Anda di halaman 1dari 37

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Industri senjata di Indonesia dalam kurun waktu belakangan ini kurang menonjol.

Padahal senjata adalah perlengkapan wajib yang harus dimiliki oleh pihak militer dan kepolisian untuk menjaga keamanan dan mengantisipasi ancaman baik individu maupun masyarakat dan negara. Pihak militer, terutama pasukan khusus biasanya menggunakan senjata yang diimpor dari negara lain. Senjata seharusnya dibuat senyaman mungkin bagi penggunanya karena penggunaannya yang beresiko tinggi. Untuk mendesain suatu senjata yang sesuai dengan ukuran tubuh manusia maka diperlukanlah data-data anthropometri. Pada praktikum ini diperoleh data-data mengenai ukuran tubuh manusia yang dapat dijadikan acuan pembuatan desain produk (dalam hal ini pistol revolver). Desain senjata yang dibuat akan dirancang khusus bagi pengguna pribadi (personal gun) sehingga senjata tersebut harus mudah digunakan serta memiliki pengaman. Senjata pribadi bagi sebagian orang sangat penting untuk menjaga diri, terutama bagi orang-orang yang berhadapan dengan kejahatan seperti polisi dan militer. Isu yang sedang hangat saat ini adalah penyanderaan kapal Indonesia oleh perompak Somalia yang hingga laporan ini ditulis sandera masih belum dapat dibebaskan. Sebetulnya, dengan senjata yang memadai maka perompak tidak akan berani membajak kapal dan menyandera awak karena beresiko. Desain senjata yang sesuai data anthropometri diharapkan akan mampu membuat pengguna merasa nyaman karena sesuai dengan dimensi tubuh.

1.2

RUMUSAN MASALAH Rumusan masalah yang dibahas dalam praktikum anthropometri adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana mengolah data anthropometri menjadi informasi untuk membuat desain produk? 2. Data apa saja yang diperlukan dalam pembuatan desain produk pistol revolver? 3. Bagaimana menetapkan data pengukuran untuk dijadikan dimensi ukuran psitol revolver?

1.3

TUJUAN PRAKTIKUM Dalam praktikum anthropometri ini, tujuannya adalah sebagai berikut : 1. Praktikan diharapkan mampu melakukan pengukuran anthropometri manusia. 2. Mampu menggunakan data anthropometri yang ada untuk merancang suatu desain sistem maupun alat kerja yang ergonomis. 3. Mampu mengidentifikasi dan menganalisis desain rancangan kerja yang sesuai anthropometri populasi dimana rancangan kerja diterapkan. 4. Mampu mengolah data anthropometri untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam mendesain suatu sistem rancangan kerja. 5. Mampu menggunakan alat pengukur yang digunakan untuk melakukan pengukuran anthropometri manusia.

1.4

MANFAAT PRAKTIKUM Dalam praktikum diharapkan memiliki manfaat yang dapat diambil oleh praktikan.Pada praktikum analisa perancangan kerja dan ergonomi anthropometri ini, didapatkan manfaat sebagai berikut : 1. Praktikan mampu melakukan pengukuran anthropometri manusia. 2. Praktikan mampu menggunakan data anthropometri yang ada untuk merancang suatu desain sistem maupun alat kerja yang ergonomis. 3. Praktikan mampu mengidentifikasi dan menganalisis design rancangan kerja yang sesuai anthropometri populasi dimana rancangan kerja diterapkan. 4. Praktikan mampu mengolah data anthropometri untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam mendesain suatu sistem rancangan kerja. 5. Praktikan mampu menggunakan alat pengukur yang digunakan untuk melakukan pengukuran anthropometri manusia.

1.5

BATASAN MASALAH DAN ASUMSI 1.5.1 BATASAN MASALAH Dalam praktikum anthropometri batasan masalah yang digunakan adalah sebagai berikut : 1. Pengambilan data dilakukan secara langsung di Laboraturium Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ditambah dengan data dari bank data. 2. Pengolahan data anthropometri dilakukan berdasarkan modul praktikum. 3. Pengolahan data dengan perhitungan-perhitungan matematik dan statistik.
3

4. Perhitungan Normalitas data menggunakan software SPSS. 1.5.2 ASUMSI Dalam praktikum anthropometri ini digunakan asumsiasumsi sebagai berikut : 1. Data yang diperoleh dianggap cukup akurat. 2. Praktikan dianggap telah mampu melakukan pengukuran anthropometri. 3. Alat ukur yang digunakan dianggap akurat dan memenuhi standar.

