Anda di halaman 1dari 70

Perencanaan Struktur Beton Bertulang

Bab VI
Beton dan Beton Bertulang
Beton adalah campuran pasir, kerikil atau batu pecah, semen,
dan air.
Bahan lain (admixtures) dapat ditambahkan pada campuran
beton untuk meningkatkan workability, durability, dan waktu
pengerasan.
Beton mempunyai kekuatan tekan yang tinggi, dan kekuatan
tarik yang rendah.
Beton dapat retak karena adanya tegangan tarik akibat beban,
susut yang tertahan, atau perubahan temperatur.
Beton bertulang adalah kombinasi dari beton dan baja,
dimana baja tulangan memberikan kekuatan tarik yang tidak
dimiliki beton. Baja tulangan juga dapat memberikan tambahan
kekuatan tekan pada struktur beton.
Towers
CN Tower, 1975
Cantilever
Ganter Bridge, 1980, Swiss
Water Building
Dutch Sea Barrier
Komponen
Struktur Beton Bertulang
Keuntungan Penggunaan Beton
Bertulang untuk Material Struktur
Mempunyai kekuatan tekan yang tinggi dibandingkan
kebanyakan material lain.
Cukup tahan terhadap api dan air.
Sangat kaku.
Pemeliharaan yang mudah.
Umur bangunan yang panjang.
Mudah diproduksi, terbuat dari bahan-bahan yang tersedia lokal
(batu pecah/kerikil, pasir, dan air), dan sebagian kecil semen
dan baja tulangan yang dapat didatangkan dari tempat lain.
Dapat digunakan untuk berbagai bentuk elemen struktur (balok,
kolom, pelat, cangkang, dll).
Ekonomis, terutama untuk struktur pondasi, basement, pier, dll.
Tidak memerlukan tenaga kerja dilatih khusus.

Kerugian Penggunaan Beton
Bertulang untuk Material Struktur
Mempunyai kekuatan tarik yang rendah sehingga
memerlukan baja tulangan untuk menahan tarik.
Memerlukan cetakan/bekisting serta formwork sampai beton
mengeras, yang biayanya bisa cukup tinggi.
Struktur umumnya berat karena kekuatan yang rendah per
unit berat.
Struktur umumnya berdimensi besar karena kekuatan yang
rendah per unit volume.
Properties dan karakteristik beton bervariasi sesuai dengan
proporsi campuran dan proses mixing.
Berubah volumenya sejalan dengan waktu (adanya susut
dan rangkak).


Mekanisme Struktur Beton dan
Beton Bertulang
Retak terjadi pada beton
karena tidak kuat memikul
tegangan tarik

Baja tulangan tarik
diberikan untuk memikul
tegangan tarik pada
struktur beton bertulang
Perencanaan Struktur
Tujuan Disain: Struktur harus
memenuhi kriteria berikut,
Sesuai dengan fungsi/kebutuhan
Ekonomis
Layak secara struktural
Pemeliharaan mudah
Proses Disain:
Definisi kebutuhan dan prioritas
Pengembangan konsep sistem struktur
Disain elemen-elemen struktur
Prinsip Dasar Disain
Kekuatan > beban
Berlaku untuk semua gaya dalam, yaitu
momen lentur, gaya geser, dan gaya aksial
|R
n
> o
1
S
1
+ o
2
S
2
+
| adalah faktor reduksi kekuatan/tahanan, o
i

adalah faktor beban
| bervariasi sesuai dengan sifat gaya,
Lentur, | = 0.90
Geser dan torsi, | = 0.85
Aksial tarik, | = 0.90
Aksial tekan, dengan tulangan spiral, | = 0.75
Aksial tekan, dengan tulangan lain, | = 0.70




Prinsip Dasar Disain
o bervariasi sesuai dengan sifat beban
dan peraturan
Beban yang umum bekerja:
Beban mati atau berat sendiri (D)
Beban hidup (L)
Beban atap (Lr)
Beban hujan (R)
Beban gempa (E)
Beban angin (W), dll
Kombinasi beban yang umum dipakai:
U = 1.4D + 1.7 L
U = 1.2D + 1.6 L + E




