Anda di halaman 1dari 21

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA CERVICAL ROOT SYNDROME C5-6 EC SPONDYLOSIS DENGAN MODALITAS INFRA RED DAN STRETCHING

Dessia Rizky Rahmawati NIM 09.007

Latar belakang masalah:


CRS ec Spondylosis adanya nyeri gerak, adanya spasme, dan keterbatasan LGS Me(-)nyeri Me(-)spasme Me(+)LGS

Tujuan Fisioterapi

Rumusan masalah o sejauh mana efektifitas penggunaan Infra Red untuk mengurangi nyeri dan spasme. o sejauh mana efektifitas stretching untuk meningkatkan LGS. Tujuan penulisan untuk mengetahui apakah modalitas Infra Red dapat mengurangi nyeri dan spasme serta Stretching dapat meningkatkan lingkup gerak sendi.

Tinjauan Pustaka
Definisi CRS : sindroma atau keadaan yang ditimbulkan oleh adanya iritasi atau kompresi pada radik saraf cervical yang ditandai dengan adanya rasa nyeri pada leher yang dijalarkan ke bahu dan lengan sesuai dengan radik yang terkena .

Definisi spondilosis cervical, adalah suatu keadaan dimana ditemukan adanya degenerasi progresif diskus intervertebrata yang kemudian mengarah terjadinya perubahan pada daerah perbatasan tulang vertebra dan ligament. Penyempitan foramen intervertebrata dari depan oleh karena lipatan-lipatan ligament longitudinal posterior atau karena osteofit, sedangkan dari belakang oleh karena lipatan ligament flavum atau osteoarthritis facet kemudian mendasari timbulnya radikuler pada spondylosis (Cailliet, 1978).

Anatomi 1. Osteologi vertebra cervical V (C5) procesus spinosus bifida. Lateral foramen bercabang dua yaitu tuberculum anterius dan tuberculum posterius dan diantaranya terdapat sulcus nervi spinalis yang dilalui oleh n.spinalis. vertebra cervical VI (C6) tuberculum anterior membesar yang disebut tuberculum caroticum yang dekat dengan arteri carotis. vertebra cervical VII (C7), processus spinosus tidak bercabang yang sangat menonjol disebut prominens. Tuberculum anterior mengecil/menghilang, jika tumbuh disebut tuberculum costarius.

2. Persendian Articulatio Atlanto Occivitalis Articulatio Atlanto Axial 3. Myologi M. Sternocleidomastoideus M. Scalenus anterior M. Scalenus medius M. Scalenus posterior M. longus capitis M. Rectus capitis anterior

4. Ligament Ligamen longitudinal anterior Ligamen longitudinal posterior Ligamentum flavum Ligamen nuchea Ligamentum intertransversum Ligamentum interspinale 5. Vascularisasi arcus aorta lalu bercabang di trunkus brachiocephalicus menjadi arteri carotis comunis & arteri subclavia. arteri subclavia kemudian bercabang lagi menjadi arteri vertebralis, pars prevertebralis arteri vertebralis, pars transversaria arteri vertebralis, pars atlantica.

Patologi
Terjadinya degenerasi diskus intervertebralis secara progresif mengakibatkan perubahan pada daerah perbatasan tulang vertebra dan diskus. Degenerasi diskus terjadi sehingga menyebabkan fleksibilitas dan gerakan cervical menjadi kaku, sehingga ligament menjadi lemah yang mengakibatkan material diskus dari tonjolan anulus diskus antar vertebra mendorong ligamen menonjol keluar kemudian menghasilkan reaksi nyeri. Degenerasi pada facet joint akan diikuti oleh timbulnya penebalan subchondral yang kemudian terjadi osteofit yang dapat mengakibatkan terjadinya penyempitan pada foramen intervertebralis.

Etiologi
Spondilosis terjadi karena adanya kelainan degeneratif pada diskus intervertebralis secara progresif yang kemudian mengarah terjadinya perubahan pada daerah perbatasan tulang dan diskus. Hal ini terjadi karena penekanan berlebihan dan terus menerus pada vertebra cervical dan mengakibatkan kemunduran pada diskus. Ketika diskus mengalami kemunduran, jaringan elastis dari anulus fibrosus berkurang dan digantikan oleh jaringan fibrous, sehingga elastisitas dan fleksibilitas dari pergerakan antara ruas-ruas tulang belakang dalam kemampuannya untuk meredam (shock breaker) berkurang sehingga ligamen yang memperkuat vertebra menjadi kendor dan diikuti proses pengapuran akhirnya menjadi osteofit.

Tanda dan gejala - Nyeri leher - Kaku leher - Keterbatasan gerak - Krepitasi A. Problematika fisioterapi Nyeri gerak Spasme Keterbatasan LGS

B. Tekhnologi intervensi Infra Red Stretching

Pelaksanaan Studi Kasus


Anamnesis umum nama : Ny. R, umur : 72 tahun, jenis kelamin : perempuan, agama : islam, pekerjaan : ibu rumah tangga, alamat : komplek baros H 271 Cimahi. Anamnesis khusus (1)Keluhan utama : nyeri pada leher yang mengakibatkan pasien mengalami keterbatasan saat melakukan gerakan. (2) Riwayat penyakit sekarang: nyeri di sekitar leher belakang dan otot-otot tegang, sehingga pasien selalu merasa pegal dan mengalami sedikit kesulitan pada saat melakukan pergerakan. (3) Riwayat penyakit dahulu : tidak ada riwayat penyakit dahulu. (4) Riwayat penyakit penyerta : pasien memiliki penyakit jantung, dan asam urat. (5) Riwayat pribadi : pasien adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki hobby menyulam, membaca, dan merawat tanaman. (6) Riwayat keluarga : tidak ditemukan riwayat penyakit seperti ini dari anggota keluarga.

