Anda di halaman 1dari 40

MIKOSIS SISTEMIK

Kelompok 11

Nama Anggota Kelompok


Muhammad Maulana (1018011030) Chofi Qolbi NA (1018011047) Easy Orient Dewantari (1018011055) Lailatus Syifa Selian (1018011071) M. Akip Riyan S (1018011072) Patrick Ramos P (1018011088) Aleya Yostha K. (1018011107) Anindia Putri (1018011111) Anisa Septa Rini (1018011112) M. Adin Archietobias (1018011122)

Pendahuluan
Definisi : Penyakit yang disebabkan oleh jamur Sinonim : Penyakit jamur Klasifikasi : 1. Mikosis Superfisialis 2. Mikosis Profunda

Mikosis Superfisialis
Definisi

Mikosis adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur.


Infeksi jamur pada mikosis superfisialis terbatas pada

stratum korneum, rambut, dan kuku.

Mikosis Profunda
Mikosis Profunda terdiri dari beberapa penyakit yang disebabkan jamur : Traktus Intestinalis Traktus Respiratorius Traktus Urogenitalis Susunan Kardiovaskuler Susunan saraf sentral Otot , tulang, dan kadang- kadang kulit.

Mikosis Profunda
Mengenai mikosis profunda akan dikemukakan beberapa penyakit jamur subkutis yang kadangkadang dijumpai di Indonesia. 1. Misetoma 2. Sporotrikosis 3. Kromomikosis 4. Zigomikosis 5. Fikomikosis 6. Mukormikosis

Mikosis Profunda dalam klinik terlihat sebagai penyakit kronik dan residif. Manifestasi morfologi dapat berupa : tumor, infiltrasi peradangan vegetatif, fistel, ulkus, atau sinus, tersendiri maupun bersamaan. Untuk menyingkirkan diagnosa banding diperlukan pemeriksaan : Sediaan langsung KOH, biakan jamur, pemeriksaan histopatologi dan pemeriksaan imunologi termasuk tes kulit, maupun serologi

Misetoma
Misetoma adalah penyakit kronik, supuratif dan granulomatosa yang dapat disebabkan oleh bakteri Actinomyces dan Nocardia, yang termasuk Schizomycetes dan Eumycetes atau jamur berfilamen.

Gejala Klinis
Pembengkakan Abses Sinus Fistel Multiple

Gejala Klinis
Lesi kulit sirkumskrip + pembengkakan = tumor jinak Disertai butir-butir. Inflamasi permukaan kulit ke bagian dalam, dapat menyerang subkutis, fasia, otot, dan tulang. Sering terbentuk fistel eksudat + butir-butir ke luar dari jaringan.

Diagnosis
Berdasarkan klinis morfologi, gambaran histologik. Hasil biakan. Penegakan diagnosis penting untuk terapi dan prognosis.

Pengobatan
Pengobatan misetoma harus disertai reseksi radikal bahkan amputasi. Misetoma aktinomikotik kotrimoksazol + streptomisin ( 9 bulan 1 tahun ) bila kelainan belum meluas. Misetoma maduromikotik itrakonazol.

SPOROTRIKOSIS
Infeksi kronis yang disebabkan oleh Sporotrichium schenkii dan ditandai dengan pembesaran kelenjar getah bening. Penyakit jamur ini mempunyai insidens yang cukup tinggi pada daerah tertentu. Diagnosis klinis umumnya mudah dibuat berdasarkan kelainan kulit yang multipel yang umumnya khas

Sporotrikosisi

Pengobatan yang memuaskan biasanya dicapai dengan pemberian larutan kalium yodida jenuh oral. Dalam hal yang rekalsitran pengobatan dengan amfoterisin B atau itrakonazol dapat diberikan

Kromomikosis
Kromomikosis atau kromoblastomikosis atau dermatitis verukosa adalah penyakit jamur yang disebabkan bermacam-macam jamur berwarna (dematiaceous). Penyakit ini ditandai dengan pembentukan nodus verukosa kutan yang perlahan-lahan, sehingga akhirnya membentuk vegetasi papilomatosa yang besar. Pertumbuhan ini dapat menjadi ulkus atau tidak, biasanya ada di kaki dan tungkai, namun lokalisasi di tempat lain pernah ditemukan, misalnya pada tangan, muka, telinga, leher, dada, dan bokong. Penyakit ini kadang-kadang dilihat di Indonesia. Sumber penyakit biasanya dari alam dan terjadi infeksi melalui trauma.

