Anda di halaman 1dari 196

PERNYATAAN

STANDAR AKUNTANSI
PEMERINTAHAN
KERANGKA KONSEPTUAL
AKUNTANSI PEMERINTAHAN
TUJUAN

Sebagai acuan bagi :


 Penyusun standar
 Penyusun laporan keuangan
 Pemeriksa
 Para pengguna laporan
TUJUAN UNTUK PEMERIKSA

AUDIT = membandingkan antara


yang seharusnya
dengan yang sebenarnya
(relaisasinya)

PSAP merupakan alat bagi auditor untuk


mengukur
kewajaran dalam penyajian dan
pengungkapan laporan keuangan
(yang seharusnya)
PERSYARATAN UNTUK DAPAT
MEMAHAMI PSAP

 Harus memahami sistem akuntansi


pemerintahan
 Harus memahami sistem penganggaran
pemerintah
 Harus memahami sistem akuntansi
anggaran, sistem akuntansi pendapatan,
belanja, transfer, transaksi pembiayaan,
aset, kewajiban dan ekuitas
POSISI KERANGKA KONSEPTUAL

 Kerangka Konseptual bukan standar


akuntansi

 Kerangka konseptual berfungsi


sebagai acuan jika terdapat masalah
akuntansi yg belum dinyatakan dalam
SAP

 Jika terjadi pertentangan antara


kerangka konseptual dan standar
akuntansi, maka ketentuan standar
akuntansi diunggulkan relatif terhadap
ENTITAS PELAPORAN

Entitas Pelaporan adalah unit pemerintahan


yang terdiri dari satu atau lebih entitas
akuntansi yang menurut ketentuan
peraturan perundang-undangan wajib
menyampaikan laporan
pertanggungjawaban berupa laporan
keuangan, yang terdiri dari:
 Pemerintah pusat;
 Pemerintah daerah;
 Satuan organisasi di lingkungan pemerintah
pusat/daerah atau organisasi lainnya, jika
menurut peraturan perundang-undangan satuan
PERANAN PELAPORAN KEUANGAN
PEMERINTAH
 Akuntabilitas
 mempertanggungjawabkan pengelolaan dan
pelaksanaan kebijakan sumber daya dalam mencapai
tujuan
 Manajemen
 memudahkan fungsi perencanaan, pengelolaan dan
pengendalian atas aset, kewajiban dan ekuitas dana
pemerintah
 Transparansi
 memberikan informasi keuangan yang terbuka, jujur,
menyeluruh kepada stakeholders
 Keseimbangan Antargenerasi
 memberikan informasi mengenai kecukupan
penerimaan pemerintah untuk membiayai seluruh
pengeluaran, dan apakah generasi y.a.d ikut
menanggung beban pengeluaran tersebut
KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN

LAPORAN KEUANGAN POKOK


1. Laporan Realisasi Anggaran
2. Neraca
3. Laporan Arus Kas
4. Catatan atas Laporan Keuangan
ASUMSI DASAR

 Asumsi kemandirian entitas


 Asumsi kesinambungan entitas
 Asumsi keterukuran dalam satuan
uang (monetary measurement)
KARAKTERISTIK KUALITATIF LAPORAN
KEUANGAN

 Relevan;
 Andal;
 Dapat dibandingkan; dan
 Dapat dipahami
PRINSIP AKUNTANSI DAN PELAPORAN
KEUANGAN

 Basis akuntansi;
 Prinsip nilai historis;
 Prinsip realisasi;
 Prinsip substansi mengungguli bentuk
formal;
 Prinsip periodisitas;
 Prinsip konsistensi;
 Prinsip pengungkapan lengkap; dan
 Prinsip penyajian wajar.
BASIS AKUNTANSI

 BASIS KAS: untuk pengakuan pendapatan,


belanja, dan pembiayaan;
 BASIS AKRUAL: untuk pengakuan aset,
kewajiban, dan ekuitas;
“Cash towards Accrual”
PRINSIP NILAI HISTORIS (HISTORICAL
COST)

 Aset dicatat sebesar pengeluaran kas dan


setara kas yang dibayar atau sebesar nilai
wajar dari imbalan untuk memperoleh aset
tersebut pada saat perolehan.
 Kewajiban dicatat sebesar jumlah kas dan
setara kas yang diharapkan akan
dibayarkan untuk memenuhi kewajiban di
masa yang akan datang.
 Nilai perolehan lebih dapat diandalkan
daripada penilaian yang lain karena lebih
obyektif dan dapat diverifikasi.
PRINSIP REALISASI

 Pendapatan yang tersedia yang telah


diotorisasikan melalui anggaran
pemerintah selama suatu tahun fiskal
akan digunakan untuk membiayai
belanja yang terjadi dalam periode
tersebut.

 Prinsip penandingan pendapatan-


belanja tidak mendapat penekanan
seperti dalam akuntansi komersial.
SUBSTANCE OVER FORM

Peristiwa harus dicatat dan


disajikan sesuai dengan substansi
dan realitas ekonomi, bukan
hanya mengikuti aspek formalitas.
PERIODISITAS

Kegiatan akuntansi dan pelaporan


keuangan entitas pemerintah perlu
dibagi menjadi periode-periode
pelaporan sehingga kinerja entitas
dapat diukur dan posisi sumber
daya yang dimilikinya dapat
ditentukan
KONSISTENSI
 Perlakuan akuntansi yang sama harus
ditetapkan pada kejadian yang serupa dari
periode ke periode oleh suatu entitas
(prinsip konsistensi internal).

 Metode akuntansi yang dipakai dapat


diubah dengan syarat metode yang baru
diterapkan menunjukkan hasil yang lebih
baik dari metode yang lama.

 Pengaruh atas perubahan penerapan


metode harus diungkapkan dalam laporan
keuangan.
PENGUNGKAPAN LENGKAP (FULL
DISCLOSURE)

 Laporan keuangan harus menyajikan


secara lengkap informasi yang
dibutuhkan oleh pengguna.

 Informasi tersebut dapat ditempatkan


pada lembar muka laporan keuangan
atau catatan atas laporan keuangan.
PENYAJIAN WAJAR (FAIR
PRESENTATION)

Dalam penyajian dengan wajar posisi


keuangan, kinerja, dan perubahan posisi
keuangan suatu entitas, diperlukan
pertimbangan sehat yang mengandung
unsur-unsur kehati-hatian pada saat
melakukan prakiraan dalam kondisi
ketidakpastian sehingga aset atau
pendapatan tidak dinyatakan terlalu
tinggi dan kewajiban tidak dinyatakan
terlalu rendah
MODUL PSAP NO. 01
PENYAJIAN LAPORAN
KEUANGAN
TUJUAN

Mengatur penyajian laporan keuangan


untuk tujuan umum (general purpose
financial statements) dalam rangka
meningkatkan keterbandingan laporan
keuangan baik terhadap anggaran,
antar periode, maupun antar entitas.
TUJUAN LAPORAN KEUANGAN

 Tujuan umum laporan keuangan


adalah menyajikan informasi
mengenai posisi keuangan, realisasi
anggaran, arus kas, dan kinerja
keuangan suatu entitas pelaporan
yang bermanfaat bagi para
pengguna dalam membuat dan
mengevaluasi keputusan mengenai
alokasi sumber daya.
TUJUAN LAPORAN KEUANGAN
 Tujuan khusus laporan keuangan pemerintah
adalah untuk menyajikan informasi yang berguna untuk
pengambilan keputusan dan untuk menunjukkan akuntabilitas
entitas atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya, dengan:
 menyediakan informasi mengenai posisi sumber daya ekonomi,
kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah;
 menyediakan informasi mengenai perubahan posisi sumber
daya ekonomi, kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah;
 menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan
penggunaan sumber daya ekonomi;
 menyediakan informasi mengenai ketaatan realisasi terhadap
anggarannya;
 menyediakan informasi mengenai cara entitas pelaporan
mendanai aktivitasnya dan memenuhi kebutuhan kasnya;
 menyediakan informasi mengenai potensi pemerintah untuk
membiayai penyelenggaraan kegiatan pemerintahan;
 menyediakan informasi yang berguna untuk mengevaluasi
kemampuan entitas pelaporan dalam mendanai aktivitasnya.
TANGGUNG JAWAB PELAPORAN
KEUANGAN

Tanggung jawab penyusunan dan


penyajian laporan keuangan berada
pada pimpinan entitas
KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN

 Komponen laporan keuangan pokok:


• Laporan Realisasi Anggaran;
• Neraca;
• Laporan Arus Kas; dan
• Catatan atas Laporan Keuangan.
 Komponen laporan keuangan tersebut disajikan
oleh setiap entitas pelaporan, kecuali Laporan
Arus Kas yang hanya disajikan oleh unit yang
mempunyai fungsi perbendaharaan (Bendahara
Umum Negara/Daerah).
 Selain menyajikan laporan keuangan pokok,
entitas pelaporan diperkenankan menyajikan
Laporan Kinerja Keuangan berbasis akrual dan
Laporan Perubahan Ekuitas
PERIODE PELAPORAN

