Anda di halaman 1dari 58

DIAGNOSA BANDING MATA MERAH

Matt Biondi Tesa Takwarif

Pendahuluan
Mata merah merupakan keluhan utama yang paling sering

muncul pada penderita penyakit mata. Keluhan mata merah ini bervariasi dari yang ringan sampai yang disertai penurunan visus. Mata merah disebabkan pelebaran pembuluh darah konjungtiva yang terjadi pada peradangan akut. Juga dapat terjadi akibat pecahnya salah satu dari kedua pembuluh darah di konjungtiva, Dalam beberapa kasus mungkin merupakan tanda serius dari kemungkinan kondisi yang mengancam penglihatan. Penegakan diagnosis yang tepat dan evaluasi dini merupakan hal yang sangat penting pada keluhan mata merah agar pegangan yang diberikan efektif, tepat dan efisien.

Pembuluh darah pada konjungtiva A. konjungtiva posterior konjungtiva bulbi A.siliar anterior atau episklera
A.sirkular mayor/a.pleksus siliar iris dan badan siliar A. perikornea kornea A. episklera di atas sklera perdarahan dalam bola mata

Pelebaran pembuluh darah atau pecahnya pembuluh2 darah tsb

MATA MERAH

Diagnosa Mata Merah


Mata merah dibagi atas dasar proses yang

mendasarinya:
Fisiologis

setelah menangis, bangun tidur Karena pecahnya pembuluh darah, iritasi, proses inflamasi, infeksi, dan sumbatan pembuluh darah

Patologis

Mata Merah Patologis


Dengan visus normal
Merah tidak merata Episkleritis dan skleritis Perdarahan subkonjungtiva Pterigium Pseudopterigium Konjungtivitis flikten Pinguekula iritans Merah merata 1. konjungtivitis akut 2. konjungtivitis kronis

Dengan visus menurun


Keratitis Ulkus kornea Iritis, iridosiklitis Endoftalmitis Panoftalmitis Uveitis Panuveitis

Episkleritis
Merupakan reaksi radang jaringan ikat vascular yang

terletak antara konjungtiva dan permukaan sklera Anamnesis : mata merah, nyeri, fotofobia, pedih dan lakrimasi,biasanya pada satu mata Pemeriksaan : Hiperemia terbatas sehingga mata berwarna merah muda atau ungu. Infiltrasi, kongesti dan sembab pada episklera, konjungtiva yang ada diatasnya dan kapsul tenon yang terletak di bawahnya. Penatalaksanaan: Biasanya sembuh sendiri dalam waktu 1 sampai 2 minggu. Namun sering kambuh sampai betahun-tahun,. Keadaannya akan membaik dengan kortikosteroid topical (deksametasone 0,1%) dalam 3-4 hari.

Episkleritis

Skleritis
Merupakan reaksi peradangan dari sclera, biasanya

disebabkan kelainan atau penyakit sistemik. Biasa mengenai kedua mata. Lebih sering disebabkan penyakit jaringan ikat, pasca herpes, sifilis dan gout. Anamnesis : mata merah, nyeri hebat (lebih hebat daripada episkleritis) yang dapat menyebar ke dahi, alis dan dagu. Dapat disertai fotofobia, pedih dan lakrimasi Pemeriksaan : Hiperemis terbatas Penatalaksanaan: NSAID: Indomethacin 100mg/hari Ibuprofen 300mg/hari Setelah 1-2 minggu tidak ada respon, berikan Prednisolone 80 mg/hari, tapering off.

Skleritis

Perdarahan Subkonjungtiva
Dapat terjadi pada keadaan dimana pembuluh darah rapuh

(umur, hipertensi, arteriosclerosis, konjungtivitis hemoragik, anemia, pemakaian antikoagulan, dan batuk rejan). Dapat juga terjadi akibat trauma. Anamnesis : mata merah spontan, biasanya monokuler. Kadang didahului serangan batuk berat atau bersin yang terlalu kuat. Pemeriksaan : Hiperemis terbatas Penatalaksanaan: Tidak diperlukan pengobatan, perdarahan akan hilang terserap dalam waktu 2-3 minggu.