Struktur Beton Bertulang
Properties Beton Bertulang
Kekuatan tekan
Modulus Elastisitas
Rasio Poisson
Susut (Shrinkage)
Rangkak (Creep)
Kekuatan tarik
Kekuatan geser
Material Beton
Hubungan regangan vs waktu
Material Beton
Hubungan tegangan-regangan
Material Beton
Hubungan kekuatan vs waktu
Kekuatan Tekan (fc)
Tipikal kurva tegangan-regangan beton

Kekuatan Tekan (fc)
Kurva tegangan regangan bersifat linier hingga 1/3 sampai
1/2 dari kekuatan tekan ultimate, setelah itu kurva bersifat
non linier
Tidak terdapat titik leleh yang jelas, kurva cenderung smooth
Kekuatan tekan ultimate tercapai pada regangan sebesar
0.002
Beton hancur pada regangan 0.003 sampai 0.004. Untuk
perhitungan, diasumsikan regangan ultimate beton adalah
0.003
Beton mutu rendah lebih daktail dari beton mutu tinggi, yaitu
mempunyai regangan yang lebih besar pada saat hancur
Kekuatan Tekan (fc)
Ditentukan berdasarkan tes benda uji silinder beton
(ukuran 15 x 30 cm) usia 28 hari
Dipengaruhi oleh:
Perbandingan air/semen (water/cement ratio)
Tipe semen
Admixtures/bahan tambahan
Agregat
Kelembaban pada waktu beton mengeras
Temperatur pada waktu beton mengeras
Umur beton
Kecepatan pembebanan

Modulus Elastisitas, Ec
Beberapa definisi:
Modulus awal, yaitu slope atau kemiringan kurva tegangan
regangan di titik awal kurva
Modulus tangen, yaitu slope atau kemiringan di suatu titik pada
kurva tegangan regangan, misalkan pada kekuatan 50% dari
kekuatan ultimate
Nilai Modulus Elastisitas:
Ec = w
c
1.5
(0.043) \fc (SI Unit)
Ec = w
c
1.5
(33) \fc (Imperial Unit)
Untuk beton normal, w
c
= 2320 kg/m
3
(atau 145 lb/ft
3
):
Ec = 4700 \fc (SI Unit)
Ec = 57000 \fc (Imperial Unit)
Kekuatan Tarik
Kekuatan tarik
(modulus of rupture):
f
r
= 6M/(bh
2
)
Kekuatan tarik
split test (tensile
flexural strength)
f
t
= 2P/(tld)

Susut (Shrinkage)
Pada saat adukan beton mengeras, sebagian dari air akan menguap.
Akibatnya beton akan menyusut dan retak.
Retak dapat mengurangi kekuatan elemen struktur, dan dapat
menyebabkan baja tulangan terbuka sehingga rawan terhadap korosi.
Susut berlangsung pada waktu yang lama, tetapi 90% terjadi pada
tahun pertama.
Semakin luas permukaan beton yang terbuka, semakin tinggi tingkat
susut yang terjadi.
Untuk mengurangi susut:
Gunakan air secukupnya pada campuran beton
Permukaan beton harus terus dibasahi selama pengeringan berlangsung
(curing)
Pengecoran elemen besar (plat, dinding, dll) dilangsungkan secara bertahap
Gunakan sambungan struktur untuk mengontrol lokasi retak
Gunakan tulangan susut
Gunakan agregat yang padat dan tidak berongga (porous)
Rangkak (Creep)
Pada saat mengalami beban, beton akan terus berdeformasi
sejalan dengan waktu. Deformasi tambahan ini disebut dengan
rangkak atau plastic flow.
Pada saat struktur dibebani, deformasi elastis akan langsung
terjadi pada struktur,
Jika beban terus bekerja, deformasi akan terus bertambah,
hingga deformasi akhir dapat mencapai dua atau tiga kali
deformasi elastis.
Jika beban dipindahkan, struktur akan kehilangan deformasi
elastisnya, tetapi hanya sebagian kecil dari deformasi
tambahan/rangkak yang akan hilang.
Sekitar 75% dari rangkak terjadi pada tahun pertama.
Beton normal vs Beton ringan
Baja Tulangan
Terdiri dari tulangan polos dan tulangan
ulir
Umumnya kekuatan tarik baja:
Tulangan polos: fy = 240 MPa
Tulangan ulir: fy = 400 Mpa
Kurva Tegangan-Regangan
Baja Tulangan
Ukuran Baja Tulangan
Pembebanan pada Struktur
Jenis beban:
Beban mati/Dead Loads (DL) : berat sendiri
struktur, beban permanen
Beban hidup/Live Loads (LL) : berubah besar dan
lokasinya
Beban lingkungan : gempa (E), angin (W), hujan
(R), dll
Kombinasi beban ditentukan oleh peraturan,
misal:
1.4 D
1.2 D + 1.6 L