 Laporan keuangan disajikan sekurang-


kurangnya sekali dalam setahun.
 Apabila laporan keuangan tahunan
disajikan dengan suatu periode yang
lebih panjang atau lebih pendek dari
satu tahun, entitas pelaporan
mengungkapkan informasi berikut :
 Alasan penggunaan periode pelaporan
tidak satu tahun,
 Fakta bahwa jumlah-jumlah komparatif
untuk laporan tertentu seperti arus kas
dan catatan-catatan terkait tidak dapat
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
 LRA menyajikan sekurang-kurangnya unsur-unsur
:
1. pendapatan;
2. belanja;
3. transfer;
4. surplus/defisit;
5. pembiayaan;
6. sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran

LRA (Paragraf 32 s.d. 37)


Diatur khusus dalam PSAP Nomor 2
NERACA

Neraca menggambarkan posisi


keuangan pemerintah mengenai
aset, kewajiban, dan ekuitas
dana pada tanggal tertentu.
ISI SINGKAT NERACA

 Aset Lancar  Kewajiban Jangka


• Kas dan Setara Kas Pendek
• Investasi Jangka  Kewajiban Jangka
Pendek Panjang
• Piutang  Ekuitas Dana
• Persediaan
• Ekuitas Dana Lancar
 Aset Non Lancar: • Ekuitas Dana
• Investasi Jangka Investasi
Panjang • Ekuitas Dana
• Aset Tetap Cadangan
• Dana Cadangan
• Aset Lainnya
ASET LANCAR

 Diharapkan segera untuk


direalisasikan, dipakai, atau
dimiliki untuk dijual dalam waktu
12 (dua belas) bulan sejak
tanggal pelaporan, atau
 Berupa kas dan setara kas
ASET LANCAR

 Aset lancar meliputi: kas, dan setara kas,


investasi jangka pendek, piutang, dan
persediaan.
 Akuntansi Persediaan diatur dalam PSAP
Nomor 05
 Akuntansi Investasi diatur dalam PSAP
Nomor 06
ASET NONLANCAR

 Aset yang bersifat jangka panjang


dan aset tak berwujud.
 Digunakan secara langsung atau
tidak langsung untuk kegiatan
pemerintah atau yang digunakan
masyarakat umum.
KEWAJIBAN

 Utang yang timbul dari


peristiwa masa lalu yang
penyelesaiannya
mengakibatkan aliran keluar
sumber daya ekonomi
pemerintah
 Akuntansi Kewajiban diatur
EKUITAS DANA

Kekayaan bersih pemerintah


yang merupakan selisih antara
aset dan kewajiban
pemerintah.
EKUITAS DANA

 Ekuitas Dana Lancar adalah selisih


antara aset lancar dan kewajiban
jangka pendek.
 Ekuitas Dana Investasi mencerminkan
kekayaan pemerintah yang tertanam
dalam investasi jangka panjang, aset
tetap, dan aset lainnya, dikurangi
dengan kewajiban jangka penjang.
 Ekuitas Dana Cadangan
mencerminkan kekayaan pemerintah
yang dicadangkan untuk tujuan
LAPORAN ARUS KAS

Menyajikan informasi mengenai


sumber, penggunaan, perubahan
kas dan setara kas pada tanggal
pelaporan.
Laporan Arus Kas
diatur dalam PSAP 03
LAPORAN KINERJA KEUANGAN

 Disajikan oleh entitas pelaporan


yang menerapkan basis akrual.
 Laporan Kinerja Keuangan
sekurang-kurangnya
menyajikan pos-pos sebagai
berikut:
1. Pendapatan dari kegiatan
operasional;
2. Beban berdasarkan klasifikasi
fungsional dan klasifikasi
ekonomi;
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

 Dalam Laporan Perubahan Ekuitas


sekurang-kurangnya harus
disajikan pos-pos:
1. Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan
Anggaran;
2. Setiap pos pendapatan dan
belanja beserta totalnya seperti
diisyaratkan dalam standar-
standar lainnya, yang diakui
secara langsung dalam ekuitas;
3. Efek kumulatif atas perubahan
CATATAN ATAS LAPORAN
KEUANGAN

Catatan atas Laporan Keuangan


(CaLK) diatur pada PSAP 04
PSAP NO. 02
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
RUANG LINGKUP
 Penyajian pendapatan, belanja, dan
pembiayaan dengan basis kas.
 Berlaku untuk setiap entitas pelaporan
yang mem- peroleh alokasi APBN/APBD,
tidak termasuk perusahaan negara
 Entitas yang menyusun laporan berbasis
accrual, tetap wajib menyusun Laporan
Realisasi Anggaran
 Penyandingan realisasi pendapatan,
belanja, dan pembiayaan dengan
anggarannya;
 Akuntansi Anggaran dalam APBD:
 Belanja: appropriasi;
 Pendapatan: estimasi.
 Penjabaran APBD oleh Kepala Daerah di
PENGERTIAN

Laporan Realisasi Anggaran (LRA)


merupakan salah satu komponen
laporan keuangan pemerintah yang
menyajikan informasi tentang
realisasi dan anggaran entitas
pelaporan secara tersanding untuk
suatu periode tertentu.
STRUKTUR LAPORAN REALISASI
ANGGARAN

Laporan Realisasi Anggaran menyajikan


informasi realisasi disandingkan dgn
anggaran mengenai:
 pendapatan,
 belanja,
 transfer,
 surplus/defisit dan
 pembiayaan.
 dalam satu periode.
STRUKTUR APBN/D DAN
REALISASINYA

REALISASI
APBD
APBD
A Pendapatan 900,00 950,00
B Belanja (Termasuk 1.000,00 1.100,00
C Transfer)
Defisit (A - B) (100,00) (150,00)
D Penerrimaan 300,00 350,00
E Pembiayaan
Pengeluaran (200,00) (150,00)
Pembiayaan
F Pembiayaan Neto (D - 100,00 200,00
G E)
SILPA (F - C) 50,00
PERBEDAAN PERLAKUAN
APBN/APBD
APBN APBD
SILPA/SIKPA pada akhir TA SILPA APBD akan menjadi
dipindahkan ke Ekuitas sumber pembiayaan pada
Dana –Akumulasi SILPA TA berikutnya (tidak ada
(RE)
Saldo Kas Umum Negara RE)
Saldo Kas Daerah = SILPA
= Akumulasi SILPA = Ekuitas Dana SILPA
Transfer Out dicatat Transfer in dicatat
sebagai Pengeluaran sebagai Pendapatan Dana
(above the line) Perimbangan dan Dana
 Bagian Anggaran Bagi Hasil
Belanja Tak Terduga Belanja Tak Terduga
sendiri
ditampung pada Bagian menampung bencana
Anggaran tersendiri alam dan penerimaan
kembali pendapatan
tahun lalu yang sudah
ditutup.
PENDAPATAN

Semua penerimaan Rekening Kas


Umum Negara/Daerah yang
menambah ekuitas dana lancar dalam
periode tahun anggaran yang
bersangkutan yang menjadi hak
pemerintah, dan tidak perlu dibayar
kembali oleh pemerintah.
AKUNTANSI PENDAPATAN

 Pendapatan diklasifikasikan menurut


jenis pendapatan
 Transfer masuk adalah penerimaan
dana dari entitas pelaporan lain, misal
DAU dan DBH
 Akuntansi pendapatan dilaksanakan
berdasarkan azas bruto, yaitu dengan
membukukan penerimaan bruto, dan
tidak mencatat jumlah netonya
(setelah dikompensasikan dengan
pengeluaran)
AKUNTANSI PENDAPATAN

 Dalam hal BLU, pendapatan diakui


dengan mengacu pada peraturan
perundangan yang berlaku.
BELANJA

Semua pengeluaran dari Rekening Kas


Umum Negara/Daerah yang
mengurangi ekuitas dana lancar dalam
periode tahun anggaran bersangkutan
yang tidak akan diperoleh
pembayarannya kembali oleh
pemerintah.
AKUNTANSI BELANJA

 Belanja diakui pada saat terjadinya


pengeluaran dari Rekening Kas umum
Negara/Daerah
 Pengeluaran melalui bendahara
pengeluaran, penga kuan belanjanya
terjadi pada saat pertanggungjawab
an atas pengeluaran yang disahkan
oleh unit yang mempunyai fungsi
perbendaharaan.
 Belanja BLU diakui dengan mengacu
pada peraturan perundangan yang
AKUNTANSI BELANJA

 Pembayaran belanja dapat dilakukan


secara langsung (LS) atau melalui
dana kas kecil (Uang Persediaan)
yang diberikan kepada para
bendahara pengeluaran/pemegang
kas.
 Pada saat kas dibelanjakan oleh
Bendahara Pengeluaran belum diakui
sebagai belanja. Pada saat
dipertanggungjawabkan (penerbitan
KLASIFIKASI BELANJA PEMERINTAH

 Klasifikasi mrt ketentuan UU Bidang


Keu. Negara
 Klasifikasi mrt PP no 58 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah
 Klasifikasi mrt Permendagri no 13
tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah
 Klasifikasi mrt PP no 24 tahun 2005
tentang Pernya taan Standar
Akuntansi Pemerintahan
KLASIFIKASI BELANJA mrt UU
KN/PN

 ekonomi (jenis belanja)


 organisasi
 fungsi
KLASIFIKASI MRT PP NO 58 TAHUN
2005
 Klasifikasi menurut organisasi, fungsi,
program dan kegiatan serta jenis
belanja
 Klasifikasi belanja menurut organisasi

disesuaikan dengan susunan


organisasi pemerintahan
 Klasifikasi menurut fungsi terdiri dari :

a. Klasifikasi berdasarkan urusan


pemerintahan dan
b. Klasifikasi untuk tujuan
KLASIFIKASI MENURUT PERMENDAGRI
NO. 13/2006

