Anda di halaman 1dari 16

MODEL PENGEMBANGAN USAHA BAGAN TANCAP DI DESA SOROPIA KEC.SOROPIA KAB.

KONAWE

OLEH : SUSIANTI G2F1 011 030


PROGRAM STUDI PERENCANAAN PENGEMBANGAN WILAYAH PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI 2012
Designed by TheTemplateMart.com

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Secara geografis Kecamatan Soropia merupakan daerah pantai dengan topografi datar dan berbukit sehingga sangat potensial untuk pengembangan sektor perikanan. Luas wilayah Kecamatan Soropia 6.273 Ha atau 0,92 persen dari luas daratan Kabupaten Konawe.

Potensi perikanan Desa Soropia Kecamatan Soropia


468,27 ton per tahun dengan pemanfaatan baru 54,05 % sehingga memiliki peluang pengembangan 35,95 %. Tak bisa dipungkiri dalam kehidupan sehari-hari, nelayan tradisional lebih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan sendiri. Dalam arti hasil tangkapan yang dijual lebih banyak dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok seharihari, khususnya pangan, dan bukan di investasikan kembali untuk pengembangan skala besar. Alat tangkap bagan merupakan salah satu alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan soropia sebagai salah satu sumber mata pencariannya.

1.2. Rumusan Masalah

Berapa besar produktivitas ikan pada masing-masing nelayan. Berapa besar keuntungan yang dapat diperoleh para nelayan Bagaimana efisiensi, efektif dan daya saing produksi ikan antar nelayan

1.3. Tujuan Penelitian dan Sasaran penelitian 1.3.1. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah : Menganalisis produktivitas kegiatan perikanan masing-masing nelayan Mengkaji besaran keuntungan yang dapat diperoleh para nelayan di Desa Soropia Kecamatan Soropia Mengkaji efisiensi, efektif dan kemampuan daya saing produksi ikan antar nelayan.

1.3.2. Sasaran Penelitian


Sasaran penelitian ini adalah : Data produksi perikanan Data wilayah perikanan Data jumlah nelayan Data jumlah penangkapan ikan 1.4. Ruang Lingkup Penelitian Agar lebih fokus dalam melakukan penelitian maka penulis membatasi ruang lingkup penelitian yakni penelitian hanya dilakukan pada kapasitas produksi nelayan, keuntungan para nelayan serta efisiensi, efektif dan kemampuan daya saing komoditi ikan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Bagan Secara Umum 2.2. Deskripsi Alat Tangkap 2.3. Teknik Operasi Penangkapan 2.4. Daerah Pengoperasian 2.5. Hasil Tangkapan 2.6. Pengertian Produksi, Total Cost,Variabel Cost, Biaya Tetap, Harga Pokok Penjualan dan Daya Saing Produksi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Obyek Penelitian


3.2. Metode Pengumpulan Data 3.3. Jenis Data

BAB IV RENCANA PELAKSANAAN PENELITIAN 4.1. Lokasi Penelitian


4.2. Waktu Penelitian 4.3. Anggaran Penelitian

BAB V ANALISIS DATA


ANALISIS DATA YANG DIGUNAKAN ADALAH ANALISIS DATA : Untuk mendapatkan besaran angka total biaya tetep (fixed cost) (TFC) dan total biaya variabel (Variabel Cost) (TVC) serta biaya Total ( Total Cost) (TC). P = po ( 1 + i )^t

TC = TFC + TVC
Untuk mendapatkan besaran daya saing Hasil Produksi

K = H HPP HPP = TC /Q Untuk Mendapatkan Nilai K (daya saing)

K = H HPP

Untuk mendapatkan indeks produktivitas IP = TR/TC

Untuk mendapatkan besaran Total Revenue (TR) TR = Q.P

Untuk mendapatkan tingkat efisiensi produksi Efisien A = ( IA < IB


dan OA =

OB )

Untuk mendapatkan tingkat efektifitas produksi Efektif A = ( IA = IB


dan OA

> OB )

