Anda di halaman 1dari 23

Kesetimbangan Cair - Cair

Sola Fide Gavra Tarigan

Latar Belakang
Ekstraksi

pelarut atau sering disebut juga ekstraksi air merupakan metode pemisahan atau pengambilan zat terlarut dalam larutan (biasanya dalam air) dengan menggunakan pelarut lain (bisanya organik). Di antara berbagai jenis metode pemisahan, ekstraksi merupakan metode yang paling baik dan populer. Alasan utamanya adalah metode ini dapat dilakukan baik dalam tingkat mikro maupun makro. Pemisahannya tidak memerlukan alat khusus atau canggih, melainkan hanya berupa corong pemisah.

Perumusan Masalah
Bagaimana

menentukan koefisien distribusi zat terlarut asam asetat dalam dua zat pelarut yaitu kloroform dan air (untuk run I) juga diisopropil eter dan air (untuk run II). Bagaimana membuat diagram segitiga kesetimbangan cair - cair antara senyawa asam asetat, kloroform dan air (untuk run I) juga asam asetat, diisopropil eter dan air (untuk run II).

Tujuan Percobaan
Untuk

mengetahui bagaimana cara menentukan koefisien distribusi zat terlarut di antara dua pelarut. Untuk mengetahui bagaimana melakukan pemilihan pelarut yang baik bagi suatu proses ekstraksi. Untuk dapat mengaplikasikan prinsip ekstraksi pelarut (kesetimbangan cair - cair) untuk dimanfaatkan dalam kehidupan sehari - hari. Untuk mengetahui zat terlarut yang terdistribusi paling banyak dalam dua pelarut yang berbeda yaitu pelarut organik dan air

Manfaat Percobaan

Praktikan dapat mengetahui bagaimana cara menentukan koefisien distribusi zat terlarut di antara dua pelarut. Praktikan dapat mengetahui bagaimana melakukan pemilihan pelarut yang baik bagi suatu proses ekstraksi. Praktikan dapat mengaplikasikan prinsip ekstraksi pelarut (kesetimbangan cair - cair) untuk dimanfaatkan dalam kehidupan sehari - hari. Praktikan dapat mengetahui zat terlarut yang terdistribusi paling banyak dalam dua pelarut yang berbeda yaitu pelarut organik dan air.

Ruang Lingkup

Percobaan Kesetimbangan Cair - Cair ini dilakukan di Laboratorium Kimia Fisika, Fakultas Teknik, Departemen Teknik Kimia, Universitas Sumatera Utara pada kondisi ruangan: Tekanan udara : 760 mmHg Suhu : 30 oC Bahan-bahan yang digunakan di dalam percobaan ini adalah asam asetat (CH3COOH), natrium hidroksida (NaOH), diisopropil eter (C6H14O), fenolftalein (C20H14O4), kloroform (CHCl3), dan aquadest (H2O). Peralatan yang digunakan adalah buret, piknometer, corong pemisah, erlenmeyer, statif dan klem, corong gelas, beaker glass, neraca analitik, piknometer, gelas ukur, dan corong gelas.

Pengertian Ekstraksi
Ekstraksi

adalah suatu proses pemisahan substansi dengan menggunakan pelarut yang sesuai Ekstraksi juga merupakan proses pemisahan satu atau lebih komponen dari suatu campuran homogen menggunakan pelarut cair (solven) sebagai separaing agen. Pemisahan terjadi atas dasar kemampuan larut yang berbeda dari komponen - komponen dalam campuran.

Pembagian Ekstraksi
Berdasarkan
Ekstraksi Padat - Cair

bentuk campuran yang diekstraksi

Ekstraksi Cair - Cair

Berdasarkan

proses pelaksanaannya

Ekstraksi Kontinyu

Ekstraksi Bertahap

Ekstraksi Padat - Cair Zat yang diekstraksi terdapat di dalam campuran yang berbentuk padatan. Ekstraksi jenis ini banyak dilakukan dalam mengisolasi zat berkhasiat yang terkandung di dalam bahan alam seperti steroid, hormon, antibiotika, dan lipida pada biji - bijian.

Ekstraksi Cair - Cair Zat yang diekstraksi terdapat di dalam campuran yang berbentuk cair. Ekstraksi cair - cair sering juga disebut ekstraksi pelarut banyak dilakukan untuk memisahkan zat seperti iod, atau logam-logam tertentu dalam larutan air. Proses ini digunakan secara teknis dalam skala besar misalnya untuk memperoleh vitamin, antibiotika, bahan-bahan penyedap, produk-produk minyak bumi dan garam-garam logam.

kontinyu (Continues Extraction) Pada ekstraksi kontinyu, pelarut yang sama digunakan secara berulang-ulang untuk sampai pada prses ekstraksi selesai. Tersedia berbagai alat dan jenis ekstraksi ini seperti alat soxhlet atau Craig Countercurrent. bertahap (Batch) Pada ekstraksi bertahap, setiap kali ekstraksi selalu digunakan pelarut yang baru sampai proses ekstraksi selesai. Alat yang digunakan biasanya adalah berupa corong pemisah.
Ekstraksi

