Anda di halaman 1dari 43

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

SUMMARY

KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

KSPN

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

Sistematika Pembahasan

1. 2. 3. 4.

Isu Pembangunan Perkotaan Tantangan Pembangunan Perkotaan Visi Pembangunan Kota Masa Depan Benchmarking dan Sasaran Pembangunan Perkotaan 5. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan 6. Mekanisme Perencanaan, Pelaksanaan, dan Pengendalian Pembangunan Perkotaan
2

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

...adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Kawasan perkotaan dapat berupa: kawasan megapolitan; kawasan metropolitan; kawasan perkotaan besar; kawasan perkotaan sedang; Kawasan perkotaan kecil.
PP No. 26 Tahun 2008 Tentang RTRWN

KAWASAN PERKOTAAN
Kawasan perkotaan dapat berbentuk : kota sebagai daerah otonom; bagian daerah kabupaten yang berciri perkotaan; dan bagian dari dua atau lebih daerah berbatasan langsung dan berciri perkotaan
PP No. 34 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Perkotaan.

Potret Perkotaan Indonesia


RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL POTRET PERKOTAAN INDONESIA
Jumlah penduduk Indonesia di kawasan perkotaan telah mencapai 50%. Tingkat pertumbuhan 5,89% per tahun (tingkat pertumbuhan ratarata nasional sebesar 1,17%/tahun). 100.0% 80.0% 60.0% 40.0% 20.0% 0.0% 2010
Sumber : BPS 2008

Persentase Penduduk

Perdesaan Perkotaan 2015 Tahun 2020 2025

Tahun 2025

67,5%

Penduduk Indonesia akan tinggal di kawasan perkotaan ....Kita berada di ERA KOTA !!

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

Persentase Kontribusi PDRB Kota Terhadap Nasional


45.00 40.00 35.00 30.00 25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 0.00

% kontribusi

2005

2006

2007

2008

2009

2010

Kota Kecil (11%) Kota Sedang (56%) Kota Besar (16%) Kota Metropolitan (15%) Total (98 kota otonom)

Persentase Kontribusi PDRB ADHB Kota Terhadap Nasional 0.17 0.18 0.18 0.17 0.20 0.20 7.51 7.24 7.04 7.05 6.68 6.55 5.88 5.80 5.82 5.90 5.97 6.01 27.17 26.94 27.66 27.07 27.89 27.96 40.73 40.16 40.70 40.20 40.74 40.72

Kontribusi PDRB Kota Metropolitan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Kota Menengah yang mempunyai jumlah kota paling banyak

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

Ketimpangan Pembangunan Ekonomi Antar Kota Berdasarkan Fungsi Kota di KBI-KTI


Tahun Indeks Ketimpangan 2008 6,66 2,02 2009 6,80 2,05 2010 ket. Dengan 6,94 Jakarta Tanpa 2,01 Jakarta Tahun Indeks Ketimpangan 2008 1,14 2009 1,14 2010 1,16

PKN KBI PKW KBI

Tahun Ketimpangan Antara Kota-Kota PKN Antara Kota-Kota PKW 2008 9,24 2,13 4,57 2009 9,44 2,21 4,71 2010

ket.

PKN KTI PKW KTI

9,67 Dengan Jakarta 2,16 Tanpa Jakarta 4,71

Tahun Indeks Ketimpangan

2008 4,14

2009 4,18

2010 4,20

Tahun Indeks Ketimpangan

2008 1,37

2009 0,79

2010 0,82

Ketimpangan kota-kota PKN dan PKW di Indonesia Bagian Barat lebih tinggi dibandingkan Indonesia Bagian Timur. Ketimpangan kota-kota PKN dengan Jakarta lebih tinggi dibandingkan tanpa 7 Jakarta.

