Anda di halaman 1dari 34

HIDROSEFALUS

1. Tulang tengkorak 2. Otak 3. Cairan serebrospinal Meningen 1. Duramater 2. Arakhnoid 3. Piamater

Terdapat 4 ventrikel dari otak yaitu: 1. Ventrikel lateral kiri dan kanan pada hemisfer serebri 2. Ventrikel ke tiga pada diensepalon 3. Ventrikel ke empat pada pons dan medulla. Ventrikel lateral dihubungkan dengan ventrikel ke tiga oleh interventrikular foramen sedangkan Ventrikel ke tiga nyambung dengan ventrikel ke empat melewati celah sempit yang disebut serebral aqua duktus di midbrain/otak tengah.

Ruangan CSS minggu kelima masa embrio dibentuk pada pleksus koroidalis, terdiri dari system ventrikel, sisterna magna pada dasar otak dan ruang subaraknoid yang meliputi seluruh susunan saraf pusat (SSP). Cairan serebrospinal atau CSF berperan dalam melindungi otak, menjaga keseimbangan bahan-bahan kimia Susunan Syaraf Pusat

Aliran CSS normal dari ventrikel lateralis melalui foramen Monroi ventrikel III melalui saluran yang sempit akuaduktus Sylvii ventrikel IV dan melalui foramen Luschka dan Magendie ke dalam ruang subaraknoid melalui sisterna magna.

Pada orang dewasa volume intrakranial kurang lebih 1700 ml Otak sekitar 1400 ml Volume cairan serebrospinal 100-150 ml (ratarata 104 ml), menghasilkan 500 cc/hari Darah sekitar 100-150 ml. 80% dari jaringan otak terdiri dari cairan, baik ekstra sel maupun intra sel.
CSS

Hidrosefalus?
Suatu keadaan patologis otak yang dapat mengakibatkan gangguan dari CSS yang berubah menjadi banyak, bisa karena:obstruksi aliran cairan serebrospinal, gangguan produksi dan atau produksi cairan serebrospinal yang berlebihan (Aziz, 2006)

1. 2. 3. 4.

Kelainan bawaan (kongenital) Infeksi Neuplasma/tumor perdarahan

1. Gambaran klinis manifes dan tersembunyi 2. Waktu pembentukan kongenital dan akuisita 3. Proses terbentuknya akut dan kronik 4. Sirkulasi CSS komunikans dan non komunikans

Bayi: 1. Kepala makin membesar 2. Ubun-ubun melebar dan tegang 3. Cracked-pot sign 4. Perkembangan motorik terlambat 5. Perkembangan mental terlambat 6. Cerebral cry 7. Sunset phenomena

Anak: 1. Bila sutura kranialis sudah menutup, terjadi tanda-tanda PTIK 2. Muntah proyektil 3. Nyeri kepala 4. Kejang 5. Kesadaran menurun 6. Papiledema Pada dewasa gejala yang paling sering dijumpai adalah nyeri kepala.

Foto rontgen kranium memperlihatkan penipisan tulang tengkorak disertai pemisahan sutura dan pelebaran fontanel. Angiografi memperlihatkan kelainan pembuluh darah yang disebabkan oleh peregangan. Pemeriksaan CT scan dan MRI menunjukkan variasi densitas jaringan dan cairan di dalam sistem ventrikulus. Pungsi lumbal mengungkapkan peningkatan tekanan cairan serebrospinalis pada hidrosefalus komunikans. Ventrikulografi memperlihatkan dilatasi ventrikulus otak dengan cairan serebrospinalis yang berlebihan.

Medikamentosa Terapi untuk pasien hidrosefalus tergantung pada penyebabnya. Pemberian asetazolamid dan furosemid (golongan diuretik) dapat mengurangi produksi CSF Pembedahan 1. Ventriculoperitoneal shunt (VP shunt) Untuk mengangkut cairan serebrospinal yang berlebihan dari ventrikel lateralis ke dalam kavum peritoneal 2. Venriculoatrial shunt (pemasangan alat ini lebih jarang dilakukan ) Untuk mengalirkan cairan serebrospinal dari ventrikulus lateralis otak ke dalam atrium kanan jantung agar cairan tersebut dapat mengalir sendiri ke dalam peredaran darah vena.
VP SHUNT

Retardasi mental Gangguan fungsi motorik Kehilangan penglihatan Herniasi otak Kematian akibat peningkatan tekanan intrakranial Infeksi pada shunt (sesudah pembedahan) Pembesaran kepala Kerusakan otak Meningitis Ekstremitas mengalami kelemahan, inkoordinasi Kerusakan jaringan saraf Proses aliran darah terganggu

Pada kelompok yang dioperasi, angka kematian adalah 7%. Setelah operasi sekitar 51% kasus mencapai fungsi normal dan sekitar 16% mengalami retardasi mental ringan.

