Anda di halaman 1dari 56
KONSEP LANSIA DAN AGIENG PROSES Ns. Safrina Edayani, S. Kep
KONSEP LANSIA
DAN AGIENG
PROSES
Ns. Safrina Edayani, S. Kep
Pengertian Lansia
Pengertian Lansia
Pengertian Lansia • Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian dari proses kehidupan yang

Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian dari proses kehidupan yang tak dapat dihindarkan dan akan di alami oleh setiap individu. Pada

Pengertian Lansia • Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian dari proses kehidupan yang
Pengertian Lansia • Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian dari proses kehidupan yang
Pengertian Lansia • Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian dari proses kehidupan yang

tahap ini individu mengalami banyak
perubahan baik secara fisik maupun mental, khususnya kemunduran dalam berbagai

Pengertian Lansia • Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian dari proses kehidupan yang

fungsi dan kemampuan yang pernah

Pengertian Lansia • Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian dari proses kehidupan yang
  • dimilikinya.

Pengertian Lansia • Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian dari proses kehidupan yang
• Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia. Sedangkan menurut Pasal 1

Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan

• Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia. Sedangkan menurut Pasal 1

manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No. 13 Tahun 1998 tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut

adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun (Maryam dkk, 2008).

• Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia. Sedangkan menurut Pasal 1
• Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia. Sedangkan menurut Pasal 1
• Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia. Sedangkan menurut Pasal 1
• Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia. Sedangkan menurut Pasal 1
• Lansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang untuk mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stres fisiologis.
• Lansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang untuk mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stres fisiologis.
• Lansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang untuk mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stres fisiologis.

Lansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang untuk mempertahankan keseimbangan terhadap

• Lansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang untuk mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stres fisiologis.

kondisi stres fisiologis.

• Lansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang untuk mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stres fisiologis.
“Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan”
“Menjadi tua itu pasti,
menjadi dewasa itu
pilihan”
3 PERSPEKTIF PENUAAN 1. Usia biologis
3 PERSPEKTIF PENUAAN
1. Usia biologis
3 PERSPEKTIF PENUAAN 1. Usia biologis  kapasitas fungsi sistem organ 2.  3. Usia psikologis

kapasitas fungsi sistem organ

2.
2.

3 PERSPEKTIF PENUAAN 1. Usia biologis  kapasitas fungsi sistem organ 2.  3. Usia psikologis

3.

Usia psikologis

kapasitas perilaku adaptasi



Usia sosial

perubahan peran & perilaku sesuai usia

3 PERSPEKTIF PENUAAN 1. Usia biologis  kapasitas fungsi sistem organ 2.  3. Usia psikologis

Teori saling melengkapi

manusia

3 PERSPEKTIF PENUAAN 1. Usia biologis  kapasitas fungsi sistem organ 2.  3. Usia psikologis
Batasan lansia
Batasan lansia
Batasan lansia DEPKES RI: o kelompok menjelang usia lanjut (45 – 54 th) sebagai masa VIRILITAS

DEPKES RI:

Batasan lansia DEPKES RI: o kelompok menjelang usia lanjut (45 – 54 th) sebagai masa VIRILITAS
o kelompok menjelang usia lanjut (45 – 54 th) sebagai masa VIRILITAS o kelompok usia lanjut
o kelompok menjelang usia lanjut (45 – 54
th) sebagai masa VIRILITAS
o
kelompok usia lanjut (55 – 64 th)
sebagai masa PRESENIUM
o
kelompok usia lanjut (65 th > ) sebagai
masa SENIUM
Batasan lansia
Batasan lansia
Batasan lansia UU No. 13 Tahun 1998 : Lansia : > 60 tahun WHO : o

UU No. 13 Tahun 1998:

Batasan lansia UU No. 13 Tahun 1998 : Lansia : > 60 tahun WHO : o

Lansia : > 60 tahun

Batasan lansia UU No. 13 Tahun 1998 : Lansia : > 60 tahun WHO : o
Batasan lansia UU No. 13 Tahun 1998 : Lansia : > 60 tahun WHO : o
Batasan lansia UU No. 13 Tahun 1998 : Lansia : > 60 tahun WHO : o

WHO :

Batasan lansia UU No. 13 Tahun 1998 : Lansia : > 60 tahun WHO : o
o
o
  • o Usia lanjut : 60 74 tahun Usia Tua : 75 89 tahun o Usia sangat lanjut : > 90 tahun

Batasan lansia UU No. 13 Tahun 1998 : Lansia : > 60 tahun WHO : o
Batasan lansia UU No. 13 Tahun 1998 : Lansia : > 60 tahun WHO : o
Batasan lansia UU No. 13 Tahun 1998 : Lansia : > 60 tahun WHO : o
Prof. Dr.Ny.Sumiati AhmadMohamad  guru besar UGM o 0-1 tahun → masa bayi o 1-6 tahun
Prof. Dr.Ny.Sumiati AhmadMohamad  guru besar UGM o 0-1 tahun → masa bayi o 1-6 tahun

Prof. Dr.Ny.Sumiati AhmadMohamad

  • guru besar UGM

Prof. Dr.Ny.Sumiati AhmadMohamad  guru besar UGM o 0-1 tahun → masa bayi o 1-6 tahun
  • o

0-1 tahun masa bayi

o 1-6 tahun masa prasekolah o 6-10 tahun masa sekolah o 10-20 tahun masa pubertas
o 40-65 tahun masa setengah umur o 65 tahun ke atas masa lanjut usia

Prof. Dr.Ny.Sumiati AhmadMohamad  guru besar UGM o 0-1 tahun → masa bayi o 1-6 tahun
Prof. Dr.Ny.Sumiati AhmadMohamad  guru besar UGM o 0-1 tahun → masa bayi o 1-6 tahun
Prof. Dr.Ny.Sumiati AhmadMohamad  guru besar UGM o 0-1 tahun → masa bayi o 1-6 tahun
Prof. Dr.Ny.Sumiati AhmadMohamad  guru besar UGM o 0-1 tahun → masa bayi o 1-6 tahun
Prof. Dr.Ny.Sumiati AhmadMohamad  guru besar UGM o 0-1 tahun → masa bayi o 1-6 tahun
• Jumlah lansia yang ada di Indonesia mencapai 18,7 juta orang (8,5 %) dari jumlah penduduk
• Jumlah lansia yang ada di Indonesia mencapai 18,7 juta orang (8,5 %) dari jumlah penduduk

Jumlah lansia yang ada di Indonesia mencapai 18,7 juta orang (8,5 %) dari

  • jumlah penduduk Indonesia (Dwijo,

• Jumlah lansia yang ada di Indonesia mencapai 18,7 juta orang (8,5 %) dari jumlah penduduk
2005). • Diestimasikan jumlah lansia di Indonesia pada tahun 2020 sekitar 35 juta jiwa
2005). • Diestimasikan jumlah lansia di Indonesia pada tahun 2020 sekitar 35 juta jiwa

2005).

