Anda di halaman 1dari 20

Pencegahan ISPA Pada Anak

disusun oleh : 1. Arnitya Laksmi (09.20211.115) 2. S. Puri P A ( 09.20211.116) 3. Dessy Rizkyana (09.20211.120) 4. Any Wahyuni (09.20211.121) Pembimbing : Dr.Zarni Amri, MPH

Latar Belakang
Di Indonesia kasus ISPA mencapai 40%-60% dari seluruh kunjungan ke Puskesmas dan 15%-30% dari seluruh kunjungan rawat jalan dan rawat inap Rumah Sakit.
Angka kejadian ISPA yang masih tinggi pada balita disebabkan oleh tingginya frekuensi kejadian ISPA pada balita. Dalam satu tahun rata-rata seorang anak di pedesaan dapat terserang ISPA 3-5 kali, sedangkan di daerah perkotaan sampai 6-8 kali.

Untuk mengurangi kemungkinan potensi anak terkena ISPA, maka diperlukan upaya pencegahan. Keluarga atau rumah tangga adalah unit masyarakat terkecil. Oleh sebab itu untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang baik harus dimulai dari keluarga.

Definisi ISPA Depkes (2004) istilah ISPA meliputi tiga unsur penting yaitu infeksi, saluran pernafasan, dan akut. 1. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit. 2. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. 3. Infeksi Akut adalah Infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari.

Program Pemberantasan Penyakit (P2) ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan yaitu : 1. ISPA non- Pneumonia : dikenal masyarakat dengan istilah batuk pilek 2. Pneumonia : apabila batuk pilek disertai gejala lain seperti kesukaran bernapas, peningkatan frekuensi nafas (nafas cepat).

Etiologi
Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah genus Streptococcus, Stapilococcus, Pneumococcus, Haemophyllus, Bordetella dan corynobacterium.
Di negara-negara berkembang umunya kuman penyebab ISPA adalah Streptocococcus pneumonia dan Haemopylus influenza.

Tanda dan Gejala


Tanda-tanda klinis Sistem respiratorik : tachypnea, napas tak teratur (apnea), retraksi dinding thorak, napas cuping hidung, cyanosis, suara napas lemah atau hilang, grunting expiratoir dan wheezing. Sistem cardial : tachycardia, bradycardiam, hypertensi, hypotensi dan cardiac arrest. Sistem cerebral : gelisah, mudah terangsang, sakit kepala, bingung, papil bendung, kejang dan coma. Pada hal umum : letih dan berkeringat banyak.

Tanda-tanda laboratoris : hypoxemia, hypercapnia dan acydosis (metabolik dan atau respiratorik) Tanda-tanda bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun : tidak bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor dan gizi buruk

Tanda bahaya pada anak golongan umur kurang dari 2 bulan : kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun ampai kurang dari setengah volume yang biasa diminumnya), kejang, kesadaran menurun, stridor, Wheezing, demam dan dingin.

Kekambuhan ISPA pada Balita


Dalam satu tahun rata-rata anak balita di perkotaan menderita ISPA 6-8 kali sedangkan balita yang tinggal di pedesaan dapat terkena ISPA 3-5 kali. Faktor resiko ISPA pada balita antara lain usia, keadaan gizi yang buruk, status imunisasi yang tidak lengkap serta kondisi lingkungan yang buruk seperti ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat, kepadatan hunian rumah yang terlalu padat, pencemaran udara (asap dan debu) di dalam rumah maupun di luar rumah.

Peran orang tua dalam pencegahan ISPA


1. Mengetahui penyakit ISPA, orang tua harus mengerti tanda dan gejala ISPA, penyebab, serta faktor-faktor yang mempermudah balita untuk terkena ISPA. 2. Mengatur pola makan, berfungsi : (1) memberi energi (2) pertumbuhan dan pemulihan jaringan tubuh (3) mengatur proses tubuh.

