Anda di halaman 1dari 67

Kelompok 8 Annurianisa Luhur Pekerti (2010730013) Jayyidah Afifah (2010730055) Noerlailatul Fitrah (2010730080) Briliant Ibnu Sina (2010730018)

Fahmi Rilo Pambudi (2010730034) Andi M. Iqbal (2010730010) Gandhis Apri Widhayanti (2010730043) Nudiya Aimah (2010730081) Dessy Purnamasari (2010730042) Litani Alamudi (2005730039)

Skenario 3 Varicella = Cacar air

Laras yang manis berusia 3 tahun, dibawa ibunya ke Puskesmas Kemuning dengan demam dan terdapat ruam makulovesikulor yang gatal pada muka, tungkai dan tubuhnya. Ibu mengatakan bahwa 3 hari yang lalu mereka baru kembali dari Ibukota Kabupaten. Dalam perjalanan pulang Laras sudah mulai demam. Keesokan harinya muncul ruam merah pada tangan, muka yang menjalar keseluruh tubuhnya. Dokter Puskesmas mendiagnosis Laras menderita Varicella atau cacar air, yang sebelumnya kasus serupa tidak ada. Memang Laras belum menderita varicella dan belum pernah mendapatkan vaksinasi varicella.
Pada kunjungan rumah, Petugas Puskesmas menemukan Adit, kakak Laras yang berusia 5 tahun serta ayah Laras juga tengah menderita demam. Bahkan ayah merasa sakit di daerah dada sebelah kanan yang menjalar dari bagian sisi kanan atas ke arah medial bawah. Dokter mendiagnosis Adit mungkin tertular Varicell, sedangkan ayah menderita Herpes Zoster. Di rumah-rumah lain yang terletak bersebelahan dengan runah Laras juga ditemukan anak-anak dengan gejala sama. Keluarga Laras tinggal di desa Mulia, salah satu desa dari 5 desa yang terletak di wilayah kerja Puskesmas Kemuning. Desa Mulia berpenduduk sangat padat karena terletakk di dekat pabrik pengolahan rotan. Jumlah penduduk 535 orang. Rumah-rumah di desa Mulia rata-rata berukuran 4x6 meter, dengan penghuni minimal 8 orang, yang terdiri dari ibu, bapak, anak-anak dan anggota keluarga yang lain

Kata Kunci: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Laras 3 tahun, 3 hari yang lalu naru pulamg dari Ibukota kabupaten Demam, ruam makulovasikuler yang gatal pada mukam tungkai dan tubuhnya. Belum pernah menderita varicella dan ayah menderita Herpes Zoster Ditemukan gejala yang sama di lingkungan sekitar Lingkungan tempat tinggal yang padat dan dekat pabrik pengolahan rotan Luas rumah dan jumlah penghuni tidak seimbang Jumlah penduduk 535 orang Pukesmas Kemuning memiliki wilayah kerja mencakup 5 desa

Pertanyaan 1. Termasuk KLB atau wabahkah dari skenario ini(Definisi, Klasifikasi, Perbedaan) serta menghitung attack rate. Case dan fatality case! 2. Jelaskan aspek klinis dari Varicella dan Herpe Zoster 3. Bagaimana cara melakukan penyelidikan wabah dan upaya penanggulangan wabah pada skenario? 4. Apa rencana kerja pemerintah untuk desa tersebut untuk menanggulangi wabah tersebut? 5. Bagaimana memonitoring dan evaluasi program kerja? 6. Bagaimana cara menggerakan potensi masyarakat untuk revitalisasi posyandu dalam mencapai kecamatan sehat? 7. Bagaimana alur pelaporan wabah? 8. Bagaimana rencana kerja puskesmas dan melibatkan lintas sektoral masyarakat?

1.Termasuk KLB atau wabahkah dari skenario ini(Definisi, Klasifikasi, Perbedaan) serta menghitung attack rate. Case dan fatality case!

