Anda di halaman 1dari 71

RE

RE F

NG SI

Click to : dr. Satrio Prodjohoesodo, Sp. THT Pembimbing edit Master subtitle style Oleh : Fauziah Budi (2007730052)

Anatomi dan Fisiologi Hidung dan Tenggorokan


BAGIAN THT RSUD CIANJUR FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA 2012

7/21/12

7/21/12

ANATOMI HIDUNG

Pendahuluan

Untuk mengetahui penyakit dan kelainan hidung, misalnya sumbatan hidung perlu diketahui dulu tentang anatomi hidung. Hidung terdiri dari hidung bagian luar atau piramid hidung dan rongga hidung dengan pendarahan serta persarafannya, serta fisiologi hidung.
7/21/12

CAVUM NASI

Apertura Nasalis Anterior (=Nares Anterior) Apertura Nasalis Posterior (= CHOANAE) Septum Nasi

7/21/12

7/21/12

SEPTUM NASI

Lamina perpendicularis ossis ethmoidalis Cartilago septalis

Os vomer

7/21/12

CHONCHA NASALES

Ruang antara concha

Meatus nasi superior Meatus nasi media Meatus nasi inferior

7/21/12

PENDARAHAN HIDUNG

Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang a.maksilaris interna Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang-cabang a.fasialis Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a.sfenopalatina, a.etmoid anterior, a.labialis superior dan a.palatina mayor, yang disebut pleksus Kiesselbach.
7/21/12

7/21/12

PERSARAFAN HIDUNG

Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n.etmoidalis anterior Rongga hidung lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n.maksila melalui ganglion sfenopalatinum.

7/21/12

DINDING LATERAL
n.ethmoidalis anterior

Bulbus olfactorius

7/21/12

n.palatina major et minor

Peranan Hidung

Sebagai jalan napas Pengatur kondisi udara Sebagai penyaring dan pelindung Indra penghidu Resonansi suara Proses bicara Reflek nasal
7/21/12

SINUS PARANASALIS Secara embriologik sinus paranasal


berasal dari invaginasi mukosa rongga hidung dan perkembangannya dimulai pada fetus usia 3-4 bulan, kecuali sinus sfenoid dan sinus frontal. Sinus maksila dan sinus etmoid telah ada sejak anak lahir, sedangkan sinus frontal berkembang dari sinus etmoid anterior pada anak yang berusia kurang lebih 8 tahun.
7/21/12

SINUS PARANASALIS

Sinus frontalis Sinus ethmoidalis Sinus sphenoidalis Sinus maxillaris

7/21/12

Anatomi Sinus
7/21/12

SINUS FRONTALIS

Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang relatif tipis dari orbita dan fosa serebri anterior, sehingga infeksi dari sinus frontal mudah menjalar ke daerah ini. Sinus frontal berdrainase melalui ostiumnya yang terletak di resesus frontal.

Tidak adanya gambaran septumseptum atau lekuk-lekuk dinding sinus pada foto Rontgen 7/21/12

SINUS SPHENOIDALIS

Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior. Sinus sfenoid di bagi menjadi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Sebelah superior terdapat fosa serebri media dan kelenjar hipofisa, Sebelah inferiornya atap nasofaring,

Sebelah lateral berbatasan dengan 7/21/12 sinus kavernosus dan a. Karotis

SINUS ETHMOIDALIS

Terdiri ronggarongga kecil (cellulae ethmoidalis) Cellulae ethmoidalis anterior,medialis & posterior

Cellulae ethmoidalis

Sinus etmoid anterior yang bemuara di meatus medius Sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus superior. Bagian anterior ada bagian yang sempit yang disebut resesus frontal berhubungan sinus frontal Atap sinus etmoid disebut fovea etmoidalis yang berbatasan dengan lamina kribrosa Dinding lateral adalah lamina papirasea yang membatasi sinus etmoid dengan rongga orbita

7/21/12

SINUS MAXILLARIS

Terbesar, btk segitiga, didalam os maxilla Dinding anteriornya adalah permukaan fasial os maksila yang disebut fosa kanina. Dinding posterior adalah permukaan infra temporal maksila. Dinding medial adalah dinding lateral rongga hidung. Dinding superior adalah dasar orbita. 7/21/12

Sinus maxillaris Cavum nasi


7/21/12

Concha nasalis inferior

Peranan sinus paranasalis

Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning) Sebagai penahan suhu (termal insulators) Membantu keseimbangan kepala Membantu resonansi suara Peredam perubahan tekanan udara Membantu produksi mukus untuk membersihkan rongga hidung. Mengurangi berat dari tengkorak.