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

Perkembangan Kota
Perkembangan lahan terbangun di perkotaan terus meningkat
kota bandung Th. 2002 kota bandung Th. 2011

infrastruktur
Rata-Rata rasio panjang jalan per 1.000 penduduk Tahun 2010 (standar 0,6 km/1.000 penduduk) Kecil 4,17 Sedang 2,06 Besar 1,02 Metropolitan 1,02

lingkungan
Rata-Rata Indeks Lingkungan Hidup Kota Tahun 2008

Tingkat Bencana
Kota dgn Tingkat Rawan Bencana Tinggi Kota dgn Tingkat Rawan Bencana Sedang

Sosial
jumlah tindak pidana di Indonesia

84%

400,000 300,000 200,000 100,000

Kecil
Sedang Besar

80,52 60,08

Metropolitan

44,60

16%

2003 2005 2008 2010

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

ISU NASIONAL DALAM PEMBANGUNAN PERKOTAAN


No 1 Isu Belum optimalnya peran kota sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi regional dan nasional Adanya ketimpangan pembangunan antarwilayah Pendalaman Isu a. Masih terbatasnya ketersediaan sarana dan prasarana transportasi antarwilayah b. Belum optimalnya pengembangan ekonomi untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat a. Terjadinya pemusatan kegiatan ekonomi di kawasan barat Indonesia, menyebabkan lemahnya keterkaitan ekonomi antar wilayah tengah dan timur Indonesia. b. Terjadinya kesenjangan pembangunan antara kota-kota metropolitan dan besar, dengan kota-kota menengah dan kecil yang sebagian besar tersebar di wilayah timur Indonesia. c. Terjadinya ketimpangan pembangunan antara kota-desa, dan antara kota-kabupaten hampir di seluruh wilayah Indonesia

Belum optimalnya tata kelola dan kelembagaan pemerintahan perkotaan


Rendahnya ketahanan kota terhadap bencana & perubahan iklim.

Belum optimalnya kerjasama pusat-daerah, antarwilayah dan antar-pihak, kerjasama ekonomi antara pemerintah-swasta yang mampu melindungi kepentingan publik
Belum diarusutamakannya dan belum terintegrasinya mitigasi dan adaptasi bencana dan perubahan iklim di dalam perencanaan dan pembangunan perkotaan
9

ISU UMUM PEMBANGUNAN PERKOTAAN

RANCANGAN KEBJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

MODAL SOSIAL masyarakat perkotaan belum dikembangkan secara optimal Belum optimalnya pembinaan dan pengembangan EKONOMI LOKAL perkotaan Belum optimalnya penyediaan SARANA PRASARANA perkotaan Penyelenggaraan PENATAAN RUANG DAN PENATAGUNAAN TANAH perkotaan belum efisien Belum optimalnya PENGELOLAAN LINGKUNGAN, MITIGASI DAN ADAPTASI BENCANA SERTA PERUBAHAN IKLIM dalam pengelolaan perkotaan Belum optimalnya TATA KELOLA DAN KELEMBAGAAN pemerintah daerah dalam pembangunan dan pengelolaan perkotaan

10

ISU SPESIFIK PEMBANGUNAN PERKOTAAN

RANCANGAN KEBJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

Kota Metropolitan dan Besar Terjadinya urban sprawl dan belum terintegrasinya pusat-pusat kegiatan di dalam kota dengan jaringan transportasi umum. Belum beroperasinya sistem angkutan massal antarmoda/multimoda dan jalur pejalan kaki berakibat semakin meningkatnya kemacetan lalu lintas Belum optimalnya kerjasama antarkota dan antara kota-kabupaten dalam hal pengelolaan dan pembangunan sarpras perkotaan,serta pemanfaatan sumber daya lokal (alam, manusia) Semakin meningkatnya angka kriminalitas dan konflik sosial antarwarga kota Belum optimalnya inovasi dalam pendayagunaan sumber daya non pemerintah dalam pembangunan, pemeliharaan, dan pengelolaan pelayanan publik

Kota Menengah dan Kecil Belum optimalnya pengembangan ekonomi lokal, termasuk keterkaitannya dengan ekonomi wilayah perdesaan. Belum memadainya prasarana permukiman seperti listrik,air bersih, dan drainase. Belum optimalnya kerjasama antarkota dan antara kabupaten-kota dalam pengembangan produk unggulan.