Bentuk-Bentuk Wabah
Wabah

Wabah yang berasal dari 1 sumber

Wabah yang menular dari orang ke orang

Point Source Epidemic

Common Source Epidemic

Propagated Source Epidemic

Contagious Diease Epidemic

Wabah (menurut sifatnya)

Common Source Epidemic

Propagated Source Epidemic

Ditularkan oleh perantara (makanan) Korban yang terjadi banyak mencapai puncak menurun cepat Masa inkubasi pendek Timbulnya penyakit cepat Penyakit lenyap dalam wakt singkat Episode penyakit merupakan peristiwa tunggal Misalnya : keracunan makanan

Ditularkan oleh manusia/hewan reservoir melalui kontak langsung/tidak langsung Masa inkubasi panjang Timbulnya gejala pelahan Peningkatan kasus penyakit lambat Penyakit lenyap dalam waktu yang lama Episode penyakit bersifat majemuk Misalnya : wabah penyakit menular

WABAH SEMU

Adalah suatu kondisi di mana jumlah penderitanya meningkat secara nyata, melebihi keadaan lazim, sehingga seolah-olah ada wabah, namun kondisi tersebut sebenarnya bukan wabah, karena peningkatan kasus disebabkan oleh adanya fasilitas baru untuk mendiagnosis penyakit tsb (alat diagnosis atau adanya dokter spesialis baru)

PENYAKIT MENULAR

SYARAT PENYAKIT MENULAR : 1. 2. 3. 4. Ada agen penyakit Ada pejamu yang rentan Ada hewan reservoir Ada cara penularan penyakit kepada pejamu yang baru

PENYAKIT MENULAR

Penyakit karantina ( Peny. Wabah Penting ) : Kholera Pes Difteri Penyakit potensial wabah yang menjalar cepat / mortalitas tinggi DBD - Rabies Diare - Poliomyelitis Campak - Tetanus Neonatorum Pertusis

PENYAKIT MENULAR Penyakit potensial wabah lainnya Malaria - Anthrax Frambusia - Influenza Hepatitis - Meningitis Typhus abdominalis - Tetanus Penyakit yang tidak potensial wabah TB Paru - Cacingan PMS - Filariasis Lepra

PENYAKIT INFEKSI

adalah penyakit pada manusia atau hewan yang timbul akibat suatu INFEKSI adalah masuk dan berkembangnya atau bertambah banyaknya suatu agen infeksi di dalam tubuh hewan atau manusia

Penetapan wabah
1. Kesakitan / kematian meningkat > 3X selama > 3 kurun waktu berturut-turut. 2. Insiden meningkat > 2X dibandingkan rerata sebulan sebelumnya. 3. Rerata bulanan penderita baru meningkat > 2X dibandingkan rerata tahun sebelumnya. 4. CFR dalam 1 bulan meningkat 2X dibandingkan CRF tahun sebelumnya. 5. Terdapat > 1 penderita/kematian di daerah yang telah bebas selama 4 minggu berturut-turut. 6. Kesakitan/kematian karena keracunan 7. Apabila di daerah tersebut terdapat penyakit menular yang sebelumnya tidak ada

Perbedaan wabah dengan KLB


Wabah KLB
Penyakit unutk menular Kejadian bencana lam yang disertai wabah Ditetapkan oleh Kepala Daerah setempat

Hanya untuk penyakit menular Ditetapkan oleh Menkes Dirjen P2PL

ISTILAH DALAM WABAH


Bila tingkat penyakit dibagi dalam : A B C D E = tanpa gejala = penyakit ringan = penyakit sedang = penyakit berat = mati

PATOGENITAS
Jumlah Kasus PATOGENITAS = Jumlah yang terinfeksi

B+C+D+E PATOGENITAS = A+B+C+D+E

VIRULENSI

VIRULENSI =

Jumlah Kasus Berat + Fatal Jumlah semua kasus

VIRULENSI

D+E B+C+D+E

CASE FATALITY RATE = CFR Jumlah Kasus Fatal CFR = Jumlah Semua Kasus E CFR = B+C+D+E Attack rate=insidence rate jumlah kasus baru

jumlah populasi yang beresiko

KEJADIAN LUAR BIASA (KLB)


Kejadian yang melebihi keadaan biasa, pada satu / sekelompok masyarakat tertentu. (Mac Mahon and Pugh, 1970; Last, 1983, Benenson, 1990), - Peningkatan frekuensi penderita penyakit, pada populasi ertentu, pada tempat dan musim atau tahun yang sama (Last, 1983)