7/21/12

tENGGOROKAN
7/21/12

EMBRIOLOGI
Foregut rongga mulut faring esofagus dll

7/21/12

RONGGA MULUT
BIBIR

Pintu masuk bersfingter anterior menuju ke rongga mulut Spingter m. Orbiculasris oris, dipersarafi cabang mandibula lateralis & bukal n. facialis.

7/21/12

LIDAH

Organ muskular yang aktif Dorsum papillae, m. Genioglossus, N. Hypoglossus (N. XII) Ventral

7/21/12

LIDAH
Sensasi kecap

2/3 anterior lidah dibawa oleh corda timpani, kemudian berjalan bersama n. Facialis 1/3 posterior oleh N. glossopharyngeus.

7/21/12

ATAP MULUT

Palatum durum Palatum molle Uvula

7/21/12

PEMBAGIAN

Nasofaring :

1/3 bagian atas, bagian pernafasan dari faring & tidak dapat bergerak kecuali palatum mole bagian bawah
7/21/12

Orofaring :

FARING
Kantong fibromuskuler, bentuk seperti corong Dimulai dari dasar tengkorak terus menyambung ke esofagus setinggi vertebra servikalis ke-6. Ke atas rongga hidung melalui koana Ke depan rongga mulut melalui ismus orofaring, 7/21/12 laring dibawah berhubungan

UNSUR-UNSUR

Meliputi mukosa, palut lendir (mucous blanket), otot

Mukosa : tergantung pada letaknya

Pada nasofaring mukosanya bersilia, sedang epitelnya torak berlapis yang mengandung sel goblet. Di bagian bawahnya, yaitu orofaring dan laringofaring epitelnya gepeng berlapis dan tidak bersilia. Di sepanjang faring banyak sel jaringan limfoid (pertahanan tubuh terdepan)

7/21/12

UNSUR-UNSUR

Palut Lendir (Mucous Blanket)

Daerah nasofaring dilalui oleh udara pernapasan yang diisap melalui hidung. Di bagian atas, nasofaring ditutupi oleh palut lendir yang terletak diatas silia dan bergerak sesuai dengan arah gerak silia ke belakang.

Berfungsi untuk menangkap partikel kotoran yang terbawa oleh udara yang diisap, mengandung enzim Lyzozyme 7/21/12yang penting untuk proteksi.

OTOT FARING
1.

Otot-sirkular m.konstriktor faring superior, media dan inferior Kerja untuk mengecilkan lumen faring. Otot dipersarafi oleh n.vagus (n.X) Otot longitudial - m.stilofaring: melebarkan faring dan menarik laring dipersarafi oleh n.IX - m.palatofaring: mempertemukan ismus 7/21/12 orofaring dan menaikkan

2.

Pada PALATUM MOLLE


M.levator veli palatini untuk menyempitkan ismus faring dan memperlebar ostium tuba eustacius. M. tensor veli palatini untuk mengencangkan bagian anterior palatum mole dan membuka tuba eustachius M. palatoglosus menyempitkan ismus faring. M. palatofaring membentuk arkus posterior faring M. azigos uvula kerjanya memperpendek dan menaikkan uvula ke belakang atas
7/21/12

Semua otot ini dipersarafi oleh nervus vagus

PENDARAHAN FARING

Cabang a.karotis eksterna (cabang faring asenden dan cabang fausial)

Cabang a.maksila interna yaitu cabang palatina superior.


7/21/12

PERSARAFAN
Pleksus dibentuk oleh cabang faring dari n.vagus, cabang dari n.glosofaring dan serabut simpatis.