Penyakit tidak ditularkan dari manusia ke manusia dan belum pernah dilaporkan terjadi pada binatang. Diseminasi dapat terjadi melalui autoinokulasi, ada juga kemungkinan penyebaran melalui saluran getah bening

Pengobatan
Pengobatannya sulit. Terapi sinar X pernah dilakukan dengan hasil yang berbeda-beda. Kadang-kadang diperlukan amputasi. Pada kasus lain reseksi lesi mikotik disusul dengan skin graft memberi hasil yang memuaskan. Obat-obatan biasanya memberikan hasil yang kurang memuaskan dan harus diberikan dalam waktu yang lama. Pada akhir-akhir ini hasil pengobatan yang memuaskan dicapai dengan kombinasi amfoterisin B dan 5-fluorositosin

ZIGOMIKOSIS, FIKOMIKOSIS, MUKORMIKOSIS


Penyakit jamur ini terdiri atas pelbagai infeksi jamur dan disebabkan oleh bermacam-macam jamur pula yang taksonomi dan peranannya masih didiskusikan, oleh karena itu di dalam buku-buku baru diberikan nama umum, yaitu zigomikosis. Zygomycetes meliputi banyak genera, yaitu Mucor, Rhizopus, Absidia, Mortierella dan Cunning-hamella. Penyakit yang disebabkan oleh golongan jamur ini dapat disebut sesuai dengan lokalisasi atau alat dalam yang terserang. Contohnya rinozigomikosis, otozigomikosis, zigomikosis subkutan, zigomikosis fasiale, atau zigomikosis generalisata

Fikomikosis subkutan adalah salah satu bentuk penyakit golongan ini Kelainan timbul di jaringan subkutan antara lain di dada, perut, atau lengan atas sebagai nodus subkutan yang perlahan-lahan membesar setelah sekian waktu. Nodus tersebut konsistensinya keras dan kadang-kadang dapat terjadi infeksi sekunder. Penderita pada umumnya tidak demam dan tidak disertai pembesaran kelenjar getah bening regional

Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan histopatologik dan biakan. Jamur agak khas, hifa lebar 6 - 50 , seperti pita, tidak bersepta dan coenocytic. Sebagai terapi fikomikosis subkutan dapat diberikan larutan jenuh kalium yodida. Mulai dari 10-15 tetes 3 kali sehari dan perlahan-lahan dinaikkan sampai terlihat gejala intoksikasi, penderita mual dan muntah dosis diturunkan 1-2 tetes dan dipertahankan terus sampai tumor menghilang. Itrakonazol berhasil mengatasi fikomikosis subkutan dengan baik. Dosis yang diberikan sebanyak 200 mg sehari selama 2-3 bulan. Prognosis bentuk klinis ini umumnya baik

Kandidiasis
Urutan Insiden penyakit jamur kulit di subbagian kulit Anak RSCM Jakarta Pitiriasis versikolor 30 % Kandidosis 15% Tinea korporis 14% Tinea kapitis 10% Penyakit jamur lain <10%

Faktor Resiko
Ada 2 kelompok besar Penyuburan kandida baik langsung maupun tidak langsung - pemberian antibiotik mematikan kuman keseimbangan jamur dan bakteri terganggu - adanya peny. DM dan atau kehamilan timbul suasana yg menyuburkan pertumbuhan kandida Kemudahan terjadi invasi ke jaringan - Adanya rangsang setempat terus menerus oleh cairan yg menyebabkan pelunakan kulit - Adanya penyakit tertentu (gizi buruk, penyakit darah, keganasan) - Tindakan/prosedur medis serta alat yg digunakan