SISTEM KEWASPADAAN DINI (SKD) KLB

KEJADIAN LUAR BIASA (KLB)

SISTEM KEWASPADAAN DINI (SKD) KLB


merupakan kewaspadaan terhadap penyakit yang berpotensi KLB serta faktor-faktor yang mempengaruhinya dengan menerapkan teknologi surveilans epidemiologi untuk meningkatkan kesiap-siagaan dan upaya penanggulangam yang cepat dan tepat
Inti SKD adalah surveilans Kegiatan ini mencakup : Pengumpulan data, pengolahan, Analisa data dan penyebarluasan informasi

KEJADIAN LUAR BIASA = KLB


= WABAH
WABAH hanya untuk penyakit menular, ditetap kan oleh Menteri Kesehatan cq. Dirjen P2PL Wabah harus mencakup: - Jumlah kasus yang besar - Daerah yang luas - Waktu yang lebih lama - Dampak yang timbulkan lebih berat KLB bisa juga untuk : Penyakit tidak menular Kejadian bencana alam yang disertai wabah

Kriteria Kejadian Luar Biasa (Keputusan Dirjen PPM No 451/91) tentang Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa
Tergolong kejadian luar biasa, jika ada unsur : Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal. Peningkatan kejadian penyakit terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut penyakitnya (jam, hari, minggu). Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun). Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya

PENETAPAN KLB
1. Dilakukan dengan membandingkan insidensi penyakit yang tengah berjalan dengan insidensi penyakit dalam keadaan biasa (endemik), pada populasi yang dianggap beresiko, pada tempat dan waktu tertentu. 2. Dengan Pola Maxiumum dan Minimum 5 tahunan atau 3 tahunan. 3. Membandinggkan frekuensi penyakit pada tahun yang sama bulan berbeda atau bulan yang sama tahun berbeda

PETUNJUK PENETAPAN KLB:


1. Angka kesakitan/kematian suatu penyakit menular di suatu Kecamatan menunjukkan kenaikan 3 kali atau lebih selama tiga minggu berturut-turut atau lebih. 2. Jumlah penderita baru dalam satu bulan dari suatu penyakit menular di suatu Kecamatan, menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih, bila dibandingkan dengan angka ratarata sebulan dalam setahun sebelumnya dari penyakit menular yang sama di kecamatan tersebut itu. 3. Angka rata-rata bulanan selama satu tahun dari penderitapenderita baru dari suatu penyakit menular di suatu Kecamatan, menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih, bila dibandingkan dengan angka rata-rata bulanan dalam tahun sebelumnya dari penyakit yang sama di Kecamatan yang sama pula.

PETUNJUK PENETAPAN KLB (2):


4. Case Fatality rate suatu penyakit menular tertentu dalam satu bulan di sutu Kecamatan, menunjukkan kenaikan 50 % atau lebih, bila dibandingkan CFR penyakit yang sama dalam bulan yang lalu di Kecamatan tersebut. 5. Proporsional rate penderita baru dari suatu penyakit menular dalam waktu satu bulan, dibandingkan dengan proportional rate penderita baru dari penyakit menular yang sama selama periode waktu yang sama dari tahun yang lalu menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih

PETUNJUK PENETAPAN KLB (3):


6. Khusus untuk penyakit-penyakit Kholera, Cacar, Pes, DHF/DSS : Setiap peningkatan jumlah penderita-penderita penyakit tersebut di atas, di suatu daerah endemis yang sesuai dengan ketentuanketentuan di atas Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggu sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang bersangkutan. 7. Apabila kesakitan/kematian oleh keracunan yang timbul di suatu kelompok masyarakat. 8. Apabila di daerah tersebut terdapat penyakit menular yang sebelumnya tidak ada/dikenal

PENTING DIINGAT : 1. KLB Tersembunyi, sering terjadi pada penyakit yang belum dikenal atau penyakit yang tidak mendapat perhatian karena dampaknya belum diketahui . 2. KLB Palsu (pseudo-epidemic), terjadi oleh karena : - Perubahan cara mendiagnosis penyakit, - Perubahan perhatian terhadap penyakit tersebut, atau perubahan organisasi pelayanan kesehatan, - Perhatian yang berlebihan

TUJUAN PENYELIDIKAN KLB


Tujuan Umum : Mencegah meluasnya (penanggulangan). Mencegah terulangnya KLB di masa yang akan datang (pengendalian).

