Anda di halaman 1dari 11

Kelompok : Mohammad Fahmi S.

Aris Mardani Pian Fadly Agung Hardiyanti

12110125 12110072 12110114 12110158

1.

Pengertian Cyber Crime Cybercrime adalah tidak criminal yang dilakkukan dengan menggunakan teknologi computer sebagai alat kejahatan utama. Cybercrime merupakan kejahatan yang memanfaatkan perkembangan teknologi computer khusunya internet. Cybercrime didefinisikan sebagai perbuatan melanggar hukum yang memanfaatkan teknologi computer yang berbasasis pada kecanggihan perkembangan teknologi internet.

Kejahatan Cybercrime sedang menjadi trend bagi beberapa


kalangan pengguna jasa internet. Channel #cc, #ccs, #cchome atau #cvv2 pada server-server IRC favorit, seperti: DALnet, UnderNet dan Efnet banyak dikunjungi orang dari seluruh dunia untuk mencari kartu-kartu kredit bajakan dengan harapan dapat digunakan sebagai alat pembayaran ketika mereka berbelanja lewat Internet..

Contoh Modus Kejahatan Kartu Kredit (Carding) berupa :


a. b.

Mendapatkan nomor kartu kredit (CC) dari tamu hotel. Mendapatkan nomor kartu kredit melalui kegiatan

chatting di Internet.
c.

Melakukan pemesanan barang ke perusahaan di luar

negeri dengan menggunakan Jasa Internet.


d.
e.

Mengambil dan memanipulasi data di Internet.


Memberikan keterangan palsu, baik pada waktu

pemesanan maupun pada saat pengambilan barang di Jasa Pengiriman (kantor pos, UPS, Fedex, DHL, TNT, dsb.).

Jenis-Jenis Cyber Crime


Berdasarkan Karakteristik Cybercrime a. Kejahatan kerah biru (blue collar crime) b. Kejahatan kerah putih (white collar crime)

Berdasarkan Motif Kegiatan


a. Cybercrime sebagai tindakan murni kriminal

b. Cybercrime sebagai kejahatan abu-abu


Berdasarkan Sasaran Kejahatan

a. Cybercrime yang menyerang individu (Against Person)


b. Cybercrime menyerang hak milik (Againts Property) c. Cybercrime menyerang pemerintah (Againts

Government)

Pengaturan Cybercrime dalam Perundang-undangan

Indonesia Sistem perundang-undangan di Indonesia belum mengatur secara khusus mengenai kejahatan komputer termasuk cybercrime. Mengingat terus meningkatnya kasus-kasus cybercrime di Indonesia yang harus segera dicari pemecahan masalahnya maka beberapa peraturan baik yang terdapat di dalam KUHP maupun di luar KUHP untuk sementara dapat diterapkan terhadap beberapa kejahatan ini.

Contoh Bentuk kejahatan Cybercrime :


a. Illegal Access (akses secara tidak sah terhadap sistem komputer) b. Data Interference (mengganggu data komputer) c. System Interference (mengganggu sistem komputer) d. Illegal Interception in the computers, systems and computer networks operation(intersepsi secara tidak sah terhadap komputer, sistem, dan jaringan operasional komputer) e. Data Theft (mencuri data)

f. leakage and Espionage (membocorkan data dan memata-matai)


g. Misuse of Devices (menyalahgunakan peralatan komputer)

Permasalahan dalam Penyidikan terhadap

Cybercrime
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, hambatan-

hambatan yang ditemukan di dalam proses penyidikan antara lain adalah sebagai berikut:
a)

Kemampuan penyidik

b)
c)

Alat bukti
Fasilitas komputer forensik

Kesimpulan 1. Opini umum yang terbentuk bagi para pemakai jasa

internet adalah bahwa cybercrime merupakan perbuatan yang merugikan. Para korban menganggap atau memberi stigma bahwa pelaku cybercrime adalah penjahat. 2. Sistem perundang-undangan di Indonesia belum mengatur secara khusus mengenai kejahatan komputer melalui media internet. Beberapa peraturan yang ada baik yang terdapat di dalam KUHP maupun di luar KUHP untuk sementara dapat diterapkan terhadap beberapa kejahatan, tetapi ada juga kejahatan yang tidak dapat diantisipasi oleh undang-undang yang saat ini berlaku. 3. Hambatan-hambatan yang ditemukan dalam upaya melakukan penyidikan terhadap cybercrime antara lain berkaitan dengan masalah perangkat hukum, kemampuan penyidik, alat bukti, dan fasilitas komputer forensik.

Saran 1) Undang-undang tentang cybercrime perlu dibuat

secara khusus sebagai lexspesialis untuk memudahkan penegakan hukum terhadap kejahatan tersebut. 2) Kualifikasi perbuatan yang berkaitan dengan cybercrime harus dibuat secara jelas agar tercipta kepastian hukum bagi masyarakat khususnya pengguna jasa internet. 3) Perlu hukum acara khusus yang dapat mengatur seperti misalnya berkaitan dengan jenis-jenis alat bukti yang sah dalam kasus cybercrime, pemberian wewenang khusus kepada penyidik dalam melakukan beberapa tindakan yang diperlukan dalam rangka penyidikan kasus cybercrime, dan lain-lain. 4) Spesialisasi terhadap aparat penyidik maupun penuntut umum dapat dipertimbangkan sebagai salah satu cara untuk melaksanakan penegakan hukum terhadap cybercrime.