengan yang lain Fragmen-fragmen IgG yang dihasilkan oleh pemecahan Papain : Pembeda Fab Fc Pembentukan Dibentuk oleh domain terminal N Dibentuk oleh domain terminal C Komposisi 1.Setengah terminal amino rantai berat dan satu rantai ringanamino rantai berat dan satu rantai ringan 2.Rangkaian yang menyimpang 1.Setengah terminal karboksil dimmer rantai berat 2.Karbohidrat 3.Dapat dikristalkan (pada beberapa spesies) 4.Rangkaian asam amino konstan 5.Mengandung determinan antigenic spesifik

Fungsi Sebagai fragmen aktif antibody, yaitu mengikat antigen. Karena itu susunan asam amino di bagian ini berbeda antara molekul IgG yang satu dengan yang lain dan sangat variable sesuai dengan variabilitas antigen yang merangsang pembentukannya 1.Sebagai efektor sekunder 2.Menentukan sifat biologic Ig, seperti : Kemampuan Ig untuk melekat pada sel Fiksasi komplemen Menembus plasenta Distribusi Ig dalam tubuh dll Pemecahan dengan papain menghasilkan fragmen-fragmen antibody univalent yang dapat bergabung dengan antigen, tetapi tidak dapat mengendapkannya - Fragmentasi immunoglobulin oleh Pepsin Sedangkan enzim proteolitik lain, seperti pepsin, bekerja pada molekul IgG dengan memecah rantai berat, mulai dari ujung terminal karboksil dan maju terus ke jembatan antar rantai disulfide Pemecahan ini mengakibatkan terbentuknya fragmen besar yaitu F(ab1)2 yang memiliki 2 sisi pengikat antigen (bersifat bivalen) dan dapat mengendapkan antigen Pepsin selanjutnya dapat memecah fragmen Fc menjadi beberapa bagian kecil Keterangan : bagian molekul Ig yang peka terhadap pemecahan oleh kedua enzim di atas, disebut bagian engsel (hinge region) FUNGSI ANTIBODI Membantu imunitas melawan beberapa agen infeksi yang disebarkan melalui darah seperti bacteria, virus, parasit, dan beberapa jamur karena gamaglobulin mengandung sebagian besar antibody serum Memberi aktifitas antibody dalam jaringan Mengikat dan menghancurkan antigen, namun demikian pengikatan antigen tersebut kurang memberikan dampak yang nyata kalau tidak disertai fungsi efektor sekunder.

Fungsi efektor sekunder yang penting adalah memacu aktivasi komplemen, di samping itu merangsang pelepasan histamine oleh basofil atau mastosit dalam reaksi hipersensitivitas tipe segera VARIABILITAS ANTIBODY Immunoglobulin merupakan kumpulan protein yang sangat heterogen. Heterogenitas ini disebabkan oleh susunan asam amino yang berbeda satu dengan yang lain, yang akan mengakibatkan perbedaan struktur molekul. Hal ini selanjutnya menimbulkan variabilitas dalam determinan antigenik Ig. Keragaman antibodi tergantung pada : 1.Segmen gen V, D dan J multiple. 2.Hubungan kombinasi misalnya hubungan tiap segmen V, tiap segmen D dan Segmen J 3.Kombinasi acak rantai L dan H yang berbeda 4.Mutasi somatik 5.Keragaman junctional yang dihasilkan oleh penggabungan yang tepat selama penyusunan kembali dan mengakibatkan perubahan atau penghilangan asam amino dalam regio hipervariabel 6.Keragaman intersional, yaitu enzim deoksinukleotidil transferase ujung menyisipkan kelompok kecil nukleotida pada persilangan ( junctional ) V D dan D J ( keragaman regio N ). Variabilitas antibodi dapat digolongkan berdasarkan : 1.Variasi Isotip Pada manusia terdapat 9 isotop H chain fungsional. Sesuai dengan sub kelas Immunoglobulin. Pada orang normal dapat dijumpai 5 kelas immunoglobulin, yaitu Ig A, Ig D, Ig E, Ig G dan Ig M. Tetapi dalam satu kelas dapat dijumpai beberapa sub kelas seperti Ig G1, Ig G2, Ig G3 dan Ig G4. Karena semua bagian konstan H chain yang terdapat pada berbagai kelas dan sub kelas itu dapat djumpai pada satu orang maka bagian tersebut dinamakan varian Isotip. Sebutan varian isotip juga berlaku bagi bagian konstan L chain kappa dan lamda yang

