Anda di halaman 1dari 12

Kelompok 5

Nurul Hidayat Rio Baskoro Afnia Alfiani Nurma Sulistiyani Ari Fatmaningrum 309332410351 309332410352 309332410355 309332410356 309332410347

DASAR TEORI Turbidimetri adalah metoda pengukuran konsentrasi partikulat dalam suatu suspensi yang didasarkan pada hamburan elastis cahaya oleh partikel. Intensitas cahaya yang dipantulkan oleh suatu suspensi adalah fungsi konsentrasi jika kondisi lain dibuat konstan. Turbidimeter mengukur penurunan intensitas cahaya yang diteruskan akibat adanya hamburan.

PRINSIP KERJA
Prinsip kerja : menghitung jumlah cahaya yang diteruskan (dan mengkalkulasi jumlah cahaya yang diabsorbsi) oleh partikel dalam suspensi untuk menentukan konsentrasi substansi yang ingin dicari. Karena menggunakan jumlah cahaya yang diabsorbsi untuk pengukuran konsentrasi, maka jumlah cahaya yang diabsorbsi akan bergantung pada : - Jumlah partikel - Ukuran partikel. Semakin besar dan banyak jumlah partikel, maka jumlah cahaya yang diabsorbsi akan semakin besar.

Mekanisme kerja alat

PRINSIP KERJA

SUMBER CAHAYA

MEMANCARKAN SINAR

DIPANTULKANLewat CEKUNG agar cahaya yg diteruskan lebih lurus

SINAR YANG DITERUSKAN

DIHAMBURKAN

DIJATUHKAN KE SAMPEL

DITANGKAP PENGAMAT YANG ARAHNYA MEMBENTUK GARIS LURUS DARI SUMBER CAHAYA

Penerapan Instrumen
Turbidimetri diterapkan untuk analisis sampel yang bersifat suspensi (memiliki ukuran partikel yang cukup besar) Jika belum dalam bentuk suspensi, zat yang berada dalam larutan harus disuspensikan dengan cara mereaksikannya dengan zat pengendap atau ditambah zat aktif permukaan.

Contoh penggunaan metode turbidimetri

Penentuan kandungan ion sulfat dengan metode turbidimatri

PROSEDUR KERJA A. Membuat kurva standar 1. Sejumlah larutan K2SO4 induk ditambah HCl 2M secukupnya sehingga pH= 1 2. Buat sejumlah larutan standar pada labu takar 50 ml sehingga setelah diencerkan dengan air sampai tanda batas konsntrasinya 5-80 ppm. 3. Ke dalam labu ukur ditambahkan 200 mg BaCl2.2H2O padat. 4. Encerkan dengan air sampai tanda batas. 5. Kocok selama 1 menit atau sampai BaCl2 larut dan terbentuk endapan BaSO4 6. Pindahkan kedalam kuvet biarkan selama 5 menit 7. Ukur turbidans I pada 480 nm. 8. Buat kurva standar antara turbidans (S) terhadap konsentrasi B. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Menentukan larutan sampel Dari larutan sampel dipipet 10 ml pada labu takar 50 ml setelah larutan tersebut diasamkan dengan HCl sehingga pH=1 Tambah 200 mg BaCl2 padat. Encerkan sampai tanda bata dengan air Kocok sampai BaCl2 larut dan terbentuk endapan BaSO4. Ukur turbidans I pada 480 nm. Tentukan konsentrasinya berdasrkan kurva kalibrasi yang diperoleh.

PEMBAHASAN Hasil turbidans pada lamda 480 nm.


K2SO4 (ppm) 15 30 50 60 80 Turbidans (S) 0,058 0,042 0,255 0,363 0,519

Dari data diatas dengan memplot konsentrasi K2SO4 (ppm) sebagai sumbu x dan turbidans (S) sebagai sumbu y, maka diperoleh grafik :

0.6 0.5 0.4 y = 0.0078x - 0.1177 R = 0.9421

0.3
0.2 0.1 0 -0.1 0 10 20 30 40 50 60 70

Series1

Linear (Series1)

y = turbidan sanpel x = konsentrasi sampel

Selanjutnya untuk menentukan konsentrasi sampel maka pada sampel (air keran ) 10 ml ditambahkan HCl 2M hingga pH= 1 menghasilkan larutan bening . Ditambahkan 0,2 gram BaCl2 dan diencerkan dengan aquades hingga tanda batas. Diukur turbidans pada lamda 480 nm, sehingga diperoleh turbidans sampel = 0,027 Untuk mendapatkan konsentrasi sampel maka dapat diperoleh melalui Persamaan : y = ax + b y = 0,007x - 0,117 0,027 = 0,007x - 0,117 0,144 = 0,007x x = 20,57 ppm

KESIMPULAN - Kadar SO42- dalam suatu larutan sampel adalah 20,57 ppm atau 2,14 x 10-4 M - Fungsi dari penambahan padatan BaCl2. 2H2O adalah untuk mengendapkan SO42- menjadi BaSO4. - Dari hasil percobaan yang dilakukan, semakin tinggi konsentrai larutan K2SO4 yang ditambahkan,maka nilai turbiditans semakain tinggi sehingga bentuk kurva linier.