2005). • Diestimasikan jumlah lansia di Indonesia pada tahun 2020 sekitar 35 juta jiwa

Diestimasikan jumlah lansia di Indonesia

2005). • Diestimasikan jumlah lansia di Indonesia pada tahun 2020 sekitar 35 juta jiwa
2005). • Diestimasikan jumlah lansia di Indonesia pada tahun 2020 sekitar 35 juta jiwa
2005). • Diestimasikan jumlah lansia di Indonesia pada tahun 2020 sekitar 35 juta jiwa

pada tahun 2020 sekitar 35 juta jiwa

2005). • Diestimasikan jumlah lansia di Indonesia pada tahun 2020 sekitar 35 juta jiwa
 
 
2005). • Diestimasikan jumlah lansia di Indonesia pada tahun 2020 sekitar 35 juta jiwa
2005). • Diestimasikan jumlah lansia di Indonesia pada tahun 2020 sekitar 35 juta jiwa
• Jumlah lansia yang ada di Indonesia mencapai 18,7 juta orang (8,5 %) dari jumlah penduduk

 Meningkatnya umur harapan hidup dipengaruhi oleh : 1. Majunya pelayanan kesehatan 2. Menurunnya angka kematian

Meningkatnya umur harapan hidup dipengaruhi oleh :

1. Majunya pelayanan kesehatan

  • 2. Menurunnya angka kematian bayi& anak

 Meningkatnya umur harapan hidup dipengaruhi oleh : 1. Majunya pelayanan kesehatan 2. Menurunnya angka kematian
  • 3. Perbaikan gizi dan sanitasi

4. Meningkatnya pengawasa t’hdp penykit infeksi

 Meningkatnya umur harapan hidup dipengaruhi oleh : 1. Majunya pelayanan kesehatan 2. Menurunnya angka kematian
 Meningkatnya umur harapan hidup dipengaruhi oleh : 1. Majunya pelayanan kesehatan 2. Menurunnya angka kematian
PROFIL PENAMPILAN LANJUT USIA  62,3% lansia di Indonesia masih  59,4% dari lansia masih berperan
PROFIL PENAMPILAN LANJUT USIA  62,3% lansia di Indonesia masih  59,4% dari lansia masih berperan

PROFIL PENAMPILAN LANJUT USIA

 

62,3% lansia di Indonesia masih

 62,3% lansia di Indonesia masih  59,4% dari lansia masih berperan sebagai   53
 62,3% lansia di Indonesia masih  59,4% dari lansia masih berperan sebagai   53

59,4% dari lansia masih berperan sebagai


 62,3% lansia di Indonesia masih  59,4% dari lansia masih berperan sebagai   53
 62,3% lansia di Indonesia masih  59,4% dari lansia masih berperan sebagai   53

53 % lansia masih menanggung beban

kehidupan keluarga

 62,3% lansia di Indonesia masih  59,4% dari lansia masih berperan sebagai   53

hanya 27,5 % lansia mendapat

 62,3% lansia di Indonesia masih  59,4% dari lansia masih berperan sebagai   53

berpenghasilan dari pekerjaannya sendiri

 
 62,3% lansia di Indonesia masih  59,4% dari lansia masih berperan sebagai   53
kepala keluarga
kepala keluarga

kepala keluarga

penghasilan dari anak/menantu

 
 62,3% lansia di Indonesia masih  59,4% dari lansia masih berperan sebagai   53
 62,3% lansia di Indonesia masih  59,4% dari lansia masih berperan sebagai   53
PROFIL PENAMPILAN LANJUT USIA  62,3% lansia di Indonesia masih  59,4% dari lansia masih berperan
Biaya Pemeliharaan Kesehatan Pada Lanjut Usia
Biaya Pemeliharaan Kesehatan
Pada Lanjut Usia
 

Hanya 5% yg diurus oleh Institusi

Hanya 5% yg diurus oleh Institusi
 
 25% dari semua resep obat-obat adlh untuk

25% dari semua resep obat-obat adlh untuk

25% dari semua resep obat-obat adlh untuk




lansia

Penyakit-penyakit mungkin ganda dan


lansia Penyakit-penyakit mungkin ganda dan  kronis, hampir 40% melibatkan lebih dari suatu penyakit Akibat dari

kronis, hampir 40% melibatkan lebih dari

lansia Penyakit-penyakit mungkin ganda dan  kronis, hampir 40% melibatkan lebih dari suatu penyakit Akibat dari

suatu penyakit

lansia Penyakit-penyakit mungkin ganda dan  kronis, hampir 40% melibatkan lebih dari suatu penyakit Akibat dari

Akibat dari ketidakmampuan akan lebih

cepat terjadi apabila lansia itu jatuh sakit.

lansia Penyakit-penyakit mungkin ganda dan  kronis, hampir 40% melibatkan lebih dari suatu penyakit Akibat dari
 
 
 Hanya 5% yg diurus oleh Institusi  25% dari semua resep obat-obat adlh untuk 
 Hanya 5% yg diurus oleh Institusi  25% dari semua resep obat-obat adlh untuk 
Biaya Pemeliharaan Kesehatan Pada Lanjut Usia  Hanya 5% yg diurus oleh Institusi  25% dari

 Respon terhadap pengobatan berkurang  Daya tangkal lebih rendah karena proses ketuaan sehingga seorang lansia

Respon terhadap pengobatan berkurang

 Daya tangkal lebih rendah karena proses ketuaan sehingga seorang lansia lebuh mudah terkena penyakit
Daya tangkal lebih rendah karena proses
ketuaan sehingga seorang lansia lebuh
mudah terkena penyakit


Lansia kurang tahan terhadap tekanan

mental, lingkungan dan fisik.

 Respon terhadap pengobatan berkurang  Daya tangkal lebih rendah karena proses ketuaan sehingga seorang lansia
Ketakutan-ketakutan yg dialami oleh Lanjut Usia.
Ketakutan-ketakutan yg
dialami oleh Lanjut Usia.
1. 2.
1.
2.

Ketergantungan fisik dan ekonomi

Sakit-sakit yang kronis, misalnya:

Ketakutan-ketakutan yg dialami oleh Lanjut Usia. 1. 2. Ketergantungan fisik dan ekonomi Sakit-sakit yang kronis, misalnya:
- - -
-
-
-

3.

Artritis 44 %

Hipertensi 39%

Berkurangnya pedengaran/Tuli 28%

-
-

Penyakit Jantung 27 %

Kesepian

4.

Ketakutan-ketakutan yg dialami oleh Lanjut Usia. 1. 2. Ketergantungan fisik dan ekonomi Sakit-sakit yang kronis, misalnya:

Kebosanan yang disebabkan rasa tidak

diperlukan.

