Anda di halaman 1dari 36

Tugas Akhir PENGARUH PREHEAT DAN TEMPERING TERHADAP KEKUATAN TARIK, KETANGGUHAN IMPACT, DAN STRUKTUR MIKRO HASIL

PENGELASAN BAJA JIS SS 400

Oleh: Saiful Askar F1C 006 063

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemanfaatan Material. Teknik Penyambungan Logam. Aplikasi Teknik Pengelasan. Patah-Getas pada Pengelasan.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana pengaruh preheat dan Tempering terhadap kekuatan tarik, ketangguhan
impact, dan struktur mikro hasil pengelasan baja JIS SS 400?.

1.3 Batasan Masalah a. Materialbaja JIS SS 400


b. c. Temperatur tempering500oC holding time 1 jampendinginan udara hingga temperatur kamar. Bentuk spesimen uji tarik JIS Z 2201 1980 No. 13 B

d.
e. f. g.

Bentuk spesimen uji ketangguhan impact JIS Z 2202 1980 No. 4.


Temperatur preheat 400oC oven material. Tipe pengelasanSMAW (Shielded Metal Arc Welding DC+) . Kampuh V terbuka dengan jarak pelat dan tinggi akar 2 mm, dan sudut kampuh 70o.

h.
i. j. k.

Besar arus dan voltase 175 A dan 20 V.


Posisi pengelasan horizontal. Jenis elektroda E7018 4 mm AWS D1.1. Lama waktu pengelasan 27 menit

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.4.1 Tujuan penelitian


Untuk mengetahui pengaruh preheat dan Tempering terhadap kekuatan tarik, ketangguhan impact, dan struktur mikro hasil pengelasan baja JIS SS 400.

1.4.2 Manfaat penelitian


a. Sebagai literatur pada penelitian yang sejenisnya dalam rangka pengembangan teknologi khususnya bidang pengelasan.

b. Sebagai informasi bagi juru las untuk meningkatkan kualitas hasil pengelasan.
c. Sebagai informasi penting guna meningkatkan pengetahuan bagi peneliti dalam bidang pengujian material, pengelasan dan material teknik.

1.5 Tempat Penelitian 1. Preheat,tempering,uji tarik, uji ketangguhan impact, dan pengambilan foto struktur mikro dilakukan di Laboratorium Metalurgi Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Mataram. 2. 3. Pengelasan dilakukan di Balai Latihan Kerja (BLK) Mataram. Pembuatan bentuk spesimen dilakukan di Bengkel UD. Sahar Jl. Candi Pawon No. 1 Desa Getap Kecamatan Cakra Selatan Kabupaten Lombok Barat. 4. Proses finishing dilakukan di Laboratorium Proses Produksi Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Mataram.

1.6 Hipotesis Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah preheat dan tempering berpengaruh terhadap kekuatan tarik, ketangguhan impact, dan struktur mikro hasil pengelasan baja JIS SS 400.

BAB II DASAR TEORI


2.1 Tinjauan Pustaka Rananggono, dkk., 2011 Pada hasil pengelasan yang dikenai perlakuan panas berupa preheat terjadi penurunan kekuatan tarik namun tidak signifikan (< 5%) proses preheat 100 200 oC material belum mengalami perubahan pada struktur mikro yang dapat mempengaruhi kekuatan tariknya.
Yaqin, dkk., 2011 spesimen yang tidak mengalami preheat memiliki lebar HAZ yang terkecil, yaitu 1,22 mm. Preheat 200oC, yaitu 1,83 dan 1,86 mm. Lebar HAZ yang terbesar preheat 400oC, yaitu 2,59 dan 2,63 mm. Santoso (2006) nilai tenaga patah, ketangguhan impact, kekuatan tarik, dan tegangan luluh untuk spesimen kelompok 100 Amper mempunyai nilai paling tinggi dibandingkan kelompok variasi arus pengelasan 130 Amper, 160 Amper dan kelompok raw materials.

