Anda di halaman 1dari 28

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVIS

DENGAN PENDEKATAN PETA KONSEP DAN DISKUSI UNTUK MEREDUKSI


MISKONSEPSI KALOR DAN TERMODINAMIKA

MAKALAH KUALIFIKASI
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Untuk Mencapai Derajat Magister

Program Studi Pendidikan Sains


Minat Utama : Pendidikan Fisika

DEDE NANA ZOHARI


S830906004

PROGRAM PASCA SARJANA


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2006
LATAR BELAKANG

1.Rendahnya Nilai Fisika


2.Terdapatnya miskonsepsi pd kajian
mekanika sehingga pd termod pun di duga
sama
3.Kecenderungan pembelajaran kembali ke
ceramah
4.Tidak adanya perhatian guru terhadap
miskonsepsi
Pembatasan Masalah
 konsep-konsep apa saja siswa
mengalami miskonsepsi,
 pada konsep apa siswa paling
banyak mengalami miskonsepsi ,
 proporsi penurunan miskonsepsi
karena pembelajaran yang berbeda,
 perbedaan miskonsepsi karena
pembelajaran yang berbeda,
 perbedaan miskonsepsi karena
pembelajaran terhadap tingkat
penalaran formal siswa.
Identifikasi Masalah
1. Nilai rata-rata UAN dan Tes Blok Fisika setiap semester di
SMA N I Singaparna selalu rendah, apakah hal tersebut
dikarenakan miskonsepsi siswa,
2. bagaimana implikasi Metode pengajaran Fisika yang
cenderung kembali pada metode ceramah serta berkutat
pada hitungan matematis dapat menimbulkan miskonsepsi
pada siswa,
3. apakah terdapat perbedaan proporsi penurunan miskonsepsi
siswa antara yang diberi pembelajaran dengan model peta
konsep dengan siswa yang diberi model pembelajaran
diskusi,
4. apakah terdapat perbedaan antara siswa yang memiliki
penalaran formal tinggi diberi model peta konsep
dibandingkan dengan siswa yang memiliki penalaran tinggi
dengan model diskusi?
5. bagaimanakah potret konsepsi awal siswa pada konsep Kalor
dan Termodinamika?
6. bagaimana potret konsepsi dan miskonsepsi yang dialami
siswa, serta apa saja penyebabnya,
7. karena miskonsepsi menyebabkan pembelajaran selanjutnya
menjadi kurang bermakna, bagaimanakah cara
mereduksinya,
8. apakah pembelajaran konstruktivisme melalui pendekatan
peta konsep dapat mereduksi miskonsepsi serta
resistensinya dengan efektif, sehingga konsepsi siswa
menjadi konsepsi ilmiah,
RUMUSAN MASALAH
 Miskonsepsi-miskonsepsi apa saja yang terdapat
pada diri siswa
 Pada konsep mana saja siswa banyak
mengalami miskonsepsi,
 Bagaimanakah penurunan miskonsepsi siswa
antara yang mengikuti pembelajaran peta
konsep dan diskusi?
 Secara keseluruhan Bagaimana perbedaan
mikonsepsi yang terjadi antara siswa yang
mengikuti peta konsep dan model diskusi?
 Bagaimana penurunan miskonsepsi pada
kelompok penalaran formal tinggi mengikuti
peta konsep dan yang mengikuti diskusi?
 Bagaimana perbedaan miskonsepsi antara siswa
yang memiliki penalaran formal rendah
mengikuti pembelajaran konstruktivis model
peta konsep dan yang mengikuti pembelajaran
konstruktivis model diskusi?
Tujuan Penelitian
 memperoleh gambaran miskonsepsi
yang terjadi pada siswa,
 membandingkan dua model
pembelajaran kostruktivisme dalam
mereduksi miskonsepsi.
 meyakinkan bagi para pengajar bahwa
teori konstruktivisme dapat
mengantisipasi dan mereduksi
miskonsepsi siswa dengan baik,
 memberikan motivasi kepada praktisi
pendidikan yang dengan konsisten
menerapkan teori konstruktivis dalam
berbagai model pembelajaran.
Manfaat Penelitian