Ketakutan-ketakutan yg dialami oleh Lanjut Usia. 1. 2. Ketergantungan fisik dan ekonomi Sakit-sakit yang kronis, misalnya:
Tipologi lansia 1. Tipe arif bijaksana • Kaya dgn hikmah pengalaman • Menyesuaikan diri dgn perubahan
Tipologi lansia
Tipologi lansia

1. Tipe arif bijaksana Kaya dgn hikmah pengalaman Menyesuaikan diri dgn perubahan zaman Mempuyai kesibukan
Bersikap ramah Rendah hati, sederhana, dermawan Memenuhi undangan dan menjadi

Tipologi lansia 1. Tipe arif bijaksana • Kaya dgn hikmah pengalaman • Menyesuaikan diri dgn perubahan
Tipologi lansia 1. Tipe arif bijaksana • Kaya dgn hikmah pengalaman • Menyesuaikan diri dgn perubahan
Tipologi lansia 1. Tipe arif bijaksana • Kaya dgn hikmah pengalaman • Menyesuaikan diri dgn perubahan
Tipologi lansia 1. Tipe arif bijaksana • Kaya dgn hikmah pengalaman • Menyesuaikan diri dgn perubahan
Tipologi lansia 1. Tipe arif bijaksana • Kaya dgn hikmah pengalaman • Menyesuaikan diri dgn perubahan

panutan

Tipologi lansia 1. Tipe arif bijaksana • Kaya dgn hikmah pengalaman • Menyesuaikan diri dgn perubahan
Tipologi lansia 1. Tipe arif bijaksana • Kaya dgn hikmah pengalaman • Menyesuaikan diri dgn perubahan
Tipologi lansia 1. Tipe arif bijaksana • Kaya dgn hikmah pengalaman • Menyesuaikan diri dgn perubahan
Tipologi lansia 1. Tipe arif bijaksana • Kaya dgn hikmah pengalaman • Menyesuaikan diri dgn perubahan
Tipologi lansia 1. Tipe arif bijaksana • Kaya dgn hikmah pengalaman • Menyesuaikan diri dgn perubahan
2. Tipe mandiri • Mengganti kegiatan2 yg hilang dgn kegiatan yg baru • Selective dalam mencari

2. Tipe mandiri

2. Tipe mandiri • Mengganti kegiatan2 yg hilang dgn kegiatan yg baru • Selective dalam mencari
  • Mengganti kegiatan2 yg hilang dgn kegiatan yg baru Selective dalam mencari pekerjaan, teman, pergaulan, serta memenuhi

undangan.

2. Tipe mandiri • Mengganti kegiatan2 yg hilang dgn kegiatan yg baru • Selective dalam mencari
2. Tipe mandiri • Mengganti kegiatan2 yg hilang dgn kegiatan yg baru • Selective dalam mencari
2. Tipe mandiri • Mengganti kegiatan2 yg hilang dgn kegiatan yg baru • Selective dalam mencari
2. Tipe mandiri • Mengganti kegiatan2 yg hilang dgn kegiatan yg baru • Selective dalam mencari
2. Tipe mandiri • Mengganti kegiatan2 yg hilang dgn kegiatan yg baru • Selective dalam mencari
3. Tipe tidak puas • Komplik lahir lahir batin menentang proses ketuaan.

3. Tipe tidak puas

3. Tipe tidak puas • Komplik lahir lahir batin menentang proses ketuaan.
  • Komplik lahir lahir batin menentang proses ketuaan.

3. Tipe tidak puas • Komplik lahir lahir batin menentang proses ketuaan.
3. Tipe tidak puas • Komplik lahir lahir batin menentang proses ketuaan.
4. Tipe pasrah • Menerima dan menunggu nasib baik • Mempunyai konsep habis gelap terbitlah terang

4. Tipe pasrah Menerima dan menunggu nasib baik Mempunyai konsep habis gelap terbitlah terang Mengikuti kegiatan beribadah Ringan kaki Pekerjaan apa saja dilakukan

4. Tipe pasrah • Menerima dan menunggu nasib baik • Mempunyai konsep habis gelap terbitlah terang
4. Tipe pasrah • Menerima dan menunggu nasib baik • Mempunyai konsep habis gelap terbitlah terang
4. Tipe pasrah • Menerima dan menunggu nasib baik • Mempunyai konsep habis gelap terbitlah terang
4. Tipe pasrah • Menerima dan menunggu nasib baik • Mempunyai konsep habis gelap terbitlah terang
4. Tipe pasrah • Menerima dan menunggu nasib baik • Mempunyai konsep habis gelap terbitlah terang
4. Tipe pasrah • Menerima dan menunggu nasib baik • Mempunyai konsep habis gelap terbitlah terang
4. Tipe pasrah • Menerima dan menunggu nasib baik • Mempunyai konsep habis gelap terbitlah terang
5. Tipe bigung • Kaget • Kehilangan kepribadian • Mengasingkan diri • Minder • Acuh tak

5. Tipe bigung Kaget Kehilangan kepribadian Mengasingkan diri Minder Acuh tak acuh Dll

5. Tipe bigung • Kaget • Kehilangan kepribadian • Mengasingkan diri • Minder • Acuh tak
5. Tipe bigung • Kaget • Kehilangan kepribadian • Mengasingkan diri • Minder • Acuh tak
5. Tipe bigung • Kaget • Kehilangan kepribadian • Mengasingkan diri • Minder • Acuh tak
5. Tipe bigung • Kaget • Kehilangan kepribadian • Mengasingkan diri • Minder • Acuh tak
5. Tipe bigung • Kaget • Kehilangan kepribadian • Mengasingkan diri • Minder • Acuh tak
5. Tipe bigung • Kaget • Kehilangan kepribadian • Mengasingkan diri • Minder • Acuh tak
5. Tipe bigung • Kaget • Kehilangan kepribadian • Mengasingkan diri • Minder • Acuh tak
Mitos2 pada lansia
Mitos2 pada lansia

1. Mitos kedamaiaan dan ketenangan

Mitos2 pada lansia 1. Mitos kedamaiaan dan ketenangan  lanjut usia dapat santai menikmati hasil kerjanya
  • lanjut usia dapat santai menikmati hasil

kerjanya jerih payahnya dimasa muda

  • semua kesulitan hidup sdh terlewati.

Mitos2 pada lansia 1. Mitos kedamaiaan dan ketenangan  lanjut usia dapat santai menikmati hasil kerjanya

Kenyataannya

Sering ditemui stress karena kemiskinan dan berbegai keluhan serta penderitaan karena bbg penyakit( depresi, kekhawatiran, depresi, paranoid)

Mitos2 pada lansia 1. Mitos kedamaiaan dan ketenangan  lanjut usia dapat santai menikmati hasil kerjanya
Mitos2 pada lansia 1. Mitos kedamaiaan dan ketenangan  lanjut usia dapat santai menikmati hasil kerjanya
Mitos2 pada lansia 1. Mitos kedamaiaan dan ketenangan  lanjut usia dapat santai menikmati hasil kerjanya
2.
2.
2. Mitos kemunduran  lanjut usia pada umunnya: • Tidak kreatif • Menolak inovasi • Berorientasi

Mitos kemunduranlanjut usia pada umunnya:

Tidak kreatif
Menolak inovasi Berorientasi kemasa silam Merindukan masa lalu Kembali kemasa anak- anak

2. Mitos kemunduran  lanjut usia pada umunnya: • Tidak kreatif • Menolak inovasi • Berorientasi
2. Mitos kemunduran  lanjut usia pada umunnya: • Tidak kreatif • Menolak inovasi • Berorientasi
2. Mitos kemunduran  lanjut usia pada umunnya: • Tidak kreatif • Menolak inovasi • Berorientasi
2. Mitos kemunduran  lanjut usia pada umunnya: • Tidak kreatif • Menolak inovasi • Berorientasi
2. Mitos kemunduran  lanjut usia pada umunnya: • Tidak kreatif • Menolak inovasi • Berorientasi

Keras kepala dan cerewet

Kenyataan

Kenyataan

Tidak semua lanjut usia seperti itu.