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Anthropometri adalah pengetahuan yang menyangkut pengukuran tubuh manusia khususnya dimensi tubuh dan aplikasi yang menyangkut geometri fisik, massa, dan kekuatan tubuh manusia. Permasalahan variasi dimensi anthropometri seringkali menjadi faktor dalam menghasilkan rancangan yang fit untuk pengguna. Dimensi tubuh manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor yang harus menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan sampel data yang akan diambil. Faktor-faktor tersebut adalah : 1. Umur Ukuran tubuh manusia akan berkembang dari saat lahir sampai sekitar 20 tahun untuk pria dan 17 tahun untuk wanita. Ada kecenderungan berkurang setelah 60 tahun. 2. Jenis kelamin Pria pada umumnya memiliki dimensi tubuh yang lebih besar kecuali bagian dada dan pinggul. 3. Rumpun dan Suku Bangsa 4. Sosial-ekonomi dan konsumsi gizi yang diperoleh. 5. Pekerjaan, aktivitas sehari-hari juga berpengaruh 6. Saat pengukuran Anthropometri dibagi atas dua bagian, yaitu: 1. Pengukuran Statis Pengukuran manusia pada posisi diam dan linier pada permukaan tubuh.

2. Anthropometri Dinamis Yang dimaksud dengan anthropometri dinamis adalah pengukuran keadaan dan cirri-ciri fisik manusia dalam keadaan bergerak atau memperhatikan gerakan- gerakan yang mungkin terjadi saat pekerja tersebut melaksanakan kegiatannya. 2.2 Aplikasi Data Anthropometri pada Perancangan Produk Anthropometri secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan-pertimbangan ergonomis dalam interaksi manusia. Data anthropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luas antara lain dalam hal : 1. Perancangan areal kerja (work station ) 2. Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas (tools) dan sebagainya. 3. Perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian, kursi / meja komputer dan lain-lain. 4. Perancangan lingkungan kerja fisik. Dalam hal ini ada dua dimensi rancangan yang akan dijadikan dasar untuk menentukan poin minimum dan/atau maksimum ukuran yang umum ingin diterapkan, yaitu (Wignjosoebroto,2000): 1. Dimensi jarak ruangan (clearance dimension), yaitu dimensi yang diperlukan orang untuk dengan leluasa melaksanakn aktivitas dalam sebuah stasiun kerja baik pada saat mengoperasikan maupun harus melakukan perawatan dari fasilitas kerja yang ada. 2. Dimensi jarak jangkauan (reach dimension), yaitu dimensi yang diperlukan untuk menentukan maksimum ukuran yang harus ditetapkan agar mayoritas populasi mampu menjangkau dan megoperasikan peralatan kerja secara mudah dan tidak memerlukan usaha yang terlalu memaksa.

Agar rancangan suatu produk nantinya bisa sesuai dengan ukuran tubuh manusia yang akan mengoperasikannya, maka yang harus diambil dalam aplikasi data anthropometri tersebut harus ditetapkan terlebih dahulu seperti diuraikan dalam uraian di bawah ini (Wignjosoebroto,2000): 1. Prinsip perancangan produk bagi individu dengan ukuran ekstrim. Disini rancangan produk dibuat agar bisa memenuhi dua sasaran produk,yaitu: a. Sesuai bagi tubuh manusia yang mengikuti klasifikasi ekstrim dalam arti terlalu besar atau terlalu kecil bila dibandingkan dengan rata-ratanya. b. Tetap bisa digunakan untuk ukuran tubuh manusia yang lain (mayoritas populasi yang ada). 2. Prinsip perancangan produk yang bisa dioperasikan di antara rentang ukuran tertentu. Disini rancangan dapat diubah-ubah ukurannya sehingga cukup fleksibel dioperasikan oleh setiap orang yang memiliki berbagai macam ukuran tubuh. Dalam kaitannya untuk mendapatkan desain yang fleksibel semacam ini maka data anthropometri yang umum diaplikasikan adalah dalam rentang nilai persentil 5 sampai dengan 95. 3. Prinsip perancangan produk dengan ukuran rata-rata. Dalam hal ini rancangan produk didasarkan terhadap rata-rata ukuran manusia. Disini produk dirancang dan dibuat untuk ukuran mereka yang berukuran rata- rata. Sedangkan bagi mereka yang mempunyai ukuran ekstrim akan dibuatkan rancangan tersendiri. 2.3 Metode Perancangan dengan Anthropometri (Anthropometric Method) Tahapan perancangan sistem kerja menyangkut work space design dengan memperhatikan faktor anthropometri secara umum adalah sebagai berikut (Roebuck, 1995):
7

1. Menentukan tujuan perancangan dan kebutuhannya (establish requirement) 2. Mendefinisikan dan mendeskripsikan populasi pemakai 3. Pemilihan sampel yang akan diambil datanya 4. Penentuan kebutuhan data (dimensi-dimensi system kerja yang akan dirancang) 5. Penentuan sumber data (dimensi tubuh yang akan diambil) dan pemilihan persentil yang akan dipakai 6. Penyiapan alat ukur anthropometri 7. Pengambilan data 8. Pengolahan data 1. Uji kenormalan data. 2. Uji keseragaman data. BKA = + k BKB = - k = Standar Deviasi. =

3. Uji kecukupan data.

N = |

N = Jumlah pengamatan yang seharusnya di lakukan. K = Tingkat kepercayaan = 95%, sehinggga k = 1,92 = 2. S = Derajat ketelitian dalam pengamatan (5%). N = Jumlah pengamatan yang sudah di lakukan. Apabila N < N maka pengamatan dinyatakan cukup.

