Anda di halaman 1dari 12

ANGGOTA : 1.Agustianty Nur H 2. Kharis Mustofa 3. Nufi Atobibah 4. Nurlaela Yuni A 5.

Rani Saskia J

( G1F011041 ) ( G1F011043 ) ( G1F011045 ) ( G1F011047 ) ( G1F011049 )

DEFINISI

CONTOH KASUS

TUJUAN DAN SASARAN UJI

MANFAAT UJI

TATA CARA PELAKSANAAN

ANALISA DAN EVALUASI HASIL

Uji toksisitas subkronis adalah uji ketoksikan suatu senyawa yang diberikan dengan dosis berulang pada hewan uji tertentu, selama kurang dari tiga bulan. Uji ini ditujukan untuk mengungkapkan spectrum efek toksik senyawa uji serta untuk memperlihatkan apakah spectrum efek toksik itu berkaitan dengan takaran dosis (Donatus, 2001).

Tujuan dari uji ini :

mengungkapkan dosis tertinggi yang diberikan tanpa memberikan efekmerugikan. b. mengetahui pengaruh senyawa kimia terhadap badan dalam pemberian berulang. Sasaran Uji : a. hispatologi organ (organ-organ yang terkena efek toksik) b. gejala-gejala toksik, wujud efek toksik (kekacauan biokimia, fungsional dan struktural) serta sifak efek toksik c. batas keamanan toksikologi terutama KETT

a.

Pemilihan hewan uji, dapat digunakan roden (tikus) dan

nirroden (anjing), sebaiknya dipilih hewan uji yang peka dan memiliki pola metabolisme terhadap senyawa uji yang semirip mungkin dengan manusia. Pengelompokan, minimal ada empat kelompok uji yaitu 3 kelompok dosis dan 1 kelompok kontrol negatif. Takaran dosis, bergerak dari dosis yang sama sekali tidak menimbulkan efek toksis sampai dengan betul-betul menimbulkan efek toksik yang nyata. Pengamatan, berupa wujud efek toksik atau spektrumnya, semua jenis perubahan harus diamati.

data berat badan , asupan makanan dan minuman

serta gejala-gelajala klinis digunakan untuk mengevaluasi status kesehatan dan perkembangan patologi hewan uji akibat sediaan uji hematologi darah dan urin digunakan untuk mengevaluasi perubahan fungsional sistem organ sebagai perwujudan efek toksik

Uji ketoksikan Subkronis memiliki manfaat : memberi informasi tentang efek utama senyawa uji dan organ sasaran yang dipengaruhinya, info tentang perkembangan efek toksik yang lambat berkaitan dengan takaran yang tidak teramati pada uji ketoksikan akut, panduan perancangan uji toksisitas selanjutnya, teratogenis, farmakokinetika dosis berulang (terutama dalam pemilihan hewan uji dan peringkat dosis).

TOKSISITAS SUBKRONIK ALGINAT PADA HISTOPATOLOGI HATI, GINJAL DAN LAMBUNG MENCIT (Mus museulus L.)
Uji toksisitas subkronik ekstrak rumput laut coklat jenis Sargasum sp dilakukan dengan hewan uji mencit jantan (Mus museulus L.), umur 2-3 bulan dengan berat 20-30 gram, selama 28 hari. Mencit dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok kontrol, dan 3 kelompok perlakuan yang masing-masing terdiri dari 16 ekor mencit. Untuk kelompok perlakuan tidak diberikan bahan uji. Kelompok perlakuan diberikan bahan uji sesuai dosis normal(dosis 1), 2x dosis (dosis II) dan 4x dosis I(dosis III) dengan konsentrasi 1,2, 4 mg alginat/g BB mencit. Hasil penelitian uji toksisitas subkronik alginat menunjukkan bahwa dosis I dan dosis II tidak merusak hati, ginjal dan lambung mencit, sedangkan dosis III mengakibatkan hati mengalami degenerasi sel, jumlah sel kupfer meningkat, dan lambung mengalami degenerasi sel parietal.

Tata Cara Pelaksanaan a. Pemilihan hewan uji


hewan uji mencit jantan (Mus museulus L.), umur 2-3 bulan dengan berat 20-30 gram selama 28 hari. b. Pengelompokkan Mencit dibagi menjadi 4 kelompok, 1 kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan yang masing-masing terdiri dari 16 ekor mencit. c. Takaran Dosis Kelompok kontrol tidak diberikan bahan uji, Kelompok perlakuan diberikan 3 bahan uji yaitu dosis I sebesar 1mg alginat/g BB mencit, dosis II sebesar 2 mg alginat/g BB mencit dan dosis III sebesar 4 mg alginat/g BB.

d.

e.

Cara Pemberian Pemberian dilakukan dengan cara melarutkan bahan uji ke dalam larutan CMC Na 0,5% sebanyak 1 ml secara oral menggunakan sonde, sekali sehari selama 28 hari. Pengambilan darah dan organ mencit dilakukan sebanyak 2 kali yaitu setelah perlakuan selama 2 minggu dan 4 minggu. Darah mencit diambil secara intra cardinal kemudian diukur aktivitas enzim GOT, GPT dan kreatinin. Pengamatan Pengamatan hispatologi dilakukan terhadap organ hati, ginjal dan lambung mencit setelah 2 minggu dan 4 minggu percobaan.

Analisa dan Evaluasi Hasil

Analisa terhadap enzim GPT,GOT dan kreatinin dipilih sebagai parameter karena peningkatan aktifitas enzim-enzim GPT dan GOT merupakan indikator adanya kelainan sel-sel hati. Pengukuran kreatinin dilakukan sebagai uji dasar untuk fungsi ginjal. Kreatinin adalah hasil buangan dari pencernaan protein, tingkat kreatini dalam darah menunjukkan fungsi ginjal yang digunakan sebagai pertanda baik buruknya kerja ginjal dalam mengeluarkan produk buangan dari tubuh. Hasil analisis GPT, GOT dan kreatinin hari ke-14 dan ke-28 pada ketiga organ hati, ginjal dan lambung adalah dosis I dan dosis II hari ke-14 dan ke-28 pada ketiga organ tidak mengalami perubahan. Ini berarti bahwa dosis I dan II masih aman karena tidak ada kerusakan pada organ vital mencit. Sedangkan pada dosis III hari ke-14 dan ke-28, hati mengalami degenerasi sel dan peningkatan jumlah sel-sel Kupffer, lambung mengalami degenerasi sel parietal, ginjal tidak mengalami perubahan. Ini berarti bahwa dosis III sudah tidak aman karena merusak hati dan lambung walaupun aman untuk kesehatan ginjal.

Kesimpulan Dosis I dan II masih aman karena tidak ada perubahan terhadap hispatologi hati, ginjal dan lambung mencit. Sedangkan dosis III sudah tidak aman karena sel hati mengalami degenerasi sel, peningkatan selsel Kupffer, dan lambung mengalami degenerasi sel parietal. Manfaat Uji Memberi informasi mengenai efek utama dari senyawa alginat yaitu untuk pengobatan diet tanpa efek samping dan organ sasaran yang dipengaruhinya berupa hati, ginjal dan lambung.