2.2 Landasan Teori 2.2.1 Baja JIS SS 400


Baja JIS SS 400 salah satu dari sebagian besar jenis baja yang lazim dipergunakan untuk struktur baja umum pengerolan panas. Baja ini unggul pada sifat mampu-las (weldability) dan mampu-mesin (machinability). Memiliki densitas 7860 kg/m3, modulus young 190-210 Gpa, kekuatan tarik 400-510 MPa, kekuatan yield 205245 MPa, rasio poisson 0,26, kekerasan 160 HB, dan titik leburnya 1430 oC. Unsur-unsur kimia yang terkandung dalam baja ini, antara lain 0,2% C, maksimal 0,05% S, maksimal 0,05% P (http://www.meadinfo.org/09 Desember 2011 Jam 23.50 WITA ).

2.2.2 Preheat Preheat merupakan pemanasan yang dilakukan sebelum benda kerja tersebut dikerjakan lebih lanjut, misalnya sebelum dilakukan pengelasan. Temperatur pemanasan awal adalah antara 30C 400C (Zamrinata, 2011).

2.2.3 Tempering
Tempering proses perlakuan panas lanjutan setelah proses pengerasan untuk mengurangi kekerasan yang terlalu tinggi akibat pendinginan yang cepat dan temperatur yang tinggi. Temperatur tempering untuk baja paduan rendah 375C 575oC ditahan 1-2 jam (Copyright ASM International 1995).

Gambar 2.1 Diagram Fasa Besi Karbida (Fe3C)

2.2.4 Pengelasan
Menurut DIN (Deutsche Industrie Norman) ikatan metalurgi pada sambungan logam atau logam paduan yang dilaksanakan dalam keadaan lumer atau cair. Dengan kata lain, las merupakan sambungan setempat dari beberapa batang logam dengan menggunakan energi panas.

Gambar 2.3 Las SMAW (Genculu, 2011)

BAB III METODE PENELITIAN


Dalam penelitian ini dilakukan dengan dua metode, yaitu:

1. Studi literatur (library research), yaitu dengan mempelajari referensi-referensi yang


menjelaskan tentang teori yang berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam penelitian ini. 2. Studi eksperimen, yaitu dengan melakukan pengujian langsung ke lapangan agar diperoleh data-data yang dibutuhkan.

Mulai

3.2 Diagram Alir Penelitian


Persiapan Material (Baja JIS SS 400 )

Pembuatan Kampuh V Terbuka

Raw Material

Pengelasan SMAW: Tanpa Preheat dan Tanpa Tempering


Tanpa preheat dan Ditempering (500oC)

Pengelasan SMAW:
Preheat (400oC) Tanpa Tempering Preheat (400oC) Ditempering (500oC)

Pembuatan Spesimen: Uji Tarik Sesuai Standar JIS Z 2201 1980 No. 5 Uji Ketangguhan Impact Sesuai Standar JIS Z 2202 1980 No. 4

Pengujian Kekuatan Tarik

Pengujian Ketangguhan Impact Charpy V


Pengolahan Data Analisa Data dan Pembahasan

Pengujian Struktur Mikro

Kesimpulan

Selesai

Gambar 3.2 Kampuh V Terbuka

Gambar 3.4 Posisi Pengelasan Mendatar (http//:WWW.migas-indonesia.Com/29 Desember 2011 Jam 16.34 WITA)

Gambar 3.5 Prinsip Kerja Perpindahan Logam pada Proses Pengelasan SMAW (http//:WWW.migas-indonesia.Com/29 Desember 2011 Jam 16.34 WITA)

W
T

L P

Gambar 3.6 Spesimen Uji Tarik Standar JIS Z 2201 1980 No. 13 B
Keterangan: L = panjang ukuran utama = 50 mm W = lebar spesimen = 12,5 mm P = panjang garis melintang sejajar = 60 mm B = lebar bagian yang dicengkeram = 20 mm R = jari-jari fillet = 20 mm T = ketebalan material = 16 mm

45o

R 0,25

10

10

27,5

27,5

55

Gambar 3.7 Spesimen UJI Ketangguhan Impact Charpy V Standar JIS Z 2202 1980 No.4

3.9 Desain Pengambilan Data


Spesimen Raw Material Uji Kekuatan Tarik 3 Uji Ketangguhan Impact Charpy V 3 Uji Struktur Mikro 1