4. Perhitungan persentil Data (Persentil kecil, rata-rata, dan besar). P5 = P50 = P95 = + 1,645 9. Visualisasi rancangan, dengan memperhatikan : 1. Posisi tubuh secara normal 2. Kelonggaran (pakaian dan ruang) 3. Variasi gerak 10. Analisis hasil rancangan 2.4 Aplikasi Data Anthropometri pada Perancangan Dimensi Stasiun Kerja Industri 1. Dimensi Stasiun Kerja untuk Operator Duduk Operasi industri yang biasanya dilakukan dalam keadaan duduk ditujukan untuk meningkatkan produktivitas pekerja dengan memaksimasi gerakan efektif, mengurangi kelelahan pekerja, dan meningkatkan stabilitas pekerja. Dalam perancangan stasiun kerja duduk, tinggi meja kerja yang disarankan adalah sekitar 2 inchi di bawah siku. Untuk menetapkan area kerja pada stasiun kerja duduk, terdapat dua metode yang biasa digunakan, yaitu metode Farley dan metode Squires. 2. Dimensi Stasiun Kerja untuk Operator Berdiri Posisi berdiri untuk operator tidak begitu disukai, tetapi sering diperlukan. Hal ini terutama untuk pekerjaan yang memerlukan: 1. Penanganan yang sering terhadap obyek yang berat 2. Jangkauan jauh yang sering dilakukan
9

+ 1,645

3. Mobilitas untuk bergerak di sekitar stasiun kerja Untuk perancangan stasiun kerja berdiri, data anthropometri yang dibutuhkan adalah: E = tinggi bahu A = tinggi tubuh L = tinggi siku C = tinggi mata

10

BAB III PENGUMPULAN DATA DAN PENGOLAHAN DATA 3.1 Pegumpulan Data Dalam praktikum anthropometri, dilakukan dimensi tubuh dengan data sebagai berikut :

pengukuran

PENGUKURAN ANTHROPOMETRI STATIS / DIMENSI TUBUH NAMA : SUKRIYADI UMUR JENIS KELAMIN SUKU BANGSA : 20 TAHUN : LAKI-LAKI : INDONESIA

Tabel 3.1 Data Hasil Pengukuran Hasil No. Pengukuran Data Yang Diukur Tinggi duduk tegak Tinggi duduk normal Tinggi mata duduk Tinggi bahu duduk 1. Posisi duduk samping Tinggi siku duduk Tinggi sandaran punggung Tinggi pinggang Tebal perut duduk Tebal paha Tinggi popliteal Pantat popliteal Pantat ke lutut Lebar bahu 2. Posisi duduk menghadap kedepan Lebar pinggul Lebar sandaran duduk Lebar pinggang Siku ke siku Simbol tdt tdn tmd tbd tsd tsp tpg tpd tp tpo pp pkl lb lp lsd lpg sks Pengukuran (cm) 90,6 87 76,1 59,1 26,3 50,3 19,4 16,3 17,2 42,4 43,9 50,8 40,7 27,3 15,8 23,6 52,7

11

Tinggi badan tegak Tinggi mata berdiri Tinggi bahu berdiri Tinggi siku berdiri Tinggi pinggang berdiri Jangkauan tangan ke atas Panjang lengan bawah Tinggi lutut berdiri Tebal dada berdiri Tebal perut berdiri Berat badan 4. Posisi berdiri dengan tangan lurus kedepan Posisi berdiri dengan kedua tangan direntangkan Jangkauan tangan ke depan

tbt tmb tbhb tsb tpgb jta plb tlb tdb tpb bb jtd

166 152,9 135,8 105 98 208,5 26,6 46,2 18,4 20 52 kg 74

3.

Posisi berdiri

5.

