Anda di halaman 1dari 25

DR. IR.

ATIK SUPRAPTI, MT

MAGISTER TEKNIK ARSITEKTUR PROGRAM PASCA SARJANA UIVERSITAS DIPONEGORO

Arsitektur dan Urban Desain adalah suatu bentuk-bentuk seni dari ruang publik yang saling terkait (Nazar, 1998), Dalam kaitannya dengan suatu lingkungan kota, seni yang dirasakan pengamat terhadap desain kota tersebut dinamakan seni visual. Yaitu dimana pengamat merasakan apa yang mereka lihat.

Dimensi Visual ini menyangkut : 1. Preferensi Estetika 2. Apresiasi Ruang dan Kualitas Estetika ,Townscape 3. Desain Elemen Kota 4. Soft dan Hard Material

Menurut kamus besar bahasa Indonesia estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris, yang terkadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa sedangkan visual berdasarkan penglihatan, dapat dilihat, kelihatan. Sedangkan preferensi yaitu proses menerima informasi dari lingkungan, yang menjelaskan bagaimana manusia mengerti dan menilai lingkungannya . PREFERENSI ESTETIKA : Pendapat pengamat tentang sebuah lingkungan kota yang terekam melalui visual pengamat yaitu yang melibatkan semua indera baik penglihatan, penciuman, pendengaran.

Tiga kategori estetika menurut Lang (1995) adalah : a. Sensory esthetic, suatu keindahan yang berkaitan dengan sensasi menyenangkan dalam lingkungan (suara, warna, teksture, bau) b. Formal esthetic, keindahan yang memperhatikan apresiasi bentuk, ritme, kompleksitas, dan hal-hal yang berkaitan dengan sequence visual. c. Symbolis esthetics, meliputi apresiasi pemaknaan lingkungan yang membuat perasaan nyaman. Sedangkan, atribut yang mempengaruhi preferensi visual akan sebuah lingkungan perkotaan adalah : a. b. c. d. e. Kealamian Pemeliharaan Ruang terbuka Sejarah Urutan

Lingkungan merupakan suatu keseluruhan, tidak bisa dilihat sebagai bagian tunggal, Untuk mendapatkan keteraturan visual yang harmonis maka sebaiknya dibuat pola-pola atau pengelompokan lingkungan, sehingga tercipta kualitas visual yang baik(Arnheim, 1977). Kualitas estetika akan selalu berubah mengikuti perkembangan zaman (lang, 2005). Padahal bentuk kota dan estetikanya tidak hanya merupakan ungkapan dari budaya perkotaan saja, melainkan juga merupakan landasan yang kuat yang mempengaruhi budaya perkotaan kea rah yang baik atau sebaliknya (Camillo, Sitte, dalam Zahnd, 1999). Estetika dapat dipengaruhi oleh 4 komponen waktu dan budaya : a. Sense of Rhyme and Pattern b. Appreciation of Rhytm c. Keseimbangan d. Keharmonisan

Prinsip-prinsip oraganisasi dan koherensi pola ruang menurut Von Meiss (1990) :
Menggunakan prinsip kesamaan, sehingga memiliki karakteristik yang sama Menggunakan prinsip kedekatan, sehingga membentuk kelompok

Menggunakan prinsip orientasi yang sama

Menggunakan prinsip penutupan, menggunakan elemen sebagai keseluruhan

Menggunakan prinsip sama, namun umum. Memiliki bentuk lian namun berada didalam area yang sama.

Menggunakan prinsip kesinambungan, polapola yang saling berkesinambungan

Sebuah rasa tentang lingkungan perkotaan adalah adanya aktivitas yag dinamis yang berhubungan dengan waktu dan gerakan, perasaan pengamat ketika melewati suatu ruang akan menjadikan dimensi visual perkotaan menjadi bagian terpenting. Lingkungan adalah sebuah rasa yang dinamis, berkembang, dan berlangsung berurutan untuk menggambarkan aspek visual ruang kota atau sering disebut urutan pandangan (Serial Vision). Menurut Cullen (1961) karakter visual yang menarik adalah karakter formal yang dinamis dapat dicapai melalui pandangan yang menyeluruh berupa suatu amatan berseri atau menerus (serial vision) yang memiliki unit visual yang dominasinya memiliki keragaman dalam suatu kesinambungan yang terpadu dan berpola membentuk satu kesatuan yang unik.

