Anda di halaman 1dari 18

Head Injury

Pengertian
Cedera kepala adalah trauma mekanik pada kepala yang terjadi baik secaralangsung atau tidak langsung yang kemudian dapat berakibat kepada gangguan fungsineurologis, fungsi fisik, kognitif, psikososial, bersifat temporer atau permanent.

Etiologi
Trauma tumpul Trauma tajam

Manifestasi klinis
gangguan kesadaran Konfusi abnormalitas pupil serangan (onset) tiba-tiba berupa defisit neurologis perubahan tanda vital gangguan penglihatan disfungsi sensorik sakit kepala Vertigo gangguan pergerakan kejang dan syok akibat cedera multisistem.

Patofisiologi

Klasifikasi
Scalp wounds (tarauma Kulit kepala) Fraktur tengkorak Komosio serebri (gegar otak) Kontusio serebri Perdarahan intra kranial

Pemeriksaan Diagnostik
Pengkajian neurologi Pemeriksaan CT-scan atau MRI dapat dengan cermat menentukan letak dan luas cedera.

ASKEP GADAR

Pengkajian
1. Observasi Aktivitas/ istrahat Gejala Tanda - Kelemahan, lelah, kaku, hilang keseimbangan. - Perubahan kesadaran, hemiparesis, kehilangan tonus otot.

2. Sirkulasi Perubahan tekanan darah atau normal, perubahan frekuensi jantung (Bradikardia, takikardia). 3. Eliminasi Inkontinensia kandung kemih/ usus atau mengalami gangguan fungsi. 4. Makanan/ cairan. Gejala Tanda

- Mual/ muntah dan mengalami perubahan selera. - Gangguan menelan.

5. Pernapasan Gejala - Perubahan pola napas (anpea yang diselingi dengan hiperventilasi), napas berbunyi, rongki atau mengi. Tanda - Kecepatan pernapasan meningkat.
6. Penyuluhan/ pembelajaran Gejala - Adanya riwayat pengguna obat/ alkohol.

Data
Data Obyektif : Pola napas abnormal. Respon pupil buruk. Perubahan perilaku, berbicara dan gerakan motorik lamban. Hematom. Konkusio. Kesadaran hilang. Hemiparesis. Foto toraks (fraktur). Data Subyektif : Klien mengeluh sakit kepala. Klien mengeluh untah-muntah. Klien mengeluh susah bernafas

Prioritas
1. 2. 3. Ketidak efektifan jalan napas. Nyeri Kesadaran menurun

Intervensi 1
Berikan oksigen sesuai indikasi.

Mencegah/ mempermudah klien dalam inspirasi dan ekspirasi.

Catat ketidak teraturan pernapasan, pantau frekwensi. pernapasan lambat, periode apnea dapat menandakan perlunya ventilasi mekanis.

Auskultasi suara napas, perhatikan daerah hipoventilasi dan adanya suara tambahan yang
tidak normal. untuk mengidentifikasi adanya masalah paru, seperti altelektasis, kongesti atau obstruksi jalan napas yang membahayakan klien.

Pantau penggunaan dari obat-obat depresan. Dapat meningkatkan komplikasi pernapasan.

Intervensi 2
Observasi adanya tanda-tanda nyeri nonverbal.
Merupakan indikator atau derajat nyeri yang tidak langsung dialami.

Catat adanya pengaruh nyeri.


nyeri dapat mempengaruhi kehidupan sampai pada suatu keadaan yang cukup serius dan mungkin dapat berkembang sampai kearah depersi.

instruksikan klien untuk melaporkan nyeri dengan segera jika nyeri itu muncul.
informasi yang cepat dapat meningkatkan intervensi dini dan dapat mengantisipasi atau menurunkan beratnya serangan.

Berikan obat sesuai indikasi.


penanganan melalui obat dengan segera dapat menurunkan rasa nyeri.

Intervensi 3
Kaji tingkat kesadaran sensorik. Semua sistem sensorik dapat berpengaruh dengan adanya perubahan yang melibatkan peningkatan dan penurunan sensitifitas. Berikan stimulasi yang bermanfaat. Respon yang baik dapat bermanfaat untuk menstimulasi pasien dan dapat memulihkan kembali fungsi kognitif. Observasi respon klien. Pencatatan terhadap tingkah laku memberikan info yang diperlukan untuk perkembangan proses rehabilitasi. Gunakan komunikasi dengan suara yang lambut dan pelan. Pasien mungkin mengalami keterbatasan perilaku dengan tindakan ini membantu pasien untuk memunculkan komunikasi. evaluasi secara teratur perubahan orientasi kemampuan berbicara dan proses pikir. Kerusakan dapat terjadi saat trauma awal atau setelah kejadian sehingga mengakibatkan gangguan dalam proses pikir.