Rentangan tangan

rt

172,2

Panjang jari 1 Panjang jari 2 Panjang jari 3 Panjang jari 4 6. Jari tangan Panjang jari 5 Pangkal ke tangan Lebar jari 2,3,4,5 Lebar tangan Panjang telapak tangan

pj 1 pj 2 pj 3 pj 4 pj 5 pkt lj lt ptt

5 7 7,5 6,4 5,6 9,4 7,8 9,9 17,6

12

Panjang telapak kaki Panjang telapak lengan kaki Panjang kaki sampai jari kelingking Lebar kaki 7. Dimensi kaki Lebar tangkai kaki Tinggi mata kaki Tinggi bagian tengah telapak kaki Jarak horisontal tangkai mata kaki Panjang kepala Lebar kepala Diameter maksimum dari dagu Dagu ke puncak kepala Telinga ke puncak kepala Telinga ke belakang kepala Antara dua telinga Mata ke belakang kepala Mata ke puncak kepala Antara dua pupil mata Hidung ke puncak kepala Hidung ke belakang kepala Mulut ke puncak kepala Lebar mulut

ptk plk pkjk lk ltk tmk tttk

25,2 19,8 20,7 9,3 5,4 9,4 6,9

jtmk pkp lkp dmd dkp tpk tbk adt mbk mpk apm hpk hbk mpk lm

4 31,6 32,9 17 24,5 19,6 13 32,5 20,2 10,2 6,6 17,1 27 18,7 5,5

8.

Dimensi kepala

13

Tk Tlh Tpu Tpl 9. Bentuk tubuh Pk Plh Ppl Ppb Km Ppt

72 56 29,5 7 2,7 7 6,5 10,7 7,7 16,4

Selanjutnya untuk pembuatan desain produk sebuah pistol jenis revolver, maka data yang diperlukan adalah lebar tangan, jangkauan tangan ke depan, panjang jari 1, panjang jari 2, lebar jari 2, 3, 4, 5, dan panjang telapak tangan. Data yang diperlukan sebagai berikut: Tabel 3.2 Bank Data No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Nama Eddie Prabowo Yudi Budi Sasongko Rachmad Jum Syam Amana Dila Sari Vikky Yudha Prasetya Wiyan Kokoh Kurniawan Candra Dewi lt 11 12.6 12.8 12.9 13 13 13 13.2 13.2 13.2 13.3 13.3 13.3 13.3 13.3 13.3 13.3 13.4 13.4 jtd 85 70 75 75 76 76.5 77 77 78 78 78 78.5 78.5 79 79.5 80 80 80 81 pj 1 6.5 7 7.2 7.3 7.4 7.4 7.4 7.6 7.6 7.6 7.7 7.7 7.7 7.7 7.7 7.7 7.7 7.8 7.8 pj 2 8.7 9 9.2 9.3 9.4 9.4 9.4 9.6 9.6 9.6 9.7 9.7 9.7 9.7 9.7 9.7 9.7 9.8 9.8 lj 8 11.1 11.3 11.4 11.5 11.5 11.5 11.7 11.7 11.7 11.8 11.8 11.8 11.8 11.8 11.8 11.8 11.9 11.9 ptt 19.2 17.6 17.8 17.9 18 18 18 18.2 18.2 18.2 18.3 18.3 18.3 18.3 18.3 18.3 18.3 18.4 18.4
14

20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

Nani Ayu Iwan Suparjo Yudhan Nuswantoro Fauzia Ratih Maya Annas Yoga Sukri

13.4 13.4 13.5 13.5 13.5 13.5 13.5 13.5 13.5 13.5 13 9.9

81 83 85 86 86 86 88 89 89 89.5 90.5 74

7.8 7.8 7.9 7.9 7.9 7.9 7.9 7.9 7.9 7.9 7.4 5

9.8 9.8 9.9 9.9 9.9 9.9 9.9 9.9 9.9 9.9 9.4 7

11.9 11.9 12 12 12 12 12 12 12 12 11.5 7.8

18.4 18.4 18.5 18.5 18.5 18.5 18.5 18.5 18.5 18.5 18 17.6

3.2 Pengolahan Data 3.2.1 Uji Normalitas Dari data yang didapat berdasarkan pengukuran anthropometri, dilakukan uji normalitas data dengan menggunakan SPSS dan didapat hasil sebagai berikut : 1. Lebar Tangan

Tabel 3.3 Uji Normalitas Lebar Tangan


Test of Normality Kolmogorov-Smirnov Statistic LebarTangan .296 Df 31
a

Shapiro-Wilk Statistic .538 df 31 Sig. .000

Sig. .000

a. Lilliefors Significance Correction

Pada

tabel

Kolmogorov-Smirnov

didapat

nilai

signifikansi 0.000 dan pada tabel Shapiro-Wilk didapat nilai signifikansi 0.000.

15

2. Jangkauan Tangan Ke Depan Tabel 3.4 Uji Normalitas Jangkauan Tangan Ke Depan
Test of Normality Kolmogorov-Smirnov Statistic JTD .152 Df 31
a

Shapiro-Wilk Statistic .954 df 31 Sig. .196

Sig. .067

a. Lilliefors Significance Correction

Pada

tabel

Kolmogorov-Smirnov

didapat

nilai

signifikansi 0.067 dan pada tabel Shapiro-Wilk didapat nilai signifikansi 0.196. 3. Panjang Jari 1

Tabel 3.5 Uji Normalitas Panjang Jari 1


Test of Normality Kolmogorov-Smirnov Statistic PJ1 .261 df 31
a

Shapiro-Wilk Statistic .606 df 31 Sig. .000

Sig. .000

a. Lilliefors Significance Correction

Pada

tabel

Kolmogorov-Smirnov

didapat

nilai

signifikansi 0.000 dan pada tabel Shapiro-Wilk didapat nilai signifikansi 0.000.