 Klasifikasi belanja dalam rangka


mendanai pelaksana an urusan
pemerintahan yang menjadi
kewenangan Propinsi dan atau
Kabupaten/Kota, yang terdiri dari
belanja urusan wajib dan belanja
urusan pilihan
 Klasifikasi belanja mrt fungsi
digunakan untuk tujuan keselarasan
dan keterpaduan pengelolaan
keuangan negara

SURPLUS/DEFISIT

Selisih lebih/kurang antara


pendapatan dan belanja selama
satu periode pelaporan dicatat
dalam pos Surplus/Defisit
PEMBIAYAAN

Setiap penerimaan yang perlu dibayar


kembali dan/atau pengeluaran yang
akan diterima kembali, baik pada
tahun anggaran bersangkutan maupun
tahun-tahun anggaran berikutnya,
yang dalam penganggaran pemerintah
terutama dimaksudkan untuk menutup
defisit atau memanfaatkan surplus
anggaran
AKUNTANSI PENERIMAAN
PEMBIAYAAN

 Penerimaan pembiayaan diakui pada


saat diterima pada Rekening Kas
Umum Negara/Daerah
 Akuntansi penerimaan pembiayaan
dilaksanakan berdasarkan azas bruto,
yaitu dengan membukukan penerimaan
bruto, dan tidak mencatat jumlah
netonya (setelah dikompensasikan
dengan pengeluaran)
AKUNTANSI PENGELUARAN
PEMBIAYAAN

Pengeluaran pembiayaan diakui


pada saat dikeluarkan dari
Rekening Kas Umum
Negara/Daerah
TRANSAKSI DALAM MATA UANG
ASING

Transaksi dalam mata uang asing


harus dibukukan dalam mata uang
rupiah dengan menjabarkan
jumlah mata uang asing tersebut
menurut kurs tengah bank sentral
pada tanggal transaksi
TRANSAKSI PENDAPATAN, BELANJA, DAN
PEMBIAYAAN BERBENTUK BARANG DAN JASA

 Transaksi pendapatan, belanja, dan


pembiayaan dalam bentuk barang dan jasa
harus dilaporkan dalam LRA dengan cara
menaksir nilai barang dan jasa tersebut
pada tanggal transaksi.
 Di samping itu, transaksi semacam ini juga
harus diungkapkan pada CaLK sehingga
dapat memberikan semua informasi yang
relevan mengenai bentuk dari pendapatan,
belanja, dan pembiayaan yang diterima.
 Contoh transaksi berwujud barang dan jasa
adalah hibah dalam wujud barang, barang
rampasan, dan jasa konsultansi
MODUL PSAP NO. 03
LAPORAN ARUS KAS
Arti Penting LAK

Laporan Arus Kas (LAK):


 Memuat seluruh penerimaan dan
pengeluaran kas baik yang
dianggarkan/tidak dianggarkan;
 Hanya disajikan unit yang memiliki
fungsi perbendaharaan;
Pengertian LAK

Laporan yang memberi informasi:


 Arus masuk kas (pendapatan,
penerimaan pembiayaan, penerimaan
PFK);
 Arus keluar kas (belanja, pengeluaran
pembiayaan, pengeluaran PFK);
 Saldo awal kas;
 Saldo akhir kas.
Arus Masuk Aktivitas Operasi

 Pendapatan Pajak dan Retribusi Daerah


 Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan
Daerah yang Dipisahkan
 Lain-lain PAD yang sah
 Dana Perimbangan (DBH Pajak, SDA, DAU,
DAK, Dana Otsus, Dana Penyesuaian)
 Pendapatan Hibah
 Pendapatan Dana Darurat
 Pendapatan Lainnya
Arus Keluar Aktivitas Operasi

 Belanja Pegawai
 Belanja Barang
 Bunga
 Subsidi
 Hibah
 Bantuan Sosial

 Belanja Tak
Bagi Hasil Terduga
Pajak, Retribusi, dan Hasil
Lainnya
Arus Masuk/Keluar Aktivitas Investasi
Aset Nonkeuangan

 Arus Masuk:
 Penjualan Aset Tetap;
 Penjualan Aset Lainnya
 Arus Keluar:
 Perolehan Aset Tetap;
 Perolehan Aset Lainnya.
PSAP NO. 04
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
KETENTUAN UMUM

Setiap entitas pelaporan diharuskan


untuk menyajikan Catatan atas
Laporan Keuangan sebagai bagian
yang tak tepisahkan dari laporan
keuangan untuk tujuan umum.
STRUKTUR DAN ISI

Catatan atas Laporan Keuangan harus


disajikan secara sistematis. Setiap pos
dalam Laporan Realisasi Anggaran,
Neraca dan Laporan Arus Kas harus
mempunyai referensi silang dengan
informasi terkait dalam Catatan atas
Laporan Keuangan
CALK SEBAGAI WUJUD PENYAJIAN
LAPORAN KEUANGAN YANG MEMADAI
 Menyajikan informasi tentang kebijakan
fiskal/keuangan, ekonomi makro, pencapaian
target UU APBN/Perda APBD, berikut kendala dan
hambatan yang dihadapi dalam pencapaian
target
 Menyajikan ikhtisar pencapaian kinerja keuangan
selama tahun anggaran
 Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan
laporan keuangan dan kebijakan2 akuntansi yang
dipilih
 Mengungkapkan informasi yang diharuskan oleh
PSAP yang belum disajikan dalam lembar muka
laporan keuangan
 Mengungkapkan informasi untuk pos2 aset dan
kewajiban yang timbul sehubungan dengan
penerapan basis akrual atas pendapatan dan
Menyajikan informasi tentang kebijakan
fiskal/keuangan, ekonomi makro,
pencapaian target UU APBN/Perda APBD
 CALK harus dapat membantu pembacanya untuk
dapat memahami kondisi dan posisi keuangan
entitas pelaporan secara keseluruhan (misalnya
asumsi2 indikator ekonomi makro- PDB/PDRB,
pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar, harga
minyak, suku bunga dsb)

 CALK harus dapat menjelaskan perubahan


anggaran yang penting selama periode berjalan
dibandingkan anggaran yang pertama kali disahkan
oleh DPR/DPRD, hambatan dan kendala yang ada
dalam pencapaian target.
Menyajikan ikhtisar pencapaian kinerja
keuangan
selama tahun anggaran
 Kinerja keuangan entitas pelaporan dalam Laporan
Realisasi Anggaran harus mengikhtisarkan indikator
dan pencapaian kinerja kegiatan operasional yang
berdimensi keuangan dalam suatu periode
pelaporan (tingkat efisiensi – I/O- dan efektifitas
suatu program – Outcome/target)
 Pembahasan dalam CALK harus
- menguraikan strategi dan sumber daya yang
digunakan
- memberikan gambaran yang jelas atas realisasi
dan rencana kinerja keuangan
- menguraikan prosedur yang telah disusun dan
dijalankan
- pembahasan kinerja keuangan harus (a) meliputi
baik hasil yang positif dan negatif (b)
menyediakan data historis yang relevan (c)
Dasar penyajian Laporan Keuangan dan
Pengungkapan
Kebijakan Akuntansi Keuangan
 Dalam menyajikan CALK, entitas pelaporan harus
mengungkapkan dasar penyajian LK dan kebijakan
akuntansi.
 Pertimbangan dan atau pemilihan kebijakan
akuntansi perlu disesuaikan dengan kondisi entitas
pelaporan. (pertimbangan yang sehat, substance
over form dan materialitas)
 Pengungkapan kebijakan akuntansi harus
mengindentifikasikan dan menjelaskan prinsip-
prinsip akuntansi yang digunakan dan metode-
metode penerapannya yang secara material
mempengaruhi penyajian LRA, Neraca dan LAK.
 Kebijakan akuntansi menjelaskan : a) entitas
pelaporan, b) basis akuntansi c) basis pengukuran
yang digunakan d) sampai sejauh mana kebijakan-
Mengungkapkan informasi yang diharuskan
oleh PSAP yang belum disajikan dalam
lembar muka laporan keuangan
 CALK harus menyajikan informasi ang diharuskan
dan dianjurkan oleh PSAP lainnya serta
pengungkapan2 lain yang diperlukan untuk
penyajian wajar atas LK, seperti kewajiban
kontijensi dan komitmen- komitmen lain.
Pengungkapan informasi dalam CALK harus dapat
memberikan informasi lain yang belum disajikan
dalam bagian lain. Beberapa transaksi atau
peristiwa yang diyakini akan mempunyai dampak
penting bagi entitas pelaporan yang tidak dapat
disajikan pada lembar muka LK., misalnya
kewajiban kontijensi. Pembaca LK perlu diingatkan
kemungkinan akan terjadinya peristiwa yang
mempengaruhi kondisi keuangan pada periode
yang akan datang
kewajiban yang timbul sehubungan dengan
penerapan basis akrual atas pendapatan dan
belanja dan rekonsiliasinya dengan penerapan
basis kas
Entitas pelaporan yang menyusun LK berbasis
akrual atas pendapatan dan belanja, harus
mengungkapkan pos-pos aset dan kewajiban yang
timbul sehubungan dengan penerapan basis akrual
dan menyajikan rekonsiliasinya dengan penerapan
basis kas.
Entitas pelaporan tersebut harus menyediakan
informasi tambahan, yaitu rincian output dan
outcome dalam bentuk indikator kinerja keuangan,
dan laporan lain mengenai pencapaian kinerja
keuangan entitas selama periode pelaporan,
sehingga pembaca memahami timbulnya pos-aset
dan kewajiban akibat dari pendapatn dan belanja
akrual.
PENGUNGKAPAN LAINNYA
 CALK harus mengungkapkan informasi yang bila
tidak diungkapkan akan menyesatkan bagi
pembaca laporan, seperti
- penggantian manajemen pemerintahan selama
tahun berjalan
- kesalahan manajemen terdahulu yang telah
dikoreksi oleh manajemen baru
- komitmen atau kontijensi yang tidak dapat
disajikan pada lembar muka LK
- penggabungan atau pemekaran entitas tahun
berjalan
- kejadian yang mempunyai dampak sosial,
misalnya adanya pemogokan yang harus
ditangulangi pemerintah
MODUL PSAP NO. 05
AKUNTANSI PERSEDIAAN
PERSEDIAAN

