Anda di halaman 1dari 17

Senyawa yang digunakan sebagai hipnotik dan sedatif, untuk induksi anstesia, dan untuk pengobatan epilepsi pada

status epileptikus. Dibagi menjadi 4 grup umum berdasarkan aktivitas farmakologis dan penggunaan klinik 1. Ultrashort-acting 2. Short-acting 3. Intermediate-acting 4. Long-acting Produk kombinasi umum mengandung barbiturat :
Florinal Donnatal (50 mg butalbital) (16 mg phenobarbital)

Produk eutanasia hewan sering mengandung barbiturat diantaranya phenobarbital.

A. Semua barbiturat secara umum menyebabkan depresi pada aktivitas saraf di otak. Interaksi dengan reseptor barbiturat terjadi peningkatan hambatan sinaptik oleh mediator GABA. Hipotensi terjadi pada dosis besar disebabkan oleh depresi pada tonus simpatetik pusat bersamaan dengan depresi langsung pada kontraktilitas jantung. B. Farmakokinetik, bervariasi sesuai senyawa dan grup 1. Ultrashort-acting barbiturat sangat mudah larut lemak dan cepat berpenetrasi ke otak untuk induksi anestesia, selanjutnya dengan cepat menyebar ke jaringan lain. Secara klinis waktu memberikan efek sangat cepat dari pada T eliminasi untuk senyawa ini 2. Long-acting barbiturat menyebar lebih cepat dan memiliki T eliminasi panjang, biasa digunakan 1 x 1 pada pengobatan epilepsi.

Jangka Ultra short

Obat Methohexital Thiopental Pentobarbital Secobarbital Amobarbital

T Eliminasi Akhir Normal (h) 3-5 8-10 15-50 15-40 10-40

Waktu Mula Efek (h) < 0,5 < 0,5 > 3-4 > 3-4 > 4-6

Dosis Lazim Hipnotik (Dewasa) (mg) 50-120 50-75 50-200 100-200 65-200

Level Toksik Minimum (mg/L) >5 >5 > 10 > 10 > 10

Intermediate

Short

Aprobarbital Butabarbital
Butalbital Mephobarbital Phenobarbital

14-34 35-50
35 10-70 80-120

> 4-6 > 4-6

40-160 100-200
100-200

> 10 > 10
>7 > 30 > 30

Long

> 6-12 > 6-12

50-100 100-320

Obat

Onset (hr)

Puncak (hr)

T (hr)

Metabolit Aktif

T Metabolit Aktif 29-120

Vd (L/kg)

%Ikatan protein

Peningkatan Eliminasi HD,HP,PD, MDAC HD,HP,PD, MDAC HD,HP

Komentar Metabolit PEMA/phe nobarbutal

Primidone

3,3-12

Yes

0,4-1

20-30

Secobarbital Thiopental

0,25 < 0,1

1-6 < 0,1

15-40 8-10 > 10

1,5-1,9 1,4-6,7

45-70 72-86

Data yang disajikan berdasarkan dosis terapetik bukan overdosis. Secara umum setelah overdosis efek puncak dihambat dan T serta durasi efek diperpanjang. Perubahan mungkin terjadi pada volume distribusi dan % ikatan protein. Kinetik mungkin bervariasi tergantung pada formulasi.
HD HP PD MDAC = Hemodialisis = Homoperfusi = Peritoneal dialisis = Dosis ganda karbon aktif

Dosis toksik barbiturat bervariasi tergantung pada obat, rute, dan laju administrasi serta pada toleransi individu pasien. Secara umum, toksisitas terjadi ketika dosis melebihi 5-10 kali dosis hipnotik. A. Berpotensi fatal dosis oral pada senyawa shorteracting adalah 2-3 g, dan phenobarbital adalah dosis 6-10 g. B. Beberapa kematian telah dilaporkan banyak wanita muda menjalani terapi aborsi setelah menerima aliran cepat suntikan IV sebanyak 1-3 mg/kg methohexital.

1. 2.

Gejala awal tergantung pada obat dan rute administrasi Ringan-sedang : Lemah, sulit berbicara, nystagmus, dan gangguan keseimbangan. Tinggi : hipotensi, koma, dan gangguan pernafasan. Pada koma panjang, pupil biasanya kecil atau berada pada posisi tengah; pasien mungkin kehilangan aktivitas reflek dan kelihatan mati. Hipotermia, khususnya korban yang terpapar lingkungan dingin. Hipotensi dan bradikardia umumnya muncul bersamaan dengan hipotermia.

A. Level spesifik
Phenobarbital konsentrasi lebih dari 60-80 mg/L menyebabkan koma, dan lebih dari 150-200 mg/L dengan hipotensi berat. short-intermediate-acting koma terjadi pada konsentrasi serum >20-30 mg/L. Barbiturat mudah dideteksi rutin pada skrining toksikologi urin.

