Anda di halaman 1dari 29

PLN P3B Jawa-Bali

PROTEKSI GENERATOR & TRAFO STEP UP

Proteksi Utama
Differential Relay (87) Voltage Balance Relay (60) Negative Sequence Relay (46) Directional Power Relay (32)

51N
T

87T
G
T

50/51 UAT

87 UAT

Proteksi Cadangan
81 51N 78 59/8 1 60 21 21 Y 40 46 32 50/ 51 59G N 87 GT

Kelompok I (21G,51G/51V, 51GT,51NGT,51NT) Kelompok II (81,24 atau 59/81)


Kelompok III (78,40) Kelompok IV (51N/ST)

87G

Yang perlu diperhatikan dalam koordinasi proteksi grid dan pembangkit :

Kondisi Sistem Operasi


Variasi Frekuensi Variasi Tegangan Sistem (49.50 50.50 Hz) ( 150 kV :-10% hingga +5%) (500 kV : -5% hingga +5%)

Fault Clearing time


Basic Fault clearing time * 90 ms pada 500 kV * 120 ms pada 150 kV Back-up time * 400 ms untuk Zone-2 operating time CBF time * 200 250 ms Selektifitas antara generator dan sistem * discriminating time 300 ms

Proteksi Cadangan Generator dan Trafo yang harus dikoordinasikan dengan Proteksi Penghantar

I.

Back up relay proteksi untuk phase to phase atau phase to ground fault (21G, 51G/51V, 51GT, 51NGT dan 51 NT)

II. Frekuensi dan Relay Over Excitation (81G, 24 atau 59/81) III. Out of Step dan Relay Loss of Field ( 78 dan 40) IV. Back Up Proteksi Trafo Start up untuk phase to ground fault (51N/ST)

I.

Back Up Relay Proteksi Untuk Phase to Phase atau Phase to Ground Fault

(21G, 51G/51V, 51GT, 51NGT & 51 NT)

I.a. Distance Relay (21G)

Proteksi back up yang berguna untuk memisahkan generator dan trafo generator dengan sistem , apabila ada gangguan pada generator atau trafo generator yang mana tidak diatasi oleh proteksi utama

Z1f + t(700ms) Z1b Z1f


ZL

G
GT 21

Yang harus diperhatikan dalam setting : Jangkauan Impedansi 21G harus dikoordinasikan dengan impedansi line relay dan CBF, ketika jangkauan impedansi 21G melewati impedansi line. Operating time harus di-delay > dari 700 millisecond.

Berdasarkan pada :
- CBF operating time : 200 msec. tCBF < 250 msec.
- Zone-2 distance relay operating time : 400 msec - Discriminating time (t) diantara dua relai : 300 msec

I.b. Over Current Relay (51G, 51T dan 51 NGT)

Untuk memisahkan generator dengan sistem , apabila ada gangguan pada sistem yang mana tidak diatasi oleh proteksi utama

Yang harus diperhatikan dalam setting : Current setting merupakan tanggung jawab pembangkit Operating time harus dikoordinasikan dengan sistem proteksi transmisi , seperti 21-Line, CBF dan proteksi Bus bar Relay harus memiliki karakteristik Inverse Time Time delay 700 ms

II.

Frekuensi dan Relay Over Excitation (81G, 24 atau 59/81)

II.a. Under Frequency Relay (81G)

Untuk mendeteksi overloading yang disebabkan oleh berbagai macam gangguan sistem atau kondisi operasi
Yang harus diperhatikan dalam setting :

Harus mempertimbangkan keamanan peralatan pembangkit


Harus mendukung Load Shedding dan Islanding operation Tidak trip pada operasi normal (49.5 <f<50.5 Hz) Dimungkinkan untuk trip dengan time delay pada Load Shedding atau Islanding operation (47.5<f<49.5 Hz) Dapat trip secara instan pada frekuensi dibawah Load Shedding or Islanding operation (f< 47.5 Hz) Bila memiliki lebih dari satu unit daripada unit dimungkinkan untuk tidak trip secara instan pada 52 Hz kedua,

GRID CODE SISTEM TRANSMISI JAWA BALI


Frekuensi nominal 50 Hz, diusahakan untuk tidak lebih rendah dari 49.5 Hz atau lebih tinggi dari 50.5 Hz, dan selama waktu keadaan darurat (emergency) dan gangguan, frekuensi sistem diijinkan turun hingga 47.5 Hz atau naik hingga 52 Hz sebelum unit pembangkit diijinkan keluar dari operasi.