Aset dalam bentuk barang atau


perlengkapan (supplies) yang diperoleh
dengan maksud untuk mendukung
kegiatan operasional pemerintah atau
barang-barang yang dimaksudkan untuk
dijual dan atau diserahkan dalam
rangka pelayanan kepada masyarakat
dalam kurun waktu 12 bulan dari
tanggal pelaporan.
CAKUPAN PERSEDIAAN

 Barang atau perlengkapan untuk


operasional;
 Bahan atau perlengkapan untuk proses
produksi;
 Barang dalam proses produksi;
 Barang yang disimpan untuk dijual atau
diserahkan kepada masyarakat dalam
rangka kegiatan pemerintahan.
Barang atau
perlengkapan Barang habis pakai
(supplies) yang
A digunakan sendiri
dalam rangka Barang tak habis pakai
kegiatan operasional
pemerintah Barang bekas pakai

Barang yang dibeli


B untuk dijual atau
diserahkan kepada
masyarakat

Barang yang Barang baku atau supplies


digunakan dalam
C proses produksi jika Barang dalam proses
pemerintah (setengah jadi)
memproduksi sendiri
(swakelola) Barang jadi
CONTOH PERSEDIAAN
 Barang konsumsi
 Amunisi
 Bahan untuk pemeliharaan
 Suku cadang
 Persediaan untuk tujuan strategis/berjaga-
jaga
 Materai atau leges
 Bahan baku
 Barang dalam proses/setengah jadi
 Tanah/bangunan untuk dijual atau
diserahkan kepada masyarakat
 Hewan dan tanaman, untuk dijual atau
diserahkan kepada masyarakat
PENGAKUAN PERSEDIAAN

 Persediaan diakui pada saat potensi


manfaat ekonomi masa depan
diperoleh oleh pemerintah dan
mempunyai nilai atau biaya yang
dapat diukur dengan andal
 Persediaan diakui pada saat diterima
atau hak kepemilikannya dan/atau
kepenguasaannya berpindah
PENGUKURAN PERSEDIAAN

 Biaya perolehan apabila diperoleh


dengan pembelian;
 Biaya standar apabila diperoleh
dengan memproduksi sendiri;
 Nilai wajar apabila diperoleh dengan
cara lainnya seperti
donasi/rampasan.
Persediaan Harga pembelian + biaya
Biaya diperoleh = pengangkutan + biaya
perolehan dengan penanganan – potongan
pembelian harga – rabat

Persediaan
Biaya diperoleh = Biaya Langsung + biaya
standar dengan tidak langsung
memproduksi
sendiri

Persediaan
Nilai wajar diperoleh = Nilai tukar aset secara
dengan cara wajar
lain, misalnya
donasi/rampa
san
PENGUNGKAPAN PERSEDIAAN

 Kebijakan akuntansi yang


digunakan
 Penjelasan lebih lanjut tentang
cakupan persediaan
 Kondisi persediaan
 Hal-hal lain, misalnya peruntukan
dan asal persediaan
MODUL PSAP NO. 06
AKUNTANSI INVESTASI
DEFINISI INVESTASI

Aset yang dimaksudkan untuk


memperoleh manfaat ekonomik seperti
bunga, dividen dan royalti, atau
manfaat sosial sehingga dapat
meningkatkan kemampuan pemerintah
dalam rangka pelayanan kepada
masyarakat.
BENTUK INVESTASI

 Deposito,
 Sertifikat Bank Indonesia,
 Surat utang dan obligasi
BUMN/BUMD,
 Penyertaan pada BUMN/BUMD,
 Penyertaan pada badan usaha
lainnya.
STANDAR TIDAK MENGATUR

 Investasi dalam Perusahaan


Asosiasi
 Investasi dalam kerjasama operasi
(KSO)
 Investasi dalam properti
INVESTASI JANGKA PENDEK

 Diharapkan dapat segera dicairkan


dan dimaksudkan untuk dimiliki
selama setahun atau kurang
 Ditujukan dalam rangka manajemen
kas
 Berisiko rendah atau bebas dari
perubahan atau pengurangan harga
yang signifikan
Deposito berjangka waktu tiga
sampai dua belas bulan, Pembelian
obligasi pemerintah jangka pendek
oleh pemerintah daerah, pembelian
sertifikat Bank Indonesia (SBI)
INVESTASI JANGKA PANJANG

 Dimaksudkan untuk dimiliki


lebih dari dua belas bulan

 Sifat penanaman:
 permanen
 non permanen
INVESTASI NON PERMANEN

Investasi jangka panjang yang


dimaksudkan
untuk dimiliki secara tidak
berkelanjutan.

Contoh:
 Pinjaman yang diberikan kepada

perusahaan negara/ daerah atau pihak


lainnya,
 Pinjaman luar negeri yang diterus

pinjamkan.
INVESTASI PERMANEN

Investasi jangka panjang yang dimaksudkan


untuk
dimiliki secara berkelanjutan

Contoh:
 Penyertaan Modal Pemerintah pada

perusahaan
negara/daerah,
 Penyertaan Pemerintah pada badan

internasional dan badan hukum lainnya;


 Investasi permanen lainnya.
PENGAKUAN INVESTASI

Investasi diakui apabila memenuhi salah


satu kriteria:
 Kemungkinan manfaat ekonomik dan
manfaat lainnya atau jasa pontensial
di masa yang akan datang atas suatu
investasi tersebut dapat diperoleh
pemerintah;
 Nilai perolehan atau nilai wajar
investasi dapat diukur secara
memadai.
PENGUKURAN INVESTASI JANGKA
PENDEK

 Investasi jangka pendek dalam


bentuk surat berharga dicatat sebesar
biaya perolehan.

 Investasi jangka pendek yang tidak


diketahui biaya perolehannya dinilai
berdasar nilai wajar investasi pada
tanggal perolehannya.
PENGUKURAN INVESTASI
PERMANEN

 Investasi jangka panjang bersifat


permanen dicatat sebesar biaya
perolehannya

 Investasi jangka panjang dari


pertukaran aset pemerintah dicatat
sebesar biaya perolehan, atau nilai
wajar investasi tersebut jika harga
perolehannya tidak ada.
PENGUKURAN INVESTASI NON
PERMANEN

 Investasi non permanen (misal RPD dan RDI)


dinilai sebesar nilai nominal pinjaman yang
diberikan.

 Investasi non permanen dalam bentuk


penanaman modal di proyek-proyek
pembangunan pemerintah dinilai sebesar
biaya pembangunan termasuk biaya yang
dikeluarkan untuk perencanaan dan biaya
lain yang dikeluarkan dalam rangka
penyelesaian proyek sampai proyek
tersebut diserahkan ke pihak ketiga.
METODE PENILAIAN INVESTASI

 Metode Biaya
 Metode Ekuitas Permanen
 Metode Nilai Bersih yang dapat
Direalisasikan  Nonpermanen
METODE PENILAIAN INVESTASI
PERMANEN

Memiliki
Kepemilikan Y N Metode
Pengaruh
<20% Biaya
Signifikan

N Y

Metode
Ekuitas
PENGAKUAN HASIL INVESTASI (1)

 Hasil investasi yang diperoleh dari


investasi jangka pendek, antara lain
berupa bunga deposito, bunga
obligasi dan dividen tunai (cash
dividend) dicatat sebagai pendapatan.
 Hasil investasi berupa dividen tunai
(cash dividend) yang diperoleh dari
PMP yang pencatatannya
menggunakan:
 metode biaya  dicatat sebagai
pendapatan hasil investasi.
 metode ekuitas  dicatat sebagai
PENGAKUAN HASIL INVESTASI (2)

 Hasil investasi berupa dividen saham


(stock dividend) yang diperoleh dari
PMP yang pencatatannya
menggunakan:
 metode biaya  dicatat sebagai
penambahan jumlah investasi
 metode ekuitas  tidak ada pencatatan,
karena penambahan jumlah investasi
sudah dicatat pada saat diumumkan
laba.
PELEPASAN DAN PEMINDAHAN
INVESTASI

 Selisih dari pelepasan investasi, tidak


diakui sebagai keuntungan /kerugian
oleh pemerintah.

