Anda di halaman 1dari 31

ARDS

Dwi rahayu

definisi

Sindrom gagal pernafasan merupakan gagal pernafasan mendadak yang timbul pada penderita tanpa kelainan paru yang mendasari sebelumnya. Sindrom Gawat Nafas Dewasa (ARDS) juga dikenal dengan edema paru nonkardiogenik merupakan sindroma klinis yang ditandai penurunan progresif kandungan oksigen arteri yang terjadi setelah penyakit atau cedera serius

Definisi

Dalam sumber lain ARDS merupakan kondisi kedaruratan paru yang tiba-tiba dan bentuk kegagalan nafas berat, biasanya terjadi pada orang yang sebelumnya sehat yang telah terpajan pada berbagai penyebab pulmonal atau nonpulmonal

presipitasi
tenggelam emboli lemak sepsis aspirasi pankretitis emboli paru perdarahan dan trauma berbagai bentuk

etiologi

1.

2.

cidera baik secara langsung maupun tidak langsung oleh berbagai proses. Petunjuk umum penyebab edema alveolar yang khas agaknya berupa cidera membrane kapiler-alveolar yang menyebabkan kebocoran kapiler. Beberapa keadaan yang paling sering menyebabkan ARDS antara lain : Syok karena berbagai sebab (terutama hemoragik, pankreatitis akut hemoragik, sepsis gram negatif). Sepsis tanpa syok, dengan atau tanpa koagulasi intravaskuler diseminata (DIC). Pnemonia virus yang berat.

etiologi

Trauma yang berat, misalnya cidera kepala, cidera dada yang langsung, trauma pada berbagai organ dengan syok hemoragik, fraktur majemuk (emboli lemak berkaitan dengan fraktur tulang panjang seperti femur). Cedera aspirasi/ inhalasi misalnya aspirasi isi lambung, hampir tenggelam, inhalasi asap, inhalasi gas iritan (seperti klor, ammonia, sulfur dioksida), pemberian inhalasi oksigen konsentrasi tinggi (FIO2 > 50%) yang lama (> 48 jam) takar lajak narkotik. Infeksi (virus, bakteri, jamur, tuberculosis). Obat-obatan (paraquat, heroin, salisilat). Radiasi.

Manifestasi klinis
hipoksemia, 2. berkurangnya daya kembang paru-paru yang progresif 3. dispnea 4. takipnea yang berat akibat hipoksemia 5. bertambahnya kerja pernafasan skunder terhadap penurunan daya kembang paru-paru. 6. Kapasitas residu fungsional juga berkurang. 7. timbul paru-paru yang kaku yang sukar berventilasi. 8. Ciri khas ARDS adalah hipoksemia yang tidak dapat diatasi dengan pembarian oksigen selama bernafas spontan. 9. Frekuensi pernafasan sering kali meningkat secara bermakna 10. Sianosis
1.

Pemeriksaan Fisik

Karena pemeriksaan fisik sering kali tidak memberikan petunjuk, satu dari alat-alat pengkajian yang kuat adalah kesadaran konstan terhadap penyebab ARDS. Perawat harus mempertahankan tingkat kecurigaan yang tinggi, dan berusaha keras untuk terus mengkaji. Data dasar yang penting harus dikumpulkan. Perubahan dan kecenderungan yang dapat merupakan petunjuk dini keadaan abnormal fungsi paru-tanda vital, sensori dan GDA -harus dicatat. Peningkatan frekuensi pernafasan secara bertahap tanpa gejala atau tanda penyerta mungkin merupakan petunjuk dini.

Pemeriksaan diagnostik

Untuk menegakkan diagnosa ARDS sangat tergantung dari pengambilan anamnesa klinis yang tepat. Pemeriksaan laboratorium yang paling awal adalah hipoksemia, sehingga penting untuk melakukan pemeriksaan gas-gas darah arteri pada situasi klinis yang tepat, kemudian hiperkapnea dengan asidosis respiratorik pada tahap akhir. Pada permulaan, foto dada menunjukkan kelainan minimal dan kadang-kadang terdapat gambaran edema interstisial.

Pemeriksaan diagnostik

Pemberian oksigen pada tahap awal umumnya dapat menaikkan tekanan PO2 arteri ke arah yang masih dapat ditolelir. Pada tahap berikutnya sesak nafas bertambah, sianosis penderita menjadi lebih berat ronki mungkin terdengar di seluruh paru-paru. Pada saat ini foto dada menunjukkan infiltrate alveolar bilateral dan tersebar luas. Pada saat terminal sesak nafas menjadi lebih hebat dan volume tidal sangat menurun, kenaikan PCO2 dan hipoksemia bertambah berat, terdapat asidosis metabolic sebab hipoksia serta asidosis respiratorik dan tekanan darah sulit dipertahankan

Laboratorium
1.

