Anda di halaman 1dari 6

THOMAS HOBBES

Oleh: Yusnia Kurniasih 10/304977/SP/24341

Presentation design by: www.presentationhelper.co.uk

Introduction
Hobbes (1588-1679) adalah salah satu filsuf berkebangsaan Inggris yang cukup berpengaruh dalam perkembangan ilmu politik dan sains pada masanya. Pemikiran Hobbes merupakan salah satu pemikiran yang menguatkan konsep realisme dalam politik internasional. Karya Hobbes selama hidupnya yang terkenal antara lain adalah The Elements of Law (1640); De Cive [On the Citizen] (1642) dan Leviathan (1651).

Hobbes dalam Leviathan


Leviathan merupakan karya Hobbes yang paling terkenal dan beberapa peneliti melihat karya ini sebagai yang paling dapat menjelaskan filosofi pemikiran Hobbes. Leviathan terdiri atas dua bagian: - of man (berisi tentang pandangan dasarnya mengenai manusia) - of commonwealth (berisi tentang pandangannya secara umum tentang politik dan negara)

Leviathan Bagian 1
Hobbes melihat bahwa tindakan manusia didasari oleh setidaknya tiga hal yakni competition, cowardliness dan glory yang merupakan state of nature manusia. Hobbes meragukan ketiadaan motif dan kepentingan dalam segala tindakan manusia yang berhubungan dengan manusia lain-> cenderung skeptis terhadap konsep moralitas dan percaya bahwa manusia hidup dan berinteraksi untuk memenuhi kebutuhannya (rational actor). Negara, sama halnya dengan manusia, berperilaku sama untuk mencapai kepentingan-kepentingannya.

Leviathan Bagian 2
Negara membutuhkan perjanjian (meskipun dikatakannya sebagai sesuatu yang artificial karena tidak benar-benar mengakomodasi basic needs segala pihak) mengenai konsep kedaulatan agar merasa lebih aman dan agar kondisi tidak lagi chaotic sebagaimana zaman sebelumnya. Hobbes mendukung adanya kekuatan negara yang besar disertai dukungan persenjataan untuk meningkatkan security. Kondisi natural manusia yang tidak bisa diatur menyebabkan negara harus memiliki kuasa yang besar untuk menghindarkan diri dari perang.

Kesimpulan
Basic arguments dari Hobbes antara lain: - manusia dan negara sebagai aktor yang rasional. - security dapat dicapai dengan memperkuat diri sendiri atau melemahkan pihak lain. - keinginan untuk berkompetisi (dapat dikaitkan dengan perang juga) adalah state of nature manusia dan negara, dapat ditekan ketika ketakutan akan kematian meningkat (dianggap sebagai motif untuk mencapai perdamaian).