 Pelepasan sebagian investasi


tertentu dinilai dengan menggunakan
nilai rata-rata.
PENGUNGKAPAN

 Kebijakan akuntansi penentuan nilai


investasi
 Jenis-jenis investasi
 Perubahan harga pasar investasi
 Penurunan nilai investasi yang signifikan
dan penyebabnya
 Investasi yang dinilai dengan nilai wajar
dan alasan penerapannya
 Perubahan pos investasi
PSAP NO. 07
AKUNTANSI AKTIVA TETAP
PERAN ASET TETAP

 Bagian utama aset pemerintah, dan signifikan


dalam penyajian Neraca
 Pencatatan hasil terutama dari Belanja Modal
(capital expenditures)
 Pembedaan antara current dan capital
expenditures sangat penting untuk tujuan
analisa, transparansi dan pengambilan
keputusan, yaitu antara lain:
 untuk menilai belanja operasi pemerintah dan
effisiensi kegiatan pemerintah
 belanja investasi/modal akan menimbulkan aliran
cost dan benefit di masa datang, untuk
membedakan dengan belanja yang mempunyai
pengaruh berbeda dalam jangka pendek.
 Dalam membangun anggaran berbasis kinerja
memerlukan pemisahan antara running cost dan
capital expenditures.
 Kekurang perhatian (lack of focus) atas
DEFINISI ASET TETAP

 Aset Tetap adalah aset berwujud yang


mempunyai masa manfaat lebih dari
12 (dua belas) bulan untuk digunakan
dalam kegiatan pemerintah atau
dimanfaatkan oleh masyarakat
umum.
 Termasuk : aset tetap yang dimiliki
oleh entitas pelaporan tetapi
dimanfaatkan oleh pihak lain dan hak
atas tanah
 Tidak termasuk : aset yang dikuasai
KLASIFIKASI ASET TETAP

 Tanah
 Peralatan dan Mesin
 Gedung dan Bangunan
 Jalan, Irigasi, dan Jaringan
 Aset Tetap Lainnya
 Konstruksi dalam Pengerjaan
PENGAKUAN ASET TETAP

 Harus berwujud dan memenuhi kriteria


:
 Mempunyai masa manfaat lebih dari 12
(dua belas) bulan;
 Biaya perolehan aset dapat diukur secara
andal;
 Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam
operasi normal entitas;
 Diperoleh/dibangun dengan maksud untuk
digunakan.
 Telah
diterima atau diserahkan hak
kepemilikannya, dan atau pada saat
PENGAKUAN ASET TETAP

Perolehan aset tetap melalui pembelian


atau pembangunan pada umumnya
didahului dengan pengakuan belanja
modal yang akan mengurangi Kas
Umum Negara/Daerah.
Jurnal pengakuan belanja modal
tersebut adalah:
Dr. Belanja Modal Tanah XXX
Cr. Kas di Kas Daerah XXX
PENGAKUAN ASET TETAP

Jurnal standar pada saat pengakuan suatu aset tetap di


neraca adalah sbb:
Dr. Tanah xxx
Peralatan dan Mesin xxx
Gedung dan Bangunan xxx
Jalan, Irigasi, dan jaringan xxx
Aset Tetap Lainnya xxx
Konstruksi dalam Pengerjaan xxx
Cr. Diinvestasikan dalam Aset Tetap
xxx
 
Jurnal ini merupakan jurnal korolari atau ikutan
pada saat mengakui belanja modal untuk
mengakui penambahan aset tetap yang
PNGUKURAN ASET TETAP

 Aset tetap yang diperoleh atau


dibangun secara swakelola dinilai
dengan biaya perolehan
 Aset tetap yang tidak diketahui
harga perolehannya disajikan
dengan nilai wajar
KOMPONEN BIAYA

Biaya perolehan suatu aset tetap


terdiri dari harga belinya atau
konstruksinya, termasuk bea impor
dan setiap biaya yang dapat
diatribusikan secara langsung yang
membuat aset tersebut dapat
bekerja untuk penggunaan yang
dimaksudkan.
Biaya yang dapat diatribusikan secara
langsung

 Biaya persiapan tempat


 Biaya pengiriman awal (initial delivery)
dan biaya simpan dan bongkar muat
(handling cost)
 Biaya pemasangan (instalation cost)
 Biaya profesional seperti arsitek dan
insinyur
 Biaya konstruksi
Biaya aset tetap yang dibangun secara
swakelola (1)

 Biaya Langsung:
• Tenaga kerja
• Bahan baku
 Biaya Tidak Langsung:
• Biaya perencanaan dan pengawasan
• Perlengkapan
• Tenaga listrik
• Sewa peralatan
• dll
Biaya aset tetap yang dibangun secara
swakelola (2)

 Biaya Administrasi dan biaya umum


lainnya bukan merupakan suatu
komponen biaya aset tetap sepanjang
biaya tersebut tidak dapat
diatribusikan secara langsung pada
biaya perolehan aset atau membawa
aset ke kondisi kerjanya.
 Biaya permulaan (start-up cost) dan
pra-produksi serupa tidak merupakan
bagian biaya suatu aset kecuali biaya
tersebut perlu untuk membawa aset
PENYUSUNAN NERACA AWAL

 Untuk pemerintah yang baru pertama


kali akan menyusun neraca, nilai aset
tetap di neraca menggunakan nilai
wajar aset tetap pada saat neraca
tersebut disusun
 Aset tetap yang diperoleh setelah

neraca awal disajikan dinilai dengan


harga perolehannya
ASET DONASI

 Aset Tetap yang diperoleh dari


sumbangan (donasi) harus dicatat
sebesar nilai wajar pada saat
perolehan.
 Perlakuan untuk hibah dalam bentuk

barang ini adalah dengan


menganggap seolah-olah ada uang
kas masuk sebagai pendapatan hibah,
kemudian uang tersebut dibelanjakan
aset tetap yang bersangkutan.
ASET BERSEJARAH
 Aset bersejarah merupakan aset tetap
yang dimiliki atau dikuasai oleh pemerintah
yang karena umur dan kondisinya aset
tetap tersebut harus dilindungi oleh
peraturan yang berlaku dari segala macam
tindakan yang dapat merusak aset tetap
tersebut
 Diungkapkan dalam CaLK saja tanpa nilai
 Beberapa aset bersejarah juga
memberikan potensi manfaat lainnya
kepada pemerintah selain nilai sejarahnya,
misalnya untuk ruang perkantoran. Untuk
kasus tersebut, aset ini akan diterapkan
prinsip-prinsip yang sama seperti aset
tetap lainnya.
PENGELUARAN SETELAH PEROLEHAN

Pengeluaran belanja untuk aset tetap


setelah perolehan dapat dibedakan
menjadi dua:
• belanja untuk pemeliharaan  untuk
mempertahankan kondisi aset tetap
tersebut sesuai dengan kondisi awal
• belanja untuk peningkatan  memberi
manfaat ekonomik di masa yang akan
datang dalam bentuk peningkatan
kapasitas, masa manfaat, mutu produksi,
atau peningkatan standar kinerja  harus
dikapitalisasi
PENYUSUTAN

 Penyusutan : penyesuaian nilai sehubungan


dengan penurunan kapasitas dan manfaat
dari suatu aset  bukan alokasi biaya
 Selain tanah dan konstruksi dalam
pengerjaan, seluruh aset tetap dapat
disusutkan sesuai dengan sifat dan
karakteristik aset tersebut
 Jurnal standar untuk penyusutan adalah sbb:
Dr Diinvestasikan dalam Aset Tetap
xxx
Cr Akumulasi Penyusutan
xxx
METODE PENYUSUTAN

 Metode garis lurus (straight line


method); atau
 Metode saldo menurun ganda (double

declining method); atau


 Metode unit produksi (unit of

production method)

Pemilihan metode penyusutan


tergantung dari sifat dan karakteristik
aset tetap masing-masing
PENILAIAN KEMBALI (REVALUATION)

 Dalam hal terjadi perubahan harga secara


signifikan, pemerintah dapat melakukan
penilaian kembali atas aset tetap yang
dimiliki agar nilai aset tetap pemerintah
yang ada saat ini mencerminkan nilai wajar
sekarang. SAP mengatur bahwa pemerintah
dapat melakukan revaluasi sepanjang
revaluasi tersebut dilakukan berdasarkan
ketentuan pemerintah yang berlaku secara
nasional

 Selisih antara nilai revaluasi dengan nilai


tercatat dibukukan dalam ekuitas dana pada
akun Diinvestasikan dalam Aset Tetap.
PENYAJIAN
Penyajian aset tetap dalam lembar muka neraca adalah
sebagai berikut:
Aset
Aset Tetap
Tanah xxx
Peralatan dan Mesin xxx
Gedung dan Bangunan xxx
Jalan, Irigasi dan Jaringan xxx
Aset Tetap Lainnya xxx
Konstruksi dalam Pengerjaan xxx
Akumulasi Penyusutan (xxx)
Total Aset Tetap
xxx

