Anda di halaman 1dari 61

ERWIN SAHAT HAMONANGAN SIREGAR 070100093

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA LEHER (THT-KL) FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN 2012

Rhinitis berasal dari 2 kata bahasa Greek rhin/rhino (hidung) dan itis (radang). Demikian rhinitis berarti radang hidung, atau tepatnya radang selaput lendir (membran mukosa) hidung.

Rhinitis tergolong infeksi saluran napas yang dapat muncul akut atau kronik. Akut adalah radang akut pada mukosa hidung yang disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri. Selain itu, rhinitis akut dapat juga timbul sebagai reaksi sekunder akibat iritasi lokal atau trauma.

Termasuk ke dalam rhinitis akut diantaranya adalah rhinitis simpleks, rhinitis influenza dan rhinitis bakteri akut supuratif. Rhinitis disebut kronik bila radang berlangsung lebih dari 1 bulan. Pembagian rhinitis kronis berdasarkan ada tidaknya peradangan sebagai penyebabnya.

Rhinitis kronis yang disebabkan oleh peradangan dapat kita temukan pada rhinitis hipertrofi, rhinitis sika (sicca), dan rhinitis spesifik (difteri, atrofi, sifilis, tuberkulosa & jamur). Rhinitis kronis yang tidak disebabkan oleh peradangan dapat kita jumpai pada rhinitis alergi, rhinitis vasomotor, dan rhinitis medikamentosa1.

Hidung terdiri atas hidung luar dan hidung bagian dalam.

Hidung bagian luar menonjol pada garis tengah di antara pipi dan bibir atas ; struktur hidung luar dibedakan atas tiga bagian : Yang paling atas : kubah tulang yang tak dapat digerakkan; Di bawahnya terdapat kubah kartilago yang sedikit dapat digerakkan ; Dan yang paling bawah adalah lobulus hidung yang mudah digerakkan.

Bentuk hidung luar seperti piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah : 1) pangkal hidung (bridge), 2) batang hidung (dorsum nasi), 3) puncak hidung (hip), 4) ala nasi, 5) kolumela, dan 6) lubang hidung (nares anterior).

Bahagian hidung dalam terdiri atas struktur yang membentang dari os.internum di sebelah anterior hingga koana di posterior, yang memisahkan rongga hidung dari nasofaring. Kavum nasi dibagi oleh septum, dinding lateral terdapat konka superior, konka media, dan konka inferior. Celah antara konka inferior dengan dasar hidung dinamakan meatus inferior, berikutnya celah antara konka media dan inferior disebut meatus media dan sebelah atas konka media disebut meatus superior.

Anatomi Hidung Dalam

Fisiologi Hidung 1) fungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara (air conditioning), penyaring udara, humidifikasi, penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme imunologik local 2) fungsi penghidu karena terdapatnya mukosa olfaktorius dan reservoir udara untuk menampung stimulus penghidu

3) fungsi

fonetik berguna untuk resonansi suara, membantu proses bicara dan mencegah hantaran suara sendiri melalui konduksi tulang 4) fungsi static dan mekanik untuk meringankan beban kepala, proteksi terhadap trauma dan pelindung panas 5) reflex nasal

1. Rhinitis Hipertrofi Etiologi Rhinitis hipertrofi dapat timbul akibat infeksi berulang dalam hidung dan sinus, atau sebagai lanjutan dari rhinitis alergi dan vasomotor.

Manifestasi Klinis Gejala utama adalah sumbatan hidung. Sekret biasanya banyak, mukopurulen dan sering ada keluhan nyeri kepala. Konka inferior hipertrofi, permukaannya berbenjol-benjol ditutupi oleh mukosa yang juga hipertrofi.

Terapi Pengobatan yang tepat adalah mengobati faktor penyebab timbulnya rhinitis hipertrofi. Kauterisasi konka dengan zat kimia (nitras argenti atau asam trikloroasetat) atau dengan kauter listrik dan bila tidak menolong perlu dilakukan konkotomi.

2. Rhinitis Sika Etiologi Penyakit ini biasanya ditemukan pada orang tua dan pada orang yang bekerja di lingkungan yang berdebu, panas dan kering. Juga pada pasien dengan anemia, peminum alkohol, dan gizi buruk.