dapat dijumpai pada semua kelas dan subkelas Ig dan terdapat pada semua orang. 2.Variasi Alotip Determinant antigen satu varian isotip imnoglobulin satu species dapat juga berbeda dengan yang lain. Perbedaan ini ditentukan secara genetik dan disebut varian Alotip. Contohnya ; golongan darah rhesus. 3.Variasi Idotip Adalah determinant Antigen yang diasosiasikan dengan reseptor binding site. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa antibodi terhadap antigen yang sama dan diproduksi oleh individu yang berbeda secara genetik, dapat memiliki idiotip yang sama. Idiotip inilah yang membedakan satu molekul imunoglobulin dengan molekul imunoglobulin yang lain dalam alotip yang sama. Variasi idiotip adalah karakterisitik bagi setiap molekul antibodi.

KLAS DAN SUBKLAS IMUNOGLOBULIN Klas Imunoglobulin Pembagian molekul imunoglobulin berdasarkan atas determinan antigen yang unik pada regio Fc dari rantai H. Pada manusia terdapat 5 ( lima ) kelas imunoglobulin yaitu ;

a.Ig A Merupakan kelas Ig kedua terbanyak dalam serum Merupakan Imunoglobulin utama pada hasil sekresi misalnya susu, saliva dan air mata serta sekresi traktus respiratorius, intestinal, dan genital. Fungsi : Imunoglobulin ini melindungi membran mukosa dari serangan bakteri dan virus. Kehadirannya dalam kolostrum dapat membantu sistem imun bayi baru lahir Membatasi absorbsi antigen yang berasal dari makanan Tiap molekul Ig A (berat molekul 400.000) terdiri dari dua unit H2 L2 dan satu molekul yang terdiri atas rantai J dan componen sekresi Komponen sekretorik ini mengikat dimer Ig A dan mempermudah trasnpornya melintasi

epitel sel epitel mucosa dengan cara endositosis Beberapa Ig A terdapat dalam serum sebagai monomer H2 L2. Terdapat sedikitnya dua sub kelas yaitu Ig A1 dan Ig A2. Beberapa bakteri ( misalnya neisseria ) dapat merusak Ig A1 dengan cara menghasilkan protease sehingga menghalangi imunitas yang diperantarai antibodi pada permukaan mukosa. Half-life = 5-6 hari

b.Ig D Konsentrasinya dalam serum sedikit, tapi dalam darah tali pusat cukup tinggi Fungsi : Bertindak sebagai reseptor antigen ketika terdapat pada permukaan limfosit B tertentu dan berperan mengawali respon imun. Keberadaannya bersama Ig M pada permukaan limfosit menimbulkan dugaan bahwa keduanya berinteraksi sebagai reseptor antigen dalam mengendalikan aktivasi dan penekanan limfosit Sifat : Lebih lentur karena punya bagian engsel yang lebih panjang sehinga dapat melakukan ikatan silang dengan antigen polivalen secara lebih efisien mungkin inilah yang menyebabkan umur Ig D pendek Sangat peka terhadap enzim proteolitik

c.Ig E Merupakan antibodi dengan jumlah sedikit (hanya 0,0004% dari kadar Ig total), tetapi merupakan antibodi yang berperanan penting dalam peristiwa alergi. Sifat : kemampuannya melekat erat pada permukaan mastosit atau basofil Regio Fc dari Ig E terikat pada reseptor pada permukaan sel mast dan basofil. Ig E yang terikat ini bertindak sebagai reseptor untuk antigen yang menstimulasi produksinya sehingga terbentuk kompleks antigen antibodi yang memicu terjadinya respon alergi tipe cepat anafilaksis ) melalui pelepasan mediator. Parasit yang dilapisi Ig E lebih mudah membunuh eosinofil