Ekuitas Dana
Ekuitas Dana Investasi
Diinvestasikan dalam Aset Tetap xxx
Total Ekuitas Dana Investasi xxx
PENGUNGKAPAN
Dalam CaLK harus diungkapkan untuk masing-
masing jenis aset tetap sbb:
• Dasar penilaian yang digunakan untuk
menentukan nilai tercatat;
• Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan
akhir periode yang menunjukkan:
penambahan, pelepasan, akumulasi
penyusutan dan perubahan nilai jika ada, dan
mutasi aset tetap lainnya.
• Informasi penyusutan meliputi: nilai
penyusutan, metode penyusutan yang
digunakan, masa manfaat atau tarif
penyusutan yang digunakan, serta nilai
tercatat bruto dan akumulasi penyusutan
LAMPIRAN

Nilai aset tetap yang ada dalam neraca


merupakan gabungan dari seluruh aset
tetap yang dimiliki atau dikuasai oleh
suatu pemerintah. Apabila pembaca
laporan keuangan ingin mengetahui
rincian aset tetap tersebut, maka
laporan keuangan perlu lampiran
tentang Daftar Aset yang terdiri dari
nomor kode aset tetap, nama aset
tetap, kuantitas aset tetap, dan nilai
aset tetap
PSAP NO. 08
AKUNTANSI KONSTRUKSI DALAM
PENGERJAAN
DEFINISI

 KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN


adalah aset-aset yang sedang
dalam proses pembangunan.
 KONTRAK KONSTRUKSI adalah
perikatan yang dilakukan secara
khusus untuk konstruksi suatu aset.
CAKUPAN KONTRAK KONSTRUKSI

 Kontrak untuk jasa perencanaan;


 Kontrak untuk perolehan/konstruksi
aset;
 Kontrak untuk jasa pengawasan;
 Kontrak untuk membongkar atau
restorasi aset dan restorasi lingkungan
PENYATUAN DAN SEGMENTASI KONTRAK
KONSTRUKSI

Jika kontrak konstruksi mencakup


beberapa aset, setiap aset
diperlakukan sebagai suatu kontrak
yang terpisah jika:
 Proposal diajukan terpisah;
 Setiap aset dinegosiasikan terpisah;
 Biaya masing-masing aset dapat
diidentifikasi
PENGAKUAN KDP

Suatu benda berwujud diakui sebagai


KDP jika:
 Manfaat ekonomi masa yad besar
kemungkinan diperoleh;
 Biaya perolehan dapat diukur secara
andal;
 Masih dalam proses pengerjaan;
PENGUKURAN BIAYA KONSTRUKSI

 Secara Swakelola, al:


 biaya langsung;

 biaya tidak langsung;

 biaya lain yang secara khusus


dibayarkan sehubungan konstruksi ybs.

 Secara Kontrak:
 Termin yang telah dibayarkan;

 Kewajiban yang msh harus dibayar;

 Pembayaran klaim kepada


kontraktor/pihak ketiga, misalnya klaim
karena keterlambatan yang disebabkan
oleh pemberi kerja
Biaya Pinjaman Selama Konstruksi

Jika konstruksi dibiayai dari


pinjaman, maka biaya pinjaman :
• dikapitalisasi
• menambah biaya konstruksi
sepanjang biaya tersebut dapat
diidentifikasikan dan ditetapkan
secara andal.
SYARAT KAPITALISASI BIAYA
PINJAMAN

 Tidak boleh melebihi jumlah biaya


bunga yang dibayarkan periode yang
bersangkutan;
 Jika pinjaman untuk beberapa jenis
aset dialokasi dengan metode rata-
rata tertimbang;
 Jika konstruksi dihentikan sementara
bukan karena force majeur, biaya
pinjaman dikapitalisasi
 Jika konstruksi dihentikan sementara
karena force majeur biaya pinjaman
Pengungkapan

 Rincian kontrak konstruksi dalam


pengerjaan berikut tingkat
penyelesaian dan jangka waktu
penyelesaian
 Nilai kontrak konstruksi dan sumber

pembiayaannya
 Jumlah biaya yang telah dikeluarkan

 Uang muka kerja yang diberikan

 Retensi
MODUL PSAP NO. 09
AKUNTANSI KEWAJIBAN
KEWAJIBAN

Utang yang timbul dari


peristiwa masa lalu yang
penyelesaiannya
mengakibatkan aliran keluar
sumber daya ekonomi
pemerintah
KLASIFIKASI KEWAJIBAN

 Kewajiban Jangka Pendek


 Kewajiban Jangka
Panjang
KEWAJIBAN JANGKA PANJANG

Kewajiban yang jatuh tempo dalam


waktu 12 bulan berikutnya tetap
diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka
panjang jika :
• jangka waktu aslinya adalah untuk periode
lebih dari 12 bulan
• entitas bermaksud untuk mendanai kembali
(refinance) kewajiban tersebut atas dasar
jangka panjang
• maksud tersebut didukung dengan adanya
suatu perjanjian pendanaan kembali
(refinancing), atau adanya penjadwalan
kembali terhadap pembayaran, yang
PENGAKUAN KEWAJIBAN

Kewajiban diakui pada saat dana


pinjaman diterima dan/atau pada
saat kewajiban timbul
PENGUKURAN KEWAJIBAN

 Kewajiban dicatat sebesar nilai


nominal
 Kewajiban dalam mata uang asing
dijabarkan dan dinyatakan dalam
mata uang rupiah
 Penjabaran mata uang asing
menggunakan kurs tengah bank
sentral pada tanggal neraca
UTANG KEPADA PIHAK KETIGA

 Pada saat pemerintah menerima hak


atas barang, termasuk barang dalam
perjalanan yang telah menjadi haknya,
pemerintah harus mengakui kewajiban
atas jumlah yang belum dibayarkan
untuk barang tersebut
 Jumlah kewajiban yang disebabkan
transaksi antar unit pemerintahan
harus dipisahkan dengan kewajiban
kepada unit nonpemerintahan
UTANG BUNGA

 Utang bunga atas utang pemerintah


harus dicatat sebesar biaya bunga
yang telah terjadi dan belum dibayar
 Bunga dimaksud dapat berasal dari
utang pemerintah baik dari dalam
maupun luar negeri
 Utang bunga atas utang pemerintah
yang belum dibayar harus diakui pada
setiap akhir periode pelaporan sebagai
bagian dari kewajiban yang berkaitan
UTANG PFK

Pada akhir periode pelaporan,


saldo pungutan/potongan
untuk PFK yang belum
disetorkan kepada pihak yang
berwenang harus dicatat pada
laporan keuangan sebesar
jumlah yang masih harus
disetorkan
PERUBAHAN VALUTA ASING

 Utang pemerintah dalam mata uang asing


dicatat dengan menggunakan kurs tengah
bank sentral saat terjadinya transaksi
 Pada setiap tanggal neraca pos kewajiban
moneter dalam mata uang asing dilaporkan
ke dalam mata uang rupiah dengan
menggunakan kurs tengah bank sentral
pada tanggal neraca
 Selisih penjabaran pos kewajiban moneter
dalam mata uang asing antara tanggal
transaksi dan tanggal neraca dicatat
sebagai kenaikan atau penurunan ekuitas
dana periode berjalan
PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN
 Utang pemerintah harus diungkapkan secara
rinci dalam bentuk daftar skedul utang
 Informasi yang harus disajikan dalam CaLK :
 Jumlah saldo kewajiban jangka pendek dan
jangka panjang
 Jumlah saldo kewajiban utang pemerintah
berdasarkan ________________________
jenis sekuritas dan jatuh temponya
 Bunga pinjaman periode berjalan & tingkat
bunga
 Konsekuensi penyelesaian kewajiban sebelum
jatuh tempo
 Perjanjian restrukturisasi utang (pengurangan
pinjaman, modifikasi persyaratan utang,
pengurangan tingkat bunga pinjaman,
pengunduran jatuh tempo pinjaman,
pengurangan nilai jatuh tempo pinjaman,
pengurangan jumlah bunga terutang)
PSAP NO. 10
KOREKSI KESALAHAN, PERUBAHAN
KEBIJAKAN AKUNTANSI DAN
PERISTIWA LUAR BIASA
PSAP NO 10

Mengatur mengenai perlakuan


terhadap:

 Koreksi
. Kesalahan
 Perubahan Kebijakan
Akuntansi
 Peristiwa Luar Biasa
KOREKSI KESALAHAN
Koreksi adalah tindakan pembetulan
akuntansi agar pos-pos yang tersaji
dalam laporan keuangan entitas
menjadi sesuai dengan yang
seharusnya.