11

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

12

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

TANTANGAN PERKOTAAN INDONESIA

GLOBALISASI: kota harus menjadi pusat aktivitas yang kompetitif dan bertaraf internasional

DESENTRALISASI DAN DEMOKRATISASI tata pemerintahan efektivitas kebijakan nasional

KETAHANAN KOTA thd dampak perubahan iklim, bencana, penurunan kualitas lingkungan

KESETARAAN SOSIAL

KUALITAS SDM

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI

13

Urgensi Penyusunan KSPN


RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL
URGENSI KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

Memberikan acuan bagi pembangunan kota dan kawasan perkotaan

Mengatur fungsi kota dan penataan ruang kota (aspasial dan spasial) untuk pembangunan berkelanjutan

Sebagai instrumen perencanaan yang menjadi acuan bagi setiap K/L dalam pelaksanaan program dan kegiatan terkait pembangunan perkotaan

Menjadi dasar dalam sinkronisasi regulasi dan kebijakan terkait pembangunan perkotaan

14

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

15

VISI PEMBANGUNAN PERKOTAAN INDONESIA

KOTA MASA DEPAN


Kota Berkelanjutan dan Berdayasaing
untuk Kesejahteraan Masyarakat
Kota Inovatif, Kreatif, & Berbasis IT Smart City Kota Layak Huni, Berkeadilan, dan mengakui Keragaman Liveable City Kota Produktif, Hijau, & Berketahanan Iklim Green Economy City

Membangun IDENTITAS PERKOTAAN INDONESIA berbasis karakter fisik, keunggulan ekonomi, budaya lokal

Membangun keterkaitan dan manfaat antarkota dan desa-kota dalam SISTEM PERKOTAAN INDONESIA berbasis kewilayahan

16

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

KOTA BERKELANJUTAN
.adalah kawasan perkotaan yang didesain, dibangun,dan dikelola untuk memenuhi kebutuhan warga kota dari aspek lingkungan, sosial, ekonomi, tanpa mengancam keberlanjutan sistem lingkungan alami, lingkungan terbangun, lingkungan sosial (European Sustainable Cities Report, 1996)

Liveable City
Kota yang dapat memenuhi berbagai macam kebutuhan hidup warganya sehingga dapat mencapai kesejahteraan dengan lebih mudah, serta tetap mampu manjaga kualitas lingkungan

Smart City
Kota yang mampu menggunakan SDM, modal sosial, dan infrastruktur telekomunikasi modern (ICT) untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan kualitas kehidupan ytinggi, dengan manajemen sumber daya yang bijaksana melalui pemerintahan berbasis partisipasi masyarakat

Green City
Kota yang dibangun dengan tidak mengorbankan asetnya, melainkan terus memupuk sumber daya alam, lingkungan, dan kualitas prasarana kota untuk menjawab isu perubahan iklim melalui tindakan mitigasi dan adaptasi

17 17

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

18

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

BENCHMARKING LIVEABLE CITY


ASPEK Stabilitas INDIKATOR Prevalensi kejahatan Ancaman kerusuhan sipil / konflik Kesehatan Akses terhadap pelayanan kesehatan (pemerintah & swasta) Kualitas kesehatan masyarakat Budaya & Lingkungan Tingkat korupsi Pengawasan sosial atau agama Ketersediaan fasilitas rekreasi (budaya, olahraga, & kuliner) Ketersediaan penyedia barang & jasa Pendidikan Akses terhadap pendidikan (pemerintah & swasta) Kualitas pendidikan Infrastruktur Kualitas jaringan jalan Kualitas angkutan umum Ketersediaan perumahan berkualitas baik Kualitas penyediaan energi Kualitas penyediaan air Kualitas telekomunikasi

Most Livable City Index 2012 Economist Intelligence Unit (EIU) 1


2 3 4 6 8 9 12

Melbourne, Australia
Vienna, Austria Vancouver, Kanada Toronto, Kanada Sydney, Australia Perth, Australia Adelaide, Australia Osaka, Jepang