Untuk mendapatkan data dan informasi Produktivitas Nelayan IP = TR/TC

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN


Dari hasil analisis total biaya tetap, total biaya variabel cost serta biaya total cost dari masing-masing nelayan tersebut menunjukkan hasil yang berbeda hal ini disebabkan oleh tinggi rendahnya biaya faktor modal kerja dari masing-masing nelayan tersebut, sehingga akan mempengaruhi harga pokok penjualan hasil produksi ikan setiap nelayan juga memiliki nilai yang berbeda. Dari keempat nelayan tersebut ada yang memiliki total biaya yang sama yaitu : nelayan B dan nelayan D sebesar Rp. 5.933.941,82 sedangkan nelayan A dan C memiliki nilai yang berbeda dimana nelayan A = Rp. 6.033.941,82 dan nelayan C = Rp. 5.683.941,82 hal ini dipengaruhi barang modal dan modal kerja yang dimiliki dari masing-masing nelayan tersebut. Begitu juga nilai total penerimaan nelayan A dan C memiliki jumlah yang sama yaitu Rp. 37.500.000 sedangkan nelayan B dan D memiliki jumlah yang berbeda, dimana nelayan B = Rp. 52.500.000 dan nelayan D = Rp. 45.000.000 ini disebabkan oleh hasil tangkapan nelayan yang berbeda-beda.

Dalam penelitian ini dilakukan pada 4 orang nelayan yaitu nelayan A, B, C, D, dimana nelayan B mendapatkan jumlah hasil produksi

tertinggi yaitu Rp. 3.500/kg sedangkan jumlah hasil produksi yang


terendah Rp. 2.500/kg yaitu nelayan A dan C sedangkan nelayan D mendapatkan jumlah orang nelayan hasil produksi sebesar Rp. 3.000/kg. Dari 4 jumlah hasil produksi berbeda-beda

tersebut

disebabkan oleh faktor lingkungan yang sangat mempengaruhi banyak tidaknya jumlah hasil tangkapan seperti kedalaman, semakin dalam suatu perairan maka semakin banyak jumlah spesies yang

dapat tertangkap. Faktor lainnya yaitu tingkah laku ikan yang senang
dengan cahaya (phototaksis) dimana ada ikan yang bersifat phototaksis seperti ikan teri.

Harga pokok penjualan hasil produksi ikan dari keempat nelayan tersebut yaitu : HPP nelayan A = Rp. 2.413,5/kg, HPP nelayan B = Rp.1.695,4/kg, HPP nelayan C = Rp. 2.273,5/kg, HPP nelayan D = Rp. 1.977,9/kg. Sehingga akan menghasilkan daya saing antara keempat nelayan tersebut. Diantara keempat nelayan tersebut yang memiliki daya saing tertinggi yaitu : nelayan B sebesar Rp. 13.304,6/kg, disebabkan oleh hasil produksi yang dimiliki nelayan B sebesar Rp. 3.500/kg. Hasil produksi disini dipengaruhi dari tinggi rendahnya faktor produksi dan faktor lingkungan, dimana banyak tidaknya jumlah hasil tangkapan. Indeks produktivitas dari masing-masing nelayan yaitu : nelayan A = 6,21, nelayan B = 8,84, nelayan C = 6,59 dan nelayan D = 7,58. Keadaan ini menunjukkan bahwa keempat nelayan tersebut memiliki indeks produktivitas yang berbeda karena dipengaruhi oleh besaran total penerimaan yang didapatkan serta total biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi. Keadaan ini juga dalam menghasilkan ikan menunjukkan adanya perbedaan perlakuan dari masing-masing nelayan dalam melakukan aktivitas penangkapan ikan.

BAB VII KESIMPULAN Berdasarkan dari hasil dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut

Produktivitas tertinggi dalam pelaksanaan kegiatan perikanan di Desa Soropia adalah pertama Nelayan B, kedua Nelayan D, ketiga Nelayan C dan ke empat Nelayan A. Efisien produksi dalam pelaksanaan budidaya rumput laut di Desa Soropia adalah Nelayan B dibanding dengan Nelayan A Efektifitas produksi dalam pelaksanaan budidaya rumput laut di Desa Soropia adalah Nelayan D dibanding dengan Nelayan C