Ruang luar dibedakan menjadi dua komponen utama yaitu solid (figure), yang merupakan blok dari masa bangunan dan voids (ground), yang merupakan ruang luar yang terbentuk diantara blok-blok tersebut. Bentuk kota secara keseluruhan seperti adanya kombinasi bentuk-bentuk solid dan void yang dapat digolongkan dalam beberapa bentuk yaitu diagonal (grid), random organic (dibentuk oleh alam) dan bentuk nodal concentric (linier dan bentuk suatu ruang bangunanyang tengahnya merupakan bagian aktivitas). Banyak kota yang dibangun atau dibentuk dari kombinasi dan perkembangan bentuk-bentuk ini (Tracik, 1986)

Menurut Tracik (1986) terdapat beberapa tipe dalam urban solid, yaitu :

Menampilkan karakteristik kota seperti bangunan-bangunan monumental atau instansi yang merupakan pusat dari struktur kota. Objeknya adalah bangunan-bangunan dan mengungkapkan ciri-ciri sosial budayanta. Menunjukan daerah-daerah utama dari suatu kota. Ukuran, bentuk, dan orientasi urban block merupakan elemen terpenting dalam komposisi suatu daerah publik. Suatu daerah yang dibentuk berdasarkan fungsi bangunan dengan adanya jarak yang tepat. Bentuk-bentuk yang dihasilkan oleh bangunan-bangunan biasanya tidak terulang, bentuk-bentuk tertentu, biasanya berbentuk linier.

Menurut Tracik (1986) terdapat lima tipe urban void (dengan adanya perbedaan ruang terbuka dan tertutup) yang merupakan bagian dari interior kota, yaitu :

Ruang penerima terbuka yang merupakan ruang transisi, atau ruang penerima dari daerah private menuju daerah publik. Ruang kosong didalam suatu blok bangunan, merupakan ruang semi private berupa ruang kosong atau sirkulasi untuk berbagai keperluan atau suatu koridor pada perkotaan dan berfungsi sebagai tempat untuk beristarahat. Jaringan jalan dan lapangan, merupakan wadah kegiatan kehidupan masyarakat kota. Merupakan taman dan kebun yang luas kontras dengan bentuk arsitektur kota. Ruang terbuka linier, umumnya berhubungan dengan daerah aliran air seperti sungai, daerah tepian air dan daerah tanah basah.

Ruang kota terdiri dari 2 macam yauitu, streets dan square (jalan dan lapangan/alun-alun). Jalan ( roads, parts, avenues, lanes, boulvards, alleys, malls, dll) sedangkan lapangan/alun-alun ( plaza, circuses, place, courts, dll). Steets dan square (jalan dan alun-alun) juga mempengaruhi kualitas visual. Ruang kota berupa jalan akan terkesan lebih bebas untuk bergerak, sedangkan lapangan/alun-alun memiliki tempat bergerak yang terbatas.

Untuk mendapatkan kualitas estetika visual maka penataan struktur kota juga harus difikirkan, prinsip-prinsip menurut Camillo site :
a. b. c. d. Enclosure/pagar Terdapat sculpture Membentuk proporsi Monument

Sedangkan menurut Zukar, lima tipe dasar perkotaan : a. alun-alun tertutup b. Alun-alun yang didominasi c. Alun-alun yang dikelompokkan kotak d. Ruang terbatas

Karakter visual lingkungan perkotaan tidak hanya berasal dari kualitas spasial saja, namun tekstur, warna dan detail juga berpengaruh. Fasade suatu bangunan juga berpengaruh terhadap visual sebuah lingkungan perkotaan. Menurut Buchanan (1988) fasade bangunan sebaiknya : a. Menciptakan rasa akan suatu tempat b. Menandakan ruang luar dan dalam, ruang privat dan public serta membedakan keduanya c. Menjadikan jendela sebagai frame internal d. Memiliki karakter dan berhubungan dengan bangunan sekitarnya e. Memberikan irama yang baik f. Memiliki tekstur bahan bangunan g. Memiliki substansial antara bahan bangunan dan cuaca h. Memiliki ornamen yang baik.

Penataan arsitektur perkotaan sebaiknya menginformasikan :


a. b. c. d. e. f. Kesatuan Ekspresi Integritas Bagian Rinci Integrasi

Sedangkan, Kriteria integrasi harmonis : a. b. c. d. e. Sitting Massa Skala Proporsi irama

KUALITAS VISUAL
SISTEM VISUAL (Cullen, 1962) : a. Optic b. Place c. Content ESTETIKA VISUAL (Moughtin, 1985) : a. Keterpaduan b. Proposri c. Skala d. Ritme e. Keseimbangan f. Warna g. Serial Vision

Kriteria Keterpaduan
Unity menciptakan kesatuan secara visual dari tiap-tiap komponen kota dari elemen yang berbeda, sehingga membuat hal-hal yang kurang menyatu ke dalam organisasi visual terpadu (Mougtin, 1992) Dalam sebuah koridor, elemen-elemen tampilan fasade yang tampak yang akan menentukan terpadu atau tidaknya sebuah tampilan fasade bangunan dengan koridor.