Pengkajian Anamnesis : Pengumpulan data : nama, usia, jenis kelamin, suku/bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat keluhan utama : Gelisah nyeri kepala Riwayat penyakit sekarang: Adanya riwayat infeksi (biasanya riwayat infeksi pada selaput otak dan meningens) sebelumnya. Riwaya penyakit dahulu: Pengkajian yang perlu ditanyakan meliputi adanya riwayat hidrosefalus sebelumnya, riwayat adanya neoplasma otak, kelainan bawaan pada otak dan riwayat infeksi.

Keadaan umum: Pada keadaan hidrosefalus umumnya mengalami penurunan kesadaran (GCS <15) dan terjadi perubahan pada tanda-tanda vital. B1(breathing) Perubahan pada system pernafasan berhubungan dengan inaktivitas B2 (Blood) Frekuensi nadi cepat dan lemah berhubungan dengan homeostasis tubuh dalam upaya menyeimbangkan kebutuhan oksigen perifer B3 (Brain) Deficit neurologis terutama disebabkan pengaruh peningkatan tekanan intracranial akibat adanya peningkatan CSF dalam sirkulasi ventrikel dan kepala membesar.

Pengkajian system motorik. Pada infeksi umum, didapatkan kelemahan umum karena kerusakan pusat pengatur motorik. Tonus otot. Didapatkan menurun sampai hilang Kekuatan otot. Pada penilaian dengan menggunakan tingkat kekuatan otot didapatkan penurunan kekuatan otot-otot ekstermitas. Keseimbangan dan koordinasi. Didapatkan mengalami gangguan karena kelemahan fisik umum dan kesulitan dalam berjalan.

Pengkajian system sensorik. Kehilangan propriosepsi (kemampuan untuk merasakan posisi dan gerakan bagian tubuh) serta kesulitan dalam menginterpretasikan stimuli visual, taktil, dan auditorius.

B4 (Bledder) Peningkatan jumlah urine dan peningkatan retensi cairan dapat terjadi akibat menurunya perfungsi pada ginjal. Pada hidrosefalus tahap lanjut klien mungkin mengalami inkontensia urin karena konfusi, ketidak mampuan mengomunikasikan kebutuhan, dan ketidak mampuan mengomunikasikan kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk menggunakan system perkemihan karena kerusakan control motorik dan postural

B5 (Bowel) Keluhan kesulitan menelan, nafsu makan menurun, serta mual dan muntah pada fase akut akibat peningkatan produksi asam lambung sehingga menimbulkan masalah pemenuhan nutrisi B6 (Bone) Disfungsi motorik paling umum adalah kelemahan fisik umum, pada bayi disebabkan pembesaran kepala sehingga menggangu mobilitas fisik secara umum.

CT scan (dengan atau tanpa kontras): mengidentifikasi luasnya lesi, perdarahan, determinan, ventrikuler dan perubahan jaringan otak. MRI: digunakan sama denga CT scan dengan atau tanpa kontras radioaktif Rongen kepala: mendeteksi perubahan struktur garis sutura. Pemeriksaan CSS dan Lumbal pungsi: dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan subarachoid. CSS dengan atau tanpa kuman dengan kultur yaitu protein LCS normal atau menurun, leukosit meningkat/ tetap, dan glukosa menurun atau tetap

1. 2. 3. 4. 5.

6.
7.

8.

Tirah baring total, bertujuan untuk mencegah resiko/gejala peningkatan TIK Observasi tanda-tanda vital (GCS dan tingkat kesadaran) Pemberian obat-obatan Deksametason sebagai pengobatan antiedema serebral, dosis sesuai berat ringannya truma. Pengobatan anti edema, larutan hipetonis, yaitu manitol 20% atau glukosa 40 % atau gliserol 10%. Antibiotika yang mengandung barier darah otak (penisilin) atau untuk infeksi anaerob diberikan metronidazole. Makanan atau cairan, jika muntah dapat diberikan cairan infuse dekstrosa 5% 2-3 hari kemudian diberikan makanan lunak. Beberapa teknik pengobatan yang telah dikembangkan meliputi penurunan produksi LCS dengan merusak pleksus koroidalis dg tindakan pembedahan atau dg medikamentosa

1.

