Anda di halaman 1dari 51

TUBERKULOSIS ANAK

Tuberkulosis anak
Tuberkulosis primer Penyakit sistemik Index tuberkulin 50% Penderita BTA (+) 0,255%

Etiologi
Mycobacterium tuberculosis Mycobacterium bovis dengan sifat-sifat :
Tahan asam Pertumbuhan lambat Tahan lama dalam keadaan kering bermingguminggu Tidak tahan sinar matahari, sinar ultraviolet, suhu > 600 C

Mycobacterium atipik
(unclassified, anonymous, non tuberculous)

Menurut Runyon (1974) :


Photochromogen Scotochromogen Nonphotochromogen Rapid growers : M.kansasi, M. marinum, M.siniae : M. scrofuloceum, M. szulgai, M. xenopi : M. avium, M. intracellulare : M. fortuitum, M. chelonei

Penularan
Biasanya ketularan dari orang dewasa. Cara penularan : Melalui udara : > 90%, Droplet nuclei 1-5 m Melalui mulut : minum susu sapi Kontak langsung : luka di kulit Kongenital : sangat jarang

Ghn & Kudlich (1930) : Fokus primer pada 2.114 kasus TB


Paru Intestin Kulit Hidung Tonsil Telinga tengah Kelenjar parotis Conjungtiva Tidak diketahui : 95.93 % : 1.14 % : 0.14 % : 0.09 % : 0.09 % : 0.09 % : 0.05 % : 0.05 % : 2.41 %

Patogenesis tuberkulosis
Inhalasi droplet nuclei berisi M.tb

Tidak ada infeksi

Droplet nuclei > 10 m mukosa intake saluran napas atas

Droplet nuclei < 5 m menembus lapisan mukosilier atas

Reaksi inflamasi non spesifik alveolus

Basil TB dalam makrofag alveolus

Penyebaran limfogen lokal penyebaran hematogen


3 minggu 95% 5%

Sel T spesifik

Respons imun selular gagal atau inadekuat

Makrofag aktif : membunuh/menghambat basil TB

TB aktif (penyakit)
reaktivasi

TB inaktif mungkin masih ada basil TB

5%

Imunitas menurun atau gagal

Kompleks primer

Faktor yang mempengaruhi prognosis


A. Faktor basil TB :
Virulensi basil TB Dosis infeksi

B. Faktor pasien :
Keadaan umum Umur Keadaan gizi Adanya infeksi lain, misalnya morbilli Tekanan fisik & psikis Adanya penyakit lain Genetik

Klasifikasi dasar
0. I. II. III. Kontak [-]., infeksi [-] (tuberkulin [-]) Kontak [+], infeksi [-] (tuberkulin [-]) Infeksi [+], penyakit TB [-] (tuberkulin [+]) Penyakit tuberkulosis

Diagnostik
Uji tuberkulin Foto R Gambaran klinis Pemeriksaan mikrobiologis Pemeriksaan patologik-anatomik Pemeriksaan darah tepi Adanya sumber infeksi Lain-lain : - uji faal paru - bronkoskopi - serologis

Uji tuberkulin
Infeksi TB imunitas seluler hipersensitivitas tipe lambat uji tuberkulin (+)

TUBERKULIN
Kekuatan Strength Ringan (First) Menengah (Intermediate) Tuberkulin PPD-S Tuberkulin OT mg/dosis TU PPD RT 23 2 TU mg/dosis Pengenceran 0,00002 0,0001 0,005 1 5 10 250 2 5 100 0,01 0,1 1,0 1 10,000 1 2,000 1 1,000 1 100

Kuat (Second)

Cara melakukan uji tuberkulin


1. Cara Mantoux : penyuntikan intrakutan 2. Multiple puncture : cara Heaf 6 jarum cara Tine 4 jarum 3. Patch test

Dosis standard Tuberkulin


Cara Mantoux 0.1 ml PPD - RT23 2 - 5 TU PPD-S 5 - 10 TU 1 1 OT --------- - --------2.000 1.000 Disuntikkan intrakutan, daerah voler lengan bawah Pembacaan : 48-72 jam setelah penyuntikan diukur diameter indurasi dinyatakan dalam milimeter Diameter indurasi : 0 - 5 mm : negatif 5 - 9 mm : positif/meragukan > 10 mm : positif