18
31 52 72

Tokyo, Jepang
Hong Kong, Hong Kong Singapore, SIngapore Beijing, China

78
79 102 105

Kuala Lumpur, Malaysia


Shanghai, China Bangkok, Thailand Manila, Filipina

119
122 124

Jakarta, Indonesia
Hanoi, Vietnam Ho Chi Minh City, Vietnam

19 19

BENCHMARKING SMART CITY

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

ASPEK Smart City Infrastructure Smart City Public Management & Service

INDIKATOR jangkauan jaringan broadband akses jaringan broadband Jejaring komunikasi pemerintah, masyarakat, swasta Transparansi kebijakan dan anggaran pemerintah Manajemen lalu lintas berbasis IT Sistem kesehatan berbasis IT Sistem pendidikan berbasis IT Jejaring perlindungan lingkungan Pengelolaan energi

Shanghai, China
Luas : 6.340 km2

Populasi :

23 juta jiwa

Kepadatan : 3.600 jiwa/km2

Sistem keamanan kota


Information Serv for Econ Devt Culture and Science Penggunaan e-commerce, layanan informasi dlm industri Tingkat pengembangan sistem informasi perusahaan Tingkat pendapatan masyarakat Tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat Tingkat pelatihan informasi kepada masyarakat Tingkat penggunaan internet Sense of Citizen Rasa kenyamanan hidup (pendidikan, kesehatan, layanan pemerintah, & informasi lalu lintas) Rasa keamanan masyarakat (makanan, kriminalitas, keselamatan jalan, dan lingkungan)

Jakarta, Indonesia
Luas : 653,83 km2 9,6 juta jiwa 14.618 jiwa/km2 Populasi : Kepadatan:

20

BENCHMARKING SMART CITY

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

ASPEK Competitiveness (Smart Economy) Semangat inovasi

INDIKATOR

ASPEK Transportasi dan ICT (Smart Mobility)

INDIKATOR Akses informasi nasional dan internasional Ketersediaan infrastruktur berbasis ICT Sistem transportasi yang inovatif, aman, berkelanjutan

Kewirausahaan
City image/branding Produktivitas Fleksibilitas pasar tenaga kerja Kemampuan bertransformasi

Sumber daya alam (Smart Environtment) Kualitas hidup (Smart Living)

Tingkat polusi udara Manajemen sumber daya berkelanjutan Pendidikan Kesehatan Kebudayaan Perumahan Rekreasi Keamanan

Sosial dan SDM (Smart People)

Tingkat pendidikan dan keahlian

Keragaman etnis dan sosial


Kreativitas Keterbukaan sosial budaya Partisipasi dalam kehidupan masyarakat

Partisipasi (Smart Governance)

Partisipasi dalam pengambilan keputusan Pelayanan publik dan sosial

Transparansi pemerintah
Strategi dan perspektif politik

Pekalongan, Jawa Tengah


Luas : 17,55 km2 272.000 jiwa 15.948 jiwa/km2 Populasi :

Groningen, Belanda
Luas : 83,69 km2 192.000 jiwa 2.469 jiwa/km2 Populasi : Kepadatan :

Kepadatan :

21

ASPEK

INDIKATOR Emisi CO2 per kapita Rencana aksi perubahan iklim

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

Energi dan CO2

Asian Green City Index 2011 Economist Intelligence Unit (EIU)

1
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Singapore
Hong Kong Osaka Seoul Taipei Tokyo Yokohama Bangkok Beijing Delhi Jakarta Kuala Lumpur Shanghai Hanoi Kolkata Manila Karachi

BENCHMARKING GREEN CITY

Kebijakan energi terbarukan Guna Lahan dan Bangunan RTH per kapita Kepadatan penduduk Kebijakan eco-building Kebijakan penggunaan lahan Transportasi Panjang jaringan transportasi massal Kebijakan pengembangan transportasi massal perkotaan Sampah Persentase sampah yang diolah Program pengumpulan dan pembuangan sampah Kebijakan Re-cycling dan Re-using Air Peningkatan kualitas air bersih dan air minum Pengelolaan sumber daya air Konsumsi air per kapita Sanitasi Persentase penduduk yang telah dilayani sanitasi Persentase air limbah rumah tangga yang diolah Kebijakan sanitasi terkait pencemaran Kualitas udara Tingkat polusi udara Kebijakan pengurangan pencemaran udara Tata Kelola Lingkungan Pengelolaan lingkungan Partisipasi masyarakat