Ekstraksi

Hukum Partisi

Jika solute dilarutkan sekaligus ke dalam dua pelarut yang tidak saling bercampur, maka solute akan terdistribusi di antara kedua pelarut. Pada keadaan setimbang, perbandingan konsentrasi solute berharga tetap pada suhu tetap.
Secara matematis, hubungan tersebut dapat dituliskan:

konsentrasi zat terlarut dalam fasa organik C2 = =Kd konstrasi zat terlarut dalam fasa air C1

Pertimbangan Pertimbangan dalam Ekstraksi


Kelarutannya

rendah dalam fase air. Viskositasnya cukup rendah dan mempunyai perbedaan rapatan yang cukup besar Tingkat keracunan (toksisitas) yang rendah dan tidak mudah terbakar. Mempunyai harga Kd yang besar untuk zat-zat terlarut, sedangkan untuk zat - zat pengotor yang tidak diinginkan Kd - nya kecil

Pemanfaatan Daun Sengon (Albizia Falcataria) Sebagai Pewarna Kain Sutera Menggunakan Mordan Tawas dengan Konsentrasi yang Berbeda

Metodologi Percobaan
Bahan yang digunakan adalah: Kloroform (CHCl3) Natrium Hidroksida (NaOH) Phenolphthalein (C20H14O4) Aquadest (H2O) Asam Asetat (CH3COOH)

Peralatan yang Digunakan Adalah: Buret dan Statif Erlenmeyer Corong gelas Gelas ukur Piknometer Corong pemisah Neraca analitik Batang Pengaduk Pipet tetes

Prosedur Percobaan
1. 2. 3. 4.

5. 6.

7.
8. 9. 10.

Disiapkan bahan utama yaitu asam asetat, kloroform, aquadest secara terpisah dalam beaker glass. Dibuat larutan NaOH 0,8 M sebanyak 100 ml Diukur densitas dari ketiga zat tersebut dengan menggunakan piknometer. Ketiga bahan utama tersebut dicampur dalam corong pemisah, yang pertama dimasukkan adalah aquadest, lalu asam asetat, kemudian kloroform. Setelah corong pemisah ditutup, dikocok selama 3 menit, kemudian dibiarkan selama 2 menit. Setelah terbentuk 2 lapisan, yaitu lapisan bawah dan lapisan atas, kedua lapisan tersebut dipisahkan pada 2 buah erlenmeyer berbeda. Diukur volume, densitas dari kedua lapisan tersebut. Masing - masing lapisan diambil sebanyak 5 ml dan ditambahkan dengan beberapa tetes phenolftalein. Dititrasi masing - masing lapisan dengan NaOH. Dan dicatat volume NaOH yang digunakan. Percobaan diulangi untuk run II dengan mengganti kloroform dengan disopropil eter.

Hasil dan Pembahasan


Hasil

Perhitungan Kd Lapisan

Run

Densitas (gr/ml)

Kd

Kd ratarata

Atas I
Bawah Atas II Bawah

1,28
1,61 1,27 1,608 2,7837

2,3456
2,569

Hasil Perhitungan Persen Berat Run I


Zat
Lapisan atas (%) 37,48 Lapisan bawah (%) 37,50

Asam asetat

Aquadest

8,85

8,90

Kloroform

53,67

53,39

Hasil Perhitungan Persen Berat Run II


Zat Lapisan atas (%) Lapisan bawah (%)

Asam Asetat

40,85

40,88

Aquadest Diisopropil eter

8,48 50,67

8,46 50,66

Diagram Segitiga Run I

Diagram Segitiga Run II

Kesimpulan

Pada percobaan ini Kd untuk run I diperoleh sebesar 4,878 dan run II sebesar 0,520, sehingga diperoleh Kd rata-rata sebesar 2,699.

Pencampuran antara asam asetat, air dan kloroform menghasilkan dua lapisan yang terdiri dari lapisan atas yang terdiri atas kloroform dan asam asetat dan juga lapisan bawah yang terdiri dari air dan asam asetat.

Berdasarkan hasil analisa zat murni, diperoleh massa jenis kloroform yang lebih besar daripada air, sehingga asam asetat lebih banyak larut didalam kloroform karena harga Kd yang diperoleh lebih besar daripada satu.

Pada run I, % berat masing masing zat pada lapisan atas adalah : asam asetat (37,48 %)

aquadest (8,85 %), kloroform (53,67 %), dan % berat masing masing zat pada lapisan
bawah adalah : asam asetat (37,50 %), aquadest (8,90 %), kloroform (53,59 %).

Pada run II, % berat masing masing zat pada lapisan atas adalah : asam asetat (40,85 %), aquadest (8,479 %), diisopropil eter (50,667 %), dan % berat masing masing zat pada lapisan bawah adalah : asam asetat (40,88 %), dan aquadest (8,46 %), diisopropil eter (50,66 %).

Saran

Disarankan untuk melakukan kalibrasi terlebih dahulu agar diperoleh densitas larutan yang lebih efektif. Sampel yang menggunakan pelarut dengan titik didih rendah harus ditutup agar sampel tersebut tidak menguap. Ketika menggunakan piknometer untuk menimbang disarankan piknometer betul-betul bersih dan tidak mengandung bahan lain. Perhitungan densitas dengan menggunakan piknometer sebaiknya lebih teliti dan hati-hati. Sebaiknya penggunaan gelas ukur yang mempunyai faktor ketelitian besar karena yang diukur relatif sangat kecil. Sebaiknya dalam menggunakan timbangan menggunakan neraca dengan faktor ketelitian yang lebih tinggi.