Kadar Ig E pada individu atopik lebih tinggi dibanding individu normal Pada orang dengan hipersensitivitas alergi yang diperantarai antibodi tersebut, konsentrasi Ig E meningkat dengan cepat dan Ig E dapat terdapat pada sekresi eksternal. Ig E serum juga meningkat secara tipikal selama infeksi cacing. Sel plasma yang memproduksi Ig E terdapat dalam tonsil dan sinusoid dan pada jaringan limfotik sepanjang mukosa saluran nafas dan saluran cerna

d.Ig G Pada orang normal terdiri dari sekitar 75 % dari seluruh anti bodi. Merupakan antibodi dominan pada respon sekunder dan menyusun pertahanan yang penting melawan bakteri dan virus. Paling mudah berdifusi ke dalam jaringan ekstravakular dan melakukan aktivitas antibodi di jaringan Ig G merupakan satu satunya anti bodi yang dapat melintasi plasenta. Oleh karena itu merupakan Imunoglobulin yang paling ditemukan pada bayi baru lahir. Tiap molekul Ig G terdiri dari dua rantai H yang dihubungkan oleh ikatan sulfida oleh karena itu imunoglobulin ini mempunyai dua tempat pengikatan antigen yang identik maka disebut bivalen Terdapat empat sub kelas yang dibedakan berdasarkan perbedaan antigenik dan lokasi ikatan disulfida, yaitu Ig G1, Ig G2, Ig G3, Ig G4. Ig G1 merupakan 65 % dari Ig G. Ig G2 ditujukan untuk melawan antigen polisakarida dan mungkin berperan penting dalam pertahan penjamu melawan bakteri berkapsul.

e.Ig M Antibodi yang berukuran paling besar Merupakan imunoglobulin yang diproduksi pada awal respon imunitas primer. Ig M terdapat pada permukaan semua sel B yang belum aktif. Ig M ini tersusun atas lima unit H2 L2 ( masing masing hampir sama Ig G ) dan satu molekul rantai J ( joining )

Merupakan Pentamer ( berat molekul 900.000 ) yang mempunyai total sepuluh tempat pengikatan antigen yang identik oleh karena itu disebut mempunyai valensi 10. Merupakan imunoglobulin yang paling efisien dalam proses aglutinasi dan fiksasi komplemen dan reaksi antigen antibodi lainnya serta penting juga dalam pertahanan melawan bakteri dan virus. Imunoglobulin ini dapat diproduksi oleh fetus yang terinfeksi. Menunjukkan afinitas rendah terhadap antigen dengan determinan tunggal (hapten) Karena molekul Ig M multivalen, maka Ig M dapat berinteraksi dengan antigen dengan melibatkan semua tempat pengikatan (epitope) antigen tersebut, sehingga memiliki aviditas tinggi

SubKlas Imunoglobulin Pembagian kelas imunoglobulin berdasarkan perbedaan struktur dan perbedaan antigenik pada rantai H. Pada manusia terdapat 4 (empat ) sub klas Ig G yaitu ; Ig G1, Ig G2, Ig G3, dan Ig G4 Ada 2 subklas untuk Ig A, yaitu Ig A1 dan Ig A2

<!--[if !supportLineBreakNewLine]--> <!--[endif]-->

REAKSI ANTIGEN-ANTIBODI

Pengenalan antigen A. Mekanisme pengenalan antigen Suatu antigen akan masuk ke APC (Antigen Presenting Cell), yang akan diproses dan diubah menjadi suatu potongan peptide Kemudian akan dipresentasikan bersama dengan molekul MHC (Major Histocompatibility Complex) pada permukaan membrane APC agar dapat dikenal oleh sel T

APC ini akan membantu mengantarkan antigen pada sel T Sedangkan MHC akan membantu antigen agar lebih mudah berikatan dengan limfosit T B. Faktor-faktor yang mempengaruhi mekanisme pengenalan antigen :

1)Spesifitas adalah respon yang timbul terhadap antigen, bahkan terhadap komponen structural kompleks protein / polisakarida yang berbeda, tidak sama. Bagian dari antigen tersebut yang dikenal oleh limfosit disebut determinan antigen / epitop. Spesifitas terjadi karena masing-masing limfosit mengekspresikan reseptor yang mampu membedakan struktur antigen 1 dengan yang lain walaupun itu sangat kecil. Klon limfosit dengan berbagai spesifitas terdapat pada individu yang belum tersensitasi dan mampu mengenal dan membedakan respons terhadap antigen asing.