Well above average

Above average

Average

Below average
22 Well below average

INDIKATOR PEMBANGUNAN PERKOTAAN

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

VISI

DASAR
Penindakan kriminalitas

IDEAL/KOTA MASA DEPAN


Pencegahan kriminalitas

Angka Harapan Hidup Akses rumah untuk MBR Akses air minum Kualitas perumahan Kualitas penyediaan air minum Kualitas jaringan drainase Kualitas penyediaan energi Kualitas pelayanan transportasi umum massal Kualitas sarana sosial

Kota Layak Huni, Berkeadilan, dan Mengakui Keragaman / LIVEABLE CITY

Cakupan jaringan drainase Rasio elektrifikasi Cakupan pelayanan transportasi umum massal Ketersediaan sarana sosial (pendidikan, kesehatan, peribadatan)

Sarana dan prasarana perkotaan untuk penduduk berkebutuhan khusus Penindakan korupsi Penurunan tingkat korupsi

23

INDIKATOR PEMBANGUNAN PERKOTAAN

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

VISI

DASAR
Akses dan jaringan IT

IDEAL/KOTA MASA DEPAN


Kualitas jaringan dan pelayanan IT Masyarakat melek /paham IT

Forum komunikasi pemerintah-masyarakat Pelayanan pemerintah transparan dan akuntabel berbasis IT

Jaringan komunikasi pemerintahmasyarakat swasta berbasis IT Pemanfaatan IT untuk manajemen lalu lintas, perizinan, sistem kesehatan, sistem pendidikan, pengelolaan energi, perdagangan dan industri, sistem peringatan dini thd bencana Kapasitas SDM untuk inovasi, kreasi, dan kewirausahaan Kualitas tenaga kerja

Kota Inovatif, Kreatif, & Berbasis IT / SMART CITY

Partisipasi sekolah

Tingkat pendapatan masyarakat Event, sarana kebudayaan Kegiatan kebudayaan sebagai keseharian

Kerjasama antardaerah 24

INDIKATOR PEMBANGUNAN PERKOTAAN

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

VISI

DASAR

IDEAL/KOTA MASA DEPAN Tingkat investasi Tingkat kesempatan kerja Tingkat kemiskinan Industri kreatif/UMKM

City branding
Kota Produktif, Ramah Lingkungan & Berketahanan Iklim / GREEN ECONOMY CITY Luasan RTH Akses thd pengelolaan sampah Pengendalian pencemaran limbah rumah tangga Emisi CO2 Kualitas pengelolaan sampah dan pengolahan limbah (rumah tangga dan industri) Penurunan volume sampah dan limbah

Pengendalian pencemaran limbah industri

Tingkat polusi udara Penggunaan energi terbarukan Sistem peringatan dini dan ruang evakuasi bencana/antisipasi PI Kesesuaian perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian ruang Pemanfaatan ruang memperhatikan kerentanan thd bencana dan PI

Green building

25

INDIKATOR PEMBANGUNAN PERKOTAAN

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

SISTEM PERKOTAAN NASIONAL


Kegiatan Ekspor-Impor Tingkat arus barang Volume dan nilai barang

PKN

Kegiatan Industri & Jasa

Tingkat produksi Jumlah Tenaga Kerja Tingkat Modal dan Investasi Bandar Udara Pelabuhan Laut

Transportasi

PKW

Perbatasan/ Penghubung dengan Negara Tetangga Pusat Pertumbuhan Ekonomi terhadap wilayah sekitarnya

Letak Geografis

Tingkat kegiatan ekonomi (perdagangan, industri & jasa) Tingkat kesempatan kerja

PKSN

26

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

EVALUASI CAPAIAN KOTA-KOTA


CAPAIAN PENYEDIAAN STANDAR PELAYANAN PERKOTAAN

Berdasarkan penghitungan evaluasi capaian penyediaan SPP pada tahun 2012, rata-rata persentase pencapaian penyediaan Standar Pelayanan Perkotaan di kota-kota di Indonesia adalah sebesar 30 %.