Arti uji tuberkulin positif


1. Infeksi TB :
tenang (tidak ada TB aktif) aktif (ada TB aktif)

2. Imunisasi / infeksi BCG 3. Infeksi Mycobacterium atipik

Anergi
Uji tuberkulin dapat negatif untuk sementara karena : TB berat misalnya TB milier PEM berat Mendapat kortikosteroid lama Penyakit virus : morbili, varicella Penyakit bakteri : typhus abdominalis, difteri, pertusis Vaksinasi virus : morbili, polio Penyakit keganasan : penyakit Hodgkin

Pemeriksaan radiologis
Rutin : foto rontgen paru Atas indikasi : tulang, sendi, abdomen Rontgen paru tidak selalu khas

Gambaran radiologi paru


Pembesaran kelenjar Fokus primer Atelektasis Kavitas Tuberkuloma Pneumonia Air trapping Trakeobronkitis Bronkiektasis Efusi pleura Gambaran milier

Gejala klinis
Tanpa gejala Gejala umum/tidak spesifik Gejala khusus/spesifik

Gejala umum/tidak spesifik


Demam lama Anorexia dan BB / tidak naik Malnutrisi Malaise Batuk lama Diare berlanjut/berulang Lain-lain

Gejala spesifik
sesuai organ yang terkena
Respiratorik Nerologik Ortopedik Kelenjar Gastrointestinal Lain-lain : batuk, sesak, mengi : kejang, kaku kuduk : gibbus, pincang : membesar, skrofuloderma : diare berlanjut

Pemeriksaan mikrobiologis
Memastikan D/ TB Hasil negatif tidak menyingkirkan D/ TB Hasil positif : 10 - 62 % (cara lama) Cara :
cara lama, radiometrik, PCR

Pemeriksaan darah tepi


Tidak khas LED dapat meninggi Limfosit dapat meninggi

Pemeriksaan PA
Kelenjar, hepar, pleura Atas indikasi

Sumber infeksi
Adanya kontak dengan penderita TB aktif menambah kriteria diagnostik Menurut Shaw (1954) penderita TB dengan :
BTA (+) BTA (-), biakan M.tb (+) BTA (-), biakan M.tb (-) : 62.5 % kontak Mt (+) : 26.8 % kontak Mt (+) : 17.6 % kontak Mt (+)

Pemeriksaan lain
Uji faal paru Bronkoskopi Bronkografi Serologi MPB64

Kalender Perjalanan Penyakit Tuberkulosis Primer


Komplex Primer Sebagian besar sembuh sendiri (3-24 bulan) TB Tulang (dalam 3 tahun)

Erosi Bronkus (3-9 bulan)

Pleural effusion (3-6 bulan)

INFEKSI

Meningitis TB Milier (dalam 12 bulan)

TB Ginjal (setelah 5 tahun)

HIPERSENSITIVITAS

KEKEBALAN DIDAPAT

TES TUBERKULIN POSITIF 1 tahun Risiko tertinggi untuk Komplikasi Lokal dan Diseminasi Risiko menurun

2 -12 Minggu (6-8 minggu)

Pengobatan TB
Permulaan intensif Kombinasi 3 atau lebih OAT Teratur dan lama Pemberian gizi yang baik Pengobatan dan pencegahan penyakit lain

Obat Anti Tuberkulosis (OAT)


1. Isoniazid (INH) 2. Rifampisin 3. Pirazinamid 4. Streptomisin 5. Etambutol 6. Lain-lain Ciprofloxacin : 5 - 15 mg/Kg BB/hari, max. 300 mg/hari oral 1 - 2 x / hari : 10 - 20 mg/Kg BB/hari, max. 600 mg/hari oral 1 - 2 x / hari, perut kosong : 15 - 30 mg/Kg BB/hari, max. 2 gram/hari oral 1 - 2 x / hari (20 - 40 mg/Kg BB/hari) : 20 - 40 mg /Kg BB/hari, max. 1gram/hari intramuskulus : 15 - 20 mg/Kg BB/hari, max. 1,5 gram/hari oral 1 x /hari, perut kosong : Ethionamide, Kanamycin, Cycloserin,

Populasi basil TB pada pasien


Kavitas, Dalam makrofag Massa kiju ekstrasel (intrasel)
Jumlah populasi 107 - 109 104 - 105 104 - 105 Lambat Asam

Metabolisme dan perkembang biak


pH
Obat paling efektif (berturut-turut)