3. Mitos berpenyakitan Lanjut usia dipandang sbg masa degereneratif biologis yg disertai oleh bebrbagai penderitaan akibat
3. Mitos berpenyakitan Lanjut usia dipandang sbg masa degereneratif biologis yg disertai oleh bebrbagai penderitaan akibat

3. Mitos berpenyakitan

Lanjut usia dipandang sbg masa degereneratif biologis yg disertai oleh

3. Mitos berpenyakitan Lanjut usia dipandang sbg masa degereneratif biologis yg disertai oleh bebrbagai penderitaan akibat

bebrbagai penderitaan akibat bermacan

  • penyakit yg menyertai proses menua (

3. Mitos berpenyakitan Lanjut usia dipandang sbg masa degereneratif biologis yg disertai oleh bebrbagai penderitaan akibat
3. Mitos berpenyakitan Lanjut usia dipandang sbg masa degereneratif biologis yg disertai oleh bebrbagai penderitaan akibat
3. Mitos berpenyakitan Lanjut usia dipandang sbg masa degereneratif biologis yg disertai oleh bebrbagai penderitaan akibat

lansia dipandang sbg masa kemunduran dan berpenyakitan)

3. Mitos berpenyakitan Lanjut usia dipandang sbg masa degereneratif biologis yg disertai oleh bebrbagai penderitaan akibat

Kenyataan

memang proses penuaan disertai dengan menurunnya daya tahan tubuh

3. Mitos berpenyakitan Lanjut usia dipandang sbg masa degereneratif biologis yg disertai oleh bebrbagai penderitaan akibat

shg rawan thd penyakit, ttp banyak

3. Mitos berpenyakitan Lanjut usia dipandang sbg masa degereneratif biologis yg disertai oleh bebrbagai penderitaan akibat

penyakit skrg dapat disembuhkan.

4. Mitos sneliss  lanjut usia dipandang sbg orang yg pikun disebadkan oleh kerusakan otak 

4. Mitos sneliss

4. Mitos sneliss  lanjut usia dipandang sbg orang yg pikun disebadkan oleh kerusakan otak 
4. Mitos sneliss  lanjut usia dipandang sbg orang yg pikun disebadkan oleh kerusakan otak 
  • lanjut usia dipandang sbg orang yg pikun disebadkan oleh kerusakan otak banyak juga yg cara utk menyesuaikan

4. Mitos sneliss  lanjut usia dipandang sbg orang yg pikun disebadkan oleh kerusakan otak 

diri

4. Mitos sneliss  lanjut usia dipandang sbg orang yg pikun disebadkan oleh kerusakan otak 
5. Mitos tidak jatuh cinta • Jatuh cinta dan gairah thd lawan jenis tidak ada lagi

5. Mitos tidak jatuh cinta

5. Mitos tidak jatuh cinta • Jatuh cinta dan gairah thd lawan jenis tidak ada lagi
  • Jatuh cinta dan gairah thd lawan jenis tidak ada lagi

5. Mitos tidak jatuh cinta • Jatuh cinta dan gairah thd lawan jenis tidak ada lagi
5. Mitos tidak jatuh cinta • Jatuh cinta dan gairah thd lawan jenis tidak ada lagi
5. Mitos tidak jatuh cinta • Jatuh cinta dan gairah thd lawan jenis tidak ada lagi

Kenyataan

Kenyataan

Perasaan cinta dan emosi setiap orang

berubah2

Perasaan cinta tdk hanya berhenti

5. Mitos tidak jatuh cinta • Jatuh cinta dan gairah thd lawan jenis tidak ada lagi
5. Mitos tidak jatuh cinta • Jatuh cinta dan gairah thd lawan jenis tidak ada lagi

karena lanjut usia

6. Mitos aseksual • Hubungan sek menurun • Minat, gairah dan daya sek berkurang Kenyataannya •
6. Mitos aseksual • Hubungan sek menurun • Minat, gairah dan daya sek berkurang Kenyataannya •

6. Mitos aseksual

Hubungan sek menurun
Minat, gairah dan daya sek berkurang

6. Mitos aseksual • Hubungan sek menurun • Minat, gairah dan daya sek berkurang Kenyataannya •
6. Mitos aseksual • Hubungan sek menurun • Minat, gairah dan daya sek berkurang Kenyataannya •
6. Mitos aseksual • Hubungan sek menurun • Minat, gairah dan daya sek berkurang Kenyataannya •
6. Mitos aseksual • Hubungan sek menurun • Minat, gairah dan daya sek berkurang Kenyataannya •

Kenyataannya

Menunjukan bahwa gairah sek pada lansia normal

6. Mitos aseksual • Hubungan sek menurun • Minat, gairah dan daya sek berkurang Kenyataannya •

Frek hub menurun sejalan dgn meningkatnya usia tetapi masih tetap

6. Mitos aseksual • Hubungan sek menurun • Minat, gairah dan daya sek berkurang Kenyataannya •
6. Mitos aseksual • Hubungan sek menurun • Minat, gairah dan daya sek berkurang Kenyataannya •

tinggi.