27

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

SASARAN PEMBANGUNAN PERKOTAAN INDONESIA


1. Pemenuhan Standar Pelayanan Minimum Kota Terpenuhinya SPP (Standar Pelayanan Perkotaan) di perkotaan sesuai dengan tipologinya 2. Pemenuhan Fungsi dan Peran Kota dalam Sistem Perkotaan Nasional 1. Terwujudnya kawasan perkotaan metropolitan yang mampu bersaing di tingkatinternasional (kota internasional/global city). 2. Terwujudnya kota besar yang dapat menjadi pusat pertumbuhan nasional (Pusat Kegiatan Nasional/PKN). 3. Terwujudnya kota menengah dan kecil yang dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi regional (Pusat Kegiatan Wilayah/PKWd an Pusat Kegiatan Lokal/PKL) serta meningkatkan keterkaitan desa-kota. 4. Terwujudnya Pusat Kegiatan Strategis Nasional/PKSN sebagai gerbang internasional dan untuk mendorong kawasan perbatasan negara. C. Perwujudan kota masa depan melalui pembangunan ekonomi, sosial budaya, Prasarana & Sarana Umum, tata ruang, lingkungan hidup, dan kelembagaan
28

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

TAHAPAN PEMBANGUNAN PERKOTAAN


RPJP 2026-2050

2050

2040
RPJP 2005-2025
Pemenuhan Fungsi dan Peran Kota dalam Sistem Perkotaan Nasional pada 100% kota

Kota Masa Depan

2025
Pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan Minimum pada 100% kota

2015
Kota-kota Indonesia saat ini

29

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

30

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

Indikator Kota Masa Depan


31

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

32

RANCANGAN KEBJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

KEBIJAKAN PERWUJUDAN SISTEM PERKOTAAN NASIONAL


Mengembangkan kota-kota yang telah ditetapkan sebagai pusat pertumbuhan untuk mengatasi ketimpangan pembangunan antar-wilayah dan memastikan hubungan kota-desa yang saling menguntungkan (decentralized concentration).

1 2 3 4

Pengembangan prioritas kota-kota yang menjadi simpul utama kegiatan ekspor-impor/pintu gerbang kawasan internasional, kegiatan industri dan jasa, dan transportasi untuk mendorong terwujudnya peran Pusat Kegiatan Nasional (PKN), Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), dan Pusat Kegiatan Lokal (PKL) dan Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN). Mendorong pengembangan kota-kota dengan karakter khusus seperti: kota-kota pesisir, kota wisata, kota industri, kota tambang dan lainnya Percepatan penyediaan sarana prasarana pada kota-kota menengah yang berfungsi sebagai PKW dan PKL agar tercipta peningkatan hubungan kota-desa. Peningkatan efisiensi sistem logistik antarkota, antara kota-desa, serta antarwilayah pulau dalam meningkatkan kelancaran arus barang dan jasa Pengembangan transportasi regional intermoda dan multi moda terutama untuk kota-kota yang ditetapkan sebagai konsentrasi pertumbuhan Penerapan insentif disinsentif fiskal, dalam mendorong pengembangan kegiatan swasta pada pusatpusat yang telah ditetapkan. Pengembangan kota-kota yang menjadi prioritas pertumbuhan melalui pengembangan kegiatan ekonomi antarkota dan antar kota dengan kawasan perdesaan di sekitarnya.

5
6 7

33

RANCANGAN KEBJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

KEBIJAKAN PERWUJUDAN SISTEM PERKOTAAN NASIONAL


Mengembangkan kota berdaya saing sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi lokal, regional dan nasional yang berketahanan iklim, serta berorientasi terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat dan pengentasan kemiskinan (urban led development policy)

Pembangunan prioritas kota-kota yang menjadi konsentrasi pertumbuhan ekonomi dan interkoneksi antarkota Pengembangan inovasi dan kreativitas dalam optimalisasi pengembangan potensi Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) kota dalam membangun sumber daya kota yang berkelanjutan Peningkatan penyediaan infrastruktur dan kegiatan ekonomi yang berbasis ekonomi hijau, mitigasi bencana dan adaptasi terhadap perubahan iklim Optimalisasi pembangunan ekonomi lokal yang bermanfaat secara nasional serta mengintegrasikan potensi-potensi budaya lokal, pemanfaatan teknologi modern tepat guna serta kerjasama lintas pemangku kepentingan (stakeholder). Mendorong penyediaan sarana dan prasarana perkotaan yang aman, layak, dapat diakses semua golongan dan berbasis IT .Pengembangan bandar udara dan pelabuhan laut berskala internasional pada KSN Perkotaan / metropolitan dan PKN / Ibu kota provinsi.