16

4. Panjang jari 2 Tabel 3.6 Uji Normalitas panjang jari 2


Test of Normality Kolmogorov-Smirnov Statistic PJ2 .261 df 31
a

Shapiro-Wilk Statistic .600 df 31 Sig. .000

Sig. .000

a. Lilliefors Significance Correction

Pada tabel Kolmogorov-Smirnov didapat nilai signifikansi 0.000 dan pada tabel Shapiro-Wilk didapat nilai signifikansi 0.000 5. Lebar jari 2, 3, 4, 5

Tabel 3.7 Uji Normalitas Lebar Jari 2, 3, 4, 5


Test of Normality Kolmogorov-Smirnov Statistic LJ .334 df 31
a

Shapiro-Wilk Statistic .469 df 31 Sig. .000

Sig. .000

a. Lilliefors Significance Correction

Pada tabel Kolmogorov-Smirnov didapat nilai signifikansi 0.000 dan pada tabel Shapiro-Wilk didapat nilai signifikansi 0.000.

17

6. Panjang telapak tangan

Tabel 3.8 Uji Normalitas Panjang Telapak Tangan


Test of Normality Kolmogorov-Smirnov Statistic PTT .199 df 31
a

Shapiro-Wilk Statistic .899 df 31 Sig. .007

Sig. .003

a. Lilliefors Significance Correction

Pada tabel Kolmogorov-Smirnov didapat nilai signifikansi 0.003 dan pada tabel Shapiro-Wilk didapat nilai signifikansi 0.007. 3.2.2 Uji Kecukupan Data Dari data yang diperoleh dalam praktikum anthropometri, digunakan enam data yang dignakan untuk membuat desain senapan. Dari keenam data tersebut dilkukan pengujian kecukupan data sebagai berikut : 1. Lebar Tangan N = |

N = |

N = 5,131 sampel

18

2. Jangkauan Tangan Ke Depan N = |

N = |

N = 6,448 sampel. 3. Panjang Jari 1 N = |

N = |

N = 8,694 sampel. 4. Panjang Jari 2 N = |

N = |

N = 5,21 sampel. 5. Lebar Jari 2,3,4,5 N = |

19

N = |

N = 11,501 sampel.

6. Panjang Telapak Tangan N = |

N = |

N = 0,452 sampel. 3.2.3 Uji Keseragaman Data Berdasarkan data yang didapat dari pengukuran anthropometri, maka dilakukan uji keseragaman data sebagai berikut : 1. Lebar Tangan BKA = + k = 13,081 cm + 2(0,753) = 14,587 cm BKB = - k = 13,081 cm -2(0,753) = 11,575 cm

20

2. Jangkauan Tangan Ke Depan BKA = + k = 80,935 cm + 2(5,223) = 91,381 cm BKB = - k = 80,935 cm 2(5,223) =70,49 cm 3. Panjang jari 1 BKA = + k = 7,539 cm + 2 (0,565) = 8,669 cm BKB = - k = 7,539 cm - 2 (0,565) = 6.409 cm 4. Panjang jari 2 BKA = + k = 9,545 cm + 2(0,554) = 10,653 cm BKB = - k = 9,545 cm - 2(0,554) = 8,438 cm

21

5. Lebar Jari 2,3,4,5 BKA = + k = 11,513 cm + 2(0,992) = 13,497 cm BKB = - k = 11,513 cm - 2(0,992) = 9,528 cm 6. Panjang Telapak Tangan BKA = + k = 18,271cm + 2(0,312) = 18,895 cm BKB = - k = 18,271 cm - 2(0,312) = 17,647 cm

22

Dari perhitungan batas kontrol atas dan batas kontrol bawah maka dapat dibuat grafik peta kontrol sebagai berikut : 1. Peta Kontrol Lebar Tangan Peta Kontrol
15.00 14.00 13.00 cm 12.00 11.00 10.00 1 4 7 10 13 16 19 22 25 28 31 BKA LT BKB