7. Mitos ketidakproduktif • Lanjut uisia dipadang sbagai usia yg tidak produktif Kenyataan • Banyak lansia

7. Mitos ketidakproduktif

7. Mitos ketidakproduktif • Lanjut uisia dipadang sbagai usia yg tidak produktif Kenyataan • Banyak lansia
  • Lanjut uisia dipadang sbagai usia yg tidak produktif

7. Mitos ketidakproduktif • Lanjut uisia dipadang sbagai usia yg tidak produktif Kenyataan • Banyak lansia
7. Mitos ketidakproduktif • Lanjut uisia dipadang sbagai usia yg tidak produktif Kenyataan • Banyak lansia
7. Mitos ketidakproduktif • Lanjut uisia dipadang sbagai usia yg tidak produktif Kenyataan • Banyak lansia

Kenyataan

7. Mitos ketidakproduktif • Lanjut uisia dipadang sbagai usia yg tidak produktif Kenyataan • Banyak lansia
7. Mitos ketidakproduktif • Lanjut uisia dipadang sbagai usia yg tidak produktif Kenyataan • Banyak lansia

Banyak lansia yg mencapai kemantangan , kemantapan dan

produktifitas mental dan material

7. Mitos ketidakproduktif • Lanjut uisia dipadang sbagai usia yg tidak produktif Kenyataan • Banyak lansia
7. Mitos ketidakproduktif • Lanjut uisia dipadang sbagai usia yg tidak produktif Kenyataan • Banyak lansia
AGIENG PROSES
AGIENG PROSES
AGIENG PROSES • Proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti
AGIENG PROSES
AGIENG PROSES

Proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan

AGIENG PROSES • Proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti
AGIENG PROSES • Proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti
AGIENG PROSES • Proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti

kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi

normalnya sehingga tidak dapat bertahan

AGIENG PROSES • Proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti

terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Nugroho, 2000)

AGIENG PROSES • Proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti
• Proses menua bukan merupakan suatu penyakit, melainkan suatu masa atau tahap hidup manusia, yaitu; bayi,
• Proses menua bukan merupakan suatu penyakit, melainkan suatu masa atau tahap hidup manusia, yaitu; bayi,

Proses menua bukan merupakan suatu penyakit, melainkan suatu masa atau tahap

• Proses menua bukan merupakan suatu penyakit, melainkan suatu masa atau tahap hidup manusia, yaitu; bayi,
• Proses menua bukan merupakan suatu penyakit, melainkan suatu masa atau tahap hidup manusia, yaitu; bayi,
• Proses menua bukan merupakan suatu penyakit, melainkan suatu masa atau tahap hidup manusia, yaitu; bayi,

hidup manusia, yaitu; bayi, kanak-kanak, dewasa, tua, dan lanjut usia.

• Proses menua bukan merupakan suatu penyakit, melainkan suatu masa atau tahap hidup manusia, yaitu; bayi,
Teori Proses Menua • Teori biologi 1. Teori Seluler Sel diprogram hanya untuk membelah pada waktu
Teori Proses Menua
Teori Proses Menua
Teori Proses Menua • Teori biologi 1. Teori Seluler Sel diprogram hanya untuk membelah pada waktu
Teori Proses Menua • Teori biologi 1. Teori Seluler Sel diprogram hanya untuk membelah pada waktu

Teori biologi

Teori Proses Menua • Teori biologi 1. Teori Seluler Sel diprogram hanya untuk membelah pada waktu

1.

Teori Proses Menua • Teori biologi 1. Teori Seluler Sel diprogram hanya untuk membelah pada waktu
Teori Proses Menua • Teori biologi 1. Teori Seluler Sel diprogram hanya untuk membelah pada waktu

Teori Seluler

Sel diprogram hanya untuk membelah pada

waktu yang terbatas

Teori Proses Menua • Teori biologi 1. Teori Seluler Sel diprogram hanya untuk membelah pada waktu
2. Teori Genetik Clock Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik utk spesies spesies tertentu.
  • 2. Teori Genetik Clock

2. Teori Genetik Clock Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik utk spesies spesies tertentu.
  • Menurut teori ini menua telah terprogram

2. Teori Genetik Clock Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik utk spesies spesies tertentu.
2. Teori Genetik Clock Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik utk spesies spesies tertentu.

secara genetik utk spesies spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan

2. Teori Genetik Clock Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik utk spesies spesies tertentu.

biokimia yg terprogram oleh melekul-melekul
DNA dan tiap sel pd saatnya akan mengalami mutasi

2. Teori Genetik Clock Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik utk spesies spesies tertentu.
2. Teori Genetik Clock Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik utk spesies spesies tertentu.
3. Teori Sintesa Protein akibat penuaan, protein tubuh terutama kolagen dan elastin menjadi kurang fleksibel dan
  • 3. Teori Sintesa Protein

3. Teori Sintesa Protein akibat penuaan, protein tubuh terutama kolagen dan elastin menjadi kurang fleksibel dan
  • akibat penuaan, protein tubuh terutama

3. Teori Sintesa Protein akibat penuaan, protein tubuh terutama kolagen dan elastin menjadi kurang fleksibel dan

kolagen dan elastin menjadi kurang fleksibel dan kurang elastis

3. Teori Sintesa Protein akibat penuaan, protein tubuh terutama kolagen dan elastin menjadi kurang fleksibel dan
4. Keracunan Oksigen Teori tentang adanya sejumlah penurunan kemampuan sel didalam tubuh untuk mempertahankan diri dari
  • 4. Keracunan Oksigen

4. Keracunan Oksigen Teori tentang adanya sejumlah penurunan kemampuan sel didalam tubuh untuk mempertahankan diri dari

Teori tentang adanya sejumlah penurunan

kemampuan sel didalam tubuh untuk mempertahankan diri dari oksigen yang

4. Keracunan Oksigen Teori tentang adanya sejumlah penurunan kemampuan sel didalam tubuh untuk mempertahankan diri dari
4. Keracunan Oksigen Teori tentang adanya sejumlah penurunan kemampuan sel didalam tubuh untuk mempertahankan diri dari
4. Keracunan Oksigen Teori tentang adanya sejumlah penurunan kemampuan sel didalam tubuh untuk mempertahankan diri dari

mengandung zat racun dengan kadar yang
tinggi.

4. Keracunan Oksigen Teori tentang adanya sejumlah penurunan kemampuan sel didalam tubuh untuk mempertahankan diri dari
4. Keracunan Oksigen Teori tentang adanya sejumlah penurunan kemampuan sel didalam tubuh untuk mempertahankan diri dari
5. Sistem Imun Kemampuan sistem imun mengalami kemunduran pada masa penuaan.
  • 5. Sistem Imun

5. Sistem Imun Kemampuan sistem imun mengalami kemunduran pada masa penuaan.
  • Kemampuan sistem imun mengalami

5. Sistem Imun Kemampuan sistem imun mengalami kemunduran pada masa penuaan.

kemunduran pada masa penuaan.

5. Sistem Imun Kemampuan sistem imun mengalami kemunduran pada masa penuaan.
• Teori Psikologis 1. Teori pelepasan Teori pelepasan memberikan pandangan bahwa penyesuaian diri lansia merupakan suatu
• Teori Psikologis 1. Teori pelepasan Teori pelepasan memberikan pandangan bahwa penyesuaian diri lansia merupakan suatu

Teori Psikologis

• Teori Psikologis 1. Teori pelepasan Teori pelepasan memberikan pandangan bahwa penyesuaian diri lansia merupakan suatu
• Teori Psikologis 1. Teori pelepasan Teori pelepasan memberikan pandangan bahwa penyesuaian diri lansia merupakan suatu
  • 1. Teori pelepasan

• Teori Psikologis 1. Teori pelepasan Teori pelepasan memberikan pandangan bahwa penyesuaian diri lansia merupakan suatu

Teori pelepasan memberikan pandangan

bahwa penyesuaian diri lansia merupakan

suatu proses yang secara berangsur-angsur sengaja dilakukan oleh mereka, untuk

• Teori Psikologis 1. Teori pelepasan Teori pelepasan memberikan pandangan bahwa penyesuaian diri lansia merupakan suatu

melepaskan diri dari masyarakat.