Manifestasi Klinis Pada rhinitis sika mukosa hidung kering, krusta biasanya sedikit atau tidak ada. Pasien mengeluh rasa iritasi atau rasa kering di hidung dan kadang-kadang disertai epitaksis. Terapi Pengobatan tergantung penyebabnya. Dapat diberikan obat cuci hidung.

3. Rinitis Spesifik

Rhinitis Difteri Etiologi Penyakit ini disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae.

Manifestasi klinis Gejala rhinitis difteri akut adalah demam, toksemia, limfadenitis, paralisis, sekret hidung bercampur darah, ditemukan pseudomembran putih yang mudah berdarah, terdapat krusta coklat di nares dan kavum nasi. Sedangkan rhinitis difteri kronik gejalanya lebih ringan.

Terapi Terapi rhinitis difteri kronis adalah ADS (anti difteri serum), penisilin lokal dan intramuskuler.

Rhinitis Atrofi Etiologi Ada beberapa hal yang dianggap sebagai penyebab rhinitis atrofi, yaitu infeksi kuman Klebsiela, defisiensi Fe, defisiensi vitamin A, sinusitis kronis, kelainan hormonal dan penyakit kolagen.

Manifestasi Klinis Rhinitis atrofi ditandai dengan adanya atrofi progresif mukosa dan tulang hidung. Mukosa hidung menghasilkan sekret kental dan cepat mengering, sehingga terbentuk krusta yang berbau busuk. Keluhan biasanya nafas berbau, ingus kental berwarna hijau, ada krusta hijau, gangguan penghidu, sakit kepala dan hidung tersumbat.

Terapi Karena etiologinya belum diketahui maka belum ada pengobatan yang baku. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif dengan memberikan antibiotika berspektrum luas, obat cuci hidung, vitamin A dan preparat Fe. Jika tidak ada perbaikan maka dilakukan operasi penutupan lubang hidung untuk mengistirahatkan mukosa hidung sehingga mukosa menjadi normal kembali.

Rhinitis Sifilis Etiologi Penyebab rhinitis sifilis adalah kuman Treponema palliduma

Manifestasi klinis Gejala rhinitis sifilis yang primer dan sekunder serupa dengan rhinitis akut lainnya. Hanya pada rhinitis sifilis terdapat bercak pada mukosa. Sedangkan pada rhinitis sifilis tertier ditemukan gumma atau ulkus yang dapat mengakibatkan perforasi septum. Sekret yang dihasilkan merupakan sekret mukopurulen yang berbau.

Terapi Sebagai pengobatan diberikan penisilin dan obat cuci hidung.

Rhinitis Tuberkulosa Etiologi Penyebab rhinitis tuberkulosa adalah kuman Mycobacterium tuberculosis.

Manifestasi Klinis Terdapat keluhan hidung tersumbat karena dihasilkannya sekret yang mukopurulen dan krusta. Tuberkulosis pada hidung dapat berbentuk noduler atau ulkus, jika mengenai tulang rawan septum dapat mengakibatkan perforasi.

Terapi Pengobatannya diberikan antituberkulosis dan obat cuci hidung.

Rhinitis Lepra Etiologi Rhinitis lepra disebabkan oleh Mycobacterium leprae.

Manifestasi Klinis Gangguan hidung terjadi pada 97% penderita lepra. Gejala yang timbul diantaranya adalah hidung tersumbat, gangguan bau, dan produksi sekret yang sangat infeksius. Deformitas dapat terjadi karena adanya destruksi tulang dan kartilago hidung.

Terapi Pengobatan rhinitis lepra adalah dengan pemberian dapson, rifampisin dan clofazimin selama beberapa tahun atau dapat pula seumur hidup.

Rhinitis Jamur Etiologi Penyebab rhinitis jamur, diantaranya adalah Aspergillus yang menyebabkan aspergilosis, Rhizopus oryzae yang menyebabkan mukormikosis, dan Candida yang menyebabkan kandidiasis.

Manifestasi Klinis Pada aspergilosis yang khas adalah sekret mukopurulen yang berwarna hijau kecoklatan. Pada mukormikosis biasanya pasien datang dengan keluhan nyeri kepala, demam, oftalmoplegia interna dan eksterna, sinusitis paranasalis dan sekret hidung yang pekat, gelap, dan berdarah.