 digunakan sebagai bahan informasi dan


referensi bagi peneliti yang menangani
kajian miskonsepsi,
 dipakai sebagai bahan kajian bagi para
guru dan calon guru sehingga dapat
mengantisipasi berbagai peluang
terjadinya miskonsepsi pada siswa ketika
melaksanakan pembelajaran,
 dapat digunakan sebagai bahan
pertimbangan dalam perencanaan
pembelajaran untuk meningkatkan
perolehan nilai kelas XI SMA,
 dijadikan rujukan dalam penggunaan
pembelajaran konstruktivisme yang
menggunakan pendekatan peta konsep
atau diskusi.
Landasan Teori
 Konsep: suatu abstraksi dari ciri-
ciri sesuatu yang mempermudah
komunikasi orang dan yang
memungkinkan manusia berfikir.
Setiap konsep dapat dihubungkan
dengan banyak konsep lain dan
hanya mempunyai satu arti dalam
hubungan dengan konsep-konsep
lain yang dapat dibuat kerangkanya
dalam bentuk peta konsep.
 Pembentukan Konsep
 Konstruksi konsep
 Asimilasi konsep
Tingkat-Tingkat Pencapaian
Konsep
 Tingkat konkret,
 Tingkat identitas
 Tingkat klasifikatori
 Tingkat formal,
Peta Konsep

 Dalam bentuk yang sederhana,


sebuah peta konsep dapat dikatakan
sebagai dua konsep atau lebih yang
masing-masing memiliki kedudukan
dalam suatu hierarki dan
dihubungkan oleh suatu kata yang
membentuk preposisi. Contoh: “Kalor
lebur” menunjukan sebuah peta
konsep sederhana yang membentuk
preposisi tentang konsep “kalor” dan
“lebur”.
Ciri-ciri Peta Konsep
 Peta konsep merupakan suatu cara untuk
memperlihatkan konsep-konsep dan preposisi-
preposisi suatu bidang studi. Dengan membuat
sendiri peta konsep siswa dapat ‘melihat’
bidang studi itu lebih jelas dan mempelajari
bidang itu dengan lebih bermakna.
 Suatu peta konsep merupakan bagian dari
suatu kajian, atau merupakan gambar dua
dimensi kajian tersebut
 Dalam cara menyatakan hubungan antar
konsep, karena tidak semua konsep memiliki
bobot yang sama maka beberapa konsep yang
lebih inklusif memiliki posisi diatas dibanding
yang lain.
 Hierarki, bila dua atau lebih konsep
digambarkan dibawah suatu konsep yang lebih
inklisif, terbentuklah suatu hierarki dari peta
konsep itu.
Miskonsepsi
 sebagai pengertian yang tidak akurat akan
konsep, penggunaan konsep yang salah,
klasifikasi contoh-contoh yang salah,
kekacauan konsep-konsep yang berbeda,
dan hubungan hirarkhis konsep-konsep
yang tidak benar”.
Sifat Miskonsepsi
• miskonsepsi sulit diperbaiki, berulang, mengganggu
konsepsi selanjutnya
seringkali sisa miskonsepsi terus menerus
mengganggu. soal-soal yang sederhana dapat
dikerjakan namun pada soal yang sulit sering
miskonsepsi muncul kembali,
miskonsepsi tidak dapat dihilangkan dengan ceramah
yang bagus,
Siswa, mahasiswa, guru, dosen maupun peneliti
dapat terkena miskonsepsi, baik mereka pandai
apalagi lemah
Syarat dikatakan Miskonsepsi

 atribut tidak lengkap


 penerapan konsep yang tidak tepat
 gambaran konsep yang salah atau
naif
 generalisasi yang salah dari suatu
konsep
 kegagalan dalam melakukan
klasifikasi,
 misinterpretasi terhadap suatu
objek abstrak dan proses
Pengubahan Konsep