Perdarahan Subkonjungtiva

Pterigium

Merupakan pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif. Anamnesis : terdapat selaput pada mata berbentuk segitiga, biasanya di sisi nasal Pemeriksaan: Pada konjungtiva bulbi tampak pterigium yang tumbuh menyebar dari pinguekula ke kornea. Penatalaksanaan: Jika mencapai pupil : operatif Pencegahan rekurensi: penderita menggunakan kacamata untuk mengurangi paparan.

Pterigium

Pseudopterigium
Merupakan perlekatan konjungtiva dengan kornea

yang cacat. Anamnesis : terdapat kelainan kornea sebelumnya, seperti ulkus kornea. Pemeriksaan :

Perlekatan konjungtiva dengan kornea yang cacat,

sering terjadi pada proses penyembuhan ulkus kornea. Letak pseudopterigium pada daerah konjungtiva yang terdekat dengan proses kornea sebelumnya. Pada pseudopterigium dapat diselipkan sonde dibawahnya.

Konjungtivitis flikten
Anamnesis:

Mata merah mengelilingi lesi kecil, keras, merah, menonjol disertai lakrimasi. Flikten kornea selalu disertai fotofobia. Terdapat riwayat blefaritis aktif, konjungtivitis bakteri akut dan defisiensi dietetic (factor pencetus). Terdapat penyakit yang mendasari: tuberculosis, infeksi Staphylococcus aureus. Pemeriksaan : Pada konjungtiva bulbi terdapat fliktenulosis dikelilingi injeksi konjungtiva. Penatalaksanaan:
Fliktenulosis e.c tuberkuloprotein : kortikosteroid topical, hasilnya sangat

berkurang dalam 24 jam dan hilang dalam 24 jam berikutnya. Fliktenulosis e.c protein stafilokok : ditujukan pada penyakit yang mendasarinya. Pada parut kornea berat: mungkin memerlukan cangkok mata.

Pinguekula iritans
Pinguekula merupakan benjolan pada konjungtiva bulbi

yang ditemukan pada orang tua terutama yang matanya sering mendapat rangsang sinar matahari, debu, dan angin. Anamnesis Benjolan kecil kuning pada kedua sisi kornea di daerah fissure palpebra yang ukurannya tetap dan mengalami iritasi. Pemeriksaan Konjungtiva bulbi banyak pinguekula disertai injeksi konjungtiva. Penatalaksanaan Steroid lemah topikal (Prednisolon 0,12% )

Pinguekula iritans

B. Mata merah dengan visus normal dan merah

merata 1. konjungtivitis akut


konjungtivitis bakterial konjungtivitis blenore konjungtivitis gonore konjungtivitis akut viral keratokonjungtivitis epidemic demam faringokonjungtiva keratokonjungtivitis herpetic keratokonjungtivitis New Castle konjungtivitis hemoragik akut konjungtivitis jamur konjungtivitis alergi konjungtivitis vernal konjungtivitis flikten

2. Konjungtivitis kronis - trachoma Anamnesa : Mata merah Perasaan seperti ada benda asing Pedih dan panas Gatal-gatal Banyak keluar air mata dan eksudasi Fotofobia (jika kornea ikut terkena) Pemeriksaan : palpebra superior : pseudoptosis (pada trachoma, keratokonjungtivitis epidemik) Konjungtiva tarsalis superior/inferior : hiperemis, hipertrofi papil, folikel Apparatus lakrimalis : lakrimasi (+) Adenopati preaurikuler

KONJUNGTIVITIS
Anamnesa : Mata merah Perasaan seperti ada benda asing Pedih dan panas Gatal-gatal Banyak keluar air mata dan eksudasi Fotofobia (jika kornea ikut terkena)

Pemeriksaan :
palpebra superior : pseudoptosis (pada trachoma,

keratokonjungtivitis epidemik) Konjungtiva tarsalis superior/inferior : hiperemis, hipertrofi papil, folikel Apparatus lakrimalis : lakrimasi (+) Adenopati preaurikuler