Tujuan khusus : Diagnosis kasus yang terjadi dan mengidentifikasi penyebab penyakit . Memastikan bahwa keadaan tersebut merupakan KLB, Mengidentifikasikan sumber dan cara penularan Mengidentifikasi keadaan yang menyebabkan KLB Mengidentifikasikan populasi yang rentan atau daerah yang beresiko akan terjadi KLB (CDC, 1981; Bres, 1986)

NO 1 2 3 4

LANGKAH-LANGKAH PENYIDIKAN KLB Persiapan penelitian lapangan. Menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB. Memastikan Diagnosis Etiologis Mengidentifikasikan dan menghitung kasus atau paparan

5
6 7 8 9 10 11 12

Mendeskripsikan kasus berdasarkan orang, waktu dan tempat.


Membuat cara penanggulangan sementara dengan segera (jika diperlukan) Mengidentifikasi sumber dan cara penyebaran Mengidentifikasi keadaan penyebab KLB Merencanakan penelitian lain yang sistimatis Menetapkan saran cara pencegahan atau penanggulangan. Menetapkan sistim penemuan kasus baru atau kasus dengan komplikasi. Melaporkan hasil penyidikan kepada instansi kesehatan setempat dan kepada sistim pelayanan kesehatan yang lebih tinggi.

LAPORAN PENYELIDIKAN KLB


Pendahuluan menggambarkan peristiwa dan keadaan yang menyebabkan dimulainya penyelidikan Latar Belakang menguraikan secara singkat keadaan yang melatarbelakangi masalah (segi geografis, politis, ekonomi) Uraian tentang upaya yang dilakukan Hipotesis yang hendak diuji, metode, sumber informasi, cara penemuan kasus, pemastian diagnosis, penggunaan kelompok kontrol, besar dan cara pengambilan sampel

LAPORAN PENYELIDIKAN KLB


Hasil penelitian Tabulasi kasus menurut O-T-W, kurva epidemik, spot map, hasil laboratorium Analisis data dan kesimpulan meneria atau menolak hipotesis Tindakan penanggulangan Uraian tentang dampak penting yang terjadi Saran di masa depan perbaikan sistem surveilans dan penanggulangan di masa depan

2. Jelaskan aspek klinis dari Varicella

VARICELLA
Penyakit ini di masyarakat dikenal dengan sebutan Cacar Air. Varicella adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dan sangat menular, terutama terjadi pada anak-anak. Penyakit ini harus dibedakan dengan penyakit Cacar (Variola) yang memiliki angka kematian cukup tinggi. Secara klinis penyakit ini ditandai dengan adanya erupsi vesikuler pada kulit atau selaput lendir. Walaupun manifestasinya ringan, tapi pada anak-anak yang sistem kekebalan tubuhnya belum sempurna, penyakit ini dapat menjadi berbahaya. Sifat-sifat virus penyebab Varicella Secara morfologis identik dengan virus Herpes Simplex. Virus ini dapat berbiak dalam bahan jaringan embrional manusia. Virus yang infektif mudah dipindahkan oleh selsel yang sakit. Virus ini tidak berbiak dalam binatang laboratorium. Pada cairan dalam vesikel penderita, virus ini juga dapat ditemukan. Antibodi yang dibentuk tubuh terhadap virus ini dapat diukur dengan tes ikatan komplemen, presipitasi gel, netralisasi atau imunofluoresensi tidak langsung terhadap antigen selaput yang disebabkan oleh virus. Gambaran klinis Masa inkubasi Varicella biasanya 14 s/d 21 hari. Perasaan tidak enak badan dan demam adalah gejala-gejala paling dini, dan segera diikuti oleh ruam, yang mula-mula pada badan, dan kemudian pada wajah, anggota badan, dan selaput lendir pipi dan faring. Sampai 3-4 hari setelah gejalagejala tersebut, komplikasi jarang terjadi. Angka kematian jauh kurang dari 1% pada kasus tanpa komplikasi. Pada Varicella neonatal (karena kontak bayi dengan ibu pada saat kelahiran) angka kematian dapat mencapai 20%. Anak-anak dengan penyakit defisiensi kekebalan tubuh, atau yang memperoleh obat imunosupresor, atau obat sitotoksik mempunyai resiko tinggi terkena Varicella berat dan kadang fatal.