Analisis Lentur
Balok Beton Bertulang
Balok mengalami 3 tahap sebelum runtuh:
Sebelum retak (uncracked concrete stage)
Setelah retak tegangan elastis (concrete
cracked-elastic stresses stage),
Kekuatan ultimate (ultimate strength stage)
Analisis Lentur
Balok Beton Bertulang
Analisis Lentur
Balok Beton Bertulang
Analisis Lentur
Balok Beton Bertulang
Uncracked concrete stage
Tegangan tarik beton f
c
< f
r
f
r
= 0.7 \fc (SI Unit)
f
r
= 7.5 \fc (US Unit)
Dibatasi oleh momen pada saat retak (cracking moment) M
cr
M
cr
= f
r
I
g
/ y
t



Contoh 1: Cracking Moment
Contoh 1: Cracking Moment
Concrete Cracked Elastic
Stresses Stage
Beton di bawah garis netral (NA)
tidak memikul gaya tarik, dan
sepenuhnya ditahan oleh baja
NA ditentukan dengan prinsip
transformed area (n x Ac)
Rasio modulus:
n = Es/Ec
Contoh 2: Bending Moment
for Cracked Concrete
Ultimate Strength Stage
Asumsi:
Tulangan tarik leleh sebelum
beton di daerah tekan hancur
Diagram kurva tegangan beton
dapat didekati dengan bentuk
segi empat





Ultimate Strength Stage
Penyederhanaan kurva tegangan beton:
US Unit


SI Unit
Ultimate Strength Stage
Prosedur Analisis:
1. Hitung gaya tarik T = As fy
2. Hitung C = 0.85 fc a b, dan dengan T = C, tentukan nilai a
3. Hitung jarak antara T dan C (untuk penampang segi empat, jarak
tersebut adalah d a/2)
4. Tentukan Mn sebagai T atau C dikalikan dengan jarak antara kedua
gaya tersebut




Contoh 3: Nominal moment
Keruntuhan Balok Beton
Bertulang
Tension failure
tulangan leleh sebelum beton hancur
balok bersifat under-reinforced
Compression failure
beton hancur sebelum tulangan leleh
balok bersifat over-reinforced
Balanced failure
beton hancur dan tulangan leleh secara
bersamaan
balok bersifat balanced-reinforced
Keruntuhan Balok Beton
Bertulang
Luas Tulangan Minimum
Diperlukan untuk mencegah balok runtuh mendadak
Berdasarkan peraturan:
Luas Tulangan Balanced
b
Beton hancur dan tulangan leleh secara bersamaan
Tulangan Tekan/Negatif
Tulangan tekan/negatif adalah tulangan yang berada di daerah tekan balok
Balok yang mempunyai tulangan tarik dan tekan disebut doubly reinforced beams
Momen Nominal:
Contoh 4: Doubly Reinforced
Beams
SOLUTION
Contoh 4: Doubly Reinforced
Beams
Tulangan Transversal/Geser
Memikul sebagian gaya geser pada balok
Menahan retak geser pada balok
Meningkatkan kekuatan dan daktilitas balok
Tulangan Transversal (Stirrup)
Kekuatan Geser Balok
Kuat geser nominal:
Vn = Vc + Vs
Kuat geser beton:
Vc = 2 \fc b
w
d (US Unit)
Vc = (\fc b
w
d)/6 (SI Unit)
Kuat geser tulangan:
Vs = A
v
f
y
d/s