Perbedaan jenis-jenis konjungtivitis


Penemuan Virus klinis dan sitologis Bakteri Klamidia Alergi

Gatal-gatal
Hiperemia

minimal
menyeluruh

minimal
menyeluruh

minimal
menyeluruh

berat
menyeluruh

Lakrimasi Eksudasi

amat banyak minimal

sedang amat banyak

sedang amat banyak

sedang minimal

Adenopati aurikuler

biasanya ada

langka

biasanya hanya tidak ada ada pada konjungtivi tis inklusi

pewarnaan monosit kerokan konjungtiva dan eksudat

bakteri PMN

sel PMN, eosinofil plasma, badan inklusi

kaitan kadang ada kadang ada tidak dengan pernah ada sakit kerongkong an dan demam

tidak pernah ada

Konjungtivitis Bakteri
Etiologi Stafilokok, Streptokok, Corynebacterium diphtheriae, Pseudomonas aeruginosa, Neisseria gonorrhoea, dan Haemophilus injluenzae.

Manifestasi Klinis Konjungtiva bulbi hiperemis, lakrimasi, eksudat dengan sekret mukopurulen terutama di pagi hari, pseudoptosis akibat pembengkakan kelopak, kemosis, hipertrofi papil, folikel, membran, pseudomembran, granulasi, flikten, mata terasa seperti ada benda asing, dan limfadenopati preaurikular

Konjungtivitis Bakteri

Konjungtivitis gonore sekret yang purulen padat, perdarahan subkonjungtiva dan kemosis orang dewasa kelopak mata bengkak sukar dibuka dan konjungtiva yang kaku disertai sakit pada perabaan; pseudomembran pada konjungtiva tarsal superior; konjungtiva bulbi merah, kemosis, dan menebal; gambaran hipertrofi papilar besar; juga tanda-tanda infeksi umum. Sekret serosa kuning kental

Pemeriksaan penunjang sediaan langsung pewamaan Gram atau Giemsa kuman penyebab dan uji sensitivitas. D/ pasti konjungtivitis gonore sekret Metilen Biru Diplokok di dalam selleukosit. Gram Diplokok Gram negatif intra dan ekstraseluler. Komplikasi Stafilokok dapat menyebabkan blefarokonjungtivitis, Gonokok menyebabkan perforasi komea dan endoftalmitis, dan Meningokok dapat menyebabkan septikemia atau meningitis.

Konjungtivitis Viral
Etiologi Adenovirus, Herpes simpleks, Herpes zoster, Klamidia, New castle, Pikorna, Enterovirus, dan sebagainya. Manifestasi Klinis sedikit kotoran pada mata, lakrimasi, sedikit gatal, injeksi, nodul preaurikular bisa nyeri atau tidak, serta kadang disertai sakit tenggorok dan demam Konjungtivitis herpes simpleks anak kecil, injeksi unilateral, iritasi, sekret mukoid, nyeri, dan fotofobia ringan

Konjungtivitis Viral

Pemeriksaan Penunjang Pada pemeriksaan sitologi ditemukan sel raksasa dengan pewarnaan Giemsa, kultur virus, dan sel inklusi intranuklear.
Komplikasi Keratitis. Virus herpetik dapat menyebabkan parut pada kelopak; neuralgia; katarak; glaukoma; kelumpuhan sarafIlI, IV, VI; atrofi saraf optik; dan kebutaan.

Konjungtivitis Alergi
Etiologi hipersensitivitas tipe cepat atau lambat, atau reaksi antibodi humoral terhadap alergen bagian dari sindrom Steven Johnson
Manifestasi Klinis Mata merah, sakit, bengkak, panas, berair, gatal, dan silau berulang dan menahun riwayat atopi sendiri atau dalam keluarga Pemfis : injeksi ringan pada konjungtiva palpebra dan bulbi serta papil besar pada konjungtiva tarsal

Mild Allergic Reaction

Severe Allergic Reaction

Vernal Keratoconjunctivitis

Penatalaksanaan
1. konjungtivitis bakterial antibiotik tergantung hasil pemeriksaaan kuman sambil menunggu hasil laboratorium, bisa dimulai pengobatan topikal dengan sulfonamid atau antibiotik berdasar gambaran klinis pada konjungtivitis kataral akut, kantung konjungtiva sebaiknya dibilas dengan larutan garam fisiologis untuk melarutkan sekret untuk mencegah penularan, diberi penyuluhan higienis perorangan pada penderita dan keluarga