Gambaran Klinis
1. Kandidiasis orofarings

Kandidiasis pseudomembranosa akut/oral trush


Sering pd bayi dan anak Stomatitis akut , bercak putih kekuningan yg timbul pada dasar selaput lendir merah, bila dihapus mudah berdarah. Hari berikutnya, bercak putih sebesar jarum pentul, dalam 2-3hari bergabung menjadi bercak besar seperti membran. Mukosa bukalis, dorsal dan lateral lidah, gusi dan faring Penyebab tersering C. albicans

Kandidiasis atrofikans akut (Glositis)


Akibat pengobatan antibiotik spektrum luas thd bakteri yg hodup di rongga mulut. Erosi pada mukosa mulut dan hilangnya papil lidah bagian dorsal, tampak licin dan kemerahan, nyeri Menghilang dg penghentian antibiotik

Gambaran Klinis
Keilosis angularis/perleche

Lecet / fisura disudut mulut dengan eritema dan rasa nyeri Terjadi karena penumpukan cairan di daerah tsb, shg jadi tempat ideal Dapat bergranula. Dg erosi eritematosa, deskuamasi epitel yang dikelilingi daerah hiperkeratosis.

2. Kandidiasis esofagus
Disfagia, mual, muntah, oral trush. Sering di bagian sepertiga bawah esofagus. Lanjut striktura atau gambaran spt tumor dengan edem dan inflamasi, fistulasi dan perforasi esofagus.

3. Kandidiasis gastrointestinal
Ditemukan kandida dalam bentuk hifa dan blastospora dalam tinja.

4. Kandidiasis peritoneal

Penyulit dari dialisis peritoneal, operasi usus atau perforasi usus. Terlokalisir, jarang menyebar ke organ lain
Infeksi di ginjal, buli-buli, ureter dan uretra Gejala mirip infeksi sal. Kemih oleh bakteri Abses mikro pada ginjal, nekrosis papiler, distorsi kalises, abses perinefrik dan kelainan obstruktif akibat bolus jamur

5. Kandidiasis traktus urinarius

6. Kandidiasis vaginalis/vaginitis
Pruritus dan pengeluaran cairan vagina berwarna keputihan, mukosa seperti oral trush. Kulit perineum juga terkena gejala ulserasi.

Gambaran Klinis
7. Kandidiasis saluran nafas
Melalui beberapa cara:
Membuat kolonisasi di membran mukosa Infiltrasi invasif ke jaringan yang lebih dalam Melalui reaksi alergi

Terbatas pada laring dan bronkus, dering merupakan bagian dari penyakit paru atau kelainan sistemik

8. Kandidiasis otot, sendi dan tulang


Artritis mulai dari neonatus sampai lanjut usia. Bagian dari kandidiasin sitemik, terutama menyerang sendi lutut. Penularan melalui osteomyelitis / hematogenik, sesudah pemasangan alat sendi buatan.

9. Kandidiasis kulit

Terdiri dari 4 kelompok :


Kelainan kuku setempat atau menyeluruh Kelainan kuku (onychia) dan jaringan sekitarnya (paronychia) Kelainan kulit yang lebih dalam dengan peradangan (granuloma) Kelainan kulit berdasarkan alergi (kandida)

Terbanyak di daerah lipatan. Pada bayi sering di lipat leher. Tempat yang mudah basah oleh keringat atau cairan lain Kemerahan, basah dengan sisik yang berbatas tegas.

Gambaran Klinis
Keluhan utama rasa gatal
Bayi sering diaper rash ( kemerahan dengan vesikel kecil atau bersisik )

10. Kandidiasis pada organ lain


Dapat menginvasi endokardium, miokardium, dan perikardium. Gejala mirip endokarditis bakterialis Kandidiasis oftalmika akibat trauma atau infeksi sekunder karena penggunaan antibiotik topikal dan steroid.