Koreksi bisa dilakukan terhadap


kesalahan atas pendapatan dan belanja
baik berulang maupun yang tidak
berulang pada tahun berjalan atau
periode-periode sebelumnya.
KOREKSI KESALAHAN
Kesalahan ditinjau dari sifat kejadiannya:
 Kesalahan yang berulang dan sistemik
 Kesalahan yang tidak berulang

Kesalahan bisa terjadi dan ditemukan pada:


6. Periode waktu sebelum laporan keuangan
diterbitkan atau periode tahun berjalan
7. Periode waktu setelah laporan keuangan
sudah diterbitkan tetapi belum diaudit oleh
BPK
8. Periode waktu setelah laporan diaudit BPK
dan telah disahkan DPR/DPRD dengan UU
atau Perda.
KOREKSI KESALAHAN ATAS
PENDAPATAN
 Tidak berulang
 Terjadi pada periode sebelumnya
 Mempengaruhi posisi
kas(menambah/mengurang saldo kas)
 Laporan keuangan sudah terbit.

Pembetulan pada akun ekuitas dana


lancar
KOREKSI KESALAHAN ATAS BELANJA
YANG MENGAKIBATKAN PENERIMAAN KEMBALI BELANJA

 Tidak berulang
 Terjadi pada periode sebelumnya
 Mempengaruhi posisi kas
(menambah/mengurangi saldo kas)
 Laporan keuangan sudah terbit
Tidak
Mempengar
mempengar
uhi secara
uhi secara
material
material
posisi aset
posisi aset
selain kas
selain kas

Pembetulan pada pembetulan pada


akun pendapatan akun pendapatan
lain-lain lain-lain, akun aset,
serta akun ekuitas
dana yang terkait
KOREKSI KESALAHAN
 Tidak berulang
 Terjadi pada periode berjalan
 Mempengaruhi maupun tidak
mempengaruhi posisi kas

Pembetulan pada akun yang


bersangkutan dalam periode
berjalan
KOREKSI KESALAHAN
• Tidak berulang
• Terjadi pada periode sebelumnya
• Mempengaruhi posisi kas
• Laporan keuangan periode tersebut
belum terbit

Pembetulan pada akun


pendapatan atau belanja
periode yang bersangkutan
PERUBAHAN KEBIJAKAN
AKUNTANSI
 Kebijakan akuntansi adalah prinsip-prinsip,
dasar-dasar, konvensi-konvensi, aturan-
aturan, dan praktik-praktik spesifik yang
dipilih oleh suatu entitas pelaporan dalam
penyusunan dan penyajian laporan
keuangan
 Perubahan kebijakan akuntansi harus
dilakukan hanya apabila penerapan suatu
kebijakan akuntansi yang berbeda
diwajibkan oleh peraturan perundangan/
SAP yang berlaku, atau apabila diperkirakan
bahwa perubahan tersebut akan
menghasilkan informasi mengenai posisi
PERISTIWA LUAR BIASA

Peristiwa Luar Biasa adalah kejadian


atau transaksi yang secara jelas
berbeda dari aktivitas normal entitas
dan karenanya tidak diharapkan terjadi
dan berada di luar kendali atau
pengaruh entitas sehingga memiliki
dampak yang signifikan terhadap
realisasi anggaran atau posisi
aset/kewajiban.
PERSYARATAN POS LUAR BIASA

 Tidak merupakan kegiatan normal dari


entitas
 Tidak diharapkan terjadi dan tidak
diharapkan terjadi berulang
 Berada di luar kendali atau pengaruh
entitas
 Memiliki dampak yang signifikan
terhadap realisasi anggaran atau posisi
aset/keajiban
MODUL PSAP NO. 11
LAPORAN KEUANGAN
KONSOLIDASIAN
RUANG LINGKUP

 Laporan keuangan untuk tujuan


umum dari unit pemerintahan yang
ditetapkan sebagai entitas
pelaporan disajikan secara
terkonsolidasi menurut Pernyataan
Standar ini agar mencerminkan
satu kesatuan entitas.
 Laporan keuangan konsolidasian
pada pemerintah pusat sebagai
entitas pelaporan mencakup
laporan keuangan semua entitas
akuntansi, termasuk laporan
keuangan badan layanan umum.
STANDAR TIDAK MENGATUR

 Laporan keuangan konsolidasian


perusahaan negara/perusahaan daerah;
 Akuntansi untuk investasi dalam
perusahaan asosiasi;
 Akuntansi untuk investasi dalam usaha
patungan (joint venture); dan
 Laporan statistik gabungan pemerintah
pusat dan pemerintah daerah
ENTITAS PELAPORAN

Entitas pelaporan adalah unit


pemerintahan yang terdiri dari satu
atau lebih entitas akuntansi yang
menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan wajib
menyampaikan laporan
pertanggungjawaban berupa laporan
keuangan.
CIRI-CIRI ENTITAS PELAPORAN

 Dibiayai oleh APBN/APBD atau mendapat


pemisahan kekayaan dari anggaran;
 Dibentuk dengan peraturan perundang-
undangan;
 Pimpinan entitas tersebut adalah pejabat
pemerintah yang diangkat atau pejabat
negara yang ditunjuk atau yang dipilih
oleh rakyat; dan
 Entitas tersebut menyampaikan
pertanggungjawaban baik langsung
maupun tidak langsung kepada wakil
rakyat sebagai pihak yang menyetujui
anggaran.
ENTITAS PELAPORAN

Terdiri dari:
1) Pemerintah Pusat.
2) Pemerintah Daerah.
3) Kementerian negara/lembaga (KL).
4) Bendahara Umum Negara (BUN).
ENTITAS AKUNTANSI

Pengguna anggaran/pengguna barang


sebagai entitas akuntansi
menyelenggarakan akuntansi dan
menyampaikan laporan keuangan
sehubungan dengan anggaran/barang
yang dikelolanya yang ditujukan
kepada entitas pelaporan.
ENTITAS AKUNTANSI

Terdiri dari:
1) Setiap kuasa pengguna anggaran di
lingkungan suatu K/L yang mempunyai
dokumen pelaksanaan anggaran tersendiri,
termasuk pengguna dana APP.
2) Bendahara Umum Daerah (BUD).
3) Kuasa pengguna anggaran di lingkungan
Pemda bila mempunyai dokumen
pelaksanaan anggaran yang terpisah,
jumlah anggarannya relatif besar, dan
pengelolaan kegiatannya dilakukan secara
mandiri.
BADAN LAYANAN UMUM

 Badan Layanan Umum (BLU) adalah


instansi di lingkungan pemerintah yang
dibentuk untuk memberikan pelayanan
kepada masyarakat berupa penyediaan
barang dan/atau jasa yang dijual tanpa
mengutamakan mencari keuntungan dan
dalam melakukan kegiatannya didasarkan
pada prinsip efisiensi dan produktivitas
 Contoh Badan Layanan Umum adalah
rumah sakit, universitas negeri, atau
otorita.
KONSOLIDASI DAN
PENGGABUNGAN

EP LKK
LK
KONSOLIDASI

EP EP EP

PENGGABUNGAN PENGGABUNGAN PENGGABUNGAN

EA EA EA EA EA EA

LK= LAPORAN KEUANGAN, LKK=LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI,


EP=ENTITAS PELAPORAN, EA=ENTITAS AKUNTANSI
KONSOLIDASI LAPORAN
KEUANGAN BLU

Laporan keuangan BLU digabungkan pada


kementerian negara/lembaga teknis
pemerintah pusat/daerah yang secara
organisatoris membawahinya dengan
ketentuan sebagai berikut:
 LRA BLU digabungkan secara bruto kepada
LRA K/L teknis pemerintah pusat/daerah yg
secara organisatoris membawahinya.
 Neraca BLU digabungkan kepada neraca K/L
teknis pemerintah pusat/daerah yang secara
organisatoris membawahinya.
H

HA RMON ISASI
DALAM PEN GAN GG AR AN
DAN
PE RTA NGGU NGJ AWA BAN
REFORMASI PENGELOLAAN
KEU. NEGARA
Mencakup keseluruhan siklus anggaran.
 Dalam bidang perencanaan dan penganggaran :

(penganggaran berbasis kinerja, anggaran terpadu


anggaran berbasis kerangka pengeluaran jangka
menengah)
 Dalam pelaksanaan anggaran :

(pemberian kepercayaan yang besar kepada


pengguna anggaran - “let the manager manage”)
 Dalam pertanggungjawaban keuangan :

(penyajian laporan keuangan yang lengkap sesuai


Standar Akuntansi Pemerintahan dan diaudit oleh
BPK)
DESENTRALISASI DAN OTONOMI
DAERAH
Pelaksanaan Desentralisasi dan Otonomi Daerah :
 UU nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah

Daerah mengatur fungsi dan kewenangan daerah


 UU nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan

Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah


Daerah mengatur alokasi dana yang diperlukan
daerah untuk menyelenggarakan kewenangan

Oleh karena itu Paket Undang2 Bidang Keuangan


Negara mengatur asas-asas umum sebagai rambu-
rambu dalam pengelolaan keuangan daerah----
memperkokoh landasan pelaksanaan desentralisasi
dan otonomi di NKRI
PERMASALAHAN

Antara lain :
 Pelaksanaan desentralisasi dan otonomi dalam

berbagai peraturan per UU tidak sinkron


 Pengaturan pelaksanaan ketentuan UU-----

khususnya dibidang pengelolaan keuangan


negara/daerah dilakukan fragmented.
 Dalam pengelolaan keuangan negara/daerah

terdapat ketidak harmonisan antara penyusun/


perencana anggaran dengan penyusun laporan
keuangan
SISTEM PENGELOLAAN KEU.
NEGARA
Pembentukan pemerintahan negara, menimbulkan
hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan
uang yang perlu dikelola dalam suatu sistem
pengelolaan keuangan negara.