II.b. Over Excitation Relay (24)

Over excitation dapat menyebabkan panas pada stator generator atau trafo generator

Yang harus diperhatikan dalam setting : Harus mempertimbangkan keamanan peralatan pembangkit terhadap over excitation Harus mendukung Load Shedding dan Islanding operation Tidak trip pada V/Hz < 1.1 pu (Vmax = 1.1 pu dan fmin = 47.5/50 pu) Trip secara instan pada V/Hz > 1.1 pu

Contoh Setting relay 24 pada PLTGU Cilegon


KURVA KETAHANAN GENERATOR & SETTING RELAY 24 G TERHADAP GANGGUAN OVER EXCITATION TERHADAP WAKTU

59/81 G Charc vs TG Over Exc Limit


1.25 1.2
Ratio of term V to freq (pu)

1.15 1.1 1.05 1 0.95 2 5 7 10 20 30 40 50 60 70 Setting Capability


Time (sec)

80 100 200 600

III.

Out of Step dan Relay Loss of Field ( 78 dan 40)

III.a. Loss of Field Relay (40G)

Loss of excitation dapat menyebabkan tingginya nilai arus yang mana dapat membahayakan (overheat pada rotor dan stator generator)
Yang harus diperhatikan dalam setting : Proteksi bekerja dengan cepat untuk loss of excitation dengan inisial machine loading yang tinggi Zone proteksi dari 40G relay sebaiknya tidak menyebabkan pengurangan kapabilitas generator (under-excited operating capability) Relay sebaiknya tidak berkerja dikarenakan recoverable power swing dalam sistem

Loss of Field Relay (40G)

o Trip seketika (instant) untuk kondisi beban sebesar 30 % atau lebih besar o Trip dengan delay (0.5 hingga 0.6 sec) untuk kondisi beban yang kecil

Karakteristik Loss of Field


o Titik impedansi final tergantung beban pada loss of excitation mesin dan bervariasi dari Xd/2 pada beban penuh hingga Xd pada saat tanpa beban. o Kurva impedansi locus tergantung pada nilai impedansi sistem. Untuk impedansi sistem kurang dari 20% langsung ke titik final dan untuk impedansi sistem yang lebih besar, kurva akan berbentuk spiral menuju titik final.

Karakteristik Loss of Field


D ZS XT EG XG XT A ZS ES

A XG

EG/ES = 1
C

o Pada zero slip XG sama dengan Xd (synchronous reactance) dan pada 100% slip XG sama dengan Xd (sub transient reactance). o Pada kasus tertentu, impedansi sama dengan Xd (transient reactance) pada 50% slip dan pada 2Xd dengan slip 0.33% o Berdasarkan pengalaman slip terjadi pada saat asinkron yang sangat rendah mendekati 1 %

Contoh : Suralaya 4 x 400 MW + 3 x 600 MW


2 2

o MVA Sc =21.807
1.5

SVX k SHX k X 0 k X 2 k X 3 k 0.5 X 4 k X 5 k XX 4 k Xloss 4 k XLk Xgtk Xrloss1 y Xrloss2 y XP 0 x Xuel0 x 1.5 1 0.5 0 1

o Slip = 0.1

2 2

1.5

0.5

0.5

1.5

2 2

SVR k SHR k R 0 k R 2 k R 3 k R 4 k R 5 k RR 4 k Rloss 4 k RL k Rgt k Rrloss1 y Rrloss2 y RP 0 x Ruel 0 x

(40)*Kurang sesuai

Contoh : Suralaya 4 x 400 MW + 3 x 600 MW


2 2

o MVA Sc =21.807
1.5 SVX k SHX k X 0 k X 2 k X 3 k 0.5 X 4 k X 5 k XX 4 k Xloss 4 k XLk Xgtk Xrloss1 y Xrloss2 y XP 0 x Xuel0 x 1.5 1 0.5 0 1

o Slip = 1%

2 2

1.5

0.5

0.5

1.5

2 2

SVR k SHR k R 0 k R 2 k R 3 k R 4 k R 5 k RR 4 k Rloss 4 k RL k Rgt k Rrloss1 y Rrloss2 y RP 0 x Ruel 0 x

(40)*Kurang sesuai

Contoh : Suralaya 4 x 400 MW + 3 x 600 MW


2 2

o MVA Sc =21.807 o Slip = 10%

1.5 SVX k SHX k X 0 k X 2 k X 3 k 0.5 X 4 k X 5 k XX 4 k Xloss 4 k XLk Xgtk Xrloss1 y Xrloss2 y XP 0 x Xuel0 x 1.5 1 0.5 0 1

2 2

1.5

0.5

0.5

1.5

2 2

SVR k SHR k R 0 k R 2 k R 3 k R 4 k R 5 k RR 4 k Rloss 4 k RL k Rgt k Rrloss1 y Rrloss2 y RP 0 x Ruel 0 x