• Teori Psikologis 1. Teori pelepasan Teori pelepasan memberikan pandangan bahwa penyesuaian diri lansia merupakan suatu
• Teori Psikologis 1. Teori pelepasan Teori pelepasan memberikan pandangan bahwa penyesuaian diri lansia merupakan suatu
2. Teori aktivitas Teori aktivitas berpandangan bahwa walaupun lansia pasti terbebas dari aktivitas, tetapi mereka secara
  • 2. Teori aktivitas

2. Teori aktivitas Teori aktivitas berpandangan bahwa walaupun lansia pasti terbebas dari aktivitas, tetapi mereka secara
  • Teori aktivitas berpandangan bahwa

2. Teori aktivitas Teori aktivitas berpandangan bahwa walaupun lansia pasti terbebas dari aktivitas, tetapi mereka secara
2. Teori aktivitas Teori aktivitas berpandangan bahwa walaupun lansia pasti terbebas dari aktivitas, tetapi mereka secara

walaupun lansia pasti terbebas dari aktivitas, tetapi mereka secara bertahap mengisi waktu

2. Teori aktivitas Teori aktivitas berpandangan bahwa walaupun lansia pasti terbebas dari aktivitas, tetapi mereka secara

luangnya dengan melakukan aktivitas lain
sebagai kompensasi dan penyusuauian.

2. Teori aktivitas Teori aktivitas berpandangan bahwa walaupun lansia pasti terbebas dari aktivitas, tetapi mereka secara
2. Teori aktivitas Teori aktivitas berpandangan bahwa walaupun lansia pasti terbebas dari aktivitas, tetapi mereka secara
Perubahan2 yg terjadi pada Lansia
Perubahan2 yg terjadi pada Lansia
Perubahan2 yg terjadi pada Lansia A. Perubahan-perubahan Fisik 1. Sel. Lebih sedikit jumlahnya. Lebih besar ukurannya.

A. Perubahan-perubahan Fisik

Perubahan2 yg terjadi pada Lansia A. Perubahan-perubahan Fisik 1. Sel. Lebih sedikit jumlahnya. Lebih besar ukurannya.

1. Sel.

Perubahan2 yg terjadi pada Lansia A. Perubahan-perubahan Fisik 1. Sel. Lebih sedikit jumlahnya. Lebih besar ukurannya.

Lebih sedikit jumlahnya.

Lebih besar ukurannya.

a.

b.

c.
c.

Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intraseluler.

Perubahan2 yg terjadi pada Lansia A. Perubahan-perubahan Fisik 1. Sel. Lebih sedikit jumlahnya. Lebih besar ukurannya.
d. Menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati. e. f. Jumlah sel otak
 

d.

d. Menurunnya proporsi protein di otak, otot,

Menurunnya proporsi protein di otak, otot,

 
ginjal, darah, dan hati.
ginjal, darah, dan hati.

ginjal, darah, dan hati.

 
e. f.
e.
f.

Jumlah sel otak menurun.

Terganggunya mekanisme perbaikan sel.

g. Otak menjadi atrofis beratnya berkurang 5- 10%.
g. Otak menjadi atrofis beratnya berkurang 5- 10%.
g. Otak menjadi atrofis beratnya berkurang 5- 10%.
g. Otak menjadi atrofis beratnya berkurang 5- 10%.

g.

Otak menjadi atrofis beratnya berkurang 5-

10%.
10%.
g. Otak menjadi atrofis beratnya berkurang 5- 10%.
 
d. Menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati. e. f. Jumlah sel otak
d. Menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati. e. f. Jumlah sel otak
d. Menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati. e. f. Jumlah sel otak
2.
2.
2. Sistem Persarafan. a. Berat otak menurun 10-20%. b. Cepatnya menurun hubungan persarafan. c. d. Lambat

Sistem Persarafan.

 

a.

a. Berat otak menurun 10-20%.

Berat otak menurun 10-20%.

 
b. Cepatnya menurun hubungan persarafan.
b. Cepatnya menurun hubungan persarafan.

b.

Cepatnya menurun hubungan persarafan.

c. d. Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres. Mengecilnya saraf panca indra.
c. d. Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres. Mengecilnya saraf panca indra.
c.
c.
c. d. Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres. Mengecilnya saraf panca indra.
c. d. Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres. Mengecilnya saraf panca indra.

d.

Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres.

Mengecilnya saraf panca indra.

c. d. Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres. Mengecilnya saraf panca indra.

e.

Kurang sensitif terhadap sentuhan.

c. d. Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres. Mengecilnya saraf panca indra.
 
a. Berat otak menurun 10-20%. b. Cepatnya menurun hubungan persarafan. c. d. Lambat dalam respon dan
a. Berat otak menurun 10-20%. b. Cepatnya menurun hubungan persarafan. c. d. Lambat dalam respon dan
2. Sistem Persarafan. a. Berat otak menurun 10-20%. b. Cepatnya menurun hubungan persarafan. c. d. Lambat
3. Sistem pendengaran a. Gangguan pendengaran b. Membran timpani menjadi atropi Terjadinya pengumpulan serumen c. d.
 

3.

Sistem pendengaran a. Gangguan pendengaran
Sistem pendengaran a. Gangguan pendengaran

Sistem pendengaran

a.

Gangguan pendengaran

3. Sistem pendengaran a. Gangguan pendengaran b. Membran timpani menjadi atropi Terjadinya pengumpulan serumen c. d.
b. Membran timpani menjadi atropi Terjadinya pengumpulan serumen c. d. Pendengaran bertambah menurun pd
b. Membran timpani menjadi atropi Terjadinya pengumpulan serumen c. d. Pendengaran bertambah menurun pd
b. Membran timpani menjadi atropi Terjadinya pengumpulan serumen c. d. Pendengaran bertambah menurun pd

b.

Membran timpani menjadi atropi

Terjadinya pengumpulan serumen

c.

b. Membran timpani menjadi atropi Terjadinya pengumpulan serumen c. d. Pendengaran bertambah menurun pd
b. Membran timpani menjadi atropi Terjadinya pengumpulan serumen c. d. Pendengaran bertambah menurun pd
d.
d.

Pendengaran bertambah menurun pd

b. Membran timpani menjadi atropi Terjadinya pengumpulan serumen c. d. Pendengaran bertambah menurun pd

lansia

 
 
3. Sistem pendengaran a. Gangguan pendengaran b. Membran timpani menjadi atropi Terjadinya pengumpulan serumen c. d.
3. Sistem pendengaran a. Gangguan pendengaran b. Membran timpani menjadi atropi Terjadinya pengumpulan serumen c. d.
3. Sistem pendengaran a. Gangguan pendengaran b. Membran timpani menjadi atropi Terjadinya pengumpulan serumen c. d.
4. Sistem penglihatan a. b. Hilangnya respon terhadap sinar Kornea lebih berbentuk sferis(bola) Lensa lebih suram

4.