Untuk konjungtivitis gonore, pasien dirawat serta diberi penisilin salep dan suntikan. Untuk bayi dosisnya 50.000 unit/kg BB selama 7 hari. Sekret dibersihkan dengan kapas yang dibasahi air rebus bersih atau garam fisiologis setiap 15 menit dan diberi salep penisilin. Dapat diberikan penisilin tetes mata dalam bentuk larutan penisilin G 10.000-20.000 unit/ml setiap menit selama 30 menit, dilanjutkan setiap 5 menit selama 30 menit berikut, kemudian diberikan setiap I jam selama 3 hari. Antibiotika sistemik diberikan sesuai dengan pengobatan gonokok.

Penatalaksanaan
2. Konjungtivitis virus demam faringokonjungtiva : sembuh sendiri dalam 10 hari keratokonjungtivitis epidemika : mencegah penularan saat pemeriksaaan, berlangsung 3-4 minggu konjungtivitsi virus herpes simpleks : sembuh sendiri, debriment kornea atau diberi salep mata idosuridin 4x/hari selama 7-10 hari atau salep Acyclovir 3% 5x/hari selama 10 hari konjungtivitsi New Castle : sembuh sendiri kurang dari 7 hari konjungtivitis hemoragik akut : sembuh dalam 5-7 hari

3. Konjungtivitis jamur Amphotericin B (3-8 mg/mL) dalam air (bukan larutan garam fisiologis) Krem Nistatin (100000 U/gr) 4-6 x/hari 4. Konjungtivitis alergi a. Konjungtivitis vernal Sembuh sendiri. Pengobatan sistemik merugikan untuk jangka panjang b. Konjungtivitis flikten Kortikosteroid topikal tuberkuloprotein atau protein infeksi sistemik

Penatalaksanaan Trachoma

Tetrasiklin 1-1,5 gr/hari, peroral dalam 4 takaran yang sama selama 3-4 mingu Doksisiklin 100 mg, 2 x/hari p.o selama 3 minggu Eritromisin 1 gr/hari p.o dibagi dalam 4 takaran selama 3-4 minggu Salep mata atau tetes mata termasuk sulfonamid, tetrasiklin, eritromisin dan rifampisin 4x/hari selama 6 minggu Tetrasiklin sistemik jangan diberikan pada anakanak dibawah 7 tahun atau wanita hamil

Chlamydial & Gonococcal Conjunctivitis SIGNS AND SYMPTOMS

KERATITIS

1. Keratitis Pungtata Merupakakan keratitis pada kelenjar Bowman dengan adanya inflitrat berbentuk bercak halus pada permukaan kornea. Pasien akan mengeluh sakit, silau, mata merah, dan merasa kelilipan. Pengobatan yang bisa diberikan adalah air mata buatan, tobramisisn tetes mata, dan siklopegik.
Keratitis Superfisialis

Merupakakan keratitis superfisial dengan adanya inflitrat berbentuk bintik-bintik putih pada permukaan kornea. Terjadi pada kornea superfisial, dan hijau saat pewarnaan fluoresen.
Keratitis pungtata subepitel

Terjadi di daerah kelenjar bowman. Biasanya bilateral

2. Keratitis Marginalis Merupakan infiltrat yang tertimbun pada tepi kornea sejajar dengan limbus. Biasanya penderita akan mengeluh sakit seperti kelilipan, keluar banyak air mata, sakit, sengan fotofobia berat. Pengobatan yang dapat diberikan berupa vitamin B dan C dosis tinggi. 3. Keratitis Interstisial Keratitis ini terjadi pada jaringan kornea lebih dalam, merupakan keratitis nonsupuratif profunda yang disertai dengan neovaskularisasi. Pasien biasanya akan mengeluhkan fotofobia, keluar banyak air mata, dan penurunan visus. Kelainan ini biasanya bilateral. Pada kornea keruh, sehingga iris susah dilihat. Terdapat injeksi siliar disertai pembuluh darah ke arah dalam sehingga memberikan gambaran merah pucat salmon patch. Pengobatan yang dapat diberikan berupa tetes mata atropin untuk mencegah sinekia.