Kriteria Proporsi Menurut Ching (1991) proporsi merupakan hubungan yang sebenarnya atau yang harmonis dari satu bagian dengan bagian lain atau secara menyeluruh. Dalam skala kota kita dapat melihat proporsi melalui penampilan garis langit (skyline), bangunan mana yang menjadi landmarknya dan bagaimana komposisi dengan bangunan lain akan nampak pada shilouete tersebut (Darmawan, 2009)

Kriteria Skala
Skala hubungan dari ukuran suatu objek terhadap objek lainnya atau terhadap keseluruhan objek dan lingkungannya, yang melibatkan unsur dominas atau kontras (Smardon, 1985). Yang mempengaruhi skala adalah jarak, konfigurasi ruang luar, dan posisi relatif si pengamat.

Kriteria Ritme
Moughtin (1995) Ritme dalam urban design diperoleh melalui adanya komposisi dari gubahan massa yang serasi dengan memberikan adanya karakter penekanan, interval, atau jarak dan arah tertentu dari gubahan massa tersebut didalam membentuk ruang kota.

Kriteria Keseimbangan
Keseimbangan adalah sesuatu yang stabil yang dihasilkan oleh pembagian massa (Moughtin, 1995). Keseimbangan tampilan fasade bangunan yang baik adalah antara sisi-sisi koridor memiliki tampilan yang sama.

Kriteria Warna

Penggunaan warna merupakan aspek penting dari keindahan kota (Spreiregen, 1965).

Menurut Ching (1991) , warna terang akan menimbulkan kesan luas dan warna gelap akan menimbulkan kesan sempit Pada Sebuah korido, warna-warna yang baik adalah warna-warna yang memiliki keselarasan, tidak mengesankan bercak-bercak pada koridor.

Lansekap juga berpengaruh terhadap kualitas visual suatu lingkungan perkotaan, landsekap dirancang semenarik mungkin sehingga menghasilkan suatu vista visual yang indah. Bagian dari landsekap adalah : a. Floorscape/ hard Landscape b. Street Furniture c. Soft Landscape

Floorscape berupa paving, beton, batu bata, batu dan aspal juga mempengaruhi visual suatu lingkungan perkotaan. Pemilihan bahan serta warna dan perpaduan juga hendaknya disesuaikan dengan lingkungan sekitarnya.

Elemen-elemen Street Furniture yaitu : Ground Cover Merupakan penutup tanah dalam perencanaan, menyangkut skala, warna, tekstur, ketinggian dan material, yang dibedakan menjadi : Hard material : berupa paving, beton, batu bata, batu dan aspal Soft material : berupa tanah liat dan rumput Lampu Standar penerangan untuk skala jalur penerangan secara umum adalah ketinggian maksimum 12 kaki dan penerangan minimum 75 watt dengan jarak masing-masing penerangan 50m. Sign Berupa tanda-tanda yang diperlukan untuk menunjukkan identitas, arah, rambu lalu lintas serta member lokasi atau aktivitas. Sculpture Berfungsi sebagai eye catching, pemanis pada sebuah ruang terbuka, juga dapat berfungsi sebagai sign/tanda Taman/vegetasi Selain sebagai elemen estetis, tanaman dapat berfungsi sebagai : pembatas jalur pedestrian dengan jalur lalu lintas kendaraan atau parkir, barier yang dapat mengurangi radiasi panas matahari.

Soft landscape berupa tanah liat dan rumput juga mempengaruhi visual berpa identitas dan karakter suatu lingkungan perkotaan. Pemilihan pohon sesuai dengan fungsinya juga memiliki pengaruh yang besar terhadap visual, pohon sebagai penanda, sebagai pengarah dan peneduh memiliki fungsi yang berbeda sehingga letaknyapun harus disesuaikan fungsinya.

Gedung, jalan, lapangan, landsekap, dan street furniture jika menjadi satu dalam sebuah tempat / lingkungan maka akan menghasilkan suatu drama visual. Keterkaitan antara element-elemen tersebut diatas sangatlah penting untuk menghasilkan sebuah kualitas visual yang indah serta menarik dan menghasilkan sense of place tersendiri jika kita melewatinya.