Anda di halaman 1dari 21

Manajemen Tanaman Perkebunan

KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PERKEBUNAN TEBU DAN INDUSTRI GULA DI INDONESIA

Kelompok I

Latar Belakang Kebijakan Pemerintah Terhadap Gula


Sebagai salah satu industri manufaktur yang tertua, industri gula Indonesia pernah mencapai jaman keemasan pada tahun sekitar 1930-an dengan menjadi eksportir gula terbesar kedua di dunia setelah Kuba. Namun perkembangan selanjutnya industri gula Indonesia lambat laun mengalami degradasi struktural dan sulit untuk bangkit kembali, hingga pada akhirnya Indonesia menjadi salah satu importir gula terpenting di dunia saat ini. kekhawatiran terhadap masa depan kemandirian pangan gula Indonesia.

Sejak liberalisasi perdagangan diberlakukan pada tahun 1998 hingga tahun 2002, ketergantungan impor gula Indonesia telah mencapai 47 persen per tahun. Kondisi tersebut tentu saja menimbulkan kekhawatiran terhadap masa depan kemandirian pangan gula Indonesia.

Latar Belakang Kebijakan Pemerintah Terhadap Gula


Kemundurun produksi gula domestik terutama disebabkan oleh menurunnya produktivitas dan efisiensi industri gula secara keseluruhan, mulai dari pertanaman (tebu) hingga pabrik gula. Rendahnya produktivitas tanaman tebu rakyat disebabkan oleh sistem budidaya ratoon dengan keprasan (pemotongan panen) yang lebih dari 3 kali, bahkan hingga belasan kali, dengan pemeliharaan yang kurang memadai sehingga sebagian besar tanaman banyak terserang hama-penyakit

Kurang optimalnya pengelolaan proses tebang-angkutgiling, dimana hal tersebut turut memberikan kontribusi yang cukup tinggi terhadap rendahnya produktivitas tebu. Hasil penelitian tahun 1999 mengungkapkan bahwa 20 PG tidak efisien secara teknis dan ekonomis, 6 PG efisien secara teknis namun tidak efisien secara ekonomi dan hanya 10 PG yang efisien secara teknis dan ekonomi.

Kemundurun produksi gula domestik terutama disebabkan oleh menurunnya produktivitas dan efisiensi industri gula secara keseluruhan, mulai dari pertanaman (tebu) hingga pabrik gula. Rendahnya produktivitas tanaman tebu rakyat disebabkan oleh sistem budidaya ratoon dengan keprasan (pemotongan panen) yang lebih dari 3 kali, bahkan hingga belasan kali, dengan Rendahnya harga gula di pemeliharaan yang kurang memadai sehingga sebagian pasar internasional akibat surplus pasokan serta Salah satu isu yang besar tanaman banyak terserang hama-penyakit

Latar Belakang Kebijakan Pemerintah Terhadap Gula

kebijakan dari negaramengemuka mengenai dampak negatif dari negara eksportir, semakin Permasalahan lain yang menurunkan insentif bagi pelaksanaan otonomi tidak boleh diabaikan adalah daerah adalah mengenai upaya pengembangan berkaitan dengan industri gula di dalam pungutan retribusi dan pajak Kurang optimalnya pengelolaan proses tebang-angkutpelaksanaan otonomi negeri. Tanpa upaya yang marak demi giling, dimana hal tersebut turut memberikan kontribusi makinpenerimaan proteksi, para pelaku mengejar daerah. yang cukup tinggi terhadap rendahnya produktivitas tebu. industri gula nasional, Pendapatan Asli Daerah Hasil penelitian tahun 1999 mengungkapkan bahwa 20 (PAD) yang setingikhususnya para petani tebu, PG tidak efisien secara teknis dan ekonomis, 6 PG efisien tingginya. senantiasa dihadapkan pada teknis namun tidak efisien secara ekonomi dan secarasituasi persaingan usaha yang yang efisien secara teknis dan ekonomi. hanya 10 PG tidak adil.

Tujuan dan Sasaran Kebijakan Pemerintah Terhadap Gula

Arah dan tujuan pengembangan sejalan dengan arah pengembangan yang ditetapkan oleh Departemen Pertanian cq Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan. Tujuan yang ditetapkan Ditjen Bina Produksi Perkebunan untuk periode 2005-2010 adalah untuk menyelamatkan dan menyehatkan industri gula nasional, sekaligus untuk membangun landasan peningkatan daya saing dan pencapaian swasembada gula nasional.

Indikator Pencapaian Sasaran

Produktivitas gula nasional, minimal rata-rata 4,35% per tahun Peningkatan efisiensi pabrik gula minimal 85% dan kapasitas giling lebih dari 221.050 TTH. Produktivitas rata-rata 7 ton per hektar. Rata-rata biaya produksi gula nasional paling tinggi US$ 0,4 per kg Pendapatan bersih petani minimal US$ 500 per hektar dengan asumsi harga jual US$ 0,5 per kg.

Kebijakan Dasar Industri Gula Nasional


Penciptaan medan persaingan yang fair bagi industri gula nasional melalui kebijakan pengendalian impor dan harga di tingkat petani.