Anamnesis sistem Muskuloskeletal : Pasien merasa nyeri saat bergerak dan tegang pada leher bagian belakang dan keterbatasan dalam bergerak.
Catatan klinis Foto rontgen cervical tanggal 10 maret 2011, dengan kesan: Osteofit Vertebra C5-6 dengan penyempitan foramen intervertebralis vertebra cervical. Tampak bayangan opak setinggi vertebra C5-6.

Pemeriksaan fisik vital sign: a) Tekanan darah b) Denyut Nadi c) Pernafasan d) Temperatur e) Tinggi badan f) Berat badan Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi

: 130/70 mmHg : 63 x/menit : 22 x/menit : 360C : 149 cm : 51 Kg

Pemeriksaaan gerak Gerak aktif ekstensi-fleksi S=30-0-40, nilai normal adalah S=4000-400, lateral fleksi kiri - kanan dengan hasil F=23-030,nilai normal adalah F=450-0-450. Untuk pengukuran rotasi leher R=500-0-500, sedangkan untuk nilai normal adalah R=500-0-500. Gerak pasif ekstensi-fleksi S=430-0-430, end feel soft untuk nilai normal adalah S=400-0-400, lateral fleksi kiri - kanan pasif adalah F=500-0-500, end feel soft untuk nilai normal adalah F=450-0-450. Untuk pengukuran rotasi leher kiri dan kanan pasif R=550-0-550, end feel soft sedangkan untuk nilai normalnya R=500-0-500.

Pemeriksaan kognitif, intrapersonal, dan interpersonal. Kemampuan fungsional dan lingkungan aktifitas: pasien mampu untuk menggerakan lehernya, tapi terbatas pada gerakan ekstensi, lateral fleksi kiri-kanan. Aktifitas fungsional : pasien dapat melakukannya secara mendiri seperti : makan, minum, toileting, dan perawatan diri. Lingkungan aktifitas sangat mendukung dalam proses latihan dan penyembuhan.

Pemeriksaan khusus LGS dengan Goneometer


Gerakan Ekstensi-fleksi Lateral kiri-kanan Rotasi kiri-kanan Aktif S 30-0-40 F 23-0-30 R 50-0-50 Pasif S 43-0-43 F 50-0-50 R 55-0-55 Normal S 40-0-40 F 45-0-45 R 50-0-50

Nyeri dengan VDS nyeri diam = 1, nyeri tekan = 1, nyeri gerak = 5. Test Spurling. pasien mengekstensikan lehernya secara aktif, disertai rotasi kepala kesalah satu sisi. Kemudian beri tekanan ke bawah. Hasil : Negatif (-), karena tidak dirasakannya nyeri radikuler ke arah ekstremitas ipsilateral sesuai arah rotasi kepala.

Diagnosa fisioterapi -Impairment: Adanya nyeri gerak pada saat ekstensi, lateral fleksi kiri dan kanan, dan ada spasme. -Fungsional limitation: Pasien tidak dapat melakukan aktifitas membaca dan mengurus tanaman. -Disability: Pasien tidak dapat mengikuti pengajian cukup lama di masjid. Tujuan - Jangka pendek: Mengurangi nyeri Meningkatkan lingkup gerak sendi Mengurangi spasme - Jangka panjang: Mengembalikan kemampuan aktifitas fungsional pasien semaksimal mungkin

Pelaksanaan Fisioterapi
Infra Red Bertujuan untuk memperbaiki sirkulasi darah, mengurangi nyeri, memperbaiki rileksasi otot, meningkatkan fleksibilitas, dan untuk menyiapkan latihan serta memberikan efek sugesti pada pasien digunakan pemanasan dengan penyinaran Infra Red (IR). Stretching suatu gerakan baik aktif maupun pasif dimana otot berada dalam posisi mengulur, pada akhir gerakan biasanya ditahan beberapa hitungan kemudian dilakukan berulang-ulang hingga 8 kali penguluran. Tujuan: menambah lingkup gerak sendi.

edukasi: latihan secara rutin min 15 menit sehari dengan


pengulangan secara bertahap meningkat sesuai dgn kemampuan pasien. Saat membaca posisi leher pasien diganjal dengan bantal shngga tidak menimbulkan nyeri, dan tidak dalam jangka waktu yang cukup lama, pada saat menyiram tanaman pasien disarankan untuk tidak membawa beban yang berat.

evaluasi
Nyeri dengan VDS
pemeriksaan Nyeri diam Nyeri tekan Nyeri gerak Awal 1 1 5 akhir 1 1 2 keterangan Tidak ada nyeri Tidak ada nyeri 5=nyeri cukup berat, 2=nyeri ringan

LGS dengan Goneometer


Terapi Awal Aktif S 30-0-40 F 23-0-30 R 50-0-50
S 35-0-40 F 40-0-47 R 50-0-50

Normal S 40-0-40 F 45-0-45 R 50-0-50


S 40-0-40 F 45-0-45 R 50-0-50

Akhir

Kesimpulan : Dengan pemberian Infra Red dan stretching,sangat membantu sekali menurunkan keluhan yang dihadapi oleh pasien diantaranya yaitu setelah dilakukan terapi sebanyak 5 kali pertemuan, pasien merasakan adanya pengurangan nyeri dan spasme, serta peningkatan LGS.