4. Sistem penglihatan a. b. Hilangnya respon terhadap sinar Kornea lebih berbentuk sferis(bola) Lensa lebih suram

Sistem penglihatan

4. Sistem penglihatan a. b. Hilangnya respon terhadap sinar Kornea lebih berbentuk sferis(bola) Lensa lebih suram

a.

  • b.

Hilangnya respon terhadap sinar

Kornea lebih berbentuk sferis(bola)

Lensa lebih suram

Hilangnya daya akomodasi

c. d.
c.
d.
e. f.
e.
f.

Menurunnya lapangan pandang

Menurunnya daya membedakan warna

4. Sistem penglihatan a. b. Hilangnya respon terhadap sinar Kornea lebih berbentuk sferis(bola) Lensa lebih suram
4. Sistem penglihatan a. b. Hilangnya respon terhadap sinar Kornea lebih berbentuk sferis(bola) Lensa lebih suram
5. Sistem kardiovaskuler a. b. c. d. Elastis dinding aorta menurun Katup jantung menebal dan menjadi

5.

5. Sistem kardiovaskuler a. b. c. d. Elastis dinding aorta menurun Katup jantung menebal dan menjadi

Sistem kardiovaskuler

a. b.
a.
b.
c. d.
c.
d.

Elastis dinding aorta menurun

Katup jantung menebal dan menjadi kaku

Kemampuan jantung memompa menurun

TD meningkat

5. Sistem kardiovaskuler a. b. c. d. Elastis dinding aorta menurun Katup jantung menebal dan menjadi
6. Sistem pengaturan temperatur tubuh Temp menurun akibat metabolisme yg b. menurun Reflek menggigil terbatas&tdk dpt
  • 6. Sistem pengaturan temperatur tubuh

6. Sistem pengaturan temperatur tubuh Temp menurun akibat metabolisme yg b. menurun Reflek menggigil terbatas&tdk dpt

Temp menurun akibat metabolisme yg

b.
b.
6. Sistem pengaturan temperatur tubuh Temp menurun akibat metabolisme yg b. menurun Reflek menggigil terbatas&tdk dpt

menurun

Reflek menggigil terbatas&tdk dpt

6. Sistem pengaturan temperatur tubuh Temp menurun akibat metabolisme yg b. menurun Reflek menggigil terbatas&tdk dpt
  • memproduksi panas

6. Sistem pengaturan temperatur tubuh Temp menurun akibat metabolisme yg b. menurun Reflek menggigil terbatas&tdk dpt
6. Sistem pengaturan temperatur tubuh Temp menurun akibat metabolisme yg b. menurun Reflek menggigil terbatas&tdk dpt
7.
7.
7. Sistem respirasi a. b. Hilangnya kekuatan otot pernapasan Menurunya aktifitas silia c. d. Paru kehilangan

Sistem respirasi

7. Sistem respirasi a. b. Hilangnya kekuatan otot pernapasan Menurunya aktifitas silia c. d. Paru kehilangan

a.

  • b.

Hilangnya kekuatan otot pernapasan

Menurunya aktifitas silia

c. d.
c.
d.

Paru kehilangan elastisitas

Melebarnya ukuran alvioli& jumlahnya

berkurang

e.
e.

Kemampuan utk batuk berkurang

7. Sistem respirasi a. b. Hilangnya kekuatan otot pernapasan Menurunya aktifitas silia c. d. Paru kehilangan
 
8. a.
8.
a.
8. a. Sistem gastrointestinal Kehilangan gigi

Sistem gastrointestinal

Kehilangan gigi

 

b.

b. Indra pengecap menurun

Indra pengecap menurun

 
c. Esofagus melebar
c. Esofagus melebar

c.

Esofagus melebar

d. e. Lambung:rasa lapar menurun Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi f. Fungsi absorsi melemah
d. e. Lambung:rasa lapar menurun Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi f. Fungsi absorsi melemah
d. e.
d.
e.
d. e. Lambung:rasa lapar menurun Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi f. Fungsi absorsi melemah
d. e. Lambung:rasa lapar menurun Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi f. Fungsi absorsi melemah

Lambung:rasa lapar menurun

Peristaltik lemah dan biasanya timbul

konstipasi

d. e. Lambung:rasa lapar menurun Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi f. Fungsi absorsi melemah

f.

Fungsi absorsi melemah

 

g.

Liver(hati)makin mengecil

 
8. a. Sistem gastrointestinal Kehilangan gigi b. Indra pengecap menurun c. Esofagus melebar d. e. Lambung:rasa
8. a. Sistem gastrointestinal Kehilangan gigi b. Indra pengecap menurun c. Esofagus melebar d. e. Lambung:rasa
8. a. Sistem gastrointestinal Kehilangan gigi b. Indra pengecap menurun c. Esofagus melebar d. e. Lambung:rasa
8. Sistem reproduksi a. b. c. d. Pada laki-laki penurunan produksi sperma Pd wanita menciutnya ovarium

8.

8. Sistem reproduksi a. b. c. d. Pada laki-laki penurunan produksi sperma Pd wanita menciutnya ovarium

Sistem reproduksi

a. b.
a.
b.
c. d.
c.
d.

Pada laki-laki penurunan produksi sperma

Pd wanita menciutnya ovarium dan uterus

Atrofi payudara

Selaput lendir vagina menurun

8. Sistem reproduksi a. b. c. d. Pada laki-laki penurunan produksi sperma Pd wanita menciutnya ovarium
9. Sistem endokrin a. Produksi hampir semua hormon menurun Fungsi paratiroid dan sekresinya tdk berubah Menurunya
  • 9. Sistem endokrin

9. Sistem endokrin a. Produksi hampir semua hormon menurun Fungsi paratiroid dan sekresinya tdk berubah Menurunya
  • a.

Produksi hampir semua hormon menurun

Fungsi paratiroid dan sekresinya tdk

berubah

Menurunya produksi aldosteron

b.
b.
c. d.
c.
d.

Menurunnya sekresi hormon kelamin

9. Sistem endokrin a. Produksi hampir semua hormon menurun Fungsi paratiroid dan sekresinya tdk berubah Menurunya
10.Sistem kulit a. Kulit mengerut/keriput b. Permukaan kulit kasar dan bersisik c. d. e. Kulit kepala
10.Sistem kulit a. Kulit mengerut/keriput b. Permukaan kulit kasar dan bersisik c. d. e. Kulit kepala

10.Sistem kulit

10.Sistem kulit a. Kulit mengerut/keriput b. Permukaan kulit kasar dan bersisik c. d. e. Kulit kepala

a.

Kulit mengerut/keriput

  • b.

Permukaan kulit kasar dan bersisik

c. d.
c.
d.
10.Sistem kulit a. Kulit mengerut/keriput b. Permukaan kulit kasar dan bersisik c. d. e. Kulit kepala
10.Sistem kulit a. Kulit mengerut/keriput b. Permukaan kulit kasar dan bersisik c. d. e. Kulit kepala

e.

