Anda di halaman 1dari 7

Pemikir Realisme Klasik di Zaman Modern

Felix Prayogo Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada

Reinhold Niebuhr (1892-1971) adalah seorang pendeta,

teolog, dan pengamat politik terkemuka Awalnya seorang liberal teologis, tetapi kemudian berpindah haluan menjadi teolog yang neo-ortodoks Membuat sebuah perspektif yang disebut sebagai Realisme Kristen Dia terkenal dengan bukunya The Nature and Destiny of Man dan Moral Man and Immoral Society Pemikiran Niebuhr menjadi pemikiran utama dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat ketika Perang Dingin Pemikiran beliau juga menjadi awal dari tumbuhnya pemikir-pemikir realisme lainnya seperti Morgenthau dan Kenneth Waltz

Mengkritik idealisme only a

romanticist of the purest water could maintain that a national Koersi (kekerasan) merupakan group ever arrives at a "common faktor utama dalam hubungan mind" or becomes conscious of a internasional All social co"general will" without the use of operation on a larger scale than the either force or the threat of force most intimate social group requires (dengan catatan bahwa saat itu a measure of coercion, becomes idealisme merupakan perspektif apparent only in moments of crisis utama dalam politik internasional) and in the groups policy toward Sifat politik internasional yang individuals. There are always coercive factors in international anarkis The will-to-power of competing national groups is the politics, whether its for preserving cause if the international anarchy own power or for gaining others which the moral sense of mankind power

has thus far vainly striven to overcome

Sumber yang paling utama dalam konflik sosial

terdapat dalam sifat ACUH TAK ACUH dan EGOISME manusia Manusia secara alami merupakan makhluk yang memiliki dorongan EGOIS dan TIDAK EGOIS Masyarakat, dan kelompok konstituennya, menilai hubungan sosial tidak berdasarkan pada adat istiadat dan budaya, tetapi melalui sebuah keadilan rasional yang ideal

Hati nurani individu tidak menghalangi determinasi dari

sebagian besar penilaian moral oleh opini kelompok. Kebanyakan individu kurangnya dorongan intelektual untuk membuat penilaian yang independen dan oleh karena itu mereka menerima opini moral masyarakat. Moralitas individu muncul ketika ada dorongan yang datang dari luar, kemudian dorongan itu menyebabkan perlawanan terhadap keinginan individu itu sendiri. Hal ini yang menyebabkan individu cenderung mengikuti keadaan sosial yang memiliki kesadaran moral, agar tidak kehilangan status sosialnya

Negara, seperti manusia, memiliki sifat egois (selfishness) dan

kemunafikan (hypocrisy) dan kedua sifat tersebut berdasarkan pada kepentingan negara, bukan moral kelompok dalam negara itu. Kedua sifat diatas,baik secara langsung maupun tidak langsung, mempengaruhi negara dalam menentukan kebijakan domestik dan internasionalnya Kebutuhan untuk menggunakan kekerasan dalam pembentukan komunitas internasional yang bersatu dan eksploitasi egoisme yang tak dapat dielakkan dari instrumen pemaksaan oleh kelompok yang memegang mereka, menambahkan egoisme negara itu sendiri Negara tidak memiliki komunikasi yang baik dengan negara lainnya, sehingga pendapat mengenai negara lain tersebut bersifat second-hand atau dari pendapat-pendapat kelompok lain

Karena pada dasarnya negara bersifat egois (yang berarti

mementingkan kepentingan nasionalnya), maka negara tidak memikirkan moral dalam melakukan hubungan dengan negara lain Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa politik internasional bersifat anarkis, karena setiap negara hanya akan melakukan hubungan jika memiliki keuntungan bagi dirinya sendiri Idealisme dan liberalisme dianggap tidak sesuai, mengingat bahwa kepentingan masing-masing negara berbeda-beda, dan hubungan kerjasama yang timbul hanya bersifat untuk menguntungkan masing-masing negara Jika dirasa menguntungkan (dan telah memiliki keunggulan dalam bidang tertentu, dalam kasus ini militer), maka negara dapat melakukan tindakan kekerasan kepada negara lain, untuk membuka jalan bagi negara tersebut dalam mengimplementasikan kepentingan nasionalnya.