Anda di halaman 1dari 14

Seorang karyawati berusia 23 tahun, datang ke unit gawat darurat jam 20.

00 Wita dengan keluhan kelemahan pada kedua lengan dan tungkai. Kelemahan terasa makin memberat saat sore hari, saat pasien sering mengalami kesulitan saat hendak pulang kerja dengan mengendarai sepeda motor atau saat mengerjakan sesuatu yang membutuhkan tenaga. Pasien juga mengeluh lebih cepat merasa lelah, kedua lengan gampang melemah dan sering mengalami kesulitan saat menyelesaikan makan malam karena pasien cepat merasa lelah. Keluhan ini mulai dirasakan sekitar 3 bulan yang lalu. Keluhan bisa sedikit membaik bila pasien mencoba untuk istirahat sejenak atau tidur siang, namun setelah ini kembali memburuk. Namun pada saat bangun di pagi hari setiap harinya selama ini pasien tidak merasakan kelemahan tersebut, tidak merasa lelah dan mampu menyelesaikan sarapan. Pada saat pemeriksaan pasien dalam keadaan sadar, tak ada demam, tak ada riwayat trauma, keadaan kesehatan sebelumnya baik. Tanda vital baik dan hasil pemeriksaan laboratorium rutin normal. Didapatkan GCS 15 dengan kelemahan pada keempat extremitas yang makin memberat dengan latihan, reflex fisiologis menurun, tak ditemukan reflex patologis.

Kasus 1

Refleks Fisiologi

Refleks Patologik

Kata kunci
Wanita, 23 tahun Kelemahan kepada kedua lengan dan tungkai Kelemahan memberat saat mengerjakan sesuatu yang membutuhkan tenaga Pasien cepat merasa lelah GCS 15 dengan didapatkan kelemahan pada ke 4 ekstrimitas yang makin memberat dengan latihan Reflex fisiologis menurun dan tidak didapatkan reflex patologis

Masalah dasar

Wanita, 23 tahun mengalami kelemahan pada keempat ekstremitas yang makin memberat dengan latihan.

Questions And answers

ARE YOU READY

???

1. Bagaimana anamnesis pada kasus ini ?

Periodik paralisis hipokalemi ( channelupati ) Miastenia gravis Eatonlambert syndrome Syndrome guillain barre syndrome

2. Pemeriksaan fisik dan penunjang apa yang dapat di berikan kepada pasien ?
Pemeriksaan Fisik : 1. Meminta pasien untuk melihat ke atas selama beberapa menit (untuk menilai ptosis dan kelemahan ocular) 2. Meminta pasien untuk berhitung dari 100 sampai 1 dengan lantang (untuk menilai gangguan bicara) 3. Tes secara respetitive otot-otot proksimal 4. GCS 5. Refleks fisiologis dan patologis 6. Derajat kelumpuhan

Pemeriksaan Penunjang :
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Farmakologikal Pemberian obat-obatan antikolin-esterase digunakan untuk kofirmasi diagnosis. Serological Pemberian anti-acethylcoline receptor antibody (anti AChR) Antistriatedmuscle (anti-SM) Ab (Anti bodi otot lurik) Tes fungsi thyroid Antistriational antibodies Imaging studies
Foto Ro thorak CT scan dada MRI otak dan orbita EMG Tes tensylon

9.

Pemeriksaan LAB

Kelainan primer pada miastenia gravis dihubungkan dengan gangguan transmisi pada neuromuscular junction, yaitu penghubung antara unsur saraf dan unsur otot. Pada ujung akson motor neuron terdapat partikel-partikel globuler yang merupakan penimbunan asetilkolin (ACh). Jika rangsangan motorik tiba pada ujung akson, partikel globuler pecah dan ACh dibebaskan yang dapat memindahkan gaya saraf yang kemudian bereaksi dengan ACh reseptor (AchR) pada membran postsinaptik. Reaksi ini membuka saluran ion pada membran serat otot dan menyebabkan masuknya kation, terutama Na, sehingga dengan demikian terjadilah kontraksi otot. Penyebab pasti gangguan transmisi neromuskuler pada miastenia gravis tidak diketahui. Dulu dikatakan, pada miastenia gravis terdapat kekurangan ACh atau kelebihan kolinesterase, tetapi menurut teori terakhir, faktor imunologiklah yang berperanan. Gangguan tersebut kemungkinan dipicu oleh infeksi, opeasi, atau pengunaan obat-obatan tertentu, seperti nifedipine atau verapamil (digunakan untuk menggobati tekanan darah tinggi), quinine (digunakan untuk mengobati malaria), procainamide (digunakan

6. Penatalaksanaan pada kasus ?


Secara garis besar, pengobatan miastenia gravis berdasarkan 3 prinsip, yaitu : Mempengaruhi transmisi neuromuskuler : Istirahat Dengan istirahat, banyaknya ACh dengan rangsangan saraf akan bertambah sehingga serat-serat otot yang kekurangan AChR dibawah ambang rangsang dapat berkontraksi. Memblokir pemecahan ACh Dengan anti kolinesterase, seperti prostigmin, piridostigmin, edroponium atau ambenonium diberikan sesuai toleransi penderita, biasanya dimulai dosis kecil sampai dicapai dosis optimal. Mempengaruhi proses imunologik Thymectomi Tujuan neurologi utama dari Thymectomi ini adalah tercapinya perbaikan signifikan dari kelemahan pasien, mengurangi dosis obat yang harus dikonsumsi pasien, serta idealnya adalah kesembuhan yang permanen dari pasien.

Kortikosteroid Diberikan prednisone dosis tunggal atau alternating untuk mencegah efek samping Immunosupresif Yaitu dengan menggunakan Azathioprine, Cyclosporine, Cyclophosphamide (CPM) Plasma exchange Berguna untuk mengurangi kadar anti-AChR Penyesuaian penderita terhadap kelemahan otot Memberikan penjelasan mengenai penyakitnya untuk mencegah problem psikis Alat bantu non medika mentosa pada miastenia gravis dengan ptosis diberikan kacamata khusus yang dilengkapi dengan pengkait kelopak mata

7. Apa pasien dapat sembuh total ? (prognosis)

Pengobatan medis dengan obat antikolinesterase adalah terapi terpilih untuk menetralkan gejala MG. Efeknya adalah pemulihan aktivitas otot mendekati normal, paling tidak 80% hingga 90% dari kekuatan atau daya tahan otot sebelumnya. Salah satu pengobatan jangka panjang adalah bedah toraks mayor untuk mengangkat kelenjar timus (timektomi) untuk melenyapkan penyakit miastenia