Anda di halaman 1dari 47

Askep Tetanus Neonatorum

Abror Shodiq Click to edit Master subtitle style

8/7/12

Pengertian

Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang 1 bulan) yang disebabkan oleh Clastridium Tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun yang menyerang sistem saraf pusat). Kejang yang sering di jumpai pada BBL, yang bukan karena trauma kelahiran atau asfiksia, tetapi disebabkan oleh 8/7/12 infeksi selama masa neonatal, yang

Pengertian

Tetanus berasal dari kata tetanos (Yunani) yang berarti peregangan. Tetanus Neonatorum :
Penyakit tetanus pada bayi baru lahir dengan tanda klinik yang khas, setelah 2 hari pertama bayi hidup, menangis dan menyusu secara normal, pada hari ketiga atau lebih timbul kekakuan seluruh tubuh yang ditandai dengan kesulitan membuka mulut dan menetek, 8/7/12 disusul dengan kejangkejang (WHO,

8/7/12

Etiologi

Clostridium tetani Pemotongan tali pusat bayi menggunakan alat yang tidak bersih atau steril. Luka tali pusat kotor atau tdak bersih. Ibu hamil tidak mendapat imunisasi TT lengkap.
8/7/12

Insiden

Kebanyakan tetanus neonatorum terdapat pada bayi yang baru lahir, Neonatorum yang tidak dirawat, angka mendekati 100%. Angka kematian kasus Tetanus Neonatorum yang dirawat di rumah sakit di Indonesia bervariasi dengan kisaran 10,8 55%. Tetanus Neonatorum ini terjadi selama 5-14 hari. Pada umumnya 8/7/12

Masa Inkubasi

Tetanus Neonatorum ini terjadi selama 5-14 hari. Pada umumnya Tetanus Neonatorum ini lebih cepat dan penyakit berlangsung lebih berat daripada Tetanus pada anak.

8/7/12

Patofisiologi

Clostridium tetani adalah kuman yang berbentuk batang seperti penabuh genderang, berspora, golongan gram positif, hidup anaerob. Kuman ini mengeluarkan toksin yang bersifat neurotoksik (tetanus spasmin), yang mula-mula akan menyebabkan kejang otot dan saraf perifer setempat. Timbulnya tetanus ini terutama oleh 8/7/12 clostridiumTetani yang didukung oleh

Clostridium

8/7/12

8/7/12

Patofisiologi

Spora yang masuk dan berada dalam lingkungan anaerobic berubah menjadi bentuk vegetatif dan berbiak sambil menghasilkan toxin. Dalam jaringan yang anaerobic ini terdapat penurunan potensial oksidasi reduksi jaringan dan turunnya tekanan oxigen jaringan akibat adanya nanah, nekrosis jaringan, garam kalsium yang dapat 8/7/12

Pathogenesis
Wound Anaerobic conditions Bacterial multiplication Bacteria

Tetanolysin

Tetanospasmin

damage viable tissue optimize condition for bacterial multiplication

8/7/12

Hsu SS,et al. J Emerg Med 2001;20:357-65 Mallick IH,et al. Int J Surg 2004;2:109-12

Pathogenesis
Tetanospasmin
Electr ic signal Postsyna ptic neuron

Presyna ptic neuron

Excitat ory transmi tter

Inhibito ry transmi tter

Tetanospa smin

8/7/12

8/7/12

8/7/12

Efek Toxin pada :


1.

Ganglion pra sumsum tulang belakang :

8/7/12

Memblok sinaps jalur antagonist, mengubah keseimbangan dan koordinasi impuls sehingga tonus ototnya meningkat dan otot menjadi kaku. Terjadi penekanan pada hiperpolarisasi membran dari neurons yang merupakan mekanisme yang umum terjadi bila jalur penghambat terangsang. Depolarisasi yang berkaitan dengan jalur rangsangan

Gambaran Umum
1.