Terapi Untuk terapinya diberikan obat anti jamur, yaitu amfoterisin B dan obat cuci hidung.

1.

Rhinitis Alergi Defenisi Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi pada mukosa hidung yang disebabkan oleh reaksi yang dimediasi IgE terhadap paparan allergen.

Menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001 rinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung yang terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE.

Epidemiologi Perkiraan yang tepat tentang prevalensi rhinitis alergi sulit berkisar 4 40% alergi di AS dan di seluruh dunia Penyebab belum bisa dipastikan, tetapi nampaknya ada kaitan dengan meningkatnya polusi udara, populasidust mite, kurangnya ventilasi di rumah atau kantor, dll.

Klasifikasi Berdasarkan waktunya, ada 3 golongan rhinitis alergi : Seasonal allergic rhinitis (SAR) terjadi pada waktu yang sama setiap tahunnya: musim bunga, banyakserbuk sari beterbangan Perrenial allergic rhinitis (PAR) terjadi setiap saat dalam setahun penyebab utama: debu, animal dander, jamur, kecoa Occupational allergic rhinitis terkait dengan pekerjaan

Gejala dan tanda Bersin berulangkali Hidung berair (rhinorrhea) Tenggorokan, hidung, kerongkongan gatal Mata merah, gatal, berair Post-nasal drip Pada SAR : sneezing, runny nose, watery & itchy eyes most common Pada PAR : nasal congestion & post-nasal drip most common

Patogenesis

Reaksi alergi: -immediate response (hitungan menit) -Late response (3-24 jam)

Diagnosis Perlu pemeriksaan fisik, riwayat pengobatan, dan riwayat keluarga Jika diperlukan, lakukan test : skin test/skin prick test atau RAST (Radioallergosorbent test) Caranya skin test? Menyuntikkan ekstrak alergen (senyawa test) secara subkutan tunggu reaksinya Skin prick test : kulit digores dengan jarum steril, ditetesi senyawa alergen tunggu reaksinya

Tatalaksana terapi Non-farmakologi: Hindari pencetus (alergen) Farmakologi : Jika tidak bisa menghindari pencetus, gunakan obat-obat anti alergi baik OTC maupun ethical Jika tidak berhasil, atau obat-obatan tadi menyebabkan efek samping yang tidak bisa diterima, lakukan imunoterapi

1. Menghindari pencetus (alergen) Amati benda-benda apa yang menjadi pencetus (debu, serbuk sari, bulu binatang, dll) Jika perlu, pastikan dengan skin test Jaga kebersihan rumah, jendela ditutup, hindari kegiatan berkebun. Jika harus berkebun, gunakan masker wajah

2. Menggunakan obat untuk mengurangi gejala Antihistamin Dekongestan Kortikosteroid nasal Sodium kromolin Ipratropium bromida Leukotriene antagonis 3. Imunoterapi : terapi desensitisasi

2. Rhinitis vasomotor Rhinitis vasomotor adalah suatu keadaan idiopatik yang didiagnosis tanpa adanya infeksi, alergi, eosinofilia, perubahan hormonal (kehamilan, hipertiroid), dan pajanan obat (kontrasepsi oral, antihipertensi, B-bloker, aspirin, klorpromazin dan obat topical hidung dekongestan).

Etiologi Penyebab pasti rhinitis vasomotor ini belum diketahui secara pasti, diduga akibat gangguan keseimbangan vasomotor. Manifestasi Klinis obstruksi hidung, rinorea dan bersin.

3. Rhinitis Medikamentosa Etiologi Rhinitis medikamentosa adalah kelainan hidung berupa gangguan respon normal vasomotor sebagai akibat pemakaian vasokontriktor topical dalam waktu lama dan berlebihan sehingga menyebabkan sumbatan hidung yang menetap.

Gambaran Klinis Pada rhinitis medikamentosa terdapat gejala hidung tersumbat terus menerus, berair. Pada pemeriksaan edema/hipertrofi konka dengan secret hidung berlebihan. Apabila diberi tampon adrenalin, edema konka tidak berkurang.

Terapi Pengobatan rhinitis medikamentosa adalah dengan menghentikan obat tetes/semprot hidung, kortikosteroid secara penurunan bertahap untuk mengatasi sumbatan berulang, dekongestan oral.