2.

Analisa GDA : PaO2 sangat rendah (mis: 20 L/menit) Tekanan atrium kiri rendah melalui kateter arteri pulmonal

Penatalaksanaan

Tujuan utama pengobatan adalah untuk memperbaiki masalah ancaman hidup segera: mengembangkan alveoli secara optimal untuk mempertahankan gas darah arteri, pengiriman oksigen ke jaringan tak adekuat sekunder terhadap ketidakmampuan paru untuk mengoksigenasi Tujuan yang kedua adalah untuk meminimalkan tekanan vascular paru untuk mencegah atau menghambat kebocoran cairan pada membrane kapiler alveolar.

Komplikasi

Infeksi paru dan abdomen merupakan komplikasi yang sering dijumpai. Adanya edema paru, hipoksia alveoli, penurunan surfaktan dan daya aktivitas surfaktan akan menurunkan daya tahan paru terhadap infeksi. Komplikasi PEEP yang sering adalah penurunan curah jantung, emfisema subkutis, pneumothoraks dan pneumomediastinum.

Komplikasi
Abnormalitas fisiologik dari ringan sampai sedang yaitu abnormalitas obstruktif terbatas, defek difusi sedang dan hipoksemia selama latihan. Tingkat kemaknaan ARDS sebagai kedaruratan paru ekstrim dengan rata-rata mortalitas 50%-70% dapat menimbulkan gejala sisa pada penyembuhan, prognosis jangka panjang baik.

Prognosis
ARDS telah menunjukkan hubungan dengan angka kematian hingga setinggi 50%-70%. Angka bertahan hidup sedikit meningkat ketika penyebabnya dapat ditentukan, serta diobati secara dini dan agresif, terutama penggunaan tekanan ekspirasi akhir positif (PEEP).

Prognosis

Mortalitas sekitar 40% pada penderita dengan gagal nafas saja, sedang pada penderita dengan sepsis atau adanya kegagalan organ utama, mortalitas sekitar 70%-80% sampai setinggi 90% kalau sindrom gagal pernafasan sangat berat. Pada penderita yang bertahan hidup umumnya fungsi paru akan kembali setelah berbulanbulan. Tetapi penderita ARDS yang berat, harapannya kurang menguntungkan karena akan mengalami kerusakan paru yang permanent, dengan infeksi dan fibrosis.

PENGKAJIAN

Biodata klien. Riwayat penyakit terdahulu. Riwayat penyakit keluarga. Riwayat penyekit psikososial. Kaji aktivitas sehari-hari klien. Kaji frekuensi dan irama pernafasan. Inspeksi warna kulit dan warna membran mukosa. Auskultasi bunyi nafas. Pastikan bila klien menggunakan otot-otot aksesori bila bernafas. Mengangkat bahu pada pernafasan.

PENGKAJIAN

Retraksi otot-otot abdomen pada pernafasan. Pernafasan cuping hidung. Kaji bila ekspansi dada seimetris atau asimetris. Kaji bila nyeri dada pada pernafasan. Kaji batuk. Bila ada batuk apakah produktif atau nonproduktif. Bila produktif, tentukan warna sputum. Tentukan bila pasien mengalami : Dipsneu pada pengerahan tenaga. Ortopnea. kaji tingkat kesadaran.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
gangguan pertukaran gas : yang berhubungan dengan hipoksemia refraktori dan kebocoran interstitial pulmonal / alveolar pada status cedera kapiler paru. Tujuan intervensi : Oksigenasi adekuat. Intervensi keperawatan : 1. Kaji bunyi nafas 2-4 jam. 2. Kaji tanda distres pernafasan ; peningkatan frekwensi jantung, agitasi, 3. berkeringat, sianosis. 4. Kaji simetri dada. 5. Monitor haluan dan masukan, observasi efek diuresis dan pemberian 6. cairan. 7. Kaji irama dan disritmia dengan monitor EKG. 8. Berikan dan monitor terapi bronkodilator ( teofilin dan agen simpatomimetik ) sesuai indikasi. 9. ventilasi mekanis 10. Lakukan laporan seri radiologi dada.

bersihan jalan nafas tidak efektif : yang berhubungan dengan peningkatan produksi sekresi dan penurunan geraka silia.