Kulit kepala menipis

Rambut dlm hidung&telinga menebal

Pertumbuhan kuku lebih lambat

f.
f.

g.

h.

Kuku jari keras dan rapuh

Kelenjar keringat berkurang

10.Sistem kulit a. Kulit mengerut/keriput b. Permukaan kulit kasar dan bersisik c. d. e. Kulit kepala

Kuku menjadi pudar&tdk bercahaya

10.Sistem kulit a. Kulit mengerut/keriput b. Permukaan kulit kasar dan bersisik c. d. e. Kulit kepala
11.Sistem Muskuloskeletal a. Tulang kehilangan denfisy(cairan)&makin b. c. Kifosis Persendian membesar Tendon mengerut dan mengalami slerosis
11.Sistem Muskuloskeletal a. Tulang kehilangan denfisy(cairan)&makin b. c. Kifosis Persendian membesar Tendon mengerut dan mengalami slerosis

11.Sistem Muskuloskeletal

 
a. Tulang kehilangan denfisy(cairan)&makin b. c. Kifosis Persendian membesar Tendon mengerut dan mengalami slerosis Atrofi serabut
a. Tulang kehilangan denfisy(cairan)&makin b. c. Kifosis Persendian membesar Tendon mengerut dan mengalami slerosis Atrofi serabut

a.

Tulang kehilangan denfisy(cairan)&makin

b. c.
b.
c.
a. Tulang kehilangan denfisy(cairan)&makin b. c. Kifosis Persendian membesar Tendon mengerut dan mengalami slerosis Atrofi serabut
a. Tulang kehilangan denfisy(cairan)&makin b. c. Kifosis Persendian membesar Tendon mengerut dan mengalami slerosis Atrofi serabut

Kifosis

Persendian membesar

Tendon mengerut dan mengalami slerosis

Atrofi serabut otot

a. Tulang kehilangan denfisy(cairan)&makin b. c. Kifosis Persendian membesar Tendon mengerut dan mengalami slerosis Atrofi serabut
d.
d.

e.

 
a. Tulang kehilangan denfisy(cairan)&makin b. c. Kifosis Persendian membesar Tendon mengerut dan mengalami slerosis Atrofi serabut
rapuh
rapuh

rapuh

 
 
a. Tulang kehilangan denfisy(cairan)&makin b. c. Kifosis Persendian membesar Tendon mengerut dan mengalami slerosis Atrofi serabut
a. Tulang kehilangan denfisy(cairan)&makin b. c. Kifosis Persendian membesar Tendon mengerut dan mengalami slerosis Atrofi serabut
11.Sistem Muskuloskeletal a. Tulang kehilangan denfisy(cairan)&makin b. c. Kifosis Persendian membesar Tendon mengerut dan mengalami slerosis
12.Sistem genitourinaria a. Vesika burinaria menjadi lemah: otot2 menjadi lemah ,kapasietas menajdi turun s/d 200ml atau
 

12.Sistem genitourinaria

 
a. Vesika burinaria menjadi lemah: otot2
a. Vesika burinaria menjadi lemah: otot2

a.

Vesika burinaria menjadi lemah: otot2

menjadi lemah ,kapasietas menajdi turun s/d 200ml atau menyebabkan frek BAK menajdi meningkat b. Pembesaran prostat
menjadi lemah ,kapasietas menajdi turun s/d 200ml atau menyebabkan frek BAK menajdi meningkat b. Pembesaran prostat
menjadi lemah ,kapasietas menajdi turun s/d 200ml atau menyebabkan frek BAK menajdi meningkat b. Pembesaran prostat
menjadi lemah ,kapasietas menajdi turun s/d 200ml atau menyebabkan frek BAK menajdi meningkat b. Pembesaran prostat
menjadi lemah ,kapasietas menajdi turun s/d 200ml atau menyebabkan frek BAK menajdi meningkat b. Pembesaran prostat

menjadi lemah ,kapasietas menajdi turun s/d 200ml atau menyebabkan frek BAK

menajdi meningkat

b.
b.

Pembesaran prostat

menjadi lemah ,kapasietas menajdi turun s/d 200ml atau menyebabkan frek BAK menajdi meningkat b. Pembesaran prostat
 
 
12.Sistem genitourinaria a. Vesika burinaria menjadi lemah: otot2 menjadi lemah ,kapasietas menajdi turun s/d 200ml atau
12.Sistem genitourinaria a. Vesika burinaria menjadi lemah: otot2 menjadi lemah ,kapasietas menajdi turun s/d 200ml atau
12.Sistem genitourinaria a. Vesika burinaria menjadi lemah: otot2 menjadi lemah ,kapasietas menajdi turun s/d 200ml atau
B. Perubahan Mental Fakt Faktor2 yg m’pengaruhi p’ubahan mental • Perubahan fisik, khususnya organ perasa •
B. Perubahan Mental Fakt Faktor2 yg m’pengaruhi p’ubahan mental • Perubahan fisik, khususnya organ perasa •
B. Perubahan Mental Fakt Faktor2 yg m’pengaruhi p’ubahan mental • Perubahan fisik, khususnya organ perasa •

B. Perubahan Mental

Fakt Faktor2 yg m’pengaruhi p’ubahan
mental Perubahan fisik, khususnya organ perasa Kesehatan umum

B. Perubahan Mental Fakt Faktor2 yg m’pengaruhi p’ubahan mental • Perubahan fisik, khususnya organ perasa •
B. Perubahan Mental Fakt Faktor2 yg m’pengaruhi p’ubahan mental • Perubahan fisik, khususnya organ perasa •
B. Perubahan Mental Fakt Faktor2 yg m’pengaruhi p’ubahan mental • Perubahan fisik, khususnya organ perasa •
B. Perubahan Mental Fakt Faktor2 yg m’pengaruhi p’ubahan mental • Perubahan fisik, khususnya organ perasa •
  • Tingkat pendidikan
    Herediter Lingkungan

B. Perubahan Mental Fakt Faktor2 yg m’pengaruhi p’ubahan mental • Perubahan fisik, khususnya organ perasa •
B. Perubahan Mental Fakt Faktor2 yg m’pengaruhi p’ubahan mental • Perubahan fisik, khususnya organ perasa •
B. Perubahan Mental Fakt Faktor2 yg m’pengaruhi p’ubahan mental • Perubahan fisik, khususnya organ perasa •
B. Perubahan Mental Fakt Faktor2 yg m’pengaruhi p’ubahan mental • Perubahan fisik, khususnya organ perasa •
C. Perubahan Psikososial D. Perkembangan Spiritual
C. Perubahan Psikososial D. Perkembangan Spiritual

C. Perubahan Psikososial

  • D. Perkembangan Spiritual

C. Perubahan Psikososial D. Perkembangan Spiritual
SEKIAN

SEKIAN