Grafik 3.1 Peta Kontrol LT

2. Peta Kontrol Jangkauan Tangan Ke Depan Peta Kontrol


100.00 90.00 80.00 cm 70.00 60.00 50.00 1 4 7 10 13 16 19 22 25 28 31 BKA JTD BKB

Grafik 3.2 Peta Kontrol JTD

23

3. Peta Kontrol Panjang Jari 1 Peta Kontrol


9.00 8.00 7.00 cm 6.00 5.00 4.00 3.00 1 4 7 10 13 16 19 22 25 28 31 BKA PJ 1 BKB

Grafik 3.3 Peta Kontrol PJ1

4. Peta Kontrol Panjang Jari 2

Peta Kontrol
11 10 9 cm 8 7 6 5 1 4 7 10 13 16 19 22 25 28 31 BKA PJ 2 BKB

Grafik 3.4 Peta Kontrol PJ2

5. Peta kontrol lebar jari 2, 3, 4, 5 Peta Kontrol


15.00 13.00 11.00 cm 9.00 7.00 5.00 1 4 7 10 13 16 19 22 25 28 31 BKA LJ BKB

Grafik 3.5 Peta Kontrol LJ 24

6. Peta Kontrol Panjang Telapak Tangan Peta Kontrol


19.50 19.00 18.50 cm 18.00 17.50 17.00 16.50 1 4 7 10 13 16 19 22 25 28 31 BKA PTT BKB

Grafik 3.6 Peta Kontrol PTT

3.2.4

Perhitungan Percentil 1. Lebar Tangan Percentil 5 P5 = - 1,645 = 13,081cm 1,645 (0,753) = 11,842 cm Percentil 50 P50 = = 13,081 cm Percentil 95 P95 = + 1,645 = 13,081 cm + 1,645(0,753) = 14,319 cm

25

2. Jangkauan Tangan Ke Depan Percentil 5 P5 = - 1,645 = 80,935 cm 1,645(5,223) = 72,344 cm Percentil 50 P50 = = 80,935 cm Percentil 95 P95 = + 1,645 = 80,935 cm + 1,645 (5,223) = 89,527cm 3. Panjang Jari 1 Percentil 5 P5 = - 1,645 = 7,539 cm 1,645(0,565) = 6,609 cm Percentil 50 P50 = = 7,539 cm Percentil 95 P95 = + 1,645 = 7,539 cm + 1,645 (0,565) = 8,468 cm

26

4. Panjang Jari 2 Percentil 5 P5 = - 1,645 = 9,545 cm - 1,645(0,554) = 8,634 cm Percentil 50 P50 = = 9,545 cm Percentil 95 P95 = + 1,645 = 9,545 cm + 1,645 (0,554) = 10,456 cm 5. Lebar Jari 2,3,4,5 Percentil 5 P5 = - 1,645 = 11,513 cm 1,645(0,992) = 9,881 cm Percentil 50 P50 = = 11,513 cm Percentil 95 P95 = + 1,645 = 11,50 cm + 1,645 (0,992) = 13,145 cm

27

6. Panjang Telapak Tangan Percentil 5 P5 = - 1,645 = 18,271 cm 1,645(0,312) = 17,757 cm Percentil 50 P50 = = 18,271 cm Percentil 95 P95 = + 1,645 = 18,271 cm + 1,645(0,312) = 18,785 cm

28

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Uji Normalitas Data Berdasarkan data pengukuran yang dipakai sebagai dasar pembuatan desain produk, dilakukan analisis uji normalitas sebagai berikut: Hipotesis pada praktikum: H0: Data berdistribusi normal H1: Data tidak berdistribusi normal Dasar Pengambilan Keputusan Syarat pengambilan keputusan dari data adalah sebagai berikut : Jika nilai signifikasi > 0,05 maka H 0 diterima Jika nilai signifikasi < 0,05 maka H 0 ditolak 1. Lebar Tangan Berdasarkan Test of Normality tabel Kolmogorov Smirnov didapat nilai signifikansi untuk lebar tangan (lt) adalah 0,000. Karena kurang dari 0,05 maka H0 ditolak dan dinyatakan data berdistribusi tidak normal. 2. Jangkauan Tangan Ke Depan Berdasarkan Test of Normality tabel Kolmogorov Smirnov didapat nilai signifikansi untuk jangkauan tangan ke depan (jtd) adalah 0,067. Karena lebih dari 0,05 maka H0 diterima dan dinyatakan data berdistribusi normal. 3. Panjang Jari 1 Berdasarkan Test of Normality tabel Kolmogorov Smirnov didapat nilai signifikansi untuk panjang jari 1 (pj 1) adalah 0,000.