2
3 4 5

34

KEBIJAKAN PERWUJUDAN KOTA MASA DEPAN

RANCANGAN KEBJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

UMUM
Mengedepankan pembangunan manusia dan sosialbudaya dalam pembangunan perkotaan. Mendorong kota dan wilayah sekitarnya agar mampu mengembangkan ekonomi lokal dan meningkatkan kapasitas fiskal. Memacu penyediaan sarana prasarana dan perumahan yang layak, terjangkau, sesuai karakteristik masyarakat, lingkungan sekitar, tipologi kota Mendorong terwujudnya kota-kota padat-lahan (compact city) yang didukung oleh pemanfaatan ruang perkotaan yang efisien serta penatagunaan tanah perkotaan yang berkeadilan Mendorong kota-kota untuk meningkatkan dan mengembangkan keselarasan dan keseimbangan lingkungan, siap menghadapi dan adaptif terhadap perubahan iklim dan kemungkinan bencana. Meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, kelembagaan, dan menerapkan tata pemerintahan yang baik (good governance), serta mendorong munculnya kepemimpinan kota yang visioner

KOTA METROPOLITAN DAN BESAR


Meningkatkan keterpaduan antara penataan ruang dengan jaringan transportasi dan penggunaan lahan campuran (mixed-use development)

Meningkatkan pengelolaan terpadu antara kota metropolitan dan besar dengan wilayah sekitarnya

KOTA MENENGAH DAN KECIL

Pengembangan ekonomi lokal yang menterkaitkan kegiatan ekonomi antara kota menengah dan kecil dengan kawasan perdesaan di sekitarnya

Prioritas percepatan pemenuhan sarana prasarana pelayanan publik dasar 35

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

36

RANCANGAN KEBJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

MANAJEMEN, PEMANTAUAN, DAN EVALUASI


Kunci untuk perbaikan pembangunan kota kedepan adalah pengelolaan perkotaan berbasis pengetahuan dan Pemantauan pemahaman tentang situasi kota yang dinamis. Pengelolaan perkotaan dilaksanakan dengan melakukan proses evaluasi terusImplementasi Evaluasi menerus terhadap kondisi, tindakan, output, dan dampak pembangunan perkotaan Bekerjasama dengan masyarakat, peneliti dan Update Alternatif institusi pemerintah agar rencana kebijakan dan program kegiatan pembangunan kota yang efektif dan sinergis dapat dilaksanakan.
37

RANCANGAN KEBJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

Regulasi pendukung :
Standar pelayanan perkotaan yang mampu menunjukkan kinerja pelayanan pemerintah kota.

REVIEW PERATURAN PERUNDANGAN


Mekanisme insentifdisinsentif yang mampu menumbuhkan kinerja dan inovasi pembangunan perkotaan untuk mendorong kota berdaya saing

Perwujudan fungsi dan peran PKN dan PKW

Pembinaan dan pengelolaan perkotaan

Pengarusutamaan mitigasi dan adaptasi thd bencana dan PI dlm perencanaan dan pengelolaan perkotaan

Koordinasi dan pengendalian pembangunan kotakota metropolitan

Rencana detail tata ruang kota dan zoning untuk memperkuat pengendalian pemanfaatan ruaang kota.

Percepatan penyediaan perumahan bagi masyarakat menengah ke bawah di perkotaan

Pengembangan transportasi multimoda dan antarmoda perkotaan

Percepatan dukungan sarpras pelayanan publik di kota menengah dan kecil 38

PERAN PEMERINTAH PUSAT

RANCANGAN KEBJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

Koordinasi dan Dukungan antar Kementerian/Lembaga


Para menteri membantu Presiden berdasarkan bidang kerja masing-masing. Pengarahan dan pengendalian pembangunan perkotaan adalah tugas pemerintah daerah Menteri Dalam Negeri membantu Presiden di bidang pemerintahan di daerah untuk (i) mengatur, membina dan mengawasi perkembangan perkotaan agar sesuai dengan kebijakan nasional, serta (ii) mengkoordinasikan upaya masing-masing Menteri untuk mengatur, membina dan mengawasi fungsi pemerintahan daerah di bidang masing-masing, dengan memperhatikan dampak kepada pengembangan perkotaan.