Resiko tinggi peningkatan tekanan intracranial b.d peningkatan jumlah cairan serebrospinal. 2. Nyeri yang berhubungan dengan peningkatan tekanan intracranial. 3. Hipertermi berhubungan dengan adanya respon inflamasi karena masuknya bakteri ditandai dengan suhu tubuh pasien 39 0 C. 4. Resiko tinggi infeksi b.d portd entere organisme sekunder akibat trauma. 5. Resiko tinggi cidera berhubungan dengan kejang 6. Resiko gangguan integritas kulit b.d imobilitas, tidak adekuatnya sirkulasi perifer. 7. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d muntah sekunder akibat kompresi serebral dan iritabilitas. 8. Perfusi jaringan cerebral tidak efektif berhubungan dengan penurunan aliran darah ke otak ditandai dengan vena-vena di area cerebral melebar, sutura melebar. 9. Gangguan sensori persepsi visual berhubungan dengan perubahan sensori persepsi (penekanan cranial 2) ditandai dengan sunset phenomenon. 10. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan menginterpretasi informasi, tidak mengenal sumber-sumber informasi, ketegangan akibat krisis situasional

1. Resiko tinggi peningkatan tekanan intracranial b.d peningkatan jumlah cairan serebrospinal. Tujuan: Setelah dilakukan atau diberikan asuhan keperawatan 1 x 24 jam klien tidak mengalami peningkatan TIK. Kriteria hasil : Kriteria hasil: Klien tidak mengeluh nyeri kepala, mual-mual dan muntah, GCS 4-5-6 tidak terdapat papil edema, TTV dalam batas normal.

INTERVENSI RASIONAL 1. Observasi ketat tanda-tanda 1. Untuk mengetahui secara dini peningkatan TIK peningkatan TIK 2. Tentukan skala coma 3. Hindari dikepala pemasangan 2. Penurunan keasadaran menandakan adanya peningkatan infus TIK 3. Mencegah terjadi infeksi sistemik 4. Karena tingkat kesadaran merupakan indikator peningkatan TIK 5. Dapat mengakibatan sumbatan sehingga terjdi nyeri kepala karena peningkatan CSS atau obtruksi pada ujung kateter diperitonial 6. Keluarga dapat berpatisipasi dalam perawatan anak dengan hidrosefalus

4. Hindari sedasi

5. Jangan sekali-kali memijat atau memopa shunt untuk memeriksa fungsinya


6. Ajari keluarga mengenai tandatanda peningkatan TIK

2. Nyeri yang berhubungan dengan peningkatan tekanan intracranial. Tujuan : Setelah dilaksakan asuhan keperawatan 1 x 24 jam diharapkan nyeri kepala klien hilang. Kriteria hasil: pasien mengatakan nyeri kepala berkurang atau hilang (skala nyeri 0), dan tampak rileks, tidak meringis kesakitan, nadi normal dan RR normal.

INTERVENSI 1. Kaji pengalaman nyeri pada anak, minta 1. anak menunjukkan area yang sakit dan

RASIONAL Membantu dalam mengevaluasi rasa nyeri.

menentukan peringkat nyeri dengan 2.


skala nyeri 0-5 (0 = tidak nyeri, 5 = nyeri sekali) 2. Bantu anak mengatasi nyeri seperti

Pujian

yang

diberikan

akan

meningkatkan kepercayaan diri anak untuk mengatasi nyeri dan kontinuitas anak untuk terus berusaha menangani

dengan memberikan pujian kepada anak


untuk ketahanan dan memperlihatkan 3. bahwa nyeri telah ditangani dengan baik. 3. Pantau dan catat TTV 4.

nyerinya dengan baik.


Perubahan TTV dapat menunjukkan trauma batang otak. Pemahaman orang tua mengenai

4.

Jelaskan kepada orang tua bahwa anak


dapat menangis lebih keras bila mereka ada, tetapi kehadiran mereka itu penting untuk meningkatkan kepercayaan. 5.

pentingnya kehadiran, kapan anak harus


didampingi atau tidak, berperan penting dalam menngkatkan kepercayaan anak. Teknik ini akan membantu mengalihkan perhatian anak dari rasa nyeri yang dirasakan.

5.

Gunakan teknik distraksi seperti dengan bercerita tentang dongeng menggunakan boneka, nafas dalam, dll.

3. Hipertermi berhubungan dengan adanya respon inflamsi karena masuknya bakteri ditandai dengan suhu tubuh pasien 39-40 derajat C. Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2x24 jam, diharapkan hipertermi teratasi Kriteria hasil : Suhu klien dalam batas normal (36,0-37,50)

INTERVENSI 1. Mandikan klien

RASIONAL dengan 1. Meningkatkan kenyamanan klien 2. Lingkungan yang nyaman akan yang mampu meningkatkan perbaikan status kesehatan klien.

menggunakan air hangat 2. Ciptakan lingkungan

nyaman bayi klien

3. Sesuaikan temperatur ruangan 3. Menjaga suhu yang sesuai dalam dengan kebutuhan klien 4. Berikan kompres hangat meningkatkan perbaikan status kesehatan klien. 4. Menurunkan suhu tubuh klien sehingga dapat berada dalam batas normal