Pengelasan Tanpa Preheat dan Tanpa Tempering


Pengelasan Tanpa Preheat Ditempering (500oC) Pengelasan Dipreheat (400oC) Tanpa Tempering Pengelasan Dipreheat (400oC) dan Ditempering (500oC)

Jumlah Spesimen
Total Spesimen

15

15
35

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengujian Kekuatan Tarik


Kekuatan Tarik Maksimum (N/mm2)
600

500

400

300

200

100

0 RM PTT PT TPTT TPT

Perlakuan Panas Pengelasan (Preheat dan Tempering)

4.4 Hasil Pengujian Ketangguhan Impact Charvy V


2.5

Nilai Ketangguhan Impact Charpy v (J/mm2)

1.5

0.5

0 RM PTT PT TPTT TPT

Perlakuan Panas Pengelasan (Preheat dan Tempering)

4.7 Hasil Pengamatan Foto Struktur Mikro 4.7.1 Struktur Mikro Raw Material
Pearlite Ferrite

Pearlite+Cementite

Ferrite

Gambar 4.14 (a) Foto Struktur Mikro Spesimen Pengelasan Dipreheat Tanpa Ditempering pada Daerah HAZ Perbesaran 400x

Pearlite+Cementite

Ferrite

Gambar 4.14 (b) Foto Struktur Mikro Spesimen Pengelasan Dipreheat Tanpa Ditempering pada Daerah Lasan Perbesaran 400x

Pearlite+Cementite

Ferrite

Gambar 4.15 (a) Foto Struktur Mikro Spesimen Pengelasan Dipreheat dan Ditempering pada Daerah HAZ Perbesaran 400x

Pearlite+Cementite

Ferrite

Gambar 4.15 (b) Foto Struktur Mikro Spesimen Pengelasan Dipreheat dan Ditempering pada Daerah Lasan Perbesaran 400x

Pearlite+Cementite

Ferrite

Gambar 4.16 (a) Foto Struktur Mikro Spesimen Pengelasan Tanpa Dipreheat dan Tanpa Ditempering pada Daerah HAZ Perbesaran 400x

Pearlite+Cementite

Ferrite

Gambar 4.16 (b) Foto Struktur Mikro Spesimen Pengelasan Tanpa Dipreheat dan Tanpa Ditempering pada Daerah Lasan Perbesaran 400x

Pearlite+Cementite

Ferrite

Gambar 4.17 (a) Foto Struktur Mikro Spesimen Pengelasan Tanpa Dipreheat Ditempering pada Daerah HAZ Perbesaran 400x

Pearlite+Cementite

Ferrite

Gambar 4.17 (b) Foto Struktur Mikro Spesimen Pengelasan Tanpa Dipreheat Ditempering pada Daerah Lasan Perbesaran 400x

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
1. Kekuatan tarik yang paling rendah dimiliki oleh spesimen raw material, yaitu rata-rata sebesar 428,300 N/mm2 dari empat spesimen. Spesimen ini dimasukkan hanya sebagai pembanding dan struktur mikro yang terbentuk di dalamnya berupa pearlite dan ferrite. Kekuatan tarik tertinggi dimiliki oleh spesimen pengelasan dengan perlakuan tanpa dipreheat ditempering, yaitu sebesar 558,067 N/mm2 dari empat spesimen. Struktur mikro yang terbentuk di dalamnya adalah pearlite-cementite dan ferrite. Nilai ketangguhan terendah dimiliki oleh spesimen raw material, yaitu sebesar 1,333 J/mm2. Sedangkan nilai ketangguhan tertinggi dimiliki oleh spesimen pengelasan dengan perlakuan dipreheat dan ditempering, yaitu sebesar 2,359 J/mm2 yang membentuk struktur mikro cementite, pearlite, dan ferrite.

2.

3.

5.2 Saran
Usahakan lokasi dan peralatan preheating, tempering, pengelasan, dan pembentukan spesimen berda pada satu lokasi. Tujuannya adalah untuk mengefisienkan biaya, tenaga, dan lama waktu penelitian, serta untuk mengurangi terjadinya perubahan pada struktur mikro yang berpengaruh terhadap sifat mekanik material baja JIS SS 400.

SEKIAN DAN TERIMA KASIH