Trismus (lock-jaw, clench teeth)


Adalah mengatupnya rahang dan terkuncinya dua baris gigi akibat kekakuan otot mengunyah (masseter) sehingga penderita sukar membuka mulut. Untuk menilai kemajuan dan kesembuhan secara klinik, lebar bukaan mulut diukur tiap hari. Trismus pada neonati tidak sejelas pada anak, karena kekakuan pada leher lebih kuat dan akan menarik mulut kebawah, sehingga mulut agak menganga.

8/7/12

trismus

8/7/12

Lock jaw

8/7/12

trismus

8/7/12

Risus sardonicus

8/7/12

Newborn showing risus sardonicus and generalized spasticity

8/7/12

8/7/12

8/7/12

Gambaran Umum
3.

Opisthotonus
Kekakuan otot-otot yang menunjang tubuh : otot punggung, otot leher, trunk muscle dan sebagainya. Kekakuan yang sangat berat menyebabkan tubuh melengkung seperti busur, bertumpu pada tumit dan belakang kepala. Secara klinik dapat dikenali dengan mudahnya tangan pemeriksa masuk pada lengkungan busur tersebut.

8/7/12

Opisthotonos

8/7/12

Gambaran Umum
5.

Bila kekakuan makin berat, akan timbul kejang-kejang umum, mulamula hanya terjadi setelah penderita menerima rangsangan misalnya dicubit, digerakkan secara kasar, terpapar sinar yang kuat dan sebagainya, lambat laun masa istirahat kejang makin pendek sehingga anak jatuh dalam status convulsivus.

8/7/12

8/7/12

8/7/12

Pathway
Clostridium tetani Infeksi Peningkatan suhu tubuh

Eksotoxin Saraf tepi Kornu anterior sumsum tl blkg SSP Neuro transmiter Spasme

Sal kemih Gg. eliminasi BAK

Pernafasan Konstriksi sal pernafasan Penumpukan sekret Jln nafas tidak efektif Gg. menelan

Sal cerna Trismus Gg. komunikasi verbal

Neuro muskuler Kekakuan otot Gg. aktivitas

Intake kurang Gg Nutrisi kurang dari kebut tubuh

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium :

Liquor Cerebri normal, hitung leukosit normal atau sedikit meningkat. Pemeriksaan kadar elektrolit darah terutama kalsium dan magnesium, analisa gas darah dan gula darah sewaktu penting untuk dilakukan. Foto rontgen thorax setelah hari ke-5.

Pemeriksaan radiologi :

8/7/12

Komplikasi

Bronkhopneumonia Asfiksia Sepsis Neonatorum

8/7/12

Pencegahan

Imunisasi aktif Perawatan tali pusat yang baik Pemberian toksoid tetanus pada ibu hamil 3 kali berturut-turut pada trimester ke 3 Pemotongan tali pusat harus menggunakan alat yang steril
8/7/12

Tata Laksana : medik


Empat pokok dasar tata laksana medik : debridement, pemberian antibiotik, menghentikan kejang, serta imunisasi pasif dan aktif, yang dapat dijabarkan sebagai berikut :
1.

Diberikan cairan intravena dengan larutan glukosa 5% dan NaCl fisiologis dalam perbandingan 4 : 1 selama 48-72 jam selanjutnya IVFD hanya untuk memasukan obat. Jika 8/7/12

Tata Laksana : medik


2.

Diazepam dosis awal 2,5 mg intravena perlahan-lahan selama 2-3 menit, kemudian diberikan dosis rumat 8-10 mg/kgBB/hari melalui IVFD (diazepam dimasukan ke dalam cairan infus dan diganti setiap 6 jam). Bila kejang masih sering timbul, boleh ditambah diazepam lagi 2,5 mg secara intravena perlahan-lahan dan dalam 8/7/12 24 jam berikutnya boleh diberikan

Tata Laksana : medik


3.

ATS 10.000 U/hari, diberikan selama 2 hari berturut-turut dengan IM. Perinfus diberikan 20.000 U sekaligus.

4.

Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis, intravena selama 10 hari. Bila pasien menjadi sepsis pengobatan seperti pasien lainnya. Bila pungsi lumbal tidak dapat dilakukan pengobatan seperti yang 8/7/12

Tata Laksana : keperawatan

Perawatan intensif terutama ditujukan untuk mencukupi kebutuhan cairan dan nutrisi, menjaga saluran nafas tetap bebas, mempertahankan oksignasi yang adekuat, dan mencegah hipotermi. Perawatan puntung tali pusat sangat penting untuk membuang jaringan yang telah tercemar spora dan mengubah keadaan anaerob jaringan 8/7/12

Pengkajian
1. 2.

Identitas Riwayat Keperawatan : antenatal, intranatal, postnatal. Pemeriksaan Fisik

3.

Keadaan Umum : Lemah, sulit menelan, kejang Kepala : Poisi menengadah, kaku kuduk, dahi mengkerut, mata agak tertutup, sudut mulut keluar dan kebawah.

8/7/12

Pengkajian

Pemeriksaan Persistem

Respirasi : Frekuensi nafas, penggunaan otot aksesori, bunyi nafas, batuk-pikel. Kardiovaskuler : Frekuensi, kualitas dan irama denyut jantung, pengisian kapiler, sirkulasi, berkeringat, hiperpirexia. Neurologi : Tingkat kesadaran, reflek pupil, kejang karena rangsangan.

Gastrointestinal : Bising usus, pola defekasi, distensi 8/7/12

Dx Keperawatan
1.

Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan sputum pada trakea dan spasme otot pernafasan. Gangguan pola nafas berhubungan dengan jalan nafas terganggu akibat spasme otot-otot pernafasan

2.

3.

Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan 8/7/12 efek toksin ( bakterimia )

1.

Ketidakefektifan bersihan jalan nafas


Tujuan: jalan nafas efektif Kriteria:

Klien tidak sesak, lender atau sleam tidak ada Pernafasan 16 18 kali/menit Tidak ada pernafasan cuping hidung Tidak ada tambahan otot pernafasan Hasil pemeriksaan laboratorium darah AGD dalam batas normal ( pH=7,35 7,45 ;

8/7/12

Intervensi
1.

Bebaskan jalan nafas dengan mengatur posisi kepala ekstensi Pemeriksaan fisik dengan cara auskultasi mendengar suara nafas (adakah ronchi) tiap 2 4 jam sekali Bersihkan mulut dan saluran nafas dari secret dan lendir dengan melakukan section. Oksigenisasi sesuai intruksi dokter

2.

3.

4.

8/7/12

Gambaran Klinik

Gejala permulaan adalah bayi mendadak tidak mau atau tidak bisa menetek karena mulut tertutup (trismus), mulut mencucu seperti ikan, dapat terjadi spasmus otot yang luas dan kejang yang umum. Leher menjadi kaku dan kepala mendongak ke atas (opistotonus). Dinding abdomen kaku, mengeras 8/7/12 dan kalau terdapat kejang otot

Tanda Dan Gejala


a.

Kekakuan otot, disusul dengan kesulitan membuka mulut (trismus). Diikuti gejala risus sardonikus,kekauan otot dinding perut dan ekstremitas (fleksi pada lengan bawah, ekstensi pada telapak kaki). Pada keadaan berat, dapat terjadi kejang spontan yang makin lama makin sering dan lama, gangguan

b.

c.

8/7/12

2.

Gangguan pola nafas berhubungan dengan jalan nafas terganggu akibat spasme otot-otot pernafasan, yang ditandai dengan kejang rangsangan, kontraksi otot-otot pernafasan, adanya lender dan secret yang menumpuk.

Tujuan : pola nafas teratur dan normal Kriteria :


Hipoksemia teratasi, mengalami perbaikan

8/7/12

Intervensi
1.

Monitor irama pernafasan dan respirasi rate Atur posisi luruskan jalan nafas Observasi tanda dan gejala sianosis Berikan oksigenasi sesuai dengan intruksi dokter Observasi tanda-tanda vital tiap 2 jam Observasi timbulnya gagal nafas

2. 3. 4.

5.

6.

8/7/12

8/7/12