Bab VIII UUD 1945 Hal keuangan, mengatur tentang


ketentuan pajak, mata uang dan anggaran
pendapatan dan belanja negara.
(oleh karena itu sistem pengelolaan keuangan
negara harus dilaksanakan secara
profesional, transparan dan bertanggung jawab)
UPAYA HARMONISASI

Penyelarasan dilihat dari segi sistem pengelolaan


keuangan negara/daerah dimulai dari sistem
perencanaan dan penganggaran, implementasi
dalam pelaksanaan anggaran dan penyusunan
pertanggungjawaban keuangan negara/daerah
UPAYA HARMONISASI

Alat untuk penyelarasan dari segi sistem


akuntansi anggaran (budgetary accounting),
antara lain :
 Sistem klasifikasi menurut anggaran harus
sama dengan sistem klasifikasi untuk
akuntansi
 Pedoman kapitalisasi untuk aset tetap/
belanja pemeliharaan.
 Penggunaan Bagan Akun Standar (BAS)
SISTEM KLASIFIKASI BELANJA
Memberikan kerangka dasar
Tujua dalam pengambilan keputusan
n Akuntabilitas

Oleh karena itu, belanja harus


diklasifikasikan untuk berbagai tujuan
yang berbeda, misalnya:
 Untuk penyajian laporan yang sesuai
kebutuhan user.
 Untuk administrasi dan akuntansi
anggaran
 Untuk penyajian LRA kepada DPR
PEDOMAN
KAPITALISASI
ASET/BELANJA
PEMELHARAAN
KLASIFIKASI
MENURUT JENIS BELANJA
 BELANJA OPERASI :
- Belanja Pegawai
- Belanja Barang
- Belanja Bunga
- Belanja Subsidi
- Hibah
- Bantuan Sosial
 BELANJA MODAL
 BELANJA TAK TERDUGA
CONTOH KEBIJAKAN KAPITALISASI

 Belanja Barang
- Pengadaan peralatan kantor sebesar Rp
300.000,00 keatas dicatat sebagai belanja
modal, kalau dibawah Rp 300.000 dicatat
sebagai belanja barang
- Biaya pemeluharaan yang menambah nilai
ekonomis dan manfaat, harus dicatat
sebagai belanja modal
BELANJA BARANG

Termasuk di dalamnya:

1. Belanja aset tetap yang nilai per satuannya


dibawah nilai minimum kapitalisasi (pada
pem. Pusat KMK.01/2001).
Contoh pembelian 1 unit kalkulator senilai
Rp 180.000
2. Belanja perjalanan dalam rangka perolehan
barang pakai habis
Contoh: biaya perjalanan senilai Rp
100.000 untuk membeli ATK .
Biaya perjalanan tsb akan menambah
nilai perolehan ATK

3.Belanja pemeliharaan aset tetap yang tidak


menambah umur, manfaat, atau kapasitas
Contoh: biaya ganti oli untuk 5 mobil dinas
sebesar Rp 1.000.000
PENGERTIAN BELANJA
MENURUT JENIS BELANJA
 Belanja Pegawai adalah belanja kompensasi, baik dalam
bentuk uang maupun barang yang ditetapkan berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang diberikan kepada
pejabat negara, Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan pegawai
yang dipekerjakan oleh pemerintah yang belum berstatus
PNS sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah
dilaksanakan kecuali pekerjaan yang berkaitan dengan
pembentukan modal.

 Belanja Barang adalah pengeluaran untuk menampung


pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk
memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun
tidak dipasarkan, dan pengadaan barang yang dimaksudkan
untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat dan
belanja perjalanan.
PENGERTIAN BELANJA
MENURUT JENIS BELANJA

 Belanja Bunga adalah pengeluaran pemerintah untuk


pembayaran bunga (interest) atas kewajiban penggunaan
pokok utang (principal outstanding) yang dihitung
berdasarkan posisi pinjaman jangka pendek atau jangka
panjang.

 Subsidi yaitu alokasi anggaran yang diberikan kepada


perusahaan/ lembaga yang memproduksi, menjual, atau
mengimpor barang dan jasa untuk memenuhi hajat hidup
orang banyak sedemikian rupa sehingga harga jualnya
dapat dijangkau masyarakat
PENGERTIAN BELANJA
MENURUT JENIS BELANJA

 Hibah adalah pengeluaran pemerintah dalam bentuk


uang/barang atau jasa kepada pemerintah atau
pemerintah lainnya, perusahaan daerah, masyarakat,
dan organisasi kemasyarakatan, yang secara spesifik
telah ditetapkan peruntukannya, bersifat tidak wajib dan
tidak mengikat, serta tidak secara terus menerus.

 Bantuan Sosial adalah transfer uang atau barang yang


diberikan kepada masyarakat guna melindungi dari
kemungkinan terjadinya risiko sosial. Bantuan sosial
dapat langsung diberikan kepada anggota masyarakat
dan/atau lembaga kemasyarakatan termasuk
didalamnya bantuan untuk lembaga non pemerintah
bidang pendidikan dan keagamaan.
PENGERTIAN BELANJA
MENURUT JENIS BELANJA

 Belanja modal adalah pengeluaran anggaran untuk


perolehan aset tetap dan aset lainnya yang memberi
manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Untuk
mengetahui apakah suatu belanja dapat dimasukkan
sebagai Belanja Modal atau tidak, maka perlu diketahui
definisi aset tetap atau aset lainnya dan kriteria
kapitalisasi aset tetap.

 Belanja lain-lain/tak terduga adalah pengeluaran


anggaran untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa dan
tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan
bencana alam, bencana sosial, dan pengeluaran tidak
terduga lainnya yang sangat diperlukan dalam rangka
penyelenggaraan kewenangan pemerintah
pusat/daerah.
KONSEP NILAI PEROLEHAN

 Komponen belanja modal untuk perolehan


aset tetap meliputi:
• Harga beli aset tetap
• Semua biaya yang dikeluarkan sampai AT siap
digunakan, termasuk:
* biaya perjalanan dinas
* ongkos angkut
* biaya uji coba
* biaya konsultan
RENOVASI ASET TETAP YANG BUKAN MILIK

 Jika meningkatkan manfaat ekonomik AT:


• Disajikan sebagai Belanja Modal
• Dikapitalisasi
• Disajikan sebagai AT Lainnya-AT Renovasi
 Jika manfaat ekonomik renovasi kurang dari
1 tahun/tdk menambah manfaat ekonomik
AT:
• Tidak dikapitalisasi
• Disajikan sebagai belanja operasional
BAGAN AKUN
STANDAR
BAGAN AKUN STANDAR

Bagan Ak un St anda r a dal ah daft ar


ak un buk u be sar yang di tet apk an
da n dis usun seca ra sis te mat is unt uk
memuda han per en canaa n da n
pel aksa naan ang garan, se rta
pembukuan da n pelapo ra n k euangan
pemeri ntah.

BAS mer upak an jemba ta n unt uk


me ngel ompo kkan dokumen sumber
ya ng a kan dic at at di s ist em
BAGAN AKUN STANDAR

BAS merup akan sa lah sat u alat ya ng


harus digu na kan unt uk
menye lar ask an sis tem k lasi fik asi
angg aran d eng an sis tem k las ifik asi
akun tansi
TUJUAN BAGAN AKUN
STANDAR

 Mema st ika n rencan a


keuan gan (an gg ar an),
real isa si da n pelap or an
keuan gan di nyataka n dalam
isti lah yan g sa ma;
 Men ingkat ka n kuali tas
info rmasi keuan gan ;
 Memudah ka n pen gawasan
keuan gan .
KLASIFIKASI AKUN
KODE NAMA AKUN
1 ASET

2 KEWAJIBAN
3 EKUITAS
4 PENDAPATAN
5 BELANJA
6 TRANSFER KE DAERAH
7 PEMBIAYAAN
8 NON ANGGARAN
BAGAN AKUN STANDAR

Istila h Mata Angg aran


Ke lu ara n /M ata An ggara n
Pe neri maan  ha nya un tuk
kod e aku n lap ora n realisasi
angg ar an

Bagan Akun St andar 


digu nakan u ntu k se lu ruh
Lapora n Ke uan ga n
DUKUNGAN UNTUK PENYUSUNAN
ANGGARAN

 Bag an Ak un S tandar dig una kan seb ag ai


pe do man yang di laks anakan oleh s et iap Sat uan
Ke rj a P er ang kat Daer ah dan Sat uan Ke rja
Peng elo la Ke uan gan D ae rah unt uk pe ny usunan
dan pe nelaah an Rencana K er ja dan
Ang ga ran S at uan Ker ja (R KA) Daft ar Is ian
Pelaksan aa n Ang gar an (D IPA) d an Pe lapo ran
Ke uan gan d alam rang ka pe ny usunan L ap or an
Ke uan gan P emer int ah

 Pedo man Kap itali sasi Aset Te tap


TERIMA KASIH