Tujuan intervensi : 1. Mempertahankan jalan nafas pasien, 2. Tidak terjadi aspirasi. 3. Sekresi akan tetap encer dan mudah dibersihkan.

bersihan jalan nafas tidak efektif : yang berhubungan dengan peningkatan produksi sekresi dan penurunan geraka silia.
Intervensi keperawatan : 1. kaji bunyi nafas tiap 2-4 jam dan bila perlu, 2. pertahankan posisi tepat pada trakeostomi / selang endotrakeal. 3. Hisap trakeostomi/selang endotrakeal, rongga mulut/nasal, gunakan teknik steril. Catat warna , jumlah, dan konsistensi sekresi. 4. Rainase postural dan perkusi dada bila tepat untuk mengeluarkan sekresi. 5. Posisi untuk mempermudah pertukaran gas baik tiap 2 jam. 6. Monitor tanda distres pernafasan. 7. Pertahankan tekankan manset adekuat/teknik kebocoran minimal untuk menghindari aspirasi sekresi dan nekrosis jaringan. 8. Tinggikan kepala tempat tidur selama memberi makan per selang. 9. Berikan suplemen humidifkasi. 10. Siapkan untuk bronkoskopi sesuai indikasi.

Kelebihan volume cairan : yang berhubungan dengan edema pulmonal non-kardia

Tujuan intervensi : Mempertahankan stabilitas hemodinamik. Pengeluaran urin adekuat.

Intervensi keperawatan : 1. timbang pasien setiap hari. 2. Monitor masukan dan haluan total tiap jam. 3. Kaji tanda dan gejala penurunan curah jantung : nadi meningkat, penurunan tekanan darah, penurunan pengeluaran urin, perubahan mental, penurunan PCO2 . 4. Kaji tanda kelebihan cairan : edema, peningkatan berat badan, ronki basah kasar paru, distrespernafasan. Peningkatan CVP. 5. Monitor parameter hemodinamik : TAR, PCWP, dan curah jantung. 6. Berikan/monitor cairan IV dan terapi elektroloit sesuai indikasi. 7. Manitor asupan dan pengeluaran total tiap jam. 8. Laporkan pengeluaran urin < 30 ml/jam pada dokter. 9. Berikan diuretik sesuai indikasi. 10. Evaluasi NUD dan kreatinin serum sesuai indikasi.

Gangguan perfusi jaringan : yang berhubungan dengan penurunan aliran darah balik vena dan penurunan curah jantung, Tujuan intervensi : Pasien sadar dan waspada. Pasien akan mengalami kulit hangat dan tidak berkeringat. Pasien mempunyai bunyi usus normal dan abdomen tidak nyeri tekan. Mempertahankan nadi perifer adekuat,

Intervensi keperawatan : kaji status mental. Biarkan pasien membuat beberapa keputusan perawatan. Kaji penurunan perfusi jaringan kulit. Kaji status hemodinamik ( PAP, PCWP, CVP ). Kaji irama EKG. Kaji sistem gastrointestinal : bunyi usus, mual, muntah, nyeri tekan. Kaji status nutrisi. Kaji nadi pedis dorsalis, tibia posterior, dan radialis untuk kualitas tiap 4 jam. Evaluasi waktu pengisian kapiler

Pola nafas tidak efektif : yang berhubungan dengan peningkatan sekresi, penurunan kemampuan untuk oksigenasi dengan adekuat, takut atau kelelahan. Tujuan intervensi : Kerja pernafasan minimal dengan mempertahankan tirah baring atau tingkat kegiatan sehari-hari rendah.

Intervensi keperawatan : Monitor timbulnya/berlanjutnya tanda distres pernafasan. Beri posisi untuk memudahkan pernafasan, biasanya kepala tempat tidur ditinggikan. Yakinkan pasien denganpendekatan meyakinkan dan perlahan. Temani pasien. Kaji laporan hasil radiologi. Monitor seri GDA. Pemberian oksigen sesuai indikasi. Gunakan alat oksimetri untuk mengevaluasi saturasi O2 selama aktivitas. Sedasi sesuai indikasi atau bila perlu. Evaluasi semua keluahan subjektif. Ubah posisi, batuk, nafas dalam tiap 2 jam. Penghisapan bila perlu. Analgesik untuk nyeri bila perlu sesuai indikasi. Bila pasien diventilasi, kembangkan komunikasi alternatif dan gunakan restrein lembut sesuai kebutuhan bila agitasi.

ansietas : yang berhubungan dengan penyakit kritis, takut kematian, atau kecatatan, perubahan peran dalam sosial, atau kecatatan permanen. Tujuan intervensi : Pasien mampu mengekspresikan ansietas pada orang yang tepat. .

Intervensi keperawatan : buat komunikasi yang efektif dengan pasien yang menggunakan ventilator ( mis., catatan ). Berikan lingkungan yang mendukung diskusi terbuka tentang isu emosional. Gerakan pendukung pasien dan libatkan sumber ini dedngan tepat. Sediakan waktu unutk mengekspresikan diri. Identifikasi kemungkinan sumber-sumber di rumah sakit untuk pasien/keluarga. Dorong komunikasi keluarga-perawat untuk isu emosional. Validasi pengetahuan dasar pasien dari keluarga tentang penyakit kritis. Libatkan sumber religius yang tepat