Aktif

Lambat atau intermiten


Netral

Netral/basa INH, RIF, STREP

RIF, INH

PZA, RIF, INH

Toman K. Tuberculosis, WHO, 1979

Aktivitas obat-obat anti TB

Pengobatan Tuberkulosis
INH RIF PZA EMB STREP PRED

1 bl

2 bl

6 bl

9 bl

12 bl

Kortikosteroid
Antiinflamasi Prednison : 1 - 3 mg/kg BB/hari, 3 x/hari oral 2 - 4 minggu,

tapering off Indikasi : TB milier Meningitis TB Pleritis TB dengan efusi Dan lain-lain

Pencegahan
Perbaikan sosio ekonomi Kemoprofilaksis Imunisasi BCG

Kemoprofilaksis primer
Mencegah infeksi Anak kontak dengan pasien TB aktif, tetapi belum terinfeksi (uji tuberkulin negatif) Obat : INH 5 - 10 mg/kg BB/hari

Kemoprofilaksis sekunder
Mencegah penyakit TB pada anak yang terinfeksi : 1. Mantoux (+), R (-), klinis (-) :
Umur < 5 th Kortikosteroid lama Limfoma, Hodgkin, lekemi Morbili, pertusis Akil baliq

2. Konversi Mt (-) menjadi (+) dalam 12 bl, R (-), klinis (-) Obat INH 5 - 10 mg/kg BB/hari

Imunisasi BCG
Imunitas spesifik Uji tuberkulin menjadi (+) Mt (-) baru BCG Masal : langsung BCG tanpa Mt Reaksi lokal : membantu screening

Komplikasi tuberkulosis primer


1. Komplikasi komplex primer
Fokus primer : kavitas, efusi pleura, dll Kelenjar : menekan bronkus, dll

2. Penyebaran hematogen
Tuberkulosis milier Meningitis TB TB tulang dan sendi TB ginjal Lain-lain

3. Penyebaran limfogen 4. Per kontinuitatum

Tuberkulosis milier
Penyebaran hematogen akut dan menyeluruh Dapat menjadi kronik Tanpa obat bisa fatal Lesi-lesi ke seluruh tubuh Demam, hepatomegali, splenomegali, tuberkel koroid mata Pungsi lumbal

Pleritis TB dengan efusi


Pleritis TB biasanya dengan efusi Terjadi karena :
Perluasan fokus TB dekat pleura Penyebaran hematogen

Hipersensitivitas terhadap tuberkulin pleura Pungsi pleura Dapat berupa empyema

efusi

Akibat pembesaran kelenjar


Menekan bronkus :
Atelektasis Emfisema

Menembus bronkus :
Penyebaran bronkogen Fistula

TB Tulang dan Sendi


Spondilitis Koksitis Gonitis Daktilitis (Spina ventosa)

TB kelenjar superfisial
Akibat penyebaran limfogen dan hematogen Dapat sembuh sendiri, dapat progresif Dapat merupakan bagian dari TB milier Biasanya multipel Lokasi : leher, axilla, inguinal, supraklavikuler, submandibula Abses

TB Mata
TB primer konjungtiva pembesaran kelenjar preaurikuler TB koroid funduskopi Conjunctivitis phluctenularis : Fenomena hipersensitivitas Sakit, sangat mengganggu Rekuren Terjadi dalam 5-15 tahun

Ilustrasi kasus
I, laki-laki 9 tahun, BB 22,500 kg Kontak hemoptoe (TB ?) Klinis baik, alergi (+) Mt (-), R : konsolidasi Feces : telur ascaris (+) Terapi : Antihistamin Obat cacing Ulang R : konsolidasi hilang

Ilustrasi kasus
F, laki-laki 4 bulan, BB 7,200 kg Kontrol bayi sehat Minta BCG Mt (+) R : ada kelainan

Ilustrasi kasus
LS, perempuan 4 8/12 tahun, BB 12,500 kg Keluhan : panas lama keringat malam lesu anorexia, BB kadang-kadang batuk bereak Sumber infeksi : hemoptoe Pemeriksaan : gizi kurang, BCG (-), Mt (+) R : kelainan minimal / normal LED : 23 mm/ 1 jam Biakan M.tb : (+)

Ilustrasi kasus
MF, perempuan 2,5 bulan, BB 4,550 kg Keluhan : panas 1,5 bulan Batuk (-) D/ ISK Th/ ISK panas terus Diare berulang Mt (+), R : gambaran milier Urine : BTA (+)

Miller FJW. Tuberculosis in children, 1982