Kekebalan Infeksi Varicella akan meninggalkan kekebalan seumur hidup terhadap infeksi Varicella berikutnya. Pencegahan Pencegahan terutama dianjurkan pada anak-anak dengan imunodefisiensi atau imunosupresi, menggunakan Imunoglobulin G dengan titer antibodi spesifik yang tinggi pada plasma yang dikumpulkan dari penderita konvalesen (penyembuhan) penyakit Herpes Zoster (GIVZ). GIVZ tidak mempunyai nilai terapi jika diberikan setelah penyakit Varicella mulai timbul. Epidemiologi Varicella dengan mudah menyebar melalui droplet serta kontak dengan kulit. Varicella sering merupakan penyakit epidemik pada anak-anak, dengan insidens tertinggi pada anak usia 2-6 tahun, walaupun bisa juga ditemukan penderita dewasa. Terapi Terapi yang biasanya dilakukan adalah terapi suportif untuk peningkatan kondisi sistem kekebalan tubuh dan terapi untuk mencegah infeksi sekunder (infeksi penyakit lain yang menyusul infeksi oleh suatu penyakit) akibat lesi/luka dari vesikel-vesikel yang timbul. Pengawasan Karena sifat Varicella yang sangat mudah menular, maka perlu dilakukan usaha untuk mencegah kontak dengan penderita Varicella. Vaksin Varicella hidup yang dilemahkan sudah berhasil dikembangkan dan dicobakan pada anak-anak yang dirawat di rumah sakit karena menderita penekanan sistem imun ataupun yang telah kontak dengan Varicella. Vaksin terutama bermanfaat dalam mencegah penyebaran Varicella pada anak- anak dengan resiko tinggi untuk tertular. Sejumlah masalah dapat pula timbul dengan penggunaan vaksin ini bagi manusia sehat. Kepekaan yang meningkat akibat kekebalan singkat oleh karena vaksin ini, pada orang dewasa dapat menyebabkan penyakit menjadi lebih berat. Vaksin yang digunakan harus dapat memberikan kekebalan yang sesuai dengan kekebalan alamiah tubuh.

3. Bagaimana cara melakukan penyelidikan wabah dan upaya penanggulangan wabah pada skenario?

KERANGKA PENYELIDIKAN WABAH


1. Menegakkan diagnosis dan mengidentifikasi penyebab penyakit klinis dan laboratoris 2. Memastikan bahwa terjadi KLB / wabah 3. Menggambarkan kasus-kasus dalam KLB / wabah menurut variabel O-T-W (dengan spot map, kurva) Penelitian deskriptif 4. Identifikasi sumber penyebab penyakit, cara penularan dan populasi berisiko rumuskan hipotesis 5. Buktikan kebenaran hipotesis Penelitian analitik 6. Susun laporan : penyebab, upaya pemberantasan yang dilakukan, rekomendasi

1.MENEGAKKAN DAN MEMASTIKAN DIAGNOSIS


Kedokteran merupakan ilmu yang tidak pasti penyakit dapat salah diagnosis Yang dilaporkan mungkin bukan kasus, ttp tersangka atau orang dg sindroma lain

Kasus-kasus yang dilaporkan tetapi diagnosisnya tidak dapat dipastikan harus dikeluarkan dalam memastikan ada/tidaknya wabah Untuk beberapa penyakit, diagnosis klinis saja tidak cukup bila mungkin harus dilakukan pemeriksaan lab untuk memastikan diagnosis
Konfimasi lab membutuhkan waktu bermingguminggu

Frekuensi Gejala pada KLB DBD


No. 1 2 3 4 Demam tinggi Uji torniquet (+) Perdarahan spontan Syok Gejala Jumlah 8 8 5 5 % 26.6 26.6 16.6 16.6

Tujuannya tercapai bila :


Kriteria kasus sesuai dengan gejala di atas Hasil pemeriksaan lab (+)