Contoh 5: Stirrup
Contoh 5: Stirrup

Perencanaan Balok
(Komponen Struktur Lentur)
pada SNI
Komponen Struktur Lentur (Balok)
Persyaratan Gaya:
Gaya aksial tekan terfaktor pada komponen struktur tidak
melebihi

Persyaratan Geometri:
Bentang bersih komponen struktur tidak boleh kurang dari
empat kali tinggi efektifnya.
Perbandingan lebar terhadap tinggi 0,3.
Lebar penampang haruslah
(a) 250 mm,
(b) lebar kolom ditambah jarak pada tiap sisi kolom yang
tidak melebihi tiga perempat tinggi komponen struktur
lentur

'
c g
f A ,1 0
Persyaratan Tulangan Lentur


Jumlah tulangan atas dan bawah tidak boleh kurang dari tulangan
minimum atau 1,4b
w
d/f
y
, dan rasio tulangan tidak boleh melebihi
0,025. Harus ada minimum dua batang tulangan atas dan dua batang
tulangan bawah yang dipasang secara menerus
Kuat lentur positif balok pada muka kolom harus setengah kuat lentur
negatifnya. Kuat lentur negatif dan positif pada setiap penampang di
sepanjang bentang harus seperempat kuat lentur terbesar pada
bentang tersebut.
Sambungan lewatan pada tulangan lentur harus diberi tulangan spiral
atau sengkang tertutup yang mengikat sambungan tersebut.
Sambungan lewatan tidak boleh digunakan (a) pada daerah hubungan
balok-kolom (b) pada daerah hingga jarak dua kali tinggi balok dari
muka kolom, dan (c) pada tempat-tempat yang berdasarkan analisis,
memperlihatkan kemungkinan terjadinya leleh lentur akibat
perpindahan lateral inelastis struktur rangka
Tulangan Lentur (Longitudinal) Balok
Persyaratan Sambungan Lewatan
Persyaratan Tulangan Transversal

Sengkang tertutup harus dipasang:
Pada daerah hingga dua kali tinggi balok diukur dari muka
tumpuan
Di sepanjang daerah dua kali tinggi balok pada kedua sisi
dari suatu penampang yang berpotensi membentuk sendi
plastis
Sengkang tertutup pertama harus dipasang tidak lebih dari 50
mm dari muka tumpuan. Spasi sengkang tertutup tidak boleh
melebihi (a) d/4,
(b) delapan kali diameter terkecil tulangan memanjang
(c) 24 kali diameter batang tulangan sengkang tertutup,
dan
(d) 300 mm.
Tulangan Transversal Balok
(Confinement/Kekangan)
Contoh Sengkang Tertutup yang
Dipasang Bertumpuk

Pengikat-pengikat silang berurutan
yang mengikat tulangan longitudinal
yang sama harus mempunyai kait
90
o
yang dipasang selang-seling

6d
b
(> 75 mm)

A
ul
a
n
g
A
la
n
g
a
C
C
Detail
C
Detail
A
Detail
B
B
6d
b

Persyaratan Kuat Geser
Gaya Rencana
Gaya geser rencana V
e
harus ditentukan dari
peninjauan gaya statik pada bagian komponen
struktur antara dua muka tumpuan
Tulangan transversal
Tulangan transversal harus dirancang untuk
memikul geser dengan menganggap V
c
= 0 bila:
a. Gaya geser akibat gempa mewakili setengah atau
lebih daripada kuat geser perlu maksimum di
sepanjang daerah tersebut, dan
b. Gaya aksial tekan terfaktor, termasuk akibat
gempa, lebih kecil dari
20 / f A
'
c g
Perencanaan Geser untuk Balok

Untuk balok:
2
2 1
L W
L
M M
V
u
pr pr
e

+
=
Beban gravitasi W
U
= 1,2D + 1,0L

L
V
e
V
e

M
pr
2

M
pr1

Momen ujung Mpr didasarkan pada tegangan tarik 1,25 fy
Susut
Susut
Efek kelembaban pada susut Efek ketebalan beton pada susut
Rangkak
Rangkak
Efek ketebalan beton pada rangkak