29

Karena kurang dari 0,05 maka H0 ditolak dan dinyatakan data berdistribusi tidak normal. 4. Panjang Jari 2 Berdasarkan Test of Normality tabel Kolmogorov Smirnov didapat nilai signifikansi untuk panjang jari 2 (pj 2) adalah 0,000. Karena kurang dari 0,05 maka H0 ditolak dan dinyatakan data berdistribusi tidak normal. 5. Lebar Jari 2,3,4,5 Berdasarkan Test of Normality tabel Kolmogorov Smirnov didapat nilai signifikansi untuk lebar jari 2,3,4,5 (lj) adalah 0,000. Karena kurang dari 0,05 maka H0 ditolak dan dinyatakan data berdistribusi tidak normal. 6. Panjang Telapak Tangan Berdasarkan Test of Normality tabel Kolmogorov Smirnov didapat nilai signifikansi untuk panjang telapak tangan (ptt) adalah 0,003. Karena kurang dari 0,05 maka H0 ditolak dan dinyatakan data berdistribusi tidak normal. 4.2 Uji Kecukupan Data Pada data yang diperoleh dalam pengukuran anthropometri, dilakukan uji kecukupan data sebagai berikut : 1. Lebar Tangan Dalam uji keseragaman data diperoleh besarnya jumlah pengamatan yang seharusnya dilaksanakan (N) adalah 5,131. Maka dapat disimpulkan bahwa data sampel telah cukup karena N tidak lebih dari 31.

30

2. Jangkauan Tangan Ke Depan Dalam uji keseragaman data diperoleh besarnya jumlah pengamatan yang seharusnya dilaksanakan (N) adalah 6,448. Maka dapat disimpulkan bahwa data sampel telah cukup karena N tidak lebih dari 31. 3. Panjang Jari 1 Dalam uji keseragaman data diperoleh besarnya jumlah pengamatan yang seharusnya dilaksanakan (N) adalah 8,694. Maka dapat disimpulkan bahwa data sampel telah cukup karena N tidak lebih dari 31. 4. Panjang Jari 2 Dalam uji keseragaman data diperoleh besarnya jumlah pengamatan yang seharusnya dilaksanakan (N) adalah 5,21. Maka dapat disimpulkan bahwa data sampel telah cukup karena N tidak lebih dari 31. 5. Lebar Jari 2,3,4,5 Dalam uji keseragaman data diperoleh besarnya jumlah pengamatan yang seharusnya dilaksanakan (N) adalah 11,501. Maka dapat disimpulkan bahwa data sampel telah cukup karena N tidak lebih dari 31. 6. Panjang telapak tangan Dalam uji keseragaman data diperoleh besarnya jumlah pengamatan yang seharusnya dilaksanakan (N) adalah 0,452. Maka dapat disimpulkan bahwa data sampel telah cukup karena N tidak lebih dari 31.

31

4.3 Uji Keseragaman Data Berdasarkan 1. Lebar Tangan Pada uji keseragaman data lebar tangan didapatkan dua data yang melewati batas kontrol bawah. Hal ini dapat terjadi karena data yang keluar dari batas kontrol tersebut cenderung ekstrem. Ukuran yang ekstrem tersebut berasal dari data orangorang yang ukuran lebar tangannya di bawah rata-rata ukuran lebar tangan sampel yang lain. 2. Jangkauan Tangan Ke Depan. Pada uji keseragaman data jangkauan tangan ke depan didapatkan satu buah data yang melewati batas kontrol bawah. Hal ini dapat terjadi karena data yang keluar dari batas kontrol tersebut cenderung ekstrem. Ukuran yang ekstrem tersebut berasal dari data seseorang yang ukuran jangkauan tangan ke depannya di bawah rata-rata ukuran jangkauan tangan ke depan sampel yang lain. 3. Panjang jari 1. Pada uji keseragaman data pangjang jari 1 didapatkan satu buah data yang melewati batas kontrol bawah. Hal ini dapat terjadi karena data yang keluar dari batas kontrol tersebut cenderung ekstrem. Ukuran yang ekstrem tersebut berasal dari data seseorang yang ukuran ibu jarinya di bawah rata-rata ukuran ibu jari sampel yang lain. 4. Panjang jari 2 Pada uji keseragaman data panjang jari 2 didapatkan satu buah data yang melewati batas kontrol bawah. Hal ini dapat
32

data

yang

diperoleh

dalam

pengukuran

anthropometri, dilakukan uji keseragaman data sebagai berikut:

terjadi karena data yang keluar dari batas kontrol tersebut cenderung ekstrem. Ukuran yang ekstrem tersebut berasal dari data seseorang yang ukuran jari telunjuknya di bawah rata-rata ukuran jari telunjuk sampel yang lain. 5. Lebar jari 2,3,4,5 Pada uji keseragaman data lebar jari 2,3,4,5 didapatkan dua buah data yang melewati batas kontrol bawah. Hal ini dapat terjadi karena data yang keluar dari batas kontrol tersebut cenderung ekstrem. Ukuran yang ekstrem tersebut berasal dari data orang-orang yang ukuran lebar jari telunjuk, tengah, manis, dan kelingkingnya di bawah rata-rata ukuran lebar jari-jari sampel yang lain. 6. Panjang telapak tangan Pada uji keseragaman data panjang telapak tangan didapatkan dua buah data yang melewati batas kontrol bawah dan satu buah data yang melewati batas kontrol atas. Hal ini dapat terjadi karena data yang keluar dari batas kontrol tersebut cenderung ekstrem. Ukuran yang ekstrem tersebut berasal dari data seseorang yang ukuran panjang telapak tangannya di bawah rata-rata ukuran telapak tangan sampel yang lain. 4.4 Perhitungan percentile Dalam pengukuran anthropometri yang digunakan untuk mendesain produk, persentil yang digunakan adalah 5%, 50%, dan 95%. Sedangkan data-data yang akan digunakan, diperoleh dari variabel di bawah ini: 1. Lebar tangan 2. Jangkauan tangan ke depan
33