2. MEMASTIKAN ADANYA WABAH


Perhitungan batas wabah : Wabah = > (mean + 2 Standar Deviasi) Bila sulit dilakukan Pedoman menetapkan adanya wabah Batas wabah ?
8 orang 10 orang 13 orang 9 orang 9 orang 15 orang 10 orang 8 orang 11 13 14 14 orang orang orang orang

Dlm keadaan tidak ada wabah data insiden diare per mgg selama 12 mgg di Puskesmas Ciamis adalah :

8+10+13 + 9 + 9 + 1 5 + 10 + 8 + 11 + 13 + 14 + 14 Rerata = = 11 orang SD = 3 12

BATAS WABAH = 11 + 2 (3) = 17 orang

PEDOMAN MENETAPKAN WABAH


1. Kesakitan / kematian meningkat 3x selama 3 kurun waktu berturut-turut 2. Jumlah penderita baru meningkat 2x dibandingkan rerata sebulan sebelumnya 3. Rerata bulanan penderita baru meningkat 2x dibandingkan rerata tahun sebelumnya 4. CFR dalam 1 bulan meningkat 2x dibandingkan CFR tahun seblmnya 5. Terdapat 1 penderita/kematian di daerah yang telah bebas selama 4 mgg berturut-turut 6. Kesakitan / kematian karena keracunan 7. Apabila di daerah tersebut terdapat penyakit menular yang sebelumnya tidak ada

3. MENGGAMBARKAN WABAH MENURUT VARIABEL O T W Variabel Waktu buat kurva epidemik


Kapan periode waktunya variasi musiman, tahunan, trend, jam / hari Apa jenis KLB ini : common source atau propagated ?

Variabel Tempat buat spot map


Distribusi kasus menurut : tempat tinggal, tempat kerja atau tempat lain ? Berapa attack rate ?

MENGGAMBARKAN WABAH MENURUT VARIABEL O T W


Variabel Orang :
Berapa angka serangan menurut golongan umur dan jenis kelamin ? Golongan umur dan jenis kelamin manakah yang risiko sakitnya paling tinggi atau paling rendah ? Dalam hal apa lagi karakteristik kasuskasus berbeda secara bermakna (ras, status perkawinan, pekerjaan) ?

Angka serangan menurut Jenis Pekerjaan


Jenis Pekerjaan
Perawat ICU Petugas Bangsal Teknisi Bedah Asisten Perawat Laboran Sekretaris Fisioterapist Bagian Rmh Tangga

Jumlah Jumlah Penderita Penduduk


12 5 2 5 3 1 1 1 30 15 3 68 41 67 37 37

Attack Rate
40.0 33.3 67 7.4 7.3 1.5 2.7 2.7

4. Merumuskan Hipotesis 5.Menguji Hipotesis Tujuan perumusan hipotesis adalah untuk memberikan dasar pemikiran yang logis dalam merencanakan dan melaksanakan upaya penanggulangan wabah Hipotesis membandingkan angka serangan pada orang-orang yang terpapar dengan orang-orang yang tidak terpapar faktor risiko pada kelompok yang terpapar faktor risiko angka serangannya lebih besar. Setelah ditentukan sumber dan cara penularan Pengujian hipotesis

6. Susun laporan : Penyebab, pemberantasan, rekomendasi


pencegahan di masa datang

Pasal 11 Ayat 1 dan 2 (UU RI NO 4 tahun 1984)


Barang siapa mengetahui adanya penderita atau tersangka penderita penyakit wabah, wajib melaporkan kepada Kepala Desa atau Lurah setempat, dan atau Kepala Unit Kesehatan terdekat dalam waktu secepat-cepatnya Kepala Desa atau Lurah setempat, dan atau Kepala Unit Kesehatan segera melaporkan kepada atasan langsung dan instansi lain yang bersangkutan

7. UPAYA PENANGGULANGAN WABAH


1. Penyelidikan epidemiologis 2. Pemeriksaan, pengobatan, perawatan dan isolasi penderita, termasuk tindakan karantina 3. Pencegahan dan pengebalan 4. Pemusnahan penyebab penyakit 5. Penanganan jenazah akibat wabah 6. Penyuluhan kepada masyarakat 7. Upaya penanggulangan lainnya