 Asimilasi, Dengan asimilasi siswa


menggunakan konsep-konsep yang
mereka punyai untuk berhadapan
dengan fenomena baru
 akomodasi , Dengan akomodasi
siswa mengubah konsepnya siswa
mengubah konsepnya yang tidak
cocok lagi dengan fenomena baru
yang mereka hadapi.
Syarat Perubahan Konsep

 ketidakpuasan terhadap konsep


yang telah ada
 Konsep baru dimengerti, rasional dan
dapat memecahkan persoalan
 Konsep baru harus masuk akal,
 Konsep yang baru harus berdaya
guna bagi perkembangan penelitian
Ciri Konstruktivisme
 Belajar berarti membentuk makna,
 Konstruksi arti adalah proses yang terus
menerus,
 Belajar bukan sekedar mengumpulkan
fakta namun, lebih daari suatu
pengembangan pemikiran dengan
membuat pengertian baru.
 Situasi ketidakseimbangan adalah situasi
yang baik untuk memacu belajar.
 Belajar dipengaruhi oleh dunia fisik dan
lingkungannya.
 Hasil belajar tergantung pada apa yang
telah diketahui si pelajar
Ciri Mengajar Konstruktivis

 Orientasi
 Elicitasi , siswa dibantu untuk
mengungkapkan ide dengan jelas
dengan diskusi, menulis, membuat
poster dan lain lain
 Restrukturisasi ide
 Penggunaan ide dalam banyak
situasi
 Review,
Model Belajar Peta Konsep
Lingkup Standar Kompetensi Prasyarat. Miskonsepsi
Materi. Kompetensi Dasar siswa
Standar Kompetensi Konsep Miskonsepsi
Kaitan antar Kompetensi Dasar prasyarat yang sering
onsep dalam yang ingin yang ingin untuk ditemui dalam
peta konsep dicapai dalam dicapai dalam mempelajari topik yang
setiap topik setiap topik konsep baru akan dibahas
pembelajaran pembelajaran

G S
U PROSES I
R BELAJAR MENGAJAR S
U W
a

Tahap II Tahap III


Tahap I Penciptaan Strukturisasi Tahap IV Tahap V
Konfrontasi Situasi Konsep Pembentukan Perenugan
Menyajikan Konflik Menawarkan konsep baru kembali
situasi/perma Merangsang Peta konsep Digunakan miskonsepsi
salahan untuk respon siswa Dari untuk solusi yang berubah
menggali Kontes fenomena yg soal dan
miskonsepsi instuisi mengagetkan Penugasan menuliskan
kembali
Model Pembelajaran Diskusi
Pengelompokan

Konflik Kognitif

Pilihan Kajian

Presentasi setiap kelompok

merenungkan dan merumuskan


pendapatnya
merenungkan
Tawarkan solusi alternatif. konsepsi baru

Tawarkan solusi alternatif.

diambil kesimpulan
Prinsip utama dari penalaran

 Prinsip identitas (law of identity)


 Prinsip non kontradiksi, dua sifat
yang berlawanan penuh secara
mutlak tidak mungkin ada pada
suatu benda dalam waktu dan
tempat yang sama
 Prinsip ekslusi tertii , atau prinsip
tidak adanya kemungkinan ketiga
Piaget
 Operasi Kombinasi (Combinatorial
Operation),
 Perbandingan (Proportions).
 Koordinasi Terhadap Dua Sistem Acuan
(The Coordination of Two System
ofRefference)
 Proses Keseimbangan Mekanik (The
Process of Mechanical Equilibrium)
 Probabilitas (Probability)
 Korelasi (Correlation)
 Kompensasi (Compensation)
 Konsep Kekekalan (Concepts of
Conservation)
RANCANGAN PENELITIAN
Guru