4. Keratitis bakterial Terapi antibitotik yang diberikan untuk bakteri gram negatif adalah tobramisin 15mg/ml, gentamisin 15mg/ml, polimiksin. Antibiotik untuk gram positif antaralain cefazolin 50mg/ml, vancomycin , dan basitrasin. Selain itu siklopegik diberikan untuk istirahat mata.
5. Keratitis Jamur Pasien biasanya akan mengeluh sakit mata hebat, berair, dan silau. Gejala yang bisa didapatkan pada pasien adalah infiltrat yang berhifa dan satelit. Pengobatan yang diberikan adalah gentamisin setiap 1-2 jam.

6. Keratitis Herpes Simpleks Tipe epitel - Gambaran klinis infeksi primer herpes simpleks pada mata biasanya berupa konjungtivitis folikulasris akut disertai blefaritis vesikuler yang ulseratif, serta pembengkakan kelenjar limfa regional. Gambaran khas pada kornea adalah bentuk dendrit, akan tetapi dapat juga bentuk lain. - Pengobatan : trifuldin per 2 jam atau antiviral oral 5x400mg/hari. Pada keratitis stromal
Tipe stromal

Terjadi reaksi imunologik tubuh terhadap virus yang menyerang reaksi antigen-antibodi yang menarik sel radang ke dalam stroma. Sel radang ini mengeluarkan bahan proteolitik untuk merusak virus tetapi juga akan merusak jaringan stromal di sekitarnya. Pada keadaan ini penderita datang dengan keluhan silau, mata berair, penglihatan kabur dan pada pemeriksaan didapatkan injeksi konjungtiva dan silier, penderita menutup matanya karena silau, dan pada kornea didapatkan infiltrat stroma yang dapat disertai uveitis dan

7. Keratitis Herpes Zoster Disebabkan oleh virus varicella-zoster. Virus ini dapat menyerang saraf kranial V, VII, dan VIII secara demartomal. Erupsi dan rasa nyeri ini unilateral dan tidak melewati garis median.. Pengobatan : asiklovir oral maupun topikal tampak menjanjikan, pemberian kortikosteroid topikal, air mata buatan
8. Keratitis Flikten Merupakan reaksi imunologi terhadap patogen biologis. Terdapat hiperemia konjungtiva, dan memberikan kesan kurangnya air mata. Penderita biasanya datang karena ada benjolan putih kemerahan di pinggiran mata yang hitam. Apabila jaringan kornea terkena, maka mata berair, silau, dan dapat disertai rasa sakit dan penglihatan kabur. Gambaran yang khas adalah terbentuknya papula atau pustula pada kornea atau konjungtiva karena itu penyakit ini biasanya disebut kerato konjungtivits flikten. Pada tukak dapat diberikan antibiotik topikal atau oral.

9. Keratitis Sika Keratitis Sika adalah keratitis yang pada dasarnya diakibatkan oleh kurangnya sekresi kelenjar lakrimal dan atau sel globet. Secara objektif, pada tingkat dry-eye, kejernihan permukaan konjungtiva dan kornea hilang, tes schirmer berkurang, tear-film kornea mudah pecah, tear break-up time berkurang, sukar menggerakan kelopak mata 10.Keratitis lagoftalmus, akibat mata tidak dapat menutup sempurna, sehingga kornea menjadi kering dan mudah terkena trauma. Dapat dikarenakan parese Nervus VII. 11.Keratitis neuroparalitik, akibat kerusakan Nervus V

ULKUS KORNEA

Ulkus yang kecil dan superfisial akan lebih cepat sembuh, kornea dapat jernih kembali.

Pada ulkus yang menghancurkan membran Bowman dan stroma, akan menimbulkan sikatriks kornea. Gejala Subjektif sama seperti gejala keratitis. Gejala Objektif berupa injeksi siliar, hilangnya sebagaian jaringan kornea, dan adanya infiltrat. Pada kasus yang lebih berat dapat terjadi iritis disertai hipopion.

