Anda di halaman 1dari 30

PERTIMBANGAN DAN MANAJEMEN PERAWATAN PROSTODONTI PADA PASIEN LANSIA BERUMUR 87 TAHUN

Pembimbing: Ariyani, drg. Hubban Nst, drg.

PENDAHULUAN
Populasi Lansia

Peningkatan Kualitas Hidup


Kesehatan

Rongga mulut

Pendahuluan

Lansia

Fungsi pengunyahan Penyakit oral Gangguan kekebalan tubuh Fungsi kenyamanan dan kualitas rongga mulut Aktivitas sosial

GT

Aktivitas sosial GT tidak Pembuatan Implant Retained Overdenture

pas

Retensi Stabilisasi Keuntungan Pengunyahan Implant Retained Overdenture Kepuasan pasien

Rumit
Kekurangan Waktu >> Mahal

Laporan Kasus
Anamnese
Kondisi umum
Pria 87 tahun

Rencana Perawatan
GTP RA konvensional baru

Pemeriksaan Subjektif
GTP RA sudah dipakai 20 tahun

GTP RB retensi & stabilisasi

Pemeriksaan Objektif
Karies luas dengan sisa akar gigi

GTP RB Implant Retained Overdenture

Resorpsi RB Tinggi rata2 Interforaminal 15 mm.

7 743

23

Gambaran Panoramik Kondisi Rongga Mulut Pasien


Pasien diperiksa periodontis & prostodontis Radiografi Panoramik dievaluasi

JADWAL PERTEMUAN
Kunjungan I (Fase Bedah Awal)
Pemeriksaan

RP

Pencabutan sisa akar

Kunjungan II (Fase Bedah Implan Pertama)


Penilaian klinis RA&RB Pembuatan cetakan pertama Penempatan implan

Kunjungan III
Kontrol bedah Pembuatan cetakan akhir pencatatan oklusal

Kunjungan IV (Fase Bedah Implan Kedua)


Passen GT Membuka mukosa yang menutup implan

Kunjungan V (Pemasangan GT dan follow-up)

Kunjungan I
Fase Bedah Awal Ekstraksi sisa akar bein & tang ekstraksi Soket dikuret mengangkat sisa jaringan yang dapat menginfeksi Instruksi pasca pencabutan

Kunjungan II
Penilaian Klinis RA & RB setelah pencabutan Puncak tulang alveolar Cawood & Howell Klas IV ( Knife-edge ridge )

RA setelah pencabutan

RB setelah pencabutan

Kunjungan II
Pencetakan awal semua batas anatomi harus jelas tercetak Model cetakan Rahang atas &

Rahang Bawah

Kunjungan II
Keputusan penempatan 2 implan Straumann Bone-level yang berdekatan. Lebar tulang memungkinkan penempatan dua implan NC 3.3 mm dan panjang 10 mm. Penggunaan SLActive surface implant memaksimalkan respon penyembuhan dalam dua minggu pertama.

IMPLAN STRAUMANN

SLActive

Kunjungan II

Prosedur bedah

pulse oximeter memantau saturasi oksigen dan denyut jantung


Anestesi lokal (dengan vaso-konstriksi) daerah interforaminal rahang bawah.
insisi minimal pada pertengahan puncak alveolar dibuat di area yang ditujukan untuk implan.

Kunjungan II
pengeboran tulang penempatan implan Bone-level posisi gigi 32 dan 42.

Insertion torque 15 Ncm daerah 32 30 Ncm daerah 42.

Pemasangan sekrup penutup

Penjahitan benang Chromic No. 6/0.

Instruksi pasca perawatan operasi diberikan kepada pasien.

Kunjungan II

Kunjungan II

Penempatan 2 implan Radiografi Pemasangan implan

Benar Salah

Kunjungan III
Sendok cetak individual rahang atas dan rahang bawah dibuat menyatu dengan oklusal rim, dibuat dari model anatomis cetakan pertama sebelum pertemuan dengan pasien

Kontrol bedah 10 hari setelah penanaman implan Jaringan lunak sembuh tanpa keluhan jahitan dibuka.

Kunjungan III

Kunjungan IV

Pasien difollow up selama 8 minggu setelah pemasan gan implan.

Passen gigitiruan dengan wax telah dilakukan

semua parameter oklusi, fungsional dan estetisnya dievaluasi

Border seal ditinjau kembali untuk mendapatkan stabilitas dan retensi yang adekuat.

Gigitiruan kemudian dikirim ke lab. untuk dibuat ke bentuk resin akrilik.

Kunjungan IV
Fase bedah ke 2
Pulse oximeter memantau saturasi oksigen dan denyut jantung Anestesi lokal (dengan vasokonstriktor) pd mukosa di sekitar implan Posisi implan ditinjau kembali.

Insisi kecil dibuat jaringan berkeratin disingkirkan retensi yang cukup pada mukosa berkeratin di kedua sisi implan Osseointegrasi dari implan ditinjau dengan alat RFA ISQ yang adekuat. Penutup sekrup dibuka Locator abutment panjang 2mm diletakkan pada implan diputar dengan kekuatan 35 Ncm

Kunjungan IV

Locator abutment (2 mm)

Passen trial locator abutment

Penanaman locator abutment

Alat RFA Hertz ISQ

Kunjungan IV

Pemasangan Locator Abutment

Kekuatan putaran 35 Ncm pada locator abutment.

Gambaran intraoral dari locator abutment

Kunjungan Akhir
2 minggu setelah fase kedua bedah implan Jaringan lunak sekitar penyangga sudah sembuh total. Gigitiruan rahang atas dipasangkan semua parameter oklusal, fungsional, dan estetik dievaluasi

Kunjungan Akhir

Lekukan pada daerah ini dibor tempat caps titanium gigitiruan pada locator attachment dan ruang yang adekuat untuk bahan reline.

Kunjungan Akhir
Blok-out spacer ditempatkan di atas penyangga, untuk mencegah masuknya bahan reline ke dalam daerah undercut

Caps gigitiruan dipasangkan di atas penyangga dan kesesuaian gigitiruan cekat diuji melalui caps gigitiruan, untuk memastikan bahwa penyangga tidak mengganggu posisi gigitiruan

Kunjungan Akhir

Pembuatan lekukan pada basis blok out spacer + pemasangan caps GT cetakan pada basis caps tertahan pada basis

Kunjungan Akhir

Caps tercetak pada basis Pemasangan GT

Komponen male hitam dibuang Pemasangan komponen male retensi biru

Kunjungan Akhir

Foto Panoramik setelah pemasangan abutment

Foto senyum pasien setelah pemasangan GT RA & RB

Kesimpulan
Implant retained overdenture protokol minimal invasif keberhasilan pada pasien lansia dengan integrasi implan yang baik .
Implan meningkatkan retensi dan stabilitas gigitiruan rahang bawah. Sejak pemakaian protesa, pasien melaporkan adanya peningkatan fungsi pengunyahan, peningkatan berat badan dan hubungan sosial. Perawatan ini juga telah terbukti memberikan rehabilitasi lengkap dalam beberapa kunjungan minimal.