Upaya penanggulangan wabah


Dilakukan dengan mengikut sertakan masyarakat secara aktif (Ps 6 UU RI No 4 Tahun 1984)

Dua tujuan pokok : 1. Memperkecil angka kematian akibat wabah dengan pengobatan dokter 2. Membatasi penularan dan penyebaran penyakit agar penderita tidak bertambah banyak, dan wabah tidak meluas ke daerah lain

Upaya penanggulangan wabah


Harus mempertimbangkan keadaan masyarakat setempat (agama, adat kebiasaan, tingkat pendidikan, sosial ekonomi) agar upaya pennggulangan wabah tidak mendapat hambatan masyarakat

Penyuluhan yang intensif dan pendekatan persuasif edukatif agar masyarakat mau ikut serta secara aktif

PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGIS
yaitu penyelidikan untuk mengenal sifatsifat penyebabnya, serta faktor-faktor yg dapat mempengaruhi timbulnya wabah agar dapat dilakukan tindakan penanggulangan yang paling berdaya guna dan berhasil guna oleh pihak yang berwenang Wabah dapat ditanggulangi secepatnya

Upaya Penanggulangan Wabah


1. Untuk penderita yang telah ditemukan : Pemeriksaan, pengobatan, perawatan, dan isolasi penderita, termasuk karantina 2. Untuk penderita yang belum ditemukan: Penyelidikan epidemiologi 3. Untuk masyarakat yang belum sakit: Pencegahan dan pengebalan, penyuluhan kepada masyarakat, penanganan jenazah 4. Perumusan sumber penyakit: Pemberantasan tempat perindukan dan memusnahkan makanan sumber keracunan

PEMUSNAHAN PENYEBAB PENYAKIT


Dalam pencegahan harus dilakukan pemusnahan terhadap benda-benda, tempat-tempat dan lain-lain yang mengandung kehidupan penyebab penyakit ybs, misalnya :
1. Pemberantasan tempat perindukan (sarang nyamuk) 2. Memusnahkan makanan sumber

PENANGANAN JENAZAH
apabila kematiannya disebabkan oleh penyakit yang menimbulkan wabah, atau jenazah tsb merupakan sumber penyakit yang dapat menimbulkan wabah harus dilakukan secara khusus menurut jenis penyakitnya, tanpa meninggalkan norma agama serta harkatnya sebagai manusia

PENYULUHAN KEPADA MASYARAKAT


kegiatan komunikasi yang bersifat persuasif edukatif tentang penyakit yang dapat menimbulkan wabah agar mereka :
Mengerti sifat-sifat penyakit dapat melindungi dirinya, dan apabila terkena tidak menularkan kepada orang lain Mau berperan serta secara aktif

4. Apa rencana kerja pemerintah untuk desa tersebut atau menanggulangi wabah tersebut?

Vaksinasi cacar air: Rutin Anak-anak yang belum pernah menderita cacar air harus mendapat 2 dosis vaksinasi cacar air pada usia: Dosis pertama: 12- 15 bulan Dosis kedua: 4-6 tahun (bisa diberikan lebih cepat, jika jaraknya minimal 3 bulan setelah dosis pertama)
Mereka yang berusia 13 tahun keatas (yang belum pernah menderita ata mendapat vaksinasi cacar air) harus mendapat 2 dosis minimal dalam jarak waktu 28 hari.

Tidak boleh dilakukan vaksinasi jika pernah mengalami reaksi alergi yang mengancam jiwa terhadap gelatin/agar-agar, antibiotik neomycin atau dosis vaksinasi cacar air sebelumnya Mereka yang sedang sakit ringan atau parah, jadwal vaksinasi harus menunggu sampai sembuh sebelum mendapatkan vaksinasi cacar Wanita hamil jangan mendapatkan vaksinasi sampai melahirkan. Jangan sampai hamil dalam wktu 1 bulan setelah mendapatkan vaksinasi cacar air. Menderita HIV/AIDS, atau penyakit lain yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Mendapat pengobatan yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, misalnya steroid selama 2 minggu atau lebih Menderita kanker jenis apapun Mendapat perawatan kanker dengan radiaso atau obat-obatan

Mereka yang baru menjalani transfusi darah atau mendapat produk darah lainnya harus menanyakan kapan waktu yang tepat diberikan vaksinasi cacar air