3. Panjang jari 1 4. Panjang jari 2 5. Lebar jari 2,3,4,5 6. Panjang telapak tangan Dengan data-data di atas maka ditentukan ukuran produk produk (revolver) dengan mengunakan ukuran persentil menggunakan prinsip anthropometri, sehingga akan diperoleh ukuran yang sesuai dengan dimensi penembak. 4.5 Analisis Produk 4.5.1 Alasan Pemilihan Produk Pistol merupakan senjata nomor 2 sebagai cadangan dari senjata utama, yaitu senapan. Namun bukan berarti pistol senjata yang tidak penting. Dalam berbagai pertempuran, pistol masih sering digunakan sebagai senjata utama karena ukurannya yang kecil dan lebih ringan dari berbagai senapan lain. Ukurannya yang kecil membuat pistol tidak memerlukan ruang yang luas untuk disimpan, oleh karena itu desain pistol yang baik akan membuat pistol mudah digunakan dan disimpan serta nyaman digunakan bagi penembak. Pistol yang masih sering digunakan adalah jenis revolver 8 peluru atau 6 peluru. Pistol ini cenderung bersifat klasik karena mirip dengan pistol cowboy dan di sanalah daya tarik untuk mendesain pistol klasik ini. 4.5.2 Alasan Pemilihan Dimensi Dimensi yang digunakan dalam pembuatan desain produk ini meliputi enam dimensi anthropometri diantaranya adalah sebagai berikut:

34

1.

Lebar Tangan Dimensi ini merupakan ukuran lebar dari tangan untuk menentukan panjang gagang pistol yang akan dibuat.

2.

Jangkauan Tangan Ke Depan Dimensi ini merupakan ukuran panjang tangan ke depan dan identik dengan cara menembak seseorang dengan pistol. Data ini diperlukan untuk mengukur panjang laras pistol agar tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek, juga untuk menentukan seberapa besar ledakan mesiu sehingga serbuknya tidak terhirup ketika menembak.

3.

Panjang jari 1 Dimensi ini adalah panjang ibu jari. Dimensi ini digunakan sebagai ukuran untuk pelatuk pistol revolver.

4.

Panjang jari 2 Dimensi ini adalah panjang jari telunjuk yang digunakan oleh penembak untuk menarik picu pistol revolver.

5.

Lebar jari 2,3,4,5 Dimensi ini adalah lebar dari telapak tangan yang dihitung dari jari telunjuk. Dimensi ini digunakan sebagai tebal gagang pistol.

6.

Panjang telapak tangan Dimensi ini adalah panjang dari telapak tangan dari pergelangan hingga pangkal ruas jari. Ukuran ini digunakan untuk menentukan panjang pistol revolver.

35

4.5.3

Alasan Pemilihan Percentile Pemilihan persentil 50 pada produk senapan dimaksudkan agar pistol ini dapat digunakan oleh rata-rata penembak. Bagi yang memiliki tubuh di atas persentil 50 dapat menyesuaikan untuk posisi pistol saat menembak dan juga bagi penembak yang ukuran tubuhnya dibawah persentil 50 pun juga tidak terlampau jauh dalam penyesuaian posisi tubuh saat menembak.

4.5.4

Gambar produk

Gambar 4.1 Gambar Desain Pistol Revolver

36

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 KESIMPULAN 1. Data yang didapatkan berasal dari pengukuran langsung dan ditambah data dari bank data. Data tersebut diolah untuk membuat desain produk dengan melakukan pengujian terhadap kecukupan normalitas data. 2. Data yang digunakan dalam membuat desain produk pistol revolver yaitu: a. Lebar Tangan. b. Jangkauan tangan kedepan. c. Panjang jari 1. d. Panjang jari 2. e. Lebar jari 2,3,4,5. f. Panjang telapak tangan. 3. Penetapan dimensi ukuran senapan dilakukan dengan perhitungan persentil 5, 50, dan 95, kemudian ditetapkan percentil 50 yang digunakan dalam dimensi ukuran pistol. 5.2 SARAN 1. Penggaris pada kursi anthropometri sebaiknya digunakan, karena sewaktu praktikum yang digunakan bukan penggaris yang ada pada kursi anthropometri. 2. Penggarisnya ditambah sehingga praktikan tidak perlu menggunakan penggarisnya sendiri. data, keseragaman data, dan uji

37