Anda di halaman 1dari 18

ARYS TRYS NANI 06310020

hidung merupakan bagian dari traktus respiratorius, alat penghidu dan ronggasuara untuk berbicara.

Anosmia tidak adanya/hilangnya sensasi penciuman (hilangnya kemampuan mencium atau membau dari indera penciuman). Hilangnya sensasi ini bisa parsial ataupun total.

Obstruksi nasal dan infeksi saluran napas atas Kerusakan nervus olfaktorius Trauma tengkorak Anosmia kongenital Penuaan Kelainan psikologik dan psikiatrik Toxin

Indra penciuman dan pengecapan tergolong ke dalam system penginderaan kimia (chemosensation). Proses yang kompleks dari mencium dan mengecap di mulai ketika molekul-molekul dilepaskan oleh substansi di sekitar kita yang menstimulasi sel syaraf khusus dihidung, mulut atau tenggorokan. Sel-sel ini menyalurkan pesan ke otak,dimana bau dan rasa khusus di identifikasi. Sel-sel olfaktori (saraf penciuman) di stimulasi oleh bau-bauan disekitar kita.

Contoh aroma dari mawar, adonan pada roti. Sel-sel saraf ini ditemukan di sebuah tambahan kecil dari jaringan terletak diatas hidung bagian dalam, dan mereka terhubung secara langsung ke otak penciuman(olfaktori) terjadi karena adanya molekul-molekul yang menguap dan masuk kesaluran hidung dan mengenal olfactory membrane. Manusia memiliki kira-kira 10.000 sel reseptor berbentuk rambut. Bila molekul udara masuk, maka sel-sel ini mengirimkan impuls saraf.

Pada mekanisme terdapat gangguan atau kerusakan dari sel-sel olfaktorus menyebabkan reseptor dapat mengirimkan impuls menuju susunan saraf pusat. Ataupun terdapat kerusakan dari sarafnya sehingga tidak dapat mendistribusikan impuls reseptor menuju efektor, ataupun terdapat kerusakan dari saraf pusat di otak sehingga tidak dapat menterjemahkan informasi impuls yang masuk.

Berkurangnya kemampuan dan bahkan sampai tidak bisa mendeteksi bau Gangguan pembau yang timbul bisa bersifat total / tidak bisa mendeteksi seluruh bau Dapat bersifat parsial / hanya sejumlah bau yang dapat dideteksi Dapat juga bersifat spesifik (hanya satu / sejumlah kecil yang dapat dideteksi) Kehilangan kemampuan merasa / mendeteksi rasa dalam makanan yang di makan Berkurangnya nafsu makan.

Pemeriksaan fisik :
Nasal endoscopy Pemeriksaan neurologi

Laboratorium :
Biopsi neurpepitel olfactorius

Radiology :
CT: nasal and sinus disease MRI: intracranial causes

University of Pennsylvania Smell Identification Test (UPSIT)


Uji ini menggunakan 40 item pilihan ganda berisi bau-bauan berbentuk kapsul mikro.

Klasifikasi skor :
Normal 36-40 Partial anosmia 20-35 Total anosmia 8-15 Probable malingering0-5

Test ini memiliki keakuratan sangat tinggi

The Odor Six Test Tes dilakukan menggunakan spidol yang menghasilkan aroma. Spidol dipegang 3-6 inch dari hidung pasien untuk memeriksa persepsi aroma secara kasar.
Scratch-and-sniff card Sekarang sudah dijual bebas scratch and sniff card yang terdiri dari 3 aroma untuk test penghidu secara kasar.

Pengobatan yang dapat digunakan untuk memperbaiki penciuman sesuai penyebabnya antara lain : 1. Antihistamin bila diindikasi penderita alergi 2. Berhenti merokok dapat meningkatkan fungsi penciuman. 3. Koreksi operasi yang memblok fisik dan mencegah kelebihan dapat digunakan dekongostan nasal. 4. Suplemen zink kadang direkomendasikan. 5. Kerusakan neuroolfaktorius akibat infeksi virus prognosisnya buruk, karena tidak dapat di obati. 6. Terapi vitamin sebagian besar dalam bentuk vitamin A

Dampak dari disfungsi olfaktorius sangat tergantung dari etiologinya. Disfungsi olfaktorius karena sumbatan oleh polip, neoplasma, pembengkakan mukosa atau deviasi septum dapat kembali normal. Ketika sumbatan dihilangkan, kemampuan olfaktorius akan kembali normal. Namun jika terjadi kerusakan pada nervus olfactorius maka pronosisnya buruk.

Untuk perhatiannya