Penciptaan kebijakan yang mendukung upaya peningkatan efisiensi di tingkat petani dengan bantuan subsidi input yang efektif. Restrukturisasi yang dilaksanakan dalam upaya meningkatkan daya penyesuaian diri dan inovasi pabrik gula, dimana menempatkan inovasi sebagai instrumen utama dalam meningkatkan daya saing.

Rasionalisasi yang dilaksanakan dalam upaya menurunkan biaya produksi

Reengineering untuk dapat meningkatkan efisiensi pabrik gula

Strategi Pengembangan Industri Gula

Strategi Dasar

Meningkatkan produktivitas, efisiensi dan daya saing serta memberikan perlindungan yang fair kepada usaha dan sistem agribisnis pergulaan berbasis tebu yang secara bertahap bergeser ke diversifikasi industri berbasis tebu Ekstensifikasi dengan pengembangan industri gula di luar Jawa

Program Utama

Rehabilitasi atau peremajaan serta perluasan Perkebunan Tebu Rehabilitasi, konsolidasi, dan modernisasi teknologi Pabrik Gula Peningkatan investasi untuk pengembangan industri gula yang terintegrasi, baik di Jawa maupun di luar Jawa serta pengembangan industri gula baru yang terintegrasi di luar Jawa.

Strategi Pengembangan Industri Gula

Program Pendukung

Program perlindungan dan penyediaan fasilitas berproduksi Program pengembangan sistem pembiayaan bagi petani tebu dan pelaku usaha pergulaan. Program penguatan lembaga penelitian dan pengembangan serta lembaga pendidikan pergulaan, termasuk pengembangan sinergi antar lembaga Program pengembangan infrastruktur (irigasi, jalan, pelabuhan) untuk mendukung pengembangan sistem industri gula terpadu Program penyusunan rencana induk (Masterplan) pengembangan industri gula berbasis tebu, baik di masing masing sentra produksi gula maupun keterkaitan antar sentra produksi Program promosi investasi dalam mendukung percepatan pengembangan industri gula terpadu. Transparansi penentuan rendemen.

Kebijakan Kebijakan Pemerintah Tentang Tebu dan Gula di Indonesia

Konsistensi kebijakan pemerintah

Penciptaan medan persaingan yang adil

Pemberian insentif untuk pengembangan industri di luar jawa dan produk derivatif gula

Dukungan pendanaan untuk rehabilitasi atau konsolidasi PG

Dukungan untuk memudahkan privatisasi

Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 643 Tahun 2002 tentang Tata Niaga Impor Gula
Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan (SK No. 643/MPP/Kep/9/2002) tentang Tata niaga Impor Gula dimaksudkan untuk mengatur aktivitas impor gula. Kebijakan ini memberikan kewenangan kepada importer produsen (IP) untuk mengimpor gula mentah (raw sugar) dan kepada importir terdaftar (IT) untuk mengimpor gula kristal putih (white sugar). IT yang diberikan kewenangan tersebut tidak lain adalah perkebunan gula yang memiliki perolehan bahan baku 75% yang berasal dari petani. Perusahaan perkebunan yang memenuhi kualifikasi sebagai IT adalah empat BUMN yang masuk kualifikasi, yaitu PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX, PTPN X, PTPN XI, dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (PT RNI).

Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 527 Tahun 2004 tentang Tata Niaga Impor Gula
Pada tahun 2004 dikeluarkan Keputusan Menteri Nomor 527MPP/Kep/9/2004 tertanggal 17 September 2004 tentang Ketentuan Impor Gula (KIG), yang kembali melibatkan BUMN seperti Bulog dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PT PPI) dalam perdagangan gula di Indonesia. Perum BULOG mendapat tugas dari Kementerian Negara BUMN untuk membantu menyalurkan gula milik produsen gula nasional, khususnya yang dihasilkan dari PTPN dan PT RNI. Dalam kerjasama antar BUMN itu, Bulog nantinya menjadi distributor tunggal untuk memasarkan gula milik PTPN dan RNI melalui jaringan yang tersebar di seluruh Indonesia. Ketentuan Impor Gula yang dituangkan dalam SK 527 tersebut menggantikan ketentuan yang lama yakni SK Nomor 643/MPP/Kep/9/2002 tentang Tata Niaga Impor Gula. SK 527 mengatur pembatasan pasar gula rafinasi hanya untuk konsumen industry saja sedangkan gula kristal putih boleh dijual kepada konsumen rumah tangga.

Rencana Revisi SK 527 Tahun 2004


Sistem tata niaga gula yang semula dimaksudkan mengatur keseimbangan supply dan demand telah menempatkan posisi petani sebagai pihak yang harus dilindungi. Hal ini tercermin baik dalam SK 643 maupun SK 527. Impor gula sebelumnya juga diatur oleh pemerintah melalui SK 643 tentang tata niaga impor gula, yang memberikan kewenangan untuk mengimpor gula bagi importir terdaftar saja. Sementara pada SK 527 pemerintah membagi segmentasi pemasaran gula dan membagi gula atas gula kristal putih (gula tebu) dan gula rafinasi.

Sedangkan inpres pemerintah tentang pergulaan nasional, pembagian tugasnya antara lain:

TERIMAKASIH

Anda mungkin juga menyukai