(40)*Sesuai

III.b. Out of Step Relay (78)

Untuk mengamankan mesin dari osilasi mekanis yang disebabkan oleh pole slipping pada generator.
Yang harus diperhatikan dalam setting : Out of step relay beroperasi pada kondisi lepas sinkron yang terjadi di generator Out of step relay tidak bekerja saat power swing terjadi di luar generator Relay tetap berkerja dengan baik selama kondisi lepas sinkron pole slipping yang rendah atau besar. Out of step relay hanya diijinkan bekerja pada power angle antara generator dan sistem dalam keadaan kurang tenaga Out of step relay tidak bekerja pada recoverable power swing

Out of Step Relay (78)

Contoh : Suralaya 4 x 400 MW + 3 x 600 MW


1 1

o MVA Sc =21.807 o Slip = 0.1

XLk X 0 k X 2 k X 3 k X 4 k X 5 k XX11 y XX12 y XX13 y XX14 y XX15 y Xm y 0.5 SVX k SHX k 0 0.5

1 1

0.8

0.6

0.4

0.2

0.2

0.4

0.6

0.8

1 1

RL k R 0 k R 2 k R 3 k R 4 k R 5 k RR1 1 y RR1 2 y RR1 3 y RR1 4 y RR1 5 y Rm y SVR k SHR k

(78)*Kurang sesuai

Contoh : Paiton 2 x 610 MW


2.0 XL k X 0, k X 2, k X 3, k X 4, k X 5, k X7 X7 X7 X7 X7 X7 1, y 2, y 0 3, y 4, y 5, y 6, y y y 2

Locus Impedansi pada Eg/Es=1,2 Jangkauan Outside Forward 78 G Jangkauan Inside Forward 78 G Locus Impedansi pada Eg/Es=1,0 Locus Impedansi pada Eg/Es=0,8 Jangkauan Inside Reverse 78 G Jangkauan Outside Reverse 78G Paiton 5&6 + Paiton PLN MVA Sc =11.793 Slip = 10

Xup1 Xup2 Xlo1 Xlo2

y y

2.0

(78)*Kurang sesuai
2 2 2 0 RL , R ,R ,R ,R ,R , R7 , R7 , R7 , R7 , R7 , R7 , Rup1 , Rup2 , Rlo1 , Rlo2 k 0, k 2, k 3, k 4, k 5, k 1, y 2, y 3, y 4, y 5, y 6, y y y y y 2 2

o o

Contoh : Paiton 2 x 610 MW


2

2.0 XL k X0 k X2 k X3 k X4 k X5 k X7 1 y X7 2 y X7 3 y X7 4 y X7 5 y X7 6 y Xup1y Xup2y Xlo1 y Xlo2 y 2.0

o Paiton 5&6 + Paiton PLN MVA Sc =11.793 o Slip = 1

2 2

2 RL k R0 k R2 k R3 k R4 k R5 k R7 1 y R7 2 y R7 3 y R7 4 y R7 5 y R7 6 y Rup1y Rup2y Rlo1 y Rlo2 y

(78)*Kurang sesuai

Contoh Koordinasi Relai antara 78G dan 40 G pole 10 %


2 XL k X 0, k X 2, k X 5, k X7 X7 X7 X7 X7 X7 1, y 2, y 3, y 4, y 0 5, y 6, y y 2

Jangkauan Outside Forward 78G Jangkauan Inside Forward 78G Kurva kapabilitas generator Locus Impedansi Eg/Es=0,8 Jangkauan Inside Reverse 78G

X41 XC

0, x y y

Xup1 Xup2 Xlo1 Xlo2

y y 2

Jangkauan Outside forward 78G


2 2 2 0 RL , R ,R ,R , R7 , R7 , R7 , R7 , R7 , R7 , R41 , RC , Rup1 , Rup2 , Rlo1 , Rlo2 k 0, k 2, k 5, k 1, y 2, y 3, y 4, y 5, y 6, y y 0, x y y y y 2 2

Jangkauan 40 G
*Kurang sesuai

IV. Back Up Proteksi Trafo Start up untuk phase to ground fault (51N/ST)

IV. Start-up Transformer Protection (51N/ST)

Untuk memisahkan auxiliary trafo dengan sistem bila gangguan sistem pada auxiliary pembangkit tidak teratasi oleh proteksi utama
Yang harus diperhatikan dalam setting : Current setting merupakan tanggung jawab pembangkit Operating time harus dikoordinasikan dengan back up proteksi sistem transmisi, seperti GFR Line dan GFR Trafo Inter Bus Relay harus memiliki karakteristik Inverse Time Time delay 1500 ms