Lingkungan Konsepsi Siswa Intuisi

Tes Diagnostik Tes Penalaran Formal

Paham Suspek Tidak Paham


Miskonsepsi

Wawancara

Miskonsepsi Tinggi Rendah

Pembelajaran Konstruktivis Pembelajaran Diskusi

Konflik
Kognitif

Restrukturisasi
konsep

Pemantapan
konsep

Konsepsi Ilmiah
Siklus Analisis Interaktif
Pengumpulan Data

Reduksi Penyajian Data


Data

Simpulan/Verifikasi
tes diagnostik
Sambil menunggu hujan reda ’empat sekawan’ berteduh di shelter dan
duduk kursi kayu panjang berbingkai besi. Mereka merasakan besi
lebih dingin dari kayu.
a) Hasan membuka obrolan:”pada suhu yang sama panas benda
bisa berbeda, ya”.
b) Farhat menimpali:”bukan, justru pada panas yang sama suhu
benda berbeda”
c) Ahmad memberi solusi:” itu karena sifat konduktifitas bahan
yang berbeda”
d) Friman berujar:”ndak no, sifat panas jenis bahan yang berbeda”

Alasan memilih jawaban tersebut adalah karena: ....


a. Benda bersuhu sama tetapi kamampuannya menyimpan kalor
berbeda maka benda yang kapasitas kalornya besar akan tetap
hangat
b. Konduktor langsung menghantarkan kalor sedangkan isolator
menahan kalor yang datang sehingga terasa hangat
c. Setiap benda yang memiliki jumlah kalor yang sama tidak harus
memiliki suhu yang sama
d. Kapasitas kalor menentukan suhu suatu benda,
e. ....

Sikap anda terhadap pilihan tersebut:


1. total menebak,
2. menebak dengan perkiraan,
3. ragu-ragu,
4. yakin,
5. hampir pasti,
Analisis
6. pasti benarnya.
Wawancara

Besi dan kayu pada suatu tempat


yang sama dalam waktu yang
relatif lama terasa berbeda,
suhunya sama atau tidak? adakah
hal lain yang menyebabkan terasa
berbeda?
Kesimpulan
 Siswa miskonsepsi diantaranya pada:
• Perngertian Kalor
• Pengertian Kapasitas Kalor
• Kalor Jenis dan perubahan kalor
• Terdapatnya istilah kalor panas dan kalor
dingin
• Pemuaian bidang menyebabkan lobang
ditengahnya mengkerut
• titik didih air bisa lebih dari 1000C
• menentukan asal gelembung pada air yang
mendidih.
• Konduksi,
• Proses adiabatik
• Proses Isotermik
Kesimpulan
 diskusi (26,30%) lebih baik dibandingkan
dengan menggunakan peta konsep
(17,6%)
 pembelajaran peta konsep (3,08%) lebih
rendah dibandingkan dengan siswa yang
mengalami miskonsepsi dan memilki
tingkat penalaran formal tinggi diberi
pembelajaran model diskusi (7,15%)
 pembelajaran peta konsep (5,85%) lebih
rendah dibandingkan dengan siswa yang
mengalami miskonsepsi dan memilki
tingkat penalaran formal rendah dan diberi
pembelajaran dengan menggunakan
diskusi (8,21%)
PETA KONSEP
KALOR

Kalor dapat mengakibatkan

Perubahan Perubahan
Fasa Suhu
Tergantung pada Tergantung pada
Massa
Tergantung pada Tergantung pada

Zat Padat

Sublimasi
Kalor
Melebur

Desublimasi jenis
Kalor Laten
Karakteristik kalor zat
Menguap
Zat Cair Zat Gas

Mengembun
Perpindahan
Kalor

Konduksi Konveksi Radiasi

Elektron Konduksi Perubahan ρ Gelombang EM