5. Evaluasi dan Monitoring Program Kesehatan

Evaluasi Program Kesehatan


Evaluasi suatu program kesehatan masyarakat dilakukan terhadap tiga hal, yakni evaluasi terhadap proses pelaksanaan program, evaluasi terhadap hasil program dan evaluasi terhadap dampak program.

a. Evaluasi proses ditujukan terhadap pelaksanaan program yang menyangkut penggunaan sumber daya, seperti tenaga, dana, dan fasilitas lain.

b. Evaluasi hasil program ditujukan untuk menilai sejauh mana program tersebut berhasil, yakni sejauh mana tujuan-tujuan yang telah ditetapkan tercapai. Misalnya meningkatnya cakupan imunisasi, meningkatnya ibu-ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya, dan sebagainya.
c. Evaluasi dampak program ditujukan untuk menilai sejauh mana program itu mempunyai dampak terhadap peningkatan kesehatan masyarakat. Dampak program-program kesehatan ini tercermin dari membaiknya atau meningkatnya indikator-indikator kesehatan masyarakat. Misalnya menurunnya angka kematian bayi (IMR), meningkatnya status gizi anak balita, menurunnya angka kematian ibu, dan sebagainya.

Monitoring Program Kesehatan


Dalam program kesehatan masyarakat, disamping evaluasi juga dilakukan monitoring atau pemantauan program. Monitoring dilakukan sejalan dengan evaluasi, dengan tujuan agar kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan program tersebut berjalan sesuai dengan yang direncanakan, baik waktunya maupun jenis kegiatannya. Dalam monitoring tidak dilakukan penilaian seperti pada evaluasi tetapi hanya mengamati dan mencatat. Apabila terjadi ketidaksesuaian antara kegiatan dengan yang direncanakan, dilakukan koreksi. Demikian pula apabila terjadi ketidakcocokan antara penggunaan sumber daya (biaya, tenaga, dan sarana) dengan yang direncanakan, dilakukan pembetulan. Oleh sebab itu, dalam prakteknya monitoring atau pemantauan ini kadang-kadang diidentikkan dengan evaluasi proses dari suatu program.

Sumber : Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cet. ke-2, Mei. Jakarta : Rineka Cipta. 2003.

6. Bagaimana cara menggerakan potensi masyarakat untuk revitalisasi posyandu dalam mencapai kecamatan sehat?

Membuat beberapa program di posyandu: 1.Melakukan imunisasi lengkap 2.Melakukan beberapa penyuluhan: - Pemberian imuniasai - Pemberian ASI - Pengetahuan tentang tumbuh kembang - Kebersihan lingkungan

7. Bagaimana alur pelaporan wabah?

ALUR PELAPORAN
Petugas Surveilans melaporkan kepada Kepala Puskesmas bahwa ada peningkatan kasus Puskesmas melakukan P.E. (Penyelidikan Epidemiologi) Pemegang Program bersama-sama dengan Kepala Puskesmas dan Kepala Desa memimpin Penyelidikan Wabah Puskesmas membuat laporan Diteruskan ke Dinas Kes. Kabupaten Kepala Dinas Kes. Kab. bersama dg Ka Seksi P2PL melapor dan melakukan advocacy kepada Bupati Bupati mengadakan pertemuan dengan Ka Dinas Kes, Bappeda, Sektor terkait untuk menentukan anggaran Pengendalian Wabah

8. Bagaimana rencana kerja puskesmas dan melibatkan lintas sektoral masyarakat?

Strategi operasional program kerja


1. Peningkatan advokasi untuk memperkuat komitmen penentu kebijakan di Kabupaten/Kota, Propinsi dan Nasional. 2. Pengembangan kelompok kerja surveilans epidemiologi 3. Pengembangan sumber daya manusia surveilans epidemiologi 4. Peningkatan mutu data dan informasi epidemiologi 5. Peningkatan jejaring surveilans epidemiologi 6. Peningkatan pemanfaatan teknologi komunikasi informasi elektromedia yang terintegrasi dan interaktif 7. Peningkatan kemampuan surveilans epidemiologi bagi setiap tenaga profesional kesehatan 8. Penyediaan anggaran, sarana dan prasarana