3. Menciptakan kenyamanan lingkungan rumah , dengan memperhatikan : (1) Kepadatan hunian, jumlah anak yang tidur dalam satu kamar dengan balita tidak terlalu banyak. (2) Ventilasi, membuka jendela setiap pagi hari agar udara dapat bersirkulasi dan dapat membebaskan udara dari bakteri dan patogen.

4. Menghindari faktor pencetus Menghindari anak dari : pencemaran udara , keberadaan anggota keluarga yang merokok , paparan debu , dan keberadaan anggota keluarga yang terkena ISPA.

Pemberantasan ISPA
Penyuluhan kesehatan oleh para kader kesehatan kepada para ibu. Memberi informasi : (1) Penyakit batuk pilek biasa (bukan pneumonia) serta penyakit pneumonia kepada ibu-ibu serta perihal tindakan yang perlu dilakukan oleh ibu yang anaknya menderita penyakit. (2) Cara pengobatan sederhana untuk kasus-kasus batuk pilek (bukan pneumonia) dengan tablet parasetamol dan obat batuk tradisional obat batuk putih.

(3) Merujuk kasus pneumonia berat ke Puskesmas/Rumah Sakit terdekat. (4) Atas pertimbangan dokter Puskesmas maka bagi kader-kader di daerah-daerah yang terpencil (atau bila cakupan layanan Puskesmas tidak menjangkau daerah tersebut) dapat diberi wewenang mengobati kasus-kasus pneumonia (tidak berat) dengan antibiotik kontrimoksasol. (5) Mencatat kasus yang ditolong dan dirujuk

Perawatan dirumah : (1) Menghentikan demam, dengan menggunakan

Parasetamol sesuai dosis pemakaian (2) Mengatasi batuk, apabila tidak memiliki obat batuk sesuai anjuran dokter, sementara bisa dengan ramuan tradisional seperti jeru nipis atau madu (3) Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika muntah. Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap diteruskan.

(4). Pemberian minuman


Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih banyak dari biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak, kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang diderita. (5). Lain-lain. Orang tua sebaiknya memperhatikan lingkungan sekitar anak selama proses penyembuhan serta mengawasi konsumsi obat.

Tugas dokter Puskesmas : Membuat rencana aktifitas pemberantasan ISPA sesuai dengan dana atau sarana dan tenaga yang tersedia. Melakukan pemeriksaan pengobatan kasus- kasus pneumonia berat/penyakit dengan tanda-tanda bahaya yang dirujuk oleh perawat/paramedis dan merujuknya ke rumah sakit bila dianggap perlu. Memberikan pengobatan kasus pneumonia berat yang tidak bisa dirujuk ke rumah sakit.

Bersama dengan staff puskesmas memberi kan penyuluhan kepada ibu-ibu yang mempunyai anak balita. perihal pengenalan tanda-tanda penyakit pneumonia serta tindakan penunjang di rumah. Melatih semua petugas kesehatan di wilayah puskesmas yang di beri wewenang mengobati penderita penyakit ISPA. Melatih kader untuk bias mengenal kasus pneumonia serta dapat memberikan penyuluhan terhadap ibuibu tentang penyaki ISPA.

Memantau aktifitas pemberantasan dan melakukan evaluasi keberhasilan pemberantasan penyakit ISPA. Menditeksi hambatan yang ada serta menanggulanginya termasuk aktifitas pencatatan dan pelaporan serta pencapaian target.

Kesimpulan Karena yang terbanyak penyebab kematian dari ISPA adalah karena pneumonia, maka diharapkan penyakit saluran pernapasan penanganannya dapat diprioritaskan.

Disamping itu penyuluhan kepada ibu-ibu tentang penyakit ISPA perlu ditingkatkan dan dilaksanakan secara berkesinambungan, serta penatalaksanaan dan pemberantasan kasus ISPA yang sudah dilaksanakan sekarang ini, diharapkan lebih ditingkatkan lagi