1. Tukak karena Bakteri Tukak streptokokus Gambaran tukak kornea khas, tukak yang menjalar dari tepi ke arah tengah kornea (serpinginous). Tukak berwarna kuning keabu-abuan berbentuk cakram. Tukak stafilokokus Pada awalnya berupa tukak yang berwarna putih kekuningan disertai infiltrat secara adekuat, akan terjadi abses kornea yang disertai edema stroma dan infiltrasi sel lekosit. Walaupun terdapat hipopion tukak seringkali indolen yaitu reaksi radangnya minimal. Tukak Pseudomonas Biasanya dimulai dengan tukak kecil di bagian sentral kornea dengan infiltrat berwarna keabu-abuan disertai edema epitel dan stroma. Trauma kecil ini dengan cepat melebar dan mendalam serta menimbulkan perforasi kornea. Tukak mengeluarkan discharge kental berwarna kuning kehijauan. Pengobatan diberikan Gentamisin, tobramisin, karbensilin yang diberikan secara lokal subkonjungtiva serta intravena.

2. Tukak Virus Bentuk khas dendrit dapat diikuiti oleh vesikel-vesikel kecil di lapisan epitel yang bila pecah akan menimbulkan tukak. Tukak dapat juga terjadi pada bentuk diiform bila mengalami nekrosis di bagian sentral.
3. Tukak Jamur Pengobatan obat anti jamur dengan spektrum luas. Apabila memungkinkan dilakukan pemeriksaan laboratorium dan tes sensitivitas untuk dapat memilih obat jamur yang spesifik.

UVEITIS

Keluhan pasien pada awalnya dapat berupa sakit di mata,

sakit kepala, fotofobia, dan lakrimasi. Sakit terbatas di daerah periorbita dan mata serta bertambah sakitnya bila dihadapkan pada cahaya dan tekanan. Dari pemeriksaan akan didapatkan injeksi siliar, presipitat keratik, flare serta sel dalam bilik mata depan serta endapan fibrin pada pupil yang dapat menyebabkan sinekia posterior. Pengobatan : tetes mata steroid 4-6 x sehari tergantung pada beratnya penyakit, imunosupresif, siklopegik, pembedahan.

GLAUKOMA

Seseorang yang datang dalam fase serangan akut glaukoma memberi

kesan seperti orang yang sakit berat. Penglihantannya kabur sekali dan dilihatnya warna pelangi di sekitar lampu.
Dalam anamnesis, keluarganya akan menceritakan bahwa sudah

sekian hari penderita tidak bisa bangun, sakit kepala dan terus muntah-muntah, nyeri dirasakan di dalam dan di sekitar mata.
Pada pemeriksaan, ditemukan bengkak palpebra, visus menurun

(kadang sampai 1/~), konjungtiva : Injeksi siliar, kornea : edema, COA : dangkal atau sedang, pupil : middilatasi / iridoplegi, Iris : sinekia (-), lensa : glaukoma flicken, tekanan intraokular sangat tinggi, media refraksi keruh, funduskopi : papil hiperemis.
Terapi :

Glaukoma sudut tertutup merupakan keadaan darurat bedah mata. Pemberian obat-obatan untuk menurunkan TIO pre-operasi :

ENDOFTALMITIS

Endoftalmitis merupakan peradangan berat dalam bola

mata. Pasien biasanya mengeluhan nyeri dan mata merah. Berbentuk radang supuratif di dalam rongga mata dan struktur di dalam nya. Peradangan supuratif di dalam bola mata akan memberikan abses di dalam badan kaca. Penyebab endoftalmitis supuratif adalah kuman dan jamur yang masuk bersama trauma tembus (eksogen) atau sistemik melalui peredaran darah (endogen). Endoftalmitis eksogen dapat terjadi akibat trauma tembus atau infeksi sekunder pada tindakan pembedahan yang membuka bola mata. Endoftalmitis endogen terjadi akibat penyebaran bekteri, jamur, ataupun parasit dari fokus infeksi di dalam tubuh.

Dari hasil pemeriksaan akan ditemukan visus sangat menurun (1/300 sampai 1/~) sekret (+/-) konjungtiva bulbi /; hiperemis, injeksi siliaris, injeksi konjungtiva, kemosis kornea : keruh COA : hipopion Pupil, iris dan lensa biasanya sulit dinilai Funduskopi sulit dinilai USG : gambaran endoltalmitis TIO meningkat

Pengobatan diberikan Antibiotik topikal Kortikosteroid Siklopegik