7/21/12

KELENJAR GETAH BENING

Saluran limfa superior mengalir ke kelenjar getah bening retrofaring dan kelenjar getah bening servikal dalam atas. Saluran limfa media mengalir ke kelenjar getah bening jugulodigastrik dan kelenjar servikal dalam atas

saluran limfa inferior mengalir ke kelenjar getah bening servikal dalam bawah. 7/21/12

NASOFARING

Batas atas : dasar tengkorak Batas bawah : palatum mole Batas depan : Rongga Hidung Batas belakang : Vetebra servikal

7/21/12

Struktur

Dinding posterior meluas kearah kubah : jaringan adenoid Terdapat jaringan limfoid pada dinging faringeal lateral dan pada resesus faringeus (fossa Rosenmuller) Torus tubarius Koana posterior rongga hidung Foramina kranial, foramen jugularis Struktur pem. darah yang berdekatan dengan sinus 7/21/12 petrosus inferior

OROFARING
= mesofaring

batas atas : palatum mole batas bawahnya : tepi atas epiglotis Batas depan : rongga mulut

Batas 7/21/12 belakang :

DINDING POSTERIOR FARING

Terlibat pada radang akut atau radang kronik faring, abses retrofaring, serta gangguan otot bagian tersebut. Gangguan otot posterior faring bersama-sama dengan otot palatum mole berhubungan dengan gangguan n.vagus.
7/21/12

FOSA TONSIL

Dibatasi oleh arkus faring anterior & posterior. Batas lateral: m.konstriktor faring superior. Batas atas: fossa supratonsil. Berisi jaringan ikat jarang dan biasanya merupakan tempat nanah memecah ke luar bila terjadi 7/21/12 abses.

TONSIL

Tonsil adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh jaringan ikat dengan kriptus didalamnya. Terdapat macam tonsil yaitu tonsil faringal (adenoid), tonsil palatina dan tonsil lingual yang ketiga-tiganya membentuk lingkaran yang disebut cincin waldeyer.

7/21/12

LARINGOFARING (HYPOFARING)

Batas laringofaring superior : tepi atas epiglotis Batas anterior: laring Batas inferior : esofagus Batas posterior : vertebra 7/21/12 servikal.

LARINGOFARING (HYPOFARING)

Valekula dibentuk oleh lig. glosoepiglotika medial dan lig. glosoepiglotika lateral pada tiap sisi. = kantong pil ( pill pockets)

Dibawah valekula terdapta epiglotis. Epiglotis berfungsi untuk melindungi (proteksi) glotis ketika menelan minuman atau bolus makanan, pada saat bolus tersebut menuju ke sinus piriformis dan ke esofagus. Nervus laring superior berjalan dibawah dasar sinus piriformis 7/21/12

RUANG FARINGAL

Ruang retrofaring anterior (dinding belakang faring terdiri dari mukosa faring, fasia faringbasilaris, dan otot faring, berisi jaringan ikat dan fasia prevetebralis. Klinis : karena ruang retrofaring banyak kelenjar limfa abses retrofaring pecah tumpah nanah ke ruang retrofaring

Ruang parafaring bentuk kerucut dibagi menjadi 2 oleh os stiloid, bagian anterior lebih luasa dan dapat mengalami supurasi akibat tonsil meradang, mastoditis, atau karies dentis. 7/21/12

FUNGSI FARING
Terutama untuk pernapasan, menelan, resonansi suara dan artikulasi.

7/21/12

PENELANAN

3 tahap:
1.

gerakan makanan dari mulut ke faring secara volunter tahap kedua, transport makanan melalui faring tahap ketiga, jalannya bolus melalui esofagus, keduanya secara

2.

3.

7/21/12

PENELANAN

7/21/12

PROSES BERBICARA

7/21/12

LARING
v

Batas atas : aditus laring. Batas bawahnya : bidang yang melalui pinggir bawah kartilago krikoid. Batas depannya: permukaan belakang epiglotis. Batas lateralnya: membran kuadrangularis, kartilago aritenoid, konus elastikus dan arkus kartilago krikoid. Batas belakangnya : m.aritenoid transversus dan lamina kartilago krikoid.
7/21/12

LARING

Menyerupai limas segitiga terpancung, dengan bagian atas lebih besar daripada bagian bawah. Kerangka laring tersusun dari satu tulang, yaitu tulang hyoid, dan beberapa buah tulang rawan. Tulang hioid berbentuk seperti huruf U, yang permukaan atasnya dihubungkan dengan lidah, mandibula dan tengkorak oleh tendo dan otot-otot. Sewaktu menelan, kontraksi otototot ini akan menyebabkan laring tertarik ke atas, sedangkan bila laring diam, maka otot-otot ini bekerja untuk membuka mulut 7/21/12 dan membantu menggerakkan