B. Penelitian laboratorium berguna lain elektrolit, glukosa, BUN, kreatinin, gas darah arteri atau nadi oksimetri, dan x-ray pada dada

Pasien sadar dan berbicara seperti memiliki refleks jalan nafas yang utuh tapi sebaiknya dimonitor. Pada pasien lemah, refleks muntah atau batuk dapat menjadi indikasi langsung dari kemampuan pasien untuk melindungi jalan nafas. Jika ada keraguan, sebaiknya lakukan Endotracheal intubation, memiliki 2 rute : 1. Nasotracheal intubation kelebihan : digunakan untuk pasien sadar tanpa paralisis neuromuskular kekurangan : 1. Perforasi dari mukosa nasal dengan epistaxis 2. Merangsang mual dan pasien harus bernafas secara spontan 3. Sulit bagi bayi karena anterior epiglotis 2. Orotracheal intubation kelebihan : resiko pendarahan tidak signifikan dan pasien tidak harus bernafas secara spontan kekurangan : 1. Menyebabkan paralisis muskular 2. Manipulasi leher, dapat menyebabkan cedera tulang belakang jika pasien mempunyai trauma leher.

Ventilatory trauma Treatment : ukur gas darah arteri, jika ada kenaikan tekanan CO2 mengindikasikan perlu tambahan ventilasi Hipoksia Treatment 1. Memeriksa hipoksia 2. Penanganan pneumonia 3. Penangana edema paru Bronkoplasma Treatment : memberi suplai oksigen dan lakukan endocheal intubation jika diperlukan

HASIL DIAGNOSA DIFERENSIAL Langkah-langkah yang harus di lakukan : Tenangkan trauma/penyebab lain dari pendarahan intracranial Tingkatan abnormal dari glukosa darah, sodium/elektrolit lain Hypoxia Hypothyroidism Hati atau gagal ginjal Lingkungan hyperthermia atau hipotermia Infeksi serius seperti penyakit otak dan meningitis

PENGOBATAN Jaga aliran udara dan berikan ventilasi jika perlu. Sediakan O2 pelengkap Dextrose Semua pasien dengan kesadaran harus mendapatkan dextrose kecuali jika hypoglycemia. Konsentrasi dextrose yang terlalu tinggi dapat merusak jaringan Dewasa : 50% dextrose, 50 ml (25 g) IV. Anak-anak : 25% dextrose, 2 ml / kg IV. Thiamine Thiamine diberikan untuk mencegah/mengobati sindrom Wernicke akibat dari kekurangan thiamine oleh pasien alkoholik Tidak diberikan secara rutin kepada anak-anak. Pemberian thiamine sebanyak 100 mg secara IV atau IM. Naloxone pasien dengan gangguan tekanan pernapasan

GEJALA DAN TANDA Menggigil/gemetar. Terasa melayang. Pernapasan cepat. Nadi lambat. Gangguan penglihatan. Reaksi mata lambat. Alat gerak kaku. Pupil mata melebar (dilatasi) dan tidak bereaksi. Kesadaran menurun.

PENANGANAN Pindahkan penderita dari lingkungan dingin. Jaga jalan napas dan berikan oksigen bila ada. Ganti pakaian yang basah, selimuti penderita, upayakan agar tetap kering dan hangat. Bila penderita sadar dapat diberikan minuman hangat secara pelanpelan.

DIAGNOSIS DIFERENSIAL 1. Hipertemia, merupakan penyebab dari dilatasi arteriolar dan venodilatasi dan mengarah pada tekanan miokardial 2. Kehilangan cairan yang disebabkan oleh gastroenteritis 3. Kekurangan darah (seperti : dari trauma atau perdarahan gastrointestinal) 4. Infarction miokardial 5. Sepsis 6. Cedera tulang belakang.

PENGOBATAN 1. Selalu adanya pasokan oksigen 2. Pengobatan aritmia jantung dengan hipotensi (kecepatan angka hati <4050/min atau >180200/min) 3. Tekanan sistolik darah yaitu 80- 90 mmHg ketika temperature tubuh pada 32oC (90oF). 4. Pemberian cairan dengan menggunakan crystalloid solution, 10-20 mL/ kg 5. Dopamine, 5- 15 mcg/kg/min.

Obat spesifik dan antidot. Tidak ada antidot spesifik

Tindakan cuci lambung serta memuntahkan obat perlu dilakukan. Setelah cuci lambung, karbon aktif dan suatu pencahar (sarbitol) harus diberikan. Pemberian dosis ulang karbon (setelah terdengar bising usus) dapat mempersingkat waktu paruh fenobarbital. Pengukuran fungsi nafas perlu dilakukan sedini mungkin. PCO2 dan O2 perlu dimonitor

1. Alkalinisasi pada urin meningkatkan pengeluaran urin dari phenobarbital tapi bukan barbiturat lain. Nilai ini terjadi pada overdosis akut namun tidak terbukti dan memberi kontribusi potensial dalam kelebihan cairan dan edema paru-paru 2. Dosis berulang karbon aktif menunjukan penurunan T phenobarbital, tetapi data mengenai efek berlawanan pada durasi koma, waktu pada ventilasi tiruan dan waktu untuk ekstubasi
Bila masih dalam saluran cerna arang aktif dgn dosis 30-50 gram ; 0,5-1 gram/kgBB setiap 4 jam per oral/enteral.

3. Hemodialisis atau homoperfusi mungkin terjadi banyak keracunan pada pasien yang tidak merespon perawatan pendukung (contoh : hipotensi berat)