Pengembangan Profesi
Pemerintah pusat perlu mendukung pengembangan profesi yang dibutuhkan untuk pengelolaan pembangunan perkotaan, seperti urban planner, urban economist, property valuer, quantity surveyor, transportation planner, municipal engineer, polisi pamong praja, dsb.

Kebijakan dan Strategi Perkotaan dalam RPJMN


Kebijakan dan strategi perkotaan jangka menengah menjadi prioritas dalam penyusunan RPJMN pada masa depan, mulai 2015.

39

PERAN PEMERINTAH PROVINSI

RANCANGAN KEBJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

Kebijakan Pembangunan Perkotaan


Pemerintahan Provinsi wajib menyiapkan kebijakan dan strategi perkotaan bersama dengan pemerintahan daerah kabupaten dan kotanya, sebagai bagian dari rencana pembangunan jangka menengahnya Kebijakan & strategi perkotaan Provinsi dikembangkan secara ilmiah dari penelitian situasi yang nyata, dan masukan dari pemerintahan kabupaten dan kota serta masyarakat luas, dengan memperhatikan KSPN Pengembangan perkotaan dalam provinsi didorong dan dikendalikan secara integral untuk kepentingan semua masyarakat provinsi.

Pelaksanaan Pembangunan Perkotaan


Pemerintahan provinsi dapat mengatur urusan kabupaten dan kota agar eksternalitas penyelenggaraan pemerintahan kabupaten dan kota dapat diselesaikan. Peraturan daerah provinsi, yang berdasarkan UU 12/2011 lebih tinggi daripada perda kabupaten dan kota, harus dengan jelas dan tegas memberdayakan gubernur untuk mendorong dan mengendali pengembangan ekonomi seluruh provinsinya secara adil dan berkelanjutan.

Peran DPRD
DPRD Provinsi sebagai lembaga perwakilan rakyat provinsi dan pengawas pemerintah provinsi, memantau dan menilai pengembangan perkotaan secara menyeluruh dan memberi masukan kepada Gubernur.

40

PERAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA

RANCANGAN KEBJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

Kebijakan Pembangunan Perkotaan Pemerintahan kabupaten dan kota wajib menyiapkan kebijakan dan strategi perkotaan daerah sebagai bagian dari rencana pembangunan jangka menengah. Kebijakan & Strategi Perkotaan Daerah dikembangkan secara ilmiah dari penelitian situasi yang nyata, dan masukan dari masyarakat luas, dengan memperhatikan KSPN. Setiap usulan kebijakan yang bertentangan dengan kebijakan di Kebijakan & Strategi Perkotaan Provinsi perlu dibahas lebih dahulu dengan pemerintahan provinsi berkaitan.

Prioritas Pembangunan Perkotaan Titik berat peran pemerintahan kabupaten dan kota adalah penyediaan layanan publik yang makin baik bagi masyarakatnya.

41

KSPN TERHADAP DOKUMEN PERENCANAAN LAIN

RANCANGAN KEBJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL

Renstra K/L
diacu

pedoman

Renja K/L
bahan

pedoman

bahan

diacu

RPJPN
saling mengacu

pedoman

RPJMN

dijabarkan

RKP

pedoman

APBN

RTRWN
diacu

diacu

KSPN
diacu

diacu diselaraskan melalui Musrenbang

diacu

RTRW Pulau
diacu

dijabarkan

diperhatikan

RTRWD
saling mengacu

diacu

KSPD

diacu

RPJPD

pedoman diacu pedoman

RPJMD

dijabarkan

RKPD

pedoman bahan

APBD

bahan

diacu

KSPN sebagai grand strategy pembangunan perkotaan nasional

Renstra SKPD

pedoman

Renja SKPD

42

RANCANGAN KEBJAKAN DAN STRATEGI PERKOTAAN NASIONAL