LARING
Tulang rawan yang menyusun laring adalah:
-

kartilago epiglotis kartilago krikoid kartilago aritenoid kartilago kornikulata kartilago tiroid kartilago cuneiformis kartilago tritisea

7/21/12

Laring........
OTOT
Otot-otot ekstrinsik terletak : - diatas tulang hioid (suprahioid) - m.digastrikus - m.geniohioid - m.stilohioid dan - m.milohioid - dan ada yang terletak di bawah tulang hioid (infrahioid): - m.sternohioid - m.omohioid dan - m.tirohioid
7/21/12

Otot-otot intrinsik : bagian lateral laring m.krikoaritenoid lateral m.tiroepiglotika m.vokalis m.tiroaritenoid m.ariepiglotika dan m.krikotiroid bagian posterior m.aritenoid transversum m.aritenoid oblik dan m.krikoaritenoid posterior.

7/21/12

7/21/12

RONGGA LARING
Dengan adanya lipatan mukosa pada ligamentum vokale dan ligamentum ventrilukare plika vokalis (pita suara asli) dan plika ventrikularis (pita suara palsu). Membagi rongga laring dalam 3 bagian, yaitu :
1.

vestibulum laring rongga laring yang terdapat di atas plika ventrikularis glotik

2. 3.

subglotik rongga laring yang terletak di 7/21/12 bawah pita suara (plika vokalis)

PERSYARAFAN
Laring dipersarafi oleh cabang-cabang nervus vagus :
1.

n.laringis superior mempersarafi m.krikotiroid, sehingga memberikan sensasi pada mukosa laring di bawah pita suara

2.

n.laringis inferior merupakan lanjutan dari n.rekuren setelah saraf itu memberikan cabangnya menjadi ramus kardia inferior

7/21/12

PENDARAHAN

Terdiri dari 2 cabang: a.laringis superior merupakan cabang dari a.tiroid superior a.laringis inferior merupakan cabang. dari a.tiroid inferior

1.

2.

7/21/12

Pembuluh Limfe Pembuluh limf untuk laring banyak, kecuali di daerah lipatan vokal. Disini mukosanya tipis dan melekat erat dengan ligamentum vokale. Di daerah lipatan vocal pembuluh limf dibagi dalam golongan superior dan inferior. Pembuluh eferen dari golongan superior berjalan lewat lantai sinus piriformis dan a. laringis superior, kemudian ke atas, dan bergabung dengan kelenjar dari bagian superior lantai servikal dalam. Pembuluh eferen dari golongan inferior berjalan ke bawah dengan a. laringis inferior dan 7/21/12 bergabung dengan kelenjar servikal

FISIOLOGI LARING

Laring berfungsi untuk proteksi, batuk, respirasi, sirkulasi, menelan, emosi serta fonasi. Fungsi laring untuk proteksi

mencegah makanan dan benda asing masuk ke dalam trakea dengan jalan menutup aditus laring dan rima glotis secara bersamaan. Terjadinya penutupan aditus laring ialah karena pengangkatan laring ke atas akibat kontraksi otot-otot ekstrinsik laring.

Dalam hal ini kartilago aritenoid bergerak ke 7/21/12 depan akibat kontraksi m. tiroaritenoid dan m.

FISIOLOGI LARING
Penutupan rima glottis terjadi karena adduksi plika vokalis. Kartilago aritenoid kiri dan kanan mendekat karena adduksi otot-otot intrinsik.

7/21/12

FISIOLOGI LARING

Fungsi respirasi dari laring ialah dengan mengatur besar kecilnya rima glitotis. Bila m. krikoaritenoid posterior berkontraksi akan menyebabkan prosesus vokalis aritenoid bergerak ke lateral, sehingga rima glotis terbuka. Dengan terjadinya perubahan tekanan udara di dalam traktus trakeobronkial akan dapat mempengaruhi sirkulasi darah dari alveolus, sehingga mempengaruhi sirkulasi darah tubuh. Dengan demikian laring berfungsi juga sebagai alat 7/21/12

FISIOLOGI LARING
Fungsi laring dalam membantu proses menelan ialah dengan 3 mekanisme, yaitu gerakan laring bagian bawah ke atas, menutup aditus laringis dan mendorong bolus makanan turun ke hipofaring dan tidak mungkin masuk ke dalam laring.