2) Diversitas adalah jumlah total spesifitas limfosit terhadap antigen dalam 1 individu yang disebut limfosit repertoireI, sangat besar. Diduga bahwa system imun dapat membedakan sekitar 109 antigen yang berbeda. Hal ini dimungkinkan karena limfosit memiliki reseptor terhadap antigen dengan struktur yang berbeda-beda, tergantung pada antigen yang dikenalnya. Setiap klon limfosit memiliki struktur reseptor yang berbeda dari klon limfosit yang lain sehingga dengan demikian terdapat diversitas repertoire yang sangat besar

3) Afinitas Kekuatan total interaksi non kovalen antara antigen yang mengikat antibody dan epitop merupakan gaya gabungan (afinitas) dari antibody untuk epitop tersebut Antibody dengan afinitas yang rendah mengikat antigen dengan lemah dan cenderung memisah Sedangkan antibody dengan afinitas tinggi mengikat antigen dengan ketat dan sisa ikat lebih panjang

4) Aviditas Afinitas pada suatu ikatan sebenarnya tidak selalu mencerminkan kekuatan interaksi antara antibody dan antigen Ketika komplek antigen berisi berbagai factor penentu yang antigenic dan tercampur dengan antibody yang terikat, interaksi dari molekul antibody dan molekul antigen pada satu sisi akan meningkatkan kemungkinan dari reaksi kedua molekul itu pada lokasi yang kedua Kekuatan interaksi antara antibody multivalent dan antigen itulah yang disebut dengan aviditas Aviditas dari antibody lebih baik dalam mengukur terikatnya kapasitas dalam system biologi (Contohnya yaitu : reaksi antibody dengan antigenic determinan pada virus atau bakteri) dibanding afinitas Aviditas yang tinggi dapat menggantikan kerugian untuk afinitas yang rendah Ikatan dalam interaksi antigen dan antibody Interaksi antigen-antibodi adalah asosasi biomolekuler yang mirip dengan interaksi enzinsubstrat, dengan perbedaan penting : ini tidak mengarah pada perubahan kimiawi yang tidak dapat diubah lagi. Interaksi diantara antibody dan antigen meliputi berbagai macam interaksi non kovalen diantara determinan antigenic, atau epitope, antigen dan dominant wilayah variabel dari molekul antibody, khususnya wilayah-wilayah hipervariabel, atau wilayah yang menentukan pelengkap (CDR). Spesifikasi yang sangat halus dari interaksi-interaksi antigen-antibodi mengarah pada pengembangan berbagai macam kadar immunologis, kadar ini bisa digunakan untuk mendeteksi kehadiran antibody-antigen dan memainkan peranan penting dalam mendiagnosa penyakit, memantau level respon imun humoral, dan mengidentifikasikan molekul-molekul untuk kepentingan biologis atau medis. Kadar ini berbeda dalam hal kecepatan dan kepekaan mereka ; beberapa adalah sangat kualitatif dan lainnya kuantitatif. Ikatan dalam interaksi antigen antibody adalah ikatan non-kovalen jadi apabila ingin melekat letaknya harus dekat.

Beberapa macam ikatan non kovalen, yaitu : ikatan hidrofobik ikatan hydrogen * ikatan hidrogen adalah sejenis gaya tarik antarmolekul yang terjadi antara dua muatan listrik parsial dengan polaritas yang berlawanan * merupakan gaya tarik menarik elektrostatik kuat antara hidrogen pada satu molekul dengan atom N , O atau F dari molekul lain

Ikatan ionic *Ikatan ionik merupakan ikatan yang terbentuk antara unsur yang ingin membebaskan elektron dengan unsur yang ingin menerima elektron. * atau gaya tarik menari elektrostatik antara ion posiif dan ion negatif Ikatan van der waals * gaya van der waals terjadi akibat distribusi muatan yang tidak simetri