11. Kandidiasis diseminata akut/sistemik


Menyerang sedikitnya 2 atau 3 organ, biasanya organ dalam Pintu masuk terutama dari traktus GI atau mukosa mulut kemudian jamur masuk kedalam darah dan menyebar secara hematogen Sering di paru, ginjal, hati, limpa dan otak. Bayi dengan kandidiasis sistemik gejalanya seperti septikemia oleh kuman penyakit lainnya. Gambaran indikasi kandidiasis sistemik a;
Adanya kandidiasis oftalmika/endoftalmitis Adanya erupsi makulopapularbyang menyeluruh.

Diagnosis
Asosiasi antara gambaran klinis dan uji diagnostik untuk mengisolasi dan mengidentifikasi jamur Bahan diperoleh dari kerokan kulit, kuku, dahak/sputum, sekret bronkus, urin, tinja, jaringan, usap mulut, usap vagina dll. Bahan harus diperoleh sesteril mungkin untuk menghindari pencemaran jamur lain.

Diagnosis
Pemeriksaan Langsung Biakan Histopatologi Uji Kulit Uji Serologi

Pengobatan
Pemberian antifungi
Gentian violet 1-2% topikal untuk kandidiasis selaput lendir dan kulit. Kerugiannya : warna yang kurang disukai Derivat polien, seperti: nistatin, amfoterisin B, pimarisin, trikomisin. Derivat imidazol, seperti: mikonazol, klotrimazol, ekonazol, ketokonazol dan lainnya.

Penanggulangan faktor resiko Penanggulangan sumber infeksi

Histoplasmosis
Etiologi Histoplasmosis capsulatum
Banyak ditemukan di Indonesia Diisolasi dari tanah yang mengandung kotoran ayam, kelelawar dan burung Membentuk makrokonidia yang khas. Di tanah tumbuh menjadi bentuk spora dengan makrokonidia, pada suhu tubuh membentuk ragi

Histoplasmosis duboisii

Patogenesis
Melalui inhalasi spora/konidia di dalam alveoli berkembang biak menjadi jamur membentuk infiltrat pembesaran kelenjar daerah hilus. Inhalasi dalam jumlah besar menimbulkan gambaran seperti tuberkulosis milier Bisa sembuh tanpa meninggalkan perkapuran dalam paru. Infeksi kedua reaksi lebih kuat batuk berdarah Dari paru ke organ lain (RES) pembengkakan hati, limpa, KGB

Gejala Klinis
Asimptomatis Simptom menurut lokasi dan pola infeksi
Infeksi paru akut
Gejala spt influenza (nyeri kepala, demam, nyeri dada, infiltrat paru, pembesaran hilus, pd anak/remaja ada eritem nodusum, hepatomegali pd anak dan bayi)

Chronic pulmonary histoplasmosis (pada dewasa)


Jarang pada anak

Progressive disseminated histoplasmosis


Pada anak dg gangguan imunitas selular. Gejala : Demam berkepanjangan, gagal tumbuh, batuk, hepatosplenomegali, adenopati, pnemonia, kelainan kulit, dan pansitopenia

Uji Diagnostik
Biakan jamur
Dari sumsum tulang, darah, sputum dan isolat biopsi 2-8 minggu

Penilaian DNA probe Radioimmunoassay pantau hasil pengobatan Uji Kulit penilaian epidemiologi

Pengobatan
Anak dengan status imunisasi baik jarang menderita/ jarang membutuhkan pengobatan Indikasi : infeksi diseminata dan infeksi akut pada pasien imunokompromais / penyakit paru dg gelaha menetap > 4 minggu Amfoterisin B dalam bentuk: (4 minggu)
amphotericin desoxycholate (0,7mg/kgBB/hari IV) Lipid complex amphotericin B (3,5mg/kgBB/hari) sampai tampak perbaikan klinis

Dilanjutkan dengan itraconazole (2-5mg/kgBB/hari) selama 6-12 minggu. Hindari pajanan tanah/debu yang tercemar kotoran ayam/kelelawar.

Terima Kasih