7/21/12

FISIOLOGI LARING

Laring juga mempunyai fungsi untuk mengekspresikan emosi, seperti berteriak, mengeluh, menangis, dan lain-lain. Fungsi laring yang lain ialah untuk fonasi, dengan membuat suara serta menentukan tinggi rendahnya nada.

Tinggi rendahnya nada diatur oleh peregangan plika vokalis. Bila plika vokalis dalam aduksi, maka m. krikotiroid akan merotasikan kartilago tiroid ke bawah dan ke depan, menjauhi kartilago aritenoid. Pada saat yang bersamaan m. krikoaritenoid posterior akan menahan atau menarik kartilago aritenoid ke belakang. Plika vokalis kini dalam keadaan yang efektif untuk berkontraksi. Sebaliknya kontraksi m. krikoaritenoid akan mendorong

7/21/12

Fungsi Sfingter Larynx

Terdapat dua sfingter pada larynx : 1) pada aditus laryngis dan 2) pada rima glotidis. Sfingter pada aditus berfungsi hanya pada saat menelan. Ketika bolus makanan dipindahkan ke belakang di antara lidah dan palatum durum, larynx tertarik ke atas, di bawah bagian belakang lidah. Aditus laryngis dipersempit oleh kerja m. arytenoideus obliquus dan aryepiglotticus. Epiglotis didorong ke belakang oleh lidah dan berfungsi sebagai sungkup di atas aditus laryngis. Bolus makanan, atau cairan, kini masuk esophagus dengan menggelincir di atas epiglotis atau turun lewat alur pada sisi-sisi aditus laryngis (fossa piriformis). Ketika batuk atau bersin, rima glottidis akan berfungsi sebagai sfingter. Sesudah inspirasi, plica vocalis beradduksi, dan otot ekspirasi berkontraksi dengan kuat. Akibatnya, tekanan intrathoraks meningkat sementara plica vocalis mendadak abduksi. Selanjutnya akan terjadi pelepasan mendadak udara yang tertekan tersebut, yang seringkali akan mengeluarkan partikel asing atau mukus dari saluran napas dan selanjutnya masuk ke pharynx. Di sini partikel tersebut akan ditelan atau dikeluarkan4. Pada penegangan abdomen sewaktu berkemih, buang air besar dan melahirkan, udara ditahan untuk sesaat di dalam saluran napas dengan menutup rima glottidis. Sesudah inspirasi yang dalam, rima glottidis ditutup. Otot dinding abdomen anterior kini berkontraksi, dan gerak naik diafragma dicegah oleh adanya udara kompresi, di dalam saluran napas. Setelah 7/21/12 berlangsung sesaat, orang tersebut sering melepaskan sejumlah udara

Pembentukan suara dalam larynx

Pelepasan udara ekspirasi secara terputusputus lewat plica vocalis yang sedang aduksi akan menggetarkannya, dan menghasilkan suara. Frekuensi atau tinggi, suara ditentukan oleh perubahan panjang dan ketegangan lig.vocale. Kualitas suara bergantung pada resonator di atas larynx, yaitu pharynx, mulut, dan sinus paranasales. Kualitas ini dikendalikan oleh otot-otot palatum molle, lidah, dasar mulut, pipi, bibir, dan rahang.

Bicara yang normal tergantung pada 7/21/12 kemampuan modifikasi suara menjadi vokal dan

TRAKEA

Trakea merupakan pipa yang terdiri dari tulang rawan dan otot yang dilapisi oleh epitel torak berlapis semu bersilia, mulai dari kartilago krikoid sampai percabangan ke bronkus utama kanan dan kiri, pada setinggi iga ke dua pada orang dewasa dan setinggi iga ke tiga pada anakanak. Panjang trakea kira-kira 12 sentimeter pada pria dan 10 sentimeter pada wanita. Dia meter anteriorposterior rata-rata 13 milimeter, sedangkan diameter transversal rata-rata 18 milimeter. Cincin trakea yang paling bawah 7/21/12 meluas ke inferior dan posterior di